Anda di halaman 1dari 35

SKENARIO 1

Lemah, Letih, Lesu, dan Tidak Bergairah


Ny. Annisa, 35 tahun dengan berwajah pucat, datang ke poliklinik
mengeluh lemas, dan mudah lelah, yang sudah dirasakan sejak 6 bulan terakhir.
Ny. Annisa bekerja sebagai buruh pabrik di daerahnya. Setiap harinya dia bekerja
dari pagi hingga sore, tanpa pernah sarapan pagi, dan bila waktu istirahat, dia
hanya makan seadanya. Dari pemeriksaan didapatkan konjungtiva anemis, sklera
tidak ikterik. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa nilai Hb, MCH,
MCHC, MCV turun disertai dengan harga TIBC yang meningkat dan telapak
tangan dan kaki pucat, tidak ditemukan nafas cuping hidung dan retraksi dinding
dada. Oleh dokter, Ny. Annisa diberi obat sulfat ferrous dan diijinkan pulang
dengan catatan harus memperbaiki pola makan dan jenis makanan yang
dikonsumsi.

SEVEN JUMP
I.

MENGKLARIFIKASI ISTILAH
a. Konjungtiva
b. Poliklinik
c. Hemoglobin
d. MCH
e. MCHC
f. Sklera
g. MCV
h. Retraksi
i. TIBC
j. Sulfat ferrous
a. Konjungtiva
Lapisan pelindung epitelium yang melapisi setiap kelopak dan
terlipat kembali diatas anterior bola mata.
(Sloane,ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta :
EGC)

Membran halus yang melapisi kelopak mata dan menutupi bola


mata.

(Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.2002.Jakarta:EGC)


b. Poliklinik
Fasilitas

pelayanan

kesehatan

yang

menyelenggarakan

pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan


medis dasar dan atau spesialistik, diselenggarakan oleh lebih
dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang
tenaga medis.
(Permenkes RI No 28/MENKES/PER/1/2001 tentang KLINIK)
c. Hemoglobin
Pigmen pembawa oksigen pada eritrosit, dibentuk oleh eritrosit
yang sedang berkembang didalam sumsum tulang.
(Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.2002.Jakarta:EGC)

d. MCH

Mean Corpuscular Hemoglobin yaitu hemoglobin eritrosit ratarata (HER), yaitu banyaknya eritrosit yang dinyatakan dengan
pikogram (pg).

(Gandasoebrata R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik.Jakarta :


Dian Rakyat)

Ukuran kandungan oksigen yang dibawa sel darah merah.

(U.S

Department

of

Health

and

Human

Services

from

Http://nhlbi.nih.gov National Heart, Lung, and Blood Institute)


e. MCHC
Total konsentrasi rata rata sel darah merah.
(U.S

Department

of

Health

and

Human

Services

from

Http://nhlbi.nih.gov National Heart, Lung, and Blood Institute)

Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata. Perbandingan setiap


eritrosit yang ditempati oleh hemoglobin.

(Price dan Wilson.2005.Patofisiologi:Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit.Jakarta:EGC)
f. Sklera
Lapisan luar bola mata, kuat, dan berwarna putih yang

menutupi kurang lebih

5
6

bagian permukaan belakang bola

mata bersambungan dengan kornea (diposterior) dan selubung


luar saraf optik (disposterior).
(Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.2002.Jakarta:EGC)
g. MCV
Mean Corpuscular Volume: kandugan Hemoglobin seritrosit
rata-rata dalam volume.
(Difa Danis. 2009. Kamus istilah kedokteran. Surabaya: Gitamedia
Press Publication)

Ukuran rata rata sel darah merah.

(U.S

Department

of

Health

and

Human

Services

from

Http://nhlbi.nih.gov National Heart, Lung, and Blood Institute)


h. Retraksi
Tindakan menrik kembali atau keadaan tertarik kembali.
(Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.2002.Jakarta:EGC)
i. TIBC
Pemeriksaan laborat untuk mengetahui kandungan ion / fe
dalam tubuh
(U.S

Department

of

Health

and

Human

Services

from

Http://nhlbi.nih.gov National Heart, Lung, and Blood Institute)


j. Sulfat ferrous
Merupakan suatu obat yang mengandung zat besi yang
dibutuhkan oleh tubuh untuk menghasilkan sel darah merah.
(Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, B., dkk.2009.Buku Ajar:Ilmu
Penyakit Dalam.Jakarta:EGC)

II.

MENGIDENTIFIKASI MASALAH
A. Kalimat Berita
1. Ny. Annisa 35 tahun, pucat, lemas, mudah lemah.
2. Bekerja dari pagi sampai sore tanpa sarapan.
3. Saat istirahat makan seadanya.
4. Pemeriksaan fisik yang didapat konjungtiva anemis, sklera
tidak ikterik, telapak tangan dan kaki pucat, tidak ditemuka
nafas cuping hidung dan retraksi dada.
5. Pemeriksaan laboratorium yang didapat hemoglobin, MCH,
MCHC, dan MCV menurun sedangakan TIBC meningkat.
6. Terapi diberikan obat sulfat ferrous.
7. Memperbaiki pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi.
B. Kalimat Tanya
1. Mengapa Ny. Annisa berwajah pucat, lemah dan mudah lelah,
serta kenapa konjungtiva anemis, telapak tangan dan kaki
pucat?
2. Kenapa nilai Hb, MCH, MCHC, MCV menurun, tapi harga
TIBC meningkat dan apa hubungannya?
3. Kenapa dokter memberikan obat sulfate ferrous?
4. Bagaimana farmokologi dan farmakokinetik dari obat sulfat
ferrous?
5. Apakah kontra indikasi dari obat sulfate ferrous tersebut?
6. Mengapa harus mengatur pola makan yang sehat?
7. Berapakah nilai Hb, MCH, MCHC, MCV dan TIBC yang
normal?
8. Bagaimana cara menghitung MCV, MCHC, dan MCH?
9. Dimanakah lokasi penyimpanan zat besi di dalam tubuh?
10. Didapat dari manakah sumber alami besi?
11. Berapakah dosis dari obat sulfat ferrous dan apakah cukup
diberikan hanya sekali?
12. Apakah efek samping dari obat ferrous sulfat?

III.

