Anda di halaman 1dari 160

K LryS{'rRUKSU UAulAN RAYA

BUITU I

GEOIIIETRII( JALAIT

M-MSAODANGMSCE

IDET-EIIIIIT NOYA

#ffitfrufr

BUI(U I

GEOMETRII( JAI,AIT

IR. HA]IIINHAN SAODANG MSCE.

PENERBTT NOVA

KOIAK POS 1468 BANDUNG

Saodan!,f,amlrhan

tr(onstruksl Jalan Baya/oleh Hsmirhon Soodong

Cetokqn

3 jil. 16x23 cm.

II. ----- Bcndung : Novar 2OIO.

Isi :

1. GEoMEIRIKIALAN.

2. PERANCANGAN PEnIGRASAN

JAIJTN

nAyA"

l. SIRUKIUR & KONSIRUI$IJAUIN RAYA"

Bibliografi zhlm.2?6

ISBN 979 - 95847 -2-8

rsBN 979-95847-3-6

ISBN 979 - 95847 - 4- 4

rsBN 979 - 95847 -5 -2

no.iil.lengkcp)

iil. l )

iil. 2 )

iil.3 )

1. Jalan Raya

625.7

l.

KONSTRUKSIJAI-AN RAYA

Hak cipta dilindungi Undang - Und"nr:;,

,,,,,

Dilarang memperbanyak

karya.*"flqdi rufrgirn atau seluruhnya,

Iffipriii'termasuk stensil, fotokopi,

dalam bentuk dan dengan .rr"

tanpa ijin tertulis dari penerbit.

ilirtedifr4a;Lan ttnhil

kedua olohg tuo , dor

beLuatgoku ,

*rrh$, tiln,<17Y,li-

IEAIFA PENGaANqtrAR

u<

onstruksi Jalan mempunyai peranafl yang cukup besar dalam

tatan^n perkembangan pembangunan Nasional. Dalam

kelompok sektor Transportasi ; jalan raya berpotensi sebagai

penyedia akses transportasi iasa dan barang keseluruh wilayah

cakupan perencanaan, yzng betdampak sebagai komponen akselerasi

pembangunan wilayah maupun regional. Sebagai salah satu moda

transportasi darut, jalan raya merupakan komponen pemicu dinamika

pembangunan ekonomi secara umum, pembangunan tata ruang secafa khusus, dan lebih spesifik lagi, sebagai unsur pengembang dari potensi-

potensi sumber dzya alamiah yang belum muncul, ataupun sumber-sumber

potensi sumber daya yang sudah muncul, direvitalisasi untuk lebih

diarahkan pada potensi yang lebih berday^- gan .

Perkembangan konstruksi jalan r^ya, terurama pembangunan

ialan raya mengalami pasaflg surut,

mengikuti irama perkembangan

pembangunan Nasional. Hal ini berdampak luas pada pengembangan s rana dan prasarafla transportasi dan lingkungan disekitarnya, bahkan

dalam skala yang lebih luas. lagi, yaitu pembangunan ekonomi wilayah

yang bersaflgkutan. Tidak bedebihan kalau dikatakan bahwa kebutuhan akan pembangunan konstruksi jalan raya akan semakin menumbuhkan

dan meningkatkan perkembangan pembangunan Nasional.

Dalam periode saat ini pembangunan ialan raya, terarsa. makin

surut dibandingkan dengan dekade 197U an, seiring dengan makin

terbatasnya dana pembangunan yang dimiliki pemerintah. Alokasi dana

pembangunan lebih banyak diarahkan untuk menat:a kembali struktur

ekonomi yang sempat terpuruk selama beberapa waktu. Sehingga banyak

ruas-ruas jalan terutama poros ekonomi, diseluruh Indonesia meros()t

tzizm dalam memberikan pelayanan transportasi angkutan barang maupun

iasa. Disatu pihak ialan baru dalam skala besar sama sekali tidak arla

lamapun,

pembangunan, selama sepuluh tahun tetakhir ini,

ialan-jalan

makin lama makin banyak yang mengalami degradasi struktur yflnl',

berdampak pada berubahnyzpetaialan mantap yang relatif sudah lurniryurr

I

I'ONSTBUKSIJAI,AN

DTIflT

r

. nrnllml?

rAI A\I

Koto Pe.ngontot

baik pada periode 198Gan. Banyak ialan yang kembali mengalami kondisi

kritis dan bahkan ada beberap^yaflg putus sama sekali.

