Anda di halaman 1dari 30

What Is

World Class Maintenance ?

Konsep Menuju World Class Maintenance

Paparan Konsep Menuju World Class Maintenance ini kami sadur berdasarkan
konsep dari Marshall Institute dan Japan Institute of Plant Maintenance (JIPM)
mengenai alur kegiatannya, sedangkan yang terkait dengan organisasi kami
sarikan dari tutorial tentang Learning Organization oleh Doreen Warren.

Konsep Menuju World Class Maintenance


JALAN PANJANG MENUJU WORLD CLASS MAINTENANCE

Ada dua bahasan yang akan dipaparkan di bawah ini dalam rangka memotret
sistem manajemen perawatan industri, dalam upaya agar suatu sistem
perawatan industri dapat mencapai kategori World Class Maintenance.
Bahasan pertama bersifat filosofis dan bahasan kedua adalah hal-hal praktis
yaitu: tahapan, metode dan teknik perawatan yang harus diterapkan secara
konsisten untuk dapat mencapai World Class Maintenance tersebut.
Bahasan pertama mengacu pada anjuran yang diberikan oleh Marshall
Institute, dengan sedikit tambahan tentang Learning Organization yang perlu
untuk mempertahankan status World Class, dan bahasan kedua mengacu pada
salah satu anjuran dari Tokutaro Suzuki pada bukunya TPM for Process
Industries.

Konsep Menuju World Class Maintenance


1.

Evolusi Perawatan Melalui Domain-domain Perawatan Yang Stabil.

Kita tahu bahwa jenis perawatan yang paling primitif adalah perawatan reaktif
(reactive maintenance) yang berprinsip bahwa kita hanya akan melakukan
penanganan tertentu apabila telah terjadi kegagalan pada asset tersebut. Oleh
karena itu domain dari kegiatan ini disebut sebagai reaktif. Domain ini adalah
stabil dalam arti bahwa kita akan selalu melakukan kegiatan reaktif yang sama
terus menerus selama kita tidak mau berubah. Sifat pekerjaan ini atau sifat
penanganan ini disebut sebagai responsive work .
Implikasi dari penanganan seperti ini adalah sangat rendahnya reliability,
availability, dan kondisi serta kinerja dari asset yang didapat yang pada
gilirannya menjurus ke prestasi bisnis yang paling rendah. Domain ini tetap
akan bertahan apabila pemilik asset tidak merasa disaingi dalam bisnisnya.
Lihat Gambar 1 (Marshall Institute).

Konsep Menuju World Class Maintenance

Konsep Menuju World Class Maintenance


Begitu persaingan meningkat, maka pada saat itu pula pemilik asset ingin agar
kurva kinerjanya meningkat, yang hanya bisa didapat hanya dengan
meninggalkan paradigma perawatan reaktif, menuju ke domain perawatan
terencana, yaitu dengan meningkatkan efisiensi pekerjaan. Mereka yang
berpindah ke domain perawatan terencana akan memiliki peluang untuk
menang dalam persaingan dengan cara antara lain mensistematiskan
manajemen sumber dayanya melalui perencanaan dan penjadualan
pekerjaannya, pengaturan suku cadang dan penggudangan yang lebih baik,
dan membangun sistem-sistem pengendalian perintah pekerjaan yang baik.
Dalam domain perawatan terencana maka pelaksanaan perawatannya
diupayakan dilakukan sebelum terjadi kegagalan. Mengingat sulitnya
menetapkan pekerjaan yang betul-betul harus dilakukan mengakibatkan
kadangkala terdapat pekerjaan yang sebetulnya tidak perlu dilakukan tetapi
tetap dilakukan dalam upaya mencegah kegagalan sebelum kegagalan tersebut
diperkirakan terjadi. Dengan sendirinya efektifitas biaya perawatannya masih
belum teroptimasikan. Sehingga sebetulnya penggunaan yang lebih produktif
dari tenaga kerja, material, dan kapital dapat lebih ditingkatkan apabila kita
dapat mengetahui dengan pasti kegagalan apa yang sedang akan terjadi dan
kapan akan terjadi pada asset tersebut.

