Anda di halaman 1dari 16

PARTUS PREMATURUS

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

LATAR BELAKANG

Persalinan preterm adalah persalinan pada kehamilan antara 20 37 minggu. Meskipun angka
kejadian 10 15% kehamilan namun kontribusinya terhadap morbiditas dan mortalitas neonatal
adalah sekitar 50 70%. 75% kematian neonatus pada persalinan preterm disebabkan oleh
karena kelainan kongenital.
Untuk menurunkan dampak medis dan ekonomis dari persalinan preterm, tujuan utama dari
perawatan obstetri tidak hanya menurunkan angka kejadian persalinan preterm namun juga untuk
meningkatkan usia kehamilan dimana persalinan preterm tidak dapat dihindari.
I.2

RUMUSAN MASALAH

Bagaimana definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan partus


prematurus?

Bagaimana definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan partus


prematurus?
I.3

TUJUAN

Mengetahui definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan partus


prematurus.

Mengetahui definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan partus


prematurus.
I.4

MANFAAT
Menambah wawasan mengenai penyakit di bidang kebidanan khususnya partus prematurus.

Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik
bagian ilmu kebidanan dan kandungan.

BAB II
STATUS PASIEN

II.1

IDENTITAS PASIEN

No Reg : 259572
Nama penderita

: Ny. SA

Nama suami

: Tn. AS

Umur penderita

: 20 tahun

Umur suami

:25tahun

Alamat

: jln bromo 09/05 sukun kepanjen

Pekerjaan penderita

: IRT

Pekerjaan suami: pekerja bengkel

Pendidikan penderita : SMA tamat Pendidikan suami :STM tamat


II.2

ANAMNESA

Masuk rumah sakit tanggal : 12 juli 2011 pukul 10.20 WIB


Datang sendiri/dikirim oleh dukun/bidan/dokter/dokter ahli : dating sendiri
Keluhan utama : perut terasa kenceng-kenceng
Riwayat penyakit sekarang :
Tanggal 11 juli 2011 (22.00 WIB) pasien mengeluh perut terasa kenceng-kenceng sering tanpa
disertai keluar cairan lewat jalan lahir. Kemudian tanggal 12 juli 2011 (07.00 WIB) pasien
mengeluh mengeluarkan darah lendir lewat jalan lahirnya. Sehingga pasien periksa ke RSUD
Kanjuruhan, pukul 10.20 WIB pasien tiba di kaber.
Riwayat kehamilan yang sekarang : hamil ini (anak pertama), ANC 2 kali ke bidan, pijat oyok 1
kali.
Riwayat menstruasi : menarche 14 tahun, , HPHT : 7 januari 2011, HPL : 14 oktober 2011, UK :
28-30 minggu.
Riwayat perkawinan : 1 kali, lama 1 tahun, umur pertama kawin 20 tahun.
Riwayat persalinan sebelumnya : (-)
Riwayat penggunaan kontrasepsi
: tidak ditemukan.
Riwayat penyakit dahulu
: tidak ditemukan
Riwayat penyakit keluarga
: tidak ditemukan
Riwayat kebiasaan dan sosial
: alcohol (-), Jamu (-), Kopi (-)
II.3
PEMERIKSAAN FISIK
Status present
Keadaan umum : cukup, Kesadaran compos mentis
Tekanan darah: 120/80 mmHg, nadi: 98x/menit, suhu: 36,6C, RR: 20x/menit.
Pemeriksaan umum
Kulit : gatal (-) luka (-), warna : sawo matang.
Kepala :
Mata
: conjungtiva anemi -/-, sclera ikterik -/-, odem palpebra -/-

Wajah

: simetris

Mulut

: kebersihan gigi geligi cukup, stomatitis (-),

hiperemi pharyng (-), pembesaran tonsil(-)


