Anda di halaman 1dari 24

Pendahuluan

Selama beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia banyak menghadapi masalah
kekerasan, baik yang bersifat masal maupun yang dilakukan secara individual. Masyarakat
mulai merasa resah dengan adanya berbagai kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah di
Indonesia. Kondisi seperti ini membuat perempuan dan anak-anak menjadi lebih rentan untuk
menjadi korban kekerasan. Perempuan yang berada di daerah aman juga dapat menjadi
korban kekerasan, dengan kata lain masalah kekerasan terhadap perempuan ini merupakan
masalah yang universal.1
Perkosaan (rape) berasal dari bahasa latin rapere yang berarti mencuri, memaksa,
merampas, atau membawa pergi (Haryanto, 1997). Pada jaman dahulu perkosaan sering
dilakukan untuk memperoleh seorang istri. Perkosaan adalah suatu usaha untuk
melampiaskan nafsu seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan
dengan cara yang dinilai melanggar menurut moral dan hukum. Di dalam Pasal 285 KUHP
disebutkan bahwa: barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Pada pasal ini perkosaan
didefinisikan bila dilakukan hanya di luar
perkawinan. Selain itu kata-kata bersetubuh memiliki arti bahwa secara hukum perkosaan
terjadi pada saat sudah terjadi penetrasi. Pada saat belum terjadi penetrasi maka peristiwa
tersebut tidak dapat dikatakan perkosaan akan tetapi masuk dalam kategori pencabulan. 1
Isi
Kasus
Anda bekerja sebagai dokter di IGD sebuah rumah sakit. Pada suatu sore hari datang seorang
laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun menyatakan
bahwa anaknya tersebut baru saja pulang dibawa lari oleh teman laki-laki yang berusia 18
tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu pada diri
putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah disetubuhi oleh
laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan berbagai hal
tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya. Setelah dijelaskan, sang ayah
memutuskan untuk melapor ke polisi.
Aspek hukum
1

Pasal 74 KUHP
1) Pengaduan hanya boleh diaujkan dalam waktu enam bulan sejak orang yang berhak
mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di Indonesia,l atau
dalam waktu sembilan bulan jika Bertempat tinggal di luar Indonesia.
2) Jika yang terkena kejahatan menjadi erhak mengadu pada saat tenggang tersebut
dalam ayat 1 belum habus, maka setelah saat itu pengaduan hanya masih boleh
diajukan, selama sisa yang masih kurang pada tenggang tersebut. 2
Pasal 75 KUHP
Orang yang mengajukan pengaduan, berhak menarik kembali dalam waktu tiga bulan setelah
pengaduan diajukan. 2
Kejahatan terhadap kesusilaan:

Pasal 284
1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:
a. seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya,
b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya;
c. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin;
d. seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu,
padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan
pasal 27 BW berlaku baginya.
2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar,
dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan
diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu
juga.
3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan
belum dimulai.
5) Jika bagi suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang
menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

Pasal 285 KUHP


2

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang wanita
ersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun. 2
Pasal 286
Barang siapa bersetuuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada hal diketahui bahwa
wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana paling lama
sembilan tahun. 2
Pasal 287 KUHP
1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada hal
diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau
kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan tahun.
2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umurnya wanita belum
sampai dua belas tahun atau jika salah satu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.
Pasal 289 KUHP
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang
menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 290 KUHP
Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun:
1. Barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang pada hal diketahui, bahwa
orang itu pingsan atau tidak berdaya;
2. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang pada hal diketahui atau
sepatutunya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau
umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin;
3. Barang siapa membujuk seorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa
umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bawha belum
mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau
bersetubuh di luar perkawainan dengan orang lain.
Pasal 291 KUHP
1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 289, dan 290
mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun.
2) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, dan 290 itu
mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
3

Pasal 351 KUHP


1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun depalapan bulan
atau pidana denda empat ribu lima ratus rupiah.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana
penjara paling lama lima tahun.
3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan piana penjara paling lama tujuh tahun.
4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 352 KUHP
1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
pencarian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama
tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pidana dapat
ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang
bekerja padanya atau menjadi bahawannya.
2) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.
Pasal 353 KUHP
1) Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.
3) Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara paling lama
sembilan tahun.
Pasal 354 KUHP
1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan
penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.
2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama sepuluh thaun.
Pasal 355 KUHP
1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2) Jika peruatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling
lama lima belas tahun. 2
4