Konsep Menuju World Class Maintenance


Selama tidak merasa disaingi dalam bisnisnya maka domain perawatan
terencana yang diterapkan akan tetap stabil. Tetapi apabila persaingan
meningkat maka tidak bisa tidak kita harus meninggalkan paradigma
perawatan terencana (yang stabil dalam domainnya) menuju apa yang kita
sebut sebagai improved precision domain. Ini merupakan domain yang stabil
pula di mana kegagalan atau cacat tidak hanya sekadar ditangani dengan lebih
baik tetapi kegagalan atau cacat itu dieliminasikan, sehingga kegagalan tidak
akan pernah terjadi lagi.
Di sinilah mulai berperannya RCM dan TPM. Motto TPM adalah Zero Defect
Maintenance atau kadangkala disebut sebagai Zero Breakdown
Maintenance. RCM memiliki ide yang serupa dengan TPM (similar), RCM
menekankan pada eliminasi kegagalan atau setidak-tidaknya mengeliminasi
dari konsekuensi-konsekuensi kegagalan dengan sangat menekankan pada
eliminasi dari penyebab yang paling mendasar dari kegagalan atau yang biasa
disebut sebagai Root Cause Analysis (RCA).

Konsep Menuju World Class Maintenance


Domain ini adalah apa yang biasa kita sebut sebagai World Class
Maintenance. Di sini peran RCM dan TPM akan berlanjut, peningkatan
prestasi akan terjadi pula dengan penambahan lagi akan pengertian
tentang continuous improvement. Walaupun demikian persyaratan
untuk dapat dicapainya domain prestasi World Class yang terpercaya
adalah apabila Organizational Learning telah bisa diterapkan.
Perlu diingat bahwa domain-domain tersebut bukan tujuan atau goal,
tetapi merupakan suatu perjalanan yang harus dilalui yang dalam
kenyataannya masing-masing domain bisa berperan terus menerus
sesuai dengan kebutuhan selama berjalannya bisnis.

Konsep Menuju World Class Maintenance


2. Tiga Langkah Menuju WORLD CLASS MAINTENANCE (Marshall Institute)
i. Pembenahan Awal Terpadu
Benahi Sistem-sistem Internal tempatkan pada tempat yang benar sebagai pondasi
untuk peningkatan. Ciptakan praktek-praktek manajemen yang baik demikian pula
Sistem-sistem Informasinya

ii. Melangkah Lebih Jauh Lagi


Penerawangan dan penciptaan Visi, bersatu dalam Missi, menciptakan kemitraan
antara Perawatan dan Produksi, membentuk Perawatan sebagai suatu bagian
integral dari Strategi Bisnis Pabrik.

iii. Penyelesaian Proses, bukan hanya Masalah


Membangun "Mentalitas Zero Breakdown" melalui RCM dan TPM, dalam rangka
mengeliminasi kemungkinan terputusnya proses melalui Learning Organization.

Tiga langkah sederhana ini menggambarkan tentang bagaimana perawatan dapat


ditingkatkan, diintegrasikan ke dalam missi menyeluruh organisasi, yaitu
perawatan dioptimasikan kontribusinya (bukannya diminimasi biayanya),
ini semua merupakan kerangka kerja untuk membangun visi dan untuk
mengorganisasi penanganannya. Lihat Gambar 2 (Marshall Institute).

Konsep Menuju World Class Maintenance

10

Konsep Menuju World Class Maintenance


Memulai
Perlu penekanan bahwa mulai saat ini ke depan perawatan (harus) bertindak
sebagai kontributor utama untuk mencapai tujuan bisnis. Perawatan akan
mengimplementasikan sistem, prosedur dan kebijakan yang menjurus ke
meningkatnya manajemen, kontrol, dan eksekusi fungsi perawatan. Haruslah
diperjelas bahwa organisasi perawatan akan mensupport pabrikasi dengan
kualitas yang tertinggi dengan biaya terendah dengan bermitra dengan
Produksi dan berkolaborasi dengan departemen terkait lainnya untuk
mendapatkan:

suatu organisasi pekerja keras, cukup staf, yang dirancang dengan baik dari
mereka-mereka yang memiliki kompetensi, yang bekerja secara harmonis satu
sama lainnya dalam melayani pabrik;
prosedur, metode, teknik perekaman yang dikembangkan secara baik yang
digunakan untuk secara cerdas dan efektif mengontrol kegiatan-kegiatan
perawatan dan sumber daya;
standar-standar kualitas dan prosedur yang tinggi untuk medapatkan kegiatankegiatan perawatan dengan prestasi tinggi;
kemampuan memproduksi melalui optimasi reliability peralatan dan utilisasi
asset dengan tetap memenuhi seluruh persyaratan-persyaratan pemasaran,
produksi dan compliance.

11

Konsep Menuju World Class Maintenance


LANGKAH 1
Memulai Kegiatan
(Reactive ke Terencana)
Peningkatan perawatan harus dimulai dengan proses-proses manajemen yang baik.
Maka untuk menciptakan sumberdaya perawatan yang lebih produktif membutuhkan

implementasi dari metode perencanaan,


struktur organisasi dan pengukuran dan teknik-teknik kontrol yang baik untuk
melaksanakan dan mengendalikan proses perawatan dari sisi arah, kualitas,
kuantitas, standar prestasi dan ekonomi serta efisiensinya.

Peter Drucker menyatakan bahwa tugas dari bisnis adalah untuk membuat sumber
daya -- tenaga kerja, material, modal -- supaya produktif. Defisiensi yang paling
signifikan yang terkait dengan proses perawatan di kebanyakan pabrik adalah
sesuatu yang "systemic". Ini bukan merupakan masalah kompetensi manajemen,
kemampuan atau kegagalan, tetapi pada dasarnya merupakan kekurangan dalam
praktek dan sistem manajemen dengan mana sumberdaya secara produktif
dikendalikan. Jadi pada dasarnya, adalah kurangnya pemahaman yang jelas dan
konsisten dari peran strategik perawatan yang harus bermain dalam percaturan
produksi maupun bisnis (melalui reliability dan availabilty, kualitas dan unit cost yang
lebih rendah).

12

Konsep Menuju World Class Maintenance


Ruang lingkup manajemen sumber daya perawatan dalam rangka prestasi dan
produktivitasnya adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Maintenance Requests
Maintenance Planning and Scheduling
Work Management System; Work Order System
Information Management Systems (CMMS)
Preventive Maintenance Systems
Predictive Maintenance Systems
Inventory & Stores (Materials Control)
Supervisory/Leadership Skills
Training and Development
Organizational Structures
Maintenance and Reliability Engineering

13

Konsep Menuju World Class Maintenance


Ini merupakan suatu pola baku yang harus dimiliki perawatan, inherent atau
melekat pada dirinya, yang merupakan job desc dari dirinya yang akan
menggulirkan teknik-teknik dalam rangka pelaksanaannya yaitu:
1.
2.

Menyiapkan tenaga kerja berketerampilan tinggi, efisien dan bermotivasi;


Menciptakan secara efektif dan efisien perencanaan pekerjaan,
komunikasi dan eksekusi proses dan prosedur;
3. Menyiapkan tools, supplies, fasilitas dan dokumentasi teknis dan
kepakaran yang dibutuhkan untuk mengeksekusi secara efektif dan
efisien;
4. Untuk mampu membuat keputusan berbasis data, didasarkan pada
prioritas bisnis dan goal yang telah disetujui;
5. Untuk mampu membuat ukuran-ukuran prestasi yang akurat dan berarti;
6. Menggunakan sistem informasi yang mencerminkan data histori yang
akurat untuk penelusuran dan analisis;
7. Memiliki ekspektasi atau harapan yang bisa dimengerti untuk continuous
improvement;
8. Kemampuan manajemen proyek yang praktis dan efisien;
9. Administrasi standar dan prosedur yang efektif dan efisien dan
10. Melakukan yang dasar-dasar dengan baik

Semua ini sudah ada metode pengembangannya yang sangat memudahan


penerapannya.

