Anda di halaman 1dari 37

Marifatullah (mengenal Allah) bukanlah mengenali dzat Allah, karena hal ini

tidak mungkin terjangkau oleh kapasitas manusia yang terbatas. Sebab bagaimana
mungkin manusia yang terbatas ini mengenali sesuatu yang tidak terbatas?.
Segelas susu yang dibikin seseorang tidak akan pernah mengetahui seperti apakah
orang
yang
telah
membuatnya
menjadi
segelas
susu.
Menurut Ibn Al Qayyim : Marifatullah yang dimaksudkan oleh ahlul marifah
(orang-orang yang mengenali Allah) adalah ilmu yang membuat seseorang
melakukan apa yang menjadi kewajiban bagi dirinya dan konsekuensi
pengenalannya.
Marifatullah tidak dimaknai dengan arti harfiah semata, namun mariaftullah
dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan yang mengantarkan manusia dekat
dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang ada dalam perjalanan
mendekatkan diri kepada Allah.
CIRI-CIRI
DALAM
MARIFATULLAH
Seseorang dianggap marifatullah (mengenal Allah) jika ia telah mengenali
1.
asma
(nama)
Allah
2.
sifat
Allah
dan
3. afal (perbuatan) Allah, yang terlihat dalam ciptaan dan tersebar dalam
kehidupan
alam
ini.
Kemudian
dengan
bekal
pengetahuan
itu,
ia
menunjukkan
:
1. sikap shidq (benar) dalam ber -muamalah (bekerja) dengan Allah,
2. ikhlas dalam niatan dan tujuan hidup yakni hanya karena Allah,
3. pembersihan diri dari akhlak-akhlak tercela dan kotoran-kotoran jiwa yang
membuatnya
bertentangan
dengan
kehendak
Allah
SWT
4. sabar/menerima pemberlakuan hukum/aturan Allah atas dirinya
5. berdawah/ mengajak orang lain mengikuti kebenaran agamanya
6. membersihkan dawahnya itu dari pengaruh perasaan, logika dan subyektifitas
siapapun. Ia hanya menyerukan ajaran agama seperti yang pernah diajarkan
Rasulullah
SAW.
Figur teladan dalam marifatullah ini adalah Rasulullah SAW. Dialah orang yang
paling utama dalam mengenali Allah SWT. Sabda Nabi : Sayalah orang yang
paling mengenal Allah dan yang paling takut kepada-Nya. HR Al Bukahriy dan
Muslim. Hadits ini Nabi ucapkan sebagai jawaban dari pernyataan tiga orang yang
ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan keinginan dan perasaannya sendiri.
Tingkatan berikutnya, setelah Nabi adalah ulama amilun ( ulama yang
mengamalkan ilmunya). Firman Allah : Sesungguhnya yang takut kepada Allah
di
antara
hamba-hamba-Nya,
hanyalah
ulama
QS.
35:28
Orang yang mengenali Allah dengan benar adalah orang yang mampu mewarnai

dirinya dengan segala macam bentuk ibadah. Kita akan mendapatinya sebagai
orang yang rajin shalat, pada saat lain kita dapati ia senantiasa berdzikir, tilawah,
pengajar, mujahid, pelayan masyarkat, dermawan, dst. Tidak ada ruang dan waktu
ibadah kepada Allah, kecuali dia ada di sana. Dan tidak ada ruang dan waktu
larangan
Allah
kecuali
ia
menjauhinya.
Ada sebagian ulama yang mengatakan : Duduk di sisi orang yang mengenali
Allah akan mengajak kita kepada enam hal dan berpaling dari enam hal, yaitu :
dari ragu menjadi yakin, dari riya menjadi ikhlash, dari ghaflah (lalai) menjadi
ingat, dari cinta dunia menjadi cinta akhirat, dari sombong menjadi tawadhu
(randah
hati),
dari
buruk
hati
menjadi
nasehat
URGENSI
MARIFATULLAH
a. Marifatullah adalah puncak kesadaran yang akan menentukan perjalanan hidup
manusia selanjutnya. Karena marifatullah akan menjelaskan tujuan hidup
manusia yang sesungguhnya. Ketiadaan marifatullah membuat banyak orang
hidup tanpa tujuan yang jelas, bahkan menjalani hidupnya sebagaimana makhluk
hidup
lain
(binatang
ternak).
QS.47:12
b. Marifatullah adalah asas (landasan) perjalanan ruhiyyah (spiritual) manusia
secara keseluruhan. Seorang yang mengenali Allah akan merasakan kehidupan
yang lapang. Ia hidup dalam rentangan panjang antara bersyukur dan bersabar.
Sabda Nabi : Amat mengherankan urusan seorang mukmin itu, dan tidak terdapat
pada siapapun selain mukmin, jika ditimpa musibah ia bersabar, dan jika diberi
karunia
ia
bersyukur
(HR.Muslim)
Orang yang mengenali Allah akan selalu berusaha dan bekerja untuk mendapatkan
ridha Allah, tidak untuk memuaskan nafsu dan keinginan syahwatnya.
c. Dari Marifatullah inilah manusia terdorong untuk mengenali para nabi dan
rasul, untuk mempelajari cara terbaik mendekatkan diri kepada Allah. Karena para
Nabi dan Rasul-lah orang-orang yang diakui sangat mengenal dan dekat dengan
Allah.
d. Dari Marifatullah ini manusia akan mengenali kehidupan di luar alam materi,
seperti
Malaikat,
jin
dan
ruh.
e. Dari Marifatullah inilah manusia mengetahui perjalanan hidupnya, dan bahkan
akhir dari kehidupan ini menuju kepada kehidupan Barzahiyyah (alam kubur) dan
kehidupan
akherat.
SARANA
MARIFATULLAH
Sarana yang mengantarkan seseorang pada marifatullah adalah :
a.
Akal
sehat
Akal sehat yang merenungkan ciptaan Allah. Banyak sekali ayat-ayat Al Quran
yang menjelaskan pengaruh perenungan makhluk (ciptaan) terhadap pengenalan

al Khaliq (pencipta) seperti firman Allah : Katakanlah Perhatikanlah apa yang


ada di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang
memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. QS 10:101, atau QS 3:
190-191
Sabda Nabi : Berfikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir
tentang Allah, karena kamu tidak akan mampu HR. Abu Nuaim
b.
Para
Rasul
Para Rasul yang membawa kitab-kitab yang berisi penjelasan sejelas-jelasnya
tentang marifatullah dan konsekuensi-konsekuensinya. Mereka inilah yang diakui
sebagai orang yang paling mengenali Allah. Firman Allah :
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa buktibukti nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca
(keadilan ) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.. QS. 57:25
c.
Asma
dan
Sifat
Allah
Mengenali asma (nama) dan sifat Allah disertai dengan perenungan makna dan
pengaruhnya bagi kehidupan ini menjadi sarana untuk mengenali Allah. Cara
inilah yang telah Allah gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhlukNya. Dengan asma dan sifat ini terbuka jendela bagi manusia untuk mengenali
Allah lebih dekat lagi. Asma dan sifat Allah akan menggerakkan dan membuka
hati manusia untuk menyaksikan dengan seksama pancaran cahaya Allah. Firman
Allah
:
Katakanlah : Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana
saja kamu seru, Dia mempunyai al asma al husna (nama-nama yang terbaik) QS.
17:110
Asma al husna inilah yang Allah perintahkan pada kita untuk menggunakannya
dalam
berdoa.
Firman
Allah
:
Hanya milik Allah asma al husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut
asma
al
husna
itu
QS.
7:180
Inilah sarana efektif yang Allah ajarkan kepada umat manusia untuk mengenali
Allah SWT (marifatullah). Dan marifatullah ini tidak akan realistis sebelum
seseorang mampu menegakkan tiga tingkatan tauhid, yaitu : tauhid rububiyyah,
tauhid asma dan sifat. Kedua tauhid ini sering disebut dengan tauhid al marifah
wa al itsbat ( mengenal dan menetapkan) kemudian tauhid yang ketiga yaitu
tauhid uluhiyyah yang merupakan tauhid thalab (perintah) yang harus dilakukan.
Wallahu alam (diambil dari kumpulan artikel motivasi)