Hal seperti ini, tentunya akzn memberikan banyak pekeriaan

tambahan bag para pengelola dan pembina ialan raya, tervtama pembina

jalan di tingkat pemedntah daerah, padz erz otonomi daerah sepetti

sekarang ini. Disisi lain mungkin

berapa lama kondisi seperti ini akan

pula banyak pelaksana, pengawas dan

pemerhati jalan makin kuatir,

bedangsung. Insya Allah, kita semua berharap mudah-mudahan derap

pembangunan akan melangkah ltgr, dan tentunya demikian pula dengan pembangunan s t^na. dan prasana termasuk ialan tzya, akan berdenyut kembali.

Dalam hal ini, penulis hznya memberikan sedikit sumbang pikir,

berupa buku Konsttuksi

3 ( tiga ) buku, dengan tidak menutup kemungkinan berkembang dan

Jalan

ini. Buku Konstruksi Jalan disusun meniadi

bertambah lagi.

Sementara kami susun :

)BukuI

)

)

Buku II

Buku III

:

:

:

Geometrik J a,ltn R.:aya

Perancangan Perkerasan Jalan Rayz.

Struktur & KonstruksiJalan Raya.

Secara umum, pembahasan materi didalam ketiga buku tidak

bersambung, jadi berdiri sendiri, namun merupakan satu kesatuan bahasan

yaitu Konstruksi Jalan,

yang memang mempunyai cakupan yang luas.

Siapapun yang ingin

akan kehilangan konteks materi pembahasan, karena memang tidak saling

terkait langsung.

Walaupun buku-buku ini fauh dari sempurna., harzpan penulis

dapat menerima masukan dari siapa saia, untuk lebih disempurnakan lagi,

untuk ikut beqpartisipasi dalam sasaran nasional, mencerdaskan bangsa.

memiliki hanya, salah satu dari ketiga buku, tidak

Bandung, Medio 2004.

Femu[f,s"

DA.F!f,TAR [S[

IIAI,\MANJUDUL

I(ATA PENGANTAR I)AFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAIN.

1.1,. Pengantar

1.2.

1.3.

'

Lingkup Bahasan Istilah dan Pengertt^nnya

"

I

iii

1

2

2

BAB 2. KONSEP DASAR DAN PARAMETER GEOMETRIK

JAI-AN RAYA

2.1. Kompetensi Geometrik

2.2.

Jalzn&aya

Pengertian Perunczngan Geometrik

2.3. ParameterPerancanganGeometrikJalanRaya
2.4.

Karakteristik Pemakai Ja1an

19

20

21,

43

BAB 3. KRNERIA PERANCANGAN GEOMETRIKJAT.AN

RAYA.

3.1

3.2.

Persyaratan Geometrik

JalznRaya

Penetapan dan PemetaznTnseJalan

BAB 4. ELEMEN GEOMETRIK.

4.1 Elemen dan Komponen Geometrik

4.2. Alinyemen Horisontal

4.3. Alinyemen Vertikal

4.4. Koordinasi Alinyemen

lll

I(ONSTNUKSIJAIIAN

BUKU

T: GEOMETRIKJAU,N

46

54

57

57

108

129

Iv

Do6ton Isi

BAB 5. GEOMETRIK PERSIMPAI\GAI\.

5.1. Simpang Sebidang

5.2. Simpang Tidak Sebidang

150

167

BAB 6. PROSEDUR DAIN I-ANGKAH.IANGKAH

PERANCANGAN.

6.1,.

Prosedur P erancangzn Geometrik J alan Raya

6.2. Pekerjaan Galian dan Timbunan

6.3. Pedoman Rancangan

773

177

182

BAB 7. STAKE-OUT GEOMETRTKJAT-AN.

7.1. Pematokan Lintasan Lurus

7.2. Pematokan Sumbu Rencana AsJalan

7.3. Cara Pengukuran Jarak dan Pembuatan Tangen di I-apangan

7.4. Cara Pembuatan Garis Saling Tegak Lurus

7.5. Mengatasi Masalah Rintangan di Lapangan

7.6. Pematokan kngkung Horisontal.

7.7. Pematokan kngkung Vertikal

DAFTAR PUSTAKA

DAFTARIAMPIRAN

Lampiran 1

Lampfuan 2

Tabel I^,

 

