Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Vesikolithiasis merupakan batu yang terdapat pada kandung kemih yang terdiri atas
substans yang membentuk kristal seperti kalisum oksalat, fosfat kalisum, asam urat dan
magnesium. Batu dapat menyebabkan obstruksi, infeksi atau edema pada saluran
perkemihan (Copernito, 1990). Vesikolithiasis lebih sering dijumpai di Afrika dan Asia
(terutama Indonesia), sedangkan di Amerika (baik kulit putih maupun kulit hitam) dan
Eropa jarang.
Penyakit ini penyebarannya merata di seluruh dunia akan tetapi utama di daerah
yang dikenal dengan stone belt atau lingkaran batu (sabuk batu). Di Amerika Serikat
dan Eropa hanya 2-10% dari populasi pendudukan yang dapat mengalami penyakit ini.
Tingkat kekambuhan setelah serangan pertama adalah 14%, 39%, dan 52% pada tahun
ke 1, 5, dan 10 secara berurutan. Peningkatan insiden telah dicatat di Amerika Serikat
bagian Tenggara yaitu suatu daerah yang dilalui sabuk batu, internasional : Insiden batu
kandung kemih lebih rendah di negara bukan industri. Di Indonesia merupakan negara
yang dilalui sabuk batu, namun beberapa prevalensi batu urine terdapat di Indonesia
masih belum jelas (Probo, 2004).
Insiden Vesikolitiasis di Indonesia lebih tinggi disebabkan karena diet rendah
protein, tinggi karbohidrat dan dehidrasi kronik. Jumlah penderita Vesikolitiasis di
Rumah Sakit dr Kariadi Semarang mengalami kenaikan yaitu dari tahun 2003 2005
dengan persentase 32,8 % menjadi 39,1 % (Muslim, 2007)
Prevalensi batu kandung kemih pada pria dan wanita di RSUP dr. Karyadi
Semarang, dari 105 penderita didapatan hasil jumlah penderita pria dibandingkan
wanita 4 : 1 (Harry Purwanto, 2004).
Vesikolitiasis yaitu penyakit dimana didapatkan batu di dalam saluran kemih
terutama vesika urinaria, yang dimulai dari kaliks sampai dengan uretra anterior
(Nursalam, 2006). Tanda dan gejala pada Vesikolitiasis yaitu aliran kemih yang
pancarannya tidak kuat atau bahkan hanya menetes dan juga terasa nyeri
(Sjamsuhidajat, 2010). Salah satu tindakan yang dapat dilakukan yaitu pembedahan
1

pada kandung kemih yang disebut dengan vesikolitektomi atau sectio alto. Tindakan ini
dilakukan untuk mengangkat batu yang berada di kandung kemih. Angka bebas batu
pada tindakan ini yaitu 100%. Indikasi dilakukannya pembedahan yaitu jika batu pada
kandung kemih terlalu besar, batu keras, dan penderita kesulitan berkemih melalui
uretra (Muslim, 2007).

1.2 PERUMUSAN MASALAH


Metode dan teknis anestesi apa yang aman dan sebaiknya digunakan pada
proses Vesikolitiasis dalam upaya untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas.
1.1 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui metode anestesi yang aman untuk tindakan vesikolitektomi.


Untuk mengetahui komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan anestesi RASAB.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 VESIKOLITIASIS
2.1.1 ANATOMI dan FISIOLOGI VESIKA URINARIA

Gambar 2.1.1 Anatomi Vesika Urinaria


Vesica

urinaria

(VU)

atau

Kandung

kemih

merupakan

kantong

musculomembranosa yang berfungsi untuk menampung air kemih (urin).


Vesica urinaria ketika tidak sedang terisi oleh urin (kosong) memiliki bagian :
1

Fundus vesicae : sisi berbentuk segitiga dan menghadap ke caudodorsal, berhadapan


dengan rectum. Pada pria dipisahkan dari rectum oleh fascia rectovesicalis yang
meliputi vesicular seminalis dan ampulla ductus deferens. Sedangkan pada wanita

dipisahkan dari rectum oleh fornix, portio supravaginalis


Apex / vertex vesicae : terdapat plica umbilicalis mediana dan lig. Umbilicale
mediana.

Facies Superior : sisi berbentuk segitiga yang dibatasi oleh margo lateral di kedua
sisi lateralnya dan margo posterior di bagian dorsalnya. Terdapat fossa paravesicalis
(lekukan peritoneum di sebelah lateral margo lateral). Pada pria menghadap colon

sigmoid dan lengkung ileum. Sedangkan pada wanita menghadap corpus uteri.
Facies Inferior : diliputi oleh fascia endopelvina. Terbagi atas 2 daerah :
a. Area prostatica : berhadapan langsung dengan prostat. Merupakan tempat
keluarnya urethra.
b. Facies inferolateral : dipisahkan dari sympisis pubis dan corpus os. Pubis oleh
spatium retropubica / cavum retzii.
c. Cervix Vesicae / Collum vesicae : merupakan tempat bertemunya keduafacies
inferolateral. Pada pria menerus pada prostat. Sedangkan pada wanita terletak
di cranial m.pubococcygeus.
d. Angulus posterosuperior : merupakan tempat bertemunya margo lateral dan
margo posterior. Merupakan tempat masuknya ureter.

Vesica urinaria ketika penuh terisi oleh urin akan berbentuk oval dan memiliki bagian :
a. Facies Posterosuperior : bagian ini diliputi oleh peritoneum parietal. Pada pria
dipisahkan dari rectum oleh excavatio retrovesicalis. Sedangkan pada wanita
dipisahkan dari rectum oleh excavation vesicouterina, portio supravaginalis
cervicis uteri, fornix anterior vagina.b
b. Facies Anteroinferior : bagian ini tidak diliputi oleh peritoneum parietal.
c. Facies Lateralis : bagian ini tidak diliputi oleh peritoneum parietal.
Lapisan Vesica Urinaria (VU) dari luar ke dalam : Tunica Serosa (Peritoneum
Parietal) Tela Subserosa (Fascia Endopelvina) Tunica Muscularis (m. detrussor)
Tela Submucosa Tunica Mucosa.

Gambar 2.1 Anatomi Vesika Urinaria


Pada bagian dalam dari Vesica Urinaria terdapat sebuah area yang disebut
dengan Trigonum Lieutaudi. Trigonum Lieutaudi ini dibentuk oleh sepasang ostium
ureteris (lubang tempat masuknya ureter ke dalam VU) dan ostium urethra internum
(OUI). Pada pria trigonum lieutaudi ini akan terfiksasi pada prostat. Sedangkan pada
wanita akan terfiksasi pada dinding anterior vagina. Mucosa pada trigonum Lieutaudi
ini akan melekat erat pada m. Trigonalis.
Fiksasi VU
Ligamentum pada fundus, cervix dan apex vesicae yang merupakan pemadatan
jaringan ikat yang menjadi fascia endopelvina. Terdiri dari lig. Puboprostaticum medial
(wanita : lig. pubovesicalis)

yang didalamnya terdapat m. pubovesicalis, lig.