MENGANALISIS MASALAH
1. Mengapa Ny. Annisa berwajah pucat, lemah dan mudah lelah, serta
kenapa konjungtiva anemis, telapak tangan dan kaki pucat?
Ny. Annisa berwajah pucat, mengeluh lemas dan mudah
lelah karena pada anemia tubuh tidak bisa memproduksi sel darah
merah yang cukup sehingga menyebabkan tekanan darah menjadi
rendah/menurun sehingga oksigen yang dialirkan ke otak, area
sensitif dan ekstremitas kurang sempurna dan menyebabkan wajah
pucat dan konjungtiva anemis.
(Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, B., dkk.2009.Buku Ajar:Ilmu
Penyakit Dalam.Jakarta:EGC)
Dalam proses metabolisme pembentukan energi dalam
tubuh, diperlukan proses perombakan glukosa dan oksigen dalam
darah, dengan cara:
Fosfolirasi oksidatif : dengan menggunakan O2 ( Aerob )
Glikolisis : Tanpa menggunakan O2 ( Anaerob )
Pada penderita anemia, tubuh kekurangan oksigen dalam darah,
sehingga metabolisme pembentukan energi yang dihasilkan
menggunakan proses anaerob, hal ini berakibat dalam banyaknya
penimbunan asam laktat.
Sementara proses Anaerob tidak banyak menghasilkan oksgen,
sehingga oksigen yang harusnya dialirkan ke otak dan area wajah
menjadi berkurang
(Martini, Frederic H. Judi L. Nath. And Edwin F. Bartholomew.
2012. Fundamentals of Anatomy & Physiology. San Francisco:
Pearson Education)

2. Kenapa nilai Hb, MCH, MCHC, MCV menurun, tapi harga TIBC
meningkat dan apa hubungannya?
N
O
1
2
3

JENIS TEST

PENGUJIAN

HASIL

SDM, SDP,

Menguji bentuk, ukuran dan

Apabila TURUN

dan Platelet
Perbedaan

karakteristik pada sel darah


Mengidentifikasi 5 tipe WBC

indikasi anemia
Perbedaan SDP

SDP

pada tiap sampel


Jumlah oksigen pembawa

indikasi anemia
Apabila TURUN

protein tersimpan dalam darah

indikasi anemia
Apabila NAIK,

Hemoglobin

anemia kekurangan
4

MCV

Mengukur ukuran rata rata


SDM

B12
Apabila TURUN,
anemia kekurangan

MCH

MCHC

Mengukur kandungan oksigen


yang dibawa SDM
Total konsentrasi hemoglobin
di dalam SDM
Mengukur kandungan kadar

TIBC

zat besi yang bisa ditemukan


dalam transferrin

FE
Apabila TURUN
indikasi anemia
Konsentrasi
abnormal indikasi
anemia
Hasil abnormal
pada test, indikasi
anemia defisiensi

besi
(U.S Department of Health and Human Services from Http://nhlbi.nih.gov
National Heart, Lung, and Blood Institute)

3. Kenapa dokter memberikan obat sulfate ferrous?


Dokter memberinya obat ferrous sulfat karena obat ini
mengandung zat besi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk
menghasilkan sel darah merah. Penggunaannya juga ditujukan
untuk mengobati atau mencegah anemia karena kekurangan zat
besi, kondisi ketka memiliki sel-sel darah merah yang terlalu

sedikit karena kehamilan, pola makan yang buruk, pendarahan


berlebih atau masalah medis lainnya.
(www.unair.ac.id)
Dalam jenis Anemia, terdapat jenis anemia yaitu Iron
Deficiency Anemia,

merupakan

jenis

anemia

dikarenakan

berkurangnya zat besi dalam tubuh.


Zat besi berperan penting dalam pembentukan sel darah merah,
dalam sistem ini, zat besi masuk ke sumsum tulang, dalam hal
berkombinasi dengan Hb dan membentuk sel darah merah. Dalam
kurun waktu tertentu, sel darah merah akan hancur ( Kadalauarsa )
Zat besi masuk ke dalam sumsum tulang ( Lagi ).
Sulfate Ferrous adalah salah satu obat yang mempunyai kandungan
zat besi yang tinggi, sehingga bisa menaikkan kadar zat besi dalam
tubuh.
(U.S Department

of

Health

and

Human

Services

from

Http://nhlbi.nih.gov National
4. Bagaimana farmokologi dan farmakokinetik dari obat sulfat
ferrous?
a. Farmakologi
Bersifat sangat merangsang, karena bereaksi asam dan lebih
sering menimbulkan mual dan muntah.
b. Farmakokinetik
Fe diabsorbsi melalui saluran cerna terutama berlangsung
diduodenum dan jejenum proksimal. Makin ke distal
absorbsinya makin berkurang. Zat ini lebih mudah diabsorbsi
dalam bentuk fero. Transportnya melalui sel mukosa usus
terjadi secara transport aktif.
Setelah diabsorbsi, Fe dalam darah diikat oleh transferin
(siderofilin),

suatu

beta

1-globulin

glikoprotein,

untuk

kemudian diangkut ke berbagai jaringan, terutama ke sumsum


tulang dan depot Fe.
Bila tidak digunakan dalam eritropoiesis, Fe mengikat suatu
protein yang disebut apoferitin dan membentuk feritin. Bila Fe
diberikan secara IV (injeksi), cepat sekali diikat oleh apoferitin
(protein yang membentuk feritin) dan disimpan terutama

didalam hati, sedangkan setelah pemberian oral terutama akan


disimpan dilimpa dan sumsum tulang.
Jumlah Fe yang diekskresi setiap hari sedikit sekali,
biasanya

sekitar

0,5-1

mg

sehari.

Ekskresi

terutama

berlangsung melalui sel epitel kulit dan saluran cerna yang


terkelupas, selain itu juga melalui keringat, urin, feses, serta
kuku dan rambut yang dipotong.
(Setiabudy, Rianto.2012.Farmakologi dan Terapi.Jakarta:Balai
Penerbit FKUI)
5. Apakah kontra indikasi dari obat sulfate ferrous tersebut?
Hipersensitif terhadap senyawa besi atau komponen lain
dalam sediaan, hemokromatotis primer, anemia hemolitik, pasien
yang mendapat transfusi berulang-ulang.
(Setiabudy, Rianto.2012.Farmakologi dan Terapi.Jakarta:Balai
Penerbit FKUI)
6. Mengapa harus mengatur pola makan yang sehat?
Menurut USDA ( United States Department of Agriculture )
merekemondesikan makanan yang sehat dan mengandung banyak
kandungan zat besi serta B12 yang bagus untuk kesehatan tulang,
antara lain :
Bayam 6,43 mg
Lentil 6,59 mg
Nasi putih 7,97 mg
Daging sapi 5,24 mg
Kacang merah 5,2 mg
Tomat 3,38 mg
Kacang chickpea 4,74 mg
Tiram 5,91 mg
(Statement of United States Department of Agriculture)
7.

