Anda di halaman 1dari 36

SPESIFIKASI RKS TIANG PANCANG

PEKERJAAN PONDASI TIANG PANCANG


PASAL 1 - UMUM
1.1. Persyaratan-Persyaratan Umum
A. Kecuali ditentukan lain semua pekerjaan pada bab ini, seperti terlihat atau
terperinci harus sesuai dengan persyaratan dari seluruh bagian dari kontrak dokumen.
B. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan setting out (penentuan titik posisi tiang dilapangan
sesuai dengan gambar rencana), mobilisasi dan demobilisasi alat, pengadaan dan
pemancangan tiang pancang beton bertulang termasuk percobaan beban pada tiang,
penggalian setempat dan pemotongan kepala tiang.
Panjang tiang yang dicantumkan pada gambar adalah sebagai petunjuk untuk
kontraktor, tetapi kontraktor harus memutuskan panjang tiang yang sebenarnya yang
diperlukan untuk mencapai persyaratan pemancangan. Laporan penyelidikan tanah
dan percobaan pemancangan tiang pendahuluan akan diberikan pada Kontraktor
pekerjaan pondasi.
1.2. Lingkup Pekerjaan
A. Pekerjaan yang berhubungan :
Kontraktor bertanggung jawab atas fasilitas-fasilitas yang berkepentingan untuk
pekerjaan ini seperti jalan-jalan diproyek, tempat penumpukan tiang, galian pada
setiap titik, perlindungan terhadap fasilitas-fasilitas yang telah ada seperti pipa air,
kabel tilpon, kabel listrik, pipa gas, saluran-saluran umum dan fasilitas-fasilitas
lainnya baik yang berada dilokasi proyek maupun dilokasi yang bersebelahan dengan
proyek.
B. Pekerjaan yang termasuk :
Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang ini harus terdiri dari hal-hal berikut :
1. Penyediaan tiang pondasi dari beton precast
2. Pengadaan perlengkapan termasuk tenaga kerja
3. Pemancangan tiang pondasi.
4. Percobaan pembebanan tiang
5. Penyerahan semua data seperti ditentukan dalam spesifikasi dan seperti yang
diminta oleh Engineer.
6. Pemotongan kelebihan panjang dari tiang.
1.3. Jaminan Mutu
A. Standar-standar
Semua bahan-bahan dan pengerjaan harus sesuai dengan standar-standar berikut :
1. PBI 1971 : Peraturan Beton Indonesia
2. SK SNI T-15-1991-03 : Tata Cara Penghitungan Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung.
3. SII 0192-83 : Mutu dan Cara Uji Elektroda Las Terbungkus Baja Karbon Rendah.
4. ASTM A-416 : Standard Specification for Uncoated Seven Wire Stress Relieved

Steel Strand for Prestress Concrete.


5. ASTM A-82 : Standard Specification for Cold Drawn Steel Wire for Concrete
Reinforcement.
6. ASTM D-1143.81 : Standard Test Method for Piles Under
(Reapproved 1987) Static Axial Compressive Load.
7. ASTM D-3966.90 : Standard Test Method for Piles Under Lateral Loads.
8. ASTM D-3689.90 : Standard Test Method for Individual Piles Under Static Axial
Tensile Load.
B. Jaminan Pabrik :
Produksi harus secara teratur dan terus menerus serta pengiriman bahan-bahan harus
dari jenis yang sesuai seperti disyaratkan.
C. Jaminan Pekerja :
1. Pekerjaan pemancangan tiang ini harus dikerjakan oleh tenaga kerja dan pengawas
yang berpengalaman dalam pemancangan tiang dari jenis yang diusulkan, sedemikian
sehingga mampu untuk mencapai kapasitas tiang seperti yang disyaratkan pada
berbagai macam kondisi tanah yang akan dijumpai.
2. Kontraktor harus menyerahkan pernyataan tertulis kepada Engineer untuk
menunjukkan bahwa pekerja yang akan terlibat dalam pekerjaan ini berpengalaman
untuk pekerjaan demikian.
D. Persyaratan Lapangan :
1. Kontraktor bertanggung jawab untuk memancang tiang dengan ukuran dan jumlah
seperti disyaratkan pada posisi seperti dinyatakan pada gambar denah lokasi tiang,
seperti yang telah disetujui oleh Engineer.
Kontraktor harus didukung oleh team supervisi yang dapat dipertanggung jawabkan
yang dilengkapi dengan peralatan yang presisi dan sedikitnya dua orang memeriksa
kelurusan dari setiap tiang selama pemancangan.
2. Tiang-tiang pondasi harus dipancang sampai mencapai lapisan tanah keras atau
sesuai dengan petunjuk "pengawas yang ditunjuk".
3. Urutan pemancangan tiang dalam satu kelompok harus sesuai dengan petunjuk
"pengawas yang ditunjuk".
4. Tiang-tiang yang rusak atau ditolak, menjadi tanggung jawab Kontraktor dan harus
disingkirkan dari proyek.
5. Dalam hal diperlukan penyambung (follower), maka sepenuhnya menjadi tanggung
jawab kontraktor.
1.4. Perubahan dan Penambahan
A. Panjang tiang yang sebenarnya boleh dimodifikasi oleh Engineer setelah
percobaan pembebanan tiang dan bilamana kondisi lapangan mensyaratkan perubahan
demikian.
B. Setiap perintah perubahan harus mendapat persetujuan tertulis dari Engineer.
1.5. Penyerahan
Sedikitnya 2 (dua) minggu sebelum pekerjaan dimulai, Kontraktor harus
menyerahkan hal-hal berikut kepada Engineer.

A. Data Pabrik :
Data produk dari pabrik tentang tiang harus diserahkan oleh Kontraktor untuk
disetujui oleh Engineer.
B. Sertification :
Semua tiang pondasi yang dikirim ke proyek harus dilengkapi dengan sertifikat dari
pabrik.
C. Gambar kerja :
Kontraktor harus membuat dan menyerahkan gambar kerja, metoda konstruksi,
jadwal kerja dan daftar perlengkapan kepada Engineer untuk mendapat persetujuan.
1.6. Kondisi Kerja :
A. Kontraktor harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk
mencegah kerusakan dari tiang pancang pada waktu pengangkutan, penyimpanan dan
pemancangan.
B. Tiang pancang harus dirawat dan disimpan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
tegangan-tegangan yang melebihi rencana.
C. Tiang pancang harus ditumpuk pada tumpukan yang sesuai sehingga tidak terjadi
kerusakan pada beton atau pengotoran dari permukaan. Tumpukan harus ditempatkan
pada posisi sesuai dengan petunjuk (gambar) atau telah disetujui oleh pengawas yang
ditunjuk atau dalam posisi dimana kemungkinan terjadi tekanan dan deformasi sekecil
mungkin.
D. Pemberian tanda pada tiang pancang dicantumkan dengan cat pada tiap
interval/jarak 0.5 m. Panjang keseluruhan tiang harus dicantumkan dengan cat atau
bahan lain yang disetujui. Penunjuk panjang harus diberikan pada interval setiap 1.0
m.
PASAL 2 - BAHAN-BAHAN/PRODUKSI
2.1. Hasil pabrik yang dapat diterima.
Kontraktor harus menyerahkan brosur-brosur dari beberapa pabrik yang menghasilkan
jenis tiang yang sama dengan yang disyaratkan, untuk dipilih dan disetujui oleh
Engineer.
2.2. Bahan-bahan tiang.
Bahan-bahan tiang yang akan dipakai pada pekerjaan ini harus sesuai dengan
persyaratan-persyaratan berikut :
A. Dimensi/Ukuran-ukuran :
Jenis tiang yang dipakai adalah Tiang Beton Precast Prestress dengan ukuran 40cm x
40cm dan 35m x 35cm persegi dan panjang seperti ditunjukkan pada gambar-gambar
struktur.
B. Beton
Mutu beton minimum yang dipakai adalah fc' - 41.5 MPa (Cylinder), yang harus
sudah dicapai pada waktu pemancangan.

