Anda di halaman 1dari 68

MAKALAH

Tentang :
MANAJEMEN PROTEKSI 20 kV
PT PLN (PERSERO) DISTRIBUSI BALI
Meningkatkan Keandalan Jaringan
Menawarkan kontinyuitas pasokan Tenaga Listrik

Disusun Oleh

GESMULYADI QADRI
8208451-Z

Diajukan dalam
DHARMA KARYA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TAHUN 2011

PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI BALI


Tahun 2011

1
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Salah satu tantangan utama Visi Distribusi 2012 adalah keandalan dan kualitas jaringan. Seiring
dengan hal tersebut pada tanggal 12 Desember 2008 PLN Distribusi Bali mendeklarasikan World
Class Services. Salah satu sasaran strategisnya adalah Peningkatan Mutu & Keandalan. Beberapa
Indikator Keandalan yang menjadi Parameter Kinerja WCS adalah Susut, SAIDI, SAIFI, Tegangan
Ujung di bawah Standar dan Kecepatan Pelayanan Teknik (Respon Time). Agar parameter kinerja
ini bisa tercapai maka perlu dilakukan langkah strategis yang memberikan kontribusi signifikan
terhadap perbaikan kinerja yaitu melalui program pembenahan sistem proteksi 20 kV Bali.
Pembenahan Sistem Proteksi 20 kV menjadi sangat penting setelah di tahun 2010, jajaran Direksi
PT PLN (Persero) mencanangkan Program Perang Padam 9.3.45 yaitu 9 kali padam dalam
setahun, 3 Jam pelanggan padam dalam setahun dan 45 menit respon time. Program Perang
Padam ini akan menjadi sangat sulit dicapai oleh PLN Distribusi Bali dalam waktu dekat jika
dilakukan dengan cara biasa mengingat gap antara target Perang Padam dengan realisasi kinerja
tahun sebelumnya yang sangat jauh. Karena itu program pembenahan proteksi harus terus
diimprovisasi sehingga diperoleh model manajemen yang ideal sebagai upaya pembenahan
proteksi secara menyeluruh dalam rangka percepatan pencapaian kinerja baik Program Perang
Padam, Visi Distribusi 2012 maupun Program WCS.
1.2

Tujuan

Tujuan dibangunnya Manajemen Proteksi 20 kV adalah terbentuknya sistem yang mampu:


a. Mengintegrasikan peran Area Jaringan, Area Pengatur Distribusi, Kantor Distribusi dan P3B
dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan sistem proteksi.
b. Mengoptimalkan kerja relay dan recloser jaringan distribusi 20 KV melalui pembenahan
sistem proteksi sesuai dengan Road Map PLN Distribusi Bali.
c. Membangun wadah Transfer Knowledge antar SDM Proteksi bagaimana merencanakan dan
menganalisa nilai seting proteksi menggunakan Simulator Koordinasi Proteksi.
d. Membangun Community of Practise (COP) Proteksi PLN Bali sebagai komunitas engineer
yang memiliki minat untuk terjun dalam dunia proteksi.
1.3

Permasalahan

PT PLN (Persero) adalah perusahaan yang menjual jasa pelayanan tenaga listrik. Kontinyuitas dan
kualitas pasokan tenaga listrik harus dijaga yang dikenal dengan kehandalan tenaga listrik. Untuk
menjamin kehandalan tenaga listrik, dibutuhkan asuransi kontinyuitas dan kualitas pasokan tenaga

2
listrik. Asuransi yang dimaksud ada pada kehandalan sistem proteksi jaringan tenaga listrik.
Dengan demikian jaringan tenaga listrik akan handal jika didukung oleh sistem proteksi yang
handal. Potret kinerja gangguan di sisi 20 kV di tahun 2007 menunjukkan :
1. Gangguan Incoming 20 kV yang diakibatkan oleh gangguan distribusi 20 kV masih tinggi
sehingga terjadi pemadaman yang sangat luas.
2. Gangguan Penyulang 20 kV yang diakibatkan oleh gangguan di ujung jaringan masih tinggi
sehingga terjadi pemadaman yang cukup luas
3. Gangguan Penyulang 20 kV maupun incoming 20 kV karena penyebab yang sama berulang
Agar potret di atas tidak berulang, maka perlu dilakukan :
1. Evaluasi kinerja koordinasi antar peralatan proteksi
2. Reseting peralatan proteksi dari Incoming 20 kV s/d recloser di ujung jaringan Distribusi 20 kV.
3. Melakukan Monitoring dan Evaluasi kinerja Peralatan proteksi agar selalu up to date
Untuk melaksanakan ketiga program proteksi ini bukanlah hal yang mudah. Banyak kendala yang
dihadapi dari berbagai sisi yaitu :
1. Data
-

Loss data

Data tidak terupdate

2. Kondisi Asset
-

Umur peralatan proteksi yang sudah tua

Teknologi peralatan proteksi yang bervariasi

3. Information Technology (IT)


-

Belum ada aplikasi bantu menghitung koordinasi proteksi

Belum ada aplikasi bantu analisa dan evaluasi tingkat keandalan proteksi

4. SDM
-

Regenerasi SDM belum optimal

Ketergantungan kepada SDM sangat tinggi sehingga jika SDM terkait tidak ada di
tempat, maka program proteksi sulit berjalan

5. Komunikasi dan Koordinasi


-

Sulit dan ruwetnya koordinasi antar internal unit PLN Distribusi Bali (Kantor Distribusi,
Area, Rayon dan APD)

Sulit dan ruwetnya koordinasi dengan eksternal unit (PLN Pusat dan P3B)

6. Prosedur implementasi perubahan seting proteksi di lapangan


-

Prosedur standard pelaksanaan yang kurang jelas

Belum ada aturan yang mengamankan pegawai saat eksekusi

3
7. Ancaman Keandalan Jaringan Tenaga Listrik
-

Tidak ada Sistem Monitoring dan Evaluasi tingkat kegagalan peralatan proteksi

Tidak ada Team Task Force yang terorganisir

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Pembangunan Manajemen Proteksi 20 kV

Berdasarkan kondisi yang ada di lapangan, dijumpai banyak dan kompleknya kendala yang
dihadapi. Oleh karena itu pembenahan sistem proteksi dilakukan secara bertahap. Untuk
memudahkan implementasi, maka dibangun roadmap proteksi 2008 2012 beserta indikatornya
yaitu sebagai berikut :

Adapun indikator pencapaian roadmap proteksi 2008 2012 adalah sebagai berikut :

Untuk mendukung pelaksanaan roadmap, maka dibangunlah Manajemen Proteksi 20 kV.


Manajemen ini dirintis mulai tahun 2007 dan berjalan hingga tahun 2011. Manajemen Proteksi 20
kV terdiri dari 2 modul yaitu :
1. Modul Manajemen Prosedur
Yaitu serangkaian SOP yang terintegrasi membentuk Proses Bisnis Sistem Proteksi 20 kV. SOP
ini resmi diterbitkan berdasarkan Keputusan General Manager PT PLN (Persero) Distribusi bali
Nomor 063.K/GM/2009 dan diperbarui oleh Keputusan General General Manager PT PLN

4
(Persero) Distribusi bali Nomor 048.K/GM/2010 sehingga eksistensi Manajemen Proteksi 20 kV
bisa terjaga. Adapun SOP yang dimaksud meliputi :
1.1

SOP Manajemen SDM dan Manajemen SOP Proteksi

1.2

SOP Pelaksanaan Seting Peralatan Proteksi (Usulan Kantor Distribusi)

1.3

SOP Pelaksanaan Seting Peralatan Proteksi (Usulan Area)

1.4

SOP Pelaksanaan Seting Peralatan Proteksi (Area Pengatur Distribusi)

1.5

SOP Pelaksanaan Pemeliharaan Seting Peralatan Proteksi

1.6

SOP Pelaksanaan Pemeliharaan Data Aset Proteksi

2. Modul Simulator Koordinasi Proteksi


Yaitu aplikasi bantu yang dibangun untuk menganalisa kebutuhan kinerja peralatan proteksi
meliputi :
2.1

Analisa kebutuhan dan keandalan seting proteksi

2.2

Perencanaan posisioning peralatan proteksi

2.3

Tracing titik gangguan di Jaringan Distribusi 20 kV

Untuk melihat keterkaitan Manajemen Proteksi 20 kV terhadap dukungan pencapaian Visi


Distribusi 2012 dan program Perang Padam adalah sebagai berikut :

Dari gambaran Proses Bisnis di atas dapat disampaikan secara ringkas :


a. Output dari Manajemen Prosedural Proteksi berupa Form Proteksi 1-12. Form ini diupload
di intranet sebagai database terpusat sehingga data selalu terupdate dan bersambung.
b. Output Manajemen Proteksi sebagai sumber informasi untuk user baik internal maupun
eksternal PLN Distribusi Bali

5
c. Terbentuknya

Wadah

Sharing

Knowledge

yang

sekaligus

sebagi

wadah

untuk

meminimalisasi ketergantungan SDM


d. Pola koordinasi dan komunikasi antar unit jelas dan ringkas
2.2 Roll Out Pemanfaatan Produk Manajemen Proteksi 20 kV
Produk Manajemen Proteksi 20 kV telah di roll out ke :
-

Seluruh unit PLN Distribusi Bali (Contoh dokumen terkait rangkaian implementasi Manajemen
Proteksi 20 kV terlampir).

