Anda di halaman 1dari 142

RENCANA

PENGEMBANGAN

FOTOGR AFI
NA SIONAL

2015-2019

RENCANA PENGEMBANGAN
FOTOGRAFI NASIONAL 2015-2019

:

Wijayanto Budi Santoso


Achmad Ghazali

PT. REPUBLIK SOLUSI

RENCANA PENGEMBANGAN
FOTOGRAFI NASIONAL 2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasihat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf
Ahman Sya, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Watie Moerany S, Direktur Pengembangan Seni Rupa
Eddy Susilo, Kasubdit Pengembangan Fotografi
Bambang Wijanarko, Komunitas Fotografi Kemenparekraf
Tim Studi
Wijayanto Budi Santoso
Achmad Ghazali
ISBN
978-602-72367-3-8
Tim Desain Buku
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Sari Kusmaranti Subagiyo
Yosifinah Rachman
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima Kasih kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD):
Andrew Linggar
Imam Hartoyo
Arbain Rambey
Irene Swa Suryani
Arya Marta
Irma Chantily
Dudi Sugandi
M Ilham Fauzi
Edial Rusli
Perhimpunan Amatir Foto Bandung
Ferdian Candra
Ray Bachtiar Dradjat
Ferry Ardianto
Risman Marah
Firman Ichsan
Utari Intan Nugrahani
Galih Sedayu
Yase Defirsa Cory
Harto Solichin Margo
Yudhi Soerjoatmodjo
Hendrikus Ardianto
Yulianus Ladung

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor penggerak yang
penting untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Ekonomi kreatif
adalah ekonomi yang digerakkan oleh sumber daya terbarukan dan tersedia secara berlimpah di
Indonesia, dimana kita memiliki sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar, sumber daya
alam terbarukan yang berlimpah dan sumber warisan budaya yang unik dan beragam. Ketiganya
menjadi kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Kita, secara bersama-sama telah meletakkan dasar pengembangan ekonomi kreatif yang akan
membawa bangsa menuju pembangunan ekonomi yang berkualitas. Kesinambungan upaya
pengembangan ekonomi kreatif diperlukan untuk memperkuat ekonomi kreatif sebagai sumber
daya saing baru bagi Indonesia dan masyarakat yang berkualitas hidup.
Bagi Indonesia, ekonomi kreatif tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga
memajukan aspek-aspek non-ekonomi berbangsa dan bernegara. Melalui ekonomi kreatif, kita
dapat memajukan citra dan identitas bangsa, mengembangkan sumber daya yang terbarukan
dan mempercepat pertumbuhan inovasi dan kreativitas di dalam negeri. Di samping itu ekonomi
kreatif juga telah memberikan dampak sosial yang positif, termasuk peningkatan kualitas hidup,
pemerataan kesejahteraan dan peningkatan toleransi sosial.
Fotografi sebagai salah satu bidang yang menjadi perhatian di dalam industri kreatif Indonesia,
merupakan bagian subsektor Film, Video, dan Fotografi, satu di antara 15 subsektor yang ditangani
oleh Kemenparekraf saat ini. Fotografi sebagai bagian dari industri kreatif Indonesia merupakan
sebuah industri yang mendorong penggunaan kreativitas individu dalam memproduksi citra dari
suatu objek foto dengan menggunakan perangkat fotografi, termasuk di dalamnya media perekam
cahaya, media penyimpan berkas, serta media yang menampilkan informasi untuk menciptakan
kesejahteraan dan juga kesempatan kerja. Meskipun selama ini fotografi di Indonesia telah tumbuh
dengan sendirinya, namun dirasakan masih banyak permasalahan yang sering dijumpai baik oleh
industri fotografi, komunitas fotografi, dan juga para pelaku fotografi Indonesia. Hal ini tentunya
dapat menghambat pertumbuhan industri fotografi Indonesia.
Maka dari itu, dalam upaya melakukan pengembangan industri fotografi di Indonesia, diperlukan
pemetaan terhadap ekosistem fotografi yang terdiri dari rantai nilai kreatif, pasar, nurturance
environment, dan pengarsipan, untuk dapat mengetahui kondisi industri fotografi terkini secara
menyeluruh. Aktor yang harus terlibat dalam ekosistem ini tidak terbatas pada model triple helix
yaitu intelektual, pemerintah dan bisnis, tetapi harus lebih luas dan melibatkan komunitas kreatif
dan masyarakat konsumen karya kreatif. Kita memerlukan quad helix model kolaborasi dan jaringan
yang mengaitkan intelektual, pemerintah, bisnis dan komunitas. Keberhasilan ekonomi kreatif
di lokasi lain ternyata sangat tergantung kepada pendekatan pengembangan yang menyeluruh
dan berkolaborasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

vii

Buku ini merupakan penyempurnaan dari Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
2025 yang diterbitkan pada tahun 2009. Dalam melakukan penyempurnaan dan pembaruan
data, informasi, telah dilakukan sejumlah Focus Discussion Group (FGD) dengan semua
pemangku kepentingan baik pemerintah, pemerintah daerah, intelektual, media, bisnis, orang
kreatif, maupun komunitas fotografi secara intensif. Hasilnya adalah buku ini, yang menjabarkan
secara rinci pemahaman mengenai industri fotografi dan strategi-strategi yang perlu diambil
dalam percepatan pengembangan industri fotografi lima tahun mendatang. Dengan demikian,
masalah-masalah yang masih menghambat pengembangan industri fotografi selama ini dapat
diatasi, sehingga dalam kurun waktu lima tahun mendatang industri fotografi dapat menjadi
industri yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan sebagai landasan yang
kuat untuk pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Salam Kreatif

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

viii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................................vii
Daftar Isi.............................................................................................................................. ix
Daftar Gambar.....................................................................................................................xii
Daftar Tabel.........................................................................................................................xiii
Ringkasan Eksekutif..........................................................................................................xiv
BAB 1 PERKEMBANGAN FOTOGRAFI DI INDONESIA................................................. 3
1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Fotografi............................................................................4
1.1.1 Definisi Fotografi.....................................................................................................4
1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Fotografi.................................................................6
1.2 Sejarah dan Perkembangan Fotografi................................................................................14
1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Fotografi Dunia.............................................................14
1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Fotografi Indonesia......................................................19
BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI FOTOGRAFI INDONESIA.....27
2.1 Ekosistem Fotografi......................................................................................................... 28
2.1.1 Definisi Ekosistem Fotografi....................................................................................28
2.1.2 Peta Ekosistem Fotografi..........................................................................................29
2.2 Peta dan Ruang Lingkup Subsektor Fotografi...................................................................51
2.2.1 Peta Industri Subsektor Fotografi.............................................................................51
2.2.2 Model Bisnis di Industri Fotografi............................................................................57
BAB 3 KONDISI UMUM FOTOGRAFI DI INDONESIA..................................................... 63
3.1 Kontribusi Ekonomi Fotografi.........................................................................................64
3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)................................................................. 66
3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan.........................................................................................67
3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan.................................................................................. 68
3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga...........................................................................69
3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor...............................................................................................70

ix

3.2 Kebijakan Pengembangan Fotografi................................................................................. 71


3.2.1 Kebijakan Hak Cipta .............................................................................................71
3.2.2 Kebijakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)..........................72
3.2.3 Kebijakan Ruang Publik............................................................................................73
3.2.4 Kebijakan Pers........................................................................................................78
3.2.5 Kebijakan Konten....................................................................................................79
3.3 Struktur Pasar Fotografi.................................................................................................... 79
3.4 Daya Saing Fotografi........................................................................................................81
3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Fotografi.........................................................83
BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN FOTOGRAFI INDONESIA..........................................89
4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 2015-2019..........................................90
4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Fotografi.............................................................. 91
4.2.1 Visi Pengembangan Fotografi................................................................................... 91
4.2.2 Misi Pengembangan Fotografi................................................................................. 91
4.2.3 Tujuan Pengembangan Fotografi................................................................................92
4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Fotografi.....................................................93
4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Fotografi..........................................................................95
4.4.1 Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Daya Manusia Kreatif di Bidang
Fotografi.................................................................................................................. 95
4.4.2 Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Sumber Daya
Alam dan Budaya bagi Industri Fotografi................................................................. 95
4.4.3 Arah Kebijakan Penciptaan Industri Fotografi Indonesia......................................... 95
4.4.4 Arah Kebijakan Penciptaan Pembiayaan yang Sesuai, Mudah Diakses, dan
Kompetitif............................................................................................................... 96
4.4.5 Arah Kebijakan Perluasan Pasar di Dalam dan Luar Negeri..................................... 96
4.4.6 Arah Kebijakan Penyediaan Infrastruktur dan Teknologi Tepat Guna, Mudah
Diakses, dan Kompetitif...........................................................................................96
4.4.7 Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan yang Kondusif dan Mengarusutamakan
Kreativitas................................................................................................................96
4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Fotografi......................................................... 97
4.5.1 Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Mendukung Penciptaan Orang Kreatif di
Bidang Fotografi.......................................................................................................97
4.5.2 Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Kreatif di Bidang Fotografi................................98
4.5.3Penciptaan Pusat Pengetahuan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Budaya......98
4.5.4 Peningkatan Wirausaha Kreatif Lokal di Bidang Fotografi.......................................98

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

4.5.5 Peningkatan Usaha Kreatif Lokal di Bidang Fotografi..............................................99


4.5.6 Peningkatan Keragaman dan Kualitas Karya Kreatif Lokal di Bidang Fotografi........99
4.5.7 Peningkatan Ketersediaan Pembiayaan Bagi Industri Fotografi Lokal.......................99
4.5.8Peningkatan Diversifikasi dan Penetrasi Pasar Karya Fotografi di Dalam dan
Luar Negeri..............................................................................................................99
4.5.9 Peningkatan Ketersediaan Infrastruktur yang Memadai dan Kompetitif.................. 100
4.5.10 Peningkatan Ketersediaan Teknologi Tepat Guna yang Mudah Diakses dan
Kompetitif............................................................................................................100
4.5.11 Penciptaan Regulasi yang Mendukung Penciptaan Iklim yang Kondusif Bagi
Pengembangan Industri Fotografi..........................................................................100
4.5.12 Peningkatan Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan Dalam Pengembangan
Industri Fotografi................................................................................................100
4.5.13 Peningkatan Apresiasi Kepada Orang/Karya/Wirausaha/Usaha Kreatif Lokal di
Bidang Fotografi.................................................................................................. 100
4.5.14 Peningkatan Apresiasi Masyarakat Terhadap Sumber Daya Alam dan Budaya
Lokal yang Mendukung Industri Fotografi........................................................... 101
BAB 5 PENUTUP....................................................................................................................103
5.1 Kesimpulan.......................................................................................................................104
5.2 Saran................................................................................................................................105
LAMPIRAN............................................................................................................................ 109

xi

Daftar Gambar
Gambar 11 Ruang Lingkup Pengembangan Fotografi........................................................... 13
Gambar 12 Pergerakan Sinar Pada Kamera Lubang Jarum.................................................... 14
Gambar 13 Ilustrasi Camera Obscura................................................................................... 15
Gambar 14 Perkembangan Fotografi di Indonesia..................................................................24
Gambar 21 Model Peta Ekosistem Industri Kreatif................................................................29
Gambar 22 Peta Ekosistem Fotografi.....................................................................................30
Gambar 23 Peta Industri Subsektor Fotografi....................................................................... 53
Gambar 24 Industri Fotografi Global....................................................................................57
Gambar 25 Ragam Model Bisnis Fotografi............................................................................59
Gambar 3-1 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap PDB Industri Kreatif
Indonesia tahun 2013............................................................................................................. 66
Gambar 3-2 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap Ketenagakerjaan
Industri Kreatif Indonesia tahun 2013.................................................................................... 67
Gambar 3-3 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap Aktivitas Perusahaan
Industri Kreatif Indonesia tahun 2013.....................................................................................68
Gambar 3-4 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap Konsumsi Rumah
Tangga Industri Kreatif Indonesia tahun 2013........................................................................ 69
Gambar 3-5 Nilai Ekspor Fotografi Indonesia 2010-2013 berdasarkan data Comtrade...........70
Gambar 3-6 Nilai Ekspor Fotografi Indonesia 2010-2012 berdasarkan data dari UNCTAD.. 70
Gambar 3-7 Daya Saing Subsektor Fotografi...........................................................................81

xii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Daftar Tabel
Tabel 21 Perkiraan Persebaran Jumlah Komunitas Fotografi di Indonesia...............................46
Tabel 31 Kontribusi Ekonomi Film, Video, dan Fotografi (2010-2013).................................64
Tabel 41 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Fotografi.......................................................92

xiii

Ringkasan Eksekutif
Fotografi berkembang tidak hanya sebagai teknologi penangkap citra atau gambar. Fotografi juga
berkembang seiring dengan bertambahnya manfaat fotografi di dalam kehidupan manusia. Kedua
proses tersebut sama pentingnya dalam melihat perkembangan fotografi, karena pada dasarnya
keduanya saling berkaitan dan saling memengaruhi. Sehingga, pemahaman akan definisi dan
ruang lingkup fotografi ini kemudian menjadi sangat diperlukan dalam upaya untuk menentukan
fokus pengembangan fotografi dalam kontekstual pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia
selama lima tahun ke depan (20152019). Untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh
dan mendalam mengenai industri kreatif, khususnya subsektor fotografi (yang termasuk ke
dalam subsektor film, video, dan fotografi), perlu dilakukan pemetaan terhadap kondisi ideal,
yaitu suatu kondisi yang diharapkan terjadi dan merupakan best practices dari negara-negara yang
sudah maju industri fotografinya. Selain itu juga perlu dipahami kondisi aktual dari fotografi
di Indonesia untuk memahami dinamika yang terjadi. Salah satu cara yang digunakan dalam
melakukan pemetaan ini adalah dengan menggunakan model ekosistem industri yang dalam
hal ini adalah ekosistem industri kreatif. Ekosistem adalah sebuah sistem yang menggambarkan
hubungan saling ketergantungan (interdependent relationship) antara setiap peran di dalam
proses penciptaan nilai kreatif dan antara peran-peran tersebut dengan lingkungan sekitar yang
mendukung terciptanya nilai kreatif.
Pemahaman antara kondisi ideal dengan kondisi aktual tersebut nantinya dapat memberikan
gambaran mengenai kebutuhan dari industri fotografi nasional sehingga dapat berkembang
dengan baik, dengan mempertimbangkan potensi (kekuatan dan peluang) dan permasalahan
(tantangan, kelemahan, ancaman, dan hambatan) yang dihadapi. Peranan ekonomi kreatif bagi
Indonesia sudah semestinya mampu diukur secara kuantitatif sebagai indikator yang bersifat
nyata. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran riil mengenai keberadaan ekonomi kreatif
yang mampu memberikan manfaat dan mempunyai potensi untuk ikut serta dalam memajukan
Indonesia. Bentuk nyata dari kontribusi ini dapat diukur dari nilai ekonomi yang dihasilkan
oleh seluruh subsektor pada ekonomi kreatif termasuk fotografi yang merupakan bagian dari
subsektor film, video, dan fotografi.
Perhitungan kontribusi ini ditinjau dari empat basis, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB),
ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan, dan konsumsi rumah tangga yang dihimpun berdasarkan
perhitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk perhitungan kontribusi
ekonomi di subsektor film, video, dan fotografi, nilai yang ada pada data BPS tersebut dihitung
berdasarkan data Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif 2009. KBLI ini
tentunya perlu diperbarui mengingat teknologi dan juga dinamika industri fotografi yang sangat
cepat berubah, sehingga nilai PDB yang didapatkan nantinya menjadi lebih akurat apabila sudah
memasukkan beberapa poin tambahan yang sesuai dengan ruang lingkup usulan, baik di subsektor
fotografi dan juga ketiga subsektor lainnya yaitu, film, video, dan animasi. Visi, misi, tujuan dan
sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan fotografi pada periode 2015-2019
yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan
program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait secara terarah dan terukur yang
dijabarkan pada Bab 4 Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia.
xiv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

If you fail to plan, you are planning to fail.

Benjamin Franklin

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

KULINER 2015-2019

10

KERAJINAN 2015-2019

ARSITEKTUR 2015-2019

09

12
08

PERIKLANAN 2015-2019

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

17

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI PERTUNJUKAN 2015-2019

SENI RUPA 2015-2019

TEKNOLOGI INFORMASI 2015-2019

TV & RADIO 2015-2019

VIDEO 2015-2019

PENERBITAN 2015-2019

16

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

PENELITIAN & PENGEMBANGAN 2015-2019

15

18

MUSIK 2015-2019

PERFILMAN
2015-2019

14

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

11

ARSITEKTUR
2015-2019

06
05
04

KEKUATAN BARU INDONESIA


MENUJU 2025

xv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

BAB 1
Perkembangan Fotografi
di Indonesia

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Fotografi


Sebelum membahas lebih jauh mengenai pengembangan fotografi dalam konteks ekonomi kreatif
Indonesia, ada baiknya kita memahami perkembangan fotografi. Fotografi berkembang tak hanya
sebagai teknologi penangkap citra atau gambar, tapi juga berkembang seiring dengan bertambahnya
manfaat fotografi dalam kehidupan manusia. Dalam melihat perkembangan fotografi, kedua
proses tersebut sama pentingnya. Keduanya saling berkaitan dan saling memengaruhi.
Definisi fotografi selalu terkait dengan sisi teknis perkembangan teknologi fotografi itu sendiri.
Hal ini dapat terlihat dari perkembangan teknologi fotografi dari analog ke digital. Perkembangan
tersebut mengubah elemen-elemen fotografi sehingga mendorong penyesuaian definisi fotografi.
Pada era fotografi analog, misalnya, sebuah kertas film memiliki peran ganda: sebagai media
perekam cahaya dan penyimpan informasi. Pada era digital kedua peran tersebut dapat digantikan
perangkat lain. Oleh karena itulah kemajuan teknologi fotografi bisa mengubah definisi fotografi
itu sendiri.
Kemajuan teknologi juga dapat memengaruhi ruang lingkup fotografi yang saat ini sudah semakin
meluas dan memengaruhi perkembangan fotografi dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya. Kita perlu
memahami definisi dan ruang lingkup fotografi untuk bisa menentukan fokus pengembangan
fotografi dalam konteks ekonomi kreatif Indonesia. Dengan memahami kedua hal itu kita dapat
menghasilkan dampak optimal dalam pengembangan fotografi selama lima tahun ke depan
(20152019).

1.1.1 Definisi Fotografi


Istilah photography diperkenalkan secara luas oleh Sir John Herschel pada 1839. Ia menggunakannya
untuk menyebut beberapa proses eksperimen yang ia lakukan dalam memindahkan citra suatu
objek ke dalam medium dua dimensi. Namun ternyata, kata photographie sudah ada dari
lima tahun sebelumnya; tepatnya pada 1834, kata photographie digunakan oleh penemu asal
Brazil bernama Antoine Hrcule Romuald Florence dalam catatannya. Catatan itu baru berhasil
diperiksa Boris Kossoy pada 1976.

Diploma da Maonaria, foto resmi pertama


Sumber: Mariana Rezende, Original Creators: Hrcules Florence,
The Forgotten Father of Photography, thecreatorsproject.vice.com

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Tokoh Pencetus Istilah Fotografi


Hrcule Romuald Florence adalah penemu yang lahir di Nice, Prancis, pada 1804. Sejak umur 20
tahun, Hrcule menetap di kota Campinas, Sao Paulo, Brazil. Semula bekerja menjadi pegawai toko, ia
kemudian pindah dari satu toko ke toko lainnya hingga akhirnya menyadari bakatnya sebagai pendesain.
Bergelut di dunia seni sejak kecil, ia lalu bergabung dengan ekspedisi ke Brazil, termasuk ke Amazon.
Hrcule bertanggung jawab untuk merekam gambar-gambar selama perjalanan. Ekspedisi yang diketuai Georg Heinrich von Langsdorff ini sangat penting artinya bagi penemuan-penemuan fotografi
Hercule; ekspedisi tersebut memaksa penemu muda ini untuk menghabiskan waktu selama kurun
18251829 untuk terus merekam tanpa kenal lelah lanskap Brazil beserta semua makhluk hidupnya.
Sumber: Mariana Rezende, Original Creators: Hrcules Florence, The Forgotten Father of Photography,
thecreatorsproject.vice.com, 19 September 2011. Tautan: http://thecreatorsproject.vice.com/blog/original-creatorshrcules-florence-the-forgotten-father-of-photography

Ditilik dari asal katanya, fotografi berasal dari dua kata bahasa Yunani: phtos yang berarti
cahaya, dan graph yang bermakna menggambar. Secara harafiah fotografi diartikan sebagai
kegiatan melukis dengan cahaya.
The Hutchinson Dictionary of the Arts (1994) mendefinisikan fotografi sebagai berikut:
Process of reproducing images on sensitized materials by various forms of radiant energy, i.e. visible
light, ultraviolet, infra-red, x-rays, atomic radiations, and electronic beams.
Proses reproduksi citra pada material peka cahaya oleh berbagai bentuk dari energi radiasi, seperti
cahaya kasat mata, ultraviolet, infra merah, sinar-x, radiasi atomik, dan tembakan elektron.
Definisi Hutchinson tersebut lebih dapat menjawab perkembangan substansi fotografi dari sisi
teknologi. Peran film dan permukaan peka cahaya di era analog telah tergantikan sensor cahaya
yang tidak hanya mampu menangkap cahaya tampak, namun juga gelombang energi dalam
bentuk lain. Karena itu, kita dapat menjadikan definisi tersebut sebagai definisi fotografi kiwari.
Ketika fotografi dikaitkan dengan industri kreatif di Indonesia, definisi fotografi pun perlu
penyesuaian menjadi:

Industri yang mendorong penggunaan kreativitas,


keterampilan, dan bakat individu dalam memproduksi
citra dari satu objek foto dengan menggunakan perangkat
fotografi, termasuk di dalamnya media perekam cahaya,
media penyimpan berkas, serta media yang menampilkan
informasi untuk meningkatkan kesejahteraan dan
menciptakan kesempatan kerja.

Sumber: Focus Group Discussion sub-subsektor fotografi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (MeiJuni 2014).

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ada lima elemen yang selalu melekat dalam
fotografi:
1. Kreativitas. Kemampuan mengolah ide untuk menghasilkan karya kreatif, termasuk di
dalamnya keterampilan dan bakat. Kreativitas dalam fotografi ini di antaranya kemampuan
menangkap ekspresi atau pesan dari objek yang dipotret. Kreativitas ini tentu saja, hanya
dimiliki orang kreatif. Orang kreatif dalam fotografi bisa berasal dari:
a. Fotografer atau juru foto, subjek atau seseorang yang melakukan kegiatan fotografi.
Dalam era digital, ketika kamera dapat dioperasikan dari jarak jauh dengan bantuan
remote, fotografer adalah orang yang mengatur kamera untuk memotret.
b. Creative director, seseorang yang bertanggung jawab terhadap konsep suatu karya kreatif.
c. Digital imaging artist (DIA ) atau editor foto, seseorang yang memiliki keahlian
dalam membuat dan memanipulasi gambar digital.
2. Objek foto. Benda atau situasi yang ingin direproduksi dalam bentuk gambar atau citra
dengan bantuan alat atau media perekam cahaya, atau kamera.
3. Media perekam cahaya. Media sensitif terhadap cahaya sehingga dapat menggandakan
gambar atau citra dari objek foto yang memancarkan cahaya. Pada zaman fotografi analog,
media perekam cahaya dapat berupa kertas sensitif cahaya, pelat yang diberikan bahan
kimia agar menjadi sensitif terhadap cahaya, dan juga film. Pada era digital, sensor cahaya
dalam kamera digital berfungsi sebagai media perekam cahaya.
4. Media penyimpan berkas (informasi). Media atau alat yang menyimpan berkas (dalam
hal ini adalah informasi gambar). Pada zaman fotografi analog, fungsi media penyimpan
berkas menjadi satu dengan media perekam cahaya. Informasi gambar berada di media
perekam cahaya seperti kertas sensitif cahaya, pelat sensitif cahaya, dan film. Sedangkan
pada era fotografi digital, media penyimpan berkas (informasi) berupa data digital yang
tersimpan dalam memory dan dapat dipindahkan ke media penyimpan berkas digital
lainnya seperti CD/DVD, flash disk, memory card dan hard disk.
5. Media yang menampilkan gambar atau citra. Media yang memperlihatkan hasil akhir
fotografi dari objek foto. Pada zaman fotografi analog, media yang berfungsi menampilkan
gambar adalah foto yang sudah dicetak. Pada era fotografi digital, layar monitor komputer
atau ponsel pintar bisa menjadi media penampil gambar.

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Fotografi


Menurut hasil kajian dari beberapa literatur, fotografi dapat dikelompokkan berdasarkan genre
atau aliran dan tujuan pelaku fotografi. Genre dalam fotografi dapat dibagi dengan beberapa
pendekatan, seperti: (1) perkembangan teknologi kamera dan media perekamnya; (2) objek
foto; (3) teknik memotret; (4) lokasi atau tempat memotret; (5) acara atau peristiwa. Sedangkan
fotografi berdasarkan tujuan pelaku fotografi dapat dibagi menjadi: (1) fotografi pendidikan; (2)
fotografi amatir; dan (3) fotografi profesional.
Dari sisi perkembangan teknologi kamera dan media rekam, fotografi dapat dikelompokkan
menjadi fotografi analog dan digital. Fotografi digital berkembang pesat sejak 1990-an, namun
hal ini tidak serta-merta menghilangkan keberadaan fotografi analog. Dengan mempertahankan
keunikan, ciri khas, serta nilai sejarahnya, fotografi analog masih mendapatkan tempat di hati
penggemar fotografi. Kedua genre tetap bertahan, meskipun fotografi digital yang dengan segala
kelebihan dan kekurangannya, menjadi standar industri subsektor fotografi saat ini.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Beberapa jenis fotografi analog, di antaranya:


1. Lomography. Gaya fotografi analog menggunakan film yang memiliki tingkat kontras tinggi
serta saturasi dan profil warna khas pada hasil fotonya karena dicetak secara cross processing.
2. Fotografi lubang jarum (pinhole). Fotografi yang dalam pembuatannya menggunakan
kamera lubang jarum. Kamera lubang jarum adalah benda yang memiliki ruang kedap
cahaya dan kemudian diberi lubang sangat kecil di salah satu sisinya dan jarum dapat
terbuat dari bahan apa saja.
3. Polaroid. Fotografi yang menggunakan sejenis film khusus yang hasil filmnya dapat
langsung dicetak.
Berdasarkan objek foto, genre fotografi dapat dikelompokkan menjadi beberapa:
1. Astro-photography. Khusus memotret benda-benda langit seperti bulan, bintang, dan planet-planet.
2. Fotografi potret (portraiture). Khusus memotret manusia.
3. Fotografi alam. Khusus memotret keindahan alam seperti pemandangan, tumbuhtumbuhan, dan fauna.
4. Fotografi makanan ( food-photography). Khusus memotret makanan dan minuman.
5. Selfie. Genre terbaru dalam fotografi, khusus memotret diri sendiri atau bersama sekelompok
teman. Genre ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan ponsel pintar.

Foto selfie Ellen DeGeneres bersama aktor dan aktris Hollywood di acara Academy Awards 2014
Sumber: twitter.com Foto: Bradley Cooper

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

Berdasarkan teknik pemotretan, fotografi dapat dibagi menjadi beberapa kelompok:


1. Strobist photography. Teknik fotografi dengan menggunakan lampu kilat (flash) atau
lampu artifisial yang terpisah dari kamera.
2. Long-exposure/slow shutter photography. Teknik fotografi dengan memperlambat shutter
speed. Tujuan fotografi ini, biasanya, untuk membuat efek gambar yang halus pada air terjun,
awan-awan di langit, atau menghilangkan kerumunan orang yang berlalu-lalang di suatu tempat.
3. Light-painting photography. Teknik ini sama dengan teknik long-exposure, namun efek
yang diharapkan adalah adanya jejak cahaya yang dapat berupa gambar atau tulisan yang
berasal dari sumber cahaya yang digerakkan manusia atau benda.
4. Levitation photography. Teknik memotret seseorang yang sedang meloncat dengan shutter speed
sangat cepat, sehingga menghasilkan efek objek yang sedang terbang atau berhenti di udara.
5. Macro-photography. Teknik fotografi yang menghasilkan foto pembesaran dari objekobjek foto yang kecil.
6. HDR (High Dynamic Range). Teknik dengan menggabungkan beberapa foto yang
memiliki tingkat pencahayaan (exposure) berbeda-beda. Tujuan fotografi HDR adalah
untuk menerangkan bagian foto yang gelap, dan menggelapkan bagian foto yang terang,
agar semua rentang cahaya dalam foto tersebut menjadi normal sehingga tidak ada bagian
yang terlalu terang (over-exposed) atau terlalu gelap (under-exposed).

Foto levitation photography yang dipopulerkan Natsumi Hayashi dalam blog-nya


Sumber: yowayowacamera.com Foto: Natsumi Hayashi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Berikut ini beberapa contoh genre berdasarkan lokasi atau tempat pemotretannya:
1. Aerial-photography. Fotografi yang diperoleh dengan cara memotret di udara. Biasanya
pemotretan dibantu remote control, atau pemotretan dilakukan dengan bantuan helikopter.
2. Underwater-photography. Fotografi yang dilakukan di dalam air. Pemotretan biasanya
dilakukan dalam kolam renang, danau, sungai, atau laut.

Foto underwater photography yang memenangkan Our World Underwater 2013 untuk kategori Wide Angle Traditional
Sumber: underwatercompetition.com Foto: Octavio Aburto

Berikut ini beberapa contoh genre berdasarkan acara atau peristiwa:


1. Fotografi pernikahan (wedding photography). Fotografi yang mengabadikan pesta
pernikahan.
2. Fotografi kehamilan (maternity photography). Fotografi yang merekam seorang wanita
pada masa-masa kehamilan. Biasanya pemotretan dilakukan ketika perut si calon ibu
sudah terlihat membesar.
3. Fotografi kelahiran (newborn photography). Fotografi yang memotret bayi pada saatsaat awal kelahirannya.

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

Foto bayi yang sedang menguap, ini genre newborn photography


Sumber: pinterest.com Foto: William Tuttle

Selain pengelompokan berdasarkan genre, umumnya fotografi juga dibagi berdasarkan tujuan
kegiatan pelaku fotografi. Berikut ini pembagiannya:
1. Fotografi pendidikan. Fotografi sebagai ilmu yang diajarkan dalam pendidikan formal
dan nonformal. Pelakunya adalah tenaga pendidik seperti guru atau dosen dan juga para
profesional fotografi yang membuka kursus-kursus fotografi dan sejenisnya.
2. Fotografi amatir. Fotografi yang digeluti fotografer yang mengejar prestasi dan aktualisasi
diri di bidang fotografi, dan para pehobi fotografi yang melakukan fotografi untuk
konsumsi pribadi.
3. Fotografi profesional. Fotografi yang fotografernya menjual keahliannya di bidang
fotografi dan menjadikan fotografi sebagai mata pencahariannya. Fotografi profesional
sendiri dapat dibagi menjadi 4 kategori:
a. Fotografi jurnalistik. Fotografi yang berkaitan erat dengan wilayah produksi dan
konsumsi media cetak dan elektronik. Tujuan utama pewarta foto adalah memotret
kejadian dan peristiwa yang sedang terjadi untuk diberitakan kembali melalui media
massa. Foto-foto yang didapatkan diharapkan dapat memperkuat isi artikel yang
disajikan di media massa tersebut. Para pelaku di bidang fotografi jurnalistik, di
antaranya, jurnalis foto, editor foto, redaktur foto, dan pengelola biro foto.