Puboprostaticum lateral, lig.lateral (lig. Rectovesicalis) yang didalamnya terdapat m.


Rectovesicalis.
Selain itu juga terdapat ligamentum yang merupakan sisa embrional yakni lig.
Umbilicale mediana (sisa dari urachus) dan lig. Umbilicale medialis (obliterasi dari
a.umbilicalis). Selain itu terdapat lipatan peritoneum parietal yakni plica umbilicalis
mediana dan medialis. Diantara kedua lipatan ini terdapat sebuah cekungan peritoneum
yang diliputi oleh fascia endopelvina (fascia pelvis lamina visceralis)

VASKULARISASI & INNERVASI VESICA URINARIA


VU bagian cranial divaskularisasi oleh 2 atau 3 a.vesicalis superior (cabang dari
a. umbilicalis). Sedangkan VU bagian caudal dan cervix divaskularisasi oleh a. vesicalis
inferior. Pada wanita mendapatkan tambahan vaskularisasi dari a. vaginalis. Pada
bagian fundus vesicae pada pria divaskularisasi oleh a. deferentialis dan pada wanita
oleh a. vaginalis dan a. vesicalis inferior. Sedangkan aliran vena nya akan bermuara
pada plexus venosus prostaticus & vesicalis yang akan bermuara pada v.hypogastrica.
VU mendapatkan persarafan simpatik (segmen Thoracal XI Lumbal II) dari
Plexus prostaticus & plexus vesicalis yang berasal dari plexus hipogastricus inferior.
Persarafan ini memberikan fungsi untuk menggiatkan m. spinchter interna dan
menginhibisi m. detrussor serta menghantarkan rasa nyeri dari VU. Selain itu VU juga
mendapatkan persarafan parasimpatik dari n. splanchnicus pelvicus Segmen Sacral IIIV. Perssarafan ini memberikan fungsi untuk merelaksasi sfingter interna, menggiatkan
m.detrussor, menghantarkan peregangan dinding VU dan mengosongkan VU.
2.2 DEFINISI
Vesikolitiasis adalah batu yang ada di vesika urinaria ketika terdapat
defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, dan asam urat
meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat yang secara
normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin (Smeltzer, 2002).
2.3 ETIOLOGI
a. Obstruksi kelenjar prostat yang membesar.
b. Striktur uretra (penyempitan lumen dari uretra).
c. Neurogenik bladder (lumpuh kandung kemih karena lesi pada neuron yang
menginervasi bladder.
d. Benda asing , misalnya kateter.
e. Divertikula,urin dapat tertampung pada suatu kantung di dinding vesika
urinaria.
f. Shistomiasis, terutama oleh Shistoma haemotobium, lesi mengarah keganasan.
Faktor- faktor yang mempengaruhi adanya batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah :
a. Hiperkalsiuria

Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena hiperkalsiuria


idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan
protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau
kelebihan kalsium.
b. Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih,
khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak
lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan masukan protein tinggi.
c. Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu pembentukan
batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.
d. Penurunan jumlah air kemih
Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.Dua faktor yang berhubungan
dengan kejadian vesikolitiasis adalah jumlah air yang diminum dan kandungan
mineral yang berada di dalam air minum tersebut. Pembentukan batu juga
dipengaruhi oleh faktor hidrasi. Pada orang dengan dehidrasi kronik dan asupan
cairan kurang memiliki risiko tinggi terkena vesikolitiasis. Dehidrasi kronik
menaikkan gravitasi air kemih dan saturasi asam urat sehingga terjadi penurunan pH
air kemih (Parivar, 2003). Pengenceran air kemih dengan banyak minum
menyebabkan peningkatan koefisien ion aktif setara dengan proses kristalisasi air
kemih. Banyaknya air yang diminum akan mengurangi rata-rata umur kristal
pembentuk batu saluran kemih dan mengeluarkan komponen tersebut dalam air
kemih. Diusahakan agar keseimbangan air dalam tubuh seperti tabel di bawah ini
(Rose, 1997).
e. Jenis cairan yang diminum
Kandungan mineral dalam air salah satu penyebab vesikolitiasis. Air yang
mengandung sodium karbonat seperti pada soft drink penyebab terbesar timbulnya
batu saluran kemih (Menon, 2002). Dianjurkan minum 2500 ml air per hari atau
minum 250 ml tiap 4 jam ditambah 250 ml tiap kali makan sehingga diharapkan
tubuh menghasilkan 2000 ml air kemih yang cukup untuk mengurangi terjadinya
vesikolitiasis. Banyak ahli berpendapat bahwa yang dimaksud minum banyak untuk
memperkecil kambuh yaitu bila air kemih yang dihasilkan minimal 2 liter per 24
jam (Resnick, 1990).
f. Hiperoksalouria
7

Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini disebabkan
oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, dan penyakit usus
kecil atau akibat reseksi pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.
g. Ginjal Spongiosa Medula
Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak
dijumpai predisposisi metabolik).
h. Batu Asan Urat
Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan
hiperurikosuria (primer dan sekunder).
i. Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan organisme
yang memproduksi urease.
2.4

FAKTOR RESIKO
1. Faktor Intrinsik

Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam individu sendiri. Termasuk
faktor intrinsik adalah umur, jenis kelamin, keturunan, riwayat keluarga.
a. Heriditer/ Keturunan
Riwayat BSK bersifat keturunan, menyerang beberapa orang dalam satu keluarga39.
Penyakit-penyakit heriditer yang menyebabkan BSK antara lain:
1). Dents disease yaitu terjadinya peningkatan 1,25 dehidroksi vitamin D
sehingga penyerapan kalsium di usus meningkat, akibat hiperkalsiuria,
proteinuria,glikosuria,

aminoasiduria

dan

fosfaturia

yang

akhirnya

mengakibatkan batukalsium oksalat dan gagal ginjal.


2). Sindroma Barter, pada keadaan ini terjadi poliuria, berat jenis air kemih
rendah
hiperkalsiuria dan nefrokalsinosis(Rivers, 2000).
b. Umur
BSK banyak terdapat pada golongan umur 30-60 tahun1. Hasil penelitian yang
dilakukan terhadap penderita BSK di RS DR Kariadi selama lima tahun (1989-1993),
frekuensi terbanyak pada dekade empat sampai dengan enam(Herman, 1995).
c. Jenis kelamin
Kejadian BSK berbeda antara laki-laki dan wanita. Pada laki-laki lebih sering terjadi
dibanding wanita 3:141. Khusus di Indonesia angka kejadian BSK yang sesuangguhnya
8

belum diketahui, tetapi diperkirakan paling tidak terdapat 170.000 kasus baru per
tahun(Syabani, 2001).
2. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar individu seperti iklim,
pekerjaan, serta gaya hidup seseorang.
a. Faktor Iklim dan cuaca
Faktor iklim dan cuaca tidak berpengaruh secara langsung namun ditemukan tingginya
batu saluran kemih pada lingkungan bersuhu tinggi. Temperatur yang tinggi akan
meningkatkan keringat dan meningkatkan konsentrasi air kemih. Konsentrasi air kemih
yangmeningkat akan meningkatkan pembentukan kristal air kemih. Pada orang yang
mempunyai kadar asam urat tinggi akan lebih berisiko.
b.

