Anda di halaman 1dari 94

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

DI

PT HOLCIM INDONESIA TBK CILACAP PLANT

KERJA LAPANGAN DI PT HOLCIM INDONESIA TBK CILACAP PLANT Perawatan Dan Perbaikan Belt Conveyor Guna Peningkatan

Perawatan Dan Perbaikan Belt Conveyor Guna Peningkatan Kerja Belt Conveyor

DI

PT HOLCIM INDONESIA TBK CILACAP PLANT

Disusun Oleh :

Nama

: SUGIYONO

NIM

: 5201411090

Jurusan/Prodi

: Teknik Mesin/PTM

JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2014

Laporan Praktek kerja Lapangan telah Indonesia Tbk dan jurusan Teknik Mesin.

ii

ABSTRAK

Sugiyono, Perawatan dan Perbaikan Belt Conveyor Guna Peningkatan Kerja Belt Conveyor Di. PT holcim tbk

Pendidikan Teknik Mesin S1-Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang Tahun 2014

Praktek Kerja Lapangan ini sendiri dilakukan di PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant yang terletak di kota Cilacap. Dalam pelaksanaan Kerja Praktek ini, Penulis diberi kesempatan oleh pihak PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap untuk melakukan Kerja Praktek di Mechanical Workshop dan Preventive Maintenance khususnya di perawatan Belt Coveyor guna peningkatan kerja belt conveyor. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam pelaksanaan Kerja Praktek ini adalah dengan metode observasi dengan mengamati dan mempelajari secara langsung di lokasi kerja praktek,metode wawancara yang dilakukan dalam bentuk tanya jawab dengan narasumber, Studi literatur dilakukan dengan mempelajari literatur berupa jurnal perusahaan, dan dengan metode konsultasi dalam bentuk konsultasi kepada pembimbing lapangan. Laporan Praktek Kerja Lapangan ini berisi tentang perawatan dan perbaikan pada Belt conveyor. Conveyor merupakan salah satu jenis alat pengangkut yang berfungsi untuk mengangkut material secara horizontal atau vertical dan digerakkan oleh motor penggerak atau gravitasi. Dengan adanya perawatan dan perbaikan ini nantinya dapat mengurangi biaya perbaikan pada belt conveyor yang terlalu mahal dan mengurangi gangguan-gangguan yang dapat menghambat pelaksanaan proses pembuatan semen sehingga dapat meningkatkan kerja dari mesin belt conveyor .

Kata kunci : belt conveyor,material

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan YME, karena atas rahmat-Nya, kami dapat

menyelesaikan dan menyusun laporan praktek kerja ini yang merupakan salah satu syarat

untuk menyelesaikan program Strata Satu (S-1) jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik

Universitas Negeri Semarang.

Dengan adanya praktek kerja ini, diharapkan mahasiswa dapat menyiapkan diri dalam

memasuki dunia industri.

Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Suparno, selaku pembimbing lapangan atas petunjuk dan bimbingannya selama

pelaksanaan praktek kerja di PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap.

2. Drs.

Khumaedi,

M.Pd

selaku

Universitas Negeri Semarang.

3. Drs.

Pramono,

selaku

dosen

Ketua

Jurusan

Teknik

Mesin

Fakultas

Teknik

pembimbing

praktek

kerja

atas

petunjuk

dan

bimbingannya selama pelaksanaan praktek kerja dan penyusunan laporan praktek

kerja.

4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan kerja praktek ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan agar laporan ini dapat memberikan manfaat.

Saya menyadari bahwa didalam penyusunan laporan praktek kerja ini masih banyak

dijumpai

kekurangan,

sehingga

penyusun

mengharapkan

kritik

dan

saran

yang

membangun demi mencapai hasil yang lebih baik.

iv

Semrang,

2

Juni 2014

penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

ABSTRAK

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

v

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR GAMBAR

ix

DAFTAR LAMPIRAN

x

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

1

1.2 Rumusan masalah

2

1.3 Batasan masalah

2

1.4 Metode pengumpulan data

3

1.5 Tujuan

4

1.6 Manfaat

4

1.7 Tempat dan waktu pelaksanaan

6

1.8 Sistematika penulisan

6

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Sejarah pabrik

7

2.2 Pemilihan lokasi pabrik

12

2.3 Visi, Misi, dan Nilai di PT. Holcim Indonesia Tbk

14

v

2.4

Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap

14

 

2.4.1 Quarry Department

 

15

2.4.2 Production Department

16

2.4.3 Maintenance Department

17

2.4.4 Technical Department

17

2.4.5 Administration Department

19

2.4.6 Plant Accounting Departement

19

2.4.7 Safety Environment and Quality System Department

20

2.5

Kepegawaian

20

2.6

Strategi Perusahaan

 

23

2.6.1 Sistem Pemasaran Produk

23

2.6.2 Strategi Promosi

25

2.7

Keselamatan dan Kesehatan Kerja

26

2.8

Penanganan Limbah

28

BAB III PERAWATAN DAN PERBAIKAN BELT

 

3.1 Pendahuluan

 

34

3.2 Komponen utama Belt Conveyor

 

36

3.3 Sistem Kerja Belt Conveyor

41

 

4.3.1

Belt

.

41

3.4 Kekuatan Belt

 

47

 

3.4.1 Kekuatan Tarik Belt (Tensile strength)

 

47

3.4.2 Penentuan jumlah ply

50

3.4.3 Nilai mulur (Elongation)

51

vi

3.5

Manajemen Pemeliharaan

52

3.5.1 Manajemen

52

 

4.5.1.1 Defenisi manajemen

52

4.5.1.2 Fungsi manajemen

53

3.5.2 Pemeliharaan (maintenance)

54

 

3.5.2.1 Defenisi pemeliharaan

54

3.5.2.2 Tujuan pemeliharaan

56

3.5.2.3 Fungsi pemeliharaan

58

3.5.2.4 Kegiatan-kegiatan pemeliharaan

59

3.5.2.5 Jenis-jenis pemeliharaan

60

3.5.2.6 Klasifikasi pemeliharaan

62

3.5.3 Kegiatan Inspeksi pada pemeliharaan belt conveyor

66

 

3.5.3.1 Pelumasan

68

3.5.3.2 Adjustment

68

3.5.4 Hubungan kegiatan pemeliharaan dengan biaya

69

3.5.5 Analisa kebijakan Pemeliharaan

71

3.6 Metode Manajemen Pemeliharaan

72

3.7 Metode Penyambungan belt

76

3.7.1

Jenis Penyambungan Belt

77

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

85

4.2 Saran

85

vii

DAFTAR TABEL

Tabel

2.1 Modal Pendirian PT. Semen Nusantara

8

Tabel

2.2 Struktur organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap

15

Tabel

2.3 Diagram Alir Distribusi Semen

22

Tabel

3.1 Perbandingan nilai mulur belt conveyor

44

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Tata letak pabrik PT Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant

12

Gambar 2.2

Struktur organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap

15

Gambar 2.3

Tempat Sampah

28

Gambar 3.1

Lintasan belt

31

Gambar 3.2

Konstruksi belt conver

32

Gambar 3.3

Komponen belt conveyor

32

Gambar 3.4

Head Pulley

33

Gambar 3.5

carrying roller

34

Gambar 3.6

Return roller

34

Gambar 3.7

Skirt Rubber

35

Gambar 3.8

chip cleaner

35

Gambar 3.9

Sistem kerja belt conveyor

36

Gambar 3.10 Struktur fabric belt

37

Gambar 3.11 Struktur steel cord belt

38

Gambar 3.12 Lapisan belt

40

Gambar 3.13 Hubungan diameter pulley dengan jumlah ply

43

Gambar 3.14 Diagram alir pemeliharaan

55

Gambar 3.15 Hubungan Preventive dan Breakdown Maintenance

58

Gambar

3.16

kurva bak mandi

62

Gambar 3.17 penyambungan belt conveyor

63

ix

Gambar 3.18 Pemotongan Rubber belt

67

Gambar 3.19 Menggerinda serat belt

67

Gambar 3.20 proses pengeleman pada belt

67

Gambar 3.21 Proses penyambungan belt dengan lem

68

x

DAFTAR LAMPIRAN

1. Dokumentasi Tempat PKL

xi

Lampiran 1

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemerintah

Indonesia

saat

ini

sedang berjuang

keras

untuk menjadikan

Indonesia menjadi negara yang berkembang dengan meningkatkan pembangunan

dalam berbagai bidang, terutama sektor industri dan ekonomi. Pembangunan industri

dikembangkan secara bertahap dan terpadu melalui peningkatan keterikatan antara

sektor industri dengan sektor ekonomi. Caranya dengan melalui penciptaan iklim

yang sejajar guna merangsang penanaman modal dan penyebaran pembangunan

industri.

Pembangunan secara fisik merupakan bagian pembangunan nasional dan juga

merupakan salah satu penunjang pembangunan pada sektor ekonomi. Faktor yang

terpenting dalam mewujudkan pembangunan fisik adalah tersedianya kebutuhan

bahan material yang memadai. Salah satu bahan material yang berperan secara

langsung pada hampir setiap pembangunan fisik seperti pembangunan gedung,

kantor, bendungan, jembatan atau bangunan lainnya adalah semen. Dari sini dapat

disimpulkan bahwa keberadaan industri semen merupakan sumbangan nyata bagi

peningkatan sumber ekonomi.

Menyadari pentingnya industri semen, pembangunan PT. Holcim Indonesia

Tbk.

Pabrik

pembangunan

juga

bertujuan

untuk

berpartisipasi

nasional

yang

diprogramkan

dalam

mendukung

suksesnya

pemerintah.

Khususnya

bagi

2

pengembangan pembangunan di daerah Jawa Tengah yang memiliki potensi ekonomi

yang

cukup

tinggi.

PT.

Holcim

Indonesia

Tbk

Pabrik

diharapkan

dapat

meningkatkan pendapatan pemerintah daerah berupa iuran produksi, pajak penjualan,

pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, dan sebagainya.

Kerja praktek ini sendiri dilakukan di PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap

Plant yang terletak di kota Cilacap. Dalam pelaksanaan Kerja Praktek ini, Penulis

diberi kesempatan oleh pihak PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant melalui

pertimbangan latar belakang studi yang diambil oleh penulis yaitu Mechanical

Engineering,

untuk

melakukan

Kerja

Praktek

di

Mechanical

Workshop

dan

Preventive Maintenance khususnya di perawatan Belt Coveyor guna peningkatan

kerja belt conveyor.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan kerja praktek ini

adalah :

a. Bagaimana proses pembuatan semen di PT. Holcim Indonesia Tbk.

b. Bagaimana analisis kekuatan belt conveyor di PT. Holcim Indonesia Tbk.

c. Bagaimana Metode Penyambungan belt di PT. Holcim Indonesia Tbk.

