Anda di halaman 1dari 11

5.

1 Operasi Produksi Field Lirik


Field Lirik memiliki 78 sumur yang berproduksi, dari semua sumur
tersebut dikelompokan menjadi 5 bagian yang memiliki masing-masing
manifold. 11 sumur di manifold I, 14 sumur di manifold II, 21 sumur di
manifold III, 19 sumur di manifold IV dan 13 sumur di manifold molek.
Pada field Lirik memiliki stasiun pengumpul utama di SPU Sei Karas dan
memiliki pusat pengumpul produksi (PPP) serta terminal buatan untuk
menampung minyak sebelum dibawa ke unit pengolahan Sei Pakning.
Pada Manifold III dan IV memiliki peralatan dan proses yang sama.
Fluida mengalir dari sumur melalui flow line menuju ke header yang ada
pada manifold. Setiap manifold memiliki separator test yang berfungsi
mengetahui produksi masing-masing sumur. Setiap manifold memiliki 3
header, 2 header produksi (salah satunya adalah header emergency) dan 1
header untuk separator test. Dari header fluida tersebut dialirkan ke FWKO
(Free Water Knock Out) yang berfungsi memisahkan minyak, air dan gas
dengan menggunakan chemical reverse. Air yang terpisahkan dipompakan
menuju ke SPU, sedangkan minyak hasil pemisahan dimasukkan kedalam
storage tank dengan kapasitas 2.000 bbl.
Minyak dari hasil pemisahan di Manifold III dan IV dipompakan ke
SPU dengan pompa centrifugal menuju ke header di SPU. Setelah sampai
di header pada SPU minyak masuk ke FWKO untuk dipisahkan kembali, air
yang telah terpisahkan mengalir ke skimming pit sedangkan minyak masuk
ke heater treater. Pada heater treater minyak dipisahkan kembali dengan

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

cara dipanaskan pada suhu tertentu dan ditambahkan chemical demulsifier.


Air yang telah terpisahkan mengalir ke skimming pit, sedangkan minyak
mengalir ke tanki S-815 dengan kapasitas tanki sebesar 10.000 bbl. Air pada
skimming pit masih memiliki sedikit minyak, minyak pada skimming pit
dipisahkan kembali dan dipompakan ke tanki S-987. Pada tanki S-815
minyak ditampung selama kurang lebih 3 hari dan di drain, untuk
pemompaan minyak ke PPP minyak dipompakan terlebih dahulu ke tanki S987. Setelah minyak ditampung di tanki S-987 lalu minyak dipompakan ke
PPP. Pada PPP minyak yang dipompakan dari SPU ditampung di tanki T-1
dengan kapasitas 55.000 bbl. Minyak didalam tanki T-1 di drain dengan
chemical EON demulsifier, di dalam tanki T-1 dilengkapi dengan steam
untuk memanaskan dan membantu proses drain dari minyak. Steam pada
tanki T-1 mendapat suplai gas dari gas yang dihasilkan oleh boiler, tekanan
maksimum pada boiler sebesar 5 bar dan yang digunakan berkisar antara 4,1
bar. Bahan yang diuapkan pada boiler adalah air sedangkan bahan bakarnya
adalah solar, selain menyuplai gas untuk digunakan pada tanki T-1 boiler
juga menyuplai gas untuk digunakan pada heat exchanger.
Setelah itu minyak pada tanki T-1 pada PPP dipompakan dengan
pompa Aldrick ke heat exchanger. Minyak pada heat exchanger dipanaskan
dengan temperatur antara 150 F sampai dengan 160 F untuk ditrucking ke
terminal buatan, apabila tidak dilakukan proses trucking maka minyak
dipompakan kembali ke dalam tanki T-1. Selanjutnya minyak yang telah
ditrucking dan ditampung di terminal buatan dikapalkan ke Sei Pakning

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

untuk dilakukan pengolahan. Sebelum metode trucking digunakan pada PT.


Pertamina EP Asset 1 Field Lirik menggunakan metode

piping system.