10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Robert Capa, fotografer jurnalistik yang meliput perang di berbagai negara


Sumber: en.wikipedia.org Foto: Gerda Taro

b. Fotografi komersial. Fotografi yang erat kaitannya dengan para praktisi fotografi
profesional. Fotografi ini biasanya berhubungan dengan agen periklanan dan perusahaanperusahaan. Foto yang dibuat dapat berdasarkan keinginan klien (yang dibuat dari
konsep awal), atau klien dapat membeli foto-foto yang telah dibuat si fotografer untuk
kepentingan klien. Bentuk lain fotografi komersial adalah fotografi retail, yaitu jasa fotografi
yang menyediakan mulai dari konsep pemotretan hingga cetak foto. Semua proses dalam
fotografi retail telah dibakukan dalam prosedur operasi baku perusahaan. Klien sangat
dimudahkan dalam menggunakan jasa fotografi ini. Pada umumnya fotografi ini memotret
orang, baik sendiri maupun bersama-sama, di dalam studio. Fotografi pernikahan dan
fotografi peliputan acara juga termasuk ke fotografi retail. Pelaku di bidang fotografi
komersial adalah fotografer profesional, pemilik studio fotografi, pengusaha fotografi,
pemilik sekolah dan tempat kursus fotografi, pengelola biro fotografi, dan sebagainya.

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

11

Dovina with Elephatns, pemotretan Avedon untuk Dior (1955)


Sumber: giam.typepad.com Foto: Richard Avedon

c. Fotografi seni. Fotografi yang tumbuh dari dorongan ekspresi pribadi sebagai bagian
dari seni rupa yang dituangkan ke dalam medium dua dimensi. Fotografi jenis ini
terkadang sulit dimengerti orang awam karena membutuhkan daya imajinasi dalam
memahami konsepnya seperti layaknya seni lukis. Namun, karya fotografi seni juga
memiliki nilai tinggi walaupun tak setinggi seni lukis. Pelaku di bidang fotografi seni
antara lain, seniman yang menggunakan medium fotografi, sejarawan seni, kritikus
seni, kurator, pengelola galeri (gallerist), makelar seni (art dealer), kolektor, teoritikus,
penaksir karya seni (art appraisal), konservator seni, manajer seni, pengelola kegiatan
(event organizer), dan sebagainya.
d. Fotografi khusus. Fotografi yang digunakan secara khusus dalam suatu bidang
industri atau ilmu pengetahuan dan teknologi. Contoh fotografi khusus ini, misalnya,
astro-photography yang digunakan untuk mengamati benda-benda langit, fotografi
ultra-macro yang digunakan untuk mengamati virus atau bakteri yang sangat kecil,
fotografi yang digunakan untuk melihat isi organ makhluk hidup, dan lain-lain.
Fokus pengembangan ekonomi kreatif 2015-2019 adalah fotografi profesional: fotografi
jurnalistik, fotografi komersial, dan fotografi seni, yang meliputi seluruh genre dalam fotografi
seperti ditunjukkan dalam Gambar 1-1. Fotografi khusus lebih banyak digunakan dalam bidang
penelitian dan pengembangan sedangkan fotografi amatir lebih pada pengembangan diri dan hobi
pribadi. Kedua bagian ini tidak secara langsung memberikan pengaruh ekonomi pada industri
kreatif, namun memiliki peran dalam membangun ekosistem subsektor fotografi terutama
sebagai bagian dari lingkungan pengembangan. Oleh karena itu, fotografi khusus dan amatir
dikembangkan sebagai sistem pendukung dari fotografi profesional. Kami akan membahas hal
ini di bab selanjutnya, tentang ekosistem industri subsektor fotografi.

12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Gambar 1-1 Ruang lingkup pengembangan fotografi

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

13

1.2 Sejarah dan Perkembangan Fotografi


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Fotografi Dunia
Cukup banyak versi yang mencoba menjelaskan peristiwa yang menjadi titik awal perkembangan
dunia fotografi. Peristiwa yang cukup populer adalah penemuan fenomena lubang jarum (pinhole)
yang diperkenalkan Mo Zi, seorang ilmuwan dari Cina sekitar abad ke-5 SM. Fenomena lubang
jarum adalah munculnya gambar cahaya yang bersifat terbalik di suatu ruang gelap yang berasal
dari titik yang sangat kecil di ruang tersebut. Gambar yang dihasilkan itu berasal dari lingkungan
yang kaya akan cahaya dan letaknya tepat di depan titik. Mo Zi berhasil menjelaskan efek
terbaliknya gambar bayangan tersebut. Menurutnya, hal itu itu terjadi karena sifat cahaya yang
bergerak lurus.
Gambar 1-2 Pergerakan sinar pada kamera lubang jarum

Penemuan efek lubang jarum berlanjut kepada penemuan camera obscura dan kamera lubang
jarum oleh Alhazen (Ibnu Al-Haytham) sekitar abad ke-10. Camera adalah bahasa Latin dari
ruangan atau kamar, sedangkan obscura merupakan bahasa Latin dari gelap; camera
obscura berarti ruang atau kamar gelap. Selain menemukan camera obscura, Alhazen juga berhasil
menjelaskan bahwa apa yang terproyeksikan ke layar adalah gambar dari apa pun yang berada di
depan aperture atau diafragma (bukaan lubang). Camera obscura merupakan penemuan penting
dalam sejarah fotografi karena menjadi cikal-bakal kamera foto yang kita kenal saat ini. Namun,
camera obscura pada saat itu belum bisa merekam atau menyimpan gambar yang ia proyeksikan.

View from the Window at Le Gras


Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/View_from_the_Window_at_Le_Gras Foto: Joseph Nicphore Nipce

14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Pada awal abad ke-19 ini berbagai penemuan dan penelitian di bidang fotografi terjadi sangat
cepat dan begitu maju. Terjadi banyak perubahan baik di media perekam (kamera), media yang
menyimpan gambar rekaman dan juga media yang berfungsi menampilkan hasil rekaman.
Hal ini disebabkan semakin berkembangnya industri transportasi dan penyebaran informasi,
sehingga hasil penemuan atau penelitian di suatu daerah dapat tersebar ke seluruh penjuru
dunia. Penemuan-penemuan tersebut memacu para peneliti dan ilmuwan-ilmuwan lain untuk
bereksperimen dan mengembangkan teknologi berikutnya yang lebih maju.
Pada sekitar 1820-an, seorang ilmuwan Prancis bernama Joseph Nicphore Nipce berhasil
mengabadikan gambar dengan menggunakan camera obscura, dan juga pelat yang diberi lapisan
aspal sebagai media rekamnya. Ia menyebut tekniknya sebagai heliography atau melukis dengan
cahaya matahari. Prinsip kerja teknik ini adalah camera obscura diarahkan ke objek yang akan
direkam, kemudian pelat yang telah dilapisi aspal tersebut diletakkan di dalam camera obscura
selama kurun waktu tertentu (lebih dari 8 jam) agar terkena cahaya matahari yang masuk melalui
titik lubang jarum dari kamera. Setelah 8 jam (atau bahkan beberapa hari) kemudian, pelat
tersebut diambil dan dilarutkan ke dalam minyak lavender. Bagian yang terkena cahaya akan
mengeras, sedangkan pada bagian yang gelap, lapisan aspalnya akan terlarut. Tingkat kekerasan
lapisan aspal akan sebanding dengan seberapa lama dan seberapa kuat ketajaman cahaya yang ia
terima. Nicphore Nipce dikenal sebagai Bapak Fotografi.
Gambar 1-3 Ilustrasi camera obscura

Penemuan Nipce ini dilanjutkan rekannya, Louis Daguerre. Daguerre memperbaiki kekurangan
Nipce, yaitu mempercepat waktu yang dibutuhkan oleh media rekam untuk menangkap cahaya
sehingga dapat terekam dengan baik. Daguerre berhasil melakukan proses perekamannya dengan
metode dan media yang berbeda dengan yang Nipce gunakan, sehingga waktu penyinaran yang
sebelumnya membutuhkan berjam-jam atau bahkan berhari-hari, dengan metode Daguerre menjadi
hanya beberapa menit. Daguerre kemudian menamakan proses tersebut dengan daguerreotype.

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

15

Tidak jauh dari Prancis, pada 1835 di Inggris, William Henry Fox Talbot juga berhasil membuat
rekaman gambar. Perbedaannya dengan hasil foto Daguerre, Talbot berhasil merekamnya dalam
media kertas yang dibuat peka terhadap cahaya dengan menggunakan perak klorida. Talbot
menyebut proses atau metode ini dengan calotype. Tidak seperti daguerreotype yang tidak dapat
dicetak ulang, proses calotype dapat mencetak ulang foto sesuai keinginan.
Pada 16 April 1877, surat kabar harian The Daily Graphic di New York memuat sketsa yang
menggambarkan berita kebakaran hotel dan salon. Meskipun gambar pada harian tersebut
masih berupa hasil sketsa tangan, peristiwa itu menjadi embrio fotografi jurnalistik. Dalam
pembuatannya, seniman yang saat itu juga bertindak sebagai jurnalis dibantu seorang drafter
yang bertugas membuat sketsa salinan ke dalam pelat cetakan mesin press.1
Pada akhir abad ke-19, George Eastman dari New York menemukan metode yang dapat
memperbaiki kinerja fotografi pada masa-masa sebelumnya. Eastman berhasil mengembangkan
penemuannya dengan menggunakan gel kering di kertas (yang kemudian disebut film) untuk
menggantikan peran pelat yang biasanya digunakan sebagai media rekam. Berkat penemuannya
seorang fotografer tak perlu membawa kotak-kotak yang besar untuk menyimpan pelat-pelatnya,
serta larutan-larutan kimia yang beracun ketika berkeliling. Karya Eastman inilah yang kita kenal
sebagai proses fotografi modern sebelum kemunculan fotografi digital.
Penemuan kamera film ini mendorong dunia jurnalistik kian menggunakan fotografi untuk
laporan-laporannya, hingga akhirnya tak bisa dipisahkan dan kelak melahirkan genre fotografi
jurnalistik. Pada 1891, surat kabar harian New York Morning Journal memelopori penggunaan
foto dalam surat kabar. Foto tersebut dicetak dengan menggunakan halftone screen, alat yang
mampu memindai titik-titik gambar ke dalam pelat cetakan. Pada 1897, halftone photographs dapat
dicetak dengan semakin cepat dan missal, sehingga melambungkan fotografi dalam media cetak.
Pada sekitar 19301950, terbitan-terbitan ternama seperti Sports Illustrated, The Daily Mirror,
The New York Daily News, Vu, dan LIFE memuat foto-foto menawan. Era tersebut kemudian
menjadi era fotografi jurnalistik modern (19301950) atau yang dikenal dengan golden age.
Nama-nama besar dalam fotografi jurnalistik di era ini adalah Robert Capa, Alfred Eisenstaedt,
David Seymour, W. Eugene Smith, Margaret Bourke-White, dan Henri Cartier-Bresson. Pada
era ini pula, tepatnya pada 1947, didirikan Magnum Photos, agensi foto berita pertama yang
menyediakan foto jurnalistik dari berbagai isu dan belahan dunia.
Pertengahan abad ke-20, teknologi kamera mulai beralih dari teknologi analog ke digital. Pada
1975, Steven Sasson yang bekerja di Eastman Kodak berhasil menciptakan kamera digital pertama
dengan menggunakan teknologi sensor CCD (Charge Couple Device) sebagai pengganti film.
Beberapa tahun berikutnya, datang teknologi CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor)
yang mengatasi keterbatasan-keterbatasan teknologi sensor CCD. Kedua jenis sensor tersebut
(CCD dan CMOS) masih digunakan hingga saat ini dengan kelebihan dan kekurangannya
masing-masing. Kelak, bukan tidak mungkin teknologi digital yang berbasis semikonduktor ini
dapat digantikan material lain yang dapat digunakan sebagai sensor cahaya.

(1) Taufan Wijaya, Foto Jurnalistik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014).

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Perkembangan industri media terutama sektor periklanan dan percetakan, semakin meningkatkan
kebutuhan akan fotografi. Tuntutan untuk membuat iklan dan media cetak yang menarik menjadi
semakin tinggi. Ketika itu terjadi, fotografi tidak dapat berdiri sendiri sehingga industrinya makin
berkembang dan membutuhkan peran orang-orang kreatif. Dalam pembuatan iklan, misalnya,
diperlukan kehadiran creative director, art director, model, tata rias wajah dan rambut, properti, pedesain
mode, hingga pedesain interior. Nama-nama seperti Avedon, Irving Penn, Helmut Newton, dan
Robert Mapplethrope muncul sebagai fotografer-fotografer yang erat kaitannya dengan majalah mode.2
Fotografi sebagai karya seni mulai ditandai ketika karya foto cetak asli Ansel Adams yang berjudul
Moonrise, Hernandez, New Mexico menembus harga US$45,000 dan menjadi perbincangan pada
1980. Fotografi sebagai benda seni mencapai puncaknya pada 1992 ketika karya foto Rodchenko,
fotografer asal Uni Sovyet, yang berjudul The Girl with a Leica menjadi objek transaksi di bursa
seni Christie dengan nilai 115,000. Setelah itu, museum-museum terkemuka di dunia kini
memiliki kurator khusus untuk fotografi.

Moonrise, Hernandez, New Mexico (1941)


Sumber: iphf.org Foto: Ansel Adams

(2) Firman Ichsan, Realita Fotografi: Satu Cermin Balik Dunia Fotografi Kita, apcinstitute.wordpress.com, 12 Juni
2013. Tautan: http://apcinstitute.wordpress.com/tag/firman-ichsan/. Terakhir diakses pada Juli 2014.

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

17

The Girl with a Leica (1934)


Sumber: artblart.com Foto: Alexander Rodchenko

There are always two people in


every picture: the photographer
and the viewer.

18

Ansel Adams

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Era digital mengubah total dunia fotografi komersial. Kemampuan komputer dalam memanipulasi
foto bisa mengalahkan peran fotografer, sehingga hasil akhir foto lebih ditentukan orang yang
mahir dalam penyuntingan pada tahap pascaproduksi. Konsep foto memang masih menjadi hal
yang sangat penting, namun peran fotografer menjadi berkurang dan penyuntingan menjadi hal
penting berikutnya setelah konsep. Fotografer yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan
ini tidak cukup mendapat tempat dalam persaingan industri.
Perkembangan teknologi ini juga memengaruhi fotografi jurnalistik. Jika tuntutan dalam fotografi
komersial adalah hasil foto yang memiliki nilai estetika yang semakin tinggi, maka dalam fotografi
jurnalistik tuntutannya adalah kecepatan dalam mengirimkan foto teraktual sehingga dapat
segera dinikmati pembaca media.

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Fotografi Indonesia


Perkembangan fotografi di Indonesia diduga mulai ada pada 1841, sejak kedatangan Juriaan
Munich, seorang utusan Kementerian Kolonial Kerajaan Belanda. Tujuan kedatangan Munich
ke Batavia dengan kamera dauguerreotype yang dia bawa adalah untuk mengabadikan aneka
tanaman serta kondisi alamnya. Hal ini kemudian diikuti fotografer-fotografer dari Eropa lainnya,
terutama dari Belanda, dengan tujuan mendokumentasikan tempat-tempat produksi atau pabrik,
serta ladang dan perkebunan. Laporan visual berupa foto itu kemudian dikirimkan ke induk
perusahaan mereka di Belanda.
Fotografi Indonesia pada zaman kolonial Belanda disebut juga sebagai fotografi colonial.
Ternyata, fotografi Indonesia pada era kolonial berkembang pesat. Setidaknya, ada sekitar 540
studio foto yang tersebar di Pulau Jawa. Salah satu studio foto yang terbesar pada masa itu
bernama Kurkdijan and Co Photo Studio yang terletak di pusat industri kolonial Hindia Belanda
di Surabaya. Fotografi komersial juga berkembang seiring perkembangan fotografi kolonial.

The N. V. Photografisch Atelier Kurkdjian, studio fotografi di Surabaya


Sumber: en.wikipedia.org

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

19

Keberadaan studio foto yang cukup banyak pada masa itu, sayangnya tak memberi dampak berarti
kepada orang-orang pribumi. Orang Indonesia hanya dapat bekerja di bagian pencetakan dan
pembuatan album atau buku foto, sedangkan posisi fotografer tetap dikuasai dan ditangani para
kolonial. Peralatan fotografi yang digunakan dibawa langsung dari negara asalnya di Belanda
dan fotografi hanya diajarkan kepada orang-orang kolonial.
Catatan sejarah mengenai orang Indonesia pertama yang berprofesi sebagai fotografer adalah
Kassian Cephas (18441912). Ia fotografer yang bekerja di Kesultanan Yogyakarta. Cephas belajar
fotografi dari seorang fotografer yang bekerja untuk Sultan Yogyakarta saat itu. Selain bekerja
untuk Sultan, Cephas juga aktif dalam melakukan pemotretan untuk penelitian-penelitian dalam
bidang arkeologi, bahasa, geografi, dan etnografi. Foto pertama Cephas yang berhasil diidentifikasi
dibuat pada 1875. Ia juga memiliki studio di Lodji Ketjil sebagai tempat memotret orang-orang.

Salah satu karya Kassian Cephas


Sumber: fotografiindonesia.net Foto: Kassian Cephas

Awal abad ke-20, fotografi di Indonesia semakin berkembang. Untuk pertama kalinya pada 1924
didirikan sebuah klub foto yang bernama Preanger Amateur Fotograafen Vereeniging (PAF)
yang berlokasi di Bandung. PAF didirikan beberapa tokoh kenamaan Bandung dan Guru Besar

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

dari Technische Hogeschool (TH) yang saat ini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB), di
antaranya Prof. C.P. Wolff Schoemaker bersaudara dan Prof. Schermerhorn.3
Sekitar 19301940 fotografi Indonesia mengalami masa-masa suram. Perang dunia yang
berlangsung saat itu juga berimbas pada Indonesia. Pada zaman penjajahan Jepang, pergerakan
fotografi Indonesia lumpuh karena Jepang melakukan tindakan represif dengan menerapkan
pengawasan dan penyensoran di segala bidang, kecuali Domei atau Biro Pers Jepang yang pada
saat itu tak ada yang memotret. Meskipun pada masa itu keadaannya tak kondusif, ada sedikit
catatan yang menyatakan bahwa pada 1937 PAF mengadakan sekaligus menjadi tuan rumah
lomba foto salon bertaraf internasional yang disebut dengan salon foto Van Nederland-Indie.
Penyelenggaraan lomba salon foto ini berlanjut pada tahun berikutnya, 1938.
Pada era proklamasi, nama Mendur bersaudara (Alex Mendur dan Frans Mendur) tidak dapat
dihapuskan dari rekam jejak sejarah fotografi Indonesia. Mereka berjasa dalam mengabadikan
proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bersama kawan-kawan mereka, J.K. Umbas, F.F. Umbas,
Alex Mamusung, dan Oscar Ganda, Mendur bersaudara mendirikan kantor berita independen
bernama Indonesian Press Photo Services (IPPHOS) pada 2 Oktober 1946.

Foto para pendiri IPPHOS


Sumber: id.wikipedia.org

(3) Salon Foto Indonesia XXXIV. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (bekerjasama dengan
Perhimpunan Amatir Foto Bandung dan Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia). 2013

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

21

Foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Frans Mendur


Sumber: id.wikipedia.org Foto: Frans Mendur

Peristiwa di Balik Dokumentasi Foto Proklamasi


Pada malam 16 Agustus 1945, Frans Mendur mendapat berita dari wartawan Jepang yang bekerja
di Djawa Shimbun Sha bahwa besoknya ada pengumuman kemerdekaan Indonesia. Pada saat
yang sama, Alex Mendur juga mendapat kabar dari Zahrudi, temannya yang bekerja di Domei.
Pukul 5 pagi, 17 Agustus 1945, Frans bersama wartawan Dal Bassa Pulungan berangkat ke
kediaman Soekarno dengan mengendarai mobil pinjaman dengan berbekal kamera Leica dan
satu gulungan film yang dia ambil dari kantor Djawa Shimbun Sha. Meski berangkat terpisah,
Frans dan Alex Mendur bertemu di Jalan Pegangsaan Timur 56. Mereka berdualah yang akhirnya
berhasil mengabadikan peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Namun perjuangan Mendur bersaudara tidak berhenti saat proklamasi. Mereka harus
mempertahankan negatif film tersebut dari sensor ketat yang Jepang lakukan dengan
menguburkannya di kebun. Enam bulan berikutnya, setelah pasukan Jepang mulai melemah
akibat kekalahannya di Perang Dunia II, melalui harian Merdeka foto proklamasi dapat
disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.
Sumber: www.merdeka.com

Setelah Indonesia merdeka, banyak warga Belanda yang kembali ke negaranya. Aset-aset yang semula
dimiliki warga Belanda tersebut kemudian dinasionalisasi, termasuk alat-alat fotografi. PAF akhirnya
kembali dipimpin anggota berkewarganegaraan Indonesia, setelah tiga tahun dipimpin orang-orang

22

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Belanda. Pada era inilah fotografi Indonesia bangkit perlahan, ditandai dengan munculnya tokohtokoh fotografi Indonesia seperti Paul Tedjasurja, Dr. Koo Kian Giap (Dr. Ganda Kodyat), Lan Ke
Tung, Tjia Ban Hok, Wahab Masli, Njoo Swie Goan, dan Kwee Hap Goan.
Pada 1955, perkumpulan klub foto yang ada di Indonesia menggabungkan diri dalam Gabungan
Perkumpulan Foto Indonesia (GAPERFI). Sayangnya, umur GAPERFI pendek. Pada 1970, PAF
berhasil menjadi satu-satunya klub foto yang terdaftar di FIAP (sebuah induk fotografi tingkat
dunia). Keberhasilan ini menjadi awal penjajakan untuk pendirian federasi foto di Indonesia.
Akhirnya, pada 30 Desember 1973 Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI) berdiri.
Salah satu kegiatan FPSI adalah penyelenggaraan Salon Foto Indonesia, yaitu sebuah ajang lomba
foto bergengsi tingkat nasional.
Pada 8 Agustus 1989, Association of Professional Photographers Indonesia (APPI) dibentuk. APPI
diharapkan mampu menampung dan menyalurkan aspirasi para fotografer profesional Indonesia.
Namun sayangnya, hingga kini perannya kurang terdengar.
Pada 1992, fotografi jurnalistik Indonesia semakin berkembang dengan didirikannya Galeri Foto
Jurnalistik Antara (GFJA) oleh Kantor Berita Antara. GFJA merupakan galeri pertama yang
berfokus pada foto-foto jurnalistik. Pada tahun yang sama, untuk pertama kalinya Indonesia
memiliki perguruan tinggi yang membuka jurusan fotografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ),
yang kemudian diikuti Institut Seni Indonesia (ISI) dan Universitas Trisakti. Pembentukan
pendidikan fotografi ini merupakan jawaban dalam menghadapi perkembangan dan tuntutan
dari media dan juga dunia komersial.
Pada 18 Desember 1998, Pewarta Foto Indonesia (PFI) didirikan sebagai wadah untuk memajukan
dan melindungi kepentingan para fotografer jurnalistik Indonesia. Untuk mengembangkan
aksesnya hingga ke daerah-daerah seluruh Indonesia, PFI kemudian dibentuk secara regional.
Dibentuknya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada akhir 2011 memberikan angin
segar bagi fotografi Indonesia. Fotografi menjadi salah satu sub-subsektor sebagai bagian dari
subsektor film dan video. Fotografi menjadi perhatian untuk dikembangkan. Fotografi dalam
kerangka industri kreatif Indonesia berada di bawah Direktorat Pengembangan Seni Rupa.
Pada 2013, pelaku-pelaku kreatif di bidang fotografi merasakan perlu adanya lembaga yang dapat
menjadi jembatan antarpelaku kreatif fotografi dengan para pemangku kepentingan. Dengan
dukungan dari Kemenparekraf, diadakanlah FGD (Focus Group Discussion) untuk persiapan
Kongres Fotografi Indonesia. Tujuan Kongres ini adalah terbentuknya Forum Fotografi Indonesia
(FFI). Sebagai tindak lanjut dari pembentukan FFI, pada Juni 2014 dibentuklah Tim Formatur FFI.4

(4) Ray Bachtiar Dradjat, Persiapan Kongres Fotografi Indonesia, dalam catatan di akun Facebook Ray Bactiar, 2014.

BAB 1: Perkembangan Fotografi di Indonesia

23

Gambar 1-4 Perkembangan Fotografi di Indonesia

Dibentuknya Asosiasi Fotografi Indonesia.

2014

Dibentuknya Tim Formatur Forum Fotografi


Indonesia (FFI).
Kedatangan Juriaan Munich ke Batavia untuk mengabadikan
tanaman-tanaman dan kondisi alamnya, diduga menjadi awal
fotografi Indonesia. Awal Fotografi Kolonial.

1841

Inisiasi pendirian lembaga fotografi yang bersifat nasional.

2013

Berdirinya Pewarta Foto Indonesia (PFI).

Foto pertama yang dibuat oleh fotografer pertama


Indonesia, Kassian Cephas.

1875

18 september

Didirikannya klub fotografi pertama di Indonesia yang


bernama Preanger Amateur Fotograafen Vereeniging
(PAF) di Bandung.

1998

Berdirinya Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA).

1924

Diadakannya Salon Foto Van Nederland-Indie. Lomba foto


salon bertaraf internasional pertama di Indonesia.

Dibentuknya pendidikan tinggi fotografi Indonesia di IKJ.

Dibentuknya Association of Professional


Photographers Indonesia (APPI).

Didirikannya Indonesian Press Photo Services (IPPHOS).

1992

1937
Perkumpulan klub foto yang ada di Indonesia menggabungkan
diri dalam Gabungan Perkumpulan Foto Indonesia (GAPERFI).

24

Oktober

1946

Berdirinya Federasi Perkumpulan Seni Foto Indonesia (FPSI).

1955

1973

agustus

1989

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

26

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Fotografi 2015-2019

BAB 2
Ekosistem dan
Ruang Lingkup
Industri Fotografi
Indonesia
BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

27

2.1 Ekosistem Fotografi


2.1.1 Definisi Ekosistem Fotografi
Untuk bisa memahami secara menyeluruh dan mendalam mengenai industri kreatif, khususnya
subsektor fotografi, maka perlu pemetaan terhadap dua kondisi: ideal dan aktual. Kondisi ideal
merupakan kondisi yang diharapkan terjadi di Indonesia dan merupakan praktik terbaik (best
practices) dari negara-negara yang memiliki industri kreatif yang sudah maju dan berdaya saing;
kondisi aktual di Indonesia untuk memahami dinamika industri fotografi ini.
Pemahaman antara kondisi ideal dengan aktual dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan
industri fotografi nasional, sehingga bidang ini dapat dikembangkan dengan baik, dengan
mempertimbangkan potensi (kekuatan dan peluang) dan permasalahan (tantangan, kelemahan,
ancaman, dan hambatan) yang dihadapi dalam mengembangkan industri fotografi di Indonesia.
Ekosistem fotografi adalahsebuah sistem yang menggambarkan hubungan saling ketergantungan
(interdependent relationship) antara setiap peran di dalam proses penciptaan nilai kreatif dan
antara peran-peran tersebut dengan lingkungan sekitar yang mendukung terciptanya nilai kreatif
dalam industri fotografi.
Untuk menggambarkan hubungan saling ketergantungan ini, berikut ini peta ekosistem yang
terdiri atas empat komponen utama, yaitu:
1. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain). Rangkaian proses penciptaan nilai kreatif,
yang di dalamnya terjadi transaksi sosial, budaya, dan ekonomi. Di dalam setiap proses,
terdapat aktivitas utama, aktivitas pendukung, dan peran utama yang terkait dengan
setiap proses yang terjadi. Pada industri fotografi, rantai nilai kreatif yang terjadi adalah
kreasi, produksi, dan distribusi;
2. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment). Lingkungan yang dapat
menggerakkan dan meningkatkan kualitas proses penciptaan nilai kreatif, meliputi:
a. Pendidikan, proses pembelajaran yang meliputi peningkatan pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan perilaku yang sangat berpengaruh pada penciptaan orang
kreatif. Kegiatan pendidikan ini meliputi: (1) pendidikan formal, yaitu pendidikan di
sekolah yang diperoleh secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti
syarat-syarat yang jelas; (2) nonformal, yaitu pendidikan di luar pendidikan formal
yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; dan (3) informal, yaitu
pendidikan yang diperoleh dari keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan
belajar secara mandiri;
b. Apresiasi. Tanggapan terhadap karya, orang kreatif, serta proses penciptaan nilai
kreatif yang mendorong peningkatan kualitas karya, orang, dan proses kreatif
tersebut. Apresiasidapatdilihatdariduasudutpandang, yaitu apresiasi oleh pasar
(konsumen) dan apresiasi terhadap orang, karya, dan proses kreatif. Kegiatan
apresiasi oleh pasar dapat ditunjukkan dari konsumsi serta tanggapan pasar terhadap
karya, orang, dan proses kreatif, sedangkan kegiatan apresiasi untuk orang dan karya
kreatif dapat berupa penghargaan, pemberian insentif, dan juga apresiasi terhadap
HKI (Hak Kekayaan Intelektual);
3. Pasar (Konsumen). Orang atau pihak yang menggunakan karya fotografi atau jasa fotografi;

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

4. Pengarsipan (Archiving). Proses pemeliharaan dan dokumentasi karya kreatif yang dapat
diakses dan dimanfaatkan seluruh pemangku kepentingan (orang kreatif, pemerintah,
lembaga pendidikan, pelaku bisnis, komunitas, dan intelektual) dalam ekosistem industri
kreatif. Arsip ini juga bisa digunakan sebagai media pembelajaran.
Peran keempat komponen ini berbeda dan saling berinteraksi sehingga membentuk siklus dalam
ekosistem industri kreatif yang, tentunya, dapat diterapkan di industri fotografi.
Gambar 2-1 Model Peta Ekosistem Industri Kreatif

Hendaknya, melalui ekosistem ini proses penciptaan nilai kreatif, aktivitas, dan hasil dari setiap
proses, serta peran yang terlibat di dalamnya dapat terpetakan dengan baik, sehingga rencana
pengembangan yang dibuat akan lebih sistematis dan tepat sasaran.

2.1.2 Peta Ekosistem Fotografi


A. Rantai Nilai Kreatif (Creative value chain)
Dalam melakukan pemodelan terhadap ekosistem industri subsektor fotografi, pendekatan yang
dilakukan pada bagian rantai nilai kreatif adalah pendekatan fotografi komersial. Pasalnya, rantai
nilai kreatif dari fotografi komersial sangat kompleks, sedangkan setiap tahapan rantai nilai kreatif
dalam industri subsektor fotografi harus dapat dijabarkan secara utuh. Model peta ekosistem
yang dihasilkan dapat menjelaskan bagaimana terjadinya proses nilai kreatif yang terjadi pada
fotografi jurnalistik dan fotografi seni.

