Anda di halaman 1dari 17

1

Preeklampsia-Eklampsia
Fadly Carnady Lase

Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana, Jakarta


Kelompok B4, NIM 102009161, Semester VI
Fadly.carnady@yahoo.com
Abstrak:
Preeklampsiaeklampsiamerupakansalahsatupenyebabkematianutamaibudidunia.Penyakitini
diklasifikasikan sebagai hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan. Keadaan ini ditandai oleh
hipertensi,oedema,danproteinuriapadapreeklampsia,diikutidengankejangdanataukomapada
eklampsia.
Kata Kunci: Preeklampsia, eklampsia
Abstract :
Preeclampsia eclampsia is an important cause of maternal mortality in the world. Classified as
hypertension induced by pregnancy, its signed by hypertension, oedema, and proteinuria in
preeclampsia,butineclampsia,itsaccompaniedbyseizureandorcomabesidetriaspreeclampsia.
Keywords: Preeclampsia,eclampsia

Pendahuluan
Preeklampsia-eklampsia merupakan penyebab utama peningkatan morbiditas dan mortilitas maternal,
janin, dan neonatus. Hal ini tidak hanya terjadi pada negara berkembang, tetapi juga negara maju.
Perempuan hamil dengan hipertensi mempunyai risiko tinggi terjadinya preeclampsia-eklampsia.
Secara fisiologis, tekanan darah mulai menurun pada trimester kedua, yang mencapai rata-rata 15
mmHg lebih rendah dari tekanan darah sistolik sebelum hamil pada trimester ketiga. Penurunan ini
terjadi baik pada yang normotensi maupun hipertensi kronik.1
Preeklampsia-Eklampsia adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh
kehamilan. Preeklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat kehamilan setelah usia
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada
penderita preeklampsia yang disusul dengan koma. Kejang disini bukan akibat kelainan neurologis
Preeklampsia-Eklampsia hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya
terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu pada remaja belasan tahun atau pada
wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya dijumpai pada
keadaan-keadaan berikut:

Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis


Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus
Penyakit ginjal

Ringkasan
Pemeriksaan
Anamnesis

Identitas pasien : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, alamat, agama, dsb.

Nama suami atau keluarga terdekat

Riwayat haid terakhir : kapan hari pertama haid terakhir

Riwayat penyakit sebelumnya : hipertensi, DM, penyakit ginjal

Riwayat kehamilan sebelumnya : abortus, kehamilan kembar

Jumlah anak : multipara.2-3

3
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan tanda vital untuk melihat kondisi umum yang mungkin
menjadi penyebab utama yang mempengaruhi kondisi umum pasien. Pemeriksaan fisik ditujukan
untuk menemukan berbagai kondisi klinis preeclampsia-eklampsia.

Penilaian keadaan umum dan kesadaran penderita


Penilaian tanda-tanda vital
Pemeriksaan kepala dan leher
Pemeriksaan dada(jantung dan paru-paru)
Pemeriksaan perut ( kembung, nyeri tekan atau lepas, ramda andomen akut, cairan

bebas dalam rongga perut)


Pemeriksaan anggota gerak ( antara lain edema tungkai bawah dan kaki
Pemeriksaan tanda vital : suhu, tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas
Inspeksi : bentuk parut, bekas luka/operasi, perubahan : linea nigra, striae gravidarum
(livide/alba),tumor/benjolan
Pengukuran tinggi fundus uteri untuk mengetahui umur kehamilan ibu :

Di atas sympisis pubis =12 minggu

Setinggi pusat = 24 minggu

3 jari di bawah proc. Xyphoideus = 36 minggu

symphisis pusat = 16 minggu

pusat proc. Xyphoideus = 32 minggu

20 31 cm diatas symphisis = umur dalam minggu.3

Pemeriksaan bayi kembar : pada palpasi teraba 2 bagian besar berdampingan atau teraba adanya 3
bagian besar.
Periksa letak anak dalam rahim :

Situs : sumbu panjang anak terhadap sumbu panjang ibu : memanjang/melintang

Habitus : fleksi atau defleksi

Position : letak bagian anak terhadap ibu

Presentation : bagian terendah anak

Palpasi menurut Leopold :

4
Leopold 1: untuk menentukan tinggi fundus dan bagian anak yang terletak di fundus

Pasien tidur terlentang dengan lutut ditekuk

Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien menghadap ke arah kepala pasien

Uterus dibawa ke tengah (kalau posisinya miring)

Dengan kedua tangan tentukan tinggi fundus

Dengan satu tangan tentukan bagian apa dari anak yang terletak dalam fundus

Leopold 2 : untuk menentukan letak punggung janin

Posisi pasien dan pemeriksa tetap

Kedua tangan pindah ke samping uterus ditekan ke tengah untuk menentukan letak punggung
anak (punggung anak memberikan tahanan terbesar)

Pada letak lintang di pinggir kanan kiri uterus terdapat kepala atau bokong

Leopold 3 : untuk menentukan bagian bawah janin

Posisi pasien dan pemeriksa tetap.