Prosedur hukum
Yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan : 3

Setiap pemeriksaan untuk pengedilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari

penyidik yang berwenang. 3


Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau
korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, jangan

diperiksa, suruh korban kembali dengan polisi. 3


Setiap visum et repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada
tubuh korban pada waktu permintaan visum et repertum diterima oleh dokter. 3
Bila dokter telah memeriksa seorang korban yang datang di rumah sakit, atau
ditempat praktek atas inisiatif sendiri, bukan atas permintaan polisi, dan beberapa
waktu kemudian polisi mengajukan permintaan dibuatkan visum et repertum, maka ia
harus menolak, karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban
sebelum ada permintaan untuk dibuatkan Visum et repertum merupakan rahasia
kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP ps.322). Dalam keadaan seperti itu
dokter dapat meminta kepada polisi supaya korban dibawa kembali kepadanya dan
visum et repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu
permintaan diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk
visum et repertum, tetapi dalam bentuk surat keterangan. Hasil pemeriksaan sebelum
diterimanya suatu surat permintaan pemeriksaan dilakukan terhadap pasien dan bukan

sebagai corpus dilicti (benda bukti).


Ijin Tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban
adalah seorang anak, dari orang tua atau walinya. Jelaskan terlebih dahulu tindakan
tindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan
disampaikan ke pengadilan. Hal ini perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan
atas permintaan polisi, belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu atau
tidak menolaknya. Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan the most private

part dari tubuh seorang wanita. 3


Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu memeriksan
korban.
Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama.
Hindarkan korban dari menunggu dengan perasaan was-was dan cemas dari kamar
periksa. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus
dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata. 3

Visum et repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya Visum perkara


cepat dapat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat dibebaskan dari tahanan, bila

ternyata ia tidak bersalah.


Kadang-kadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh seorang ayah/ibu
untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anaknya masih
perawan atau tidak, atau karena ia merasa curiga kalau-kalau atas diri anaknya baru
terjadi persetubuhan.3
Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar
ingin mengetahui saja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila
dimaksudkan akan melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa
anak itu. Katakan bahwa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi
dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Mungkin ada baiknya dokter memberikan
penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika umur anaknya 15 tahun, dan jika
persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan maka menurut undang-undang, laki-laki
yang bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin hanya akan merugikan
anaknya saja, lebih baik lagi jika orang tua itu dianjurkan untuk minta nasihat dari
seorang pengacara.
Jika orang tua hanya sekedar ingin mengetahui saja maka dokter dapat melakukan
pemeriksaan. Tetapi jelaskan lebih dahulu bahwa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat
dalam bentuk surat keterangan, karena kita tidak mengetahui untuk apa surat
keterangan itu. Mungkin untuk melakukan penuntutan atau untuk menuduh seseorang
yang tidak bersalah. 3

Prosedur medikolegal.
Prosedur medikolegal yaitu tata cara prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek
yang berkaitan dengan pelayanan kedokteran untuk kepentingan umum. Secara garis besar
prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia
dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran. 2,3
Lingkup prosedur medikolegal antara lain
1. Pengadaan Visum et Repertum
2. Pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka
6

3. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian


keterangan ahli di dalam persidangan
4. Kaitan Visum et Repertum dengan rahasia kedokteran
5. Penerbitan surat keterangan kematian dan surat keterangan medik
6. Fitness/kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik
Kewajiban dokter membantu peradilan: 2,3

Pasal 133
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap
jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. 2,3

Pasal 134
1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat
tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu
kepada keluarga korban.
2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelasjelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau
pihak yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 179
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakirnan atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang
sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Pasal 120
1. Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus.
2. AhIi tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik
bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya
kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya
yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan
keterangan yang diminta.

Pasal 168
Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar
keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi:
o keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah
sarnpai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai
terdakwa.
o saudara dan terdakwa atau yang brsama-sama sebagal terdakwa, saudara ibu
atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena
perkawinan dari anak-anak saudara terdakwa sampal derajat ketiga
o suami atau isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama
sebagai terdakwa.

Pasal 170
1. Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan
menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi
keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.
2. Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.1-2

Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya:

Pasal 179
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakirnan atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang
sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Pasal 180
1. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula
minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2. Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3. Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2).
4. Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh
instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang
mempunyai wewenang untuk itu.

Pasal 183
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.

Pasal 184
1. Alat bukti yang sah ialah:

keterangan saksi;

keterangan ahli;

surat;

petunjuk;

keterangan terdakwa.