PLN Distribusi Jakarta Raya & Tangerang (melalui RAKORDIS Jawa Bali 2010 di Denpasar)

PLN Distribusi Jawa Tengah (melalui Tim SKP2Q)

PLN Distribusi Jawa Barat (melalui RAKORDIS Jawa Bali 2010 di Denpasar)

Pemanfaatan Produk Manajemen Proteksi 20 kV dalam kasus perbaikan proteksi daerah vital:
-

Pembenahan proteksi Bandara Soekarno Hatta Jakarta semester II tahun 2010

Pembenahan proteksi Bandara Ngurah Rai Denpasar semester I tahun 2011

Produk Unggulan PT PLN (Persero) Distribusi Bali 2010

2.3

Kontribusi terhadap perbaikan kinerja perusahaan

Untuk mengukur tingkat keberhasilan implementasi Manajemen Proteksi 20 kV maka kami


tampilkan trend terhadap perbaikan kinerja PT PLN (Persero) Distribusi Bali sebagai berikut :

BAB III PENUTUP


Sebagai kesimpulan akhir, bahwa dengan diterapkannya Manajemen Proteksi 20 kV di PT PLN
(Persero) Distribusi Bali pada khususnya memberikan :
1. Dampak terhadap percepatan perbaikan kinerja perusahaan
2. Mendukung pencapaian Visi Distribusi 2012 dan program Perang Padam 9.3.45

Manajemen Proteksi Distribusi Bali


Unit Pelaksana

Kantor Distribusi

APD

SRB

Start

Laporan
Gangguan
(Lampiran A)

Mal Function
Relay Proteksi

Tidak

Updating Data
Jardis

Upload Data ke
Intranet

Ya

Analisa Koordinasi
Sistem Proteksi Eksisting
menggunakan Simulator
Koordinasi Sistem
Proteksi (Lampiran C)

Mengajukan
permintaan
Reseting
(Lampiran B)

Melakukan tinjauan
secara visual,
pengukuran dan test
inject

Surat Pemberitahuan
ketidak sesuaian kerja
incoming-penyulang
(Lampiran I)

Pemeliharaan
Ya

Analisa penyebab
selain selektifitas
kerja antar relay

Koordinatif

Tidak

Menentukan nilai
seting baru dengan
menggunakan
Simulator Koordinasi
Sistem Proteksi
(Lampiran D)

Membuat kesepakatan
nilai seting baru antara
PLN Dist Bali, APD dan
SRB (Lampiran E)
Pelaksanaan
Reseting
(Lampiran J)

Pelaksanaan
Reseting

Berita Acara
Pelaksanaan reseting
sistem proteksi
(Lampiran F)
upload ke intranet

Evaluasi selektifitas kerja relay


dengan menggunakan FMKR
(Form Monitoring Kerja Relay)
Lampiran G

Analisa Evaluasi
kerja relay proteksi

Laporan Analisa dan


Evaluasi Kinerja Relay
Proteksi

Laporan Analisa dan


Evaluasi Kinerja Relay
Proteksi (Lampiran H)

End

Pelaksanaan
Reseting

LAMPIRAN
MANAJEMEN PROTEKSI
PLN DISTRIBUSI BALI
LAMPIRAN A : LAPORAN GANGGUAN WEB APD BALI DAN FORM DATA UPDATE
JARDIS
LAMPIRAN B : PERMOHONAN RESETING SISTEM PROTEKSI DARI UNIT
PELAKSANA (VIA EMAIL)
LAMPIRAN C : ANALISA KOORDINASI SISTEM PROTEKSI EKSISTING DENGAN
SIMULATOR KOORDINASI SISTEM PROTEKSI
LAMPIRAN D : ANALISA NILAI RESETING BARU DENGAN SIMULATOR
KOORDINASI SISTEM PROTEKSI
LAMPIRAN E : NOTULEN RAPAT BERSAMA & SURAT JAWABAN KE SRB
LAMPIRAN F : BERITA ACARA PELAKSANAAN RESETING
LAMPIRAN G : FORMULIR MONITORING KERJA RELAY (FMKR)
LAMPIRAN H : LAPORAN ANALISA DAN EVALUASI KINERJA RELAY PROTEKSI
LAMPIRAN I : SURAT PEMBERITAHUAN KETIDAKSESUAIAN KERJA
INCOMING-PENYULANG DARI P3B RJTB
LAMPIRAN J : DOKUMENTASI PELAKSANAAN RESETING

LAMPIRAN A
LAPORAN GANGGUAN
WEB APD BALI DAN FORM DATA
UPDATE JARDIS

Report Gangguan Distribusi Bali (Web APD Bali)


Tanggal 1 Januari 2009
No
1

Gardu/Penyulang

GI Pemaron/Celukan Bawang

Indikasi

Arus
GGN

TGL TRIP

EF

25

1/1/2009 0:01

TGL
REC

TGL BUKA

TGL TUTUP
1/1/2009 0:02

2
3
4

GI Pemaron/Celukan Bawang
GI Pemaron/Pupuan
GI Amlapura/Duda

EF
EF
EF

25
61
68

1/1/2009 0:02
1/1/2009 0:01
1/1/2009 0:53

1/1/2009 0:24
1/1/2009 0:03
1/1/2009 0:54

5
6

GI Pemaron/Celukan Bawang
GI Pemaron/Pupuan

EF
EF

0
45

1/1/2009 1:51
1/1/2009 1:51

1/1/2009 4:20
1/1/2009 1:52

7
8

GI Pemaron/Celukan Bawang
GI Payangan/4_Campuhan

GI Pemaron/Celukan Bawang

EF
OC/M

10 GI Pemaron/Lovina

11 GI Amlapura/Candra Buana
12 GI Amlapura/Duda
Average
Total

OC
OC/M

0
122

TGL
MANUVER

1/1/2009 4:20
1/1/2009 8:33

1/1/2009 1:52

R/M

LAMA
PADAM

0:01:00

Arus
T1

Arus
T2
0

KWH
LOSES
0

Kel.Kode
GGN

KET

Petugas

12.27 SKTM/51

Dicoba tutup gagal

Imran
Imran
Imran
Imran

R
R
R

0:22:00
0:02:00
0:01:00

0
26
68

0
48
68

269.9 SKTM/51
59.87 SUTM/49
33.37 SUTM/49

Lokalisir LBS_Pole I coba


tutup aman
Dicoba tutup aman
Dicoba tutup aman

R
R

0:01:00
0:01:00

0
44

0
44

0 SKTM/51
22.08 SUTM/49

Dicoba tutup gagal


Dicoba tutup Aman

Imran
Imran

0 SKTM/51
119.74 SUTM/41a

Lokalisir sampai LBS Pole


I, dicoba masuk aman.
Gangguan MVTIC tembus
dpn Htl. Taman Sari.
Dicoba tutup aman.

Imran
Sujana

DC test

Arya

Penjamperan di BL 69
Dicoba tutup aman,trip
saat memasukan CO
Jagat nata.
Dicoba masuk aman.

Arya

1/1/2009 4:23
1/1/2009 8:35

R
R

0:03:00
0:02:00

0
16

0
16

1/1/2009 10:23

1/1/2009 14:12

RR

3:49:00

Pemadaman
0 Terencana/92

1/1/2009 14:17

1/1/2009 14:48

RR

0:31:00

Pemadaman
0 Terencana/98

1/1/2009 19:02
1/1/2009 23:03

R
R

0:01:00
0:01:00

19
67

19
65

19
67
36
36

1/1/2009 19:01
1/1/2009 23:02

0:24:35
4:55:00

20
20

21.67
21.67

9.32 SUTM/41d
32.88 SUTM/41d
46.62
559.43

Midana
Anom

FORM UPDATE JARINGAN DISTRIBUSI


PT PLN (Persero) AJ BALI UTARA
TAHUN 2009

Nama pelanggan
1
1 P Yeh Taluh

Nama (lokasi)
recloser/relay

Daya kontrak Daya Trafo


(kVA)
(kVA)

PT Paramasidhi
PDAM Buleleng

Identitas Seting Relay

Identitas Recloser/Relay

Identitas Pelanggan
No Nama Penyulang

5
Rec Paramasidhi
Rec Polsektif
Rec Tie Penarukan

345
555

400
630

Respon Time
CT (P/S)
(ms)

merk/type

No seri

6
Entec
Entec
Cooper
SEG - I W U 2-3
MIF II/ ratio 5

7
E05020001
E05020002
E05020008
123456
123475

8
0.1
0.1
0.1
0.5
0.1

10
1000/1
1000/2
1000/1
10/5
20/5

I>
11
240
190
190
40
64

OCR
tms
12
0.2
0.12
0.12
0.05
0.05

Seting
Hiset
kurva
13
IEC - SI
IEC - SI
IEC - SI
IEC - SI
IEC - SI

I>>
14
3250
2000
2000
120
200

Keterangan
t
15
0
0
0
0
0

Io>
16
40
20
20
4
7

GFR
tms
17
0.11
0.1
0.1
0.05
0.05

kurva
18
IEC - SI
ANSI - VI
ANSI - VI
IEC - SI
IEC - SI 0,34 In=6,8

Keterangan
Untuk Kolom 8, agar diisi waktu respon relay mulai dari relay menerima sinyal gangguan sampai mekanik PMT trip

Rec Paramasidhi

Yeh Taluh
NECBA 150mm2

...A

0,24

AAACS 150 mm2

AAACS 150 mm2

0,462
0,22

0,096

0,022
AAACS 150 mm2

NECBA 150mm2

Rec Polsektif

AAACS 150 mm2

150 A

MVTIC 150 mm2


0,18

3,19
0,4532

AAAC 150 mm2

0,036

MVTIC 150mm2

AAACS 150 mm2


2,365

AAACS 150 mm2

100 A

5,5

110 A
Pelanggan
PT Paramasidhi

Pelanggan
PDAM Buleleng

Thermal
Is
Konst
19
20

Rec Tie Penarukan

13

21

LAMPIRAN B

PERMOHONAN RESETING SISTEM


PROTEKSI DARI UNIT PELAKSANA
(VIA EMAIL)

From: Agus Yudhistira Sujana


Sent: Wednesday, March 18, 2009 5:19 PM
To: Subrata I Ketut
Cc: A. Herman Suprapto; Ges Mulyadi; Riasa I Putu; Anom Suta I Gst. Md.; Adi
Priyanto; Suartika I Nyoman
Subject: Resetting Proteksi P.Klungkung
Semangat Pagi,
Sehubungan dengan Gangguan P.Klungkung pada hari selasa 17 Maret 2009 yang lalu, dengan
ini kami mengharapkan agar dapat dilakukan resetting sistem proteksi yang terpasang pada
P.Klungkung dari hilir ke hulu.
Pada hari selasa tersebut, P.Klungkung mengalami trip sebanyak 4 kali. Setelah dilakukan
inspeksi ditemukan isolator tembus yang lokasinya di pertigaan Gunaksa. Lokasi Gangguan
tersebut berada pada line utama F.Dawan.
Adapun kronologis Gangguan P.Klungkung:
NO.