A.1 Proses Kreasi


Untuk menghasilkan karya foto terbaik, sebelum memotret pelaku fotografi sebaiknya melakukan
kegiatan pendukung: riset. Riset itu bisa meliputi identifikasi klien atau identifikasi target pasar.
Riset-riset ini akan mendapatkan banyak data yang bisa mendukung tahap proses kreasi. Bukan
tak mungkin data-data itu bisa merangsang ide-ide segar.
Model proses kreasi yang diterapkan adalah menggunakan pendekatan desain. Faktor desain,
terutama desain komunikasi visual, sangat kuat pengaruhnya dalam fotografi komersial, agar
pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh konsumen.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

29

Gambar 2-2 Peta Ekosistem Fotografi

Kebijakan Ruang
Publik/Tempat Wisata

Kebijakan Hak Cipta

Kebijakan SKKNI

FOTOGRAFER
EDITOR FOTO

KONSEPTOR

CREATIVE CHAIN

Ideasi
(brainstorming, mind mapping,
forced association, synectics)

Praproduksi
(penyewaan alat, perizinan)

Desain
(statement of intent, sketsa,
elemen, simbolisme)

Produksi
(pemotretan)

Pengurusan Hak Cipta

Pengemasan dalam
bentuk cetak/digital

Perencanaan
(penjadwalan, budgeting
equipment-list)

Pascaproduksi
(penyuntingan, pencetakan)

Pengurusan Hak Pakai

Penjualan atau
penyerahan kepada konsumen

Konsep & Perencanaan

Produk/Jasa Fotografi

KREASI

PRODUKSI

DISTRIBUTOR

Kebijakan Konten

Hasil akhir karya foto

Kebijakan Pers

DISTRIBUSI

MARKET

KONSUMEN
ARCHIVING

Industri Komersial

Restorasi

Pengumpulan

Perusahaan
Preservasi

Industri Media
Industri Periklanan
Industri Mode

Akses Publik
Individu

NURTURANCE ENVIRONMENT

PENDIDIKAN

Pengetahuan Seni & Desain

Kemampuan Teknis Fotografi

Profesionalisme

Pengetahuan Dasar Kamera

Jurnalistik

Pengetahuan Teknis Fotografi

Komersial

Teknik Pencahayaan

Seni

Literasi bagi Masyarakat

Teknik Pascaproduksi
Nonformal
Seminar
Kursus
Pelatihan
Ekstra Kulikuler

Formal
Sekolah Menengah Kejuruan
Perguruan Tinggi

Umum (Foto pribadi,


keluarga, pernikahan, event)

APRESIASI

Pendidikan Fotografi
Pengembangan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi Fotografi
Sejarah Fotografi

Khusus (Ahli, galeri,


kolektor, museum)

Informal
Media
Internet
Magang
Kegiatan Komunitas

Penghargaan & Pengakuan


untuk Fotografer

Media
Seminar Fotografi
Pameran Fotografi
Buku fotografi
Pendidikan Keluarga
Pendidikan Umum
Kompetisi/Lomba Fotografi
Pemberian Penghargaan
Gelar Fotografi
Pameran Fotografi
Buku fotografi
Hak Cipta

Keterangan:
Pelaku Utama
Rantai Nilai Kreatif
Nurturance Environment

Industri Pendidikan, Bisnis/Profesional, Komunitas, Pemerintah

Aktivitas Utama
Aktivitas Pendukung

Kebijakan Pendidikan
Fotografi

30

Output
Kebijakan

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Proses kreasi dapat dilakukan dalam tiga tahap yaitu ideasi, desain, dan perencanaan.5

Ideasi (Ideation). Proses kreatif dalam membuat, mengembangkan, dan mengomunikasikan


ide baru, di mana sebuah ide dipahami sebagai elemen dasar pemikiran yang dapat berupa
visual, konkret/nyata, atau abstrak.6 Tahap ini dapat dilakukan dengan berbagai metode
seperti brainstorming, mind-mapping, forced association, dan synectics.
o Brainstorming dapat dilakukan dengan membuat dua atau lebih solusi desain yang
berbeda untuk satu ide desain. Contohnya, ketika seorang fotografer diminta
memotret seorang publik figur, maka brainstorming dilakukan untuk mendapatkan
beberapa solusi, seperti apakah dia akan melakukannya di dalam studio atau di luar
ruangan; sedang sendiri atau sedang berinteraksi; atau dengan beberapa komposisi
foto yang berbeda.
o Metode mind-mapping juga dapat digunakan seorang fotografer dalam tahap
ideasi ini, untuk membantu mendapatkan sebanyak mungkin alternatif atau solusi
pengambilan gambar dengan menggambarkan peta pemikirannya pada sebuah
media. Dengan mind-mapping, fotografer akan terbantu untuk mengorganisasi
ingatan-ingatannya tentang ide-ide yang pernah mampir di kepalanya, baik yang
pernah dilakukan maupun yang bersumber dari ingatan visualnya.
o Forced association adalah teknik kreativitas dengan cara menggabungkan dua atau
lebih benda yang sebelumnya tak memiliki relevansi antara satu dan yang lain.
Contohnya, ide tentang memotret ayam yang menyelam; atau seorang koki memasak
di dalam penjara.
o Synectics adalah penggabungan beberapa unsur dan gagasan yang berbeda sehingga
muncul satu ide baru. Metode ini biasanya dilakukan secara berkelompok melalui
diskusi.

Setelah menentukan konsep foto, tahap berikutnya adalah tahap desain. Yang dilakukan
dalam tahap desain, di antaranya, sebagai berikut:
o Statement of Intent atau pernyataan tujuan, yaitu penegasan tentang apa yang akan
dilakukan. Di sini fotografer menegaskan seperti apa ide awal visualnya. Misalnya,
seorang fotografer menyatakan, Saya ingin membuat satu potret tentang seorang
tokoh yang sedang bercengkerama dengan anak-anak jalanan di Bandung. Atau,
misalnya, memberikan pernyataan, Saya ingin membuat foto yang mencerminkan
keadaan yang terjadi ketika musibah banjir melanda penduduk Jakarta, dan
bagaimana penduduknya saling menolong antara satu sama lain.
o Sketsa, yaitu tahapan di mana fotografer menggambar sketsa berikut dengan
deskripsi dan catatan tentang apa dan bagaimana foto tersebut akan terlihat. Sketsa
dapat dilakukan dengan coretan tangan atau menggunakan komputer. Bila statement
of intent memberi gambaran secara verbal, maka sketsa akan memberi gambaran
mentahnya secara visual.
o Menentukan elemen-elemen dan prinsip-prinsip dalam desain. Dalam tahap ini
fotografer mencatat daftar elemen dan prinsip desain apa saja yang akan digunakan
dalam pemotretan. Sebagai contoh, dalam pemotretan akan digunakan bendabenda yang memiliki bentuk dasar kotak karena memiliki asosiasi dengan ketegasan,

(5) Melanie Mercury: http://melaniemercuryphotography.blogspot.com/2012/05/stage-2-design-photography.html.


Diakses Juli 2014.
(6) Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Ideation_(idea_generation). Diakses Juli 2014.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

31

sedangkan tekstur yang akan digunakan adalah yang halus dan licin pada permukaannya
untuk memperlihatkan kesan sempurna dan elegan. Dan untuk prinsip desainnya,
pemotretan menggunakan prinsip fokus. Penggunaan ruang tajam (depth-of-field) yang
sempit akan menarik perhatian pada detail-detail dari produk yang difoto.
o Simbolisme. Fotografer juga dapat menggunakan benda-benda atau elemen-elemen
yang dapat menguatkan dan membantu mengomunikasikan pesan yang ingin
disampaikan. Misalnya, pemotretan suatu produk minuman berenergi menggunakan
model-model pria kekar sebagai simbol kekuatan.

32

Yang dilakukan dalam tahap perencanaan, antara lain, meliputi :


o Perencanaan waktu (timeline) atau penjadwalan (scheduling). Perencanaan ini dapat
berbentuk visual maupun tekstual. Perencanaan ini berguna untuk mengatur alokasi
waktu yang akan digunakan saat produksi agar dapat berlangsung lebih efektif dan
efisien. Setiap elemen dalam proyek haruslah mendapat porsi waktunya masing-masing.
o Perencanaan tata cahaya. Perencanaan ini biasanya digunakan ketika suatu proyek
menggunakan cahaya artifisial tambahan atau pemodifikasi cahaya (seperti reflektor,
film gel). Perencanaan ini memberi gambaran mengenai penempatan sumbersumber cahaya artifisial yang akan digunakan ketika produksi. Bila proyek tersebut
tak menggunakan cahaya, perlu survei terlebih dahulu dari titik-titik mana saja
sumber cahaya itu akan berasal.
o Perencanaan lokasi. Perencanaan ini untuk mendaftar lokasi-lokasi yang akan digunakan
untuk pemotretan. Selain itu, perencanaan ini juga mendaftar apa-apa saja yang perlu
dilakukan agar pemotretan dapat dilakukan di lokasi yang direncanakan, seperti
perolehan izin lokasi, biaya sewa lokasi, ketersediaan waktu peminjaman, dan lain-lain.
o Daftar peralatan dan perlengkapan (equipment list). Selain untuk mendata alatalat dan perlengkapan yang akan digunakan dalam produksi, daftar ini juga dapat
digunakan untuk menjelaskan tujuan pemakaiannya. Misalnya, tripod: untuk
menghindari getaran kamera, lensa makro: untuk foto close up, reflektor: membantu
mengisi cahaya pada daerah bayangan.
o Pengalokasian dana (budgeting). Perencanaan teknis harus disesuaikan dengan dana
yang tersedia atau disediakan. Dalam pengalokasian dana ini juga perlu diperhatikan
hal-hal tak terduga yang bisa muncul sewaktu-waktu saat produksi.
o Bila pemotretan memerlukan model, maka harus dipersiapkan sejak dini. Model
bisa didapatkan melalui agen model atau menghubungi manajer dari model yang
diinginkan. Pemilihan model cukup penting untuk menunjang kekuatan konsep
foto. Perlu diperhatikan juga model release dalam menggunakan jasa model. Model
release adalah dokumen atau surat yang ditandatangani dan disetujui pihak yang
bertindak sebagai objek foto, yang menyatakan bahwa foto yang dihasilkan dapat
dipublikasikan dalam beberapa cara atau bentuk.
o Bila diperlukan barang tertentu, property release juga diperlukan. Serupa dengan
model release, property release ditujukan untuk pemilik barang mengenai barangnya
yang dipakai sebagai objek foto atau elemen dari foto.
o Apabila model memerlukan kostum tertentu dalam pemotretan, perlu dipersiapkan
kostum untuk model. Untuk kostum yang spesifik, perlu kerja sama dengan desainer
mode. Fitting pakaian perlu dilakukan sebelumnya.
o Tata rias wajah dan rambut untuk model perlu dipersiapkan guna menunjang konsep
pemotretan. Dalam tahap kreasi ini, akan terjadi diskusi antara fotografer atau klien

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

dengan penata rias mengenai konsep tata rias wajah dan gaya rambut yang akan
digunakan dalam pemotretan.

Contoh model release


Sumber: Getty Images

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

33

Contoh property release


Sumber: Getty Images

34

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Output yang bisa didapatkan dari proses kreasi ini adalah: (1) rancangan desain berupa konsep
pemotretan yang dihasilkan dari tahap desain; dan (2) dokumen rencana pemotretan yang
dihasilkan dari tahap perencanaan.
Proses kreasi dalam fotografi komersial dilakukan orang kreatif. Artinya, selain fotografer, hal
itu bisa dilakukan creative director atau sebuah tim kreatif dari satu agen periklanan. Dalam
proses kreasi fotografi komersial, biasanya ada diskusi terlebih dahulu untuk menyusun konsep
pemotretan. Diskusi dilakukan dua pihak, yaitu pengguna jasa fotografi dan penyedia jasa fotografi
(fotografer). Konsep pemotretan dapat diajukan salah satu dari kedua belah pihak. Dan bila telah
terjadi kesepakatan, maka konsep produksi harus disepakati bersama.
Hal ini sedikit berbeda untuk bisnis fotografi komersial yang bersifat retail seperti studio foto.
Dalam fotografi retail yang produknya seperti pemotretan keluarga di dalam studio, atau
pemotretan pernikahan, proses kreasi telah dilakukan pemilik bisnis bersama orang-orang
kreatif di perusahaannya, sehingga, pelanggan atau klien dapat langsung memilih konsep yang
sudah disediakan studio foto tanpa harus memikirkan lagi konsepnya dari awal. Pemilik bisnis
biasanya sudah membakukan konsep-konsep pemotretannya dalam sebuah prosedur operasi
baku (Standar Operating Procedure, atau SOP). Fotografer yang menjadi karyawan dalam bisnis
fotografi retail biasanya hanya mengikuti prosedur pemotretan yang sudah ditetapkan dalam
menjalankan pekerjaannya.
Pada dasarnya, perencanaan yang matang juga sangat diperlukan dalam fotografi jurnalistik,
meskipun persiapannya tak serumit fotografi komersial. Dalam fotografi jurnalistik, perencanaan
yang diperlukan fotografer lebih dititikberatkan pada antisipasi terhadap kejadian-kejadian
yang mungkin terjadi di lokasi pemotretan di luar ruangan. Tak seperti di studio, kita tak bisa
mengendalikan kondisi lokasi pemotretan di luar ruangan. Kondisi pencahayaan, lingkungan,
serta cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Pengalaman seorang fotografer akan sangat berbicara
dalam fotografi jurnalistik. Kekuatan fotografi jurnalistik terletak pada ketepatan menangkap
momen suatu kejadian; ketika momen tersebut sudah lewat, tidak mungkin bisa mengulangnya.
Dalam fotografi seni, fotografer merupakan aktor utama dalam proses kreasi ini. Ide dan konsep
yang dimiliki seorang seniman foto adalah hal yang paling utama dari fotografi seni. Biasanya
seniman foto meminimalisasi hubungan dengan pihak lain agar ekspresi yang ingin dia sampaikan
tidak mendapatkan banyak gangguan.
Dalam tahap kreasi juga diperlukan kehati-hatian dalam merencanakan pemotretan, terutama
apabila objek yang akan dipotret memiliki hak cipta. Maka, ada baiknya sebelum melakukan
pemotretan, fotografer memeriksa terlebih dahulu apakah ada objek yang memiliki hak cipta
yang akan ikut masuk ke fotonya. Apabila ada, maka ia harus meminta izin atau persetujuan
kepada pemilik objek yang memiliki hak cipta tersebut. Beberapa hasil karya yang memiliki hak
cipta dan cukup sering direproduksi melalui fotografi, antara lain, karya-karya literatur (buku,
koran, katalog, majalah), karya seni artistik (kartun, lukisan, patung), karya fotografi (foto,
poster, ukiran), iklan, dan gambar bergerak (film, dokumenter, TV).

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

35

Patung Little Mermaid di Denmark yang tidak boleh dipotret


Sumber: petapixel.com

Dilarang Memotret Patung Little Mermaid di Denmark


Sebuah patung yang menjadi salah satu atraksi populer di Denmark, yaitu patung Little Mermaid,
dilarang dipotret untuk kepentingan bisnis. Keluarga pematung Edvard Erikson, pembuatnya,
dikenal sangat protektif dan sangat agresif dalam menangani hal-hal yang berkaitan dengan hak
cipta patung tersebut. Sebagai hasilnya, beberapa media dan kantor berita di Denmark dikabarkan
telah menerima tagihan dalam jumlah besar terkait dengan foto patung tersebut yang telah mereka
terbitkan. Berlingske, media yang menggunakan foto tersebut dalam publikasinya beberapa tahun
lalu, pernah dikenakan tagihan hingga sebesar US$1.800. Pihak editor pun heran dengan tagihan
yang diberikan kepadanya mengingat patung tersebut adalah salah satu pusat atraksi di Denmark.
Menurut hukum hak cipta, foto dari sebuah karya seni tidak dapat digunakan untuk kepentingan
bisnis. Dan di Denmark, penggunaan gambar di media jelas merupakan kepentingan bisnis. Pihak
keluarga pematung, yang diwakili cucunya yang bernama Alice Eriksen, menjawab perihal ini
dengan mengatakan bahwa ia hanya mengikuti aturan hukum yang berlaku di negara tersebut.
Ia mengibaratkan hal ini seperti halnya menerima royalti dari lagu yang dimainkan orang lain.
Sumber: http://petapixel.com/2014/08/20/try-publish-picture-statue-denmark-youd-better-ready-pay/

A.2 Produksi
Dalam tahap produksi, perencanaan yang telah dibuat dengan matang di dalam tahap kreasi
akan dieksekusi satu per satu. Tahap produksi dapat dibagi menjadi tiga bagian: praproduksi,
produksi, dan pascaproduksi.
Tahap praproduksi merupakan tahap persiapan sebelum produksi. Pada tahap ini, berbagai izin
seperti izin lokasi, model release, dan property release sudah harus diselesaikan; peralatan-peralatan

36

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

fotografi yang diperlukan sudah dipinjam atau disewa; penata rias, penata rambut sudah dihubungi
dan kontraknya telah disepakati; dan kostum telah dipersiapkan.
Setelah semua persiapan selesai, selanjutnya adalah tahap produksi, yaitu tahap eksekusi dari
perencanaan-perencanaan yang telah dibuat pada tahap kreasi. Dalam tahap produksi ini,
terkadang eksekusi yang dilakukan tidak semulus yang direncanakan. Faktor-faktor eksternal
dapat mempengaruhi keberlangsungan produksi: cuaca yang tiba-tiba berubah tidak sesuai
perkiraan, kerusakan alat yang tidak disengaja, dan hal-hal nonteknis lain yang dapat menyebabkan
tersendatnya tahap produksi. Untuk itu, ada kalanya fotografer melakukan eksperimen dan
modifikasi konsep di tengah-tengah pemotretan. Dan apabila dilakukan perubahan-perubahan
dalam konsep pemotretan, tentunya hal tersebut harus dikomunikasikan kepada klien.
Pada dasarnya, dalam fotografi digital, setelah tahap produksi selesai hasil foto sudah bisa
langsung didapatkan dalam bentuk data digital. Foto digital tersebut kemudian dapat langsung
didistribusikan ke media-media digital seperti portal berita online dan media sosial. Hal yang
sama juga terjadi pada fotografi polaroid yang hasil fotonya dapat langsung jadi karena jenis
filmnya dapat dicetak secara instan.
Namun, seringkali terjadi proses penyuntingan foto setelah proses memotret selesai. Proses
penyuntingan foto ini seringkali dilakukan oleh fotografer berbasis fotografi digitalproses ini
disebut proses pascaproduksi. Pada umumnya, tahap pascaproduksi diperlukan dalam tahapan
proses produksi fotografi. Tahap pascaproduksi dapat meliputi:

Peninjauan seluruh hasil foto dan seleksi. Foto-foto yang telah didapatkan dari proses
produksi dicetak, ditinjau, kemudian dipilih yang terbaik untuk diproses lebih lanjut.
Dalam fotografi analog, peninjauan hanya dapat dilakukan setelah film dicetak menjadi
foto. Pencetakan foto dilakukan di dalam laboratorium cetak foto, sedangkan dalam
fotografi digital, peninjauan dilakukan menggunakan komputer;

Pemberian catatan detail pemotretan. Catatan ini, di antaranya, meliputi tanggal


pemotretan, lokasi, berapa banyak gulungan film yang digunakandalam fotografi
analogdan masalah-masalah yang ditemukan saat produksi, serta catatan secara umum
tentang keberlangsungan acara (produksi) dari awal hingga akhir;

Pemberian catatan teknis. Catatan yang berisi tentang hal-hal teknis seperti pengaturan
kamera (shutter speed, diafragma, ISO), alat-alat yang digunakan, proses di ruang gelap,
halaman kontak, negatif film, dan lain-lain;

Pencatatan daftar perbaikan (refinements). Daftar perbaikan ini dapat dilakukan baik
sebelum maupun setelah pemotretan. Daftar ini berisi semua detail perubahan dan
perbaikan yang dibuat untuk memperbaiki atau mengubah ide awal;

Penyuntingan (editing), melakukan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan kualitas


foto. Pada fotografi analog, penyuntingan dilakukan melalui proses ruang gelap. Dalam
fotografi digital, penyuntingan biasanya dilakukan dengan bantuan peranti lunak khusus
untuk fotografi seperti Adobe Photoshop, Lightroom, dan Gimp;

Pemberian anotasi. Anotasi berguna untuk menerangkan karya yang telah dibuat. Anotasi
mengarahkan pemirsanya untuk mengamati dan memberikan perhatian lebih kepada
bagian-bagian dari foto yang dianggap penting atau menarik.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

37

Tahap-tahap pascaproduksi tersebut tidak mutlak dilakukan semuanya. Tahap yang paling sering
dilakukan pada pascaproduksi biasanya hanya seleksi dan penyuntingan.
Dalam tahap praproduksi dan produksi, biasanya fotografer masih selalu turun tangan dalam
pengerjaannya, sedangkan pada tahap pascaproduksi fotografi digital, pekerjaan ini dapat
dilakukan orang lain yang berprofesi sebagai editor foto atau diserahkan kepada digital imaging
artist. Untuk fotografi analog yang direkam dengan menggunakan film, tahap pascaproduksi
dilakukan di kamar gelap (dark room). Fotografer yang memiliki kamar gelap dapat melakukan
cetak fotonya sendiri, sedangkan yang tidak memiliki kamar gelap biasanya mencetak fotonya
melalui jasa cetak foto atau studio foto.
Sebelum sebuah foto dipublikasi dan didistribusikan, ada beberapa tahap yang umumnya perlu
dilakukan berkaitan dengan penggunaannya secara hukum dan etika, yaitu hak cipta dan hak
pakai. Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau
memperbanyak ciptaannya, atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasanpembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.7
Dalam penggunaan karya foto, ada beberapa metode pemberian hak pakai yang biasanya dilakukan
dalam praktik bisnis fotografi:

Hak eksklusif. Ketika hak eksklusif foto ini diberikan kepada seseorang, foto tersebut
tidak dapat dijual kembali kepada pihak lain. Hak ini dimungkinkan dibuat menjadi
bersifat terbatas berdasarkan ruang lingkup, waktu, serta tempat penggunaannya. Jika hak
eksklusif ini hanya ditawarkan kepada satu pembeli, maka harga yang ditawarkan sebaiknya
lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan untuk foto dengan hak pakai noneksklusif;

Hak noneksklusif. Hak ini memungkinan selembar foto dijual kepada beberapa pihak.
Dalam hal ini pembeli juga mengetahui bahwa foto yang dia beli juga dapat digunakan
pihak lain;

License fee (biaya izin), yaitu sejumlah uang atau bentuk kompensasi lain yang dibayarkan
kepada pemegang hak cipta;

Limited use (penggunaan terbatas), yaitu izin yang diberikan secara terbatas. Misalnya,
seorang fotografer mengizinkan fotonya untuk dicetak di poster, namun tidak untuk
dicetak pada kaos; atau fotonya dapat digunakan di Internet, namun tidak boleh dicetak;

Unlimited use (penggunaan tak terbatas). Hak ini memperbolehkan pengguna foto untuk
melakukan apa pun yang ia mau;

Date range (rentang waktu). Dengan hak pakai ini, semakin lama penggunaan fotonya,
maka akan semakin mahal pengeluaran yang harus dikeluarkan klien.

Di bidang karya kreatif, Creative Commons (CC) merupakan izin hak pakai bagi publik yang saat
ini sering digunakan, termasuk dalam bidang fotografi. Creative Commons digunakan ketika orang
kreatif memberikan kebebasan untuk menyebarkan karya kreatifnya kepada publik. Creative

(7) Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Sumber: http://www.dgip.go.id/hak-cipta. Diakses Juli 2014.

38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Commons memiliki beberapa ketentuan yang jenis izinnya dapat ditentukan pemilik karya foto.
Ada empat tipe Creative Commons yang dapat digunakan dalam karya fotografi, yaitu:

Attribution (BY). Lisensi ini membolehkan pihak lain dalam menggunakan karya kreatif
untuk mencetak ulang (copy), mendistribusikan, menampilkan (display), menjalankan
(perform), dan membuat karya kreatif turunan berdasarkan karya kreatif aslinya, namun
dengan mencantumkan sumber pembuatnya;

Share-Alike (SA). Lisensi ini membolehkan pihak lain dalam menggunakan karya kreatif
untuk membuat karya kreatif turunan berdasarkan karya kreatif aslinya;

No Derivatives Work (ND). Lisensi ini tidak membolehkan pihak lain dalam menggunakan
karya kreatif untuk membuat karya kreatif turunan berdasarkan karya kreatif aslinya;

Non-Commercial (NC). Lisensi ini tidak membolehkan pihak lain menggunakan karya
kreatif untuk kepentingan komersial.

Dalam penggunaannya, ada 6 kombinasi Creative Commons yang dapat digunakan, yaitu :

Ikon

Keterangan
Attribution

Attribution + Share-Alike

Attribution + No Derivatives

Attribution + NonCommercial

Attribution + NonCommercial + Share-Alike

Attribution + NonCommercial + No Derivatives

Selain Creatice Commons, fotografer juga dapat menggunakan lembaga atau organisasi yang khusus
mengurusi hak cipta seperti, UK Copyright Services di Inggris, dan U.S. Copyright Office di
Amerika Serikat. Namun, untuk mengurus hak cipta sebuah atau sekumpulan karya foto, seorang
fotografer harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit. Meskipun lembaga tersebut
berada di negara tertentu, hak cipta dapat berlaku di mana pun.
Di Indonesia, hak cipta fotografi dapat didaftarkan di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual,
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Untuk mengurusnya, ada
beberapa tahapan dan biaya yang dibutuhkan. Biaya pendaftaran lisensi hak cipta Rp75.000,00;
untuk mendaftarkan satu ciptaan dikenakan biaya Rp200.000,00; dan untuk biaya jasa penerbitan
sertifikat hak cipta dikenakan Rp100.000,00. Pihak Ditjen HKI juga telah menyiapkan layanan
aduan apabila ada fotografer yang ingin menuntut pihak yang menggunakan karya fotonya tanpa izin.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

39

Selain hak cipta dan hak pakai, perlu diperhatikan pula hal-hal yang berkaitan dengan hukum
tak tertulis. Misalnya: apakah karya tersebut akan menimbulkan fitnah; apakah karya tersebut
menyulut provokasi terhadap suku, agama, dan ras tertentu; apakah akan menyinggung seseorang,
kelompok, atau golongan tertentu. Jangan sampai setelah karya dipublikasikan, ada pihak-pihak
yang merasa dirugikan. Di era digital, ketika suatu foto telah dipublikasikan di Internet baik
melalui media sosial, blog, ataupun publikasi online lainnya, maka hak ciptanya secara langsung
dimiliki fotografer.

Monyet Selfie, Hak Cipta Untuk Siapa?


Foto monyet-monyet ini ada di kamera fotografer asal Inggris bernama David Slater yang
pada 2011 sedang melancong ke Indonesia. Saat itu David memang berniat mengambil foto
dari monyet-monyet hitam yang ada di Indonesia. Ia terkejut ketika ada seekor monyet yang
menyambar kameranya dan menggunakannya untuk selfie.
Kasus bermula ketika Wikimedia (organisasi di balik keberadaan situs Wikipedia) menolak
mengabulkan permintaan David untuk menarik foto monyet yang sedang selfie itu dari halaman
situs Wikipedia. Menurut juru bicara Wikimedia Foundation, Katherine Maher, di bawah hukum
AS tidak ada yang memiliki hak cipta dari foto tersebut. Wikimedia berpendapat bahwa David
tidak memiliki hak cipta atas foto tersebut, dan seharusnya si monyetlah yang memiliki hak cipta
karena si monyet yang menekan tombol shutter dari kamera David. Namun karena hukum di
AS menyatakan bahwa hanya manusia yang bisa mendapatkan hak cipta, sedangkan binatang
dan tumbuhan tidak, maka foto tersebut dinyatakan bebas royalti. Karena kasus tersebut David
mengklaim bahwa ia berpotensi kehilangan 10.000 pendapatannya.
Sumber:
http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/wikipedia-refuses-remove-animal-selfie-3999355 diakses pada 19 Agustus
2014.
http://www.tempo.co/read/news/2014/08/08/061598143/Wikipedia-Tolak-Hapus-Foto-Selfie-Monyet-Indonesia diakses pada 19 Agustus 2014.

40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

A.3 Distribusi
Tahap distribusi adalah tahap penyerahan hasil karya dari pihak fotografer kepada pihak klien,
atau tahap pembukaan akses karya foto kepada publik. Dalam tahap ini, fotografer dapat
menyerahkan karyanya dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk data digital, yang disimpan
ke dalam media penyimpanan seperti CD/DVD, hard disk, flash disk, atau dapat juga dikirim
melalui email atau media file-sharing di Internet. Kedua, dalam bentuk cetak seperti foto, album
foto, poster, brosur, atau foto yang telah dibingkai.
Pada dasarnya, hasil karya foto dari berbagai genre fotografi dapat dipresentasikan pada media
presentasi (display) apa pun. Namun, ada kecenderungan bahwa aliran fotografi tertentu hanya
ditampilkan di media presentasi tertentu pula. Misalnya untuk karya foto jurnalistikyang
memiliki nilai berita, karya foto ini lazimnya digunakan di media massa seperti koran, majalah
berita, dan portal berita online. Foto jurnalistik memiliki fungsi untuk membantu menjelaskan
suatu berita dan informasi dengan memperlihatkan kejadian atau peristiwa tersebut secara visual.
Bila fotografer bekerja untuk media seperti pada fotografi jurnalistik, atau untuk dirinya sendiri seperti
fotografi seni dan stok foto, maka tahap distribusi ini tidak ada; pemakai jasa dan penggunanya
adalah orang yang sama, yaitu si fotografer. Apabila pelanggan adalah pihak perantara, maka
pada tahap ini pelanggan dapat menjual karya foto yang dia miliki kepada pihak ketiga. Dengan
demikian, pelanggan ini juga dapat memperoleh keuntungan dari ide/konsep pemasaran yang ia
tawarkan. Pelanggan seperti ini, antara lain, agen stok foto dan agen periklanan.
Pada fotografi potret atau studio, foto yang dihasilkan ditujukan untuk pihak tertentu. Pelanggan
dalam fotografi potret biasanya adalah perorangan, keluarga, komunitas, organisasi, atau
perusahaan. Karena yang menjadi objek foto dalam fotografi potret adalah manusia, yang dalam
hal ini adalah si pelanggan, maka distribusinya hanya terbatas di kalangan pelanggan. Misalnya,
untuk foto potret keluarga, hasil fotonya akan menjadi milik keluarga pelanggan, dan yang dapat
melihat foto-foto tersebut biasanya orang-orang terdekat si pelanggan. Untuk foto pernikahan,
biasanya foto-foto prapernikahan tersebut dipajang di tempat resepsi pernikahan dan foto-foto
saat pernikahannya diberikan kepada pelanggan dalam bentuk album foto dan foto cetak. Begitu
juga foto untuk keperluan pembuatan profil perusahaan, maka foto-foto yang diproduksi terbatas
untuk kepentingan perusahaan si pelanggan.
Fotografi lanskap seperti foto pemandangan alam dan foto gedung biasanya digunakan untuk
keperluan dekorasi dan pariwisata. Foto-foto dengan tema pemandangan alam cukup lazim
digunakan sebagai dekorasi di dalam rumah atau perkantoran, atau sebagai gambar di kalender.
Foto-foto yang memiliki keunikan, baik pemandangan alam maupun gedung dari daerah tertentu,
sangat berpotensi untuk digunakan sebagai daya tarik wisata. Presentasi dari foto-foto tersebut dapat
dilakukan melalui buku mengenai pariwisata, buku mengenai bangunan-bangunan atau arsitektur,
atau melalui media Internet di laman-laman yang berhubungan dengan pariwisata dan arsitektur.
Tujuan fotografi komersial jelas, yaitu sebagai sarana promosi suatu produk atau merek sebuah
perusahaan. Fotografi komersial sangat erat kaitannya dengan ilmu komunikasi, terutama
komunikasi visual. Fotografi komersial dituntut mampu menghasilkan foto berkualitas tinggi,
sehingga menarik perhatian calon pelanggan untuk membeli produk perusahaan yang beriklan.
Karya foto-foto komersial tersebut diterbitkan melalui media massa, papan iklan, atau ruangruang yang memang disediakan untuk industri komersial beriklan.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

41

Fotografi seni (art photography) tidak hanya memandang si fotografer sebagai seorang pemotret,
namun juga sebagai seorang seniman. Hasil karya foto yang dia hasilkan maka tidak hanya
dipandang sebagai sebuah gambar, tapi sebuah karya seni. Hasil karya fotografi seni lazim
ditampilkan di galeri-galeri seni, buku-buku atau laman-laman yang membahas tentang seni.
Fotografi seni juga dapat digunakan sebagai dekorasi rumah atau perkantoran, atau dikoleksi
sebagai karya seni.
Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, fotografer bisa menjual karyanya melalui
laman Internet, baik laman pribadi maupun laman-laman yang menyediakan ruang bagi para
fotografer agar dapat memamerkan hasil karyanya. Dari laman tersebut, para fotografer dapat
menjual fotonya lewat Internet. Atau, jika foto tersebut memiliki teknik dan konsep unik, maka
fotografer dapat menjual video tutorial tentang proses di balik layar (video behind the scene).
Untuk fotografer amatir atau pemula, presentasi hasil karya dapat dilakukan melalui media-media
sosial seperti Facebook, Flickr, Instagram, dan 500px.com. Presentasi tersebut dilakukan untuk
menarik perhatian orang-orang terdekat mereka, atau bahkan orang yang tidak mereka kenal,
agar dapat melihat dan menikmati foto mereka. Pada era Internet sekarang ini, melalui media
sosial inilah para fotografer amatir yang berbakat dapat memulai mengembangkan fotografinya
ke tahap profesional.

