Anda di halaman 1dari 5

MATERI

Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi


A. Definisi
Halusinasi adalah persepsi sensorik tentang suatu objek, gambaran dan
pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat
meliputi

semua

system

penginderaan

(pendengaran,

penglihatan,

penciuman, perabaan ataupengecapan), sedangkan menurut Wilson (1983),


Halusinasi adalah gangguan penyerapan/persepsi panca indera tanpa
adanya rangsangan dariluar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan
dimana terjadi pada saatkesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya
rangsangan tersebutterjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari
luar dan dariindividu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan
yang tidaknyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat
dibuktikan.
B. Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada
klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan
delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan
alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi dapat juga terjadi dengan epilepsi,
kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik.
C. Patofisiologi
Halusinasi merupakan bentuk yang paling seringdari gangguan
persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau
mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam
bentuk kalimat yang agak sempurna.Biasanya kalimat tadi membicarakan
mengenai keadaan pasien sendiri atau yang dialamatkan pada pasien
itu,akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi
itu.Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap mendengar atau bicara-bicara
sendiri atau bibirnya bergerak-gerak.
D. Rentang Respon Halusinasi
Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang
berada dalam rentang respon neurobiology. Ini merupakan respon persepsi

paling

maladaptif.

Jika

klien

sehat

persepsinya

akurat,

mampu

mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi


yang diterima melalui panca indra ( pendengaran, penglihatan, penghidu,
pengecapan, dan perabaan ), klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu
stimulus panca indra walaupun sebenarnya stimulus itu tidak ada. Diantara
kedua respon tersebut adalah respon individu yang karena sesuatu hal
mengalami kelainan persepsi yaitu salah mempersepsikan stimulus yang
diterimanya yang disebut sebagai ilusi. Klien mengalami ilusi jika
interpretasi yang dilakukannya terhadap stimulus panca indra tidak akurat
sesuai stimulus yang diterima.
E. Jenis Jenis Halusinasi
a)
Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara
berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas
berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap
antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar
dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk
b)

melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.


Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya,

gambar

geometris,gambar kartun,bayangan yang rumit atau kompleks.


Bayangan bias menyenangkan atau menakutkan seperti melihat
c)

monster.
Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses
umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu

d)
e)

sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.


Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses
Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.
Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang
lain.

F. Fase Halusinasi

Halusinasi yang dialami oleh klien biasanya berbeda intensitas dan


keparahannya. Fase halusinasi terbagi empat:
1)
Fase Pertama
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah,
kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada
hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan
stress. Cara ini menolong untuk sementara. Klien masih mampu
mengotrol kesadarnnya dan mengenal pikirannya, namun intensitas
2)

persepsi meningkat.
Fase Kedua
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman
internal dan eksternal, klien berada pada tingkat listening pada
halusinasi.
Pemikiran internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi
halusinasi dapat berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila
orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu mengontrolnya.
Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan

3)

memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.


Fase Ketiga
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi
terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Halusinasi memberi
kesenangan dan rasa aman sementara.

4)

Fase Keempat.
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi
mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan
dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada
dalam dunia yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau
selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.

G.

Manifestasi Klinik (tanda dan gejala)


1) Tahap I

Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai

Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara

Gerakan mata yang cepat

2)

Respon verbal yang lambat

Diam dan dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan


Tahap II
Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas
misalnyapeningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah
Penyempitan kemampuan konsenstrasi
Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan
kemampuanuntuk

3)

membedakan

antara

halusinasi

dengan

realitas.
Tahap III
Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh
halusinasinya daripada menolaknya
Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain
Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik
Gejala fisik dari ansietas berat seperti

berkeringat,

tremor,ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk

4)

Tahap IV
Prilaku menyerang teror seperti panik
Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang
lain
Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk,
agitasi,menarik diri atau katatonik
Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks
Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang

H.

Pohon Masalah
Resiko tinggi mencedera diri sendiri ,orang lain & lingkungan

Perubahan persepsi sensori ;halusinasi pendengaran


Isolasi sosial, menarik diri

Gangguan konsep diri, harga diri rendah


I.

SP pada Pasien Halusinasi


1) SP I
Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien
Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien
Mengidentifikasi ferekuensi halusinasi pasien
Mengidentifikasi siluasi yg menimbulkan halusinasi
Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi
Melatih pasien cara kontrol halusinasi dg menghardik
Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
2) SP II
Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
Melatih pasien cara kontrol halusinasi dengan berbicara dengan
orang lain
Membina pasien dalam memasukkan dalam jadwal kegiatan
3) SP III
Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
Melatih pasien cara kontrol halusinasi dengan kegiatan (yang biasa
dilakukan pasien)
Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
4) SP IV
Memvalidasi masalah dan latihan masalah sebelumnya
Menjelaskan cara kontrol halusinasi dengan teratur minum obat
Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan.

J. Kesimpulan
Jadi dari beberapa pendapat dapat di simpulkan bahwa halusinasi
ialah adanya rangsang apapun pada panca indera seorang, yang terjadi
dalam kehidupan sadar atau bangun, atau bentuk kesalahan pengamatan
tanpa pengamatan objektivitas penginderaan dan tidak disertai stimulus fisik
yang adekuat.