Anda di halaman 1dari 16

Rhinitis Vasomotor dan Penatalaksanaanya

Citra anggar kasih masang


(10-2010-139)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11470
citramasang@yahoo.co.id

Skenario 14 :
Seorang wanita, 26 tahun datang ke poliklinik UKRIDA dengan keluhan sering mengalami
hidung tersumbat bergantian pada lubang hidung kiri dan kanan sejak 1 minggu yang lalu,
disertai keluar ingus encer dan jernih. Pasien juga sering bersin di pagi hari.

Pendahuluan
Rhinitis didefinisikan sebagai radang selaput hidung dan ditandai dengan sebuah
kompleks gejala yang terdiri dari kombinasi dari: bersin, hidung tersumbat, gatal hidung,
rhinorrhea, dan juga gangguan pada mata, telinga, sinus, dan tenggorokan. Rhinitis alergi
adalah penyakit inflamansi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang
sebelumnya sudah tersinsetitasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik tersebut. Rhinitis
alergi adalah penyebab paling umum dari rhinitis. Ini adalah kondisi yang sangat umum,
mempengaruhi sekitar 20% dari populasi. Meskipun rhinitis alergi adalah penyakit yang

umum, dampak pada kehidupan sehari-hari tidak dapat diremehkan. Beberapa pasien
menemukan rinitis alergi menjadi seperti melemahkan dan mengganggu aktifitas. Penderita
dengan alergi yang tidak diobati dilaporkan 10% kurang produktif dibandingkan orang yang
tanpa alergi, sedangkan mereka yang menggunakan obat alergi untuk mengobati rhinitis
alergi hanya 3% kurang produktif. Hal ini menunjukkan bahwa obat yang efektif dapat
mengurangi biaya keseluruhan produktivitas menurun.1,2
Rhinitis alergi disebabkan oleh imunoglobulin E (IgE) dan dimediasi reaksi terhadap
berbagai alergen di mukosa hidung. Alergen yang paling umum adalah tungau debu, danders
hewan peliharaan, kecoa, jamur, serbuk sari dan cuaca yang dingin. Alergen yang ada di
lingkungan luar bervariasi dengan waktu tahun dan lokasi. Mengetahui apa alergen di
lingkungan pada waktu tertentu tahun membantu dalam mendiagnosa dan mengobati rhinitis
alergi dan membantu membuktikan apakah alergi sebagai penyebab gejala-gejala pasien.4
Paparan alergen mungkin menyebabkan kedua peradangan saluran napas atas dan bawah,
yang berarti bahwa kedua hidung dan paru-paru mungkin terlibat. Banyak ahli percaya bahwa
saluran napas pasien perlu dievaluasi sebagai suatu kesatuan total. Penelitian telah
menunjukkan bahwa kebanyakan pasien dengan asma juga memiliki alergi rhinitis. Pedoman
mengenai dampak rhinitis alergi pada asma telah ditetapkan. Reaksi alergi dari saluran napas
atas dapat memicu gejala saluran napas bagian bawah dan sebaliknya. Satu studi
menunjukkan bahwa pasien dengan rinitis alergi dan asma yang tidak diobati memiliki resiko
hampir 2 kali lipat lebih besar untuk memiliki kunjungan gawat darurat dan hampir risiko 3
kali lipat lebih besar untuk dirawat di rumah sakit karena eksaserbasi asma.3
Mekanisme Bersin
Bersin terjadi lewat hidung dan mulut. Udara tersebut keluar sebagai respon yang
dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang
masuk ke dalam hidung. Di dalam tubuh mempunyai sistem penolakan terhadap sesuatu yang
tidak seharusnya berada dalam tubuh seperti kehadiran bakteri, kuman, dll. Antibodi
mengidentifikasi bahwa barang yang masuk tersebut membahayakan sistem tubuh maka
terjadilah bersin. Secara refleks maka otot-otot yang ada di muka menegang, dan jantung
akan berhenti berdenyut atau berhenti berdetak untuk sekejap, selama bersin tersebut. Setelah
bersin selesai, jantung akan kembali lagi berdenyut.3

Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien.
Anamnesis bisa dilakukan pada pasien itu sendiri maupun dari keluarga terdekat. Anamnesis
sangat penting dilakukan, karena seringkali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa.
Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis saja.
Pada anamnesis umum, yang harus ditanyakan kepada pasien ialah:
Identitas pasien (nama, usia, dsb)
Riwayat penyakit sekarang (keluhan utama)
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat perjalanan penyakit
Riwayat kehamilan dan kelahiran
Riwayat pertumbuhan dan perkembangan anak
Riwayat makanan
Riwayat penyakit keluarga.
Selain itu, dapat pula diajukan beberapa pertanyaan yang mengarah kepada kondisi
kelainan hidung, yaitu:
o Sejak kapan dan sudah berapa lama timbulnya keluhan, seperti hidung tersumbat, hidung
terasa gatal dan bersin-bersin?
o Jika terdapat keluhan bersin-bersin, berapa kali bersin dapat timbul?
o Apakah mengeluarkan banyak ingus (secret)? Apa warnanya?
o Apakah keluhan tersebut timbul pada waktu tertentu atau sepanjang hari?
o Apakah keluhan timbul setelah melakukan aktifitas ataupun kontak dengan zat tertentu?
o Apakah terdapat riwayat alergi pada pasien ataupun keluarganya?
o Bagaimana dengan kondisi fisik sehari-hari, apakah merasa lemas dan mudah lelah?
o Apakah disertai demam dan sakit kepala ataupun gangguan lainnya?

o Obat apa saja yang sudah digunakan? Berapa lama penggunaannya dan bagaimana
khasiatnya?
o Apakah dulu pernah mengalami seperti ini? Apakah dulu di keluarga ada yang sakit
seperti ini juga?
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan hidung dimulai dengan inspeksi dan palpasi hidung bagian luar.
Diperhatikan bentuk dan posisi hidung dan adanya pembengkakan dan perubahan warna
hidung dan daerah sekitarnya. Dengan jari hidung dapat kita palpasi untuk menetukan adanya
krepitasi tulang hidung pada fraktur os nasal atau rasa nyeri tekan pada peradangan hidung
dan sinus paranasal. Dengan mendorong puncak hidung ke atas dapat diperoleh kesan tentang
kedudukan septum nasi dan konka nasalis inferior.1

Inspeksi
Inspeksi umum
Inspeksi lokal

: Dilihat keadaan umum pasien.


: Dilihat perubahan setempat sampai sekecil-kecilnya.

Gejala yang dapat terlihat ialah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata
yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut
allergic shiner. Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung, karena
gatal, dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut sebagai allergic salute. Keadaan
menggosok hidung ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang di
dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic crease. Mulut sering terbuka
dengan lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan menyebabkan gangguan
pertumbuhan gigi-geligi (fades adenoid). Dinding posterior faring tampak granuler dan
edema (cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah tampak
seperti gambaran peta (geographic tongue).2
Selain itu terdapat pula beberapa pemeriksaan khusus yaitu:
1. Rinoskopi Anterior
Untuk memeriksa rongga hidung bagian dalam dari depan disebut rinoskop
anterior. Untuk pemeriksaan ini dapat digunakan spekulum hidung, otoskop atau
corong telinga untuk membuka rongga hidung dan mendorong bulu hidung ke

samping. Tekanan speculum pada septum nasi dirasakan nyeri, sehingga speculum
dimasukkan ke rongga hidung dengan hati-hati dengan sudut 450 dan dibuka setalah
speculum berada di dalam dan sewaktu mengeluarkannya jangan ditutup dulu di
dalam, supaya bulu hidung tidak terjepit. Vestibulum hidung, septum anterior, konka
inferior, konka media, konka superior serta meatus sinus paranasal dan keadaan
mukosa hidung harus diperhatikan. Begitu juga rongga sisi lain, kadang rongga
hidung ini sempit karena adanya edema mukosa. Pada keadaan seperti ini untuk
melihat mukosa. Pada keadaan seperti ini untuk melihat organ-organ yang disebut di
atas lebih jelas perlu dimasukkan tampon kapas adrenalin pantokain beberapa menit
untuk mengurangi edema mukosa dan menciutkan konka, sehingga rongga hidung
lebih lapang.5
Hasil pemeriksaan rinoskopi anterior pada pasien rinitis alergi adalah tampak
mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid disertai asanya secret encer yang
banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi.5

