Anda di halaman 1dari 21

KONSEP DASAR BPH

(BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA)


A.

PENGERTIAN
Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi

berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Namun orang sering


menyebutnya dengan hipertropi prostat namun secara histologi yang dominan
adalah hyperplasia (Sabiston, David C,1994)
Hiperplasia prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat nonkanker,
(Corwin, 2000)
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh
penuaan. Price&Wilson (2005)
Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat
(secara umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi
uretra dan pembiasan aliran urinarius. (Doenges, 1999)
BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
cara menutupi orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002)
Kesimpulan BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit
yang disebabkan oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
cara menutupi orifisium uretra. Prostatektomy merupakan tindakan pembedahan
bagian prostate (sebagian/seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk
memeperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut.
B.

ETIOLOGI
Penyebab hiperplasia prostat belum diketahui dengan pasti, ada beberapa

pendapat dan fakta yang menunjukan, ini berasal dan proses yang rumit dari
androgen dan estrogen. Dehidrotestosteron yang berasal dan testosteron dengan
bantuan enzim 5- reduktase diperkirakan sebagai mediator utama pertumbuhan
prostat. Dalam sitoplasma sel prostat ditemukan reseptor untuk dehidrotestosteron
(DHT). Reseptor ini jumlahnya akan meningkat dengan bantuan estrogen. DHT

yang dibentuk kemudian akan berikatan dengan reseptor membentuk DHTReseptor komplek. Kemudian masuk ke inti sel dan mempengaruhi RNA untuk
menyebabkan sintesis protein sehingga terjadi protiferasi sel. Adanya anggapan
bahwa sebagai dasar adanya gangguan keseimbangan hormon androgen dan
estrogen, dengan bertambahnya umur diketahui bahwa jumlah androgen
berkurang sehingga terjadi peninggian estrogen secara retatif. Diketahui estrogen
mempengaruhi prostat bagian dalam (bagian tengah, lobus lateralis dan lobus
medius) hingga pada hiperestrinism, bagian inilah yang mengalami hiperplasia
Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti
penyebab prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa
hiperplasi prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron
(DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab
timbulnya hiperplasi prostat adalah :
a) Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan
estrogen pada usia lanjut.
b) Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu
pertumbuhan stroma kelenjar prostat.
c) Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang
mati.
d) Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel
stem sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel
kelenjar prostat menjadi berlebihan.
Pada umumnya dikemukakan beberapa teori :
1. Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel srem. Oleh karena
suatu sebab seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau
faktor pencetus lain. Maka sel stem dapat berproliferasi dengan cepat,
sehingga terjadi hiperplasi kelenjar periuretral.
2. Teori kedua adalah teori Reawekering (Neal, 1978) menyebutkan
bahwa jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat
embriologi sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari
jaringan sekitarnya.
3. Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan
bahwa dengan bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi

testoteron dan terjadinya konversi testoteron menjadi setrogen.


( Kahardjo, 1995).
C.

PATOFISIOLOGI
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di

sebelah inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar


buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram. Menurut Mc Neal
(1976) yang dikutip dan bukunya Purnomo (2000), membagi kelenjar prostat
dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona sentral, zona transisional,
zona fibromuskuler anterior dan periuretra (Purnomo, 2000). Sjamsuhidajat
(2005), menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan
keseimbangan testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan
terjadi konversi tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer.
Purnomo (2000) menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung
pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan
dirubah menjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase.
Dehidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar
prostat.
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya
perubahan pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan
patofisiologi yang disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh
kombinasi resistensi uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan
kekuatan kontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor dipersarafi oleh sistem
parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem simpatis. Pada
tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi yang
bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan
mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor
menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan
sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok).
Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang
kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan

detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila
keadaan berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi
urin.Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi dan
iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup
lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan miksi),
miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas
setelah miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau
pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering
berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot
detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit ditahan/urgency,
disuria).
Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak
mampu lagi menampung urin, sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari
tekanan sfingter dan obstruksi sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow
incontinence). Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko ureter dan dilatasi.
ureter dan ginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Kerusakan
traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan penderita
harus

mengejan

pada

miksi

yang

menyebabkan

peningkatan

tekanan

intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam
vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi
dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media
pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi
refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005)
D.

MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala

yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal


berkontraksi dengan cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran
miksi melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu
lama

(hesitancy),

harus

mengejan

(straining)

kencing

terputus-putus

(intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin
dan inkontinen karena overflow.
Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau
pembesaran prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering
berkontraksi walaupun belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot
detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun
untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak
(urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer, 2000).
a) Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4
stadium :
1) Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan
urine sampai habis.
2) Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine
walaupun tidak sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada
rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi nocturia.
3) Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
4) Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine
menetes secara periodik (over flow inkontinen).
b) Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa :
Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia,
dorongan ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine
yang turun dan harus mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing
(urine terus menerus setelah berkemih), retensi urine akut.
Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :
1. Rectal Gradding
Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :
(1) Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.
(2) Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.
(3) Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.
(4) Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.
(5) Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.
2. Clinical Gradding

Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh
kencing dahulu kemudian dipasang kateter.
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
E.

Normal : Tidak ada sisa


Grade I : sisa 0-50 cc
Grade II : sisa 50-150 cc
Grade III : sisa > 150 cc
Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan

semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak
mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan
apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000)
Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik
mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid.
Stasis urin dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah
keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria
menjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan
sistitis dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).
F.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH

tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis


(a) Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah,
diberikan pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor
alfa seperti alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek
positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses
hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak
dianjurkan untuk pemakaian lama.
(b) Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan
biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)

(c) Stadium III


Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila
diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai
dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan
terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.
(d) Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan
penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi
diagnosis, kemudian terapi definitive dengan TUR atau pembedahan
terbuka.
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan
dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan
memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif
adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi
LH.
Menurut Mansjoer (2000) dan Purnomo (2000), penatalaksanaan pada
BPH dapat dilakukan dengan:
a. Observasi
Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat
dekongestan, kurangi kopi, hindari alkohol, tiap 3 bulan kontrol
keluhan, sisa kencing dan colok dubur.
b. Medikamentosa
1. Penghambat alfa (alpha blocker)
Prostat

dan

dasar

buli-buli

manusia

mengandung

adrenoreseptor-1, dan prostat memperlihatkan respon mengecil


terhadap agonis. Komponen yang berperan dalam mengecilnya
prostat dan leher buli-buli secara primer diperantarai oleh reseptor
1a. Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkan hasil
berupa perbaikan subjektif dan objektif terhadap gejala dan tanda
(sing and symptom) BPH pada beberapa pasien. Penghambat alfa

dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor dan waktu


paruhnya
2. Penghambat 5-Reduktase (5-Reductase inhibitors)
Finasteride

adalah

penghambat

5-Reduktase

yang

menghambat perubahan testosteron menjadi dihydratestosteron.


Obat

ini

mempengaruhi

komponen

epitel

prostat,

yang

menghasilkan pengurangan ukuran kelenjar dan memperbaiki


gejala. Dianjurkan pemberian terapi ini selama 6 bulan, guna
melihat efek maksimal terhadap ukuran prostat (reduksi 20%) dan
perbaikan gejala-gejala
3. Terapi Kombinasi
Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat
5-Reduktase memperlihatkan bahwa penurunan symptom score
dan peningkatan aliran urin hanya ditemukan pada pasien yang
mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi kombinasi
tambahan sedang berlangsung
4. Fitoterapi
Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan
ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk tujuan medis. Penggunaan
fitoterapi pada BPH telah popular di Eropa selama beberapa tahun.
Mekanisme kerja fitoterapi tidak diketahui, efektifitas dan
keamanan fitoterapi belum banyak diuji

c. Terapi Bedah
Indikasinya adalah bila retensi urin berulang, hematuria,
penurunan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih berulang, divertikel
batu saluran kemih, hidroureter, hidronefrosis jenis pembedahan:

(1) TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy)


Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar
prostat melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan
malalui uretra.
(2) Prostatektomi Suprapubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang
dibuat pada kandung kemih.
(3) Prostatektomi retropubis
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada
abdomen bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa
memasuki kandung kemih.
(4) Prostatektomi Peritoneal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah
insisi diantara skrotum dan rektum.
(5) Prostatektomi retropubis radikal
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula,
vesikula seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui
sebuah insisi pada abdomen bagian bawah, uretra
dianastomosiskan ke leher kandung kemih pada kanker
prostat.
d. Terapi Invasif Minimal
1). Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)
Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang
disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang
melalui/pada ujung kateter.
2). Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy
3). Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD)
G.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Darah rutin