2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.


9

Pasal 185
1. Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang
pengadilan.
2. Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa
bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai
dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.
4. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau
keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan
saksi itu ada .hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat
membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
5. Baik pendapat maupun rekan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan
merupakan keterangan saksi.
6. Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguhsungguh memperhatikan
a. persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain;
b. persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;
c. alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan
yang tertentu;
d. cara hidup dan kesusilan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya
dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.
e. Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan
yang lain tidak merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai
dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai
tambahan alat bukti sah yang lain. 2,3

Pasal 186
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Pasal 187
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah
jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
1. berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum
yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan

10

tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri,
disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;
2. surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat
yang dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang
menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal
atau sesuatu keadaan;
3. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan
keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi
dan padanya;
4. surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain. 1-4
Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter

Pasal 216
1. Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa
untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa
dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna
menjalankan ketentuan undang- undang yang dilakukan oleh salah seorang
pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua
minggu atau pidana denda puling banyak sembilan ribu rupiah.
2. Disamakan dengan pejahat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka
pidananya dapat ditambah sepertiga.

Pasal 222
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 224
11

Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang
dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus
dipenuhinya, diancam:
1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;
2. dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan.

Pasal 522

Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus
rupiah. 2

PEMERIKSAAN MEDIS DAN INTERPRETASI


Anamnesis
Anamnesis merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter
sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang obyektif. Jadi, seharusnya anamnesis tidak
dimasukkan dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada
Visum et Repertum dengan judul "keterangan yang diperoleh dari korban". Dalam
mengambil anamnesis, dokter meminta pada korban untuk menceritakan segala sesuatu
tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. Anamnesis terdiri dari bagian yang
bersifat umum dan khusus. Anamnesa diberikan bila diminta oleh penyidik dan tidak secara
otomatis dilampirkan dalam Visum et Repertum.
Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal, dan tempat lahir, status
perkawinan, siklus haid untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin,
penyakit kandungan dan penyakit lainnya seperti epilepsi, katalepsi, syncope. Keterangan
pernah atau belum pernah bersetubuh, saat persetubuhan terakhir, adanya penggunaan
kondom.2
Pemeriksaan Pakaian
Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti helai demi helai, apakah terdapat
robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing yang terputus
akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpur, dan lainnya yang berasal dari tempat kejadian.
Apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak. Bila tidak ada fasilitas pemeriksaan , maka
benda-benda yang melekat dan pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan dikirim ke
12

laboratorium forensik di kepolisian atau bagian ilmu kedokteran forensik dalam keadaan
dibungkus, tersegel dan disertai berita acara pembungkusan dan penyegelan.2
Pemeriksaan Khusus Daerah Genitalia
Pemeriksaan bagian khusus daerah genitalia meliputi adanya rambut kemaluan yang
saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengering yang akan digunting untuk
pemeriksaan laboratorium. Jika dokter menemukan rambut kemaluan yang lepas pada badan
wanita maka harus diambil beberapa helai rambut kemaluan dari wanita dan laki-laki sebagai
bahan pembanding (matching). Perlu ditemukan bercak air mani di sekitar alat kelamin
dengan cara dikerok menggunakan sisi tumpul skapel atau swab dengan kapas lidi yang
dibasahi dengan garam fisiologis. Pada vulva, perlu diteliti adanya tanda-tanda bekas
kekerasan seperti hiperemi, edema, memar dan luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina
apakah hiperemi/edema dan penggunaan kapas lidi untuk pengambilan bahan pemeriksaan
sperma dari vestibulum.
Pemeriksa jenis selaput dara untuk melihat adanya ruptur dan penentuan apakah ruptur
tersebut baru atau lama. Bedakan ruptur dengan celah bawaan dari ruptur dengan
memperhatikan sampai di pangkal selaput dara. Celah bawaan tidak mencapai pangkal
sedangkan ruptur dapat sampai ke dinding vagina. Pada vagina akan ditemukan parut bila
ruptur sudah sembuh, sedangkan ruptur yang tidak mencapai basis tidak akan menimbulkan
parut. Ruptur akibat persetubuhan biasa ditemukan di bagian posterior kanan atau kiri dengan
asumsi bahwa persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan. Tentukan pula besar
orifisium apakah sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk, atau 2 jari. Ukuran pada seorang
perawan kira-kira 2,5 centimeter sedangkan lingkaran persetubuhan yang dapat terjadi
menurut Voight minimal 9 centimeter. Pada persetubuhan tidak selalu disertai deflorasi.Harus
diingat bahwa persetubuhan tidak selalu disertai dengan deflorasi. Pada ruptur lama, robekan
menjalar sampai ke insertio disertai adanya parut pada jaringan di bawahnya. Ruptur yang
tidak sampai ke insertio, bila sudak sembuh tidak dapaat dikenal lagi.
Pemeriksaan pada frenulum labiorum pudendi dan comissura labiorum posterior untuk
melihat keutuhannya. Pemeriksaan vagina dan serviks dilakukan dengan spekulum bila
keadaan alat genital memungkinkan dan pemeriksaan kemungkinan adanya penyakit
kelamin.2
PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN INTERPRETASI
13

Pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina dilakukan dengan
mengambil lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose batang
gelas atau swab. Bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin dari spekulum. Pada
anak-anak atau bila selaput dara masih utuh, pengambilan bahan dibatasi dari vestibulum
saja.
Pemeriksaan terhadap kuman Neisseria gonorrhoeae dari sekret urether (urut
dengan jari) dan dipulas dengan pewarnaan Gram. Pmeriksaan dilakukan pada hari ke-I,
III, V, dan VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N.gonorrheae berarti terbukti adanya
kontak seksual dengan seorang penderita, bila pada pria tertuduh juga ditemukan maka
ini akan menjadi bukti yang kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk
pemeriksaan serologik atau bakteriologik. Pemeriksaan kehamilan dan toksikologik
terhadap urin dan darah juga bisa dilakukan bila ada indikasi. 2
Penentuan golongan darah ABO pada cairan mani
Penentuan golongan darah ABO pada semen golongan sekratir dilakukan dengan
cara absorpsi inhibisi. Hanya untuk golongan sekretor saja dapat ditentukan golongan
darah dalam semen.
Pada individu yang termasuk golongan sekretor, dapat ditemukan subtansi golongan
darah dalam cairan tubuhnya seperti air liur, sekret vagina, cairan mani dan lain-lain.
Ternyata subtansi golongan darah dalam cairan mani jauh lebih banyak dari pada dalam
air liur (2-100 kali).
Pada golongan bukan sekretor (non-sekretor), tidak ditemukan adanya subtansi tersebut
dalam cairan tubuhnya.
Kira-kira 80% individu termasuk dalam golongan sekretor, dan 20% golongan nonsekretor.
Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai subtansi golongan darah dalam
bahan pemeriksaan yang berasal dari foniks oosterior vagina, lihatlah Label di bawah ini.

Substansi

Golongan darah si wanita


O
A
H
A

sendiri

B
B

A+H

B+H

AB
A+B

dalam sekrit
vagina
Substansi

14

H*

asing

berasal dari

A+B

H*

H*

A+H

semen
H* : hanya H.
Jika dari sekrit vagina wanita golongan 0, ditemukan subtansi A dan H atau B dan H,
berarti terdapat subtansi "sendiri" bersama dengan subtansi "asing". Jika ditemukan
subtansi A atau B atau A dan B, berarti pada sekrit vagina tersebut terdapat subtansi
"asing". Adanya subtansi "asing" menunjukkan bahwa di dalam vagina wanita tersebut
terdapat cairan mani.
Pemeriksaan bercak mani pada pakaian
Visual, Bercak mani berbatas tegas dan lebih gelap dari sekitarnyaa. Bercak yang sudah
agak tua berwarna agak kekuning-kuningan. Pada bahan sutera/nylon batasnya sering
tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap dari sekitarnya.
Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak yang segar akan menunjukkan permukaan
mengkilat dan transiusen, kemudian akan me ngering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan
akan berwarna kuning sampai coklat.
Pada tekstil yang menyerap, bercak yang segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang
berangsur-berangsur akan berwarna kuning sampai cokiat dalam waktu 1 bulan.
Di bawah Sinar ultra violet, bercak semen menunjukkan fluoresensi putih. Hasil
pemeriksaan ini kurang memuaskan untuk bercak pada sutera buatan atau nylon karena
mungkin tidak memberi fluoresensi. Fluoresensi terlihat jelas pada bercak mani yang
melekat di bahan tekstil yang terbuat dari serabut katun. Bahan makanan, urin, sekret
vagina dan serbuk detergen yang tersisa pada pakaian sering menunjukkan fluoresensi
juga.
Secara taktil (perabaan) bercak mani teraba memberi kesan kaku seperti kanji. Pada
tekstil yang tidak menyerap, bila tidak teraba kaku, kita masih dapat mengenalinya
karena permukaan bercak akan teraba kasar.
Dapat Pula dilakukan uji pewarnaan Baecchi
Reagens Baecchi dibuat dari :
Asam fukhsin 1% 1 ml
Biru metilena 1% 1 ml
Asam klorida 1% 40 ml.