2. Rinoskopi Posterior
Untuk melihat bagian belakang hidung dan nasofaring dilakukan pemeriksaan
rhinoskopi posterior. Untuk melakukan pemeriksaan ini diperlukan spatula lidah dan
kaca nasofaring yang telah dihangatkan dengan api lampu spiritus untuk mencegah
udara pernapasan mengembun pada kaca. Sebelum kaca ini dimasukkan, suhu kaca di
tes dulu dengan menempelkan pada kulit belakang tengan kiri pemeriksa. Pasien
diminta membuka mulut dan mengucapkan aaa, lalu lidah dua pertiga anterior
ditekan dengan spatula lidah. Pasien bernapas melalui mulut supaya uvula terangkat
ke atas, dan kaca nasofaring yang menghadap ke atas dimasukkan melalui mulut, ke
bawah uvula dan sampai nasofaring. Setelah kaca berada di nasofaring pasien diminta
bernapas biasa melalui hidung, uvula akan turun kembali dan rongga nasofaring
terbuka. Mula-mula diperhatikan bagian belakang septum dan koana. Kemudian kaca
diputar ke lateral sedikit untuk melihat konka superior, konka media, dan konka
inferior serta meatus superior dan meatus media. Kaca diputar lebih ke lateral lagi
sehingga dapat diidentifikasikan tinus tubarius, muara tuba eustachius dan fossa
Rossenmuler, kemudian kaca diputar ke sisi lainnya.5

Udara yang keluar melalui kedua lubang hidung lebih kurang sama dan untuk
mengujinya dapat dengan cara meletakkan spatula lidah dari metal di depan kedua
lubang hidung dan membandingkan luas pengembunan udara pada spatula kiri dan
kanan.5

Gambar 1. Pemeriksaan Rinoskopi Anterior, Posterior, dan Uji Udara6

3. Pemeriksaan Penghidu
Pemeriksaan indera penghidu dalam praktek dilakukan secara bergantian pada
setiap lubang hidung dengan memberi tujuh bahan dasar penghidu. Dengan demikian,
dapat dibuat olfaktogram atas dasar reaksi terhadap bahan-bahan seperti kamper,
muscus (berbau menyengat), bunga mawar, menthol, ether, bau asam, dan bau busuk.5
4. Pemeriksaan Sinus Paranasal
Dengan inspeksi, palpasi, rinoskopi anterior dan posterior saja, diagnosis kelainan
sinus sulit ditegakkan. Pemeriksaan transiluminasi mempunyai manfaat yang sangat
terbatas, tetapi tidak bisa menggantikan peranan radiologic. Pada pemeriksaan
transiluminasi sinus maksila dan sinus frontal, dipakai lampu khusus sebagai sumber
cahaya dan pemeriksaan dilakukan di ruangan gelap. Transiluminasi sinus maksila
dilakukkan dengan memasukkan sumber cahaya ke rongga mulut dan bibir
dikatupkan sehingga sumber cahaya tidak tampak lagi. Setelah beberapa menit
tampak daerah infraorbita terang seperti bulan sabit. Untuk pemeriksaan sinus frontal,
lampu diletakkan di bawah sinus frontal dekat kantus media dan di daerah sinus
frontal tampak cahaya terang.5
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Histologi
Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bad) dengan
pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang

interseluler dan penebalan membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada
jaringan mukosa dan submukosa hidung.2
Gambaran yang demikian terdapat pada saat serangan. Di luar keadaan serangan, mukosa
kembali normal. Akan tetapi serangan dapat tefjadi terns menerus/persisten sepanjang tahun,
sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan
ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga tampak mukosa hidung menebal.2

Pemeriksaan Radiologi
Gambar pencitraan hanya sedikit gunanya. Pemeriksaan radiologic untuk menilai sinus
maxilla dengan posisi Water; sinus frontalis dan sinus emoid dengan posisi postro-anterior;
dan untuk sinus sphenoid dengan posisi lateral. Sedangkan untuk menilai kompleks
oseometal dilakukan dengan pemeriksan CT-scan.2

Definisi
Rhinitis vasomotor adalah infeksi kronis lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh
terganggunya keseimbangan sistem saraf parasimpatis dan simpatis. Parasimpatis menjadi
lebih dominan sehingga terjadi pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah di hidung.
Gejala yang timbul berupa hidung tersumbat, bersin dan ingus yang encer.
Rhinitis vasomotor adalah kondisi dimana pembuluh darah yang terdapat di hidung
menjadi membengkak sehingga menyebabkan hidung tersumbat dan kelenjar mukus menjadi
hipersekresi.3

Etiologi
Etiologi pasti rhinitis belum diketahui dan diduga akibat gangguan keseimbangan sistem
saraf otonom yang dipicu oleh zat-zat tertentu. Beberapa faktor yang mempengaruhi
keseimbangan rhinitis vasomotor :3
1. Obat-obat

yang

menekan

dan

menghambat

kerja

saraf

simpatis

seperti

ergotamin,chlorpromazin,obat anti hipertensi dan obat vasokostriktor topikal.


2. Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembapan udara yang
tinggi dan bau yang merangsang dan makanan yang pedas dan panas.

3. Faktor endokrin seperti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan
hipotiroidisme
4. Faktor psikis, seperti cuaca, rasa cemas tegang.

Patofisiologi
Beberapa hipotesis telah dikemukakan untuk menerangkan patofisiologi rinitis
vasomotor: 3
1. Neurogenik (disfungsi sistem otonom)
Serabut simpatis hidung berasal dari korda spinalis segmen Th1-2, menginversi
terutama pembuluh darah mukosa dan sebagian kelenjar. Serabut simpatis
mengeluarkan ko-transmiter noreadrenalin dan neuropeptida Y yang menyebabkan
vasokonstriksi dan penurunan sekresi hidung.Tonus simpatis ini berfluktuasi
sepanjang hari yang menyebabkan adanya peniungkatan tahanan rongga hidung yang
bergantian setiap 2-4 jam. Keadaan ini disebut sebagai siklus nasi. Dengan adanya
siklus ini, seseorang akan mampu untuk bernafas dengan tetap normal melalui rongga
hidung yang berubah-rubah luasnya.
Serabut saraf parasimpatis berasal nukleus salivatorius superior menuju
ganglion sfenopalatina dan membentuk n.Vidianus kemudian menginversi pembuluh
darah dan terutama kelenjar eksokrin. Pada rangsangan akan terjadi pelepasan kotransmiter asetilkolin dan vasoaktif intestinal peptida yang menyebabkan peningkatan
sekresi hidung dan vasodilatasi sehingga terjadi konstipasi hidung.
Bagaimana tepatnya saraf otonom ini bekerja belumlah diketahui pasti, tetapi
mungkin hipotalamus bertindak sebagai pusat penerima impuls eferen, termasuk
rangsang emosional yang berasal dari pusat yang lebih tinggi. Dalam keadaan hidung
normal, persarafan simpatis lebih dominan. Rinitis vasomotor diduga sebagai akibat
dari ketidakseimbangan impuls saraf otonom di mukosa hidung yang berupa
bertambahnya aktivitas sistem parasimpatis.
2. Neuropeptida
Pada mekanisme ini terjadi disfungsi hidung yaang diakibatkan oleh meningkatnya
rangsang-rangsang terhadap saraf sensori serabut C di hidung. Adanya rangsangan
abnormal saraf sensoris ini akan diikuti oleh peningkatan pelepasan neuropeptida

seperti substansi P dan calcitonin gene-related protein yang menyebabkan


peningkatan permeabilitas vaskuler dan sekresi kelenjar. Keadaan ini menerangkan
terjadinya peningkatan respon pada hiper-reaktifitas hidung.
3. Nitrik oksida
Nitrik oksida (NO) yang tinggi dan persisten di lapisan epitel hidung dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan tau nekrosis epitel sehingga rangsangan non
spesifik berinteraksi langsung ke lapisan subepitel. Akibatnya terjadi peningkatan
reaktifitas serabut trigeminal dan recruitment refleks vaskular dan kelenjar mukosa
hidung.
4. Trauma
Rinitis vasomotor dapat merupakan komplikasi jangka panjang dari trauma hidung
melalui mekanisme neurogenik dan/atau neuropeptida.
Patogenesis
Rinitis vasomotor merupakan suatu kelainan neurovaskular pembuluh-pembuluh
darah pada mukosa hidung, terutama melibatkan sistem saraf parasimpatis. Tidak dijumpai
alergen terhadap antibodi spesifik seperti yang dijumpai pada rinitis alergi. Keadaan ini
merupakan

refleks hipersensitivitas mukosa hidung yang nonspesifik. Serangan dapat

muncul akibat pengaruh beberapa factor pemicu.4


1. Latar belakang

adanya paparan terhadap suatu iritan memicu ketidakseimbangan system saraf


otonom dalam mengontrol pembuluh darah dan kelenjar pada mukosa hidung,
vasodilatasi dan edema pembuluh darah mukosa hidung sehingga hidung tersumbat
dan terjadi rinore.

disebut juga rinitis non-alergi (nonallergic rhinitis)

merupakan respon non spesifik terhadap perubahan perubahan lingkungannya,


berbeda dengan rinitis alergi yang mana merupakan respon terhadap protein spesifik
pada zat allergen nya.

tidak berhubungan dengan reaksi inflamasi yang diperantarai oleh IgE ( IgE-mediated
hypersensitivity )

2. Pemicu ( triggers ) :

alcohol
perubahan temperatur / kelembapan
makanan yang panas dan pedas
bau bauan yang menyengat ( strong odor )
asap rokok atau polusi udara lainnya
faktor faktor psikis seperti : stress, ansietas
penyakit penyakit endokrin
obat-obatan seperti anti hipertensi, kontrasepsi oral.