Jenis pekerjaan

Kejadian BSK lebih banyak terjadi pada pegawai administrasi dan orangorang
yang banyak duduk dalam melakukan pekerjaannya karena mengganggu
proses metabolisme tubuh1.
c.

Kebiasaan menahan buang air kemih

Kebiasaan menahan buang air kemih akan menimbulkan stasis air kemih yang dapat
berakibat timbulnya Infeksi Saluran Kemih (ISK). ISK yang disebabkan kuman
pemecah urea sangat mudah menimbulkan jenis batu struvit. Selain itu dengan adanya
stasis air kemih maka dapat terjadi pengendapan kristal1.
2.5.

MANIFESTASI KLINIS
Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi dan

berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada
leher kandung kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi
ini lebih serius yang dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda
seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung (Smeltzer, 2002)
a. Dapat tanpa keluhan
b. Sakit berhubungan dengan kencing (terutama diakhir kencing)

c. Lokasi

sakit

terdapat

di

pangkal

penis

atau

suprapubis

kemudian dijalarkan ke ujung penis (pada laki-laki) dan klitoris


(pada wanita).
d. Terdapat hematuri pada akhir kencing
e. Disuria (sakit ketika kencing) dan frequensi (sering kebelet
kencing walaupun VU belum penuh).
f. Aliran urin berhenti mendadak bila batu menutup orificium
uretra interna.

2.6

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi

pemeriksaan:
a. Urinalisis
1. Warna kuning, coklat atau gelap.
2. pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting,
organisme

dapat

berbentuk

batu

magnesium

amonium

phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu


asam urat.
3. Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada
penderita dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih
akan meningkat.
4. Biakan Urin : Untuk

mengetahui

adanya

bakteri

yang

berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.


5. Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat
apakah terjadi hiperekskresi.
b. Pemeriksaan imaging
Pemeriksaan radiologis yang digunakan harus dapat memvisualisasikan saluran
kemih yaitu ginjal, ureter dan vesika urinaria (KUB). Tetapi pemeriksaan ini
mempunyai kelemahan karena hanya dapat menunjukkan batu yang
radioopaque. Batu asam urat dan ammonium urat merupakan batu yang
radiolucent. Tetapi batu tersebut terkadang dilapisi oleh selaput yang berupa
calsium sehingga gambaran akhirnya radioopaque. Pelapisan adalah hal yang
sering, biasanya lapisan tersebut berupa sisa metabolik, infeksi dan disebabkan
hematuria sebelumnya.
10

2.7

PENATALAKSAAN
A. Terapi Konservatif
Indikasi :
- Batu asimtomatik, tanpa obstruksi dan tanpa infeksi.
- Diameter < 4 mm
- Tujuannya untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urine dengan
pemberian diuretikum dan minum banyak supaya dapat mendorong batu
-

keluar.
Minum yang banyak sehingga diuresis 2 L/hari
Inj cefotaxime 2x1 gr

B. Terapi operatif
Batu buli-buli (vesikolitiasis)
1. EHL (Elektrohidrolik)
- merupakan salah satu sumber energi yang cukup kuat untuk menghancurkan batu
kandung kemih.
- Tidak dianjurkan pada batu yang keras dan besar.
2. Litotripsi
- cukup aman digunakan pada batu kandung kemih
- batu buli-buli dengan ukuran < 2.5 cm
3. Vesikolitotomi
- Batu buli-buli yang berukuran lebih dari 2,5 cm pada orang dewasa dan
-

semua ukuran pada anak-anak.


Batu buli-buli yang tidak dapat dipecahkan dengan lithotriptor
Batu buli-buli multiple

4. ESWL
- Batu dengan diameter 5-20 mm
- Fungsi ginjal masih baik
- Umumnya dilakukan lebih dari satu kali untuk batu kandung kemih
2.8
2.8.1

VESIKOLITOTOMI
DEFENISI
Vesikolitotomi adalah pembedahan untuk mengeluarkan batu dari buli-buli

dengan membuka buli-buli dari arterior.

2.8.2

INDIKASI
11

Batu buli-buli yang berukuran lebih dari 2,5 cm pada orang dewasa dan semua
ukuran pada anak-anak.
2.9 RA SAB
2.9.1

DEFENISI
Anestesi blok subaraknoid atau biasa disebut anestesi spinal adalah tindakan

anestesi dengan memasukan obat analgetik kedalam ruang subaraknoid di daerah


vertebra lumbalis yang kemudian akan terjadi hambatan rangsang sensoris mulai dari
vertebra thorakal 4.
2.9.2

INDIKASI
Untuk pembedahan,daerah tubuh yang dipersyarafi cabang T4 kebawah (daerah

papila mamae kebawah ). Dengan durasi operasi yang tidak terlalu lama, maksimal 2-3
jam.
2.9.3

KONTRA INDIKASI
Kontra indikasi pada teknik anestesi subaraknoid blok terbagi menjadi dua yaitu

kontra indikasi absolut dan relatif.


A. KONTRA INDIKASI ABSOLUT
Infeksi pada tempat suntikan: Infeksi pada sekitar tempat suntikan bisa

menyebabkan penyebaran kuman ke dalam rongga subdural.


Hipovolemia berat karena dehidrasi, perdarahan, muntah ataupun diare. :

Karena pada anestesi spinal bisa memicu terjadinya hipovolemia.


Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan.
Tekanan intrakranial meningkat: dengan memasukkan obat kedalam rongga
subaraknoid, maka bisa makin menambah tinggi tekanan intracranial, dan

bisa menimbulkan komplikasi neurologis


Fasilitas resusitasi dan obat-obatan yang minim: pada anestesi spinal bisa
terjadi komplikasi seperti blok total, reaksi alergi dan lain-lain, maka harus

dipersiapkan fasilitas dan obat emergensi lainnya


Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi: Hal ini dapat
menyebabkan kesalahan seperti misalnya cedera pada medulla spinalis,

keterampilan dokter anestesi sangat penting.


Pasien menolak.

12

B. KONTRA INDIKASI RELATIF


Infeksi sistemi : jika terjadi infeksi sistemik, perlu diperhatikan apakah
diperlukan pemberian antibiotic. Perlu dipikirkan kemungkinan penyebaran

infeksi.
Infeksi sekitar tempat suntikan : bila ada infeksi di sekitar tempat suntikan

bisa dipilih lokasi yang lebih kranial atau lebih kaudal.


Kelainan neurologis
: perlu dinilai kelainan neurologis sebelumnya
agar tidak membingungkan antara efek anestesi dan deficit neurologis yang

sudah ada pada pasien sebelumnya.


Kelainan psikis
Bedah lama
: Masa kerja obat anestesi local adalah kurang lebih 90120 menit, bisa ditambah dengan memberi adjuvant dan durasi bisa

bertahan hingga 150 menit.


Penyakit jantung : perlu dipertimbangkan jika terjadi komplikasi kea rah

jantung akibat efek obat anestesi local.


