Anda di halaman 1dari 89

ANALISA PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR

PADA GEDUNG DENGAN VARIASI BENTUK


PENAMPANG KOLOM BETON BERTULANG

TUGAS AKHIR

Oleh:
Riskiawan Ertanto
NIM: 1104105018

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

ABSTRAK
Kolom merupakan bagian vertikal dari suatu struktur rangka yang menerima
beban tekan dan lentur. Pada perencanaan kolom banyak kemungkinan variasi
penampang yang bisa digunakan. Kolom dengan sengkang lingkaran memiliki
kinerja terbaik dalam menahan beban dan daktilitas dibandingkan kolom
mempunyai sengkang persegi. Pada kenyataan di lapangan kolom yang sering
digunakan dalam perencanaan adalah kolom dengan penampang persegi karena
pelaksanaan pekerjaannya mudah. Berdasarkan hal tersebut pada tugas akhir ini
akan ditinjau perilaku sruktur gedung yang dikenai beban aksial dan beban gempa
dengan menggunakan variasi bentuk penampang kolom yang berbeda. mengetahui
perbandingan perilaku struktur (simpangan horizontal dan gaya-gaya dalam) pada
gedung dengan variasi bentuk penampang kolom beton bertulang.
Penelitian dilakukan pada tiga bentuk penampang yaitu penampang bujur
sangkar, lingkaran, dan persegi panjang dengan luas penampang beton dan luas
tulangan yang sama. Pada kolom dengan penampang lingkaran, sengkang yang
digunakan adalah sengkang spiral. Kolom persegi panjang didesain dengan
perbandingan ukuran lebar dan panjang tertentu. Tulangan pada ketiga
direncanakan tersebar merata. Struktur dengan masing-masing bentuk penampang
kolom akan dimodelkan dengan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dan
kemudian akan dibandingkan perilaku struktur.
Hasil analisa menunjukkan simpangan pada struktur dengan kolom persegi
panjang memiliki simpangan struktur arah-x paling besar dengan rasio 19,1 %
terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar dan 17,3 % terhadap struktur dengan
kolom lingkaran. Tetapi, pada arah y struktur dengan kolom persegi panjang
memiliki simpangan paling kecil dengan rasio 18,8 % terhadap struktur dengan
kolom bujur sangkar dan 20,5 % terhadap struktur dengan kolom lingkaran. Momen
dan gaya geser kolom arah-x pada struktur dengan kolom persegi panjang adalah
yang paling kecil. Sebaliknya, pada arah-y momen dan gaya geser kolom adalah
yang terbesar. Momen dan gaya geser balok yang ditinjau pada struktur dengan
kolom persegi panjang adalah yang paling kecil. Struktur dengan kolom persegi
panjang dipengaruhi oleh arah penempatan kolom, dimana ketika kolom
ditempatkan memanjang pada arah-y akan membuat struktur lebih kaku pada arah
tersebut tetapi akan melemahkan kekakuan struktur pada arah lainnyaStruktur
dengan kolom lingkaran memiliki kapasitas dalam menahan aksial dan momen
paling baik dengan rasio 14,7 % terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar dan
14,2 % terhadap struktur dengan kolom persegi panjang dibandingkan dengan
struktur dengan kolom bujur sangkar.
Kata kunci : bentuk penampang kolom, perilaku struktur

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena


atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Tugas Akhir ini dengan judul Analisa Perbandingan Perilaku Struktur Pada
Gedung Dengan Variasi Bentuk Penampang Kolom Beton Bertulang. Tidak lupa
penulis mengirimkan shalawat serta salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW
yang telah membawa umat Islam ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
Terwujudnya Tugas Akhir ini tidak terlepas dari peranan serta bantuan
berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima
kasih kepada Bapak Ir. I. B. Dharma Giri, MT selaku pembimbing I atas
pengetahuan, bimbingan, nasihat, dan dorongan pada penulis dan Bapak Ir.
Dharma Putra, MCE selaku pembimbing II atas bimbingannya. Terima kasih juga
penulis ucapkan untuk Ayah, Ibu, dan Adik yang tidak ada hentinya mendoakan,
mendukung dan menyemangati; Dhika S. Hidayatullah yang selalu setia
menemani penulis menyelesaikan tugas akhir ini dan selalu memberi semangat
serta doa untuk penulis; kepada Shovi, Doan, Ilham, Bahri, Andi, Ronny, Marcel,
Brahmantya, Adrial, Landepi, dan teman-teman kontrakan yang selalu menjadi
saudara/i seperjuangan disaat senang maupun susah serta menjadi teman diskusi
yang sangat baik; kepada seluruh kawan-kawan Teknik Sipil Udayana yang tidak
dapat disebutkan satu per satu; kepada seluruh dosen yang telah memberikan
waktu dan ilmu kepada saya selama berkuliah.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini tidaklah sempurna karena
keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Maka dari itu, penulis berbesar hati
menerima kritik dan saran. Atas perhatiannya, penulis ucapkan terima kasih.

Denpasar, 7 Agustus 2015


Penulis

ii

DAFTAR ISI
ABSTRAK .......................................................................................................
i
UCAPAN TERIMAKASIH .............................................................................
ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .............................................................................................
v
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ vii
DAFTAR NOTASI ........................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..........................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................
2
1.3 Tujuan .......................................................................................
2
1.4 Manfaat .....................................................................................
2
1.5 Batasan Masalah .......................................................................
3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kolom .....................................................................................
4
2.1.1 Definisi Kolom ................................................................
4
2.1.2 Jenis Kolom .....................................................................
4
2.1.3 Perencanaan Kolom ........................................................
5
2.1.4 Kapasitas Kolom ..............................................................
7
2.1.5 Diagram Interaksi Kolom.................................................
8
2.2 Pembebanan Struktur ............................................................... 10
2.2.1 Beban Mati ...................................................................... 11
2.2.2 Beban Hidup ................................................................... 11
2.2.3 Beban Gempa .................................................................. 11
2.2.3.1 Penentuan Faktor Keutamaan Gedung ................. 11
2.2.3.2 Penentuan Wilayah Gempa .................................. 13
2.2.3.3 Penentuan Kelas Situs .......................................... 15
2.2.3.4 Penentuan Kategori Desain Seismik .................... 16
2.2.3.5 Pemilihan Sistem Struktur ................................... 16
2.2.3.6 Gaya Geser Dasar Seismik ................................... 19
2.2.3.7 Kontrol Beban Gempa ......................................... 20
2.3 Kombinasi Pembebanan ........................................................... 20
2.4 Persyaratan Desain Struktur SRPMK ...................................... 20
2.4.1 Balok ............................................................................... 21
2.4.2 Kolom .............................................................................. 22
2.5 Simpangan Ijin ......................................................................... 23
2.6 Pemodelan Struktur SAP2000 v15 .......................................... 23
BAB III METODE
3.1 Bagan Alir Penelitian ................................................................ 31
3.2 Desain dan Karakteristik Gedung ............................................ 32
3.3 Pemodelan dan Analisis Struktur .............................................. 33
3.4 Hasil Analisa dan Pengolahan Data .......................................... 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penentuan Model Gedung ......................................................... 34
4.2 Estimasi Dimensi ..................................................................... 36
4.2.1 Balok ............................................................................... 36
iii

4.2.2 Pelat ..................................................................................


4.2.3 Kolom ..............................................................................
4.3 Persyaratan Desain Struktur SRPMK .......................................
4.3.1 Balok ...............................................................................
4.3.2 Kolom...............................................................................
4.4 Pembebanan ..............................................................................
4.4.1 Beban Mati .......................................................................
4.4.2 Beban Hidup ....................................................................
4.4.3 Beban Gempa ...................................................................
4.4.3.1 Metode Autoload ..................................................
4.4.3.1 Metode Respon Spektrum ....................................
4.4.3.3 Kontrol Beban Gempa .........................................
4.5 Hasil Analisis ............................................................................
4.5.1 Cek Capacity Ratio Desain ..............................................
4.5.2 Cek Simpangan Horizontal ..............................................
4.5.3 Perbandingan Perilaku Struktur .......................................
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ...............................................................................
5.2 Saran ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

40
40
45
45
46
47
47
48
48
48
50
51
52
53
55
56
68
69

iv

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 2.3
Gambar 2.4
Gambar 2.5
Gambar 2.6
Gambar 2.7
Gambar 2.8
Gambar 2.9
Gambar 2.10
Gambar 2.11
Gambar 3.1
Gambar 4.1
Gambar 4.2
Gambar 4.3
Gambar 4.4
Gambar 4.5
Gambar 4.6
Gambar 4.7
Gambar 4.8
Gambar 4.9
Gambar 4.10
Gambar 4.11
Gambar 4.12
Gambar 4.13
Gambar 4.14
Gambar 4.15
Gambar 4.16
Gambar 4.17
Gambar 4.18
Gambar 4.19
Gambar 4.20
Gambar 4.21
Gambar 4.22
Gambar 4.23
Gambar 4.24

Jenis-jenis kolom ........................................................................


(a) Kolom konsentris, (b) kolom eksentris .................................
Diagram interaksi P-M kolom ....................................................
Ss, Gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko tertarget
(MCER), kelas situs, SB .............................................................
S1, Gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko tertarget
(MCER), kelas situs, SB .............................................................
Kotak dialog reinforcement data ................................................
Kotak dialog load pattern ...........................................................
Kotak dialog autoload IBC2009 .................................................
Pendefinisian fungsi respon spektrum ........................................
Pengunggahan grafik respon spektrum ke SAP2000 .................
Data load case respon spektrum .................................................
Bagan Alir penelitian ..................................................................
Denah gedung lantai 1 ................................................................
Denah gedung lantai 2 sampai dengan lantai 6 ..........................
Denah gedung lantai 7 ................................................................
Potongan portal 3-3 ....................................................................
Penempatan balok lantai 1 sampai dengan lantai 4 ....................
Penempatan balok lantai 5 dan lantai 6 ......................................
Penempatan balok atap ...............................................................
Dimensi dan penulangan kolom bujur sangkar untuk lantai 1
sampai dengan lantai 4 ...............................................................
Dimensi dan penulangan kolom lingkaran untuk lantai 1
sampai dengan lantai 4 ...............................................................
Dimensi dan penulangan kolom persegi panjang untuk lantai 1
sampai dengan lantai 4 ...............................................................
Dimensi dan penulangan kolom bujur sangkar untuk lantai 5
sampai dengan lantai 7 ...............................................................
Dimensi dan penulangan kolom lingkaran untuk lantai 5
sampai dengan lantai 7 ...............................................................
Dimensi dan penulangan kolom bujur sangkar untuk lantai 5
sampai dengan lantai 7 ...............................................................
Penempatan kolom bujur sangkar...............................................
Penempatan kolom lingkaran .....................................................
Penempatan kolom persegi panjang ...........................................
Capacity ratio kolom bujur sangkar ...........................................
Capacity ratio kolom lingkaran ..................................................
Capacity ratio kolom persegi panjang........................................
Kolom dan balok yang ditinjau ..................................................
Grafik perbandingan simpangan struktur arah-x ........................
Grafik perbandingan simpangan struktur arah-y ........................
Grafik perbandingan gaya aksial kolom .....................................
Grafik perbandingan momen kolom arah-x................................

5
8
9
14
14
24
26
26
27
28
29
32
34
35
35
36
38
39
39
40
41
41
42
42
43
43
44
44
54
54
55
57
58
59
60
61
v

Gambar 4.25
Gambar 4.26
Gambar 4.27
Gambar 4.28
Gambar 4.29
Gambar 4.30

Grafik perbandingan momen kolom arah-y................................


Grafik perbandingan gaya geser kolom arah-x...........................
Grafik perbandingan gaya geser kolom arah-y...........................
Grafik perbandingan momen balok ............................................
Grafik perbandingan gaya geser balok .......................................
Grafik perbandingan capasity ratio kolom.................................

62
63
64
65
66
67

vi

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Tabel 2.2
Tabel 2.3
Tabel 2.4
Tabel 2.5
Tabel 2.6
Tabel 2.7
Tabel 2.8
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel 4.3
Tabel 4.4
Tabel 4.5
Tabel 4.6
Tabel 4.7
Tabel 4.8
Tabel 4.9
Tabel 4.10
Tabel 4.11
Tabel 4.12
Tabel 4.13
Tabel 4.14
Tabel 4.15
Tabel 4.16
Tabel 4.17
Tabel 4.18
Tabel 4.19
Tabel 4.20
Tabel 4.21
Tabel 4.22
Tabel 4.23
Tabel 4.24

Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk


beban gempa ..................................................................................
Faktor keutamaan gempa ...............................................................
Koefisien Situs, Fa .........................................................................
Koefisien situs, Fv .........................................................................
Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
Percepatan pada perioda 1 detik ....................................................
Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada perioda pendek ....................................................
Faktor R, Cd, dan 0 untuk sistem penahan gaya gempa .............
Simpangan antar lantai ijin (a) ....................................................
Syarat lebar balok induk berdasarkan tinggi balok .......................
Syarat lebar balok anak berdasarkan tinggi balok .........................
Syarat dimensi penampang terpendek kolom bujur sangkar .........
Syarat dimensi penampang terpendek kolom persegi panjang ......
Syarat rasio dimensi kolom persegi ...............................................
Syarat rasio dimensi kolom persegi panjang .................................
Syarat rasio tulangan .....................................................................
Syarat jumlah tulangan longitudinal pada kolom lingkaran ..........
Data gempa desain spektra indonesia ............................................
Data periode vs percepatan ............................................................
Tabulasi data periode vs percepatan sesuai ts dan t0 ......................
Gaya geser dasar dengan metode statik dan dinamis ....................
Simpangan struktur arah-x.............................................................
Simpangan struktur arah-y.............................................................
Perbandingan simpangan struktur arah-x ......................................
Perbandingan simpangan struktur arah-y ......................................
Perbandingan gaya aksial kolom ...................................................
Perbandingan momen kolom arah-x ..............................................
Perbandingan momen kolom arah-y ..............................................
Perbandingan gaya geser kolom arah-x .........................................
Perbandingan gaya geser kolom arah-y .........................................
Perbandingan momen balok ..........................................................
Perbandingan gaya geser balok .....................................................
Perbandingan capasity ratio kolom ...............................................