TANGGAL

PENYULANG INDIKASI

JAM
TRIP TUTUP

LAMA
PADAM

17-Mar-09

Klungkung

EF

4:49

4:50

0:01

17-Mar-09

Klungkung

EF

4:50

4:51

0:01

17-Mar-09

Klungkung

EF

4:51

4:53

0:02

17-Mar-09

Klungkung

EF

6:49

6:51

0:02

PENYEBAB
GANGGUAN
Isolator
Tembus
Isolator
Tembus
Isolator
Tembus
Isolator
Tembus

ARUS GANGGUAN
R

102

320

109

225

160

376

169

222

103

353

129

253

74

322

83

253

Demikian informasi dari kami. Semoga resetting P.Klungkung dapat segera dilakukan sehingga
bila terjadi Gangguan pada feeder tidak menyebabkan trip P.Klungkung.
Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih
Salam
Agus

From: Ansats Pramandreas Simamora


Sent: Wednesday, May 13, 2009 5:47 PM
To: Ges Mulyadi
Cc: A. Herman Suprapto; Wiratha Wayan; Wijaya Nyoman; Bambang Suryono; Suarta Gede;
Sudarta I Wayan; Edy Dahliawan
Subject: Up date kondisi proteksi AJ Bali Utara
Selamat Pagi.
Salam Proteksi

Terlampir kami sampaikan FKMR rayon Singaraja yang berhasil kami down load setelah kabel data
tersedia. Untuk itu kami mohon maaf atas keterlambatan ini.
Untuk koordinasi recloser dengan GI ternyata sudah cukup handal. Ini terbukti dari besarnya arus hubung
singkat yang bisa dicover oleh recloser di jaringan. Pada file terlampir bisa dilihat pada recloser Bakti
Seraga, recloser Anturan dan recloser BLKI dimana arus hubung singat (OC) yang tercover bisa sampai
2500 A (selama ini kalo arusnya sebesar ini maka biasanya lolos ke GI). Untuk ini, maka kami ucapkan
terima kasih atas bantuannya.

Kami mengusulkan agar form FKMR pada kolom arus gangguan agar dibuat lebih detail arus gangguan per
phasa. Jadi kami usul supaya bisa ditambah kolomnya.
Untuk rayon Singaraja, masih ada 2 (dua) penyulang yang belum diresetting yaitu penyulang sukasada
(menjadi loop scheme) dengan penyulang sawan (penyulang baru). Setelah kami survey ke lapangan maka,
terlampir kami kirimkan pula gambar jaringan dan inventarisnya, demikian juga untuk penyulang di
wilayah UJ Tejakula dan Uj Negara.
Untuk itu kami mohon bantuan analisa dari Bapak dan mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diresetting
karena tanggal 10 Mei 2009 recloser Runuh trip dengan arus gangguan 1743 A dan lolos sampai GI.
Selanjutnya terlampir pula data sisa penyulang dan proteksi di jaringan yang belum diresetting untuk
wilayah kerja AJ Bali Utara.
Kami mohon agar kami bisa dibantu dalam hal analisa setting, koordinasi dengan APD dan setting alat
proteksi di lapangan.
Demikian yang bisa kami sampaikan Pak.
Atas bantuan dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih
Salam

Ansats Pram Andreas S


AO Pengatur Operasi Distrubusi
PT. PLN (PERSERO) Distribusi Bali AJ Bali Utara

From: Ansats Pramandreas Simamora


Sent: Friday, September 26, 2008 3:46 PM
To: A. Herman Suprapto
Cc: Wijaya Nyoman; Artika Nyoman; Suarta Gede; Trijaya Made; Warsa I Wayan; Afriansyah;
Suartika I Nyoman; Budhyasa I Putu Gd.; Kariana Putu; Agus Yudhistira Sujana; Agus Dian Jaya
Putu; Bambang Suryono
Subject: RE: Form Inventarisasi Asset Proteksi AJ Bali Utara

Terima kasih Pak.


Untuk pilot project kami usulkan dilakukan di penyulang Yeh Taluh dan Liligundi.

-----Original Message----From: A. Herman Suprapto


Sent: 26 September 2008 14:41
To: Ansats Pramandreas Simamora
Cc: Wijaya Nyoman; Artika Nyoman; Suarta Gede; Trijaya Made; Warsa I Wayan; Afriansyah;
Suartika I Nyoman; Budhyasa I Putu Gd.; Kariana Putu; Agus Yudhistira Sujana; Agus Dian Jaya
Putu; Bambang Suryono
Subject: FW: Form Inventarisasi Asset Proteksi AJ Bali Utara
Trims atas respon cepatnya, tolong mulai dievaluasi penyulang mana yang akan kita jadikan pilot
projek reseting.
herman
From: Ansats Pramandreas Simamora
Sent: Thursday, September 25, 2008 4:28 PM
To: Afriansyah
Cc: A. Herman Suprapto; Wijaya Nyoman; Bambang Suryono; Artika Nyoman; Suarta Gede;
Trijaya Made; Warsa I Wayan
Subject: Form Inventarisasi Asset Proteksi AJ Bali Utara

Semangat Pagi
Terlampir kami sampaikan data inventarisasi asset proteksi di AJ Bali Utara
Mohon diterima
Salam
-----Original Message----From: Wijaya Nyoman
Sent: 19 September 2008 10:14
To: Ansats Pramandreas Simamora
Cc: Bambang Suryono
Subject: FW: RE: Form Inventarisasi Asset Proteksi
Mohondapat dipenuhi termasuk proteksi yg baru di pasang
Demikian dan terimakasih
Salam ;wijaya

LAMPIRAN C
ANALISA KOORDINASI SISTEM
PROTEKSI EKSISTING DENGAN
SIMULATOR KOORDINASI
SISTEM PROTEKSI

ANALISA KOORDINASI SISTEM PROTEKSI


RESETING PENYULANG YEH TALUH
MENGGUNAKAN SIMULATOR
KOORDINASI SISTEM PROTEKSI
Form Seting Eksisting

Grafik Koordinasi Antar Relay Proteksi


a) Jalur Koordinasi 1

b) Jalur Koordinasi 2

c) Jalur Koordinasi 3

LAMPIRAN D
ANALISA NILAI RESETING BARU
DENGAN SIMULATOR
KOORDINASI SISTEM PROTEKSI

ANALISA KOORDINASI SISTEM PROTEKSI


EKSISTING PENYULANG YEH TALUH
MENGGUNAKAN SIMULATOR
KOORDINASI SISTEM PROTEKSI
Form Seting Eksisting

Grafik Koordinasi Antar Relay Proteksi


a) Jalur Koordinasi 1

b) Jalur Koordinasi 2

c) Jalur Koordinasi 3

LAMPIRAN E
NOTULEN RAPAT BERSAMA
&
SURAT JAWABAN KE SRB

NOTULEN
Rapat Koordinasi Penanganan Proteksi P. Yeh Taluh dan P. Liligundi
GI Pemaron
PT PLN (Persero) Distribusi Bali APD AJ Bali Utara - SRB
Denpasar, 10 November 2008
1. Rapat Koordinasi Proteksi Penyulang Yeh Taluh dan Penyulang Liligundi di
Kantor Distribusi diperoleh setingan sebagaimana terlampir.
2. Berdasarkan kondisi tersebut maka dilakukan perhitungan untuk setting OCR
dan GFR Penyulang Yeh Taluh dan Penyulang Liligundi, dengan hasil sebagai
berikut:
Penyulang Yeh Taluh
PROTEKSI

OC INSTAN

OC

KONDISI

EF

( HISET )

I set

tms

kurva

I set

I set

tms

kurva

INC P. YEH

Existing

1000

0.25

IEC - SI

4000

0.3

100

0.15

IEC - SI

TALUH

Reseting

1000

0.25

IEC - SI

4000

0.3

100

0.15

IEC - SI

OUT P. YEH

Existing

300

0.05

IEC - SI

2400

0.05

50

0.3

DEFINITE

TALUH

Reseting

300

0.29

IEC - SI

4000

58

0.16

IEC - SI

REC.

Existing

250

A (101)

1500

50

0.3

DEFINITE

PARAMASIDHI

Reseting

243

0.2

IEC - SI

3250

50

0.1

IEC - SI

REC.

Existing

200

A (101)

800

40

A (101)

POLSEKTIF

Reseting

192

0.12

IEC - SI

2000

40

0.05

ANSI - VI

Existing

150

0.5

A (101)

600

30

0.05

A (101)

Reseting

120

0.05

IEC - SI

1200

40

DEFINITE

PLGN

Existing

16

0.05

IEC - SI

64

0.1

DEFINITE

PDAM

Reseting

64

0.05

IEC - SI

200

0.05

IEC - SI

PLGN

Existing

10

0.05

IEC - SI

40

10

0.05

DEFINITE

PT.PARAMASIDHI

Reseting

40

0.05

IEC - SI

120

0.05

IEC - SI

REC TIE

Penyulang Liligundi
PROTEKSI

OC INSTAN

OC

KONDISI

EF

( HISET )

I set

tms

kurva

I set

I set

tms

kurva

INC P.