Hipovolemia ringan
: sesuai prinsip obat anestesi, memantau terjadinya

hipovolemia bisa diatasi dengan pemberian obat-obatan atau cairan


Nyeri punggung kronik : kemungkinan pasien akan sulit saat diposisikan.
Hal ini berakibat sulitnya proses penusukan dan apabila dilakukan
berulang-ulang, dapat membuat pasien tidak nyaman
2.9.4

STRUKTUR ANATOMI VERTEBRA

13

Tulang vertebra terdri dari 33 tulang: 7 buah tulang servikal, 12 buah tulang
torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sakral. Tulang servikal, torakal dan lumbal
masih tetap dibedakan sampai usia berapapun, tetapi tulang sakral dan koksigeus satu
sama lain menyatu membentuk dua tulang yaitu tulang sakum dan koksigeus.
Kolumna vertebralis mempunyai lima fungsi utama, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

menyangga berat kepala dan dan batang tubuh,


melindungi medula spinalis,
memungkinkan keluarnya nervi spinalis dari kanalis spinalis,
tempat untuk perlekatan otot-otot,
memungkinkan gerakan kepala dan batang tubuh
Tulang vertebra secara gradual dari cranial ke caudal akan membesar sampai

mencapai maksimal pada tulang sakrum kemudian mengecil sampai apex dari
tulang koksigeus. Struktur demikian dikarenakan beban yang harus ditanggung
semakin membesar dari cranial hingga caudalsampai kemudian beban tersebut
ditransmisikan menuju tulang pelvis melalui articulatio sacroilliaca.
Korpus vertebra selain dihubungkan oleh diskus intervertebralis juga oleh suatu
persendian sinovialis yang memungkinkan fleksibilitas tulang punggung, kendati hanya
memungkinkan pergerakan yang sedikit untuk mempertahankan stabilitas kolumna
vertebralis guna melindungi struktur medula spinalis yang berjalan di dalamnya.
Stabilitas kolumna vertebralis ditentukan oleh bentuk dan kekuatan masing-masing
vertebra, diskus intervertebralis, ligamen dan otot-otot.
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan anestesi subaraknoid
adalah lokasi medulla spinalis didalam kolumna vertebralis.Medulla spinalis berjalan
mulai dari foramen magnum kebawah hingga menuju ke konus medularis (segmen
akhir medulla spinalis sebelum terpecah menjadi kauda equina).Penting diperhatikan
bahwa lokasi konus medularis bervariasi antara vertebra T12 hingga L1.
Memperhatikan susunan anatomis dari vertebra, ada beberapa landmark yang
lazim digunakan untuk memperkirakan lokasi penting pada vertebra, diantaranya adalah
:
1. Vertebra C7 : Merupakan vertebra servikal dengan penonjolan yang paling
terlihat di daerah leher.
2. Papila Mamae : Lokasi ini kurang lebih berada di sekitar vertebra torakal 3-4
3. Epigastrium : Lokasi ini kurang lebih berada di sekitar vertebra torakal 5-6
4. Umbilikus : Lokasi ini berada setinggi vertebra torakal 10
14

5. Krista Iliaka : Lokasi ini berada setinggi kurang lebih vertebra lumbalis 4-5

Gambar 2 : Perjalanan Medulla Spinalis pada Kolumna Vertebralis

Berikut adalah susunan anatomis pada bagian yang akan dilakukan anestesi
spinal.
a. Kutis
b. Subkutis
15

Ketebalannya berbeda-beda, akan lebih mudah mereba ruang intervertebralis


pada pasien yang memiliki lapisan subkutis yang tipis.
c. Ligamentum Supraspinosum
Ligamen yang menghubungkan ujung procesus spinosus.
d. Ligamentum interspinosum
e. Ligamentum flavum
Ligamentum flavum cukup tebal, sampai sekitar 1 cm. Sebagian besar terdiri
dari jaringan elastis. Ligamen ini berjalan vertikal dari lamina ke lamina. Ketika
jarum berada dalam ligamen ini, akan terasa sensasi mencengkeram dan
berbeda. Sering kali bisa kita rasakan saat melewati ligamentum dan masuk
keruang epidural.
f. Epidural
Ruang epidural berisi pembuluh darah dan lemak. Jika darah yang keluardari
jarum spinal bukan CSF, kemungkinan vena epidural telah tertusuk. Jarum
spinal harus maju sedikit lebih jauh.
g. Duramater
Sensasi yang sama mungkin akan kita rasakan saat menembus duramater seperti
saat menembus epidural.
h. Subarachnoid
merupakan tempat kita akan menyuntikkan obat anestesi spinal. Padaruangan ini
akan dijumpai likuor sereberospinalis (LCS) pada penusukan.
Gambar 4 : Susunan Anatomi ligament vertebra[6]

Pembuluh darah pada daerah tusukan juga perlu diperhatikan, terdapat arteri dan
vena yang lokasinya berada di sekitar tempat tusukan.Terdapat arteri Spinalis posterior
16

yang memperdarahi 1/3 bagian posterior medulla.Arteri spinalis anterior memperdarahi


2/3 bagian anterior medulla.Terdapat juga adreti radikularis yang memperdarahi
medulla, berjalan di foramen intervertebralis memperdarahi radiks.Sistem vena yang
terdapat di medulla ada 2 yaitu vena medularis anterior dan posterior.
Gambar 5 : Sistem Vaskular Medula Spinalis

2.9.5

PERSIAPAN ANESTESI
Persiapan yang diperlukan untuk melakukan anestesi spinal lebih sederhana

dibanding melakukan anestesi umum, namun selama operasi wajib diperhatikan karena
terkadang jika operator menghadapi penyulit dalam operasi dan operasi menjadi lama,
maka sewaktu-waktu prosedur secara darurat dapat diubah menjadi anestesi umum.
Persiapan yang dibutuhkan untuk melakukan anestesi spinal adalah ;

Informed consent : Pasien sebelumnya diberi informasi tentang tindakan ini


(informed consent) meliputi tindakan anestesi, kemungkinan yang akan terjadi

selama operasi tindakan ini dan komplikasi yang mungkin terjadi.


Pemeriksaan fisik: Pemeriksaan fisik dilakukan meliputi daerah kulit tempat
penyuntikan untuk menyingkirkan adanya kontraindikasi seperti infeksi.
Perhatikan juga adanya gangguan anatomis seperti scoliosis atau kifosis,atau
pasien terlalu gemuk sehingga tonjolan processus spinosus tidak teraba.
17

Pemeriksaan laboratorium anjuran: Pemeriksaan laboratorium yang perlu


dilakukan adalah penilaian hematokrit, Hb , masa protrombin (PT) dan masa
tromboplastin parsial (PTT) dilakukan bila diduga terdapat gangguan
pembekuan darah.
Persiapan yang dibutuhkan setelah persiapan pasien adalah persiapan alat dan

obat-obatan. Peralatan dan obat yang digunakan adalah :


1. Satu set monitor untuk memantau tekanan darah, Pulse oximetri, EKG.
2. Peralatan resusitasi / anestesia umum.
3. Jarum spinal. Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bambu
runcing,quincke bacock) atau jarum spinal dengan ujung pinsil (pencil point
4.
5.
6.
7.
8.

whitecare), dipersiapkan dua ukuran. Dewasa 26G atau 27G


Betadine, alkohol untuk antiseptic.
Kapas/ kasa steril dan plester.
Obat-obatan anestetik lokal.
Spuit 3 ml dan 5 ml.
Infus set.

