Anda di halaman 1dari 14

Diare Disentriform

Latar Belakang
Diare masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak teutama balita di
negara berkembang karena angka kesakitan dan kematiannya masih tinggi.
Sekitar 80% kematian karena diare terjadi pada anak di bawah 2 tahun
Di Indonesia, angka kesakitan diare juga masih cukup tinggi walaupun pada
tahun 2010 mengalami sedikit penurunan yaitu dari 423 per 1.000 penduduk
pada tahun 2006 turun menjadi 411 per 1.000 penduduk pada tahun 2010.
Disentri merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas, sekitar 10%
dari semua epidose diare pada anak-anak kurang dari 5 tahun adalah disentri,
dan menyebabkan 15% dari semua kematian yang disebabkan diare.
Diare akibat infeksi patogen seperti Shigella, Camplybacter, Enterohemorrhagic
E. coli (termasuk E. coli O157:H7 dan E. coli produksi toksin shiga) dan E.
histolytica paling sering bermanifestasi sebagai diare berdarah/disentri.

Definisi
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang
lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml per jam tinja),
dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan (setengah
padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat
Disentriadalah diareyang disertaidarah
Disentrimerupakantipediareyangberbahayadanseringkalimeny
ebabkan kematian dibandingkan dengan tipe diare akut yang lain.
Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri disentri basileryang
disebabkanoleh shigellosisdan amoeba disentri
amoeba.Sebagianbesar episodedisebabkan oleh shigella dan
hampir semuanya memerlukan pengobatan antibiotik.

Etiologi
Bakteri
o Enteroinvasive E.Coli (EIEC)
o Shigella sp
o Campylobacter Yeyuni
o Yersinia
Parasit
o Entamoeba hystolitica

Epidemiologi
Kejadian diare di negara berkembang antara 3,5 - 7 episode
setiap anak pertahun dalam dua tahun pertama dan 2-5
episode pertahun dalam 5 tahun pertama kehidupan.
Diare masih merupakan penyebab kematian utama bayi dan
balita dengan angka kematian bayi 9,4% dan kematian balita
13,2%
Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Orang (umur) sekitar
80% kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2
tahun.

Faktor Risiko
Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal oral yaitu
melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau
kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah
tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat (dikenal juga
melalui 4 F = finger, flies, fluid, field).
Tidak memberikan ASI secara penuh untuk 46 bulan pertama kehidupan
bayi, tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja,
kurangnya sarana kebersihan (MCK), kebersihan lingkungan dan pribadi
yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis dan
cara penyapihan yang tidak baik

Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya disentri basiler, yaitu ditularkan secara oral melalui
air, makanan, dan lalat yang tercemar oleh ekskreta pasien. Setelah
melewati lambung dan usus halus, kuman ini menginvasi sel epitel mukosa
kolon dan berkembang biak didalamnya, pada keadaan subakut terbentuk
ulkus pada daerah folikel limfoid, dan pada selaput lendir lipatan transversum
didapatkan ulkus yang dangkal dan kecil, tepi ulkus menebal dan infiltrat
tetapi tidak berbentuk ulkus bergaung. S.dysentriae, S.flexeneri, dan S.sonei
menghasilkan eksotoksin antara lain ShET1, ShET2, dan toksin Shiga, yang
mempunyai sifat enterotoksik, sitotoksik, dan neurotoksik. Enterotoksin
tersebut merupakan salah satu faktor virulen sehingga kuman lebih mampu
menginvasi sel eptitel mukosa kolon dan menyebabkan kelainan pada
selaput lendir yang mempunyai warna hijau yang khas. Pada infeksi yang
menahun akan terbentuk selaput yang tebalnya sampai 1,5 cm sehingga
dinding usus menjadi kaku, tidak rata dan lumen usus mengecil