Existing

1000

0.25

IEC - SI

Block

100

3.6

DEFINITE

LILIGUNDI

Reseting

1000

0.25

IEC - SI

Block

100

3.6

DEFINITE

OUT P.

Existing

300

0.05

IEC - SI

1200

60

0.5

DEFINITE

LILIGUNDI

Reseting

300

0.31

IEC - SI

4400

60

0.2

IEC - SI

REC.

Existing

250

A (101)

1500

40

A (101)

BAKTISERAGA

Reseting

210

0.23

IEC - SI

3300

55

0.14

IEC - SI

REC.

Existing

200

A (101)

800

40

A (101)

DELOD PEKEN

Reseting

200

0.12

IEC - SI

2500

52

0.07

IEC - SI

REC. TIE

Existing

150

0.5

A (101)

600

30

0.5

A (101)

PANARUKAN

Reseting

120

0.05

IEC - SI

1200

40

DEFINITE

PLGN

Existing

FKIP UDAYANA

Reseting

27

0.05

IEC - SI

90

0.05

DEFINITE

3. Setting relay Penyulang Yeh Taluh dan Penyulang Liligundi akan dilaksanakan
mulai tanggal 13 November 2008
4. Untuk koordinasi melalui email/ telepon setting relay antara AJ, APD, SRB dan
kantor Distribusi ditunjuk contact person sebagai berikut:
Distribusi Bali
-

Ges Mulyadi, ges@pln.co.id, Hp 081933040427

Afriansyah, afriansyah@pln.co.id, Hp 081337558211

APD
-

I Ketut Subrata, subrata@pln.co.id, Hp 081916239078

SRB
-

I Ketut Arbawa, arbawa@pln.co.id, Hp 08123991910

I Made Boby, i_made_boby@pln.co.id, Hp 081558000794

AJ Bali Utara
-

Ansats P.A.S, ansats@pln.co.id, Hp 08179925549

KESEPAKATAN
KOORDINASI
SETING PROTEKSI SISTEM BALI
13-14 APRIL 2009

1.

Seting relay proteksi incoming disepakati sebagai berikut :


Seting OC Incoming Trafo GI
- I>
= 1,2 kali Inom trafo
- t kerja = 1 detik pada saat arus hubung singkat 3 fasa di bus 20 kV
seting high set OC
- I>>
= 4 kali Inom trafo
- t kerja = 0.4 s
Seting EF
- Io>
= 0,2 kali I Fault Maksimum di bus 20 kV = 60 A
- t kerja = 2 detik pada saat arus hubung singkat 1 fasa di bus 20 kV
- kurva = Standar Inverse
Selisih Waktu Kerja Outgoing dan Incoming
t (OC, High Set, EF) = 0,4 s
Khusus untuk trafo type TTUB dan TTHRV karena terdapat kelemahan konstruksi maka seting I>>
tetap 4 In dengan t=0,4 s, dan setting OC tetap dengan t = 0,7 s pada saat arus hubung singkat 3
fasa di bus 20kV.

2. Opening time CB 20 kV typical 3 cycle = 60 ms, apabila terdapat hasil uji melebihi 100 ms maka harus
dilakukan perbaikan.
3. Kesepakatan Bersama Pengelolaan Proteksi Trafo- Penyulang 20 kV telah direview dan di tandatangani
bersama.
4. COP (Community of Practise) Koordinasi Proteksi Trafo-Penyulang dengan nama anggota terlampir.
5. Setiap perubahan seting baik outgoing ataupun incoming agar diinformasikan kepada masing-masing
pihak via email.
6. Untuk koordinasi setting relay antara AJ, APD, RJTB SRB, RJTB P3B dan kantor Distribusi ditunjuk
contact person sebagai berikut:
Distribusi Bali
Ges Mulyadi, ges@pln.co.id, Hp 081933040427
Afriansyah, afriansyah@pln.co.id, Hp 081337558211

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

KESEPAKATAN BERSAMA
DALAM PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO - PENYULANG 20 KV
BAB I
PENDAHULUAN
Sehubungan dengan serah terima asset 20 kV dari PT PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat
Pengatur Beban Jawa Bali kepada PT PLN (Persero) Distribusi Bali sesuai Surat Direktur
Pengusahaan No.293/455/DITUSAHA/1996/K Tanggal 09 Juli 1996 perihal Pelimpahan
Pengelolaan Operasi dan Batas Kepemilikan Aset dan SK Dir 0274.K Tahun 2008 perihal
Pedoman Pengelolaan Aset Distribusi, maka diperlukan kesepakatan bersama dalam
pengelolaan sistem proteksi trafo - penyulang 20 kV agar :

Batas wewenang dan tanggung jawab menjadi jelas, serta

Kemungkinan terjadi kesalahan dalam koordinasi sistem proteksi dapat diperkecil.

Setelah serah terima asset, maka batas pengelolaan sistem proteksi seperti Gambar I.1,
L.1.a, L.1.b dan L.1.c diatur sebagai berikut :
PLN-P3B Jawa Bali :
1. Sistem proteksi trafo berikut sistem catu daya dan wiringnya yang meliputi :

Pengaman utama terhadap gangguan internal trafo tidak perlu dikoordinasikan dengan
sisi hilir, sehingga tidak termasuk dalam lingkup kesepakatan ini.

Pengaman terhadap gangguan external trafo (OCR/GFR dan SBEF) harus


dikoordinasikan dengan sistem pengaman penyulang 20 kV.
2. UFR yang terpasang di kubikel 20 kV untuk kebutuhan load shedding.
PLN Distribusi Bali :
1. Sistem proteksi penyulang, kopel dan rel 20 kV harus dikoordinasikan dengan sisi hulu
(OCR, GFR).
2. Penentuan penempatan lokasi UFR.di kubikel 20 kV untuk kebutuhan load shedding.
3. Sistem proteksi khusus penyulang konsumen tegangan menengah, gardu hubung harus
dikoordinasikan dengan sisi hulu.
4. Penentuan penempatan lokasi UFR untuk konsumen tegangan tinggi.
LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan yang diatur dalam kesepakatan bersama ini meliputi kegiatan yang
diuraikan sebagai berikut :
1. PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO-PENYULANG 20 KV.
Bab II memberikan penjelasan tentang penyelesaian masalah sistem proteksi oleh kedua
belah pihak dan kewajiban masing-masing pihak dalam pengelolaan sistem proteksi

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

2. FAKTOR TEKNIS YANG DIPERHATIKAN DALAM KOORDINASI PROTEKSI TRAFOPENYULANG 20 KV.


Bab III memberikan garis besar tentang karakteristik peralatan primer, kondisi sistem dan
statistik gangguan yang perlu diperhatikan dan diikuti dalam melakukan koordinasi sistem
proteksi.

150kV

NGR
Incomming
Feeder

ASET MILIK
PT PLN (Persero) P3B
ASET MILIK
PT PLN (Persero) Distribusi Bali

PENYULANG 20 kV

Gambar - I.1
BATAS PEMILIKAN ASSET INSTALASI 20 kV
Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

BAB II
PENGELOLAAN SISTEM PROTEKSI TRAFO PENYULANG 20 KV
Kepemilikan dan pengelolaan aset 20 kV telah dilimpahkan dari PLN P3B JAWA BALI ke
PLN Distribusi Bali. Agar ada kejelasan tentang batas kewajiban dan tanggung jawab
dalam mengelola sistem proteksi trafo penyulang 20 kV, maka disusun aturan
pelaksanaan yang meliputi kegiatan sebagai berikut :

Penetapan setelan/ koordinasi sistem proteksi,

Investigasi penyebab gangguan,

Pengembangan sistem proteksi,

Pengelolaan relai frekuensi rendah (UFR) untuk pelepasan beban penyulang,

Penyetelan ulang (resetting) sistem proteksi,

Pemeliharaan sistem proteksi.

2.1

PENETAPAN ATAU PERENCANAAN KOORDINASI SISTEM PROTEKSI


Pelaksanaan koordinasi sistem proteksi pada masing-masing instalasi di trafo dan
penyulang berpedoman pada pengoperasian sistem 20 kV radial, yang dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1. Setelan relai untuk OCR, GFR, SBEF (50/51/51G/51NS) dan recloser, ditetapkan
oleh masing-masing pihak dengan mengikuti batasan-batasan teknis dengan
tetap memperhatikan kualitas pelayanan, seperti yang ditetapkan pada BAB III
atau,
2. Setelan relai didiskusikan kembali bila ada kasus khusus yang belum diatur pada
Bab III.
Kewajiban masing-masing pihak dalam menetapkan koordinasi sistem proteksi trafo
penyulang 20 kV sebagai berikut :
PLN P3B Jawa Bali:

Menyediakan data hubung singkat di rel tegangan tinggi 150kV yang akan
dipakai PLN Distribusi Bali sebagai dasar dalam menetapkan setelan rele OCR
(50/51) penyulang 20 kV.

Menetapkan dan melaksanakan penyetelan rele SBEF di NGR dan OCR di


incoming sisi sekunder trafo.

Menginformasikan kepada PLN Distribusi Bali setelan rele tersebut diatas berikut
data trafo arusnya.

Bila ada perubahan setelan rele disisi pengaman trafo, maka prosedure yang
diikuti adalah sesuai penjelasan pada butir 2.5.