Leukosit meningkat

Haemoglobin menurun

Hematokrit menurun

Trombosit menurun

b. Darah kimia

BUN meningkat

Kreatinin meningkat

c. Urine lengkap

Leukosit meningkat

Eritrosit meningkat

d. Cystoscopy
Pemeriksaan langsung dari kandung kemih dengan menggunakan
instrumen yang disebut cystoscopy. Pada pemeriksaan ini akan
menunjukkan adanya pembesaran kelenjar prostat.
e. EKG (elektrokardiogram)
Untuk menilai status jantung pre operasi, digunakan sebagai dasar
untuk membandingkan bila timbul perubahan.
f. IVP (INTra Venous Pyelogram)
Untuk melihat adanya obstruksi dan beratnya obstruksi ginjal.
g. PSA (Prostat Specific Antigen)
Digunakan untuk mendeteksi kanker prostat. PSA akan meningkat
dengan adanya kanker prostat.
h. USG (Ultra Sonography)
Trans Rectal Ultrasound (TRUS) dilakukan untuk mendeteksi
kanker prostat tak teraba.

Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan


pada pasien dengan BPH adalah :
a. Laboratorium
1. Sedimen Urin

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran


kemih.
2. Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan
sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.
b. Pencitraan
1) Foto polos abdomen
Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan
kadang menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang
merupakan tanda dari retensi urin.
2) IVP (Intra Vena Pielografi)
Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau
hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada bulibuli.
3) Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)
Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur
sisa urin dan keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
4) Systocopy :
Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra
parsprostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


PADA KLIEN DENGAN BPH
A.

PENGKAJIAN

Pengkajian pada pasien BPH dilakukan dengan pendekatan proses


keperawatan. Menurut Doenges (1999) fokus pengkajian pasien dengan BPH
adalah sebagai berikut :
1. Sirkulasi
Pada kasus BPH sering dijumpai adanya gangguan sirkulasi; pada
kasus preoperasi dapat dijumpai adanya peningkatan tekanan darah yang
disebabkan oleh karena efek pembesaran ginjal. Penurunan tekanan darah;
peningkatan nadi sering dijumpai pada. kasus postoperasi BPH yang terjadi
karena kekurangan volume cairan.
2. Integritas Ego
Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas
egonya karena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan yang
dapat dilihat dari tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan
perilaku.
3. Eliminasi
Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali dialami
oleh pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam memulai
aliran urin, aliran urin berkurang, pengosongan kandung kemih inkomplit,
frekuensi berkemih, nokturia, disuria dan hematuria. Sedangkan pada
postoperasi BPH yang terjadi karena tindakan invasif serta prosedur
pembedahan sehingga perlu adanya obervasi drainase kateter untuk
mengetahui adanya perdarahan dengan mengevaluasi warna urin. Evaluasi
warna urin, contoh: merah terang dengan bekuan darah, perdarahan dengan
tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna keruh, gelap dengan bekuan.
Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga ada kemugkinan terjadinya
konstipasi. Pada preoperasi BPH hal tersebut terjadi karena protrusi prostat ke
dalam rektum, sedangkan pada postoperasi BPH, karena perubahan pola
makan dan makanan.
4. Makanan dan cairan
Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena efek
penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek dari anastesi
pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala: anoreksia, mual, muntah,