12
13
15
16
17
17
17
23
45
45
46
46
46
47
47
47
50
51
51
52
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66

vii

DAFTAR NOTASI
a

: tinggi blok tegangan persegi ekivalen

Ag

: luas penampang komponen struktur tekan

As

: luas tulangan tarik

Ast

: luas total tulangan

As

: luas tulangan tekan

: lebar balok

: jarak dari serat tekan terjauh ke sumbu netral

c1

: dimensi kolom persegi atau persegi ekivalen,yang diukur dalam arah


bentang dimana momen ditentukan

c2

: dimensi kolom persegi atau persegi ekivalen,yang diukur dalam arah


bentang dimana momen ditentukan yang diukur dalam arah tegak lurus
terhadap c1

Cd

: faktor pembesaran defleksi

Cs

: koefisien respon seismik

: jarak dari serat tekan terjauh ke pusat tulangan tekan longitudinal

Es

: modulus elastisitas baja

Fa

: faktor amplikasi getaran untuk periode pendek

Fv

: faktor amplikasi getaran untuk periode 1 detik

fy

: kuat leleh baja tulangan longitudinal

fc

: kuat tekan beton

: tinggi balok

hx

: tinggi dari dasar sampai tingkat x

Ie

: faktor keutamaan

: panjang bentang

lo

: panjang, yang diukur dari muka joint sepanjang sumbu komponen


struktur, dimana tulangan transversal khusus harus disediakan

Mn

: momen lentur nominal

Mu

: momen terfaktor pada penampang

: jumlah tingkat

viii

Nn

: kekuatan nominal penampang

Nu

: gaya aksial terfaktor

Pn

: kekuatan aksial nominal penampang

Pn,max : nilai Pn maksimum yang diperbolehkan


Po

: kekuatan aksial nominal pada eksentritas nol

Pu

: gaya aksial terfaktor; diambil sebagai positif untuk tekan dan negatif
untuk tarik

: faktor modifikasi respon

So

: spasi pusat ke pusat tulangan transversal dalam panjang lo

S1

: parameter percepatan batuan dasar periode 1 detik

Sa

: parameter percepatan respon spektral

SD1

: parameter percepatan respons spektral pada perioda 1 detik

SDS

: Parameter percepatan spektrum respons desain perioda pendek

SM1

: parameter percepatan spektral pada periode 1 detik

SMS

: parameter percepatan spektral pada periode pendek

SS

: percepatan batuan dasar peiode pendek

: periode

Ta

: periode fundamental pendekatan

: gaya geser dasar

: Berat seismik efektif

: regangan tarik neto dalam lapisan terjauh baja tarik longitudinal pada
kuat nominal, tidak termasuk regangan akibat dari prategang efektif,
rangkak, susut, dan suhu

: simpangan antar lantai

: simpangan antar lantai ijin

: faktor reduksi kuat tekan

: faktor reduksi kuat lentur

: rasio tulangan

ix

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Indonesia berada pada jalur gempa pasifik (Circum Pasific Earthquake

Belt) dan jalur gempa asia (Trans Asiatic Earthquake Belt). Hal ini membuat
Indonesia terletak pada wilayah dengan intesitas gempa yang cukup tinggi. Jalur
tersebut merupakan jalur pertemuan antara lempeng-lempeng kerak bumi dan bila
terjadi pergerakan atau pergeseran pada skala tertentu akan mempengaruhi keadaan
benda-benda yang berada di permukaan bumi termasuk bangunan-bangunan yang
ada. Keadaan wilayah Indonesia tersebut berpengaruh pada perencanaan gedung
khususnya gedung tinggi sebagai struktur tahan gempa.
Bangunan tahan gempa adalah bangunan yang dapat merespon gaya gempa
dengan sifat daktail dan mampu bertahan dari keruntuhan struktur yang signifikan.
Beban gempa yang terjadi akan berpengaruh pada perencanaan kolom-kolom pada
gedung. Kolom merupakan bagian vertikal dari suatu struktur rangka yang
menerima beban tekan dan lentur. Kolom meneruskan beban-beban dari elevasi
atas ke elevasi yang lebih bawah hingga akhirnya sampai ke tanah melalui pondasi.
(Nawy,1998). Kolom merupakan suatu struktur tekan yang memegang peranan
penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan
lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang
bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko,
1996). Berdasarkan definisi kolom di atas dapat disimpulkan bahwa kolom
merupukan struktur yang sangat penting.
Kekuatan kolom dalam memikul beban didasarkan pada kemampuannya
memikul kombinasi beban aksial (Pu) dan Momen (Mu) secara bersamaan. Akibat
dari kondisi tersebut perencanaan kolom suatu struktur bangunan didasarkan pada
kekuatan dan kekakuan penampang lintangnya terhadap aksi beban aksial dan
momen lentur. Pada perencanaan kolom banyak kemungkinan variasi penampang
yang bisa digunakan. Bustamy (2011) dalam penelitiannya mengenai kapasitas
lentur dan daktilitas dalam menahan beban lateral pada berbagai bentuk kolom
1

mendapatkan bahwa kolom dengan sengkang lingkaran memiliki kinerja terbaik


dalam menahan beban dan daktilitas dibandingkan kolom mempunyai sengkang
persegi. Pada kenyataan di lapangan kolom yang sering digunakan dalam
perencanaan adalah kolom dengan penampang persegi. Kolom bersengkang segi
empat dan bujur sangkar merupakan jenis kolom yang paling banyak digunakan
karena pelaksanaan pekerjaannya mudah dan harga pembuatanya murah. (Asroni,
2010)
Berdasarkan uraian diatas perlu adanya kajian mengenai analisa
perbandingan perilaku struktur pada gedung dengan variasi bentuk penampang
kolom beton bertulang. Pada tugas akhir ini akan ditinjau perilaku sruktur gedung
yang dibebani beban aksial dan beban gempa dengan menggunakan variasi bentuk
penampang kolom yang berbeda.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan ditinjau pada

penelitian ini adalah bagaimana perilaku struktur (simpangan horizontal dan gayagaya dalam) pada gedung dengan variasi bentuk penampang kolom beton
bertulang.

1.3

Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengetahui

perbandingan perilaku struktur (simpangan horizontal dan gaya-gaya dalam) pada


gedung dengan variasi bentuk penampang kolom beton bertulang.

1.4

Manfaat
Manfaat dalam penelitian ini adalah mengetahui perbandingan perilaku

struktur (simpangan horizontal dan gaya-gaya dalam) pada gedung dengan variasi
bentuk penampang kolom beton bertulang, sehingga dapat menjadi masukan dalam
perencanaan struktur kolom beton bertulang di kehidupan nyata.
2

1.5

Batasan Masalah
Agar penelitian ini tidak terlalu luas dan lebih terfokus dengan terbatasnya

waktu yang tersedia, maka diambil batasan-batasan sebagai berikut :


a.

Variasi bentuk penampang hanya pada tiga bentuk penampang yaitu


penampang bujur sangkar, penampang lingkaran, dan penampang persegi
panjang dengan luas penampang beton dan luas tulangan yang sama. Pada
kolom persegi panjang kolom ditempatkan memanjang searah sumbu-y.

b.

Tulangan pada kolom dipasang tersebar merata.

c.

Perilaku struktur yang ditinjau akibat beban vertikal dan beban horizontal.

d.

Kekakuan dinding tidak diperhitungkan dan hanya dianggap sebagai


komponen nonstruktural yang berfungsi sebagai beban.

e.

Tidak memperhitungkan faktor ekonomi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kolom

2.1.1

Definisi Kolom
Kolom merupakan suatu struktur tekan yang memegang peranan penting

dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi
kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan
juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur. (Sudarmoko, 1996)
SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen struktur
bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan
bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil.
Kolom merupakan bagian vertikal dari suatu struktur rangka yang menerima
beban tekan dan lentur. Kolom meneruskan beban-beban dari elevasi atas ke elevasi
yang lebih bawah hingga akhirnya sampai ke tanah melalui pondasi. (Nawy,1998)
2.1.2

Jenis Kolom
Dalam buku struktur beton bertulang (Dipohusodo, 1994), ada tiga jenis

kolom beton bertulang yaitu :


a. Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan kolom
beton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang, yang pada
jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan
ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh
pada tempatnya.
b. Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan yang pertama
hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah tulangan spiral
yang dililitkan keliling membentuk heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi
dari tulangan spiral adalah memberi kemampuan kolom untuk menyerap
deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu mencegah terjadinya
kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan tegangan
terwujud.
4

c. Struktur kolom komposit, merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat


pada arah memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa
diberi batang tulangan pokok memanjang.

Gambar 2.1 Jenis-jenis kolom


2.1.3

Perencanaan Kolom
Dalam perencanaan kolom yang dibebani beban aksial dan lentur harus

memenuhi peraturan pada SNI 03-2847-2013,hal 74-75, yaitu sebagai berikut :


1. Perencanaan penampang yang dibebani lentur atau aksial atau kombinasi beban
lentur dan aksial harus didasarkan atas kompatibilitas regangan dan tegangan
dengan menggunakan asumsi dalam 10.2 SNI 03-2847-2013.
2. Kondisi regangan seimbang terjadi pada penampang ketika tulangan tarik tepat
mencapai regangan yang berhubungan dengan tegangan leleh fy pada saat yang
bersamaan dengan tercapainya regangan batas 0.003 pada bagian beton yang
tertekan.
3. Penampang adalah terkendali tekan jika regangan tarik neto dalam baja tarik
terjauh, t, sama dengan atau kurang dari batas regangan terkontrol tarik bila
beton tekan mencapai batas regangan asumsi sebesar 0,003. Batas regangan
terkendali tekan adalah regangan tarik neto dalam tulangan pada kondisi
regangan seimbang. Untuk tulangan Mutu 420 MPa,dan untuk semua tulangan
5

prategang, diizinkan untuk menetapkan batas regangan. terkendali tekan sama


dengan 0,002.
4. Penampang adalah terkendali tarik jika regangan tarik neton dalam baja tarik
terjauh, t, sama dengan atau lebih besar dari 0,005 bila beton tekan mencapai
batas regangan asumsi sebesar 0,003. Penampang dengan t antara batas
regangan terkendali tekan dan 0,005 membentuk daerah transisi antara
penampang terkendali tekan dan terkendali tarik.
5. Untuk komponen struktur lentur non-prategang dan komponen struktur
nonprategang dengan beban tekan aksial terfaktor kurang dari 0.10 fcAg, t
pada kekuatan nominal tidak boleh kurang dari 0,004. Pemakaian tulangan
tekan diizinkan terkait dengan tulangan tarik tambahan untuk meningkatkan
kekuatan komponen struktur lentur.
6. Desain beban aksial Pn dari komponen struktur tekan tidak boleh lebih besar
dari Pn,max, yang dihitung dengan Persamaan sebagai berikut :

Untuk komponen struktur non-prategang dengan tulangan spiral yang


memenuhi 7.10.4 atau komponen struktur komposit yang memenuhi 10.13:
Pn(max) = 0.85 (0.85 fc(Ag Ast) +fy Ast)

Untuk komponen struktur non-prategang dengan tulangan pengikat yang


memenuhi 7.10.5:
Pn(max) = 0.80 (0.85 fc(Ag Ast) +fy Ast)

Untuk komponen struktur prategang, kekuatan aksial desain, Pn , tidak


boleh diambil lebih besar dari 0,85 (untuk komponen struktur dengan
tulangan spiral) atau 0,80 (untuk komponen struktur dengan tulangan
pengikat) dari kekuatan aksial desain pada eksentrisitas nol Po.

7. Komponen struktur yang dibebani aksial tekan harus didesain terhadap momen
maksimum yang mungkin menyertai beban aksial. Beban aksial terfaktor Pu
dengan eksentrisitas yang ada tidak boleh melampaui nilai yang diberikan
dalam 10.3.6. Momen terfaktor maksimum Mu harus diperbesar untuk
memperhitungkan pengaruh kelangsingansesuai dengan 10.10.