Gambar 6 : Jenis Jarum Spinal[7]

2.9.6

OBAT OBATAN PADA ANASTESI SPINAL


Obat-obatan pada anestesi spinal pada prinsipmnya merupakan obat anestesi

local. Anestetik local adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan pada
jaringan saraf dengan kadar cukup. Paralisis pada sel saraf akibat anestesi local bersifat
reversible.

18

Obat anestesi local yang ideal sebaiknya tidak bersifat iritan terhadap jaringan
saraf.Batas keamanan harus lebar, dan onset dari obat harus sesingkat mungkin dan
masa kerja harus cukup lama. Zat anestesi local ini juga harus larut dalam air.
Terdapat dua golongan besar pada obat anestesi local yaitu golongan amid dan
golongan ester. Keduanya hampir memiliki cara kerja yang sama namun hanya berbeda
pada struktur ikatan kimianya. Mekanisme kerja anestesi local ini adalah menghambat
pembentukan atau penghantaran impuls saraf. Tempat utama kerja obat anestesi local
adalah di membrane sel. Kerjanya adalah mengubah permeabilitas membrane pada
kanal Na+ sehingga tidak terbentuk potensial aksi yang nantinya akan dihantarkan ke
pusat nyeri.
Berat jenis cairan cerebrospinalis pada 370 C adalah 1.003-1.008. Anastetik local
dengan berat jenis sama dengan LCS disebut isobaric. Anastetik local dengan berat
jenis lebih besar dari LCS disebut hiperbarik. Anastetik local dengan berat jenis lebih
kecil dari LCS disebut hipobarik. Anastetik local yang sering digunakan adalah jenis
hiperbarik diperoleh dengan mencampur anastetik local dengan dextrose. Untuk jenis
hipobarik biasanya digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air
injeksi.
Berikut adalah beberapa contoh sediaan yang terdapat di Indonesia dan umum
digunakan.

Lidokaine 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis 1.003, sifat hyperbaric, dosis
20-50 mg (1-2ml).

Bupivakaine 0.5% dalam air: berat jenis 1.005, sifat isobaric, dosis 5-20 mg.

Bupivakaine 0.5% dalam dextrose 8.25%: berat jenis 1.027, sifat hiperbarik,
dosis 5-15 mg(1-3 ml).
Obat Anestesi local memiliki efek tertentu di setiap system tubuh

manusia.Berikut adalah beberapa pengaruh pada system tubuh yang nantinya harus
diperhatikan saat melakukan anesthesia spinal.

19

1. Sistem Saraf: Pada dasarnya sesuai dengan prinsip kerja dari obat anestesi local,
menghambat terjadinya potensial aksi. Maka pada system saraf akan terjadi
paresis sementara akibat obat sampai obat tersebut dimetabolisme.
2. Sistem Respirasi: Jika obat anestesi local berinteraksi dengan saraf yang
bertanggung jawab untuk pernafasan seperti nervus frenikus, maka bisa
menyebabkan gangguan nafas karena kelumpuhan otot nafas.
3. Sistem Kardiovaskular: Obat anestesi local dapat menghambat impuls saraf. Jika
impuls pada system saraf otonom terhambat pada dosis tertentu, maka bisa
terjadi henti jantung. Pada dosis kecil dapat menyebabkan bradikardia. Jika
dosis yang masuk pembuluh darah cukup banyak, dapat terjadi aritmia,
hipotensi, hingga henti jantung. Maka sangat penting diperhatikan untuk
melakukan aspirasi saat menyuntikkan obat anestesi local agar tidak masuk ke
pembuluh darah.
4. Sistem Imun: Karena anestesi local memiliki gugus amin, maka memungkinkan
terjadi reaksi alergi. Penting untuk mengetahui riwayat alergi pasien. Pada
reaksi local dapat terjadi reaksi pelepasan histamine seperti gatal, edema,
eritema. Apabila tidak sengaja masuk ke pembuluh darah, dapat menyebabkan
reaksi anafilaktik.
5. Sistem Muskular: obat anestetik local bersifat miotoksik. Apabila disuntikkan
langsung kedalam otot maka dapat menimbulkan kontraksi yang tidak teratur,
bisa menyebabkan nekrosis otot.
6. Sistem Hematologi: obat anestetik dapat menyebabkan gangguan pembekuan
darah. Jika terjadi perdarahan maka membutuhkan penekanan yang lebih lama
saat menggunakan obat anestesi local.
Dalam penggunaan obat anestesi local, dapat ditambahkan dengan zat lain atau
adjuvant. Zat tersebut mempengaruhi kerja dari obat anestesi local khususnya pada
anestesi spinal. Tambahan yang sering dipakai adalah :
1. Vasokonstriktor: Vasokonstriktor sebagai adjuvant pada anestesi spinal dapat
berfungsi sebagai penambah durasi. Hal ini didasari oleh mekanisme kerja obat
anestesi local di ruang subaraknoid. Obat anestesi local dimetabolisme lambat di
dalam rongga subaraknoid. Dan proses pengeluarannya sangat bergantung
kepada pengeluaran oleh vena dan saluran limfe. Penambahan obat
vasokonstriktor

bertujuan

memperlambat

clearance

obat

dari

rongga

subaraknoid sehingga masa kerja obat menjadi lebih lama.


20

2. Obat Analgesik Opioid: digunakan sebagai adjuvant untuk mempercepat onset


terjadinya fase anestetik pada anestesi spinal. Analgesic opioid misalnya
fentanyl adalah obat yang sangat cepat larut dalam lemak. Hal ini sejalan
dengan struktur pembentuk saraf adalah lemak. Sehingga penyerapan obat
anestesi local menjadi semakin cepat. Penelitian juga menyatakan bahwa
penambahan analgesic opioid pada anestesi spinal menambah efek anestesi postoperasi.
3. Klonidin: Pemberian klonidin sebagai adjuvant pada anestesi spinal dapat
menambah durasi pada anestesi. Namun perlu diperhatikan karena klonidin
adalah obat golongan Alfa 2 Agonis, maka harus diwaspadai terjadinya
hipotensi akibat vasodilatasi dan penurunan heart rate.