C. Penulangan dan prestressing strands :


1. Prestressing strands harus "uncoated, bright seven wire, stress relieved 270 ksi
"sesuai ASTM A-416".
2. Spiral harus dibentuk dari "cold drawn bright steel wire" sesuai ASTM A-82 atau
6 mm U-24.
D. Peralatan Pemancangan
1. Sebelum pekerjaan dimulai, Kotraktor harus mengajukan data lengkap dari
peralatan yang akan dipergunakan, jadwal pemancangan dan prosedur kerjanya
termasuk mesin pancang dan peralatan yang akan digunakan di lapangan.
2. Cara pemancangan yang dipakai harus tidak menyebabkan kerusakan pada
bentuknya. Hammer (pemukul) harus dipilih yang sesuai untuk type tiang pancang
dan sifat dari kekuatan tiang pancang tersebut.
3. Kondisi lapangan harus diperiksa untuk meyakinkan apakah memungkinkan untuk
penempatan peralatan pemancangan, pelaksanaan pemancangan dan percobaan beban.
2.3. Bahan-bahan lain yang harus disediakan
Penggunaan bahan-bahan khusus :
Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dalam penggunaan bahan khusus
seperti bahan tambahan, perlengkapan las, pencegah karat dan semua bahan lain yang
tidak disyaratkan disini.
Percobaan-percobaan ataupun biaya tambah lainnya sehubungan dengan pemakaian
dari bahan-bahan tersebut diatas adalah sepenuhnya tanggung jawab Kontraktor.

PASAL 3 - PELAKSANAAN
3.1. Persiapan
A. Seminggu sebelum dimulainya pekerjaan Kontraktor harus mengajukan usulan
mengenai urutan rencana pemancangan yang harus diatur sedemikian rupa sehingga
tidak akan saling mengganggu.
B. Metoda pemancangan, perlengkapan, jadwal dan tahapan/urutan harus mendapat
persetujuan dari Engineer. Persetujuan demikian tidak membebaskan Kontraktor dari
tanggung jawabnya untuk pemancangan tiang yang lancar dan bermutu tinggi. Semua
kerusakan, keterlambatan dan tambahan biaya yang disebabkan karena pemilihan
metode harus ditanggung oleh Kontraktor.
C. Pengawas yang ditunjuk dapat meminta perubahan urutan pemancangan dari waktu
ke waktu apabila dianggap perlu.
Untuk perubahan demikian tidak ada biaya tambah.
D. Pemancangan tiang harus dilakukan dalam suatu operasi yang menerus dan tidak
terganggu.
E. Kontraktor harus memancang tiap tiang pancang tepat pada ordinat yang telah
ditentukan pada dokumen pelaksanaan. Setiap koordinat tiang harus mendapat
persetujuan dari pengawas yang ditunjuk sebelum mulai pemancangan.

Tiang pancang ditempatkan pada posisi yang tepat sesuai dengan urutan kerja yang
telah direncanakan.
F. Kontraktor harus berusaha agar semua perlengkapan siap pakai untuk menjamin
pemancangan tiang tepat pada lokasinya selama pemancangan.
G. Kontraktor harus mencegah pergeseran/pergerakan dari tiang yang sudah
terpancang selama tiang-tiang selanjutnya dipancang ataupun karena fasilitas-fasilitas
lainnya.
H. Kontraktor tidak diijinkan mendongkrak, atau mencoba untuk memindahkan atau
membentuk tiang-tiang yang terpancang diluar posisi sebenarnya baik pada waktu
maupun setelah pemancangan.
3.2. Pemancangan Tiang
A. Alat pukul (Hammer) dan penghentian pemancangan tiang.
1. Untuk memancang tiang harus dipakai suatu alat pukul dari jenis disel (a diesel
hammer type). Dalam pemilihan "driving diesel hammer" haruslah dari berat yang
memadai agar tidak merusak tiang.
"Hammer" harus mempunyai persyaratan minimum : berat ram 3500 kg (Kobe - 35
type).
2. Tiang-tiang harus dipancang sampai mencapai kedalaman yang ditunjukkan
didalam gambar struktur atau dengan final set yang disetujui dimana tidak lebih dari
20 mm untuk 10 pukulan terakhir.
3. Tiang-tiang harus dipancang secara akurat, pada lokasi yang tepat; pada garis yang
benar baik secara lateral maupun longitudinal seperti ditunjukkan pada gambar.
4. Toleransi yang diijinkan untuk ketidak tepatan lokasi dan ketidak kelurusan adalah
75 mm dan 1/80. Tiang-tiang harus diarahkan selama pemancangan dan bila perlu
harus dibantu/diganjal untuk dapat menjaga posisi yang benar. Apabila ada tiang yang
berubah bentuk atau bengkok, maka tidak boleh dipaksa untuk meluruskannya
kembali kecuali dengan persetujuan tertulis dari pengawas yang ditunjuk.
B. Test untuk mutu tiang.
Apabila pada waktu pemancangan suatu tiang, jumlah pukulan sangat tinggi (lebih
dari 2000) atau apabila tiang dicurigai retak atau patah, P.I.T. (Pile Integrated Test)
atau test sejenis yang disetujui oleh Engineer harus dilakukan.
C. Pemeriksaan naiknya kembali suatu tiang akibat pemancangan tiang didekatnya
(heave check).
Lakukan suatu "heave check" pada pemancangan kelompok tiang yang pertama, dan
pada kelompok yang dipilih seperti ditunjukkan pada gambar.
1. Periksa "heave" dengan mengukur panjang dan dengan mencatat elevasi pada
masing-masing tiang segera setelah selesai pemancangan.
2. Periksa ulang elevasi-elevasi dan panjang setelah semua tiang pada suatu kelompok
selesai dipancang.
3. Bila ujung (tip) tiang mengalami "heave" lebih dari 6 mm dari posisi asli, tiang
tersebut harus dipukul lagi.
Bila dijumpai pile heave, lanjutkan pemeriksaan heave dan lanjutkan pemancangan
sampai pengawas yang ditunjuk menyatakan bahwa pile heave teratasi.

D. Penilaian dari kapasitas daya dukung.


Tiang-tiang harus dipancang sampai mencapai "final set" yang diijinkan oleh
pengawas yang ditunjuk. Pengukuran langsung dari set dan rebound harus
memberikan kapasitas tiang yang ekivalen dengan beban kerja yang disyaratkan.
Set harus ditentukan dilapangan. Set haruslah dibuktikan dengan dua percobaan. Nilai
konstanta yang akan dipakai untuk memodifikasi rumus akan ditaksir oleh Soil
Engineer setelah tiang pertama selesai dipancang dan setelah grafik rebound/set
diperoleh.
E. Posisi-posisi tiang.
Posisi-posisi tiang dan ketidak lurusan harus didata oleh Kontraktor dan diserahkan
kepada pengawas yang ditunjuk pada waktu berlangsungnya pekerjaan dan
persetujuan akhir diberikan oleh pengawas yang ditunjuk dalam waktu tiga hari
sesudah tiang yang terakhir selesai dipancang. Sampai persetujuan tersebut diberikan,
tak ada perlengkapan yang boleh dipindahkan; kecuali atas resiko Kontraktor sendiri.
F. Tiang-tiang yang rusak atau salah tempat.
Apabila suatu tiang rusak pada waktu pemancangan, percobaan atau oleh sebab lain
atau salah letak atau gagal pada waktu percobaan beban, Kontraktor disyaratkan untuk
mengadakan penambahan tiang pada posisi yang ditentukan oleh Engineer
sedemikian sehingga akhirnya dihasilkan daya dukung yang sama.
G. Pendataan pemancangan tiang.
Kontraktor harus mengambil data dari setiap tiang yang dipancang dan dilengkapi
parap pengawas yang ditunjuk pada masing-masing data, setiap hari.
Pemancangan, set dan rebound dari setiap tiang harus mengikuti persetujuan
Engineer. Data pemancangan setiap tiang harus diserahkan kepada pengawas yang
ditunjuk dan tembusan (copy)nya harus disimpan oleh Kontraktor.
Data-data laporan harus meliputi hal-hal berikut :
1. Nama proyek
2. Nomor tiang
3. Tanggal pemancangan
4. Cuaca
5. Set, rebound dan tinggi jatuh (ram height) pada 10 pukulan terakhir (last ten blow)
6. Dalamnya pemancangan dari level tanah
7. Level tanah
8. Panjang tiang
9. Jenis alat pukul (Hammer Type)
10. Sambungan yang dipakai, jumlah dan jenisnya (kalau ada sambungan).
11. Waktu/saat mulai dan waktu selesainya pemancangan
12. Jumlah pukulan dan rata-rata set tiap 0.5 m
13. Tinggi jatuh yang sebenarnya (actual ram stroke)
14. Semua informasi lain seperti disyaratkan oleh Engineer.
Metoda pengukuran set dan rebound harus disetujui oleh Engineer. Record diatas
harus menunjukkan satu seri pengukuran set selama seluruh proses pemancangan.
Apabila pemancangan suatu tiang dimulai, maka harus dilakukan sampai selesai dan
mencapai set yang disyaratkan (kecuali waktu penyambungan).
H. Kepala Tiang