Lampiran 3

Tabel I*,

I-,ampiran 4

Tabel I^o

Lampiran 5a

Tabel

Parameter kngkung

SCS,

Lampiran 5b

Tabel

Parameter kngkung

SCS,

l-ampiran 6a

Lampiran 6b

I-,ampiran 7z

l,ampiran 7b

Tabel Parameter kngkung SCS2

Tabel Parametu kngkung SCS2

Tabel Parameter kngkung SCS Tabel Parameter kngkung SCS3

190

194

197

199

202

210

230

236

237

238

239

240

241

242

243

244

245

246

247

K()NS'I'RIIKiiI JAI,AN

BUKU I : GEOMETRIKJAIAN

LampiranTc

: Tabel Parameter Irngkung SCS3

l,ampiran 8a

: Tabel Parameter kngkung SCS4

 

l,ampiran 8b

: Tabel Parameter kngkung SCS4

[,ampiran 8c

: Tabel Parameter I-engkung SCS4

I-ampfuan9a

: Tabel

Parameter

kngkung

SCS5

;

i

Lampiran 9b

: Tabel Parameter kngkung SCS5

 

Lampiran 10

Tabel Parameter kngkung SS,

 

:

Lampiran 11

Tabel Parameter kngkung SSr

 

l,ampiran 72

Tabel Parameter kngkung SSr

Lampiran 13

Tabel Parameter kngkung SS0

Lampiran 14

Tabel Parameter kngkung SSu

Lampiran 15

Tabel Parameter kngkung SSu

 

,

Lampiran 16

Tabel Parameter kngkung SSr

 

Lmpkan 17

Tabel Parametet kngkung SSr

i

1

24tl

249

2s0

251

2s2

2s3

2s4

255

256

257

258

259

260

26t

Lampiran 18

Tabel Parameter kngkung SSr

262

L,mpfuan 1,9

Tabel Parameter kngkung SSro

263

I-ampiran 20

: Tabel Parameter kngkung SS,,

264

l-,ampfuan21

Tabel Konversi Menit ke Desimal

265

Larnpfuan 22

Tabel Pelebaran di Tikungan

266

Lampiran 23

Tabel kbar l.alur dan Bahu Jalan

267

Lampfuan 24

Alinyemen Horisontal, Vertikal dan Superelevasi.

268

Lampfuan 25

Penampang Melintang J alan

269

BAB 1 PEUUDffiASU

I.I.

ETill rJ

PENGANTAR

ransportasi secara umum dicirikan dengan digunakannya berbagai

moda transportasi oleh manusia untuk melakukan-. mobilitas

kegiatan dalam rangka memenuhi hajat hidupnya. Moda transPortasi yang

ada, bila ditiniau dari geografis fisik, adalah transportasi darat, laut, sungai,

danau dan udara.

Transportasi darat meliputi ialan raya dan jalan re[, transportasi udara diwakili angkutan pesawat terbang, transportasi air (laut, sungai, danau

dlt.) meliputi perahu, speedboat, iet{oaster. ferry kapal laut dan lain

sebagainya.

Jalan Raya sejak mulai awal dirintis, hanya berupa lintas lalu lalang

manusia untuk mencari nafkah dengan jalan kaki, atau menggunakan

kendaraan sederhana beroda tanpa mesin. Makin lama perkembangan jalan

berkembang dengan pesat, seiring dengan perkembangan teknologi yang melahirkan macam-macam kendaraan bermesin mulai dari beroda tiga,

empat sampai lebih dari empat. Dari semula hanya sebagai alat bantu

manusia menemukan sumber makanan, berkembang menjadi merupakan

sarana pelayanan iasa angkutan manusia, barang dan bahkan meniadi

sarana pengembangan wilayah

perkembangan ialan ini,

dan peningkatan ekonomi. Dengan pesatnya

yang semula hanya dibuat "asal jadi" saia,

belakangan mulai dipikirkan syarat-syarat jalan, agar dapat melayani

pengguna jalan dengan nyaman, aman, sehat dan cepat, bahkan belakangan

ini disyaratkan untuk memenuhi berwa'nasan lingkungan.

Persyaratan geometrik jalan, adalah salah satu dari perryaratan-

persyaratan yang ada, untuk memberikan kenyamanan, keamanan dan

kecepatan tersebut diatas. Banyak syarat-syarat lain diluar syarat geometrik

ini, yang merupakan persyaratan konstruksi jalan secara umum, meliputi

antara lain persyaratan struktur jalan, persyaratan bahan ialan, persyaratan pelaksanaan jalan dan lain-lain.