2.1.4

Kapasitas Kolom
Kapasitas suatu kolom yang mengalami beban aksial murni (Axial Load

only) terjadi apabila kolom hanya menahan beban sentris pada penampangnya
(tanpa eksentrisitas). Pada kondisi ini gaya luar akan ditahan oleh penampang
kolom yang secara matematis dirumuskan dalam persamaan:
Po = { 0,85. fc. (Ag Ast) + Ast.fy }
dimana:
fc = Kuat tekan beton yang disyaratkan (MPa),
Ag = Luas penampang kolom,
Ast = Luas tulangan total
fy = Kuat tarik tulangan baja yang diijinkan (MPa).
Namun kekuatan yang dihitung dengan rumus diatas jarang sekali bisa
diperoleh pada suatu kolom karena normalnya selalu ada momen pada kolom yang
akan mereduksi kapasitas aksial kolom. Momen tersebut bisa saja terjadi akibat:
a. Tidak konsentrisnya as kolom dari satu lantai terhadap lantai berikutnya.
b. Mengimbangi momen pada balok.
c. Penulangan yang tidak sentries yang mengakibatkan tidak berhimpitnya titik
berat geometrinya dengan titik berat penampang.
Untuk memperhitungkan efek dari momen yang tidak diharapkan tersebut,
maka kapasitas aksial kolom harus dikalikan dengan 0,85 untuk kolom dengan
spiral dan 0,8 untuk kolom dengan sengkang, sehingga:
Pn = 0,85 * Po ( kolom dengan spiral)
Pn = 0,80 * Po ( kolom dengan sengkang)
Secara umum, kolom akan menerima beban seperti yang disajikan dalam
gambar berikut:

My

(a)

(b)

Gambar 2.2 (a) Kolom konsentris, (b) kolom eksentris

Apabila beban P bergeser dari sumbu kolom, maka timbul eksentrisitas


beban pada penampang kolom, sehingga kolom harus memikul kombinasi
pembebanan aksial dan momen.

2.1.5

Diagram Interaksi Kolom


Kapasitas penampang beton bertulang untuk menahan kombinasi gaya

aksial dan momen lentur dapat digambarkan dalam bentuk suatu kurva interaksi
antara kedua gaya dalam tersebut. Gambar 2.3 memperlihatkan contoh diagram
tersebut. Setiap titik dalam kurva ini menunjukkan kombinasi kekuatan gaya
nominal Pn dan kekuatan momen nominal Mn yang sesuai dengan lokasi sumbu
netralnya. Diagram interaksi tersebut dapat dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah
yang ditentukan oleh keruntuhan tarik dan dearah yang ditentukan oleh keruntuhan
tekan, dengan pembatasnya adalah titik balanced (titik B). contoh berikut ini
mengilustrasikan pembuatan diagram P-M untuk penampang segiempat tipikal.
(Nawy,1998)

Gambar 2.3 Diagram interaksi P-M kolom


Analisis kolom dengan diagram P-M diperhitungkan pada tiga kondisi
yaitu :
a. Pada Kondisi Eksentrisitas Kecil
Prinsip-prinsip pada kondisi ini dimana kuat tekan rencana memiliki
nilai sebesar kuat rencana maksimum.
Pn = Pn max = 0,80 (Ag Ast) 0.85 fc + Ast fy
b. Pada Kondisi Momen Murni
Momen murni tercapai apabila tulangan tarik belum luluh sedangkan
tulangan tekan telah luluh dimana fs adalah tegangan tulangan tekan pada kondisi
luluh. Pada kondisi momen murni keruntuhan terjadi saat hancurnya beton (Pn =
Pu = 0). Keseimbangan pada kondisi momen murni yaitu :
ND1 + ND2 = NT
Dimana :
ND1 = 0,85 fc b a
ND2 = fs As
NT = fy As

Selisih akibat perhitungan sangat kecil sehingga dapat diabaikan.


Persamaan yang diperoleh dari segitiga sebangun dengan tinggi sumbu netral
pada c yaitu :
= =

0,003()

Dengan mensubtitusikan persamaan-persamaan di atas akan dihasilkan


persamaan pangkat dua dengan perubah tinggi sumbu netral c. Momen rencana
dapat dihitung sebagai berikut :
Mr = Mn
Mn = Mn1 + Mn2 = ND1 Z1 + ND2 Z2
c. Pada Kondisi Balance
Kondisi keruntuhan balance tercapai apabila tulangan tarik luluh dan
beton mengalami batas regangan dan mulai hancur. Persamaan yang diperoleh
dari segitiga yang sebangun dengan persamaan sumbu netral pada kondisi
balance (Cb) yaitu :

0,003
0,003+

atau dengan Es = 200000, maka :


=

600
600+

Persamaan kesetimbangan pada kondisi balance :


Pb = ND1 + ND2 NT
Sehingga eksentrisitas balance (eb) dapat ditulis sebagai berikut :
Pb (eb + d/2) = Mnb
Mrb = Pb eb

2.2

Pembebanan Struktur
Pada perencanaan pembebanan digunakan beberapa acuan sebagai berikut:

1. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung


dan Non Gedung (SNI 03-1726-2012).
2. Pedoman Perancanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (PPPURG,
1987).
10

2.2.1

Beban Mati
Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat

tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin


serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung
tersebut (PPPURG, 1987). Adapun beban mati yang digunakan adalah sebagai
berikut:
Berat jenis beton

= 2400 Kg/m3

Dinding pasangan setengah bata merah = 250 Kg/m2


Spesi lantai keramik

= 2100 Kg/m3

Penutup lantai keramik

= 2400 Kg/m3

Plafond + penggantung

= 18 Kg/m2

2.2.2

Beban Hidup
Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau

penggunaan suatu gedung, termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari
barang-barang yang dapat berpindah dan termasuk beban akibat air hujan pada atap
(PPPURG, 1987). Adapun beban mati yang digunakan adalah sebagai berikut:
Beban hidup lantai

= 250 Kg/m2

Beban hidup atap

= 100 Kg/m2

Beban hujan

= 40 Kg/m2

2.2.3

Beban Gempa
Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada

gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat
gempa tersebut (PPPURG, 1987).
2.2.3.1 Penentuan Faktor Keutamaan Gedung
Berdasarkan SNI-1726-2012 dalam menentukan kategori risiko bangunan
dan faktor keutamaan bangunan bergantung dari jenis pemanfaatan bangunan
tersebut. Kategori resiko struktur untuk bangunan gedung dan non gedung diatur
sesuai dengan Tabel 2.1. Pengaruh gempa rencana terhadapnya harus dikalikan
11

dengan suatu faktor keutamaan Ie menurut Tabel 2.2. Khusus untuk struktur
bangunan dengan kategori risiko IV, bila dibutuhkan pintu masuk untuk
operasional dari struktur bangunan yang bersebelahan, maka struktur bangunan
yang bersebelahan tersebut harus didesain sesuai dengan kategori risiko IV.
Tabel 2.1 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa
Jenis Pemanfaatan
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko rendah terhadap jiwa manusia
pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk, antara lain:
Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan
Fasilitas sementara
Gudang penyimpanan
Rumah jaga dan struktur kecil lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam kategori risiko
I,III,IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
Perumahan
Rumah toko dan rumah kantor
Pasar
Gedung perkantoran
Gedung apartemen/ rumah susun
Pusat perbelanjaan/ mall
Bangunan industry
Fasilitas manufaktur
Pabrik
Gedung dan non gedung yang memiliki risiko tinggi terhadap jiwa manusia
pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
Bioskop
Gedung pertemuan
Stadion
Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit gawat darurat
Fasilitas penitipan anak
Penjara
Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam kategori risiko IV, yang
memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi yang besar dan/atau
gangguan massal terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi
kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
Pusat pembangkit listrik biasa
Fasilitas penanganan air
Fasilitas penanganan limbah
Pusat telekomunikasi
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori risiko IV,
(termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktur, proses,
penanganan, penyimpanan, penggunaan atau tempat pembuangan bahan bakar
berbahaya, bahan kimia berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang
mudah meledak) yang mengandung bahan beracun atau peledak di mana
jumlah kandungan bahannya melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh
instansi yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya bagi masyarakat
jika terjadi kebocoran.

Kategori
Risiko

II

III

12

Tabel 2.1 (Lanjutan)


Jenis Pemanfaatan

Kategori
Risiko

Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang penting,
termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk:
Bangunan-bangunan monumental
Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki fasilitas
bedah dan unit gawat darurat
Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi, serta
garasi kendaraan darurat
Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan tempat
perlindungan darurat lainnya
Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan fasilitas
lainnya untuk tanggap daruratPusat pembangkit energi dan fasilitas
publik lainnya yang dibutuhkan pada saat keadaan daruratStruktur
tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki penyimpanan
bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun listrik, tangki air
pemadam kebakaran atau struktur rumah atau struktur pendukung air
atau material atau peralatan pemadam kebakaran ) yang disyaratkan
untuk beroperasi pada saat keadaan darurat.

Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan


fungsi struktur bangunan lain yang masuk ke dalam kategori risiko
IV.

IV

Sumber : SNI 1726 : 2012

Tabel 2.2 Faktor keutamaan gempa


Kategori Risiko
I atau II
III
IV

Faktor keutamaan gempa, Ie


1,00
1,25
1,50

Sumber : SNI 1726 : 2012

2.2.3.2 Penentuan Wilayah Gempa


Parameter Ss adalah percepatan batuan dasar pada periode pendek
sedangkan parameter S1 adalah percepatan batuan dasar pada periode 1 detik.
Parameter Ss dan S1 tergantung dari letak dan lokasi bangunan. Parameterparameter tersebut ditetapkan masing-masing dari respons spectral percepatan 0,2
detik dan 1 detik dalam peta gerak tanah seismik pada pasal 14 SNI-1726-2012
dengan kemungkinan 2 persen terlampaui dalam 50 tahun ( , 2 persen dalam
50 tahun), dan dinyatakan dalam bilangan desimal terhadap percepatan gravitasi.
Gambar 2.4 menunjukkan peta gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko
tertarget ( ) parameter-parameter gerak tanah Ss, kelas situs SB dan Gambar
2.5 menunjukkan peta gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko tertarget
( ) parameter-parameter gerak tanah S1 , kelas situs SB.
13

Gambar 2.4 Ss, Gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko tertarget


(MCER), kelas situs SB
Sumber : SNI 1726-2012

Gambar 2.5 S1, Gempa maksimum yang dipertimbangkan risiko tertarget


(MCER), kelas situs SB
Sumber : SNI 1726-2012

14

2.2.3.3 Penentuan Kelas Situs


Berdasarkan sifat-sifat tanah pada situs, maka situs harus diklasifikasikan
sebagai kelas situs SA (batuan keras) , SB (batuan) , SC (tanah keras, sangat padat
dan batuan lunak) , SD (tanah sedang) , SE (tanah lunak) dan SF (tanah khusus,
yang membutuhkan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons spesifiksitus yang mengikuti Pasal 6.10.1 SNI-1726-2012. Bila sifat-sifat tanah tidak
teridentifikasi secara jelas sehingga tidak bias ditentukan kelas situsnya, maka kelas
situs SE dapat digunakan kecuali jika pemerintah/dinas yang berwenang memiliki
data geoteknik yang dapat menentukan kelas situs SF. Dalam menentukan
Koefesien Situs Fa dan Fv sangat bergantung dari jenis tanah pada lokasi bangunan
dan percepatan batuan dasar pada periode pendek (Ss) serta percepatan batuan dasar
pada periode 1 detik (S1). Koefesien Situs Fa dan Fv ditentukan dari Tabel 2.3 dan
Tabel 2.4 sebagai berikut.
Tabel 2.3 Koefisien Situs, Fa
Parameter respons spectral

Kelas Situs

percepatan gempa (MCER) terpetakan

SA
SB
SC
SD
SE

Ss0,25

Ss=0,5

0,8
1,0
1,2
1,6
2,5
SF

0,8
1,0
1,2
1,4
1,7

pada
periode pendek,
S
Ss=0,75
Ss=1,0 T=0,2 Sdetik,
s1,25s
0,8
1,0
1,1
1,2
1,2

0,8
1,0
1,0
1,1
0,9
SSb

0,8
1,0
1,0
1,0
0,9

Sumber : SNI 1726 : 2012

CATATAN:

Untuk nilai-nilai antara Ss dapat dilakukan interpolasi linier

Ss=SItus yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons


situs-spesifik lihT 6.10.1

15

Tabel 2.4 Koefisien situs, Fv


Parameter respons spectral percepatan gempa (MCER)
Kelas Situs
terpetakan pada periode 1 detik S1
S10,1

S1=0,2

S1=0,3

S1=0,4

S10,5

0,8
1,0
1,7
2,4
3,5

0,8
1,0
1,6
2
3,2

0,8
1,0
1,5
1,8
2,8

0,8
1,0
1,4
1,6
2,4

0,8
1,0
1,3
1,5
2,4

SA
SB
SC
SD
SE
SF

SSb

Sumber : SNI 1726 : 2012

CATATAN:

Untuk nilai-nilai antara S1 dapat dilakukan interpolasi linier

Ss=SItus yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons


situs-spesifik lihat 6.10.1
Nilai spektral respons percepatan (spectral response acceleration) SDS dan

SD1 yaitu :
SMS

= Fa Ss

SM1

= Fv S1

SDS

= 2/3 SMS

SD1

= 2/3 SM1

2.2.3.4 Penentuan Kategori Desain Seismik


Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik yang
mengikuti pasal ini. Struktur dengan kategori risiko I, II, atau III yang berlokasi di
mana parameter respons spektral percepatan terpetakan pada perioda 1 detik, 1 S ,
lebih besar dari atau sama dengan 0,75 harus ditetapkan sebagai struktur dengan
kategori desain seismik E. Struktur yang berkategori risiko IV yang berlokasi di
mana parameter respons spektral percepatan terpetakan pada perioda 1 detik, 1 S ,
lebih besar dari atau sama dengan 0,75, harus ditetapkan sebagai struktur dengan
kategori desain seismik F. Semua struktur lainnya harus ditetapkan kategori desain
seismik-nya berdasarkan kategori risikonya dan parameter respons spektral
percepatan desainnya, SDS dan SD1.
16

Tabel 2.5 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan


pada perioda 1 detik
Kategori Resiko
Nilai SDS
I atau II atau III
IV
SDS < 0,167
A
A
0,167 SDS < 0,33
B
C
0,33 SDS < 0,50
C
D
0,50 SDS
D
D
Sumber : SNI 1726 : 2012

Tabel 2.6 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
perioda pendek
Kategori Resiko
Nilai SD1
I atau II atau III
IV
SD1 < 0,167
A
A
0,167 SD1 < 0,33
B
C
0,33 SD1 < 0,50
C
D
0,50 SD1
D
D
Sumber : SNI 1726 : 2012

2.2.3.5 Pemilihan Sistem Struktur


Sistem penahan-gaya gempa yang berbeda diijinkan untuk digunakan,
untuk menahan gaya gempa di masing-masing arah kedua sumbu ortogonal
struktur. Bila sistem yang berbeda digunakan, masing-masing nilai faktor R, Cd,
dan 0 harus dikenakan pada setiap sistem, termasuk batasan sistem struktur yang
termuat dalam Tabel 2.7
Tabel 2.7 Faktor R, Cd, dan 0 untuk sistem penahan gaya gempa
Batasan Sistem Struktur
Faktor
Koefisien
Faktor
dan Batasan Tinggi
Sistem
Kuat
Modifikai
Pembesaran
struktur (m)
Penahan Gaya
Lebih
Respon,
Defleksi
Kategori Desain Seismik
Seismik
Sistem,
R
(Cd)
(0)
B
C
D
E
F
Sistem rangka
pemikul
momen
1. Rangka
baja pemikul
8
3
5
TB TB TB TB TB
momen
khusus

17

Tabel 2.7 (Lanjutan)


Sistem
Penahan Gaya
Seismik
2. Rangka
batang baja
pemikul
momen khusus
3. Rangka baja
pemikul
momen
menengah
4. Rangka baja
pemikul
momen biasa
5. Rangka
beton
bertulang
pemikul
momen khusus
6. Rangka
beton
bertulang
pemikul
momen
menengah
7. Rangka
beton
bertulang
pemikul
momen biasa
8. Rangka baja
dan beton
komposit
pemikul
momen khusus
9. Rangka baja
dan beton
komposit
pemikul
momen
menengah

Faktor
Koefisien
Faktor
Kuat
Modifikai
Pembesaran
Lebih
Respon,
Defleksi
Sistem,
R
(Cd)
(0)

Batasan Sistem Struktur


dan Batasan Tinggi
struktur (m)
Kategori Desain
Seismik
B
C D
E
F

TB TB

48

30

TI

TB TB

10

TI

TI

TB TB

TI

TI

TI

TB TB TB TB TB

TB TB

TI

TI

TI

TB

TI

TI

TI

TB TB TB TB TB

TB TB

TI

TI

TI

TI

18

Tabel 2.7 (Lanjutan)


Sistem
Penahan Gaya
Seismik

Faktor
Koefisien
Faktor
Kuat
Modifikai
Pembesaran
Lebih
Respon,
Defleksi
Sistem,
R
(Cd)
(0)

10. Rangka
baja dan beton
komposit
terkekang
parsial pemikul
momen
11. Rangka
baja dan beton
komposit
pemikul
momen biasa
12. Rangka
baja canai
dingin pemikul
momen khusus
dengan
pembautan

Batasan Sistem Struktur


dan Batasan Tinggi
struktur (m)
Kategori Desain
Seismik
B
C D
E
F

48

48

30

TI

TI

TB

TI

TI

TI

TI

TB

10

10

10

10

Sumber : SNI 1726 : 2012

2.2.3.6 Gaya Geser Dasar Seismik


Pada saat menentukan waktu getar alami fundamental (T) Digunakan
perioda fundamental pendekatan (Ta) untuk struktur yang tidak melebihi 12 tingkat,
dimana sistem penahan gaya seismik terdiri dari rangka penahan momen beton atau
baja secara keseluruhan dan tingkat paling sedikit 3 m sehingga didapat
Ta = 0.10 N

,dimana N = jumlah tingkat

Menurut SNI 1726-2012 persamaan 21, 22 halaman 54, Gaya geser (V)
V = Cs W
Cs =

SDS
R
Ie

19

Cs di atas tidak perlu melebihi


Cs =

SD1
R
T (I )
e

Cs di atas harus tidak kurang dari


Csmin

= 0,044 SDS Ie 0,01

Cs = Koefisien respons seismik


W = berat seismik efektif
R = faktor modifikasi respons
Ie = faktor keutamaan gempa
2.2.3.7 Kontrol Beban Gempa
Beban gempa dapat dianalisis dengan menggunakan metode statik (statik
ekivalen dan autoload) dan metode dinamis (respon spektrum dan time history).
Berdasarkan SNI 03-1726-2012 pasal 7.9.4.1, kombinasi respons untuk geser dasar
ragam (Vt) lebih kecil 85 persen dari geser dasar yang dihitung (V) menggunakan
prosedur gaya lateral ekivalen, maka gaya harus dikalikan dengan 0,85

Berdasarkan ketentuan tersebut maka analisis gaya gempa dengan menggunakan


metode dinamis bisa digunakan jika gaya geser dasar dengan metode dinamis lebih
dari 85 % gaya geser dasar dasar dengan metode statik.

2.3

Kombinasi Pembebanan
Berdasarkan SNI 03 2847 2013 kekuatan perlu U harus paling tidak

sama dengan pengaruh beban terfaktor dalam persamaan di bawah ini. Pengaruh
salah satu atau lebih beban yang tidak bekerja secara serentak harus diperiksa
(beban S (salju) dalam persamaan-persamaan di bawah dihapus karena tidak
relevan, lihat Daftar Deviasi).
U = 1,4D
U = 1,2D + 1,6L + 0,5 (Lr atau R)
20

U = 1,2D + 1,6 (Lr atau R) + (1,0L atau 0,5W)


U = 1,2D + 1,0W + 1,0L + 1,6 (Lr atau R)
U = 1,2D + 1,0Ex + 0,3Ey + 1,0L
U = 1,2D + 1,0Ey + 0,3Ex + 1,0L
U = 0,9D + 1,0W
U = 0,9D + 1,0Ex + 0,3Ey
U = 0,9D + 1,0Ey + 0,3Ex
kecuali sebagai berikut:
a. Faktor beban pada beban hidup L dalam persamaan di atas diizinkan direduksi
sampai 0,5 kecuali untuk garasi, luasan yang ditempati sebagai tempat
perkumpulan publik, dan semua luasan dimana L lebih besar dari 4,8 kN/m2.
b. Bila W didasarkan pada beban angin tingkat layan, 1,6W harus digunakan
sebagai pengganti dari 1,0W dalam persamaan di atas dan 0,8W harus
digunakan sebagai pengganti dari 0,5W dalam persamaan di atas.
c. Dihilangkan karena tidak relevan, lihat Daftar Deviasi.

2.4

Persyaratan Desain Struktur SRPMK

2.4.1

Balok
Berdasarkan SNI 03-2847-2013, persyaratan ini berlaku untuk komponen

struktur rangka momen khusus yang membentuk bagian sistem penahan gaya
gempa dan diproporsikan terutama untuk menahan lentur. Komponen struktur
rangka ini juga harus memenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut.
Gaya tekan aksial terfaktor pada komponen struktur, Pu, tidak boleh melebihi
Agfc/10.
Bentang bersih untuk komponen struktur, ln, tidak boleh kurang dari empat kali
tinggi efektifnya.
Lebar komponen, bw, tidak boleh kurang dari yang lebih kecil dari 0,3h dan 250
mm.
21

Lebar komponen struktur, bw, tidak boleh melebihi lebar komponen struktur
penumpu, c2, ditambah suatu jarak pada masing-masing sisi komponen struktur
penumpu yang sama dengan yang lebih kecil dari (a) dan (b):
(a) Lebar komponen struktur penumpu, c2, dan
(b) 0,75 kali dimensi keseluruhan komponen struktur penumpu, c1.

2.4.2

Kolom
Komponen struktur yang menerima kombinasi lentur dan beban aksial

beton bertulang sesuai SNI 03-2847-2013, pasal 21.6 pada Sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus adalah sebagai berikut :
1. Persyaratan dari sub pasal ini berlaku untuk komponen struktur rangka momen
khusus yang membentuk bagian sistem penahan gaya gempa dan yang menahan
gaya tekan aksial terfaktor Pu akibat sebarang kombinasi beban yang melebihi
Agfc/10 .
2. Dimensi penampang terpendek, diukur pada garis lurus yang melalui pusat
geometri, tidak boleh kurang dari 300 mm.
3. Rasio dimensi penampang terpendek terhadap dimensi tegak lurus tidak boleh
kurang dari 0,4.
4. Luas tulangan memanjang, Ast, tidak boleh kurang dari 0,01Ag atau lebih dari
0,06Ag.
5. Pada kolom dengan sengkang bulat, jumlah tulangan longitudinal minimum
harus 6.
6. Spasi tulangan transversal sepanjang lo tidak lebih daripada:
a. Seperempat dimensi terkecil komponen struktur 0.25C2
b. Enam kali diameter tulangan longitudinal,.
c. So yang dihitung dengan:
So = 100 +

350-hx
3

d. Nilai so dari persamaan di atas tidak boleh lebih besar dari 150 mm dan
tidak perlu lebih kecil dari 100 mm.

22

2.5

Simpangan Ijin
Berdasarkan SNI 03-1726-2012 pasal 7.12.1, simpangan antar lantai

tingkat desain () tidak boleh melebihi simpangan antar lantai ijin (a). Simpangan
antar lantai ijin (a) dapat dilihat pada tabel berikut ini. Hsx pada tabel
menunjukkan tinggi tingkat dibawah tingkat x.
Tabel 2.8 Simpangan antar lantai ijin (a)
Srtuktur

I atau II

Kategori risiko
III

IV

Struktur, selain dari struktur dinding geser batu


bata, 4 tingkat atau kurang dengan dinding
interior, partisi, langit-langit dan sistem dinding 0,025hsx
eksterior
yang
telah
didesain
untuk
mengakomodasi simpangan antar lantai tingkat.

