Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stroke adalah kumpulan gejala klinis berupa gangguan dalam sirkulasi darah
ke bagian otak yang menyebabkan gangguan fungsi baik lokal atau global yang
terjadi secara mendadak, progresif dan cepat (WHO, 2010; Black & Hawks, 2009).
Menurut data WHO (2010) menyebutkan setiap tahunnya terdapat 15 juta orang
diseluruh dunia menderita stroke dimana 6 juta orang mengalami kematian dan 6
juta orang mengalami kecacatan permanen. Angka kematian tersebut diprediksi
akan terus meningkat dari 6 juta ditahun 2010 menjadi 8 juta ditahun 2030.
Di Indonesia, stroke menduduki peringkat ke tiga sebagai penyakit
mematikan setelah jantung dan kanker. Bahkan berdasarkan data terbaru dan hasil
Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas 2013), stroke merupakan penyebab
kematian utama di Indonesia. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 7
per 1.000 penduduk, dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 12,1
per 1.000 penduduk. Selain itu diperkirakan penyebab kematian utama di Rumah
Sakit akibat stroke 15%, dengan tingkat kecacatan mencapai 65%.
Pada pasien stroke, 70-80% mengalami hemiparesis (kelemahan otot pada
salah satu sisi bagian tubuh) dengan 20 % dapat mengalami peningkatan fungsi
motorik dan sekitar 50% mengalami gejala sisa berupa gangguan fungsi motorik /
kelemahan otot pada anggota ekstrimitas bila tidak mendapatkan pilihan terapi yang
baik dalam intervensi keperawatan maupun rehabilitasi pasca stroke (Akner, 2005).
Hemiparesis yang tidak mendapatkan penatalaksanaan yang optimal 30 - 60%
pasien akan mengalami kehilangan penuh pada fungsi ekstremitas dalam waktu 6
bulan pasca stroke (Stoykov & Corcos, 2009).
Intervensi untuk penyembuhan yang bisa dilakukan pada pasien stroke
selain terapi medikasi atau obat-obatan yaitu dilakukan fisioterapi/latihan seperti;
latihan beban, latihan keseimbangan, latihan resistansi, hydroteraphy, dan latihan
rentang gerak/Range Of Motion (ROM) (Baily, 2002).
Selain terapi yang sudat disebutkan terdapat terapi lainnya yang bisa
diterapkan dan dikombinasikan serta diaplikasikan pada pasien stroke untuk

meningkatkan status fungsional sensori motorik dan merupakan intervensi yang


bersifat non invasif, ekonomis yang langsung berhubungan dengan sistem motorik
dengan melatih/menstimulus ipsilateral atau korteks sensori motorik kontralateral
yang mengalami lesi yaitu yaitu terapi latihan rentang gerak dengan menggunakan
media cermin (mirror therapy). Terapi ini mengandalkan interaksi persepsi visualmotorik untuk meningkatkan pergerakan anggota tubuh yang mengalami gangguan
kelemahan otot pada salah satu bagian sisi tubuh / hemiparesis (Rizzolatti, et al.
2004).
Latihan

mirror

therapy

adalah

bentuk

rehabilitasi

latihan

yang

mengandalkan dan melatih pembayangan / imajinasi motorik pasien, dimana cermin


akan memberikan stimulasi visual kepada otak ( saraf motorik serebral yaitu
ipsilateral atau kontralateral untuk pergerakan anggota tubuh yang hemiparesis)
melalui observasi dari pergerakan tubuh yang akan cenderung ditiru seperti cermin
oleh bagian tubuh yang mengalami gangguan (Wang, et al .2013 ).
Beberapa penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa selama pasien stroke
melakukan latihan dengan menggunakan media cermin (mirror therapy), area yang
aktif selama pelaksanaan percobaan ini adalah korteks prefrontal area pramotor
korteks, korteks parietalis dan otak kecil yang merupakan area gerakan motorik
sehingga stimulasi yang berulang menyebabkan peningkatan kekuatan otot dan
mencegah kerusakan neuromuskular yang lebih berat dan mencegah penyebaran
ke area lain (Kang et al, 2012 ; Tominaga, W, et al, 2009; Christian, et al 2008; Vries
& Mulder, 2007 ; Karni et al. 2003). Di Indonesia hasil penelitian yang dilakukan oleh
Hedri Heriyanto (2015), menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan terhadap
kekuatan otot setelah dilakukan latihan mirror therapy pada pasien stroke iskemik
yang mengalami hemiparesis.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di RRSA angka kejadian stroke dalam
3 bulan terakhir di ruang 27 terdapat sebanyak 23 pasien dan di ruang 28 terdapat
25 pasien. Melihat tingginya angka kejadian stroke dan efek samping yang
ditimbulkan apabila stroke tidak mendapatkan penanganan yang baik pasca stroke,
maka penulis ingin memberikan alternatif untuk menunjang profesionalitas

keperawatan dan untuk meningkatkan pemberian pelayanan paripurna kepada


pasien stroke dengan mirror therapy
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana efek tindakan mirror therapy terhadap penyembuhan gerak motorik
bagi pasien stroke dengan unilateral neglect (hemiparese) ?
1.3 Tujuan
Mengetahui efek tindakan mirror therapy terhadap penyembuhan gerak
motorik bagi pasien stroke dengan unilateral neglect (hemiparese)
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi pasien
Pasien mendapatkan pelayanan terapi nonfarmakologis yang efektif,
noninvasive dan ekonomis dalam upaya penyembuhan kondisi kelemahan
1.4.2

anggota gerak bagi pasien stroke.


Bagi klinik
Dunia klinik mendapatkan pengetahuan dan skill baru terkait dengan terapi
nonfarmakologis

1.4.3

sebagai

penatalaksanaan

dalam

upaya

upaya

penyembuhan kondisi kelemahan anggota gerak bagi pasien stroke.


Bagi mahasiswa keperawatan
Mahasiswa keperawatan sebagai agen perubahan diharapkan menjadi
promotor dalam aplikasi ilmu keperawatan yang baru untuk memperbaiki
kinerja perawat sehingga mengoptimalkan efisiensi kerja serta untuk

1.4.4

meningkatkan mutu dan pelayanan secara paripurna.


Bagi institusi pendidikan
Institusi pendidikan mendapatkan pengetahuan baru dari praktek lapangan di
klinik yang sesuai dengan pembahasan teori sehingga bisa digunakan
sebagai bahan materi dalam memberikan pendidikan kepada mahasiswa
keperawatan yang akan menjadi generasi penerus di dunia keperawatan
untuk menjadi lebih baik.