14

Konsep Menuju World Class Maintenance

Untuk dapat menciptakan pondasi dalam rangka mencapai tahapan


berikutnya maka perlu dilakukan pemotretan kondisi sistem perawatan untuk
kemudian dilakukan rekomendasi dalam rangka implementasi perbaikannya.
Survai yang dilakukan pada awal pekerjaan ini dapat menghasilkan temuan
awal yang apabila dapat dibenahi dengan benar hasilnya merupakan pondasi
yang sangat kuat dalam meniti tahap pertama (milestone) dari jalan menuju
ke world class maintenance.

15

Konsep Menuju World Class Maintenance


LANGKAH 3
Fix the Process, Not Just the Problems
(Proactive ke Improved Precision. World Class.)
Perawatan merupakan tools sebagaimana JIT, Six Sigma, Lean Manufacturing,
atau sebarang dari metode dan teknik-teknik "world class" lainnya yang
tersedia untuk manajemen untuk meningkatkan tingkat kompetitif
perusahaan, memainkan suatu peran utama dalam menurunkan quality
defects, peningkatan kapasitas dan throughput, danpeningkatan produktifitas
dan profitability dari pabrik secara keseluruhan.
Dengan Langkah 3 ini, sudah tiba saatnya untuk bergerak melampaui
tingkatan melakukan pekerjaan lebih effektif, atau melakukannya dengan
bermitra dengan fungsifungsilainnya dalam pabrik. Bagi perawatan kini sudah
saatnya kita berhenti melakukan ini semua ! "Zero Breakdown Maintenance"
merupakan tujuan.

16

Konsep Menuju World Class Maintenance


Reliability-Centered Maintenance. RCM merupakan suatu pendekatan yang
sistematis, sangat terstruktur dan berdisiplin tinggi untuk memaksimumkan
keselamatan dan fungsi dari asset peralatan. RCM menggunakan suatu
kerangka kerja yang akurat untuk mengidentifikasi seluruh potensial atau cara
suatu asset bisa gagal. Ini merupakan cara berpikir baru terhadap perawatan:
daripada mencegah kegagalan pada seluruh kasus dan seluruh jajaran, adalah
lebih baik untuk mencoba menghindarkan konsekuensi-konsekuensi
kegagalannya.
RCM mengkombinasikan seluruh teknik perawatan reactive (breakdown atau
run-tofailure), perawatan pencegahan (PM berbasis frekuensi atau berbasis
siklus), perawatan prediktif (PdM berbasis kondisi), dan failure finding, dan
mencoba untuk secara optimal menerapkan strategi-strategi ini (sering-sering
dalam kombinasinya) dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat
mengoptimasikan reliability peralatan dengan cara yangpaling ekonomis.

17

Konsep Menuju World Class Maintenance


Studi Reliability-Centered Maintenance menunjukkan bahwa:
Reliability peralatan tidak tergantung pada jenis peralatan, kekompleksan
proses, kapasitas, dan lokasi
Program perawatan pencegahan sendirian tidak menjamin keandalan
peralatan dan integritas mekanikal
Reliability dan integritas mekanikal dapat meningkat selagi biaya
perawatan menurun
Program RCM yang komprehensif dan workable dapat dikembangkan untuk
fasilitas, berapapun usianya, ukurannya atau kekompleksannya.
RCM klasik menekankan pada mode-mode kegagalan aktual atapun yang
mungkin terjadi dan efek atau konsekuensi-konsekuensi dari mode-mode ini.
RCM mencoba menggunakan history, analisis risiko, fungsi probabilistik
(metode statistik), dan pertimbangan ekonomi untuk mengidentifikasi metodemetode atau strategi-strategi yang paling cost effective untuk menghindarkan
atau menurunkan konsekuensi kegagalan. RCM klasik mengambil pengalaman
dan pengetahuan dari pakar operasi dan perawatan, yang bisa sangat teknis.