1. Setelah pemancangan selesai dilaksanakan Kontraktor wajib untuk memotong


kelebihan panjang tiang pancang sedemikian rupa sehingga panjang stek tulangan
setelah pemotongan kepala tiang minimum 40 diameter tulangan tiang pancang
terbesar, sebagai pengikat ke-pur (pile cap).
Setelah pemancangan selesai, kontraktor harus segera melanjutkan dengan memeriksa
level dan mencatat posisi-posisi tiang secara detail dan akurat serta membandingkan
dengan posisi yang dicantumkan pada gambar denah tiang.
Kontraktor harus menyediakan surveyor dilapangan untuk pekerjaan tersebut.
2. Stek tulangan tiang setelah pemotongan kepala tiang (panjang minimum 40
diameter) harus dalam keadaan bersih, lurus dan baik.
3. Kepala tiang setelah dipotong harus dibersihkan dengan sikat kawat.
4. Batas pemotongan kepala tiang harus tepat sesuai dengan petunjuk/gambar.
I. Sambungan tiang dan pengelasan :
1. Kontraktor atau Pabrik pembuat tiang harus menyerahkan sistim sambungan tiang
untuk disetujui Engineer sebelum pemasangan di lapangan.
2. Detail dari sambungan harus terdiri dari :
a. Sistim sambungan yang akan dipakai
b. Detail pengelasan dan mutu dari bahan pengelasan
c. Prosedur pengelasan
d. Kwalifikasi/kecakapan tukang las.
J. Laporan dan pemeriksaan pekerjaan pondasi tiang.
Pada waktu selesainya pekerjaan pondasi tiang, sebuah laporan yang tepat harus
segera disiapkan dan diserahkan rangkap 6 (enam) kepada pengawas yang ditunjuk.
Hal-hal berikut harus termasuk juga di dalam laporan :
1. Ringkasan pekerjaan (sketsa, metoda, tanggal waktu mengerjakan, dll).
2. Laporan tentang pukulan (blows)
3. Laporan harian pekerjaan dan laporan pemeriksaan :
a. Waktu yang disyaratkan untuk pemancangan
b. Jumlah pukulan
c. Kedalaman pemancangan
d. Nilai pemancangan akhir
e. Nilai rebound
f. Daya dukung akhir yang diijinkan
4. Laporan percobaan beban
5. Denah (lay out) tiang dan toleransinya.
3.3. Percobaan Pembebanan Tiang Pancang
A. Umum
1. Antara pemancangan tiang yang akan ditest dan percobaan pembebanan pada tiang
tersebut harus ada jangka waktu paling sedikit 2 (dua) minggu untuk mengembalikan
kondisi tanah akibat pemancangan tiang kepada keadaan semula. Pemancangan tiang
yang berdekatan dengan tiang percobaan harus ditunda selama adanya percobaan
pembebanan tiang.
2. Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja yang berpengalaman, bahan dan semua
perlengkapan yang diperlukan untuk pelaksanaan, pencatatan dan pengukuran dari
percobaan beban termasuk penyediaan, penyusunan kentledge yang digunakan dan

pembongkaran kembali setelah percobaan pembebanan selesai.


3. Selama pelaksanaan percobaan beban, Kontraktor harus menempatkan tenaga kerja
yang berpengalaman untuk pelaksanaan pengamatan dan pencatatan hasil percobaan.
4. Suatu percobaan pembebanan tiang harus dimaksudkan sebagai percobaan pada
tiang tunggal.
5. Percobaan beban harus dilakukan pada 20 buah tiang terpakai untuk percobaan
beban vertikal dan 2 buah tiang terpakai untuk percobaan beban tarik yang dipilih
oleh Engineer.
6. Tiang yang dipakai untuk percobaan beban haruslah dari bahan dan ukuran yang
sama dengan tiang-tiang terpakai dan harus dipancang dengan peralatan yang sama
jenisnya serta dengan prosedur dan metoda yang sama.
7. Semua percobaan pada tiang-tiang terpakai harus diikuti dengan PIT (Pile Integrity
Test) seperti disyaratkan pada 3.4.
B. Standard Percobaan Pembebanan Pada Tiang Terpakai
1. Beban axial tekan penuh pada tiang terpakai haruslah 2 (dua) kali beban rencana
(design load) dari sebuah tiang sesuai dengan ASTM D 1143-81 (standard test) atau
seperti yang disyaratkan oleh Engineer pada gambar dalam hal diperlukan.
2. Beban lateral penuh pada tiang terpakai harus 200% dari beban rencana (design
load) lateral pada tiang atau seperti disyaratkan oleh Engineer pada gambar dalam hal
diperlukan dan harus dilakukan sesuai dengan ASTM D 3966-81, dengan
pembebanan bertahap (cyclic loading).
3. Beban tarik axial penuh pada tiang terpakai haruslah 2 (dua) kali beban rencana
tarik atau seperti disyaratkan Engineer pada gambar dalam hal diperlukan dan harus
dilakukan sesuai dengan ASTM D 3689-83.
C. Perlengkapan Pembebanan
1. Beban percobaan didapat dari reaksi kentledge melalui jack hidraulis yang besarnya
melebihi dari beban percobaan dan ditempatkan pada platform sebagaimana harusnya.
2. Beban kentledge terdiri dari blok-blok beton dengan ukuran sama.
3. Plat baja dengan ketebalan yang cukup untuk menerima beban ditempatkan secara
sentris diatas pile cap untuk dapat menyalurkan beban percobaan secara sempurna
kepada tiang.
4. Ukuran dari plat baja tidak boleh lebih kecil dari ukuran pile cap dan juga tidak
boleh lebih kecil dari ukuran jack yang digunakan.
5. Jack hidraulic harus ditempatkan sentris pada tiang/pile cap.
6. Jack dan alat lainnya termasuk hydraulic ram, hydraulic pump dan pressure gauge
harus dikalibrasikan sebelum percobaan dilakukan.
D. Alat Pengukuran Penurunan
1. Metoda pengukuran penurunan dari tiang harus dilakukan dengan sistim dimana 4
dial gauge ditempatkan dengan jarak yang sama pada keliling tiang dan sistim
pendukung dengan memakai mistar.
2. Pembacaan harus dilakukan dengan sistim seperti disyaratkan di F dari Bab dan
pasal ini.
3. Dial gauges harus mempunyai kemampuan gerak sampai 50 mm dan keakuratan
sampai 0.25 mm.
4. Skala ukur untuk pembacaan pada mistar harus dipilih yang sanggup untuk
pembacaan sampai keakuratan mencapai 0.5 mm. Selain mistar levelling boleh juga
dipakai sebuah mistar yang dipasang pada tiang atau pur (pile caps).