Dosis obat anestesi regional yang lazim digunakan untuk melakukan anestesi
spinal terdapat pada table dibawah ini.
Tabel 1 : Dosis Obat Untuk Anestesi Spinal

2.9.7

TEHNIK ANESTESI SPINAL


Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis

tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas meja
operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien.
Berikut adalah prosedur pelaksanaan teknik anestesi spinal:

21

1. Pasang IV line. Berikan Infus Dextrosa/NaCl/Ringer laktat sebanyak 500 - 1500


ml (pre-loading).
2. Oksigen diberikan dengan kanul hidung 2-4 L/Menit
3. Setelah dipasang alat monitor, pasien diposisikan dengan baik. Dapat
menggunakan 2 jenis posisi yaitu posisi duduk dan berbaring lateral.
4. Raba krista. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka
dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-L5.
5. Palpasi di garis tengah akan membantu untuk mengidentifikasi ligamen
interspinous.
6. Cari ruang interspinous cocok. Pada pasien obesitas anda mungkin harus
menekan cukup keras untuk merasakan proses spinosus.
7. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol.
8. Beri anastesi lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml
9. Cara tusukan adalah median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G,
23G atau 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk jarum kecil 27G
atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu jarum
suntik biasa yaitu jarum suntik biasa 10cc. Jarum akan menembus kutis,
subkutis, ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum, ligamentum
flavum, epidural, duramater, subarachnoid. Setelah mandrin jarum spinal
dicabut, cairan serebrospinal akan menetes keluar. Selanjutnya disuntikkan obat
analgesik ke dalam ruang arachnoid tersebut.
Gambar 7 : Posisi Lateral pada Spinal Anestesi[7]

22

Gambar 8 : Posisi Duduk pada Spinal Anestesi[7]

Teknik penusukan bisa dilakukan dengan dua pendekatan yaitu median dan
paramedian.Pada teknik medial, penusukan dilakukan tepat di garis tengah dari sumbu
tulang belakang. Pada tusukan paramedial, tusukan dilakukan 1,5cm lateral dari garis
tengah dan dilakukan tusukan sedikit dimiringkan ke kaudal.
Gambar 9 : Tusukan Medial dan Paramedial

23

Setelah melakukan penusukan, tindakan berikutnya adalah melakukan


monitoring. Tinggi anestesi dapat dinilai dengan memberikan rangsang pada dermatom
di kulit.Penilaian berikutnya yang sangat bermakna adalah fungsi motoric pasien
dimana pasien merasa kakinya tidak bisa digerakkan, kaki terasa hangat, kesemutan,
dan tidak terasa saat diberikan rangsang.Hal yang perlu diperhatikan lagi adalah
pernapasan, tekanan darah dan denyut nadi.Tekanandarah bisa turun drastis akibat
spinal anestesi, terutama terjadi pada orang tua yang belumdiberikan loading cairan.
Hal itu dapat kita sadari dengan melihat monitor dan keadaan umumpasien. Tekanan
darah pasien akan turun, kulit menjadi pucat, pusing,mual, berkeringat.
Gambar 10 : Lokasi Dermatom Sensoris

2.9.8

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANESTESI SPINAL

Anestesia spinal dipengaruhi oleh beberapa factor. Diantaranya adalah :

Volume obat analgetik lokal: makin besar makin tinggi daerah analgesia

Konsentrasi obat: makin pekat makin tinggi batas daerah analgesia

Barbotase: penyuntikan dan aspirasi berulang-ulang meninggikan batas daerah


analgetik.

Kecepatan: penyuntikan yang cepat menghasilkan batas analgesia yang tinggi.


Kecepatan penyuntikan yang dianjurkan: 3 detik untuk 1 ml larutan.

Maneuver valsava: mengejan meninggikan tekanan liquor serebrospinal dengan


akibat batas analgesia bertambah tinggi.

24

Tempat pungsi: pengaruhnya besar pada L4-5 obat hiperbarik cenderung


berkumpul ke kaudal (saddle blok) pungsi L2-3 atau L3-4 obat cenderung
menyebar ke cranial.

Berat jenis larutan: hiperbarik, isobarik atau hipobarik

Tekanan abdominal yang meningkat: dengan dosis yang sama didapat batas
analgesia yang lebih tinggi.

Tinggi pasien: makin tinggi makin panjang kolumna vertebralis makin besar
dosis yang diperlukan.(BB tidak berpengaruh terhadap dosis obat)

Waktu: setelah 15 menit dari saat penyuntikan, umumnya larutan analgetik


sudah menetap sehingga batas analgesia tidak dapat lagi diubah dengan posisi
pasien.[3]

2.9.9

KOMPLIKASI TINDAKAN
Saat melakukan anestesi spinal ada beberapa komplikasi yang harus

diperhatikan.Sesuai dengan kerja obat dan pengaruhnya pada sistem tubuh seperti.
Beberapa komplikasi tersebut diantaranya adalah:
A. KARDIOVASKULAR
Insiden terjadi hipotensi akibat anestesi spinal adalah 10-40%. Hipotensi terjadi
karena vasodilatasi, akibat blok simpatis, yang menyebabkan terjadi penurunan tekanan
arteriola sistemik dan vena, makin tinggi blok makin berat hipotensi. Cardiac output
akan berkurang akibat dari penurunan venous return. Hipotensi yang signifikan harus
diobati dengan pemberian cairan intravena yang sesuai dan penggunaan obat vasoaktif
seperti efedrin atau fenilefedrin.Cardiac arrest pernah dilaporkan pada pasien yang
sehat pada saat dilakukan anestesi spinal.Henti jantung bisa terjadi tiba-tiba biasanya
karena terjadi bradikardia yang berat walaupun hemodinamik pasien dalam keadaan
yang stabil. Pada kasus seperti ini,hipotensi atau hipoksia bukanlah penyebab utama
dari cardiac arrest tersebut tapi ia merupakan dari mekanisme reflek bradikardi dan
asistol yang disebut reflek Bezold-Jarisch. Pencegahan hipotensi dilakukan dengan
memberikan infuse cairan kristaloid (NaCl, Ringerlaktat) secara cepat sebanyak 1015ml/kgbb dalam 10 menit segera setelah penyuntikan anesthesia spinal. Bila dengan
cairan infuse cepat tersebut masih terjadi hipotensi harus diobati dengan vasopressor
seperti efedrin intravena sebanyak 19 mg diulang setiap 3-4 menit sampai mencapai
25

tekanan darah yang dikehendaki. Bradikardia dapat terjadi karena aliran darah balik
berkurang atau karena blok simpatis,dapat diatasi dengan sulfas atropine 1/8-1/4mg IV.
B. BLOK TINGGI ATAU TOTAL
Anestesi spinal tinggi atau total terjadi karena akibat dari kesalahan perhitungan
dosis yang diperlukan untuk satu suntikan. Komplikasi yang bisa muncul dari hal ini
adalah hipotensi, henti nafas, penurunan kesadaran, paralisis motor, dan jika tidak
diobati bisa menyebabkan henti jantung. Akibat blok simpatetik yang cepat dan dilatasi
arterial dan kapasitas pembuluh darah vena, hipotensi adalah komplikasi yang paling
sering terjadi pada anestesi spinal. Hal ini menyebabkan terjadi penurunan sirkulasi
darah ke organ vital terutama otak dan jantung, yang cenderung menimbulkan sequel
lain. Penurunan sirkulasi ke serebral merupakan faktor penting yang menyebabkan
terjadi henti nafas pada anestesi spinal total. Walau bagaimanapun, terdapat
kemungkinan pengurangan kerja otot nafas terjadi akibat dari blok pada saraf somatic
interkostal. Aktivitas saraf phrenikus biasanya dipertahankan.Berkurangnya aliran darah
ke serebral mendorong terjadinya penurunan kesadaran. Jika hipotensi ini tidak di atasi,
sirkulasi jantung akan berkurang seterusnya menyebabkan terjadi iskemik miokardiak
yang mencetuskan aritmia jantung dan akhirnya menyebakan henti jantung. Pengobatan
yang cepat sangat penting dalam mencegah terjadinya keadaan yang lebih serius, termasuk
pemberian cairan, vasopressor, dan pemberian oksigen bertekanan positif.Setelah
tingkat anestesi spinal berkurang, pasien akan kembali ke kedaaan normal seperti
sebelum operasi. Namun, tidak ada sequel yang permanen yang disebabkan oleh
komplikasi ini jika diatasi dengan pengobatan yang cepat dan tepat.
C. SISTEM RESPIRASI
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari system respirasi saat melakukan
anestesi spinal adalah :