1.3 Batasan Masalah

Agar

permasalahan

yang

dibahas

tidak

menyimpang

dari

lingkup

permasalahan, maka dalam hal ini penulis memberikan batasan masalah sebagai

berikut :

3

a. Proses pembuatan semen di PT. Holcim Indonesia Tbk

yang ditinjau dari

sistem pembuatan secara teknis tanpa meninjau dari reaksi kimia yang terjadi

secara terperinci.

b. Membahas cara kerja dan komponen belt conveyor di PT. Holcim Indonesia

Tbk.

c. Membahas analisis kekuatan belt conveyor di PT. Holcim Indonesia Tbk.

d. Membahas proses penyambungan di PT. Holcim Indonesia Tbk.

e. Membahas cara pemeliharaan pada belt conveyor di PT. Holcim Indonesia

Tbk.

1.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam pelaksanaan Kerja

Praktek ini adalah dengan sebagai berikut :

1. Metode Observasi

Metode ini dilakukan dengan mengamati dan mempelajari secara langsung di

lokasi kerja praktek mengenai objek kerja praktek yang bertujuan untuk

mendapatkan gambaran serta data secara akurat.

2. Metode Wawancara

Metode ini dilakukan dalam bentuk tanya jawab dengan narasumber, baik

pembimbing kerja praktek maupun staf lapangan yang kompeten dalam

bidang tersebut.

3. Studi Literatur

4

Metode ini dilakukan dengan mempelajari literatur berupa jurnal perusahaan,

petunjuk kerja alat di data sheet, diagram alir, buku-buku perpustakaan baik

dari perusahaan maupun dari kampus.

4. Konsultasi

Metode ini dilakukan dalam bentuk kepada pembimbing lapangan dan sumber

lain untuk mendapatkan pengarahan dan bimbingan.

1.5 Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktek ini adalah :

a. Mempelajari proses produksi semen pada PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap

Plant.

b. Mempelajari mesin mesin utama untuk memproduksi semen.

c. Mempelajari perawatan dan perbaikan pada mesin mesin utama.

d. Mempelajari konstruksi dari belt conveyor

e. Mempelajari cara kerja dari belt conveyor.

f. Menganalisis kekuatan belt conveyor.

g. Mempelajari proses penyambungan belt conveyor

1.6 Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari kerja praktek ini adalah :

a. Bagi penyusun

1. Memberikan bekal tentang perindustrian sebelum terjun ke dunia kerja

secara nyata.

5

2. Mengenal cara kerja perusahaan secara umum dengan lebih mendalam,

khususnya peralatan dan proses produksi yang dilakukan.

3. Melatih kemampuan penyusun dalam menerapkan ilmu yang diperoleh di

dalam perkuliahan.

4. Meningkatkan kemampuan berfikir secara analitis, sebagai dasar untuk

menguasai

ilmu

mendatang.

b. Bagi akademik

pengetahuan

yang

lebih

tinggi

dalam

waktu-waktu

1. Dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran tentang pengenalan

teknologi di bidang permesinan

2. Dapat

menguji

sejauh

mana

kemampuan

mahasiswa

dalam

mengaplikasikan teori dengan kenyataan di lapangan.

 

3. Sebagai

bahan

evaluasi

untuk

peningkatan

kurikulum

di

massa

mendatang.

c. Bagi perusahaaan

1. Ikut serta membantu dunia pendidikan khususnya dalam pelatihan guna

menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai.

2. Dapat memperoleh masukan-masukan yang diberikan mahasiswa kerja

praktek yang dapat bermanfaat dan meningkatkan efisiensi dari proses

produksi.

3. Sebagai sarana bagi perusahaan terhadap perkembangan teknologi saat ini.

4. Merupakan perwujudan nyata dari perusahaan dalam mengabdi kepada

masyarakat, khususnya dalam bidang industri.

6

1.7 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat

: PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant

Jalan Ir. H Juanda Po Box 272

Cilacap 53201, Jawa Tengah

Indonesia

Waktu

: 10 Januari 2014 9 Maret 2014

1.8 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami laporan ini, maka laporan

ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

1. BAB I. PENDAHULUAN

Di dalam bab ini dijelaskan apa yang menjadi latar belakang, perumusan

masalah, tujuan, manfaat, metode pengumpulan data, tempat dan waktu,

sistematika penulisan.

2. BAB II. PROFIL PERUSAHAAN

Di dalam bab ini dijelaskan tentang sejarah perkembangan perusahaan, lokasi

perusahaan,

profil

perusahaan,

organisasi perusahaan.

3. BAB IV. STUDI KASUS

visi

dan

misi

perusahaan

dan

struktur

Di dalam bab ini dijelaskan tentang perawatan dan perbaikan belt conveyor di

PT. Holcim Indonesia Tbk.

4. BAB V. PENUTUP

Di dalam bab ini berisikan kesimpulan dan saran

7

BAB II

PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Pabrik

PT. Holcim Indonesia Tbk. atau dahulu dikenal dengan nama PT. Semen

Nusantara didirikan berdasarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing No.

1 Tahun 1967 Jo UU No. 11 tahun 1970. Berdasarkan rapat BKPN pada tanggal

20 Desember 1973 telah dinyatakan feasibel terhadap proyek proposal pendirian

pabrik semen di Cilacap Jawa Tengah dalam rangka PMA. Persetujuan dari

Bapak Presiden RI dengan SK No. B-76/PRES 3/1974 tertanggal 4 Maret 1974

telah diperoleh sesuai permohonan dari pemegang saham yang terdiri dari :

1. PT. Gunung Ngadeg Djaya (30% saham) Pengusaha Swasta Nasional.

2. Onoda Cement Co.Ltd (35% saham) Pengusaha Swasta Jepang

3. Mitsui Co.Ltd (35% saham) Pengusaha Swasta Jepang

Yang telah terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi dari BKPN dengan

Nomor:

B

183/bkpn/II/1974

dan

kemudian

oleh

Menteri

Perindustrian

RI

dikeluarkan ijin Pendirian Industri Semen di Cilacap dengan surat Nomor:

126/M/SK/3/74. PT. Semen Nusantara sebagai badan hukum secara resmi

didirikan berdasarkan Akte Notaris Kartini Mulyadi SH di Jakarta, dengan

register Nomor: 133 tanggal 18 Desember 1974 dengan usulan akte perubahan

No. 46 tanggal 11 Maret 1975, dalam bentuk Perseroan Terbatas dan berstatus

8

Penanaman Modal Asing/Join Venture, kemudian dikukuhkan dengan surat

Menteri Kehakiman RI No.V.A/5/96/25 tanggal 23 April 1975.

Pulau Nusakambangan yang tadinya sebagai lokasi tertutup telah dicabut

SK Presiden RI No. 38 tahun 1974. Dengan demikian dimungkinkan bagi PT.

Semen Nusantara untuk memanfaatkan sebagian areal Pulau Nusakambanagan

sebagai lokasi penambangan batu kapur yang merupakan salah satu bahan baku

utama dalam pembuatan semen, dan sebagai salah satu usaha perwujudan pasal

33 UUD 1945. kemudian realisasinya PT. Gunung Ngadeg Djaya sebagai

pemegang saham pihak Indonesia mendapat ijin penambangan daerah Gubernur

Daerah KDH TK 1 Jawa Tengah untuk :

1. Konsensi penambangan batu kapur di Pulau Nusakambangan seluas 1000

hektar sejak tahun 1975.

2. Konsensi penambangan tanah liat di Desa Tritih Wetan seluas 250 hektar.

3. Lokasi Pabrik semen di Kelurahan Karangtalun Kecamatan Cilacap Utara

dengan luas 26,5 hektar.

4. Lokasi perumahan di Kelurahan Gunung Simping dengan luas 10 hektar.

5. Lokasi service station/shipping distribution lengkap dengan loading facility

seluas 3,5 hektar (status kontrak dengan Perum Pelabuhan III cabang

Cilacap).

Data

Semula

Tahun 1984

Modal Dasar Perseroan

$ 21.000.000

$ 21.000.000

Modal Peminjaman

$ 84.000.000

$ 92.000.000

9

Jumlah

$ 105.000.000

$ 113.000.000

Tabel 2.1 Modal Pendirian PT. Semen Nusantara

Peletakan batu pertama pendirian Pabrik Semen Nusantara dilakukan oleh

Bupati KDH tingkat II kabupaten Cilacap, yaitu Bapak H. RYK Mukmin pada

tanggal 19 Juni 1975. Pembangunan fisik dimulai tanggal 1 Juli 1975 dan selesai

tanggal 5 April 1977. Dalam pembangunan Pabrik Semen Nusantara, sebagai

konsultan perencanaan dan pembangunan pabrik adalah Naigai Consultant dan

Co., Ltd, Jepang. Suplier mesin-mesin dan pengawas pembangunan adalah F.L

Smith, Prancis dengan peralatan dari Jerman, Prancis, Denmark dan Jepang.

Civil Engineering dilakukan oleh PT. Jaya Obayashi Gumi dan instalasi listrik

oleh PT. Promits.

Selama pembangunan pabrik tersebut telah mempekerjakan kira-kira 1800

orang tenaga kerja Indonesia dan 150 orang tenaga asing yang bertindak sebagai

tenaga ahli yang berasal dari Prancis, Jerman, Denmark, dan Jepang. Pada

tanggal 1 Juli 1977, PT. Semen Nusantara sudah mulai berproduksi dan produksi

komersial telah ditetapkan sejak tanggal 1 September 1977. Jenis semen yang

dihasilkan adalah semen Portland Type 1 dengan logo Candi Borobudur dan

Bunga Wijaya Kusuma sedangkan pengawasan mutu dilakukan oleh Technical

Asisitant

dari Onoda Jepang dan Lembaga penelitian Bahasa Departemen

Perindustrian dan Kimia Bandung.

Sejak tanggal 10 Juni 1993, PT. Semen Nusantara telah memiliki status

baru yaitu dengan pengambilan saham 100% oleh Indonesia, yang kemudian

10

oleh PT. Semen Cibinong Tbk. Diakuisisi sebagai unit IV dari grup Semen

Cibinong pada tanggal 14 Juli 1993 dan diberi nama PT. Semen Cibinong Tbk.

Di Pabrik Cilacap terdiri dari dua sentral produksi CP 1 (pabrik lama) dan CP 2

(pabrik baru).

Pemenuhan kebutuhan pasar khusunya di

dilakukan

oleh

PT.

Semen

Cibinong

Tbk.

memperbesar kapasitas produksi melalui:

daerah Jawa Tengah dan DIY

Pabrik

Cilacap

dengan

cara

1. Pengadaan pregrinding sehingga dapat mempercepat penggilingan yang

diharapkan

kapasitas

produksi

bertambah

hingga

500.000

ton/tahun

sehingga produksi menjadi 1.500.000 ton/tahun dan mulai operasi pada

Juni 1995.

