Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cara penarikan kandungan kimia obat dalam tanaman sangat menentukan
senyawa apa saja yang akan berada dalam ekstrak. Pemilihan cara ekstraksi yang salah
menyebabkan hilangnya ata berkurangnya senyawa kimia berkhasiat yang diinginkan.
Pemahaman tentang sifat zat-zat kimia yang ada dalam tanaman mutlak diperlukan untuk
mendukung pemilihan cara ekstraksi.
Cara ekstraksi sangat beragam, disesuaikan dengan sifat simplisia, kandungan
kimia di dalamnya dan ketersediaan alat ekstraksi. Dalam praktikum ini akan dilakukan
ekstraksi dengan cara panas dan cara dingin yaitu infuse, dekok, rebusan, dan maserasi.
Infuse, dekok, dan rebusan merupakan sediaan galenika dan cara ekstraksi yang sering
diaplikasikan di masyarakat. Sedangkan maserasi merupakan cara ekstraksi yang sering
diaplikasikan dalam penelitian pendahuluan khasiat tanaman obat.
1.2 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami cara pembuatan infus, dekok, rebusan, dan maserasi
serta hal-hal yang harus diperhatikan.
2. Mahasiswa mampu membuat ekstrak kering/kental yang berasal dari simplisia dengan
cara infundasi, dekoktasi, rebusan, dan maserasi.
3. Mahasiswa mengetahui perbedaan cara pembuatan ekstrak secara infundasi,
dekoktasi, rebusan, dan maserasi.
4. Mahasiswa mengetahui perbandingan rendemen ekstrak kunyit secara infus, dekok,
rebusan dan maserasi.
1.3 Manfaat
Menambah wawasan, melatih keterampilan dalam melakukan ekstraksi, dan
mendapatkan perbandingan ekstraksi mana yang paling baik dan menghasilkan ekstrak
paling besar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Infus, Dekok, dan Rebusan
1

2.1.1 Infus
Infus merupakan sediaan yang dihasilkan dengan cara infundasi. Biasanya berupa
cairan yang langsung diminum sekaligus atau diminum dua atau tiga kali pada hari yang
sama. Ketentuan pembuatan infuse dalam farmakope yaitu satu bagian simplisia untuk 10
bagian infuse atau infuse 10%. Bila simplisia tidak mengandung zat yang berkhasiat
keras. Bila simplisia memiliki zat yang berkhasiat keras, maka ketentuan ini tidak
berlaku. Infuse dibuat dengan cara :
1. Membasahi bahan baku dengan air sebanyak 2x bobotnya (untuk bunga air yang
digunakan sebanyak 4x bobot bahan).
2. Bahan baku ditambah dengan air dan dipanaskan selama 15 menit (dihitung mulai
suhu dalam panic mencapai 90 C) pada suhu 90-98 C, sambil sesekali diaduk.
3. Untuk memindahkan penyarian kadang-kadang perlu ditambahkan bahan kimia,
misalnya asam sitrat untuk infuse kina, kalium atau natrium karbonat untuk infuse
kelembak.
4. Penyaringan dilakukan pada saat cairan masih panas melalui kain flannel. Untuk
mencukupi volume, ditambahkan air mendidih melalui ampasnya.
2.1.2 Dekok
Dekok merupakan sediaan yang dihasilkan dengan cara dekoktasi. Perbedaan
dengan infuse hanya terletak pada lamanya ekstraksi yaitu infuse 15 menit dan dekok 30
menit. Ekstraksi yang lebih lama pada simplisia tertentu dapat meningkatkan kualitas
ekstrak, namun hal tersebut tidak berlaku umum. Penentuan apakah suatu simplisia lebih
baik dibuat infuse atau dekok perlu penelitian lebih lanjut, namun ada panduan dasar yang
dapat dipertimbangkan, yaitu :
Infus
Dekok
Untuk bahan-bahan dasar yang lunak
Untuk bahan-bahan dasar yang keras
Untuk bahan-bahan dasar yang zat-zat Untuk bahan-bahan dasar yang zat-zat

2.1.3

bagiannya tidak cukup tahan pemanasan


bagiannya sangat tahan pemanasan
Untuk bahan-bahan dasar dengan minyak Untuk bahan-bahan dasar tanpa minyak
yang mudah menguap
yang mudah menguap
Untuk bahan-bahan dasar yang banyak
mengandung zat tepung
Rebusan
Rebusan merupakan cara yang penyarian yang sedikit berbeda dengan infuse dan
dekok. Rebusan dilakukan menggunakan panas yang bersumber dari api lngsung bukan
dari penangas air seperti infuse dan dekok. Waktu ekstraksi biasanya lebih lama, namun
2

lamanya ekstraksi belum ada literature pasti yang menentukannya. Umumnya ekstraksi
dihentikan bila miscela sudah mencapai sampai 1/3 bagian dari jumlah awal atau 2-3
bagian pelarut menghasilkan satu bagian ekstrak. Jumlah simplisia disesuaikan dengan
dosis simplisia masing-masing. Waktu yang diperlukan menurut percobaan berkisar
antara 45-60 menit dihitung mulai air mendidih. Cara ini terbatas untuk simplisia yang
tahan pemanasan atau yang tidak mudah rusak karena pemanasan karena suhu ekstraksi
mencapai 100C.
Perbedaan infuse, dekok, dan rebusan antara lain :
Hal yang membedakan
Infus
Dekok
Rebusan
Suhu
90-98C
90-98C
100C
Waktu ekstraksi
15 menit (dari 30 menit (dari 45-60 menit (dari
suhu

mencapai suhu

90C)

mencapai suhu

90C)