0,020hsx

0,015hsx

Struktur dinding geser kantilever batu bata

0,010hsx

0,010hsx

0,010hsx

Struktur dinding geser batu bata lainnya

0,007hsx

0,007hsx

0,007hsx

Semua struktur lainnya

0,020hsx

0,015hsx

0,010hsx

Sumber : SNI 1726:2012

2.6

Pemodelan Struktur SAP 2000 v15


Program SAP2000 dapat melakukan perhitungan analisis struktur statik/

dinamik, saat melakukan desain penampang beton bertulang maupun struktur baja,
SAP2000 juga menyediakan metode interface (antarmuka) yang secara grafis
mudah digunakan dalam proses penyelesaian analisis struktur. Langkah-langkah
pemodelan kedua struktur yang telah disebutkan diatas adalah sebagai berikut.
1. Membuat Grid
Pilih menu file lalu new models kemudian pilih grid only untuk membuat
ukuran portal yang akan dibuat. Setelah muncul kotak dialog grid only masukkan
data jarak antar portal dan tinggi portal sesuai dengan yang direncanakan.
2. Mendefinisikan Material
Pilih menu define lalu materials kemudian pilih add new materials. Setelah
muncul kotak dialog materials property data masukkan data material yang
digunakan meliputi kuat tekan beton (fc)/kuat tarik baja (fy), berat jenis bahan,
modulus elastisitas dan sebagainya.
23

3. Mendefinisikan Frame Sections


Pilih menu define lalu section property kemudian frame section. Pilih add
new materials kemudian pilih jenis material yang akan digunakan dan selanjutnya
sesuaikan data dimensi, material, dan reinforcement data yang gunakan. Untuk
menyesuaikan tulangan agar program SAP2000 mengecek tulangan yang kita
gunakan pilih reinforcement to be checked seperti pada Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Kotak dialog reinforcement data


4. Mendefinisikan Area Sections
Pilih menu define lalu section property kemudian area sections. Pilih add
new property kemudian sesuaikan data material dan ketebalan area sections.
5. Mendefinisikan Load Pattern
Pilih menu define lalu load pattern kemudian definisikan beban-beban
yang akan digunakan dalam analisis. Pada self wight multiplier masukkan nilai 1
(satu) jika dimaksudkan beban didefinisikan sendiri oleh program dan masukkan
nila 0 (nol)) jika dimaksudkan beban tidak didefinisikan sendiri oleh program.
24

Ketika self wight multiplier didefinisikan 0 (nol) maka beban harus diinput manual
pada program SAP2000.
6. Mendefinisikan Load Combinations
Pilih menu define lalu load combinations kemudian definisikan kombinasi
pembebanan yang akan digunakan.
7. Draw Frame dan Area
Pilih menu draw lalu draw frame/cable/tendon untuk balok dan kolom,
draw reactangular area untuk pelat. Gambarkan balok, kolom, dan pelat pada grid
yang telah dibuat sebelumnya.
8. Beban Merata Pelat
Pilih menu assign lalu area loads kemdian uniform (shell). Masukkan data
beban yang direncanakan.
9. Pembebanan pada Balok
Pilih menu assign lalu frame loads kemdian distributed. Masukkan data
beban yang direncanakan.
10. Pembebanan Gempa
Beban gempa yang digunakan adalah beban gempa autoload untuk gempa
statik dan respon spektrum untuk gempa dinamis. Pada pengaplikasiannya, beban
gempa yang digunakan pada SAP2000 adalah salah satu beban gempa bergantung
pada pengontolan beban gempa statik dan dinamis sesuai pada sub-bab 2.2.3.7.
a. Motode Autoload
Pilih menu define lalu load pattern kemudian definisikan beban gempa x
dan beban gempa y. Pada self wight multiplier masukkan nilai 1 (satu) karena beban
gempa akan dihitung oleh program. Pada auto load pattern, pilih salah satu beban
gempa yang akan digunakan kemudian add new load pattern selanjutnya modify
lateral load pattern sesuai pada Gambar 2.7. Setelah muncul kotak dialog seismic
load pattern definisikan data gempa sesuai dengan yang direncanakan sesuai
Gambar 2.8.

25

Gambar 2.7 Kotak dialog load pattern

Gambar 2.8 Kotak dialog autoload IBC2009


b. Pembebanan Gempa Respon Spektrum
Langkah-langkah aplikasi metode respon spektrum pada SAP2000 adalah
sebagai berikut:
Pengambilan data gempa
Data-data gempa didapatkan dari Desain Spektra Indonesia
(http://puskim.pu.go.id).

Untuk

memudahkan

penginputan

respon

spektrum, data periode dan percepatan tersebut dapat diunduh dalam bentuk
tabel. Dari tabel tersebut, dimasukan data berupa angka untuk fungsi
periode (T). Data respon spektrum diunggah ke SAP2000 pada struktur
26

beraturan dan tidak beraturan dengan cara mendefinisikan fungsi respon


spektrum.
Mendefinisikan fungsi respon spektrum
Pilih menu define lalu functions untuk mendefinisikan fungsi. Untuk
respon spektrum, pilih fungsi respon spektrum. Akan muncul window
seperti Gambar 2.9. Pilih tipe fungsi from file yang berarti fungsi didapatkan
dari data yang diunggah oleh pengguna. Lalu klik add new function.
Setelah klik add new function, akan muncul window baru (Gambar
2.10). Ganti nama fungsi (function name) menjadi RS yang berarti respon
spektrum. Untuk menggunggah fungsi respon spektrum, klik browse lalu
pilih data respon spektrum yang telah disimpan dalam bentuk .txt. Karena
data respon spektrum yang didapat merupakan fungsi periode dan nilai
percepatan, maka pilih period vs value. Untuk memastikan grafik respon
spektrum telah diunggah dengan benar, klik display graph untuk melihat
bentuk grafik respon spektrum. Setelah selesai mengunggah grafik respon
spektrum, klik tombol OK pada kedua window yang sudah terbuka.

Gambar 2.9 Pendefinisian fungsi respon spektrum

27

Gambar 2.10 Pengunggahan grafik respon spektrum ke SAP2000


Mendefinisikan load case
Klik menu define lalu pilih load case, keluarlah window
pendefinisian load case. Lalu klik add new load case (Gambar 2.12). Ganti
nama load case (load case name) dengan gempa x untuk arah-x dan
gempa y untuk arah-y dan pilih fungsi Response Spectrum pada tipe load
case (load case type). Kombinasi modal yang akan digunakan untuk analisis
adalah Complete Quadratic Combination (CQC) dan untuk kombinasi arah
menggunakan metode Square Root of the Sum of Squares (SRSS).
Pada bagian beban yang bekerja (loads applied), untuk arah-x, pilih
load name U1, fungsi yang digunakan adalah RS yaitu nama fungsi
respon spektrum yang telah didefinisikan. Skala faktor diinput nilai sesuai
persamaan (Ie/R) dikalikan dengan gaya gravitasi bumi (9,81 m/detik2).
Gaya gravitasi bumi dikonversikan sesuai dengan satuan yang digunakan.
Dengan nilai Ie = 1,0 ; R = 8, dan gaya gravitasi bumi = 9810 mm/detik2,
maka skala faktor untuk arah-x adalah 1226,25. Ulangi langkah yang sama
untuk mendefinisikan beban gempa arah-y.

28

Gambar 2.11 Data load case respon spektrum


Constraint joint
Klik semua joint pada hubungan antara balok dan kolom kemudian
pilih menu assign lalu joint kemudian constraint. Pada choose constraint
type to add pilih diaphragm kemudian pilih add new constraint kemudian
klik ok.
11. Mendefinisikan sumber massa
Pilih menu define lalu mass source. Setelah muncul kotak dialog mass
source pilih from element and additional masses and loads kemudian definisikan
dead load dengan self weigth multiplier satu dan live load dengan self weigth
multiplier nol.
12. Run Analysis
Setelah semua pendefinisian struktur dan pembebanan struktur telah
selesai selanjutnya klik run analysis.

29

13. Design Check


Pada tahap ini akan dilakukan pengecekan dari frame section baik itu balok
maupun kolom. Pengecekan ini bertujuan untuk mengetahui apakah frame section
yang digunakan sudah memenuhi persyaratan,baik itu dari segi stress ratio dan
yang lainnya. Langkah pertama adalah pilih Design lalu Concerate Frame Design
kemudian View/Revise Preferences. Pilih Design Code dan Framing Type yang
akan digunakan, kemudian Start Design/Check of Structur.
14. Menampilkan data hasil analisis
Pilih menu display lalu show tables. Setelah muncul kotak dialog show
tables pilih data yang dibutuhkan dan kemudian klik ok kemudian akan muncul
kotak dialog data yang dibutuhkan. Pilih file lalu export current table kemudian to
excel.

30

BAB III
METODE

3.1

Bagan Alir Penelitian

Mulai

Menentukan Desain Dan Karakteristik Gedung

Menentukan Dimensi Elemen


Struktur

Memodelkan Struktur

Memodelkan Struktur

Memodelkan Struktur

Dengan Kolom Bujur

Dengan Kolom

Dengan Kolom Persegi

Sangkar

Lingkaran

Panjang

Pembebanan Struktur

Pembebanan Struktur

Pembebanan Struktur

Analisis Struktur

Analisis Struktur

Analisis Struktur

Kontrol Desain
Tidak

Capacity Ratio
Simpangan

Ya

31

Hasil Analisis

Pengolahan Hasil Analisis

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Bagan Alir penelitian

3.2

Desain dan Karakteristik Gedung


Gedung yang akan dianalisis merupakan gedung tujuh lantai yang berada

di wilayah Denpasar dan berfungsi sebagai gedung perkantoran. Mutu beton yang
digunakan dalam perencanaan adalah 40 Mpa. Baja tulangan untuk tulangan
longitudinal menggunakan baja dengan kuat tarik 320 Mpa dan tulangan tranvesal
menggunakan baja dengan kuat tarik 240 Mpa.
Struktur gedung didesain dengan dua tipe kolom. Pada lantai satu sampai
dengan lantai empat kolom-kolom didesain dengan dimensi yang lebih besar
dibandingkan dengan kolom-kolom pada lantai lima sampai dengan lantai tujuh.
Begitu juga dengan balok-balok pada lantai satu dengan lantai empat kolom-kolom
didesain dengan dimensi yang lebih besar dibandingkan dengan kolom-kolom pada
lantai lima sampai dengan lantai tujuh. Dimensi elemen-elemen struktur didesain
dengan ketentuan yang ada pada SNI 03-2847-2013.
Variasi bentuk penampang kolom yang dianalisis adalah tiga bentuk
penampang yaitu penampang bujur sangkar, lingkaran, dan persegi panjang dengan
luas penampang dan luas tulangan yang sama. Tulangan pada ketiga kolom
direncanakan tersebar merata. Pada kolom dengan penampang lingkaran, sengkang
32

yang digunakan adalah sengkang spiral. Kolom persegi panjang didesain dengan
perbandingan b/h = 1/1,56 dan ditempatkan memanjang searah sumbu-y.

3.3

Pemodelan dan Analisis Struktur


Pemodelan dan analisis struktur dilakukan dengan penggunakan perangkat

lunak SAP2000. Pada tahap ini struktur gedung akan dimodelkan dengan tiga
variasi bentuk penampang kolom sesuai dengan ketentuan yang telah dijelaskan
sebelumnya Langkah-langkah pemodelan struktur dan pembebanan dengan
perangkat lunak SAP2000 adalah seperti yang dijelaskan pada sub-bab 2.6.
Setelah pemodelan dan analisis struktur telah selesai selanjutnya dilakukan
pengecekan desain struktur yaitu meliputi capacity ratio dan simpangan horizontal.
Pada pengecekan ini semua elemen-elemen struktur harus memiliki capacity ratio
kurang sari satu. Tetapi capacity ratio pada elemen-elemen struktur diharapkan
mendekati satu sehingga tidak terlalu boros. Simpangan horizontal yang terjadi
tidak boleh melebihi ketentuan yang yang telah dijelaskan pada sub-bab 2.5. Jika
pada pengecekan desain terdapat ketidaksesuaian dengan kriteria desain yang telah
ditentukan maka harus mengubah desain sehingga mendapatkan desain yang sesuai
dengan kriteria desain yang disyaratkan.

3.4

Hasil Analisis dan Pengolahan Data


Hasil analisis diambil dari output perangkat lunak SAP2000 setelah desain

memenuhi kriteria-kriteria desain yang disyaratkan. Hasil analisis tersebut berupa


simpangan horizontal dan gaya-gaya dalam struktur yang meliputi gaya aksial, gaya
geser, dan momen. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak Microsoft
Office untuk merekap data-data simpangan dan gaya-gaya dalam. Setelah data-data
simpangan

dan

gaya-gaya

dalam

selesai

direkap

selanjutnya

adalah

membandingkan simpangan dan gaya-gaya dalam dari ketiga model struktur.

33

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Penentuan Model Gedung


Model gedung yang akan dianalisis adalah gedung tujuh lantai yang

berfungsi sebagai kantor di wilayah Denpasar . Jarak antar lantai adalah empat
meter. Di bawah ini adalah gambar denah gedung (Gambar 4.1, Gambar 4.2,
Gambar 4.3) dan potongan portal 3-3 (Gambar 4.4).

Lift
Lift

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Lift
Lift

KM/WC

Tangga

KM/WC

Ruang
Kantor

Lobi

Ruang
Kantor

Tangga

Gambar 4.1 Denah gedung lantai 1

34

Lift
Lift

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Lift
Lift

KM/WC

Tangga

KM/WC

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Tangga

Gambar 4.2 Denah gedung lantai 2 sampai dengan lantai 6

Lift

Lift
Ruang
Rapat

Lift

Lift

KM/WC

Tangga

KM/WC

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Ruang
Kantor

Tangga

Gambar 4.3 Denah gedung lantai 7

35

Gambar 4.4 Potongan portal 3-3

4.2

Estimasi Dimensi

4.2.1

Balok
Perkiraan dimensi balok induk dalam perencanaan dimana balok pada

bagian ujungnya di tumpu bebas diperkirakan tinggi balok adalah


dengan

1
L sampai
10

1
1
L . Pemilihan lebar balok biasanaya diambil antara h sampai dengan
2
15

2
h . Setelah balok-balok diestimasi kemudian akan diaplikasikan pada perangkat
3

lunak SAP2000 dan menggunakan metode trial and error sehingga didapatkan
dimensi yang efektif.

