Anda di halaman 1dari 42

STATUS PASIEN

IDENTITAS

Nama Lengkap

: An. MA

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 3 tahun

Status

: Anak kandung

Anak ke-

: 2 dari 2 bersaudara

Alamat

: Baros Rt/Rw ; 01/07

Masuk RS Tanggal

: 26 November 2012

Diperiksa Tanggal

: 26 November 29 November

Ayah

Nama

: Tn. N

Umur

: 32 tahun

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Buruh

Nama

: Ny. N

Umur

: 30 Tahun

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Ibu Rumah tangga

Ibu

Alloanamnesis dari nenek pasien


KELUHAN UTAMA
Kejang
ANAMNESIS
Sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami kejang. Kejang terjadi dengan
durasi 1 jam. Kejang muncul tiba-tiba, dimulai dengan tangan dan kaki kelojotan, mata mendelik
ke atas. Sebelum kejang pasien sadar, dan sesudah kejang pasien mengalami penurunan
kesadaran, pasien nampak tertidur setelah kejang kemudian pasien sadar kembali. Ini merupakan
kejang yang pertama kali, dan kejang tidak berulang.
Keluhan kejang disertai dengan panas badan yang timbul secara perlahan, tidak terlalu
tinggi, dan flu batuk yang terjadi 1 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berdahak tetapi sulit
dikeluarkan.
Nenek pasien menyangkal bahwa pada saat setelah lahir pasien memiliki penyakit serius,
seperti adanya sakit kuning hingga mengalami kejang, cairan berlebih pada kepala, adanya
perdarahan otak maupun kelainan lainnya. Selain itu nenek pasien juga menyangkal pasien
pernah mengalami tumor atau keganasan pada otak. Keluhan tidak disertai dengan gangguan
BAB atau BAK, mual, muntah, keluar cairan dari telinga, nyeri telinga, ruam-ruam, bruntusbruntus, sakit gigi, sesak, penurunan kesadaran yang lama, gelisah, keluarnya cairan dari telinga,
gangguan nafsu makan, tidak mau minum, dan riwayat trauma.
Saat pemeriksaan, pasien baru datang dari IGD kemudian pasien dianjurkan rawat inap.
Selama di IGD, pasien diberikan obat anti kejang, antibiotik, obat pencahar dahak, dan obat

demam. Pemeriksaan lab hematologi rutin telah dilakukan di IGD, dan pada pasien menunjukkan
hasil yang normal. Di lingkungan tempat tinggal pasien tidak ada yang mengalami keluhan yang
sama seperti pasien. Di rumah, pasien tinggal dengan 3 keluarga. Menurut penuturan neneknya,
di rumah pasien terdapat banyak nyamuk. Bibi pasien memiliki penyakit bronchitis dan sedang
mengikuti pengobatan 6 bulan.

Riwayat Penyakit Terdahulu


Pernah dirawat di rumah sakit selama 2 minggu saat setelah lahir, dikarenakan setelah
lahir bayi tidak langsung menangis. Menurut nenek pasien, pasien mengalami gangguan paru,
seperti terdapat dahak di dalam paru-paru.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak terdapat riwayat penyakit yang sama pada keluarga.

Riwayat Kehamilan
Pasien merupakan anak kedua (P2A0), saat hamil ibu pasien rajin melakukan kontrol
kehamilan ke bidan. Selama hamil ibu pasien hanya mengkonsumsi vitamin dari bidan. Selama
hamil, ibu pasien mengaku tidak ada keluhan apapun seperti mual atau muntah berlebih, tekanan
darah tinggi, perdarahan.

Riwayat Persalinan
Pasien dilahirkan pada usia kehamilan cukup bulan (usia kehamilan 39-40 mg) dengan
BB saat lahir panjang lahir lupa. Lahir secara spontan, dan ditolong oleh bidan. Ketika lahir, bayi

tidak langsung menangis, warna ketuban jernih dan tidak ada riwayat pecah ketuban sebelum
waktunya.
Asupan Makanan

ASI
Susu formula
Bubur susu
Nasi tim,bubur
Nasi

: usia 0-6 bulan


: 6 bulan-1 tahun
: 6 bulan-9 bulan
: mulai 9 bulan sampai sekarang
: mulai 1 tahun sampai sekarang

Riwayat Imunisasi
Ibu pasien mengaku riwayat imunisasi pasien lengkap (hep B, BCG, polio, DPT, dan
campak)

Riwayat Perkembangan

Memiringkan badan : 4 bulan


Duduk : 8 bulan
Senyum : 1 tahun
Mengerti instruksi : 2 tahun
Berjalan : 2 tahun
Berbicara : baru bisa mengucapkan 2 kata

Kesan pasien mengalami keterlambatan dalam perkembangan, yaitu baru berjalan pada usia 2
tahun dan belum bisa berbicara.