5. Laporan kalibrasi harus disertakan pada semua alat-alat percobaan pembebanan


yang membutuhkan kalibrasi sebelum percobaan beban dilakukan.
6. Semua reference beam dan kawat-kawat (wires) harus ditunjang secara terpisah
dengan penunjang yang cukup kaku dan ditanamkan ditanah pada jarak bersih tidak
kurang dari 2.5 m dari tiang percobaan.
7. Dua buah dial gauge tambahan harus dipasang pada reference beam secara tegak
lurus untuk memantau kemungkinan terjadinya pergerakan lateral dari ujung tiang.
E. Prosedur Pembebanan
1. Percobaan pembebanan vertikal harus sesuai dengan syarat berikut :
Percobaan pembebanan 4 (empat) cycle untuk tiang dengan beban tekan axial sesuai
dengan ASTM D-1143-81.
Prosedur Pembebanan :
Langkah
Cycle beban dalam
% dari beban kerja Lamanya penahanan beban
1
2

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

25
26
27

28 0
25

50 Cycle 1
25
0
50
75
100 Cycle 2
75
50
0
50
100
125
150 Cycle 3
125
100
50
0
50
100
150
175
200 Cycle 4

150
100
50
0
A - beban ditahan selama minimum 1 jam dan sampai settlement < 0.25 mm per jam
(max. 2 jam). A jam 20 menit 20 menit 20 menit A A 20 menit 20 menit 20 menit 20
menit 20 menit A A 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit
A B = beban ditahan selama min. 12 jam, bila setelah 12 jam settlement yang terjadi >
0.25 mm per jam, maka beban ditahan selama max. 24 jam.
1 jam
1 jam
1 jam
24 jam
Bila kegagalan terjadi sebelum mencapai 200% dari beban rencana, maka beban harus
diturunkan perlahan-lahan dan hati-hati dengan suatu tingkatan tidak lebih dari 20%
dari beban kerja permenit sampai penurunan mencapai < 0.25 mm per jam. Kemudian
mengikuti langkah B sampai akhir dari prosedur. 2. Percobaan pembebanan lateral
axial harus dilakukan dalam 4 cycles sesuai dengan ASTM D 3966-90. Prosedur

pembebanan : Langkah Cycle beban dalam % dari beban kerja Lamanya Penahanan
Beban Jadwal pembacaan Perge-rakan lateral (dalam menit) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 0 25 50 25 0 50 75 100 50 0 50 100
125 150 75 0 50 100 150 170 180 190 200 150 100 50 0 - 10 10 10 10 10 15 20 10 10
10 10 20 20 10 10 10 10 10 20 20 20 60 10 10 10 10 - 0-5-10 0-5-10 0-5-10 0-5-10 05-10 0-5-10-15 0-5-10-15-20 0-5-10 0-5-10 0-5-10 0-5-10 0-5-10-15-20 0-5-10-15-20
0-5-10 0-5-10 0-5-10 0-5-10 0-5-10 0-5-10-15-20 0-5-10-15-20 0-5-10-15-20 0-1020-30-40-50-60 0-5-10 0-5-10 0-5-10 0-5-10 3. Percobaan pembebanan tarik axial
harus dilakukan dalam 4 cycles sesuai dengan ASTM D 3689-90 Prosedur
Pembebanan : Langkah Cycle beban dalam % dari beban kerja Lamanya Penahanan
Beban 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 0
25 50 Cycle 1 25 0 50 75 100 Cycle 2 75 50 0 50 100 125 150 Cycle 3 125 100 50 0
50 100 150 175 200 Cycle 4 150 100 50 0 A = Beban ditahan selama minimum 1 jam
dan sampai pergerakan keatas dari tiang < 0.25 mm per jam (max. 2 jam). 1 jam 20
menit 20 menit 20 menit A A 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit A A 20
menit 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit 20 menit A B = Beban ditahan
selama min. 12 jam, bila setelah 12 jam pergerakan keatas dari tiang adalah > 0.25
mm per jam, maka beban ditahan selama 24 jam.
1 jam
1 jam
1 jam
1 jam
F. Prosedur pembacaan
1. Percobaan Pembebanan Vertikal
Pembacaan dilakukan sebagai berikut :
- Sebelum dan sesudah penambahan beban
- Sebelum dan sesudah penurunan beban
- Setiap 10 menit
- Pada pembebanan 200% beban rencana, pembacaan dilakukan sebagai berikut :
- Setiap 10 menit selama 2 jam pertama
- Selanjutnya setiap 1/2 jam selama 10 jam.
- Selanjutnya setiap 1 jam.
- Pada pembebanan akhir (0% beban rencana), pembacaan dilakukan sebagai berikut :
- Setiap 1 jam selama 4 jam pertama
- Setiap 2 jam sesudahnya sampai 8 jam.
- Selanjutnya setiap 4 jam.
2. Percobaan Pembebanan Lateral
Pembebanan dilakukan sebagai berikut :
- Sebelum dan sesudah penambahan beban
- Sebelum dan sesudah penurunan beban
- Setiap 5 menit
- Pada pembebanan 200% beban rencana, pembacaan dilakukan setiap 10 menit.
G. Laporan Percobaan Pembebanan
Laporan hasil percobaan dikirim kepada pengawas yang ditunjuk untuk persetujuan,
terdiri dari :
1. Nama proyek dan lokasi
2. Laporan penyelidikan tanah dan catatan pelaksanaan pemancangan tiang percobaan

3. Sertifikat dari kalibrasi peralatan


4. Catatan pembebanan yang meliputi :
a. tanggal percobaan
b. waktu pembacaan
c. beban percobaan
d. pembacaan dial gauge, dll.
5. Grafik load-settlement
Grafik load-time
Grafik time-settlement
6. Kesimpulan dari hasil percobaan.
H. Kriteria kegagalan dari standar percobaan pembebanan pada tiang :
1. Untuk percobaan pembebanan vertikal pada tiang.
Kegagalan dari percobaan tiang dianggap telah terjadi apabila penurunan (settlement)
yang terjadi waktu dibebani adalah lebih dari 25 mm, atau bila beban dihilangkan,
penurunan permanent melampaui 6 mm.
2. Untuk percobaan pembebanan lateral pada tiang.
Pergerakan lateral maximum melampaui 10 mm pada percobaan lateral.
3. Percobaan pembebanan tidak boleh diteruskan jika terjadi ketidak stabilan
kentledge, kerusakan dari pile cap ataupun kerusakan lainnya yang dapat memberikan
hasil yang tidak sebenarnya.
I. Kegagalan pada tiang terpakai.
Jika terjadi kerusakan atau/dan kegagalan pada tiang dalam percobaan pembebanan
maka Kontraktor harus mengganti tiang tersebut dengan tiang yang lain sesuai dengan
petunjuk dari Perencana atas biaya Kontraktor.
Biaya dari percobaan pembebanan tambahan, penggantian atau penambahan tiang dan
persiapan perhitungan-perhitungan serta gambar-gambar fondasi yang disebabkannya
akan dibebankan kepada Kontraktor.
3.4. PIT (The Pile Integrity Test)
Test Integrity tiang harus dilakukan dengan metoda sonic dengan memakai alat test
Integrity untuk tiang.
A. Lingkup percobaan :
Percobaan-percobaan tiang :
1. Semua percobaan-percobaan pada tiang-tiang terpakai harus dilakukan dengan pile
integrity test.
2. Untuk tiang-tiang yang disambung, setiap bagian tiang harus ditest sebelum
penyambungan dan segera setelah satu bagian tiang dipancang juga setelah percobaan
lateral dan tarik.
3. Apabila ada bagian (segmen) dari tiang yang didapati retak pada tahapan manapun
dari percobaan diatas, bagian yang retak atau rusak harus diganti dengan yang utuh
(masih baik) dan ditest ulang sesuai dengan A.2. di atas.
B. Perlengkapan test.
1. Percobaan integrity harus dilakukan dengan memakai perlengkapan untuk
memperoleh data secara digital.
2. Pengkondisian signal dan pengadaan power harus mempunyai kemampuan yang

sangat tinggi terhadap rasio kebisingan agar tidak mengganggu signal.