Ilmu dan Urgensinya


Manusia tidak pernah menemukan agama yang sangat memperhatikan keilmuan
dengan sempurna selain Islam. Islam selalu menyeru dan memotivasi penekunan
ilmu pengetahuan, mengajak umatnya untuk menuntut, mempelajari,
mengamalkan dan sekaligus mengajarkan ilmu. Islam menjelaskan keutamaan
menunutut ilmu dan etikanya serta menegur orang yang tidak memperhatikannya.
Islam juga sangat menghargai ahlal ilmi dan menganjurkan umatnya untuk dekat
dengan mereka.
Dalam kamus yang memuat kosa kata al-Quran, dinyatakan bahwa kata ilm
(ilmu) disebutkan sebanyak 80 kali, dan kata-kata yang terbentuk dari kata
tersebut (seperti alamu, yalamuna dst) disebutkan beratus-ratus kali. Selain itu
jika kita teliti buku-buku hadits an-Nabawi akan kita temukan didalamnya juduljudul dan masalah-masalah tentang ilmu.
Aspek-aspek ilmu dalam pandangan Islam
Ilmu dalam pandangan Islam mencakup beberapa aspek kehidupan termasuk
aspek ilmu dalam pengertian barat sekarang.
1. Aspek Wahyu Illahi
Ilmu yang datangnya melalui wahyu Allah SWT. Ilmu ini menyingkap hakikat
alamiah manusia dan menjawab setiap pertanyaan abadiyang tidak pernah hilang
pada diri manusia yaitu : dari mana, kemana, dan mengapa ? Dengan adanya
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut manusia akan mengetahui asalnya,
arah perjalanan yang harus ditempuh dan tujuan hidupnya. Ia akan mengetahui
dirinya dan Tuhannya serta akan tenang menuju tujuan hidupnya. Aspekinilah
yang pertama kali disebut ilmu, bahkan disebut ilmu yang paling tinggi oleh
Imam Ibnu Abdil Barr.
2. Aspek Humaniora (manusia) dan kajian-kajian yang berkaitan dengannya.
Ilmu yang membahas tentang segi-segi kehidupan manusia yang berhubungan
dengan tempat tinggal dan waktu. Ilmu ini mengkaji manusia sebagai individu
ataupun anggota masyarakat dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya.
3. Aspek Material
Yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari berbagai materi yang bertebaran di seluruh
jagad raya ini, baik di udara, darat, maupun didalam bumi seperti fisika, kimia,
biologi, astronomi, dsb.

Pengertian Islam tentang ilmu tidak terbatas pada aspek terakhir yang
menganggap materi sebagai objeknya seperti yang dipahami oleh dunia barat pada
umumnya sekarang. Selain itu Islam menganggap aspek material akan
melahirkan keimanan bagi yang mendalaminya (QS.3 : 190-191)
Keutamaan Ilmu dan Orang-orang yang Berilmu
Al-Quran adalah kitab terbesar yang mengangkat derajat ulul ilmi dan orangorang yang berilmu. sebagaimana Allah menjelaskan bahwa Ia menurunkan
kitab-Nya dan merinci ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yang mengetahui.
Dalam QS. 3 : 18 Allah memulai pernyataan dari diri-Nya, memuji para malaikatNya dan orang yang diberi ilmu. Allah meminta kesaksian mereka atas
permasalahan kehidupan yang paling besar, yaitu masalah keesaan.
Allah SWT dalam Al-Quran menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang
berilmu :

QS.39 : 9 Peniadaan persamaan antara orang-orang yang mengetahui dan


yang tidak mengetahui.

QS.35 : 19-22 Kebodohan sejajar dengan buta, ilmu sejajar dengan


melihat, hingga bodoh adalah kematian dan ilmu adalah kehidupan.

QS.35 :28 Ulama (orang yang mengetahui tentang kebesaran dan


kekuasaan Allah) kian berilmu kian takut kepada Allah

Pengaruh Ilmu Terhadap Iman dan Tingkah Laku


1. Ilmu memberi petunjuk kepada iman.
Ilmu dan Iman berjalan beriringan dalam Islam (QS.30 : 36,58 :11). Bahkan alQuran menyertakan iman kepada ilmu seseorang mengetahui lalu beriman.
Dengan kata lain tidak ada iman sebelum ada ilmu (22 : 54; 34 : 6)
2. Ilmu adalah penuntun amal
Ilmulah yang menuntun, menunjuki dan membimbing seseorang kepada amal
(47 : 19). Ayat ini dimulai dengan ilmu tentang tauhid lalu disusul dengan
permohonan ampun yang merupakan amal. Ilmu juga merupakan
timbangan/penentu dalam penerimaan atau penolakan amal. Amal yang sesuai
dengan ilmu adalah amal yang diterima, sedangkan amal yang bertentangan
dengan ilmu adalah amal yang tertolak (5 : 27). Maksud ayat ini ialah Allah
hanya menerima amal seseorang yang bertakwa kepada-Nya. Jadi amal tersebut

harus dilakukan karena keridoan-Nya dan sesuai dengan perintah-Nya. Hal ini
hanya bisa dicapai dengan ilmu.
Untuk dapat berakhlak baik pun salah satunya harus dicapai dengan ilmu. Imam
Ghazali berkata : Muqadimah agama dan berakhlak dengan akhlak para nabi
tercapai diramu dengan 3 dimensi yang tersusun rapi, yaitu : ilmu, perilaku dan
amal (ilmu mewariskan perilaku, perilaku mendorong amal).
3. Kelebihan ilmu dari ibadah
Dalam hadits Huzaifah dan Saad, rasulullah SAW bersabda, Kelebihan Ilmu
lebih kusukai dari kelebihan ibadah, dan sebaik-baik agama adalah alwara. Ilmu dilebihkan atas ibadah sebab manfaat ilmu tidak terbatas pada
pemiliknya melainkan juga untuk orang lain. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam alMiftah menyebutkan diantarnya : Ilmu menunjukkan kepada pemiliknya amalamal yang utama di sisi Allah.
Perintah Mencari Ilmu
Allah menciptakan manusia dalam keadaan vakum dari ilmu. Lalu Ia
memberinya perangkat ilmu guna menggali ilmu dan belajar (16 : 78). Banyak
hadits-hadits yang menerangkan keutamaan menuntut ilmu : Siapa yang
berjalan di jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke
syurga. (HR. Muslim). Termasuk didalamnya menghapal, menelaah, mengkaji,
berjalan menuju majlis ilmu dan mendatangi ahlu ilmu. Dalam hadits
lain :Sesungguhnya para malaikat merundukkan sayap-sayapnya kepada orang
yang mencari ilmu karena ridha terhadap apa yang diperbuatnya.
(a) Beberapa adab penting dalam mencari ilmu (Hikmah kisah Nabi Musa A.s.
dalam menuntut ilmu pada Nabi Khidir dalam surat kahfi)
(b) Semangat dalam mencari ilmu walaupun harus menghadapi kesulitan dan
tantangan
(c)

Bersikap baik terhadap guru, memuliakan dan menghormatinya (18 : 66).

(d) Sabar terhadap guru (18 : 67-70).


(e)

Tidak pernah kenyang mencari ilmu (20 : 114).

Diniatkan karena Allah. Artinya harus dianggap sebagai ibadah dan jihad fi
sabilillah.Janganlah kalian mempelajri ilmu agar kalian bisa saling
membanggakan di kalangan orang berilmu sedang kalian tidak memperdulikan

orang-orang yang bodoh dan tidak membagus-baguskan majelis ilmu itu. Barang
siapa berbuat demikian, maka nerakalah baginya.
Hak-hak Ilmu atas Pemiliknya
1. Mengerti dan memahami
2. Beramal berdasarkan ilmu yang dimiliki
3. Mengajarkan ilmu dan menyebarkannya kepada orang lain
4. Wajib menjelaskan dan haram menutup-nutupinya
5. Berhenti sebatas kadar ilmu yang dimiliki

Marifaturrasul
1.

Pengertian Marifatul Rosul

Manusia sangat membutuhkan adanya seorang Rosul, karena secara fitrah,


manusia selalu ingin tahu keberadaan sang pencipta, selalu menginginkan untuk
dapat mengabdi secara benar kepada sang pencipta (Alloh SWT), dan selalu
menginginkan kehidupan yang teratur.
Untuk bisa mengetahui secara benar tentang keberadaan Alloh, bagaimana cara
melakukan pengabdian kepada-Nya, dan bagaimana bisa memahami aturan main
hidup yang dibuat oleh Alloh SWT sebagai pencipta yang akan menjadikan
kehidupan manusia menjadi teratur, semuanya itu hanya bisa diperoleh melalui
penjelasan atau petunjuk dari seorang Rosul. Maka keberadaan seorang Rosul
menjadi sangat dibutuhkan oleh manusia.

Alloh SWT berfirman:

Artinya:
Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika
kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Alloh.Katakanlah: Maka
apakah kamu tidak ingat? Katakanlah: Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh
dan Yang Empunya 'Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Alloh.

