Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN RUMAH SEHAT

A. PROFIL KELUARGA SEHAT


I.
IDENTITAS
Nama
: Tn. S
Umur
: 49 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Bangsa/suku
: Makassar
Agama
: Islam
Pekerjaan
: PNS
Alamat
: Jln. Urip Sumoharjo Lr.4 No. 46
II.
1)

2)

3)

ANGGOTA KELUARGA
Identitas
Nama
Umur
Jenis kelamin
Bangsa/suku
Agama
Pekerjaan
Hubungan keluarga

: Ny. M
: 46 tahun
: Perempuan
: Makassar
: Islam
: PNS
: Istri

Identitas
Nama
Umur
Jenis kelamin
Bangsa/suku
Agama
Pekerjaan
Hubungan keluarga

: MS
: 24 tahun
: Perempuan
: Makassar
: Islam
: Mahasiswi
: Anak pertama

Identitas
Nama
Umur
Jenis kelamin
Bangsa/suku
Agama
Pekerjaan
Hubungan keluarga

: YS
: 20 tahun
: Laki-laki
: Makassar
: Islam
: Mahasiswa
: Anak kedua

B. PROFIL KELUARGA
Tn. S tinggal di sebuah rumah yang didiami bersama istri dan 2 orang
anaknya. Anak mereka yang pertama berjenis kelamin perempuan bernama MS
yang sekarang duduk di bangku kuliah Universitas Muslim Indonesia dan anak

kedua berjenis kelamin laki-laki bernama YS yang juga duduk di bangku kuliah
Universitas Hasanuddin.
C. STATUS SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN KELUARGA
Tn. S dan Ny. M berprofesi sebagai PNS. Penghasilan Tn. S sampai saat ini
dirasa mencukupi kebutuhan keluarganya, apalagi istrinya juga bekerja, sehingga
dapat membantu kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya.
Kondisi rumah yang ditempati oleh Tn. S terbilang cukup baik, dengan
kondisi rumah batu berlantai keramik, 2 lantai, dengan 4 kamar tidur. Sekitar
rumah yaitu bagian samping kanan dan kirinya berbatasan dengan rumah batu.
Meskipun berada di lingkungan perumahan yang cukup padat, tetapi rumah Tn. S
cukup memiliki pekarangan yang luas dan rimbun karena ditanami pohon dan
beberapa tanaman-tanaman hias. Tn. S menempati sebuah kamar dengan luas
sekitar 2,5 x 2 m2. Perabot tertata rapi dan kebersihan kamar cukup memuaskan.
Rumah itu memiliki 2 kamar mandi yang terletak di dekat dapur dan di lantai 2.
Kondisi kamar mandi dan dapur cukup bersih. Ventilasi dan pencahayaan cukup
memadai serta memenuhi syarat. Sumber air untuk kebutuhan mandi, mencuci
dan memasak diperoleh dari air PAM, dan air galon untuk minum. Septic tank
terletak di belakang rumah dan tertutup dengan baik. Rumah Tn. S

juga

dilengkapi saluran pembuangan air di depan rumah, hanya saja saluran


pembuangannya belum terlalu baik sehingga airnya tergenang
D. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Menurut Tn. S, dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit yang
bermakna, hanya dirinya yang sering sakit kepala namun dari hasil pemeriksaan
tidak menunjukkan kondisi yang serius. Dokter hanya menyarankan Tn. S untuk
banyak istirahat dan tidak boleh terlalu lelah.
E. POLA KONSUMSI MAKANAN KELUARGA

Menu makanan keluarga sehari-hari bervariasi dengan menu makanan


sederhana seperti nasi, tempe, tahu, ikan, daging, ayam, telur, sayur, buah, dan
sebagainya yang diolahnya sendiri atau di pesan pada katering rumahan.
F. PSIKOLOGI DALAM HUBUNGAN ANTAR ANGGOTA
KELUARGA
Hubungan Tn. S dengan keluarganya sangat dekat dan komunikasi berjalan
dengan lancar dan selalu melakukan aktivitas bersama misalnya rekreasi keluarga
jika ada hari libur.
G. LINGKUNGAN
Lingkungan tempat tinggal terbilang cukup padat. Kebersihan lingkungan
rumah terjaga, lingkungan rumah tetangga sekitar rumah Tn. M juga cukup
terjaga, meskipun masih ada beberapa rumah yang tidak terlalu memperhatikan
kebersihan lingkungan rumahnya. Jalanan di depan rumah dalam keadaan baik.