B. Lingkungan Pengembangan Kreativitas (Nurturance Environment)


B.1 Apresiasi
Apresiasi termasuk dalam lingkungan pengembangan (nurturance environment) di dalam ekosistem
fotografi, karena membangun serta meningkatkan kualitas dan kompetensi fotografi. Apresiasi
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) melalui literasi kepada masyarakat, dan (2) melalui
pengakuan dan penghargaan atas hasil karya fotografi para fotografer. Jika literasi berfungsi
mengembangkan fotografi dari sisi konsumen, maka pengakuan dan penghargaan adalah untuk
mengembangkan fotografi dari sisi orang-orang kreatifnya.
Dalam fotografi, literasi adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, membuat, serta
menggunakan atau menikmati sebuah foto. Literasi fotografi bisa berfungsi sebagai sistem pengontrol
konten fotografi (khususnya bagi anak-anak), tapi, yang juga penting, literasi meningkatkan
kualitas fotografi masyarakat di ruang publik dan penghargaan karya fotografer. Literasi fotografi
dapat dilakukan, di antaranya, melalui:

42

Media. Saat ini cukup banyak media, baik televisi, majalah, dan Internet yang memiliki
program-program dan halaman-halaman yang membahas khusus tentang fotografi. Program
fotografi di televisi contohnya Mata Lensa di AnTV dan Klik Arbain di Kompas TV.
Majalah-majalah fotografi lokal yang beredar, di antaranya, adalah CHIP Foto Video,
Dunia Kamera, Digital Camera, dan Travel Fotografi. Saat ini, majalah-majalah fotografi
impor pun mudah ditemui di toko-toko buku. Halaman-halaman yang membahas tentang
fotografi di Indonesia juga sudah cukup banyak di Internet, seperti fotografer.net, ffmagz.com,
fotokita.net, dan fotografiindonesia.net. Halaman Fotografi Indonesia (fotografiindonesia.net)
pada awalnya diperuntukkan sebagai sarana publikasi online untuk acara Lomba Fotografi
Piala Presiden, namun saat ini digunakan untuk berbagi informasi seputar fotografi di
Indonesia. fotografiindonesia.net dikelola Subdirektorat Pengembangan Fotografi, Direktorat
Pengembangan Seni Rupa, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Seminar fotografi. Literasi fotografi melalui seminar biasanya dilakukan kampus-kampus,


komunitas, di kalangan para pebisnis di bidang fotografi, dan di lingkungan pemerintah
(oleh Kemenparekraf). Berbeda dengan kursus fotografi yang kontennya lebih ke arah
teknis, dalam seminar fotografi yang dibangun adalah wawasan, seperti cara-cara memulai
bisnis fotografi, tren fotografi, genre fotografi, dan pengalaman para fotografer profesional.

Pameran fotografi biasanya dilakukan di galeri seni dan ruang publik. Saat ini, jumlah
galeri yang khusus untuk fotografi sangat minim. Tercatat hanya Galeri Foto Jurnalistik
Antara yang rutin digunakan sebagai tempat pameran foto. Melalui pameran fotografi,
diharapkan literasi fotografi masyarakat dapat meningkat. Dengan demikian, masyarakat
tidak lagi melihat sebuah foto sebagai objek gambar dua dimensi, namun bisa lebih peka
dalam menangkap pesan yang ingin disampaikan fotografernya.

Buku-buku fotografi saat ini mulai menjamur di toko-toko buku. Dalam hal kuantitas,
buku-buku fotografi lokal dapat dikatakan cukup bersaing dengan buku-buku fotografi
impor. Namun, dalam hal kualitas, buku-buku fotografi impor memiliki kelebihan dari
segi isi. Para fotografer profesional Indonesia perlu turun tangan untuk dapat memperkaya
wawasan fotografi masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat dapat lebih mudah menyerap
wawasan tersebut.

Pendidikan di dalam keluarga. Dalam hal ini yang berperan adalah orangtua. Caranya
adalah dengan menyampaikan arahan dan pengetahuan dasar kepada anak, terutama
dalam memahami dan melihat foto yang beredar di media.

Pendidikan umum. Literasi melalui pendidikan umum dapat disampaikan sejak


pendidikan anak usia dini, pendidikan tingkat dasar, pendidikan tingkat menengah,
hingga pendidikan tinggi. Adapun dalam penyampaiannya, tentunya dilakukan sesuai
dengan usia pemahaman para peserta didik. Semakin tinggi tingkat pendidikannya,
maka semakin banyak dan semakin kompleks literasi fotografi yang bisa disampaikan.

Selain untuk meningkatkan literasi masyarakat terhadap fotografi, apresiasi juga berfungsi sebagai
bentuk pengakuan dan penghargaan kepada fotografer atas hasil kerja kreatifnya agar semangat
dan keinginan berkarya orang-orang kreatif di bidang fotografi dapat terus terjaga, sehingga
kuantitas dan kualitasnya semakin meningkat. Penghargaan dan pengakuan untuk fotografer
dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

Kompetisi atau lomba fotografi. Ajang ini biasanya digunakan para fotografer untuk
menguji keahlian dan kemampuan mereka. Ajang ini dapat diikuti fotografer pemula
maupun fotografer berpengalaman. Prestasi yang diperoleh dari lomba fotografi ini
dapat meningkatkan kepercayaan diri seorang fotografer, selain juga dapat digunakan
sebagai portofolio untuk meningkatkan nilai jualnya. Pada dasarnya, sebuah kompetisi
atau lomba fotografi bukanlah tentang foto mana yang lebih baik dan mana yang jelek.
Sebenarnya sebuah foto tidak dapat diukur secara objektif, sebab foto dalam ranah seni
tidak memiliki skala ukuran secara jelas. Subjektivitas juri turut berperan dalam penentuan
hasil lomba. Kompetisi fotografi biasanya dilakukan komunitas, pemerintah, maupun
perusahaan. Saat ini, banyak sekali kompetisi fotografi yang bertujuan mempromosikan
perusahaan yang menjadi sponsor utamanya. Dalam melaksanakan kompetisi fotografi,
tidak jarang perusahaan-perusahaan tersebut menggandeng komunitas fotografi untuk
memeriahkan acara yang mereka selenggarakan. Salah satu kompetisi yang mulai rutin
diselenggarakan setiap tahun oleh salah satu produsen kamera adalah Canon Photo

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

43

Marathon. Perusahaan-perusahaan kamera lainnya seperti Nikon, Fuji, Sony, Panasonic,


Pentax, Samsung, dan lainnya, juga sering mengadakan lomba-lomba fotografi dalam
berbagai kesempatan. Mulai beberapa tahun lalu, pemerintah (melalui Kemenparekraf)
rutin menyelenggarakan Lomba Foto Indonesia yang memperebutkan Piala Presiden
dan sejumlah hadiah uang. Adapun kementerian lain dan pemerintah daerah juga kerap
mengadakan lomba foto dengan tujuan sosialisasi, atau untuk mempromosikan daerahnya
sebagai tempat pariwisata. Berikut ini beberapa kompetisi yang ada di tingkat internasional:
o International Photography Awards. Perlombaan ini memiliki misi untuk memberikan
kehormatan kepada pencapaian prestasi dari fotografer-fotografer terbaik dunia, untuk
menemukan bakat-bakat baru di bidang fotografi, dan juga untuk mempromosikan
apresiasi di bidang fotografi.
o Sony World Photography Awards. Kompetisi ini pertama kali dihelat pada 2008
untuk mendukung dan menanamkan budaya fotografi. Pemberian penghargaan
mengambil tempat di kota London. Ada empat kategori yang diperebutkan, yaitu
profesional, amatir, pelajar yang mengambil bidang fotografi di sekolahnya, dan
generasi muda di bawah 19 tahun.
o World Press Photo of The Year. Kompetisi ini digelar Dutch Foundation World
Press Photo. Penghargaan ini diberikan kepada foto yang dapat merepresentasikan
isu, situasi atau peristiwa penting, yang juga memberikan tingkat persepsi visual dan
kreativitas tinggi.

Para peraih penghargaan Anugerah Fotografi Indonesia 2013 bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Sumber: indonesiakreatif.net

44

Pemberian penghargaan. Penghargaan untuk bidang fotografi saat ini sudah cukup
banyak, bahkan cakupannya tidak hanya regional atau domestik, namun juga internasional.
Ajang penghargaan ini cukup penting untuk memberikan apresiasi kepada para fotografer
guna mengembangkan bidang fotografi di masa depan. Melalui sebuah penghargaan,

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

para fotografer akan merasa hasil karya dan eksistensinya dihargai, sehingga mereka akan
berlomba-lomba untuk melakukan yang terbaik dalam menghasilkan karya foto. Sejak
2013 telah diselenggarakan Anugerah Fotografi Indonesia sebagai wujud penghargaan
pemerintah kepada insan fotografi Indonesia. Pemberian piala diberikan langsung Ibu Mari
Elka Pangestu selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam acara Pekan Produk
Kreatif Indonesia (PPKI) 2013. Pada perhelatan itu ada 5 kategori untuk 5 pemenang, yaitu:
o
o
o
o
o

Kategori Fotografi Seni diberikan kepada Davy Linggar


Kategori Fotografi Komersial diberikan kepada Darwis Triadi
Kategori Fotografi Dokumenter dan Jurnalistik diberikan kepada Don Hasman
Kategori Fotografi Edukasi diberikan kepada Galeri Foto Jurnalistik Antara
Kategori Fotografi Life Time Achievement kepada Alex Mendur dan Franz Mendur

Salah satu penghargaan terpopuler di bidang fotografi di mancanegara adalah Pulitzer


Prize. Pulitzer mulai diberikan sejak 1917 dan merupakan salah satu penghargaan bergengsi
tingkat dunia untuk para fotografer jurnalistik. Ada dua kategori penghargaan untuk
bidang fotografi, yaitu Feature Photography dan Breaking News Photography;

Pemberian gelar fotografi, biasanya diberikan federasi atau asosiasi fotografi. Gelar fotografi
internasional, antara lain, diberikan Federation Internationale de lArt Photographique (FIAP)
yang bertempat di Prancis, The Royal Photographic Society (RPS) yang berada di Inggris,
United Photographic International (UPI) di Yunani, dan Photographic Society of America
(PSA). Di Indonesia, saat ini terdapat dua organisasi fotografi yang dapat memberikan
gelar kepada anggotanya, yaitu Perhimpunan Amatir Foto (PAF) Bandung, dan Federasi
Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) yang juga merupakan induk organisasi beberapa
komunitas fotografi di Indonesia. Ada empat macam gelar yang diberikan FPSI, yaitu Honorary
Excellent of FPSI (Hon.E.FPSI), Honorary of FPSI (Hon.FPSI), Artist of FPSI (A.FPSI), dan
Examine of FPSI (E.FPSI). Metode dan tata cara perolehan gelar oleh FPSI telah terstruktur
dengan rapi dalam administratif FPSI. Di dalam PAF, pemberian gelar prestasi fotografi
dilakukan berdasarkan dua pertimbangan. Pertama berdasarkan pengabdian, yang akan
mendapatkan gelar kehormatan Honorary PAF (Hon.PAF). Pertimbangan lainnya adalah
berdasarkan prestasi, yang akan mendapatkan gelar PAF Chakra (PAF*), PAF Adhikarya
(PAF.A), atau PAF Mahakarya (PAF.M). Gelar prestasi PAF Chakra dan PAF Adhikarya
didapatkan melalui skema pengumpulan poin. Adapun tata cara dan waktu pelaksanaannya
telah ditetapkan dalam peraturan khusus yang dimiliki PAF.

Pameran fotografi. Acara ini dapat dilakukan fotografernya sendiri dan juga oleh pihak
lain yang mengapresiasi hasil karya seorang atau beberapa fotografer. Pameran fotografi
merupakan upaya fotografer (atau pihak tertentu) untuk menyampaikan pesan-pesan
akan isu tertentu melalui karya-karya fotografi. Di luar negeri, jumlah pameran yang
dilakukan seorang fotografer dapat dihitung sebagai prestasi tersendiri. Semakin sering
seorang fotografer berpameran, semakin tinggi pula pamornya.

Buku fotografi. Dalam hal ini, buku fotografi yang dimaksud adalah buku kumpulan
karya foto sebagai bentuk lain dari pameran. Jika dalam pameran waktu dan tempatnya
terbatas, maka karya foto yang tercetak dalam buku lebih memiliki keleluasaan akses.

Hak cipta dan hak pakai. Penggunaan hak cipta dan hak pakai yang tepat merupakan
cara menghargai hasil karya foto. Dari kedua hal inilah seorang fotografer atau orang

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

45

kreatif fotografi mendapatkan kompensasi atas hasil kerja kreatifnya. Dan, kedua hal ini
pula yang membedakan antara fotografer profesional dan fotografer amatir.
Saat ini, dengan semakin majunya teknologi fotografi dan Internet, banyak sekali komunitas
fotografi yang muncul di Indonesia. Salah satu portal fotografi di Indonesia bernama Fotografer.
net dan saat ini diklaim sebagai komunitas fotografi online terbesar se-Asia Tenggara. Hingga
kini di Indonesia terdapat 60 komunitas fotografi yang memiliki sistem keanggotaan dan punya
lebih dari 100 anggota. Angka tersebut belum termasuk komunitas-komunitas yang ada dan
konsisten melakukan kegiatan, namun tidak memiliki kedua kriteria tersebut. Jenis komunitas
juga sangat beragam, mulai dari yang sangat umum seperti komunitas yang berdasarkan daerah,
hingga komunitas yang dibentuk berdasarkan kesamaan memotret dengan teknik tertentu seperti
komunitas foto levitasi, light-painting, astro-photography, strobist, dan lain-lain.
Tabel 2-1 Perkiraan Persebaran Jumlah Komunitas Fotografi di Indonesia

REGIONAL

PERKIRAAN KOMUNITAS

PERKIRAAN ANGGOTA

Jawa

35

740.108

Sumatera

20.152

Kalimantan

4.309

Bali dan Nusa Tenggara

11.500

Sulawesi

11.444

Papua

1.061

B.2 Pendidikan
Pendidikan menjadi salah satu elemen yang cukup penting dalam rantai nilai fotografi; pendidikan
melahirkan fotografer-fotografer kompeten. Dalam pendidikanlah inovasi, ilmu, dan juga teknikteknik terbaru dalam seni fotografi ditemukan, sehingga genre-genre baru dalam fotografi terus
tumbuh dan berkembang.
Untuk mendukung kompetensi para calon pelaku subsektor fotografi, maka dibutuhkan materimateri pendidikan fotografi yang komprehensif sehingga dapat diterapkan di dunia kerja yang
sebenarnya. Ada tiga aspek pendidikan fotografi yang diajarkan di sekolah-sekolah pendidikan
tinggi di negara maju seperti Amerika Serikat. Ketiga aspek itu adalah (1) pengetahuan tentang
wacana-wacana dalam fotografi, baik yang berhubungan dengan seni, desain, teknologi maupun
sejarah; (2) pengetahuan teknis tentang fotografi; (3) profesionalisme di bidang yang ingin ditekuni,
apakah di bidang jurnalistik, komersial, atau seni.
Pengetahuan yang bersifat wacana dalam fotografi, di antaranya, adalah ilmu tentang seni, desain,
sejarah, dan teknologi. Ilmu seni perlu dipelajari untuk mengasah kepekaan estetika terkait suatu
karya foto. Ilmu desain berfungi untuk menyampaikan pesan, baik yang tersirat maupun yang
tampak, dari suatu karya foto. Wawasan teknologi berguna untuk membantu fotografer dalam
menghasilkan foto; dengan wawasan ini seorang fotografer bisa mengetahui hingga sejauh mana
teknologi dapat mendukung penciptaan suatu karya foto. Wawasan sejarah merupakan suatu
pembelajaran tentang bagaimana dinamika fotografi berkembang sejak zaman dahulu hingga saat
ini, yang sedikit-banyak dapat menjadi inspirasi untuk berkarya. Pengetahuan wacana fotografi

46

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan fotografer dalam mengembangkan idenya, serta
dapat melihat ke arah mana kecenderungan fotografi berkembang. Apabila kita melihat rantai
nilai kreatif dari ekosistem fotografi, pengetahuan wacana fotografi ini memberi pengaruh pada
tahapan mata rantai kreasi.
Pengetahuan teknis fotografi meliputi pemahaman cara kerja serta pengoperasian kamera (analog
dan digital), pengetahuan berbagai teknis pencahayaan (cahaya alami dan cahaya buatan), proses
mencetak foto di kamar gelap dalam fotografi analog, proses mencetak foto digital, dan kemampuan
penyuntingan gambar (editing) untuk fotografi digital. Bila kita melihat lagi ke peta ekosistem
fotografi di bagian rantai nilai kreatif (Gambar 2-2), maka pengetahuan teknis ini mengacu pada
pengembangan kemampuan fotografer pada bagian mata rantai produksi.
Bidang ketiga yang dipelajari dalam pendidikan fotografi adalah profesionalisme. Profesionalisme
ini biasanya baru dipelajari di tingkat-tingkat akhir, baik yang sifatnya pembekalan ilmu profesional
maupun dalam bentuk kerja praktik atau internship. Pendidikan fotografi biasanya memiliki
tiga bidang yang dapat dipilih sebagai profesi, yaitu fotografi jurnalistik, fotografi komersial,
dan fotografi seni. Jadi, pendidikan tentang profesionalisme juga berkonsentrasi di salah satu
bidang yang ingin dikuasainya. Dalam fotografi jurnalistik, misalnya, diajarkan penerapan
kode etik pers, juga batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan selaku fotografer
sekaligus pencari berita. Dalam fotografi komersial, pengetahuan di bidang manajemen dan
soft-skill (contohnya, berinteraksi dengan rekan bisnis, bagaimana menghadapi klien) diajarkan.
Sebab, sebagai seorang fotografer komersial sebaiknya tidak hanya bisa memotret, tapi juga
harus bisa mengatur jadwal, keuangan, pemasaran, hingga sumber daya. Dalam fotografi seni
atau fotografi ekspresi, profesionalisme lebih ditekankan ke arah kreativitas dan inovasi yang
mengarah ke aspek seni.
Dalam institusi formal, pendidikan fotografi sudah mulai ada di tingkat pendidikan menengah,
yaitu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK yang memberikan pendidikan di bidang
fotografi adalah SMK yang memiliki jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) atau Multimedia.
Selain diajarkan mengenai pengoperasian kamera, para siswa juga diajarkan bagaimana memproses
cetak foto di kamar gelap, hingga menjalankan pascaproduksi dengan menggunakan perangkat
lunak pada komputer. Beberapa SMK yang memiliki pendidikan fotografi, antara lain, SMK
Negeri 9 Surabaya, SMK Negeri 58 Jakarta, SMK IPIEMS Surabaya, dan SMK Bhakti Anindya
di Tangerang.
Untuk pendidikan fotografi di tingkat perguruan tinggi, saat ini ada beberapa universitas yang
khusus membuka jurusan fotografi. Institut Kesenian Jakarta (IKJ) merupakan salah satu perguruan
tinggi pertama yang membuka jurusan fotografi di Indonesia pada 1992. Perguruan tinggi lainnya
adalah Universitas Trisakti, Universitas Pasundan Bandung, Institut Seni Indonesia (ISI) di
Yogyakarta, di Surakarta, dan di Bali. Di ISI, jurusan fotografi termasuk dalam Fakultas Seni
Media Rekam. Beberapa perguruan tinggi lain yang memiliki fakultas desain juga memasukkan
fotografi ke dalam mata kuliahnya, seperti di jurusan DKV.
Selain institusi pendidikan resmi seperti SMK dan perguruan tinggi, ada juga sekolah-sekolah
fotografi lainnya di Indonesia, seperti Nikon School Indonesia, Canon School of Photography,
LaSalle College International, Indonesia School of Photography, dan Darwis Triadi School of
Photography. Dewasa ini ada tren bahwa fotografer-fotografer yang telah sukses di bidang fotografi

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

47

mulai merambah ke bisnis pendidikan fotografi dengan menawarkan kelas-kelas singkat fotografi,
workshop, dan seminar. Hal ini bisa menjadi wadah alternatif bagi calon-calon fotografer untuk
belajar tanpa melalui pendidikan formal.

Anton Ismael, pendiri Kelas Pagi


Sumber: news.indonesiakreatif.net

Belajar Fotografi Gratis di Kelas Pagi


Pada 2006, Anton Ismaelseorang fotografer profesional Indonesiamulai membuka kelas
fotografi gratis bernama Kelas Pagi. Kelas ini ditujukan bagi siapa pun yang ingin belajar fotografi
darinya. Ide ini berawal dari keinginan para kerabat dan kawan-kawannya untuk menimba ilmu
fotografi dari sang fotografer, sedangkan mereka tidak memiliki modal dan uang cukup jika harus
mengikuti kursus atau kelas fotografi di tempat lain yang biayanya relatif cukup mahal. Kelas
ini diikuti orang-orang dengan beragam latar belakang seperti penulis, wartawan, art director,
musisi, pelukis, pelajar, dan lain-lain. Tidak disangka, minat masyarakat begitu tinggi terhadap
kegiatan ini. Hingga 2013, tercatat sudah lebih dari 1.000 alumni yang lulus dari Kelas Pagi.
Kegiatan di Kelas Pagi dimulai dari pukul 6 pagi dengan jadwal dua kali seminggu dan periode
waktu satu tahun untuk setiap angkatannya. Dalam setiap pertemuan, para siswa diberi tugas
yang harus diselesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan. Jika tugas tersebut tidak diselesaikan,
maka ancamannya kelas akan dibubarkan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kedisplinan, agar
para siswa tetap serius mengikuti program yang telah ditetapkan dan tidak menganggap remeh
karena gratis. Dengan terus berkembangnya kegiatan ini, maka pada 2009 kegiatan ini membuka
kelas barunya di Jogja. Dalam mengembangkan dan menjalankan Kelas Pagi, Anton dibantu
rekannya sesama fotografer.
Sumber: http://kelaspagi.com/detail/pengajar/anton-ismael-66
http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/05/kelas-pagi-anton-ismael-belajar-fotografi-gratis-nan-disiplin

48

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Selain pendidikan formal dan nonformal, fotografi juga dapat dipelajari dengan pembelajaran secara
informal. Cara ini dapat dilakukan secara otodidak melalui magang di sebuah perusahaan ataupun
bisnis jasa fotografi, membaca media dan Internet, hingga mengikuti kegiatan-kegiatan di komunitaskomunitas fotografi. Peran Internet saat ini sangat membantu sekali dalam proses pendidikan fotografi.
Dengan adanya berbagai macam tutorial tentang fotografi yang dikemas dalam beragam bentuk (teks,
gambar, audio, dan video) di Internet, fotografer pemula atau seseorang yang ingin belajar tentang
fotografi dapat memilih metode dan bentuk tutorial yang sesuai dengan keinginannya. Salah satu media
pembelajaran fotografi di Internet yang cukup baik adalah CreativeLive. Di sana kita dapat mengikuti
kelas-kelas online secara gratis yang menghadirkan instruktur-instruktur fotografi profesional di industri
fotografi Amerika. Sayangnya, kelas online semacam ini belum ada di Indonesia.

C. Pasar (Konsumen)
Konsumen dalam subsektor fotografi dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perusahaan
atau organisasi, dan individu. Konsumen perusahaan, di antaranya, berasal dari industri media,
industri periklanan, industri komersial, dan industri lainnya yang membutuhkan jasa fotografi.
Industri komersial yang dimaksud adalah industri yang membutuhkan jasa fotografi dengan tujuan
komersial, seperti untuk membuat iklan, namun tanpa melalui agen periklanan. Industri lain
yang dimaksud adalah industri yang membutuhkan jasa fotografi selain untuk tujuan komersial,
seperti membuat foto profil perusahaan dan foto dokumentasi perusahaan.
Konsumen individu sebagai konsumen fotografi dibagi menjadi konsumen umum dan konsumen
khusus. Konsumen khusus adalah konsumen ahli, galeri, kolektor foto, dan museum. Konsumen
ahli (expert) adalah konsumen yang menggunakan foto-foto dari bidang (genre) fotografi tertentu
yang biasanya didorong profesinya sebagai ahli dalam satu bidang. Misalnya, foto-foto forensik
digunakan oleh ahli forensik dalam menelusuri sebuah kasus; foto-foto anggrek digunakan
untuk mendokumentasikan anggrek di Indonesia untuk penelitian; foto-foto batik digunakan
seorang kolektor batik dalam pembuatan buku batik. Selain berperan sebagai konsumen, galeri
dan museum juga berperan sebagai lembaga yang melakukan pengarsipan dan apresiasi.

Foto termahal di dunia hingga saat ini, Rhein II (1991)


Sumber: www.tate.org.uk Foto: Andreas Gursky

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

49

Sebuah galeri bahkan rela mengeluarkan kocek cukup besar untuk membeli satu karya foto bernilai
tinggi. Saat ini, karya foto yang memiliki harga tertinggi adalah karya milik Andreas Gursky yang
berjudul Rhein II yang dibuat pada 1999. Karyanya terjual seharga US$4.338.500 pada 2011
lewat rumah lelang Christies New York. Menyusul kemudian karya milik Cindy Sherman yang
berjudul Untitled #96 yang bernilai US$3.890.500 dan dijual rumah lelang yang sama.

Foto termahal kedua di dunia hingga saat Ini, Untitled #96 (1981)
Sumber: intheloupetv.wordpress.com Foto: Cindy Sherman

D. Pengarsipan (Archiving)
Dalam era digital saat ini, pengarsipan dapat dilakukan dengan berbagai macam bentuk dan
cara. Karya-karya foto dapat disimpan, baik dalam bentuk data maupun cetak. Pengarsipan
dalam bentuk data dapat dilakukan melalui penyimpanan dalam CD/DVD, flash disk, hard
disk, atau memory card. Selain disimpan dalam bentuk fisik, fotografer juga dapat menyimpannya
di layanan-layanan photo sharing yang ada di Internet seperti Flickr.com, 500px.com, Picasa,
Instagram, Facebook, dan lain-lain.
Di Amerika Serikat, pengarsipan foto salah satunya dilakukan US National Archives and Records
Administration. Pengarsipan juga dilakukan pihak akademisi melalui perpustakaan yang dimiliki
maupun oleh pihak swasta.
Salah satu lembaga nasional yang melakukan pengarsipan foto, terutama dalam foto jurnalistik,
adalah Galeri Jurnalistik Fotografi Antara (GFJA). GFJA merupakan bagian dari misi sosial yang
dimiliki Kantor Berita Antara. Galeri ini cukup dikenal di mancanegara; beberapa negara seperti
Belanda dan Australia pernah memberikan sumbangan foto-foto untuk dipamerkan di GFJA.
Dalam hal restorasi foto, GFJA pernah dibantu Jepang dan Ford Foundation untuk merestorasi

50

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

foto-foto lama yang dimiliki GFJA. Tidak hanya pengarsipan, GFJA juga menyelenggarakan
pelatihan-pelatihan foto jurnalistik.
Lembaga pemerintah yang melakukan pengarsipan foto adalah Arsip Nasional Republik Indonesia.
Selain itu, kita dapat menjumpai foto-foto bersejarah di museum-museum di Indonesia seperti di
Museum Nasional Indonesia, Monumen Nasional, Museum Asia Afrika di Bandung, Museum
Fort Rotterdam di Makassar, dan lain-lain. Di universitas-universitas yang memiliki jurusan
seni fotografi atau desain komunikasi visual, biasanya terdapat galeri yang digunakan sebagai
tempat pameran karya mahasiswa sekaligus tempat pengarsipan. Oleh karena letak pengarsipan
yang terpencar-pencar, maka perlu adanya suatu wadah atau lembaga pengarsipan khusus untuk
fotografi di Indonesia. Lembaga tersebut juga dapat berfungsi sebagai manajemen pengetahuan
fotografi sehingga memudahkan para pelaku fotografi dan para pemangku kepentingan lainnya
untuk bersama-sama memajukan fotografi Indonesia.

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Subsektor Fotografi


2.2.1 Peta Industri Subsektor Fotografi
Pemetaan subsektor fotografi dilakukan dengan menghubungkan industri utama, yaitu fotografi,
dengan pelaku industri yang memberikan persediaan (supply) ke pelaku industri utama (backward
linkage) dan pelaku industri yang memberikan permintaan (demand) ke pelaku industri utama
( forward linkage) dalam rantai nilai ekosistem fotografi. Pemetaan ini tidak dilakukan secara
menyeluruh dan hanya mengambil beberapa contoh dari kegiatan dalam subsektor fotografi
yang terkait dengan beberapa industri lain. Pasalnya, subsektor fotografi memiliki hubungan
yang sangat luas, sehingga hampir semua industri yang ada di Indonesia dapat berhubungan,
baik secara langsung maupun tidak langsung dengan subsektor fotografi.

subsektor fotografi memiliki


hubungan yang sangat luas,
sehingga hampir semua industri
yang ada di Indonesia dapat
berhubungan, baik secara
langsung maupun tidak langsung
dengan subsektor fotografi.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

51

A.1 Kreasi
Pada dasarnya, subsektor fotografi dapat berhubungan dengan semua industri. Karena kebutuhan
utamanya terhadap gambar atau foto, beberapa industri yang paling dekat dengan subsektor
fotografi adalah industri penerbitan, terutama media cetak seperti koran, majalah, tabloid, dan
buku. Industri penerbitan membutuhkan fotografi, selain untuk menjelaskan tulisan dan artikel
yang disampaikannya lewat foto, juga untuk memberikan nilai estetika dan dekoratif. Industri
lain yang juga paling banyak menggunakan jasa fotografi adalah industri desain dan periklanan.
Dalam industri periklanan, fotografi merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pesan
melalui gambar. Faktor kreativitas biasanya sangat ditonjolkan dalam membuat foto iklan agar
calon konsumen tertarik untuk membeli produk yang ditawarkan.
Selain industri media, desain, dan periklanan, sebenarnya industri-industri lain pun juga
dapat berhubungan dengan subsektor fotografi secara langsung. Sebagai contoh, ketika sebuah
restoran atau usaha kuliner membutuhkan jasa fotografi untuk memotret menu-menu yang
mereka sediakan, maka industri kuliner dapat dikatakan menyerap subsektor fotografi. Ketika
sebuah hotel baru berdiri dan membutuhkan gambar eksterior dan interiornya untuk promosi,
maka hotel sebagai industri hospitality akan membutuhkan subsektor fotografi. Namun, untuk
menyederhanakan model peta industri subsektor fotografi, maka industri-industri lain tersebut
dianggap menggunakan perpanjangan tangan melalui industri desain, periklanan, dan penerbitan
dalam menggunakan jasa fotografi.
Dengan sedemikian luasnya aspek dan kegunaan fotografi, sebenarnya bukan hanya kalangan
industri atau bisnis yang dapat memanfaatkan jasa fotografi. Pemerintah, organisasi nirlaba, hingga
kalangan individu juga memanfaatkan jasa fotografi. Misalnya, fotografi digunakan pemerintah
daerah dalam mempromosikan keindahan pariwisata suatu daerah tertentu. Fotografi digunakan
organisasi nirlaba untuk menyerukan bahaya obatan-obatan terlarang kepada masyarakat melalui
foto. Fotografi digunakan individu, misalnya dalam pembuatan kartu identitas seperti Kartu
Tanda Penduduk (KTP) dan paspor.