100C)

mencapai
atau

bagian menjadi 1
Hasil akhir ekstrak

ditambahkan
pelarut

Sumber panas

ditambahkan

bagian
tidak ditambahkan

sampai pelarut sampai 100 pelarut

100 bagian
penangas air

bagian
penangas air

api langsung

2.2 Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan
cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus
dinding sel, masuk ke dalam rongga sel, melarutkan zat aktif.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang
mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang
dalam cairan penyari. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol
atau pelarut air. Bila cairan penyari digunakan air, maka untuk mencegah timbulnya
kapang dapat ditambahkan bahan pengawet yang diberikan pada awal penyarian.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang
digunakan sederhana dan mudah diusahakan, sedangkan kerugiannya adalah waktu
pengerjaanntya yang lama dan penyariannya kurang sempurna.

Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara: 10 bagian simplisia dengan


derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75
bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil
sesekali diaduk. Setelah 5 hari sari disaring dan ampasnya diperas. Tambahkan cairan
penyari secukupnya pada ampas aduk dan disaring, sehingga diperoleh hasil penyarian
sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya
selama 2 hari, kemudian endapan dipisahkan.
Cara maserasi ini digunakan untuk pembuatan tingtur, jika ingin dibuat ekstrak,
pengerjaannya dilanjutkan dengan memekatkan hasil penyarian tadi. Pemekatan
dilakukan dengan cara penyulingan atau penguapan dengan tekanan rendah pada suhu
50oC sampai konsentrasi yang dikehendaki.
Dalam monografi ekstrak, pembuatan ekstrak kental umumnya dilakukan dengan
cara maserasi menggunakan etanol. Satu bagian serbuk simplisia dimasukkan ke dalam
maserator, ditambah 10 bagian etanol, direndam selama 6 jam sambil sesekali diaduk,
kemudian didiamkan sampai 24 jam. Maserat dipisahkan dan proses diulangi 2 kali
dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Semua maserat dikumpulkan dan diuapkan
dengan penguap vakum hingga diperoleh ekstrak kental. Rendemen yang diperoleh
ditimbang dan dicatat.
Pada penyarian dengan cara maserasi perlu dilakukan pengadukan dengna tujuan
untuk meratakan konsentrasi larutan diluar serbuk simplisia, sehingga dengan
pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sekecilkecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel. Hasil penyarian dengan
cara maserasi perlu dibiarkan selama 2 hari untuk mengendapkan zat-zat yang tidak
diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari. Maserasi dapat dilakukan modifikasi,
misalnya:
1. Digesti
Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu
40o-50oC. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya
tahan terhadap pemanasan.
2. Maserasi dengan mesin pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus-menerus, waktu proses maserasi dapat
dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.
3. Remaserasi
Cairan penyari dibagi 2, seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari
pertama, sesudah diendap tuangkan dan dipasar, ampas dimaserasi lagi dengan cairan
penyari yang kedua.
4. Maserasi melingkar
4

Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak dan
menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara berkesinambungan
melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.
5. Maserasi melingkar bertingkat
Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, karena
pemindahan massa akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi. Maslah ini dapat diatasi
dengan maserasi melingkar bertingkat.
2.3 Kunyit
Tanaman kunyit ( Curcuma domestica val ) merupakan salah satu tanaman obat
tradisional yang banyak dikenal banyak orang. Tanaman ini memiliki nama yang sangat
banyak di daerah masing-masingnya seperti kunir, kuning, cahang, janar dan lainnya.
Tanaman ini dapat tumbuh dengan ketinggian 1300-1600 mdpl, dan curah hujan yang
sangat baik
Klasifikasi tanaman kunyit.
Kingdom : Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas
: Monocotyledonae
Ordo
: Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Genus
: Curcuma
Spesies
: Curcuma domestica val
Tanaman kunyit merupakan tanaman jangka panjang atau tahunan dengan daun
besar berbentuk elips, 3-8 buah, panjang hingga mencapai 85 cm, lebar sampai 25 cm,
pangkal daun meruncing, dan berwarna hijau muda atau tua. Batang tanaman kunyit
adalah semu yang berwarna hijau dan keunguan, tingga batang mencapai 1,60 meter.
Perbungaan tanaman ini muncul dari rimpang, terletak di batang, ibu tangkai bunga
berambut kasar dan rapat. Saat kering memiliki ketebalan mencapai 2-5 mm, panjang 1640 cm, daun kelopak berambut berbentuk lanset dengan panjang 4-8 cm, lebar 2-3,5 cm,
berwarna hijau, berbentuk bulat telur, daun memiliki bagian ujung terbelah-belah. Bentuk
bunga tanaman ini majemuk, mahkota berwarna putih. Bagian dalam berupa rimpang.
Bagian dalam rimpang berwarna kuning jingga atau pusatnya lebih pucat atau warna tidak
jelas.