PEMERIKSAAN FISIK (26-12-12)

Keadaan umum :
Keadaan umum
Kesadaran
Berat badan

: Terlihat sakit sedang, rewel


: Komposmentis
: 11 kg (0 (-2) Z-score normal

Tinggi badan

BB/TB : 0 Z-score (normal)

: 82 cm (above -3) stunted

Lingkar kepala

: 44 cm (below -3 mikrosefal)

STATUS GIZI (menurut WHO) Gizi kurang

Tanda Vital
-

Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu

: sulit untuk dinilai


: 120 x/menit (n : 70-110)
: 30 x/menit (n : 20-30)
: 37o C (36,5 37,5)

Pemeriksaan khusus (26-11-12)


8

Kepala

Bentuk

: Normal, mikrosefal, ubun-ubun datar

Rambut

: hitam halus.

Mata

: konjunctiva nonanemis, sklera anikteric, pupil isokor, refleks +/+, papil

edema -/

Telinga

: lokasi normal, simetris, daun telinga bentuknya normal, lunak, posisi

puncak pina sejajar dengan kantus mata, sekret (-)

Hidung

: lokasi normal, simetris, deviasi septum (-), sekret (+), pernafasan cuping

hidung (-).

Mulut

: mukosa lembab, labioschizis & palatoschizis (-), sianosis (-), faring

hiperemis, gigi (+)


Leher

Kelenjar Tiroid

: tidak ada pembesaran

Kelenjar getah bening

: tidak ada pembesaran

Tekanan vena jugular

: Sulit dinilai

Thoraks
Pulmo

Inspeksi

: bentuk normal, retraksi dada (-), dyspnea (-), irama nafas regular.

Palpasi

: pergerakan simetris, vokal fremitus normal

Perkusi

: sulit dinilai

Auskultasi : vesicular breath sound kanan=kiri, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)


9

Cardio

Inspeksi

: tidak tampak ictus cordis

Palpasi

: tidak teraba ictus cordis, thrill (-)

Perkusi

: sulit dinilai

Auskultasi : bunyi jantung S1, S2 murni reguler, murmur (-)

Abdomen

Inspeksi

: bentuk datar, retraksi epigastrik (-)

Palpasi

: lembut, turgor normal.

Hepar & lien

: tidak ada pembesaran.

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+), normal

Genital

: tidak terdapat kelainan

Ekstremitas :

Bentuk normal

Ptechiae (-)

Fraktur (-)

Akral hangat

Cappilary refill time < 2 detik

Neurologis
Meningeal Sign :

Kaku kuduk (-)

10

Burdzinski I, II, III : (-)

Kernigs Sign : (-)

Cranial Nerve

Nerve I (penghidu): tidak dilakukan

Nerve II, III, IV, VI (pupil dan pergerakan bola mata): Normal

Nerve VII (senyuman/nangis) : Normal

Nerve X, XII (makan dan minum) : Normal

Refleks Fisiologi

Biceps

: +/+ normal

Triceps

: +/+ normal

Patella

: +/+ normal

Achiles

: +/+ normal

Refleks Patologis

Babinski

: -/- normal

Chaddock

: -/- normal

Oppenheim

: -/- normal

RESUME
Seorang anak laki-laki berusia 3 tahun dengan status gizi kurang datang ke rumah sakit
dengan keluhan utama kejang yang terjadi sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Kejang
berlangsung selama 1 jam, sebelum kejang pasien sadar, dan sesudah kejang pasien mengalami
penurunan kesadaran, pasien nampak tertidur setelah kejang kemudian pasien sadar kembali.
11

Keluhan disertai dengan panas badan, flu dan batuk yang terjadi sejak 1 hari sebelum masuk
rumah sakit.
Pasien sudah ditangani di IGD, saat pemeriksaan di ruang rawat inap pasien sudah sadar
dan tampak rewel. Pada pemeriksaan fisik ditemukan sekret pada kedua lubang hidung dan tidak
ditemukan adanya kelainan pada pemeriksaan fisik lainnya. Pada pemeriksaan lab hematologi
rutin menunjukan dalam batas normal.
Dari anamnesa kepada neneknya, pasien juga memiliki keterlambatan dalam
perkembangannya, terutama dalam hal berjalan dan berbicara. Pada usia 2 tahun pasien baru bisa
berjalan dan pada usia 3 tahun, pasien baru bisa mengucapkan 1 kata.

DIAGNOSIS KERJA

Kejang demam kompleks + ISPA + palsi serebral ringan

DIAGNOSIS BANDING

Kejang demam kompleks + ISPA + palsi serebral


Ensefalitis + ISPA + palsi serebral
Meningitis bakterialis + ISPA + palsi serebral

USULAN PEMERIKSAAN

Darah rutin (Hb, Ht, Leukosit, Trombosit) + diff. count

Kimia klinik dan elektrolit (GDS, Na, K, Ca)

Lumbal pungsi

CT / MRI

EEG
12

HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Laboratorium (26-11-12)