penurunan berat badan, tindakan yang perlu dikaji adalah awasi masukan dan
pengeluaran baik cairan maupun nutrisinya.
5. Nyeri dan kenyamanan
Menurut hierarki Maslow, kebutuhan rasa nyaman adalah kebutuhan
dasar yang utama. Karena menghindari nyeri merupakan kebutuhan yang
harus dipenuhi. Pada pasien postoperasi biasanya ditemukan adanya nyeri
suprapubik, pinggul tajam dan kuat, nyeri punggung bawah.
6. Keselamatan/ keamanan
Pada kasus operasi terutama pada kasus penyakit BPH faktor
keselamatan tidak luput dari pengkajian perawat karena hal ini sangat penting
untuk menghindari segala jenis tuntutan akibat kelalaian paramedik, tindakan
yang perlu dilakukan adalah kaji adanya tanda-tanda infeksi saluran
perkemihan seperti adanya demam (pada preoperasi), sedang pada postoperasi
perlu adanya inspeksi balutan dan juga adanya tanda-tanda infeksi baik pada
luka bedah maupun pada saluran perkemihannya.
7. Seksualitas
Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi terkadang
mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya,
takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim, penurunan kekuatan
kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau nyeri tekan pada prostat.
8. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan pada pasien preoperasi maupun
postoperasi BPH. Pada preoperasi perlu dikaji, antara lain urin analisa, kultur
urin, urologi., urin, BUN/kreatinin, asam fosfat serum, SDP/sel darah putih.
Sedangkan pada postoperasinya perlu dikaji kadar hemoglobin dan hematokrit
karena imbas dari perdarahan. Dan kadar leukosit untuk mengetahui ada
tidaknya infeksi.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
1. Perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi aliran urine
2. Resiko infeksi b.d pemasangan kateter, retensi urine
3. Nyeri b.d retensi urine, distensi kandung kemih
4. Kecemasan b.d pembedahan yang akan dihadapi dan kurang
pengetahuan tentang aktivitas rutin dan aktivitas post operasi
Post Operasi
1. Resiko tinggi kurang volume cairan tubuh b.d obstruksi aliran urine
2. Nyeri b.d obstruksi kateter, spasme kandung kemih
3. Resiko tinggi infeksi b.d pemasangan kateter
4. Resiko tinggi perubahan sexual : penurunan libido b.d cemas karena
inkontinensia.
5. Resiko tinggi perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi
kateter urine

C. RENCANA KEPERAWATAN
1. Perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi aliran urine
Hasil Yang Diharapkan :
Pasien akan kembali mempertahankan eliminasi urine normal ditandai
dengan, keluaran urine 0,5 1 cc/kg BB/jam
Intervensi
1) Monitor intake cairan dan out put urine
Rasional : Menilai

keseimbangan

antara

pemasukan

dan

pengeluaran urine. Pengeluaran urine yang kurang


menandakan terjadinya retensi urine.
2) Kaji distensi kandung kemih dengan palpasi daerah supra pubis
Rasional : Distensi kandung kemih merupakan indikasi retensi
urine

3) Anjurkan klien untuk tidak mengejan saat BAK


Rasional : Peningkatan tekanan abdomen akan mengakibatkan
rusaknya pembuluh darah kandung kemih yang akan
menyebabkan hematuria
4) Kolaborasi dengan medik untuk pemasangan kateter
Rasional : Pemasangan kateter merupakan penanganan medis
yang sifatnya sementara untuk melancarkan aliran
urine dari kandung kemih.
2. Resiko infeksi b.d pemasangan kateter, retensi urine
Hasil Yang Diharapkan
Pasien tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi ditandai
dengan : - Suhu 36 37 oC
- Nadi 60 100 x/menit
- Pernafasan 12 20 x/menit
- Leukosit 5.000 10.000
Intervensi
1) Observasi tanda tanda vital (terutama suhu)
Rasional : Peningkatan suhu merupakan salah satu indikasi
adanya proses infeksi
2) Rawat kateter internal secara periodik
Rasional : Mencegah infeksi
3) Berikan minum sesuai kebutuhan ( 2500 3000 cc/ hari)
Rasional : Melancarkan aliran urine, mencegah statis urine
sehingga infeksi tidak terjadi.
4) Kolaborasi medik untuk pemberian Antibiotik
Rasional : Mencegah infeksi
5) Kolaborasi medik untuk pemeriksaan laboratorium (leukosit)
Rasional : Memantau peningkatan nilai leukosit yang merupakan
indikasi adanya proses infeksi.