Katakanlah: Maka apakah kamu tidak bertakwa? Katakanlah: Siapakah yang di


tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi
tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka
akan menjawab: Kepunyaan Alloh. Katakanlah: (Kalau demikian), maka dari
jalan manakah kamu ditipu?" (QS. Al-Mukminun: 8489).

Marifatul Rosul ini membincangkan bagaimana mengenal Rosul, apa saja yang
perlu dikenal dari Rosul dan bagaimana pula kita mengamalkan Islam melalui
petunjuk Rosul. Yang penting dari paket ini adalah kita mengetahui, memahami,
dan dapat mengamalkan Sunnah Nabi dan menjalankan Ibadah dengan baik.
Mengenal Rosul tidak saja dalam bentuk fisikal atau penampilannya tetapi segala
aspek syari berupa sunnah yang didedahkan Nabi kepada kita sama ada tingkah
laku, perkataan ataupun sikap. Pengenalan kepada Rosul dapat dilihat melalui
syirah nabi yang menggambarkan kehidupan Nabi serta latar belakangnya seperti
nasab. Kemudian melalui sunnah dan dakwah Nabi pun dapat memberikan
penjelasan siapa Nabi sebenarnya.
Dengan mengenal Rosul diharapkan kita dapat mencintai Rosul dan
mengikutinya, perkara ini sebagai cara bagaimana kita taat dan mencintai Alloh
SWT. Oleh karena itu mengenal Rosul tidak saja dari segi jasad, nasab, dan latar
belakangnya, tetapi bagaimana beliau beribadah dan beramal soleh. Setengah
masyarakat mengetahui dan mengamalkan sunnah Nabi dari segi ibadah saja
bahkan dari segi penampilan saja. Sangat jarang muslim yang mengambil contoh
kehidupan Nabi secara keseluruhannya sebagai contoh, misalnya peranan Nabi
dari segi politik, pemimpin, penjaga, dan juga Nabi sebagai suami, ayah, dan ahli
di masyarakat. Semua Peranan Nabi ini perlu dicontoh dan diikuti sehingga kita
dapat mengamalkan Islam secara sempurna dan menyeluruh. Walaupun demikian,
umat Islam masih menjadikan Nabi sebagai Rosul adalah dari segi lafaz atau
kebiasaan umat Islam bersalawat ke atas Nabi. Bagaimana pun umat lslam yang
sholat akan selalu bersalawat ke atas Nabi dan selalu menyebutnya.
Pengenalan kepada Rosul juga pengenalan kepada Alloh dan Islam. Memahami
Rosul secara komprehensif adalah cara yang tepat dalam mengenal Islam yang
juga komprehensif Rosul dikenal sebagai pribadi teladan dan unggul dan lelaki
terpilih di antara manusia yang sangat layak dijadikan model bagi setiap muslim.
Berarti Nabi adalah ikutan bagi setiap tingkah laku, perkataan, dan sikap yang
disunnahkannya.

Setiap manusia diciptakan oleh Alloh SWT dengan fitrah, di mana manusia bersih,
suci, dan mempunyai kecenderungan yang baik dan ke arah positif yaitu ke arah
lslam. Fitrah manusia di antaranya adalah mengakui kewujudan Alloh sebagai
pencipta, keinginan untuk beribadah, dan menghendaki kehidupan yang teratur.
Fitrah demikian perlu diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui
petunjuk Al Quran (Firman-firman dan panduan dari Alloh SWT) dan panduan
Sunnah (Sabda Nabi dan perbuatannya). Semua panduaan ini memerlukan
petunjuk dan Rosul khususnya dalam mengenal pencipta dan sebagai panduan
kehidupan manusia. Dengan cara mengikuti panduan Rosul kita akan mendapati
ibadah yang sohih.

2.

Pentingnya Iman Kepada Rosul

Iman kepada para Rosul adalah salah satu rukun iman. Seseorang tidak dianggap
muslim dan mukmin kecuali ia beriman bahwa Alloh mengutus para Rosul yang
menginterprestasikan hakikat yang sebenarnya dari agama islam yaitu
Tauhidullah. Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali kepada seluruh
Rosul dan tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya.

3.

Tugas Para Rosul

Tugas-tugas Rosul Alloh SWT:


Rosul diutus oleh Alloh SWT dengan mengemban tugas-tugas yang sangat mulia.
Adapun tugas-tugas Rosul adalah sebagai berikut.

1) Rosul membimbing umatnya menuju jalan yang benar agar mendapat


kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
2) Semua Rosul menyampaikan ajaran tauhid, yakni mengesakan Alloh SWT.
Adapun peraturan agama (syariat) yang dibawa mereka berbeda-beda sesuai
dengan situasi dan kondisi umatnya saat itu.
3) Kehadiran Rosul untuk membawa kebenaran, kabar gembira, dan memberi
peringatan kepada umatnya agar mereka menjadi umat yang beriman kepada

Alloh SWT. Dengan demikian, mereka akan hidup bahagia baik di dunia maupun
di akhirat kelak.

Firman Alloh SWT:

Artinya:
Para Rosul yang Kami utus itu adalah untuk memberi kabar gembira dan
memberi peringatan. Barang siapa beriman dan mengadakan perbaikan, maka
tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Q.S. AlAn'am: 48)
4.

Sifat Rosul

Berikut adalah sifat Rosul:


1)

Jujur

Hadits Rosululloh: Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada


kebajikan dan sesungguhnya kebijakan itu akan mengantarkan ke surga. Dan
seseorang senatiasa berkata benar dan jujur hingga tercatat di sisi Alloh sebagai
orang yang benar dan jujur. Dan sesungguhnya dusta membawa kepada
kejahatan, yang akhirnya akan mengantarkan ke dalam neraka. Dan seseorang
senantiasa berdusta hingga dicatat di sisi Alloh sebagai pendusta. (H.R. Bukhori
Muslim);
2)

Siddiq, artinya benar, mustahil bersifat kizib, arinya bohong atau dusta;

3)

Amanah, artinya dapat dipercaya;

4)

Tabligh, artinya menyampaikan;

5)

Fathanah, artinya cerdas;

6)
Dermawan, Tidaklah seorang hamba berada pada suatu pagi kecuali dua
malaikat turun menemaninya. Satu malaikat berkata: Ya Alloh berilah
kanuniaMu, sebagai ganti apa yang ia infakkan. Malaikat lainnya berkata: Ya
Alloh, berilah ia kebinasaan karena telah mempertahankan hartanya yang tidak
dinafkahkannya. (H.R. Muttafaqalaih);
7)

Malu.

5.

Jumlah Nabi dan Rosul

Berdasarkan hadits yang shohih, jumlah Nabi adalah 124 ribu, sedangkan jumlah
Rosul adalah 315 orang. Syaikh al-Albany menjelaskan bahwa hadits yang
menunjukkan jumlah Rosul tersebut shahih li dzaatihi (tanpa penguat dari jalur
lain), sedangkan hadits yang menunjukkan jumlah Nabi adalah shohih li
ghoirihi (masing-masing jalur memiliki kelemahan, namun jika dipadukan
menjadi shahih).

Hadits tentang jumlah Rosul:


Adam adalah Nabi yang diajak bicara. Antara ia dengan Nuh terdapat 10 abad.
Jumlah Rasul adalah 315 orang (H.R Abu Jafar ar-Rozzaaz dan selainnya,
dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Silsilah al-Ahaadiits as-Shohiihah).
Yang wajib diimani oleh umat Muslim ada 25 orang Nabi, yang mereka di
antaranya:
1. Adam

14.

Musa

2. Idris

15.

Harun

3. Nuh

16.

Zulkifli

4. Hud

17.

Daud

5. Shalih

18.

Sulaiman

6. Ibrahim

19.

Ilyas

7. Luth

20.

Ilyasa

8. Ismail

21.

Yusuf

9. Ishaq

22.

Zakaria

10.Ya'kub

23.

Yahya

11.Yusuf

24.

Isa

12.Ayyub

25.

Muhammad SAW

13.Syu'aib

Di dalam Al Quran, juga disebutkan beberapa identitas lainnya, namun tidak ada
dasar/petunjuk sehingga mereka dapat dikatakan sebagai nabi. Begitu pula sekali
pun Al Quran menyebutkan istilah "nabi-nabi" atau "para nabi", namun tidak
disebutkan jelas identitas orang yang dimaksud.

Di antara sejumlah Nabi dan Rosul ada lima orang yang dikenal memilliki
kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi penderitaan dan
gangguan untuk menjalankan tugasnya. Kelimanya disebut sebagai Rosul ulul
azmi.