KONSTBIIKSIJALAN

BUKU r : GEOME'IRIKJAI,A,N

Secara umum Konstruksi

Jalan Raya tidak

hanya terbatas pada

bagi pemerhati,

Geometrik Jalan saja, namun untuk pegangan dasar

pelaksana,pengawas

d_an siapap.r.

yr.rj be.k-.p"ntingan dilam disiplin

bekal awal ,rriuk mendarami dan

bentukan konstruksi yaitu

lagi dengan pendekatan

ilmu ini, Geometrik Jalan merupakan

memahami pengertian dasar dari suatu

Konstruksi Jalan Raya. sesudahnya baru didekati

ialan,

akurat.

struktur, yang lebih mengarah pada bentuk fisik dai kekuatan konstruksi

yang memerlukan penelaahan perencanaan yang lebih matang dan

1.2. LINGKUP BAHASAN

cakupan dari

buku Konstruksi Jalan - Buku r : Geometrik Jalan

-

Raya ini, akan terdiri dari:

)

)

)

)

)

)

)

)

)

)

Penjelasan Umum mengenai Geometrik Jalan,

Maksud dan Tujuan perencanaan

Konsep Dasar perencanaan Geometrik Jalan,

PersyaratanGeometrik.

Komponen GeometrikJalan

GeometrikJalan,

Alinyemen Horisontal dan persyaratannya,

Alinyemen Vertikal dan persyaratannya .

GeometrikPersimpangan

Prosedur dan pedoman

Stake-out

Pada setiap bahasan yang dianggap

pemakaian berikut perhitungao.ryr, yr.g

_

perlu disertakan contoh<ontoh

diharapkan dapat menuntun

mahasiswa untuk lebih memahami persoalan yrrrg ada.

I.3.

ISTIII\H DAN PENGERTIANT{YA

1.3.1. KrltsslFriQ{,srJALAN

I I'rtlol(u0,uur

1.3.1.1. KlassifikasiJalan Menurut Fungsi fPerunrn z

(A). Sistem Jaringan Jalan Primer

- Jalan Arteri Primer,

- Jalan Kolektor Primer, dan

- Jalan l.okal Primer

(B). Sistem Jaringan Jalan Sekunder

- Jalan Arteri Sekunder,

- Jalan Kolektor Sekunder dan

- Jilan tokal Sekunder

(A)

SistemJaringanJalanPrimer

Sistem Jaringan

Jalan Primer adalah jalan yang menghubungkan

simpul-simpul jasa

distribusi dalam Struktur Pengembangan'Wilayah,

dengan ketentuan sebagai berikut:

(i) Didalam satu Satuan \i7ilayah Pengembangan, system jaringan jalan

primer, menghubungkan kota jenjang kesatu, kedua, ketiga dan jenjang

dibawahnya, secara terus menerus sampai ke persil.

(ii) Antar Satuan t0(rilayah Pengembangan, system jaringan primer

menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kesatu. - Jalan Arteri Primer, menghubungkan kota jenfang kesatu, yang terletak

bcrdampingan, atau menghubungkan kota ienjang kesatu dengan kota

jenjang kedua.

- Jalan Kolektor Primer, menghubungkan kota ienjang kedua dengan kota

jenjang kedua, atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota

jenjang ketiga, atau menghubungkan kota jenjang kedua dengan kot.r

ienjang ketiga.

- Jalan Lokal Primer, menghubungkan kota jenjang ketiga deng,lrr kot.r icnjang ketiga, atau menghubungkan kota jenjang kedua dcngan l)crsil.

rrtau menghubungkan kota jenjang ketiga dengan Persil.

KONIiTRI]KSI JAI,A]\I

BUKU I : GEOMETRIK JALAN

Sistem jaringan primer, disusun mengikuti ketentuan

pengaturan tata

ruang dan struktur pengembangan wilayah tingkat Nasional yang

menghubungkan simpul-simpul jasa distribusi sebagai berikut:

A.1. Jalan Arteri Primer :

a. Didesain paling rendah dengan kecepatan

b. Lebar badan jalan tidak kurang dari 8 meter.

c. Kapasitas lebih besar

daripada volume lalu

60 km/jam.

lintas rata{ata.

d. lalu-lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas

ulang-alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal.

e. Jumlah jalan masuk, ke jalan Arteri Primer, dibatasi secaia effisien sehingga kecepatan 60 km/jam dan kapasitas

besar tetap terpenuhi

f. Persimpangan pada jalan Arteri Primer harus dapat

memenuhi ketentuan kecepatan dan volume laluJintas.