Adanya penyumbatan pada pipa yang disebabkan oleh pengaruh temperatur,


tekanan dan sifat minyak itu sendiri (parafin), maka digunakan proses
trucking sebagai sistem transportasi produksi yang lebih efisien.
Air yang terkumpul didalam skimming pit di pompakan ke tanki S1399 pada SPU. Kemudian air tersebut masuk ke dalam sand filter untuk
dipisahkan kandungan solid dari airnya. Air yang sudah bersih dari pasir dan
solid dipompakan kedalam sumur water injection (WI).

Gambar 5.3 Header

Gambar 5.5 Heater Treater

Gambar 5.4 FWKO

Gambar 5.6 Tanki

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

Gambar 5.7 Skimming Pit


5.2 Kegiatan Penunjang Operasi produksi
5.2.1 Sonolog
Kegiatan sonolog digunakan untuk mengetahui data Static
Fluid Level (SFL) dan data Dynamic Fluid Level (DFL). Dari kedua
data tersebut digunakan untuk mengetahui berapa besarnya laju
produksi maksimum dari setiap sumur dan juga dapat menentukan
tekanan alir dasar sumur (Pwf) serta untuk mengetahui kinerja dari
pompa yang sedang beroperasi. Selain itu sonolog juga digunakan
sebagai salah satu indikasi terhadap adanya penurunan produksi
suatu sumur dan langkah yang akan diambil selanjutnya terhadap
sumur tersebut. Alat yang digunakan dalam kegiatan sonolog ini
adalah echometer. Bagian dari alat ini adalah gun, tabung nitrogen,
pressure tranducer dan laptop. Penggunaan gas nitrogen dalam
kegiatan sonolog ini dikarenakan gas nitrogen tidak mudah terbakar
dan juga lebih sensitif.
Pengoperasian sonolog diukur dengan cara gun dikoneksikan
pada lubang wellhead yang terkoneksi ke annulus kemudian
memasang pressure tranducer pada gun. Kemudian menggunakan
kabel untuk mengkoneksikan pressure tranducer dan laptop.
Kemudian nitrogen ditembakkan pada koneksi gun, rambatan gas
nitrogen didalam annulus dan tubbing akan direkam dan datanya
akan disimpan didalam tranducer. Setelah itu melihat pressure pada

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

gauge gun, pressure pada gauge tergantung pada tingginya level


cairan dan kandungan gas atau foam. Kemudian mengoperasikan
software Total Well management untuk menentukan tinggi Dynamic
Fluid Level atau Static Fluid Level. Jumlah joint tubing yang tidak
tercelup cairan akan terukur dan panjang rangkaian yang tercelup
juga dapat diketahui. Nantinya dari harga dynamic fluid level dapat
ditentukan harga tekanan alir dasar sumur (Pwf). Untuk harga Ps
(Static Pressure) bisa ditentukan dari harga Static Fluid Level.
Sehingga pada nantinya dapat membuat Kurva IPR untuk
mengetahui Produktivity Index sumur yang diuji.

Gambar 5.8 Echometer

Gambar 5.9 Gun

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

5.2.2

Gambar 5.10 Hasil Pembacaan Echometer


Pengujian Air Formasi
Pada PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik Field hampir setiap
harinya selalu dilaksanakan kegiatan dilaboratorium. Kegiatan yang
dilakukan dilaboratorium diantaranya adalah pengujian air formasi.
Pengujian air formasi dilaksanakan untuk mengetahui konsentrasi
Cl dan pH dari air formasi.
Penentuan Konsentrasi Cl pada Air Formasi
Prosedur Kerja
1. Mengambil air formasi dari sumur dan dimasukkan ke
dalam botol.
2. Menyaring air formasi menggunakan kertas saring dengan
labu Erlenmeyer sebagai wadah.
3. Mengambil 5 mL air formasi yang telah disaring dengan
menggunakan pipet Volumetrik dan Balp, setelah itu
memasukkannya kedalam labu Erlenmeyer.