LAMPIRAN GAMBAR RUMAH SEHAT

Gambar 1. Rumah Tn. S Tampak Depan

Gambar 2. Ruang Tamu

Gambar 3. Ruang Makan

Gambar 4. Dapur

Gambar 5. Kamar Mandi

Gambar 6. Kamar Tidur Utama

Gambar 7. Kamar Tidur Anak

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Rumah sehat adalah tempat tinggal yang menjamin terjaganya kesehatan para
penghuni yang tinggal di dalamnya. Pengertian Rumah sehat dalam hal ini lebih
dari sekedar bangunan tempat tinggal, tetapi juga lingkungan tempat rumah itu
berada juga harus sehat. Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam

rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat


memperoleh derajat kesehatan yang optimal. (21,23)
B. SYARAT RUMAH SEHAT
Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi
kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah
setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai
tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah adalah
salah satu kebutuhan pokok manusia untuk bertempat tinggal dan melindungi
seseorang dari pengaruh lingkungan fisik yang berhubungan secara langsung
misalnya, hujan, panas matahari, angin, dan sebagainya.(21,22)
Rumah sehat menurut Winslow, keadaan perumahan adalah salah satu faktor
yang menentukan keadaan hygiene dan sanitasi lingkungan. Seperti yang
dikemukakan WHO bahwa perumahan yang tidak cukup dan terlalu sempit
mengakibatkan pula tingginya kejadian penyakit dalam masyarakat.1
Rumah sehat yang diajukan oleh Winslow: 1
1. Harus Memenuhi Kebutuhan Fisiologis
a. Suhu ruangan
Suhu ruangan harus dijaga agar jangan banyak berubah. Sebaiknya tetap
berkisar antara 18-20oC. Pada rumah-rumah modern, suhu ruangan ini
dapat diatur dengan air-conditioning. Suhu ruangan tergantung pada:
-

Suhu udara luar

Pergerakan udara

Kelembaban udara

Suhu benda-benda di sekitarnya

b. Harus cukup mendapat penerangan


Harus cukup mendapatkan penerangan baik siang maupun malam hari.
Yang ideal adalah penerangan listrik.diusahakan agar ruangan-ruangan
mendapatkan sinar matahari terutama pagi hari.
c. Harus cukup mendapatkan pertukaran hawa (ventilasi)
Pertukaran hawa yang cukup menyebabkan hawa ruangan tetap segar
(cukup mengandung oksigen). Untuk ini rumah-rumah harus cukup

mempunyai jendela. Luas jendela keseluruhan + 15% dari luas lantai.


Susunan ruangan harus sedemikian rupa sehingga udara dapat mengalir
bebas bila jendela dibuka.
d. Harus cukup mempunyai isolasi suara
Dinding ruangan harus kedap suara, baik terhadap suara-suara yang
berasal dari luar maupun dari dalam. Sebaiknya perumahan jauh dari
sumber-sumber suara yang gaduh, misalnya: pabrik, pasar, sekolah,
lapangan terbang, stasiun bus, stasiun kereta api, dan sebagainya.
2. Harus Memenuhi Kebutuhan Psikologis
a. Keadaan rumah dan sekitarnya, cara pengaturannya harus memenuhi rasa
keindahan (aesthetis) sehingga rumah tersebut menjadi pusat kesenangan
rumah tangga yang sehat.
b. Adanya jaminan kebebasan yang cukup, bagi setiap anggota keluarga
yang tinggal di rumah tersebut.
c. Untuk tiap anggota keluarga, terutama yang mendekati dewasa harus
mempunyai

ruangan

sendiri-sendiri

sehingga

privacy-nya

tidak

terganggu.
d. Harus ada ruangan untuk menjalankan kehidupan keluarga di mana
semua anggota keluarga dapat berkumpul.
e. Harus ada ruangan untuk hidup bermasyarakat, jadi harus ada ruang
untuk menerima tamu.