Berapakah nilai Hb, MCH, MCHC, MCV yang normal?


Nilai hemoglobin normal untuk laki-laki adalah 13,4-17,6
g/dl dan untuk perempuan 12,0-15,4 g/dl. Nilai MCV normal
adalah 81-96 um3/eritrosit. Nilai MCHC yang normal adalah 3036 g/dl eritrosit. Dan untuk nilai MCH yang normal adalah 27-31
pg/eritrosit. Sedangkan untuk nilai TIBC yang normal adalah 300360 ug/dl.

(Price dan Wilson.2005.Patofisiologi:Konsep Klinis ProsesProses Penyakit.Jakarta:EGC)


8. Bagaimana cara menghitung MCH, MCHC, dan MCV?
a. MCH (hemoglobin eritrosit rata-rata)
hemoglobin x 10
MCH = jumlah eritrosit
b. MCHC (konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata)
h emoglobin x 100
MCHC =
h ematokrit
c. MCV (volume eritrosit rata-rata)
hematokrit x 10
MCV = jumlah eritrosit
(Price dan Wilson.2005.Patofisiologi:Konsep Klinis ProsesProses Penyakit.Jakarta:EGC)
9. Dimanakah lokasi penyimpanan zat besi di dalam tubuh?
Lokasi penyiimpanan zat besi di dalam tubuh adalah sebagi
berikut:
1. Hemoglobin (Hb)
2. Mioglobin pada otot skeletal dan jantung
3. Simpanan zat besi sebagai peritin dan heno siderin
4. Zat besi dalam jaringan yang terdiri dari heme dan flavo
protein
5. Transportasi pada pembentukan zat besi
(Michael J. Gilbrey. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC)
10. Didapat dari manakah sumber alami besi?
Zat besi didapatkan dari makanan yang mengandung Fe
dalam kadar tinggi ( > 5 mg/100 g) adalah hati, jantung, kuning
telur, ragi, kacang-kacangan, buah-buahan kering tertentu. Dalam
jumlah sedang ( 1-5 mg/100 g) yaitu daging, ikan, unggas, sayuran
yang berwarna hijau dan biji-bijian. Dalam jumlah rendah ( < dari
1 mg/100 g) yaitu susu atau produknya, sayuran yang kurang hijau.
(Tim

Pengajar

Fakultas

Kedokteran.Farmakologi

dan

Terapi.2012.Jakarta:FKUI)

10

11. Berapakah dosis dari obat sulfat ferrous dan apakah hanya cukup
diberikan sekali?
Dosis yang dianjurkan dalam pemberian obat sulfat ferrous
adalah 3x200 mg. Setiap 200 mg sulfat ferrous mengandung 66 mg
besi elemental. Pemberian sulfat ferrous 3x200 mg mengakibatkan
absorbsi besi 50 mg per hari yang dapat meningkatkan eritropoesis
dua sampai tiga kali normal.
Pengobatan sulfat ferrous diberikan 3-6 bulan, ada juga
yang menganjurkan sampai 12 bulan, setelah kadar Hb normal
untuk mengisi cadangan besi dalam tubuh. Dosis pemeliharaan
yang diberikan adalah 100-200 mg. Jika tidak diberikan dosis
pemeliharaan, anemia akan sering kambuh.
(Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, B.,dkk.2009.Buku Ajar:Ilmu
Penyakit Dalam.Jakarta:Interna Publishing)

11

12. Apakah efek samping dari obat ferrous sulfat?


Efek samping utama dari obat sulfat ferrous ini adalah
gangguan gastrointestinal yang dijumpai pada 15-20 %, yang
sangat mengurangi kepatuhan pasien. Keluhan ini dapat berupa
mual, muntah, serta konstipasi. Untuk mengurangu efek samping,
maka obat sulfat ferrous diberikan saat makan atau dosis dikurangi
menjadi 3x100 mg.
(Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, B.,dkk.2009.Buku Ajar:Ilmu
Penyakit Dalam.Jakarta:Interna Publishing)

12

IV.

SISTEMATIKA MASALAH
ETIOLOGI
Faktor

Faktor

ANEMIA
Viskositas darah

KLASIFIKASI
MAKROSITE
MIKROSITE

PEMERIKSAA
fisik

Resistensi aliran
darah perifer

lab

PENATALAKSANA
AN

Curah jantung
dan pernafasan
menurun (jika
berat)

TERAPI
farmakokinetik
farmakodinam
ik
Jenis Obat

TRANSPLANTAS
I SUM-SUM
TULANG

Pelepasan O2
oleh HB

NORMOSIT
ER
PATOFISIOLOGI
Kegagalan
sum-sum
tulang
Kehilangan
sel darah
merah

Penurunan
transport O2 ke
jaringan

Menurunkan
volume plasma
menarik cairan
dari sela jaringan

TRANSFUSI
Redistribusi
aliran darah ke
organ vital

Pucat, lemah

13

V.

TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Apakah berat badan mempengaruhi nilai hemoglobin?
2. Bagaimanakah penatalaksanaan anemia menurut

jenis-jenis

anemia?
3. Bagaimana proses pembentukan eritrosit?
4. Zat apa sajakah yang dibutuhkan dalam pembentukan eritrosit dan
berapakah masing-masing komposisinya?
5. Bagaimana proses destruksi dari eritrosit?
6. Apa sajakah jenis-jsnis anemia itu?
7. Bagaimanakah prosedur pemeriksaan pada pasien anemia?
8. Apa sajakah macam-macam dari transfusi darah?
9. Apakah resiko dari transfusi darah?
10. Apa sajakah indikasi dari transfusi darah?
11. Apa sajakah komplikasi dari transfusi darah?
VI.

BELAJAR MANDIRI

VII.

