Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

Analisis Kuantitatif
Penetapan Kadar Asam Borat Secara Asidi-Alkalimetri

Asisten : Pak Hendry


Nama Kelompok E :
1.
2.
3.
4.

Debora Agustina
Puspita
Dona Ariana
Venny Fransisca

(2443013024)
(24430130 )
(2443013161)
(2443013305)

Golongan : P

UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA


SURABAYA

I.

Landasan teori

Asidi alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang
berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang
bersifat netral. Netralisasi juga dapat dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam)
dengan penerima proton. Metode titrimetri masih digunakan secara luas karena merupakan
metode yang tahan, murah, dan mampu memberikan ketepatan yang tinggi. Keterbatasan
metode ini adalah bahwa metode titrimetrik kurang spesifik. Dalam analisis titrimetri atau
analisis volumetri atau analisis kuantitatif dengan mengukur volume, sejumlah zat yang
diselidiki direaksikan dengan larutan baku (standar) yang kadar (konsentrasinya) telah
diketahui secara teliti dan reaksinya berlangsung secara kuantitatif. Suatu titrasi yang ideal
adalah jika titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen teoritis. Dalam kenyataannya selalu
ada perbedaan kecil. Beda ini disebut dengan kesalahan titrasi yang dinyatakan dengan
mililiter larutan baku. Oleh karena itu, pemilihan indikator harus dilakukan sedemikian rupa
agar kesalahan ini sekecil-kecilnya. Dalam larutan, kadar bahan yang terlarut (solut)
dinyatakan dengan konsentrasi. Istilah ini berarti banyaknya massa yang terlarut dihitung
sebagai berat (gram) tiap satuan volume (mililiter) atau tiap satuan larutan, sehingga satuan
kadar seperti ini adalah gram/mililiter (Rohman, 2007).
Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa- senyawa
yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya, alkalimetri merupakan
penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa.
Keasaman permukaan merupakan jumlah asam total (asam Brnsted dan asam Lewis) pada
permukaan padatan yang dinyatakan sebagai jumlah milimol asam perberat sampel
(Widihati, 2008).
Pada analisis titrimetri atau volumetrik, untuk mengetahui saat reaksi sempurna dapat
dipergunakan suatu zat yang disebut indikator. Indikator umumnya adalah senyawa yang
berwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH.
Indikator dapat menanggapi munculnya kelebihan titran dengan adanya perubahan warna.
Indikator berubah warna karena system kromofornya diubah oleh reaksi asam basa (Suirta,
2010).

Prinsip :

Titrasi asam-basa atau titrasi asidi-alkalimetri merupakan metode titrimetri merupakan reaksi
antara asam dengan basa. Reaksi ini disebut reaksi netralisasi, yaitu reaksi antara OH - dengan

H+ membentuk molekul air (H2O).


Dasar reaksi

Pemerian
Hablur, serbuk hablur putih atau sisik mengkilap tidak berwarna, kasar, tidak berbau, rasa

agak asam, pahit, kemudian manis.


Kelarutan
Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air mendidih, dalam 16 bagian etanol (95%) P dan

dalam 5 bagian gliserol P.


Penetapan kadar
Larutkan 0,2 gram Asam borat dalam 10 ml air. Tambahkan 50 ml gliserin yang telah
dinetralkan dengan phenolptalein, tambahkan indicator PhenolPtalein dan titrasi dengan

II.

NaOH 0,1 N sampai warna merah muda stabil.


Alat
Pipet volume
Labu takar
Pengaduk
Beker glass
Erlemeyer
Gelas ukur
Buret
Kaki tiga
Klem

Bahan

NaOH 0,1 N
Asam oksalat
Asam borat
Aquadet
Gliserin P
PhenolPtalein

III.