A.2 Produksi
Dalam mata rantai produksi, industri yang berhubungan (atau yang berfungsi sebagai industri
pendukung) akan lebih spesifik terhadap kebutuhan fotografi. Sebab, dalam tahap produksi ini
kebutuhan fotografi juga semakin khusus, terutama dalam rangka menghasilkan foto yang sesuai
dengan konsep yang telah direncanakan. Selain membutuhkan fotografer dan studio foto yang
menjalankan tahap praproduksi dan produksi, dibutuhkan juga jasa editor foto dan jasa cetak
foto dalam tahap pascaproduksi. Dalam industri desain dan periklanan, peran editor foto ini
dapat dilakukan fotografernya sendiri, atau digital imaging artist (biasanya untuk konsep foto
yang rumit).
Keberadaan jasa penyewaan alat fotografi sangat membantu para fotografer dalam menjalankan
pekerjaannya, karena untuk beberapa peralatan khusus yang harganya sangat mahal, fotografer
dapat menyewanya tanpa harus membeli. Adapun industri lain yang sering berkaitan dalam tahap
ini antara lain, agensi model, jasa tata rias dan rambut, jasa penyewaan dan pembuatan kostum,
industri mode, jasa periklanan, dan lain-lain. Sebagai contoh, misalnya dalam pembuatan iklan
komersial sebuah ponsel pintar, diperlukan seorang model yang berpose sedang menggunakan
ponsel tersebut, sehingga untuk itu diperlukanlah agensi model. Model tersebut tentunya
menggunakan tata rias dan rambut serta kostum tertentu yang dibuat dan dipakai sedemikian

52

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Gambar 2-3 Peta Industri Subsektor Fotografi

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

53

rupa untuk menunjang konsep foto iklan yang telah disepakati. Maka diperlukan pula jasa tata rias
dan rambut, serta jasa pembuatan dan penyewaan kostum. Tidak lupa interior yang menunjang
suasana dalam foto tersebut harus digarap, maka dibutuhkanlah jasa desain interior. Contoh lain
adalah ketika industri mode ingin menggunakan jasa fotografi untuk menyebarluaskan tren yang
akan terjadi, maka industri mode juga ikut berperan dalam tahap produksi dalam menentukan
busana-busana yang akan digunakan dalam pemotretan.
Jasa editor foto dan jasa cetak foto tentunya tidak terlepas dari industri TI (teknologi informasi)
dan industri percetakan. Dalam mengolah foto, seorang editor foto tidak dapat terlepas dari
perangkat lunak pengolah foto seperti Adobe Photoshop, GIMP, Photomatix, dan lain-lain. Jasa
cetak foto ada dua macam, yaitu untuk foto yang masih menggunakan film dan foto digital.
Namun, membanjirnya fotografi digital membuat jasa cetak foto film semakin berkurang.

A.3 Distribusi
Dalam tahap mata rantai distribusi, pelaku di industri utamanya adalah fotografer, agen stok foto,
dan jasa cetak foto. Pada rantai distribusi ini, peran pelaku utama adalah sebagai penyambung
tangan karya foto yang dihasilkan fotografer dengan klien atau konsumen. Dalam fotografi
digital, fotografer yang melakukan proses pascaproduksinya sendiri dan tidak memerlukan karya
foto dalam bentuk cetak dapat berperan sebagai distributor langsung dengan menyerahkan karya
fotonya dalam bentuk data. Dalam jurnalistik, konsumen (biasanya pelaku industri media) dapat
mencari foto-foto yang diinginkan melalui agen stok foto. Klien yang menginginkan karya foto
dalam bentuk cetak akan menggunakan jasa cetak foto.
Pada umumnya, industri yang menyerap subsektor fotografi adalah industri yang berhubungan
dalam tahap kreasi, yaitu industri desain, periklanan, dan penerbitan. Namun, di tahap distribusi
ini industri-industri tersebut tidak berhubungan dengan subsektor fotografi sejak awal pembuatan
foto. Industri-industri tersebut tidak menggunakan jasa fotografinya, tapi secara langsung
memanfaatkan hasil produknya, yaitu karya foto yang sudah jadi tanpa dipesan. Di tahap ini
pula karya-karya foto juga sering ditampilkan di galeri-galeri seni. Sebagian juga digunakan
untuk kepentingan jurnalistik dan industri konten digital. Sementara itu, industri yang terlibat
pada tahap produksi biasanya tidak lagi berhubungan dalam tahap distribusi ini.
Industri yang diserap subsektor fotografi pada tahap ini, antara lain, industri pembuatan bingkai
foto, industri pembuatan album foto, industri pembuatan kertas foto, industri TI, industri
percetakan, dan industri peralatan elektronik. Umumnya, industrinya adalah yang berhubungan
dengan pengemasan foto dan reproduksi foto. Industri Teknik Informatika (TI) yang diserap
pada tahap ini berbeda dengan industri TI pada tahap produksi. Pada tahap produksi, industri TI
(komputer dan software-nya) digunakan untuk mengedit foto, sedangkan pada tahap distribusi
industri TI digunakan untuk melihat dan memilih foto yang dikehendaki klien. Industri peralatan
elektronik di sini berperan dalam menyediakan alat-alat elektronik untuk pengarsipan berkas
seperti harddisk, USB flash disk, CD/DVD, memory card, dan lainnya.

54

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Ruang Lingkup Industri Fotografi


Dalam ruang lingkup ekonomi kreatif Indonesia fotografi termasuk dalam subsektor film,
video, dan fotografi. Berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009
yang diterbitkan Badan Pusat Statistik, kategori yang termasuk ke dalam subsektor ini adalah:

Kelompok 18202, yaitu reproduksi media rekaman film dan video;

Kelompok 59111, yaitu produksi film, video, dan program televisi oleh pemerintah;

Kelompok 59112, yaitu produksi film, video, dan program televisi oleh swasta;

Kelompok 59121, yaitu pascaproduksi film, video, dan program televisi oleh pemerintah;

Kelompok 59122, yaitu pascaproduksi film, video, dan program televisi oleh swasta;

Kelompok 59131, yaitu distribusi film, video, dan program televisi oleh pemerintah;

Kelompok 59132, yaitu distribusi film, video, dan program televisi oleh swasta;

Kelompok 59140, yaitu kegiatan pemutaran film;

Kelompok 74201, yaitu jasa fotografi.

Dari sembilan kelompok yang termasuk dalam subsektor film, video, dan fotografi, hanya satu
kelompok (kelompok 74201) yang berhubungan dengan subsektor fotografi. Di dalam KBLI
2009, berikut ini kategori atau kelompok yang memiliki kata kunci fotografi:

Kelompok 74201, yaitu jasa fotografi. Kelompok ini mencakup usaha jasa fotografi
atau pemotretan, baik untuk perorangan atau kepentingan bisnis, seperti fotografi
untuk paspor, sekolah, pernikahan, dan lain-lain; fotografi untuk tujuan komersial,
publikasi, mode, real estate atau pariwisata; fotografi dari udara (pemotretan dari udara
atau aerial photography) dan perekaman video untuk acara seperti pernikahan, rapat,
dan lain-lain. Kegiatan lain adalah pemrosesan dan pencetakan hasil pemotretan
tersebut, meliputi pencucian, pencetakan, dan perbesaran dari negatif film atau
cine-film yang diambil klien; laboratorium pencucian film dan pencetakan foto; photo
shop (tempat cuci foto) satu jam (bukan bagian dari toko kamera); mounting slide dan
penggandaan dan restoring atau pengubahan sedikit tranparansi dalam hubungannya
dengan fotografi. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan jurnalis foto dan pembuatan
mikrofilm dari dokumen. Produksi film untuk bioskop dan video dan distribusinya
dimasukkan ke golongan 591;

Kelompok 74909, yaitu jasa profesional, ilmiah dan teknik lainnya yang tidak dapat
diklasifikasikan di tempat lain. Kelompok ini mencakup usaha jasa profesional, ilmiah,
dan teknik lainnnya yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, seperti jasa konsultasi
ilmu pertanian (agronomist), konsultasi lingkungan, konsultasi teknik lain, dan kegiatan
konsultan selain konsultan arsitek, teknik, dan manajemen. Kelompok ini juga mencakup
kegiatan yang dilakukan agen atau perwakilan atas nama perorangan yang biasa terlibat
dalam pembuatan gambar bergerak, produksi teater atau hiburan lainnya atau atraksi
olahraga dan penempatan buku, permainan (sandiwara, musik, dan lain-lain), hasil seni,
fotografi dan lain-lain, dengan publisher, produser dan lain-lain;

Kelompok 85420, yaitu jasa pendidikan kebudayaan. Kelompok ini mencakup pengajaran
seni, drama, dan musik. Kegiatan pada kelompok ini misalnya kegiatan di sekolah, studio,
kelas, dan lain-lain. Kegiatan ini menyediakan pengajaran yang diatur secara formal,

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

55

terutama untuk hobi, rekreasi, atau untuk tujuan pengembangan diri, tetapi pengajaran
tersebut tidak ditujukan untuk mendapatkan ijazah profesional, sarjana muda, atau gelar
sarjana. Kelompok ini mencakup kegiatan guru piano dan pengajaran musik lainnya,
pengajaran seni, pengajaran dansa, dan studio dansa, sekolah drama (bukan akademis),
sekolah seni rupa (bukan akademis), sekolah seni pertunjukan (bukan akademis), sekolah
fotografi (bukan komersial), dan lain-lain;

Kegiatan 9499, yaitu kegiatan organisasi keanggotaan lainnya yang tidak dapat diklasifikasikan
di tempat lain. Subgolongan ini salah satunya mencakup perkumpulan atau asosiasi untuk
pencarian kegiatan kebudayaan atau rekreasi atau hobi seperti kelab foto.

Dapat dipahami bahwa kelompok dengan kode 74909, 85420, dan 9499 tidak dimasukkan ke
ruang lingkup ekonomi kreatif, karena ketiganya tidak berorientasi untuk nilai tambah ekonomi
secara langsung. Bila mengacu pada ruang lingkup fotografi (lihat gambar 1-1), kelompok 74909
termasuk fotografi khusus, sedangkan kelompok 85420 dan 9499 termasuk fotografi pendidikan
dan fotografi amatir. Dua kelompok terakhir telah dibahas dalam ekosistem fotografi Indonesia,
terutama pada bagian lingkungan pengembangan kreativitas (nurturance environment).
Sebagai perbandingan dengan negara lain, akan ditinjau pengelompokan fotografi yang diterapkan
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNDP (United Nations Development Programme) dan
UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development), serta pemerintah Kerajaan
Inggris. Laporan dari PBB dipilih karena penelitiannya mencakup banyak negara, yaitu beberapa
dari negara-negara anggotanya, sehingga hasil publikasinya diharapkan dapat diadaptasi dengan
baik oleh Indonesia. Laporan Department for Culture, Media, and Sport (DCMS) Kerajaan Inggris
dipilih, karena bentuk industri kreatif Indonesia secara umum diadaptasi dari sana.
Dalam Creative Economy Report 2010 yang dikeluarkan UNDP dan UNCTAD, fotografi termasuk
domain seni di dalam sub-grup visual arts atau seni visual bersama dengan lukisan, barang-barang
antik, patung, dan lain-lain. Ruang lingkup yang termasuk jasa fotografi meliputi: (1) jasa fotografi
manusia atau potret (portrait); (2) jasa fotografi periklanan dan yang terkait; (3) jasa video dan
fotografi untuk acara tertentu; (4) jasa perbaikan (restoration), penggandaan, dan retouching foto;
(5) jasa fotografi lainnya; serta (6) jasa pemrosesan foto.
Pemetaan ruang lingkup subsektor fotografi menurut Standard Industrial Classification untuk
industri kreatif di Inggris masih tergabung dalam subsektor film, video, dan fotografi, yaitu
meliputi: (1) reproduksi rekaman video; (2) kegiatan-kegiatan fotografi; (3) kegiatan produksi film
dan gambar bergerak; (4) kegiatan pascaproduksi gambar bergerak, video, dan televisi; (5) kegiatan
distribusi gambar bergerak dan video; dan (6) kegiatan proyeksi/pertunjukan gambar bergerak.
Dari kedua perbandingan ruang lingkup subsektor fotografi di atas (Creative Economy Report
2010 dan Standard Industrial Classification), tampak bahwa laporan Creative Economy Report
lebih menggambarkan subsektor fotografi secara lebih lengkap. Hal ini dapat melengkapi dan
menyempurnakan KBLI untuk edisi berikutnya, terutama untuk industri kreatif di sub-subsektor
fotografi sebagai bagian dari subsektor fotografi.

56

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Terlihat bahwa KBLI 2009 belum memasukkan elemen-elemen dalam fotografi digital dan
beberapa hal lainnya. Untuk itu, sebagai rekomendasi dalam pengklasifikasian subsektor fotografi,
dapat ditambahkan poin-poin sebagai berikut:

Jasa perbaikan (restorasi), konservasi, penggandaan, retouching foto digital, dan digital
imaging;

Jasa pemotretan yang dilakukan mesin dan otomatisasi;

Pada bagian fotografi dari udara (aerial photography), ditambahkan poin fotografi dari
dalam air atau bawah laut (underwater photography).

2.2.2 Model Bisnis di Industri Fotografi


A. Model Bisnis Fotografi Dunia
Industri fotografi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan
telah sedemikian maju. Umumnya, negara-negara yang memiliki keunggulan teknologi tinggi
(hi-tech) akan menguasai industri fotografi dunia. Hal ini berimbas pada model bisnis fotografi
yang terjadi di sana, yang kemudian memengaruhi industri fotografi dunia. Kompleksitas bisnis
dalam industri fotografi global yang pemain-pemain utamanya didominasi negara-negara maju
tersebut dapat dilihat dalam gambar 2-4.
Gambar 2-4 Industri Fotografi Global

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

57

Perusahaan manufaktur kamera (camera manufactures) seperti Canon, Nikon, Fuji, Sony,
Panasonic, dan Leica, serta perusahaan manufaktur ponsel pintar (phone manufactures) seperti
Apple, LG, Samsung, dan HTC, berperan sebagai hulu industri fotografi. Perusahaan ponsel
mulai diperhitungkan dalam industri fotografi, karena kemajuan teknologi ponsel yang bisa
bersaing dengan teknologi kamera dalam menghasilkan foto berkualitas tinggi. Kemunculan
perangkat foto yang dapat dipakai sehari-hari (wearable devices), juga meramaikan persaingan
dalam industri perangkat fotografi.
Selain perusahaan manufaktur kamera, ada juga perusahaan yang membuat perangkat-perangkat
pendukung atau aksesoris fotografi (camera accessories). Perusahaan ini membuat perangkat aksesoris
fotografi seperti tripod, tas kamera, memory card, lighting, dan lain-lain. Alat-alat tersebut biasanya
dijual di toko-toko fotografi (retailers) atau dapat juga disewa (rentals). Di Amerika Serikat, B&H
dan Adorama merupakan perusahaan besar yang menyediakan alat-alat fotografi.
Dari sisi bisnis manajemen fotografer, ada dua jenis model bisnis, yaitu agen fotografer (photographer
agencies) dan bisnis pencarian fotografer (photographer discovery). Dalam bisnis agen fotografer,
agen tersebut memegang daftar sejumlah fotografer yang memiliki spesialisasi tertentu. Sementara
itu, dalam bisnis pencarian fotografer, klien dapat menentukan sendiri fotografer yang seperti
apa yang ingin diajak bekerja sama.
Di tahap pascaproduksi (yang dalam hal ini adalah perangkat lunak untuk editing foto digital),
ada dua jenis editing platform yang dapat digunakan, yaitu yang berbasis komputer (editing on
PC) dan yang berbasis mobile (mobile editing). Pemain paling besar untuk bisnis editing foto saat
ini masih diduduki Adobe. Masih dalam tahap pascaproduksi, ada juga bisnis yang melakukan
manajemen foto profesional (professional photo management and websites), jasa pascaproduksi
(post production services), dan manajemen foto untuk konsumen (consumer photo management).
Pada tahap distribusi, bisnis yang dilakukan biasanya agen stok foto (stock photography agencies).
Saat ini, bisnis stok foto berkembang di media Internet. Beberapa agen stok foto yang cukup
dikenal di Internet, di antaranya, gettyimages, iStockphoto, dan pixoto.
Bisnis lainnya yang masih berhubungan dengan fotografi adalah bisnis media sosial (sharing,
messaging, and community), aplikasi infrastruktur (infrastructure applications), dan cetak foto
(prints and products). Ada pula bisnis keamanan citra (image security), manajemen foto korporasi
(corporate photo management), periklanan dan e-commerce (advertising and e-commerce), serta
analisis (analytic).

B. Model Bisnis Fotografi di Indonesia


Model bisnis fotografi di Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan rantai nilai kreatif. Ada
model bisnis yang hanya berada dalam satu atau dua mata rantai nilai, dan ada juga model bisnis
yang melingkupi semua rantai nilai. Berikut ini model-model bisnis yang dibagi berdasarkan
rantai nilai kreatif dari ekosistem fotografi:

58

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Gambar 2-5 Ragam Model Bisnis Fotografi

B.1 Agen Stok Foto


Fotografi stok memiliki kedekatan dengan fotografi jurnalistik. Namun, fotografi stok memiliki
cakupan area yang lebih luas daripada fotografi jurnalistik, karena semua genre atau aliran fotografi
dapat masuk ke sana. Pola kerja dalam fotografi stok ini berdasarkan keinginan dan inisiatif
fotografer sendiri. Fotografer bebas memotret apa saja sesuai dengan keinginan dan kesukaannya.
Tahap kreasi hingga distribusi dan presentasi dilakukan fotografer sendiri. Setelah hasil fotonya
jadi, fotografer mengunggah foto-foto tersebut ke Internet atau menawarkannya ke media-media.
Fotografer kemudian dapat menjual hasil karya fotonya kepada media dengan sistem hak pakai.
Imbalan yang didapatkan dalam fotografi stok dihitung berdasarkan produk foto yang dihasilkan.
Di Indonesia, sebuah foto stok dapat dihargai dalam rentang Rp800.000,00 - Rp2.500.000,00.

B.2 Biro Fotografer


Sebenarnya, model bisnis biro fotografer ini hanya menghubungkan klien dengan fotografer. Biro
fotografer memiliki sejumlah daftar fotografer yang memiliki spesialisasi dalam genre tertentu.
Model bisnis ini biasanya digunakan rumah produksi.

B.3 Event Organizer (EO)


Model bisnis ini cukup baru dalam industri fotografi. Memanfaatkan minat masyarakat yang
semakin meningkat terhadap fotografi, EO fotografi menawarkan fasilitas dan kemudahan bagi
para konsumennya untuk berburu foto bersama-sama. Ada dua jenis kegiatan yang biasanya
ditawarkan bisnis ini yaitu, photo-travelling dan photo-hunting dengan konsep pemotretan yang
ditentukan EO. Photo-travelling adalah kegiatan berburu foto yang dikemas sebagai paket wisata
ke suatu daerah atau ke luar negeri. Biasanya EO memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan
konsumennya. Harga yang ditawarkan cukup variatif, bergantung pada konsep yang ditawarkan.

B.4 Fotografi Retail


Fotografi yang termasuk fotografi retail adalah fotografi acara atau event, dan fotografi potret atau
studio. Fotografi acara biasanya untuk dokumentasi, seperti foto peliputan acara pernikahan, foto
peliputan profil organisasi atau perusahaan, atau foto peliputan acara wisuda. Fotografi potret
atau studio adalah fotografi yang dilakukan di dalam studio yang biasanya ditujukan untuk
kepentingan individu, keluarga, atau kelompok. Pola kerja fotografi retail berdasarkan keinginan

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

59

pelanggan. Namun, pada tahap kreasinya sudah ditetapkan fotografer atau jasa fotografi, sehingga
pelanggan tinggal memilih konsep yang telah disediakan fotografer atau jasa fotografi.
Fotografi retail memiliki dua jenis tipe kompensasi, yaitu berdasarkan waktu (time-based) atau
berdasarkan produk (product-oriented). Untuk foto pernikahan, misalnya, kedua tipe kompensasi
ini dapat diterapkan. Untuk tipe kompensasi berdasarkan waktu, biasanya fotografer atau jasa
fotografi telah menetapkan harga sekian rupiah per jam, atau sekian rupiah per sekian jam
untuk peliputan acara tersebut. Atau, fotografer telah menetapkan paket-paket tertentu untuk
jenis kompensasi berdasarkan produk. Misalnya, dengan mengambil paket A, pelanggan akan
mendapatkan foto liputan sebanyak 80 foto yang dikemas dalam satu buku album foto, sebuah
foto ukuran besar, dan 5 buah foto ukuran sedang. Tidak seperti fotografi peliputan acara yang
menerapkan dua tipe kompensasi, fotografi potret atau studio biasanya hanya menerapkan
kompensasi berdasarkan produk. Hal ini karena waktu pemotretan yang dibutuhkan tidak
selama fotografi peliputan acara.

B.5 Fotografer lepas (Freelance)


Fotografi komersial adalah salah satu bidang fotografi yang paling menguntungkan. Fotografi
komersial menjual ide dan konsep unik, yang diharapkan mampu menarik perhatian. Semakin
unik ide dan konsep yang ditawarkan, semakin tinggi pula kompensasi yang bisa didapatkan. Jam
terbang juga berperan dalam meningkatkan pendapatan dalam fotografi komersial. Kompensasi
yang diterima dari fotografi komersial sangat berorientasi pada hasil akhir produk.
Fotografi komersial merupakan fotografi yang dapat bersinggungan langsung dengan berbagai jenis
industri, terutama dengan bagian pemasaran suatu perusahaan, atau dengan agen periklanan yang
bekerjasama dengan industri-industri tersebut. Dalam pola kerja dari bisnis fotografi komersial,
biasanya fotografer menerima order dari pelanggan tentang bagaimana sebuah foto akan diproduksi.
Pelanggan akan secara khusus meminta fotografer untuk memproduksi foto dengan spesifikasi tertentu.
Pelanggan dan fotografer akan cukup intens membahas ide dan konsep foto di tahap kreasi, sehingga
dicapai kesepakatan antara kedua belah pihak mengenai konsep final dari foto yang akan diproduksi.
Selain fotografer yang dikontrak, dalam fotografi jurnalistik juga dikenal dengan yang namanya
fotografer lepas atau freelance. Fotografer ini tidak dikontrak satu media, namun hasil karya
fotonya dapat dibeli banyak media. Model bisnis seperti ini dikenal dengan nama fotografi stok.

B.6 Individu (Seniman Fotografi)


Oleh karena fotografi seni adalah fotografi yang lebih menitikberatkan pada unsur dan nilai seni
dibandingkan fotografi sebagai komoditas, maka biasanya pola kerja dalam fotografi seni berdasarkan
inisiatif dan keinginan fotografer itu sendiri. Tahap kreasi, praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi
didominasi fotografer, yang juga berperan sebagai seorang seniman. Dengan begitu, fotografer dapat
mengontrol keseluruhan aspek yang terjadi dalam proses menghasilkan foto seni. Kompensasi yang
diberikan untuk karya foto seni berdasarkan nilai seni pada produk foto (product-oriented) tersebut.

B.7 In-House
Salah satu contoh jasa fotografi yang bekerja sebagai bagian yang terintegrasi di dalam perusahaan
media adalah fotografi jurnalistik. Fotografer jurnalistik terikat kontrak dengan media. Umumnya,
ia menjalankan tugas untuk menghasilkan foto-foto yang diminta atau dipesan media tempat
seorang fotografer bekerja. Untuk media massa seperti koran, fotografer biasanya diminta memotret
peristiwa-peristiwa sosial, politik, dan budaya yang sedang berlangsung di masyarakat. Untuk

60

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

media yang khusus meliput mode, tentu saja fotografer diminta memotret acara-acara yang
berkaitan dengan mode. Pemberian kompensasi bagi fotografer jurnalistik biasanya berdasarkan
standar gaji yang telah ditentukan media tempat dia bekerja.

B.8 Sekolah dan Kursus Fotografi


Sekolah dan kursus fotografi mulai berkembang dalam beberapa tahun belakangan ini. Berbeda
dengan workshop yang biasanya berlangsung dalam waktu singkat (12 hari) dan hanya mengajarkan
hal-hal mendasar dalam fotografi, sekolah dan kursus fotografi menawarkan program yang lebih
lengkap dan relatif lebih lama. Program-program yang ditawarkan dalam sekolah dan kursus
fotografi biasanya berupa paket-paket program dengan fokus materi pengajaran tertentu dan
diselenggarakan dalam waktu tertentu, misalnya program dasar-dasar fotografi yang dilakukan
selama 810 pertemuan dengan jadwal pertemuan seminggu sekali. Sekolah dan kursus ini juga
memiliki program yang dibuat berdasarkan tingkatan kemahiran seperti dasar, menengah, dan
tingkat lanjut.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Fotografi Indonesia

61

62

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Fotografi 20152019

BAB 3
Kondisi Umum Fotografi
di Indonesia

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

63

3.1 Kontribusi Ekonomi Fotografi


Perkembangan fotografi Indonesia memberikan dampak ekonomi yang semakin besar pada negara,
baik secara langsung maupun tidak. Hal ini menyebabkan penghitungan kontribusi ekonomi
dalam industri fotografi dinilai cukup penting. Tujuan penghitungan ini adalah untuk melihat
seberapa besar potensi yang dimiliki industri fotografi, sehingga dapat terus dikembangkan.
Kontribusi ekonomi dilihat pada empat aspek yaitu, berbasis produk domestik bruto (PDB);
berbasis ketenagakerjaan; berbasis aktivitas perusahaan; dan berbasis konsumsi rumah tangga.
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Film, Video, dan Fotografi
INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

Berbasis Produk Domestik Bruto

Nilai Tambah
Subsektor (ADHB)*

Miliar
Rupiah

5,587.71

6,466.84

7,399.80

8,401.44

6,963.95

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
Terhadap Ekonomi
Kreatif (ADHB)*

Persen

1.18

1.23

1.28

1.31

1.25

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
Terhadap Total
PDB (ADHB)*

Persen

0.09

0.09

0.09

0.09

0.09

Pertumbuhan Nilai
Tambah Subsektor
(ADHK)**

Persen

7.74

6.82

6.27

6.94

Berbasis Ketenagakerjaan

Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

Orang

56,937

60,006

62,495

63,755

60,798

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

0.50

0.51

0.53

0.54

0.52

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

0.05

0.05

0.06

0.06

0.06

Pertumbuhan
Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

Persen

5.39

4.15

2.02

3.85

Produktivitas
Tenaga Kerja
Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

98,139

107,771

118,406

131,777

114,023

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

Berbasis Aktivitas Perusahaan

Jumlah
Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

27,239

28,155

28,992

29,785

28,543

Kontribusi Jumlah
Perusahaan
terhadap Jumlah
Perusahaan
Ekonomi Kreatif

Persen

0.52

0.53

0.54

0.55

0.53

Kontribusi Jumlah
Perusahaan
terhadap Total
Usaha

Persen

0.05

0.05

0.05

0.05

Pertumbuhan
Jumlah
Perusahaan

Persen

3.36

2.97

2.74

3.02

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta
Rupiah

595,839.00

596,302.39

612,306.27

639,438.51

610,971.54

Kontribusi
Ekspor Subsektor
Terhadap Ekspor
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

0.62

0.57

0.56

0.54

0.57

Kontribusi
Ekspor Subsektor
Terhadap Total
Ekspor

Persen

0.04

0.03

0.03

0.03

0.03

Pertumbuhan
Ekspor Subsektor

Persen

0.08

2.68

4.43

2.40

Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

Nilai Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor

Juta
Rupiah

910,317.00

1,052,832.32

1,173,625.13

1,331,063.50

1,116,959.49

Kontribusi
Konsumsi Rumah
Tangga Subsektor
terhadap
Konsumsi Sektor
Ekonomi Kreatif

Persen

0.14

0.15

0.15

0.15

0.15

Kontribusi
Konsumsi Rumah
Tangga terhadap
Total Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

0.02

0.03

0.03

0.03

0.03

Pertumbuhan
Konsumsi Rumah
Tangga

Persen

15.66

11.47

13.41

13.51

*ADHB = Atas Dasar Harga Berlaku

**ADHK = Atas Dasar Harga Konstan

Sumber: Badan Pusat Statistik (2013), diolah

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

65

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


Nilai Tambah Bruto pada 2013 sebesar Rp 8,4 triliun. Rata-rata pertumbuhan NTB antara
20102013 sebesar 6,94%. Berikut ini kontribusi subsektor film, video, dan fotografi terhadap
PDB industri kreatif Indonesia pada 2013:
Gambar 3-1 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap PDB Industri Kreatif Indonesia tahun 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik

66

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Jumlah tenaga kerja subsektor film, video, dan fotografi pada 2013 sebanyak 63.755 orang. Ratarata pertumbuhan antara 20102013 sebesar 3,85%. Berikut ini kontribusi subsektor film, video,
dan fotografi terhadap total tenaga kerja industri kreatif Indonesia pada 2013:
Gambar 3-2 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap
Ketenagakerjaan Industri Kreatif Indonesia tahun 2013

KONTRIBUSI TERHADAP TOTAL TENAGA KERJA INDUSTRI KREATIF (2013)


Periklanan; 0.17%
Arsitektur; 0,36%
Seni Rupa; 0.13%
Arsitektur; 0.36%

Kuliner; 31.48%

Riset & Pengembangan; 0.13%

Kerajinan; 26.19%

Mode; 32.33%

Radio & Televisi; 1.08%


Teknologi Informasi; 0.58%
Penerbitan & Percetakan; 4.26%

JUMLAH TENAGA KERJA (2013)

Seni Pertunjukan; 0.67%


Musik; 0.47%

63.755

Permainan Interaktif; 0.20%

RATA-RATA PERTUMBUHAN TK
INDUSTRI KREATIF (2010-2013)

1.09%

RATA-RATA PERTUMBUHAN TK
INDONESIA (2010-2013)

0.79%

RATA-RATA PERTUMBUHAN
TENAGA KERJA (2010-2013)

3,85%

Sumber: Badan Pusat Statistik

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

67

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Pada 2013 jumlah unit usaha subsektor film, video, dan fotografi adalah sebesar 29.785 unit
usaha. Rata-rata pertumbuhan unit usaha pada 20102013 sebesar 4,53%. Berikut ini kontribusi
subsektor film, video, dan fotografi terhadap jumlah unit usaha industri kreatif Indonesia pada 2013:
Gambar 3-3 Kontribusi Subsektor Film, Video, dan Fotografi Terhadap Aktivitas Perusahaan
Industri Kreatif Indonesia Tahun 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik

68

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Konsumsi rumah tangga subsektor film, video, dan fotografi pada 2013 sebesar Rp 1,331 miliar.
Rata-rata pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada 20102013 sebesar 13,53%. Berikut ini
kontribusi subsektor film, video, dan fotografi terhadap konsumsi rumah tangga industri kreatif
Indonesia pada 2013:
Gambar 3-4 Kontribusi subsektor Film, Video, dan Fotografi terhadap Konsumsi Rumah Tangga
Industri Kreatif Indonesia tahun 2013

KONTRIBUSI TERHADAP TOTAL KONSUMSI RT INDUSTRI KREATIF (2013)

Periklanan; 0.01%
Aritektur; 0,05%
Kerajinan; 16.76%

Seni Rupa; 0.16%


Arsitektur; 0.05%

Kuliner; 42.41%

Mode; 32.64%
Desain; 1,1%
Radio & Televisi; 0.33%
Teknologi Informasi; 0.98%
Penerbitan & Percetakan; 4.17%

NILAI KONSUMSI RT (2013)

Seni Pertunjukan; 0.28%


Musik; 0.50%

Rp 1,33 T

Permainan Interaktif; 0.48%

RATA-RATA PERTUMBUHAN KONSUMSI


RT INDUSTRI KREATIF (2010-2013)

10.5%

RATA-RATA PERTUMBUHAN KONSUMSI


RT INDONESIA (2010-2013)

11.5%

RATA-RATA PERTUMBUHAN
KONSUMSI RT (2010-2013)

13,51%

Sumber: Badan Pusat Statistik

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

69

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor


Analisis daya saing subsektor fotografi dilakukan dengan melihat laporan Comtrade dan
UNCTAD. Nilai ekspor subsektor fotografi pada 2013 tercatat sebesar Rp14,936 miliar. Rata-rata
pertumbuhan ekspor pada 20102013 sebesar 9,27%. Berikut ini nilai ekspor dari 20102013:
Gambar 3-5 Nilai Ekspor Fotografi Indonesia 2010-2013 berdasarkan data Comtrade

Menurut data yang didapatkan dari UNCTAD (United Nations Conference on Trade and
Development),8 pertumbuhan nilai ekspor fotografi dari 20082012 sebesar 2,44%. Nilai ekspor
berupa barang (creative goods) di bidang fotografi:
Gambar 3-6 Nilai Ekspor Fotografi Indonesia 2010-2012 berdasarkan data dari UNCTAD

(8) Berdasarkan United Nations Conference on Trade and Development. Tautan: http://unctadstat.unctad.org/wds/
ReportFolders/reportFolders.aspx. Terakhir diakses pada Juni 2014.