3. Data harus disimpan sedemikian sehingga proses lanjutan atau tambahan dengan
analisa gelombang dapat dilakukan.
4. Data harus dapat dibaca ditempat/dilapangan setidaknya dapat diperoleh evaluasi
mutu dari data pendahuluan.
C. Persiapan percobaan :
1. Percobaan integrity pada tiang manapun dapat dilakukan sedikitnya 7 (tujuh) hari
setelah tiang dipancang.
2. Untuk penempatan dari perlengkapan untuk percobaan/testing pada kepala tiang,
kepala tiang harus bersih, bebas dari air, beton yang terkelupas dan siap untuk
keperluan percobaan.
D. Pelaksanaan percobaan dan interprestasi :
1. Pile Integrity testing harus dilaksanakan oleh perusahaan spesialis yang
mengerjakan test demikian.
2. Percobaan sesungguhnya dilapangan harus dilakukan oleh Engineer (bukan teknisi)
yang sudah berpengalaman untuk melakukan testing dengan sedikitnya 1 (satu) tahun
pengalaman dalam percobaan dinamic dari tiang-tiang.
3. Interprestasi dari data-data harus dilakukan oleh Engineer yang berpengalaman
dengan sedikitnya 2 (dua) tahun pengalaman dalam percobaan dynamic dari tiang.
4. Apabila penampilan ujung atau tiang meragukan, ujung tiang harus dipotong lebih
jauh dan ditest ulang.
5. Detail-detail lengkap dari kondisi tanah, dimensi tiang dan metoda konstruksi harus
diberikan kepada perusahaan spesialis bila disyaratkan untuk menginterprestasikan
hasil percobaan.
E. Laporan :
1. Untuk setiap tiang yang ditest, laporan harus termasuk juga :
a. data dari waktu terhadap simpangan kecepatan rata-rata (average amplified velocity
vs time record).
b. Kesimpulan dari keutuhan masing-masing tiang yang ditest.
2. Laporan ahir harus diserahkan kepada Engineer dalam waktu 10 hari setelah
percobaan selesai.
F. Kriteria hasil test yang dapat diterima dan ditolak :
1. Dapat diterima atau ditolaknya tiang-tiang yang ditest harus didasarkan dari
kesimpulan laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang melaksanakan P.I.T.
2. Apabila mayoritas dari tiang-tiang memberikan hasil yang meragukan, Engineer
boleh, atas kebijaksanaannya, memerintahkan penggalian suatu tiang secara penuh
untuk mencocokkan kriteria yang ditolak atau dapat diterima.
G. Tindakan usaha perbaikan.
1. Tiang-tiang yang ditolak harus dipindahkan.
2. Tiang-tiang yang meragukan dapat ditindak lanjuti dengan percobaan dynamic
(P.D.A), percobaan pembebanan static (Static Load Testing) etc.

3.5. Pembersihan :
Kontraktor harus memindahkan dan membongkar semua puing, tanah, kelebihan
beton, keluar dari lokasi atau proyek seperti ditunjukkan oleh pengawas yang ditunjuk
tanpa biaya tambahan.

TIANG PANCANG

BAB II

2.1 Kajian pustaka


Tiang pancang adalah bagian-bagian konstruksi yang dibuat dari kayu, beton, danatau
baja, yang digunakan untuk meneruskan (mentransmisikan) beban-beban permukaan ketingkat-tingkat
permukaan yang lebih rendah di dalam massa tanah (Bowles, 1991).Penggunaan pondasi tiang pancang
sebagai pondasi bangunan apabila tanah yangberada dibawah dasar bangunan tidak mempunyai daya dukung
(bearing capacity) yangcukup untuk memikul berat bangunan dan beban yang bekerja padanya (Sardjono
HS, 1988).Atau apabila tanah yang mempunyai daya dukung yang cukup untuk memikul beratbangunan dan
seluruh beban yang bekerja berada pada lapisan yang sangat dalam daripermukaan tanah kedalaman > 8 m
(Bowles, 1991).Fungsi dan kegunaan dari pondasi tiang pancang adalah untuk memindahkan
ataumentransfer beban-beban dari konstruksi di atasnya (super struktur) ke lapisan tanah
kerasyang letaknya sangat dalam.Dalam pelaksanaan pemancangan pada umumnya dipancangkan tegak
lurus dalamtanah, tetapi ada juga dipancangkan miring (battle pile) untuk dapat menahan gayagayahorizontal yang bekerja, Hal seperti ini sering terjadi pada dermaga dimana terdapat
tekanankesamping dari kapal dan perahu. Sudut kemiringan yang dapat dicapai oleh tiang tergantungdari alat
yang dipergunakan serta disesuaikan pula dengan perencanaannya.Tiang Pancang umumnya digunakan :
1.Untuk mengangkat beban-beban konstruksi diatas tanah kedalam atau melalui
sebuahstratum/lapisan tanah. Didalam hal ini beban vertikal dan beban lateral boleh jadi terlibat.
2. Untuk menentang gaya desakan keatas, gaya guling, seperti untuk telapak ruangan bawahtanah
dibawah bidang batas air jenuh atau untuk menopang kaki-kaki menara terhadapguling.
3.Memampatkan endapan-endapan tak berkohesi yang bebas lepas melalui kombinasiperpindahan
isi tiang pancang dan getaran dorongan. Tiang pancang ini dapat ditarik keluar kemudian.
4.Mengontrol lendutan/penurunan bila kaki-kaki yang tersebar atau telapak berada
padatanah tepi atau didasari oleh sebuah lapisan yang kemampatannya tinggi.
5.Membuat tanah dibawah pondasi mesin menjadi kaku untuk mengontrol
amplitudogetaran dan frekuensi alamiah dari sistem tersebut.
6.Sebagai faktor keamanan tambahan dibawah tumpuan jembatan dan atau pir, khususnya jika erosi
merupakan persoalan yang potensial.
7. Dalam konstruksi lepas pantai untuk meneruskan beban-beban diatas permukaan
airmelalui air dan kedalam tanah yang mendasari air tersebut. Hal seperti ini adalahmengenai

