Anda di halaman 1dari 12

PANDANGAN AGAMA

BUDDHA TENTANG
TRANSFUSI DARAH
OLEH SETYORINI, S.Ag

Darah termasuk obat


Buddha bersabda Diantara mereka yang
menderita sakit, ada yang akan sembuh, ada
pula yang tidak akan sembuh apabila ia
mendapatkan diet atau obat atau perawatan
yang tepat, tetapi tidak akan sembuh apabila
mendapatkan diet atau obat atau perawatan
yang salah. (Anguttara Nikaya III, 3:22).

Dalam Agama Buddha Transfusi darah

merupakan salah satu bentuk karma baik


yaitu berdana, berdana sebagai praktek
mengembangkan cinta kasih, dengan rasa
cinta kasih orang menyumbangkan darah,
mengorbankan anggota tubuhnya untuk
kebahagiaan orang lain (ajjhatika dana)

TRANPLANTASI ORGAN MENURUT


PANDANGAN AGAMA BUDDHA
Pengertian transplantasi organ berdasarkan

UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan,


transplantasi adalah tindakan medis untuk
memindahkan organ dan atau jaringan tubuh
manusia yang berasal dari tubuh orang lain
atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan
untuk mengganti jaringan dan atau organ
tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

Transplantasi Organ dari Segi Agama Budha

Dari sudut pandang Agama Buddha


pendonoran organ dengan tujuan
memperbaiki hidup orang lain jelas
merupakan tindakan amal/dana
donor adalah salah satu bentuk karma baik

Mengorbankan hidup untuk kesejahteraan atau


kebahagiaan orang lain serta menyumbangkan
bagian tubuh sendiri merupakan dana yang
tinggi nilainya (dana-paramita) dalam
penyempurnaan diri.
Buddha bersabda tentang pahala dari berdana
yaitu : pemberi dana akan disenangi orang,
orang baik dan bijaksana mengikutinya,
namanya harum, dalam lingkungan pergaulan
apapun penuh kepercayaan, sesudah meninggal
dunia kelak terlahir dialam Bahagia (A.III.38)

Pandangan Agama Buddha tentang


Haid
Dalam Agama Buddha tidak dijelaskanmengenai

haid/menstruasi, dan tidak dipermasalahkan


orang yang sedang haid dalam kegiatan ibadah
seseorang yang mengalami menstruasi dapat
melaksanakan sembahyang dan juga meditasi
karena dalam kitab suci ataupun peraturan
dalam Vihara tidak ada larangan atau
pantangan. Yang terpenting kita mempunyai
keyakinan (saddha) dan juga sungguh-sungguh
untuk memusatkan pikiran dengan bermeditasi
sehingga kekotoran batin dapt dihilangkan

Pandangan Agama Buddha terhadap


Pemberian Asi
Asi merupakan Air Susu Ibu, yang sangat penting untuk daya

tahan tubuh bayi


Dalam Agama Buddha hal ini dijelaskan di sutra bakti seorang
anak Buddha bersabda tentang 10 kebaikan seorang ibu yang
salah satunya adalah Ibu rela berada ditempat yang basah agar
dengan demikian anak dapat di
tempat yang kering. Dengan kedua payudaranya dia memuaskan
rasa lapar dan
haus sang anak. Menutupi dengan kainnya, dia melindungi anak
dari angin dan
dingin, dalam kebaikan, kepala ibu jarang lega di atas bantal, dan
bahkan ia
melakukannya dengan gembira selama anak dapat merasa
senang, ibu yang baik
tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri

PANDANGAN AGAMA BUDDHA TENTANG


KESEHATAN LINGKUNGAN DAN KEBERSIHAN
Buddha bersabda bahwa kesehatan adalah

berkah tertinggi Nibbana adalah kebahagiaan


tertinggi (M.II.VII.65). Sungguh bahagia hidup
tanpa penyakit diantar orang-orang yang
berpenyakit, diantara orang-orang yang
berpenyakit hidup tanpa penyakit
(Dhp.XV.198).

Kesehatan adalah berkah tertinggi. Berkah itu

tidak datang dengan sendirinya.


Bagaimanapun majunya teknologi kedokteran,
bagaimanapun baiknya pelayanan
pemeliharaan kesehatan, status kesehatan
lebih ditentukan oleh lingkungan dan perilaku
manusia. Apa yang diperbuat oleh manusia
itulah yang mendatangkan berkah kesehatan.

Pandangan Buddhis mengenai lingkungan tercermin

dari kitab suci dhammapada: "bagai seekor lebah


yang tidak merusak kuntum bunga, baik warna
maupun baunya, pergi setelah memperoleh madu,
begitulah hendaknya orang bijaksana mengembara
dari desa ke desa" (Dhp. 49). Dalam ekosistem,
lebah tidak hanya mengambil keuntungan dari
bunga, tetapi juga sekaligus membayarnya dengan
membantu penyerbukan. Perilaku lebah memberi
inspirasi, bagaimana seharusnya menggunakan
sumber daya alam yang terbatas (Wijaya-Mukti,
2004:418).

Pengembangan kesadaran terhadap lingkungan

hidup didasarkan pada sikap mental, sebagai


rangkaian hubungan sebab akibat yang saling
bergantungan secara utuh. Melalui pengembangan
batin yang berdasarkan kebijaksanaan, perilaku
moral (sila), konsentrasi, dan belas kasih.
Menyadari betapa pentingnya keterkaitan antara
manusia dengan lingkungan secara luas, sehingga
manusia tidak dapat hidup sendiri. Menjaga
keseimbangan antara dunia kecil (diri manusia)
dan dunia besar (lingkungan yang luas).