Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul Masyarakat Madani dalam Perspektif Islam dengan tepat waktu. Sholawat serta salam
tak lupa penulis sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan
syafaatnya kelak di yaumul kiamah.
Penulis menyadari didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang
Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis
menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.
Bapak. Marsaid, M.Pd.I selaku dosen pengampu yang telah memberikan arahan kepada
kami dalam rangka penyelesaian makalah ini.
2.

Kepada orang tua yang memotivasi kami sehingga makalah ini terselesaikan.

3.

Kepada teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, maka penulis menyadari bahwa dalam penyusunan
dan penulisan makalah ini masih banyak kekuarangan dan kesalahan, baik dalam penulisan
maupun penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak
sangat penulis harapkan guna penyempurnaan dalam penyusunan dan penulisan tugas kelompok
ini dan tugas-tugas selanjutnya.

Pekanbaru, 4 Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .....................................................................................................


Daftar isi................................................................................................................

1.

Bab I Pendahuluan .....................................................................................

a.

Latar Belakang Masalah .............................................................................

b.

Rumusan Masalah .......................................................................................

c.

Tujuan..........................................................................................................

2.

Bab II Pembahasan .....................................................................................

a.

Islam dan Masyarakat Madani .......... ........................................................

b.

Konsepsi Islam dalam Membangun Masyarakat Madani............................

c.

Sosio-Historis Masyarakat Madinah pada Masa Rasulullah ......................

d.

Karakteristik Masyarakat Madani ...............................................................

3.

Bab III Penutup..........................................................................................

a.

Kesimpulan ................................................................................................

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Term Civil Society atau Masyarakat Madani, merupakan wacana dan fokus utama bagi
masyarakat dunia sampai saat ini. Apalagi di abad ke-21 ini, kebutuhan dan tuntutan atas
kehadiran bangunan masyarakat madani, bersamaan dengan maraknya issu demokratisasi dan
HAM. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, sejauh manakah Islam merespon masyarakat
tersebut. Jawabannya adalah bahwa Islam yang ajaran dasarnya Alquran, adalah shlih li kulli
zamn wa makn (ajaran Islam senantiasa relevan dengan situasi dan kondisi). Karena demikian
halnya, maka jelas bahwa Alquran memiliki konsep tersendiri tentang masyarakat madani.
Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera sebagaimana
yang dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan
masyarakat. Untuk mencapainya berbagai sistem kenegaraan muncul, seperti demokrasi. Citacita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya
manusia. Hal ini terlaksana apabila semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu yang
menjadikan manusia sebagai subjek. Pengembangan masyarakat sebagai sebuah kajian keilmuan
dapat menyentuh keberadaan manusia yang berperadaban. Pengembangan masyarakat
merupakan sebuah proses yang dapat merubah watak, sikap dan prilaku masyarakat ke arah
pembangunan yang dicita-citakan.
Indikator dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa sangat tergantung pada situasi
dan kondisi serta kebutuhan masyarakatnya. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mencuatkan
suatu kemakmuran yang didambakan yaitu terwujudnya masyarakat madani. Munculnya istilah
masyarakat madani pada era reformasi ini, tidak terlepas dari kondisi politik negara yang
berlangsung selama ini. Sejak Indonesia merdeka, masyarakat belum merasakan makna
kemerdekaan yang sesungguhnya. Pemerintah atau penguasa belum banyak member kesempatan
bagi semua lapisan masyarakat mengembangkan potensinya secara maksimal. Bangsa Indonesia
belum terlambat mewujudkan masyarakat madani, asalkan semua potensi sumber daya manusia
2. Rumusan Masalah
a)

Bagaimana Pengertian Masyarakat Madani?

b)

Bagaimana Konsepsi Islam dalam Membangun Masyarakat Madani?

c)

Bagaimana Sosio-Historis Masyarakat Madinah pada Masa Rasulullah?

d)

Bagaimana Karakteristik Masyarakat Madani?

3. Tujuan Masalah
a) Untuk Mengetahui Pengertian Masyarakat Madani
b) Untuk Mengetahui Konsepsi Islam dalam Membangun Masyarakat Madani
c) Untuk Mengetahui Sosio-Historis Masyarakat Madinah pada Masa Rasulullah
d) Untuk Mengetahui Karakteristik Masyarakat Madani

BAB II
PEMBAHASAN
Cita-cita sosial Islam menempati posisi strategis dalam kerangka ajaran Islam, karena ia
merupakan arah dan acuan kehidupan keberislaman. Gerakan Islam, apapun bentuknya,
sepanjang diorientasikan dalam rangka memperjuangkan cita-cita sosial Islam, dengan
demikian, merupakan faktor instrumental untuk mengantarkan umat kepada pencapaian
(tepatnya penghampiran) cita-cita tersebut.
Dalam perspektif ini, gerakan Islam, seyogyanya melakukan interpretasi dan aktualisasi
cita-cita sosial Islam dalam konteks seting sosial, budaya, dan dinamika masyarakat yang
dihadapinya.
1.Islam dan Masyarakat Madani
1.