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Infus, Dekok, dan Rebusan
3.1.1 Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa mampu memahami cara pembuatan infus, dekok, dan rebusan serta halhal yang harus diperhatikan.
2. Mahasiswa mampu membuat ekstrak kering/kental yang berasal dari simplisia dengan
cara infundasi, dekoktasi, dan rebusan.
3. Mahasiswa mengetahui perbedaan cara pembuatan ekstrak secara infundasi,
dekoktasi, dan rebusan.
4. Mahasiswa mengetahui perbandingan rendemen ekstrak kunyit secara infus, dekok,
dan rebusan.
3.1.2 Alat dan Bahan
a. Alat : panci infus, panci dekok, dan panci rebusan, kompor listrik, penangas air,
timbangan simplisia, oven pengering, batang pengaduk, termometer, cawan penguap,
kain saring/flanel, botol infus atau wadah ekstrak, alat-alatgelas lainnya.
b. Bahan : simplisia kunyit dan aquadest
3.1.3 Cara Kerja
1. Timbang serbuk simplisia kunyit kecuali dinyatakan lain 10 bagian untuk 100 bagian
infus. Masukkan ke dalam panci infus.
2. Basahi serbuk simplisia tersebut dengan air ekstrak sebanyak empat kali bobot
simplisia.
3. Tambahkan air secukupnya ( 100 ml). Panaskan dalam penangas air suhu 90-980 C
untuk infus dan dekok dan suhu 1000C untuk rebusan.

4. Panaskan selama 15 menit untuk infus, 30 menit untuk dekok dihitung saat suhu
mencapai 900C dan 45-60 menit untuk rebusan dihitung saat suhu mencapai 100 0C.
(untuk rebusan dapat juga dibuat 3 bagian hingga menjadi satu bagian dengan terlebih
dahulu mengkalibrasi panci infus, kemudian catat waktu yang dibutuhkan).
Pemanasan dilakukan di masing-masing alat. Infus dekok dengan penangas air,
rebusan dengan sumber panas langsung.
5. Saring cairan pada saat panas menggunakan kain flanel, kecuali untuk simplisia yang
mengandung minyak atsiri.
6. Jika perlu ditambahkan air secukupnya melalui ampas hingga diperoleh 200 ml.
(sediaan ini dinamakan infus/dekok).
7. Pindahkan hasil miscella ke dalam cawan penguap (berat kosong cawan uap
ditimbang terlebih dahulu), pekatkan diatas waterbath suku 60 0C hingga kental, dan
pindahkan ke oven pengering hingga menjadi ekstrak kering. Masukkan kedalam
wadah ekstrak, beri identitas meliputi: nama ekstrak, cara pembuatan, tanggal
pembuatan, pemerian, rendemen dan nama kelompok dan simpan dalam desikator.
8. Hitung rendemen ekstrak dengan rumus.
% Rendemen = Berat ekstrak x

100%

Berat simplisia
3.1.4

Hasil dan Pembahasan

a. Hasil Praktikum
Data Praktikum Lokal A Senin Pagi (A4 A5)
Parameter

Infus (A4)

Dekok (A5)

Rebusan (A6)

Berat simplisia

20 gram

20 gram

20 gram

Volume filtrat

200 ml

200 ml

150 ml

Lama penguapan

7 jam 37 menit

7 jam 39 menit

7 jam 30 menit

Berat ekstrak

5,1 gram

4,6 gram

6,3 gram

Bentuk

Lempengan

Serbuk kasar

Kepingan kasar

Bau

Khas kunyit

Khas kunyit

Khas jamu

Warna

Coklat tua

Coklat kehitaman

Coklat tua

% Rendemen

25,5%

23%

31,5%

Pemerian ektrak

Rasa

Data Praktikum Lokal A Senin Siang (B4 B5)


Parameter

Infus (B4)

Dekok (B5)

Rebusan (B6)

Berat simplisia

20 gram

20 gram

20 gram

Volume filtrat

200 ml

200 ml

300 ml

Lama penguapan

10 jam 27 menit

10 jam 41 menit

11 jam 15 menit

Berat ekstrak

5,7 gram

5,9 gram

4,6 gram

Bentuk

Kering

Keras

Keras, kering

Bau

Khas kunyit

Khas kunyit

Khas jamu

Pemerian ektrak

Rasa

Pahit

Warna

Coklat kehitaman

Coklat kehitaman

Coklat kemerahan

% Rendemen

28,5%

29,5%

23%

Data Praktikum Lokal B Rabu Pagi (C4 C5)