3. Nyeri b.d retensi urine, distensi kandung kemih


Hasil Yang Diharapkan
-

Pasien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang

Intensitas nyeri 0 1

Ekspresi wajah tampak rileks

Intervensi
1) Kaji keluhan nyeri pasien, gunakan skala nyeri 0 10
Rasional : Menentukan tindakan yang akan dilakukan
2) Ajarkan pasien teknik relaksasi, menarik nafas dalam
Rasional : Relaksasi otot mengurangi nyeri
3) Anjurkan pasien untuk tirah baring
Rasional : Mengurangi ketegangan kandung kemih
4) Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgetik
Rasional : Mengurangi nyeri
4. Kecemasan b.d pembedahan yang akan dihadapi dan kurang
pengetahuan tentang aktivitas rutin dan aktivitas post operasi
Hasil Yang Diharapkan :
Klien akan menyebutkan alasan pembatasan aktivitas, kateterisasi,
irigasi dan peningkatan asupan cairan.
Intervensi :
1) Pertegas penjelasan dokter tentang operasi yang telah dijadwalkan
dan jawab beberapa pertanyaan.
2) Jelaskan prosedur operasi yang telah diperkirakan seperti di bawah
ini :
- Kateterisasi
- Irigasi manual dan kontinyu
- Infus intra vena
3) Jelaskan pembatasan aktivitas yang diharapkan
- Tirah baring untuk hari pertama post operasi
- Mobilisasi aktif dimulai hari pertama post operasi
- Hindari aktivitas yang mengencangkan daerah kandung kemih

Rasional : 1 3 pemahaman klien dapat membantu mengurangi


kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan
akibat ketidaktahuan
4) Jelaskan bahwa hematuri sementara adalah normal dalam periode
segera setelah operasi
Rasional : Menyiapkan klien terhadap hematuri post operasi,
mencegah klien terkejut atas kejadian tersebut.
5) Jelaskan pentingnya asupan cairan
Rasional : Urine yang encer menghambat pembentukan bekuan
darah
Post Operasi
1. Resiko tinggi kurang volume cairan tubuh b.d perdarahan post operasi
Hasil Yang Diharapkan :
Perdarahan post operasi dapat terkontrol, ditandai dengan
-

TD

: 120/80 130/85 mmHg

: 60 100 x/menit

Hb

: 12 18 mg/dl

HL

: 37 52 %

Intervensi
1) Pantau tanda tanda perdarahan
Rasional : Selama 24 jam pertama setelah pembedahan, urine
berwarna pink atau merah terang, secara bertahap
menjadi kekuningan sampai sedikit berwarna pink
sampai hari keempat post operasi. Urine yang
berwarna

merah

terang

dengan

bekuan

darah

menunjukkan pendarahan arteri.


2) Pantau keluaran urine lewat kateter
Rasional : Pendekatan pembedahan transurethra mengakibatkan
perdarahan hebat.

3) Instruksikan klien untuk menghindari mengedan ketika BAB


Rasional : Peningkatan tekanan pada kandung kemih dapat
meningkatkan penekanan pada daerah operasi dan
mencetuskan pendarahan.
4) Lakukan irigasi kandung kemih sesuai pesanan
Rasional : Irigasi kandung kemih kontinyu dengan normal saline
mengencerkan darah dalam urine untuk mencegah
pembentukan bekuan darah.
2. Nyeri b.d obstruksi kateter, spasme kandung kemih
Hasil Yang Diharapkan
-

Nyeri berkurang/hilang, intensitas nyeri 0 - 1

Pasien melaporkan pengurangan nyeri

Intervensi
1) Pantau nyeri suprapubik, spasme kandung kemih, sensasi terbakar
pada ujung penis, gunakan skala nyeri 0 10
Rasional : Iritasi dari kateter folley dapat menyebabkan spasme
kandung kemih dan nyeri pada ujung penis. Obstruksi
kateter dapat menyebabkan retensi urine yang
menimbulkan

spasme

kandung

kemih

dan

peningkatan resiko infeksi


2) Fiksasi kateter dengan tepat, hindari manipulasi berlebihan
Rasional : Tekanan dari kateter yang terjuntai dapat merusak
sfingter yang mengakibatkan inkontinensia urine
setelah pencabutan kateter. Gerakan kateter juga
meningkatkan spasme kandung kemih.
3) Dorong klien untuk meningkatkan asupan cairan oral yang adekuat
(minimal 2 liter/hari, kecuali ada kontra indikasi)
Rasional : Hidrasi yang adekuat meningkatkan pengenceran
urine yang membantu mendorong bekuan darah
keluar