Analisa gas darah cukup memuaskan pada blok spinal tinggi, bila fungsi paruparu normal.

Penderita PPOM atau COPD merupakan kontra indikasi untuk blok spinal
tinggi.

Apnoe dapat disebabkan karena blok spinal yang terlalu tinggi atau karena
hipotensi berat dan iskemia medulla.

26

Kesulitan bicara,batuk kering yang persisten,sesak nafas,merupakan tanda-tanda


tidak adekuatnya pernafasan yang perlu segera ditangani dengan pernafasan
buatan.[2]

D. KOMPLIKASI GASTOINTESTINAL
Nausea dan muntah karena hipotensi, hipoksia, tonus parasimpatis berlebihan,
pemakaian obat narkotik, reflek karena traksi pada traktus gastrointestinal serta
komplikasi delayed, pusing kepala pasca pungsi lumbal merupakan nyeri kepala dengan
ciri khas terasa lebih berat pada perubahan posisi dari tidur ke posisi tegak. Mulai terasa
pada 24 48 jam pasca pungsi lumbal, dengan kekerapan yang bervariasi. Pada orang
tua lebih jarang dan pada kehamilan meningkat. Untuk menangani komplikasi ini dapat
diberikan obat tambahan yaitu Ondansetron atau diberikan Ranitidine.
E. NYERI KEPALA (PUNCTURE HEADACHE)
Komplikasi yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah nyeri kepala.
Nyeri kepala ini bisa terjadi selepas anestesi spinal atau tusukan pada dural pada
anestesi epidural. Insiden terjadi komplikasi ini tergantung beberapa faktor seperti
ukuran jarum yang digunakan. Semakin besar ukuran jarum semakin besar resiko untuk
terjadi nyeri kepala. Selain itu, insidensi terjadi nyeri kepala juga adalah tinggi pada
wanita muda dan pasien yang dehidrasi. Nyeri kepala post suntikan biasanya muncul
dalam 6 48 jam selepas suntikan anestesi spinal. Nyeri kepala yang berdenyut
biasanya muncul di area oksipital dan menjalar ke retroorbital, dan sering disertai
dengan tanda diplopia, mual, dan muntah. Tanda yang paling signifikan nyeri kepala
spinal adalah nyeri makin bertambah bila pasien dipindahkan atau berubah posisi dari
tiduran/supinasi ke posisi duduk, dan akan berkurang atau hilang total bila pasien
tiduran. Terapi konservatif dalam waktu 24 48 jam harus dicoba terlebih dahulu seperti
tirah baring, rehidrasi (secara cairan oral atau intravena), analgesic, dan suport yang
kencang pada abdomen. Tekanan pada vena cava akan menyebabkan terjadi
perbendungan dari plexus vena pelvik dan epidural, seterusnya menghentikan
kebocoran dari cairan serebrospinal dengan meningkatkan tekanan extradural. Jika
terapi konservatif tidak efektif, terapi yang aktif seperti suntikan salin ke dalam epidural
untuk menghentikan kebocoran.

27

F. NYERI PUNGGUNG
Komplikasi yang kedua paling sering adalah nyeri punggung akibat dari tusukan
jarum yang menyebabkan trauma pada periosteal atau ruptur dari struktur ligament
dengan atau tanpa hematoma intraligamentous. Nyeri punggung akibat dari trauma
suntikan jarum dapat di obatisecara simptomatik dan akan menghilang dalam beberapa
waktu yang singkat saja.
G. TRAKTUS URINARIUS
Disfungsi kandung kemih dapat terjadi selepas anestesi umum maupun regional.
Fungsi kandung kencing merupakan bagian yang fungsinya kembali paling akhir pada
analgesia spinal, umumnya berlangsung selama 24 jam.

BAB 3
LAPORAN KASUS
1. IDENTITAS
Nama

: Mashudi

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 61 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Komp vetpur B.26

Pendidikan

: SMA

Status Perkawinan

: Menikah

No RM

: 23 87 93

Tgl Masuk

: 12 November 2015

2. ANAMNESA

Keluhan Utama

: Susah buang air kecil

28

Telaah

: Os datang ke RS Haji Medan dengan keluhan susah buang air

kecil sejak 1 minggu ini, setiap buang air kecil os harus mengedan sehingga
merasa kandung kencingnya penuh. Keluhan ini sangat menggangu os. Pancaran
BAK juga lemah sering berhenti sendiri, tetapi kadang menjadi lancar. 2 hari
sebelum masuk RS, os mengeluh nyeri saat BAK terutama di bagian perut bagian
bawah, dan Os tidak tahan terhadap rasa nyeri tsb. Os menyangkal pernah nyeri
pnggang yg menjalar, BAK berpasir dan berdarah, dan juga menyangkal adanya
trauma di perut.

RPT

: (-) RPK

: (-) RPO

(-)

3.PEMERIKSAAN FISIK
Status Present
Keadaan Umum

: Tampak Sakit

Vital Sign
Sensorium

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 150/100 mmHg

Nadi

: 72x/menit

RR

: 22x/menit

Suhu

: 36,00C

Tinggi Badan

: 171 cm

Berat Badan

: 72 kg

Pemeriksaan Umum
Kepala
Bentuk

:Normocepali, tidak teraba benjolan atau luka.

Wajah

: Simetris, tidak oedem.

Mata

: Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik, Reflex cahaya (+/

+), Pupil bulat, isokor, diameter 3mm/3mm, Gerak bola mata terkonjugasi ke
segala arah.
Telinga: Bentuk normal, tidak ada deformitas, nyeri tekan (-).
Hidung

: Hidung simetris, tidak ada pernapasan cuping hidung.

