Anda di halaman 1dari 20

BAB 4

PENILAIAN PERSEDIAAN DAN


PERHITUNGAN HARGA POKOK
PENJUALAN
A. Penilaian Persediaan dan Perhitungan Harga Pokok
Penjualan dengan Metode FIFO
Persediaan adalah barang
yang dimiliki perusahaan untuk
dijual

Persediaan barang dagangan (merchandise


inventory) adalah barang-barang yang dimiliki
perusahaan untuk dijual kembali. Perusahaan
industri memiliki tiga jenis persediaan yaitu:

1. Persediaan bahan baku,


2. Persediaan barang dalam proses, dan
3. Pesediaan barang jadi.
Sedangkan pada perusahaan dagang hanya mempunyai satu persediaan
yaitu persediaan barang dagangan. Di dalam neraca persediaan dilaporkan
dalam kelompok aset lancar, karena persediaan diharapkan dapat diubah
menjadi kas dalam waktu kurang satu tahun atau satu siklus akuntansi.
Persediaan barang dagang merupakan bagian yang cukup berarti dari
seluruh total aset yang dimiliki perusahaan juga transakasi yang berhubungan
dengan persediaan merupakan aktivitas yang sering terjadi. Di samping itu
persediaan akan dilaporkan pada dua laporan keuangan yaitu laporan laba rugi
dan neraca.
1. Nilai Persediaan Barang Dagangan
Nilai persediaan ditentukan
oleh kuantitas dan harga pokok

Nilai persediaan barang dagangan ditentukan oleh dua faktor yaitu kuantitas dan
harga pokoknya.

a. Kuantitas:
Kuantitas persediaan barang dangang diperoleh melalui perhitungan
secara fisik.

349

b. Harga pokok:
Yaitu harga untuk memperoleh persediaan barang dagangan
tersebut, meliputi: harga beli dan biaya yang terjadi sampai persediaan
tersebut siap dijual seperti biaya angkut, asuransi dan bea masuk dan
potongan pembelian diperhitungkan ke harga pokok secara rata-rata.
2. Metode Penetapan Harga Pokok Persediaan
Apabila hanya ada satu unit barang dagangan, maka harga perolehan
tidak sulit untuk ditetapkan, akan tetapi kenyataannya dalam satu periode di
dalam perusahaan ada beberapa unit barang dagangan bahkan beberapa
jenis dan frekuensi pembelian dan penjualan cukup banyak maka akan
mengalami kesulitan.
Hal demikian ini akan berakibat perusahaan harus mencari cara-cara
bagaimana harga perolehan tersebut dapat ditetapkan. Untuk menetapkan
besarnya harga perolehan persediaan barang dagang, berikut ini metode
yang biasa digunakan dalam penetapan harga pokok persediaan yaitu:
a. Asumsi Arus Biaya
Metode dengan asumsi arus biaya menggunakan anggapan
mengalirnya faktor-faktor biaya. Penggunaan ini karena unit-unit barang
dagangan sulit untuk dipisahkan/dibedakan satu sama lain. Metode
asumsi arus biaya ada tiga, yaitu:
1) Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP)/First-In First-Out
Metode masuk pertama keluar pertama beranggapan bahwa
faktor-faktor biaya akan mengalir searah dengan urutan terjadinya
biaya (masuk pertama keluar pertama). Metode ini terutama untuk
barang-barang yang tidak tahan lama dan produk-produk yang
modelnya cepat berubah.
Contoh: toko bahan makanan menyusun produk-produk susu
dalam rak sesuai dengan tanggal kadaluwarsanya. Ilustrasi 4.1
menunjukkan penggunaan metode masuk pertama keluar pertama.