Hb

: 12,5 gr/dL

Ht

: 35,8%

Leukosit

: 14200

Trombosit

: 292.000

PENATALAKSANAAN RUMAH SAKIT


-

Seftriakson IV 1x500 mg
Depaken oral 2 x cth
Infus RL
Valproic acid

PROGNOSIS
-

quo ad vitam : ad bonam


quo ad functionam : ad bonam
quo ad sanationam : dubia ad bonam

Tabel Follow up
13

26-11-12
Anamnesis Kejang (+)
demam (-)
flu (+)
batuk (-)
penurunan kesadaran, pasien
tertidur setelah kejang (+)
PF
Ku : CM, rewel
Kepala : mikrosefal
Hidung : sekret +/+
kelainan neurologis (-)

Lab

Hb : 12,5 gr/dL
Ht : 35,8%
Leukosit:14200
Trombosit:292.000

27-11-12
Kejang (-)
demam (-)
flu (+)
batuk (-)
penurunan
kesadaran (+)
Ku : CM, rewel
Kepala:mikrosefal
Hidung:sekret +/+
kelainan
neurologis (-)
-

28-11-12
Kejang (-)
demam (-)
flu (+)
batuk (-)
penurunan
kesadaran (+)
Ku : CM, aktif
Kepala:mikrosefal
Hidung:sekret +/+
kelainan
neurologis (-)
-

29-11-12
Kejang (-)
demam (-)
flu (+)
batuk (-)
penurunan
kesadaran (+)
Ku : CM, aktif
Kepala:mikrosefal
Hidung:sekret +/+
kelainan
neurologis (-)
-

PEMBAHASAN
Pada kasus ini saya mendiagnosis pasien mengalami kejang demam kompleks karena
berdasarkan :
1. Anamnesis
Pasien mengalami kejang dengan kejang bersifat kejang umum, pasien berusia 3 tahun,
masih termasuk ke dalam kriteria usia kejang demam. Pasien mengalami kejang yang didahului
oleh demam sebelumnya. Kejang terjadi lebih dari 15 menit, yaitu selama 1 jam. Setelah kejang
pasien tertidur kemudian beberapa saat kemudian pasien sadar kembali. Pasien mengalami ISPA
sebelum kejang terjadi, yang kemungkinan menjadi penyebab kejang demam muncul pada
pasien. Kejang tidak berulang dan di keluarga tidak memiliki riwayat kejang demam atau
epilepsi
2. Pemeriksaan
Kesadaran : komposmentis (setelah sebelumnya tertidur setelah kejang)
Kepala : ubun-ubun datar
14

Mata : papi edema -/Hidung : sekret +/+


Tidak ada tanda-tanda meningeal maupun kelainan neurologis lainnya

3. Lab
Tidak ada keabnormalan pada pemeriksaan hematologi rutin

TINJAUAN PUSTAKA

15

KEJANG DEMAM
Definisi
Kejang Demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh >38C,
yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial.

Epidemiologi
Kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 6
bulan sampai 5 tahun. Laki-laki lebih sering dibanding dengan perempuan (1,4:1). Terdapat 24% anak pernah mengalami kejang demam sebelum usia 5 tahun, khususnya di negara-negara
Asia angka kejadiannya lebih tinggi (7% di Jepang).
Bila usia anak < 6 bulan atau > 5 tahun mengalami kejang didahului oleh demam,
perkirakan kemungkinan keadaan yang lain, misal infeksi SSP atau epilepsi yang kebetulan
terjadi bersama demam.
Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali
tidak termasuk kedalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi usia < 1 bulan tidak
termasuk kedalam kejang demam.

Fakta Mengenai Kejang Demam

Kejang demam terjadi pada 2-4% dari populasi anak 6 bulan-5 tahun.
80% merupakan kejang demam sederhana, sedangkan 20% kasus adalah kejang demam

kompleks.
8% berlangsung lama (>15 menit).
16% berulang dalam waktu 24 jam.
Kejang pertama terbanyak antara usia 17-23 bulan.
Anak laki-laki lebih sering mengalami kejang demam.

16

Bila kejang demam sederhana yang pertama kali terjadi pada umur <12 bulan, maka
risiko kejang demam kedua 50%, dan bila kejang demam sederhana pertama terjadi

setelah umur 12 bulan menurun menjadi 30%.


Setelah kejang pertama, 2-4% anak akan berkembang menjadi epilepsi dan ini 4 kali
risikonya dibandingkan populasi umum.

Etiologi
Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam:
Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA).
Otitis media akut.
Gastroenteritis akut.
Infeksi saluran kemih.
Tonsillitis, faringitis.
Bronchitis.
Pneumonia.

Klasifikasi
Berdasarkan manifestasi klinis kejang demam dibagi 2:
1. Kejang demam sederhana
Bentuk kejang umum (tonik/klonik).
Durasi singkat <15 menit (periode singkat).
Tidak berulang dalam 24 jam/episode penyakit.
17

2. Kejang demam kompleks


Kejang demam fokal (Tood hemiplegi).
Durasi >15 menit.
Berulang >1 kali dalam dalam 24 jam/episode penyakit.