Parameter

Infus (C4)

Dekok (C5)

Rebusan (C6)

Berat simplisia

20 gram

20 gram

20 gram

Volume filtrat

195 ml

195 ml

130 ml

Lama penguapan

12 jam

9 jam 14 menit

6 jam 9 menit

Berat ekstrak

4 gram

5,6 gram

11,3 gram

Bentuk

Kering seperti

Serbuk kasar

Lempengan kasar

Bau

kerak
Seperti coklat

Khas kunyit

Khas kunyit

Rasa

asam

Khas kunyit

Pahit khas kunyit

Warna

Kuning-coklat

Coklat kehitaman

Coklat kekuningan

% Rendemen

20%

29,5%

23%

Pemerian ektrak

Data Praktikum Lokal B Rabu Siang (D4 D5)

Parameter

Infus (D4)

Dekok (D5)

Rebusan (D6)

Berat simplisia

20 gram

20 gram

20 gram

Volume filtrat

185 ml

182 ml

177 ml

Lama penguapan

3 jam 27 menit

3 jam 31 menit

4 jam 31 menit

Berat ekstrak

3,2 gram

4.5 gram

4,9 gram

Bentuk

Gumpalan kasar

Serbuk kasar

Serbuk kasar

Bau

Khas kunyit

Khas kunyit

Seperti karamel

Rasa

Sedikit sepat, pahit

Sedikit pahit

Sedikit pahit, asin

Warna

Coklat kekuningan

Coklat kekuningan

Coklat tua

22,5 %

kekuningan
24,50%

Pemerian ektrak

% Rendemen

16%

Rata-rata % Rendemen dari kelompok A D (4-6)


A4-A6

B4-B6

C4-C6

D4-D6

Infus

25,5%

28,5%

20%

16%

22,5%

Dekok

23%

29,5%

28%

22,5%

25,75%

Rebusa

31,5 %

23%

56,5%

24,50

33,875%

n
40.00%
35.00%
30.00%
25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%
INFUS

DEKOK

REBUSAN

b. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kami melakukan ekstraksi simplisia kunyit dengan metode
rebusan. Rebusan adalah cara ekstraksi sederhana yang dapat dilakukan di rumah tangga. Hal
yang pertama kali dilakukan adalah menimbang simplisia kunyit sebanyak 20 gram.
Kemudian menyiapkan aquadest dan peralatan yang akan digunakan. Setelah itu simplisia
kunyit tersebut dimasukkan kedalam panci rebusan dan ditambahkan aquadest sebanyak 600
ml. Kemudian panaskan simplisia kunyit tersebut diatas api langsung hingga volume menjadi
200 ml.
Panaskan larutan selama 45 menit pada suhu 100 0C sambil sesekali diaduk selama 10
menit. Setelah 45 menit kemudian cairan disaring menggunakan kain flanel selagi panas,
peras ampas didalam kain flanel tersebut sampai cairan benar-benar habis. Setelah itu filtrat
yang dihasilkan diukur menggunakan gelas ukur. Pada rebusan, filtrate tidak perlu
ditambahkan pelarut seperti pada infuse dan dekok. Kemudian filtrat dituangkan kedalam
panci stainless (dirumah) untuk diuapkan diatas penangas air. Namun pada saat penguapan di
rumah tidak diketahui tinggi suhunya. Kemudian waktu dicatat dimulai dari awal filtrat mulai
dipanaskan/diuapkan hingga menjadi kering. Setelah diuapkan diatas penangas air kemudian
dikeringkan kembali dengan menggunakan oven sampai terbentuk ekstrak kering. Setelah
diperoleh ekstrak kering, dihitung persentase rendemennya dengan menimbang bobot ekstrak
kering terlebih dahulu. Perhitungan rendemen menggunakan rumus :
% Rendemen = Berat ekstrak x

100%

Berat simplisia
Rendemen dengan cara rebusan yaitu sebesar 24,50%. Berdasarkan grafik rata-rata
jumlah rendemen, dengan cara rebusan diperoleh persentase rendemen terbesar dibandingkan
dengan infus dan dekok
Untuk pembuatan ekstrak dengan cara infus dan dekok simplisia kunyit sebanyak 20
gram ditambahkan dengan air ekstra sebanyak empat kali bobot simplisia (80 ml) untuk
membasahi simplisia, kemudian ditambahkan aquadest sebanyak 200 ml. Setelah itu
dipanaskan dalam penangas air dengan suhu 90-98 0C. Untuk infus pemanasan dilakukan
selama 15 menit dan untuk dekok pemanasan dilakukan selama 45 menit dihitung saat suhu
mencapai 900C. Setelah itu cairan disaring dan dihitung % rendemennya.
Dari ketiga metode ekstraksi yaitu infus, dekok, dan rebusan, yang membedakan
adalah suhu pada saat pemanasan, waktu pemanasan, media pemanasan (untuk infus dan
dekok diatas penangas air, untuk rebusan diatas api langsung). Pada infuse dan dekok setelah
filtrate disaring, jika perlu ditambahkan aquadest melalui ampas apabila volume filtrate tidak
mencapai 200 ml sedangkan untuk rebusan tidak ditambahkan hingga 200 ml.
10