Pengertian Masyarakat

Pengertian masyarakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiaadalah sejumlah manusia


dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Kata
masyarakat tersebut, berasal dari bahasa Arab yaitu syarikat yang berarti golongan atau
kumpulan.
Sedangkan dalam bahasa Inggeris, kata masyarakat tersebut diistilahkan
dengan society dan atau community. Dalam hal ini, Abdul Syani menjelaskan bahwa bahwa
masyarakat
sebagai community dapat
dilihat
dari
dua
sudut
pandang.
Pertama, memandang community sebagai unsur statis, artinya ia terbentuk dalam suatu
wadah/tempat dengan batas-batas tertentu, maka ia menunjukkan bagian dari kesatuan-kesatuan
masyarakat sehingga ia dapat disebut masyarakat setempat.
Kedua, community dipandang sebagai unsur yang dinamis, artinya menyangkut suatu
proses yang terbentuk melalui faktor psikologis dan hubungan antar manusia, maka di dalamnya
terkandung unsur kepentingan, keinginan atau tujuan yang sifatnya fungsional.
Terdapat kata kunci yang bisa menghampiri kita pada konsep masyarakat madani (civil
society), yakni kata ummah dan madinah. Dua kata kunci yang memiliki eksistensi kualitatif
inilah yang menjadi nilai-nilai dasar bagi terbentuknya masyarakat madani. Kata ummah
misalnya, yang biasanya dirangkaikan dengan sifat dan kualitas tertentu, seperti dalam istilahistilah ummah Islamiyah, ummah Muhammadiyah, khaira ummah dan lain-lain, merupakan
penata sosial utama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW segera setalah hijrah di
Madinah.
Ummah dalam bahasa arab menunjukan pengertian komunitas keagamaan tertentu, yaitu
komunitas yang mempunyai keyakinan keagamaan yang sama. Secara umum, seperti disyaratkan

al-Quran, ummah menunjukan suatu komunitas yang mempunyai basis solidaritas tertentu
atas dasar komitmen keagamaan, etnis, dan moralitas.
Dalam perspektif sejarah, ummah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW di
Madinah dimaksudkan untuk membina solidaritas di kalangan para pemeluk Islam (kaum
Muhajirin dan kaum Ansahar). Khusus bagi kaum muhajirin, konsep ummah merupakan
sistem sosial alternatif pengganti sistem sosial tradisional, sistem kekabilahan dan kesukuan yang
mereka tinggalkan lantaran memeluk Islam.
Hal di atas menunjukan bahwa konsep ummah mengundang konotasi sosial, ketimbang
konotasi politik. Istilah-istilah yang sering dipahami sebagai cita-cita sosial Islam dan memiliki
konotasi politik adalah khilafah, dawlah, dan hukumah. Istilah pertama, khilafah,
disebutkan sembilan kali dalam al-Quran, tapi kesemuanya bukan dalam konotasi sistem politik,
tapi dalam konteks misi kehadiran manusia di muka bumi. Oleh karena itu, penisbatan konsep
khilafah dengan institusi politik tidak mempunyai landasan teologis.
Begitu pula dengan istilah dawlah, yang diartikan negara (nation state) dan dipahami
sebagai masyarakat madaniyang harus di tegakkan, tidak terdapat dalam al-Quran.
Kata hukumah yang diartikan pemerintah juga tidak terdapat dalam al-Quran. AlQuran memang banyak menyebut bentuk-bentuk dari akar kata hukumah yaitu hukama,
tapi dalam pengertian dan konteks yang berbeda. Ayat-ayat al-Quran yang dipakai untuk
menunjukan adanya pemerintahan Islam, seperti yang terdapat dalam teori hakamiyan
(pemerintahan ilahi) adalah dala surah al-Maidah ayat 44, 45, dan 47. Namun, perlu dicatat
bahwa pengertian kata-kata yahkumu dalam ayat-ayat tersebut tidak menunjukan konsep
pemerintahan.
Kata ummah disebut sebanyak 45 kali dalam al-Quram. Baik dalam bentuk tunggal
maupun dalam bentuk jamak. Penyebutan al-Quran dan juga hadis menunjukan masyarakat
madani. Sebagai masyarakat madani, konsep umat Islam ditegaskan atas dasar solidaritas
keagamaan dan merupakan manifestasi dari keprihatinan moral terhadap eksistensi dan
kelestarian masyarakat yang berorientasi kepada nilai-nilai Islam.
Islam merupakan agama yang universal (rahmatan lil-alamin), maka nilai-nilai Islam harus
mendatangkan kebaikan bagi alam semesta. Prinsip kerahmatan dan kemestaan ini menuntut
adanya upaya universalisai nilai-nilai Islam untuk menjadi nilai-nilai nasional ataupun global.
Seperti telah disebutkan diatas, penyebutan kata ummahdalam al-Quran dan al-Hadis
dirangkaikan dengan sifat dan kualitas tertentu. Hal ini menunjukan bahwa ummah, sebagai
komunitas sosial kualitatif, mempunyai nilai relatif. Artinya bahwa perwujudan ummah dalam
keragaman realitas sosial budaya kaum muslimin tidak mungkin seragam dan bercorak tunggal.
Perwujudan ummah akan sangat tergantung kepada realitas sosial budaya tertentu.