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

PLN Distribusi Bali


Menetapkan dan melaksanakan penyetelan rele OCR dan GFR (50/51/51G) di sisi
penyulang 20 kV.
Menginformasikan kepada PLN P3B JAWA BALI setelan rele penyulang tersebut
berikut data transformator instrument untuk relai proteksi.
Bila ada perubahan setelan rele disisi penyulang, maka prosedure yang diikuti
adalah sesuai penjelasan pada butir 2.5.
2.2. INVESTIGASI PENYEBAB GANGGUAN TRAFO TRIP.
Untuk menyelesaikan masalah sistem proteksi yang menyebabkan PMT trafo trip,
akan dilakukan oleh Tim Penanggulangan Gangguan Transformator PT PLN
(Persero) P3B Jawa Bali Sub Region Bali dan PT PLN (Persero) Distribusi Bali.
Dengan cara ini masing-masing pihak akan mendapatkan informasi yang sama dan
aktual, untuk selanjutnya akan diperoleh penyelesaian yang optimal, baik untuk
jangka panjang maupun jangka pendek.
2.2.1 Sumber data investigasi gangguan
Untuk keperluan investigasi, data gangguan yang berlaku adalah data yang
bersumber dari :
Hirarki - 1

DFR atau (digital fault recorder)

SCADA di APD DIST BALI atau RCC P3B JB SRB

Rekaman gangguan berupa osilografi rele atau besaran


yang diukur rele
Hirarki - 2

Indikasi rele yang bekerja

Hirarki - 3

Laporan Operator

Hirarki tersebut diatas menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap data.


2.2.2 Kewajiban masing-masing pihak
Kewajiban masing-masing pihak dalam melaksanakan investigasi gangguan
adalah sebagai berikut :
PLN P3B JAWA BALI :

Menyediakan data sesuai butir 2.2.1, yang tersedia disisi incoming 20 kV.

Tim Penanggulangan Gangguan Transformator PT PLN (Persero) P3B


Jawa Bali Sub Region Bali dan PT PLN (Persero) Distribusi Bali
melakukan investigasi bersama selambat lambatnya 2 x 24 jam setelah
gangguan.

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

PLN Distribusi Bali:

Menyediakan data sesuai butir 2.2.1, yang tersedia disisi penyulang dan rel
20 kV.

Tim Penanggulangan Gangguan Transformator PT PLN (Persero) P3B


Jawa Bali Sub Region Bali dan PT PLN (Persero) Distribusi Bali
melakukan investigasi bersama selambat lambatnya 2 x 24 jam setelah
gangguan.

Laporan hasil investigasi dibuat oleh Tim Penanggulangan Gangguan


Transformator PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali Sub Region Bali dan PT
PLN (Persero) Distribusi Bali .
2.2.3 Penerapan/ Implementasi Hasil Investigasi
Penerapan hasil investigasi bersama pada masing-masing instalasi, baik
berupa setelan relai atau pekerjaan lainnya seperti perbaikan, penyempurnaan
dan pengembangan sistem proteksi, menjadi tanggung jawab masing-masing
pemilik aset dan pelaksanaannya dilaporkan kepada Manajemen kedua belah
pihak.
2.3 PENGEMBANGAN POLA PENGAMAN TRAFO PENYULANG
Kaidah dasar dalam koordinasi penyetelan relai arus lebih (pola kaskade), adalah
dengan menyetel relai disisi hilir lebih cepat dari sisi hulu dengan beda waktu
minimal 0.4 detik.
Kaidah dasar penyetelan batas arus lebih adalah sebesar 1.2 kali kemampuan
peralatan terendah. Setelan tersebut harus dipastikan masih dapat bekerja dengan
baik.
Bila kaidah dasar pada pola kaskade tersebut tidak dapat memberikan pengamanan
yang optimum pada trafo dan penyulang, maka perlu diterapkan pola Non Kaskade,
sesuai kesepakatan bersama.
Bila dijumpai kondisi seperti tersebut diatas maka masing-masing pihak berkewajiban
melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
Kewajiban PLN P3B JAWA BALI :

PLN P3B JB Sub Region Bali memberitahukan kepada PLN APD DIST BALI dan
memberi saran alternatif penyelesaiannya.

Kewajiban PLN Distribusi Bali:

PLN APD DIST BALI mempelajari dan mengupayakan alternatif penyelesaian


masalah tersebut.

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

2.4 PENGELOLAAN UFR UNTUK PELEPASAN BEBAN PENYULANG


Rele UFR untuk keperluan pelepasan beban yang ada saat ini sebagian terpasang
pada kubikel incoming 20 kV milik PLN P3B JAWA BALI dan sebagian lagi terpasang
pada kubikel 20 kV lainnya milik PLN Distribusi Bali, diperlukan kejelasan dalam
pengelolaan UFR yang diatur sebagai berikut :
Kewajiban PLN P3B JAWA BALI SUB REGION BALI:

Menentukan nilai setting UFR dan alokasi pelepasan beban pada setiap tahapan
frekuensi.

Menerapkan setting yang telah ditetapkan pada UFR yang terpasang di kubikel
20 kV.

Kewajiban PLN Distribusi Bali :

Menentukan lokasi kubikel yang masuk dalam program pelepasan beban.

Memberikan laporan secara real time perihal unjuk kerja UFR.

Apabila jumlah beban yang dilepas tidak terpenuhi, maka untuk menyelamatkan
sistem perlu diterapkan sistem pelepasan beban dengan Manual load shedding,
(MLS), sehingga jumlah beban yang dilepas tetap sesuai dengan yang diprogramkan.
Lokasi gardu induk yang diprogramkan untuk penerapan MLS akan ditetapkan
bersama.
2.5 PENYETELAN ULANG (RESETTING) SISTEM PROTEKSI
Setiap melakukan perubahan setelan relai (OCR,GFR) Incoming dan
Outgoing/Penyulang harus diinformasikan kepada pihak terkait secara tertulis/email.
Setelah dilakukan perubahan setelan, relai harus diuji pada nilai setelan yang baru
(sesuai dengan keputusan Direksi No. 075.K/016/DIR/1996, tanggal 9 Agustus 1996),
dimana pelaksanaannya dilakukan oleh pemilik aset.
Kewajiban PLN P3B JAWA BALI SUB REGION BALI:

Menentukan dan menerapkan nilai setting yang baru dari pengaman trafo sesuai
kaidah.

Kewajiban PLN Distribusi Bali :

Menentukan dan menerapkan nilai setting yang baru dari penyulang sesuai
kaidah.

2.6 PEMELIHARAAN SISTEM PROTEKSI


Pemeliharaan peralatan dan sistem proteksi dilakukan dengan mengikuti petunjuk
sesuai Surat Keputusan Direksi No. 075.K/016/DIR/1996, tanggal 09 Agustus 1996
tentang Pedoman Petunjuk Pemeliharaan Proteksi dan pelaksanaannya menjadi
tanggung jawab masing-masing pemilik aset.
Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

Kewajiban PLN P3B JAWA BALI Sub Region Bali :

Melaksanakan pemeliharaan terhadap peralatan dan sistem proteksi yang


terpasang pada kubikel 20 kV incoming.

Kewajiban PLN Distribusi Bali:

Melaksanakan pemeliharaan terhadap peralatan dan sistem proteksi yang


terpasang disemua kubikel 20 kV kecuali kubikel incoming.

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

BAB III
FAKTOR TEKNIS YANG DIPERHATIKAN DALAM KOORDINASI
PENGAMAN TRAFO - PENYULANG

Kriteria umum yang perlu diperhatikan dalam melakukan koordinasi proteksi sistem adalah
terjaminnya kontinuitas penyaluran tenaga listrik yang diukur dengan indeks sering dan
lamanya padam.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah dan lama padam pada penyediaan tenaga
listrik, antara lain : a/. jumlah gangguan pada peralatan primer, b/. kondisi sistem/ jaringan
dan c/. kinerja sistem proteksi. Agar sistem proteksi dapat bekerja sesuai dengan fungsinya,
maka dalam melakukan koordinasi sistem pengaman harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :

Keamanan peralatan,

Keamanan sistem,

Kebutuhan konsumen.

Perhatian terhadap keamanan peralatan dan sistem serta kebutuhan konsumen harus
diberikan secara proporsional, agar secara sistem akan diperoleh indeks sering dan lama
padam yang optimum. Pengamanan yang berlebih terhadap peralatan dan sistem dapat
menyebabkan tingginya jumlah padam, sedangkan perhatian yang berlebih terhadap
kebutuhan konsumen dapat membahayakan peralatan dan sistem .
Lamanya waktu pemulihan setelah terjadi gangguan sangat tergantung pada tingkat
kerusakan peralatan atau luas padam yang ditimbulkan. Sebagai contoh bahwa kerusakan
permanen pada trafo akan menyebabkan pemadaman yang luas dan waktu pemulihan yang
lebih lama serta biaya untuk perbaikan yang lebih tinggi.
Dengan memperhatikan hal tersebut maka dalam mengkoordinasikan sistem pengaman trafo,
keamanan dari trafo tersebut merupakan salah satu faktor yang harus lebih diperhatikan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan koordinasi pengaman trafo dan penyulang
antara lain sebagai berikut :

Pola operasi dan konfigurasi sistem,

Kemampuan trafo terhadap beban lebih,

Ketahanan trafo terhadap gangguan hubung singkat eksternal,

Trafo arus untuk relai proteksi,

Statistik gangguan,

Penutup balik otomatis,

Pentanahan sistem dan konfigurasi belitan trafo,

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

Kondisi spesifik yang berpotensi menyebabkan PMT trafo trip,

Ketahanan kabel terhadap gangguan hubung singkat tanah,

Pengamanan yang berlapis dan sumber DC,

Waktu pemisahan gangguan,

Penggunaan Pola Pengaman Non kaskade.

3.1

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

POLA OPERASI DAN KONFIGURASI SISTEM


Pola yang dipakai pada pengoperasian sistem 20 kV adalah radial, dimana secara
normal jaringan 20 kV tidak dioperasikan paralel, dengan netral sistem 40 Ohm, dengan
panjang saluran baku sesuai SPLN 59 : 1985, tentang keandalan pada sistem distribusi
20 kV.