Nama Nama Rosul Alloh mendapat julukan Ulul Azmi:


1. Nuh a.s.,
2. Ibrahim a.s.,
3. Musa a.s.,
4. Isa a.s.,
5. Muhammad saw.

6.

Keteladanan Sifat Rosululloh

Banyak sekali keteladan yang ada pada diri Rosululloh yang dapat kita teladani
dalam kehidupan sehari hari. Di antaranya iman dan takwanya yang kuat dalam
kondisi apa pun para Rosul tetap teguh dan tabah dalam menjalankan ajaranajaran Alloh, akhlaknya yang mulia, terpuji selalu menjaga diri dari perbuatan
maksiat dan dosa. Sebagai serorang muslim sudah sepantasnya kita meneladani
sifat-sifat Rosululloh karena semua yang diajarkan Rosululloh mengandung
kemaslahatan bagi kita semua baik di dunia maupun di akhirat.

7.

Kewajiban kita kepada Rosululloh

1)
Membenarkan apa yang disampaikannya Apa yang beliau katakan bukanlah
hawa nafsunya, melainkan wahyu Alloh. Maka seorang muslim wajib
membenarkan apa yang beliau sampaikan itu.
2)
Mentaati perintahnya, apa yang diperintahkan Alloh dan Rosul-Nya
dilaksanakan semaksimal kemampuan kita.
3)

Menjauhi apa yang dilarangnya.

4)

Tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkannya .

5)

Mengimaninya. Beriman kepada Alloh berarti harus beriman kepada Rosul.

6)
Mencintainya. Lebih mencintai Alloh dan Rosul-Nya disbanding cinta
kepada yang lain bahkan kepada dirinya sendiri adalah tanda kesempurnaan iman.
7)
Mengagungkannya. Sudah semestinya beliau diagungkan karena
kemuliaannya. Namun pengagungan ini tidak boleh sampai mengkultuskannya.
8)

Menolong dan membelanya.

9)

Mencintai para pecintanya.

10) Menghidupkan sunnahnya. Baik dalam ibadah umum maupun khusus yang
diajarkan beliau, hendaknya dihidupkan dan dibudayakan agar hidup kita
diberkahi Alloh.
11) Memperbanyak shalawat kepadanya. Tanda cinta dan bangga kepada
Rosululloh antara lain dibuktikan dengan memperbanyak shalawat atas beliau.
Bahkan ketika kita mendengar nama beliau disebut kita mestimenyahutnya
dengan bacaan shalawat.
12) Mengikuti manhajnya. Ajaran beliau adalah bagian dari sistem Islam untuk
mengatur segala aspek kehidupan.
13) Mewarisi risalahnya. Mewarisi risalahnyaadalah dengan menjaga, membela,
dan memperjuangkan risalah beliau.

Makna dan Hakekat tawazun


Tawazun artinya keseimbangan. Sebagaimana Allah telah menjadikan alam
beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan (67: 3).

Manusia dan agama lslam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai
dengan fitrah Allah. Mustahil Allah menciptakan agama lslam untuk manusia
yang tidak sesuai Allah (30: 30). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa manusia
itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memiliki naluri beragama (agama
tauhid: Al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu.
Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh
lingkungan (Hadits: Setiap bayi terlahir daIam keadaan fitrah (Islam) orang
tuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi)
Sesuai dengan fitrah Allah, manusia memiliki 3 potensi, yaitu Al-Jasad (Jasmani),
Al-Aql (akal) dan Ar-Ruh (rohani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut
berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca
keseimbangan ini dapat dilihat pada QS. 55: 7-9.
Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing. :
1.
Jasmani.
Mumin yang kuat itu lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang
lemah (HR. Muslim). Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang
halaalan thayyiban (halal dan baik) [80:24, 2:168], beristiharat [78:9], kebutuhan
biologis [30: 20-21] & hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.
2.
Akal
Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akalya. Akal pulalah yang
menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal
manusia mampu mengenal hakikat sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan
perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh
Allah
diperuntukkan
baginya
supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardh
(wakil Allah di atas bumi) [2:30, 33:72]. Kebutuhan akal adalah ilmu [3:190]
untuk pemenuhan sarana kehidupannya.
3.
Ruh
(hati)
Kebutuhannya adalah dzikrullah [13:28, 62:9-10]. Pemenuhan kebutuhan rohani
sangat penting, agar roh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan
kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar
yang dilimpahkan kepadanya.
Dengan keseimbangan manusia dapat meraih kebahagian hakiki yang merupakan
nikmat Allah. Karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala
umat, ke-tawazunan akan menempatkan umat lslam menjadi umat pertengahan/
ummatan
wasathon
[2:143].
Kebahagiaan
itu
dapat
berupa:

Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam Bentuk ketenangan jiwa [13:28]


Kebahagian zhahir/gerak, dalam Bentuk kestabilan, ketenangan beribadah,
bekerja
dan
aktivitas
lainnya.
Dengan menyeimbangkan dirinya maka manusia tersebut tergolong sebagai
hamba yang pandai mensyukuri nikmat Allah. Dialah yang disebut manusia
seutuhnya.
Contoh-contoh
manusia
yang
tidak
tawazun
Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai
dasar)
.
Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani / materi saja.
Manusia Pantheis (Kebatinan): bersandar pada hati/ batinnya saja.

Pengertian Al Qur'an secara etimologi (bahasa)


Ditinjau dari bahasa, Al Qur'an berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk jamak dari
kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a - yaqra'u - qur'anan yang berarti
bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang. Konsep pemakaian kata tersebut
dapat dijumpai pada salah satu surah al Qur'an yaitu pada surat al Qiyamah ayat
17 - 18.
2. Pengertian Al Qur'an secara terminologi (istilah islam)
Secara istilah, al Qur'an diartikan sebagai kalm Allah swt, yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari
Allah swt sendiri dengan perantara malaikat jibril dan mambaca al Qur'an dinilai
ibadah kepada Allah swt.

Al Qur'an adalah murni wahyu dari Allah swt, bukan dari hawa nafsu perkataan
Nabi Muhammad saw. Al Qur'an memuat aturan-aturan kehidupan manusia di
dunia. Al Qur'an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan
bertaqwa. Di dalam al Qur'an terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi
orang-orang yang beriman. Al Qur'an merupakan petunjuk yang dapat
mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang.
3. Pengertian Al Qur'an menurut Para Ahli
Berikut ini pengertian al Qur'an menurut beberapa ahli :

a. Muhammad Ali ash-Shabuni

Al Qur'an adalah Firman Allah


swt yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw penutup
para nabi dan rasul dengan perantaraan malaikat Jibril as, ditulis pada mushafmushaf kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, membaca dan
mempelajari al Qur'an adalah ibadah, dan al Qur'an dimulai dengan surat al
Fatihah
serta
ditutup
dengan
surat
an
Nas.
b. Dr. Subhi as-Salih
Al Qur'an adalah kalam Allah swt merupakan mukjizat yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw ditulis dalam mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir
serta membacanya adalah ibadah.
c. Syekh Muhammad Khudari Beik
Al Qur'an adalah firman Allah yang berbahasa arab diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw untuk dipahami isinya, disampaikan kepada kita secara
mutawatir ditulis dalam mushaf dimulai surat al Fatihah dan diakhiri dengan surat
an Nas.

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat kita simpulkan bahawa al Qur'an adalah
wahyu Allah swt. yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw dengan perantara
malaikat jibril, disampaikan dengan jalan mutawatir kepada kita, ditulis dalam
mushaf dan membacanya termasuk ibadah. Al Qur'an diturunkan secara
berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw selama kurang lebih 22 tahun.

Al Birr iaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah SAW. : Al Birr adalah


baiknya akhlaq. (HR. Muslim)
Birrul Walidain merupakan kebaikan-kebaikan yang dipersembahkan
oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya, kebaikan tersebut
mencakup dzahiran wa batinan dan hal tersebut didorong oleh nilai-nilai fitrah
manusia meskipun mereka tidak beriman. Manakala wajibatul walid(kewajipan
orang tua) adalah untuk mempersiapkan anak-anaknya agar dapat berbakti
kepadanya seperti sabda Nabi SAW., Allah merahmati orang tua yang menolong
anaknya untuk boleh berbakti kepadanya.
Sedangkan Uquud Walidain bermaksud durhaka terhadap mereka
dan tidak berbuat baik kepadanya.
Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya -: Termasuk
Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginankeinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr
(berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan
mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan
sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat,
walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada
asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara
yang mandub (disukai/ disunnahkan).[i]
Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah mudah-mudahan Allah merahmatinya -:
Berkata Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir Barangsiapa yang
menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus
mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali.[ii]

Hukum Birrul Walidain


Para Ulama Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua
orang tua hukumnya adalah wajib selain terhadap perkara yang haram.
Syariat Islam meletakkan kewajipan birrul walidain menempati ranking ke-dua
setelah beribadah kepada Allah SWT. dengan mengesakan-Nya. Dalil-dalil Shahih
dan Sharih (jelas) banyak sekali, diantaranya terdapat tiga ayat yang menunjukkan
kewajipan yag khusus untuk berbuat baik kepada kedua orang tua:

Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan
Dia dengan sesuatu apa jua dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu
bapa. (QS. An Nisa : 36).


Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan


kepadaNya semata-mata dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa.
Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sekali, sampai kepada
umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, makajanganlah engkau berkata
kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun perkataan Ha dan
janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada
mereka perkataan yang mulia (yang bersopan santun).. (QS. Al Isra: 23).

Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya
telah mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari
awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya
ialah dalam masa dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepadaKu
dan kepada kedua ibubapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah jua tempat kembali
(untuk menerima balasan). (QS. Luqman : 14).
Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoinya, Tiga ayat dalam Al
Quran yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya,
kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah SWT.: bersyukurlah
kepadaKu dan kepada kedua ibubapamu, Berkata beliau. Maka, barangsiapa
yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua
ibubapanya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.[iii].
Berkaitan dengan ini, Rasulullah SAW. bersabda: Keridhaan Rabb (Allah) ada
pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan
orang tua (HR. Tirmidzi)[iv].
Al Mughirah bin Syubah mudah-mudahan Allah meridhainya meriwayatkan
daripada i Nabi SAW. beliau bersabda: Sesungguhnya Allah mengharamkan atas
kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak
mahu memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian
(mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti
terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuangbuang harta. (HR Muslim)

Keutamaan Birrul Walidain



1.

( amal yang paling dicintai disisi Allah SWT selepas


Solat) (

Sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abdir Rahman Abdillah Ibni
Masud ra Aku pernah bertanya kepada Nabi SAW amal apa yang paling di
cintai disisi Allah ? Rasulullah bersabda Solat tepat pada waktunya. Kemudian
aku tanya lagi Apa lagi selain itu ? bersabda Rasulullah Berbakti kepada
kedua orang tua Aku tanya lagi Apa lagi ?. Jawab Rasulullah Jihad dijalan
Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini tidak beerti jika melakukan Solat tepat pada waktu dan jihad fisabilillah
menafikan kewajipan birrul walidain kerana Rasulullah SAW. pernah menolak
permohonan salah seorang sahabat untuk jihad fisabilillah kerana masalah
hubungan dengan kedua ibu bapanya. Lantas Rasulullah SAW. memerintahkan
beliau segera pulang menyelesaikan permasalahan tersebut dahulu.
2.

( doa mereka mustajab)

Di antara buktinya adalah kisah ulama besar hadits yang sudah maruf di tengahtengah kaum muslimin, Imam Bukhari rahimahullah. Beliau buta sewaktu kecil
lalu ibunya seringkali berdoa agar Allah SWT. memulihkan penglihatan beliau.
Suatu malam di dalam mimpi, ibunya melihat Nabi Allah, al-Khalil, Ibrahim
alaihis salam yang berkata kepadanya, Wahai wanita, Allah telah
mengembalikan penglihatan anakmu karena begitu banyaknya kamu berdoa.
Pada pagi harinya, ia melihat anaknya dan ternyata benar, Allah telah
mengembalikan penglihatannya.[v]
Hal di atas menunjukkan benarnya sabda Rasul kita shallallahu alaihi wa sallam
akan manjurnya doa orang tua pada anaknya.
Dari Anas bin
sallam bersabda,

Malik radhiyallahu

anhu,

Nabi shallallahu

alaihi

wa

Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan
doa seorang musafir. (HR. Al Baihaqi[vi])
3. ( sebab turunnya rahmat)

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda, Barangsiapa yang ingin


rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya
ia menjaga tali silaturahim. (HR. Bukhari dan Muslim)
4.

Bukan beerti membalas budi kerana jasa mereka tidak mungkin terbalas

Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda:


Seorang anak tidak akan dapat membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia
mendapatkan ayahnya sebagai hamba, lalu dia merdekakan. (HR. Muslim)
5.
Al ummu hiya ahaqu suhbah (prioriti untuk mendapat perlakuan yang lebih
dekat dari kedua orang tua ialah ibu)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata, Datang seseorang kepada
Rasulullah SAW. dan berkata, Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus
berbakti pertama kali ? Nabi SAW. menjawab, Ibumu! Orang tersebut kembali
bertanya, Kemudian siapa lagi ? Nabi SAW. menjawab, Ibumu! Ia bertanya lagi,
Kemudian siapa lagi? Nabi SAW. menjawab, Ibumu!, Orang tersebut bertanya
kembali, Kemudian siapa lagi, Nabi SAW. menjawab, Bapakmu (HR. Bukhari
dan Muslim)
6.

Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Syurga.

Rasulullah SAW. bersabda, Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh


kasihan. Salah seorang sahabat bertanya, Siapa yang kasihan, wahai
Rasulullah? Beliau menjawab, Orang yang sempat berjumpa dengan orang
tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka
sudah tua, namun tidak dapat membuatnya masuk Surga. (HR. Muslim)
7.

Durhaka kepada orang tua, termasuk dosa besar yang terbesar.

Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, Mahukah


kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar? Para Sahabat menjawab, Tentu
mahu, wahai Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam. Beliau bersabda, Berbuat
syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua. Kemudian, sambil
bersandar, beliau bersabda lagi, ..ucapan dusta, persaksian palsu.. Beliau terus
meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau
segera terdiam. (HR Bukhari dan Muslim)

Melaksanakan Birrul Walidain


Semasa Mereka Masih Hidup

1.

Mentaati

Mereka

Selama

Tidak

Mendurhakai

Allah

Saad bin Abi Waqas semoga Allah merahmatinya menerapkan bagaiman


konteks Birrul Walidain mempertahankan keimanan kepada Allah SWT dan
Rasul-Nya. Saat ibunya mengetahui bahwa Saad memeluk agama Islam, ibunya
mempengaruhi dia agar keluar dari Islam sedangkan Saad terkenal sebagai anak
muda yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Ibunya sampai mengancam
kalau Saad tidak keluar dari Islam maka ia tidak akan makan dan minum sampai
mati. Dengan kata-kata yang lembut Saad merayu ibunya Jangan kau lakukan
hal itu wahai Ibunda, tetapi saya tidak akan meninggalkan agama ini walau
apapun gantinya atau risikonya.
Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat:
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya (QS. Luqman: 15)
Tidak bosan-bosannya Saad menjenguk ibunya dan tetap berbuat baik kepadanya
serta menegaskan hal yang sama dengan lemah lembut sampai suatu ketika ibunya
menyerah dan menghentikan mogok makannya.
2.

Berbakti

dan

Merendahkan

Diri

di

Hadapan

Kedua

Orang

Tua

Allah
Subhanahu
wa
Taala
juga
berfirman:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua
ibu bapanya(QS. Al-Ahqaaf: 15)
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapa (QS. An-Nisaa: 36)
Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua
dan lanjut hingga keadaan mereka melemah dan sangat memerlukan bantuan dan
perhatian daripada anaknya.
Abu Bakar As Siddiq ra. adalah sahabat Rasulullah SAW yang patut ditauladani
dalam berbaktinya terhadap orang tua. Disaat orang tuanya telah memasuki usia
yang sangat udzur, beliau masih melayan bapanya dengan lemah lembut dan tidak
pernah putus asa untuk mengajak ayahnya beriman kepada Allah. Penantian beliau
yang cukup lama berakhir apabila ayahnya menerima tawaran untuk beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman dalam QS. 14 : 40 41 ayat yang doa agar anak, cucu dan
seluruh
anggota
keluarganya
menjadi
orang-orang
yang muqiimas
Solat (mendirikan Solat) dan diampuni dosa-dosanya. Ayat ini merupakan suatu
kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada kelurga Abu Bakar As Siddiq ra.
3. Merendahkan Diri Di Hadapan Keduanya
Allah
Subhanahu
wa
Taala
berfirman:
Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu
terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: Wahai,
Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku
waktu kecil. (QS. Al-Israa: 23-24)
4. Berbicara Dengan Lembut Di Hadapan Mereka
Nabi Ibrahim alaihiisalam mempunyai ayah yang bernama Azar yang aqidah-nya
menyalahi dengan Nabi Ibrahim alaihiisalam tetapi tetap menunjukan birrul
walidain yang dilakukan seorang anak kepada bapaknya. Dalam menegur ayahnya
beliau menggunakan kata-kata yang mulia dan ketika mengajak ayahnya agar
kejalan yang lurus dengan kata-kata yang lembut sebagaimana dikisahkan Allah
pada QS. 19 : 41-45.
5.