15

Bercak yang dicurigai, digunting sebesar 5 mm x 5 mm, pada bagian pusat bercak.
Bahan dipulas dengan reagens Baecchi selama 2-5 menit, dicuci dalam HCI 1% dan
dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70%, 80% dan 95-100% (absolut), lalu
dijernihkan dalam xylol (2x). Kemudian keringkan di antara kertas saring.
Dengan jarum diambil 1-2 helai benang, letakkan pada gelas obyek dan diuraikan sampai
serabut-serabut sating terpisah. Tutup dengan gelas tutup dan balsem Kanada, periksa
dengan mikroskop pembesaran 400 x. Serabut pakaian tidak mengambil warna,
spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna merah muda terlihat
banyak menempel pada serabut benang.
Skrining dapat dilakukan dengan Reagens Fosfatase Asam. Sehelai kertas saring yang
telah dibasahi dengan akuades ditem pelkan pada bercak yang dicurigai selama 5 10
menit. Keringkan lalu semprot dengan reagens. Bila terlihat bercak berwarna ungu,
kertas saring diletakkan kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula. Dengan
demikian letak bercak pada kain dapat diketahui.
Reaksi Fosfatase Asam dan Florence dilakukan bila pada pemeriksaan tidak dapat
ditemukan set spermatozoa.
Pemeriksaan pria tersangka
Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan persetubuhan dengan
seorang wanita, dapat dilakukan peme riksaan labora torium sebagai berikut:
Cara Lugol. Kaca obyek ditempelkan dan ditekankan pada glans penis, terutama pada
bagian kolum, korona serta frenulum. Kemudian letakkan dengan spesimen menghadap
ke bawah di atas tempat yang berisi larutan Lugol dengan tujuan agar uap yodium akan
mewarnai sediaan tersebut. Hasil positip akan menunjukkan set-set epitel vagina dengan
sitoplasma berwarna cokiat karena mengandung banyak glikogen.
Untuk memastikan bahwa set epitel berasal dari seorang wanita, perk ditentukan adanya
kromatin seks (Barr bodies)pada inti. Dengan pembesaran besar, perhatikan inti set
epitel yang ditemukan dan cari Barr bodies. Ciri-cirinya adalah menempel erat pada
permukaan membran inti dengan diameter kira-kira 1 u yang berbatas jelas dengan tepi
tajam dan terletak pada satu dataran fokus dengan inti.
Dengan sendirinya bila persetubuhan tersebut telah berlangsung lama atau telah
dilakukan pencucian pada alat kelamin pria, maka pemeriksaan tersebut di atas tidak
akan berguna lag'.2
VISUM et REPERTUM
16

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 7 Telp. (021) 56942061, Jakarta 11510
Nomor : 3456-SK.III/2345/2-95
Lamp : Satu sampul tersegel
Perihal : Hasil Pemeriksaan Nn. Mawar
PROJUSTITIA

Visum et Repertum
Yang bertanda tangan di bawah ini, Veronica C.A.L, dokter ahli kedokteran forensik pada
bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta
Barat No. Pol.: B/789/VR/XII/95/Serse tertanggal 11 Januari 2012, maka pada tanggal
sebelas Januari Desember tahun dua ribu dua belas, pukul delapan lewat tiga puluh menit
Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang jenazah Bagian Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah melakukan pemeriksaan yang menurut
surat permintaan tersebut adalaha:
Nama

: Mawar

Jenis kelamin : Perempuan


Umur

: 14 tahun

Kebangsaan

: Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: pelajar

Alamat

: Jl. Arjuna Utara No.9, Jakarta Barat

HASIL PEMERIKSAAN:---------------------------------------------------------------------1.

Korban datang dalam keadaan sadar, dengan keadaan umum luka ringan.

Korban mengaku diajak pergi oleh pacarnya ke daerah puncak pada tanggal tujuh
Januari tahun dua ribu dua belas. Korban diajak pergi ke suatu Villa dan telah
dilakukan pemaksaan dengan kekerasan dan ancaman kekerasan dan pembunuhan
untuk memenuhi hasrat seksual pacarnya.
2.