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan ektraksi yaitu, suhu
pada saat pemanasan, waktu pada saat pemanasan dan pengeringan, berhati-hati dalam
pemerasan filtrat, sari yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam agar tidak
ditumbuhi kuman dan kapang, dan perhatikan kebersihan untuk menghindari bertumbuhnya
jamur.
3.2 Maserasi
3.2.1

Tujuan Praktikum
1. Mampu memahami penyarian simplisia dengan cara maserasi dan hal-hal yang harus
diperhatikan dalam menyari simplisia secara maserasi.
2. Mampu membuat ekstrak kering kental dengan cara maserasi.
3. Mengetahui pengaruh perbedaan pelarut dan konsentrasi etanol terhadap rendemen
ekstrak secara maserasi.

3.2.2 Alat dan Bahan


Alat
Bejana maserasi
Wadah penampung maserat
Timbangan simplisia
Waterbath
Cawan penguap
Batang pengaduk
Kain saring/flannel
Wadah ekstrak

Bahan
Aquadest
Etanol konsentrasi 96%
Serbuk simplisia kunyit

3.2.3 Cara Kerja


1. Sebanyak 10 gr serbuk simplisia kunyit dimasukkan kedalam bejana maserasi, lalu 100
ml etanol 96% ditambahkan ke dalamnya.
2. Bejana maserasi dikocok terus menerus selama 6 menit, kemudian didiamkan selama
18 menit (total waktu 24 menit).
3. Maserat disaring menggunakan kertas saring dan ditampung dalam wadah penampung
maserat (erlenmeyer), kemudian 100 ml etanol 96% ditambahkan ke ampas simplisia,
proses ini diulangi dua kali dan akan diperoleh maserat 1,2 dan 3.
4. Maserat 1,2, dan 3 dikumpulkan dan diukur volumenya.
5. Cawan kosong ditimbang beratnya, lalu maserat dituang kedalam cawan. Cawan berisi
maserat diletakkan di atas waterbath, dimana suhu waterbath diatur 65oC.
6. Maserat diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental (volume 10 ml)
7. Ekstrak kental dimasukkan ke dalam wadah ekstrak, diberi identitas meliputi; nama
ekstrak, cara pembuatan, pemerian, rendemen dan nama kelompok, lalu disimpan di
dalam desikator.
11

3.2.4 Hasil dan Pembahasan


a. Hasil
Lokal A Senin 21 September 2015
Kelompok A4-A6
Parameter
Berat Simplisia
Volume Pelarut
Volume Filtrat
Lama Penguapan
Berat Ekstrak
Pemerian Ekstrak
Bentuk
Bau

Etanol 50%
10 gr
300 ml
251 ml
6 jam
4,1 gr

Etanol 70%
10 gr
300 ml
257 ml
4 jam 30 menit
2,8 gr

Etanol 96%
10 gr
300 ml
271 ml
1 jam 25 menit
1,3 gr

Kental
khas kunyit

kental
khas kunyit
cokelat

kental
khas kunyit
cokelat

Warna

cokelat pekat
41 %

kemerahan
21,50%

kemerahan
13%

% Rendemen

Parameter
Berat Simplisia
Volume Pelarut
Volume Filtrat
Lama Penguapan
Berat Ekstrak
Pemerian Ekstrak

Etanol 50%
10 gr
300 ml
263 ml
4 jam 43 menit
4,8 gr

Etanol 70%
10 gr
300 ml
228 ml
4 jam 15 menit
3,4 gr

Bentuk

cair-kental

kental

Bau

khas kunyit
orange-

khas kunyit
cokelat

menggumpal
khas kunyit
cokelat

kecokelatan
48 %

kemerahan
34%

kemerahan
33%

Kelompok B4-B6

Warna
% Rendemen

Etanol 96%
10 gr
300 ml
282 ml
3 jam
3,3 gr
cair

Lokal B Rabu 23 September 2015


Kelompok C4-C6
Parameter
Berat Simplisia
Volume Pelarut
Volume Filtrat
Lama Penguapan
Berat Ekstrak

Etanol 50%
10 gr
300 ml
255,5 ml
6 jam
4,6 gr

Etanol 70%
10 gr
300 ml
270 ml
4 jam 45 menit
4,1 gr

Etanol 96%
10 gr
300 ml
274 ml
1,5 gr
12

Pemerian Ekstrak
Bentuk
Bau

Cair
khas kunyit

Warna

cokelat-kuning

% Rendemen

46 %

kental
khas kunyit
coklat

kental
khas kunyit
merah

keorangenan
41%

kecokelatan
15%

Kelompok D4-D6
Parameter
Berat Simplisia
Volume Pelarut
Volume Filtrat
Lama Penguapan
Berat Ekstrak
Pemerian Ekstrak
Bentuk
Bau