tiang pancang yang ditanamkan sebagian dan yang terpengaruh oleh baik bebanvertikal (dan tekuk) maupun
beban lateral (Bowles, 1991).
Defenisi Tanah Tanah, pada kondisi alam, terdiri dari campuran butiran-butiran
mineral dengan atautanpa kandungan bahan organik. Butiran-butiran tersebut dapat dengan
mudah dipisahkansatu sama lain dengan kocokan air. Material ini berasal dari pelapukan
batuan, baik secarafisik maupun kimia. Sifat-sifat teknis tanah, kecuali oleh sifat batuan
induk yang merupakanmaterial asal, juga dipengaruhi oleh unsur-unsur luar yang menjadi
penyebab terjadinyapelapukan batuan tersebut.Istilah-istilah seperti kerikil, pasir, lanau dan
lempung digunakan dalam teknik sipiluntuk membedakan jenis-jenis tanah. Pada kondisi
alam, tanah dapat terdiri dari dua ataulebih campuran jenis-jenis tanah dan kadang-kadang terdapat pula
kandungan bahan organik.Material campurannya kemudian dipakai sebagai nama tambahan dibelakang material
unsurutamanya. Sebagai contoh, lempung berlanau adalah tanah lempung yang mengandung lanaudengan
material utamanya adalah lempung dan sebagainya.Tanah terdiri dari 3 komponen, yaitu udara, air dan bahan padat.
Udara dianggap tidak mempunyai pengaruh teknis, sedangkan air sangat mempengaruhi sifatsifat teknis tanah.Ruang diantara butiran-butiran, sebagian atau seluruhnya dapat terisi oleh
air atau udara. Bilarongga tersebut terisi air seluruhnya, tanah dikatakan dalam kondisi jenuh.
Bila rongga terisiudara dan air, tanah pada kondisi jenuh sebagian (
partially saturated \). Tanah kering adalah tanah yang tidak mengandung air sama sekali atau kadar
airnya nol (Hardiyatmo, 1996).
Tiang dukung ujung (end bearing pile) adalah tiang yang kapasitas dukungnyaditentukan oleh
tahanan ujung tiang. Umumnya tiang dukung ujung berada dalamzone tanah yang lunak yang berada
diatas tanah keras. Tiang-tiang dipancangsampai mencapai batuan dasar atau lapisan keras lain yang
dapat mendukungbeban yang diperkirakan tidak mengakibatkan penurunan berlebihan. Kapasitastiang
sepenuhnya ditentukan dari tahanan dukung lapisan keras yang beradadibawah ujung tiang (Gambar 1).
Tiang gesek ( friction pile) adalah tiang yang kapasitas dukungnya lebih ditentukanoleh
perlawanan gesek antara dinding tiang dan tanah disekitarnya (Gambar 2Tahanan gesek dan
pengaruh konsolidasi lapisan tanah dibawahnyadiperhitungkan pada hitungan kapasitas tiang.(b)

Kapasitas Daya Dukung Tiang Pancang Dari Hasil SondirDiantara perbedaaan tes
dilapangan, sondir atau cone penetration test

(CPT)seringkali sangat dipertimbangkan

berperanan dari geoteknik. CPT atau sondir ini tes yangsangat cepat, sederhana, ekonomis dan tes
tersebut dapat dipercaya dilapangan denganpengukuran terus-menerus dari permukaan tanah-tanah
dasar. CPT atau sondir ini dapat jugamengklasifikasi lapisan tanah dan dapat memperkirakan
kekuatan dan karakteristik daritanah. Didalam perencanaan pondasi tiang pancang ( pile), data tanah
sangat diperlukan dalammerencanakan kapasitas daya dukung (bearing capacity) dari tiang pancang
sebelumpembangunan dimulai, guna menentukan kapasitas daya dukung ultimit dari tiang
pancang.Kapasitas daya dukung ultimit ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :
Qu= Qb+ Qs= qbAb+ f.As........................................................... (2.1)
Dimana :
Qu= Kapasitas daya dukung aksial ultimit tiang pancang.
b= Kapasitas tahanan di ujung tiang.Q
s= Kapasitas tahanan kulit.q
b= Kapasitas daya dukung di ujung tiang persatuan luas.A
b= Luas di ujung tiang.f = Satuan tahanan kulit persatuan luas.
As= Luas kulit tiang pancang.Dalam menentukan kapasitas daya dukung aksial ultimit
(Qu) dipakai Metode Aokidan De Alencar.Aoki dan Alencar mengusulkan untuk
memperkirakan kapasitas dukung ultimit daridata Sondir.

BAB III
PEMBAHASAN
Lokasi peninjauan perbaikan tanah lunak jln. Jendral sudirman disamping kantor
pekerjaan umum. Dari pekerjaan konstruksi yang saya tinjau. Didapat bahwa perkerasan
tanah yang digunakan adalah tiang pancang. Secara umum tiang pancang dapat
diklasifikasikan dari segi bahan yang terdiri dari tiang pancang bertulang, tiang pancang
pratekan. Tiang pancang yang digunakan dalam pelaksanaan:
-

Ukuran 20 x 20 dan Panjang 6 m.

Kekuatan beton K-400.

teknik pemancangan dilakukan dengan palu jatuh diesel hammer. Tiang pancang
digunakan karena pengerjaan nya lebih cepat dan efektif digunakan di daerah RIAU. Dari
segi teori tiang pancang akan berinteraksi dengan tanah untuk menghasilkan daya dukung
yang mampu memikul beban konstruksi diatasnya serta memberikan keamanan pada
konstruksi tersebut. Untuk menghasilkan daya dukung yang akurat, maka harus diketahui
sifat dan karakteristik tanah. Untuk itu perlu dilakukan penyelidikan geoteknik terhadap
tanah. Ada dua jenis penyelidikan geoteknik, yaitu penyelidikan lapangan dan penyelidikan
laboratorium. Penyelidikan lapangan meliputi penyondiran dan pengeboran. Penyondiran
bertujuan untuk mengetahui perlawanan konus dan hambatan lekat tanah yang merupakan
indikasi dari kekuatan tanah pada kedalaman tertentu serta dapat digunakan untuk
menghitung daya dukung lapisan tanah. Standar penetration test (SPT) bertujuan untuk
mendapatkan gambaran lapisan tanah berdasarkan jenis dan warna tanah melalui pengamatan
secara visual dan untuk pengambilan contoh tanah terganggu dan tidak terganggu untuk
penyelidikan di laboratorium mengenai sifat-sifat fisik dan karakteristik tanah yang semuanya

dapat digunakan untuk memperoleh daya dukung. Sehingga tidak diragukan lagi jika tiang
pancang menjadi pilihan Penyondiran bertujuan untuk mengetahui perlawanan konus dan
hambatan lekat tanah yang merupakan indikasi dari kekuatan tanah pada kedalaman tertentu
serta dapat digunakan untuk menghitung daya dukung lapisan tanah. Standar penetration test
(SPT) bertujuan untuk mendapatkan gambaran lapisan tanah berdasarkan jenis dan warna
tanah melalui pengamatan secara visual dan untuk pengambilan contoh tanah terganggu dan
tidak terganggu untuk penyelidikan di laboratorium mengenai sifat-sifat fisik dan
karakteristik tanah yang semuanya dapat digunakan untuk memperoleh daya dukung.

Banyak permasalahan yang terjadi pada proses pemancangan mulai dari awal
pemancangan sampai akhir pemancangan misalnya pergerakan tanah pondasi, kerusakan
tiang dan ukuran penahan kerusakan tersebut, penghentian pemancangan tiang, dan pemilihan
peralatan. Sebagai contoh, pada saat alat pancang mengangkat tiang pancang, sering terjadi
patah dan retak ditengah akibat kurang baiknya tulangan yang ada pada tiang pancang.
Untuk perhitungan daya dukung tiang pancang dapat dilakukan dengan beberapa
metode dan mungkin akan ditemukan perbedaan ataupun persamaan. Hal ini sangat penting
dilakukan karena setelah dilakukan pengujian hasil yang diperoleh belum memberikan suatu
nilai khusus yang tetap khususnya pada tanah kohesif yang meningkat.
3.1 CARA PEMANCANGAN
1. Pemancangan Tiang Beton

Titik-titik pancang ditetapkan dengan tanda-tanda patok, yang pemasangannya dilakukan


melalui pengukuran berdasarkan gambar yang ada (titik pancang di darat).

Titik-titik pancang yang ada di laut atau sungai, di pedomani dengan titik-titik ukur di darat.

Tiang pancang sebelum dipancang diberi garis-garis strip 10 cm pada bagian atasnya, untuk
keperluan pengamatan settlement terakhir yang diperlukan ( misalnya bila sepuluh pukulan
terakhir penurunanya 10 cm, berarti kedalaman pemancangan dianggap cukup).

Ditetapkan nomor urut pemancangan untuk tiap-tiap titik, sedemikian agar tiang yang sudah
selesai dipancang tidak mengganggu proses pemancangan tiang berikutnya.