4) Beri obat sesuai instruksi untuk nyeri dan spasme


Rasional : Obat anti spasmodik mencegah spasme kandung
kemih. Obat analgetik mengurangi nyeri.
3. Resiko tinggi infeksi b.d pemasangan kateter
Hasil Yang Diharapkan
Tidak ada tanda tanda infeksi, ditandai dengan :
-

Suhu 36 37 oC

Leukosit 5.000 10.000

Intervensi
1) Jaga sterilitas sistem kateterisasi, rawat kateter secara teratur
dengan sabun dan air, olesi bethadin sekitar orifisium urethra
Rasional : Mencegah infeksi
2) Jaga drainase urine, hindari masuknya urine kembali ke dalam
kandung kemih
Rasional : Refluks urine dari kantong urine kembali ke kandung
kemih dapat menyebabkan infeksi
3) Monitor tanda tanda vital (terutama suhu)
Rasional : Peningkatan suhu tubuh merupakan salah satu
indikasi adanya proses infeksi
4) Monitor nilai laboratorium (leukosit)
Rasional : Leukosit merupakan salah satu sistem kekebalan
tubuh peningkatan leukosit merupakan tanda adanya
infeksi
5) Berikan anti biotik sesuai program medik
Rasional : Anti biotik mencegah infeksi
4. Resiko tinggi perubahan seksual : penurunan libido b.d cemas karena
inkontinensia.
Hasil Yang Diharapkan
-

Ekspresi wajah rileks dan melaporkan kecemasan berkurang

Mengungkapkan pengertiannya tentang situasi individual

Mendemonstrasikan kemampuan mengatasi masalah

Intervensi
1) Siapkan lingkungan yang menjamin privasi dan rahasia untuk
diskusi dan dorong klien untuk mengekspresikan kekhawatirannya
Rasional : Banyak klien enggan untuk mendiskusikan hal hal
yang berkenaan dengan seksual. Privasi mungkin
mendorong klien berbagi rasa.
2) Gunakan istilah istilah umum jika mungkin dan jelaskan tentang
istilah istilah yang tidak umum.
3) Dorong klien untuk menanyakan kepada dokter selama di rawat
dan pada kunjungan lanjutan.
Rasional : Dialog terbuka dengan dokter mendorong untuk
mengklarifikasikan kekhawatiran dan memberikan
akses ke penjelasan yang spesifik
5. Resiko tinggi perubahan pola eliminasi : retensi urine b.d obstruksi
kateter urine
Hasil Yang Diharapkan
-

Urine dalam jumlah yang cukup (0,5 1 cc/kg BB/ja )

Tidak ada tanda kandung kemih penuh

Intervensi
1) Kaji keluhan pasien : kandung kemih penuh, nyeri
Rasional : Retensi kandung kemih dapat menyebabkan spasme
kandung kemih dan menyebabkan nyeri.
2) Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan
Rasional : Menilai

keseimbangan

pengeluaran.

antara

Pengeluaran

pemasukan

urine

menandakan terjadinya retensi urine.


3) Lakukan irigasi kandung kemih sesuai pesanan

yang

dan

kurang

Rasional : Irigasi kandung kemih secara kontinyu mengencerkan


darah dalam urine untuk mencegah pembentukan
bekuan darah dan mencegah obstruksi kateter.
4) Pastikan asupan cairan yang adekuat ( oral, parenteral )
Rasional : Hidrasi yang optimal mengencerkan urine untuk
mencegah pembentukan bekuan darah dan obstruksi
kateter
D. PERENCANAAN PULANG
1. Jelaskan kepada pasien jangan mengangkat beban berat
2. Anjurkan untuk banyak minum air putih
3. Jelaskan tentang obat obat yang di minum, dosis, jadwal pemberian
dan efek samping obat (biasanya analgetik dan antibiotik).
4. Jelaskan kepada pasien tentang komplikasi yang mungkin muncul
setelah TURP, termasuk striktur urethra, inkontinensia dan fertilitas.
5. Ajarkan kepada pasien tentang Kegels exercise untuk mengontrol
komplikasi inkontinensia.
6. Jelaskan kepada pasien tentang potensial berulangnya BPH (biasanya
10 tahun atau lebih setelah operasi)
7. Anjurkan kepada pasien untuk follow-up ke dokter setelah TURP
8. Jelaskan tentang tanda dan gejala retensi urine, perdarahan atau infeksi
setelah TURP dan segera ke dokter.