3.2

KEMAMPUAN TRAFO TERHADAP BEBAN LEBIH ( OVERLOAD )


Sesuai standar international IEC 354 tahun 1991 diijinkan untuk membebani trafo
melebihi nilai pengenal seperti yang disebutkan pada papan nama (name plate). Namun
disadari bahwa pembebanan lebih tersebut akan mengurangi umur trafo dan
pengurangan umur tersebut tidak dapat ditetapkan secara akurat hanya dengan
mengandalkan data operasi rutin.
Memperhatikan suhu sekitar rata-rata (ambient temperature) yang lebih tinggi dari nilai
standard serta faktor umur, maka kemampuan trafo menjadi lebih rendah dari nilai
pengenal pada name plate.
Meskipun pembebanan lebih terhadap trafo tenaga menurut IEC diijinkan namun
hendaknya hal tersebut sejauh mungkin dihindari dan bila terpaksa dilakukan harus
dengan persetujuan pemilik instalasi (PLN P3B JAWA BALI).

3.3

KETAHANAN TRAFO TERHADAP GANGGUAN HUBUNG SINGKAT EKSTERNAL


Dalam melakukan koordinasi pengaman trafo, dampak termis dan mekanis sebagai
akibat dari arus gangguan eksternal perlu diperhatikan. Untuk arus gangguan rendah
yang mendekati julad (range) beban-lebih, pengaruh mekanis kurang diperhitungkan,
kecuali bila jumlah gangguan eksternal tersebut cukup tinggi. Pada arus gangguan yang
mendekati batas kemampuan desain trafo, dampak mekanis lebih dominan
dibandingkan dengan pengaruh thermis.
Menurut standar internasional IEC, ketahanan trafo terhadap gangguan hubung singkat
eksternal adalah 2 detik (trafo baru).
Walaupun ketahanan trafo terhadap arus hubung singkat eksternal dalam standar
international ditetapkan 2 detik tetapi mempertimbangkan usia trafo, maka waktu kerja
relai OCR disisi incomming untuk gangguan tiga fasa di rel 20 kV ditentukan 1 detik,
kecuali untuk Trafo UNINDO type TTHRV dan TTUB sebesar 0.7 detik.

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

Sampai batas tertentu arus gangguan hubung singkat eksternal akan menyebabkan
penurunan umur sebagai akibat pengaruh thermis. Namun diatas batas tersebut
pengaruh thermis bersamaan dengan pengaruh dinamis akan menyebabkan penurunan
umur trafo secara progresif dan penurunan tersebut akan dipercepat lagi bila jumlah
gangguan makin tinggi.
ANSI/ IEEE C57.109-1985 merekomendasikan bahwa untuk arus gangguan yang
besarnya melebihi atau sama dengan 50% dari gangguan maksimum ( 0.5 In/Xt), maka
waktu pemutusan gangguan harus dipercepat (tidak lagi mengikuti karakteristik termis
trafo).
Memperhatikan hal tersebut diatas dan mempertimbangkan dioperasikannya recloser
untuk gangguan fasa-fasa, maka rele momen di penyulang untuk gangguan fasa-fasa
harus diaktifkan.
Sedangkan High Set di sisi Incoming di seting pada arus 4 kali Arus Nominal Trafo
dengan waktu kerja 0.4 detik.

3.4

TRAFO ARUS ( CT ) UNTUK RELAI PROTEKSI


Trafo arus untuk relai proteksi pada penyulang 20 kV menggunakan kelas P (istilah
dalam IEC 185), yang ketelitiannya dijamin baik sampai dengan arus lebih tertentu,
sesuai dengan beban (burden) trafo arus yang tertera pada papan nama (name plate),
misalnya 5P10 atau 5P20 dengan beban 10 VA.
Spesifikasi tersebut yang menyatakan 10 atau 20 kali arus nominal CT akan menjadi
batas atas dalam memilih setelan arus untuk relai momen di penyulang.
Bila batas atas tersebut tidak sesuai dengan batas seperti ditetapkan pada butir 3.3
maka yang dipilih adalah nilai yang terkecil.

3.5

STATISTIK GANGGUAN
Dari data statistik diketahui bahwa penyebab trip dan kerusakan trafo yang paling
dominan adalah akibat dari arus gangguan external yang terjadi pada penyulang.
Semakin tinggi jumlah gangguan external maka semakin besar peluang terjadinya
kerusakan trafo.
Kondisi tersebut merupakan kendala yang penyelesaiannya memerlukan koordinasi
antara PLN P3B Jawa Bali Sub Region Bali dengan PLN APD DIST Bali .

Untuk mengurangi kerusakan trafo oleh kondisi tersebut tidak dapat hanya
Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

10

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

mengandalkan pada sistem proteksi. Untuk mengurangi kerusakan trafo sebagai akibat
dari tingginya jumlah gangguan external, cara yang paling efektif adalah dengan
menurunkan jumlah gangguan jaringan yang dipasok oleh trafo tersebut.

3.6

PENUTUP BALIK OTOMATIS ( RECLOSER )


Penggunaan recloser pada SUTM merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan
keandalan pasokan daya disistem 20 kV khususnya untuk menurunkan jumlah dan
lama padam saat terjadi gangguan temporer yang umumnya berupa gangguan tanah.
Disisi lain bekerjanya recloser dirasakan oleh trafo sebagai meningkatnya
jumlah
gangguan external yang membahayakan trafo khususnya bila recloser beroperasi pada
gangguan fasa-fasa.
Dengan uraian diatas maka dalam mengaktifkan recloser perlu memperhatikan faktorfaktor sebagai berikut :
3.6.1 Pengoperasian recloser

3.7

Fitur Reclose hanya dioperasikan untuk gangguan satu fasa ke tanah.

Fitur Reclose hanya dioperasikan pada penyulang SUTM.

PENTANAHAN SISTEM DAN KONFIGURASI BELITAN TRAFO


Dengan adanya Netral Grounding Resistor (NGR) maka dalam mengamankan sistem
selain memperhatikan keamanan trafo juga perlu memperhatikan keamanan NGR itu
sendiri.
Karakteristik rele SBEF di sisi Incoming dipilih Long Time Inverse (LTI) dengan kriteria :

Arus di seting pada 30 % kali Arus Nominal NGR

Waktu kerja pada Arus Nominal NGR sebesar 30 % batas kemampuan thermis
NGR.

Untuk trip sisi Primer diperlambat 2 detik dari seting diatas.

Karakteristik rele GFR di sisi Incoming dipilih Standard Inverse (SI) dengan kriteria :

Arus di seting pada 20 % kali Arus Nominal NGR/ Arus Gangguan satu fasa ke
tanah maksimum.

Waktu kerja relai GFR incoming sebesar 2 detik.

Beda waktu penyetelan relai GFR disisi Penyulang adalah 0.4 detik terhadap
incoming

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

11

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

3.8

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

KONDISI SPESIFIK YANG BERPOTENSI MENYEBABKAN PMT TRAFO TRIP


3.8.1 Yang disebabkan oleh kegagalan sistem pengaman
Dari pengalaman operasi, penyebab tripnya PMT trafo pada saat terjadi
gangguan di penyulang, disamping kordinasi sistem proteksi yang tidak
tepat, dapat juga disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :

Kelambatan pembukaan PMT penyulang,

Kegagalan proteksi penyulang, sebagai akibat dari : a/. trafo arus jenuh, b/.
relai pengaman rusak, c/. suplai DC terganggu dan d/. sirkit tripping tidak
sempurna.

Pengaman utama trafo salah kerja.

Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa meskipun koordinasi


sistem proteksi sudah dilakukan secara optimal, namun peluang tripnya PMT
trafo pada saat gangguan penyulang masih tetap ada. Bila kondisi ini ditemukan,
maka perlu dilakukan investigasi bersama sesuai prosedur yang diuraikan pada
butir 2.2.

3.8.2 Yang disebabkan oleh pola operasi tidak sesuai


Seringkali dijumpai bahwa PMT trafo ikut trip oleh kondisi sebagai berikut :

Gangguan pada penyulang terjadi pada saat penyulang tersebut paralel


dengan penyulang lain.

Pada sistem 20 kV dengan NGR tahanan rendah 40 Ohm, trafo trip pada
saat pemisah/ cut out di jaringan terbuka satu fasa.

Pola operasi pada kondisi diatas diharapkan untuk dihindari.

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

12

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

3.9

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

PENGAMAN YANG BERLAPIS DAN SUMBER DC


Pada dasarnya setiap bagian dari sistem harus masuk ke dalam daerah pengamanan
sistem proteksi. Untuk menghindari keadaan dimana ada bagian sistem yang tidak
teramankan karena gagalnya sistem proteksi maka diusahakan agar setiap bagian dari
sistem harus diamankan minimal oleh dua sistem pengaman berlapis (redundance).
Untuk mengurangi kemungkinan kedua sistem pengaman gagal bersama-sama maka
agar diusahakan bagian dari peralatan proteksi yang dipakai bersama-sama oleh kedua
sistem pengaman tersebut seminimal mungkin.
Untuk mendapatkan sistem pengaman yang berlapis, maka disamping mengandalkan
pada pengaman utama diperlukan pengamanan cadangan yang dapat diperoleh dengan
cara sebagai berikut :

Pengaman cadangan lokal atau,

Pengaman cadangan - jauh dari sistem proteksi yang berada di gardu induk jauh.

Untuk alasan operasional maka perlu pemisahan sumber DC yang digunakan untuk
keperluan Proteksi dan kontrol antara penyulang dan Trafo.

3.10

WAKTU PEMISAHAN GANGGUAN


Tuntutan konsumen terhadap mutu pelayanan semakin meningkat, antara lain yang
menginginkan berkurangnya jumlah dan lama kedip tegangan yang diakibatkan
gangguan pada sistem. Gangguan kedip tegangan dirasakan oleh konsumen dan
seringkali mengakibatkan motor-motor di konsumen trip. Lama kedip tegangan
dipengaruhi langsung oleh fault clearing time dari sistem.
Mengingat tuntutan pelayanan yang semakin meningkat, maka perlu diupayakan agar
fault clearing time dapat lebih singkat, namun tidak boleh mengorbankan selektifitas.