Etanol 50%
10 gr
300 ml
222,5 ml
4 jam 33 menit
4,4 gr

Etanol 70%
10 gr
300 ml
236 ml
4 jam 20 menit
4,9 gr

Kental
khas kunyit

kental

kental

khas kunyit

khas kunyit

pekat
cokelat tua

Warna

pekat

% Rendemen

44 %

orange pekat
49%

Etanol 96%
10 gr
300 ml
265 ml
2 jam
1,9 gr

merah
kecokelatan
19%

Grafik antara Konsentrasi Pelarut dengan % Rendemen rata-rata


Etanol 96% 320
Etanol 70%
Konsentrasi Pelarut
Etanol 50%

2
1

36.38
44.75

0 50
% Rendemen rata-rata

13

b. Pembahasan
Pada praktikum ini, sebanyak 10 gr serbuk simplisia kunyit di maserasi
dengan volume pelarut sebanyak 300 ml yang dilakukan melalui 3 tahapan. Maserasi
adalah proses penyarian sederhana yang dilakukan dengan merendam serbuk
simplisia pada cairan penyari Pertama, sebanyak 10 gr serbuk simplisia kunyit
dimasukkan ke dalam bejana maserasi lalu ditambahkan 100 ml pelarut, pelarut yang
digunakan adalah etanol 96%. Etanol digunakan karena senyawa curcumin yang
bersifat nonpolar dapat larut dalam etanol yang bersifat nonpolar dibandingkan air.
Karena perbedaan konsentrasi di luar dan di dalam sel, cairan penyari akan menembus
dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan
larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam dan di
luar sel, maka larutan yang pekat didesak keluar. Peristiwa ini terjadi berulang
sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.
Kemudian serbuk simplisia direndam selama 24 menit, dimana 6 menit
pertama bejana maserasi dikocok terus menerus dan setelahnya bejana didiamkan
sampai 24 menit. Perendaman dimaksudkan agar zat pengotor dapat mengendap
sedangkan

pengadukan/pengocokan

dilakukan

untuk

meratakan

konsentrasi.

Kemudian, maserat disaring menggunakan kertas saring dan ditampung dalam wadah
penampung maserat (erlenmeyer). Ampas serbuk simplisia ditambahkan pelarut
kembali dengan konsentrasi dan volume yang sama, yaitu etanol 96% sebanyak 100
ml yang bertujuan untuk melarutkan kembali senyawa analit yang tertinggal pada
ampas dan mengendapkan senyawa pengotor saat perendaman kembali. Proses ini
diulangi sebanyak 2 kali. Setelah maserat 1,2, dan 3 diperoleh, masing-masing diukur
volumenya sehingga diperoleh volume filtratnya.
Cawan uap kosong ditimbang, kemudian maserat 1,2, dan 3 dituang ke
dalamnya. Cawan uap berisi maserat 1,2, dan 3 diletakkan diatas waterbath. Suhu
waterbath diatur 65oC dan dicatat waktu awal penguapan. Selama penguapan volume
maserat perlu diperhatikan agar tidak sampai habis. Jika volume maserat di cawan
kira-kira tersisa 10 ml maka penguapan telah selesai. Waktu akhir penguapan dicatat
sehingga diperoleh data lamanya penguapan. Kemudian cawan berisi ekstrak kental
ditimbang, dicatat hasil penimbangannya sehingga diperoleh besar rendemen.
Pada praktikum kali ini, selain etanol 96%, pelarut lain yang digunakan adalah
etanol 50% dan 70%. Cara pengerjaannya sama dengan cara pengerjaan maserasi
menggunakan etanol 96%, hanya berbeda pada konsentrasi pelarutnya. Cara
pengerjaan maserasi yang dilakukan pada praktikum ini merupakan simulasi
14

pengerjaan maserasi. Pengerjaan maserasi yang sesungguhnya dilakukan dengan


merendam serbuk simplisia selama 6 jam, setiap 30 menit dilakukan pengadukan
dengan lama pengadukan 5 menit kemudian didiamkan sampai 24 jam. Namun karena
bahan yang digunakan hanya 10 gram, maka dengan cara simulasi ini simplisia juga
dianggap sudah mencapai koefisien distribusi/partisi sehingga hasil pengerjaannya
tidak terlalu berbeda dengan cara sesungguhnya.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, diperoleh data rendemen sebagai
berikut.
Kelompok
Pelarut
Etanol 50%
Etanol 70%
Etanol 96%

A4-A6

B4-B6

C4-C6

D4-D6

41%
21,50%
13%

48%
34%
33%

46%
41%
15%

44%
49%
19%

RataRata
44,75%
36,375%
20%

Maserasi menggunakan etanol konsentrasi 50% memiliki kisaran rendemen


yang lebih besar dibanding menggunakan etanol konsentrasi 70% dan 96%. Tetapi,
pada kelompok D4-D6, rendemen maserasi menggunakan etanol 50%, lebih kecil
disbanding maserasi menggunakan etanol 70%.
Berdasarkan data rata-rata rendemen, maserasi yang paling baik adalah
maserasi yang menggunakan etanol 50% karena rata-rata rendemennya paling besar.
Selama ekstrasi dengan cara maserasi terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan
seperti cara pengocokan bejana, penyaringan maserat, proses penguapan,
ketersediaan air di waterbath.