A.2. Jalan Kolektor Primer :

a. Didesain untuk kecepatan rencana paling rendah a0 km/

jr-.

b. Lebar badan jalan tidak kurang dari T,0O meter.

c. Kapasitas sama atau lebih besar dari volume lalu lintas

rata-rata.

d. Jumlah jalan masuk dibatasi, dan direncanakan sehingga dapat dipenuhi kecepatan paling rendah 40 km/jam.

e. Jalan kolektor primer, tidak terputus walaupun memasuki

kota.

A.3. Jalan Lokal Primer :

a. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20

km/jam.

b. Lebar badan jalan tidak kurang dari 6,(X) m

I ',.rrk rlu0uou

6

c. Jalan lokal primer tidak terputus,walaupun'memasuki desa'

(B)

SistemJaringanJalanSekunder.

Sistem Jaringan

Jalan Sekunder, adalah ialan yang menghubungkan

kawasan-kawasan

fungsi primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder

kedua, fungsi sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan dalam

satu'Wllayah Perkotaan. -Jalan Arteri Sekunder, menghubungkan kardasan primer dengan kawasan sekunder kesatu, atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan

kawasan sekunder kedua.

- Jalan Kolektor Sekunder, menghubungkan kawasan sekunder kedua

dengan kawasan sekunder kedua, atau menghubungkan kawasan sekunder

kedua dengan kawasan sekunder ketiga.

- Jalan Lokal Sekunder, menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan

dengan

'kedua

perr-"harr, atau menghubungkan kawasan sekunder

perumahan, atau menghubungkan kawasan sekunder ketiga dengan

perumahan.

Sistem iaringan

kota yang

ialan sekunder, mengikuti ketentuan Pengaturan tata ruang

menghubungkan kawasan-kawasan yang mempunyai fungsi

primer, fungsi sekunder kesatu, fungsi sekunder kedua, fungsi sekunder

ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan, dengan batasan sebagai berikut :

8.1. Jalan Arteri Sekunder :

a. Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 30 knt/

ja-.

b. Kapasitas sama atau lebih besar dari volume lalu lint;rs

rata-rata.

c. Lebar badan jalan tidak kurang dari 8,00 metcr.

d. Pada jalan arteri sekunder, lalu lintas ccplt titl.rk lrolrlr

terganggu oleh lalu lintas lambat.

K()NIiTRTIl(ltI JAI,AN

BUKU T : GEOMETRIKJAI-AN

e. Persimpangan ialan dengan pengaturan tertentu harus

memenuhi kecepatan tidak kurang dari 30 km/jam.

8.2. Jalan Kolektor Sekunder :

a. Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 20 km/

iam.

b. Lebar badan ialan tidak.kurang dari 7,00 meter.

B.3. Jalan Lokal Sekunder :

a. Didesain berdasarkan kecepatan paling rendah 10 kmr/jam

b. Lebar badan ialan tidak kurang dari 5,00

c. Dengan kecepatan paling rendah 10 kmr/jam, bukan di

diperuntukkan untuk roda tiga atau lebih.

d. Yang tidak diperuntukkan kendaraan roda tiga atau lebih

harus mempunyai lebar jalan tidak kurang dari 3,5 meter.

Secara diagramatis, klassifikasi falan menurut fungsi, digambarkan pada Gbr. 1.1.

1.3.1.2. KlassifikasiJalanMenurutWewenangPembinaan

Jaringan jalan dikelompokkan menurut wewenang pembinaan, terdiri dari:

(A). Jalan Nasional

- Jalan Arteri Primer,

- Jalan Kolektor Primer, yang menghubungkan antar ibukota Propinsi.

- Jalan selain dari

mempunyai

nilai

jalan yang tidak

yang

termasuk artery'kolektor primer, yang

strategis terhadap kepentingan Nasional, yakni

dominan terhadap pengembangan ekonomi, tapi

nrcmpunyai peranan menjamin kesatuan dan keutuhan nasional, melayani

I I r,krlluluur

(tl). Jalan Propinsi

- Jalan Kolektor Primer, yang menghubungkan ibukota Propinsi dengan i bukota Kabupaten /Kotamadya.

- Jalan Kolektor Primer, yang menghubungkan antar ibukota

Kabupaten/Kotamadya.