Pada korban ditemukan:


17

a.

Terdapat bercak berbatas tegas dan lebih gelap dari sekitarnya pada celana

dalam korban dan baju korban di bagian bawah. Bercak berwarna agak kekuningkuningan.
b.

Terdapat tanda-tanda bekas kekerasan berupa memar berwarna ungu kehijauan

pada daerah wajah pipi kiri sebesar dua kali dua sentimeter sejajar dengan garis bibir.
c.

Terdapat tanda-tanda bekas kekerasan berupa memar pada langit-langit mulut.

d.

Terdapat tanda-tanda bekas kekerasan berupa memar berwarna ungu kehijauan

pada kedua pergelangan tangan korban sebesar empat kali empat sentimeter pada
tangan kanan dan lima kali empat sentimeter pada tangan kiri. Ditemukan luka lecet
gores pada lengan bawah kanan permukaan depan lima sentimeter dari pergelangan
tangan sepanjang tujuh sentimeter dan luka lecet gores pada lengan bawah kiri
permukaan belakang tujuh sentimeter dari pergelangan tangan sepanjang empat
sentimeter.
e.

Terdapat tanda-tanda bekas kekerasan berupa memar berwarna ungu kehijauan

pada paha bagian dalam kanan dan kiri sebesar lima kali enam sentimeter, sepuluh
sentimeter dari lipat selangkangan korban.
f.

Ditemukannya rambut kemaluan yang saling melekat menjadi satu.

Ditemukannya bercak mani pada daerah kemaluan depan.


g.

Pada daerah permukaan depan vagina ditemukan adanya luka lecet dan

kemerahan.
h.

Terdapat robekan pada selaput dara yang sampai ke pangkal pada jam delapan.

Robekan disertai bercak darah mengering. Besar ukuran lubang vagina sekitar
sepuluh sentimeter.
i.

Pada bibir vagina besar sebelah kanan, dua sentimeter dari pertemuan bibir

vagina sebelah atas ditemukan adanya luka lecet tanpa darah.


3.

Terhadap Korban Dilakukan

a.

Pemeriksaan laboratorium dengan bahan pulas mulut di sela-sela gigi

didapatkan adanya sel spermatozoa.


b.

Pemeriksaan laboratorium dengan bahan pulas lendir vagina didapatkan

adanya sel spermatozoa.


c.

Pemeriksaan Fosfatase Asam pada baju dan celana dalam korban, ditemukan

danya perubahan warna menjadi violet.


d.

Pemeriksaan Sinar Ultra Violet pada celana dalam dan baju korban dan

ditemuka fluoresensi putih.


18

e.

Pemeriksaan Uji Pewarnaan Baecchi pada celana dalam dan baju korban,

ditemukan adanya sel spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna
merah muda.
f.

Pemeriksaan laboratorium pewarnaan gram negative didapatkan bakteri gram

negative berbentuk diplokokus dan berada dalam sel.


g.

Pemeriksaan fosfatase asam pada rambut pubis yang melengket ditemukannya

peruahan warna menjadi ungu.


h.

Konsultasi dr. AAAA Kusumawardhani, Sp.KJ(K): gangguan depresi.

i.

Pembersihan luka/Wound Toilet.

j.

Pemberian analgetika.

4.

Korban dipulangkan

KESIMPULAN
Pada pemeriksaan korban seorang perempuan berumur 14 tahun ini ditemukan adanya
robekan pada selaput dara sampai ke pangkal pada jam delapan dengan bercak darah
mengering, luka lecet pada bibir vagina sebelah kanan atas, luka lecet pada permukaan depan
vagina, sel spermatozoa pada pemeriksaan laboratorium bahan pulasan mulut dan lendir
vagina, luka memar pada pipi kiri, kedua pergelangan tangan, luka lecet gores di lengan
bawah, dan adanya luka memar pada kedua paha bagian dalam yang tidak menimbulkan
penyakit atau halanagan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian.
Demikianlah Visum et Repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan
keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana
Mengetahui,
Dokter Pemeriksa
Dr. Eka Putra
Dampak psikologis dan social perkosaan
Dampak Psikologis1
Upaya korban untuk menghilangkan pengalaman buruk dari alam bawah sadar
mereka sering tidak berhasil. Selain kemungkinan untuk terserang depresi, fobia, dan mimpi
buruk, korban juga dapat menaruh kecurigaan terhadap orang lain dalam waktu yang cukup
lama. Ada pula yang merasa terbatasi di dalam berhubungan dengan orang lain. Bagi korban
perkosaan anak-anak yang mengalami trauma psikologis yang sangat hebat, ada
kemungkinan akan merasakan dorongan yang kuat untuk bunuh diri.
19