3. Harus Dapat Menghindarkan Terjadinya Kecelakaan


a. Konstruksi rumah dan bahan-bahan bangunan harus kuat sehingga tidak
mudah ambruk.
b. Sarana pencegahan terjadinya kecelakaan di sumur, kolam, dan tempattempat lain, terutama untuk anak-anak.
c. Diusahakan agar tidak mudah terbakar.
d. Adanya alat pemadam kebakaran terytama yang menggunakan gas.
4. Harus Dapat Menghindarkan Terjadinya Penyakit

a. Adanya sumber air yang sehat, cukup kwalitas maupun kwantitasnya.


b. Harus ada tempat pembuangan kotoran, sampah, dan air limbah yang
baik.
c. Harus dapat mencegah perkembangbiakan vector penyakit, seperti:
nyamuk, lalat, tikus, dan sebagainya.
d. Harus cukup luas. Kuas kamar tidur + 5 m2 per kapita per luas lantai.
C. BAHAN BANGUNAN
1. Lantai
Saat ini, ada berbagai jenis lantai rumah. Lantai rumah dari semen atau ubin,
kermik, atau cukup tanah biasa yang dipadatkan. Ubin atau semen adalah baik,
namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat
pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan, dan ini pun mahal. Oleh
karena itu, untuk rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan.
Syarat yang penting di sini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan
tidak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak
berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan
benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah dan
berdebu menimbulkan sarang penyakit.2,3
2. Dinding
Dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan, lebih baik dinding
atau papan. Sebab meskipun jendela tidak cukup, maka lubang-lubang pada
dinding atau papan tersebut dapat merupakan ventilasi, dan dapat menambah
penerangan alamiah.2,3
3. Atap
Atap genteng adalah yang umum dipakai baik di daerah perkotaan, maupun
di pedesaan. Di samping atap genteng cocok untuk daerah tropis, juga dapat
terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri.
Namun demikian, banyak masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu,
maka atap daun rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng atau
asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, disamping mahal juga menimbulkan
suhu panas di dalam rumah.2,3

4. Lain-lain (tiang, kaso, dan reng)


Kayu untuk tiang, bambu untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan.
Menurut pengalaman bahan-bahan ini tahan lama. Tetapi perlu diperhatikan
bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang tikus yang baik. Untuk
menghindari ini maka cara memotongnya harus menurut ruas-ruas bambu
tersebut, apabila tidak pada ruasnya, maka lubang pada ujung-ujung bambu yang
digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan kayu.2
D. VENTILASI
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk
menjaga agar aliran udara dalam rumahtersebut tetap segar. Hal ini berarti
keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tetap terjaga. Kurangnya
ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 dalam rumah yang berarti kadar CO2
yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Di samping itu, tidak
cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara dalam ruangan naik
karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban
ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (bakteribakteri penyebab penyakit).2,3
Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari
bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara
yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir.
Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap dalam
kelambaban (humudity) yang optimum. Ada dua macam ventilasi, yakni2,3:
a. Ventilasi alamiah, di mana aliran udara dalam ruangan tersebut terjadi
secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada
dinding, dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak
menguntungkan, karena juga merupakan jalan masuknya nyamuk dan
serangan lainnya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain
untuk melindungi kita dari gigitan nyamuk tersebut.
b. Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk
mangalirkan udara tersebut, misalnya kipas angin, dan mesin pengisap
udara. Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan.