MENGUJI INFORMASI BARU


1. Apakah berat badan mempengaruhi nilai hemoglobin?
Batascut off point (titik permulaan)/ batas hemoglobin/
hematokrit yang kita anggap sudah diterjadi anemia dipengaruhi oleh :
a. Umur
b. Jenis kelamin
c. Ketinggian tempat tinggal dari permukaan air laut dll
Jadi, berat badan tidak mempengaruhi nilai hemoglobin yang ada di
dalam tubuh seseorang, karena volume darah perempuan dewasa itu
sama, begitu pula volume darah pada laki-laki dewasa juga sama, yang
beda hanya pada bayi dan kanak-kanak.
(Bakta, I.M ., 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC)
2. Apa sajakah jenis-jenis anemia itu?
1. Anemia mikrositik hipokrom
a. Anemia defisiensi besi
Gejala anemia defisiensi besi di golongkan menjadi tiga
golongan besar :
Gejala umum, di sebut juga sindrom anemia di jumpai pada
anemia defisiensi besi apabila kadar hb turun di bawah 7-8
g/dl. gejala ini berupa badan lemas, lesu, cepat lelah, mata
berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Pada anemia
ini hb turun secara perlahan-lahan. Pada pemeriksaan fisik

14

di jumpai pasien yang pucat, terutama konjungtiva dan


jaringan bawah kuku.
Gejala khas defisiensi besi
a) Koilonychia : Kuku sendok, kuku menjadi rapuh.
b) atrofi papil lidah : Permukaan lidah menjadi licin
karena papil lidah menghilang.
c) stomatitis angularis : adanya keradangan pada sudut
mulut sehingga mulut menjadi pucat.
d) disfagia : nyeri menelan
Gejala penyakit dasar, misalnya pada anemia akibat
penyakit cacing tambang di jumpai dispepsia, parotis
membengkak, dan kulit telapak tangan berwarna kuning.
b. Anemia penyakit kronik ( sideropenic anemia with
reticuloendothelial sid-erosis)
Penyakit ini banyak di hubungkan dengan berbagai
penyakit infeksi seperti infeksi pada paru-paru, ginjal.
Inflamasi kronik
Neoplasma
2. Anemia Makrositik
a. Defisiensi vitamin B12
Adanya gangguan absorpsi vitamin yang yang merupakan
penyakit herediter autoimun, sehingga pada pasien ini akan di
jumpai penyakit-penyakit autoimun lainnya.
b. Defisiensi asam folat
Gejala dan tanda pada anemia defisiensi asam folat dengan anemia
defisiensi vitamin B12, yaitu anemia megaloblastik dan perubahan
megaloblastik pada mukosa mungkin dapat di temui gejala-gejala
neurologis, seperti gangguan kepribadian dan hilangnya daya ingat.
3. Anemia karena perdarahan :
a) Perdarahan akut, Perdarahan yang mendadak biasanya
perdarahan yang di sebabkan oleh kecelakaan.
b) Perdarahan kronis, pengeluaran darah yang sedikit demi
sedikit sehingga tidak di ketahui oleh pasien.

15

4. Anemia Hemolitik
Kelainan darah yang yang didapat dimana autobodi IgG yang
di bentuk terikat pada membran sel darah merah.
5. Anemia aplastik, terjadi karena ketidaksanggupan sumsum
tulang memproduksi sel darah.
(Mansjoer,Arif.2009.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta:Media
Aesculius)
Menurut Aru W. Sudoyo dkk dalam buku yang berjudul Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, ada dua klasifkasi anemia, yaitu:
A. Klasifikasi anemia menurut Etiopatogenesis.
a. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum
tulang.
1. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit.
Anemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi asam folat.
Anemia defisiensi vitamin B12.
2. Gangguan penggunaan/utilisasi besi.
Anemia akibat penyakit kronik.
Anemia sideroblastik.
3. Kerusakan sumsum tulang.
Anemia aplastik.
Anemia mielodisplastik.
Anemia pada keganasan hematologi.
Anemia diseritropotik.
Anemia pada sindrom mielodisplastik.
b. Anemia akibat hemoragi.
Anemia akibat perdarahan akut.
Anemia akibat perdarahan kronis.
c. Anemia hemolitik.
Anemia hemolitik intrakorpuskular
- Gangguan membran eritrosit.
- Gangguan enzim eritrosit
- Gangguan hemoglobin.
Anemia hemolitik ekstrakorpuskular.
- Anemia hemolitik autoimun.
- Anemia mikroangiopatik.
d. Anemia dengan penyebab tidak diketahui atau dengan patogenesis
yang kompleks.
B. Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi dan etiologi.
a. Anemia hipokromik mikrositer.
Anemia defisiensi besi.
Thalassemia major.
Anemia akibat penyakit kronik.

16

Anemia sideroblastik.
b. Anemia normokromik normositer.
Anemia pasca perdarahan akut.
Anemia aplastik.
Anemia hemolitik didapat.
Anemia akibat penyakit kronik.
Anemia pada gagal ginjal kronik.
Anemia pada sindrom mielodisplastik.
Anemia pada keganasan hematologik.
c. Anemia makrositer.
1. Bentuk megaloblastik.
Anemia defisiensi asam folat.
Anemia defisiensi vitamin B12.
2. Bentuk non megaloblastik.
Anemia pada penyakit hati kronik.
Anemia pada hipotiroidisme.
Anemia pada sindrom mielodisplastik.
(Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, B., dkk.2009.Buku Ajar:Ilmu Penyakit
Dalam.Jakarta:EGC)

17

3. Bagaimanakah

penatalaksanaan

anemia

menurut

jenis-jenis

anemia?
1. Anemia Defisiensi Besi.
1.
Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada
ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai.
2.
Pemberian preparat Fe :
Fero sulfat 3 x 325 mg secara oral dalam keadaan perut kosong,
dapat dimulai dengan dosis yang rendah dan dinaikkan
bertahap. Pada pasien yang tidak kuat dapat diberikan bersama
makanan.
Fero glukonat 3 x 200 mg secara oral sehabis makan. Bila
terdapat intoleransi terhadap pemberian preparat Fe oral atau
gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan oral,
maka dapat diberikan secara parenteral dengan dosis 250 mg
Fe ( 3mg/kg BB ) untuk tiap g% penurunan kadar Hb di bawah
normal.
Iron dekstran mengandung Fe 50 mg/ml, diberikan secara
intramuscular mula-mula 50 mg, kemudian 100-250 mg tiap 12 hari sampai dosis total sesuai perhitungan. Dapat pula
diberikan intravena, mula-mula 0,5 ml sebagai dosis percobaan,
Bila dalam 3-5 menit tidak mnimbulkan reaksi, boleh diberikan
250-500 mg.
3.
Selain itu, pengobatan anemia defisiensi zat besi biasanya
terdiri dari suplemen makanan dan terapi zat besi. Kekurangan
zat besi dapat diserap dari sayuran, produk biji-bijian, produk
susu, dan telur. Tetapi yang paling baik adalah diserap dari
daging, ikan, dan unggas. Pada kebanyakan kasus anemia
defisiensi zat besi, terapi zat besi secara oral dengan larutan
Fe2+ + garam besi.
Obat-obat yang dapat menurunkan absorpsi zat besi dalam
tubuh :
Obat antasida yang mengandung Al, Mg, Ca2+.
Tetracycline dan doxycycline
Antagonis H2
Proton pump inhibitor
Cholestyramin
2. Anemia Hemolitik.
18