Pemeriksa memakai satu tangan menentukan apa bagian bawah (kepala atau bokong).

Bagian bawah coba digoyangkan, apabila masih bisa , berarti bagian tersebut belum terpegang
oleh panggul (bagian terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul)

Leopold 4 : untuk menentukan apakah kepala sudah masuk panggul (hanya pada letak kepala)

Posisi pasien tetap, pemeriksa menghadap ke arah kaki pasien

Dengan kedua belah tangan ditentukan seberapa jauh kepala masuk panggul

Bila posisi tangan konvergen, berarti baru sebagian kecil kepala masuk panggul

Bila posisi tangan sejajar, berarti separuh dari kepala masuk panggul

Bila posisi tangan divergen, berarti sebagian besar kepala sudah masuk panggul.

Leopold 4 tidak dilakukan bila kepala masih tinggi.2-3

Auskultasi :

Bisa dilakukan dengan stetoskop kebidanan atau dengan fetal heart detector (Doppler)

Pada auskultasi bisa didengar bermacam-macam bunyi :

Anak : bunyi jantung, bising tali pusat, gerakan anak

Ibu : bising a. uterine, bising aorta, bising usus

Dengan Doppler, bunyi jantung anak dapat didengar sejak umur kehamilan 12 minggu

Dengan stetoskop, baru didengar pada umur kehamilan 26 minggu

Frekuensi jantung bayi normal : 120-140x/menit

Frekuensi jantung dewasa normal : 60-80x/menit.3

Pemeriksaan penunjang antenatal rutin menurut American College of Obstetrics & Gynecology
Umur kehamilan
Permulaan hamil

Jenis pemeriksaan
Pemeriksaan hematokrit atau Hb

Hitung darah lengkap : eritrosit, leukosit, trombosit

Pemeriksaan urin / urinalisis


o Volume
o Warna
o Sedimen
o Kimiawi : protein

8 18 minggu

16-18 minggu
26-28 minggu
28 minggu

32-36 minggu

Pemeriksaan golongan darah dan Rh

Antibodi screening

Pemeriksaan Sifilis, rubella, hepatitis B

Cervical sitologi

USG

Amniocentesis

Chorionic villi sampling


Maternal serum alphafetoprotein
Diabetes screening
Hb/hematokrit

Antibody test untuk ibu Rh (-)

Profilaksis Rhogam
USG

Testing for STD

Hb/ hematokrit

Sumber : Cunningham FG, Gant FG, Leveno KJ, Gillstrap L, Hauth JC, Wenstrom D. Obstetri Williams. Volume 1. Edisi
21. Jakarta : EGC; 2006

Dalam kasus di atas pemeriksaan laboratorium yang dapat diapakai adalah sebagai berikut :

Hb

Leukosit: N/meningkat

Trombosit : Trombositopenia (Normal 150.000- 400.000/uL)

Hematokrit : (Normal laki-laki 25-42, perempuan 36-48)

GDS : menghilangkan faktor risiko DM (normal <120)


Creatinin : mengetahui adanya gangguan fungsi ginjal (laki-laki 0,9-1,3, perempuan 0,6- 1,1)
SGPT : mengetahui adanya peningkatan enzim hati (terjadi pada HELLP sindrom)
Pemeriksaan urin : Proteinuria.1

DD
Umumnya eklamsia lebih banyak didiagnosis daripada kurang terdiagnosis dibanding dengan epilepsi,
malaria serebral, trauma kepala, penyakit serebrovaskuler, intoksikasi (alkohol, obat, racun), kelainan
metabolisme (asidosis), meningitis, ensefalitis, ensefalopati, intoksikasi air, histeria dan lain-lain.
Tetapi sebelum kausa-kausa lain ini dapat disingkirkan, semua wanita hamil dengan kejang harus
dianggap menderita eklamsia.
WD
Preeklampsia-Eklampsia
Manifestasi Klinis

