Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ISLAM DENGAN DEMOKRASI

Disusun oleh
Debby Anggraini
NPM : 1373100095

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
Unversitas ISLAM RIAU
PEKANBARU
2015

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya, sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul islam dengan demokrasi tepat pada
waktunya. Penulisan makalah ini merupakan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing mata
kuliah.
saya merasa masih banyak kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat
akan kemampuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak demi penyempurnaan penulisan makalah ini.
saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah
membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, khususnya kepada dosen yang telah
memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Akhir kata, kami berharap semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi kami maupun
rekan-rekan, sehingga dapat menambah pengetahuan kita bersama.

Penulis

Debby anggraini

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....................................................................................................
B. Tujuan..................................................................................................................
C. Rumusan Masalah ..............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Islam dan Demokrasi ........................................................................................
B. Memahami Demokrasi Dalam Pembuatan Hukum.............................................
C. Memahami Demokrasi Dalam Memilih Pemimpin............................................
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan.......................................................................................................
3.2. Saran.................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini banyak sekali Negara yang menganut Sistem Demokrasi sebagai sistem
pemerintahannya. Demokrasi sendiri artinya sistem yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat. Demokrasi sering diartikan sebagai penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia,
partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan persamaan hukum. Dalam tradisi Barat,
demokrasi didasarkan pada penekanan bahwa rakyat seharusnya menjadi pemerintah bagi dirinya
sendiri dan wakil rakyat seharusnya menjadi pengendali yang bertanggung jawab terhadap
tugasnya. Oleh karena rakyat tidak mungkin rakyat mengambil keputusan karena jumlah terlalu
besar maka dibentuklah dewan perwakilan rakyat. Sistem ini popular karena melibatkan
masyarakat merupakan komponen utamanya. Pemerintah dipilh langsung oleh rakyat yang
berfungsi sebagai penyalur aspirasi dan membuat kebijakan untuk kepentingan rakyat demi
kesejahteraan rakyat. Sistem Demokrasi juga digunakan di Indonesia dengan berdasarkan
Pancasila. Indonesia memiliki Badan Legislatif yang anggotanya merupakan wakil rakyat.
Rakyat juga berwenang untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Dalam
Islam, demokrasi sudah diajarkan oleh Rasulullah. Contohnya, pada saat Perang Badar beliau
mendengarkan saran sahabatnya mengenai lokasi perang walaupun itu bukan pilihan yang
diajukan olehnya. Pada saat ini, banyak Negara yang mengadaptasi sistem Demokrasi yang
berasal dari Negara Barat. Padahal, sistem demokrasi tersebut belum tentu sesuai dengan kaidahkaidah Islam. Sistem Demokrasi di Barat memiliki tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi dan
materialistis. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari Sistem Demokrasi yang sejalan dengan
aturan Islam.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Sistem Demokrasi dari sudut
pandang Agama Islam.
C. Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana demokrasi bila
ditilik menurut kaidah Islam sesuai dengan Al-Quran dan Hadist. Selain itu, permasalahan juga
dilihat berdasarkan persamaan dan perbedaan Islam dan Demokrasi.
1.4 Sumber Data
Sumber data

pembuatan makalah ini diperoleh dari studi literatur, yakni buku-buku yang

berkaitan dengan permasalahan yang terkait dan eksplorasi informasi melalui internet.

BAB II
PEMBAHASAN
A. ISLAM DAN DEMOKRASI
2.1 Definisi Demokrasi
Demokrasi adalah sebuah tatanan Negara /pemerintahan yang bersumber dari rakyat, oleh
rakyat, untuk rakyat. (benyamin Franklin). Demokrasi memberikan kepada manusia dua hal :
a. Hak membuat hukum
b. Hak memilih penguasa
c. Demokrasi dalam berbagai bidang

B. MEMAHAMI DEMOKRASI DALAM PEMBUATAN HUKUM :


Dalam Islam membuat hukum adalah haram. Karena yang berhak membuat hukum hanya Allah,
bukan manusia
Firman Allah SWT (artinya) :
"Menetapkan hukum hanyalah hak Allah." (QS Al-An'aam : 57)
Walaupun ayat tersebut bersifat umum, tapi itulah titik kritis dalam demokrasi yang
sungguh bertentangan secara frontal dengan Islam. Pada titik itulah, demokrasi disebut sebagai
sistem kufur. Sebab sudah jelas,memberi hak kepada manusia untuk membuat hukum yang
bertentangan dengan hukum syara adalah suatu kekufuran.
Firman Allah SWT (artinya) :
"Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang kafir." (QS Al-Maa`idah : 44)
Menentukan kesepakatan (musyawarah)