Menyediakan

Makanan

Untuk

Mereka

Dari Anas bin Nadzr al-Asyjai, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat
Ibnu Masud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Masud datang
membawa air minum, ternyata si Ibu sudah tidur. Akhirnya Ibnu Masud berdiri di
dekat kepala ibunya sambil memegang bekas berisi air tersebut hingga pagi.
(Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)
6. Meminta Izin Kepada Mereka Sebelum Berjihad dan Pergi Untuk Urusan
Lainnya
Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan. Seorang
laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya:
Ya, Raslullah, apakah aku boleh ikut berjihad? Beliau balik bertanya: Apakah
kamu masih mempunyai kedua orang tua? Laki-laki itu menjawab: Masih.

Beliau bersabda: Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya. (HR.


Bukhari no. 3004, 5972, dan Muslim no. 2549, dari Ibnu Amr radhiyallahu
anhu)
7. Memberikan Harta Kepada Orang Tua Menurut Jumlah Yang mereka Inginkan
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki
ketika ia berkata: Ayahku ingin mengambil hartaku. Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: Kamu dan hartamu milik ayahmu. (HR. Ahmad, Abu Dawud,
dan Ibnu Majah)
Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap
orang yang menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil dan
lemah, serta telah berbuat baik kepadanya.
8. Membuat Keduanya Ridha Dengan Berbuat Baik Kepada Orang-orang yang
Dicintai
Mereka
Hendaknya seseorang membuat kedua orang tua ridha dengan berbuat baik
kepada para saudara, karib kerabat, teman-teman, dan selain mereka. Yakni,
dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim dengan mereka,
menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka. Akan disebutkan nanti
beberapa hadits yang berkaitan dengan masalah ini.
9.

Memenuhi

Sumpah

Kedua

Orang

Tua

Apabila kedua orang tua bersumpah kepada anaknya untuk suatu perkara tertentu
yang di dalamnya tidak terdapat perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak
untuk memenuhi sumpah keduanya karena itu termasuk hak mereka.
10. Tidak Mencela Orang Tua atau Tidak Menyebabkan Mereka Dicela Orang
Lain
Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah
satu dosa besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya. Para Sahabat
bertanya: Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya? Beliau
menjawab: Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas
mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela
ibunya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila Mereka Meninggal Dunia ()


1.

Mensolati/Berdoa

terhadap

Keduanya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi SAW bersabda, Apabila
manusia sudah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan dirinya. (HR.
Muslim)
2.

Beristighfar

Untuk

Mereka

Berdua

Allah Subhanahu wa Taala menceritakan kisah Ibrahim Alaihissalam dalam AlQuran:


Ya, Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku (QS. Ibrahim: 41)
3.

Menunaikan

Janji/Wasiat

Kedua

Orang

Tua

4.

Memuliakan

Rakan-Rakan

Kedua

Orang

Tua

Ibnu Umar berkata aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa


sallam bersabda: Sesungguhnya bakti anak yang terbaik ialah seorang anak
yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah
ayahnya tersebut meninggal. (HR. Muslim)
5.

Menyambung

Tali

Silaturahim

Dengan

Kerabat

Ibu

dan

Ayah

Barang siapa ingin menyambung silaturahim ayahnya yang ada di kuburannya,


maka sambunglah tali silaturahim dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia
meninggal. (HR. Ibnu Hibban)
Rasulullah SAW. yang telah ditinggal ayahnya Abdullah kerana meninggal dunia
saat Rasulullah SAW. masih dalam kandungan ibunya Aminah. Dalam pendidikan
birrul walidain ibunya mengajak Rasulullah ketika berusia enam (6) tahun untuk
berziarah kemakam ayahnya dengan perjalanan yang cukup jauh. Dalam
perjalanan pulang ibunda beliau jatuh sakit tepatnya didaerah Abwa hingga
akhirnya meninggal dunia. Setelah itu Rasulullah diasuh oleh pamannya Abdul
Thalib, beliau menunjukan sikap yang mulia kepada pamannya walaupun aqidah
pamannya berbeda dengan Rasulullah. Dan Rasulullah SAW. berbakti pula kepada
pengasuhnya yang bernama Sofiah binti Abdil Mutthalib.

Definisi Ukhuwah
Secara Bahasa Ukhuwah Islamiyah berarti Persaudaraan Islam. Adapun secara
istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan
Allaah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan
perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap
saudara seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling menolong,saling
pengertian dan tidak menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain yang
semua itu muncul karena Allaah semata.
Dalil bahwa ukhuwah merupakan karunia Allaah adalah Firman-nya :

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allaah dan janganlah kamu
sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu
bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka
kamu menjadi bersaudara. (QS. Ali Imran [3]: 103).


Dan (Dia-lah) yang mempersatukan hati orang-orang yang beriman. Walaupun


kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak
dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allaah telah mempersatukan hati
mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Anfal
[8]:
63).

Kenikmatan ukhuwah karena Allaah yang berlandaskan iman dan takwa


inilah yang akan kekal sampai hari akhir. Firman-Nya :


Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagian yang lain,
kecuali orang yang bertakwa. (QS. Az Zukhruf [43]:67).

Dasar

Perintah

Ukhuwah

Diantara dasar wajibnya menggalang ukhuwah islamiyyah adalah firman


Allaah
:

Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah


kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian
mendapatkan rahmat. (QS al-Hujurat [49]: 10).
Juga sabda Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam :

Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan
kalian hingga kalian saling mencintai... (HR. Muslim).

Jauhilah prasangka buruk karena prasangka buruk adalah pembicaraan yang


paling dusta. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab an-Nikah, Bab La Yakhthub
ala Khithbah Akhihi, 9/198, no. 5143; dan Muslim, Kitab al-Birr, Bab Tahrim
Zhulmi
al-Muslim, 4/1987,
no.
2563
dan
2564).


Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ucapan yang paling dusta. Janganlah
kalian mencari-cari aib orang lain, juga janganlah saling mendengki, membenci,
atau memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allaah yang bersaudara. (HR.
Bukhari : 5604).

Sesungguhnya perumpaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana


bangunan kokoh, yang saling menguatkan satu dengan lainnya. (HR. Bukhari
dan Muslim).

Mukmin dengan Mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, sebagian menguatkan


sebagian lainnya. (HR. Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ahmad).
Dalam

Hadits

Nukman

bin

Basyir

disebutkan

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling


mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu
anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya)
dengan tidak bisa tidur dan merasa panas. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Hadits Ibnu Umar radliyallaahu 'anhu :

Barangsiapa yang melonggarkan (menghilangkan) satu kesukaran seorang


mukmin dari kesukaran-kesukaran dunianya, maka Allaah akan menghilangkan
satu kesukaran dari kesukaran-kesukaran dia pada hari kiamat. Barangsiapa yang

memberikan kemudahan pada orang yang kesulitan, maka Allaah akan


memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa
menutupi (aib) seorang muslim, maka Allaah akan menutupi aibnya di dunia
maupun di akhirat. Dan Allaah senantiasamenolong seorang hamba selama hamba
itu selalu menolong saudaranya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak akan menganiayanya dan
tidak akan menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapaada didalam keperluan
saudaranyamaka Allaah ada didalam keperluannya. Barangsiapa menghilangkan
suatu kesukaran dari orang muslim, maka Allaah akan menghilangkan satu
kesukaran-kesukaran yang ada pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi
(aib) seorang muslim, maka Allaah akan menutupu (aibnya) pada hari kiamat.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Pentingnya Akhlak Islami


keimanan seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya aqidah dan syariah
yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman
seseorang terhadap aqidah dan syariah.
Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur
aqidahnya.(HR.Tirmidi).
Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan
sesungguhnya sebaik-baik manusia keislamannya adalah yang paling baik
akhlaknya.(HR.Thabrani, Ahmad dan Abu Yala).
Akhlak adalah buah dari ibadah.


Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al Kitab (Al Quran) dan
dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji
dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (QS. 29:45)
Keluhuran akhlak merupakan amal terberat hamba di akhirat, Tidak ada yang lebih berat
timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya (HR. Abu
Daud dan At-Tirmizi).
Akhlak merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, umat karena itulah
akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim sebagai makhluk Allah SWT.

Sesungguhnya termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya
(Muttafaq alaih).

Tanda Ciri Orang Yang Bersyukur


Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang
terus menerus, dengan berbagai macam bentuk lahir dan batin. Hanya manusia
sajalah yang kurang pandai memelihara nikmat, sehingga ia merasa seolah-olah
belum
diberikan
sesuatupun
oleh
Allah.
Disebabkan ia tidak bersyukur kepada Allah dan tidak merasakan bahwa Allah
telah
memberi
kepadanya
sangat
banyak
dari
permintaannya.
Realisasi rasa syukur kepada Allah tersebut, bukanlah suatu perbuatan yang siasia, tapi dengan demikian akan mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada
Sang Maha Pencipta, dan yang terpenting kita akan terhindar dari murka dan
siksaan
Allah.
Ini adalah salah satu dari hikmah keutamaan serta tujuan manfaat kita bersyukur
kepada
Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah merenung sejenak tentang
bagaimana betapa banyaknya rezki lahir batin yang kita terima dari Allah swt.
Berapa banyak ribuan jutaan milyaran sudah tiupan napas udara yang kita hirup.
Berapa banyak langkah kaki yang kita gunakan untuk berjalan, berapa banyak
energi otak yang kita pakai, dan sebagainya. Sungguh banyak sekali nikmat Allah
Ta'ala yang kita terima, sehingga saking banyaknya, kita pun tak sanggup untuk
bisa
menghitungnya.
Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan atau tidak mau untuk
menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari
Allah Taala. Kita berlindung kepada Allah dari sifat kufur nikmat ini aamiin. Bila
kita pandai dalam Mensyukuri Nikmat Allah maka hal ini akan mendatangkan
nikmat-nikmat
Allah
lainnya.
Ada beberapa tanda-tanda orang yang bersyukur dan tanda tersebut adalah :

1. Mengakui, memahami, serta menyadari bahwa Allah-lah yang telah


memberikan nikmat. Pengertiannya di sini adalah bahwa segala nikmat
pada dasarnya Allah yang memberikan kepada kita. Manusia adalah juga
merupakan perantara dari Pemberi Nikmat yang sesungguhnya yaitu
Allah. Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang
didapatnya kepada Allah Taala, bukan kepada makhluk atau pun lainnya.
2. Orang bersyukur akan menunjukkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah.
Jadi tanda mensyukuri nikmat Allah adalah menggunakan nikmat tersebut
dengan beribadah dan taat menjalankan ajaran agama. Keanehan bila
orang mengakui nikmat Allah, tetapi tidak mau menjalankan ajaran agama
seperti halnya sholat, enggan belajar agama dan sejenisnya.
Lalu bagaimana kita tanda bersyukur pada Allah ini dalam kehidupan kita seharihari. Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita
yaitu
diantaranya
dengan
:
Mensyukuri

Nikmat

Allah

Dengan

Hati

Cara bersyukur kepada Allah dengan hati ini maksudnya adalah dengan mengakui,
mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya hanya
dari
Allah
SWT
semata.

Mensyukuri Nikmat Allah Dengan Lisan Lidah


Caranya adalah dengan kita memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji
milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
Caranya lainnya adalah dengan bertafakkur kepada Allah swt, pandangan mata
batin bahwa Allah swt lah Sang Maha Pemberi nikmat tersebut. Bersifat qanaah,
dalam urusan dunia melihat ke bawah dan dalam urusan agama melihat ke atas.
Selalu berpikir positif (husnuzhan) terhadap semua nikmat Allah swt,
karena nikmat pada dasarnya adalah sebagai ujian, apakah pandai bersyukur atau
tidak.
Orang sering ingat Allah swt di saat susah yang juga sebagai ujian, tapi sering
lupa kepada Allah di saat di uji dengan nikmat kesenangan.

Mensyukuri

Nikmat

Allah

Amal

Perbuatan

Yaitu perbuatan dalam bentuk ketaatan kita menjalankan segala apa yang
diperintah dan menjauhi segala apa yang dilarangNya. PerintahNya termasuk
segala hal yang yang berhubungan dalam rangka menunaikan perintah-perintah
Allah, baik perintah itu yang bersifat wajib, sunnah maupun mubah.
Menggunakan nikmat tersebut sesuai keinginan Sang Maha Pemberi,
dimanifestasikan, direalisasikan untuk intensitas amal kebajikan yang semakin
meningkat, seperti sedekah, berbagi, sosial, pemberdayaan, infak, zakat,
pembangunan mesjid, madrasah, pesantren, dan juga digunakan untuk semua amal
kebajikan lainnya.

Urgensi Tarbiyah (Ahammiyah Tarbiyah)


Tarbiyah Islamiyah yang dibawa oleh Rosul dan Islam adalah untuk memperbaiki
manusia. Keadaan jahiliyah yang dikenal dengan ummat jahiliyah di zaman Rosul
mempunyai ciri-ciri bodoh, hina, lemah, miskin, dan berpecah-belah. Keadaan ini
berlaku pada saat ini dan juga mungkin terdapat di kalangan muslim sendiri.
Kejahiliyahan ini membawa kita kepada kesesatan yang nyata. Allah SWT melalui
RasulNya memberikan tarbiyah dan Islam adalah tarbiyah kepada manusia.
Al Quran menjelaskan berbagai marhalah dan metode tarbiyah. Tarbiyah
memiliki tiga marhalah yaitu tilawah, tazkiyah, mengajarkan dan mempelajari
kitab dan hikmah. Di antara pentingnya kita mengikuti tarbiyah adalah karena Al
Quran dan hadits menyuruh kita untuk belajar, berilmu, dan mengikuti
pendidikan seumur hidup dan juga karena banyaknya keuntungan yang diperoleh
dari tarbiyah ini. Beberapa keuntungan tarbiyah yang kita rasakan adalah
mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk memperoleh pengetahuan, harga diri
(izzah), kekuatan, dan persatuan. Keseluruhannya akan membentuk khairu
ummah.
Ummat Jahiliyah
Ummat jahiliyah adalah ummat yang ada di zaman sebelum nabi Muhammad
SAW. Walaupun demikian ciri-ciri jahiliyah ini juga didapati pada masyarakat saat
ini. Keadaan masyarakat jahiliyah adalah keadaan yang menggambarkan
kerusakan dan kebodohan. Mereka secara pendidikan, teknologi, dan kemahiran

termasuk tinggi tetapi peradaban, budaya, serta tingkah laku yang tercermin pada
budaya, seperti binatang. Memperturutkan hawa nafsu adalah ciri kehidupan
jahiliyah dan inilah yang menjadikannya sama dengan binatang, serta kehidupan
seksual yang dimotivasi oleh faham hedonisme dan sebagainya.
Masyarakat jahiliyah mempunyai berbagai ciri, diantara ciri-cirinya adalah bodoh.
Mereka bodoh karena tidak menerima hidayah. Abu Jahal (Bapak Kebodohan)
yang diberi gelar oleh ummat Islam bukan karena dia bodoh ilmu, tetapi bodoh
hidayah, sedangkan ia diberi gelar oleh kaumnya dengan julukan abu hakam
(Bapak Pengadil). Tingkah laku yang mencerminkan kebodohan tidak menyadari
bahwa tingkah lakunya menghancurkan dirinya. Pribadi jahiliyah tidak menyadari
hakikat hidupnya, ia melihat kebaikan padahal merupakan keburukan dan
sebaliknya. Keadaaan jahiliyah akan menghancurkan peradaban dan kebudayaan.
Ummat jahiliyah dengan kebodohannya akan menjadikan dirinya hina. Kehinaan
yang menimpa dirinya adalah karena ia sendiri yang menjadikan dirinya hina.
Hina tidak terhormat karena kebanggaan yang diciptakannya melekat di status, di
kereta, di rumah, di jawatan, dan sebagainya. Kehormatan yang bersifat materi ini
sementara dan kebanggaan jahiliyah akan menjauhkan ia menuju ke derajat yang
lebih rendah. Kehinaan terjadi apabila mereka tidak menghargai dirinya sebagai
manusia yang mulia. Tindakan bodoh akan menjadikannya hina, walaupun
tindakan tersebut dihiasi dengan berbagai kebanggaan, tetapi pada hakikatnya
menipu.
Lemah sebagai akibat kejahiliahan. Kelemahan karena masa dihabiskan untuk
hawa nafsu dan kepakaran digunakan untuk sementara dan kerusakan. Kelemahan
ini terjadi karena individu jahiliyah tidak dapat menghargai dirinya sehingga ia
tidak boleh mengaktualkan potensinya. Tidak adanya iman atau jahiliyah
menjadikan dirinya tidak ada dukungan dan tidak mempunyai energi.
Berpecah belah adalah ciri umat jahiliyah dimana pegangan mereka tidak jelas
dan pegangan tersebut hanyalah hawa nafsu. Hawa nafsu tidak mempunyai
kekuatan, ia senantiasa bergerak mengikuti angin dan hawa nafsu pun tidak ada
muara sehingga hawa nafsu senantiasa berubah dan tidak mempunyai arah.
Pegangan hawa nafsu akan menjadikan kita tidak mempunyai panduan yang jelas
bahkan akan menyesatkan. Perpecahan muncul karena tidak ada yang dapat
dipegang, kesepakatan atau perjanjian akan mudah berubah sesuai dengan ciri
hawa nafsunya.
Dalil Naqli