Leher : pembesaran kelenjar limfe di leher (-), pembesaran kelenjar tyroid (-)
Thorax
Paru :
Inspeksi : Pergerakan pernafasan simetris, tipe pernapasan normal.
Retraksi costa -/Palpasi : teraba massa abnormal -/-, pembesaran kelenjar axilla -/Perkusi : sonor +/+, hipersonor -/-, pekak -/Auskultasi : vesikuler +/+, suara nafas menurun -/-, wheezing -/-, ronchi -/Jantung :
Inspeksi : iktus cordis tidak tampak
Palpasi : thrill
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : denyut jantung regular, S1/S2
Abdomen
Inspeksi : flat (-), distensi (-), gambaran pembuluh darah collateral (-).
Palpasi : pembesaran organ (-), nyeri tekan (-), teraba massa abnormal (-)
jari dibawah prosesus xipoideus

Tinggi fundus uteri 3

Perkusi : tympani (+)


Auskultasi : suara bising usus normal, metalic sound (-)
Ekstremitas: odema -/Status obstetri :
Pemeriksaan luar :
Leopold I
: diatas bulat, besar, lunak, kurang lenting, TFU : pusat-prosesus xiphoideus
(25 cm), kesan bagian teratas janin : bokong.

Leopold II
: tahanan memanjang di sebelah kiri, bagian kanan teraba bagian kecil janin,
punggung janin : punggung kiri, tunggal
Leopold III
: di bagian bawah teraba bulat, besar, keras, melenting, bagian terendah janin :
kepala sudah masuk PAP
Leopold IV

: kepala Hodge I

Bunyi jantung janin: 152x/menit, regular, tunggal


Pemeriksaan Dalam
Dilakukan oleh

: bidan

Pengeluaran pervaginam :
Vulva / vagina

: blood slym(+)

Pembukaan

: 6-7 cm

Penipisan portio

: 50%

Kulit Ketuban

: (+)

Bagian terdahulu

: belum teraba

Bagian tersamping terdahulu : belum teraba


Bagian terendah

: belum teraba

Hodge

:I

Molase

II.4

Ringkasan

Anamnesa

Tanggal 11 juli 2011 (22.00 WIB) pasien mengeluh perut terasa kenceng-kenceng sering.
Kemudian tanggal 12 juli 2011 (07.00 WIB) pasien mengeluh mengeluarkan darah lendir lewat
jalan lahirnya. Sehingga pasien periksa ke RSUD Kanjuruhan, pukul 10.20 WIB pasien tiba di
kaber. Pasien hamil anak ke I, UK : 28-30 minggu, ANC 2 kali ke bidan, pijat oyok 1 kali.
Pemeriksaan fisik

Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup, kesadaran compos mentis, Tekanan
darah: 120/80 mmHg, nadi: 98x/menit, suhu: 36,6C, RR: 20x/menit.
Pemeriksaan luar

Leopold I
: diatas bulat, besar, lunak, kurang lenting, TFU : pusat-prosesus xiphoideus
(25 cm), kesan bagian teratas janin : bokong.
Leopold II
: tahanan memanjang di sebelah kiri, bagian kanan teraba bagian kecil janin,
punggung janin : punggung kiri, tunggal
Leopold III
: di bagian bawah teraba bulat, besar, keras, melenting, bagian terendah janin :
kepala sudah masuk PAP
Leopold IV

: kepala Hodge I

Bunyi jantung janin: 152x/menit, regular, tunggal


Pemeriksaan Dalam
Pengeluaran pervaginam

V/V: blood slym(+), portio 6-7 cm, Penipisan portio: 50%, kulit ketuban (+), Bagian terdahulu
belum teraba, Bagian tersamping terdahulu: belum teraba, Bagian terendah: belum teraba, Hodge
: I.
Diagnosa: GIP0000Ab000, hamil 28-30 minggu letak kepala inpartu.
Rencana tindakan

Observasi inpartu partus spontan

Antibiotic 31

Dexamethasone injeksi 2x2ampul

Infus RL (20 tpm).