18

Konsep Menuju World Class Maintenance


Efektifitas RCM telah terbukti, dan hasilnya berimbang dengan usahanya; akan
tetapi adanya konsensus yang terus berkembang yang menyatakan bahwa
adanya tingkat kekompleksan dan keakurasian metodologi, menyebabkan RCM
bisa mahal dan padat sumber daya; konsekuensinya akan membutuhkan
support manajemen yang kuat dan "konsisten terhadap tujuan" demi
kesuksesannya.
Penerapan RCM yang sukses membutuhkan leadership dan disiplin organisasi
yang signifikan. Sebagai akibatnya, sejak beberapa tahun yang lalu terlihat
berkembangnya sejumlah turunan "streamlined" dari RCM; metode-metode ini
adalah kontroversial terhadap para praktisi RCM klasik, tetapi mulai diterima
secara cepat sebagai alternatif untuk situasi tertentu.

19

Konsep Menuju World Class Maintenance


Total Productive Maintenance. Konsep TPM dan RCM memberi pelajaran
kepada kita bahwa "zero breakdown", memang secara aktual bisa dicapai, dari
sisi keinginan maupun kebutuhan. Ini memang telah dibuktikan oleh pabrikpabrik yang beroperasi dengan downtime yang diukur dalam fraksi jam / menit
pertahunnya, oleh pesawat terbang secara signifikan tidak gagal (secara
statistik).
TPM merupakan suatu tool yang sangat ampuh yang telah terbukti mampu
mengubah budaya di pabrik. TPM menjalin seluruh organisasi (terutama
perawatan dan operasi) dalam mengeliminasi setiap hal yang berpengaruh
buruk pada overall equipment effectiveness (OEE = Availability x Production
Rate x Quality Rate). OEE merupakan ukuran prestasi yang harus dicapai
bersama-sama secara maksimal oleh perawatan danproduksi.

20

Konsep Menuju World Class Maintenance


TPM merupakan suatu proses untuk meningkatkan reliability dan efisiensi
dengan mengikutsertakan seluruh karyawan dalam memelihara, membeli dan
meningkatkan peralatan. Ini merupakan pendekatan life cycle, yang
menerapkan beberapa prinsip yang sederhana dan memiliki common sense:

Mempertahankan kondisi dasar mesin seperti kebersihan, pelumasan, dan


mempertahankan alignment dan kekencangan yang tepat.
Mempertahankan prosedur-prosedur operasi yang tepat
Bersama-sama (share) bertanggung jawab pada perawatan peralatan
Mendeteksi defect yang imminent dan mencegah deteriorasi
Melakukan koreksi terhadap rancangan sedini mungkin
Meningkatkan tingkat-tingkat ketrampilan personnel perawatan dan operator

Goal dari TPM adalah sama sederhananya:

Menurunkan breakdowns ke zero


Menurunkan quality defects ke zero
Menurunkan safety losses ke zero
Menurunkan minor stoppages ke zero
Menurunkan biaya operasi dan perawatan
Memaximumkan Overall Equipment Efficiency

21

Konsep Menuju World Class Maintenance


EPILOG
Penjabaran secara praktis dari ketiga langkah menuju World Class Maintenance
tersebut dapat dikaji dalam paragraf-paragraf berikut mengacu pada statement
dari Tokutaro Suzuki dalam buku TPM in Process Industries dan Doreen Warren
dalam tutorialnya Organizational Learning.
Statement dari Tokutaro Suzuki tersebut sangat berperan dalam langkah 1 dan
2 menuju World Class Maintenance yang menekankan akan mutlaknya
perencanaan pekerjaan dan disiplin organisasi yang harus tetap berlaku sampai
kapanpun walaupun organisasi telah mencapai status World Class. Sedangkan
Organizational Learning yang menekankan pada continuous improvement dan
sustainability dari kepakaran dalam organisasi menjadi ciri untuk tetap
mempertahankan status world class tersebut.

22

Konsep Menuju World Class Maintenance


Dari kaitan ini maka statement Tokutaro Suzuki tersebut perlu di pahami
sebagai berikut:
Implementing a periodic / preventive maintenance system before establishing
basic conditions - when equipment is still dirty, nuts and bolts are loose or
missing, and lubrication devices are not working properly - frequently leads to
failures before the next major service is due.
To prevent these would require making the service interval unreasonably short,
and the whole point of the preventive maintenance program would be lost.
Rushing into predictive maintenance is equally risky. Many companies purchase
diagnostic equipment and software that monitors conditions, while neglecting
basic maintenance activities.
It is impossible, however, to predict optimal service intervals in an environment
where accelerated deterioration and operating errors are unchecked.
Tokutar Suzuki dalam bukunya TPM for Process Industries menempatkan
predictive maintenance pada tahap akhir dari 4 tahap kegiatan yang harus
dilakukan dalam rangka mencapai kondisi zero breakdown.