Cara kerja
Pembuatan NaOH 0,1 N 100 ml
N
= W/BM x 1000/V x valensi
0,1
= W/40 x 1000/100 x 1
W
= 0,4 gram
Timbang NaOH 0,4 gram Larutkan dengan aquadest ad 100 ml.
Pembuatan baku primer asam oksalat 0,1 N 50 ml
N
= W/BM x 1000/v x valensi
0,1
= W/126,07 1000/50 x 2
W
= 0,3152 gram
Timbang asam oksalat 0,3152 gram pada botol timbang larutkan dengan aquadest

pindahkan ke labu takar 50 ml tambahkan dengan aquadest sampai batas tanda 50 ml.
Pembuatan indikator Phenolptalein LP
Larutkan 1 gram phenolptalein dalam 100 ml etanol P
Pembuatan Gliserin yang dinetralkan dengan phenolptalein
Ambil gliserin yang dibutuhkan tambahkan indicator phenolptalein teteskan NaOH
kedalam campuran gliserin dan indicator phenolptalein sampai terjadi perubahan warna

menjadi merah muda.


Pembakuan Larutan NaOH dengan asam oksalat
Baku primer asam oksalat 0,1 N pipet @10 ml dengan pipet volume masukkan
kedalam erlemeyer Tambahkan indikator phenolptalein Titrasi dengan NaOH 0,1 N
Amati perubahan warna sampai merah muda dan hentikan titrasi.

IV.

Hasil Praktikum
Berat botol kosong
Berat botol + asam oksalat
Berat asam oksalat
Molaritas asam oksalat

= 9,1096
= 9,4355
= 0,3259
= 0,3259/126,07 x 1000/50 x2
= 0,1034 M
Pembakuan NaOH 0,1 N dengan asam oksalat

Titrasi
I
II
III

V Asam Oksalat
10 ml
10 ml
10 ml

M Asam Oksalat
0,1034
0,1034
0,1034

Aturan 4d untuk pembakuan


- 0,1112
- 0,1112
- 0,1130
Data yang dicurigai = 0,1130

V NaOH
9,30
9,30
9,15

M NaOH
0,1112
0,1112
0,1130

Rata rata
= 0,1112
d
= 0,1112 - 0,1112
=0
d
= 0,1112 - 0,1112
=0
4d
=0x4
=0
d*
= 0,1130 0,1112
=0,0018
*
d > 4d (0,1130 tidak dimasukkan dalam perhitungan)
Molaritas rata rata NaOH = 0,1112 M

Penetapan Kadar
Titrasi
I
II
III

W Asam Borat (gram)


0,3222
0,3295
0,3071

Perhitungan Kadar
% kadar (I) = 8,50 x 0,1112 x 6,184
X 100%
322,2 x 0,1
= 18,14 %
% kadar (II) = 11,40 x 0,1112 x 6,184 x 100%
329,5 x 0,1
= 23,79 %
% kadar (III) = 7,10 x 0,1112 x 6,184 x 100%
307,1 x 0,1
= 15,90 %
Aturan 4d untuk % kadar
- 15,90
- 18,14
- 23,79
Data yang dicurigai = 23,79
Rata rata
= 17,02
d
= 17,02 15,90
= 1,12
= 17,02 18,14
= 1,12
4d
= 4 x 1,12
= 4,48
d*
= 17,02 23,79
= 6,77
d* > 4d (23,79 tidak dimasukkan kedalam data perhitungan)
Maka, rata rata persentase kadar
Kadar sesungguhnya
Penyimpangan

V.