Hipertensi

Tekanan darah sistolik 160 mmHg


Tekanan darah diastolik 110 mmHg
Peningkatan kadar enzim hati
Trombositopenia

Kejang

Penurunan kesadaran

Proteinuria

Nyeri epigastrium
Gangguan visus lain atau nyeri frontal yang berat

Perdarahan retina
Edema pulmonum
Koma.4-7

7
Klasifikasi klinik :

Preeclampsia : ringan dan berat

Eklampsia

HELLP Syndrome : Hemolisis (pecahnya sel darah merah), elevated liver enzyme (peningkatan
enzim hati akibat kerusakannya), Low Platelet Count (kadar trombosit rendah, mudah
perdarahan, darah sulit membeku).1-7

Preeklampsia ringan : TD 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu, proteinuria 300 mg/hari
atau dipstick 1+, tanpa atau disertai gejala klinik
Preeklamapsia berat : TD 160/110 mmHg, proteinuria 2.0 gr / hari atau dipstick 2+, sakit kepala,
gangguan visual, nyeri epigastrik, oliguria <400-500 cc/hari, hiperrefleks, bilirubin 1.2 mg/dl,
LDH >600 IU/L, SGOT >70 mg/dl
Eklampsia : preeclampsia berat + kejang, adanya komplikasi pendarahan otak serta edema pulmonary.2
Diagnosis
Alur diagnosis pasien anemia
Kriteria diagnosis
Preeklampsia :
Kriteria minimum : tekanan darah 140/90 mmHg, umur kehamilan 20 minggu, disertai proteinuria
300mg/24 jam atau dipstick 1+
Eklampsia :
Kriteria : kriteria preeclampsia disertai kejang dan penurunan kesadaran (koma).2,5,7
Epidemiologi
Menurut World Health Organization (WHO), salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu dan
janin adalah pre-eklamsia (PE), angka kejadiannya berkisar antara 0,51%-38,4%. Di negara maju
angka kejadian pre- eklampsia berkisar 6-7% dan eklampsia 0,1-0,7%. Sedangkan angka kematian ibu
yang diakibatkan pre-eklampsia dan eklampsia di negara berkembang masih tinggi.2

Etiologi
Belum diketahui
Faktor risiko :

Nullipartus

Riwayat kehamilan sebelumnya

Riwayat keluarga yang mengalami eklampsia/preeclampsia

Kehamilan kembar

Adanya riwayat hipertensi atau gangguan ginjal

Riwayat diabetes mellitus

Mola hidatidosa

Infeksi saluran kemih.2,5,7

Patofisiologi
Vasokonstriksi merupakan dasar patogenesis preeclampsia-eklampsia.
Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi. Adanya
vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga terjadi kerusakan
endotel, kebocoran arteriole disertai perdarahan mikro pada tempat endotel. Selain itu, adanya
vasokonstriksi arteri spiralis akan menyebabkan terjadinya penurunan perfusi uteroplasenter yang
selanjutnya akan menimbulkan maladaptasi plasenta. Hipoksia/ anoksia jaringan merupakan sumber
reaksi hiperoksidase lemak, sedangkan proses hiperoksidasi itu sendiri memerlukan peningkatan
konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian akan mengganggu metabolisme di dalam sel.4-5
Peroksidase lemak adalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang menghasilkan hiperoksidase
lemak jenuh. Peroksidase lemak merupakan radikal bebas.
Apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu, dimana peroksidase dan oksidan lebih dominan,
maka akan timbul keadaan yang disebut stress oksidatif. Pada PEE serum anti oksidan kadarnya
menurun dan plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan pada wanita hamil
normal, serumnya mengandung transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai
antioksidan yang cukup kuat.

Peroksidase lemak beredar dalam aliran darah melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini akan
sampai ke semua komponen sel yang dilewati termasuk selsel endotel yang akan mengakibatkan
rusaknya sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut akan mengakibatkan antara lain :

a) Adhesi dan agregasi trombosit.


b) Gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma.
c) Terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotonin sebagai akibat dari rusaknya trombosit.
d) Produksi prostasiklin terhenti.
e) Terganggunya keseimbangan prostasiklin dan tromboksan.
f) Terjadi hipoksia plasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase lemak.4
Preeklamsia-eklampsia merupakan syndrome yang gejalanya mengenai banyak system organ,
diantaranya otak, hati, ginjal, pembuluh darah, dan plasenta. Kegagalan invasi sinsitio trofobalas dari
arteri spiralis uterus adalah salah satu awal dari gangguan ini. Pembuluh darah tersebut tidak
bertransformasi menjadi pembuluh darah yang berdilatasi seperti pada kehamilan normal. Kelahiran
itu menyebabkan perfusi plasenta buruk dan menghambat pertumbuhan. Banyak penelitian yang
menitikberatkan pada perubahan abnormal molekul adhesi sitotrofobalas, integrin dan interaksi ligan
reseptor factor pertumbuhan endotel vaskuler plasenta.4
Penatalaksanaan
Terapi Farmakologi
Obat antihipertensi dapat memberikan efek pada aliran darah uteroplasenta, dan diberikan untuk
keamanan ibu, bukan untuk meningkatkan hasil perinatal. Obat antihipertensi yang terbaik untuk
kehamilan adalah metildopa, dapat juga digunakan beta bloker (labetalol) dan ca antagonis
(nifedipin). Jika perkiraan persalinan lebih dari 48 jam maka pemberian obat oral lebih aman, namun
bila persalinan sudah dekat maka pemberian obat diganti parenteral karena lebih praktis dan efektif.
Antihipertensi diberikan sebelum induksi persalinan untuk TD menetap sekitar 105-110 mmHg atau
lebih tinggi dengan mencapai target 95-105 mmHg.
Magnesium sulfat dapat digunakan untuk mencegah resiko preeklamsia menjadi eklamsia. Pemeberian
magnesium sulfat untuk profilaksis kejang pada ibu hamil denga preeklamsia dapat melalui jalur
intramuscular atau intravena. Dosisnya 5 gram IM pada masing-masing bokong secara bergantian
setiap 4 jam.6

Preeklamsia :

Dirawat di rumah sakit

10

Istirahat total

Resusitasi cairan : ringer laktat, dektrose 5 %

MgSO4 IV

Antihipertensi: hidralazin, labetalol, nifedipine : 10-20 mg/oral setiap 0.5-1 jam


Dosis maksimal 120 mg/24 jam

Anti diuretika tidak direkomendasikan

Antioksidan : N-asetil cystein

Kortikosteroid : pematangan paru pada kehamilan 34 minggu.2

Penatalaksanaan pasien pre eklampsia berat yaitu :

Segera masuk rumah sakit

Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks
patella setiap jam.

Infus

dextrose

5%

dimana

setiap

liter

diselingi

dengan

infus

RL

(60-125

cc/jam) 500 cc.

Antasida

Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.

Pemberian obat anti kejang : magnesium sulfat

Diuretikum

tidak

diberikan

kecuali

bila

ada

tanda-tanda

edema

paru,

payah

jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg/im.

Antihipertensi diberikan bila :

Desakan darah sistolis lebih 180 mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAP
lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105
mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta.

Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.

11

Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obatobat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang
biasa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan
dengan tekanan darah.

Bila

tidak

tersedia

antihipertensi

parenteral

dapat

diberikan

tablet

antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali.


Bersama dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai
diberikan secara oral.

Kardiotonika
Indikasinya

bila

ada

tanda-tanda

menjurus

payah

jantung,

diberikan

digitalisasi

cepat dengan cedilanid D.

Lain-lain :

Konsul bagian penyakit dalam / jantung, mata.

Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rektal lebih 38,5 derajat celcius dapat
dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc
IM.

Antibiotik diberikan atas indikasi.

Diberikan ampicillin 1 gr/6 jam/IV/hari.

Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat
diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam
sebelum janin lahir.

Eklampsia :

Kontrol jalan napas, sirkulasi udara pasien

12

Menenangkan si ibu

Kontrol kejang

Periksa adanya hipoksemia atau tidak

Cegah komplikasi : krisis hipertensi

Resusitasi cairan : ringer laktat, dektrose 5 %

MgSO4 IV

Antihipertensi: hidralazin, labetalol, nifedipine : 10-20 mg/oral setiap 0.5-1 jam


Dosis maksimal 120 mg/24 jam

Anti diuretika tidak direkomendasikan

Antioksidan : N-asetil cystein

Kortikosteroid : pematangan paru pada kehamilan 34 minggu.2

Pemberian Magnesium Sulfat


Cara pemberian magnesium sulfat :

Dosis awal sekitar 4 gram MgSO4 IV (20 % dalam 20 cc) selama 1 gr/menit
kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gr
di pantat kiri dan 4 gram di pantat kanan (40 % dalam 10 cc) dengan jarum no
21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2%
yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.

Dosis ulangan : diberikan 4 gram intramuskuler 40% setelah 6 jam pemberian


dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian
MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.

Syarat-syarat pemberian MgSO4 :

Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10%, 1 gram (10% dalam 10
cc) diberikan intravenous dalam 3 menit.

13

Refleks patella positif kuat

Frekuensi pernapasan lebih 16 kali per menit.

Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBB/jam).

MgSO4 dihentikan bila


o Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologis
menurun, fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya
dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot-otot pernapasan
karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter.
Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq
terjadi kelumpuhan otot-otot pernapasan dan lebih 15 mEq/liter terjadi
kematian jantung.
o Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat :Hentikan pemberian
magnesium sulfat
o Berikan calcium gluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam
waktu 3 menit.
o Berikan oksigen.
o Lakukan pernapasan buatan.
o Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah
terjadi perbaikan (normotensif).

Penatalaksanaan obstetric:

Konservatif : untuk melihat perkembangan bayi tanpa menimbulkan risiko terhadap ibunya.
Syarat : umur kehamilan 37 minggu, gejala eklampsia belum muncul

Radikal : menghilangkan janin


Syarat :

14
Bayi : umur kehamilan 37 minggu, IUGR dan adanya abnormalitas pada janin
Ibu : hipertensi persisten, eklampsia, komplikasi : HELLP Syndrome,abruptio placenta,oliguria
Mekanisme persalinan : persalinan pervagina lebih dipilih daripada section caesarea.
Sectio caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen
dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding
rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat.
Indikasi Sectio caesarea :
Ibu :
o Disproporsi kepala panggul/CPD//FPD
o Disfungsi uterus
o Distosia jaringan lunak
o Plasenta previa
Anak :
o Janin besar
o Gawat janin
o Letak lintang
Kontra indikasi sectio caesaria : pada umumnya sectio caesarian tidak dilakukan pada janin mati, syok,
anemi berat, sebelum diatasi, kelainan kongenital berat

Pencegahan

Pemeriksaan ibu hamil secara teratur

Mengontrol tekanan darah secara teratur

15

Komplikasi
Ibu
HELLP Syndrome
Ruptur hati
Edema pulmonum
Gagal ginjal
Abruptio placenta
DIC
Kematian ibu.2

Bayi
IUGR
Kelahiran premature
Pendarahan intra cranial
Serebral palsy
pneumothorax
IUFD

Komplikasi akibat section caesarea:


Pada Ibu
o Infeksi puerperal (sepsis, bakteremia)
o Perdarahan
o Komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru, dan sebagainya jarang terjadi.
Pada anak
o Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan sectio caesaria banyak
tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesaria. Menurut statistik di
negara negara dengan pengawasan antenatal dan intra natal yang baik, kematian perinatal pasca
sectio caesaria berkisar antara 4 - 7 %.
Prognosis
Dubia ad bonam/baik bagi ibu apabila mendapatkan penatalaksanaan yang adekuat.
Dubia ad malam bagi janin apabila ibu sudah mengalami eklampsia

Penutup

16
Preeklampsia-Eklampsia adalah penyakit pada wanita hamil yang secara langsung disebabkan oleh
kehamilan. Preeklampsia adalah hipertensi disertai proteinuri dan edema akibat kehamilan setelah usia
kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia adalah timbulnya kejang pada
penderita preeklampsia yang disusul dengan koma. Kejang disini bukan akibat kelainan neurologis
Preeklampsia-Eklampsia hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada nullipara. Biasanya
terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem yaitu pada remaja belasan tahun atau pada
wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya dijumpai pada
keadaan-keadaan berikut:

Kehamilan multifetal dan hidrops fetalis


Penyakit vaskuler, termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes mellitus
Penyakit ginjal

Daftar Pustaka

17

1. Suhardjono. Hipertensi kehamilan. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK,
Setiati S, editor. Ilmu penyakit dalam. Edisi ke-4. Jilid I. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006. h.614-5.
2. Cunningham FG, Gant FG, Leveno KJ, Gillstrap L, Hauth JC, Wenstrom D. Obstetri Williams.
Volume 1. Edisi 21. Jakarta : EGC; 2006.
3. Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi 1. Jakarta: Sagungseto; 2010
4. Brackley K, Killby MD. Pathogenesis of Pre-eclampsia. In: Churchill D, Beevers DG.
Hypertension in Pregnancy. London: BMJ Book, 2009. P.82-94.
5. Yogiantoro M. Hipertensi dan Kehamilan. Jakarta: PENEFRI, 2007. H.89-96.
6. Sudhaberata, K. 2001. Penanganan Preeklampsia Berat dan Eklampsia. Cermin dunia
kedokteran 133, Cermin Dunia Kedokteran No.133; hal: 26-30.
7. Wiknjosastro, H. 2005. Preeklampsi dan Eklampsi dalam Ilmu Kebidanan. Edisi ke 3.Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta