Anda di halaman 1dari 34

REFERAT

KARAKTERISTIK PENDERITA HERNIA DI


RUANG RAWAT INAP RSUP NTB SELAMA PERIODE
1 JANUARI 2014 31 MEI 2015

OLEH :
Diana Mardilasari
H1A 010 039

PEMBIMBING :
dr. H. Arif Zuhan, Sp.B

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2015

PENDAHULUAN
Hernia merupakan penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari
dinding rongga bersangkutan. Berdasarkan terjadinya hernia dibagi atas hernia kongenital dan
hernia akuisita. Berdasarkan letaknya hernia diberi nama sesuai lokasi anatominya seperti hernia
diafragma, inguinal, umbilikalis, femoralis, dan lain-lain.
Sekitar 75% hernia terjadi disekitar lipat paha, berupa hernia inguinal direk, indirek, serta
hernia femoralis. Hernia insisional 10%, hernia ventralis 10%, hernia umbilikalis 3%, dan hernia
lainnya sekitar 3%. Pada hernia di abdomen isi abdomen menonjol melalui defek atau bagian
lemah dari lapisan muskulo aponeurotik dinding abdomen. Hernia terdiri atas cincin, kantong,
dan isi hernia. Menurut sifatnya hernia disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar
masuk.Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali dalam rongga abdomen, disebut hernia
ireponibel. Hernia disebut hernia inkarserata atau strangulata bila isinya terjepit oleh cincin
hernia, sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga abdomen.
Operasi darurat hernia inkarserata merupakan operasi terbanyak nomor dua setelah operasi
darurat apendisitis akut. Selain itu hernia inkarserata merupakan penyebab obstruksi usus nomor
satu di Indonesia.
Rumusan masalah
Bagaimanakah karakteristik penderita hernia yang dirawat di ruang rawat inap di RSUP NTB
periode 1 januari 2014 sampai dengan 31 Mei 2015?
Tujuan
Mengetahui karakteristik penderita hernia yang dirawat di ruang rawat inap di RSUP NTB
periode 1 Januari 2014 sampai dengan 31 Mei 2015.
Manfaat
1. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk lebih
memperhatikan kesehatan masyarakat khususnya mengenai penyakit hernia.

2. Dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran untuk mahasiswa dan pengembangan


pendidikan khususnya mengenai penelitian di bidang kedokteran di masa yang akan datang.

TINJAUAN PUSTAKA
HERNIA

I. DEFINISI
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi abdomen menonjol
melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskolo-aponeurotik dinding abdomen. Hernia
terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia (Syamsuhidajat, 2004). Hernia (Latin) merupakan
penonjolan bagian organ atau jaringan melalui lubang abnormal (Dorland,1998).
Hernia inguinalis indirek disebut juga hernia inguinalis lateralis yaitu hernia yang
keluar dari rongga peritonium melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari
pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis. Hernia
inguinalis direk disebut juga hernia inguinalis medialis yaitu hernia yang melalui dinding
inguinal posteromedial dari vasa epigastrika inferior di daerah yang dibatasi segitiga
Hesselbach (Syamsuhidajat, 2004).
Dari beberapa pengertian

diatas

dapat

disimpulkan

bahwa

hernia

adalah

ketidaknormalan tubuh berupa tonjolan yang disebabkan karena kelemahan pada dinding otot
abdomen, dapat kongenital maupun akuisita.
II. EPIDEMIOLOGI
Secara umum hernia sering terjadi pada orang yang sudah lanjut usia, karena pada usia
lanjut dinding otot polos abdomen sudah lemah, sehingga sangat berpeluang terjadinya hernia.
Adapun faktor presipitasi yang dapat mengakibatkan hernia antara lain obesitas, kehamilan,
mengejan, batuk kronis, mengangkat beban berat (Sjamsuhidajat, 2004).
Hernia abdominalis yang paling banyak terjadi adalah hernia inguinalis sekitar 75 % dan
sebagian besar dialami oleh pria dibandingkan oleh wanita. Hernia ini dapat disebabkan
karena lemahnya jaringan penyangga saluran kanalis inguinalis dan peningkatan tekanan
rongga perut yang berkepanjangan karena berbagai faktor (Raves, 2011).

Hernia inguinalis merupakan kasus bedah digestif terbanyak setelah apendicitis. Sampai
saat ini masih merupakan tantangan dalam peningkatan status kesehatan masyarakat. Dari
keseluruhan jumlah operasi di Prancis tindakan bedah hernia sebanyak 17,2 % dan 24,1 % di
Amerika Serikat. Insidensi hernia inguinalis diperkirakan diderita oleh 15% populasi dewasa,
5 8 % pada rentang usia 25 40 tahun dan mencapai 45 % pada usia 75 tahun (Townsend,
2004).
Hernia inguinalis dibagi menjadi 2, yaitu hernia inguinalis medialis dan hernia inguinalis
lateralis. Hernia inguinalis lateralis terjadi lebih sering dari hernia inguinalis medialis dengan
perbandingan 2:1, dan diantara itu ternyata pria lebih sering 7 kali lipat terkena dibandingkan
dengan wanita (Townsend, 2004).
III. ANATOMI
1. Dinding abdomen
Dinding abdomen mengandung struktur muskulo aponeurosis yang kompleks.
Dibagian belakang, struktur ini melekat pada tulang belakang, di sebelah atas pada iga, dan
di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding abdomen ini terdiri atas beberapa lapis, yaitu
dari luar ke dalam, lapisan kulit yang terdiri dari, kutis dan subkutis, lemak subkutan, fasia
superfisial (scarpas fascia), ketiga otot dinding perut (m.oblikus abdominis eksternus,
m.oblikus abdominis internus, dan m.transversus abdominis), dan lapisan preperitoneum dan
peritoneum (fasia transversalis, lemak preperitoneal, dan peritoneum). Otot dibagian depan
tengah terdiri atas sepasang otot rektus abdominis dengan fasianya yang di garis tengah
dipisahkan oleh linea alba (sjamsuhidajat, 2004).

Gambar 1. lapisan dinding perut (potongan transversal) (Moore, 2011)

Gambar 2. Lapisan dinding perut (potongan sagital) (Moore,2007)


Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kraniodorsal diperoleh
pendarahan dari cabang aa.interkostales VI-XII dan a.epigastrika superior. Dari kaudal
a.iliaka sirkumfleksa superfisialis, a.pudenda eksterna, dan a.epigastrika inferior. Persarafan
dinding perut berjalan secara segmental oleh n.torakalis VI-XII dan n.lumbalis I.
2. Regio inguinalis
a. Kanalis inguinalis
Kanalis inguinalis adalah saluran yang berjalan oblik (miring) dengan panjang 4
cm dan terletak 2-4 cm di atas ligamentum inguinale (Sjamsuhidajat, 2004). Dinding
yang membatasi kanalis inguinalis adalah: (Burhitt,2003)

Kraniolateral : oleh anulus inguinalis internus yang merupakan bagian terbuka

dari fasia transversalis dan aponeurosis m.transversus abdominis.


medial bawah : di atas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh anulus

inguinalis eksternus, bagian terbuka dari aponeurosis m.oblikus eksternus.


Atapnya
: aponeurosis m.obliqus eksternus

Dasarnya

: ligamentum inguinale

Gambar 3. Regio inguinal (Drake,2011)

Gambar 4. Kanalis inguinalis (Drake,2010)


Isi dari kanalis inguinalis pada pria adalah: funiculus spermaticus (terdiri dari
duktus deferens, arteri spermatika interna (testikular), arteri spermatika eksterna
(kremasterika), dan pleksus pampiniformis), cabang genital dari nervus genitofemoral,
nervus ilioinguinal, serabut simpatis dari pleksus hipogastrikus, fasia spermatika eksterna,

lapisan kremaster dan fasia spermatika interna. Pada wanita berisi ligamentum rotundum
dan lapisan lainnya sama seperti pada pria (Drake,2010).

Gambar 5. Isi kanalis inguinalis (Moore,2011)


Pembuluh darah epigastric inferior menjadi batas superolateral dari trigonum
Hesselbach. Tepi medial dari trigonum dibentuk oleh membrane rectus,dan ligamentum
inguinal menjadi batas inferior. Hernia yang melewati trigonum Hesselbach disebut
sebagai direct hernia, sedangkan hernia yang muncul lateral dari trigonum adalah hernia
indirect (Burhitt,2003). Trigonum Hesselbach merupakan daerah dengan batas:
Inferior : ligamentum inguinale
Lateral : vasa epigastrika inferior
Medial : tepi m.rectus abdominis

Dasarnya dibentuk oleh fasia transversalis yang diperkuat serat aponeurosis


m.transversus abdominis.

Gambar 6. Trigonum Hasselbachs (Moore,2011)


b. Kanalis femoralis
Kanalis femoralis terletak medial dari v.femoralis di dalam lakuna vasorum, dorsal
dari ligamentum inguinalis, tempat v.safena magna bermuara di dalam v.femoralis.
foramen ini sempit dan dibatasi oleh tepi yang keras dan tajam. Batas kranioventral
dibentuk oleh ligamentum inguinalis, kaudodorsal oleh pinggir os pubis dari ligamentum
iliopektineale (ligamentum cooper), sebelah lateral oleh (sarung) v.femoralis, dan
disebelah medial oleh ligamentum lakunare Glimbernati. Hernia femoralis keluar melalui
lakuna vasorum kaudal dari ligamentum inguinale. Keadaan anatomi ini sering
mengakibatkan inkarserasi hernia femoralis (sjamsuhidajat,2004).

Gambar 7. Kanalis femoralis (Drake,2010)


Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis, selanjutnya isi hernia masuk
ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan v.femoralis dengan
panjang 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha.

IV.

Gambar 8. Perbedaan Hernia Indirek, direk, dan femoral (Moore,2011)


ETIOLOGI
Berbagai penyebab dari hernia diantaranya, yaitu:
1. Kongenital

a. Hernia kongenital sempurna, yaitu dimana bayi sudah menderita hernia karena
adanya defek pada tempat-tempat tertentu.
b. Hernia kongenital tidak sempurna, yaitu dimana bayi dilahirkan normal
(kelainan belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu
(predisposisi) dan beberapa bulan (0-1 tahun) setelah lahir akan terjadi hernia
melalui defek tersebut karenadipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal
(mengejan, batuk,menangis) (Sjamsuhidajat, 2004).
2. Aquisial adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi
disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia selama hidupnya. Terdapat dua faktor
predisposisi utama hernia yaitu peningkatan tekanan intrakavitas dan melemahnya
dinding abdomen (Henry,2005)
Tekanan yang meningkat pada abdomen terjadi karena :
1. Mengangkat beban berat
2. Batuk PPOK
3. Tahanan saat miksi BPH atau karsinoma
4. Tahanan saat defekasi konstipasi atau obstruksi usus besar
5. Distensi abdomen yang mungkin mengindikasikan adanya gangguan
intraabdomen
6. Perubahan isi abdomen, misalnya : adanya asites, tumor jinak atau ganas,
kehamilan, lemak tubuh.
Kelemahan dinding abdomen terjadi karena :
1. Umur yang semakin bertambah
2. Malnutrisibaik makronutrien (protein, kalori) atau mikronutrien (misalnya:
Vit. C)
3. Kerusakan atau paralisis dari saraf motorik
4. Abnormal metabolisme kolagen.
V.

BAGIAN DAN JENIS HERNIA


Bagian-bagian hernia :
a. Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia memiliki
b.

kantong, misalnya hernia insisional, hernia adipose, hernia intertitialis.


Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya

c.

usus,ovarium dan jaringan penyangga usus (omentum).


Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.

d.

Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.

Gambar 9. Bagian-bagian hernia (Snell, 2004)


Jenis-jenis Hernia : (sjamsuhidajat, et al, 2004)
a. Berdasarkan penyebab
Hernia bawaan atau kongenital
Hernia didapat atau akuisita
b. Berdasarkan keadaan klinis
Hernia reponibel adalah bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernia keluar jika
berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk,

tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.


Hernia irreponibel adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan

kedalam rongga.
Hernia inkarserata adalah bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke
dalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau
vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia

irreponibel.
Hernia strangulata adalah jika bagian usus yang mengalami hernia terpeluntir
atau membengkak, dapat mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot

serta mungkin dapat menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan.


c. Berdasarkan dapat atau tidaknya dilihat dari luar
Hernia eksterna merupakan hernia yang penonjolannya dapat dilihat dari luar
karena menonjolnya ke arah luar, misalnya:
o Hernia inguinalis medialis dan lateralis
o Hernia femoralis
o Hernia umbilikalis
o Hernia epigastrika

o Hernia lumbalis
o Hernia obturatoria
o Hernia semilunaris
o Hernia perinealis
o Ischiadica, dan lain-lain
Hernia interna, jika isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya:
o hernia diafragmatika
o hernia foramen winslowi
o hernia obturatoria, dan lain-lain

Gambar 10. jenis-jenis hernia (Drake,2010)


VI.

PATOFISIOLOGI
1. Hernia inguinalis
Hernia inguinalis merupakan kasus bedah digestif terbanyak setelah appendicitis.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat.
hernia inguinalis lateralis dapat di jumpai pada semua usia, lebih banyak pada pria dari
pada wanita karena adanya perbedaan proses perkembangan alat reproduksi pria dan
wanita semasa janin. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk
pada annulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi
hernia. Disamping itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia untuk
melewati pintu yang cukup lebar tersebut. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah,

adanya prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan dalam rongga perut dan
kelemahan otot dinding perut karena usia (karnadihardja, 2005).
Sebagian besar tipe hernia inguinalis adalah hernia inguinalis lateralis, dan laki-laki
lebih sering terkena dari pada perempuan (9:1), hernia dapat terjadi pada waktu lahir dan
dapat terlihat pada usia berapa pun. Insidensi pada bayi populasi umum 1% dan pada
bayi-bayi prematur dapat mendekati 5 %, hernia inguinal dilaporkan kurang lebih 30%
kasus terjadi pada bayi laki-laki dengan berat badan 1000 gr atau kurang (karnadihardja,
2005).
Pada orang yang sehat, ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia
inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur muskulus
oblikus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi
dan adanya fasia transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hasselbach yang
umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan
terjadinya hernia inguinalis lateralis (Sjamsuhidajat, 2004).
a.

Hernia inguinalis kongenital


Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8
kehamilan terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut
akan menarik peritoneum kedaerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum
yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir,
umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga abdomen tidak
dapat melalui kanalis tersebut namun dalam beberapa hal, seringkali kanalis ini tidak
menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan
lebih sering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga
terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2
bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi), akan timbul
hernia inguinalis congenital. Pada orang tua, kanalis tersebut telah menutup namun
karena lokus minoris resistensie maka pada keadaan yang menyebabkan peninggian
tekanan intra abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul
hernia inguinalis lateralis akuisita (Sjamsuhidajat, 2004).

Gambar 11. Embriologi Penurunan Testis (Drake,2010)


b. Hernia inguinalis akuisita
Hernia inguinalis akuisita (didapat) terjadi akibat anulus inguinalis internus
yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Apabila terjadi
peninggian tekanan intraabdomen kronik dapat mendorong isi hernia melewati
annulus internus yang cukup lebar, seperti batuk kronik, pekerjaan mengangkat
benda berat, hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites. Peninggian tekanan intra
abdomen juga dapat membuka kembali kanalis inguinalis. Selain itu, penyebab
terjadinya hernia akuisita ialah kelemahan otot dinding perut karena usia. Sehingga
insiden

hernia

meningkat

dengan

bertambahnya

umur,

mungkin

karena

meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan jaringan


penunjang berkurang kekuatannya (Sjamsuhidajat, 2004).
Pada orang yang sehat ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya
hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur
m.oblikus internus abdominis yang menutup annulus inguinalis internus ketika
berkontraksi, dan adanya fascia transversa yang kuat yang menutupi trigonum
Hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini
dapat menyebabkan terjadinya hernia (sjamsuhidajat,2004).

Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus
internus turut kendur. Pada keadaan ini tekanan intra abdomen tidak tinggi dan
kanalis inguinalis berjalan lebih vertical. Sebaliknya bila otot dinding perut
berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan annulus inguinalis
tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus kedalam kanalis unguinalis.
Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan n.iliofemoralis dan
n. ilioinguinalis setelah apendektomi (Sjamsuhidajat, 2004).
Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding
kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi
penekanan terhadap cincin hernia,akibat semakin banyaknya usus yang masuk,
cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus.
Timbulnya edema bila terjadi obtruksi usus yang kemudian menekan pembuluh
darah dan kemudian terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan
timbul perut kembung, muntah,konstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama
kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi
nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi
perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses. Komplikasi
hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain obstruksi
usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan
abses lokal, fistel atau peritonitis (sjamsuhidajat, 2004).
c.

Hernia Inguinalis Direk (Medialis)


Hernia ini merupakan jenis hernia yang didapat (akuisita) disebabkan oleh
faktor peninggian tekanan intra abdomen kronik dan kelemahan otot dinding di
trigonum Hesselbach. Hernia direk merupakan hernia yang menonjol langsung
kedepan melalui segitiga Hasselbach yaitu daerah yang dibatasi oleh ligamentum
inguinal dibagian inferior, pembuluh epigastrika inferior dibagian lateral dan tepi otot
rektus dibagian medial. Dasar segitiga Hasselbach dibentuk oleh fasia transversal
yang diperkuat oleh serat aponeurosis m.tranversus abdominis yang kadang-kadang
tidak

sempurna

sehingga

daerah

ini

potensial

untuk

menjadi

lemah

(Sjamsuhidajat,2004).
Hernia medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke
skrotum, umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hernia longgar

(karnadihardja, 2005). Hernia inguinalis direk jarang pada perempuan, dan sebagian
besar bersifat bilateral. Hernia ini merupakan penyakit pada laki-laki tua dengan
kelemahan otot dinding abdomen (Snell, 2006).

Gambar 12. Hernia Inguinalis Direk (Drake,2010)


d. Hernia Inguinalis Indirek (Lateralis)
Hernia inguinalis indirek (lateralis) merupakan bentuk hernia yang paling sering
ditemukan dan diduga mempunyai penyebab congenital. Hernia ini disebut lateralis
karena menonjol dari perut di lateral pembuluh epigastrika inferior. Dikenal sebagai
indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran, yaitu annulus dan kanalis inguinalis
(Snell, 2006).
Hernia inguinalis lateralis keluar dari rongga peritoneum melalui annulus
inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior, kemudian
hernia masuk kedalam kanalis inguinalis, dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari
annulus inguinalis ekternus. Apabila hernia inguinalis lateralis berlanjut, tonjolan akan
sampai ke skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Kantong hernia berada dalam muskulus
kremaster terletak anteromedial terhadap vas deferen dan struktur lain dalam funikulus
spermatikus. Pada anak hernia inguinalis lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan
berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses penurunan
testis ke skrotum (karnadihardja, 2005).

Gambar 13. hernia inguinalis indirek (Drake,2010)


Pada pemeriksaan hernia lateralis akan tampak tonjolan berbentuk lonjong. Dapat
terjadi secara kongenital ataupun akuisita (sjamsuhidajat,2004).
1. Hernia inguinalis indirekta kongenital
Terjadi bila processus vaginalis peritonei pada waktu bayi dilahirkan sama sekali
tidak menutup. Sehingga kavum peritonei tetap berhubungan dengan rongga
tunika vaginalis propria testis. Dengan demikian isi perut dengan mudah masuk
ke dalam kantong peritoneum tersebut.
2. Hernia inguinalis indirekta akuisita
Terjadi bila penutupan processus vaginalis peritonei hanya pada suatu bagian saja,
Sehingga masih ada kantong peritoneum yang berasal dari processus vaginalis
yang tidak menutup pada waktu bayi dilahirkan. Sewaktu-waktu kantung
peritonei ini dapat terisi oleh isi perut, tetapi isi hernia tidak berhubungan dengan
tunika vaginalis propria testis.
2. Hernia Femoralis
Hernia femoralis umumnya dijumpai pada perempuan tua, kejadian pada perempuan
kira-kira 4 kali laki-laki. Keluhan biasanya berupa benjolan dilipat paha yang muncul
terutama pada waktu melakukan kegiatan yang menaikkan tekanan intraabdomen seperti
mengangkat barang atau batuk. Benjolan ini menghilang pada waktu berbaring. Penderita
sering datang dengan hernia strangulata. Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan
lunak di lipat paha di bawah ligamentum inguinale di medial v.femoralis dan lateral

tuberkulum pubikum. Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus femoralis. Selanjutnya
isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan
v.femoralis sepanjang 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha
(sjamsuhidajat,2004).
Kanalis femoralis terletak medial dari v.femoralis di dalam lakuna vasorum dorsal
dari ligamentum inguinale, tempat v.safena magna bermuara di dalam v.femoralis.
Foramen ini sempit dan dibatasi oleh pinggir keras dan tajam. Batas kranioventral
dibentuk oleh lig. Inguinale, kaudo dorsal oleh pinggir os. Pubis yang terdiri dari lig.
Iliopektineale (lig. Cooper), sebelah lateral oleh (sarung) v.femoralis, dan di sebelah
medial oleh lig. Lakunare Gimbernati. Hernia femoralis keluar melalui lakuna vasorum
kaudal dari lig. Inguinale. Keadaan anatomi ini sering mengakibatkan inkarserasi hernia
femoralis (Palanivelu,2004).
Secara patofisiologi peningkatan tekanan intraabdomen akan mendorong lemak
preperitoneal ke dalam kanalis femoralis yang akan menjadi pembuka jalan terjadinya
hernia. Faktor penyebab lainnya adalah kehamilan multipara, obesitas dan degenerasi
jaringan ikat karena usia lanjut. Hernia femoralis sekunder dapat terjadi sebagai
komplikasi herniorafi pada hernia inguinalis, terutama yang memakai teknik Bassini atau
Shoyldice yang menyebabkan fasia transversa dan ligamentum inguinale lebih tergeser ke
ventrokranial sehingga kanalis femoralis lebih luas. Komplikasi tersering ialah
strangulasi. Hernia femoralis keluar di sebelah bawah ligamentum inguinale pada fosa
ovalis. Kadang-kadang hernia femoralis tidak teraba dari luar, terutama bila merupakan
hernia Richter (sjamsuhidajat,2004).

VII. DIAGNOSA
1. Anamnesis
Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Sebagian
besar hernia adalah asimtomatik, dan kebanyakan ditemukan pada pemeriksaan fisik rutin
dengan palpasi benjolan pada annulus inguinalis superfisialis. Pada hernia reponibel
keluhan satu-satunya adalah benjolan di lipatan paha yang muncul pada waktu berdiri,
batuk, bersin, atau mengedan, dan menghilang setelah berbaring. Dengan berlalunya
waktu, sejumlah hernia turun ke dalam skrotum sehingga skrotum membesar. Keluhan

nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya di daerah epigastrium atau paraumbilikal
berupa nyeri viseral karena regangan pada mesenterium pada waktu satu segmen usus
halus masuk ke dalam kantong hernia. Omentum yang terperangkap di dalam kantung
hernia dapat menyebabkan gejala nyeri abdomen yang kronis. Nyeri hebat yang disertai
mual atau muntah baru timbul kalau sudah terjadi inkarserasi karena ileus atau strangulasi
karena nekrosis atau gangrene (Sjamsuhidajat, 2004).
2. Pemeriksaan fisik (Gary,1997; Brian,2006)
a. Inspeksi
Hernia reponibel : terdapat benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri,
batuk, bersin atau mengedan dan menghilang setelah berbaring.
Hernia inguinal
o Lateralis : muncul benjolan di regio inguinalis yang berjalan dari lateral ke
medial, benjolan berbentuk lonjong
o Medialis : benjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk bulat.
Hernia skrotalis : benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan tonjolan

lanjutan dari hernia inguinalis lateralis.


Hernia femoralis : benjolan dibawah ligamentum inguinal.
Hernia epigastrika : benjolan dilinea alba.
Hernia umbilikal : benjolan diumbilikal.
Hernia perineum : benjolan di perineum.

b. Palpasi
Titik tengah antar SIAS dengan tuberkulum pubicum ditekan lalu pasien disuruh
mengejan. Jika terjadi penonjolan di sebelah medial maka dapat diasumsikan
bahwa itu hernia inguinalis medialis.
Titik yang terletak di sebelah lateral tuberkulum pubikum ditekan lalu pasien
disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateral titik yang kita tekan maka dapat
diasumsikan sebagai hernia inguinalis lateralis.
Titik tengah antara kedua titik tersebut di atas (pertengahan canalis inguinalis)
ditekan lalu pasien disuruh mengejan jika terlihat benjolan di lateralnya berarti
hernia inguinalis lateralis jika di medialnya hernia inguinalis medialis.
Hernia inguinalis : kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada
funikulus spermatikus sebagai gesekan dua permukaan sutera, tanda ini
disebut sarung tanda sarung tangan sutera. Kantong hernia yang berisi mungkin

teraba usus, omentum (seperti karet), atau ovarium. Dalam hal hernia dapat
direposisi pada waktu jari masih berada dalam annulus eksternus, pasien mulai
mengedan kalau hernia menyentuh ujung jari berarti hernia inguinalis lateralis dan
kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia inguinalis medialis. lipat
paha dibawah ligamentum inguina dan lateral tuberkulum pubikum.
Hernia femoralis : benjolan lunak di benjolan dibawah ligamentum inguinal
Hernia inkarserata : nyeri tekan.
c. Perkusi
Bila didapatkan perkusi perut kembung (hipertimpani) maka harus dipikirkan
kemungkinan hernia strangulata.
d. Auskultasi
Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang mengalami
obstruksi usus (hernia inkarserata).
e. Colok dubur
Tonjolan hernia yang nyeri merupakan tanda Howship-romberg (hernia
obturatoria).
f. Pemeriksaan Finger test, Ziemen test dan Thumb test
Finger test
1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5
2. Dimasukkan lewat skrotum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal
3. Penderita disuruh melakukan valsava manuver
Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis Lateralis
Bila impuls disamping jari berarti Hernia Inguinalis Medialis

Gambar 14. Pemeriksaan Finger Test (Emeralda,2014)


Ziemen Test
1. Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan
2. Hernia kiri diperiksa dengan tangan kiri
3. Cara :
Jari ke 2 , diatas anulus int
Jari ke 3 , diatas anulus ext
Jari ke 4 , diatas fossa ovalis
4. Penderita disuruh valsava manuver
5. Bila terdapat adanya dorongan pada:
jari ke-2 berarti Hernia Inguinalis Lateralis
jari ke-3 berarti Hernia Ingunalis Medialis
jari ke-4 berarti Hernia Femoralis

Gambar 15. Pemeriksaan Ziement test (Emeralda,2014)


Thumb test

Bila hernia kanan periksa dengan tangan kiri


Bila hernia kiri periksa dengan tangan kanan
Ibu jari pemeriksa menean daerah anulus internus
Anulus internus (kurang lebih pada pertengahan antara SIAS dan

tuberkulum pubicum, 1,5 cm diatas lig.inguinale)


Penderita disuruh valsava manuver
Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Medialis
Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis

Gambar 16. Pemeriksaan Thumb test (Drake,2010; Wilson,2011)


3. Pemeriksaan penunjang
Hasil laboratorium
o Leukosit > 10.000-18.000 / mm3
o Serum elektrolit meningkat
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan Ultrasound pada daerah inguinal dengan pasien dalam posisi
supine dan posisi berdiri dengan manuver valsava dilaporkan memiliki sensitifitas
dan spesifisitas diagnosis mendekati 90%. Pemeriksaan ultrasonografi juga
berguna untuk membedakan hernia incarserata dari suatu nodus limfatikus
patologis atau penyebab lain dari suatu massa yang teraba di inguinal pada pasien
yang sangat jarang dengan nyeri inguinal tetapi tak ada bukti fisik atau sonografi
yang menunjukkan hernia inguinalis (Gary, 1997).
CT scan dapat digunakan untuk mengevaluasi pelvis untuk mencari adanya
herniaobturator (Brian (2006)).
VIII. PENATALAKSANAAN
1. Non operatif (konservatif)
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang hernia membentuk corong
sedangkan tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan sedikit tekanan
perlahan yang tetap sampai terjadi reposisi. Pemakaian bantalan penyangga hanya

bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan,
sehingga harus dipakai seumur hidup (Sjamsuhidajat,2004).
Indikasinya adalah:
Bila menolak operasi
Disertai penyakit berat yang dapat meningkatkan tekanan intraabdominal

(asites, sirosis hepatis, tumor paru)


Hernia Inguinalis Medialis ukuran kecil dan belum mengganggu.

2. Operatif
Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi, karena potensinya
menimbulkan komplikasi inkarserasi atau strangulasi lebih berat dibandingkan resiko
yang minimal dari operasi hernia (khususnya bila menggunakan anastesi lokal). Khusus
pada hernia femoralis, tepi kanalis femoralis yang kaku meningkatkan resiko terjadinya
inkarserasi (Gary, 1997).
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional. Indikasi operatif sudah ada begitu diagnosa ditegakkan. Prinsip dasar operatif
hernia terdiri atas herniotomi dan hernioplastik. Pada herniotomi dilakukan pembebasan
kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan jika ada
perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu
dipotong. Pada hernioplastik dilakukan tindakan untuk memperkecil annulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis iguinalis. Hernioplastik lebih
penting dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi
(Sjamsuhidajat, 2004).
Dikenal berbagai metode hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis
internus dangan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan
menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus
abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart
menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis,
m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Metode
McVay dapat digunakan pada kasus hernia inguinalis indirek yang besar. Untuk hernia
inguinalis direk, khususnya yang berukuran besar dan berulang, metode McVay
umumnya lebih disukai (Sjamsuhidajat, 2004).
Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan
sintesis nonabsorbable seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup

defek. Tubuh akan membentuk jaringan granulasi di sekitar mesh yang dianggap tubuh
sebagai benda asing, kemudian membentuk jaringan parut dan menciptakan barier tanpa
tegangan (tension-free barrier) yang solid sehingga mencegah hernia kambuh kembali
(sjamsuhidajat,2004).
IX. KOMPLIKASI
Komplikasi hernia
1. Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat
dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis ireponibilis).
2. Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus yang masuk (hernia
inguinalis lateralis incarcerata)
3. Bila hernia incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan
pembuluh darah kemudian terjadi nekrosis (hernia strangulata) yang dapat menimbulkan
gejala obstruksi usus, muntah, obstipasi, shock, demam, asidosis metabolik atau abses
(Bhatia, 2003).
Komplikasi post operasi hernia
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hematoma pada luka atau pada skrotum


Infeksi pada luka operasi
Nyeri kronis
Nyeri dan pembengkakan testis yang menyebabkan atrofi testis
Rekurensi atau residif
Cedera v.femoralis, n. Illioinguinalis, n.Illiofemoralis, duktus deferens, atau buli-buli
(Bhatia, 2003).

BAB III
METODE PENELITIAN

III.1. Desain penelitian


Rancangan

penelitian

ini

merupakan

penelitian

deskriptif

retrospektif,

yaitu

pengumpulan data dengan melihat kebelakang (backward looking). Dengan melihat dan
mencatat kembali data rekam medik pasien hernia di bangsal rawat inap di RSUP NTB selama
periode 1 Januari 2014 sampai 31 Mei 2015.
III.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di RSUP NTB. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli 2015.
III.3 Populasi dan Sampel Penelitian
III.3.1 Populasi Penelitian
Seluruh penderita penyakit hernia yang dirawat di bangsal rawat inap di RSUP NTB
selama periode 1 Januari 2014 sampai 31 Mei 2015.
III.3.2 Sampel Penelitian
Seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi (total sampling).
III.4 Kriteria Inklusi dan Kriteria Eklusi Penelitian
III.4.1 Kriteria Inklusi Penelitian
Penderita hernia di bangsal rawat inap di RSUP NTB selama periode 1 Januari 2014
sampai 31 Mei 2015.
III.4.2 Kriteria Eklusi Penelitian

Penderita penyakit hernia di bangsal rawat inap di RSUP NTB selama periode 1 Januari
2014 sampai 31 Mei 2015.

III.5. Cara Kerja Penelitian


Cara pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder, yaitu:
dengan cara mengumpulkan data yang tertulis pada bagian rekam medik dan data yang tertulis
pada buku register pasien di bangsal rawat inap RSUP NTB tentang pasien hernia di bangsal
rawat inap di RSUP NTB selama periode 1 Januari 2014 sampai 31 Mei 2015. Pengumpulan data
dilakukan dengan mencatat infomasi-informasi sebagai berikut:
1. Usia pasien.
2. Jenis kelamin pasien.
3.

Asal.

4. Diagnosa klinis.
5. Tindakan operatif
III.6. Analisa Data Penelitian
Pada penelitian ini, data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan
dalam bentuk tabel, diagram, dan narasi. Persentase ini kemudian dibahas kesesuaiannya dengan
kepustakaan yang ada.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Angka Kejadian Hernia


Jumlah seluruh pasien Hernia yang tercatat di RSUP NTB selama periode 1Januari 2014
sampai 31 Mei 2014 adalah 91 pasien. Namun, hanya 71 pasien yang bisa ditemukan di
bagian rekam medis RSUP NTB.
4.2 Distribusi Kasus Hernia Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 1 Distribusi hernia berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin

Jumlah Kasus

Persentase (%)

Laki-laki

69

97.18

Perempuan

2.82

Total

71

100

Sumber : Rekam Medik RSUP NTB

Tabel di atas menunjukkan bahwa angka kejadian hernia pada periode 1 Januari 2014
sampai 31 Mei 2015 lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu sebanyak 69 kasus (97,18%)
dari pada perempuan dengan 2 kasus (2.82%).

4.3 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Kelompok Umur

Tabel 2 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Kelompok Umur


Kelompok Umur (tahun)

Jumlah Kasus

Persentase (%)

4,22

1-4

8,45

5-14

9,85

15-24

1,40

25-44

11

15,49

45-64

25

35,21

65

18

25,35

Total

71

100

Sumber : Rekam Medik RSUP NTB

Tabel di atas menunjukkan bahwa angka kejadian hernia pada periode 1 Januari 2014
sampai 31 Mei 2015 lebih banyak terjadi pada rentang usia 45-64 tahun yaitu sebanyak 25
kasus (35,21%) diikuti dengan usia 65 yaitu sebanyak 18 kasus (25,35%), sedangkan
kasus hernia paling jarang terjadi pada rentang usia 15-24 tahun (1,40%).
4.4 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Asal Pasien
Tabel 3 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Asal Pasien
Asal Pasien (Kab/Kota)

Jumlah Kasus

Persentase

Kota Bima

5,63

Kab. Bima

4,22

Kab. Dompu

4,22

Kab. Sumbawa Besar

KSB

2,81

Kab. Lombok Timur

8,45

Kab. Lombok Tengah

1,40

Kab. Lombok Barat

31

43,66

Kab. Lombok Utara

2,81

Kota Mataram

19

26,76

Total

71

100

Sumber : Rekam Medik RSUP NTB

Tabel di atas menunjukkan bahwa angka kejadian hernia pada periode 1 Januari 2014
sampai 31 Mei 2015 lebih banyak terjadi pada pasien yang berasal dari Kab. Lombok Barat
yaitu sebanyak 31 kasus (43,66%) diikuti dengan Kota Mataram yaitu sebanyak 19 kasus
(26,76%), sedangkan kasus hernia paling jarang terjadi di Kab. Sumbawa Besar dengan
jumlah kasus 0 (0,00%).