Patofisiologi Kejang Demam

Untuk mempertahankan hidupnya, sel otak membutuhkan energi yaitu senyawa glukosa yang
didapat dari proses metabolisme. Sel-sel otak dikelilingi oleh membran yang dalam keadaan
normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit
dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan elektrolit lain kecuali Clorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi
ion K di dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi ion Na rendah. Keadaan sebaliknya terjadi di
luar sel neuron. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel tersebut
maka terjadi beda potensial yang disebut Potensial Membran Sel Neuron.
18

Untuk menjaga keseimbangan potensial membran sel diperlukan energi dan enzim Na-KATP ase yang terdapat di permukaan sel. Keseimbangan potensial membran sel dipengaruhi oleh:
1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datangnya mendadak baik rangsangan mekanis, kimiawi atau aliran
listrik dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran karena penyakit atau faktor keturunan.

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 1015% dan peningkatan kebutuhan oksigen sampai 20%.
Jadi pada kenaikan suhu tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran
dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi ion Kalium dan Natrium melalui membran sel,
dengan akibat lepasnya muatan listrik yang demikian besar sehingga dapat meluas ke seluruh sel
maupun ke membran sel sekitar dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah kenaikan suhu sampai 38 C sudah terjadi
kejang, namun pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu
diatas 40 C. Terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada anak dengan ambang kejang
rendah.
19

Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak
meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang demam yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya
disertai dengan apneu, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet
yang mengakibatkan hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis laktat.
Hipotensi arterial disertai dengan aritmia jantung dan kenaikan suhu tubuh disebabkan
meningkatnya aktivitas berakibat meningkatnya metabolisme otak. Rangkaian kejadian di atas
adalah faktor penyebab terjadinya kerusakan neuron otak pada kejang yang lama.
Faktor yang terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia
sehingga berakibat meningkatnya permeabilitas vaskular dan edema otak serta kerusakan sel
neuron. Kerusakan anatomi dan fisiologi yang bersifat menetap bisa terjadi di daerah medial
lobus temporalis setelah ada serangan kejang yang berlangsung lama. Hal ini diduga kuat sebagai
faktor yang bertanggung jawab terhadap terjadinya epilepsy.

Faktor Risiko
Faktor risiko utama kejang demam adalah usia, demam, dan genetik. Kejang demam
jarang terjadi pada usia diatas 5-7 tahun, tetapi kejang demam pada usia <6 bulan sering dapat
dibuktikan bukan kejang demam, melainkan meningitis.
Sebagian besar kejang demam muncul pada 24 jam pertama panas, biasanya terjadi saat
akselerasi panas badan meningkat. 75% anak mengalami kejang demam saat suhu tubuh
mencapai 390C, dan 25% saat suhu tubuh 400C. Anak yang mengalami kejang demam pada suhu
relative rendah mempunyai risiko mengalami kejang demam multiple dan harus mendapatkan
pengawasan.

20

Frekuensi kejang demam meningkat pada keluarga dengan riwayat kejang demam, anak
yang mempunyai saudara kandung kejang demam mempunyai risiko kejang demam 2-3 kali
lebih besar. Telah ditemukan beberapa lokus pada kromosom 8q, 2q22-23, 9p sebagai penyebab
kejang demam.

Pemeriksaan dan Diagnosis


Anamnesis:
o Biasanya didapatkan riwayat kejang deman pada anggota keluarga lainnya (ayah, ibu atau
saudara kandung).
o Kriteria diagnosis kejang demam:

Kejang didahului oleh demam.

Pasca-kejang anak sadar kecuali kejang lebih dari 15 menit.

Pemeriksaan cairan serebrospinalis dalam batas normal.

Pemeriksaan neurologis:
o Tidak didapatkan kelainan.
Pemeriksaan laboratorium:
o Pemeriksaan lab darah rutin, elektrolit, gula darah dilakukan atas indikasi untuk mencari
penyebab lain seperti ISPA, otitis media, diare, gangguan elektrolit.

Pemeriksaan radiologi:
o Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti CT-scan atau MRI jarang sekali dikerjakan,
tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti:
21

Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis).

Paresis nervus VI.

Papiledema.

Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS):


o Tindakan pungsi lumbal untuk pemeriksaan CSS dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis.
o Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan
dengan ketentuan sebagai berikut:

Bayi < 12 bulan: diharuskan.

Bayi antara 12-18 bulan: dianjurkan.

Bayi > 18 bulan: tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis.

Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG):


o Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang,
atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh
karena itu tidak direkomendasikan.

Diagnostik Banding

22

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kejang demam meliputi penanganan pada saat kejang dan pencegahan kejang.
1. Penanganan Pada Saat Kejang
Tempatkan pasien di tempat tidur, longgarkan pakaian, serta dimiringkan untuk
mencegah aspirasi.
Bebaskan jalan nafas.
Berikan O2.
Menghentikan kejang: Diazepam dosis awal 0,3-0,5 mg/KgBB/dosis IV (perlahanlahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit) atau 0,5-0,75 mg/KgBB/dosis rektal
suppositoria atau diazepam rektal 5 mg untuk anak < 10 kg dan 10 mg untuk anak >
10 kg, atau diazepam rektal dosis 5 mg untuk usia < 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk
anak > 3 tahun.
Kejang yang belum berhenti dengan diazepam rektal dapat diulangilagi dengan cara
dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.