36

Balok induk untuk lantai 1 sampai lantai 4


h =

1
1
500 = 50 cm
L =
10
10

Digunakan h = 60 cm
b =

2
2
h = 60 = 40 cm
3
3

Digunakan b = 40 cm
Dimensi balok induk yang digunakan adalah 60/40.
Balok induk untuk lantai 5, lantai 6, dan pada lift
h

1
1
500 = 38,46 cm
L =
13
13

Digunakan h = 50 cm
b =

1
1
h = 50 = 16,67 cm
3
3

Digunakan b = 30 cm
Dimensi balok induk yang digunakan adalah 30/50
Balok induk untuk atap
h

1
1
500 = 33,33 cm
L =
15
15

Digunakan h = 40 cm
b =

2
2
h = 40 = 26,67 cm
3
3

Digunakan b = 30 cm
Dimensi balok induk yang digunakan adalah 30/40

Balok anak untuk lantai 1 sampai lantai 4


h

1
1
500 = 38,46 cm
L =
13
13

Digunakan h = 50 cm

37

b =

1
1
h = 50 = 16,67 cm
3
3

Digunakan b = 30 cm
Dimensi balok induk yang digunakan adalah 30/50
Balok anak untuk lantai 5, lantai 6, dan atap
h =

1
1
500 = 33,33 cm
L =
13
13

Digunakan h = 35 cm
b =

2
2
h = 35 = 23,33 cm
3
3

Digunakan b = 25 cm
Dimensi balok anak yang digunakan adalah 25/35

Gambar 4.5 Penempatan balok lantai 1 sampai dengan lantai 4

38

Gambar 4.6 Penempatan balok lantai 5 dan lantai 6

Gambar 4.7 Penempatan balok atap

39

4.2.2

Pelat

Pelat lantai

= 120 mm

Pelat atap

= 100 mm

4.2.3

Kolom
Kolom didimensi dengan cara trial and error pada perangkat lunak

SAP2000. Variasi bentuk penampang kolom yang ditinjau adalah tiga bentuk
penampang kolom yaitu kolom dengan penampang bujur sangkar, penampang
lingkaran, dan penampang persegi panjang. Kolom didesain dengan luas
penampang beton dan luas tulangan yang sama. Kolom lingkaran mengunakan
sengkang spiral. Penulangan kolom pada analisis menggunakan program SAP2000
yang telah di jelaskan pada sub-bab 2.6. Dimensi kolom didapatkan sebagai berikut.
Kolom untuk lantai 1 sampai dengan lantai 4
Kolom pada lantai satu sampai dengan lantai empat didesain dengan
luas penampang beton 250000 mm2 dan menggunakan 20 baja tulangan
dengan ukuran D22.

Gambar 4.8 Dimensi dan penulangan kolom bujur sangkar untuk lantai 1 sampai
dengan lantai 4
40

Gambar 4.9 Dimensi dan penulangan kolom lingkaran untuk lantai 1 sampai
dengan lantai 4

Gambar 4.10 Dimensi dan penulangan kolom persegi panjang untuk lantai 1
sampai dengan lantai 4
41

Kolom untuk lantai 5 sampai dengan lantai 7


Kolom pada lantai empat dan lantai lima didesain dengan luas
penampang beton 202500 mm2 dan menggunakan 16 baja tulangan dengan
ukuran D22.

Gambar 4.11 Dimensi dan penulangan kolom bujur sangkar untuk lantai 5 sampai
dengan lantai 7

Gambar 4.12 Dimensi dan penulangan kolom lingkaran untuk lantai 5 sampai
dengan lantai 7
42

Gambar 4.13 Dimensi dan penulangan kolom bujur sangkar untuk lantai 5 sampai
dengan lantai 7

Gambar 4.14 Penempatan kolom bujur sangkar

43

Gambar 4.15 Penempatan kolom lingkaran

Gambar 4.16 Penempatan kolom persegi panjang


44

4.3

Persyaratan Desain Struktur SRPMK


Persyaratan desain balok dan kolom desain struktur rangka pemikul

momen khusus beton berulang mengacu pada SNI 03-2847-2013 yang telah
dijelaskan pada sub-bab 2.4.
4.3.1

Balok
Dimensi balok pada desain struktur rangka pemikul momen khusus beton

bertulang yang telah diestimasi dan trial and error pada SAP2000 harus memenuhi
persyaratan dimensi yang telah dijelaskan sebelumnya. Persyaratan dimensi balok
ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 sebagai berikut.
Tabel 4.1 Syarat lebar balok induk berdasarkan tinggi balok
b
h
Syarat
Syarat
Balok
0.3h
(mm) (mm)
SRPMK
SRPMK
200
lantai 1
400
600
b > 250
b > 0.3h
200
lantai 2
400
600
b > 250
b > 0.3h
200
lantai 3
400
600
b > 250
b > 0.3h
200
lantai 4
400
600
b > 250
b > 0.3h
150
lantai 5
300
500
b > 250
b > 0.3h
150
lantai 6
300
500
b > 250
b > 0.3h
120
lantai 7
300
400
b > 250
b > 0.3h
Tabel 4.2 Syarat lebar balok anak berdasarkan tinggi balok
b
h
Syarat
Syarat
Balok
0.3h
(mm) (mm)
SRPMK
SRPMK
150
lantai 1
300
500
b > 250
b > 0.3h
150
lantai 2
300
500
b > 250
b > 0.3h
150
lantai 3
300
500
b > 250
b > 0.3h
150
lantai 4
300
500
b > 250
b > 0.3h
105
lantai 5
250
350
b > 250
b > 0.3h
105
lantai 6
250
350
b > 250
b > 0.3h
105
lantai 7
250
350
b > 250
b > 0.3h

Keterangan
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok

Keterangan
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok

45

4.3.2

Kolom
Dimensi kolom pada desain struktur rangka pemikul momen khusus beton

bertulang yang telah didesain dengan metode trial and error pada SAP2000 harus
memenuhi persyaratan dimensi yang telah dijelaskan sebelumnya. Persyaratan
dimensi kolom adalah sebagai berikut.
Tabel 4.3 Syarat dimensi penampang terpendek kolom bujur sangkar
Kolom b (mm) h (mm) syarat SRPMK Keterangan
lantai 1
500
500
b, h > 300
Ok
lantai 2
500
500
b, h > 300
Ok
lantai 3
500
500
b, h > 300
Ok
lantai 4
500
500
b, h > 300
Ok
lantai 5
450
450
b, h > 300
Ok
lantai 6
450
450
b, h > 300
Ok
lantai 7
450
450
b, h > 300
Ok
Tabel 4.4 Syarat dimensi penampang terpendek kolom persegi panjang
Kolom b (mm) h (mm) syarat SRPMK Keterangan
lantai 1
400
625
b, h > 300
Ok
lantai 2
400
625
b, h > 300
Ok
lantai 3
400
625
b, h > 300
Ok
lantai 4
400
625
b, h > 300
Ok
lantai 5
360
562
b, h > 300
Ok
lantai 6
360
562
b, h > 300
Ok
lantai 7
360
562
b, h > 300
Ok
Tabel 4.5 Syarat rasio dimensi kolom persegi
Kolom b (mm) h (mm)
b/h
Syarat SRPMK Keterangan
lantai 1
500
500
1
b/h > 0.4
Ok
lantai 2
500
500
1
b/h > 0.4
Ok
lantai 3
500
500
1
b/h > 0.4
Ok
lantai 4
500
500
1
b/h > 0.4
Ok
lantai 5
450
450
1
b/h > 0.4
Ok
lantai 6
450
450
1
b/h > 0.4
Ok
lantai 7
450
450
1
b/h > 0.4
Ok

46

Tabel 4.6 Syarat rasio dimensi kolom persegi panjang


Kolom b (mm) h (mm)
b/h
Syarat SRPMK Keterangan
lantai 1
400
625
0.64
b/h > 0.4
Ok
lantai 2
400
625
0.64
b/h > 0.4
Ok
lantai 3
400
625
0.64
b/h > 0.4
Ok
lantai 4
400
625
0.64
b/h > 0.4
Ok
lantai 5
360
562
0.64
b/h > 0.4
Ok
lantai 6
360
562
0.64
b/h > 0.4
Ok
lantai 7
360
562
0.64
b/h > 0.4
Ok
Tabel 4.7 Syarat rasio tulangan
Ast
Ag
Kolom
2
(mm )
(mm2)
lantai 1 7598.8 250000
lantai 2 7598.8 250000
lantai 3 7598.8 250000
lantai 4 7598.8 250000
lantai 5 6079.04 202500
lantai 6 6079.04 202500
lantai 7 6079.04 202500

Syarat SRPMK

Keterangan

0.0304
0.0304
0.0304
0.0304
0.0300
0.0300
0.0300

0.01 0.06
0.01 0.06
0.01 0.06
0.01 0.06
0.01 0.06
0.01 0.06
0.01 0.06

Ok
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok
Ok

Tabel 4.8 Syarat jumlah tulangan longitudinal pada kolom lingkaran


Kolom Jumlah Tulangan Syarat SRPMK Keterangan
> 6
lantai 1
20
Ok
> 6
lantai 2
20
Ok
> 6
lantai 3
20
Ok
> 6
lantai 4
20
Ok
> 6
lantai 5
16
Ok
> 6
lantai 6
16
Ok
> 6
lantai 7
16
Ok

4.4

Pembebanan

4.4.1

Beban Mati
Pelat (self weight multiplier = 1)
Spesi lantai keramik t = 2 cm (0,02 2100)

= 42 Kg/m2

Penutup lantai keramik t = 1 cm (0,01 2400)

= 24 Kg/m2

Plafond + penggantung

= 18 Kg/m2

Dinding (4 250)

= 1000 Kg/m
47

Balok (self weight multiplier = 1)


Kolom (self weight multiplier = 1)

4.4.2

4.4.3

Beban Hidup
Beban hidup lantai

= 250 Kg/m2

Beban hidup atap

= 100 Kg/m2

Beban Hujan

= 40 Kg/m2

Beban Gempa
Analisis beban gempa menggunakan metode statik (autoload) dan dinamis

(respon spektrum) sesuai dengan langkah-langkah yang yang dijelaskan pada subbab 2.6. Setelah dilakukan analisis beban gempa dengan metode statik dan dinamis
akan dilakukan pengontrolan beban gempa yang akan digunakan sesuai dengan
ketentuan yang ada pada sub-bab 2.2.3.7. Data-data yang digunakan pada metode
autoload dan respon spektrum adalah sebagai berikut.
4.4.3.1 Metode Autoload
Pendefinisian beban gempa autoload pada perangkat lunak SAP2000
terbagi menjadi dua tahapan. Pada tahap pertama adalah menentukan data-data
gempa sesuai dengan wilayah gempa yang telah ditentukan berdasarkan SNI 031726-2012. Tahapan kedua adalah memasukkan data-data yang telah didapat ke
dalam perangkat lunak SAP2000 sesuai dengan yang dijelaskan paba BAB II..
Data-data pendefinisian beban gempa autoload pada perangkat lunak SAP2000
adalah sebagai berikut.
Penentuan Kategori Risiko
Fungsi gedung adalah sebagai gedung perkantoran. Bersdasarkan tabel 2.1
kategori risiko struktur untuk gedung perkantoran adalah kategori risiko II. Dan
mengacu pada tabel 2.2, didapat faktor keutamaan gempa Ie = 1

Penentuan Ss dan S1
Dalam perhitungan ini, bangunan berada di pulau Bali, kota Denpasar.

Parameter yang digunakan:


48

Ss

= Parameter respons spektrum pada periode pendek.

S1

= Parameter respond spektrum pada periode 1 detik.

Sehingga didapat:
Ss

= 0,9 1,0g (gambar 2.4)

Diambil Ss = 1,0g
S1

= 0,3 0,4g (gambar 2.5)

Diambil S1 = 0,4g

Kategori Desain Seismik


Untuk kelas situs SD (tanah sedang) dengan nilai Ss = 1,0g diperoleh nilai

Fa = 1,1 sedangkan nilai Fv = 1,6 untuk kelas situs SD dengan nilai S1 = 0,4g (tabel
4 dan 5).Nilai spektral respons percepatan (spectral response acceleration) SDS
dan SD1 yaitu :
SMS

= Fa Ss

SM1

= 1,1 1.0g = 1,1g


SDS

= 2/3 SMS = 2/3 1,10g = 0,733g

SD1

= 2/3 SM1 = 2/3 0,64g = 0,427g

= Fv S1
= 1.6 0.4g = 0.64g

Setelah nilai Sds dan Sd1 diketahui maka akan ditentukan kategori desain
struktur yang akan dianalisis. Berdasarkan Tabel 2.5 kategori desain yang dipilih
dengan kategori resiko II maka dipilih KDS tipe D. Berdasarkan Tabel 2.6 kategori
desain yang dipilih dengan kategori resiko II maka dipilih KDS tipe C. Dari dua
tipe kategori desain diatas maka dipilih KDS tipe D karena KDS tipe D memiliki
resiko gempa yang lebih tinggi sehingga dalam perencanaannya akan lebih aman.
Berdasarkan Tabel 2.7 maka struktur akan didesain sebagai Sistem Rangka Beton
Bertulang Pemikul Momen Khusus.