4.5 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Jenis Hernia


Tabel 4 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Jenis Hernia
Jenis Hernia

Jumlah Kasus

Persentase (%)

Hernia Inguinalis

59

83,09

Hernia Skrotalis

11

15,49

Hernia Labialis

1,40

Total

71

100

Sumber : Rekam Medik RSUP NTB

Tabel di atas menunjukkan bahwa angka kejadian hernia pada periode 1 Januari 2014
sampai 31 Mei 2015 lebih banyak terjadi kasus hernia inguinalis yaitu sebanyak 59 kasus
(83,09%) diikuti dengan hernia skrotalis yaitu sebanyak 11 kasus (15,49%) diikuti oleh
hernia labialis dengan jumlah kasus 1 (1,40 %).
4.6 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Tindakan
Tabel 5 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Tindakan

Tindakan

Jumlah Kasus

Persentase (%)

Operatif

67

94,36

Konservatif

5,63

Total

71

100

Sumber : Rekam Medik RSUP NTB

Tabel di atas menunjukkan bahwa angka kejadian hernia pada periode 1 Januari 2014
sampai 31 Mei 2015 dilakukan tindakan operatif yaitu sebanyak 67 kasus (94,36%) dan
tindakan konservatif yaitu sebanyak 4 kasus (5,63%).
4.7 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Jenis Tindakan Operatif
Tabel 6 Distribusi Kasus hernia Berdasarkan Jenis Tindakan Operatif
Tindakan Operatif

Jumlah Kasus

Persentase (%)

Herniotomi

13,43

Herniorafi

58

85,56

Total

67

100

Sumber : Rekam Medik RSUP NTB

Tabel di atas menunjukkan bahwa angka kejadian hernia pada periode 1 Januari 2014
sampai 31 Mei 2015 dari 67 kasus dengan tindakan operatif sebanyak 58 kasus (85,56%)
dilakukan tindakan operatif herniorafi dan 9 kasus (13,43%) dilakukan jenis tindakan
operatif yaitu herniotomi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Proporsi tertinggi penderita hernia yang dirawat inap di RSUP NTB selama periode 1
Januari 2014 - 31 Mei 2015 berdasarkan sosiodemografi diperoleh pada kelompok
umur 45-64 tahun (35,21%), jenis kelamin laki-laki 69 kasus (97,18%), dan pasien
paling banyak berasal dari Kab. Lombok Barat yaitu sebanyak 31 pasien (43,66%).

2. Jenis hernia yang paling sering terjadi selama periode 1 Januari 2014 - 31 Mei 2015
adalah hernia inguinalis yaitu sebanyak 59 kasus (83,09 %).
3.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa tindakan operatif telah dilakukan pada 67 kasus
hernia (94,36%) dan konservatif sebanyak 4 kasus hernia (5,63%), 58 kasus (85,56 %)
dari 67 kasus operatif dilakukakan tindakan herniorafi dan sisanya yaitu 9 kasus (13,43
%) dilakukan tindakan herniotomi.

5.2 Saran
1. Pencatatan segala informasi pada rekam medis sebaiknya dilakukan secara lege artis
(sesempurna mungkin) dan informasi yang tercatat dapat dibaca dengan jelas. Hal ini
penting karena rekam medis sangat penting bagi pasien dan paramedis dalam
mendukung manajemen informasi di rumah sakit. Rekam medis yang lengkap sangat
diperlukan untuk penelitian-penelitian ilmiah.
2. Untuk penelitian berikutnya perlu dipertimbangkan untuk melakukan penelitian Cross
sectional (pengamatan sewaktu) yaitu observasi atau pengukuran variabel pada satu
saat. Disamping itu dapat juga dilakukan penelitian kohort study.

DAFTAR PUSTAKA
Bhatia, P & John, SJ. 2003. Laparoscopic Hernia Repair (a step by stepapproach). Edisi I. New
Delhi: Penerbit Global Digital Services, Bhatia Global Hospital & Endosurgery Institute.
Brian, WE & Simon, PB. 2006.. Emergency surgery. Edisi XXIII. Penerbit HodderArnold.
Burhitt. HG & Quick. O.R.G. 2003. Essential Surgery . Edisi III. Hal 348-356
Dorland. 1998. Kamus Saku Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Drake, et al. 2010. Grays Anatomy for Students, 2nd Edition. Philadephia: Elsenvier.

Emeralda. 2014. Hernia: Abnormal protrusion of an organ or tissue through a defect in its
surrounding walls.
Gary, GW. 1997. Applied Laparoscopic Anatomy (Abdomen and Pelvis). Edisi I.Penerbit
Williams & Wilkins, a Waverly Company.
Henry, MM, Thompson, JN. 2005. Principles of Surgery, 2nd edition. Elsevier Saunders. P. 431445
Hosmer,FE. 1999. Clinical Anatomy. New York
Karnadihardja.W, Lukman.K, Rudiman.R. 2005. Infeksi. In: Sjamsuhidajat,R dan Jong, WD :
Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Moore, KL, Dalley, AF, and Agur,AMR. 2011. Clinically Oriented Anatomy. 7th edition. Jakarta:
penerbit Hipokrates
Moore,KL and Agur,AMR. 2007. Essential Clinical Anatomy. 3rd Edition. Lippincott Williams
& Wilkins
Orcutt,TW.1970. Hernia of the superior lumbar triangle. Department of Surgery, Vanderbilt
University Medical Center, Nashville, Tennessee
Palanivelu, C. 2004. Operative Manual of Laparoscopic Hernia Surgery. Edisi I. Penerbit GEM
Foundation.. Hal 39-58
Raves,J dan Scott,K. 2011. Master Plan Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara.
Sjamsuhidajat,R, Jong,WD. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Snell, Richard S. 2004. Clinical Anatomy for Medical Students, Fifth edition, New York

Townsend,CM. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery. 17th Edition. Philadelphia. Elsevier
Saunders. P.1199-1217
Wilson,J.2011. Gilmores Groin. Published by Physiotherapy and Sports Injury Web.