23

Bila 2 kali dengan diazepam rektal masih kejang, dianjurkan ke RS untuk diberikan
diazepam IV.
Bila kejang masih belum berhenti diberikan fenitoin IV dengan dosis awal 10-20
mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila
kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, yaitu 12 jam setelah dosis
awal.
Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat
intensif.

Setelah kejang berhenti, tentukan apakah anak termasuk dalam kejang demam yang
memerlukan pengobatan rumat atau pengobatan intermitten.

24

2. Pencegahan Kejang
Terdapat dua cara pengobatan untuk pencegahan kejang yaitu dengan pengobatan
rumatan dan pengobatan intermitten.
Pengobatan Rumatan
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri-ciri
sebagai berikut (salah satu):
Kejang lama > 15 menit.
Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
Kejang fokal.
Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam.
Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan.
Kejang demam > 4 kali per tahun.
Lamanya pengobatan rumat adalah 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara
bertahap selama 1-2 tahun.
Obat yang diberikan adalah fenobarbital atau asam valproat setiap hari.
Fenobarbital diberikan dengan dosis 3-4 mg/kg per hari dalam 1-2 dosis, sedangkan asam
valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis.
Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar. Sedangkan asam valproat pada usia < 2 tahun dapat menyebabkan
gangguan fungsi hati.
Pengobatan Intermitten
Pengobatan intermitten adalah pengobatan yang diberikan pada saat anak
mengalami demam untuk mencegah terjadinya kejang demam, dengan diberikan
antipiretik dan antikonvulsan.
Antipiretik: parasetamol atau asetaminofen 10-15 mg/kg/kali diberikan 4 kali
sehari dan tidak boleh lebih dari 5 kali, atau ibuprofen 5-10 mg/kg/kali diberikan
25

3-4 kali sehari.asetaminofen dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada


anak < 18 bulan.
Antikonvulsan: diazepam oral dosis 0,3 mg/kg/8jam atau diazepam rektal dosis
0,5 mg/kg/8jam pada suhu > 38,5oC. Dosis tersebut cukup tinggi dan
menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat.
3. Pengobatan Lainnya
Pengobatan penyebab: antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit
dasarnya.

Komplikasi
Apabila tidak diterapi dengan baik, kejang demam dapat berkembang menjadi:
Kejang demam berulang.
Epilepsi.
Kelainan motorik.
Gangguan mental dan belajar.

Edukasi Pada Orang Tua


Kejang merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian orang
tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara
diantaranya:

Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik.

Memberitahukan cara penanganan kejang.

Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.

26

Pemberian obat untuk pencegahan rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya
efek samping obat.

Hal yang Harus Dikerjakan Bila Anak Kejang


1. Tetap tenang dan tidak panik.
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher.
3. Bila tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan
atau lendir di mulut atau hidung.
4. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
5. Tetap bersama pasien selama kejang.
6. Berikan diazepam rektal, dan jang diberikan bila kejang telah terhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

Prognosis
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya
kejang demam adalah:

Riwayat kejang demam dalam keluarga.

Usia kurang dari 15 bulan.

Temperatur yang rendah saat kejang.

Cepatnya kejang setelah demam.

Bila ada 3 faktor, kemungkinan kejang demam berulang kembali adalah 80%. Namun,
bila sama sekali tidak terdapat faktor tersebut, risiko kejang demam kembali adalah 10-15%.
27

Kelainan neurologis atau kecacatan dan kematian tidak pernah dilaporkan untuk kejang
demam.

Sebelum demam dan kejang terjadi, pasien mengalami flu dan batu yang merupakan
gejala ISPA.

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA ANAK


Pengertian
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing
dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan
menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan. ( Pincus Catzel & Ian
Roberts; 1990; 450).
Infeksi saluran nafas adalah penurunan kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam
menghadapi organisme asing (Whaley and Wong; 1991; 1418).
Etiologi
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup
tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa
faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan,
daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991;
1419). Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi
saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan
A -hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenza, clamydia trachomatis,
mycoplasma dan pneumokokus. Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu
28

ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu
ibu. Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat
keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya
edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.
Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain
malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran
pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru. Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi
pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and
Wong; 1991; 1420).

Patofisiologi
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan oleh virus atau kuman golongan A
streptococus, stapilococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma, dan
pneumokokus yang menyerang dan menginflamasi saluran pernafasan (hidung, pharing, laring)
dan memiliki manifestasi klinis seperti demam, meningismus, anorexia, vomiting, diare,
abdominal pain, sumbatan pada jalan nafas, batuk, dan suara nafas wheezing, stridor, crackles,
dan tidak terdapatnya suara pernafasan.