Lebih dari itu, ummah islamiyah yang di bangun Nabi Muhammad di Madinah
merupakan model yang baik (uswatun hasanah) yang mengandung nilai-nilai ideal pada masanya
(abad ke-7). Ia mungkin saja tidak seluruhnya relevan dengan kehidupan masyarakat pada abad
modern dewasa ini (abad 21). Masyarakat Madani sebagai cita-cita sosial Islam perlu memiliki
relevansi dengan kemodernan dan dinamika kebudayaan.
2.

Pengertian Madani

Hal inilah yang tersirat dalam konsep madinah, satu kata kunci yang lain yang terjalin
erat dalam pembangunan masyarakat madani. Jika konsep ummah merupakan piranti lunak
(software) dari cita-cita sosial Islam (masyarakat madani), maka konsep madinah merupakan
piranti kerasnya (hardware). Madinah yang berarti kota berhubungan dan mempunyai akar
kata yang sama dengan kata tamaddun yang berarti peradaban. Perpaduan pengertian ini
membawa suatu persepsi ideal bahwa madinah adalah lambang peradaban yang kosmopolit.
Bukan suatu kebetulan bahwa kata madinah juga merupakan kata benda tempat dari kata din
(agama). Korelasi demikian menunjukan bahwa cita-cita ideal agama (Islam) adalah terwujudnya
suatu masyarakat kosmopolitan yang berperadaban tinggi sebagai struktur fisik dari umat Islam.
Dengan berdasar pada pengertian masyarakat dan madani yang telah diuraikan maka
istilah masyarakat madinah dapat diartikan sebagai kumpulan manusia dalam satu tempat
(daerah/wilayah) di mereka hidup secara ideal dan taat pada aturan-aturan hukum, serta tatanan
kemasyarakatan yang telah di-tetapkan. Dalam konsep umum, masyarakat madani tersebut sering
disebut dengan istilah civil society(masyarakat sipil) atau al-mujtama al-madani, yang
pengertiannya selalu mengacu pada pola hidup masyarakat yang berkeadilan, dan
berperadaban.
Dalam istilah Alquran, kehidupan masyarakat madani tersebut dikonteks-kan
dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafr yang secara harfiyah diarti-kan negeri yang baik
dalam keridhaan Allah.Istilah yang digunakan Alquran sejalan dengan makna masyarakat yang
ideal, dan masyarakat yang ideal itu berada dalam ampunan dan keridahan-Nya. Masyarakat
ideal inilah yang dimaksud dengan masyarakat madani.

2. Konsepsi Islam dalam Membangun Masyarakat Madani


Istilah masyarakat madani, menurut sebagian kalangan, pertama kali dicetuskan oleh Naquib alAttas, guru besar sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia. Jika ditelusuri lebih jauh, istilah itu
sejatinya berasal dari bahasa Arab dan merupakan terjemahan dari al-mujtama al-madany. Jika
demikian, besar kemungkinan bahwa istilah yang dicetuskan oleh Naquib al-Attas diadopsi dari
karakteristik masyarakat Islam yang telah diaktualisasikan oleh Rasulullah di Madinah, yang
kemudian disandingkan dengan konteks kekinian.