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

4. Menambahkan dua tetes Kalium Kromat (K2CrO4) pada 5


mL air formasi sehingga warna air formasi berubah menjadi
berwarna kuning.
5. Menuangkan larutan AgNO3 0,1 N ke dalam buret.
6. Melakukan titrasi dengan larutan AgNO3 0,1 N sampai
warna larutan berubah menjadi warna merah bata.
7. Mencatat volume larutan AgNO3 0,1 N yang telah
digunakan untuk titrasi.
Data yang didapat
Sumur LS 60
Surface Depth : a. 1.000 ft
b. 500 ft
Perhitungan Konsentrasi Cl
a. Surface Depth 1.000 ft

[ Cl ]

1000 mg x Ar Cl x AgNo3 0,1 N x V AgNo3 titrasi


V air formasi
1000 x 35,5 x 0,1 x 0,5

[ Cl ] =
5

[ Cl ] = 355 mg/L atau ppm


b. Surface Depth 500 ft

[ Cl ]

1000 mg x Ar Cl x AgNo3 0,1 N x V AgNo3 titrasi


V air formasi
1000 x 35,5 x 0,1 x 0,6

[ Cl ] =
5

[ Cl ] = 426 mg/L atau ppm

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

Penentuan pH air Formasi


Prosedur Kerja
1. Mengambil 5 mL air formasi yang telah disaring
menggunakan pipet Volumetrik dan Balp.
2. Memasukkannya ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan dua tetes indikator Reagent menggunakan
pipet tetes.
3. Mengocok air formasi sampai tercampur dengan indikator
Reagent dan berubah warna.
4. Meletakkan tabung reaksi ke dalam alat pengukur pH, serta
meletakkan tabung reaksi yang berisi 5 mL aquadest atau
air tawar sebagai indikator pembanding.
5. Memasukkan lingkaran pH meter kedalam alat pengukur
pH dan menggeser sampai warna yang didapat sama dengan
warna air formasi.
6. Melihat dan mencatat pH air formasi yang didapat.

Hasil Pengukuran pH Air Formasi yang didapat


a. Surface Depth 1.000 ft
pH air formasi yang didapat adalah 8,75.
Maka air formasi bersifat basa.
b. Surface Depth 500 ft
pH air formasi yang didapat adalah 9.
Maka air formasi bersifat basa.

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

Gambar 5.11 Alat Pengukur pH


5.2.3

Pengukuran Water Cut


Pada PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik Field hampir setiap
harinya selalu dilaksanakan kegiatan dilaboratorium. Kegiatan yang
dilakukan dilaboratorium diantaranya adalah pengukuran water cut
dari crude oil. Pengukuran water cut bertujuan untuk mengetahui
besarnya kandungan air pada crude oil sehingga dapat ditentukan
berapa banyak minyak yang didapat dari setiap sumurnya. Berikut
adalah contoh pengukuran water cut pada sumur A 37, dengan gross
sebesar 80 bpd.

Water Cut
HAir
Water Cut = HTotal

x 100 %

1000
Water Cut = 1550

x 100%

Water Cut = 65 %

Nett (Minyak yang didapat)


Nett = (100 % - Water Cut) x Gross
Nett = (100 % - 65 %) x 80 bpd
Nett = 35 % x 80 bpd
Nett = 28 bpd

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

Gambar 5.12 Pengukuran Water Cut

5.2.4

Swabbing
Swabbing adalah salah satu kegiatan yang bertujuan untuk
mengetahui kandungan fluida dari suatu layer atau lapisan sebelum
sumur diproduksikan. Swabbing dilakukan dengan cara pengambilan
fluida dari sumur yang telah di workover atau wellservice dengan
menggunakan swab cup. Swab cup digunakan untuk mengangkat
fluida dari dalam sumur yang dibantu dengan line. Fluida yang telah
terangkat ke permukaan dapat diuji untuk mengetahui terdapatnya
minyak atau tidak pada fluida tersebut.

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik

Gambar 5.13 Swab Cup

Laporan Kerja Praktek PT. PERTAMINA EP Asset 1 Field Lirik