2. Perluasan dengan menambah 1 unit pabrik sekaligus merupakan unit

kelima yang dibangun di kawasan Industri Cilacap II dengan kapasitas

sebesar 2,6 juta ton/tahun.

Proyek pembangunan CP-2 dimulai pada bulan Januari

1995 dan selesai

pada bulan April 1997, sehingga kapasitas total PT. Semen Cibinong Pabrik

Cilacap adalah 4,1 juta ton/tahun.

Pada tahun 2005 semenjak terdiri kenaikan BBM, maka pabrik CP-1

ditutup karena biaya operasi di CP-1 melebihi budget yang telah disediakan oleh

pabrik sehingga pabrik mengalami kerugian. Biaya operasi naik karena di CP-1

menggunakan pembangkit listrik generator yang berbahan bakar IDO (Industry

Diesel Oil). Selain itu kapasitas pabrik CP-1 pada kenyataannya hanya sepertiga

dari Pabrik CP-2.

11

Pada tahun 2000, PT. Semen Cibinong Tbk. Pabrik Cilacap setuju untuk

diadakan restrukturisasi hutang dengan para kreditor. Hutang perseroan telah

dikurangi sebesar $500

juta, selain itu PT.

Tirtamas

Maju Tama sebagai

pemegang saham terbesar telah menjual seluruh sahamnya pada perusahaan

Holcim dari Swiss, sehingga pemegang saham terbesar saat ini adalah:

a. Holcim 77,33 %

b. Kreditor 16,1 %

c. Umum 6,6 %

Pada tanggal 13 Desember 2001, Holcim Ltd. Menjadi pemegang saham

utama dengan total 77,33 %. Holcim atau Holderbank didirikan oleh Jacob

Schmidheiny pada tahun 1838, seorang penenun sutera, anak dari seorang

penjahit miskin di desa Balgach (Swiss). Holderbank berkembang pesat oleh

putera-puteranya

yaitu

Jacob

dan

Ernst

Schmidheiny.

Pada

tahun

1933,

perusahaan telah berekspansi ke Belanda, Mesir, Prancis, Jerman, Lebanon, dan

Yunani. Holcim beroperasi di lebih dari tujuh puluh negara, hadir di lima

belahan dunia yaitu: Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Asia Pasifik, dan

Afrika. Saat ini group Holcim memperkerjakan lebih dari 50.000 karyawan

Pada tanggal 30 Desember 2004 Holcim Participation Ltd. menjual seluruh

saham tersebut kepada induk perusahaannya yaitu Holderfin B.V. pemegang

saham

mayoritas

PT.

Semen

Cibinong

dengan

kepemilikan

5.925.921.820

lembar

itu

terjual

seluruh

penyertaan

kepada

Holderfin

B.V

dengan

nilai

transaksi sebesar Rp. 2,5 Trilyun (USD 256,48juta).

12

Holderfin

yang

berkedudukan

di

Belanda

tersebut

merupakan

induk

perusahaan sekaligus pemegang saham Holcim yang berkedudukan di Mauritus.

Pengalihan kepemilikan saham Semen Cibinong oleh Holcim kepada Holderfin

itu,

menurut

Holderfin.

Timothy

Mackay,

adalah

bagian

dari

rekonstruksi

internal

Mulai tanggal 1 Januari 2006, nama PT. Semen Cibinong diganti dengan

nama PT. Holcim Indonesia Tbk. Sesuai dengan keputusan yang diperoleh pada

rapat yang diadakan pada tanggal 24 April 2005.

2.2 Pemilihan Lokasi Pabrik

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan suatu pabrik

adalah pemilihan lokasi pabrik itu sendiri, karena lokasi pabrik secara tidak

langsung akan menentukan kelangsungan dan keberhasilan suatu perusahaan.

Pemilihan lokasi pabrik harus diusahakan sedemikian rupa sehingga dekat

dengan

sumber

bahan

baku,

sasaran

pasar

dan

fasilitas

transportasi

yang

memadai. Serta tersedianya tenaga ahli. Oleh karena itu pemilihan lokasi yang

tepat akan meningkatkan efisiensi dari pabrik.

Adapun pemilihan lokasi pabrik PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap

di Desa Karang Talun didasarkan pada perimbangan-pertimbangan sebagai

berikut:

1. Tersedianya bahan baku

Bahan

Baku

diantaranya :

yang

tersedia

di

sekitar

pabrik

cukup

memadai,

13

a. Batu kapur dari Pulau Nusakambanagan,

b. Tanah liat dari Jeruklegi,

c. Pasir

besi

dibeli

dari

PT.

Aneka

Tambang

yang

memiliki

area

penambangan di sekitar pantai Adipala Cilacap,

d. Pasir Silika di daerah Jatinegoro, Rembang dan sekitar Bandung Jawa

Barat

2. Fasilitas Transportasi

Bagi

suatu

industri,

transportasi

merupakan

salah

satu

hal

yang

penting,

karena

melalui

transportasi

bahan

baku

ataupun

jadi

dapat

dipindahkan dari pabrik. Adanya pelabuhan alam Wijaya Pura yang telah

memiliki fasilitas bongkar muat yang memadai, sarana angkutan darat

melalui jalan raya dan jalur kereta api mempermudah pengangkutan bahan

baku maupun distribusi produk ke daerah-daerah pemasaran.

3. Merupakan daerah kawasan industri

Kota Cilacap sejak tahun 1970 telah dipersiapkan sebagai daerah

kawasan industri dengan fasilitas transportasi yang memadai.

4. Daerah pemasaran

Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah

pemasaran utama, sedangkan Jawa Barat merupakan daerah pemasaran

lainnya

Selain itu, diusahakan untuk menembus pasaran

ekspor baik

semen maupun clinker. Daerah pemasaran ekspor yang sudah berhasil

ditembus antara lain : Srilanka, Bangladesh, Australia, Mauritus, Malaysia,

dan Amerika.

14

5. Tenaga Kerja

Cilacap

merupakan

salah

satu

daerah

yang

padat

penduduknya,

sehingga memudahkan dalam hal pemenuhan tenaga kerja.

6. Penyediaan Air

Kota Cilacap merupakan kota yang dikelilingi laut, maka kebutuhan

air mudah diperoleh. Selain itu, di lingkungan pabrik tersedia sumur

sebagai sumber air melalui pengeboran dan desalinasi air laut

Tata letak pabrik PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap dapat dilihat

pada gambar 2.1

5 1 6 8 7 2 4 3 18 9 17 16 10 15 14
5
1
6
8
7
2
4
3
18
9
17
16
10
15
14
13
12 11

Gambar 2.1 Tata letak pabrik PT Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan suatu pabrik

adalah pemilihan lokasi pabrik itu sendiri, karena lokasi pabrik secara tidak

langsung akan menentukan kelangsungan dan keberhasilan suatu perusahaan.

Pemilihan lokasi pabrik harus diusahakan sedemikian rupa sehingga dekat

15

dengan

sumber

memadai

bahan

baku,

sasaran

pasar

dan

fasilitas

transportasi

yang

Sesuai denah tata letak yang ditampilkan Gambar 2.1, berikut adalah

keterangan untuk masing-masing lokasi di PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik

Cilacap.

1. Ship jetty

2. Settling pond dan unit

desalinasi air laut

3. Tempat penyimpanan bahan

baku

4. Stasiun penerimaan aditif

5.

Packhouse

6. Gedung finish mill

7. Clinker silo

8. PT PLN

9. Area workshop, warehouse,

dan garasi

10. Area Clinker cooler dan clinker

bin

11. Area gedung A, gedung B, dan

kantin

12. Rotary kiln

13. Homogenizing silo dan gedung

preheater

14. Area Raw mill dan Coal mill

15. Cerobong stack utama

16. Area parkir kendaraan

17. Taman/lahan penghijauan

18. Water pond

14

2.3 Visi, Misi, dan Nilai di PT. Holcim Indonesia Tbk

a. Visi

Menyediakan kondisi kehidupan yang sehat bagi masa depan masyarakat.

b. Misi

1. Holcim Indonesia berkembang dengan memberikan solusi pembangunan

2.

berkelanjutan,

berkonsentrasi

di

segmen

pelanggan

khusus

pengembangan sumber daya manusia,

melalui

kepemimpinan yang inovatif serta jaringan terpadu, untuk menciptakan

keuntungan maksimal bagi semua pemangku kepentingan, dengan tetap

memperhatikan kelestarian lingkungan dan kehidupan masyarakat.

c. Nilai

"Kerjasama" adalah kekuatan kami,

"Menepati janji" adalah kinerja kami,

"Kepedulian"adalah semangat kami.

2.4 Struktur Organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap

Secara garis besar organisasi di PT. Holcim Indonesia, Tbk. pabrik Cilacap

mengikuti garis Staff Manager yang mempunyai wewenang eksekutif sebagai

pelimpahan tanggung jawab pada batas tertentu.

Departemen

ini

dipimpin

oleh

seorang

Manager

Maintenance

yang

mempunyai tugas mengadakan perawatan, pemeliharaan mesin, perbaikan mesin

dan seluruh sarana yang berkaitan dengan peralatan pabrik termasuk penyediaan

15

15 Gambar 2.2 Struktur organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap sarana utilitas yang meliputi penyediaan

Gambar 2.2 Struktur organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap

sarana

utilitas

yang

meliputi

penyediaan

air

yang

digunakan

untuk

pendingin mesin maupun penyediaan listrik yang diperoleh dari PLN

PT. Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap dipimpin oleh seorang Plant

Manager. Struktur organisasi PT Holcim Indonesia, Tbk.

2.4.1 Quarry Department

Departemen

ini

mempunyai

tugas

dan

tanggung

jawab

pada

penambangan batu kapur di Pulau Nusakambangan dan tanah liat di daerah

Jeruk Legi. Quarry department

dipimpin oleh Quarry Manager yang dibantu

oleh empat Superintendent (SI) yaitu:

16

a. L/S Quarry Operation and Transport Superintendent bertanggung jawab

pada peledakan (blasting), pengeboran dan operator alat berat, penyediaan

alat transportasi batu kapur dan tanah liat dengan menggunakan kapal

tongkang.

b. L/S

Quarry

and

Transport

Equipment

Maintenance

Superintendent

bertanggung

jawab

atas

pemeliharaan

listrik,

alat

berat

dan

alat

transportasi.

 

c. Quarry Dev. and Quarry Superintendent, bertugas menjaga kualitas dari

daerah yang akan ditambang, menentukan daerah yang akan ditambang dan

dampaknya bagi lingkungan sekitar serta penanggulangannya dan hasil

tambang yang dihasilkan.

d. Clay Quarry and Raw Material Receiving Superintendent bertanggung

jawab pada penambangan tanah liat dan pengiriman material.