V NaOH (ml)
8,50
11,40
7,10

Pembahasan

= 17,02 %
= 16,80 %
= 1,3 %

M NaOH
0,1112
0,1112
0,1112

Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret (titran) yang
ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volume atau molaritasnya sampai terjadi
reaksi sempurna pada titer yang belum diketahui konsentrasinya. Asidimetri adalah
pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimetri
adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu,
keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Pada praktikum ini praktikan melakukan
titrasi asidi alkalimetri untuk penetapan kadar asam borat, dimana sampel berupa asam dan
titran atau larutan standar merupakan basa yaitu Natrium Hidroksida (NaOH). Titrasi ini
dilakukan karena asam borat yang merupakan zat tambahan yang digunakan sebagai
pengawet dalam sediaan sampel harus diketahui kadarnya. Suatu pengawet dalam sediaan
obat harus sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan, tidak kurang dan tidak lebih atau harus
sesuai dengan peraturan yang tertera pada Farmakope. Jika kadarnya berlebih maka akan
merugikan dan membahayakan orang yang mengkonsumsi obat tersebut. Selain itu,
kegunaan asam borat juga sebagai adalah untuk obat-obatan, dan yang berhubungan dengan
lapangan farmasi, seperti untuk obat kumur, obat semprot hidung dan formula kesehatan
untuk muka.
Pada penetapan asam borat digunakan gliserin yang sudah dinetralkan. Penetralan ini
berfungsi agar gliserin tidak ikut bereaksi dalam titrasi asam-basa, untuk mengetahui gliserin
yang sudah netral digunakan indikator phenoptalein. Gliserin fungsi utamanya adalah sebagai
penguat asam lemah, karena asam borat merupakan asam lemah dan tidak dapat di titrasi
sehingga memerlukan senyawa golongan polihidroksi yang berfungsi membuat asam ini
lebih kuat dan dapat di titrasi. Senyawa golongan polihidroksi contohnya adalah mannitol,
sorbitol, dan gliserin. Ketika asam borat direaksikan dengan gliserin akan membentuk
kompleks asam borat yang dapat bereaksi dengan basa. Selain itu, Gliserin merupakan
kosolven yaitu zat yang berfungsi meningkatkan kelarutan. Kosolven adalah pelarut yang
ditambahkan dalam suatu sistem untuk membantu melarutkan atau meningkatkan stabilitas
dari suatu zat. Kosolven dapat meningkatkan kelarutan dan stabilitas suatu bahan. Kosolven
mempunyai dua sifat yaitu hidrofilik (suka akan air) dan hidrofobik (tidak suka akan air).
Kedua sifat ini yang akan membantu dalam peningkatan kelarutan suatu larutan.
Sebelum sampel dititrasi dengan titran, titran perlu dibakukan terlebih dahulu. NaOH
merupakan baku sekunder karena tidak stabil, tidak mempunyai kemurnian yang tinggi dan
sulit mendapatkan zat dalam keadaan murni. NaOH dibakukan dengan asam oksalat karena

asam oksalat mempunyai pH yang stabil. Kemudian, sampel dititrasi dengan NaOH sebagai
larutan baku karena senyawa sampel bersifat asam sehingga jika dititrasi larutan baku yang
digunakan harus bersifat basa. Titrasi ini menggunakan indikator phenolptalein. Indikator
fenolftalein merupakan larutan basa atau asam lemah yang berfungsi untuk mengetahui titik
ekuivalen dalam titrasi. Titik ekuivalen merupakan titik dimana senyawa tepat habis bereaksi.
Titik akhir titrasi merupakan keadaan yang ditandai dengan adanya perubahan warna yaitu
merah muda stabil dan titrasi dihentikan. Reaksi yang terjadi antara asam borat dan NaOH
yaitu,
H3BO3 kompleks + NaOH NaH2O3 kompleks + H2O
Dari hasil perhitungan kadar asam borat diperoleh hasil kadar asam borat dalam sediaan
obat adalah 17,02 % dari hasil kadar sesungguhnya adalah 16,80 %. Hal ini disebabkan
kemungkinan karena kesalahan pengamatan ketika penambahan titran. Ketika sudah
mencapai titik akhir titrasi tetapi belum terlihat perubahan warna yang jelas sehingga
praktikan tetap melanjutkan titrasi dan mendapatkan kadar yang lebih besar dari
sesungguhnya. Dari penetapan kadar asam borat ini didapatkan persentase kesalahan
sebanyak 1,3 %.
VI.

VII.

Simpulan
Kadar Asam Borat dalam sampel adalah 17,02 %
Persentase kesalahan titrasi adalah 1,3 %
Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan RI . 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Dirjen POM. Jakarta.
Jeffery, G.H. 1989. Vogels Textbook of Quantitative Chemical Analysis. Longman
Scientific & Technical. London