Gejala klinis
Gejala yang dijumpai pada rhinitis vasomotor sulit dibedakan dengan rhinitis alergi
seperti hidung tersumbat dan rhinore. Rhinore yang hebat dan bersifat mukus atau serous
sering dijumpai. Gejala hidung tersumbat sangat bervariasi yang dapat bergantian dari satu
sisi ke sisi yang lain, terutama sewaktu perubahan posisi. Keluhan bersin-bersin tidak begitu
nyata bila dibandingkan dengan rhinitis alergi dan tidak terdapat rasa gatal di hidung maupun
mata. Gejala dapat memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya
perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.
Selain itu juga dapat dijumpai keluhan adanya ingus yang jatuh ke tenggorok (post nasal
drip). 5

Diagnosis
Dalam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan
disingkirkan kemungkinan rhinitis alergi. Biasanya penderita tidak mempunya riwayat alergi
dalam keluarganya dan keluhan dimulai pada usia dewasa. Beberapa pasien hanya
mengeluhkan gejala sebagai respon terhadap paparan zat iritan tertentu tetapi tidak
mempunyai keluhan apabila tidak terpapar.
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema mukosa hidung,
konka hipertrofi, dan berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), tetapi dapat juga
ditemukan berwarna pucat. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung
terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Pada rinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal
drip.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rhinitis alergi. Test


kulit (skin test) biasanya negatif, demikian pula test RAST, serta kadar IgE total dalam batas
normal. Kadang-kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam
jumlah yang sedikit. Infeksi sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel neutrofil
dalam sekret. Pemeriksaan radiologik sinus memperlihatkan mukosa yang edema dan
mungkin tampak gambaran cairan dalam sinus apabila sinus telah terlibat.5
Tabel 1. Gambaran klinis dan pemeriksaan pada rinitis vasomotor 4

Diagnosis banding
1. Rhinitis alergi
Rinitis alergika adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya
suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (von
Pirquet, 1986). Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun
2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan
tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.6

2. Rhinitis simpleks virus


Penyakit ini merupakan penyakit virus yang paling sering ditemukan pada
manusia.Sering juga disebut sebagai selsema atau common cold. Penyebabnya ialah
beberapa jenis virus dan yang paling penting ialah Rhinovirus. Virus-virus lainnya
adalah Myxovirus, virus Coxsackle dan virus ECHO. Penyakit ini sangat menular
dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan atau menurunnya daya
tahan tubuh (kedinginan, kelelahan, adanya penyakit menahun dan lain-lain). 6
Tabel 2. Perbedaan diagnosis kerja dan diagnosis banding
Rinitis vasomotor
Mulai serangan

Rinitis Alergi

Dekade 3-4

Rinitis simplek
Semua usia

Belasasan hingga
20-an
Riwayat alergen

Etiologi

Gatal & bersin

Reaksi
neurovaskuler thdp
alergen

Virus
Reaksi Ag-Ab
thdp alergen

Tidak menonjol

Sedikit menonjol
menonjol

Gatal di mata

Tidak dijumpai

Tidak dijumpai
Sering dijumpai

Test kulit

Sekret hidung

Eosinofil normal

Eosinofil normal
Eosinofil
meningkat

Eosinofil darah

normal

normal
meningkat

IgE darah

normal

normal
meningkat

Neurektomi n.vidianus

membantu

Tidak membantu
Tidak membantu

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada rinitis vasomotor bervariasi, tergantung pada factor penyebab dan
gejala yang menonjol. Secara garis besar dibagi dalam:
1. Menghindari stimulus/ faktor pencetus (avoidance therapy)
2. Pengobatan konservatif (farmakoterapi):
a. Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengobati keluhan
hidung tersumbat, misal : phenylpropanolamin (oral) serta phenylephrine dan
oxymetazoline (semprot hidung)
b. Antihistamin : paling baik untuk rhinore
c. Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rhinore dan bersinbersin dengan menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh mediator
vasoaktif. Biasanya digunakan paling sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum
dicapai hasil yang memuaskan. Contoh : fluticasone, flunisolide, atau
bechlometasone.
d. Antikolinergik juga efektif pada pada pasien dengan rinore sebagai keluhan
utamanya. Contoh : ipratropium bromide (nasal spray).
3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal )

Diatermi submukosa konka inferior (submucosal diathermy of the

inferior

turbinate

Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )

Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)

Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )

Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy ),

Neurektomi n.vidianus yaitu dengan melakukan pemotongan pada n.vidianus, bila


dengan cara di atas tidak memberikan hasil yang optimal. Operasi ini tidaklah

mudah,dapat menimbulkan komplikasi seperti sinusitis, diplopia, buta, gangguan


lakrimasi, neuralgia atau anestesis infraorbita dan palatum. Dapat juga dilakukan
tindakan blocking ganglion sfenopalatina. 3

Komplikasi
1. Polip hidung adalah kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai,
berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan, dengan permukaan licin
dan agak bening karena mengandung banyak cairan.5
2. Sinusitis paranasal
Merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. Terjadi akibat edema
ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa. Edema mukosa ostia menyebabkan
sumbatan ostia.Penyumbatan tersebut akan menyebabkan penimbunan mukus
sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut
akan menyuburkan pertumbuhan bakteri terutama bakteri anaerob. Selain dari itu,
proses alergi akan menyebabkan rusaknya fungsi barier epitel antara lain akibat
dekstruksi mukosa oleh mediator-mediator protein basa yang dilepas sel eosinofil
(MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah.Pengobatan komplikasi rinits
alergi harus ditujukan untuk menghilangkan obstruksi ostia sinus dan tuba eustachius,
serta menetralisasi atau menghentikan reaksi humoral maupun seluler yang terjadi
lebih meningkat. Untuk tujuan ini maka pengobatab rasionalnya adalah pemberian
antihistamin, dekongestan, antiinflamasi, antibiotia adekuat, imunoterapi dan bila
perlu operatif .4,5

Prognosis
Prognosis dari rinitis vasomotor bervariasi. Penyakit kadang-kadang dapat
membaik dengan tiba tiba, tetapi bisa juga resisten terhadap pengobatan yang
diberikan.

Prognosis golongan obstruksi lebih baik daripada golongan rinore. Oleh karena
golongan rinore sangat mirip dengan rhinitis alergi, perlu anamnesis dan pemeriksaan
yang teliti untuk memastikan diagnosisnya.6

Kesimpulan
Rhinitis vasomotor merupakan suatu sindrom klinik hidung yang terdiri dari gejala
hidung tersumbat berulang, disertai dengan ingus yang encer dan bersin-bersin faktor
pencetus dari rhinitis vasomotor ini bisa terjadi pada seseorang dengan aktifitas parasimpatis
yang berlebihan, diantaranya faktor fisik, faktor psikis, faktor endokrin, dan faktor
penggunaan obat-obatan simpatolitik.
Aktivitas yang berlebihan dari saraf parasimpatis akan menyebabkan penyempitan
cavum nasi, mukosa hidung hiperemi serta sekresi kelenjar yang meningkat.
Gejala yang didapatkan hidung tersumbat yang dominan yang bisa disertai dengan
rinore dan bersin-bersin.

Daftar pustaka
1

Bickley LS. Buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan Bates.8th ed. Jakarta: EGC;
2009.

Soetjipto D, Mangunkusumo E, Wardani RS. Hidung. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,


Bashiruddin J, Restutia RD, editor. Buku kuliah ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala dan leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. h.116-22.

Soepardi EA. Pemeriksaan telinga, hidung, tenggorok. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J, Restutia RD, editor. Buku kuliah ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala dan leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. h.1-3.

Higler PA. Penyakit hidung. Dalam: Adams GL, Boeis LR, Highler PH, editor. Boeis:
Buku ajar penyakit THT. Jakarta: EGC; 2001. h.200-20.

Irawati N, Poerbonegoro NL, Kasakeyan E. Rinitis vasomotor. Dalam: Soepardi EA,


Iskandar N, Bashiruddin J, Restutia RD, editor. Buku kuliah ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala dan leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.h.1357.

Mangunkusumo E, Wardani RS. Polip Hidung. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,


Bashiruddin J, Restutia RD, editor. Buku kuliah ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala dan leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010. h.123-5.

Anda mungkin juga menyukai