2.4.2 Production Department

Departemen produksi dipimpin oleh seorang Manager Produksi yang

bertanggung jawab mengawasi perencanaan bahan baku, mengawasi proses

produksi dan keselamatan karyawan, serta menangani kelancaran produksi

semen dari penerimaan bahan baku sampai menadi produk semen ataupun

clinker. Tugas-tugas Manager Produksi dibantu oleh Administration Support

dan membawahi:

1. Production Shift Manager

17

3. CP-1 Shift Superintendent

4. Production Planning Superintendent

2.4.3 Maintenance Department

Departemen ini dipimpin oleh seorang Manager Maintenance yang

mempunyai

tugas

mengadakan

perawatan,

pemeliharaan

mesin,

perbaikan

mesin dan seluruh sarana yang berkaitan dengan peralatan pabrik termasuk

penyediaan sarana utilitas yang meliputi penyediaan air yang digunakan untuk

pendingin mesin maupun penyediaan listrik yang diperoleh dari PLN. Dalam

menjalankan

tugasnya,

departemen

maintenance

dibantu

oleh

lima

superintendent dan satu manager bagian, sebagai berikut:

1. Maintenance Planning Superintendent

2. Mechanical Superitendent

3. Electrical & Instalasi Superintendent

4. Utility Superintendent

5. Mechanical Superintendent

6. Realibility Maintenance Manager

2.4.4 Technical Department

Departemen

ini

dikepalai

oleh

seorang

Manager

Teknik

(Technical

Manager) yang bertugas melakukan quality control dan menangani komplain

pelanggan

serta

melakukan

penelitian

dan

pengembangan

(Research

and

18

Development) tentang rancang proses dan peralatan proses untuk kemajuan

pabrik. Departemen ini membawahi:

a. Laboratorium (quality control shift, laboratorium fisika, dan laboratorium

kimia)

Quality control shift bertugas untuk menguji kualitas sampel yang

diambil di blending silo, feed kiln bin, cooler, finished mill, dan semen

yang dihasilkan. Uji kualitasnya dilakukan dengan menggunakan sinar X-

ray sehingga dapat diketahui komposisi penyusun material tersebut serta

parameter kualitas sampel seperti LSF, IM, AM, dan SM.

Laboratorium kimia bertugas menganalisis kualitas bahan baku,

batubara, fly ash, oil sludge, sekam padi, dan material lain yang terkait

dengan proses produksi. Sehingga sebelum material tersebut digunakan,

sudah dipastikan bahwa material tersebut memenuhi syarat mutunya.

Laboratorium fisika

bertugas menguji ketahanan fisik dari semen

yang dihasilkan, yaitu meliputi uji kehalusan, kuat tekan, setting time, dan

soundness. Laboratorium fisika juga memiliki laboratorium concrete yang

berfungsi untuk menguji kualitas beton yang dibuat dari semen produksi

setiap bulannya.

b. Process Engineering (PE)

PE bertugas sebagai penentu nilai dari parameter-parameter yang

dikontrol

pada

proses

produksi

seperti

tekanan,

temperatur,

laju

alir

material, spesifikasi alat yang dibutuhkan, hingga parameter bahan baku

yang layak digunakan dalam proses produksi.

19

c. Environment Quality Service (EQS)

EQS bertugas untuk menjaga lingkungan pabrik maupun di luar

pabrik agar tetap bersih dan nyaman. EQS akan mengurus limbah yang

dihasilkan

selama proses

produksi

maupun limbah

nonproduksi

yang

meliputi limbah cair, limbah padat, dan limbah gas. Selain itu, EQS juga

mencari sumber alternatif energi maupun bahan baku ( Alternative Fuel

and Raw Material ) bagi proses produksi pabrik. Pencarian AFR saat ini

dilakukan oleh tim Geocycle yang berada di bawah EQS.

2.4.5 Administration Department

Departemen ini dipimpin oleh seorang Administration Superintendent

yang bertugas menangani bagian umum dengan tanggung jawab menyediakan

alat transportasi, menerima tamu beserta akomodasinya, menyediakan alat tulis

untuk

tiap

departemen.

Dalam

menjalankan

tugasnya

Administration

Superintendent

dibantu

oleh

Administration

Service,

Cleaning

and

Office

Contractor, dan Transportation Team Leader yang meliputi Transportation

Administration, Driver, dan Transport Maintenance.

2.4.6 Plant Accounting Departement

Departemen ini dipimpin oleh Plant Accounting Superintendent yang bertugas mengelola keuangan baik pemasukan maupun pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas pabrik, misalnya: gaji karyawan, pajak, pembayaran kepada relasi, penjualan semen, dan sebaran barang yang dibeli. Tugas Plant

20

Accounting Superintendent dibantu oleh Cost Analysis Payroll dan Expenses Administration.

2.4.7 Safety Environment and Quality System Department

Departemen

ini

dipimpin

oleh

seorang

manager,

dan

bertugas

mengadakan pengawasan dan menjaga mutu produk dari bahan baku sampai

menjadi semen yang mengacu pada sertifikat ISO 9002 dan ISO 14001 serta

menangani dampak lingkungan yang timbul dari proses produksi di PT Holcim

Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap. Dalam menjalankan tugasnya, departemen ini

membawahi :

a.

Safety and Fire Superintendent yang membawahi Safety Officer and Shift

Fire Brigade.

b.

Environment Superintendent yang membawahi Environment Officers dan

Land Scaping and Gardening Contractor

c.

Quality System

2.5 Kepegawaian

Jam kerja yang berlaku di P.T. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant

Karyawan kantor atau staf :

a. : 07.30-16.00, istirahat 12.00-13.00 WIB

Senin-kamis

Jum’at

b. : 07.30-16.00, istirahat 11.30-13.00 WIB

Karyawan lapangan dibagi menjadi 3 shift :

a. Shift I

: 07.30-15.30 WIB

21

c. Shift III

: 23.30-07.30 WIB

P.T. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant dapat menyerap tenaga kerja

sebanyak 1360 orang yang terdiri dari karyawan tetap dan kontraktor .

1. Karyawan tetap

2. Kontraktor

: 860 orang

: ±500 orang sifatnya borongan (kontrak kerja)

Fasilitas yang diberikan PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant untuk

kesejahteraan karyawan, antara lain :

1. Perumahan

Perumahan PT. Holcim Indonesia Tbk berada di Gunung Simping

kecamatan

Cilacap

Utara

dengan

luas

area

10

Ha.

Karyawan

yang

mempunyai hak untuk menempati rumah dinas adalah golongan IIIb ke atas,

namun

masih

terbatas.

Bagi

karyawan

yang

ingin

memiliki

rumah,

perusahaan membantu dengan memberikan pinjaman uang sebesar lima kali

upah kerja perbulan yang di angsur selama tiga tahun.

2. Pengobatan

- Penggantian biaya pengobatan bagi karyawan yang dirawat di rumah

sakit swasta sebesar 100%.

- Penggantian biaya pengobatan bagi keluarga karyawan yang dirawat di

rumah sakit swasta sebesar 100% dari 100% biaya pengobatan.

- Penggantian biaya pengobatan bagi karyawan yang dirawat di rumah

sakit umum sebesar 100%.

- Penggantian biaya pengobatan bagi keluarga karyawan yang dirawat di

rumah sakit umum sebesar 100%.

22

3. Sumbangan

- Sumbangan perkawinan anak pertama.

- Sumbangan anak pertama.

- Sumbangan kematian anak, istri, orang tua, mertua.

- Sumbangan kematian istri atau suami.

- Sumbangan untuk musibah yang menyebabkan kehilangan rumah.

4. Koperasi Karyawan

Karyawan PT. Holcim Indonesia Tbk Pabrik Cilacap mempunyai

koperasi, disini karyawan dapat membeli barang-barang dengan harga yang

relative lebih murah dan dapat diangsur. Selain itu koperasi mengelola

kantin, catering makanan dan minuman serta mensuplai barang-barang

kebutuhan sehari-hari.

5. Tempat Olahraga

Karyawan PT. Holcim Indonesia Tbk Pabrik Cilacap mengikuti senam

pagi yang diadakan oleh pabrik setiap hari Selasa dan Jum’at. Adapun

instruktur

yang

bertugas

membimbing

karyawan

dikontrak langsung dari pusat senam aerobic

yang

Cilacap.

6. Tempat Ibadah

melakukan

senam

ada di

Kabupaten

Karyawan PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant dapat dengan

lancer

melakukan

aktivitas

ibadahnya

sesuai

dengan

kepercayaannya.

Terutama bagi karyawan yang mayoritas beragama Islam, fasilitas mushola

23

ada di setiap departemen yang ada di PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap

Plant.

2.6 Strategi Pemasaran Produk PT Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap

2.6.1 Sistem Pemasaran Produk

PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant memproduksi semen General

Use

Cement

(Semen

Serba

Guna).

Untuk

semen

SSG

dipasarkan

dalam

kemasan 50 kg dan untuk pasaran ekspor

biasanya dikemas dalam jumbo bag

dengan berat sesuai dengan permintaan konsumen (biasanya untuk ekspor).

Produk tersebut dipasarkan dalam kemasan berlogo Semen Serba Guna dengan

menggunakan logo Semen Holcim Serba Guna.

Distribusi semen PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant dilaksanakan

melalui main distribusi perusahaan nasional yang telah ditunjuk dan disahkan

oleh Departemen Perdagangan (Ditjen Perdagangan Dalam Negeri). Main

distributornya adalah Departemen Sales & Marketing yang membawahi ±43

subdistributor. Subdistributor tersebut diantaranya adalah :

1. PT. Wibawa Putra Utama

2. PT. Panca Niaga

3. PT. Cipta Niaga

4. PT. Darma Niaga

5. PT. Perikesit Indonesia

Dari subdistributor ini selanjutnya semen disalurkan ke retaler shop (took

pengecer) baru kemudian ke konsumen.