Lembar Follow Up
Nama pasien

: Ny. SA

Ruang kelas

: IRNA Brawijaya

Diagnosa

: P0101Ab000, post partum prematur

13Juli 2011
S = nyeri bekas jahitan (+), perdarahan pervaginam (+), panas (-)
O = Cukup
T = 120/80 mmHg

N = 86x/menit

S = 36,8C

RR = 18x/menit

Palpasi
A=

: setinggi umbilicus
post partum hari I

P0101Ab000, post partum prematur


P=

1. Infus RL (20 tpm)

2. observasi perdarahan pervaginam


14 juli 2011
S = nyeri bekas jahitan (+), perdarahan pervaginam (+), panas (-)
O = Cukup
T = 120/80 mmHg

N = 86x/menit

S = 36,8C

RR = 18x/menit

Palpasi
A=

: setinggi umbilicus
post partum hari II

P0101Ab000, post partum prematur


P=

1. Infus RL (20 tpm)

2. observasi perdarahan pervaginam


3. berlatih untuk aktivitas
15 juli 2011
S = nyeri bekas jahitan (+), perdarahan pervaginam (+), panas (-)

O = Cukup
T = 120/80 mmHg

N = 86x/menit

S = 36,8C

RR = 18x/menit

Palpasi
A=

: setinggi umbilicus
post partum hari III

P0101Ab000, post partum prematur


P=

1. observasi perdarahan pervaginam

2. berlatih untuk aktivitas


3. BLPL

LAPORAN KELUAR RUMAH SAKIT


KRS tanggal

: 15 juli 2011

Keadaan ibu waktu pulang

: Keadaan umum : cukup

T: 120/80 mmHgs
S = 36,8C

N = 86x/menit
RR = 18x/menit

PPV (+)
Payudara

: ASI (+)

Fundus uteri

: TFU setinggi pusat

Kontraksi uterus

Perineum

Lochea

: (+)

Lain-lain

: (-)

Diagnosa saat pulang

: P0101Ab000, post partum prematur

Pengobatan

: Motivasi Bedrest, kontrol 1 minggu.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
III.1. DEFINISI
Partus prematurus adalah suatu partus dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetapi belum aterm
(cukup bulan). Berat janin antara 1000 sampai 2500 gram atau tua kehamilan antara 28 minggu
sampai 36 minggu.
III.2 FAKTOR RESIKO
Sejumlah kelainan obstetrik, medis dan anatomis berkaitan dengan kejadian persalinan preterm
seperti terlihat pada tabel dibawah :
III.3 ETIOLOGI
komplikasi medis dan obstetrik
28% persalinan preterm kehamilan tunggal disebabkan oleh beberapa hal :
50% akibat pre eklampsia
25% akibat gawat janin
25% akibat IUGR (intra uterin growth retardation), solusio plasenta atau kematian janin
72% persalinan preterm kehamilan tunggal sisanya adalah persalinan spontan preterm dengan
atau tanpa disertai KPD (ketuban pecah dini).
abortus iminen
Perdarahan pervaginam pada awal kehamilan seringkali berkait dengan meningkatnya perubahan
pada outcome kehamilan.
Weiss dkk (2002) : melaporkan adanya kaitan antara perdarahan pervaginam pada kehamilan 6
13 minggu dengan kejadian meningkatnya persalinan sebelum kehamilan 24 minggu, persalinan
preterm dan solusio plasenta.
gaya hidup
Merokok, kenaikan BB selama kehamilan yang tidak memadai serta penggunaan obat-obatan
tertentu memiliki peranan penting dalam angka kejadian dan outcome BBLR.
Casaenuva 2005 : menyimpulkan bahwa faktor maternal lain yang berkaitan dengan persalinan
preterm adalah :
Kehamilan remaja atau kehamilan pada usia tua
Tubuh dengan posture pendek
Sosial ekonomi kurang