39:64 ; Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang musyrik itu setelah


jelas dalil-dalil Allah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah
atau memuja selain daripada Allah, hai orang-orang yang jahil?
25:63 ; Dan hamba-hamba Ar Rahman (yang diridhoiNya), ialah mereka yang
berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
33:72 ; Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi,
dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan
mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat dholim dan amat bodoh.
95:4-5 ; Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaikbaiknya. Kemudian Kami kembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya
(neraka).
4:28 ; Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia
dijadikannya lemah.
35:14 ; Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu dan kalau
kamu mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.
Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang
dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha
Mengetahui.
3:103 ; Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan
janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika
kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan
hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang bersaudara, dan
kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu
daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.
Berada di dalam kesesatan yang nyata
Allah SWT menyebutkan bahwa mereka sebelum kedatangan Rosul dalam
kondisi jahiliyah (kesesatan yang nyata). Kesesatan ini mempunyai berbagai ciri
dan akibat yang jelas. Kesesatan berarti dipengaruhi oleh syetan dan menjadikan
syetan sebagai kawan serta bertingkah laku yang berlawanan dengan nilai Islam.
Kesesatan juga berarti mengamalkan sesuatu yang dilarang. Akibat kejahiliyahan
itulah sehingga mereka berada dalam kesesatan yang nyata.
Dalil Naqli

62:2 ; Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Allah SWT melalui rasulnya memberikan tarbiyah
Turunnya Islam dengan kedatangan rasul adalah cara untuk mengatasi dan
menyelesaikan masalah masyarakat jahiliyah. Allah SWT menurunkan ayatNya
dan diterima rasul yang kemudian disampaikan kepada manusia melalui tarbiyah
yang merupakan gerakan penyelamatan atas kerusakan yang disebabkan oleh
masyarakat jahiliyah di masa itu. Namun demikian peranan tarbiyah di saat itu
masih sangat diutamakan mengingat keadaan jahiliyah terdapat kesamaan.
Dalil Naqli
2:151 ; Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu)
Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayatayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al
Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang
belum kamu ketahui.
3:164 ; Sesungguhnya Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang
beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan
mereka sendiri, yang membacakan di antara mereka ayat-ayat Allah,
membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al
Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan rasul) itu, mereka adalah benarbenar dalam kesesatan yang nyata.
62:2 ; Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di
antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan
sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Tarbiyah
Nabi Muhammad SAW memperbaiki ummat jahiliyah dengan melaksanakan
tarbiyah. Tarbiyah memuat ayat-ayat Allah sehingga dengan tarbiyah ini akan
menghasilkan masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai ilah. Tarbiyah
yang dilakukan rasul adalah tarbiyah Quraniyah, yaitu tarbiyah dengan
melakukan pendekatan Quran. Tarbiyah Imaniyah juga tumpuan utama tarbiyah
rasul.

Beberapa cara rasul SAW melakukan tarbiyah adalah dengan cara tilawah,
tazkiyah, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah (minhaj).
Dalil Naqli
96:1 ; Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.
2:121 ; Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka
membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.
Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang
rugi.
91:7-10 ; Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya.
92:17-21 ; Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.
Dan menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal
tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.
Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Tuhannya
Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
3.79 ; Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab,
hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia,Hendaklah kamu
menjadi penyembah-penyembahku bukan enyembah Allah. Akan tetapi (dia
berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
2:269 ; Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al
Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan baeangsiapa yang
dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari
firman Allah).
Kenikmatan yang besar
Individu dan masyarakat yang mengikuti tarbiyah dirinya akan dibimbing,
dibangun, dan dipelihara oleh nilai-nilai Islam yang mulia. Dirinya akan jauh dari
kejahiliyahan. Bebas dari jahiliyah maka ia akan mengikatkan dirinya kepada
Allah SWT sehingga ikatan ini akan meninggikan status dari derajatnya di sisi
Allah. Kehidupan mereka akan selamat di dunia dan juga di akhirat.

Hasil tarbiyah adalah kenikmatan yang besar yaitu berupa pengetahuan, harga
diri, kekuatan, dan persatuan. Dengan ilmu yang benar yang kita dapati melalui
tarbiyah boleh menjadikan kita manusia yang berilmu dan sadar atas tingkah laku
yang kita lakukan. Mempunyai izzah Islam berarti mengembalikan dirinya hanya
kepada Allah, bukan kepada benda-benda yang tidak bernilai. Dengan izzah ini
juga terdapat kekuatan Islam karena semangat yang ditumbuhkan melalui tarbiyah
dapat membangkitkan suasana kecintaan dan perjuangan. Akhirnya melalui
tarbiyah kita dapat disatukan dengan fikrah dan amal.
Banyak kenikmatan yang diperoleh melalui tarbiyah, selain tarbiyah ini adalah
sunnah nabi ataupun arahan dari Allah, maka tarbiyah ini mengandung banyak
manfaat bagi diri, keluarga, masyarakat dan juga bangsa. Dengan tarbiyah pribadi
manusia menjadi jauh dari kebodohan yang kemudian ia dapat menaikkan harga
dirinya kepada derajat mulia dan iapun boleh mendapatkan kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Tanpa tarbiyah maka syetan senantiasa mengganggu dan menjadikan kita sesat.
Tanpa tarbiyah kita akan mudah sesat dan kita akan dijauhkan dari Islam. Dengan
tarbiyah maka tawasau bil haq dan bish shobr akan berjalan sehingga dengan
tarbiyah akan tercegah kemungkinan syetan membawa kita kepada kesesatan.
Suatu kerugian apabila kita meninggalkan tarbiyah. Tanpa tarbiyah kita tidak
mendapat kejayaan. Hadirnya tarbiyah untuk menyelamatkan ummat jahiliyah
adalah suatu hal yang beriringan dengan turunnya Islam.
Tarbiyah yang tidak dapat membentuk kenikmatan ini bukan tarbiyahnya yang
tidak benar, tarbiyah sebagai wasilah rabbaniyah yang benar dan perlu diamalkan
tetapi kemungkinan manusia yang membawanya ke arah yang benar atau tidak
mengikuti minhaj sehingga tarbiyah tidak berkesan.
Dalil Naqli
93:7 ; Dan dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan
petunjuk.
49:17 ;Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keimanan mereka.
Katakanlah,Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan
keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang memberikan nikmat kepadamu
dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang
benar.
96:5 ; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

93:8 ; Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia
memberikan kecukupan.
21:90 ; Maka Kami memperkenankan doanya, dan kami anugerahkan kepadanya
Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatanperbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.
Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.
Khairu Ummah
Ummat jahiliyah berubah menjadi ummat Islam. Ummat Islam yang berdakwah
dan senantiasa peduli dengan keadaan sosial, ummat, dan agamanya, maka ia
disebut ummat yang baik. Ummat yang baik adalah ummat yang menjalankan
amar maruf dan nahyi munkar.
Dalil Naqli
3:104 ; Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar.
Mereka itulah orang yang beruntung.
Ringkasan
Ummat jahiliyah (39:64; 25:63) ciri-cirinya adalah bodoh (33:72), hina (95:4-5);
lemah (4:28); miskin (35:14); berpecah belah (3:103).
Berada dalam kesesatan yang nyata (62:2)
Allah SWT melalui RasulNya memberikan tarbiyah (2:151; 3:164; 62:2)
Tarbiyah memiliki 3 marhalah, yaitu tilawah (96:1; 2:121, hadits), tazkiyah (91:710; 92:17-21); mengalimkan tentang al kitab (3:79)dan al hikmah (2:269, hadits)
Hasilnya adalah kenikmatan yang besar yaitu petunjuk (93:7; 49:17) seperti
pengetahuan (96:5), harga diri (63:8), kekuatan (hadits), kekayaan (93:8),
persatuan (21:90). Kesemuanya membentuk kkairu ummah (3:104).