- Jalan selain dari yang disebut diatas, yang mempunyai nilai strategis

terhadap kepentingan Propinsi, yakni jalan yang biarpun tidak dominan

terhadap perkembangan ekonomi, tapi mempunyai peranan tertentu dalam menjamin terselenggaranya pemerintah yang \aik dalam Pemerintahan

Daerah Tingkat I dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan sosial lainnya.

- Jalan dalam Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kecuali jalan yang

termasuk Jalan Nasional.

(C). Jalan Kabupaten

- Jalan Kolektor Primer, yang tidak termasuk dalam kelompok ialan

Nasional dan kelompok Jalan Propinsi.

- Jalan Lokal Primer

- Jalan Sekunder lain, selain sebagaimana dimaksud sebagai Jalan Nasional, dan Jalan Propinsi.

- Jalan

selain dari yang disebutkan diatas, yang mempunyai nilai strategis

terhadap kepentingan Kabupaten, yakni jalan yang walaupun tidak

dominan terhadap pengembangan ekonomi, tapi mempunyai peranan

tertentu dalam menjamin terselenggaranya pemerintahan dalam

Pemerintah Daerah.

(D). Jalan Kotamadya

Jaringan jalan sekunder di dalam Kotamadya.

(E). Jalan Desa.

8 lt()Ns't'BlrK$t JAt aN

BUKU t : GliOMIil'RlK.IAI-AN

- Jaringan jalan sekunder di dalam desa, yang merupakan hasil swadaya

nrasyarakat, baik yang ada di desa maupun di kelurahan.

BERDASARKAN FUNGSI

(rru-No.13l19ao & PP.NO.26I1966)

/

I

KP

lap

AF

II l-r<rrl II

KP

KP

ttt [-

",'-Jtit

LP

ltrr

LP

ryl

IGIERANGAN :

m

tE

[m

KorA JENJAT{c I KoTA JENJANG II K0TA JENJANG Iu

T!g] KCTTA

PERSIL

JENJANG DIBATAHNYA,

AP

:

KP LF :

:

AATERI PRIXER

KOLEICIOR PRIITER

IOICAL PRII{ER

-

-

KOTA PXN.

K(}TA PKT.

_ X(yIA PKL

Gbr. 1.1. KlassifikasiJalan Menurut Fungsi

I )r,nrlttl{u0

ur rn

(l'). Jalan Khusus

e

- Jalan yang dibangun dan dipelihara oleh Instansy'Badan

Hukum/Perorangan untuk melayani kepentingan masing-masing .

Klassifikasi Jalan menurut wewenang dapat dilihat pada Gbr.1.2.

1.3.1.3. KlassifikasiJalan Menurut KelasJalan

Klassifikasi Jalan menurut Kelas Jalan dapat dilihat pada Tabel 1.1a

(untuk ialan antar kota) dan Tabel 1.1b.(untuk jalan perkotaan) dan Tabel 1.1c. (untuk jalan Kabupaten) berikut ini:

T ABEL 1.1a. KlassifikasiKlassifikasi lalanlalan antar Kota

Fungsi

Kelas

Muatan Sumbu Terberat

Arteri

I

>10

II

10

III A

8

Kolektor

III A

I

III B

Lokal

III C

8

Sumber : TPGJAK - No.038/T /BM/ 1997

TABEL 1.1b. KlassifikasiJalan Perkotaan

O i). JALAN TIPE I ( P.,grtu,".,1alan Masuk: Penuh )

Fungsi

KETAS

PRIMER :

tr Arteri

I

I Kolektor

II

SEKUNDER: n Arteri

II

Sumber: Standar Perencanaan Geometrik untukJalan Perkotaan - 1988

to

KONSTITIKSIJALAN

BUKU T : GEOMETRIKJAI^A,N

ADMINISTRASI

(PP. NO.26 T1I.1985 Ps.43,44,45)

I(ETERAI{GAN :

O rBUKorA pnoprxsr

@ rBUKorA KAB./ KoDyA

(1

IBUKoTA KEcAMATAN

q9 KorA r.,ArNNYA

(x)

O

ti;

srRATEGrs NAsToNAL

srRATEcrs pRopINsI

srRATEcrs r(ABUrATEN

N:

NASIOANAL

P:

PROPINSI

K=

I(ABUPATEN

( ilx, 1.2. Klrrssilikasi Jalan menurut Wewenang Pembinaan.