Penatalaksanaan anemia hemolitik disesuaikan dengan


penyebabnya. Bila karena reaksi toksik-imunologik, yang dapat
diberikan adalah kortikosteroid (prednisone, prednisolon),
kalau perlu dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak
berhasil,

dapat

diberikan

obat-obat

sitostatik,

seperti

klorambusil dan siklofosfamid.


3. Anemia Pernisiosa.
Pemberian vitamin B12 1.000 mg/hari secara intramuscular
selama 5-7 hari, 1 kali tiap bulan.
4. Anemia Defisiensi Asam Folat.
Pengobatan terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan
pula dengan pemberian / suplementasi asam folat oral 1 mg per
hari.
5. Anemia Aplastik.
Transfusi darah, sebaiknya diberikan transfusi darah merah.
Bila diperlukan trombosit, berikan darah segar atau platelet

concentrate.
Atasi komplikasi ( infeksi ) dengan antibiotik. Higiene yang

baik perlu untuk mencegah timbulnya infeksi.


Kortikosteroid, dosis rendah mungkin bermanfaat pada

perdarahan akibat trombositopenia berat.


Androgen,
seperti
fluokrimesteron,

testosteron,

metandrostenolon, dan nondrolon. Efek samping yang


mungkin terjadi, virilisasi, retensi air dan garam, perubahan

hati, dan amenore.


Imunosupresif, seperti siklosporin, globulin antitimosit.
Champlin, dkk menyarankan penggunaannya pada pasien >
40 tahun yang tidak menjalani transplantasi sumsum tulang

dan pada pasien yang telah mendapat transfusi berulang.


Transplantasi sumsum tulang.
6. Anemia Megaloblastik.
Pemberian preparat Fe: fero sulfat 3 x 325 mg secara oral
dalam keadaan perut kosong, dapat dimulai dengan dosis
yang rendah dan dinaikkan bertahap. Pada pasien yang
tidak kuat, dapat diberikan bersama makanan.

19

Fero glukonat 3 x 200 mg secasra oral sehabis makan. Bila


terdapat intoleransi terhadap pemberian preparat Fe oral
atau gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan
oral, dapat diberikan secara perenteral dengan dosis 250 mg
Fe (3 mg/kg BB) untuk tiap g% penurunan kadar Hb

dibawah normal.
Iron dekstran mengandung Fe 50 mg/ml, diberikan secara
intramuskuler mula-mula 50 mg, kemudian 100-250 mg
tiap 1-2 hari sampai dosis total sesuai perhitungan. Dapat
pula diberikan intravena, mula-mula 0,5 ml sebagai dosis
percobaan. Bila dalam 3-5 menit tidak menimbulkan reaksi,

boleh diberikan 250-500 mg.


7. Anemia pada Penyakit Kronis.
Pada anemia yang mengancam nyawa, dapat diberikan
transfusi

darah

merah

seperlunya.

Pengobatan

dengan

suplementasi besi tidak diindikasikan. Pemberian kobalt dan


eritropoeitin dikatakan dapat memperbaiki anemia pada
penyakit kronik.
(Mansjoer Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi
3.Jakarta: Media Aesculapius)

20

4. Bagaimana proses pembentukan eritrosit?

Makrofag dalam proses pembentukan eritrosit mempunyai fungsi dalam


mengawasi sirkulasi SDM, memisahkan antara Fe dan Molekul Hb , serta
sel sel lainnya yang hemolisis dalam pembuluh darah
Sumsum tulang merah berperan dalam membuat serta mensintesis molekul
Hb dari kandungan Asam amino dan Fe dari dalam tanah
Liver berperan dalam sintesis bilirubin yang dilepaskan oleh makrofag
pengikat albumin dan diekskresikan kedalam empedu
Usus besar berparan dalam konversi bilirubin oleh bakteri menjadi
urobilin dan stercobilin
Ginjal berperan dalam ekskresi hemoglobin dan urobilins, lewat urine
(Martini, Frederic H. Judi L. Nath. And Edwin F. Bartholomew. 2012.
Fundamentals of Anatomy & Physiology. San Francisco: Pearson
Education)
Tiap hari kita membuat sekitar 1012 eritrosit baru melalui
eritropoiesis yang kompleks dan teratur dengan baik. Eritropoiesis berjalan
dari sel-sel proginetor yang akan berubah menjadi eritroid. Eritroid ini
menuju ke prekursor eritrosit pertama yang dapat dikenali dalam sumsum
tulang, yaitu pronormoblas. Sel ini adalah sel besar dengan sitoplasma biru
tua, inti letak sentral dengan anak inti dan kromatin yang sedikit
menggumpal. Pronormoblas meningkatkan serangkaian normoblas yang
lebih kecil melalui sejumlah pembelahan sel. Normoblas ini juga semakin
21

banyak mengandung Hb dalam sitoplasmanya. Inti akhirnya dikelurkan


dari normoblas akhir di dalam sumsum tulang dan menghasilkan stadium
retikulosit yang masih mengandung sedikit RNA ribosomal dan masih
mampu menyintesis Hb. Sel ini sedikit lebih besar dari eritrosit matang,
menghabiskan waktu 1-2 hari sebelum menjadi matang, saat RNA hilang
seluruhnya. Hasilnya adalah erirosit matang yang seluruhnya terpulas
merah muda, yang merupakan cakram bikonkaf tak berinti.

