Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN KASUS

FRAKTUR VERTEBRA
DAN
CIDERA MEDULA SPINAL
Oleh :
PUTRI RARA IMAS BALERNA PRATIWI
FAA 110 030
Pembimbing :
dr. Sutopo Marsudi Widodo, Sp.RM
dr. Tagor Sibarani
Dr.Tharina Lawei
Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya
RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya
Bagian Ilmu Rehabilitasi Medik dan Emergency
Medicine
2015

PENDAHULUAN
Trauma medula spinalis adalah cedera
pada tulang belakang baik langsung
maupun tidak langsung, yang
menyebabkan lesi di medula spinalis
sehingga menimbulkan gangguan
neurologis, dapat menyebabkan
kecacatan menetap atau kematian

Di U.S., insiden cedera medulla spinalis sekitar 5


kasus per satu juta populasi per tahun atau sekitar
14.000 pasien per tahun. Insiden cedera medulla
spinalis tertinggi pada usia 16-30 tahun (53,1 %).
Insiden cedera medulla spinalis pada pria adalah
81,2 %. Sekitar 80 % pria dengan cedera medulla
spinalis terdapat pada usia 18-25 tahun. SCIWORA
(spinal cord injury without radiologic abnormality)
terjadi primer pada anak-anak. Tingginya insiden
cedera medulla spinalis komplit yang berkaitan
dengan SCIWORA dilaporkan terjadi pada anakanak usia kurang dari 9 tahun.

LAPORAN KASUS

Primary Survey
Tn.T, laki laki
Vital sign :
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 100x/menit
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu : 37.5
Airway : tidak terdapat sumbatan jalan nafas
Breathing: Spontan, 23x/menit dengan jenis pernapasan torakoabdominal,
pergerakan thoraks simetris dan tidak ditemukan ketinggalan gerak pada
salah satu thoraks.
Circulation : TD 100/60 mmHg. Nadi 100 kali/menit, reguler, isi cukup,
CRT < 2 detik.
Dissability : tidak bisa menggerakan kedua tungkai bawah dan tidak bisa
kencing
Evaluasi masalah :Kasus ini merupakan kasus yang termasuk dalam
priority yaitu tidak bisa menggerakan kaki dan tidak bisa kencing. Pasien
pada kasus ini diberi label pewarnaan triase dengan warna kuning.
Tatalaksana awal : Pasien ditempatkan di ruangan bedah.

AUTOANAMNESA
Keluhan Utama : tidak bisa kencing
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang diantar keluarga dengan keluhan
tidak bisa kencing sejak 6 hari SMRS. Perut
menjadi kencang dibagian bawah dan terasa
nyeri. Pasien mengatakan sebelumnya pasien
tertimpa longsoran tanah dari arah belakang.
Pasien kemudian tertelunkup ke depan dengan
posisi timbunan tanah menimpa punggung
korban. Pasien mengatakan timbunan tanah
tersebut menutup setelah badan pasien. Setelah
kejadian pasien langsung ditolong teman
sekerjanya. Pasien tidak ada pingsan.
Pasien kemudian dibawa kerumah, lalu di pijat
oleh dukun kampung. Pasien mengatakan,
beberapa jam setelah kejadian muncul benjolan

Pasien tidak langsung dibawa berobat ke Puskesmas,


hanya diberikan minuman rebusan daun-daunan dan
digosokan minyak tradisional dipunggungnya. 1 hari
sesudah kejadian pasien mengatakan kakinya tidak bisa
digerakan pasien hanya mampu berbaring ditempat tidur
dan apabila mencoba posisi duduk pasien kesakitan.
Pasien juga mengatakan kakinya tidak bisa merasakan
rangsangan misalnya panas/dingin ataupun dicubit di
bagian lutut kebawah kaki kiri dan kanan.
Frekuensi BAB berkurang, pasien BAB hari ketiga setelah
kejadian. BAB sedikit, berwarna coklat. Saat datang
pasien belum ada BAB.
Mual muntah disangkal. Makan dan minum tidak ada
keluhan.
Riwayat trauma sebelumnya yang lain disangkal. Kejang
(-), demam (+) 3 hari SMRS. Tidak disertai menggigil dan
berkeringat.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
GCS : Eye (4), Motorik (6), Verbal (5).
Tanda vital :
Tensi : 100/60 mmHg
Nadi : 100x/menit, reguler, isi cukup,
Suhu : 37,5 C, aksila
Respirasi : 22 x/menit, torakoabdominal.
Kepala : Normocephal, hematom -, Conjungtiva anemis -/- ,
konjungtiva hiperemi -/-, sklera tidak ikterik pupil isokor, racoon eyes -/-,
rhinorhea -, otorhea Leher : peningkatan JVP (-), KGB > (-)
Thoraks :
Paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada ketinggalan gerak, frekuensi napas 22
kali/menit, jenis pernapasan torakoabdominal.
Palpasi : Fremitusvocal +/+
Perkusi : Sonor +/+ pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler pada kedua lapang paru, ronki (-/-),
wheezing (-/-).