Perdn(u0ucrn

tt

O ii). JALAN TIPE II ( P.',g"tr.r.,Jalan Masuk: Sebagian atau txnpa pentrturxn

Fungsi

VOLUME

I.ALU LINTAS

( dalam SMP )

KELAS

PRIMER :

tr Arteri

I

n Kolektor

10.000

I

 

10.000

II

SEKUNDER: r Arteri

n Kolektor

n Jalan Lokal

> 20.000

20.000

<

>

<

>

6.000

6,.000

500

< 500

I

II

u

III

IIT

ry

Sumber : Standar Perencanaan Geometrik

untukJalan Perkotaan - 1988

Tabel 1.1c. Klassifikasi Jalan Kabupaten

Jalan Kabupaten - 1992 Dirjen Bina Marga.)

(Sumber : Petunjuk Perencanaan Teknis

Fungsi

SEKUNDER:

o Jalan Lokal

VOLUME

LALU LINTAS

( dalam SMP )

KELAS

KECEPATAN

( km/jam ) MEDAN

 

D

B

G

> 500

TII A

50

40

30

201 - 500

III B1

40

30

30

50 - 200

TII 82

40

30

30

<50

MC

30

30

20

1.3.2. BAGTANJAIIIN

(l).

Daerah ManfaatJalan (DAMAJA).

12 KOn-STBUIiSIJALAN

BUKU T : GEOMETRIKJAI.AN

UU.I3/1,980 Tentang Jalan dan PP 26/85 Tentang Jalan menyebutkan

bahwa Damaja adalah suatu ruang sepanjang jalan, yang dibatasi oleh

lebar, tinggi dan kedalaman ruang bebas tertentu, yang dimanfaatkan

untuk konstruksi jalan, terdiri dari badan jalan, saluran tepi jalan dan

ambang pengamannya

(2).

Daerah Milik

Jalan

(DAMIJA)

atau disebut

juga

ROW

(Right

of

ti(/ry), meliputi Damaja dan sejalur tanah tertentu , dibatasi oleh patok

tanda batas Damija.

(3).

Daerah Pengawasan Jalan (DA\i(ASJA), adalah sejalur tanah, yang

terletak diluar Damija, yang penggunaannya diawasi oleh pembina jalan,

dengan maksud agar tidak mengganggu pandangan pengemudi dan

bangunan konstruksi jalan.

Gambaran posisi Damaja, Damija dan Dawasja, untuk jalan antar kota

dapat dilihat pada Gbr.1.3.

1.3.3. STRUKTUR JALAN

(1).

Badan )alan,

adalah bagian jalan, yang meliputi seluruh jalur lalu

lintas, trotoar,

median dan bahu jalan, serta talud/lereng badan jalan, yang

merupakan satu kesatuan untuk mendukung beban lalu lintas yang lewat

diatas permukaan jalan.

(2). Ambang Pengaman, lajur terluar Damaja, dimaksudkan untuk

mengamankan bangunan konstruksi jalan, terhadap struktur lain, untuk

tidak masuk kawasan jalan.

Perkerasan Jalan, adalah lapisan konstruksi yang dipasang langsung

diatas tanah dasar badan jalan, pada jalur lalu lintas, yang bertujuan untuk

menerima dan menahan

(3).

(4).

beban langsung dari lalu lintas.

Tanah dasar (subgrade), adalah lapisan tanah asli/tidak asli yang

disiapkan/ diperbaiki kondisinya, untuk meletakkan perkerasan jalan.

( IAI'ATAN : Istilah yang lebih lengkap akan disajikan pada Buku 2: Perkerasan Jalan.

I 'r,r,tlt rfl u0.uor,

t8

* - -'

- - -'

i

- - -'

-

- -

- --€Al*sl(ETtllootAllfAMAr^- - - - - - - - - - -

nruarr

r

r

r

,^,,,-,1.,,,--.

r

I

i

!

.l

i

I

i

:

i

uarru i

l-

I

- -T

I

I

l'-o.l,n i

|-

i

:

I

i

i

L*r"*i

!

:$" >Efq

r

i

t

-;.::l

bahu:

par+lil r*

batas

i--f---rfll!eler'lrf1.-'--''l

!

i

I

)

:

I

I

,,,.i,

::*

DAi,iuA

:^T'," i

:tjrijll

i =liJan t pi

j- - t

-i,som

Arteri ; Min 2O,O m

Kolektor: Min 15 ,0 m

Lokal : Min 10,0 m

Gbr.1.3. Posisi Damaiq Damiia dan Dawasia

t.3.4. GEOMETRTKJAT-AN

o Penampang MelintangJabn :

(1).