Defisiensi vit C
Faktor pekerjaan (berjalan jauh, berdiri lama, pekerjaan berat, jam kerja yang terlalu lama).
faktor genetik
Perkiraan bahwa terdapat hubungan antara faktor genetik dengan persalinan preterm adalah
berdasarkan pada sifat persalinan preterm yang seringkali berulang, menurun dalam keluarga dan
banyak dijumpai pada ras tertentu.
chorioamnionitis
Infeksi selaput ketuban dan cairan amnion yang disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme
dapat menjelaskan peristiwa KPD (ketuban pecah dini) dan atau persalinan preterm.
Jalan masuk mikroorganisme kedalam cairan amnion pada kondisi selaput ketuban yang masih
utuh tidak jelas.
Endotoksin sebagai produk dari bakteri dapat merangsang monosit desidua untuk menghasilkan
cytokine yang selanjutnya dapat merangsang asam arachidonat dan produksi prostaglandine.
Prostaglandine E2 dan F2 bekerja dengan modus parakrin untuk merangsang terjadinya
kontraksi miometrium.
III.4 IDENTIFIKASI PASIEN YANG MEMILIKI RESIKO TINGGI TERJADINYA
PERSALINAN PRETERM
sistem skoring
Berdasarkan penelitian, sistem skoring tidak memberikan manfaat dalam identifikasi pasien
resiko tinggi mengalami persalinan preterm.
riwayat persalinan preterm
Tabel berikut ini memperlihatkan adanya hubungan yang kuat antara riwayat persalinan preterm
dengan kejadian persalinan preterm berikutnya.
Meskipun pasien hamil dengan riwayat persalinan preterm jelas memiliki resiko tinggi
mengalami persalinan preterm ulangan, namun peristiwa ini hanya 10% dari keseluruhan
persalinan preterm. Dengan kata lain, 90% kejadian persalinan preterm tak dapat diramalkan
berdasarkan riwayat persalinan preterm saja.
inkompetensia servik
Berdasarkan naskah dari American College of Obstetrician and Gynecologist ( 2001) disebutkan
bahwa Inkompetensia servik adalah peristiwa klinis berulang yang ditandai dengan dilatasi
servik yang berulang, persalinan spontan pada trimester II yang tidak didahului dengan KPD,
perdarahan atau infeksi.
dilatasi servik
Dilatasi servik asimptomatik pada kehamilan setelah trimester II adalah faktor resiko terjadinya
persalinan preterm, ahli lain berpendapat bahwa hal tersebut adalah variasi normal terutama pada
pasien multipara.

Pemeriksaan servik pada kunjungan prenatal untuk memperkirakan adanya persalinan preterm
adalah hal yang tak perlu dan berbahaya.
panjang servik
Pemeriksaan ultrasonografi transvaginal (TVS) dapat dilakukan untuk mengukur panjang
serviks. Panjang servik pada kehamilan 24 minggu = 3.5 cm
Owen dkk (2001) : Terdapat hubungan antara panjang servik pada kehamilan 16 24 minggu
dengan kejadian persalinan preterm pada kehamilan < 35 minggu
Owen dkk ( 2003) : Nilai panjang servik untuk meramalkan terjadinya persalinan preterm
sebelum kehamilan 35 minggu hanya sesuai untuk kehamilan dengan resiko tinggi persalinan
preterm.
Iams (2003) pemeriksaan ultrasonografi secara rutin pada kasus kehamilan resiko rendah tidak
perlu dikerjakan.
fetal fibronectin
Adalah glikoprotein yang dihasilkan dalam 20 bentuk molekul dari berbagai jenis sel antara lain
hepatosit, fibroblas , sel endothel serta amnion janin.
Kadar yang tinggi dalam darah maternal serta dalam cairan amnion diperkirakan berperan dalam
adhesi interseluler selama implantasi dan dalam mempertahankan adhesi plasenta pada desidua.
Deteksi fibronectin dalam cairan servikovaginal sebelum adanya ketuban pecah adalah marker
adanya partus prematurus iminen.
Nilai >; 50 ng/mL adalah positif (pemeriksaan dengan metode ELISA dan harus menghindari
kontaminasi dengan darah dan cairan ketuban)
Goldenberg dkk (2000) : pemeriksaan fibronectin bahkan pada kehamilan 8 22 minggu
merupakan prediktor kuat untuk terjadinya persalinan preterm.
Lowe dkk (2004) pemeriksaan fibronectin pada kasus partus prematurus iminen dapat
menurunkan lama waktu tinggal di RS.
Intervensi pada pasien dengan Fibronectin positif
Pemeriksaan fibronectin yang positif sering disebabkan oleh adanya infeksi.
Andrews dkk (2003) melihat efektivitas pemberian antimikroba pada kasus dengan fibronectine
positif pada kehamilan 21 26 minggu untuk mencegah terjadinya persalinan preterm.
vaginosis bakterial