Tanda dan Gejala


Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi
hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi
gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts;
1990; 451).
Tanda dan gejala yang muncul ialah:
29

1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah
mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama
terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.
2. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi
selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada
punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.
3. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah
minum dan bhkan tidak mau minum.
4. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut
mengalami sakit.
5. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat
infeksi virus.
6. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis
mesenteric.
7. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah
tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
8. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini
merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.
9. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara
pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).

Pemeriksaan Diagnostik

30

Pengkajian terutama pada jalan nafas:


Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari
pernafasan.
1. Pola, cepat (tachynea) atau normal.
2. Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui
pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.
3. Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.
4. Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
5. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu
tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada
rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah :
- pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+)
sesuai dengan jenis kuman,
- pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat disertai dengan
adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia, dan
- pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan

Diagnosa Banding
Penyakit infeksi saluran pernafasan ini mempunyai beberapa diagnosis banding yaitu difteri,
mononukleosis infeksiosa dan agranulositosis yang semua penyakit diatas memiliki manifestasi

31

klinis nyeri tenggorokan dan terbentuknya membrana. Mereka masing-masing dibedakan melalui
biakan kultur melalui swab, hitungan darah dan test Paul-bunnell. Pada infeksi yang disebabkan
oleh streptokokus manifestasi lain yang muncul adalah nyeri abdomen akut yang sering disertai
dengan muntah.

Terapi dan Penatalaksanaan


Tujuan utama dilakukan terapi adalah menghilangkan adanya obstruksi dan adanya kongesti
hidung pergunakanlah selang dalam melakukan penghisaapan lendir baik melalui hidung
maupun melalui mulut. Terapi pilihan adalah dekongestan dengan pseudoefedrin hidroklorida
tetes pada lobang hidung, serta obat yang lain seperti analgesik serta antipiretik. Antibiotik tidak
dianjurkan kecuali ada komplikasi purulenta pada sekret. Penatalaksanaan pada bayi dengan
pilek sebaiknya dirawat pada posisi telungkup, dengan demikian sekret dapat mengalir dengan
lancar sehingga drainase sekret akan lebih mudah keluar (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990;
452).
Berdasarkan anamnesa, pada pasien ini terjadi keterlambatan perkembangan.
Diantaranya pasien baru bisa berjalan pada usia 2 tahun, dan pada usia 3 tahun pasien
belum bisa berbicara. Sedangkan pada pemeriksaan fisik, pada pasien ditemukan
mikrosefal dan ketika diajak berbicara, pasien tampak tidak mengerti dan baru bisa
mengucapkan 1 kata mama,bapa. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
tersebut, diduga pasien mengalami palsi serebral.

PALSI SEREBRAL
DEFINISI

32

Palsi serebral adalah suatu keadaan kerusakan jaringan otak yg menetap dan tidak
progresif, meskipun gambaran klinisnya dapat berubah selama hidup, terjadi pada usia dini dan
merintangi perkembangan otak normal.

KELAINAN PENYERTA
Mental retardasi (52%)
Gangguan pendengaran (12%)
Gangguan bicara dan bahasa (38%)
Epilepsi (34-94%)

ANGKA KEJADIAN (Amerika)


1,2-2,5 tiap 1000 kelahiran hidup
Kejadian pada bayi prematur lebih tinggi yaitu 8-10%
Kulit hitam >> kulit putih
PENYEBAB
1. Cedera otak pada masa perinatal
Hipoksik iskemik
Neonatal stroke
Cedera otak krn trauma
Perdarahan intrakaranial
2. Cedera otak yang berhubungan dengan prematuritas
Leukomalacia periventrikular
Perdarahan intraventrikular

33

3. Abnormalitas perkembangan otak


Malformasi otak
Abnormalitas genetik
Abnormalitas metabolik
4. Cedera otak pasca natal
Kern icterus
Infeksi susunan saraf pusat
5. Faktor risiko prenatal
Infeksi materanal korioamniositis
Gangguan pertumbuhan dalam rahim
Paparan toksin
Infeksi TORCH kongenital

KLASIFIKASI
1. Palsi Serebral Minimal
Motorik: perkembangan motorik normal, hanya terganggu secara kualitatif
Penyakit penyerta: gangguan komunikasi, ggn belajar spesifik
2. Palsi serebral ringan
Motorik: berjalan pada umur 24 bulan
Penyakit penyerta: tremor, ggn koordinasi
3. Palsi serebral sedang
Motorik: berjalan usia 3 tahun, kadang-kadang memerlukan bracing.