Bila sudah ada hukum nya maka memusyawarahkan nya haram. Manusia hanya boleh
membahas mengenai masalah teknis saja.
Bila yang dimusyawarahkan itu berkaitan dengan masalah Uslub (Teknis) maka boleh pendapat
manusia diminta.
contoh : dalam musyawarah itu akan dibahas masalah status minuman kemaksiatan, maka
dalam hal ini tidak boleh ada pendapat manusia yang mendukung . Sebab statusnya sudah jelas
Haram, yang perlu dimusyawarakan adalah masalah uslub (teknis) pelarangannya dilapangan,
misalnya siapa bagian operasi sweping di toko-toko minuman, siapa bagian memburu
produsennya, siapa yang menghukum pelakunya dll.
Contoh musyawarah (memasukkan pendapat orang lain) yang dilakukan nabi :
Rasulullah saw pada waktu menentukan strategi di Perang Badar Al Kubra, Beliau
berpendapat untuk memenangkan pertempuran pasukan harus menguasai tempat tertentu, tetapi
kemudian ada seorang sahabat (Khubab bin Mundhir) yang menanyakan kepada beliau apakah
hal ini pendapat beliau ataukah wahyu dari Allah. Bila wahyu maka tidak akan dibantah, tetapi
bila hal ini pendapat nabi, maka Khubab mengusulkan untuk menempati sebuah wadi (oase) di
medan Badar. Rasulullah kemudian menjelaskan ini bahwa hal ini adalah pendapat beliau
pribadi, dan kemudian beliau menarik pendapatnya dan kemudian menerima pendapat Khubab
sebab Khubab adalah orang yang tinggal di daerah tersebut dan merupakan orang yang paling
kenal dengan medan pertempuran, seraya mengabaikan pendapat pribadi dan pendapat shahabatshahabat yang lain.
Kita dapat mengambil ibroh dari kisah terjadinya perang Uhud. Rasulullah sebenarnya
menginginkan pasukan bertahan di dalam kota, akan tetapi mayoritas shahabat (terutama
shahabat-shahabat yang usianya masih muda) memilih menunggu musuh di luar kota Madinah.
Karena suara mayoritas menghendaki menunggu musuh di luar kota, maka Rasulpun
memutuskan untuk menunggu musuh di luar kota, walaupun beliau sendiri menginginkan di
dalam kota. Bertahan dalam kota atau menunggu musuh di luar kota adalah masalah-masalah
teknis (strategi) pertempuran yang diketahui oleh banyak orang, karena semua shahabat adalah
penduduk kota Medinah,yang mengerti seluk beluk kota Medinah. Jadi masalah betahan di
dalam kota atau menunggu musuh di luar kota bukan masalah wahyu yang sudah dinash. Dari

sinilah kita bisa mengambil ibroh bahwa dalam masalah-masalah urusan teknis yang telah
diketahui banyak orang, maka boleh diambil suara terbanyak.
C. MEMAHAMI DEMOKRASI DALAM MEMILIH PEMIMPIN :
System memilih penguasa/ kepala negara hal tersebut masih dapat didiskusikan.... dan
bersifat furu (cabang).
Alasan :Rasul tidak pernah menentukan secara jelas bagaimanakah teknis memilih
khalifah/pemimpin negara. Begitu juga peralihan kekuasaan dari satu khalifah ke khalifah yang
lain semasa banyak sahabat masih

hidup, sehingga menjadi Ijma' shahabat bahwa boleh

menggunakan beberapa uslub untuk memilih khalifah atau kepala negara. Dengan demikian
dalam memilih siapakah calon kepala negara/Khalifah boleh dengan banyak teknis dalam hal ini
mengambil suara mayoritas juga dapat dilakukan dan menggunakan Ahlul hali wal aqdi
(parlemen) Juga dapat dilakukan . Jadi untuk memilih calon kepala negara (khalifah) dalam
Islam bisa dicari dengan uslub (teknis) pemilihan umum.
1. Persamaan dan Perbedaan Islam dan Demokrasi
Persamaan Islam & Demokrasi
Dr. Dhiyauddin ar Rais mengatakan, Ada beberapa persamaan yang mempertemukan
Islam dan demokrasi. Namun, perbedaannya lebih banyak. Persamaannya:
Jika demokrasi diartikan sebagai sistem yang diikuti asas pemisahan kekuasaan, itu pun
sudah ada di dalam Islam. Kekuasaan legislatif sebagai sistem terpenting dalam sistem
demokrasi diberikan penuh kepada rakyat sebagai satu kesatuan dan terpisah dari kekuasaan
Imam atau Presiden. Pembuatan Undang-Undang atau hukum didasarkan pada alQuran dan
Hadist, ijma, atau ijtihad. Dengan demikian, pembuatan UU terpisah dari Imam, bahkan
kedudukannya lebih tinggi dari Imam. Adapun Imam harus menaatinya dan terikat UU. Pada
hakikatnya, Imamah (kepemimpinan) ada di kekuasaan eksekutif yang memiliki kewenangan
independen karena pengambilan keputusan tidak boleh didasarkan pada pendapat atau keputusan
penguasa atau presiden, jelainkan berdasarka pada hukum-hukum syariat atau perintah Allah
Swt.