Vaginosis bakterial sebenarnya bukan keadaan infeksi namun adalah satu keadaan dimana flora
vagina normal ( laktobasilus penghasil hidrogen peroksida) diganti oleh kuman-kuman anerobik
(Gardnerella vaginalis, spesies Mobiluncus dan Mycoplasmahominis).
Vaginosis bakterial sering dikaitkan dengan abortus spontan, persalinan preterm, KPD,
chorioamnionitis dan infeksi cairan amnion. Vaginosis bakterial menyebabkan terjadinya
persalinan preterm melalui mekanisme yang sama dengan yang terjadi akibat infeksi dalam
cairan amnion.
Dari penelitian yang ada, tak ada keraguan bahwa perubahan flora vagina yang normal seperti
vaginosis bakterial memiliki kaitan erat dengan persalinan preterm spontan. Namun demikian,
sampai saat ini skrining maupun terapi dari kondisi tersebut terbukti tidak dapat mencegah
terjadinya persalinan preterm.
infeksi traktus genitalis bagian bawah
Infeksi chlamydia trachomatis nampaknya tidak berperan dalam proses persalinan preterm.
Goepfert dkk (2002) : angka kejadian pada pasien dengan atau tampa infeksi chlaydia atau
trichomonas adalah sama.
Ramsey dkk ( 2003) : hapusan vagina dengan pengecatan gram pada trimester kedua yang
menghasilkan peningkatan rasio polimorfonuclear dengan sel epitel adalah prediktif untuk
terjadinya persalinan preterm sebelum minggu ke 35.
Knudtson dkk (2003) : wanita tidak hamil yang menderita endometritis kronis diluar kehamilan
yang ditandai dengan sel plasma, resiko terjadinya persalinan preterm meningkat 2.5 kali lipat.
penyakit periodontal
Pasien hamil yang menderita periodontitis memiliki resiko mengalami persalinan preterm 7.5
kali lipat. Goepfert dkk (2003) : Persalinan preterm sebelum usia kehamilan 32 minggu
seringkali disertai dengan periodontitis berat.
III.5 PERANAN PROGESTERON DALAM MEMPERTAHANKAN KEHAMILAN
Pada hewan percobaan, pemberian medroxyprogesteron dapat mencegah terjadinya persalinan
dan memiliki aktivitas anti-inflamasi in vivo.
Dalam kaitan ini, terjadi penekananan pada aktivasi jalur cytokine TH1 dan TH2 uterus dan
servik. Cytokine ini berperan dalam mempertahankan kehamilan dan mengawali proses
persalinan.
Progestin yang paling sering digunakan adalah 17 hydroxyprogesteron caproate. Pemberian
tiap minggu secara intramuskuler pada pasien resiko tinggi dapat menurunkan kejadian
persalinan preterm.

Da Fonseca dkk (2003) : menunjukkan efektivitas pemberian suppositoria vagina 100 mg