15

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1) Berdasarkan praktikum yang dilakukan pada tanggal 21 dan 23 September 2015,
cara ekstraksi yang paling baik adalah cara rebusan karena rendemen yang
diperoleh paling besar diantara cara infus dan dekok, yakni sebesar 33,88% (hasil
perhitungan rata-rata rendemen kelompok A6,B6,C6, dan D6).
2) Rata-rata rendemen ekstraksi cara dekok sebesar 25,75% (hasil perhitungan ratarata rendemen kelompok A5,B5,C5, dan D5)
3) Rata-rata rendemen ekstraksi cara infus sebesar 22,50% (hasil perhitungan ratarata rendemen kelompok A4,B4,C4, dan D4)
4) Urutan cara ekstraksi paling baik adalah rebusan, dekok, lalu terakhir infus karena
rendemen yang dihasilkan rebusan > dekok > infus.
5) Ekstraksi cara infus, dekok, dan rebusan berbeda pada suhu pemanasan, lama
pemanasan, dan sumber api.
Parameter
Suhu
Lama
Sumber api

Infus
90oC
15 menit
Penangas air

Dekok
90oC
30 menit
Penangas air

Rebusan
100oC
45-60 menit
Api langsung

6) Berdasarkan praktikum yang dilakukan pada tanggal 21 dan 23 September 2015,


maserasi yang menghasilkan rendemen paling banyak adalah maserasi
menggunakan etanol 50%, yakni sebesar 44,75% (hasil perhitungan rata-rata
rendemen kelompok A4,B4,C4, dan D4).
7) Rata-rata rendemen maserasi menggunakan pelarut etanol 70% sebesar 36,375%
(hasil perhitungan rata-rata rendemen kelompok A5,B5,C5, dan D5)
8) Rata-rata rendemen maserasi menggunakan pelarut etanol 96% sebesar 20% (hasil
perhitungan rata-rata rendemen kelompok A6,B6,C6, dan D6)
16

9) Urutan cara maserasi paling baik adalah maserasi menggunakan etanol 50%, lalu
etanol 70%, dan terakhir etanol 96%.
10) Perbedaan cara maserasi yang dilakukan hanya terdapat pada konsentrasi pelarut
yang digunakan.
4.2 Saran
1) Pada saat praktikum ekstraksi dengan cara infus,dekok, dan rebusan perlu
diperhatikan beberapa hal sebagai berikut.
a) Suhu saat pemanasan.
b) Cara pemerasan atau penyarian filtrat , menggunakan kain flannel
c) Ketersediaan air di waterbath
d) Filtrat yang sedang diuapkan lebih baik tidak ditinggal begitu saja tetapi dilihat
setiap beberapa jam untuk memastikan apakah filtrate sudah menjadi ekstrak
kering atau belum jangan sampai gosong
2) Pada saat praktikum ekstraksi dengan cara maserasi perlu diperhatikan beberapa
hal sebagai berikut.
a) Cara pengocokan akan mempengaruhi banyak atau tidaknya ekstrak kunyit
yang dapat terlarut.
b) Penyaringan maserat akan mempengaruhi volume akhir filtrat.
c) Proses penguapan juga perlu diperhatikan, pelarut yang digunakan setiap
kelompok memiliki konsentrasi berbeda sehingga lamanya penguapan akan
berbeda.
d) Ketersediaan air di waterbath harus diperhatikan untuk menjaga agar cairan
maserat tidak terlalu kering karena dalam proses maserasi ingin diperoleh
ekstrak kental.

17

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 1993
Anonim, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 1985
Anonim, Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia Volume 1, Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesi, Jakarta, 2004
Tim Penyusun, Serial Buku Ajar Farmasi Fitokimia, Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Jakarta II, 2013
Tim Penyusun, Buku Panduan Praktikum Fitokimia, Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Jakarta II, 2013

18

LAMPIRAN
1. REBUSAN

alat-alat yang digunakan

Penimbangan serbuk kunyit

Penyaringan filtrate

penghalusan serbuk simplisia

proses perebusan

pemerasan filtrate

miscela kunyit

19

Proses penguapan

Pengovenan ekstrak kunyit

ekstrak kering sebelum dikerok

ekstrak kering kunyit

2. MASERASI

Penimbangan serbuk simplisia


Simplisia diberi pelarut etanol 96%

Perendaman simplisia

Penyaringan filtrate

20

Filtrate 1,2, dan 3

Proses penguapan
Penimbangan cawan kosong

penimbangan cawan berisi ekstrak

Ekstrak kental kunyit

Latihan soal infuse, dekok, dan rebusan.