Mulut

: Bibir merah muda, tidak ada sianosis


29

Leher
Pembesaran kgb

: (-)

Tyroid

: (+) normal

Bentuk

: normal, simetris

Thorax
Paru
Inspeksi

: Pergerakan nafas simetris, tipe pernafasan torako abdominal,

retraksi costae -/ Palpasi


: Stem fremitus kiri = kanan
Perkusi
: sonor seluruh lapang paru
Auskultasi
: vesikuler seluruh lapang paru
Jantung

Inspeksi

: Ictus tidak terlihat

Palpasi

: Ictus teraba, tidak kuat angkat

Perkusi

: Batas jantung normal

Auskultasi

: Bunyi jantung dalam batas normal

Inspeksi

: simetris

Palpasi

: Soepel, nyeri tekan pada regio hipogastrium

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Peristaltik (+) Normal

Ekstremitas

: edema -/-

Abdomen

Pemeriksaan Penunjang
Hasil Laboratorium
Darah Rutin
Hb
Ht
Eritrosit
Leukosit
Trombosit

Hasil
15.9 g/Dl
45.6 %
4.9 x 106/L
9.600 /L
220.000 / L

Nilai Rujukan
13-18 g/dL
40-54 %
4.5-6.5 x 106/L
4000-11000 /L
150.000-450.000 /L

30

Hasil Radiologi

Blasser

: Terlihat batu ukuran 25,3 mm

Prostat

: Volume 19,6 ML, homogen irreguler


Kesan : Vesicolithiasis

RENCANA TINDAKAN
Tindakan

: vesikolitotomi

Anesthesi

: RA-SAB

PS-ASA

:1

Posisi

: Supinasi

Pernapasan

: Spontan

KEADAAN PRA BEDAH


Pre operatif
B1 (Breath)
Airway

: Clear

RR

: 22x/menit

SP

: Vesikulearka=ki

ST

:Ronchi(-),Wheezing (-/-), snoring/gargling/crowing(-/-/-)

B2 (Blood)
Akral

: Hangat/Merah/Kering

TD

: 150/100 mmHg

HR

: 72x/menit

B3 (Brain)
Sensorium

: Compos Mentis

Pupil

: Isokor, ka=ki 3mm/3mm

RC

: (+)/(+)

B4 (Bladder)
Uop

: (-)

Kateter

: (+)
31

B5 (Bowel)
Abdomen

: Soepel, nyeri tekan regio hipogastrium

Peristaltik

: Normal (+)

Mual/Muntah

: (+)/(+)

B6 (Bone)
Oedem

: (-)

PERSIAPAN OBAT RA-SAB


Intratekal
Bupivacaine

: 12,5mg

Fentanyl

: 25 g

Jumlah Cairan
PO

: Asering 200 cc

DO

: Asering300 cc

Total

: Asering 500 cc

Produksi Urin

: 200 cc

Perdarahan
Kasa Basah

: 2 x 10 = 20 cc

Kasa 1/2 basah

: 6 x 5 = 30 cc

Suction

: 250 cc

Jumlah

: 300 cc

EBV

: (70) x 72 = 70 x 72 kg = 5040

EBL

10 % = 504
20 % = 1008
30 % = 1512

Durasi Operatif
Lama Anestesi= 10.10 11.05 WIB
Lama Operasi = 10.17 11.05 WIB

32

Teknik Anestesi : RA-SAB


Posisi duduk (SITTING) - Identifikasi L3-L4 Desinfektan betadine + alcohol
Insersi spinocan 25G + CSF (+), darah (-), injeksi bupivacain+fentanyl
barbotase (+) posisi supine atur blok setinggi T4.
POST OPERASI
Operasi berakhir pukul

: 11.05 WIB

Setelah operasi selesai pasien di observasi di Recovery Room. Tekanan darah,


nadi dan pernapasan dipantau hingga kembali normal.
Pasien boleh pindah ke ruangan bila Alderette score > 8
Pergerakan

:2

Pernapasan

:2

Warna kulit

:2

Tekanan darah

:2

Kesadaran

:2

Dalam hal ini, pasien memiliki score 10 sehingga bisa di pindahkan ke ruang rawat.

PERAWATAN POST OPERASI


Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang pemulihan setelah dipastikan
pasien pulih dari anestesi dan keadaan umum, kesadaran serta vital sign stabil,
pasien dipindahkan ke bangsal dengan anjuran untuk bedrest 24 jam, tidur
telentang dengan 1 bantal untuk mencegah spinal headache, karena obat anestesi
masih ada.
TERAPI POST OPERASI
Istirahat sampai pengaruh obat anestesi hilang
IVFD RL 50 gtt/menit
Minum sedikit-sedikit bila tidak mual muntah
Inj. Ketorolac 30mg/8jam IV
Inj. Ranitidine 50mg/8 jam IV
Inj. Ondansetron 4mg/12 jam IV bila mual/muntah

33

BAB 4
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
Vesikolithiasis merupakan batu yang terdapat pada kandung kemih yang terdiri
atas substans yang membentuk kristal seperti kalisum oksalat, fosfat kalisum, asam urat
dan magnesium.
Vesikolitotomi adalah pembedahan untuk mengeluarkan batu dari buli-buli
dengan membuka buli-buli dari arterior.

34

Pada dasarnya persiapan untuk anastesi spinal seperti persiapan anastesi umum.
Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah menimbulkan kesulitan, misalnya ada
kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba
tonjolan proc. Spinosus.
Anastesi spinal (intratekal,intradural,subdural,subarachnoid) ialah pemberian
obat anastetik local ke dalam ruang subarachnoid. Anastesi spinal diperoleh dengan cara
menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Teknik ini sederhana,
cukup efektif dan mudah dikerjakan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (1990). Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.


Herman, Pola Batu Saluran Kemih di RS Dr. Kariadi, 1989-1993. Karya Tulis Tahap
Akhir PPDS I Bedah. Bag. Ilmu Bedah FK Undip. Semarang. 1995.
Menon M, Resnick, Martin I. Urinary Lithiasis: Etiologi and Endourologi, in:
Chambells Urology, 8th ed, Vol 14, W.B. Saunder Company, Philadelphia, 2002:
3230-3292.
35

Muslim, Rifki. 2007. Batu Saluran Kemih Suatu Problema Gaya Hidup dan Pola
Makan serta Analisis pada Pengobatan. http://eprints.undip.ac.id/5249/1/muslim
rifki.pdf. Diakses 20 November 2015.
Nursalam, 2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Parivar, F; Roger, K; Stoller, M. The Influence of Diet on Urinary Stone Disease. J.
Urol, Vol 169, Issue 2, page 470-474. February 2003.
Resnick, MI, Urolithiasis, a Medical and Surgical reference. WB. Saunders Company,
Philadelphia, 1990:35-71.
Rivers K, Shetty S dan Menon M. When and How to Evaluation of Patien with
Nephrolitiasis, in the Urologic klinik of North America, Vol 27, 2, 2000,2:203-212.
Rose, B.D. Water and Electrolite Physiology, in Clinical Physiology of Acid- Base and
Electrolite Disorder. Mc. Graw-Hill Kogakhusa. Ltd. Tokyo,1997:34-35.
Sjamsuhidajat, de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Suzzane C. Smeltzer, Brenda G. Bare, (2002), Brunner & Suddarths Textbook of
Medical Nursing, Vol. 2, 8th Ed, Penerjemah Esty Wahyuningsih, S.Kep., Ns.,
Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Syabani , M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi ketiga. Balai Penerbit FK
UI. Jakarta.2001:377-385.

36