Anak yang merupakan korban perkosaan memiliki kemungkinan mengalami stres


paska perkosaan yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu stres yang langsung terjadi dan
stres jangka panjang. Stres yang langsung terjadi merupakan reaksi paska perkosaan seperti
kesakitan secara fisik, rasa bersalah, takut, cemas, malu, marah, dan tidak berdaya. Stres
jangka panjang merupakan gejala psikologis tertentu yang dirasakan korban sebagai suatu
trauma yang menyebabkan korban memiliki rasa percaya diri, konsep diri yang negatif,
menutup diri dari pergaulan, dan juga reaksi somatik seperti jantung berdebar dan keringat
berlebihan. 1
Di saat seperti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membangun kembali
mental anak yang terpuruk. Jika anak tidak menginginkan aktivitas seksual tersebut, maka
perilaku anak dapat berubah total, misalnya menjadi lebih pendiam, sering melamun, takut
untuk bertemu dengan orang dewasa, dan sering bermimpi buruk pada malam hari. Orang tua
harus membujuk sang anak, dan dapat mengatakan bahwa tekanan yang diberikan oleh
pelaku bukanlah sebuah hal yang buruk, sehingga anak mau menceritakan masalahnya. Hal
yang terbaik untuk menghindarkan anak dari pelaku kejahatan susila adalah dengan
memberikan nasihat yang pas dan mudah dimengerti oleh anak tersebut sesuai dengan
usianya. Untuk anak seperti pada kasus diatas, karena usianya membuat sang anak sudah
mulai dapat diajak berdiskusi, orang tua tidak perlu menutupi apa itu hubungan seksual, dan
sudah dapat memberitahu akibat dari perkosaan, penyakit akibat hubungan kelamin, dan
kehamilan yang tidak diinginkan karena mencoba-coba melakukan hubungan seksual dengan
pasangan. 1
Nasihat tersebut sampai kapanpun tindakan kejahatan tersebut tidak akan pernah hilang.
Tetapi, tidak dapat melindungi anak-anak 100% terbebas dari tindakan kejahatan susila,
karena dengan membekali anak dengan nasihat-nasihat tersebut, para orang tua berharap agar
anak-anak mereka dapat terbebas dari bahaya tersebut, karena sekali saja kejahatan tersebut
menimpa sang anak, maka trauma psikologis yang dihasilkan dapat menghantuinya terus
menerus hingga dewasa dan dapat mempengaruhi kehidupannya.
Dampak social
Korban perkosaan dapat mengalami akibat yang sangat serius baik secara fisik
maupun secara kejiwaan (psikologis). Akibat fisik yang dapat dialami oleh korban antara
lain: (1) kerusakan organ tubuh seperti robeknya selaput dara, pingsan, meninggal; (2) korban
sangat mungkin terkena penyakit menular seksual (PMS); (3) kehamilan tidak dikehendaki. 1
20

Korban perkosaan berpotensi untuk mengalami trauma yang cukup parah karena
peristiwa perkosaan tersebut merupakan suatu hal yang membuat shock bagi korban.
Goncangan kejiwaan dapat dialami pada saat perkosaan maupun sesudahnya. Goncangan
kejiwaan dapat disertai dengan reaksi-reaksi fisik. Korban perkosaan dapat menjadi murung,
menangis, mengucilkan diri, menyesali diri, merasa takut, dan sebagainya. Trauma yang
dialami oleh korban perkosaan ini tidak sama antara satu korban dengan korban yang lain.
Hal tersebut disebabkan oleh bermacam-macam hal seperti pengalaman hidup mereka,
tingkat religiusitas yang berbeda, perlakuan saat perkosaan, situasi saat perkosaan, maupun
hubungan antara pelaku dengan korban.
Situasi dalam masyarakat seringkali dapat memperburuk trauma yang dialami oleh
korban. Hal tersebut terjadi banyak pada korban perkosaan dibawah umur. Terjadi stigma
bahwa anak tersebut sudah menjadi hina sehingga orang-orang disekitarnya menjauhi dia
terutama teman-temannya. Media massa juga memiliki pengaruh terhadap keadaan yang
dirasakan oleh korban. Pada kasus-kasus perkosaan, media massa memiliki peranan dalam
membentuk opini masyarakat tentang korban perkosaan. 1
Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Komnas Perlindungan Anak
Pencanangan Gerakan Nasional Perlindungan Anak 23 Juli 1987 merupakan
kebijakan negara untuk menjadikan upaya perlindungan terhadap anak sebagai sebuah
gerakan bersama, dimana keluarga dan masyarakat menjadi basis utama dan terdepan demi
terjaminnya kualitas perlindungan dan kesejahteraan anak anak-anak Indonesia. Hal ini
ditindaklanjuti dengan kebijakan pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Sosial
Republik Indonesia Nomor 81/HUK/1997 tentang Pembentukan Lembaga Perlindungan
Anak Pusat yang tidak lain menjadi cikal bakal lahirnya sebuah Komisi khusus yang
mengurus upaya perlindungan dan peningkatan kesejahteraan anak secara independen.
Tanggal 26 Oktober 1998, dibentuklah Komisi Nasional Perlindungan Anak yang selanjutnya
disebut KOMNAS ANAK sebagai wahana masyarakat yang independen guna ikut
memperkuat mekanisme nasional dan internasional dalam mewujudkan situasi dan kondisi
yang kondusif bagi pemantauan, pemajuan dan perlindungan hak anak dan solusi bagi
permasalahan anak yang timbul.5
VISI