21

1. Sebutkan perbedaan antara infuse, dekok, dan rebusan !


2. Apa yang dimaksud dengan rendemen? Bagaimana cara menghitung rendemen
ekstrak?
3. Cara ekstraksi mana yang memberikan rendemen terbesar dari infuse, dekok, dan
rebusan terhadap simplisia kunyit?
4. Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan pada pembuatan ekstrak secara infuse,
dekok, dan rebusan?
Jawab
1. Perbedaan infuse, dekok, dan rebusan antara lain :
Hal yang membedakan
Infus
Dekok
Rebusan
Suhu
90-98C
90-98C
100C
Waktu ekstraksi
15 menit (dari 30 menit (dari 45-60 menit (dari
suhu

mencapai suhu

90C)

mencapai suhu

90C)

100C)

mencapai
atau

bagian menjadi 1
Hasil akhir ekstrak

ditambahkan
pelarut

sampai pelarut sampai 100 pelarut

100 bagian
penangas air

Sumber panas

ditambahkan

bagian
tidak ditambahkan

bagian
penangas air

api langsung

2. Rendemen ekstrak adalah perbandingan antara jumlah ekstrak yang diperoleh dengan
simplisia awal yang digunakan. Rendemen ekstrak dapat digunakan sebagai parameter
standar mutu ekstrak pada tiap batch produksi maupun parameter efisiensi ekstraksi.
% Rendemen = Berat ekstrak x

100%

Berat simplisia

3. Rata-rata % Rendemen dari kelompok A D (4-6)


A4-A6

B4-B6

C4-C6

D4-D6

Infus

25,5%

28,5%

20%

16%

22,5%

Dekok

23%

29,5%

28%

22,5%

25,75%

Rebusa

31,5 %

23%

56,5%

24,50

33,875%

22

Dari hasil rata-rata rendemen infuse, dekok, dan rebusan diperoleh rendemen terbesar
dengan cara ekstraksi rebusan yaitu 33,875 % sehingga dapat disimpulkan bahwa
hasil rendemen rebusan > dekok > infuse.
4. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan ektraksi yaitu, suhu
pada saat pemanasan, waktu pada saat pemanasan dan pengeringan, berhati-hati
dalam pemerasan filtrat, sari yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam
agar tidak ditumbuhi kuman dan kapang, dan perhatikan kebersihan untuk
menghindari bertumbuhnya jamur.
Latihan soal maserasi
1. Jelaskan hal-hal yang harus diperhatikan pada pembuatan ekstrak secara maserasi!
2. Jelaskan pengaruh perbedaan konsentrasi etanol terhadap nilai rendemen ekstrak
kunyit secara maserasi!
3. Etanol konsentrasi berapa yang memberikan rendemen terbesar dari ekstrak simplisia
kunyit secara maserasi?
4. Bagaimana prinsip pemilihan persentasi etanol sebagai pelarut yang sesuai untuk
simplisia yang digunakan ?
5. Sebutkan keuntungan dan kerugian secara maserasi?
6. Berapa lama waktu rata-rata yang dibutukan untuk menguapkan miscella / filtrat hasil
maserasi hingga menjadi ekstrak kental?
Jawab
1. a. cara pengocokan dan lamanya
b. penyaringan maserat
c. menjaga maserat pada saat pemanasan
d. jaga ketersediaan air di waterbath
e. perhatikan waktu pada saat pengeringan
2. Berdasarkan hasil praktikum, dapat di katakan bahwa semakin kecil konsentrasi dari
etanol yang digunakan untuk ekstraksi, maka semakin besar rendemen yang diperoleh
yaitu rendemen pada etanol konsentrasi 50%= 44,75%, etanol 70%=36,38%, dan
etanol 96%=20%.
3. Etanol 50% yang memberikan rendemen terbesar
4. Prinsip pemilihan peresentase etanol dengan mengetahui monografi zat berkhasiat
pada simplisia yang akan diekstraksi. Jika zat tersebut bersifat kurang larut air,

23

misalnya curcumi. Maka, menggunakan pelarut organik seperti etanol 96%. Semakin
tinggi konsentrasi etanol, maka semakin banyak curcumin yang larut
5. Keuntungan

: - cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah

diusahakan, baik untuk simplisia yang tidak tahan terhadap pemanasan


Kerugian
: pengerjaan lama dan penyarian kurang sempurna (dapatterjadi
kejenuhan cairan penyari sehingga kandungan kimia yang tersisa terbatas)
6. Rata-rata lamanya penguapan miscella
Konsentras

A4-A5

B4-B5

C4-C5

D4-D5

RATA-RATA

i etanol
50%

6 jam

4 jam 43

6 jam

4 jam 33

5 jam 19 menit

70%

4 jam 30

menit
4 jam 15

4 jam 45

menit
4 jam 20

4 jam 27 menit

96%

menit
1 jam 25

menit
3 jam

menit
2 jam

menit
2 jam

2 jam 6 menit

menit

24