(Hoffbrand, A. V.2013.Kapita Selekta Hematologi.Jakarta:EGC)


5. Zat apa sajakah yang dibutuhkan dalam pembentukan eritrosit dan
berapakah komposisinya?
1) Logam : Besi, mangan, kobalt
Berguna dalam proses sintesis Hb dengan cara mengikat asam
amino dari dalam darah, serta dapat mengikat molekul oksigen,
menjadi oxyhemoglobin ( HbO2 )
2) Vitamin :
Vitamin B12 + Folat
Sebagai komponen utama dalam proses pembuatan DNA

22

Tiamin
Merupakan turunan fosfat yang berguna dalam proses
pembentukan eritrosit, Tiamina disintesis dari dalam

bakteri, fungi, dan tanaman


Vitamin E, B6, B2, Asam pentanoat
Mempunyai peran dalam metabolisme energi dalam tubuh
3) Asam Amino
Berperan penting dalam proses pembentukan Hb, dengan cara
mengikat molekul besi, serta Merupakan protein globular hasil
pemecahan eritrosit yang kemudian dapat digunakan oleh sel
lain.
4) Hormon
Eritropoietin
Stimulan bagi ertropoiesis, sebuah hormon glikoprotein

yang menghasilkan eritrosit


Tiroksin
Hormon yang dihasilkan kelenjar gondok. Berfungsi dalam
pengaturan metabolisme tubuh, suhu tubuh, serta mengatur
penggunaan Oksigen dan Karbondioksida

(Hoffbrand, A.V.2013.Kapita Selekta Hematologi.Jakarta:EGC)


6. Bagaimana proses destruksi dari eritrosit?
Destruksi eritrosit pada keadaan normal terjadi setelah jangka
hidup rata-rata 120 hari pada saat sel disingkirkan di ekstravaskular
oleh makrofag system retikuloendotel (RE), khususnya di dalam
sumsum tulang dan juga di hati dan limpa.
Oleh karena itu, sel-sel eritrosit tidak berinti, metabolism eritrosit
rusak secara perlahan-lahan seperti enzim mengalami degradasi
dan tidak digantikan dan sel menjadi tidak hidup.
Rantai globin akan dipecah menjadi asam amino yang digunakan
tulang untuk sintesis protein umum dalam tubuh. Pemecahan heme
dari eritrosit membebaskan besi untuk sirkulasi ulang melalui
transferrin plasma terutama ke eritroblas sumsum tulang, dan
protorfirin yang dipecah menjadi bilirubin. Bilirubin bersirkulasi
kehati tempat untuk berkonjugasi dengan glukuronida yang
diekskresikan ke duodenum melalui empedu dan dikonversi
menjadi sterkobilinogen dan sterkobilin. (diekskresi dalam feses).
23

Sterkobilinogen dan sterkobilin sebagian dan diekskresikan damal


urin sebagai urobilinogen dan urobilin.

Eritrosit

Globin

Asam
amino

Besi

Berikatan
dengan
transferri
n
bilirubin

Asam
amino

Protoporfiri
n
Bilirubin

Bilirubin
tidakberko
njugasi
Hati

Bilirubin
glukurinida

Usus

(Hoffbrand, A.V. Moss, P. A. 2013. Kapita Selekta


Hematologi. Jakarta : EGC)
7. Bagaimanakah

prosedur

pemeriksaan

pasien anemia?
Pemeriksaan Laboratorium
Tes Hematologi Rutin
Hitung darah lengkap (HDL) atau

Sterkobilin
ogen
(feses)
Ginjal
(reabsorpsi
)

pada

Urobilinoge
n (urin)

darah

perifer lengkap DPL- (complete blood count/full blood count/blood

24

panel) adalah jenis pemeriksan yang memberikan informasi tentang sel-sel


darah pasien. HDL merupakan tes laboratorium yang paling umum
dilakukan. HDL digunakan sebagai tes skrining yang luas untuk
memeriksa gangguan seperti seperti anemia, infeksi, dan banyak penyakit
lainnya.
- HDL memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah,
sel darah putih dan trombosit (platelet). Pemeriksaan darah lengkap
-

yang sering dilakukan meliputi:


Jumlah sel darah putih
Jumlah sel darah merah
Hemoglobin
Hematokrit
Indeks eritrosit
Jumlah dan volume trombosit
Spesimen
Sebaiknya darah diambil pada waktu dan kondisi yang

relatif sama untuk meminimalisasi perubahan pada sirkulasi darah,


misalnya lokasi pengambilan, waktu pengambilan, serta kondisi pasien
(puasa, makan). Cara pengambilan specimen juga perlu diperhatikan,
misalnya tidak menekan lokasi pengambilan darah kapiler, tidak
mengambil darah kapiler tetesan pertama, serta penggunaan antikoagulan
(EDTA, sitrat) untuk mencegah terbentuknya clot.
Hemoglobin
Adalah molekul yang terdiri dari kandungan heme (zat
besi) dan rantai polipeptida globin (alfa,beta,gama, dan delta), berada di
dalam eritrosit dan bertugas untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah
ditentukan oleh kadar haemoglobin. Stuktur Hb dinyatakan dengan
menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul
asama amino pada rantai alfa, dan 146 mol asam amino pada rantai beta,
gama dan delta.
Cara untuk menetapkan kadar hemoglobin:
- Sahli
- fotoelektrik
- Sianmet hemoglobin
- hemiglobinsianida
Cara sianmethemoglobin adalah cara yang dianjurkan untuk
penetapan kadar hemoglobin di laboratorium karena larutan standar

25

sianmethemoglobin sifatnya stabil, mudah diperoleh dan pada cara ini


hampir semua hemoglobin terukur kecuali sulfhemoglobin.
Nilai rujukan kadar hemoglobin tergantung dari umur dan jenis kelamin.
bayi baru lahir : 13,6 19, 6 g/dl
Anak-anak :

9,5 12,5 g/dl

Dewasa
Laki-laki:

13 16 g/dl

Perempuan:

12 14 g/dl

Penurunan Hb terdapat pada penderita: Anemia, kanker, penyakit


ginjal, pemberian cairan intravena berlebih, dan hodgkin. Dapat juga
disebabkan oleh obat seperti: Antibiotik, aspirin, antineoplastik(obat
kanker), indometasin, sulfonamida, primaquin, rifampin, dan trimetadion.
Peningkatan Hb terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia,
PPOK, gagal jantung kongesti, dan luka bakar hebat. Obat yang dapat
meningkatkan Hb adalah metildopa dan gentamicin.
Hematokrit
Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan
(packed cell volume, PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah
yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam
waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui
konsentrasi eritrosit dalam darah.
Nilai normal HMT:
Anak

: 33-38%

Laki-laki Dewasa

: 40-50%

Perempuan Dewasa

: 36-44%

Penurunan HMT, terjadi dengan pasien yang mengalami


kehilangan

darah

akut,

anemia,

leukemia,

penyakit

hodgkins,

limfosarcoma, mieloma multiple, gagal ginjal kronik, sirosis hepatitis,


malnutrisi, defisiensi vit B dan C, kehamilan, SLE, athritis reumatoid, dan
ulkus peptikum.