350

Ilustrasi 4.1: Metode Masuk Pertama Keluar Pertama

Januari 06

Pembelian
Membeli
10 Barang X
Rp.
320.000,Dijual 3 dengan
Harga Pokok Rp.
320.000,-/kotak

Februari 06

Pembelian
Sisa 7
Membeli
Barang X
5 Barang X
Rp.
Rp.
320.000,340.000,Dijual 5 dengan
Harga Pokok Rp.
320.000,-/kotak

Maret 06

Sisa 2 Barang X
Rp. 320.000,Sisa 5 Barang X
Rp. 340.000,-

Pembelian
Membeli
8 Barang X
Rp.
360.000,Dijual 6 dengan perinician
2 dari Harga Pokok Rp.
320.000,-/kotak dan 4 dari
Harga Pokok Rp. 340.000,/kotak

Sisa 1 Barang X
Rp. 340.000,Sisa 8 Barang X
Rp. 360.000,-

2) Masuk Terakhir Keluar Pertama (MTKP)/ Last-In First Out (LIFO):


Metode masuk terakhir keluar pertama beranggapan bahwa arus
biaya memiliki arah terbalik dengan urutan terjadinya biaya (masuk
terakhir keluar pertama). Ilustrasi 4.2 menunjukkan penggunaan
metode masuk terakhir keluar pertama.
3) Biaya Rata-Rata (Average Cost):
Metode biaya rata-rata beranggapan bahwa arus biaya adalah
rata-rata dari biaya yang terjadi. Ilustrasi 4.3 menunjukkan
penggunaan metode biaya rata-rata.

351

Ilustrasi 4.2: Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama

Januari 06

Pembelian
Membeli
10 Barang X
Rp.
320.000,Dijual 3 dengan
Harga Pokok Rp.
320.000,-/kotak

Februari 06

Pembelian
Sisa 7
Membeli
Barang X
5 Barang X
Rp.
Rp.
320.000,340.000,Dijual 5 dengan
Harga Pokok Rp.
340.000,-/kotak

Maret 06

Pembelian
Sisa 7
Membeli
Barang X
8 Barang X
Rp.
Rp.
320.000,360.000,Dijual 6 dengan
Harga Pokok Rp.
360.000,-/kotak

Sisa 7 Barang X
Rp. 320.000,Sisa 2 Barang X
Rp. 360.000,-

b. Metode Identifikasi Khusus


Metode ini biasa digunakan untuk perusahaan dagang yang
mempunyai persediaan yang mudah dikenali atau diidentifikasikan untuk
setiap jenis barang dagangnya. Barang yang dibeli harus diberi identitas
secara jelas, sehingga perhitungan di gudang akan mudah.
Contoh: toko sepatu, dealer sepeda motor, mobil, sepeda.

352

Ilustrasi 4.3: Metode Biaya Rata-rata

Januari 06

Pembelian
Membeli
10 Barang X
Rp.
320.000,Dijual 3 dengan
Harga Pokok Rp.
320.000,-/kotak

Februari 06

Pembelian
Membeli
5 Barang X
Rp.
340.000,Dijual 5 dengan
Harga Pokok Rp.
330.000,-/kotak

Maret 06

Pembelian
Sisa 7
Membeli
Barang X
8 Barang X
Rp.
Rp.
330.000,360.000,Dijual 6 dengan
Harga Pokok Rp.
345.000,-/kotak

Sisa 9
Barang X
Rp.
345.000,-

3. Perhitungan Penentuan dan Pencatatan Persediaan


Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas berikut ini contoh
mengenai persediaan barang dagangan dan pembelian pembelian dan
penjualan dari suatu perusahaan.
Contoh: selama bulan Januari 2006 perusahaan dagang Trisno Purnomo
melakukan transaksi yang berkaitan dengan persediaan barang dagangan
sebagai berikut:

353

Tanggal
Keterangan
Unit
2006
1 Persediaan
200
Januari 10 Pembelian
400
25 Pembelian
300
30 Pembelian
100
Tersedia untuk dijual 1.000

Harga Beli/ Unit


Rp. 2.500,Rp. 3.000,Rp. 3.500,Rp. 4.000,-

Total Biaya
Rp. 500.000,Rp. 1.200.000,Rp. 1.050.000,Rp. 400.000,Rp. 3.150.000,-

a. Metode FIFO (Fisik)