Perioda fundamental
Pada saat menentukan waktu getar alami fundamental (T) digunakan

perioda fundamental pendekatan (Ta) untuk struktur yang tidak melebihi 12 tingkat,
dimana sistem penahan gaya seismik terdiri dari rangka penahan momen beton atau
baja secara keseluruhan dan tingkat paling sedikit 3 m sehingga didapat
49

Ta

= 0,10 N

,dimana N = jumlah tingkat

= 0,10 7 = 0,7 detik


4.4.3.2 Metode Respons Spektrum
Pendefinisian beban gempa respons spektrum pada perangkat lunak
SAP2000 terbagi menjadi dua tahapan. Pada tahap pertama adalah menentukan
data-data gempa sesuai dengan wilayah gempa. Tahapan kedua adalah
memasukkan data-data yang telah didapat ke dalam perangkat lunak SAP2000
sesuai dengan yang dijelaskan paba BAB II.. Data-data pendefinisian beban gempa
respons spektrum pada perangkat lunak SAP2000 adalah sebagai berikut.
Data-data

gempa

didapatkan

dari

Desain

Spektra

Indonesia

(http://puskim.pu.go.id). Data-data dapat dilihat pada Tabel 4.9 dan Tabel 4.10.
Untuk memudahkan penginputan respon spektrum, data periode dan percepatan
tersebut dapat diunduh dalam bentuk tabel. Dari tabel tersebut, dimasukan data
berupa angka untuk fungsi periode (T) (Tabel 4.11).
Data respon spektrum diunggah ke SAP2000 pada struktur beraturan dan tidak
beraturan dengan cara mendefinisikan fungsi respon spektrum. Langkahlangkah pendefinisian fungsi respon spektrum akan dijelaskan pada BAB II.
Tabel 4.9 Data gempa desain spektra indonesia
PGA (g)

0.443

SS (g)

0.978

S1 (g)

0.358

CRS

1.053

CR1

0.951

FPGA

1.057

FA

1.109

FV

1.684

PSA (g)

0.468

SMS (g)

1.084

SM1 (g)

0.603

SDS (g)

0.723

SD1 (g)

0.402

T0 (detik)

0.111

TS (detik)
0.556
Sumber: http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

50

Tabel 4.10 Data periode vs percepatan


T (detik)

SA (g)

T (detik)

SA (g)

T (detik)

SA (g)

0.289

TS+1

0.243

TS+2.3

0.136

T0

0.723

TS+1.1

0.229

TS+2.4

0.132

TS

0.723

TS+1.2

0.217

TS+2.5

0.127

TS+0

0.613

TS+1.3

0.205

TS+2.6

0.123

TS+0.1

0.532

TS+1.4

0.195

TS+2.7

0.12

TS+0.2

0.469

TS+1.5

0.186

TS+2.8

0.116

TS+0.3

0.42

TS+1.6

0.178

TS+2.9

0.113

TS+0.4

0.381

TS+1.7

0.171

TS+3

0.11

TS+0.5

0.348

TS+1.8

0.164

TS+3.1

0.107

TS+0.6

0.32

TS+1.9

0.157

TS+3.2

0.104

TS+0.7

0.296

TS+2

0.151

TS+3.3

0.102

TS+0.8

0.276

TS+2.1

0.146

0.1

TS+0.9
0.258
TS+2.2
0.141
Sumber: http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

Tabel 4.11 Tabulasi data periode vs percepatan sesuai ts dan t0


T (detik)

SA (g)

T (detik)

SA (g)

T (detik)

SA (g)

0.289

1.556

0.243

2.856

0.136

0.111

0.723

1.656

0.229

2.956

0.132

0.556

0.723

1.756

0.217

3.056

0.127

0.556

0.613

1.856

0.205

3.156

0.123

0.656

0.532

1.956

0.195

3.256

0.12

0.756

0.469

2.056

0.186

3.356

0.116

0.856

0.42

2.156

0.178

3.456

0.113

0.956

0.381

2.256

0.171

3.556

0.11

1.056

0.348

2.356

0.164

3.656

0.107

1.156

0.32

2.456

0.157

3.756

0.104

1.256

0.296

2.556

0.151

3.856

0.102

1.356

0.276

2.656

0.146

0.1

1.456
0.258
2.756
0.141
Sumber: http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

4.3.3

Kontrol Beban Gempa


Analisis gaya gempa dengan menggunakan metode dinamis bisa digunakan

jika gaya geser dasar dengan metode dinamis kurang dari 85 % gaya geser dasar
dasar dengan metode statik seperti yang dijelaskan pada sub-bab 2.2.3.7. Tabel 4.12
menunjukkan gaya geser dasar dengan menggunakan metode statik (autoload) dan
metode dinamis (respon spektrum) yang diambil dari perangkat lunak SAP2000.

51

Tabel 4.12 Gaya geser dasar dengan metode statik dan dinamis
Gaya Geser Dasar (kN)
Metode Analisis
Ux
Uy
Autoload
6113.59
6113.59
Respon Spektrum
3057.15
2914.19
Beban gempa respon spektrum boleh digunakan apabila memenuhi
bersamaan berikut.
Vdinamis 0,85 Vstatik
Perbandingan arah-X
Vdinamis 0,85 Vstatik
3057,15 kN 0,85 6113,59 kN
3057,15 kN < 5196,55 kN (tidak memenuhi)
Perbandingan arah-Y
Vdinamis 0,85 Vstatik
2914,19 kN 0,85 6113,59 kN
2914,19 kN < 5196,55 kN (tidak memenuhi)
Dari hasil analisa di atas diketahui bahwa beban gempa respon spektrum tidak
memenuhi ketentuan yang disyaratkan pada analisis beban gempa sehingga analisis
beban gempa yang digunakan adalah analisis statik yaitu dengan menggunakan
beban gempa autoload.

4.5

Hasil Analisis
Analisis struktur dilakukan menggunakan program SAP2000 dengan

menginput pembebanan-pembebanan yang telah dijelaskan pada sub-bab


sebelumnya. Setelah analisis struktur dilakukan cek desain struktur yang telah
dianalisis. Setelah desain struktur telah memenuhi kriteria-kriteria desain kemudian
hasil dari analisis struktur dapat dibandingkan.

52

4.5.1

Cek Capacity Ratio Desain


Capacity ratio (R) adalah rasio antara gaya atau momen ultimate pada

penampang akibat beban terfaktor terhadap kuat nominal penampang yang telah
direduksi dengan faktor reduksi (). Suatu struktur dianggap memenuhi
persyaratan kekuatan jika nilai capacity ratio kurang dari atau paling tidak sama
dengan satu. Nilai R ditunjukkan pada rumusan berikut.

R = + 9 ( + ) 1
dimana ; Nu

: gaya aksial terfaktor, N

Nn

: kuat nominal penampang, N

: 0,75 untuk sengkang spiral, 0,65 untuk sengkang segi empat


(faktor reduksi kuat tekan)

: 0,90 (faktor reduksi kuat lentur)

Mnx : momen lentur nominal terhadap sumbu-x, Nmm


Mny : momen lentur nominal terhadap sumbu-y, Nmm
Mux : momen lentur terfaktor terhadap sumbu-x, Nmm
Muy : momen lentur terfaktor terhadap sumbu-y, Nmm
Pada perangkat lunak SAP2000 capacity ratio ditunjukkan dengan warnawarna yang berbeda sebagai berikut.
Warna biru (0 R 0,5)
Warna hijau (0,5 R 0,7)
Warna kuning (0,7 R 0,9)
Warna jingga (0,9 R 1)
Warna merah (R > 1)
Pada SAP2000 pengecekan capacity ratio dapat langsung dilihat pada
menu design sesuai yang dijelaskan pada sub-bab 2.6. SAP2000 akan menunjukkan
nilai-nilai capacity ratio setiap elemen kolom seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4.16 berikut yang menunjukkan capacity ratio yang terjadi pada struktur
dengan kolom bujur sangkar, struktur dengan kolom lingkaran pada Gambar 4.17,
dan struktur dengan kolom persegi panjang pada Gambar 4.18.

53

Gambar 4.17 Capacity ratio kolom bujur sangkar

Gambar 4.18 Capacity ratio kolom lingkaran

54

Gambar 4.19 Capacity ratio kolom persegi panjang


4.5.2

Cek Simpangan Horizontal Desain


Simpangan horizontal yang terjadi tidak boleh melebihi ketentuan yang

yang telah dijelaskan pada Tabel 2.8. Tabel 4.12 menunjukkan pengecekan
simpangan horizontal pada arah-x dan

Tabel 4.13 menunjukkan pengecekan

simpangan horizontal pada arah-y.


Tabel 4.13 Simpangan struktur arah-x
Tingkat
1
2
3
4
5
6
7

hx
(mm)
4000
8000
12000
16000
20000
24000
28000

Simpangan arah-x (mm)


(1)
5.3
12.6
19.7
26.1
32.9
38.5
42.6

(2)
5.5
12.8
20.0
26.5
33.4
39.1
43.2

(3)
6.6
15.0
23.3
30.9
38.8
45.4
50.2

Simpangan
ijin
0.02hx
80
160
240
320
400
480
560

55

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

Tabel 4.14 Simpangan struktur arah-y


hx
(mm)

Tingkat
1
2
3
4
5
6
7

4000
8000
12000
16000
20000
24000
28000

Simpangan arah-y (mm)


(1)
6.8
15.6
24.0
31.4
39.2
45.3
48.9

(2)
7.0
16.0
24.5
32.0
40.0
46.2
49.9

(3)
5.2
12.5
19.6
25.7
32.2
37.5
40.7

Simpangan
ijin
0.02hx
80
160
240
320
400
480
560

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

4.5.3

Perbandingan Perilaku Struktur


Struktur portal yang ditinjau adalah Portal 3-3. Pada perbandingan elemen

struktur kolom dan balok yang dibandingkan adalah elemen kolom dan balok yang
berada di tengah dengan asumsi kolom dan balok yang berada di tengah dikenai
beban terbesar. Perilaku struktur yang dbandingkan meliputi simpangan horizontal,
gaya-gaya dalam, dan capasity ratio dari ketiga sistem struktur. Gambar 4.19
menunjukkan kolom dan balok pada Portal 3-3 yang akan dibandingkan perilaku
strukturnya.

56

Gambar 4.20 Kolom dan balok yang ditinjau

Tabel 4.15 Perbandingan simpangan struktur arah-x


Simpangan arah-x
Rasio (%)
hx
(mm)
Tingkat
(mm)
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2) (1) dan (3) (2) dan (3)
1
4000
5.3
5.5
6.6
2.0
23.5
21.1
2
8000 12.6 12.8
15.0
1.6
19.8
17.9
3
12000 19.7 20.0
23.3
1.5
18.7
16.9
4
16000 26.1 26.5
30.9
1.5
18.3
16.6
5
20000 32.9 33.4
38.8
1.5
18.1
16.4
6
24000 38.5 39.1
45.4
1.5
17.8
16.1
7
28000 42.6 43.2
50.2
1.5
17.7
16.0
Rasio Rata-Rata
1.6
19.1
17.3

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.


57

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1

0
0

10

20

30

40

50

60

Simpangan (mm)
Kolom Bujur Sangkar

Kolom Lingkaran

Kolom Persegi Panjang

Gambar 4.21 Grafik perbandingan simpangan struktur arah-x

Tabel 4.16 Perbandingan simpangan struktur arah-y


Simpangan arah-y
hx
(mm)
Tingkat
(mm)
(1)
(2)
(3) (1) dan (2)
1
4000
5.2
2.7
6.8 7.0
2
8000 15.6 16.0 12.5
2.3
3
12000 24.0 24.5 19.6
2.1
4
16000 31.4 32.0 25.7
2.1
5
20000 39.2 40.0 32.2
2.0
6
24000 45.3 46.2 37.5
2.0
7
28000 48.9 49.9 40.7
1.9
Rasio Rata-Rata
2.2
Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

Rasio (%)
(1) dan (3)
23.2
19.9
18.6
17.9
17.7
17.2
16.7
18.8

(2) dan (3)


25.2
21.7
20.3
19.6
19.3
18.9
18.3
20.5

58

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1

0
0

10

20

30

40

50

60

Simpangan (mm)
Kolom Bujur Sangkar

Kolom Lingkaran

Kolom Persegi Panjang

Gambar 4.22 Grafik perbandingan simpangan struktur arah-y

Tabel 4.17 Perbandingan gaya aksial kolom


Gaya Aksial (kN)
Tingkat
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2)
1
3736.2 3737.3 3736.2
0.0
2
3141.2 3142.3 3139.3
0.0
3
2542.3 2543.2 2540.2
0.0
4
1940.2 1940.9 1938.8
0.0
5
1335.4 1335.8 1334.9
0.0
6
820.6
820.8
819.8
0.0
7
334.4
334.4
333.9
0.0
Rasio Rata-Rata
0.0

Rasio (%)
(1) dan (3) (2) dan (3)
0.0
0.0
0.1
0.0
0.1
0.0
0.1
0.0
0.0
0.0
0.1
0.0
0.2
0.0
0.1
0.0

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

59

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1
0.0

500.0

1000.0

1500.0
2000.0
2500.0
Gaya Aksial (kN)