Perlu diperhatikan di sini bahwa sistem pembuatan ventilasi harus dijaga


agar udara tidak mandeg atau membalik lagi, harus mengalir. Artinya dalam
ruangan rumah harus ada jalan masuk dan keluarnya udara.
Agar diperoleh kesegaran udara dalam ruangan dengan cara penghawaan
alami, maka dapat dilakukan dengan memberikan atau mengadakan peranginan
silang (ventilasi silang) dengan ketentuan sebagai berikut: 2
- Lubang penghawaan minimal 5% (lima persen) dari luas lantai ruangan.
- Udara yang mengalir masuk sama dengan volume udara yang mengalir
-

keluar ruangan.
Udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau bau kamar mandi/WC.
Khususnya untuk penghawaan ruangan dapur dan kamar mandi/WC, yang
memerlukan peralatan bantu elektrikal-mekanikal seperti blower atau
exhaust fan, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan bangunan
disekitarnya.
Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan ruangan
kegiatan dalam bangunan seperti: ruangan keluarga, tidur, tamu dan
kerja.

E. CAHAYA
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak
terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam rumah, terutama cahaya
matahari, disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang
baik untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak
cahaya dalam rumah akan menyebabkan silau, dan akhirnya dapat merusak mata.
Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni2,3:
a. Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena dapat
membunuh bakteri-bakteri patogen dalam rumah, misalnya basil TBC. Oleh
karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang
cukup. Seyogianya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurangkurangnya 15% sampai 20% dari luas lantai yang terdapat dalam ruangan
rumah. Perlu diperhatikan dalam membuat jendela diusahakan agar sinar
matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh

bangunan lain. Fungsi jendela di sini, di samping sebagai ventilasi, juga


sebagai jalan masuk cahaya.
Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar
sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Maka
sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi dinding (tembok).
Jalan masuknya cahaya alamiah juga diusahakan dengan genteng kaca.
Genteng kaca pun dapat dibuat secara sederhana, yakni dengan melubangi
genteng biasa pada waktu pembuatannya, kemudian menutupnya dengan
pecahan kaca.
b. Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah,
seperti lampu minyak tanah, listrik, dan sebagainya.
F. LUAS BANGUNAN RUMAH
Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas dasar manusia di
dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut meliputi aktivitas tidur, makan, kerja,
duduk, mandi, kakus, cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Kebutuhan
minimum ruangan pada rumah sehat perlu memperhatikan beberapa ketentuan
sebagai berikut: 2
- kebutuhan luas per jiwa
- kebutuhan luas per Kepala Keluarga (KK)
- kebutuhan luas bangunan per kepala Keluarga (KK)
- kebutuhan luas lahan per unit bangunan
Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya,
artinya harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak
sebanding

dengan

jumlah

penghuninya

akan

menyebabkan

perjubelan

(overcrowded). Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan kurangnya


konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan
mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan yang optimum
adalah apabila dapat menyediakan 2,5 3 m2 untuk setiap orang.2,3
Hubungan rumah yang terlalu sempit dan kejadian penyakit1:
1. Kebersihan udara
Karena rumah terlalu sempit (terlalu banyak penghuninya), maka ruanganruangan akan kekurangan oksigen sehingga akan menyebabkan menurunnya daya
tahan tubuh sehingga memudahkan terjadinya penyakit. Penularan penyakitpenyakit saluran pernapasan, misalnya TBC akan mudah terjadi di antara

penghuni rumah. Dari penelitian berjudul Hubungan Antara Karakteristik


Lingkungan Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis (TB) pada Anak di Kecamatan
Paseh Kabupaten Sumedang, yang dilakukan oleh Nurhidayah, dkk (2007)
menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara luas ventilasi rumah,
kelembaban rumah, pencahayaan rumah, dan kepadatan penghuni rumah dengan
kejadian tuberculosis pada anak, sedangkan variable suhu tidak memiliki
hubungan yang bermakna dnegan kejadian tuberculosis pada anak.1,4
2. Fasilitas dalam rumah untuk tiap orang akan berkurang
Fasilitas dalam rumah untui tiap orang akan berkurang karena harus dibagi
dalam jumlah yang banyak. Misalnya air. Walaupun kwalitasnya baik, tapi karena
pemakainya banyak maka kwantitasnya menjadi kurang, sehingga penghuni
rumah tidak tiap hari mandi atau tiap hari tidak mandi. Hal ini akan memudahkan
terjadinya penyakit kulit.
3. Memudahkan terjadinya penularan penyakit
Karena rumah terlalu sempit maka perpindahan (penularan) bibit penykait
dari manusia yang satu ke manusia yang lainnya akan lebih mudah terjadi,
misalnya:

TBC,

penyakit-penyakit

kulit,

dan

penyakit-penyakit

saluran

pernapasan.
4. Privacy dari tiap anggota keluarga terganggu
Karena rumah terlalu sempit, maka tiak semua anggota keluarga mempunyai
kamar sendiri-sendiri, sehingga privacy-nya akan terganggu. Hal ini akan
menyebabkan tiap anggota keluarga, teruama anak-anak muda tida suka tinggal di
rumah, yang akan memudahkan timbulnya kejahatan dan kenakalan anak/remaja,
serta kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Kehidupan rumah tangga
yang tidak harmonis ini di samping menyebabkan perkembangan jiwa dari anakanak yang tidak baik juga menimbulkna masalah-masalah sosial dalam
masyarakat.
G. FASILITAS-FASILITAS DALAM RUMAH SEHAT
Rumah yang sehat harus mempunyai fasilita-fasilitas sebagai berikut2,3:
1. Penyediaan air bersih yang cukup
2. Pembuangan tinja

3.
4.
5.
6.

Pembuangan air limbah (air bekas)


Pembuangn sampah
Fasilitas dapur
Ruang berkumpul keluarga
Di bawah ini adalah contoh variable dan nilai skor variabel rumah sehat

yang digunakan oleh Supraptini dalam penelitiannya yang berjudul Gambaran


Rumah Sehat di Indonesia, Berdasarkan Analisis Data SUSENAS 2001 dan 2004.5

Tabel 1. Variabel Dan Nilai Skor Variabel Rumah Sehat


H. 10 PATOKAN UNTUK RUMAH EKOLOGIS SEBAGAI RUMAH
SEHAT
Sepuluh patokan rumah ekologis merupakan prinsip dasar dalam
perencanaan

rumah

sehat

yang

berkesinambungan

serta

pembangunan

berkelanjutan di daerah tropis. Patokan tersebut didasarkan pada dua seminar dan

lokakarya internasional tentang arsitektur ekologis dan lingkungan di daerah


tropis.6
Dalam rangka menuju masa depan yang terpelihara dan alam lestari, maka
planet bumi ini harus dirawat dengan lebih seksama, dan rumah yang dibangun
seharusnya ekologis. Kebutuhan atas perkembangan berkelanjutan belum pernah
sepenting seperti sekarang. Pengaruh perabadan manusia cenderung merusak
lingkungan sebagai dasar kehidupannya.6
Berdasarkan

pertimbangan

tersebut,

tim

dari

lembaga

pendidikan

lingkungan, manusia, dan bangunan menyusun 10 patokan ini sebagai standar


rumah ekologis yang sehat.6
1. Menciptakan kawasan penghijauan di antara kawasan pembangunan
sebagai paru-paru hijau
Kualitas taman dan hutan kota yang luasnya minimal 20% dari wilayah
kota, dengan jarak dari perumahan sebaiknya tidak melebihi 300 m, serta utilitas
dan banyaknya taman merupakan tujuan pokok tata kota kontemporer. Alun-alun
sebagai taman/hutan kota merupakan ruang beraneka-ragam yang sangat
mempengaruhi

kualitaskehidupan

dalam

kota.