26

Peningkatan

HMT,

terjadi

pada

hipovolemia,

dehidrasi,

polisitemia vera, diare berat, asidosis diabetikum,emfisema paru, iskemik


serebral, eklamsia, efek pembedahan, dan luka bakar.
Hitung Eritrosit
Hitung eritrosit adalah jumlah eritrosit per milimeterkubik atau mikroliter
darah.
menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual dan
elektronik
Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan
isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis.
Nilai Rujukan
Dewasa laki-laki : 4.50 6.50 (x106/L)
Dewasa perempuan : 3.80 4.80 (x106/L)
Bayi baru lahir : 4.30 6.30 (x106/L)
Anak usia 1-3 tahun : 3.60 5.20 (x106/L)
Anak usia 4-5 tahun : 3.70 5.70 (x106/L)
Anak usia 6-10 tahun : 3.80 5.80 (x106/L)
Penurunan eritrosit : kehilangan darah (perdarahan), anemia,
leukemia, infeksi kronis, mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih,
gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi berlebihan
Peningkatan

eritrosit

polisitemia

vera,

hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit kardiovaskuler


Indeks Eritrosit mencakup parameter eritrosit, yaitu:
Mean cell / corpuscular volume (MCV) atau volume eritrosit rata-rata
(VER)
MCV = Hematokrit (l/l) / Jumlah eritrosit (106/L)
Normal 80-96 fl
Mean Cell Hemoglobin Content (MCH) atau hemoglobin eritrosit rata-rata
(HER)
MCH (pg) = Hemoglobin (g/l) / Jumlah eritrosit (106/L)
Normal 27-33 pg

27

Mean Cellular Hemoglobin Concentration (MCHC) atau konsentrasi


hemoglobin eritrosit rata-rata (KHER)
MCHC (g/dL) = konsentrasi hemoglobin (g/dL) / hematokrit (l/l)
Normal 33-36 g/dL

Red Blood Cell Distribution Width (RDW)


RDW adalah perbedaan/variasi ukuran (luas) eritrosit. Nilai RDW
berguna memperkirakan terjadinya anemia dini, sebelum nilai MCV
berubah dan sebelum terjadi gejala. Peningkatan nilai RDW dapat
dijumpai pada anemia defisiensi (zat besi, asam folat, vit B12), anemia
hemolitik, anemia sel sabit. Ukuran eritrosit biasanya 6-8m, semakin
tinggi variasi ukuran sel mengindikasikan adanya kelainan.

Hitung Trombosit
Adalah komponen sel darah yang dihasilkan oleh jaringan
hemopoetik, dan berfungsi utama dalam proses pembekuan darah.
Penurunan sampai dibawah 100.000/ L berpotensi untuk terjadinya
perdarahan dan hambatan pembekuan darah.
Jumlah Normal: 150.000-400.000 /L
Hitung Leukosit
hitung julah leukosit merupakan indikator yang baik untuk mengetahui
respon tubuh terhadap infeksi.
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basa.
Peningkatan jumlah leukosit di atas normal disebut leukositosis,
sedangkan penurunan jumlah leukosit di bawah normal disebut lekopenia.
Terdapat dua metode yang digunakan dalam pemeriksaan hitung leukosit,
yaitu dengan menggunakan mesin penghitung sel darah (hematology analyzer).
Dan cara manual dengan menggunakan pipet leukosit, kamar hitung dan
mikroskop.
Nilai normal leukosit:
Dewasa

: 4000-10.000/ L

Bayi / anak

: 9000-12.000/ L

Bayi baru lahir

: 9000-30.000/ L

28

Hitung Jenis Leukosit


Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai
jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya
memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah
neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil.
Laju Endap Darah
Laju endap darah (erithrocyte sedimentation rate, ESR) adalah
kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan
satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik.
Anemia Difisiensi Besi
Pemeriksaan Laboratorium
1. Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah parameter status besi yang memberikan suatu ukuran
kuantitatif tentang beratnya kekurangan zat besi setelah anemia berkembang. Pada
pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat
sederhana seperti Hb sachli.

Penentuan Indeks Eritrosit


eritrosit secara tidak langsung dengan flowcytometri atau menggunakan

rumus:

Mean Corpusculer Volume(MCV)


MCV adalah volume rata-rata eritrosit, MCV akan menurun apabila

kekurangan zat besi semakin parah, dan pada saat anemia mulai berkembang.
MCV merupakan indikator kekurangan zat besi yang spesiflk setelah thalasemia
dan anemia penyakit kronis disingkirkan. Dihitung dengan membagi hematokrit
dengan angka sel darah merah. Nilai normal 70-100 fl, mikrositik < 70 fl dan
makrositik > 100 fl.

Mean Corpuscle Haemoglobin (MCH)


MCH adalah berat hemoglobin rata-rata dalam satu sel darah merah.

Dihitung dengan membagi hemoglobin dengan angka sel darah merah. Nilai
normal 27-31 pg, mikrositik hipokrom < 27 pg dan makrositik > 31 pg.

Mean Corpuscular Haemoglobin


Concentration (MCHC)

29

adalah konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata. Dihitung dengan


membagi hemoglobin dengan hematokrit. Nilai normal 30-35% dan hipokrom <
30%.

Pemeriksaan Hapusan Darah Perifer


Pemeriksaan hapusan darah perifer dilakukan secara manual. Pemeriksaan

menggunakan pembesaran 100 kali dengan memperhatikan ukuran, bentuk inti,


sitoplasma sel darah merah. Dengan menggunakan flowcytometryhapusan darah
dapat dilihat pada kolom morfology flag.