Bujur Sangkar

Lingkaran

3000.0

3500.0

4000.0

Persegi Panjang

Gambar 4.23 Grafik perbandingan gaya aksial kolom

Tabel 4.18 Perbandingan momen kolom arah-x


Momen X (kN-m)
Tingkat
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2)
1
242.4
238.6
206.2
1.6
2
226.7
224.4
202.0
1.0
3
219.6
217.5
197.0
1.0
4
206.4
204.3
183.9
1.0
5
141.7
140.2
126.0
1.1
6
102.6
101.7
92.9
0.9
7
69.2
68.8
64.3
0.6
Rasio Rata-Rata
1.0

Rasio (%)
(1) dan (3) (2) dan (3)
14.9
13.6
10.9
10.0
10.3
9.4
10.9
10.0
11.1
10.1
9.5
8.7
7.1
6.6
10.7
9.8

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

60

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1
0.0

50.0

100.0

Bujur Sangkar

150.0
Momen kN-m
Lingkaran

200.0

250.0

300.0

Persegi Panjang

Gambar 4.24 Grafik perbandingan momen kolom arah-x

Tabel 4.19 Perbandingan momen kolom arah-y


Momen Y (kN-m)
Tingkat
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2)
1
308.4
305.6
338.2
0.9
2
276.9
275.5
290.1
0.5
3
261.6
260.3
273.3
0.5
4
232.6
231.2
244.9
0.6
5
165.4
164.5
173.6
0.6
6
115.9
115.2
123.0
0.6
7
63.6
63.2
67.6
0.6
Rasio Rata-Rata
0.6

Rasio (%)
(1) dan (3) (2) dan (3)
9.6
10.7
4.7
5.3
4.5
5.0
5.3
5.9
5.0
5.6
6.1
6.8
6.3
7.0
5.9
6.6

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

61

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1
0.0

50.0

100.0

150.0

Bujur Sangkar

200.0
250.0
Momen kN-m
Lingkaran

300.0

350.0

400.0

Persegi Panjang

Gambar 4.25 Grafik perbandingan momen kolom arah-y

Tabel 4.20 Perbandingan gaya geser kolom arah-x


Gaya Geser X (kN)
Tingkat
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2)
1
106.5
105.3
94.5
1.1
2
112.3
111.2
100.5
1.0
3
109.0
108.0
98.0
0.9
4
100.8
99.8
90.5
0.9
5
68.1
67.5
61.2
1.0
6
48.5
48.1
44.8
0.7
7
32.9
32.8
31.1
0.4
Rasio Rata-Rata
0.8

Rasio (%)
(1) dan (3) (2) dan (3)
11.3
10.3
10.5
9.6
10.1
9.2
10.2
9.4
10.1
9.2
7.6
7.0
5.4
5.0
9.3
8.5

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

62

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1
0.0

20.0

40.0

Bujur Sangkar

60.0
Gaya Geser (kN)
Lingkaran

80.0

100.0

120.0

Persegi Panjang

Gambar 4.26 Grafik perbandingan gaya geser kolom arah-x

Tabel 4.21 Perbandingan gaya geser kolom arah-y


Gaya GeserY (kN)
Tingkat
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2)
1
135.5
134.9
140.0
0.4
2
138.1
137.4
143.4
0.5
3
129.1
128.5
134.1
0.5
4
113.3
112.8
118.0
0.5
5
78.9
78.5
81.6
0.4
6
52.6
52.5
53.8
0.3
7
29.1
29.1
29.8
0.0
Rasio Rata-Rata
0.4

Rasio (%)
(1) dan (3) (2) dan (3)
3.3
3.8
3.9
4.4
3.9
4.4
4.2
4.7
3.4
3.9
2.2
2.5
2.5
2.5
3.3
3.7

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

63

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1
0.0

20.0

40.0

60.0

Bujur Sangkar

80.0
100.0
Gaya Geser (kN)
Lingkaran

120.0

140.0

160.0

Persegi Panjang

Gambar 4.27 Grafik perbandingan gaya geser kolom arah-y

Tabel 4.22 Perbandingan momen balok


Momen (kN-m)
Tingkat
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2)
1
305.4
303.5
284.1
0.6
2
336.6
335.0
318.1
0.5
3
344.5
342.6
322.7
0.6
4
354.2
352.2
332.1
0.6
5
315.4
313.4
293.6
0.6
6
313.0
311.1
292.3
0.6
7
216.2
215.4
206.7
0.4
Rasio Rata-Rata
0.5

Rasio (%)
(1) dan (3) (2) dan (3)
7.0
6.4
5.5
5.1
6.3
5.8
6.2
5.7
6.9
6.3
6.6
6.1
4.4
4.0
6.1
5.6

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

64

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1
0.0

50.0

100.0

150.0

Bujur Sangkar

200.0
250.0
Momen kN-m

Lingkaran

300.0

350.0

400.0

Persegi Panjang

Gambar 4.28 Grafik perbandingan momen balok

Tabel 4.23 Perbandingan gaya geser balok


Gaya Geser X (kN)
Tingkat
(1)
(2)
(3)
(1) dan (2)
1
192.5
191.8
184.3
0.4
2
225.6
224.9
218.4
0.3
3
230.3
229.6
221.9
0.3
4
233.5
232.7
224.9
0.3
5
195.9
195.2
187.5
0.4
6
218.3
217.6
210.5
0.3
7
163.2
162.9
159.4
0.2
Rasio Rata-Rata
0.3

Rasio (%)
(1) dan (3) (2) dan (3)
4.3
3.9
3.2
2.9
3.6
3.3
3.7
3.4
4.3
3.9
3.6
3.3
2.4
2.2
3.6
3.3

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

65

7
6

Tingkat

5
4
3
2
1
0.0

50.0

100.0
150.0
Gaya Geser (kN)

Bujur Sangkar

Lingkaran

200.0

250.0

Persegi Panjang

Gambar 4.29 Grafik perbandingan gaya geser balok

Tabel 4.24 Perbandingan capacity ratio


Capacity Ratio
Tingkat
(1)
(2)
(3)
0.86
0.74
0.81
1
0.74
0.65
0.71
2
0.64
0.56
0.63
3
0.54
0.47
0.55
4
0.52
0.45
0.52
5
0.36
0.30
0.37
6
0.19
0.18
0.24
7
Rasio Rata-Rata

Rasio (%)
(1) dan (2) (1) dan (3) (2) dan (3)
15.1
5.4
8.4
14.8
3.9
9.5
14.7
1.1
11.9
15.8
1.1
14.5
16.0
0.9
13.0
17.3
2.3
16.7
9.5
18.7
25.7
14.7
4.8
14.2

Keterangan :

(1) = Struktur dengan kolom bujur sangkar.

(2) = Struktur dengan kolom lingkaran.

(3) = Struktur dengan kolom persegi panjang.

66

7
6

Tingkat

4
3
2
1
0.00

0.10

0.20

0.30

Bujur Sangkar

0.40
0.50
Capacity Ratio
Lingkaran

0.60

0.70

0.80

0.90

Persegi Panjang

Gambar 4.30 Grafik perbandingan capasity ratio kolom

67

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan

sebagai berikut;
1. Struktur dengan kolom persegi panjang memiliki simpangan struktur arah-x
paling besar dengan rasio 19,1 % terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar
dan 17,3 % terhadap struktur dengan kolom lingkaran. Tetapi pada arah-y
struktur dengan kolom persegi panjang memiliki simpangan paling kecil
dengan rasio 18,8 % terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar dan 20,5 %
terhadap struktur dengan kolom lingkaran.
2. Gaya aksial kolom pada ketiga sistem struktur sama.
3. Struktur dengan kolom persegi panjang memiliki momen kolom arah-x paling
kecil dengan rasio 10,7 % terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar dan
9,8 % terhadap struktur dengan kolom lingkaran. Tetapi pada arah y momen
kolom pada struktur dengan kolom persegi panjang adalah yang paling besar
dengan rasio 5,9 % terhadap kolom struktur dengan kolom bujur sangkar dan
6,6 % terhadap kolom struktur dengan kolom lingkaran.
4. Gaya geser kolom arah-x pada struktur dengan kolom persegi panjang adalah
yang paling kecil dengan rasio 9,3 % terhadap struktur dengan kolom bujur
sangkar dan 8,5 % terhadap struktur dengan kolom lingkaran. Tetapi gaya geser
kolom arah-y pada struktur dengan kolom persegi panjang adalah yang paling
besar dengan rasio 3,3 % terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar dan 3,7
% terhadap struktur dengan kolom lingkaran.
5. Momen balok yang ditinjau pada struktur dengan kolom persegi panjang adalah
yang kecil dengan rasio 6,1 % terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar
dan 5,6 % terhadap struktur dengan kolom lingkaran.
6. Gaya Geser balok yang ditinjau pada struktur dengan persegi panjang adalah
yang paling kecil dengan rasio 3,6 % terhadap struktur dengan kolom bujur
sangkar dan 3,3 % terhadap struktur dengan kolom lingkaran.
68

7. Struktur dengan kolom persegi panjang dipengaruhi oleh arah penempatan


kolom, dimana ketika kolom ditempatkan memanjang pada arah-y akan
membuat struktur lebih kaku pada arah tersebut tetapi akan melemahkan
kekakuan struktur pada arah lainnya.
8. Capacity ratio kolom pada struktur dengan kolom lingkaran adalah yang paling
kecil dengan rasio 14,7 % terhadap struktur dengan kolom bujur sangkar dan
14,2 % terhadap struktur dengan kolom persegi panjang. Berdasarkan hasil
tersebut kolom-kolom pada struktur dengan kolom lingkaran memiliki
kapasitas dalam menahan gaya aksial dan momen lebih baik dibandingkan
dengan struktur dengan kolom bujur sangkar dan struktur dengan kolom persegi
panjang.

5.2

Saran
Berdasarkan analisa dan kesimpulan di atas hal-hal yang bisa digunakan

sebagai referensi perencanaan struktur kolom beton bertulang dan pengembangan


penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut;
1. Untuk mendapatkan kekakuan struktur pada arah tertentu disarankan
menggunakan bentuk penampang persegi panjang yang ditempatkan
memanjang pada arah tersebut. Tetapi harus diingat bahwa dengan
menggunakan penampang persegi panjang akan melemahkan struktur pada arah
yang lainnya.
2. Dilihat dari kemampuan kolom dalam menahan gaya aksial dan momen, untuk
mendapatkan kapasitas kolom yang lebih besar bentuk penampang lingkaran
adalah yang paling efektif.

69

DAFTAR PUSTAKA
Asroni, Ali. 2010. Kolom, Fondasi dan Balok T Beton Bertulang. Yogyakarta :
Graha Ilmu.
Badan Standarisasi Nasional. 2012. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa
Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2012). Jakarta.
Badan Standarisasi Nasional. 2013. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2013). Jakarta.
Busthamy, Imam. 2011. Pengujian Serta Analisis Berbagai Bentuk Kolom Beton
Bertulang Terhadap Kapasitas Lentur dan Daktilitas Menahan Beban
Lateral. Skripsi. Jember : Fakultas Teknik Universitas Jember
Departemen Pekerjaan Umum. 1987. Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk
Rumah dan Gedung (PPPIURG). Jakarta : Yayasan Badan Penerbit
Pekerjaan Umum
Departemen Pekerjaan Umum. 1991. Tata Cara Perhitungn Struktur Beton Untuk
Bangunan Gedung. Bandung : Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah
Bangunan
Dipohusodo, Istimawan. 1994. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama,.
G. Nawi, Edward. 1998. Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar. Bandung:
Refika Aditama.
Kementrian Pekerjaan Umum. 2011. Desain Spektra Indonesia.
http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/. Diakses
tanggal 12/05/2015.
Sudarmoko. 1996. Perencanaan dan Analisis Kolom Beton Bertulang.
Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

70

A.

Output Sap2000 v.15

A.1

Model Struktur

Lampiran A.1 Model struktur gedung tujuh lantai

71

A.2

Momen Portal 3-3 Akibat Kombinasi 1,2D+L+Ex+0,3Ey

Lampiran A.2.1 Bidang momen struktur dengan kolom bujur sangkar

Lampiran A.2.2 Bidang momen struktur dengan kolom lingkaran


72

Lampiran A.2.3 Bidang momen struktur dengan kolom persegi panjang

A.3

Gaya Geser Portal 3-3 Akibat Kombinasi 1,2D+L+Ex+0,3Ey

Lampiran A.3.1 Gaya geser struktur dengan kolom bujur sangkar

73

Lampiran A.3.2 Gaya geser struktur dengan kolom lingkaran


.

Lampiran A.3.3 Gaya geser struktur dengan kolom persegi panjang

74

A.4

Gaya Aksial Portal 3-3 Akibat Kombinasi 1,2D+L+Ex+0,3Ey

Lampiran A.4.1 Gaya aksial struktur dengan kolom bujur sangkar

Lampiran A.4.2 Gaya aksial struktur dengan kolom lingkaran


.

75

Lampiran A.4.3 Gaya aksial struktur dengan kolom persegi panjang

76

B.

Grafik Fungsi Respon Spektrum Wilayah Denpasar

Lampiran B Model grafik fungsi respon spectrum wilayah Denpasar


Sumber : http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/

77