34

Penyakit penyerta: retardasi mental, ggn belajar, ggn komunikasi, kejang


4. Palsi serebral berat
Motorik: tidak bisa berjalan atau berjalan dengan alat bantu, kadang-kadang perlu operasi
Penyakit penyerta: retardasi mental, kejang

GAMBARAN KLINIS
Tonus (kekakuan) otot yang berubah
Sikap yg abnormal
Gerakan involunter
Gangguan koordinasi
Gangguan pendengaran (5-10%)
Gangguan bicara (krn ggn pendengaran atau karena mental retardasi)
Gangguan mata

KELAINAN YANG MENYERUPAI PALSI SEREBRAL


Proses degenaratif
Higroma subdural
Arterio vena yang pecah
Kerusakan medula spinalis
Tumor intrakranial

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan mata

35

Pemeriksaan pendengaran
Pemeriksaan EEG (bila ada kejang)
Pencitraan kepala
Pemeriksaan psikologis : untuk tingkat pendidikan yg dibutuhkan
Pemeriksan metabolik

PENGOBATAN
Pengobatan kausal: TIDAK ADA
Perlu penanganan/kerjasama multidisiplin antara dokter anak, neurolog, psikiater, dokter mata,
dokter tht, ahli ortopedi, psikolog, fisioterapi, okupasi terapi, terapi wicara, pekerja sosial, guru,
orangtua

ANALISIS
Pada pasien anak laki-laki berumur 3 tahun dengan berat badan 11 kg, dari hasil
anamnesa didapatkan keluhan kejang sebanyak 1 kali pada 1 jam sebeum masuk rumah sakit,
kejang didahului oleh demam. Kejang merupakan pertama kali dan berdurasi 1 jam. Kejang pada
pasien bersifat tonik, mata mendelik ke atas. Sebelum kejang pasien sadar, saat kejang pasien
tidak sadar dan setelah kejang pasien mengalami penuruna kesadaran. Diagnosis kejang demam
kompleks ditegakkan pada pasien ini atas dasar lama kejang yang berdurasi selama lebih dari 15
menit dan sebelumnya pasien mengalami demam yang terjadi sejak 1 hari sebelum masuk rumah
sakit. Demam tidak terlalu tinggi, tidak mendadak. Nenek pasien menyatakan pasien mengalami

36

flu dan batuk. Kemungkinan pasien telah terjangkit infeksi saluran nafas dan ini telah memicu
terjadinya demam.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran komposmentis setelah sebelumnya sempat
tidak sadar setelah (tertidur) setelah kejang. Kepala pasien ubun-ubun datar, tetapi bentuk kepala
mikrosefal, dan pada pemeriksaan hidung nampak terlihat adanya sekret. Pemeriksaan reflex
meningeal menunjukkan hasil yang negatif. Ubun-ubun yang datar dan hasil pemeriksaan reflex
meningeal yang negatif, menunjukkan bahwa tidak terdapat infeksi pada otak dan meningen.
Dari pemeriksaan laboratorium pada 26 November 2012, didapatkan bahwa hasil
pemeriksaan hematologi rutin pasien ini dalam batas normal.
Pada kasus ini, diagnosis banding kejang demam kompleks adalah ensefalitis dan
meningitis.
Adapun perbedaan kedua penyakit tersebut dengan kejang demam adalah :

1. Ensefalitis
Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak yang disebabkan oleh berbagai macam
mikroorganisme. Penyebab yang tersering dan terpenting ialah virus. Berbagai jenis virus dapat
menimbulkan ensefalitis dengan gejala yang sama.

Langkah diagnostik :

Anamnesis =
Ensefalitis mempunyai berbagai penyebab, namun gejala klinis ensefalitis lebih kurang
sama dan khas, sehingga gejala klinis tersebut dapat digunakan sebagai penegak
diagnosis.
37

Gejala berupa suhu mendadak naik ; seringkali ditemukan hiperpireksia.


Kesadaran dengan cepat menurun. Anak agak besar sering mengeluh nyeri kepala

sebelum kesadarannya menurun.


Kejang dapat bersifat umum, fokal atau hanya twitching saja.

Pada pasien terdapat kejang tetapi suhu badan tidak mendadak naik tinggi dan tidak disertai
sakit kepala

Pemeriksaan fisis =

Seringkali ditemukan hiperpireksia, kesadaran menurun dan kejang. Kejang dapat


berlangsung berjam-jam. Gejala serebral lain dapat beraneka raga, dapat timbul terpisah atau
bersama-sama, misalnya paresis, afasia dan sebagainya.
Pada pasien terdapat hiperpireksia, penurunan kesadaran, dan kejang. Tetapi tidak disertai
gejala serebral lainnya, seperti paresis.
Pemeriksaan penunjang =
-

Darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit darah, biakan darah


Pungsi lumbal ; cairan jernih, elektrolit darah, jumlah sel di atas normal, hitung jenis

didominasi sel limfosit, protein dan glukosa normal atau meningkat


Pemeriksaan CT atau MRI kepala menunjukkan gambaran edema otak. Pada ensefalitis
herpes simpleks, pemeriksaan CT scan hari sakit ketiga menunjukkan gambaran hipodens

pada daerah frontotemporal.


Pada pemeriksaan EEG didapatkan penurunan aktifitas atau perlambatan
Pada pasien tidak dilakukan pemeriksaan penunjang berupa LP, CT-scan, dan EEG.,
tetapi hasil dari pemeriksaan hematologi rutin pasien tidak mengalami kelainan.
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik maupun penunjang, pada pasien ini tidak
mengalami kecocokan dengan diagnosa ensefalitis. Seperti keterangan yang telah
tercantum diatas, diagnosis banding ensefalitis dapat disingkirkan.