23

Konsep Menuju World Class Maintenance


Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:
Tahap 1. Stabilkan Interval Kegagalan

Kembalikan mesin ke kondisi dasarnya dengan membersihkan, melumas, dan


mengencangkan,

Selidiki kejanggalan (abnormality) dan eliminasi deteriorasi,

Klarifikasi, kaji dan perjelas tentang ada pada kondisi apa pelaksanaan
operasi saat ini dan penuhi syarat penggunaannya (konteks operasi),

Eliminasi lingkungan penyebab percepatan deteriorasi (eliminasi atau


kendalikan sumber pencemar atau sumber kontaminasi),

Bangun standar inspeksi harian dan pelumasan rutin,

Tingkatkan kontrol visual yang ekstensif,


Tahap 2. Perpanjang Jam Operasi Mesin

Evaluasi peralatan untuk memilih bagian-bagian yang akan dilakukan


perawatan intensif (buat prioritas tugas),

Gunakan Pareto untuk merinci peringkat kegagalan yang paling serius,

Cegah kegagalan utama jangan sampai terulang kembali,

Koreksi kelemahan rancangan mesin,

Eliminasi kegagalan tak terduga dengan menghindarkan kesalahan operasi


dan reparasi,

Tingkatkan ketrampilan mengeset dan mengadjust,


24

Konsep Menuju World Class Maintenance


Tahap 3. Secara Sistematis Menghilangkan Deteriorasi

Bangun sistem perawatan periodik

laksanakan service periodik

laksanakan inspeksi periodik

bangun standar kerja

kendalikan suku cadang

komputerisasikan informasi perawatan

Kenali tanda-tanda kejanggalan yang terjadi pada proses dan deteksi


kejanggalan-kejanggalan tersebut secara lebih dini

Tangani kejanggalan-kejanggalan dengan benar


Tahap 4. Prediksi Umur Mesin

Bangun sistem perawatan predictive:


Latih pelaku diagnostik peralatan
Perkenalkan teknik-teknik diagnostik peralatan

Konsolidasi peningkatan kegiatan:


Laksanakan analisis kegagalan yang canggih menggunakan teknikteknik engineering yang khas
Perpanjang umur mesin dengan menggunakan material dengan
kemampuan yang lebih lanjut dan terapkan sebisa mungkin teknologi
baru
25

Konsep Menuju World Class Maintenance


Jadi secara teknis praktis Langkah Pertama dan Kedua untuk bisa mencapai
Kondisi ProActive yang sebenarnya yang ada pada langkah Ketiga harus dapat
diterapkan dengan baik. Ini semua dapat berlangsung apabila organisasinya
merupakan Learning Organization yaitu suatu organisasi yang akan selalu ada
dalam proses

mencipta (creating),
mengakuisisi (acquiring),
mentransfer (transferring), dan
mempertahankan (retaining) pengetahuan (knowledge) dan
melakukan modifikasi (modifying) perilaku yang ada saat ini (current
behaviour) untuk meningkatkan efisiensi (to increase efficiency).

Organizational Learning itu sendiri merupakan suatu proses yang


memungkinkan suatu organisasi untuk dapat menggunakan dengan lebih baik
pengetahuan (knowledge) dari para anggautanya dalam membuat keputusan
bisnis. Pada organisasi yang konvensional, keputusan-keputusan biasanya
didasarkan pada perspektif manajemen dengan tidak memperhitungkan
(mengikutsertakan) anggauta-anggauta organisasi lainnya. Suatu bisnis yang
menggunakan Organizational Learning mengakui nilai tambah dengan
memasukkan seluruh anggautanya dalam proses pengambilan keputusan.