Letak

dan

pengaturan

penghijauan dalam tata-kota menentukan ciri-khas kota tersebut. Di wilayah


kota lama sering terjadi kekurangan lahan hijau seperti jaringan penghubung
(biotop interconnection) dengan penghijauan berbentuk bahu jalan yang
ditanami dengan pohon peneduh dan semak belukar. Penghijauan di lingkungan
kota akan meningkatkan kualitas kehidupan dalam kota dengan produksi
oksigennya yang mendukung kehidupan sehat bagi manusia, mengurangi
pencemaran udara, serta meningkatkan kualitas iklim mikro. Air hujan yang
turun diserap oleh tanah, dan kemudian menguap kembali, dengan demikian,
tanaman ikut mengelola air hujan dan melindungi lereng gunung terhadap tanah
longsor.6
2. Memilih tapak bangunan yang bebas gangguan geo-biologis
Pengembangan dalam ilmu pengetahuan alam dan ilmu nuklir menghasilkan
pengertian baru, bahwa, selain yang bersifat nyata, ada juga yang bersifat mental
(imaterial). Planck, Heisenberg, Lovelock, dan peneliti yang lain membuktikan

bahwa setiap materi juga mengandung semacam kesadaran. Manusia merupakan


penengah di antara akal dan materi, karena ia menjadi satu-satunya makhluk
yang memiliki badan material dan kerohanian. Dengan demikian manusia juga
selalu mampu berkomunikasi dengan benda-benda yang tidak dapat ditangkap
dengan pancainderanya.
Guna menghindari pengaruh negatif oleh radiasi technik tersebut, maka di
dalam rumah sehat sebaiknya diperhatikan hal-hal berikut:
-

sejauh mungkin menggunakan lampu pijar daripada tabung fluoresensi


semua instalasi listrik dilengkapi tiga kawat (pembawa arus, netral,

pembumian)
menghindari penggunaan spring bed karena per baja dapat menyalurkan

medan elektromagnetis kepada orang yang tidur di atasnya


mencabut steker semua alat listrik pada stopkontak, menghindari keadaan

standby
memilih monitor LCD sebagai layar computer/tv
menghalangi anak dan remaja menggunakan telefon genggam (hand phone),
juga orang dewasa sebaiknya menggunakannya sesedikit mungkin.
Denah kamar tidur dengan persimpangan aliran air di bawah tanah dan

patahan geologis, dan persimpangan jaringan Hartmann (tanpa perhatian pada


jaringan Curry) yang mempengaruhi kesehatan orang yang sedang tidur.6
3. Menggunakan bahan bangunan alamiah
Perkembangan pembangunan dewasa ini ditandai dengan peningkatan
macam-macam bahan bangunan dan munculnya bahan bangunan baru. Keadaan
tersebut memungkinkan berbagai ragam alternatif pemilihan bahan bangunan
guna mengkonstruksikan gedung. Maraknya penemuan bahan bangunan baru
juga ditandai dengan kesadaran terhadap ekologi lingkungan dan fisika
bangunan.Membangun berarti suatu usaha untuk menghemat energi dan sumber
daya alam. Teknologi bangunan yang baru menuntut para ahli supaya mereka
terbuka terhadap perkembangan tersebut, karena tidak jarang teknologi baru
menyimpang dari cara pertukangan tradisional. Kajian ilmu bahan bangunan
yang cukup sederhana dan formal selama ini kiranya perlu diubah sesuai dengan
pandangan pembangunan yang menyeluruh. rantai bahan bangunan.6