Luas Distribusi Sel Darah Merah (Red Distribution Wide= RDW)

Eritrosit Protoporfirin (EP)

Besi Serum (Serum Iron= SI)

Serum Transferin (Tf)

Transferrin

Saturation(Jenuh Transferin)

Serum Feritin

Pemeriksaan Sumsum Tulang

(http://repository.usu.ac.id )
(Lauralee Sherwood. 2011. Fisiologi Manusia Edisi 6.Jakarta. EGC)
8. Apa sajakah macam-macam dari transfusi darah?
1. Darah utuh ( Whole Blood / WB )
Sangat segar ( <6 jam) mengandung eritrosit trombosit dan
semua factor pembekuan darah termasuk factor labil ( FV).
Segar (6 24 jam) mengandung eritrosit, trombosit dan
semua factor pembeku kecuali factor labil (FV)
Simpan ( 24 batal simpan) mengandung eritrosit, album dan
factor pembekuan darah, kecuali factor V dari VIII.
2. Darah endap ( Packed Red Cell PRC)
Darah endap / PRC diperoleh dari WB yang disentifus
kemudian diendapkan, swtelah itu plasma dipisahkan indikasi
untuk anemia kronis.
3. Trombosit kensetiat

30

Indikasi untuk pendarahan trombositpenia dan trombositopatia


dosis 1 unit / kg BB.
4. Plasma segar beku
Indikasi untuk pendarahan definiensi factor pembekuaan, PT
dan APTT yang kurang fari 1,5 x normal serta koreksi pendarahan
akibat overdosis warfarin.
5. Cryo Preciptitate
Indikasi untuk pendarahan akibat nemulidia penyakit Von
Wilebrand dan afibrianogemia
(Handayani, W. dan Heriwibowo, A.S.2008.Hematologi.Jakarta:
Salemba Medika)
9. Apakah resiko dari transfusi darah?
Sebuah penelitian melaporkan bahwareaksi transfusi yang
tidak diharapkan ditemukan pada 6,6% resipien, dimana sebagian
besar (55%) berupa demam. Gejala lain adalah menggigil tanpa
demam sebanyak 14%, reaksi alergi (terutama urtikaria) 20%,
hepatitis serum positif 6%, reaksi hemolitik 4%, dan overload
sirkulasi 1%.
(Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, B., dkk.2009.Buku Ajar:Ilmu
Penyakit Dalam.Jakarta:EGC)
10. Apa sajakah indikasi dari transfusi darah?
Secara umum, dari beberapa panduan

yang

telah

dipublikasikan, tidak direkoendasikan untuk melakukan transfusi


profilaksis dan ambang batas untuk melakukan transfusi adalah
kadar hemoglobin di bawah 7,0 atau 8,0 g/dl, kecuali untuk pasien
dengan penyakit kritis. Kadar hemoglobin 8,0 g/dl adalah ambang
batas transfusi untuk pasien yang dioperasi yang tidak memiliki
faktor resiko iskemia, sementara untuk pasien dengan resiko
iskemia, ambang batasnya dapat dinaikkan sampai 10,0 g/dl.
Namun transfusi profilaksis tetap tidak dianjurkan. Pemberian

31

transfusi untuk menambah kapasitas pengiriman oksigen, seperti


yang kerap dilakukan di unit perawatan intensif, tidak dianjurkan.
(Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, B., dkk.2009.Buku Ajar:Ilmu
Penyakit Dalam.Jakarta:EGC)

11. Apa sajakah komplikasi dari transfusi darah?


Potensi komplikasi transfusi darah itu banyak, tapi pada
saat ini masalah komplikasi hanya terdapat pada pasien yang perlu
berulang-ulang mendapt transfusi atau memerlukan sejumlah darah
yang banyak. Reaksi imunologi ini disebabkan oleh rangsangan
aloantigen yang terdapat pada eritrosit, leukosit, trombosit dan
protein plasma. Bila resipien mendapat transfusi yang mengandung
antigen tersebut maka akan terjadi pembentukan antibodi sehingga
kelak bila mendapat transfusi dapat terjadi reaksi mediasi
imunologi. Komplikasi dapat digolongkan menurut:
1. Komplikasi Imunologi.
Aloimunisasi: antigrn eritrosit, antigen HLA.
- Antigen trombosit.
- Antigen netrofil,
- Antigen plasma.
Reaksi transfusi hemolitik: segera, tertunda.
Reaksi febris trasnfusi.
Kerusakan paru akut akibat transfusi.
Reaksi transfusi alergi.
Reaksi pasca transfusi.
Pengaruh imunosupresi.
Penyakit graft versus host.
2. Komplikasi Non Imunologi.
Kelebihan (oveload) volume.
Transfusi masif: metabolik, hipotermi, pengenceran,

mikroembolisasi paru.
Lainnya: plasticizer, hemosiderosis transfusi.
Infeksi.

32

Kesimpulan

33

Saran

34

Daftar Pustaka
Bakta, I.M ., 2007. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC
Difa Danis. 2009. Kamus istilah kedokteran. Surabaya: Gitamedia Press
Publication
Gandasoebrata R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik.Jakarta : Dian Rakyat
Handayani, W. dan Heriwibowo, A.S.2008.Hematologi.Jakarta: Salemba Medika
Hoffbrand, A. V.2013.Kapita Selekta Hematologi.Jakarta:EGC
http://repository.usu.ac.id
Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.2002.Jakarta:EGC
Lauralee Sherwood. 2011. Fisiologi Manusia Edisi 6.Jakarta. EGC
Mansjoer,Arif.2009.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta:Media Aesculius
Martini, Frederic H. Judi L. Nath. And Edwin F. Bartholomew. 2012.
Fundamentals of Anatomy & Physiology. San Francisco: Pearson
Education
Michael J. Gilbrey. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC
Permenkes RI No 28/MENKES/PER/1/2001 tentang KLINIK
Price

dan

Wilson.2005.Patofisiologi:Konsep

Klinis

Proses-Proses

Penyakit.Jakarta:EGC
Setiabudy, Rianto.2012.Farmakologi dan Terapi.Jakarta:Balai Penerbit FKUI
Sloane,ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta : EGC
Statement of United States Department of Agriculture
Sudoyo,

Aru

W.,

Setiyohadi,

B.,

dkk.2009.Buku

Ajar:Ilmu

Penyakit

Dalam.Jakarta:EGC
Tim Pengajar Fakultas Kedokteran.Farmakologi dan Terapi.2012.Jakarta:FKUI
U.S Department of Health and Human Services from Http://nhlbi.nih.gov
National Heart, Lung, and Blood Institute
www.unair.ac.id

35