progesteron natural dalam mencegah terjadinya persalinan preterm

III.6 GEJALA dan TANDA


Partus prematurus iminen ditandai dengan :
Kontraksi uterus dengan atau tanpa rasa sakit
Rasa berat dipanggul
Kejang uterus yang mirip dengan dismenorea
Keluarnya cairan pervaginam
Nyeri punggung
Gejala diatas sangat mirip dengan kondisi normal yang sering lolos dari kewaspadaan tenaga
medis.
III.7 DIAGNOSIS PERSALINAN PRETERM :
American College of Obstetricans and Gynecologist 1997 menyampaikan kriteria diagnosa
persalinan preterm :
Terdapat 4 kontraksi uterus dalam waktu 20 menit atau 6 dalam 60 menit disertai dengan
perubahan progresif pada servik
Dilatasi servik > 1 cm
Pendataran servik > 80%
III.8 PENATALAKSANAAN PERSALINAN PRETERM
Prinsip : Bila mungkin, hindari persalinan sebelum kehamilan 34 minggu
kontraindikasi menghentikan proses persalinan preterm :
Faktor Maternal :
Penyakit hipertensi dalam kehamilan yang berat ( misal eksaserbasi akut hipertensi kronik
eklampsia, preeklampsia berat )
Penyakit jantung atau paru (mis. Edema paru , ARDS, penyakit katub jantung, takiaritmia)
Dilatasi servik sudah > 4 cm
Perdarahan pervaginam ( misal. Solusio plasenta, plasenta previa , DIC )
Faktor Janin
Bayi mati atau anomali kongenital yang lethal
Fetal distress
Infeksi intra uterine ( korioamnionitis )
Gawat janin berkaitan dengan usaha mempertahankan kehamilan
TBJ > 2500 gram

Eritroblastosis fetalis
PJT berat
RINCIAN PENATALAKSANAAN :
1. Rehidrasi dan tirah baring
2. Kortikosteroid Diberikan untuk percepatan pematangan paru
Betamethasone 12 mg IM tiap 24 jam selama 48 jam
Dexamethasone 6 mg IM tiap 12 jam selama 48 jam
Efek optimal terjadi 24 jam setelah pemberian terakhir mencapai puncak dalam waktu 48 jam
dan bertahan sampai 7 hari.
Pemberian ulangan kortikosteroid tak berguna oleh karena dapat mengganggu perkembangan
psikomotor janin
Tokolitik :
Nifedipine ( calcium channel blocker ) , pemberian per oral efektif dalam menekan kontraksi
uterus dengan efek samping maternal dan janin yang minimal (nyeri kepala), flushing, hipotensi
dan takikardia.
Protokol :
Sediaan : Kapsul gelatin oral 10 atau 20 mg
loading dose : 30 mg . bila setelah 90 menit kontraksi uterus masih ada berikan dosis ulang 20
mg
Dosis pemeliharaan : 20 mg tiap 6 jam selama 24 jam dan dilanjutkan dengan 20 mg untuk 24
jam berikut
Kriteria gagal : kontraksi uterus menetap setelah 60 menit pemberian dosis ulangan.
Prostaglandine sintetase inhibitor (dapat digunakan untuk jangka pendek) obat yang sering
digunakan indomethacine
Magnesium Sulfat (MgSO4)
Syarat pemberian Mg SO4 :
Pemberian harus diawasi dengan ketat dengan pemeriksaan : reflek patela, frekuensi pernafasan,
produksi urine
Harus tersedia antidotum calcium gluconat 10 ml dalam larutan 10%
Protocol
Sediaan Larutan : larutan awal mengandung 6 gram MgSO4 ( 12 ml laritan 50% ) dalam 100 ml
Dextrose 5%. Larutan maintanance : 10 gram MgSO4 ( 20 ml larutan 50% ) dalam 500 ml
Dextrose 5%
Dosis awal : 6 gram selama 15 20 menit parenteral

Dosis titrasi : 2 gram per jam sampai kontraksi uterus mereda dan diikuti pemeriksaan serum
sebesar 5 7 mg/dL ; dosis maksimum 4 gram per jam
Dosis maintanance : Dosis maintanance untuk 12 jam , kemudian 1 gram per jam untuk 24 48
jam dan kemudian diganti dengan betta agonis.
Tokolitik lain :
Indomethacine (Prostaglandine syntetase inhibitors)
Pemberian dapat per-oral atau per-rektal.
Dosis 50 100 mg diikuti dengan pemberian selama 24 jam yang tak melebihi 200 mg.
Peck dan Lutheran (2003) : pemberian Indomethacine selama 7 hari atau lebih pada kehamilan <
33 minggu tidak meningkatkan resiko medis pada neonatus.
Atosiban
Kompetitif antagonis dari kontraksi uterus akibat oksitosin. US FDA menolak penggunaan
Atosiban dalam pencegahan persalinan prematur oleh karena efektivitas dan keamanan bagi
janin atau neonatus meragukan.
3. Antibiotika
Terapi antibiotika pada kasus persalinan preterm diperkirakan oleh sebagian besar ahli tidak
memberikan manfaat dalam menghambat persalinan preterm.
Pemberian antibiotika bermanfaat untuk mencegah infeksi GBS pada neonatus. Terapi pilihan
adalah pemberian Penicilline atau Ampicilline. Clindamycin diberikan pada pasien yang alergi
terhadap penicilline.