Perusahaan Trisno Purnomo dalam penetapan persediaan
menggunakan metode FIFO dan pencatatannya menggunakan metode
fisik. Perusahaan melakukan perhitungan fisik barang dagangan pada
tanggal 31 Januari 2006 sebesar 300 unit. Karena barang dagangan
yang siap dijual sebesar 1.000 unit dan sisa barang dagangan pada
tanggal 31 Januari 2006 sebesar 300 unit, maka yang terjual adalah
700 unit.
Nilai persediaan barang dagangan dan harga
Fifo yaitu pembelian
pokok penjualan barang dagangan sebagai
pertama harus dijual
dahulu
berikut:
Nilai persediaan barang dagangan 31 Januari 2006 (barang
dagangan yang belum terjual sebesar 300 unit) adalah:
25 Januari
30 Januari

200 unit @ Rp. 3.500,100


___ unit @ Rp. 4.000,300 unit

= Rp. 700.000,= Rp.


400.000,- +
____________
Rp. 1.100.000,-

Penggunaan metode masuk pertama berasumsi bahwa barang


yang masuk (pembelian) pertama harus keluar (dijual) pertama, dengan
demikian persediaan barang dagangan akhir adalah sisa dari barang
yang telah terjual. Sehingga, nilai persediaan barang dagangan pada
tanggal 31 Januari 2006 sebanyak 300 unit sebesar Rp. 1.100.000,-.
Hal ini berasal dari sisa penjualan dari barang dagangan yang dibeli
tanggal 25 Januari 2006 sebanyak 200 unit @ Rp. 3.500,- dan barang
yang dibeli tanggal 30 Januari 2006, yaitu sebanyak 100 unit @
Rp. 4.000,-.
Sedangkan harga pokok penjualan barang
Barang yang terjual
dagangan (barang dagangan yang sudah terjual
akan membentuk harga
pokok p enjualan
sebanyak 700 unit) ditentukan sebagai berikut:

354

1 Januari
10 Januari
25 Januari

200 unit @ Rp. 2.500,400 unit @ Rp. 3.000,100


___ unit @ Rp. 3.500,700 unit

=
=
=

Rp. 500.000,Rp. 1.200.000,Rp.


350.000,____________
Rp. 2.050.000,-

Dengan demikian, harga pokok penjualan dari barang dagang dapat


ditentukan sebagai berikut:
Persediaan
Awal

Harga Pokok
Penjualan

Persediaan
Akhir

Pembelian
Bersih

Dengan cara di atas, maka harga pokok penjualan sebesar:


HPP = Rp. 500.000,- + Rp. 2.650.000,- Rp. 1.100.000,= Rp. 2.050.000,Karena yang masuk (pembelian) pertama harus keluar (dijual)
pertama maka barang yang dijual 700 unit, berasal dari barang
dagangan siap dijual dikurangi persediaan barang dagangan akhir atau
sebesar (1.000 unit 300 unit = 700 unit), maka barang dagangan yang
dijual adalah:
1. persediaan awal 1 Januari 2006 200 unit @ 2.500,
2. pembelian 10 Januari 2006 400 unit @ Rp 3.000
3. pembelian 25 Januari sebesar 100 unit @ Rp 3.500
b. Metode FIFO (Perpetual)
Apabila perusahaan menggunakan metode pencatatan secara perpetual dan mutasi barang dagangan (pembelian dan penjualan) dicatat
dengan rapi, maka perhitungan fisik tidak begitu diperlukan. Saldo
barang dagangan setiap saat bisa diketahui di dalam kartu persediaan.

355

Dalam kasus perusahaan Abadi di atas untuk memberi gambaran dari


metode pencatatan perpetual data yang dibutuhkan adalah tanggal dan unit
yang terjual.
Selama bulan Januari 2006 terjadi penjualan 700 unit dengan harga
jual Rp. 4.500,- per unit sebagai berikut:
Tanggal 15 Januari terjual 400 unit
Tanggal 28 Januari terjual 300 unit
Berikut ini kartu persediaan untuk bulan Januari 2006
Kartu Persediaan: Barang AA
PEMBELIAN
Tanggal Kuantitas Harga Harga
per unit

1 Januari
10

200
400

total

200
200
300

200
100
100

4.000

Kuantitas

total

2.500 500.000
3.000 600.000

3.500 1.050.000

28
30

per unit

2.500 500.000
3.000 1.200.000

15
25

PENJUALAN
Kuantitas Harga Harga

3.000 600.000
3.500 350.000

400.000

HPP

SISA
Harga

Harga

per unit

total

200
200
400
200

2.500 500.000
2.500 500.000
3.000 1.200.000
3.000 600.000

200
300
200

3.000 600.000
3.500 1.050.000
3.500 700.000

200
100

3.500
4.000

700.000
400.000

Persediaan akhir

Penetapan persediaan barang dagangan akhir dengan metode FIFO


dan dicatat dengan metode fisik maupun metode perpetual sama yaitu
sebesar Rp. 1.100.000,-, dengan demikian harga pokok penjualan juga sama
yaitu sebesar Rp. 2.050.000,-. Hal demikian ini tidak akan sama untuk metode
LIFO dan biaya rata-rata.
Apabila selama bulan Januari semua pembelian dilakukan secara tunai
dan penjualan dilakukan secara kredit, maka ayat jurnal untuk metode FIFO
- fisik sebagai berikut:

356

Jurnal Umum
Tanggal

Keterangan

Januari 10

15

25

28

30

Hal:
Reff

Pembelian barang dagangan


Kas
(400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000)
Piutang dagang
Penjualan
(400 x Rp 4.500 = Rp1.800.000)
Pembelian barang dagangan
Kas
(300 x Rp 3.500 = Rp 1.050.000)
Piutang dagang
Penjualan
(300 x Rp 4.500 = Rp1.350.000)
Pembelian barang dagangan
Kas
(100 x Rp 4.000 = Rp 400.000)

Debit

Kredit

1.200.000
1.200.000
1.800.000
1.800.000
1.050.000
1.050.000
1.350.000
1.350.000
400.000
400.000

Sedangkan ayat jurnal dengan menggunakan metode FIFO perpetual


sebagai berikut:
Hal:
Jurnal Umum
Tanggal

Keterangan

Januari 10

15

25

28

30

Persediaan Barang Dagangan


Kas
(400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000)
Piutang Dagang
Penjualan
(400 x Rp 4.500 = Rp1.800.000)
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Dagangan
(200 x Rp 2.500 = Rp 500.000)
(200 x Rp 3.000 = Rp 600.000)
Persediaan Barang Dagangan
Kas
(300 x Rp 3.500 = Rp 1.050.000)
Piutang Dagang
Penjualan
(300 x Rp 4.500 = Rp1.350.000)
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Dagangan
(200 x Rp 3.000 = Rp 600.000)
(100 x Rp 3.500 = Rp 350.000)
Persediaan Barang Dagangan
Kas
(100 x Rp 4.000 = Rp 400.000)

Reff

Debit

Kredit

1.200.000
1.200.000
1.800.000
1.800.000
1.100.000
1.100.000

1.050.000
1.050.000
1.350.000
1.350.000
950.000
950.000

400.000
400.000

357

B. Menentukan Nilai Persediaan dan Harga Pokok Penjualan


dengan Metode LIFO
1. Metode LIFO (Fisik)
Apabila perusahaan Trisno Purnomo dalam
penetapan persediaan menggunakan metode
LIFO dan pencatatan menggunakan metode fisik,
LIFO Fisik
dan jika berdasarkan hasil perhitungan fisik barang
dagangan pada tanggal 31 Januari 2006 sebesar
300 unit.
Karena barang dagangan yang siap dijual sebesar 1.000 unit dan sisa
barang dagangan pada tanggal 31 Januari 2006 sebesar 300 unit, maka
yang terjual adalah sebanyak 700 unit.
Nilai persediaan barang dagangan dan harga pokok penjualan barang
dagangan sebagai berikut:
Nilai persediaan barang dagangan 31 Januari 2006 (barang dagangan
yang belum terjual sebesar 300 unit) adalah:
1 Januari
10 Januari

200 unit @ Rp. 2.500,100 unit @ Rp. 3.000,___


300
___ unit

= Rp. 500.000,= ___________


Rp. 300.000,- +
Rp.
800.000,___________

Karena yang masuk (pembelian ) pertama harus keluar (dijual)


terakhir maka persediaan barang dagangan akhir adalah sisa dari
penjualan. Dengan demikian maka nilai persediaan barang dagangan
pada tanggal 31 Januari 2006 sebanyak 300 unit sebesar Rp. 800.000,-.
Hal ini berasal dari sisa penjualan dari barang dagangan saldo awal
tanggal 1 Januari 2006 sebanyak 200 unit @ Rp. 2.500,- dan pembelian
tanggal 10 Januari 2006 sebanyak 100 unit @ Rp. 3.000,-.
Sedangkan harga pokok penjualan sebesar 700 unit terdiri dari harga
perolehan yang berasal dari pembelian sebagai berikut:
30 Januari sebanyak
25 Januari sebanyak
10 Februari sebanyak

100 unit @ Rp. 4.000,300 unit @ Rp. 3.500,300


___ unit @ Rp. 3.000,700 unit

358

= Rp. 400.000,= Rp. 1.050.000,=


Rp. 900.000,______________
Rp. 2.350.000,-

2. Metode LIFO (Perpetual)


Apabila perusahaan menggunakan metode pencatatan secara perpetual
dan mutasi barang dagangan (pembelian dan penjualan) dicatat dengan
rapi, maka perhitungan fisik tidak begitu diperlukan. Saldo barang dagangan
setiap saat bisa diketahui di dalam kartu persediaan.
Dalam kasus perusahaan Abadi di atas untuk memberi gambaran dari
metode pencatatan perpetual data yang dibutuhkan adalah tanggal dan unit
yang terjual.
Selama bulan Januari 2006 terjadi penjualan 700 unit dengan harga
jual Rp.4.500,- per unit sebagai berikut:
Tanggal 15 Januari terjual 400 unit
Tanggal 28 Januari terjual 300 unit
Berikut ini kartu persediaan untuk bulan Januari 2006:
Kartu Persediaan: Barang AA
PEMBELIAN
Tanggal Kuantitas Harga
per unit

1 Januari
10
15
25
28
30

200
400

300

100

PENJUALAN

Harga Kuantitas Harga Harga


total
per unit total

2.500 500.000
3.000 1.200.000
400

3.000 1.200.000

300

3500 1.050.000

3.500 1.050.000

4.000

400.000

HPP

SISA
Kuantitas

200
200
400
200
200
300
200
200
100

Harga
per unit

Harga
total

2.500 500.000
2.500 500.000
3.000 1.200.000
2.500 500.000
2.500 500.000
3.500 1.050.000
2.500 500.000
2.500 500.000
4.000 400.000

Persediaan akhir

Penetapan persediaan barang dagangan akhir dengan metode LIFO dan


dicatat dengan metode perpetual sebesar Rp. 900.000,- dan harga pokok
penjualan sebesar Rp. 2.250.000,Apabila selama bulan Januari semua pembelian dilakukan secara tunai
dan penjualan dilakukan secara kredit, maka ayat jurnal untuk metode LIFO
- fisik sebagai berikut:

359

Jurnal Umum

(dalam rupiah)
Tanggal

Keterangan

Januari 10
15
25
28
30

Reff

Pembelian barang dagangan


Kas
(400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000)
Piutang dagang
Penjualan
(400 x Rp 4.500 = Rp1.800.000)
Pembelian barang dagangan
Kas
(300 x Rp 3.500 = Rp 1.050.000
Piutang dagang
Penjualan
(300 x Rp 4.500 = Rp1.350.000)
Pembelian barang dagangan
Kas
(100 x Rp 4.000 = Rp 400.000)

Hal:
Debit

Kredit

1.200.000
1.200.000
1.800.000
1.800.000
1.050.000
1.050.000
1.350.000
1.350.000
400.000
400.000

Sedangkan ayat jurnal dengan menggunakan metode LIFO perpetual


sebagai berikut:
Jurnal Umum

(dalam rupiah)
Tanggal

Keterangan

Januari 10

15

25

28

30

360

Reff

Hal:
Debit

Persediaan Barang Dagangan


Kas
(400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000)

1.200.000

Piutang Dagang
Penjualan
(400 x Rp 4.500 = Rp1.800.000)

1.800.000

Harga Pokok Penjualan


Persediaan Barang Dagangan
(400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000)

1.200.000

Persediaan Barang Dagangan


Kas
(300 x Rp 3.500 = Rp 1.050.000)

1.050.000

Piutang Dagang
Penjualan
(300 x Rp 4.500 = Rp1.350.000)

1.350.000

Harga Pokok Penjualan


Persediaan Barang Dagangan
(300 x Rp 3.500 = Rp 1.050.000)

1.050.000

Persediaan Barang Dagangan


Kas
(100 x Rp 4.000 = Rp 400.000)

Kredit

1.200.000

1.800.000

1.200.000

1.050.000

1.350.000

1.050.000
400.000
400.000

C. Menentukan Nilai Persediaan dan Perhitungan Harga


Pokok Penjualan dengan Metode Biaya Rata-Rata
Menurut metode ini kuantitas persediaan yang
ada dinilai berdasarkan rata-rata dari harga
pembelian per unit barang dagangan tersebut.
Pada kasus perusahaan Trisno Purnomo persediaan dan perhitungan harga pokok penjualan dapat
ditentukan sebagai berikut:

Metode biaya rata-rata

Tanggal
Keterangan
2006
1 Persediaan
Januari 10 Pembelian
25 Pembelian
30 Pembelian
Tersedia untuk dijual
Harga rata-rata per unit

Unit
200
400
300
100
1.000

Harga Beli/ Unit


Rp. 2.500,Rp. 3.000,Rp. 3.500,Rp. 4.000,-

Total Biaya
Rp. 500.000,Rp. 1.200.000,Rp. 1.050.000,Rp. 400.000,Rp. 3.150.000,-

= _________
Total biaya
unit
= Rp. 3.150.000,- : 1.000
= Rp. 3.150,- per unit.

Nilai persediaan akhir adalah: 300 unit Rp. 3.150,- = Rp. 945.000,Harga pokok penjualan adalah: 700 unit Rp. 3.150,- = Rp. 2.205.000,Berikut adalah kartu persediaan dengan menggunakan metode biaya ratarata perpetual:
Kartu Persediaan: Barang AA
PEMBELIAN
Tanggal

1 Januari
10
15
25
28
30

Kuantitas

200
400
300
100

PENJUALAN

Harga Harga
per unit total

2.500
3.000
3.500
4.000

Kuantitas

Harga Harga
per unit total

500.000
1.200.000
400

2.833,3 1.133.320

300

3.233,32 969.996

1.050.000
400.000

HPP

SISA
Kuantitas Harga
per unit

200
600
200
500
200
300

2.500
2.833,3
2.833,3
3.233,32
3.233.32
3.488,9

Harga
total

500.000
1.700.000
566.660
1.116.600
646.664
1.046.664

Persediaan akhir

361

Pada metode biaya rata-rata untuk menentukan harga per unit adalah jumlah
rupiah yang ada di saldo pada tanggal tertentu ditambah dengan total rupiah
pembelian dibagi dengan unit yang ada pada kolom saldo dan unit pembelian.
Dengan demikian nilai persediaan barang dagangan dengan metode biaya
rata-rata - perpetual adalah Rp. 1.046.664,- dan harga pokok penjualan sebesar
Rp. 2.103.316,-.
Apabila selama bulan Januari 2006, semua pembelian dilakukan secara
tunai dan penjualan dilakukan secara kredit, maka ayat jurnal untuk metode
biaya rata-rata - fisik sebagai berikut:
Jurnal Umum

(dalam rupiah)
Tanggal

Keterangan

Januari 10

15

25

28

30

Reff

Hal:
Debit

Pembelian barang dagangan


Kas
(400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000)

1.200.000

Piutang dagang
Penjualan
(400 x Rp 4.500 = Rp1.800.000)

1.800.000

Pembelian barang dagangan


Kas
(300 x Rp 3.500 = Rp 1.050.000)

1.050.000

Piutang dagang
Penjualan
(300 x Rp 4.500 = Rp1.350.000)

1.350.000

Pembelian barang dagangan


Kas
(100 x Rp 4.000 = Rp 400.000)

Kredit

1.200.000

1.800.000

1.050.000

1.350.000

400.000
400.000

Sedangkan ayat jurnal dengan menggunakan metode biaya rata-rata - perpetual sebagaimana dalam halaman berikut.

362

D. Menentukan Nilai Persediaan dan Harga Pokok Penjualan


dengan Metode Identifikasi Khusus
Metode ini digunakan dengan cara memisahkan setiap barang berdasarkan
kelompok-kelompok pembeliannya dan setiap kelompok diberi kartu-kartu yang
menyebut jumlah dan harganya. Dengan cara ini setiap penjualan barang dapat
langsung diketahui harga pokoknya.
Jurnal Umum

(dalam rupiah)
Tanggal

Keterangan

Januari 10

Persediaan Barang Dagangan


Kas

Reff

Hal:
Debit

Kredit

1.200.000
1.200.000

(400 x Rp 3.000 = Rp 1.200.000)


15

25

28

30

Piutang Dagang
Penjualan
(400 x Rp 4.500 = Rp1.800.000)

1.800.000

Harga Pokok Penjualan


Persediaan Barang Dagangan
(400 x Rp 2.833,3 = Rp 1.133.320)

1.133.320

Persediaan Barang Dagangan


Kas
(300 x Rp 3.500 = Rp 1.050.000)

1.050.000

Piutang Dagang
Penjualan
(300 x Rp 4.500 = Rp1.350.000)

1.350.000

1.800.000

1.133.320

1.050.000

1.350.000

Harga Pokok Penjualan


Persediaan Barang Dagangan
(300 x Rp 3.233,32 = Rp 969.996)

969.996

Persediaan Barang Dagangan


Kas
(100 x Rp 4.000 = Rp 400.000)

400.000

969.996

400.000

363

Soal-soal Latihan Bab 4


I. PERTANYAAN
1. Sistem pencatatan persediaan apakah yang menyediakan cara paling efektif
untuk mengendalikan persediaan (perpetual atau periodik)? Mengapa?
2. Mengapa perhitungan fisik persediaan penting dilakukan secara periodik
jika perusahaan menggunakan sistem persediaan perpetual?
3. Apakah istilah FIFO dan LIFO mengacu pada teknik yang digunakan untuk
menentukan kuantitas dari berbagai kelas persediaan yang masih ada?
Jelaskan!
4. Apakah istilah last-in (masuk terakhir) dalam metode LIFO berarti bahwa
barang-barang dalam persediaan diasumsikan dari pembelian yang paling
akhir? Jelaskan!
5. Jika persediaan barang dagang dinilai pada harga pokok dan tingkat harga
terus meningkat, mana dari ketiga metode perhitungan biaya - FIFO, LIFO
atau biaya rata-rata yang akan menghasilkan (a) biaya persediaan paling
tinggi, (b) biaya persediaan paling rendah, (c) laba kotor paling tinggi, (d)
laba kotor paling rendah.

II. LATIHAN
Latihan 4.1
Data persediaan awal, pembelian dan penjualan portbale CD players adalah
sebagai berikut:
Tanggal

2006
April

364

Keterangan

1
5
11
21
28
30

Persediaan
Penjualan
Pembelian
Penjualan
Penjualan
Pembelian

Jumlah
(Unit)
35
26
15
12
4
7

Harga per Unit

Rp. 500.000,Rp. 530.000,-

Rp. 540.000,-

Perusahaan menerapkan sistem persediaan perpetual dan memakai metode


perhitungan biaya FIFO. Tentukanlah harga pokok penjualan bagi masingmasing penjualan dan saldo persediaan setelah setiap penjualan. Sajikan data
dalam format yang telah diilustrasikan.
Latihan 4.2
Asumsikan bahwa perusahaan yang menerapkan sistem persediaan perpetual dalam soal 1 menggunakan metode perhitungan biaya LIFO, bukan FIFO.
Tentukanlah harga pokok penjualan bagi masing-masing penjualan dan saldo
persediaan setelah setiap penjualan. Sajikan data dalam format yang telah
diilustrasikan.
Latihan 4.3
Berikut ini adalah data dari barang-barang khusus yang tersedia untuk dijual
sepanjang tahun berjalan:
Persediaan awal
Penjualan
Pembelian pertama
Penjualan
Pembelian kedua
Penjualan

20 unit @ Rp. 450.000,15 unit @ Rp. 800.000,31 unit @ Rp. 470.000,17 unit @ Rp. 800.000,40 unit @ Rp. 500.000,35 unit @ Rp. 800.000,-

Perusahaan menggunakan sistem persediaan perpetual dan terdapat 14


unit barang di gudang pada akhir tahun. Berapa total biaya atau harga pokok
persediaan akhir menurut (a) FIFO, (b) LIFO.
Latihan 4.4
Unit-unit dari barang yang tersedia untuk dijual selama tahun berjalan adalah
sebagai berikut:
1 Jan
4 Feb
20 Jul
30 Des

Persediaan
Pembelian
Pembelian
Pembelian

6 unit @ Rp. 280.000,12 unit @ Rp. 300.000,14 unit @ Rp. 320.000,8 unit @ Rp. 330.000,-

Terdapat 11 unit barang dalam persediaan fisik per 31 Desember. Perusahaan


menggunakan sistem persediaan periodik. Tentukanlah biaya atau harga pokok
persediaan menurut (a) metode FIFO, (b) metode LIFO, (c) metode biaya ratarata.

365

Latihan 4.5
Asumsikan sebuah perusahaan secara terpisah menentukan persediaannya
berdasarkan FIFO dan LIFO dan kemudian perusahaan tersebut ingin
membandingkan hasilnya. Anda diminta untuk membantu perusahaan tersebut
dalam melakukan perbandingan.
a. Dalam setiap isian yang disediakan di bawah ini, berilah tanda yang tepat
[kurang dari (<), lebih dari (>) atau sama (=)] untuk setiap perbandingan,
asumsikan bahwa terjadi kenaikan harga.
Persediaan LIFO
HPP LIFO
Laba bersih LIFO
Pajak penghasilan LIFO

...........
...........
...........
...........

Persediaan FIFO
HPP FIFO
Laba bersih FIFO
Pajak penghasilan FIFO

b. Mengapa manajemen lebih memilih menggunakan LIFO dibandingkan FIFO


dalam periode kenaikan harga?

III. SOAL
Soal 4.1
Persediaan awal sepeda balap dari perusahaan Holanda, dan data-data
pembelian serta penjualan untuk periode 3 bulan adalah sebagai berikut:
Tanggal

Transaksi

Agustus

Pembelian
Pembelian
Penjualan
Penjualan
Pembelian
Penjualan
Penjualan
Pembelian
Penjualan
Penjualan
Pembelian
Penjualan

1
8
11
22
September 3
10
21
30
Oktober
5
13
21
28

366

Jumlah
(Unit)
22
18
12
11
16
10
5
20
20
12
30
15

Harga/Unit
(Rp)
2.200.000
2.250.000
4.800.000
4.800.000
2.300.000
5.000.000
5.000.000
2.350.000
5.250.000
5.250.000
2.400.000
5.400.000

Total Harga
(Rp)
48.400.000
40.500.000
57.500.000
52.800.000
36.800.000
50.000.000
25.000.000
47.000.000
105.000.000
63.000.000
72.000.000
81.000.000

Pertanyaan:
a. Catatlah data-data persediaan, pembelian dan harga pokok penjualan dalam
kartu persediaan perpetual yang serupa dengan yang diilustrasikan dengan
menggunakan metode first-in, first-out (FIFO).
b. Tentukanlah total penjualan dan harga pokok penjualan sepeda balap untuk
periode berjalan. Buatlah ayat jurnal untuk mencatat transaksi tersebut.
Asumsikan semua penjualan dilakukan secara kredit.
c. Tentukanlah laba kotor dari penjualan sepeda balap untuk periode tersebut.
d. Tentukanlah harga pokok persediaan akhir.

367

368