Khusus untuk tiang pancang yang cukup rapat dan menyebabkan large soil displacement,
untuk menghindari heaving dari tiang yang sudah dipancang, urutan pemancangan harus dari
tengan ke arah luar. Tiang pancang yang menyebabkan large soil displacement adalah yang
berbentuk masif atau pipa dengan ujung tertutup (close ended).
2. Beberapa Masalah Pemancangan
Pada saat pelaksanaan pemancangan pondasi tiang pancang, ada beberapa masalah
yang timbul, di antaranya adalah hal-hal sebagai berikut:
a.

Pergerakan Tanah Pondasi

Karena pemancangan tiang, tanah pondasi dapat bergerak, karena sebagian tanah yang
digantikan oleh tiang akan bergeser, dan sebagai hasilnya kadang-kadang terjadi bahwa
bangunan-bangunan yang berada didekatnya akan bergerak dalam arah mendatar maupun
dalam arah vertikal, tergantung pada kesempatan yang dimilikinya.

Gambar tersebut memperlihatkan keadaan dimana pondasi tiang suatu bangunan


pabrik yang telah dipancang sebelumnya bergerak dalam arah mendatar akibat adanya tiangtiang yang dipancangkan sebelumnya itu ternyata bergerak 6-7m, dan dengan sendirinya
dapat diduga bahwa tiang tersebut terjadi momen lentur yang cukup besar, maka tiang-tiang
ini digali dan terbukti telah terjadi retak-retak pada tiang tersebut.
Tanpa mengurangi penghargaan terhadap tiang pancang seperti yang telah dibahas
diatas, kita perlu mengumpulkan segala daya yang memungkunkan dalam pembangunannya,
sehingga selain tidak terjadi peralihan tempat (displacement) pada tanah pondasi atau
bangunan di dekatnya tetapi juga takkan terjadi keganjilan-keganjilan pada tiang yang
dipancangkan. Sebagai contoh pernah terjadi tiang pancang yang dipancangkan pada suatu
lereng (slope) justru menimbulkan kekosongan pada lereng tersebut.
b.

Kerusakan Tiang dan Ukuran Penahan Kerusakan Tersebut


Pemilihan ukuran dan mutu tiang didasarkan pada kegunaannya dalam perencanaan,

tetapi setidak-tidaknya tiang tersebut harus dapat dipancangkan sampai ke pondasi. Jika tanah
cukup keras dan tiang tersebut cukup panjang, tiang tersebut harus dipancangkan dengan
penumbuk (hammer) yang cukup kuat terhadap kerusakan akibat gaya tumbukan hammer
tersebut.
Pada ganbar tersebut diperlihatkan berbagai macam bentuk kerusakan pada tiang, dan
perlu diperhatikan disini bahwa kerusakan pada tiang beton sering diakibatkan oleh tegangan
tarik atau tegangan geser.
Dalam hal ini kepada tiang ataupun ujung tiang dapat dibentuk sedemikian rupa
sehingga mampu memperbesar ketahanan tiang tersebut. Gambar tersebut memperlihatkan
bentuk ujung tiang pipa baja, dan tiang beton prategng, berturut-turut. Dalam hal ini perlu
diperhatikan bahwa daya dukung tiang pancang dapat berkurang walaupun pemancangan
menjadi lebih mudah, tergantung pada perubahan bentuk ujung tiang tersebut.
c.

Penghentian Pemancangan Tiang


Dalamnya pemancangan pada saat pemancangan tiang dapat dihentikan menurut

prinsip 2-3 kali panjang diameter tiang diukur dari batas lapisan tanah pendukung atau sekitar
2-3 meter. Karena tebal lapisan pendukung berbeda-beda di setiap tempat, maka
pemancangan yang diakibatkan oleh gaya tumbuk sampai kedalaman yang diisyaratkan atau
direncanakan seperti di atas harus dihindari.
Untuk tiang beton prategang sulit sekali memancangkan tiang tersebut sampai
sedalam lebih dari 2m pada lapisan berlempung yang mempunyai harga N yang lebih besar
10-15; atau pada lapisan berpasir yang mempunyai harga N > 30.

Untuk tiang pipa baja sulit sekali memancangkan tiang tersebut sampai kedalaman 2m
pada lapisan berlempung yang mempunyai harga qu lebih besar dari 10 kg/cm2 (harga N
sekitar 10-15).bila lapisan tanah pendukung tidak begitu tebal, pemancangan tiang dapat
dihentikan pada kedalaman sekitar setengah dari tebal lapisan tanah pendukung tersebut.
Bila suatu tiang pancang yang ujungnya terbuka dipancangkan ke dalam tanah
pondasi dan hampir-hampir tak mungkin bagi kita untuk mengetahui kapan ujung tiang
mencapai lapisan pendukung, maka suatu batang melintang yang terdapat pada tiang tersebut
akan mempermudah mencapai lapisan pendukung, karena segera setelah ujung tiang
menembus lapisan pendukung, derajat penetrasinya akan menurun secara tiba-tiba. Begitu
lapisan pendukung bagi tiang pipa baja tercapai, biasanya harga N untuk lapisan pendukung
akan lebih besar dari 30 untuk lapisan berpasir atau lebih dari 20 untuk lapisan berlempung.
d.

Pemilihan Peralatan

Alat utama yang dipergunakan untuk memancang tiang-tiang pracetak adalah


(hammer) dan (tower). Untuk memancangkan tiang pada posisi yang tepat, cepat dan dengan
biaya yang rendah, penumbuk dan dereknya harus dipilih dengan teliti agar sesuai dengan
keadaan di sekitarnya, jenis dan ukuran tiang, tanah pondasi dan perancahnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan penumbuk adalah kemungkinan
pemancangannya dan manfaatnya secara ekonomis. Karena dewasa ini masalah-masalah
lingkungan seperti suara bising atau getaran tidak boleh diabaikan, maka pekerjaan seperti ini
perlu digabungkan dengan teknik-teknik pembantu lainnya, walaupun sebelumnya telah
ditetapkan salah satu cara pemancangan tertentu. Sifat dari berbagai penumbuk (hammer)
diperlihatkan dalam tabel. Hal ini perlu diperhatikan dalam memilih jenis penumbuk tersebut.

3. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan


Agar pemancangan dapat kita laksanakan dengan hasil sesuai yang kita harapkan,
maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Titik-titik pemancangan yang tepat. Bila pemancangan di darat dapat dipasang patok-patok
pada titik pemancangan, tetapi bila pemancangan di laut, maka titik-titik pancang diarahkan
dengan titik-titik tetap di darat dengan bantuan theodolite.

Batas-batas toleransi yang diperkenankan tidak boleh dilampaui, baik pergeseran horizontal
maupun kemiringannya.

Nomor urut pemancangan dri titik-titik pancang.

Pemancangan harus dihentikan pada saat-saat yang tepat. Bila tiang sudah tidak dapat lagi
dipancang masuk, maka pemancangan harus segera dihentikan, agar tiang tidaj rusak/patah.
Sebaliknya bila tiang masih dapat masuk dengan mudah walaupun elevasi rencana telah
tercapai, maka harus dihentika sementara untuk keperluan penyambungan tiang.