24

PT. Holcim Indonesia

Tbk. Main Cilacap distributor Plant

24 PT. Holcim Indonesia Tbk. Main Cilacap distributor Plant Main distributor Subdistributor konsumen Retail Shop

Main

distributor

Tbk. Main Cilacap distributor Plant Main distributor Subdistributor konsumen Retail Shop Gambar 2.3 Diagram Alir

Subdistributor

konsumen

distributor Plant Main distributor Subdistributor konsumen Retail Shop Gambar 2.3 Diagram Alir Distribusi Semen

Retail Shop

Gambar 2.3 Diagram Alir Distribusi Semen

Pendistribusian semen yang dilayani PT. Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik

Cilacap meliputi daerah-daerah berikut:

1. Regional 1 meliputi Sepale (Serang, Pandeglang, Lembang), Jabotabek

(Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), dan Pukas (Purwakarta, Karawang

Selatan)

2. Regional 2 meliputi Cikuma (Cirebon, Kuningan, Majalengka), Cigata

(Ciamis, Garut, Tasik), dan Bregal (Brebes, Tegal)

3. Regional 3 meliputi Pematang (Pematang, Batang), Kerangga (Karang Jati,

Semarang, Salatiga), Dekupar (Demak, Kudus, Jepara), Purwodadi, dan

Jatim

Regional

4. 4

meliputi

Purbomas

(Purbalingga,

Banyumas),

Kejarbojo

(Kebumen, Banjarnegara, Wonosobo, Purworejo), Manggung (Magelang,

Temanggung), Yogasari (Yogyakarta, Wonosari), dan Sukaten (Surakarta,

Klaten)

25

Daerah pendistribusian semen di Indonesia ditetapkan oleh Asosiasi

Semen Indonesia (ASI). Penetapan harga semen ditentukan juga oleh ASI,

berdasarkan Harga Pedoman Setempat (HPS). Karena saat ini HPS telah

dihapus, PT. Holcim Indonesia, Tbk. Pabrik Cilacap menjadi mungkin untuk

memasarkan produknya di mana saja di seluruh Indonesia, serta meningkatkan

persaingan dengan perusahaan semen lain.

2.6.2 Strategi Promosi

Kegiatan promosi di PT. Holcim Indonesia, Tbk. direncanakan dan

dilaksanakan oleh kantor pusat dan daerah. Untuk bidangg pemasaran, kantor

pusat berada di Semarang dan di bantu oleh kantor perwakilan cabang di

Cilacap, Yogyakarta, dan Solo.

Tujuan kegiatan promosi yang dilakukan oleh PT. Holcim Indonesia,

Tbk. adaah untuk memberitahukan kepada konsumen mengenai produk semen

yang diproduksi oleh PT. Holcim Indonesia, Tbk.

Promosi yang diakukan oleh PT. Holcim Indonesia, Tbk. meliputi :

1. Periklanan yang meliputi :

a. Publikasi di dinding toko pengecer yang mudah dilihat dan dibaca.

b. Pemasangan iklan di pinggir jalan.

2. Personal selling

a. Gathering

yaitu

makan

malam

bersama

dengan

pengecer berdasarkan wilayah kerja.

distributor

dan

26

b. Workshop yaitu pelatihan dan penyuluhan kepada tukang maupun caon

pembeli.

Peserta

yang

mengikuti

transport, cethok, kaos dll.

workshop

mendapatkan

uang

c. Display contest yaitu mengenai memajang produk disetiap toko (di

setiap toko harus ada semen Holcim minimal 20 sak)

d. Evaluasi petugas dari PT. Holcim Indonesia, Tbk. yang mendatangi

toko setiap 2 minggu sekali.

3. Promosi penjualan, antara lain :

a. Pemberian sampel semen pada pelanggan.

b. Peberian kalender tiap awal tahun.

c. Pemberian agenda tiap awal tahun.

d. Pemberian kaos dan nota pembelian.

4. Publisitas

a. Menjadi sponsor kegiatan-kegiatan misalnya acara olahraga, peringatan

hari besar keagamaan, dll.

b. Pameran

c. Pemasangan spanduk

d. Proyek kerjasama pembangunan jembatan.

2.7 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

a. Keselamatan Kerja

Setiap

karyawan

wajib

perusahaan dimana dia bekerja

mengetahui

ketentuan

ketentuan

dari

dan prosedur-prosedur keselamatan kerja

27

demi menunjang suasana yang kondusif di tempat kerja sehingga mampu

menciptakan suatu perwujudan sikap yang baik pada perusahaan, terhadap

pekerjaan, pimpinan serta rekan kerja. Pada PT. Holcim Indonesia Tbk

Cilacap plant terdapat delapan ketentuan peraturan tentang kesehatan dan

keselamatan kerja, yaitu :

1. Managemen

perusahaan

PT.

Holcim

Indonesia

Tbk.

Cilacap

Plant

mempunyai perhatian khusus terhadap pencegahan kecelakaan.

2. Suatu kecelakaan bisa saja terjadi akan tetapi bukan tidak mungkin untuk

mencegahnya.

3. Setiap karyawan diminta melaporkan kepada supervisor atau leadernya

apabila menghadapi suatu keadaan yang tidak aman dalam bekerja.

4. Tidak seorang pekerja pun diperkenankan mengoperasikan peralatan

sebelum mengetahui dan mempelajari cara pemakaiannya dan telah

diberi wewenang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan itu oleh

supervisor atau leadernya.

5. Tidak seorang pekerja pun melaksanakan suatu pekerjaan yang dirasakan

kurang aman untuk keselamatan diri.

6. Menggunakan alat pelindung diri sesuai dengan jenis pekerjaan dan

tempatnya.

7. Apabila seseorang mengalami cedera walaupun luka kecil maka dia harus

segera melaporkannya keatasannya untuk kemudian mendapatkan P3K.

8. Pelindung terhadap mesin-mesin, alat-alat dan tempat-tempat kerja telah

dilaksanakan dengan baik dan pihak manajemen akan terus berusaha

28

menyempurnakannya sesuai dengan kebutuhan dan metode-metode baru

yang telah didapatkan.

b. Kesehatan Kerja

Dalam

menangani

kesehatan

kerja,

perusahaan

menyediakan

pengelolaan kuratif dan preventif. Pengelolaan kuratif diberikan berupa

pelayanan obat-obatan dan tersedianya tenaga medis untuk karyawan yang

bersangkutan maupun keluarganya. Pengelolaan preventif diberikan berupa

perlengkapan kerja seperti helm, sepatu,

dan lain-lain.

2.8 Penanganan Limbah

kaca mata, sarung tangan, ear plug

Limbah merupakan salah satu sisa produk yang cukup berbahaya jika

langsung disalurkan langsung ke lingkungan. Limbah dapat membuat lingkungan

sekitar menjadi tercemar sehingga limbah membutuhkan perhatian yang sangat

khusus. PT. Holcim Indonesia Tbk. pabrik Cilacap menghasilkan tiga macam

limbah yaitu: limbah cair, limbah gas, dan limbah padat (debu).

1. Limbah Cair

Limbah cair di ligkungan berasal dari pencucian bengkel mesin atau

kendaraan berat dan limbah yang berasal dari laboratorium. Penanganan

limbah cair tidak di-treatment lebih lanjut karena masih dalam ambang batas

yang diijinkan.

2. Limbah Gas

29

Limbah gas yang keluar ke udara kadang-kadang masih dalam bentuk

asap hitam. Hal ini karena pembakaran yang tidak sempurna, sehingga batu

bara yang tidak terbakar ikut keluar melalui stack. Seperti diketahui bahwa

kandungan terbesar dari batu bara adalah karbon monoksida yang sangat

berbahaya bagi manusia khususnya bagi pernafasan.

Upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan

pemasangan cerobong pembuangan asap yang dapat menyaring partikel-

partikel

padat.

Selain

itu

dengan

tindakan

preventif

yaitu

dengan

mengoperasikan

pembakaran

berdasarkan

kondisi

operasi

yang

telah

dilakukan.

3. Limbah Padat (Debu)

 

Proses

pembuatan

semen

menghasilkan

beberapa

partikel

yang

beterbangan

dengan

substantial

yang

berbeda.

Pencemaran

udara

ditimbulkan karena debu, SO 2 , dan NO 2 yang dihasilkan selama produksi.

Untuk mengatasi pencemaran tersebut limbah debu harus dilewatkan ke

dalam cyclone dan electrostatic precipitator terlebih dahulu sebelum dibuang

ke udara bebas. Dimana kedua alat ini berfungsi untuk memisahkan padatan

dengan gas (udara). Selain kedua alat ini dipasang pula bag filter. Debu yang

beterbangan di udara setiap tiga bulan harus dianalisis dan konsentrasi debu

rata-rata harus berada di bawah nilai ambang yaitu :10 mg/m 3 (Kep.Men.LH

Nomor : Kep13/MENLH/3/1995).

Makin pekat atau gelap gas buang, berarti opasitas gas makin tinggi.

Untuk mengetahui parameter-parameter gas buang secara kuantitatif, gas

30

buang yang melalui cerobong asap stack EP Kiln Raw Mill dipantau secara

kontinu dengan menggunakan CEM (Continous Emission Monitoring). CEM

ini adalah software komputer pada ruangan departemen EQS (Environmental

Quality Service) yang dengan kontinu dapat memantau komposisi gas buang

yang keluar dari cerobong stack. CEM mampu melihat hasil pengukuran dari

lima alat ukur utama yang masing-masing mengukur komposisi gas buang

yang berbeda, kelima alat ukur tersebut adalah:

a) FID untuk mengukur kandungan VOC (volatile organic compound).

b) GM31 untuk mengukur kandungan NO X , O 2 , SO 2 .

c) Flowsic untuk mengukur laju gas buang serta temperatur gas.

d) OMD41_C untuk mengukur kadar debu dari cooler.

e) OMD41_K untuk mengukur kadar debu dari kiln.

Untuk

melakukan

analisa

stack

gas,

digunakan

cara

isokinetic

sampling. Isokinetic Sampling adalah teknik khusus untuk pengambilan

sampel dioksin dan partikular dari aliran

gas, karena kedua unsur ini

dikategorikan semi-VOC dan aerosol berturut-turut.

Berikut ini disajikan data hasil pengujian kualitas udara emisi gas

buang dari cerobong stack, lihat Tabel 2.4 dan Tabel 2.3 dengan data kadar

kandungan kimia. Parameter-parameter logam berat yang lain (Hg, TI, Co,

Sb, dan V) tidak terdeteksi.

a) Stack EP Kiln Raw Mill (stack utama)

b) Stack lain

4. Limbah Buangan

31

Limbah dari PTHI Cilacap dikelompokkan menjadi empat, yaitu:

a) Limbah domestik yaitu sisa makanan, daun, sampah potong rumput,

pelepah poho, ranting pohon.

b) Limbah non-logam yaitu kertas, plastik, potongan newlite/kayu/BC,

karet.

c) Limbah logam yaitu besi, kaleng, kawat, drum bekas, potongan plate.

d) Limbah

B3

yaitu

majun

bekas

(terkena

oli/grease),

toner

bekas,

kemasan bahan kimia/bahan peledak, limbah padat klinik, filter oli

bekas, lampu TL/Merkuri bekas, baterai/accu.

filter oli bekas, lampu TL/Merkuri bekas, baterai/accu. Gambar 2.3 Tempat Sampah Di lingkungan PTHI Cilacap banyak

Gambar 2.3 Tempat Sampah

Di lingkungan PTHI Cilacap banyak terlihat 4 tempat sampah berbeda

warna, lihat Gambar 2.3. Warna biru adalah tempat sampah untuk limbah

domestik, kuning untuk limbah logam, merah untuk limbah B3 dan hijau

untuk limbah non-logam. Untuk tempat sampah merah (limbah B3), harus

dilengkapi juga dengan tutup tempat sampah.

5. Limbah B3

Dalam PTHI Cilacap

menggolongkan

limbah

B3

yang

mencakup

grease/oli bekas, tinta bekas, filter bekas, material terkontaminasi, lem bekas,

32

botol kimia bekas, limbah laboratorium dan WWT sludge. Untuk oli bekas

secara khusus PT. Holcim Indonesia Tbk. pabrik Cilacap telah memiliki

sistem recovery oli bekas dengan sistem seal trap sehingga nantinya oli telah

bersih dan telah aman untuk dibuang ke saluran pembuangan khusus.

Mengenai

Indonesia

Tbk.

penanganan

dan

pabrik

Cilacap

penggunaan

limbah

telah

mendapatkan

B3,

PT.

Holcim

pengesahan

dari

pemerintah melalui tiga Kepmen LH sebagai berikut:

a.

Kepmen LH No.697 Tahun 2008 mengenai Izin Pengoperasian Alat

Pengolah Limbah Berbahaya dan Beracun (Kiln Incinerator).

Sesuai Kepmen LH di atas, PT Holcim Indonesia Tbk. pabrik

Cilacap telah mendapatkan izin untuk melakukan pembakaran limbah

B3 domestik (hasil dari PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap sendiri)

ataupun limbah B3 dari pihak luar. Fasilitas pembakaran limbah B3 ini

terletak di lantai 5 dari preheater, berupa insinerator yang berhubungan

dengan kiln. Pada periode Januari Maret 2009, total limbah B3 yang

dibakar adalah 29,55 ton, dengan perincian sebagai berikut:

1)

Oli/grease bekas (0,01 ton)

2)

Tinta bekas (0,44 ton)

3)

Filter bekas (1,05 ton)

4)

Material terkontaminasi (1,25 ton)

5)

Lem bekas (0,2 ton)

6)

WWT sludge (26,6 ton)

33

b. Kepmen LH No.393 Tahun 2007 mengenai Izin Pemanfaatan Limbah

Berbahaya dan Beracun (B3)

Sesuai

Kepmen

ini,

PTHI

Cilacap

telah

memiliki

izin

untuk

memanfaatkan limbah B3, terutama oli bekas, dalam proses recovery,

sehingga dapat digunakan kembali atau segera dibuang melalui saluran

pembuangan khusus, PTHI Cilacap memiliki 4 tempat penyimpanan

limbah B3 berupa:

1)

1 unit bak 2,14 x 1,4 x 1,3 m

2)

2 unit bak 4,3 x 3,9 x 6,3 m

3)

1 unit bak penampungan oli bekas berdimensi 4,3 x 3,9 x 1,8 m

c. Kepmen LH No.506 Tahun 2007 mengenai Izin Pemanfaatan Limbah

Berbahaya dan Beracun (Bottom and Fly Ash)\

Sesuai dengan Kepmen ini PTHI Cilacap telah diberikan otoritas

untuk menggunakan limbah tertentu (debu pembakaran batu bara dan

limbah

dari

industri

produksinya.

lain)

sebagai

bahan

tambahan

dalam

proses

Limbah yang telah diberi izin untuk dimanfaatkan oleh PTHI

Cilacap adalah fly ash, wet fly ash, ash valley, bottom ash, debu EAF

(Electrical Arc Furnace), iron scale, iron concentrate, iron slag, steel

slag, copper slag, oil slop, sludge IPAL (industri kertas dan kawasan

industryter

34

BAB III

Perawatan Dan perbaikan Belt Conveyor

3.1

Pendahuluan

Belt conveyor dapat digunakan untuk memindahkan muatan satuan (unit load)

maupun muatan curah (bulk load) sepanjang garis lurus atau sudut inkliinasi terbatas. Belt

conveyor secara intensif digunakan di setiap cabang industri. Pada industri pupuk digunakan

untuk membawa dan mendistribusikan pupuk.

Dipilihnya belt conveyor sistem sebagai sarana transportasi pupuk adalah karena

tuntutan untuk meningkatkan produktivitas, menurunkan biaya produksi dan juga kebutuhan

optimasi dalam rangka mempertinggi efisiensi kerja. Keuntungan penggunaan belt conveyor

adalah :

1. Menurunkan biaya produksi saat memindahkan pupuk

2. Memberikan pemindahan yang terus menerus dalam jumlah yang tetap

3. Membutuhkan sedikit ruang

4. Menurunkan tingkat kecelakaan saat pekerja memindahkan pupuk

5. Menurunkan polusi udara

Belt conveyor mempunyai kapasitas yang besar (500 sampai 5000 m3/ jam atau

lebih), kemampuan untuk memindahkan bahan dalam jarak (500 sampai 1000 meter atau

lebih). Pemeliharaan dan operasi yang mudah telah menjadikan belt conveyor secara luas

digunakan sebagai mesin pemindah bahan.

Berdasarkan perencanaan, belt conveyor dapat dibedakan sebagai

1. Stationary conveyor

2. Portable (mobile) conveyor

Berdasarkan lintasan gerak belt conveyor diklassifikasikan sebagai :

35

1. Horizontal

2. Inklinasi dan

3. Kombinasi horizontal-inklinasi

2. Inklinasi dan 3. Kombinasi horizontal-inklinasi Gambar 3.1 Lintasan belt Pada umumnya belt conveyor terdiri

Gambar 3.1 Lintasan belt

Pada umumnya belt conveyor terdiri dari : kerangka (frame), dua buah pulley yaitu

pulley penggerak (driving pulley) pada head end dan pulley pembalik ( take-up pulley) pada

tail end, sabuk lingkar (endless belt), Idler roller atas dan Idler roller bawah, unit penggerak,

cawan pengisi (feed hopper) yang dipasang di atas conveyor, saluran buang (discharge

spout), dan pembersih belt (belt cleaner) yang biasanya dipasang dekat head pulley.

36

36 Keterangan : 1. Frame 6. Lower pulley 2. Drive pulley 7. Drive unit 3. Take

Keterangan :

1. Frame

6. Lower pulley

2. Drive pulley

7. Drive unit

3. Take up pulley

8. Feed hopper

4. Endless belt

9. Discharge

5. Upper pulley

10. Cleaner

Gambar 3.2 Konstruksi belt conveyor

3.2 Komponen utama Belt Conveyor

Adapun komponen-komponen utama dari belt conveyor dapat dilihat pada gambar berikut :

37

37 Gambar 3.3 Komponen belt conveyor 1. Belt Belt merupakan pembawa material dari satu titik ke

Gambar 3.3 Komponen belt conveyor

1. Belt

Belt merupakan pembawa material dari satu titik ke titik lain dan meneruskan gaya

putar. Belt ini diletakkan di atas roller sehingga dapat bergerak dengan teratur.

2. Head pulley

Head pulley pada belt conveyor dapat juga dikatakan sebagai pulley penggerak dari

sistem BC. Pada head pulley dipasang sistem penggerak untuk menggerakkan belt conveyor.

Head pulley juga dapat dikatakan sebagai titik dimana material akan dicurahkan untuk

dikirim ke BC selanjutnya.

38

38 Gambar 3.4 Head Pulley 3. Tail pulley Merupakan pulley yang terletak pada daerah belakang dari

Gambar 3.4 Head Pulley

3. Tail pulley

Merupakan pulley yang terletak pada daerah belakang dari sistem conveyor. Dimana

pulley ini merupakan tempat jatuhnya material untuk dibawa ke bagian depan dari conveyor.

Konstruksinya sama dengan head pulley, namun tidak dilengkapi penggerak.

4. Carrying roller

Merupakan roller pembawa karena terletak dibawah belt yang membawa muatan.

Berfungsi sebagai penumpu belt dan sebagai landasan luncur yang dipasang dengan jarak

tertentu agar belt tidak meluncur ke bawah.

Menurut fungsinya dapat dibedakan menjadi :

1. Pendukung atasdinamakan Cariier Roller,biasany dari 3 buah roller

2. Pendukung bawah dinamakan return Roer, terdiri dari 1 buah roller

39

39 Gambar 3.5 carrying roller 5. Return roller Merupakan roller balik atau roller penunjang belt pada

Gambar 3.5 carrying roller

5. Return roller

Merupakan roller balik atau roller penunjang belt pada daerah yang tidak bermuatan

yang dipasang pada bagian bawah fram.

yang tidak bermuatan yang dipasang pada bagian bawah fram. Gambar 3.6 Return roller 6. Drive (penggerak)

Gambar 3.6 Return roller

6. Drive (penggerak)

Berfungsi untuk menggerakkan pulley pada BC. Sistem penggerak ini biasanya terdiri

dari motor listik , transmisi, dan rem.

7. Take-up pulley

Perangkat yang mengencangkan belt yang kendur dan memberikan tegangan pada belt

pada start awal.

40

8. Snub pulley

Berfungsi untuk menjaga keseimbangan tegangan belt pada drive pulley.

9. Chute/ hopper

Merupakan corong yang terletak diujung depan dan belakang conveyor belt untuk

memuat dan mencurahkan material.

10. Skirt rubber

Berfungsi sebagai penyekat agar material tidak tertumpah keluar dari ban berjalan

pada saat muat.

N=

tidak tertumpah keluar dari ban berjalan pada saat muat. N= Gambar 3.7 Skirt Rubber 11. Chip
tidak tertumpah keluar dari ban berjalan pada saat muat. N= Gambar 3.7 Skirt Rubber 11. Chip

Gambar 3.7 Skirt Rubber

11. Chip cleaner

Berfungsi sebagai pembersih material yang terbawa oleh belt conveyor setelah dicurahkan.

material yang terbawa oleh belt conveyor setelah dicurahkan. Gambar 3.8 chip cleaner 3.3 Sistem Kerja Belt

Gambar 3.8 chip cleaner

3.3 Sistem Kerja Belt Conveyor

Bahan dihisap oleh unloader dari kapal dan bahan akan jatuh ke belt conveyor,

kemudian belt conveyor akan mengirim bahan ke stasiun penampungan. Belt diletakkan di

41

atas pulley yang digerakkan oleh motor penggerak. Pulley bergerak akibat adanya putaran

yang ditransmisikan oleh motor penggerak.

adanya putaran yang ditransmisikan oleh motor penggerak. Gambar 3.9 Sistem kerja belt conveyor Belt conveyor

Gambar 3.9 Sistem kerja belt conveyor

Belt conveyor mentransport material yang ada di atas belt, dimana umpan atau inlet

pada sisi tail dengan menggunakan chute dan setelah sampai di head material ditumpahkan

akibat belt berbalik arah.

4.3.1

Belt

Belt merupakan pembawa material dari satu titik ke titik lain dan meneruskan gaya

putar. Belt ini diletakkan di atas roller sehingga dapat bergerak dengan teratur.

Belt dapat dibuat dari :

1. Textile terdiri dari : camel hair, cotton (woven atau sewed), duck cotton, dan

rubberized textile belt

2. strip baja, dan atau

42

Kekuatan belt conveyor bukan dilihat berdasarkan ketebalannya melainkan pada

jumlah lapisan penguat (ply) dan tegangan tarik per ply (tensile strenght).

Ditinjau dari struktur lapisan penguatnya, belt conveyor dibagi dalam dua jenis yaitu :

1. Fabric belt

Belt dengan penguat jenis fabric adalah belt dengan lapisan penguat (ply) yang terbuat

dari serat tekstil (serat buatan). Lapisan penguat tersebut biasanya disebut Carcass. Carcass

terbagi dalam beberapa jenis, antara lain :

a. Nylon atau polymide (NN)

b. Polyester, serat sintetis terilene, trevira dan diolen

c. Cotton

d. Vinylon fabric (VN)

e. Polyvinil (KN)

f. Aramide fiber

Fabric merupakan rajutan yang terdiri dari serat memanjang (WRAP) dan serat

pengisi dengan arah melintang (WEFT). Jenis rajutan yang sering dipakai pada fabric belt

adalah plain weave.

pengisi dengan arah melintang (WEFT). Jenis rajutan yang sering dipakai pada fabric belt adalah plain weave.

WEFT dan WRAP

43

43 Gambar 3.10 Struktur fabric belt 2. Steel cord Steel cord adalah belt yang lapisan penguatnya

Gambar 3.10 Struktur fabric belt

2. Steel cord

Steel

cord

adalah

belt

yang

lapisan

penguatnya

terbuat

dari

serat

baja

yang

galvanizing. Tujuan galvanizing adalah untuk mencegah terjadinya karat pada kawat akibat

adanya rembesan air atau udara. Steel cord belt biasanya digunakan pada conveyor yang

membawa beban berat. Pada belt jenis steel cord ini tidak terdapat lapisan penguat (ply).

Yang ada hanya batangan kawat sling yang dirajut sedemikian rupa sehingga membentuk

suatu anyaman kawat baja. Berikut dapat dilihat konstruksi dari steel cord belt pada gambar

berikut di bawah ini

dari steel cord belt pada gambar berikut di bawah ini Gambar 3.11 Struktur steel cord belt

Gambar 3.11 Struktur steel cord belt

Belt conveyor terdiri dari beberapa bagian penting antara lain:

44

1. Cover rubber \

Cover rubber adalah lapisan karet sintetis yang mempunyai elastisitan tinggi dan

tahan gesek. Cover rubber berfungsi untuk melindungi lapisan penguat dari curahan, gesekan

dan benturan material pada saat loading (pemuatan) agar ply tidak sobek atau rusak. Alasan

penggunaan karet adalah untuk melindungi ply karena karet memiliki elastisitas tinggi dan

tahan gesek, namun karet tidak memiliki tegangan tarik yang baik. Sedangkan lapisan ply

tidak tahan terhadap gesekan dan benturan namun memiliki tegangan tarik yang baik.

Penentuan pemakaian jenis Grade Cover Rubber adalah berdasarkan kondisi operasi dan jenis

material yang dibawa. Selain itu ada jenis cover rubber sintetis, antara lain :

1. SBR : Styrene Butadiene Rubber, untuk membawa material panas mulai dari

temperatur 100 oC

2.

ABR

:

Acrylonitrile

Butadiene

Rubber,

untuk

membawa

material

yang

mengandung minyak dan bahan kimia (oil resistant)

3. NEOPRENE : dipakai pada tambang bawah tanah (flame/Fire Resistant conveyor

Belting)

Cover rubber terdiri atas dua bagian, yaitu :

a. Top cover

Top cover adalah lapisan yang bersentuhan langsung dengan material. Top cover

biasanya disebut Carry cover (lapisan pembawa). Top cover selalu menghadap keatas dan

lebih tebal daripada bottom cover. Pada operasi normal, top cover akan lebih cepat rusak

daripada bottom cover karena top cover langsung mengalami benturan dan gesekan pada saat

material dimuat. Tebal dari top cover adalah 1 mm s/d 8 mm untuk Fabric belt dan 5 mm s/d

18 mm untuk Steel cord belt.

b. Bottom Cover

45

Bottom cover adalah karet lapisan bawah yang berhadapan langsung dengan pully dan

roller pembalik (Return Roller). Bottom cover seringjuga disebut dengan pully cover. Pada

umumnya

bottom

cover

lebih

tipis

dari

pada

top

cover,

karena

bottom

cover

tidak

bersentuhan langsung dengan material. Tebal Bottom cover adalah 1 mm s/d 4 mm untuk

fabric belt dan 2 mm s/d 8 mm untuk steel cord belt.

2. Tie rubber

Tie Rubber adalah lapisan karet diantara ply. Tie rubber juga sering disebut Tie gum

atau Skim rubber. Tie rubber berfungsi untuk melekatkan ply satu dengan yang lainnya pada

fabric belt, dan melekatkan sling baja dengan cover rubber pada steel cord belt.

1. Tebal tie rubber adalah :

2. Untuk fabric belt 0.5 mm s/d 1 mm dan

3. Untuk steel cord belt 2 mm.

4. Tie rubber tidak tahan benturan dan gesekan. Spesifikasi tie rubber yang umum

digunakan untuk belt conveyor adalah sebagai berikut:

5. Tensile strange : 250 Kg/m2

6. Elongation : 500%

7. Abrasion : 110 m3

3. Reinforcement lapisan penguat (ply)

Reinforcement adalah lapisan penguat untuk belt conveyor itu sendiri. Kekuatan atau

tegangan pada belt tergantung lapisan penguat yang dipakai. Pada umumnya lapisan penguat

terbuat dari serat (carccas) dan sling baja (steel cord). Lapisan penguat untuk fabric belt

terdiri dari beberapa macam jenis, yaitu :

1. Nylon atau polyamide (NN)

2. Polyester, serat sintetis terilene, trevira dan diolen

46

4. Vinylon fabric (VN)

5. Polyvinil (KN)

6. Aramide fiber

Sedangkan untuk steel cord belt lapisan penguatnya hanya terdiri dari satu jenis saja,

yaitu kawat sling baja. Disamping jenis lapisan penguat yang telah disebut di atas, terdapat

juga konstruksi khusus yang dirancang untuk melindungi lapisan penguat dari sobek yang

memanjang. Lapisan ini disebut dengan Rip Guard.

Ada beberapa konstruksi dari Rip Guard, yaitu :

1. Belt fabric dengan carcass di dalam top cover yang disusun melintang

2. Nylon cord yang disusun melintang pada top cover

3. Nylon cord yang disusun melintang pada top dan bottom cover

Nylon cord yang disusun melintang pada top dan bottom cover Gambar 3.12 Lapisan belt 3.4 Kekuatan

Gambar 3.12 Lapisan belt

3.4 Kekuatan Belt

3.4.1 Kekuatan Tarik Belt (Tensile strength)

Tensile

strength

adalah

kekuatan

tegangan

tarik

suatu

belt

conveyor

yang

dinyatakan dalam Kg/cm/ply. Kekuatan tarik suatu belt tergantung dari jumlah ply yang

di gunakan. Contoh pembacaan tegangan tarik pada sebuah belt :

47

NN-50 = kekuatan per ply jenis Nylon tersebut adalah 50Kg/cm/ply. Total kekuatan

tarik pada belt tersebut adalah 50Kg/cm/ply x 4 ply = 200Kg/cm

2. EP-500 / 4 (fabric)

Adalah kekuatan tarik total per ply jenis polyester / polyamide. Sehinga kekuatan

tarik per ply adalah : 500Kg/cm : 4 ply = 125 Kg/cm/ply

3. 4-EP 125

Angka 4 menunjukan jumlah ply, sedangkan angka 125 menyatakan tegangan tarik

dalam Kg/cm/ply. Jadi total dari tegangan tarik adalah 4 x 125 = 500 Kg/cm.

4. Selain itu untuk steel cord contoh pembacaan tegangan tarik adalah ST-2500. Yang

artinya Tensile strength = 2500 Kg/cm. pada steel cord tidak terdapat ply, yang

dipakai adalah unit sling baja.

Besarnya tarikan belt pada tiap titik dapat dihitung dengan rumus (Zainuri, 2006):

1. Titik 1 (S1) = belt meninggalkan pulley pengerak

2. Titik 2 (S2) = S1 + W1,2 (belt mendekati tail pulley)

3. Titik 3 (S3) = 1.07 × S2 (belt meninggalkan tail pulley)

4. Titik 4 (S4) = S3 + W3,4 + Wpl (belt mendekati pulley pengerak)

Dari hukum Euler, belt tidak akan slip pada pulley jika :

1. St ≤ Ssl eμα

2. St adalah tegangan keras

3. Ssl adalah tegangan kendor

4. e adalah bilangan logaritma dasar, e ≈ 2.718

5. α adalah sudut sentuh belt pada pulley = 210 o, radian ( 1rad ≈ 57.3 o)

3.4.2 Pembacaan dan penulisan spesifikasi fabric belt

Pembacaan dan penulisan spesifikasi belt conveyor harus diusahakan sejelas

mungkin. Karena pembacaan yang tidak jelas akan mengakibatkan kesalahan dalam

48

pemakaian jenis belt conveyor dan akan memberikan data yang tidak akurat, baik

untuk

penggantian

belt

barumaupun

penyambungan.

spesifikasi belt conveyor yang benar adalah :

1. Pembacaan spesifikasi fabric belt

Pembacaan

dan

penulisan

Spesifikasi Fabric Belt 200 m RMA-2 NN-150 900 x 4P x 6 x 2 mm, Pembacaan :

1. 200 m : panjang belt

2. RMA-2 : Grade cover rubber

3. NN-150 : Tensile Strength 150 Kg/cm/ply

4. 900 : Lebar belt

5. 4P : jumlah ply = 4

6. 6 mm : tebal top cover = 6

7. mm : tebal bottom cover = 2

8. Pembacaan spesifikasi steel cord

Spesifikasi steel cord 1000 m DIN-M ST-3150 1600 x DIA. 7 x 101 x 12 x 6 mm

Pembacaan

1. 1000 m : Penjang belt = 1000 m

2. DIN-M : Grade cover Rubber

3. ST-3150 : Tensile strength = 3150 Kg/cm

4. 1600 : Lebar belt = 1600 mm

5. DIA. 7 : Diameter kawat sling = 7 mm/Pcs

6. 101 Pcs : Terdapat 101 buah sling berjejer selebar belt disusun dengan jarak

titk sumbu (pitch) yang sama

7. 12 mm : tebal top cover = 12 mm

8. 6 mm : tebal bottom cover = 6 mm

49

Pemikiran awam untuk menghadapi masalah belt yang sering putus adalah

dengan menambah jumlah ply, tanpa mempertimbangkan stress yang akan terjadi

pada saat belt berjalan melewati pully (pada titik momen) yang akan berakibat fatal.