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

13

PT PLN (PERSERO)
PENYALURAN DAN PUSAT PENGATUR BEBAN
JAWA BALI

PT PLN (PERSERO)
DISTRIBUSI BALI

150 kV

150 kV
C

a
a

Keterangan :
a

OCR Penyulang 20 kV

OCR Trafo sisi 20 kV

OCR Trafo sisi Primer

OCR Gardu Induk jauh


Gambar-L.3.1
Daerah pengaman trafo - penyulang 20 kV

Pengelolaan Sistem proteksi Trafo Penyulang 20 kV

14

LAMPIRAN : KAJIAN KASUS TRIP GI SANUR TRAFO III TAHUN 2008

1. Identifikasi Kasus
Data Kejadian (AJ Batan)
- Jurnal Gangguan
No Tgl kejadian Penyulang trip
1
17/11/2008
2
20/11/2008
Panjer
3
20/12/2008
Renon
4
29/12//2008
Renon

Penyebab
Kabel incoming tergali (terpacul)
LA trafo DS0386 disambar petir
LA trafo DS0136 disambar petir
Tidak diketahui

- Posisi Gangguan
a. Gangguan penyebab tripnya GI Sanur hanya berada di P Panjer dan P Renon
b. P. Renon tidak terdapat recloser jaringan
c. P. Panjer memiliki satu recloser jaringan loop dan gangguan berada di depan recloser
(recloser jaringan tidak trip)
Data Seting relay outgoing dan incoming GI Sanur Trafo III
Tgl
Igang Indi
Seting relay
Relay
kejadian
(A)
kasi
I>
kurva tms I>>
t
17/11/08
20/11/08
20/12/08
29/12/08

Inc
Panjer
Inc
Renon
Inc
Renon
Inc

EF
7000
6000
7000

OC ins
OC ins
OC ins
OC ins
OC ins
OC ins

1700
320
1700
320
1700
320
1700

SI
SI
SI
SI
SI
SI
SI

0.75
0.05
0.75
0.05
0.75
0.05
0.75

Blok
2600
5900
3200
5900
3200
5900

0
0
0
0
0
0

Io>

kurva

Tms

Blok
52
0
60
0
60
0

SI
0
SI
0
SI
0

0.05
0
0.07
0
0.07
0

2. Analisa Kejadian
Tinjauan Kejadian
- Jurnal Gangguan
Dari 14 penyulang yang tersambung ke incoming trafo III GI Sanur, hanya 2 Penyulang
(P Panjer dan P Renon) yang menjadi penyebab tripnya incoming trafo III GI Sanur
- Posisi Gangguan
a. Penyulang Panjer dan Penyulang Renon
Ihs 3 fasa
: 10918 A
Ihs 2 fasa
: 9465 A
Ihs 1 fasa
: 282 A
Arus gangguan
: > 6000 A
b. Recloser Undiknas Penyulang Panjer
Ihs 3 fasa
: 4043 A
Ihs 2 fasa
: 3503 A
Ihs 1 fasa
: 268 A
Arus gangguan
: > 6000 A
c. Kesimpulan

: Gangguan terjadi di depan recloser jaringan

Tinjauan Koordinasi seting incoming dan outgoing (P Panjer dan P Renon)


Incoming vs Penyulang Panjer
Koordinasi OC 3 Fasa

incoming sanur trf III

Penyulang Renon

Keterangan
1. waktu koordinasi terkecil = 0 detik
(range hiset) di arus gangguan > 5900 A
2. Ihs 3 fasa incoming = 10918 A
3. Ihs 3 fasa P Panjer = 10918 A
4. I gangguan
> 6000 A
Kesimpulan
Kerja relay P Panjer dengan Incoming tidak
koordinatif pada range arus gangguan
5900 A < Igangg < 10918 A, padahal arus
gangguan terjadi pada titik > 6000 A

750

1500

1
2250

3000

3750

4500

5250

6000

6750

7500

8250

9000

9750

750

1500

2250

3000

3750

4500

Penyulang Panjer

5250

6000

6750

7500

8250

9000

9750

incoming sanur trf III

Incoming vs Penyulang Renon


Koordinasi OC 3 Fasa

Keterangan
1. waktu koordinasi terkecil=0 dtk (range
hiset) di arus gangguan > 5900 A
2. Ihs 3 fasa incoming = 10918 A
3. Ihs 3 fasa P Renon = 10918 A
4. I gangguan
> 6000 A
Kesimpulan
Kerja relay P Renon dengan Incoming tidak
koordinatif pada range arus gangguan
5900 A < Igangg < 10918 A, padahal arus
gangguan terjadi pada titik > 6000 A

3. Ringkasan Kesimpulan
Penyebab relay incoming GI Sanur trafo III trip :
- Gangguan terjadi di daerah kerja outgoing dan incoming dengan arus gangguan rata-rata
> 6000 A
- Penyebab gangguan adalah berada di antara outgoing dan incoming (kabel incoming
tercangkul)
Kerja relay proteksi outgoing dengan incoming tidak koordinatif

LAMPIRAN F
BERITA ACARA
PELAKSANAAN RESETING

LAMPIRAN G

FORMULIR MONITORING KERJA RELAY


(FMKR)

FORM MONITORING KERJA RELAY (FMKR)


Catatan : Diisi setiap ada trip penyulang, Recloser, GH (> dan < 5 menit)
Nama Unit :
Thn/Bulan :

AJ Bali Timur
2009 Mei
Identifiksi Gangguan

Nama Penyulang

Hari

Tanggal

Jam

Relay trip (OG,


Rec,GH)

Seting relay
(normal/alt)

Igangg(A)

Indikasi
R

Penyebab gangguan

Keterangan

Pemutus tegangan menengah terbuka,


layang-layang nempel di jaringan
pelebur tegangan menengah putus
karena sebab lain (penjor/layang-layang)
P_Blahbatuh

Jumat

1-May-09

17:53

OG

OC

86

2690

2570

94.2

P_Buahan

Sabtu

2-May-09

19:57

OG

EF

280

90

90

200

P_Campuhan

3-May-09

1:28

OG

EF

380

90

80

273

P_Susut

3-May-09

18:24

OG

EF

203

43

41

156

P_Campuhan

4-May-09

6:02

OG

OC/M

141

1740

1620

81

P_Kedisan

5-May-09

12:20

OG

OC

2180

2160

48

P_Susut

6-May-09

20:06

OG

EF

277

239

P_Ulakan

8-May-09

2:42

OG

EF

178

168

P_Susut

15-May-09

12:11

OG

OC

1460

1450

P_Lebih

22-May-09

4:45

OG

EF

79

71

324

249

P_Susut

22-May-09

20:46

OG

EF

52

252

62

198

SUTM lepas dari Isolator

P_Blahbatuh

P_Ulakan

P_Campuhan

26-May-09

26-May-09

28-May-09

8:43

22:50

8:49

OG

OG

OG

OC

OC

OC/M

65

137

141

2650

212

22100

2530

282

21200

965

41

konduktor lepas dari isolator kena


travers di Br.Tengipis Buahan

Rele bekerja tanpa penyebab yang jelas,


PMT masuk kembali
Pemutus tegangan menengah terbuka,
Bambu nempel di Jaringan phs R di
pelebur tegangan menengah putus
Abuan Kaja
karena pohon / dahan
Lain - lain
Saklar utama gardu UB 73 di monkey
forest tembus 3 phasa
Ular nempel di PY 26 Ds. Bresela
Pemutus tegangan menengah terbuka,
Payangan
pelebur tegangan menengah putus
karena binatang dalam Gardu
Lighning arester rusak
Ditemukan arrester rusak di Gardu SS
013 Dn Tiga (Fasa S)
Lighning arester rusak
Arrester tembus di CO pengambian
Hote Amankila
Rele bekerja tanpa penyebab yang jelas,
PMT masuk kembali
Pemutus tegangan menengah terbuka,
Layangan nempel di Traves Br Lebih
pelebur tegangan menengah putus
Duur Kaja
karena sebab lain (penjor/layang-layang)
Rele bekerja tanpa penyebab yang jelas,
PMT masuk kembali
Pemutus tegangan menengah terbuka,
pelebur tegangan menengah putus
karena pohon / dahan
Pemutus tegangan menengah terbuka,
pelebur tegangan menengah putus
karena hujan / petir atau gangguan
sementara (Intermittent fault yg lain)
Pemutus tegangan menengah terbuka,
pelebur tegangan menengah putus
karena binatang dalam Gardu

Ditemukan Pohon Bambu kena SUTM


di Br Tojan Pering Blahbatuh
Kondisi Hujan dan Petir

Monyet naik ke JTM di Hotel Camplung


Sari (UB.66)

LAMPIRAN H

LAPORAN ANALISA DAN EVALUASI


KINERJA RELAY PROTEKSI

PT. PLN (PERSERO)


DISTRIBUSI BALI

LAPORAN ANALISA DAN EVALUASI


Kinerja Relay Proteksi di Penyulang
Sistem Kelistrikan Bali
April 2009

Source :
- FMKR April 2009
- Update laporan proteksi April 2009
- Laporan gangguan APD (< dan > 5 menit)

Subject

ANEV Proteksi

Tanggal

08 Mei 2009

UNIT : AJ BALI SELATAN

Kondisi existing asset jaringan


: Belum terdata / tidak terupdate
Kondisi existing pelanggan TM
: Belum terdata / tidak terupdate
Jarak GI-Recloser terdekat
: Belum terdata
Kondisi Jumlah Gangguan :
- Total (OG, GH, Recloser) : 85 kali (April)
- Menyebabkan trip outgoing : 85 kali (April)
- Menyebabkan trip outgoing : 106 kali (Maret)
Analisa
1. % Gangguan-Rec Penyulang Trip
2. % Gangguan-Rec Section Trip
3. Indikator Dominan Gangguan
4. Penyebab Dominan Gangguan