Istilah tersebut kemudian diperkenalkan di Indonesia oleh Anwar Ibrahimyang saat itu
menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri Malaysiapada Festival Istiqlal September 1995.
Dalam ceramahnya, Anwar Ibrahim menjelaskan secara spesifik terkait karakteristik masyarakat
madani dalam kehidupan kontemporer, seperti multietnik, kesalingan, dan kesedian untuk saling
menghargai dan memahami. Inilah yang kemudian mendorong beberapa kalangan intelektual
Muslim Indonesia untuk menelurkan karya-karyanya terkait wacana masyarakat madani. Sebut
saja di antaranya adalah Azyumardi Azra dalam bukunya "Menuju Masyarakat madani" (1999)
dan Lukman Soetrisno dalam bukunya "Memberdayakan Rakyat dalam Masyarakat Madani"
(2000).
Kemudian di dalam ranah pemikiran Islam belakangan ini, substansi, karakteristik, dan
orientasi masyarakat madani yang sesungguhnya seperti kehilangan jejak, Menguat dugaan, hal
ini memang sengaja dilakukan oleh beberapa kalangan untuk mereduksi nilai-nilai Islam yang
ideal. Setidaknya integrasi konsep masyarakat madani terhadap konsep civil
societymengindikasikan kalau diskursus tersebut mengalami pembiasan esensi dan proses
integrasinya pun cenderung kompulsif. Inilah kemudian yang menjadi alas an utama betapa
perlunya menghadirkan kembali dan menarasikan secara utuh, ide-ide dalam masyarakat madani
yang pernah diaktualkan Rasulullah di Madinah dalam pembahasan ini. Sehingga tidak ada lagi
tumpang-tindih konsepsi yang mengaburkan cara pandang dan pemahaman khalayak terhadap
diskursus ini.
3. Sosio-Historis Masyarakat Madinah pada Masa Rasulullah
Dengan kondisi geografis yang cukup subur, jauh sebelumnya lahir masyarakat madani,
Madinah telah ditempati oleh masyarakat plural yang terdiri dari beragam suku dan aliran
kepercayaan. Daerah tersebut dulunya bernama Yatsrib, yang kemudian diganti menjadi Madnah
al-Raslatau yang lebih popular disebut Madinah sajasetelah Rasulullah tiba di sana.
Setidaknya ada delapan suku yang eksis ketika Rasulullah tiba di Madinah. Selain itu, pada
masing-masing suku terdapat beragam aliran kepercayaan; seperti penganut agama Islam,
penganut agama Yahudi, dan penganut paganisme. Dengan kondisi yang amat plural, dari sini
akan terlihat jelas bagaimana Rasulullah merancang sebuah konsep yang sangat ideal dalam
rangka membangun masyarakat madani.
Hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah bagaimana Rasulullahyang baru tiba
di Madinah, berikut sambutan masyarakat Madinah yang begitu antusias dengan kedatangan
Rasullangsung melakukan konsolidasi dengan penduduk setempat. Dalam hal ini, Rasulullah
sebagai seorang pemimpin, melihat secara jelas tiga tipologi masyarakat Madinah dalam
perspektif keyakinan dan aliran kepercayaannya.
Pertama, penganut agama Islam yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Merupakan
sesuatu yang baru bagi kaum muslimin, jika di Mekah, hak-hak dan kebebasan kebebasan kaum
muslimin dalam beribadah dan berinteraksi sosial dipasung sedemikian rupa, berikut ketiadaan

basis dan kekuatan untuk melakukan konsolidasi dan proses islamisasi. Maka keadaan di
Madinah berbalik 180 dari keadaan di Mekah, kini mereka memiliki basis dan kekuatan yang
mumpunidi samping melakukan konsolidasi dan proses islamisasiuntuk menggerakkan dan
mengelola berbagai sektor kehidupan bermasyarakat dan bernegara; seperti sektor ekonomi,
politik, pemerintahan, pertahanan, dan lain-lain.
Kedua, penganut agama Yahudi, yang terdiri dari tiga kabilah besar, yaitu Bani Qaynuqa,
Bani Nadhir, dan Bani Qurayzha. Ketiga kabilah inilah yang dulu menghegemoni konstelasi
politik dan perekonomian di Madinah, hal tersebut disebabkan karena keahlian dan produktivitas
mereka dalam bercocok tanam dan memandai besi. Sementara kabilah-kabilah Arab yang lain
masih hidup dalam keadaan nomadik, atau karena keterbelakangan mereka dalam hal tersebut.
Adapun imbasnya adalah pengaruh mereka yang begitu besar dalam memainkan peranannya
yang cenderung destruktif dan provokatif terhadap kabilah-kabilah selain mereka. Hal tersebut
berlangsung dalam tempo yang sangat lama, hingga akhirnya Rasulullah tiba di Madinah dan
secara perlahan mereduksi pengaruh kaum Yahudi yang oportunistis tersebut dengan prinsipprinsip agung Islam yang konstruktif dan solutif.
Ketiga, penganut paganisme, dalam hal ini yang dimaksud adalah komunitas masyarakat
Madinah yang masih menyembah berhala seperti halnya penduduk Mekah. Di dalam buku-buku
sejarah, komunitas ini disebut kaum musyrik. Mereka inilah yang masih mendapati keraguan
dalam diri mereka untuk mempercayai dan meyakini kebenaran ajaran yang dibawa oleh
Rasulullah. Namun pada akhirnya komunitas tersebut masuk Islam secara berbondong-bondong
terutama pascaperang Badar.
Setelah membaca dan memahami karakter ketiga golongan tersebut, barulah Rasulullah
melakukan konsepsiyang tidak lain merupakan wahyuyang dilanjutkan dengan aktualisasi
konkret terhadap konsep tersebut. Jika orientasi dakwah Rasulullah di Mekah adalah
memperkokoh akar keimanan para pengikutnya, maka orientasi Rasulullah di Madinah adalah
membangun tatanan keislaman yang meliputi penyampaian dan penegakan syariat Tuhan secara
utuh, dan tatanan kemasyarakatan yang meliputi pembangungan masyarakat yang memegang
teguh prinsip-prinsip agung Islam, berikut nilai dan norma yang ada pada al-Quran dan petunjuk
Nabi. Sementara terkait dengan penganut kepercayaan lain, seperti kaum Yahudi dan kaum
Musyrikin, Nabi membuat sebuah piagam kebersamaan untuk memperkokoh stabilitas sosialpolitik antarwarga Madinah. Piagam inilah yang kemudian disebut sebagai Piagam Madinah.
4. Karakteristik Masyarakat Madani
Jika dicermati secara komprehensif, maka di dalam ajaran Islam terdapat karakteristikkarakteristik universal baik dalam konteks relasi vertikal, maupun relasi horizontal. Dalam hal
ini Yusuf al-Qaradhawi mencatat, ada tujuh karakteristik universal tersebut, yang kemudian ia
jelaskan secara spesifik di dalam bukunya al-Khash'ish al-Ammah li al-Islm. Ketujuh
karakteristik tersebut antara lain; ketuhanan (al-rabbniyah), kemanusiaan (al-insniyyah),