Disamping factor stress, belt akan berjalan mengambang tidak duduk dengan baik

diatas

roller.

Karena

dengan

penambahan

jumlah

ply,

maka

akan

menambah

kekakuan belt secara keseluruhan. Jumlah minimum pully ditentukan oleh berbagai

faktor, yaitu:

1. Kapasitas

2. Lebar belt conveyor

3. Jenis carccas

4. Diameter pully

Jumlah ply yang banyak mengharuskan pemakaian diameter pully yang besar

untuk menjaga fleksibilitas belt conveyor. Hubungan antara jenis carccas dan jumlah

ply dengan diameter pulley yang di sarankan dapat dilihat di bawah ini

diameter pulley yang di sarankan dapat dilihat di bawah ini Gambar 3.13 Hubungan diameter pulley dengan

Gambar 3.13 Hubungan diameter pulley dengan jumlah ply

3.4.1 Nilai mulur (Elongation)

Belt conveyor akan mengalami mulur sewaktu beroperasi sebagai akibat dari

sifat serat dan stress yang dialaminya. Mulur adalah pertambahan panjang belt dari

50

panjang semula. Dalam pemilihan jenis reinforcement, yang harus di perhatikan

adalah jumlah kemuluran yang akan terjadi pada waktu belt beroperasi beberapa saat.

Nilai mulur dapat di pakai sebagai pedoman dalam menentukan posisi take-up

(counter weight), agar posisi counter weight tidak menyentuh tanah dalam waktu

singkat. Pemilihan nilai mulur yang tidak tepat dapat menyebabkan penyambungan

berulang-ulang karena counter weight menyentuh tanah, sehingga menyebabkan

jadwal produksi menjadi terganggu. Besar nilai mulur pada belt dapat dilihat pada

tabel berikut :

Distance

Elastic

Belt type

Take-Up (%)

c-c Elongation

 

Permanent

Steel cord (ST)

0.1 0.2

0.03 0.06

0.08 0.13

Nylon fabric (NN)

1.5 2.5

0.30 0.60

1.30 1.80

Vynylon fabric (VN)

0.7 1.1

0.20 0.30

0.50 0.80

Polyester fabric (EP)

1.0 1.5

0.20 0.50

0.50 1.00

Tabel 3.1 Perbandingan nilai mulur belt conveyor

Pada tabel diatas diperlihatkan perbandingan nilai mulur dari berbagai jenis

reinforcement yang umumnya dipakai dalam belt conveyor. Nilai mulur dinyatakan

dalam % dari jarak center to center conveyor (pully depan ke pully belakang).

Nilai mulur elastic adalah nilai mulur yang akan terjadi pada saat belt start atau

beroperasi. Disamping itu juga belt mengalami mulur permanent. Perhitungan mulur

dari sebuah belt conveyor dapat dihitung sebagai berikut:

Nilai mulur belt = L(c-to-c) x M(max)/100

51

L = panjang belt

M = nilai mulur permanen

3.5

Manajemen Pemeliharaan

3.5.1

Manajemen

Kata manajemen berasal dari bahasa prancis kuno ménagement, yang memiliki arti

seni melaksanakan dan mengatur (Wikipedia, 2009). Menurut Robbins, et all, (2007)

mendefenisikan

manajemen

sebagai

sebuah

proses

perencanaan,

pengorganisasian,

pengkordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara

efektief dan efisien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanbataan,

sementara efisien berartbahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorginisir, dan

sesuai dengan jadwal.

4.5.1.1 Defenisi manajemen

Manajemen

berasal

dari

kata

kerja To

Manage

berarti

control.

Dalam bahasa

Indonesia dapat diartikan mengendalikan, menangani atau mengelola. SelanjutnyaN kata

benda manajemen atau management dapat mempunyai berbagai arti. (Herujito, Y.M, 2001).

Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary

Parker follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjan

melalui orang lain. Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen

adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan

diawasi. Manajemen menurut Pamela, S. Lewis, et all, (2004) dalam bukunya “management:

challenges For tomorrow’s Leaders”, yaitu: “management is the process of administering and

coordinating resources effectively and efficiently in an effort to achieve the goals of

organitation ”

52

Manajemen merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu perusahaan

dalam mengatur sumber daya-sumber daya yang dimilikinya agar dapat dikelola secara

efektif dan efisien untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut.

3.5.1.2 Fungsi manajemen

Teori manajemen menyatakan bahwa manajemen memiliki beberapa fungsi. Fungsi

dalam hal ini adalah sejumlah kegiatan yang meliputi berbagai jenis pekerjaan yang dapat

digolongkan

dalam

satu

kelompok

sehingga

membentuk

suatu

kesatuan

administratif

(Herujito,

Y.M,

2001).Untuk

mencapai

tujuannya

organisasi

memerlukan

dukungan

manajemen

dengan

fungsinya

sesuai

kebutuhan.

Kegiatan

fungsi-fungsi

manajemen

diperjelas secara ringkas, yaitu (Amsyah, Zulkifli, 2005):

1. Perencanaan (planning) adalah fungsi manajemen yang berkaitan dengan penyusunan

tujuan dan menjabarkannya dalam bentuk perencanaanuntuk mencapai tujuan tersebut,

2. Pengorganisasian (organizing) adalah yang berkaitan dengan pengelompokan

personel

dan tugasnya untuk menjalankan pekerjaan sesuai tugas dan misinya,

3. Pengaturan personel (staffing) adalah yang berkaitan dengan bimbingan dan pengaturan

kerja personel. Unit masing-masing manajemen sampai pada kegiatan, seperti seleksi,

penempatan, pelatihan, pengembangan dan kompensasi, sebagai bagian dari bantuan unit

pada unit personalia organisasi dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM),

4. Pengarahan (directing) adalah yang berkaitan dengan kegiatan melakukan pengarahan-

pengarahan, tugas-tugas, dan konstruksi,

5. Pengawasan

(controlling)

kegiatan

yang

berkaitan

dengan

pemeriksaan

untuk

menentukan apakah pelaksanaannya sudah dikerjakan sesuai dengan perencanaan, sudah

sampai sejauh mana kemjuan yang dicapai, dan perencanaanyang belum mencapai

kemajuan, serta melakukan koreksi bagi pelaksanaan yang belum terselasaikan.

53

3.5.2 Pemeliharaan (maintenance)

3.5.2.1 Defenisi pemeliharaan

Pemeliharaan Mesin merupakan hal yang sering dipermasalahkan

antara Bagian Pemeliharaan dan Bagian Produksi. Karena Bagian Pemeliharaan dianggap

yang memboroskan biaya, sedang Bagian Produksi merasa yang merusakkan tetapi juga yang

membuat uang (Soemarno, Ardhi, 2008). Pada umumnya sebuah produk yang dihasilkan oleh

manusia, tidak ada yang tidak mungkin rusak, tetapi usia penggunaannya dapat diperpanjang

dengan melakukan perbaikan yang dikenal dengan pemeliharaan (Corder A, 1992). Oleh

karena itu, sangat dibutuhkan kegiatan pemeliharaan yang meliputi kegiatan pemeliharaan

dan perawatan mesin yang digunakan dalam proses produksi. Kata pemeliharaan diambil dari

bahasa yunani terein artinya merawat, menjaga, dan memelihara. Pemeliharaan adalah suatu

kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam, atau

memperbaikinya

sampai,

suatu

kondisi

yang

bisa

diterima.

(Corder

A, 1992). Untuk

Pengertian Pemeliharaan lebih jelas adalah tindakan merawat mesin atau peralatan pabrik

dengan memperbaharui umur masa pakai dan kegagalan/kerusakan mesin. (Setiawan, F.D,

2008).

Menurut

Heizer,

Jay

dan

Render,

Barry,

Management” pemeliharaan adalah:

(2001)

dalam

bukunya“operations

“all activities involved in keeping a system’s equipment in workingorder”

Segala aktivitas yang didalamnya adalah untuk menjaga sebuah sistemperalatan agar

pekerjaan dapat sesuai dengan pesanan.

Menurut Sehwarat, M.S dan Narang, J.S, (2001) dalam bukunya

“Production Management”,

54

pemeliharaan (maintenance) adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan secara berurutan

untuk menjaga atau memperbaiki fasilitas yang ada sehingga sesuai dengan standar (sesuai

dengan standar fungsional dan kualitas).

Menurut Assauri, Sofyan. (2004) pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara

atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian atau

penggantian yang diperlukan agar supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang

memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Sedangkan menurut Tampubolon, Manahan. P, (2004), Pemeliharaan merupakan

semua aktivitas termasuk menjaga peralatan dan mesin selalu dapat melaksanakan pesanan

pekerjaan. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pemeliharaan

dilakukan

untuk

merawat

ataupun

memperbaiki

peralatan

perusahaan

melaksanakan

produksi

dengan

efektif dan

efisien sesuai

dengan

pesanan

agar

dapat

yang telah

direncanakan atau ditentukan oleh perusahaan dengan hasil produksi yang berkualitas.

3.5.2.2 Tujuan pemeliharaan

Dengan adanya kegiatan pemeliharaan ini maka fasilitas atau peralatan perusahaan

dapat dipergunakan untuk kegiatan produksi sesuai dengan rencana, dan tidak mengalami

kerusakan

selama

fasilitas/peralatan

perusahaan

tersebut

dipergunakan

selama

proses

produksi. Oleh karena itu, Suatu kalimat yang perlu diketahui oleh orang pemeliharaan dan

bagian

lainnya

bagi

suatu

pabriadalah

pemeliharaan

perbaikan (repair) mahal.(Setiawan, F.D, 2008).

(maintenance)

murah

sedangkan

Menurut Daryus, Asyari, (2008) dalam bukunya manajemen pemeliharaan mesin

Tujuan pemeliharaan yang utama dapat didefenisikan sebagai berikut:

1. Untuk memperpanjang kegunaan asset,

2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi dan

mendapatkan laba investasi maksimum yang mungkin,

55

3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam

keadaan darurat setiap waktu,

4. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut.

Menurut Assauri, Sofyan, (2004) tujuan pemeliharaan yaitu:

1. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana produksi,

2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh

produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu,

3. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang di luar batas dan

menjaga modal yang di investasikan tersebut,