Jalur Lalu Lintas, adalah bagian jalan yang digunakan untuk lalu

lintas kendaraar,yang secara fisik berupa perkerasan jalan.

(2).

Lajur. adalah bagian jalur lalu lintas yang memaniang, dibatasi oleh

marka lajur falan, memiliki lebar yang cukup untuk dilewati suatu

kendaraan bermotor sesuai kendaraan rencana.

(3).

Bahu Jalan, adalah bagian jalan yang berdampingan ditepi lirlur

lalu lintas, dan harus diperkeras, berfungsi untuk lajur lalu lintas darur.rt. ruang bebas samping dan penyangga perkerasan terhadap bcbrrrt lalu lintas.

(4).

Median, adalah bagian jalan yang secara fisik mcmisllrk.rtt tlur

jalur lalu lintas yang berlawanan arah, guna memungkirtkrur kcrttllralt

bergerak cepat dan aman. Fungsi median adalah : nrcnris.rlrkrrr rlui llttntr

I

I

hrr\x'l'til rtrtil J.{l,AN

BUKU 1 : GEOMETRIK

JAI^AN

lalu lrrrt.rs yir.g berlawanan,

ruang lapak tunggu penyeberang jalan,

pencnrl),rl,rrr fbsilitas jalan, tempat prasarana pekerjaan sementara,

penghii.ruan, pemberhentian darurat, cadangan lajur dan mengurangi silau

dari lanrpu kendaraan

(5).

pada

malam hari dari arah berlawanan.

T'rotoar, adalah jalur pejalan kaki yang terletak pada Damija, diberi

lapisan permukaan, diberi elevasi yang lebih tinggi dari permukaan

perkerasan, dan umumnya sejajar

dengan

jalur lalu lintas kend araan.

(6). ' Saluran tepy'samping, adala.h selokan yang berfungsi untuk

menampung dan mengalirkan air hujan, limpasan dari permukaan jalan

dan daerah sekitarnya.

(7).

Lereng/talud, adalah bagian tepi perkerasan yang diberi

kemiringan, untuk menyalurkan air ke saluran

tepi. Dapat juga berarti

lereng kiri-kanan jalan dari suatu perbukitan, yang dipotong untuk

pembentukan badan jalan.

(8).

Separator, adalah bagian jalan yang

ditinggikan pada ruang

pemisah jalur, biasa ditempatkan dibagian luar, dibatasi oleh kerb, untuk

mencegah kendaraan keluar dari jalur.

(9).

Pulau lalu lintas

(traffic island), adalah bagian dari persimpangan

kerb, yang berfungsi

untuk

--.rrgrrrhfr,

jalan, yang ditinggikan dengan

lalu lintas, juga sebagai fasilitas pejalan kaki, pada saat menunggu

kesempatan menyeberang.

(10). Kanal Jalan(Channel), adalah merupakan bagian persimpangan

sebidang, yang khusus disediakan untuk membeloknya kendaraan, ditandai

oleh marka jalan, atau dipisahkan oleh pulau lalu lintas.

(11)

Jalur tambahan (auxilliary

lane), adalah merupakan jalur yang

disediakan untuk belok kiry'kanan, atau perlambatan/percepatan

kendaraan.

(12). Jalur tepian (marginal strip), adalah bagian dari median arau

separator luar, disisi bagian yang ditinggikan, yang sebidang dengan jalur

lalu lintas, diperkeras dengan bahan yang sama dengan jalur lalu lintas, dan disediakan untuk mengamankan ruang bebas samping dari jalur lalu lintas.

khusus pengendara sepeda

(13). Jalur sepeda(bicycle way), adalah ialur

dan becak, biasa dibangun sejajar dengan

jalur lalu

lintas, namun

dipisahkan dari jalur lalu lintas oleh struktur fisik seperti kerb atau

guardrail. Fasilitas ini sangat jarang ditemui di Indonesia.

l'rnrlulu0,urtr

!lr

(14). Jalur parkir(parking lane/stopping lane), adalah jalur khusus yang

rlisediakan untuk parkir atau berhenti, yang merupakan bagian dari jalur lalu lintas.

(15). Jalur tanaman (planted strip), adalah bagian dari jalan yang

disediakan untuk penanaman pohon, yang ditempatkan menerus

scpanjang trotoar, jalan sepeda atau bahu ialan.