komprehensifitas (al-syumliyah),
kemoderatan(al-wasathiyah),
realitas (al-wqi`iyah),
kejelasan (al-wudhh), dan kohesi antara stabilitas dan fleksibelitas (al-jam bayna al-tsabt wa
al-murnah).
Ketujuh karakteristik inilah yang kemudian menjadi paradigma integral setiap Muslim
dari masa ke masa. Dari ketujuh karakteristik tersebut, ada dua karakteristik fundamental yang
menjadi tolak ukur pembangunan masyarakat madani, yaitu humanisme (al-insniyyah) dan
kemoderatan (al-wasathiyyah). lima karakteristik yang lainkecuali al-rabbniyyah
setidaknya bisa diintegrasikan ke dalam kategori toleran (al-samhah). Karena al-rabbniyah,
menurut al-Qaradhawi, merupakan tujuan dan muara dari masyarakat madani itu sendiri.
Pengintegrasian karakteristik-karakteristik tersebut tidak lain merupakan upaya untuk
menyederhanakan konsep masyarakat madani yang dibahas dalam makalah ini, sebab Islam
sendirimenurut Umar Abdul Aziz Quraysymerupakan agama yang sangat toleran, baik di
dalam masalah akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlaknya.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa Rasulullah mengajarkan tiga karakteristik
keislaman yang menjadi fondasi pembangunan masyarakat madani, yaitu Islam yang humanis,
Islam yang moderat, dan Islam yang toleran.
a. Islam yang Humanis
Yang dimaksud dengan Islam yang humanis di sini adalah bahwa substansi ajaran Islam yang
diajarkan Rasulullah, sepenuhnya kompatibel dengan fitrah manusia. Allah berfirman Q.S alRum ayat 30,
Artinya: "Maka hadapkalah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah di atas fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah tersebut. Tidak ada perubahan
terhadap fitrah Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."
Karena itu, dalam aktualisasinya, ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah dengan
mudah diterima oleh nurani dan nalar manusia. Dengan kata lain, ajaran Islam sejatinya adalah
ajaran yang memanusiakan manusia dengan sebenar-benarnya.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa manusiaberdasarkan fitrahnya
memiliki tendensi untuk melakukan hal-hal yang bersifat konstruktif dan destruktif sekaligus.
Dalam hal ini, lingkungan memberikan pengaruh yang begitu kuat dalam membentuk karakter
dan kepribadian seseorang. Islam, sebagai agama paripurna, diturunkan tiada lain untuk
mengarahkan manusia kepada hal yang bersifat konstruktif dan mendatangkan kebaikan, baik di
dunia maupun di akhirat. Dalam permasalahan ini, manusia diberikan kebebasan untuk memilih
jalannya sendiri tatkala telah dijelaskan, mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang
terpuji dan mana yang tercela.