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Teraba pada SIC V 1 jari medial
midklavikula sinistra
Auskultasi : S1-S2 tunggal, tidak ada murmur
dan gallop
Abdomen : datar, jejas -, laserasi -, supel
bising usus (+) normal , perkusi timpani , hepar
dan lien tidak membesar, regio suprapubik
tampak membesar tidak kemerahan, teraba
keras, nyeri tekan.
Ekstremitas :
Atas : akral hangat, RCT < 2 detik, edema (-/-),
sianosis (-/-) kekuatan motorik 555/555,
sensibilitas +/+ normal.
Bawah : akral hangat, RCT < 2 detik, edema

Fungsi Sensorik
Anestesi mulai dari ujung jari kaki
hingga setinggi 3 - 4 jari di atas genu
D/S
Fungsi Vegetatif
Miksi : Retensio Urin
Defekasi : Retensio Alvi

Hasil laboratorium pada tanggal 23


Desember 2015 :

WBC : 10,72 /uL


RBC : 4,74/uL
HGB: 14,1 g/dL
PLT : 208/uL
GDS: 74 mg/dL
Kreatinin : 1,07 mg/dl

Rontgen Regio Sakral AP/Lat

Diagnosis
Banding
Herniasi diskus
lumbaris
Kompresi medula
spinalis

Diagnosis Kerja
Retensi urin &
Bowel Disorder ec.
Medula spinal Injury
Fraktur Torakal XII

Penatalaksanaan
Infus Nacl 0,9% 20
tpm
Pemasangan DC

Usulan
CT scan
MRI
Mielography
Rujuk Banjarmasin

PEMBAHASAN DAN
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI

Secara umum, struktur tulang belakang


tersusun atas dua yaitu :
Korpus vertebra beserta semua diskus
intervetebra yang berada di antaranya.
Elemen posterior (kompleks ligamentum
posterior) yang terdiri atas lamina,
pedikel, prosesus spinosus, prosesus
transversus dan pars artikularis,
ligamentum-ligamentum supraspinosum
dan intraspinosum, ligamentum flavum,
serta kapsul sendi.

Sendi dan Ligamen Kolumna


Vertebra

PERSARAFAN
VERTEBRA

GERAKAN KOLUMNA VERTEBRA

Otot yang Memproduksi


Gerakan dari Sendi Intervertebra
Torakal dan Lumbal

MEKANISME CEDERA
Hiperekstensi

Fleksi

Fleksi dan kompresi digabungkan dengan distraksi


posterior
Kombinasi fleksi dengan kompresi anterior dan distraksi
posterior mengganggu kompleks vertebra
pertengahan, di samping kompleks posterior.
Fragmen tulang dan bahan diskus dapat bergeser ke
dalam kanalis spinalis.
Keadaan ini merupakan cedera tak stabil dengan risiko
progresi yang tinggi.

Kompresi

Rotasi-fleksi
Ligamen dan kapsul sendi teregang
dapat robek, permukaan sendi
dapat mengalami fraktur.
Akibat dari mekanisme ini adalah
pergeseran atau dislokasi ke depan,
dengan atau tanpa kerusakan tulang.
Semua fraktur-dislokasi bersifat tak
stabil dan terdapat banyak risiko.

Translasi Horizontal

CEDERA
THORAKOLUMBAL
Penyebab tersering cedera
torakolumbal adalah jatuh dari
ketinggian serta kecelakaan lalu
lintas.
Jatuh dari ketinggian fraktur
tipe kompresi.
Pada kecelakaan lalu lintas
fraktur dislokasi.

Terdapat dua tipe berdasarkan kestabilannya,


yaitu:
Cedera stabil :
- bagian yang terkena tekanan : medulla spinalis
anterior
- komponen vertebral tidak bergeser dengan
pergerakan normal
- ligamen posterior tidak rusak
-contoh : fraktur kompresi
Cedera tidak stabil :
- vertebra dapat bergeser dengan gerakan normal
- ligamen posteriornya rusak atau robek.

Pemeriksaan radiografi minimal ada 4 posisi :


- Anteroposterior
- Lateral
- Oblik kanan
- Oblik kiri.
Dalam menilai stabilitas vertebra, ada tiga unsur :
- kompleks posterior
- kompleks media
- kompleks anterior

Pembagian kolumna vertebralis adalah


sebagai berikut :
kolumna anterior : ligament longitudinal
dan 2/3 bagian anterior dari corpus
vertebra, diskus dan annulus vertebralis.
kolumna media : 1/3 bagian posterior
dari corpus vertebralis, diskus dan
annulus vertebralis.
kolumna posterior : pedikulus, sendisendi permukaan, arkus tulang posterior,
ligamen interspinosa dan supraspinosa.