4. Menggunakan ventilasi alam untuk menyejukkan udara dalam


bangunan
Bangunan sebaiknya dibuat secara terbuka dengan jarak yang cukup di
antara bangunan tersebut agar gerak udara terjamin. Orientasi bangunan
ditempatkan di antara lintasan matahari dan angin. Sebagai kompromi letak
gedung berarah antara timur ke barat, dan yang terletak tegak lurus terhadap arah
angin. Gedung sebaiknya berbentuk persegi panjang sehingga menguntungkan
bagi penerapan ventilasi silang. Letak gedung terhadap sinar matahari yang
Letak gedung terhadap arah angin yang paling paling menguntungkan bila
memilih arah dari menguntungkan bila memilihi arah tegak lurus timur ke barat
terhadap arah angin itu Ruang di sekitar bangunan sebaiknya dilengkapi pohon
peneduh tanpa mengganggu gerak udara.6
5. Memilih lapisan permukaan dinding dan langit-langit ruang yang
mampu mengalirkan uap air
Hampir setiap bahan bangunan dapat menyalurkan dan menyimpan
kelembapan dalam bentuk air maupun uap. Kemampuan ini tergantung terutama
pada struktur pori-pori (jenis, bentuk, dan ukuran pori tersebut). Selanjutnya
harus dibedakan antara bahan bangunan yang mengisap air (higroskopis) dan
yang menolak air. Bahan bangunan yang berpori dapat mengisap air dengan
berbagai cara. Makin kecil pori-pori bahan bangunan makin besar daya
mengisap air, dan makin besar pori-pori makin mudah dapat diisi dengan air. Hal
ini berarti bahwa air bisa masuk ke dalam bahan bangunan melalui gravitasi
(misalnya oleh atap yang bocor), oleh tekanan angin (misalnya pada tepi dinding
atau atap yang terekena angin kencang), oleh kapilaritas (pada retak plesteran
dinding atau kelembapan tanah yang melalui trasraam yang tidak kedap air).
Kelebihan kelembapan apapun dalam iklim tropis lembap, akan menumbuhkan
cendawan kelabu (aspergillus) yang mempengaruhi kesehatan penghuni karena
mengakibatkan alergi bronkitis dan asma.6

6. Menghindari kelembapan tanah yang naik ke dalam konstruksi


bangunan dan memajukan sistem bangunan kering

Kelembapan tanah yang naik ke dalam konstruksi bangunan merupakan


permasalahan besar di Indonesia dengan iklim tropis lembapnya, karena lapisan
yang kedap air tidak ada.6
7. Mempertimbangkan kesinambungan pada struktur dan masa pakai
bagian gedung yang menerima beban dan yang membagi saja
Hubungan antara masa pakai bahan bangunan dan struktur bangunan akan
mempengaruhi pilihan struktur dan penggunaan bahan bangunan. Bahan
bangunan apapun yang dipilih sebagai bagian struktur (sebaiknya tahan minimal
60 tahun), bagian sekunder, atau bagian perlengkapan/utilitas yang tahan hanya
sekitar 5-20 tahun selalu harus dipertimbangkan masa pakainya (life span).6
8. Mempertimbangkan

bentuk/proporsi

ruang

berdasarkan

aturan

harmonis
Pengertian proporsi adalah masalah yang selalu dipersoalkan dalam
perencanaan arsitektur sebagai prinsip keselarasan dan estetika. Proporsi dan
keselarasan (harmoni) bersama-sama dapat menentukan bentuk arsitektur. Oleh
karena itu, semua buku arsitektur kuno mengandung ilmu proporsi. Pengertian
proporsi dapat dianggap dalam bentuk proporsi bidang maupun bentuk proporsi
ruang seperti sudah ditentukan oleh Pythagoras dan penganutnya.6
9. Menjamin bahwa bangunan yang direncanakan tidak mencemari
lingkungan maupun membutuhkan energi yang berlebihan
Seperti telah diuraikan, bahan bangunan selalu membutuhkan sumber alam
dan energi tidak terbarukan. Oleh karena itu bahan bangunan harus dipilih
dengan saksama dan kebutuhan energi tersebut, kerusakan yang eksploitasinya
berakibat pada alam, pembuangan yang mencemari tanah, serta rantai bahan
secara holistis harus dipertimbangkan. Masalah padatnya penduduk dan
ketidakpedulian terhadap lingkungan alam mengakibatkan kemerosotan dan
kerusakan lingkungan alam kita yang makin parah. Kebebasan untuk memilih
dan tugas untuk merawat dunia ini dengan penuh rasa tanggungjawab dan secara
berkesinambungan adalah dasar etika lingkungan.6

10. Menjamin bahwa pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan


secara luas sehingga tidak mengakibatkan efek samping yang
merugikan
Pembangunan berkelanjutan tercapai dengan perhatian pada sembilan
patokan rumah ekologis sebagai rumah sehat tersebut di atas. Dengan perhatian
khusus pada etika lingkungan masalah efek samping yang merugikan tetangga
atau manusia yang lain dapat dihindarkan.6
I. PEMBAHASAN
Setiap manusia, di manapun berada, membutuhkan tempat untuk tinggal
yang disebut rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepas lelah, tempat
bergaul dan membina rasa kekeluargaan di antara anggota keluarga, serta sebagai
tempat berlindung dan menyimpan barang berharga. Rumah yang sehat
merupakan rumah yang dapat digunakan sebagai tempat berlindung dan
beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan
kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga
dapat bekerja secara produktif.
Adapun tabel hasil observasi penilaian terhadap rumah yang dimiliki oleh
Tn. S untuk dikategorikan sebagai rumah sehat :
No
.
1.