Jika kaum kapitalis lebih menjadikan manusia sebagai sosok egois dan pragmatis,
sehingga cenderung mendiskreditkan aspek-aspek sosial dengan mengatasnamakan kebebasan
personal; kaum sosialis melakukan sebaliknya, yaitu cenderung mengebiri hak-hak personal
dengan mengatasnamakan kepentingan sosial. Di sinilah Islam dengan karateristiknya yang
spesial, memiliki cara tersendiri dalam upaya untuk mengatur tatanan kehidupan manusia. Islam
berhasil mengatur hak-hak personal dan hak-hak sosial secara seimbang, sehingga melahirkan
nilai-nilai persaudaraan, kesetaraan, dan kebebasan universal.
Hal lain yang perlu ditekankan pada poin ini adalah bagaimana Islam menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan naluri dan tabiat manusia itu sendiri. Secara naluriah, setiap
manusia memiliki keinginan untuk hidup aman, damai, dan sejahtera dalam konteks personal
maupun komunal. Manusia juga telah diberikan berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh
makhluk-makhluk Allah lainnya. Dengan keistimewaan-keistimewaan tersebut, manusia
dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna. Kesepurnaan itu akan berimplikasi pada
kesempurnaan tatanan hidup bermasyarakat jika manusia mengikuti instruksi-instruksi Allah
sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat al-Isr ayat 23-34.
b. Islam yang Moderat
Yang dimaksud dengan Islam yang moderat adalah keseimbangan ajaran Islam dalam
berbagai dimensi kehidupan manusia, baik pada dimensi vertikal (al-wasathiyah aldniyah) maupun horizontal (al-tawzun al-ijtimiy). Kemoderatan inilah yang membedakan
substansi ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah dengan ajaran-ajaran lainnya, baik sebelum
Rasulullah diutus maupun sesudahnya. Secara etimologis, kata 'moderat' merupakan terjemahan
dari al-wasathiyah yang
memiliki
sinonim al-tawzun(keseimbangan)
dan alitidal (proporsional). Dalam hal ini Allah menjelaskan karakteristik umat Rasulullah sebagai
umat yang moderat.
Dalam catatan sejarahnya, karakteristik ini teraplikasikan secara sempurna pada diri
Rasulullah. Sesuai Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah pernah mengatakan dalam
penggalan doanya, "Ya Allah, perbaikilah agamaku sebab ia adalah penjaga urusanku.
Perbaikilah pula duniaku karena di sinilah tempat hidupku. Dan perbaikilah pula akhiratku
kerena di sanalah tempat kembaliku."
Jadi, kemoderatan merupakan salah satu karakteristik fundamental Islam sebagai agama
paripurna. Kemoderatan inilah yang sesungguhnya sangat kompatibel dengan naluri dan fitrah
kemanusiaan. Kemoderatan ini juga yang membuat Islam dengan mudah diterima akal sehat dan
nalar manusia. Diakui atau tidak, nilai-nilai kemoderatan inilah yang menjadi lambang supremasi
universalitas ajaran Islam sebagai agama penutup, yang mengabolisikan ajaran Yahudi yang
memiliki tendensi ekstremis dengan membunuh para Nabi dan Rasul yang Allah utus kepada
mereka, sedangkan ajaran Nasrani memiliki tendensi eksesif dengan menuhankan Nabi Isa alMasih dan lain-lain.

Dari kemoderatan inilah konsepsi-konsepsi kemasyarakatan yang asasi diturunkan


menjadi konsep yang utuh dalam membangun masyarakat Madinah yang solid dan memegang
teguh nilai-nilai dan norma keislaman. Konsep-konsep kemasyarakatan tersebut adalah
keamanan, keadilan, konsistensi, kesolidan, superioritas, dan kesentralan. Konsep integral inilah
yang kemudian merasuk ke alam bawah sadar setiap masyarakat madinah yang diiringi dengan
aktualisasi konsep tersebut secara multidimensi, sehingga lambat laun konsep tersebut menjadi
identitas eternal keislaman yang diajarkan Rasulullah di Madinah dan menjadi masyarakat
percontohan bagi siapa saja yang datang setelahnya.
Dalam hal ini Sayyid Quthb dalam bukunya al-Salm al-lamy wa al-Islmymengamini
bahwa keseimbangan sosial (al-tawzun al-ijtimiy) merupakan fondasi utama guna
mewujudkan keadilan sosial (al-adlah al-ijtimiyah)di tengah-tengah masyarakat. Nilai
keseimbangan sosial ini dalam tahapannya menjadi tolak ukur untuk mewujudkan ketenteraman
dan kedamaian di dalam kehidupan bermasyarakat dalam konteks pembangunan masyarakat
madani.
c. Islam yang Toleran
Kata toleran merupakan terjemahan dari al-samhah atau al-tasmuhyang merupakan
sinonim dari kata al-tashul atau al-luynah yang berarti keloggaran, kemudahan, fleksibelitas,
dan toleransi itu sendiri. Kata 'toleran' di dalam ajaran Islam memiliki dua pengertian, yaitu yang
berkaitan dengan panganut agama Islam sendiri (Muslim), dan berkaitan dengan penganut agama
lain (Nonmuslim).
Jika dikaitkan dengan kaum Muslimin, maka toleran yang dimaksud adalah kelonggaran,
kemudahan, dan fleksibelitas ajaran Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Sebab pada hakikatnya,
ajaran Islam telah dijadikan mudah dan fleksibel untuk dipahami maupun diaktualkan. Sehingga
Islam sebagairahmatan li al-lamn benar-benar dimanifestasikan di dalam konteks masyarakat
Madinah pada masa Rasulullah.
Untuk itu, sebagai konsekuensi logis dari Islam sebagai rahmatan li allamn yang shlih li kulli zamn wa makn, maka substansi ajaran Islam harus benar-benar
mudah dipahami dan fleksibel untuk diaplikasikan. Sehingga di dalam perjalanannya, banyak
didapati teks-teks al-Quran dan Hadis yang menyinggung masalah tersebut. Allah berfirman,
Q.S al-Baqarah : 286
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan)
yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika
kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban
yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan
kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri

maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah
kami terhadap kaum yang kafir".
Demikian juga teks al-Qur'an yang mengatakan, Q.S al-Baqarah 185
Artinya : "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di
antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada
bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya
berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Maka tatkala ajaran Islam memiliki konsekuensi untuk kompatibel dengan fitrah dan
kondisi manusia, Allah pun mengetahui sifat lemah pada diri manusia sehingga Ia
mengatakan, Q.S al-Nisa:28
Artinya :
"Allah hanya menghendaki keringanan untuk kalian, dan manusia telah diciptakan dalam
keadaan lemah."
Adapun teks-teks dari Hadis mengenai keringanan dan kemudahan tersebut dapat dilihat
tatkala Nabi hendak mengutus Muadz dan Abu Musa ke negeri Yaman, dalam hal ini Nabi
berpesan, "Permudahlah, jangan mempersulit." Masih dalam konteks yang sama, Nabi bahkan
mengafirmasi bahwa ajaran agama Islam memang penuh dengan kemudahan dan fleksibelitas.
Di samping itu, Aisyah pernah bercerita tentang tabiat sang Nabi yang senang dengan
kemudahan dan fleksibelitas, ia mengatakan, "Tidak pernah Nabi diberi pilihan kecuali ia
memilih yang paling mudah di antaranya, asalkan tidak ada larangan untuk hal tersebut."
Inilah bentuk kemudahan dan fleksibelitas ajaran Islam, dan tentu masih banyak teks-teks
al-Quran dan Hadis yang menjadi bukti eternal betapa ajaran Islam sangat mencintai
kemudahan, kasih sayang, dan kedamaian bagi para pemeluknya, maupun terhadap mereka yang
berbeda agama, sebagai upaya mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat yang memegang
teguh nilai-nilai dan norma keislaman. Sehingga ajaran Islam yang mengarahkan kepada
kekerasan dan sikap kompulsif tidak akan didapati sedikit pun, kecuali pada dua hal; pertama,
ketika berhadapan dengan musuh di dalam peperangan, bahkan Allah memerintahkan untuk
bersikap keras, berani, dan pantang mundur. Hal tersebut diperintahkan sebagai bentuk
konsekuensi dari keadaan yang tidak memungkinkan untuk bersikap lunak dan lemah lembut,
agar totalitas berperang benar-benar tejaga, untuk meraup kemenangan yang gemilang. Kedua,
sikap kompulsif dalam menegakkan dan mengaktualkan hukuman syariat tatkala dilanggar.

Dalam hal ini Allah tidak menghendaki adanya rasa iba hati dan belas kasih, sehingga hukuman
tersebut urung diaktualkan. Sikap kompulsif ini tiada lain merupakan upaya untuk menghindari
penyebab terganggunya konstelasi kehidupan bermasyarakat yang bermartabat dan menjunjung
tinggi nilai-nilai dan norma kemanusiaan.
Pada tataran aplikasi realnya, jika kita cermati hukum-hukum Islam seperti salat, zakat,
puasa, haji, dan lain-lain, kita akan mendapati kemudahan dan fleksibelitas di sana. Kita juga
akan mendapati berbagai indikasi augmentatif yangsecara tidak langsungmengukuhkan
eksistensi setiap anggota masyarakat sebagai khalifah di muka bumi, baik aspek personal
maupun sosial, seperti peningkatan mutu kepribadian seseorang, baik yang berbentuk konkret
maupun abstrak; atau perintah untuk membangkitkan kepekaan sosial yang dibangun atas dasar
persaudaraan, egalitarianisme, dan solidaritas. Karena itu, dalam perjalanan sejarahnya syariat
Islam tidak pernah menghambat laju peradaban. Islam justru selalu mendorong umat manusia
untuk melakukan inovasi demi kemaslahatan manusia banyak. Islamlah yang senantiasa menyeru
umat manusia untuk tekun menuntut ilmu dan melakukan berbagai kegiatan ilmiah guna
menunjang eksistensi mereka di dunia ini.
Sedangkan jika kata toleran dikatikan dengan Nonmuslim, maka yang dimaksud adalah
nilai-nilai toleransi yang dipahami oleh khalayak pada umumnya. Dalam hal ini, ajaran Islam
sangat menghargai perbedaan keyakinan. Mereka yang berbeda keyakinan akan mendapatkan
hak-hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Dengan kata lain, Islam benar-benar
menjamin keselamatan dan keamanan jiwa raga mereka, selama mereka mematuhi ketentuanketentuan yang telah disepakati bersama. Darah mereka haram ditumpahkan sebagaimana darah
kaum Muslimin. Allah berfirman, Q.S al-Anam ayat 151
Artinya: " Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu,
yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua
orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.
Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan
janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan
sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya
kamu memahami (nya).
Rasulullah juga bersabda, "Barang siapa yang membunuh dzimmi(Nonmuslim yang
hidup di daerah kaum Muslimin dengan ketentuan yang telah disepakati) tanpa alasan yang jelas,
maka Allah mengharamkan baginya masuk surga."
Umar Abdul Aziz Quraisyi menjelaskan bahwa sikap toleran Islam terhadap penganut
agama lain dibangun atas empat dasar: pertama, dasar nilai-nilai keluruhan sebagai sesama
manusia, meskipun dari beragam agama, etnis, dan kebudayaan; kedua, dasar pemikiran bahwa
perbedaan agama merupakan kehendak Allah semata; ketiga, dasar pemikiran bahwa kaum