Lanjutan..
Amuba Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di lumen usus
besar dapat berubah menjadi patogen sehingga dapat menembus mukosa
usus dan menimbulkan ulkus. Akan tetapi faktor yang menyebabkan
perubahan ini sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Diduga baik
faktor kerentanan tubuh pasien, sifat keganasan (virulensi) amoeba, maupun
lingkungannya mempunyai peran. Amoeba yang ganas dapat memproduksi
enzim fosfoglukomutase dan lisozim yang dapat mengakibatkan kerusakan
dan nekrosis jaringan dinding usus. Bentuk ulkus amoeba sangat khas yaitu
di lapisan mukosa berbentuk kecil, tetapi di lapisan submukosa dan
muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadi ulkus di permukaan
mukosa usus menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yang minimal.
Mukosa usus antara ulkus-ulkus tampak normal. Ulkus dapat terjadi di semua
bagian usus besar, tetapi berdasarkan frekuensi dan urut-urutan tempatnya
adalah sekum, kolon asenden, rektum, sigmoid, apendiks dan ileum
terminalis

Manifestasi Klinis
DISENTRI BASILER
oDiare mendadak yang disertai darah dan lendir
dalam tinja. Pada disentri shigellosis, pada
permulaan sakit, bisa terdapat diare encer
tanpa darah dalam 6-24 jam pertama, dan
setelah 12-72 jam sesudah permulaan sakit,
didapatkan darah dan lendir dalam tinja.
oPanas tinggi (39,5 - 40,0 C), kelihatan toksik.
oMuntah-muntah.
oAnoreksia.
oSakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB.
oKadang-kadang disertai dengan gejala
menyerupai ensefalitis dan sepsis (kejang,
sakit kepala, letargi, kaku kuduk, halusinasi).

DISENTRI AMUBA

o Diare disertai darah dan lendir dalam


tinja.
o Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit
daripada disentri basiler (10x/hari)
o Sakit perut hebat (kolik)
o Gejala konstitusional biasanya tidak
ada (panas hanya ditemukan pada
1/3 kasus).

Penegakkan Diagnosis
o Diagnosis klinis dapat ditegakkan semata-mata dengan menemukan tinja bercampur
darah. Diagnosis etiologi biasanya sukar ditegakkan. Penegakan diagnosis etiologi
melalui gambaran klinis semata sukar, sedangkan pemeriksaan biakan tinja untuk
mengetahui agen penyebab seringkali tidak perlu dilakukan karena memakan waktu
lama (minimal 2 hari) dan umumnya gejala membaik dengan terapi antibiotika
empiris
o Pemeriksaan tinja
o Makroskopis: suatu disentri amoeba dapat ditegakkan bila ditemukan bentuk trofozoit dalam tinja
o Benzidin test
o Mikroskopis: leukosit fecal (petanda adanya kolitis), darah fecal .

o Biakan tinja:
o Media: agar MacConkey, xylose-lysine deoxycholate (XLD), agar SS.

o Pemeriksaan darah rutin: leukositosis (5.000 15.000 sel/mm3), kadang-kadang


dapat ditemukan leukopenia.

Komplikasi
oPendarahan Usus
oIntusepsi
o Haemolytic uremic syndrome

Terapi
Prinsip dalam melakukan tindakan pengobatan diare disentriform adalah
istirahat, mencegah atau memperbaiki dehidrasi, diet, dan pemberian
antibiotika
oRehidrasi sesuai dengan derajat dehidrasi
oAsi dan makanan diberikan dengan porsi kecil, rendah serat, frekuensi sering
oAntibiotika :
o Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO): Kotrimoksazol (trimetoprim
10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi dalam 2 dosis,
selama 5 hari. Alternatif yang dapat diberikan : Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi
dalam 4 dosis, Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, Ceftriaxone
50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM, Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi
dalam 4 dosis
o Terapi yang dipilih sebagai antiamebik intestinal pada anak adalah Metronidazol 3050mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari

Pencegahan
Penularan disentri amuba dan basiler dapat dicegah dan
dikurangi dengan kondisi lingkungan dan diri yang bersih seperti
membersihkan tangan dengan sabun, suplai air yang tidak
terkontaminasi, penggunaan jamban yang bersih.

Prognosis
oPrognosisditentukandariberatringannyapenyakit,diagnosis
danpengobatan dini yang tepat serta kepekaan ameba
terhadap obat yang diberikan.
oPadaumumnyaprognosisdisentriadalahbaikterutamapada
kasustanpa komplikasi