Demokrasi seperti definisi Abraham Lincoln: dari rakyat dan untuk rakyat pengertian itu
pun ada di dalam sistem negara Islam dengan pengecualian bahwa rakyat harus memahami Islam
secara komprehensif.
Demokrasi adalah adanya dasar-dasar politik atau sosial tertentu (misalnya, asas
persamaan di hadapan undang-undang, kebebasan berpikir dan berkeyakinan, realisasi keadilan
sosial, atau memberikan jaminan hak-hak tertentu, seperti hak hidup dan bebas mendapat
pekerjaan). Semua hak tersebut dijamin dalam Islam.
2. Perbedaan Islam & Demokrasi
Demokrasi yang sudah populer di Barat, definisi bangsa atau umat dibatasi batas wilayah,
iklim, darah, suku-bangsa, bahasa dan adat-adat yang mengkristal. Dengan kata lain, demokrasi
selalu diiringi pemikiran nasionalisme atau rasialisme yang digiring tendensi fanatisme. Adapun
menurut Islam, umat tidak terikat batas wilayah atau batasan lainnya. Ikatan yang hakiki di
dalam Islam adalah ikatan akidah, pemikiran dan perasaan. Siapa pun yang mengikuti Islam, ia
masuk salah satu negara Islam terlepas dari jenis, warna kulit, negara, bahasa atau batasan lain.
Dengan demikian, pandangan Islam sangat manusiawi dan bersifat internasional
tujuan-tujuan demokrasi modern Barat atau demokrasi yang ada pada tiap masa adalah tujuantujuan yang bersifat duniawi dan material. Jadi, demokrasi ditujukan hanya untuk kesejahteraan
umat (rakyat) atau bangsa dengan upaya pemenuhan kebutuhan dunia yang ditempuh melalui
pembangunan, peningkatan kekayaan atau gaji. Adapun demokrasi Islam selain mencakup
pemenuhan kebutuhan duniawi (materi) mempunyai tujuan spiritual yang lebih utama dan
fundamental.
kedaulatan umat (rakyat) menurut demokrasi Barat adalah sebuah kemutlakan. Jadi, rakyat
adalah pemegang kekuasaan tertinggi tanpa peduli kebodohan, kezaliman atau kemaksiatannya.
Namun dalam Islam, kedaulatan rakyat tidak mutlak, melainkan terikat dengan ketentuanketentuan syariat sehingga rakyat tidak dapat bertindak melebihi batasan-batasan syariat,
alQuran dan asSunnah tanpa mendapat sanksi.
3. Pandangan Ulama tentang demokrasi

Yusuf al-Qardhawi

Menurut beliau, substasi demokrasi sejalan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari
beberapa hal. Misalnya:
- Dalam demokrasi proses pemilihan melibatkkan banyak orang untuk mengangkat seorang
kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja, mereka tidak boleh
akan memilih sesuatu yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak
seseorang menjadi imam shalat yang tidak disukai oleh makmum di belakangnya.
- Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam. Bahkan
amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari
ajaran Islam.
- Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa yang tidak
menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan
suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi
perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.
- Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip
Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam syura. Mereka ditunjuk Umar
sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi
khalifah berdasarkan suara terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan
patuh. Jika suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang diunggulkan
dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah penggunaan pendapat jumhur
ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini adalah selama
tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas.
- Juga kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan
merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam.
Salim Ali al-Bahnasawi
Menurutnya, demokrasi mengandung sisi yang baik yang tidak bertentangan dengan
islam dan memuat sisi negatif yang bertentangan dengan Islam. Sisi baik demokrasi adalah
adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam. Sementara, sisi buruknya
adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan

yang haram dan menghalalkan yang haram. Karena itu, ia menawarkan adanya islamisasi sebagai
berikut:
- Menetapkan tanggung jawab setiap individu di hadapan Allah.
- Wakil rakyat harus berakhlak Islam dalam musyawarah dan tugas-tugas lainnya.
- Mayoritas bukan ukuran mutlak dalam kasus yang hukumnya tidak ditemukan dalam Alquran
dan Sunnah (al-Nisa 59) dan (al-Ahzab: 36).
- Komitmen terhadap islam terkait dengan persyaratan jabatan sehingga hanya yang bermoral
yang duduk di parlemen.
4. PEMILU & PEMUNGUTAN SUARA
Ada yang beranggapan bahwa Pemungutan suara atau Pemilu adalah bentuk perampasan
hak Allah Swt sebagai Hakim karena dalam Pemilu keputusan ditentukan manusia, bukan Allah.
Pernyataan ini tidak benar karena :
kita bicara tentang Pemilu di negeri muslim: kandidatnya muslim, pemilihnya pun muslim dan
keterlibatan nonmuslim dalam proses itu sangat tidak signifikan.
Adanya campur tangan namusia untuk menentukan jalan hidupnya selama masih dalam
kaidah umum nash syariat Islam. Allah Swt berfirman, hadirkanlah dua orang saksi yang adil di
antara kamu.(QS ath Thalaq:2). Jika kamu khawatir adanya perselisihan antara keduanya,
hendaklah kamu hadirkan seorang hakim dari keluarga suami dan seorang hakim dari keluarga
isteri. (QS an Nisa:35).
jika kita perhatikan dengan seksama Pemilu atau pemungutan suara menurut Islam adalah
pemberian kesaksian terhadap kelayakan calon pejabat negara atau calon anggota dewan. Oleh
karena itu, si pemilih harus punya kelayakan sebagai seorang saksi adil dan baik perilakunya
sehingga orang banyak ridha kepadanya. Allah azza wa Jalla berfirman, hadirkanlah dua orang
saksi yang adil di antara kamu. (QS ath Thalaq:2) dari saksi-saksi yang kamu ridhai. (QS al
Baqarah:282).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep demokrasi tidak sepenuhnya
bertentangan dan tidak sepenuhnya sejalan dengan Islam. Prinsip dan konsep demokrasi yang
sejalan dengan islam adalah keikutsertaan rakyat dalam mengontrol, mengangkat, dan
menurunkan pemerintah, serta dalam menentukan sejumlah kebijakan lewat wakilnya. Adapun
yang tidak sejalan adalah ketika suara rakyat diberikan kebebasan secara mutlak sehingga bisa
mengarah kepada sikap, tindakan, dan kebijakan yang keluar dari ketetapan Hukum Allah.
Karena itu, maka perlu sebuah sistem yang sesuai dengan ajaran Islam. Yaitu di antaranya:
1.

Demokrasi tersebut harus berada di bawah payung agama.

2.

Rakyat diberi kebebasan untuk menyuarakan aspirasinya.

3.

Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan dengan musyawarah.

4.

Suara mayoritas tidaklah bersifat mutlak meskipun tetap menjadi pertimbangan utama

dalam musyawarah. Contohnya kasus Abu Bakr ketika mengambil suara minoritas yang
menghendaki untuk memerangi kaum yang tidak mau membayar zakat. Juga ketika Umar tidak
mau membagi-bagikan tanah hasil rampasan perang dengan mengambil pendapat minoritas agar
tanah itu dibiarkan kepada pemiliknya dengan cukup mengambil pajaknya.
5.

Musyawarah atau voting hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada persoalan yang

sudah ditetapkan secara jelas oleh Alquran dan Sunah.


6.

Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai agama.

7.

Hukum dan kebijakan tersebut harus dipatuhi oleh semua warga.

Akhirnya, agar sistem islami di atas terwujud, langkah yang harus dilakukan:
- Seluruh warga atau sebagian besarnya harus diberi pemahaman yang benar tentang Islam
sehingga aspirasi yang mereka sampaikan tidak keluar dari ajarannya.
- Parlemen atau lembaga perwakilan rakyat harus diisi dan didominasi oleh orang-orang Islam.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003k.asp
http://www.islamic-center.or.id/-slamiclearnings-mainmenu-29/syariah-mainmenu-44/27syariah/665-islam-dan-demokrasi
http://islamlib.com/id/artikel/islam-dan-demokrasi/
http://ummahonline.wordpress.com/2008/01/29/islam-dan-demokrasi/
http://www.zulkieflimansyah.com/in/kompatibilitas-islam-dan-demokrasi.html
http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/6801/islam-dan-demokrasi-masih-jadiperdebatan-di-kalangan-muslim
http://www.indonesiaindonesia.com/f/3688-adakah-demokrasi-islam/
http://www.khabarislam.com/islam-dan-demokrasi.html
http://www.docstoc.com/docs/22801041/Lagi-Soal-Islam-dan-Demokrasi/
http://www.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=676%3A30-012009&catid=25%3Aartikel-rektor&Itemid=168
http://www.mujahidin.net/index.php?option=com_content&view=article&id=69:pertemuanislam-dan-demokrasi&catid=40:resensi&Itemid=58