2.

3.

4.

5.

Variabel yang dinilai


Lokasi
a. tidak rawan banjir
b. rawan banjir
Kepadatan hunian
a. tidak padat (>8m2/orang)
b. padat (<8m2/orang)
Lantai
a. Semen ubin, keramik, kayu
b. Tanah
Pencahayaan
a. cukup
b. tidak cukup
Ventilasi
a. ada ventilasi

Cek

Skor

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

b. tidak ada
Air bersih
a. air dalam kemasan
b. ledeng/PAM
c. mata air pelindung
d. sumum pompa tangan
e. sumur terlindung
f. sumur tidak terlindung
g. mata air tidak terlindung
h. lain-lain
Pembuangan kotoran (kakus)
a. leher angsa
b. plengsengan
c. cemplung/cubluk
d. kolam ikan/sungai/kebun
e. tidak ada
Septic tank
a. septic tank dengan jarak >10 meter dari sumber
air minum
b. lainnya
Kepemilikan WC
a. sendiri
b. bersama
c. tidak ada
Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
a. saluran tertutup
b. saluran terbuka
c. tanpa saluran
Saluran got
a. mengalir lancar
b. mengalir lambat
c. tergenang
d. tidak ada got
Pengelolaan sampah
a. diangkut petugas
b. ditimbun
c. dibuat kompos
Polusi udara
a. tidak ada gangguan polusi
b. ada gangguan
Bahan bakar masak

a.
b.
c.
d.

listrik, gas
minyak tanah
kayu bakar
arang/batu bara

Total
Tabel 2. Variabel Dan Nilai Skor Variabel Rumah Tn. S

40

Berdasarkan 14 parameter yang dipakai sebagai parameter rumah sehat


didapatkan bahwa rumah yang dimiliki oleh Tn. S memenuhi syarat kesehatan
baik yakni : ventilasi, pencahayaan alami, lokasi, kepadatan hunian, lantai, dan
polusi udara. Hanya saja, saluran got dari rumah Tn. S perlu diperbaiki sehingga
airnya bisa mengalir dan tidak tergenang.
Adapun status kesehatan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga dalam
kondisi sehat dan didukung oleh lingkungan yang sehat pula. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kondisi rumah dengan kesehatan
seseorang.

1. Entjang, Indan. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: PT. Citra


ADitya Bakti; 2000. Hal.105-8.
2. Notoatmodjo, Soekidjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni.
Jakarta: Rineka Cipta, 2007. p. 167-172
3. Anonymous. Syarat-Syarat Rumah Sehat. [online]. 2009 [cited
2009

November];

Available

from

URL:

http://www.smallcrabonline619-syarat-syarat-rumah-sehat.htm
4. Heinz Frick. 10 patokan untuk rumah ekologis sebagai rumah
sehat. [online]. 2009 [cited 2009 November]; Available from URL
: http://www.panda.org/downloads/general/lpr2004.pdf
5. Supraptini. Gambaran Rumah Sehat Di Indonesia, Berdasarkan
Analisis Data Susenas 2001 Dan 2004. Puslitbang Ekologi Dan
Status Kesehatan Badan Litbangkes; 2004.hal 1-12
Nurhidayah, I., dkk. Hubungan Antara Karakteristik Lingkunga
Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis (TB) pada Anak di Kecamatan
Paseh

Kabupaten

Sumedang.

Fakultas Ilmu Keperawatan; 2007.

Bandung:

Universitas

Padjadjaran

Anda mungkin juga menyukai