: 100 %
: 0%
: EF
: pohon, layang-layang dan penjor

Evaluasi
1. Analisa tingkat selektifitas kerja Recloser maupun relay di jaringan belum optimal
disebabkan data belum memadai
2. Hampir setiap terjadi gangguan akan menyebabkan penyulang trip. Hal ini
mengindikasikan tidak optimalnya kerja recloser atau relay proteksi di jaringan
3. Gangguan penyulang didominasi oleh gangguan fasa-tanah dengan penyebab pohon,
layang-layang dan penjor yang mengindikasikan perlindungan terhadap jaringan telanjang
masih harus ditingkatkan
4. Terjadi penurunan jumlah gangguan dari 106 kali (Maret 09) menjadi 85 kali (April 09),
tetapi gangguan masih dominan menyebabkan outgoing trip
Rekomendasi Solusi
1. Penertiban dokumentasi data proteksi beserta assetnya (minimal disesuaikan dengan
form inventaris proteksi yang pernah dikirimkan pada kesempatan pertama)
2. Melakukan reseting recloser, relay jaringan, relay penyulang dan relay pelanggan.
Reseting akan dilaksanakan setelah reseting incoming oleh SRB terlaksana (reseting
incoming sesuai notulen rapat proteksi 13-14 April 2009).
3. Mengoptimalkan perabasan dan merutinkan inspeksi terhadap SUTM telanjang yang
berpotensi menyebabkan gangguan EF (mewaspadai penyebab gangguan : Penjor, layanglayang, pelepah, dsb)
4. Melakukan pemeliharaan rutin GH terutama inject relay untuk memastikan respon time
relay (dihitung mulai relay merasakan gangguan hingga PMT trip)

PT. PLN (PERSERO)


DISTRIBUSI BALI

LAPORAN ANALISA DAN EVALUASI


Kinerja Relay Proteksi di Penyulang
Sistem Kelistrikan Bali
April 2009

Source :
- FMKR April 2009
- Update laporan proteksi April 2009
- Laporan gangguan APD (< dan > 5 menit)

Subject

ANEV Proteksi

Tanggal

08 Mei 2009

UNIT : AJ BALI UTARA

Kondisi existing asset jaringan


: Terupdate
Kondisi existing pelanggan TM
: Terupdate
Jarak GI-Recloser terdekat
: Terupdate = 0.724 km
Kondisi Jumlah Gangguan :
- Total (OG, GH, Recloser) : 23 kali (April)
- Menyebabkan trip outgoing : 11 kali (April)
- Menyebabkan trip outgoing : 10 kali (Maret)
Analisa
1. % Gangguan Penyulang
: 47,83 %
2. % Gangguan Section
: 52,17 %
3. Indikator Dominan Gangguan : EF
4. Penyebab Dominan Gangguan : pohon, layang-layang dan penjor
5. Seting thermal pelanggan menggunakan seting gangguan
Evaluasi
1. Selektifitas kerja Recloser maupun relay di jaringan sudah baik
2. Hampir setiap terjadi gangguan bisa terseleksi oleh Recloser atau relay di jaringan. Hal ini
berpotensi menekan angka SAIDI SAIFI, FGTM, mengoptimalkan penyaluran tenaga
listrik dan menjaga citra perusahaan
3. Penyebab gangguan didominasi oleh gangguan fasa-tanah.
4. Terjadi kenaikan jumlah gangguan penyulang dari 10 kali (Maret 09) menjadi 11 kali
(April 09),
5. Seting relay Thermal pelanggan masih ada yang belum disesuaikan dengan ketentuan
TDL dan ketentuan koordinasi relay proteksi
6. Masih ada relay pelanggan yang tidak layak untuk dipasang
Rekomendasi Solusi
1. Melanjutkan proses update dokumentasi data proteksi beserta assetnya (disesuaikan
dengan form inventaris proteksi yang pernah dikirimkan pada kesempatan pertama)
2. Melanjutkan reseting recloser, relay jaringan, relay penyulang dan relay pelanggan.
Reseting akan dilanjutkan setelah reseting incoming oleh SRB terlaksana (reseting
incoming sesuai notulen rapat proteksi 13-14 April 2009).
3. Mengoptimalkan perabasan dan merutinkan inspeksi terhadap jaringan yang berpotensi
menyebabkan gangguan EF dengan prioritas sepanjang jaringan dari GI sampai recloser I
4. Melakukan pemeliharaan rutin GH terutama inject relay untuk memastikan respon time
relay (dihitung mulai relay merasakan gangguan hingga PMT trip)
5. Menyesuaikan/mengganti jenis relay pelanggan yang tidak sesuai ketentuan
6. Khusus untuk kasus di GH Seririt, agar dilakukan :
- Pemasangan relay baru untuk Feeder Kota sebagai pengganti relay lama yang rusak
- Melakukan uji fungsi CT cubicle dan inject relay (mengetahui respon time trip PMT)

PT. PLN (PERSERO)


DISTRIBUSI BALI

LAPORAN ANALISA DAN EVALUASI


Kinerja Relay Proteksi di Penyulang
Sistem Kelistrikan Bali
April 2009

Source :
- FMKR April 2009
- Update laporan proteksi April 2009
- Laporan gangguan APD (< dan > 5 menit)

Subject

ANEV Proteksi

Tanggal

08 Mei 2009

UNIT : AJ BALI TIMUR

Kondisi existing asset jaringan


: Terupdate
Kondisi existing pelanggan TM
: Terupdate
Jarak GI-Recloser terdekat
: Terupdate = 1.59 km
Kondisi Jumlah Gangguan :
- Total (OG, GH, Recloser) : 40 kali (April)
- Menyebabkan trip outgoing : 34 kali (April)
- Menyebabkan trip outgoing : 21 kali (Maret)
Analisa
1. % Gangguan Penyulang
: 85 %
2. % Gangguan Section
: 15 %
3. Indikator Dominan Gangguan : EF
4. Seting EF incoming menggunakan kurva Definitesehingga kurva koordinasi EF ke relay
proteksi hilir harus menggunakan Definite
5. Penyebab Dominan Gangguan : pohon, layang-layang dan penjor
6. Seting relay thermal pelanggan dimulai pada saat > 1.05 In sehingga waktu kerja >>60
menit
Evaluasi
1. Selektifitas kerja Recloser maupun relay di jaringan cukup baik
2. Sebagian kecil gangguan bisa terseleksi oleh Recloser atau relay di jaringan.
3. Penyebab gangguan didominasi oleh gangguan fasa-tanah.
4. Gangguan EF menyebabkan simpatitik trip
5. Terjadi kenaikan jumlah gangguan penyulang dari 21 kali (Maret 09) menjadi 34 kali
(April 09),
6. Seting relay Thermal pelanggan masih ada yang belum disesuaikan dengan ketentuan
TDL dan ketentuan koordinasi relay proteksi
Rekomendasi Solusi
1. Melanjutkan proses update dokumentasi data proteksi beserta assetnya (disesuaikan
dengan form inventaris proteksi yang pernah dikirimkan pada kesempatan pertama)
2. Melanjutkan reseting recloser, relay jaringan, relay penyulang dan relay pelanggan.
Reseting akan dilanjutkan setelah reseting incoming oleh SRB terlaksana (reseting
incoming sesuai notulen rapat proteksi 13-14 April 2009).
3. Mengoptimalkan perabasan dan merutinkan inspeksi terhadap jaringan yang berpotensi
menyebabkan gangguan EF dengan prioritas sepanjang jaringan dari GI sampai recloser I
4. Melakukan pemeliharaan rutin GH terutama inject relay untuk memastikan respon time
relay (dihitung mulai relay merasakan gangguan hingga PMT trip)
5. Menyesuaikan/mengganti jenis relay pelanggan yang tidak sesuai ketentuan

PT. PLN (PERSERO)


DISTRIBUSI BALI

LAPORAN ANALISA DAN EVALUASI


Kinerja Relay Proteksi di Penyulang
Sistem Kelistrikan Bali
April 2009

Source :
- FMKR April 2009
- Update laporan proteksi April 2009
- Laporan gangguan APD (< dan > 5 menit)

Subject

ANEV Proteksi

Tanggal

08 Mei 2009

UNIT : APD BALI

Kondisi existing asset proteksi


: Terupdate
Kondisi Jumlah Gangguan :
- Total (INC dan OG)
: 130 kali (April)
- Menyebabkan trip incoming: 0 kali (April)
- Menyebabkan trip incoming: 2 kali (Maret) -> 2 kali UFR
Analisa
1. % Gangguan Incoming
: 0%
2. % Gangguan Penyulang
: 100 %
3. Indikator Dominan Gangguan : EF
4. Beberapa seting penyulang rendah
Evaluasi
1. Selektifitas kerja relay penyulang terhadap incoming sudah baik
2. Sebagian penyulang tidak bisa dikoordinasikan dengan relay proteksi di sisi hilir
3. Penyebab gangguan penyulang trip didominasi oleh gangguan fasa-tanah.
4. Terjadi penurunan jumlah gangguan incoming dari 2 kali (Maret 09) menjadi 0 kali (April
09),
Rekomendasi Solusi
1. Melakukan pemeliharaan rutin GI terutama inject relay untuk memastikan respon time
relay (dihitung mulai relay merasakan gangguan hingga PMT trip) dan membuat laporan
ke Kantor Induk
2. Melanjutkan reseting relay penyulang untuk dikoordinasikan dengan peralatan proteksi di
sisi hilir dengan tetap mempertimbangkan koordinasi terhadap incoming . Reseting akan
dilanjutkan setelah reseting incoming oleh SRB terlaksana (reseting incoming sesuai
notulen rapat proteksi 13-14 April 2009).
3. Menghindari penggunaan kurva definite untuk seting EF

LAMPIRAN I
SURAT PEMBERITAHUAN
KETIDAKSESUAIAN KERJA
INCOMING-PENYULANG
DARI P3B RJTB

LAMPIRAN J
DOKUMENTASI
PELAKSANAAN RESETING