70

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Data Comtrade dan UNCTAD menunjukkan adanya kecenderungan yang sama dalam nilai
ekspor fotografi Indonesia, meskipun nominalnya sedikit berbeda (karena perbedaan nilai mata
uang dalam perhitungan): dari 2010 ke 2011 terjadi penurunan, sedangkan dari 2011 ke 2012
mengalami kenaikan.

3.2 Kebijakan Pengembangan Fotografi


3.2.1 Kebijakan Hak Cipta
Penggunaan foto yang membanjiri media saat ini, terutama yang sering ditemui di internet,
pada umumnya jarang memperhatikan hak cipta fotografer. Siapa pun dapat dengan
mudah meng-copy dan menggunakannya kembali untuk kepentingan tertentu. Untuk itu,
seorang fotografer memerlukan perlindungan pemerintah untuk melindungi hak ciptanya.
1

Nama
Peraturan

UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Penjelasan
singkat

Latar Belakang:
Diperlukan adanya perlindungan hak cipta terhadap kekayaan intelektual
yang lahir di Indonesia, dalam hal ini khususnya perlindungan bagi pencipta
dan pemilik hak terkait. Perkembangan dunia industri dan perdagangan
memerlukan revisi atau perubahan terhadap UU Hak Cipta yang ada sebelumsebelumnya.
UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta merupakan UU pengganti dari UU
Hak Cipta yang pernah ada, yaitu UU No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, yang
kemudian diubah dengan UU No. 7 Tahun 1987, dan terakhir diubah dengan UU
No. 12 Tahun 1997.
Tujuan:
UU ini bertujuan untuk mengatur semua hal yang berhubungan dengan hak
cipta yang terjadi di Indonesia.
Tentang:
UU ini berisikan tentang:
Pengertian terkait hak cipta
Dasar perlindungan hak cipta
Pengalihan hak cipta
Lingkup hak cipta
Jangka waktu perlindungan suatu ciptaan
Pelanggaran dan sanksi
Prosedur pengajuan permohonan
Keterkaitan dengan fotografi:
Fotografi merupakan bagian dari ciptaan yang dilindungi dalam UU ini
sebagaimana tercantum dalam Pasal 12 tentang ciptaan yang dilindungi poin
nomor 1 huruf j. Kata fotografi juga disebutkan khusus pada pasal 23 (yaitu
mengenai hak untuk mempertunjukkan karyanya dalam suatu pameran), pasal
30 (yaitu tentang hak cipta atas ciptaan), dan bagian penjelasan untuk pasal 17.

Kelemahan
peraturan

UU ini sudah cukup jelas dalam mengatur berbagai hal yang berhubungan
dengan hak cipta untuk bidang fotografi. Kelemahan peraturan ini ada pada
implementasinya di masyarakat.

Kesimpulan

Perlu sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak cipta


fotografi.

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

71

Nama
Peraturan

Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas
Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Hukum dan
Hak Asasi Manusia

Penjelasan
singkat

Latar Belakang:
Negara, dalam hal ini diwakili pemerintah, menetapkan tarif atas pengurusan
hak cipta sebagai penerimaan negara bukan pajak, yang pelaksanaannya
diatur Kementerian Hukum dan HAM.
Tujuan:
UU ini bertujuan mengatur besarnya tarif yang diperlukan dalam mengurus halhal yang berkaitan administrasi yang dilakukan Kementerian Hukum dan HAM.
Salah satunya berhubungan dengan tarif mengurus hak cipta.
Keterkaitan dengan fotografi:
Tarif permohonan pendaftaran suatu ciptaan sebesar Rp300.000 per
permohonan.
Tarif pencatatan lisensi hak cipta sebesar Rp100.000 per nomor daftar.
Tarif permohonan keterangan tertulis mengenai ciptaan terdaftar sebesar
Rp100.000 per permohonan.

Kelemahan
peraturan

Pada praktiknya UU ini tak banyak memberikan pengaruh kepada para fotografer.
Selain karena tarif yang dikenakan dinilai terlalu besar, hak cipta dalam sebuah
karya fotografi sebenarnya telah melekat pada fotografernya sebagaimana telah
dijelaskan dalam UU Hak Cipta. UU ini merupakan salah satu cara untuk melindungi
fotografer agar, apabila hasil karyanya bersinggungan dengan pihak lain dan
kemudian diperkarakan secara hukum, kekuatan hukum yang dimiliki atas hak cipta
fotografi dari seorang fotografer menjadi lebih kuat.

Kesimpulan

Tingginya tarif yang diberlakukan untuk mengurus hak cipta fotografi dinilai
terlalu besar sehingga perlu penyesuaian.

3.2.2 Kebijakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)


1

Nama
Peraturan

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor:


KEP.115/MEN/III/2007 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia sektor Komunikasi subsektor Pos dan Telekomunikasi bidang
Jaringan Telekomunikasi subbidang Jasa Multimedia

Penjelasan
singkat

Latar Belakang:
Dalam menghadapai persaingan global, diperlukan persiapan untuk membentuk
SDM berkualitas yang sesuai dengan tuntutan pasar dan dunia usaha atau
industri. Untuk itu, pihak dunia usaha atau industri tersebut harus dapat
merumuskan standar kualifikasi SDM yang diinginkan, sehingga dapat menjamin
keberlangsungan industri tersebut. Standar Kompetensi Kerja Nasional
Indonesia (SKKNI) merupakan perwujudan dari standar kebutuhan kualifikasi
SDM yang diinginkan suatu industri, yang juga merupakan pengakuan atas
kompetensi yang diharapkan dari orang-orang yang bekerja dalam bidang
tersebut, dalam hal ini sektor multimedia.

72

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Tujuan:
Peraturan ini bertujuan mengatur kualifikasi yang diperlukan atas kompetensi
seseorang yang bekerja dalam bidang industri multimedia di Indonesia.
Apabila seseorang tersebut memenuhi kualifikasi yang ditentukan, maka ia
akan mendapatkan sertifikat kompetensi.
Keterkaitan dengan fotografi:
Kompetensi fotografi yang diatur dalam peraturan ini berhubungan dengan
penggunaan fotografi di dalam industri multimedia dan manfaatnya dalam
mendukung produksi film.
3

Kelemahan
peraturan

Peraturan ini pada dasarnya tidak ditujukan secara khusus untuk orang-orang
yang berprofesi sebagai fotografer, tapi juga untuk orang-orang yang bergelut
di industri multimedia dan film; yang membutuhkan kemampuan dan keahlian di
bidang fotografi dalam mendukung industri multimedia dan produksi film.

Kesimpulan

Kebijakan ini cukup mewakili adanya kolaborasi link and match antara industri
fotografi dengan industri multimedia dan film.

SKKNI khusus bagi profesi fotografi Indonesia masih dalam proses pembentukan. Prosesnya
dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi, kami belum bisa mengevaluasi
kebijakan SKKNI Fotografi Indonesia dalam buku ini.
Harapannya, kebijakan-kebijakan yang dibuat beberapa Kementerian ini tidak akan merugikan para
fotografer Indonesia. Perlu adanya kolaborasi antar Kementerian dalam mewadahi para fotografer
Indonesia, agar mereka memiliki kejelasan saat berhubungan dengan pihak pemerintah dalam
menghadapi atau menangani persoalan tertentu di bidang fotografi di Indonesia. Selain itu, koordinasi
yang baik diperlukan untuk menghindari tanggung jawab yang tumpang-tindih dan memastikan
bahwa semua hal yang berkenaan dengan fotografi memiliki penanggungjawab di level pemerintahan.

3.2.3 Kebijakan Ruang Publik


1

Nama
Peraturan

Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Penerimaan
Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Kehutanan

Penjelasan
singkat

Latar Belakang:
Negara, dalam hal ini diwakili pemerintah, menetapkan tarif atas pemanfaatan
hutan, yang pelaksanaannya diatur Kementerian Kehutanan. Perubahan
struktur organisasi Kementerian Kehutanan mendorong perubahan terhadap
PP No. 59 Tahun 1998 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) yang berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan
sebagaimana terakhir diubah dengan PP No. 92 Tahun 1999 tentang perubahan
kedua atas PP No. 59 Tahun 1998.
Tujuan:
UU ini bertujuan mengatur besarnya tarif yang yang berkaitan tanggung jawab
Kementerian Kehutanan dalam menjaga fasilitas-fasilitas hutan sebagai
tempat wisata dan juga tempat perlindungan tumbuhan dan satwa.

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

73

Keterkaitan dengan fotografi:


Biaya-biaya yang diberlakukan untuk keperluan fotografi, di antaranya,
sebagai berikut:
Tarif snapshot film komersial (video komersial, handycam, foto) sebesar
Rp250.000 per paket. Merupakan bagian dari Pungutan Kegiatan Wisata
Alam di Kawasan Pelestarian Alam (Taman Nasional, Taman Wisata
Alam), dan Taman Buru (huruf a); merupakan bagian dari Pungutan Jasa
Kegiatan Wisata Alam (nomor 2); merupakan bagian dari Penerimaan
dari Pemanfaatan Jasa Lingkungan (huruf D); merupakan bagian dari
Pemanfaatan Jasa Lingkungan Alam (nomor XVI).
Tarif pengambilan gambar di darat, perairan, dan dari udara dalam bentuk
film dan foto komersial di:
1. Kawasan Pelestarian Alam (Taman Nasional dan Taman Wisata Alam)
dan Taman Buru sebesar Rp20.000.000 per paket bagi WNA, dan
Rp10.000.000 per paket bagi WNI;
2. Kawasan Suaka Alam (Cagar Alam dan Suaka Margasatwa) sebesar
Rp4.000.000 per paket bagi WNA, dan Rp2.000.000 per paket bagi WNI.
Merupakan bagian dari Pungutan untuk kegiatan penelitian, pengambilan
gambar, serta pengambilan dan pengangkutan spesimen tumbuhan
dan satwa liar (nomor 6); merupakan bagian dari Pungutan Usaha
Pemanfaaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (huruf B); merupakan bagian dari
Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (nomor XVII).
Tarif jasa penyewaan rusa untuk fotografi/sinematografi sebesar
Rp100.000 per ekor per jam. Tertera pada bagian Produk Samping Hasil
Penelitian (nomor XVII).
3

Kelemahan
peraturan

1. UU ini belum mencantumkan kegiatan fotografi yang bersifat nonkomersial.


Hal ini berpotensi menimbulkan pertentangan di lapangan yaitu, pihak
berwenang (dalam hal ini penanggung jawab fasilitas di tempat wisata)
dapat mencurigai bahwa segala kegiatan fotografi bersifat komersial.
2. Batas-batas antara fotografi dengan tujuan komersial dan nonkomersial
belum jelas, sehingga fotografer dapat berpura-pura dengan menyatakan
bahwa kegiatan fotografinya tidak bertujuan komersial agar terbebas dari
tarif yang ditentukan.

Kesimpulan

Pada dasarnya UU ini sudah cukup baik dalam menerapkan tarif sebagai
kompensasi pemeliharaan fasilitas. Alasan tersebut dapat diterima, mengingat
risiko yang mungkin terjadi selama proses produksi. Namun, sayangnya, saat ini
batas antara fotografi komersial dan nonkomersial cukup bias, sehingga UU ini
berpotensi menemui hambatan dalam pelaksanaannya.

Selain kebijakan yang dikeluarkan Kementerian, ada pula kebijakan yang dikeluarkan pemerintah
daerah yang berhubungan dengan penggunaan fasilitas publik yang biasanya berupa retribusi,
seperti misalnya:

Peraturan yang dikeluarkan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta
tentang prosedur pemakaian lokasi taman pemakaman untuk syuting film.9 Adapun
yang diatur dalam peraturan tersebut adalah kewajiban bagi penanggung jawab (pemilik
proyek seperti produser atau penanggung jawab produksi) untuk mengisi formulir dengan
melampirkan:
a. Fotokopi KTP (SKTLD) pemohon.
b. Membuat pernyataan sanggup memelihara ketertiban di TPU.

(9) Prosedur Pemakaian Lokasi Taman Pemakaman untuk Shooting Film, situs web Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. Tautan: http://pertamananpemakaman.jakarta.go.id/web/berita/69/prosedur-pemakaianlokasi-taman-pemakaman-untuk-shooting-film Terakhir diakses pada 18 Agustus 2014.

74

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

c. Membayar retribusi sesuai Perda No.1 Tahun 2006, sebagai berikut:


12 hari: Rp1.000.000 per lokasi
34 hari: Rp1.500.000 per lokasi
58 hari: Rp2.000.000 per lokasi
Lebih dari 8 hari dikenakan biaya tambahan Rp200.000 per hari per lokasi.

Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen No. 15 Tahun 2011 tentang Retribusi Tempat
Rekreasi dan Olahraga. Dalam peraturan itu, disebutkan bahwa bagi pengusaha fotografi
yang masuk tempat rekreasi dikenakan retribusi setiap unit sebesar Rp3.000 (tiga ribu
rupiah) per hari.10

Selain kebijakan mengenai retribusi yang dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah, beberapa tempat
wisata yang dikelola swasta saat ini juga sudah mulai memberlakukan retribusi bagi pengunjung
yang menggunakan fasilitas untuk keperluan fotografi komersial. Salah satu contohnya adalah di
Kawasan Wisata Alam Mangrove di kawasan Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara.
Berikut ini daftar kumpulan ruang publik di enam provinsi yang memberlakukan retribusi atau
pungutan untuk penggunaan kamera dengan segala jenis dan tujuan.11
1

DKI Jakarta

Taman Prasati
Taman Langsat
Jl. SudirmanJl. Thamrin
Taman Jl. Imam Bonjol
Taman Kota II BSD (Serpong)
Taman Menteng
Perumahan Pantai Indah Kapuk
Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah
Stasiun Kota
Stasiun Tanjung Priok
Halte Gedung BEJ Kuningan

Jawa Barat

Kebun Raya Bogor (resmi, dicantumkan dalam brosur wisata)


Gua Sunyaragi, Kota Cirebon
Waduk Dharma dan Palutungan, Kuningan
Stasiun KA Kejaksan, Kota Cirebon
Kawah Putih, Ciwidey
Kebun Raya Cibodas
Taman Bunga, Puncak
Tangkuban Perahu, Bandung (resmi, dicantumkan dalam brosur wisata)
Ciater Highland Resort, Subang
Waduk Jatiluhur, Purwakarta
Pintu air bendungan Walahar, Kerawang

(10) Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 15 Tahun 2011 Tanggal 25 April 2011. Mulai Berlaku di Lembaran
Daerah 11 Mei 2011 Tentang Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga. Tautan: http://www.kebumenkab.go.id/index.
php/public/page/index/128 Terakhir diakses pada18 Agustus 2014.
(11) Retribusi Kamera di Kawasan Wisata dan Ruang Publik, Resmikah? www.teamtouring.net, 11 Januari 2012.
Tautan: http://teamtouring.net/retribusi-kamera-di-kawasan-wisata-dan-ruang-publik-resmikah.html Terakhir
diakses pada 18 Agustus 2014.

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

75

Jawa Tengah

Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Kompleks Kraton Ratu


Boko (resmi, dikelola PT Taman Wisata Candi bekerja sama dengan
Kemenparekraf)
Lawang Sewu, Semarang
Alas Karet (Alaska), Semarang
Museum Radyapustaka, Solo

Yogyakarta

Kraton Yogyakarta (resmi, dikelola Kraton dan Pemerintah Kota


Yogyakarta)
Candi Sambisari
Candi Plaosan (tidak resmi)
Museum Benteng Vredeburg (dikeluarkan oleh koperasi museum)
Istana Air Taman Sari

Jawa Timur

Pantai Kenjeran, Surabaya


Kebun Raya Purwodadi
Kawah Ijen, Bondowoso

Bali

Taman Ujung, Karangasem


Mangrove Center, Denpasar

Permasalahan yang sering terjadi terkait dengan kebijakan ruang publik adalah tarif khusus
yang dibebankan kepada fotografer atau penanggung jawab produksi, sebagai kompensasi dalam
menggunakan fasilitas ruang publik tersebut. Pihak stakeholder merasa perlu memberlakukan
tarif khusus karena menilai fotografi dengan tujuan komersial akan mendapatkan keuntungan
lebih daripada fasilitas yang disediakan, dan juga berpotensi menyebabkan kerusakan fasilitas
disebabkan peralatan-peralatan pendukungnyaatau mengganggu pengunjung lain yang sedang
menikmati fasilitas ruang publik. Namun sayangnya, kebijakan tarif yang dibuat sering tidak
transparan. Hal ini menyebabkan terjadinya pungutan liar.
Selain masalah pungutan liar, diperlukan juga ketentuan mengenai batasan yang jelas antara
kegiatan fotografi komersial dan nonkomersial. Ketentuan pembatasan ini bertujuan agar
penerapan tarif dapat tepat sasaran. Kelak, para fotografer profesional ini dapat menentukan
harga yang tepat kepada konsumennya bila proyek yang mereka kerjakan berhubungan dengan
tempat-tempat publik yang memiliki ketentuan perizinan.
Di beberapa negara Eropa seperti Swiss dan Inggris, batasan antara fotografi komersial dan
nonkomersial dapat ditandai penggunaan tripod. Di tempat-tempat tertentu, selama belum ada
tripod yang digunakan dalam pemotretan, maka tidak perlu izin resmi untuk memotret. Perizinan
biasanya baru diperlukan di tempat-tempat yang berhubungan dengan masalah keamanan seperti
di jalan raya, stasiun kereta, pusat perbelanjaan (mal), dan lain-lain. Perizinan juga diperlukan
di tempat-tempat wisata yang memiliki ketentuan khusus untuk memotret seperti di The Shard,
London Bridge, London Eye, dan museum-museum di Inggris. Hal ini dapat menjadi alternatif
solusi untuk diterapkan di ruang-ruang publik di Indonesia.

(12) Kode Etik Jurnalistik, dalam Peraturan Dewan Pers, pada situs web www.dewanpers.or.id. Tautan: http://www.
dewanpers.or.id/page/kebijakan/peraturan/?id=513 Terakhir diakses pada 18 Agustus 2014.

76

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Penggunaan Kamera SLR di Taman Wisata Alam Mangrove Dikenakan Denda 1 Juta Rupiah
Beberapa waktu lalu Taman Wisata Alam Mangrove di kawasan Pantai Indah Kapuk, Penjaringan,
Jakarta Utara, melarang pengunjungnya menggunakan kamera SLR di dalam kawasannya.
Pengunjung yang kedapatan menggunakan kamera SLR dikenakan denda sebesar Rp1.000.000
oleh petugas. Sayangnya, aturan tersebut tidak dinyatakan secara transparan kepada pengunjung.
Ketika pengunjung berdalih bahwa tidak ada peraturan tertulis yang melarang penggunaan
kamera SLR di kawasan tersebut, petugas tidak dapat memberikan keterangan yang jelas.
Sumber: http://www.merdeka.com/peristiwa/foto-pakai-slr-di-wisata-alam-mangrove-warga-didenda-rp-1-juta.
html diakses 19 Agustus 2014.

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

77

3.2.4 Kebijakan Pers


Pers diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
1

Nama
Peraturan

Peraturan Dewan Pers mengenai Kode Etik Jurnalistik

Penjelasan
singkat

Latar Belakang dan Tujuan:


Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia
yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana
masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi
kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam
mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari
kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat,
dan norma-norma agama. Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban
dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers
dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk
memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan
moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga
kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas
dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik.
Keterkaitan dengan fotografi:
Kode Etik ini memuat 2 pasal yang berhubungan dengan fotografi, yaitu:
1. Pasal 2: Wartawan Indonesia menempuh cara-cara profesional dalam
melaksanakan tugas jurnalistik.
Penafsiran mengenai cara-cara profesional yang berhubungan dengan
fotografi dijelaskan pada:
poin e, yaitu rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran
gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber
dan ditampilkan secara berimbang; dan,
poin f, yaitu menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam
penyajian gambar, foto, suara.
2. Pasal 4: Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis,
dan cabul. Berikut penafsiran pasal ini:
a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh
wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.
b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja
dengan niat buruk.
c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.
d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan
foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk
membangkitkan nafsu berahi.
e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan
mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

Kelemahan
peraturan

Kebijakan ini hanya terbatas pada pers dan tidak untuk umum. Padahal, saat
ini penetrasi informasi melalui Internet sudah sangat mudah untuk dijangkau
siapa saja, bahkan hingga anak di bawah umur. Batasan-batasan seperti
gambar atau foto-foto yang bohong, fitnah, cabul, dan sadis, juga dapat
dikonsumsi secara sengaja maupun tidak sengaja oleh masyarakat. Hal ini
dapat menyebabkan kebingungan dan keresahan.

Kesimpulan

Ada baiknya kode etik jurnalistik diadopsi ke dalam kebijakan isi. Saat ini,
dengan berkembangnya Internet, siapa pun bisa menjadi penyampai atau
pembawa berita.

78

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

3.2.5 Kebijakan Konten


1

Nama
Peraturan

UU No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Penjelasan
singkat

Latar Belakang:
Kian berkembang luasnya pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan
pornografi di tengah masyarakat dapat mengancam kehidupan dan tatanan
sosial masyarakat Indonesia, sehingga kita perlu peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pornografi. Peraturan yang ada saat ini
belum bisa memenuhi kebutuhan hukum serta perkembangan masyarakat.
Tujuan:
Sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 di dalam UU ini, Undang-Undang ini
bertujuan:
a. mewujudkan dan memelihara tatanan kehidupan masyarakat yang
beretika, berkepribadian luhur, menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan
Yang Maha Esa, serta menghormati harkat dan martabat kemanusiaan;
b. menghormati, melindungi, dan melestarikan nilai seni dan budaya, adat
istiadat, dan ritual keagamaan masyarakat Indonesia yang majemuk;
c. memberikan pembinaan dan pendidikan terhadap moral dan akhlak
masyarakat;
d. memberikan kepastian hukum dan perlindungan bagi warga negara dari
pornografi, terutama bagi anak dan perempuan; dan
e. mencegah berkembangnya pornografi dan komersialisasi seks di
masyarakat.
Keterkaitan dengan fotografi:
Dalam Undang-Undang ini, yang dimaksud dengan pornografi adalah gambar,
sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi,
kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai
bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat
kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam
masyarakat.
Dalam menghasilkan karya fotografi, siapa pun tidak diperbolehkan memuat
konten pornografi. Pelanggar aturan ini akan dikenakan sanksi pidana
sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang.

Kelemahan
peraturan

Kebijakan ini membatasi ruang ekspresi karya seni rupa, dalam hal ini karya
fotografi. UU tersebut tidak menjelaskan secara jelas eksploitasi seksual dan
norma kesusilaan yang dimaksud pada pasal 1, sehingga semua konten yang
menunjukkan gambar bagian seksual manusia dianggap pornografi.

Kesimpulan

Perlu dicarikan solusi tentang bagaimana dapat meningkatkan literasi dari


kreator maupun konsumen, sehingga kebebasan berekspresi dibarengi
dengan kematangan dan tanggungjawab sosial dari pencipta dan konsumsi
disertai dengan kemampuan memilih, memilah dan memaknai apa yang
dirasakan atau ditangkap oleh pancaindera.

3.3 Struktur Pasar Fotografi


Karena jumlah pemainnya sangat banyak, secara umum struktur pasar subsektor fotografi adalah
pasar persaingan sempurna. Sebagai perbandingan, pada 2012 jumlah fotografer di Amerika Serikat
mencapai 136.300 orang. Jumlah fotografer Indonesia masih jauh di bawah itu. Tercatat tenaga kerja
yang diserap usaha fotografi sekitar 7.158 orang, dengan pertumbuhan rata-rata 5,8% setiap tahunnya
sepanjang 20022010. Jumlah usaha fotografi yang berhasil dicatat adalah sekitar 611 usaha. Namun

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

79

jumlah tersebut sebenarnya kurang mewakili kondisi sebenarnya yang terjadi di masyarakat. Pasalnya,
dalam melakukan pekerjaannya, seorang fotografer dapat bertindak tanpa diketahui banyak pihak.
Bila dilihat lebih jauh, maka struktur pasar di subsektor fotografi dapat dilihat melalui masing-masing
ruang lingkupnya yaitu, fotografi jurnalistik, fotografi komersial, dan fotografi seni. Persaingan
dalam ruang-ruang lingkup tersebut mengandung persaingan pasar yang lebih spesifik lagi.

A. Struktur Pasar Fotografi Jurnalistik


Pasar fotografi jurnalistik merupakan bagian dari struktur pasar industri media karena fotografer
jurnalistik merupakan bagian utama dari media itu sendiri. Di Indonesia, dengan banyaknya
pemain di industri media, maka struktur pasar untuk fotografi jurnalistik adalah pasar persaingan
sempurna.
Struktur pasar dalam ruang lingkup fotografi jurnalistik berkaitan dengan dua jenis fotografer, yaitu:

fotografer jurnalistik yang bekerja secara tetap di media, dan

fotografer jurnalistik yang bekerja secara lepas.

Untuk menjadi seorang fotografer jurnalistik, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui seperti
halnya seorang karyawan baru di sebuah perusahaan. Sebagai contoh, di sebuah media massa
di Bandung, untuk menjadi seorang fotografer jurnalistik media maka seorang fotografer harus
melewati masa magang selama 6-9 bulan sebelum diangkat menjadi karyawan tetap.
Sedangkan untuk menjadi fotografer jurnalistik lepas, entry barrier-nya lebih rendah dibandingkan
dengan fotografer jurnalistik media. Karena untuk menjadi seorang fotografer jurnalistik lepas
seorang fotografer tidak perlu memiliki latar belakang pendidikan dengan tingkatan tertentu,
ia juga memiliki fleksibilitas waktu dan tempat dalam bekerja dan berkarya, serta tidak terikat
dengan target pekerjaan. Seorang fotografer jurnalistik lepas dapat bekerja dengan 2 cara, yaitu
(1) melalui kontrak dengan media untuk tugas khusus, atau (2) dengan cara mengirimkan foto
seputar kejadian-kejadian aktual yang sedang berlangsung kepada media. Bahkan saat ini dengan
semakin berkembangnya internet, media dapat mencari foto dari blog ataupun media sosial
sebagai sumber foto, tentunya dengan meminta izin pemiliknya, mencantumkan sumber dan
fotografernya, serta memberikan imbalan.

B. Struktur Pasar Fotografi Komersial


Pada fotografi komersial, struktur pasarnya dapat dilihat dari variasi strategi bisnisnya yang dapat
dibagi menjadi 3 yaitu (1) low volume high price, (2) mid volume mid price, dan (3) high volume low
price. Ketiga jenis bisnis fotografi tersebut dapat secara gamblang memperlihatkan struktur pasar di
dalam ruang lingkup fotografi komersial. Terlihat bahwa semakin rendah volumenya, maka semakin
rendah pula persaingannya. Strategi bisnis tersebut dapat dilakukan bidang fotografi mana pun
seperti jasa fotografi perkawinan, fotografi produk komersial, fotografi mode, atau jasa studio foto.
Pada pasar low volume high price, para pemainnya relatif lebih sedikit dan eksklusif karena harga
yang ditawarkan memang cukup tinggi. Tingginya harga yang ditawarkan biasanya karena pemain
di kelas ini telah memiliki reputasi baik yang cukup lama, dan memiliki diferensiasi teknik atau
produk (dalam bentuk hasil foto ataupun jasa) yang sulit disaingi para pemain lain. Harga yang
ditawarkan di kelas ini berkisar di atas 50 juta rupiah. Bahkan saat ini ada yang menawarkan
harga paket fotografi perkawinan hingga ratusan juta rupiah.

80

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Pada pasar mid volume mid price, pemainnya relatif lebih banyak daripada pasar low volume high
price, namun tidak sebanyak high volume low price. Harga menengah ini dikarenakan reputasi yang
dimiliki bisnis fotografi tersebut belum lama atau diferensiasi produknya tidak terlalu unik. Harga
yang ditawarkan pada pasar menengah ini berkisar antara belasan hingga puluhan juta rupiah.
Pemain pada pasar high volume low price biasanya diisi para pemain baru dan pemain lama yang
memang menyasar pada pasar yang besar. Para pemain baru ini biasanya didominasi fotografer
yang mulai beralih dari fotografi amatir ke fotografi profesional. Fotografi yang tadinya hanya
sebagai hobi kemudian dikembangkan menjadi sumber penghasilan. Dalam tahap ini, tentunya
fotografer masih dalam usaha membangun reputasinya. Untuk itu, harga yang ditawarkan
kepada konsumen juga masih rendah. Sementara itu, dari pemain lama di pasar ini, tidak banyak
diferensiasi produk yang diberikan kepada konsumen. Perlu waktu lebih lama dalam menghasilkan
karya foto untuk menciptakan diferensiasi, sehingga demi mendapatkan volume pasar yang
besar, diferensiasi produk tidak dijadikan prioritas dalam bisnis. Di pasar ini terjadi persaingan
sempurna karena jumlah pemain dan juga permintaannya sangat banyak.