Berdasarkan mekanisme cederanya,


dapat dibagi menjadi:
Fraktur kompresi (Wedge
fractures)

Fraktur remuk (Burst fractures)

Fraktur dislokasi

Cedera pisau lipat (Seat belt


fractures)

Klasifikasi Fraktur Stabil dan Tidak Stabil

Klasifikasi Magerl

CEDERA MEDULLA
SPINALIS
Lesi Korda Lengkap
Paralisis lengkap dan tidak ada sensasi di
bawah tingkat cedera menunjukkan transeksi
korda.
Selama stadium syok spinal, bila tidak ada
refleks anal (tidak > 24 jam pertama) diagnosis
tidak dapat ditegakkan.
Jika refleks anal pulih kembali dan defisit saraf
terus berlanjut lesi korda bersifat lengkap.
Setiap lesi korda lengkap yang berlangsung >
72 jam tidak akan sembuh.7

Lesi Korda Tidak Lengkap

Grading system pada cedera medulla


spinalis :
Klasifikasi Frankel :
Grade A : motoris (-), sensoris (-)
Grade B : motoris (-), sensoris (+)
Grade C : motoris (+) dengan ROM 2
atau 3, sensoris (+)
Grade D : motoris (+) dengan ROM 4,
sensoris (+)
Grade E : motoris (+) normal, sensoris
(+)

Klasifikasi ASIA (American Spinal


Injury Association)

DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN


FRAKTUR VERTEBRA
Diagnosis klinik adanya fraktur thorakolumbal
didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan:


1. Roentgenography
2. Computerized Tomography
3. Magnetic Resonance Imaging

PENANGANAN DAN
TERAPI
Pertolongan pertama dan penanganan darurat
trauma spinal terdiri atas:
- penilaian kesadaran, jalan nafas, pernafasan,
sirkulasi, kemungkinan adanya perdarahan dan
segera mengirim penderita ke unit trauma spinal
( jika ada).
- Selanjutnya dilakukan pemeriksaan klinik secara
teliti meliputi pemeriksaan neurologis fungsi
motorik, sensorik dan reflek untuk mengetahui
kemungkinan adanya fraktur pada vertebra.

Terapi pada fraktur vertebra diawali dengan


mengatasi nyeri dan stabilisasi untuk mencegah
kerusakan yang lebih parah lagi, semuanya
tergantung dari tipe fraktur.
1. Braces & Orthotics
Ada tiga hal yang dilakukan yakni,
mempertahankan kesejajaran vertebra
(alignment)
imobilisasi vertebra dalam masa penyembuhan
mengatasi rasa nyeri yang dirasakan dengan
membatasi pergerakan.

2. Pemasangan alat dan proses penyatuan


(fusion).
Teknik ini adalah teknik pembedahan yang
dipakai untuk fraktur tidak stabil.
Fusion adalah proses penggabungan dua
vertebra dengan adanya bone graft dibantu
dengan alat-alat seperti plat, rods, hooks dan
pedicle screws.
Hasil dari bone graft adalah penyatuan vertebra
dibagian atas dan bawah dari bagian yang
disambung.

3. Vertebroplasty & Kyphoplasty


Tindakan ini adalah prosedur invasi yang minimal. Pada
prinsipnya teknik ini digunakan pada fraktur kompresi
yang disebabkan osteoporosis dan tumor vertebra.

Pengelolaan penderita dengan paralisis meliputi :


a. Pengelolaan kandung kemih dengan pemberian
cairan yang cukup, kateterisasi dan evakuasi kandung
kemih dalam 2 minggu
b. Pengelolaan saluran pencernaan dengan pemberian
laksadin
c. Monitoring cairan masuk dan cairan yang keluar
dari tubuh
d. Nutrsi dengan diet tinggi protein secara intravena
e. Cegah dekubitus
f. Fisioterapi untuk mencegah kontraktur

DAFTAR PUSTAKA

Blumenfeld H. 2002. Neuroanatomy Through Clinical Cases.


Sanauer Assiciates, Inc.
Boos N. dan Aebi M. 2008. Spinal Disorders: Fundamental of
Diagnosis and Treatment. Springer.
Dennis H. H. dan Tak H. H. 2011. A Review of Thoracolumbar Spine
Fracture Classifications. Journal of Orthopaedics and Trauma. Vol
1. Singapore
Moore K. Essential Clinical Anatomy. Second Edition. Baltimore:
Williams and Wilkins. 2002
Rasjad C. Ilmu Bedah Ortopedi. Makassar: Lamumpatue. 2003
Greene W. B. 2006. Netters Orthopaedics (1st Edition). Elsevier.
U.S. A
Sjamsuhidajat R. Dan Jong W. D. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah EGC,
Jakarta, Indonesia.
Jong, W.D, Samsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
2005; 870-874.
Apley,A.Graham. Apleys System O Orthopaedic And