Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN


INFEKSI PERSARAFAN ABSES OTAK

OLEH:
KELOMPOK 3
TINGKAT 2.2 REGULER

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2015

NAMA ANGGOTA:

DEWA AYU TRIMARUTI


(P07120013047)
I GST. AG. EKA PURNAMA DEWI (P07120013048)
NI MADE NARI MAHENDRI
(P07120013049)

Konsep dasar
penyakit
ABSES OTAK

DEFINISI

Abses otak (AO) adalah suatu proses infeksi yang


melibatkan parenkim otak; terutama disebabkan
oleh penyebaran infeksi dari fokus yang berdekatan
atau melalui sistem vaskular. Timbunan abses pada
daerah otak mempunyai daerah spesifik, pada
daerah cerebrum 75% dan cerebellum 25%
( Elizabeth J, 2009).

ETIOLOGI
Penyebab dari abses otak ini antara lain, yaitu:
1. Bakteri
Bakteri yang tersering adalah Staphylococcus aureus,
Streptococcus anaerob, Streptococcus beta hemolyticus,
Streptococcus alpha hemolyticus, E. coli dan
Baeteroides. Jamur
2. Jamur
Penyebab AO antara lain Nocardia asteroides,
Cladosporium trichoides dan spesies Candida dan
Aspergillus.
3. Parasit
Walaupun jarang, Entamuba histolitica, suatu parasit
amuba usus dapat menimbulkan AO secara hematogen.
4. Komplikasi dari infeksi lain
Komplikasi dari infeksi telinga (otitis media, mastoiditis)
hampir setengah dari jumlah penyebab abses otak serta
komplikasi infeksi lainnya seperti: paru-paru

EPIDEMIOLOGI

Abses otak dapat terjadi pada berbagai kelompok


usia, namun paling sering terjadi pada anak berusia
4 sampai 8 tahun. Patogenesis abses otak tidak
begitu dimengerti pada 10-15% kasus.

Rate kematian penyakit abses otak masih tinggi,


yaitu sekitar 10-60% atau rata-rata 40%. Penyakit ini
sudah jarang dijumpai terutama di negara-negara
maju, namun karena resiko kematiannya sangat
tinggi, abses otak termasuk golongan penyakit
infeksi yang mengancam kehidupan masyarakat (life
threatening infection).

PATOFISIOLOGI

Fase awal abses otak ditandai dengan edema


lokal, hiperemia infiltrasi leukosit atau
melunaknya parenkim. Trombisis sepsis dan
edema. Beberapa hari atau minggu dari fase awal
terjadi proses liquefaction atau dinding kista
berisi pus. Kemudian terjadi ruptur, bila terjadi
ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak
dan bisa timbul meningitis.

AO dapat terjadi akibat penyebaran


perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak
maupun secara hematogen dari tempat yang
jauh, atau secara langsung seperti trauma kepala
dan operasi kraniotomi. Abses yang terjadi oleh
penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian
otak, tetapi paling sering pada pertemuan
substansia alba dan grisea; sedangkan yang
perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah
dekat permukaan otak pada lobus tertentu.

MANIFESTASI KLINIK
Tanda dan gejala awal dan umum dari abses otak adalah
nyeri kepala, penurunan kesadaran mungkin dapat terjadi,
kaku kuduk, kejang, defisit motorik, adanya tanda - tanda
peningkatan tekanan intrakranial. Tanda dan gejala lain
tergantung dari lokasi abses. ( Elizabeth J, 2009).

Lokasi

Tanda dan Gejala

Sumber Infeksi

Lobus frontalis

1. Kulit kepala lunak/lembut Sinus paranasal

Lobus temporal

1.
2.
3.
4.
5.

Cerebellum

1. Ataxia ipsilateral
Infeksi pada telinga tengah
2. Nystagmus
3. Dystonia
4. Kaku kuduk positif
5.
Nyeri
kepala
pada
suboccipital
6. Disfungsi saraf III, IV, V, VI.

2.
Nyeri
kepala
yang
terlokalisir di frontal
3.Letargi,
apatis,
disorientasi
4. Hemiparesis /paralisis
5. Kontralateral
6. Demam tinggi
7. Kejang
Dispagia
Gangguan lapang pandang
Distonia
Paralisis saraf III dan IV
Paralisis fasial kontralateral

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien
dengan kasus abses otak, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

X-ray tengkorak, sinus, mastoid, paru-paru: terdapat


proses suppurative.
CT scan: adanya lokasi abses dan ventrikel terjadi
perubahan ukuran.
MRI: sama halnya dengan CT scan yaitu adanya lokasi
abses dan ventrikel terjadi perubahan ukuran.
Biopsi otak: mengetahui jenis kuman patogen.
Lumbal Pungsi, meningkatnya sel darah putih, glukosa
normal, protein meningkat (kontraindikasi pada
kemungkinan terjadi herniasi karena peningkatan TIK).
(Barbara

KOMPLIKASI

Kemungkinan komplikasi yang akan terjadi


pada pasien dengan abses otak adalah:

Gangguan mental
Paralisis
Kejang
Defisit neurologis fokal
Hidrosephalus
Herniasi

PENATALAKSANAAN
Penetalaksaan medis yang dilakukan pada abses otak, yaitu:
1.
Support nutrisi: tinggi kalori dan tinggi protein.
2.
Terapi peningkatan TIK
3.
Support fungsi tanda vital
4.
Fisioterapi
5.
Pembedahan
6.
Antibiotik: Penicillin G, Chlorampenicol, Nafcillin,
Matronidazole. Glococorticosteroid: Dexamethasone.
Anticonvulsants: Oilantin.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN


DENGAN GANGGUAN INFEKSI
PERSARAFAN ABSES OTAK

PENGKAJIAN
Identitas klien
Nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,
suku bangsa, tanggal MRS.