Muslim tidak berhak sedikit pun untuk menjustifikasi kecelakaan mereka yang berlainan
keyakinan selama di dunia, karena hal itu merupakan hak prerogatif Allah di akhirat kelak;
sedangkan keempat adalah pemikiran bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berbuat adil
dan berakhlak mulia, meskipun terhadap mereka yang berlainan agama.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasar pada permasalahan yang telah ditetapkan, dan kaitannya dengan uraian-uraian
yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan kesimpulan bahwa Masyarakat madani secara
umum adalah sekumpulan orang dalam suatu bangsa atau negara di mana mereka hidup secara
ideal dan taat pada aturan-aturan hukum, serta tatanan kemasyarakatan yang telah
ditetapkan. Masyarakat seperti ini sering disebut dengan istilah civil society(masyarakat sipil)
atau yang pengertiannya selalu mengacu pada pola hidup masyarakat yang tebaik, berkeadilan,
dan berperadaban. Dalam istilah Alquran , kehidupan masyarakat madani tersebut dikontekskan
dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafr.
Untuk mewujudkan masyarakat madani dan agar terciptanya kesejahteraan umat maka
kita sebagai generasi penerus supaya dapat membuat suatu perubahan yang signifikan. Selain itu,
kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat sekarang
ini. Agar di dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak ketinggalan berita. Adapun beberapa
kesimpulan yang dapat saya ambil dari pembahasan materi yang ada di bab II ialah bahwa di
dalam mewujudkan masyarakat madani dan kesejahteraan umat haruslah berpacu pada AlQuran dan As-Sunnah yang diamanatkan oleh Rasullullah kepada kita sebagai umat akhir
zaman. Sebelumnya kita harus mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan masyarakat madani
itu dan bagaimana cara menciptakan suasana pada masyarakat madani tersebut, serta ciri-ciri apa
saja yang terdapat pada masyarakat madani sebelum kita yakni pada zaman Rasullullah.
Selain memahami apa itu masyarakat madani kita juga harus melihat pada potensi
manusia yang ada di masyarakat, khususnya di Indonesia. Potensi yang ada di dalam diri
manusia sangat mendukung kita untuk mewujudkan masyarakat madani. Karena semakin besar
potensi yang dimiliki oleh seseorang dalam membangun agama Islam maka akan semakin baik
pula hasilnya. Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang memiliki potensi yang kurang di dalam
membangun agamanya maka hasilnya pun tidak akan memuaskan. Oleh karena itu, marilah kita
berlomba-lomba dalam meningkatkan potensi diri melalui latihan-latihan spiritual dan praktekpraktek di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Warson al-Munawir, Kamus al-Munawir (Surabaya:Pustaka Progessif, 1984) hlm.
82.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Kamus Besar Bahasa Indonesia
Mansur Hidayat, Ormas Keagamaan dalam Pemberdayaan
Madani,
(Jurnal Komunitas, vol. 4, no. 1, Juni 2008), hal. 10
Syamsuddin,
M.
Din, Etika
Madani, Jakarta:
Logos,2002, hlm. 93.

Agama

dalam

Politik

Membangun

Masyarakat
Masyarakat

MAKALAH
JUDUL TENTANG ISLAM DENGAN MASYARAKAT MADANI

Disusun Oleh :
SERA DWI MAHMUDA
NPM : 137310528

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2015