C. Struktur Pasar Fotografi Seni


Pasar di bidang fotografi seni ini tidak seperti pasar fotografi jurnalistik dan komersial. Meskipun
pemainnya cukup banyak, jumlahnya tidak sebanyak pada fotografi jurnalistik dan komersial.
Karena karya fotonya lebih dilihat sebagai karya seni, maka pemain serta konsumennya pun
sangat berbeda. Pemain di fotografi seni lebih dikenal dengan profesinya sebagai seniman foto
daripada fotografer. Untuk itu, barrier to entry dalam pasar fotografi seni dapat dikatakan sangat
tinggi karena diperlukan pemahaman mendalam terhadap karya seni. Di Indonesia, pemain di
pasar fotografi seni hanya dalam kisaran belasan orang. Maka dapat disimpulkan bahwa struktur
pasar pada fotografi seni adalah pasar monopolistik atau niche market.

3.4 Daya Saing Fotografi


Gambar 3-7 Daya Saing subsektor Fotografi

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

81

Selain dilihat dari nilai ekspor, daya saing industri kreatif (dalam hal ini industri fotografi)
juga dapat dilihat dari 7 faktor penyokongnya, yaitu 1) sumber daya kreatif, 2) sumber daya
pendukung, 3) industri fotografi, 4) pembiayaan, 5) pemasaran, 6) infrastruktur dan teknologi,
dan 7) kelembagaan. Gambar 37 menunjukkan daya saing fotografi dari ketujuh faktor tersebut.
Nilai-nilai tersebut didapatkan melalui pendekatan kekuatan dan kekurangan yang ada pada
masing-masing faktor. Nilai skala 0 menandakan bahwa faktor tersebut sangat tidak memadai,
sedangkan nilai skala 10 mengindikasikan faktor tersebut sangat memadai. Nilai skala 5
mengindikasikan bahwa faktor tersebut cukup memadai, namun tidak dapat meningkatkan atau
menumbuhkan potensi industri.
Faktor sumber daya kreatif mendapatkan nilai 4,6. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya
wadah untuk memproduksi fotografer seperti insitutsi pendidikan (formal dan nonformal) dan juga
komunitas. Kualitas para fotografer lokal juga semakin meningkat. Di samping itu, kesempatan
untuk meningkatkan kualitas fotografer pun semakin terbuka. Namun, di sisi lain, ada hal-hal
yang menghambat pertumbuhan dan peningkatan kualitas fotografer-fotografer baru, seperti
ketiadaan dukungan industri pada institusi pendidikan, belum jelasnya pola jenjang akademis
untuk fotografi, minimnya komunitas yang dapat bertahan lama, dan lain-lain.
Faktor sumber daya pendukung mendapatkan nilai 3,5. Indonesia memiliki kekayaan alam dan
budaya yang merupakan potensi besar dalam industri fotografi. Sayangnya, saat ini belum ada
manajemen pengetahuan di sektor fotografi. Di samping itu, belum ada kejelian pemerintah
untuk mendukung potensi pariwisata melalui fotografi.
Faktor industri fotografi mendapatkan nilai 5,2. Saat ini, Indonesia merupakan pasar menggiurkan
bagi para produsen kamera karena pangsa pasarnya yang terus meningkat. Selain itu, pasar di
Indonesia juga cukup cepat dalam mengikuti perkembangan teknologi fotografi. Namun, sayang,
tingginya tingkat penjualan kamera tak berbanding lurus dengan peningkatan usaha kreatif di
bidang fotografi. Kurang dari 10% konsumen yang membuka usaha fotografi, sedangkan sisanya
untuk kepentingan pribadi.
Faktor pembiayaan mendapatkan nilai 3,7. Permasalahan di sektor pembiayaan tidak hanya
dialami industri fotografi, namun juga oleh industri kreatif pada umumnya. Karena industri kreatif
merupakan sektor baru, saat ini belum ada skema pembiayaan yang sesuai untuk industri kreatif
ini. Skema pembiayaan yang ada saat ini masih menggunakan pendekatan konservatif, pihak
yang membutuhkan modal harus memberikan jaminan aset sebagai syarat peminjaman modal.
Padahal, industri kreatif memiliki ciri ringan modal namun tinggi nilai tambah. Penyusunan skema
pembiayaan yang sesuai bagi industri kreatif oleh para stakeholder diyakini dapat meningkatkan
pertumbuhan industri kreatif.
Faktor pemasaran mendapatkan nilai 5,3. Faktor ini cukup diuntungkan dengan kemajuan
teknologi informasi. Melalui Internet, informasi dapat lebih cepat disalurkan ke publik. Dengan
kata lain, kesempatan untuk memperluas pasar dapat dilakukan lewat media internet. Tidak hanya
memperluas di dalam negeri, pasar luar negeri pun dapat dijangkau dengan internet. Selain itu,
cara-cara konvensional seperti penyelenggaraan pameran juga harus tetap dilakukan.
Faktor infrastruktur dan teknologi mendapatkan nilai 4. Infrastruktur penting dalam industri
fotografi karena akan memengaruhi faktor pemasaran seperti yang telah dijelaskan di atas. Dengan

82

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

dukungan infrastruktur yang baik dan juga teknologi yang tepat guna, kualitas fotografi dapat
ditingkatkan, begitu pun dengan pemasarannya. Pembangunan infrastruktur Indonesia saat
ini masih berorientasi di Jawa dan kota-kota besar. Padahal, masih banyak potensi pariwisata di
daerah-daerah terpencil yang sebenarnya juga merupakan potensi bagi industri fotografi.
Faktor kelembagaan mendapatkan nilai 4. Ini merupakan faktor kunci perkembangan industri
kreatif. Sinergi antara 4 pilar, yaitu institusi pendidikan, pemerintah, industri, dan komunitas,
sangat diperlukan guna menghindari tumpang-tindih pekerjaan dan tanggung jawab dalam
melakukan peran pengembangan industri kreatif di bidang fotografi dan bidang-bidang lainnya.
Masing-masing potensi yang dimiliki keempat pilar tersebut harus dapat digunakan tepat sasaran.
Saat ini, sinergi keempat pilar tersebut belum terbentuk. Masing-masing pilar masih berjalan
sendiri-sendiri meskipun memiliki tujuan sama: memajukan fotografi Indonesia.

3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Fotografi


Berdasarkan hasil FGD (Forum Group Discussion) ke-2 subsektor fotografi yang dilakukan
Kemenparekraf pada 28 Mei 2014, berikut ini prioritas permasalahan di subsektor fotografi:
A. Keberlanjutan (Sustainability) Industri Kreatif Subsektor Fotografi. Permasalahan yang
termasuk dalam ketahanan, yaitu:
Keberpihakan pemerintah pada industri subsektor fotografi nasional (terutama UMKM)
Iklim kondusif dalam industri subsektor fotografi nasional (kemudahan aturan dan
kepastian hukum)
Dukungan pada fotografer lokal untuk melakukan pameran (ruang apresiasi)
Pemberian HAKI pada produk/jasa dalam usaha fotografi (sistem yang lebih mudah)
B. Peningkatan Daya Saing Industri Kreatif Subsektor Fotografi. Permasalahan yang termasuk
dalam daya saing, di antaranya, adalah:
Peningkatan kualitas sumber daya kreatif (capacity building)
Pelaksanaan manajemen pengetahuan (apresiasi, penghargaan, IT & outreach)
Branding fotografi Indonesia
Telaah strategi yang pernah dirumuskan. Me-review kembali strategi dan perencanaanperencanaan yang berjalan dengan baik yang pernah dibuat oleh pemerintahanpemerintahan sebelumnya yang berhubungan dengan fotografi.

No.

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan,
ancaman)

1.

SUMBER DAYA KREATIF

Peningkatan jumlah lembaga pendidikan


fotografi formal dan nonformal.

Komunitas umumnya berumur pendek,


cepat tumbuh namun cepat hilang. Tidak
ada kesinambungan.

Peningkatan lulusan dari pendidikan


formal dalam bidang fotografi.

Komunitas dikelola secara swadaya,


sehingga sering mengalami kendala dalam
keuangan.

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

83

No.

84

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan,
ancaman)

Tumbuhnya komunitas-komunitas baru


di daerah-daerah dan juga komunitas di
dunia maya.

Perkembangan industri fotografi di dunia


tidak dapat diikuti perkembangan fotografi
di dalam negeri di sektor pendidikan.

Cukup banyak fotografer andal yang


membuka sekolah/kursus/kelas fotografi
untuk membagi ilmu dan pengalaman
fotografi mereka.

Belum jelasnya pola jenjang akademis dan


struktur penggajian pengajar di pendidikan
fotografi.

Ketersediaan beasiswa sudah cukup


banyak baik dari pemerintah maupun
swasta.

Perlu adanya dasar untuk mengembangkan


pendidikan fotografi.

Cukup banyak fotografer Indonesia


berkualitas dan dapat bersaing dengan
fotografer luar negeri.

Tidak adanya standarisasi, kriteria, dan


perlindungan untuk pengajar dan lembaga
pendidikan fotografi, penerbitan, dan materi
buku-buku fotografi.

Pendidikan fotografi masih bertujuan untuk


memenuhi permintaan tenaga fotografi.

Tidak ada dukungan dari industri kepada


pendidikan (Contoh kasus: Kodak tak lagi
mensponsori pendidikan film IKJ).

Belum ada kemitraan strategis antara


bisnis industri kreatif dan pendidikan
sebagai penyedia tenaga kreatif.

10

Tidak adanya standarisasi, kriteria, dan


perlindungan untuk praktisi fotografi, juga
peran dan ketentuan juri lomba fotografi.

11

Perlunya perlindungan bagi fotografer


lokal untuk menghadapi persaingan dengan
fotografer luar negeri.

Belum ada manajemen pengetahuan atau


bank data di sektor fotografi.

Belum ada kejelian pemerintah untuk


mendukung potensi pariwisata melalui
fotografi.

2.

SUMBER DAYA PENDUKUNG

Sudah ada upaya dari individu dan


komunitas dalam mengemas nilai budaya
dan sumber daya melalui fotografi.

3.

INDUSTRI

Cukup banyak pemain di bidang jasa


fotografi.

Belum ada pendataan yang baik terhadap


para pelaku fotografi.

Kemudahan akses komunikasi


seharusnya memudahkan terjalinnya
kolaborasi yang cepat dan progresif.

Kolaborasi antarwirausaha kreatif belum


terjalin maksimal.

Kebutuhan fotografi untuk media,


periklanan, dan foto-foto dokumentasi
akan selalu ada, sehingga ada potensi
untuk membuka lapangan kerja baru.

Persaingan dengan negara lain dalam


industri pendukung (album, kertas foto,
frame).

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

No.

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan,
ancaman)

Sudah cukup banyak fotografer yang


memperhatikan brand dalam usaha
mereka.

Kurangnya riset dan inovasi di tiap mata


rantai ekosistem.

Kemudahan akses informasi dapat


membantu transfer ilmu, baik dari segi
teknis dan ilmu bisnis dari negara maju
untuk dapat dikembangkan di dalam
negeri.

Kurangnya dana untuk melakukan riset


dan inovasi yang disebabkan penggunaan
keuntungan untuk membiayai operasional,
padahal keuntungan seharusnya
dialokasikan sebagian saja untuk inovasi.

Dengan potensi sumber daya alam dan


budaya yang dimiliki, Indonesia memiliki
potensi keragaman karya foto yang
melimpah.

Variasi usaha fotografi masih konvensional,


tidak seberagam di negara maju.

Basis industri kreatif saat ini masih pada


tatanan konsumsi, padahal seharusnya
sudah pada tatanan nilai kreatif.

Adanya kesulitan dalam mengukur nilai


jasa.

Masih belum terlihat apresiasi terhadap


hasil fotografi pelaku dalam negeri.

Belum adanya kemudahan untuk meminjam


dana dari sektor jasa keuangan demi
menjalankan bisnis di bidang industri
kreatif.

Minimnya akses informasi terhadap


sumber-sumber maupun alternatif
pembiayaan.

5.

PEMBIAYAAN

Sudah ada alternatif pembiayaan,


meskipun masih berskala mikro atau
kecil.

6.

PEMASARAN

Pasar fotografi tentunya semakin tumbuh


seiring dengan pertumbuhan jumlah dan
pendapatan pendududuk.

Belum ada upaya pemantauan dan


dokumentasi karya-karya fotografer
Indonesia yang masuk ke kancah
internasional.

Peningkatan konsumsi kamera baik itu


sebagai sarana bekerja ataupun untuk
aktualisasi diri.

Belum adanya kebijakan dan model khusus


pengembangan eskpor dan impor dalam
industri fotografi ini.

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

85

No.

86

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

Fotografi dapat berfungsi sebagai


promosi pariwisata yang secara tidak
langsung dapat membuka keran devisa
bagi negara.

Era perdagangan bebas membuka


peluang investasi dan pasar di negara
lain.

Distribusi fotografi semakin luas.

Pemerintah telah mendukung fotografer


untuk berpameran di luar negeri, namun
partisipasi dan akses informasinya perlu
ditingkatkan.

6.

INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan,
ancaman)

Potensi yang ada belum dimanfaatkan


secara optimal.

Tingginya konsumsi alat fotografi dalam


negeri seharusnya dapat memberikan
daya tawar yang lebih dengan produsen
untuk melakukan alih teknologi.

Infrastruktur tidak memadai. Akses dan


jaringan internet masih kurang layak. Harga
alat-alat fotografi mahal.

Kemudahan akses informasi menjadikan


fotografi dapat dipelajari siapa saja
dengan menggunakan teknologi
alternatif.

Ketergantungan terhadap alat-alat fotografi


impor.

Ketergantungan peranti lunak berlisensi.

Masih minimnya pelaku lokal yang


mengembangkan teknologi untuk fotografi.

7.

KELEMBAGAAN

Pengembangan cetak biru ekonomi


kreatif memungkinkan pembuatan
kebijakan baru.

Perlu ada aturan atau edukasi yang


dapat mengarahkan fotografer untuk
lebih menghormati budaya atau kegiatan
keagamaan (etika dan rambu-rambu dalam
kegiatan fotografi).

Sudah ada upaya preventif dari


pemerintah untuk melindungi hak cipta
fotografer.

Perlu ada ketentuan untuk pemotretan di


ruang publik.

Ada pembentukan Forum Fotografi


Indonesia sebagai upaya sinergi
antaraktor.

Masih belum ada regulasi terkait


penciptaan nilai kreatif (creative chain)
dan penataan industri kreatif dan industri
pendukung penciptaan nilai kreatif
(backward and forward linkage).

Ada pembentukan Forum Fotografi


Indonesia penggerak fotografi Indonesia.

Masih kurangnya jenis pembiayaan yang


sesuai untuk industri kreatif.

Isu ekonomi kreatif mulai berkembang


dan mendapat perhatian dari khalayak.

Belum ada regulasi perluasan pasar orang/


usaha kreatif.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

No.

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan,
ancaman)

Pemerintah maupun swasta telah cukup


banyak mengadakan kegiatan fotografi,
baik berupa pemberian penghargaan
maupun perlombaan.

Belum ada regulasi pengembangan dan


penyediaan teknologi dan infrastruktur
pendukung industri kreatif.

Fotografi telah menjadi bagian dari gaya


hidup.

Kebijakan HAKI belum terlaksana baik di


dalam negeri.

Sumber daya budaya lokal semakin


terangkat melalui kegiatan-kegiatan
fotografi di tempat-tempat wisata.

Hubungan quadrohelix (pemerintah,


akademisi, industri, dan komunitas) belum
berjalan. Perlu diperjelas peran dan fungsi
tiap-tiap stakeholder.

Ada tumpang-tindih kewenangan


kementerian dalam menaungi subsektor
fotografi.

BAB 3: Kondisi Umum Fotografi di Indonesia

87

88

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Fotografi 20152019

BAB 4
Rencana Pengembangan
Fotografi Indonesia

BAB 4: Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia

89

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 2015-2019


Arahan RPJPN 2005-2025, pembangunan nasional tahap ketiga (2015-2019) adalah ditujukan untuk
lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan
pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam
dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan iptek yang terus meningkat
Pembangunan periode 2015-2019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 2015- 2019 adalah pembangunan yang kuat, inklusif dan
berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesia yang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur ekonomi dan ketahanan ekonomi yang kuat;
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia di berbagai
wilayah Indonesia secara adil dan merata;
3. Menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah
dan perusahaan yang benar dan baik;
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.
Dalam rancangan teknokratik RPJMN 2015-2019 terdapat enam agenda pembangunan, yaitu: (1)
Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup
dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan; (4)
Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6) Pembangunan Kelautan.
Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan untuk memantapkan
pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta
kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuat landasan
kelembagaan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkan iptek dan kreativitas
serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan solusi atas permasalahan dan
tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan industri
kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.
Secara strategis pengembangan ekonomi kreatif tahun 2015-2019 bertujuan untuk menciptakan
ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.
Sejalan dengan tujuan pengembangan ekonomi kreatif 2015-2019, pengembangan fotografi sebagai
salah satu subsektor ekonomi kreatif juga diarahkan untuk membangun landasan yang kuat agar
mampu memberdayakan seluruh potensi dan pengetahuan yang dimiliki oleh semua sumber
daya manusia fotografi sehingga tercipta profesionalismeyang diperlukan untuk membentuk
mekanisme yang dapat mendukung terbentuknya industri seni pertunjukansehingga mampu
untuk terus menghadirkan karya-karya berkualitas dan menginspirasi kehidupan bermasyarakat
di Indonesia sehingga menjadi mandiri secara ekonomi (finansial).
Pengembangan fotografi dalam lima tahun mendatang dilakukan melalui peningkatan daya saing
dan ketahanan sumber daya manusia kreatif di bidang fotografi; peningkatan perlindungan,
pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya bagi industri
fotografi Indonesia secara berkelanjutan; peningkatan daya saing dan ketahanan industri fotografi
Indonesia secara berkelanjutan; peningkatan akses dan pengembangan pembiayaan yang sesuai;
Perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan; pengembangan
infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif; dan penguatan
kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam pengembangan industri
fotografi Indonesia.

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Fotografi


4.2.1 Visi Pengembangan Fotografi
Berdasarkan kondisi eksternal dan internal fotografi Indonesia dan arahan strategis pembangunan
nasional serta arahan pengembangan ekonomi kreatif 2015-2019, maka visi pengembangan
fotografi dalam jangka waktu lima tahun ke depan adalah :

Industri subsektor Fotografi Indonesia yang memiliki


ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

Ketahanan yang dimaksud adalah adanya keberpihakan Pemerintah dalam melindungi fotografer
lokal dan juga dalam menciptakan lingkungan industri subsektor fotografi Indonesia yang kondusif.

Berdaya saing memiliki arti bahwa dengan kualitas yang dimiliki, seorang fotografer dapat
berkompetisi secara sehat baik di tingkat nasional maupun internasional.
Berkelanjutan adalah tetap menjaga dan meningkatkan nilai-nilai yang telah ada hingga seterusnya.

4.2.2 Misi Pengembangan Fotografi


Misi pengembangan fotografi Indonesia adalah :
1. Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang memiliki
ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

BAB 4: Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia

91

2. Mengembangkan industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan berdaya


saing secara berkelanjutan
3. Mengembangkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas dalam
membangun industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan berdaya saing
dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan

4.2.3 Tujuan Pengembangan Fotografi


Dalam pengembangan fotografi terdapat tujuh tujuan yang ingin dicapai berdasarkan tiga misi utama
yang diemban untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan daya saing dan ketahanan sumber daya manusia kreatif di bidang fotografi.
2. Peningkatan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan
sumber daya budaya bagi industri fotografi Indonesia secara berkelanjutan.
3. Peningkatan daya saing dan ketahanan industri fotografi Indonesia secara berkelanjutan.
4. Peningkatan akses dan pengembangan pembiayaan yang sesuai.
5. Terciptanya perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan.
6. Tersedianya infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif.
7. Terciptanya kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam
pengembangan industri fotografi Indonesia.
VISI

Mengoptimalkan pemanfaatan
dan mengembangkan sumber
daya lokal yang memiliki
ketahanan dan berdaya saing
secara berkelanjutan

Mengembangkan industri
fotografi Indonesia yang
memiliki ketahanan dan
berdaya saing secara
berkelanjutan

Terciptanya industri
fotografi Indonesia
yang memiliki
ketahanan dan
berdaya saing secara
berkelanjutan

TUJUAN

Industri Fotografi yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

MISI

Tabel 4-1 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Fotografi

92

Terciptanya sumber
daya manusia kreatif
di bidang fotografi
yang memiliki
ketahanan dan
berdaya saing

Terwujudnya
perlindungan,
pengembangan, dan
pemanfaatan sumber
daya alam dan
sumber daya budaya
bagi industri fotografi
Indonesia secara
berkelanjutan

Mengembangkan
lingkungan yang kondusif
yang mengarusutamakan
kreativitas dalam
membangun industri
fotografi Indonesia yang
memiliki ketahanan dan
berdaya saing dengan
melibatkan seluruh
pemangku kepentingan
4

Terciptanya pembiayaan
bagi wirausaha di bidang
fotografi yang sesuai,
mudah diakses, dan
kompetitif

Terciptanya perluasan
pasar di dalam dan luar
negeri yang berkualitas dan
berkelanjutan

Tersedianya infrastruktur
dan teknologi yang tepat
guna, mudah diakses, dan
kompetitif

Terciptanya kelembagaan
yang kondusif dan
mengarusutamakan
kreativitas dalam
pengembangan industri
fotografi Indonesia

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

SASARAN STRATEGIS

Meningkatnya
kualitas pendidikan
yang mendukung
penciptaan orang
kreatif di bidang
fotografi secara
berkelanjutan

Meningkatnya
kualitas tenaga
kerja kreatif (orang
kreatif) di bidang
fotografi

Meningkatnya
wirausaha kreatif lokal
di bidang fotografi yang
memiliki ketahanan dan
berdaya saing

Meningkatnya usaha
kreatif lokal di bidang
fotografi yang berdaya
saing

Terciptanya pusat
pengetahuan
sumber daya alam
dan budaya lokal
yang akurat dan
terpercaya serta
dapat diakses secara
mudah dan cepat

Meningkatnya
keragaman dan kualitas
karya kreatif lokal di
bidang fotografi

Meningkatnya ketersediaan
pembiayaan bagi industri
fotografi lokal yang sesuai,
mudah diakses, dan
kompetitif

Meningkatnya diversifikasi
dan penetrasi pasar karya
fotografi di dalam negeri
dan luar negeri

Meningkatnya ketersediaan
infrastruktur yang memadai
dan kompetitif

10

Meningkatnya ketersediaan
teknologi tepat guna
yang mudah diakses dan
kompetitif

11

Terciptanya regulasi yang


mendukung penciptaan
iklim yang kondusif bagi
pengembangan industri
fotografi

12

Meningkatnya partisipasi
aktif pemangku
kepentingan dalam
pengembangan industri
fotografi secara berkualitas
dan berkelanjutan

13

Meningkatnya apresiasi
kepada orang/karya/
wirausaha/usaha kreatif
lokal di bidang fotografi
baik itu di dalam dan luar
negeri

14

Meningkatnya apresiasi
masyarakat terhadap
sumber daya alam
dan budaya lokal yang
mendukung industri
fotografi

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Fotografi


Agar tujuan pengembangan fotografi tercapai, maka perlu ditentukan sasaran dan juga indikasi
yang dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan. Dalam pengembangan fotografi Indonesia ini
terdapat 14 sasaran dan 34 indikasi strategis, yaitu:
1. Meningkatnya kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan orang kreatif di bidang
fotografi secara berkelanjutan, hal ini dapat diindikasikan oleh:
a. Adanya nomenklatur pendidikan fotografi yang sesuasi.
b. Jumlah institusi pendidikan fotografi dengan kualitas fasilitas baik meningkat.

BAB 4: Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia

93

c. Adanya pembangunan institusi pendidikan fotografi baru di daerah yang memiliki


potensi pariwisata.
d. Adanya program untuk me-review dan merevisi kurikulum pendidikan fotografi.
2. Meningkatnya kualitas tenaga kerja kreatif (orang kreatif ) di bidang fotografi, hal ini
dapat diindikasikan oleh:
a. Adanya alokasi beasiswa bagi pengajar fotografi yang akan melanjutkan studi hingga
jenjang S3.
b. Adanya program pemberian insentif penelitian kepada para pengajar fotografi.
c. Adanya studi banding dengan perguruan tinggi fotografi di manca negara.
d. Jumlah institusi pendidikan fotografi dengan kualitas fasilitas baik meningkat.
e. Adanya sertifikasi pengajar fotografi.
3. Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam dan budaya lokal yang akurat dan
terpercaya serta dapat diakses secara mudah dan cepat, hal ini dapat diindikasikan oleh
adanya pusat pengetahuan fotografi di Indonesia.
4. Meningkatnya wirausaha kreatif lokal di bidang fotografi yang memiliki ketahanan dan
berdaya saing, hal ini dapat diindikasikan oleh:
a. Peningkatan jumlah wirausaha kreatif fotografi.
b. Adanya forum fotografi nasional.
5. Meningkatnya usaha kreatif lokal di bidang fotografi yang berdaya saing, hal ini dapat
diindikasikan oleh peningkatan jumlah usaha kreatif fotografi.
6. Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif lokal di bidang fotografi, hal ini dapat
diindikasikan oleh peningkatan jumlah komunitas fotografi daerah.
7. Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi industri fotografi lokal yang sesuai, mudah
diakses, dan kompetitif, hal ini dapat diindikasikan oleh:
a. Adanya skema pembiayaan khusus untuk industri kreatif.
b. Adanya alternatif pembiayaan untuk industri kreatif, seperti crowdsourcing.
8. Meningkatnya diversifikasi dan penetrasi pasar karya fotografi di dalam negeri dan luar
negeri, hal ini dapat diindikasikan oleh:
a. Adanya pusat pengetahuan fotografi di Indonesia.
b. Adanya fasilitasi, dana, maupun akses pasar bagi fotografer untuk melakukan usaha
fotografi di dalam maupun luar negeri.
9. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang memadai dan kompetitif, hal ini dapat
diindikasikan oleh pembangunan infrastruktur yang layak di daerah-daerah yang memiliki
potensi pariwisata.
10. Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna yang mudah diakses dan kompetitif, hal
ini dapat diindikasikan oleh:
a. Meningkatnya jumlah kerjasama dalam industri fotografi.
b. Meningkatnya jumlah kegiatan oleh komunitas fotografi Indonesia.
c. Adanya kerjasama pengembangan teknologi.
11. Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan
industri fotografi, hal ini dapat diindikasikan oleh:
a. Adanya kebijakan pendidikan fotografi.
b. Adanya kebijakan pengembangan pariwisata melalui fotografi.

94

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

c.
d.
e.
f.
g.

Adanya kebijakan kerjasama dengan industri fotografi.


Adanya kebijakan pembiayaan industri kreatif.
Adanya kebijakan pengembangan pasar untuk fotografi.
Adanya kebijakan pengembangan infrastruktur untuk pengembangan fotografi.
Adanya kebijakan Hak Kekayaan Intelektual di bidang fotografi.

12. Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan industri


fotografi secara berkualitas dan berkelanjutan, hal ini dapat diindikasikan oleh adanya
forum fotografi nasional.
13. Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal di bidang
fotografi baik itu di dalam dan luar negeri, hal ini dapat diindikasikan oleh:
a. Peningkatan jumlah penghargaan kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif
fotografi di dalam negeri.
b. Adanya fasilitas untuk mempublikasikan tulisan terkait fotografi di media massa.
c. Adanya program-program sosialisasi mengenai HKI di kota-kota kreatif.
14. Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal yang
mendukung industri fotografi, hal ini dapat diindikasikan oleh adanya pengarsipan dan
publikasi sumber daya alam dan budaya yang dapat memperkaya fotografi Indonesia.

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Fotografi


4.4.1 Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Daya Manusia Kreatif di Bidang
Fotografi
Arah kebijakan ini bertujuan untuk:
1. Mengembangkan dan memfasilitasi penciptaan lembaga pendidikan (formal dan non-formal)
oleh pemerintah dan swasta di daerah yang memiliki potensi ekonomi kreatif di bidang fotografi.
2. Menyelaraskan antara tahapan pendidikan serta meningkatkan partisipasi dunia usaha
dalam pendidikan.
3. Menciptakan orang kreatif yang dinamis dan profesional yang menjunjung tinggi kode
etik profesi di tingkat nasional dan global.
4. Memberikan perlindungan kerja terhadap tenaga kerja kreatif Indonesia di dalam dan
luar negeri.

4.4.2 Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan


Sumber Daya Alam dan Budaya bagi Industri Fotografi
Arah kebijakan ini bertujuan untuk mengembangkan pusat pengetahuan budaya Indonesia
yang akurat dan terpercaya yang dapat diakses dengan mudah dan cepat serta memiliki program
distribusi pengetahuan budaya.

4.4.3 Arah Kebijakan Penciptaan Industri Fotografi Indonesia


Arah kebijakan ini bertujuan untuk:
1. Memfasilitasi penciptaan dan peningkatan profesionalisme (skill-knowledge-attitude)
wirausaha kreatif lokal di kota-kota yang memiliki potensi di bidang fotografi.
2. Memfasilitasi kolaborasi dan penciptaan jejaring kreatif antar wirausaha kreatif lokal di
kota-kota yang memiliki potensi di bidang fotografi.
3. Memfasilitasi penciptaan usaha kreatif lokal di bidang fotografi.

BAB 4: Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia

95

4. Memfasilitasi kolaborasi dan keterkaitan antar usaha kreatif maupun antara industri
kreatif dengan industri lainnya di tingkat lokal, nasional, dan global.
5. Mengembangkan standar usaha kreatif nasional yang diakui secara global serta memfasilitasi
usaha kreatif lokal untuk memenuhi standar industri kreatif nasional dan global.
6. Memfasilitasi para pelaku industri fotografi lokal dalam mempromosikan daerahnya.

4.4.4 Arah Kebijakan Penciptaan Pembiayaan yang Sesuai, Mudah Diakses,


dan Kompetitif
Arah kebijakan ini bertujuan untuk:
1. Menciptakan dan mengembangkan
perkembangan industri kreatif.

lembaga

pembiayaan

yang

mempercepat

2. Mengembangkan alternatif pembiayaan yang sesuai, dapat diakses dengan mudah, dan
kompetitif.
3. Memperkuat hubungan dan akses informasi antara usaha kreatif, pemerintah dengan
lembaga keuangan.

4.4.5 Arah Kebijakan Perluasan Pasar di Dalam dan Luar Negeri


Arah kebijakan ini bertujuan untuk:
1. Mengembangkan sistem informasi pasar karya kreatif di dalam negeri yang dapat diakses
dengan mudah dan informasi didistribusikan dengan baik.
2. Meningkatkan kualitas branding, promosi, pameran, festival, misi dagang, BtoB
networking di dalam dan luar negeri.
3. Memperluas jangkauan distribusi produk kreatif di dalam dan luar negeri

4.4.6 Arah Kebijakan Penyediaan Infrastruktur dan Teknologi Tepat Guna,


Mudah Diakses, dan Kompetitif
Arah kebijakan ini bertujuan untuk:
1. Menjamin ketersediaan, kesesuaian, jangkauan harga/biaya, sebaran/penetrasi, dan
performansi, infrastruktur telematika-jaringan internet; dan infrastruktur logistik dan energi.
2. Memfasilitasi akses terhadap teknologi secara mudah dan kompetitif.
3. Mendorong pengembangan basis-basis pengembangan teknologi lokal yang mendukung
pengembangan industri kreatif.
4. Meningkatkan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam melakukan pengembangan
teknologi.