21

Terwujudnya kondisi perlindungan anak yang optimum dalam mewujudkan anak


yang handal, berkualitas dan berwawasan menuju masyarakat yang sejahtera dan
mandiri.

MISI

Melindungi anak dari setiap orang dan/atau lembaga yang melanggar hak anak, serta
mengupayakan pemberdayaan keluarga dan masyarakat agar mampu mencegah
terjadinya pelanggaran hak anak.

Mewujudkan tatanan kehidupan yang mampu memajukan dan melindungi anak dan
hak-haknya serta mencegah pelanggaran terhadap anak sendiri.

Meningkatkan upaya perlindungan anak melalui peningkatan kesadaran, pengetahuan


dan kemampuan masyarakat serta meningkatkan kualitas lingkungan yang memberi
peluang, dukungan dan kebebasan terhadap mekanisme perlindungan anak

PERAN

Melakukan pemantauan dan pengembangan perlindungan anak.

Melakukan advokasi dan pendampingan pelaksanaan hak-hak anak.

Menerima pengaduan pelanggaran hak-hak anak.

Melakukan kajian strategis terhadap berbagai kebijakan yang menyangkut


kepentingan terbaik bagi anak.

Melakukan koordinasi antar lembaga, baik tingkat regional, nasional maupun


international.

Memberikan pelayanan bantuan hukum untuk beracara di pengadilan mewakili


kepentingan anak

Melakukan rujukan untuk pemulihan dan penyatuan kembali anak.


22

Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, pengenalan dan penyebarluasan


informasi tentang hak anak.

FUNGSI

Melakukan pengumpulan data, informasi dan investigasi terhadap pelanggaran hak


anak.

Melakukan kajian hukum dan kebijakan regional dan nasional yang tidak memihak
pada kepentingan terbaik anak.

Memberikan

penilaian

dan

pendapat

kepada

pemerintah

dalam

rangka

mengintegrasikan hak-hak anak dalam setiap kebjijakan.

Memberikan pendapat dan laporan independen tentang hukum dan kebijakan


berkaitan dengan anak.

Menyebasluaskan, publikasi dan sosialisasi tentang hak-hak anak dan situasi anak di
Indonesia.

Menyampaikan pendapat dan usulan tentang pemantauan pemajuan dan kemajuan,


dan perlindungan hak anak kepada parlemen, pemerintah dan lembaga terkait.

Mempunyai mandat untuk membuat laporan alternatif kemajuan perlindungan anak di


tingkat nasional.

Melakukan perlindungan khusus.5

KESIMPULAN
Pada pemeriksaan korban seorang perempuan berumur 14 tahun ini ditemukan adanya
robekan pada selaput dara sampai ke pangkal pada jam delapan dengan bercak darah
mengering, luka lecet pada bibir vagina sebelah kanan atas, luka lecet pada permukaan depan
vagina, sel spermatozoa pada pemeriksaan laboratorium bahan pulasan mulut dan lendir
vagina, luka memar pada pipi kiri, kedua pergelangan tangan, luka lecet gores di lengan

23

bawah, dan adanya luka memar pada kedua paha. Dari pemeriksaan medis yang telah
dilakukan pasien diduga mengalami kasus pemerkosaan.

24