2. Riwayat Penyakit
a. Keluhan utama
Nyeri kepala disertai dengan penurunan kesadaran dan
mengalami kejang serta muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang
c. Riwayat penyakit dahulu
Pernah atau tidak menderita infeksi telinga (otitis media,
mastoiditis ) atau infeksi paru-paru (bronkiektaksis,abses
paru,empiema) jantung ( endokarditis ), organ pelvis, gigi
dan kulit.
d. Riwayat penyakit keluarga
Apakah dalam keluarga ada atau tidak yang mempunyai
penyakit infeksi paru paru, jantung, AIDS.
1.

3. Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum
1. penurunan tingkat kesadaran secara drastis,
2. TTV meliputi TD, N, RR, S. (Suhu badan mengalami
peningkatan 38-41C)

Keadaan Fisik
1) Kepala
Apakah pernah mengalami cidera kepala
2) Kulit
3) Penglihatan
4) Penciuman
5) Pendengaran
6) Mulut
7) Leher
8) Dada
9) Abdomen
10)Genetalia
11)Ekstremitas Bawah
Terdapat penurunan dalam gerakan motoric, kekuatan otot menurun
tidak ada koordinasi dengan otak, gangguan keseimbangan otot

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan


akumulasi sekret, kemampuan batuk menurun akibat penurunan
kesadaran.

2.

Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan


peradangan dan edema pada otak dan selaput otak

3.

Hipertermi berhubungan dengan inflamasi sekunder pada pusat


pengatur suhu tubuh.

4.

Nyeri berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak

5.

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kejang, perubahan


status mental dan penurunan tingkat kesadaran.

6.

Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik.

7.

Koping individu tidak efektif berhubungan dengan prognosis


penyakit, perubahan psikososial, perubahan persepsi kognitif,
perubahan actual dalam struktur dan fungsi, etidakberdayaan
dan merasa tidak ada harapan.

INTERVENSI KEPERAWATAN
2. Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan
peradangan dan edema pada otak dan selaput otak
Intervensi
Monitor kesadaran klien dengan
ketat
Monitor tanda tanda TIK selama

Rasional
Untuk mengetahui secara dini
perubahan tingkat kesadaran.
Untuk mendeteksi tanda syok

perjalanan penyakit( nadi lambat,


TD Meningkat, Kesadaran menurun,
nafas irregular, reflek pupil
menurun)
Monitor tanda vital dan neurologis

Untuk memudahkan intervensi

setiap 5-30 menit.

program pengobatan dan

Hindari posisi tungkai di tekuk

perawatan lebih dini


Untuk mencegah peningkatan TIK

Tinggikan sedikit kepala secara hati-

Untuk mencegah peningkatan

hati, cegak gerakan secara tiba-tiba,

TIK

hindari fleksi leher

Bantu seluruh aktivitas dan gerakan

Untuk mencegah regangan oto

klien

yang dapat menimbulkan

Beri penjelasan keadaan lingkungan

peningkatan TIK
Untuk mengurangi disorientasi

kepada klien

dan untuk klarifikasi persepsi


sensorik yang terganggu

Evaluasi selama masa penyembuhan

Untuk merujuk ke rehabilitasi

terhadap gangguan motoric, sensorik


dan intelektual
Kolaborasi :
Pemberian steroid osmotic

Untuk menurunkan TIK

3. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi


sekunder pada pusat pengatur suhu tubuh.
Intervensi

Rasional

Kaji saat timbulnya demam.

Untuk mengidentifikasi pola demam pasien.

Observasi tanda vital (suhu,

Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui

nadi, tensi, pernafasan) setiap 2

keadaan umum pasien.

jam.
Anjurkan pasien untuk banyak

Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan

minum (2.500 3.000 ml/24 jam.) penguapan tubuh meningkat sehingga perlu
diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
Berikan kompres hangat.

Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan


penguapan yang mempercepat penurunan suhu

Anjurkan untuk tidak memakai

tubuh.
Pakaian tipis membantu percepatan penguapan

selimut dan pakaian yang tebal.

tubuh.

Kolaborasi:

Untuk menurunkan demam.

Dengan pemberian antipiretik

4. Nyeri berhubungan dengan iritasi


selaput dan jaringan otak
Intervensi

Rasional

Buat lingkungan ruangan yang aman dan Mengurangi reaksi terhadap


nyaman

rangsangan eksternal, dan


menganjurkan agar klien dapat

Berikan kompres dingin pada kepala

beristirahat.
Dapat menyebabkan vasokontriksi
pembuluh darah otak

Pantau skala nyeri

Untuk memonitor proses penyakit

Lakukan manajemen nyeri dengan

Memutuskan stimulasi sensasi nyeri

metode distraksi dan nafas dalam


Lakukan gerak aktif dan pasif secara

Membantu relaksasi otot yang

hati-hati

mengalami ketegangan dan

Kolaborasi

menurunkan nyeri
Untuk menurunkan rasa sakit.

Pemberian analgesic

SEKIAN DAN TERIMA KASIH