Siapkan dan tetapkan jenis struktur penyambung tiang pancang, termasuk peralatan yang
diperlukan seperti misalnya alat las.
Prosedur Proses Pemancangan
Pertama tim surveyor menentukan titik-titik dimana tiang pancang akan diletakkan,
penentuan ini harus sesuai dengan gambar konstruksi yang telah ditentukan oleh perencana.
Jika sudah fix titik mana yang akan dipancang, nah sampai saat itu, pekerjaan tiang pancang
sudah bisa dilakukan.
Peralatan dan Bahan yang harus disiapkan untuk pekerjaan tiang pancang antara lain
Pile (tiang pancang), Alat Pancang (dapat berupa diesel hammer atau Hydrolic Hammer),
Service Crane.
Proses pengangkatan tiang pancang dari tempat tiang pancang untuk dipasangkan ke
alat pancang menggunakan service crane. Dengan Service crane tiang dipasangkan ke alat
pemancang dimana biasa alat pemancang sudah berada tepat diarea titik pancang.
Setelah Pile Terpasang dan posisi alat sudah berada pada titik pemancangan, maka
pemancangan siap dilakukan. Alat pancang yang digunakan dapat berbeda - beda jenisnya.
Seperti Diesel Hammer atau Hydraulic Hammer. Beda keduanya adalah Diesel Hammer
bersifat memukul sehingga pasti terdengan suara bising.. dueng..duengg..dueng... dan
terkadang meminbulkan getaran, getaran ini dapat mengakibatkan bangunan disekitar
menjadi retak jika jarang antara bangunan dan daerah pemancangan terlalu dekat, sementara
itu hydraulic hammer bersifat menekan, jadi pengaruh suara dan getaran relatif kecil.
Bedanya yang lain adalah penggunaan Hydraulic hammer lebih mahal.
Pemancangan dihentikan jika sampai mencapai tanah keras, indikasi jika
pemancangan sudah mencapai tanah keras adalah palu dari hammer sudah mental tinggi,
biasanya dalam tiap alat pancang sudah ada ukurannya, jika sudah pada posisi seperti itu
maka segera dilakukan pembacaan kalendering.
Pembacaan ini dilakukan pada alat pancang sewaktu memancang. Jika dari bacaan
tinggi bacaan sudah bernilai 1 cm atau lebih kecil, maka pemancangan sudah siap dihentikan.
Itu artinya tiang sudah menencapai titik tanah keras, tanah keras itulah yang menyebabkan

bacaan kalenderingnya kecil yaitu 1 cm atau kurang. Jika diteruskan dikhawatirkan akan
terjadi kerusakan pada tiang pancang itu sendiri seperti pada topi tiang pancang atau badan
tiang pancang itu sendiri. Pembacaan 1 kalendering dilakukan dengan 10 pukulan.

Hitungan Daya Dukung dengan Kalendering ( Rumus Hiley )

Perhitungan Kalendering (Rumus Hiley)


Kapasitas daya dukung tiang pancang dapat diperkirakan dengan
menggunakan rumus dinamis (Hiley). Sebenarnya dalam hitungan kalendering bisa
digunakan rumus lain tapi saya menggunakan rumus hiley karena lebih sering
digunakan. Berikut formulanya :

R
W
P
H
S
K
N

= Kapasitas daya dukung batas (ton)


= Berat palu atau ram (ton)
= Berat tiang pancang (ton)
= tinggi jatuh ram
= Penetrasi tiang pancang pada saat penumbukan terakhir, atau set (cm)
= Rata-rata Rebound untuk 10 pukulan terakhir (cm)
= Koefisien restitusi*
0,4-0,5 untuk palu besi cor, tiang beton tanpa helm
0,3-0,4 untuk palu kayu (landasan kayu)
0,25-0,3 untuk tiang kayu

Menentukan S dan K dari millimeter kalendering:

Dari grafik kita ambil yang 10 pukulan atas. Didapatkan S dari 10 pukulan terakhir
adalah 2cm. jadi S = 2/10 = 0.2 cm. Sedangkan reboundnya (K) ada 10. Diambilkan
rata-rata K. dari grafik terbaca K sekitar : 0.9cm.
Untuk menentukan berat ram bisa dilihat pada spesifikasi alat. Biasanya
dituliskan berat piston misalkan 2,5Ton atau 3,5 Ton. Sedangkan untuk mengetahui

tinggi jatuh ram dengan cara melihat ring yang tampak saat pemukulan dan
mengkonversikan ke table dan mengetahui jenis hammer yang dipakai misal K25
atau K35. Misalkan saat kalendering ring yang muncul E sedangkan tipe hammer
K25 maka tinggi jatuh ram adalah 2.197 mm = 219,7 cm.

Setelah itu daya dukung mendapatkan factor koreksi yaitu:


Efisiensi palu (ef)** :
ef = 0,8-0,9 untuk diesel hammer
ef = 0,7-0,9 untuk drop hammer
ef= 0,7-0,85 untuk single/double acting hammer
Faktor aman (SF)*** :
SF = 3 untuk permanen load
SF = 1 untuk temporary load
Jadi daya dukung yang dipakai:

Rpakai = ef.R.(1/SF)

Modified ENR Formula

Eytelwein Formula

Modified Hiley Formula

Gates Formula

Pacific Coast Uniform Building Code (PCUBC) Formula

google_ad_section_start(name=default)

DayaDukungDenganDataKalendering
POSTEDBYSUPEROMANGON17.49
NOCOMMENTS

[ifgtemso9]><xml><w:WordDocument><w:View>Normal</w:View>
<w:Zoom>0</w:Zoom><w:TrackMoves/><w:TrackFormatting/>
<w:PunctuationKerning/><w:ValidateAgainstSchemas/>
<w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid>
<w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent>
<w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText>
<w:DoNotPromoteQF/><w:LidThemeOther>ENUS</w:LidThemeOther>
<w:LidThemeAsian>XNONE</w:LidThemeAsian>
<w:LidThemeComplexScript>XNONE</w:LidThemeComplexScript>
<w:Compatibility><w:BreakWrappedTables/><w:SnapToGridInCell/>
<w:WrapTextWithPunct/><w:UseAsianBreakRules/><w:DontGrowAutofit/>
<w:SplitPgBreakAndParaMark/><w:DontVertAlignCellWithSp/>
<w:DontBreakConstrainedForcedTables/><w:DontVertAlignInTxbx/>
<w:Word11KerningPairs/><w:CachedColBalance/></w:Compatibility>
<w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel><m:mathPr>
<m:mathFontm:val="CambriaMath"/><m:brkBinm:val="before"/><m:brkBinSub
m:val=""/><m:smallFracm:val="off"/><m:dispDef/><m:lMarginm:val="0"/>
<m:rMarginm:val="0"/><m:defJcm:val="centerGroup"/><m:wrapIndent
m:val="1440"/><m:intLimm:val="subSup"/><m:naryLimm:val="undOvr"/>
</m:mathPr></w:WordDocument></xml><![endif]
Kadangkalaukitadilapangantentukitaakanmenemukanbanyakmasalah,termasuk
dalampemancangansebuahpondasi.
Biasaanyahasilpemancanganakandisajikandengandata10pukulanterakhir(final
set)
Lalukitaberfikirapagunanyadataini,kitakansudahmenghitungpondasinya?
Biasaanyadatainibisadipergunakanuntukmengecekperhitungansecarateoritis
terhadapdatalapangan.
Berikutadalahcaraperhitungannya:
R=((2WH/S+K)*(W+N2P/W+P))RumusHiley
R=((2WH/S+K)*(W/W+P))RumusCobelco
Ket:
R=Kapasitasdayadukungbatas(ton)
W=BeratpaluatauRam(Ton)
P=Berattiangpancang(Ton)
H=Tinggijatuhram(M)
S=PenetrasitiangpancangpadasaatpenumbukkanterakhirSET(cm)

K=Rataratauntuk10pukulanterakhir(cm)
N=Koefrestitusi*
0,40,5untukpalubesicor,tiangbetontanpahelm
0,30,4untukpalulandasankayu
0,250,3untuktiangkayu
AgarRdapatdijadikanhitunganyangamanmakarumusdiatasdigunakanfactor
keamananjugaefisiensihammer,sehingga
Rpakai=efR(1/SF)
Ket
Ef=0,80.9untukdieselhammer
0,70,9untukdrophammer
0,70,85untuksingle/doubleactinghammer
SF=biasanyatergantungdarikitasebagaiperencanaakantetapiperusahaanpancang
jugamenggunakanfactorkeamaanan(SF)tersendiri.Misalnya2,53,0
Sampaisiniduluyapembahasannyanantikitacobahitungcontohsoalnya
Janganlupaketikaperusahaanmemancangbiasanyaadamanualpemancangannya,
tinggaldimintasajamanualnyajikatidakadabolehgunakanrumusrumusdiatas

Anda mungkin juga menyukai