Rekomendasi Penatalaksanaan Persalinan Preterm


Konfirmasi diagnosa persalinan preterm.
Kehamilan < 34 minggu dengan kemajuan persalinan progresif (dilatasi servik > 4 cm) tanpa
disertai indikasi ibu dan atau anak untuk terminasi kehamilan Observasi ketat kontraksi uterus
dan DJJ dan lakukan pemeriksaan servik serial untuk menilai kemajuan persalinan.
Kehamilan < 34 minggu : beri kortikosteroid untuk pematangan paru.
Kehamilan < 34 minggu pada wanita dengan kemajuan persalinan yang tidak progresif [ dilatasi
servik < 4 cm] cegah kontraksi uterus dengan pemberian tokolitik dan berikan kortikosteroid
serta antibiotika profilaksis untuk GBS.
Pada kehamilan > 34 minggu : lakukan observasi kemajuan persalinan dan kesehatan janin
intrauterin.
Pada kasus dengan persalinan aktif yang progresif dilatasi servik > 4 cm] berikan antibiotika
untuk profilaksis infeksi GBS pada neonatus.
Penatalaksanaan persalinan :
Bila perlu lakukan episiotomi pada kasus dengan perineum yang kaku.

Persalinan dengan cunam dengan maksud untuk melindungi kepala janin tak perlu dilakukan
oleh karena manfaatnya tidak didukung dengan data out come perinatal.
Diperlukan kehadiran neonatologis yang kompeten untuk melakukan resusitasi bayi preterm.
BAB IV
PENUTUP

IV.1

KESIMPULAN

Dari anamnesa didapatkan Ny.SA, 20 tahun mengeluhkan perut kenceng-kenceng sering. 8 jam
kemudian keluar darah lendir.
Dari pemeriksaan fisik Tekanan darah: 120/80 mmHg, nadi: 98x/menit, suhu: 36,6C, RR:
20x/menit. TFU pusat-prosesus xiphoideus (25 cm), PUKI, letak kepala, sudah masuk PAP,
DJJ 152x/mnt. V/V: blood slym(+), portio 6-7 cm, Penipisan portio: 50%, kulit ketuban (+),
Bagian terdahulu belum teraba, Bagian tersamping terdahulu: belum teraba, Bagian terendah:
belum teraba, Hodge : I.
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan Diagnosa GIP0000Ab000, hamil 28-30 minggu
letak kepala inpartu.
IV.2

SARAN

Untuk menghindari terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat partus prematurus, dilakukan
penatalaksanaan yang baik terhadap pasien dan janin. Diberikan dexamethasone untuk
pematangan paru janin jika sudah inpartu.

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham FG et al. Preterm Labor in Williams Obstetric, 22st ed. Mc.Graw Hill Publishing
Division, New York, 2005.
Wiknjosastro H. Patologi Persalinan dan Penanganannya. Ilmu Kebidanan, edisi ke-3. Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2005.
Prawirohardjo, Sarwono, Asuhan Maternal dan Neonatal , YBP-SP, Jakarta : 2002
Mochtar, Rustam, Sinopsis Obstetri, EGC. Jakarta : 1998.
Prawirohardjo, Sarwono, Ilmu Bedah Kebidanan, YBP-SP, Jakarta : 1999.
Anonym. 2010. Persalinan preterm. Available at
http://www.scribd.com/doc/17953330/Persalinan-Preterm. diunduh tanggal 5 agustus 2011.

Widjanarko, B. 2009. Persalinan preterm FK UMJ Jakarta. Available at


http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/09/persalinan-preterm.html. diunduh tanggal 5 agustus
2011.
https://doktermaya.wordpress.com/2011/12/27/partus-prematurus/