26

Konsep Menuju World Class Maintenance


Organizational Learning telah berkembang menuju suatu metodologi dengan
mana bisnis memfasilitasi kolaborasi di dalam organisasi itu sendiri untuk
berkonsentrasi pada continuous improvement. Organisasi yang menerapkan
filosofi ini disebut sebagai Learning Organization. Suatu Learning Organization
mengakui bahwa suatu bisnis terdiri dari orang yang memiliki komitmen dari
seluruh yang ada di organisasi untuk mendapatkan tujuan-tujuan organisasi
yang terbaik.
Melalui Organizational Learning suatu organisasi mendapatkan pengetahuan
dan mengembangkan ketrampilan untuk memperkuat anggauta-anggautanya
untuk bekerja dalam suatu team yang kohesif (solid).
Tabel berikut mengidentifikasikan beberapa dari perbedaan-perbedaan yang
mendasar antara Organisasi Konvensional dan Learning Organization.

27

Konsep Menuju World Class Maintenance

Organisasi Konvensional
Terpaku pada pandangan manajemen
tentang methode dan goals
Membuat keputusan berdasarkan apa yang
saat ini terbaik diterapkan pada struktur
organisasi

Menerima (adapt) dan atau bereaksi


terhadap perubahan

Learning Organization
Fleksibel dan terbuka bagi ide-ide baru
1. Bersedia untuk mengabaikan status
quo demi innovasi
2. Management mendorong seluruh
anggautanya untuk secara terus
menerus memikirkan kembali apa
yang mereka kerjakan, bagaimana
mereka mengerjakan, dan
bagaimana seharusnya mereka
dapat mengerjakannya dengan lebih
baik
Mengantisipasi masa depan dan berjuang
untuk menciptakan services dan produk
sebelum yang lain sadar akan ini.
28

Konsep Menuju World Class Maintenance

Langkah pertama untuk menerapkan Organizational Learning adalah


memberi dorongan ke seluruh anggauta organisasi untuk secara
berkesinambungkan belajar dengan memberi imbalan bagi anggautaanggauta yang meningkat kompetensinya. Pemahaman akan bagaimana
orang belajar merupakan kunci untuk mengimplementasikan suatu sistem
yang efektif. Adaptive learning merupakan proses belajar yang reaktif
terhadap perubahan dan didasarkan pada aturan dan struktur. Sebaliknya,
proactive learning berjalan melampaui reaktif dan terjadi apabila selalu
bersedia untuk melakukan perubahan-perubahan. Implementasi dari
Organizational Learning membutuhkan insentif untuk mendorong
pelaksanaan proactive learning.
Langkah kedua dalam mengimplementasikan Organizational Learning
adalah untuk menerapkan Team Learning dimana orang-orang bersedia dan
mampu untuk bekerjasama untuk membangun mindsets baru dan
mentransfer pengetahuan melalui organisasi tersebut.
Pada langkah ketiga, Organizational Learning mensyaratkan agar organisasi
menggunakan pengetahuan yang makin meningkat untuk menciptakan
peluang-peluang pasar yang baru.

29

Konsep Menuju World Class Maintenance

Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, pengembangan Organizational


Learning membutuhkan kemampuan untuk mencipta (creating),
mengakuisisi (acquiring), mentransfer (transferring), dan mempertahankan
(retaining) pengetahuan (knowledge) dan melakukan modifikasi (modifying)
perilaku yang ada saat ini (current behaviour) untuk meningkatkan efisiensi
(to increase efficiency).
Pengetahuan didapat dari berbagai sumber di dalam maupun dari luar
organisasi. Orang yang bekerja dalam organisasi memahami kebutuhan
sehari-hari dan memiliki dasar-dasar pengetahuan yang dibutuhkan untuk
membantu manager sewaktu mencoba menyelesaikan masalah-masalah.
Memanfaatkan sumber daya manusia bersama-sama dengan kemampuan
manajer untuk mengenal dan menginterpretasikan pengetahuan adalah
kritis. Juga sangat penting terjadinya alih pengetahuan apabila seseorang
meninggalkan organisasi sehingga pengetahuan tersebut tinggal dan tidak
hilang.

30