2. Meningitis
38

Meningitis adalah suatu infeksi yang mengenai arakhnoid, piameter, dan cairan
serebrospinal di dalam sistem ventrikel yang dapat terjadi secara akut ataupun kronis. Penyakit
ini menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang signifikan di seluruh dunia.
Meningitis dibagi menjadi dua golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan
serebrospinal yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta. Meningitis serosa adalah radang
selaput otak arachnoid dan piamater yang disertai cairan serebrospinalis yang jernih. Penyebab
terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa, dan disebut juga sebagai meningitis
tuberkulosis. Penyebab lain seperti lues, virus, Toxoplasma gondii, Ricketsia, maupun jamur.
Meningitis purulenta adalah radang bernanah arachnoid dan piamater yang meliputi otak dan
medula spinalis. Penyebabnya antara lain: Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenza, Streptococcus haemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Klebsiella
pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa.
Langkah diagnostik :

Anamnesis =

Seringkali didahului infeksi pada saluran nafas atas atau saluran cerna, seperti demam, batuk,
pilek, diare, dan muntah. Demam, nyeri kepala, dan meningismus dengan atau tanpa penurunan
kesadaran merupakan hal yang sangat sugestif meningitis, tetapi tidak ada satu gejalapun yang
khas. Banyak gejala meningitis yang berkaitan dengan usia, misalnya anak kurang dari 3 tahun
jarang mengeluh nyeri kepala.
Pada pasien didahului oleh ISPA, tetapi pasien tidak pernah mengeluh sakit kepala dan tidak
terdapat meningeal sign

Pemeriksaan fisis =

39

Gangguan kesadaran dapat berupa penurunan kesadaran atau iritabilitas. Dapat juga ditemukan
ubun-ubun yang menonjo, kaku kuduk atau tanda rangsang meningeal lain, kejang, dan deficit
neurologic fokal. Tanda rangsang meningeal mungkin tidak ditemukan pada anak berusia kurang
dari 1 tahun.
Pada pasien disertai penurunan kesadaran tetapi hanya beberapa saat setelah kejang, pada
pasien tidak ditemukan adanya deficit neurologis.

Pemeriksaan penunjang =
Darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit darah, biakan darah
Lumbal pungsi (LP) : jumlah sel 100-10.000/mm 3 dengan hitung jenis predominan sel
polimorfonuklear, protein 200-500 mg.dl, glukosa <40 mg/dl, pewarnaan gram, biakan

dan uji resistensi, identifikasi antigen (aglutinasi lateks).


Pada kasus berat, LP harus ditunda (penundaan 2-3 hari tidak mengubah nilai diagnostik

kecuali untuk identifikasi kuman, itu pun jika antibiotiknya sensitive)


Pemeriksaan CT atau MRI kepala (pada kasus berat)
Pemeriksaan EEG bila ada indikasi

Pada pasien tidak dilakukan pemeriksaan penunjang berupa LP, CT-scan, dan EEG., tetapi
hasil dari pemeriksaan hematologi rutin pasien tidak mengalami kelainan.
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik maupun penunjang, pada pasien ini tidak mengalami
kecocokan dengan diagnosa meningitis. Seperti keterang yang telah tercantum diatas, diagnosis
banding meningitis dapat disingkirkan.

USULAN PENATALAKSANAAN
Terapi umum
-

Tirah baring
Kebutuhan diet : (100x10) + (50x1) = 1050 kkal/hari dengan kebutuhan protein (2
gramx11 kg = 22 gram)
40

Terapi khusus
-

O2 1 liter jika serangan kejang kembali


Parasetamol sirup (10-15 mg/kg/BB) = 100 mg/kali = 3x1 cth
Diazepam (0,3-0,5 mg/kg/BB) = 55 mg/kali secara IV diberikan setiap 8 jam selama 3

hari
Infus ringer laktat (asnet)
Fisioterapi terapi wicara

Edukasi orangtua
-

Edukasi pemberian makanan

Kemungkinan kejang kembali

Persiapannya :
o Sedia obat anti kejang dan obat penurun panas dirumah.
o Beritahu cara pemberiannya.

Penanganan pertama pada kejang

PROGNOSIS
-

quo ad vitam : ad bonam


quo ad functionam : ad bonam
quo ad sanationam : dubia ad bonam

41

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson Textbook of Pediatric, 17 th edition.
2003. Pennsylvania: Saunders.
2. Nia Kania, dr., SpA, MKes. Kejang Pada Anak. Disampaikan dalam acara Siang Klinik
Penanganan Kejang Pada Anak di AMC Hospital, 12 Februari 2007.
3. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Konsensus Penanganan
Kejang Demam. 2005. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
4. Pusponegoro D. Hardiono, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. 2004. Edisi 1.
Ikatan Dokter Anak Indonesia.
5. Garna Herry, Melinda Heda, Rahayuningsih Endah Sri. Pedoman Diagnosis dan Terapi.
Edisi ke-3. Bandung : RS. Hasan Sadikin Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
Bandung.

42