4.4.7 Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan yang Kondusif dan


Mengarusutamakan Kreativitas
Arah kebijakan ini bertujuan untuk:
1. Memperbaiki dan membuat berbagai regulasi terkait fotografi.
2. Meningkatkan sinergi, koordinasi, dan kolaborasi antar aktor (intelektual, bisnis,
komunitas, dan pemerintah) dan orang kreatif dalam pengembangan ekonomi kreatif.
3. Mengembangkan, memfasilitasi pembentukan dan peningkatan kualitas organisasi atau
wadah yang dapat mempercepat pengembangan ekonomi kreatif.

96

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

4. Memfasilitasi dan memberikan penghargaan yang prestisius bagi orang/karya/wirausaha/


usaha kreatif lokal di tingkat nasional dan internasional.
5. Meningkatkan komunikasi keberadaan orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal dan
konsumsi karya kreatif lokal.
6. Meningkatkan apresiasi terhadap HKI.
7. Meningkatkan akses dan distribusi terhadap informasi/pengetahuan mengenai sumber
daya alam dan sumber daya budaya lokal.

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Fotografi


Tahapan pengembangan menjabarkan tematik tahapan pengembangan subsektor dalam periode
waktu 2015 sampai dengan 2019 di mana di setiap tahapan akan dituliskan fokus pengembangan
yang akan dilakukan pada setiap tahunnya.
Masalah utama di subsektor fotografi adalah tentang ketahanan industri subsektor fotografi dan
daya saing. Masalah ketahanan adalah hal-hal yang berkaitan dengan regulasi dan aturan-aturan
yang selama ini dirasakan kurang mendukung wirausaha/orang kreatif khususnya di bidang
fotografi. Selain itu juga, aturan-aturan tersebut belum tertata dengan baik dan masih ada
kesulitan dalam mendapatkan akses informasinya. Untuk itu di tahun 2015, fokus pengembangan
subsektor fotografi adalah penataan dan pendataan regulasi yang melibatkan seluruh pemangku
kepentingan dan juga pelaku di industri kreatif di bidang fotografi.
Fokus pengembangan pada tahun berikutnya adalah melakukan sosialisasi dari regulasi yang
telah dihasilkan. Sosialisasi ini cukup penting agar seluruh pelaku industri subsektor fotografi
mendapatkan akses informasi mengenai hal-hal yang mendasar terkait aturan main di bidang
industri kreatif fotografi. Dengan begitu masyarakat diharapkan dapat mengetahui bagaimana
cara untuk mulai terjun ke dalam usaha fotografi, atau bagaimana usaha fotografi yang telah
dimiliki dapat dikembangkan secara baik sesuai aturan yang ada. Implementasi regulasi juga
perlu diawasi agar fungsinya optimal.
Setelah industri fotografi lokal memiliki cukup kekuatan untuk bersaing di dalam negeri dan
memiliki kompetensi, maka tahap berikutnya adalah meningkatkan daya saing industri fotografi
untuk dapat bersaing dengan industri fotografi internasional. Peningkatan daya saing dapat
dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan negara-negara yang memiliki fotografer-fotografer
handal sehingga terjadi transfer ilmu. Akhirnya, dari tahap ini diharapkan para pelaku industri
kreatif fotografi dapat membawa nama Indonesia lebih harum di dunia internasional.
Dalam usaha untuk mencapai sasaran, maka diperlukan strategi-strategi yang sesuai. Dari 14
sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan fotografi 2014-2019, telah disusun 29 strategi
dan rencana aksi untuk mencapai sasaran tersebut.

4.5.1 Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Mendukung Penciptaan Orang


Kreatif di Bidang Fotografi
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara:
1. Memperbaiki nomenklatur pendidikan fotografi.
2. Meningkatkan kualitas pendidikan fotografi.
3. Menambahkan lembaga pendidikan fotografi di luar pulau Jawa di daerah yang potensial.

BAB 4: Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia

97

4. Mereview kembali dan melakukan revisi bila diperlukan pada kurikulum pendidikan yang
sudah ada terkait dengan ekonomi kreatif, khususnya bidang fotografi.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah:

Perbaikan nomenklatur pendidikan fotografi.

Perbaikan dan penambahan fasilitas pendidikan fotografi di pendidikan tinggi.

Pembangunan institusi pendidikan fotografi baru di daerah-daerah yang potensial.

Review dan revisi kurikulum pendidikan fotografi.

4.5.2 Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Kreatif di Bidang Fotografi


Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara:
1. Meningkatkan kualitas pengajar pendidikan di bidang fotografi.
2. Memberikan fasilitas pendukung untuk pengembangan industri fotografi.
3. Membuat standarisasi/sertifikasi fotografer.
4. Mempersiapkan tenaga kreatif di bidang fotografi untuk memasuki pasar nasional dan
internasional.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah:

Memberikan beasiswa kepada para pengajar untuk melanjutkan studi sampai dengan
jenjang S3.

Memberikan insentif penelitian kepada para pengajar.

Studi banding dengan perguruan-perguruan tinggi fotografi di manca negara.

Perbaikan dan penambahan fasilitas pendidikan fotografi di pendidikan tinggi.

Pembuatan standarisasi/sertifikasi fotografer.

4.5.3 Penciptaan Pusat Pengetahuan Sumber Daya Alam dan Sumber


Daya Budaya
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara mendirikan pusat manajemen
ilmu pengetahuan di bidang fotografi.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah dengan pendirian pusat manajemen
pengetahuan di bidang fotografi.

4.5.4 Peningkatan Wirausaha Kreatif Lokal di Bidang Fotografi


Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara:
1. Roadmap penciptaan dan pengembangan wirausaha di bidang fotografi.
2. Menyediakan forum yang saling mempertemukan wirausaha kreatif di bidang fotografi.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah:

98

Membuat langkah-langkah strategis dalam menciptakan dan mengembangkan wirausaha


di bidang fotografi.

Mengadakan forum fotografi nasional.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

4.5.5 Peningkatan Usaha Kreatif Lokal di Bidang Fotografi


Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara:
1. Melakukan pemetaan usaha kreatif di bidang fotografi.
2. Adanya koordinasi lintas kementerian untuk pengembagan usaha kreatif di bidang
fotografi dengan sektor lainnya.
3. Membuat standardisasi/sertifikasi fotografer.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah:

Pemetaan unit usaha fotografi di Indonesia.

Koordinasi pengembangan unit usaha fotografi.

Pembuatan standarisasi/sertifikasi fotografer.

4.5.6 Peningkatan Keragaman dan Kualitas Karya Kreatif Lokal di Bidang


Fotografi
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara mendukung dan mengembangkan
komunitas-komunitas fotografi lokal.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah dengan pembinaan komunitas fotografi
Indonesia.

4.5.7 Peningkatan Ketersediaan Pembiayaan Bagi Industri Fotografi Lokal


Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara memfasilitasi berbagai skema
pembiayaan untuk para pelaku industri kreatif.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah dengan pengembangan skema pembiayaan
industri kreatif.

4.5.8 Peningkatan Diversifikasi dan Penetrasi Pasar Karya Fotografi di


Dalam dan Luar Negeri
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara:
1. Mengembangkan sistem informasi fotografi Indonesia terpusat.
2. Melakukan kerjasama dengan mitra-mitra dagang untuk mengakses pasar di dalam dan
luar negeri.
3. Melakukan pameran dan membuat buku fotografi Indonesia baik di dalam maupun di
luar negeri.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah:

Pemberian fasilitas untuk pengembangan pusat data pengetahuan untuk fotografi Indonesia.

Pemberian fasilitas, dana, akses pasar bagi fotografer untuk melakukan usaha fotografi di
dalam maupun luar negeri.

Pemberian fasilitas dan dana bagi fotografer untuk mengikuti pameran fotografi di dalam
maupun luar negeri.

BAB 4: Rencana Pengembangan Fotografi Indonesia

99

4.5.9 Peningkatan
Kompetitif

Ketersediaan

Infrastruktur

yang

Memadai

dan

Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara meningkatkan infrastruktur
di tempat-tempat yang memiliki potensi pariwisata.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah dengan pengadaan infrastruktur untuk
mempermudah akses ke daerah-daerah yang memiliki objek-objek pariwisata.

4.5.10 Peningkatan Ketersediaan Teknologi Tepat Guna yang Mudah


Diakses dan Kompetitif
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara:
1. Menjalin kerjasama dengan pihak industri fotografi untuk mendukung usaha & wirausaha
kreatif fotografi.
2. Merangkul komunitas fotografi yang memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi
lokal fotografi agar dapat memiliki nilai tambah ekonomi.
3. Menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, badan penelitian, serta industri fotografi.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah:

Kerjasama dengan industri fotografi.

Pembinaan komunitas fotografi Indonesia.

Kerjasama pengembangan teknologi.

4.5.11 Penciptaan Regulasi yang Mendukung Penciptaan Iklim yang


Kondusif Bagi Pengembangan Industri Fotografi
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara memfasilitasi adanya kebijakan
terkait fotografi untuk menciptakan iklim yang kondusif.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah dengan penyusunan kebijakan yang
sesuai bagi wirausaha fotografi.

4.5.12 Peningkatan Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan Dalam


Pengembangan Industri Fotografi
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara memfasilitasi forum-forum fotografi
Indonesia sebagai wadah kolaborasi antar aktor (intelektual, bisnis, komunitas, dan pemerintah).
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah dengan mengadakan forum fotografi
nasional.

4.5.13 Peningkatan Apresiasi Kepada Orang/Karya/Wirausaha/Usaha


Kreatif Lokal di Bidang Fotografi
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara:
1. Mengadakan event fotografi Indonesia.
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap fotografi Indonesia.
3. Melakukan sosialisasi akan pentingnya hak cipta dalam fotografi.

100

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah:


Event fotografi Indonesia.

Pemberian fasilitas untuk publikasi tulisan terkait fotografi di media massa.

Sosialisasi HKI di kota-kota kreatif.

4.5.14 Peningkatan Apresiasi Masyarakat Terhadap Sumber Daya Alam


dan Budaya Lokal yang Mendukung Industri Fotografi
Strategi untuk mencapai sasaran strategis ini dilakukan dengan cara memfasilitasi pengembangan
sistem informasi mengenai sumber daya alam dan budaya Indonesia.
Rencana aksi untuk menjalankan strategi tersebut adalah dengan pemberian fasilitas untuk
mengarsipkan sumber daya alam dan budaya yang dapat memperkaya fotografi Indonesia.

102

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

BAB 5: Penutup

103

5.1 Kesimpulan
Dalam penyusunan rencana aksi jangka menengah fotografi 2015-2019, fotografi di definisikan
sebagai: Industri yang mendorong penggunaan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu
dalam memproduksi citra dari satu objek foto dengan menggunakan perangkat fotografi, termasuk
di dalamnya media perekam cahaya, media penyimpan berkas, serta media yang menampilkan
informasi, untuk meningkatkan kesejahteraan dan menciptakan kesempatan kerja. Definisi
tersebut merupakan hasil elaborasi dari proses analisis yang meliputi: kajian pustaka, wawancara
mendalam, dan focus group discussion, yang melibatkan para narasumber yang mewakili pemangku
kepentingan dari unsur pemerintah, pelaku industri, komunitas/asosiasi, dan kalangan intelektual.
Secara umum ruang lingkup pengembangan fotografi meliputi fotografi profesional, fotografi
seni, fotografi komersial dan fotografi jurnalistik. Fotografi professional adalah fotografi yang
fotografernya menjual keahliannya di bidang fotografi dan menjadikan fotografi sebagai mata
pencahariannya. Fotografi seni adalah fotografi yang tumbuh dari dorongan ekspresi pribadi
sebagai bagian dari seni rupa yang dituangkan ke dalam medium dua dimensi. Fotografi komersial
biasanya berhubungan dengan agen periklanan dan perusahaan-perusahaan. Foto dalam fotografi
komersial dibuat dapat berdasarkan keinginan klien (yang dibuat dari konsep awal), atau klien
dapat membeli foto-foto yang telah dibuat si fotografer untuk kepentingan klien. Fotografi
jurnalistik berkaitan erat dengan wilayah produksi dan konsumsi media cetak dan elektronik.
Tujuan utama pewarta foto adalah memotret kejadian dan peristiwa yang sedang terjadi untuk
diberitakan kembali melalui media massa. Perkembangan fotografi di Indonesia dimulai tahun
1841 sejak kedatangan Juriaan Munich, seorang utusan Kementerian Kolonial Kerajaan Belanda.
Tujuan kedatangan Munich ke Batavia dengan kamera dauguerreotype yang dia bawa adalah
untuk mengabadikan aneka tanaman serta kondisi alamnya. Maraknya subsektor fotografi dapat
dilihat dengan adanya Perkumpulan Seni Foto Indonesia (PFSI) di tahun 1973. Saat ini dapat
kita saksikan dengan adanya Forum Fotografi Indonesia (FFI) di tahun 2013 membuat subsektor
Fotografi kita semakin berdaya saing.
Untuk menggambarkan hubungan saling ketergantungan antara setiap peran di dalam proses
penciptaan nilai kreatif dengan lingkungan sekitar, dikembangkan peta ekosistem fotografi yang
terdiri atas empat komponen utama, yaitu: rantai nilai kreatif, lingkungan pengembangan, pasar,
dan pengarsipan. Rantai nilai kreatif fotografi adalah kreasi, produksi, dan distribusi. Apresiasi
termasuk dalam lingkungan pengembangan (nurturance environment) di dalam ekosistem
fotografi, karena membangun serta meningkatkan kualitas dan kompetensi fotografi. Selain
apresiasi, di dalam lingkungan pengembangan ada pendidikan yang menjadi salah satu elemen
penting; pendidikan melahirkan fotografer-fotografer kompeten. Dalam pendidikanlah inovasi,
ilmu, dan juga teknik-teknik terbaru dalam seni fotografi ditemukan, sehingga genre-genre
baru dalam fotografi terus tumbuh dan berkembang. Pasar di dalam subsektor fotografi adalah
konsumen, dimana konsumen dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu perusahaan atau
organisasi, dan individu. Konsumen perusahaan, di antaranya, berasal dari industri media,
industri periklanan, industri komersial, dan industri lainnya yang membutuhkan jasa fotografi.
Dalam era digital saat ini, pengarsipan dapat dilakukan dengan berbagai macam bentuk dan
cara. Karya-karya foto dapat disimpan, baik dalam bentuk data maupun cetak. Pengarsipan
dalam bentuk data dapat dilakukan melalui penyimpanan dalam CD/DVD, flash disk, hard disk,
atau memory card. Selain disimpan dalam bentuk fisik, fotografer juga dapat menyimpannya

104

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

di layanan-layanan photo sharing yang ada di Internet seperti Flickr.com, 500px.com, Picasa,
Instagram, Facebook, dan lain-lain.
Dampak ekonomi dari pengembangan subsektor fotografi dapat dilihat dari peta industri yang
menggambarkan keterkaitan dari suatu proses rantai nilai kreatif ke arah hulu (backward linkage)
dan ke arah hilir (forward linkage). Backward linkage di dalam subsektor fotografi diantaranya
adalah industri peralatan fotografi, agen model, jasa tata rias dan rambut, jasa penyewaan kostum,
jasa penyewaan lokasi, jasa penyewaan tata lampu, industri mode, industri desain interior, industri
kimia, industri pembuatan kertas foto, industri teknologi dan informasi, industri pembuatan bingkai
foto, industri pembuatan album foto, industri pembuatan kertas foto, industri percetakan, dan
industri peralatan elektronik. Forward linkage di dalam subsektor fotografi diantaranya adalah
industri periklanan, industri penerbitan, industri desain, galeri seni, jurnalistik, dan industri
konten digital. Selain digunakan dalam melihat dampak ekonomi dari subsektor fotografi,
rantai nilai kreatif juga digunakan dalam mengidentifikasi model bisnis yang umumnya terjadi
di subsektor fotografi, yaitu jasa fotografi, event organizer, biro foto, rental alat foto, agen stock
foto, jasa cetak foto, studio foto, fotografi seni, dan in-house.
Kontribusi ekonomi subsektor fotografi dapat dilihat dari nilai tambah bruto, ketenagakerjaan,
aktivitas perusahaan, konsumsi rumah tangga, dan nilai ekspor. Sebagai contoh dapat dilihat di
tahun 2013, subsektor fotografi memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar 1% terhadap
total nilai tambah bruto industri kreatif Indonesia, dengan rata-rata pertumbuhan 2010-2013
sebesar 6.94%. Dari sisi ketenagakerjaan, subsektor fotografi memberikan kontribusi sebesar 0.54%
terhadap total jumlah tenaga kerja industri kreatif Indonesia, dengan rata-rata pertumbuhan
2010-2013 sebesar 3.85%.
Berdasarkan hasil temuan-temuan selama penyusunan rencana aksi jangka menengah di
subsektor fotografi dapat disimpulkan bahwa isu strategis yang muncul adalah Industri
subsektor Fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan.

5.2 Saran
Pengembangan subsektor fotografi dalam satu tahun kedepan akan difokuskan pada programprogram:

Perbaikan dan penambahan fasilitas pendidikan fotografi di pendidikan tinggi

Pembangunan institusi pendidikan fotografi baru di daerah-daerah yang potensial

Memberikan beasiswa kepada para pengajar untuk melanjutkan studi sampai dengan
jenjang S3

Memberikan insentif penelitian kepada para pengajar

Studi banding dengan perguruan-perguruan tinggi fotografi di manca Negara

Perbaikan dan penambahan fasilitas pendidikan fotografi di pendidikan tinggi

Pembuatan standarisasi/sertifikasi fotografer

Pendirian pusat manajemen pengetahuan di bidang fotografi

Membuat langkah-langkah strategis dalam menciptakan dan mengembangkan wirausaha


di bidang fotografi

BAB 5: Penutup

105

Adanya forum fotografi nasional

Pemetaan unit usaha fotografi di Indonesia

Koordinasi pengembangan unit usaha fotografi

Pembuatan standarisasi/sertifikasi fotografer

Pembinaan komunitas fotografi Indonesia

Pengembangan skema pembiayaan industri kreatif

Pemberian fasilitas untuk pengembangan pusat data pengetahuan untuk fotografi Indonesia

Pemberian fasilitas, dana, akses pasar bagi fotografer untuk melakukan usaha fotografi
di dalam maupun luar negeri

Pemberian fasilitas dan dana bagi fotografer untuk mengikuti pameran fotografi di dalam
maupun luar negeri

Pengadaan infrastruktur untuk mempermudah akses ke daerah-daerah yang memiliki


objek-objek pariwisata

Kerjasama dengan industri fotografi

Pembinaan komunitas fotografi Indonesia

Adanya forum fotografi nasional

Event fotografi Indonesia

Pemberian fasilitas untuk publikasi tulisan terkait fotografi di media massa


Sosialisasi HKI di kota-kota kreatif

Untuk penyempurnaan studi dan penulisan buku rencana aksi periode selanjutnya, perlu dilakukan
beberapa hal seperti: meningkatkan intensitas kolaborasi antar pemangku kepentingan di subsektor
fotografi, meningkatkan intensitas komunikasi lintas kementerian, dan memutakhirkan data
kontribusi ekonomi dengan perbaikan pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI)
Kreatif.

106

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

108

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

LAMPIRAN

Lampiran

109

110

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya kualitas tenaga kerja


kreatif (orang kreatif) di bidang
fotografi

Meningkatnya kualitas pendidikan


yang mendukung penciptaan orang
kreatif di bidang fotografi secara
berkelanjutan

Menciptakan orang kreatif yang dinamis dan


profesional yang menjunjung tinggi kode etik
profesi di tingkat nasional dan global

Memberikan perlindungan kerja terhadap


tenaga kerja kreatif Indonesia di dalam dan
luar negeri

Menyelaraskan antara tahapan pendidikan


serta meningkatkan partisipasi dunia usaha
dalam pendidikan

Mengembangkan dan memfasilitasi


penciptaan lembaga pendidikan (formal dan
non-formal) oleh pemerintah dan swasta di
daerah yang memiliki potensi ekonomi kreatif
di bidang fotografi

Menambahkan lembaga pendidikan fotografi di luar pulau


Jawa di daerah yang potensial

Membuat standarisasi/sertifikasi fotografer

Mempersiapkan tenaga kreatif di bidang fotografi untuk


memasuki pasar nasional dan internasional

Memberikan fasilitas pendukung untuk pengembangan


industri fotografi

Meningkatkan kualitas pengajar pendidikan di bidang fotografi

Mereview kembali dan melakukan revisi bila diperlukan pada


kurikulum pendidikan yang sudah ada terkait dengan ekonomi
kreatif, khususnya bidang fotografi

Meningkatkan kualitas pendidikan fotografi

Memperbaiki nomenklatur pendidikan fotografi

2.1

Terciptanya pusat pengetahuan


sumber daya alam dan budaya lokal
yang akurat dan terpercaya serta
dapat diakses secara mudah dan
cepat

Mengembangkan pusat pengetahuan budaya


Indonesia yang akurat dan terpercaya yang
dapat diakses dengan mudah dan cepat serta
memiliki program distribusi pengetahuan
budaya

Mendirikan pusat manajemen ilmu pengetahuan di bidang


fotografi

2. Terwujudnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya bagi industri fotografi Indonesia secara berkelanjutan

1.2

1.1

1. Terciptanya sumber daya manusia kreatif di bidang fotografi yang memiliki ketahanan dan berdaya saing

Misi 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN FOTOGRAFI

Lampiran

111

ARAH KEBIJAKAN

Meningkatnya wirausaha kreatif lokal


di bidang fotografi yang memiliki
ketahanan dan berdaya saing

Meningkatnya usaha kreatif lokal di


bidang fotografi yang berdaya saing

Meningkatnya keragaman dan


kualitas karya kreatif lokal di bidang
fotografi

3.1

3.2

3.3

Mengembangkan standar usaha kreatif


nasional yang diakui secara global serta
memfasilitasi usaha kreatif lokal untuk
memenuhi standar industri kreatif nasional
dan global

Memfasilitasi para pelaku industri fotografi


lokal dalam mempromosikan daerahnya

Memfasilitasi kolaborasi dan keterkaitan


antar usaha kreatif maupun antara industri
kreatif dengan industri lainnya di tingkat
lokal, nasional, dan global

Memfasilitasi penciptaan usaha kreatif lokal


di bidang fotografi

Memfasilitasi kolaborasi dan penciptaan


jejaring kreatif antar wirausaha kreatif lokal
di kota-kota yang memiliki potensi di bidang
fotografi

Memfasilitasi penciptaan dan peningkatan


profesionalisme (skill-knowledge-attitude)
wirausaha kreatif lokal di kota-kota yang
memiliki potensi di bidang fotografi

STRATEGI

Mendukung dan mengembangkan komunitas-komunitas


fotografi lokal

Membuat standarisasi/sertifikasi fotografer

Adanya koordinasi lintas kementerian untuk pengembagan


usaha kreatif di bidang fotografi dengan sektor lainnya

Melakukan pemetaan usaha kreatif di bidang fotografi

Menyediakan forum yang saling mempertemukan wirausaha


kreatif di bidang fotografi

Roadmap penciptaan dan pengembangan wirausaha di bidang


fotografi

3. Terciptanya industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

Misi 2: Mengembangkan industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

112

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya ketersediaan
pembiayaan bagi industri fotografi
lokal yang sesuai, mudah diakses,
dan kompetitif

Memperluas jangkauan distribusi produk


kreatif di dalam dan luar negeri

Meningkatkan kualitas branding, promosi,


pameran, festival, misi dagang, BtoB
networking di dalam dan luar negeri

Menciptakan dan mengembangkan


lembaga pembiayaan yang mempercepat
perkembangan industri kreatif

Meningkatnya diversifikasi dan


penetrasi pasar karya fotografi di
dalam negeri dan luar negeri

Mengembangkan sistem informasi pasar


karya kreatif di dalam negeri yang dapat
diakses dengan mudah dan informasi
didistribusikan dengan baik
Meningkatkan kualitas branding, promosi,
pameran, festival, misi dagang, BtoB
networking di dalam dan luar negeri
Memperluas jangkauan distribusi produk
kreatif di dalam dan luar negeri

6.1

Meningkatnya ketersediaan
infrastruktur yang memadai dan
kompetitif

Menjamin ketersediaan, kesesuaian,


jangkauan harga/biaya, sebaran/penetrasi,
dan performansi, infrastruktur telematikajaringan internet; dan infrastruktur logistik
dan energi

6. Tersedianya infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif

5.1

5. Terciptanya perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan

4.1

4. Terciptanya pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

Meningkatkan infrastruktur di tempat-tempat yang memiliki


potensi pariwisata

Melakukan pameran dan membuat buku fotografi Indonesia


baik di dalam maupun di luar negeri

Melakukan kerjasama dengan mitra-mitra dagang untuk


mengakses pasar di dalam dan luar negeri

Mengembangkan sistem informasi fotografi Indonesia


terpusat

Memfasilitasi berbagai skema pembiayaan untuk para pelaku


industri kreatif

Misi 3: Mengembangkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas dalam membangun industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan
berdaya saing dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

113

Meningkatnya ketersediaan teknologi


tepat guna yang mudah diakses dan
kompetitif

Memfasilitasi akses terhadap teknologi


secara mudah dan kompetitif
Mendorong pengembangan basis-basis
pengembangan teknologi lokal yang
mendukung pengembangan industri kreatif
Meningkatkan kolaborasi antar
pemangku kepentingan dalam melakukan
pengembangan teknologi

a
b

ARAH KEBIJAKAN

Menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, badan


penelitian, serta industri fotografi

Merangkul komunitas fotografi yang memiliki potensi untuk


mengembangkan teknologi lokal fotografi agar dapat memiliki
nilai tambah ekonomi

Menjalin kerjasama dengan pihak industri fotografi untuk


mendukung usaha & wirausaha kreatif fotografi

STRATEGI

Terciptanya regulasi yang


mendukung penciptaan iklim yang
kondusif bagi pengembangan
industri fotografi

Meningkatnya partisipasi aktif


pemangku kepentingan dalam
pengembangan industri fotografi
secara berkualitas dan berkelanjutan

Meningkatnya apresiasi kepada


orang/karya/wirausaha/usaha
kreatif lokal di bidang fotografi baik
itu di dalam dan luar negeri

7.1

7.2

7.3

Memfasilitasi dan memberikan penghargaan


yang prestisius bagi orang/karya/wirausaha/
usaha kreatif lokal di tingkat nasional dan
internasional
Meningkatkan komunikasi keberadaan orang/
karya/wirausaha/usaha kreatif lokal dan
konsumsi karya kreatif lokal

Mengembangkan, memfasilitasi pembentukan


dan peningkatan kualitas organisasi
atau wadah yang dapat mempercepat
pengembangan ekonomi kreatif

Meningkatkan sinergi,koordinasi, dan


kolaborasi antar aktor (intelektual, bisnis,
komunitas, dan pemerintah) dan orang kreatif
dalam pengembangan ekonomi kreatif

Memperbaiki dan membuat berbagai regulasi


terkait fotografi

Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap fotografi


Indonesia

Mengadakan event fotografi Indonesia

Memfasilitasi forum-forum fotografi Indonesia sebagai wadah


kolaborasi antar aktor (intelektual, bisnis, komunitas, dan
pemerintah)

Memfasilitasi adanya kebijakan terkait fotografi untuk


menciptakan iklim yang kondusif

7. Terciptanya kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam pengembangan industri fotografi Indonesia

6.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

114

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

7.4

Meningkatnya apresiasi masyarakat


terhadap sumber daya alam dan
budaya lokal yang mendukung
industri fotografi

MISI/TUJUAN/SASARAN

c
Meningkatkan akses dan distribusi terhadap
informasi/pengetahuan mengenai sumber
daya alam dan sumber daya budaya lokal

Meningkatkan apresiasi terhadap HKI

ARAH KEBIJAKAN

Memfasilitasi pengembangan sistem informasi mengenai


sumber daya alam dan budaya Indonesia

Melakukan sosialisasi akan pentingnya hak cipta dalam


fotografi

STRATEGI

Lampiran

115

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya kualitas tenaga kerja kreatif (orang


kreatif) di bidang fotografi

1.2

Adanya program pemberian insentif penelitian kepada para pengajar fotografi


Adanya studi banding dengan perguruan tinggi fotografi di manca negara
Jumlah institusi pendidikan fotografi dengan kualitas fasilitas baik meningkat
Adanya sertifikasi pengajar fotografi

c
d
e

Adanya program untuk mereview dan merevisi kurikulum pendidikan fotografi

Adanya pembangunan institusi pendidikan fotografi baru di daerah yang memiliki potensi pariwisata

Adanya alokasi beasiswa bagi pengajar fotografi yang akan melanjutkan studi hingga jenjang S3

Jumlah institusi pendidikan fotografi dengan kualitas fasilitas baik meningkat

Adanya nomenklatur pendidikan fotografi yang sesuasi

Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam


dan budaya lokal yang akurat dan terpercaya serta
dapat diakses secara mudah dan cepat

Adanya pusat pengetahuan fotografi di Indonesia

3.1

Meningkatnya wirausaha kreatif lokal di bidang


fotografi yang memiliki ketahanan dan berdaya saing

Peningkatan jumlah wirausaha kreatif fotografi


Adanya forum fotografi nasional

a
b

3. Terciptanya industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

Misi 2: Mengembangkan industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

2.1

2. Terwujudnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya bagi industri fotografi Indonesia secara berkelanjutan

Meningkatnya kualitas pendidikan yang


mendukung penciptaan orang kreatif di bidang
fotografi secara berkelanjutan

1.1

1. Terciptanya sumber daya manusia kreatif di bidang fotografi yang memiliki ketahanan dan berdaya saing

Misi 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang memiliki ketahanan dan berdaya saing secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN FOTOGRAFI

116

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

Meningkatnya keragaman dan kualitas karya


kreatif lokal di bidang fotografi

3.3

a
Peningkatan jumlah komunitas fotografi daerah

Peningkatan jumlah usaha kreatif fotografi

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi


industri fotografi lokal yang sesuai, mudah
diakses, dan kompetitif

Adanya skema pembiayaan khusus untuk industri kreatif


Adanya alternatif pembiayaan untuk industri kreatif, seperti crowdsourcing

a
b

Meningkatnya diversifikasi dan penetrasi pasar


karya fotografi di dalam negeri dan luar negeri

Adanya pusat pengetahuan fotografi di Indonesia


Adanya fasilitasi, dana, maupun akses pasar bagi fotografer untuk melakukan usaha fotografi di dalam
maupun luar negeri

a
b

Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang


memadai dan kompetitif

Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna


yang mudah diakses dan kompetitif

6.1

6.2

Meningkatnya jumlah kerjasama dalam industri fotografi


Meningkatnya jumlah kegiatan oleh komunitas fotografi Indonesia
Adanya kerjasama pengembangan teknologi

b
c

Pembangunan infrastruktur yang layak di daerah-daerah yang memiliki potensi pariwisata

6. Tersedianya infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif

5.1

5. Terciptanya perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan

4.1

4. Terciptanya pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

Misi 3: Mengembangkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas dalam membangun industri fotografi Indonesia yang memiliki ketahanan dan
berdaya saing dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan

Meningkatnya usaha kreatif lokal di bidang


fotografi yang berdaya saing

3.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

117

INDIKASI STRATEGIS

Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan


iklim yang kondusif bagi pengembangan industri
fotografi

Meningkatnya partisipasi aktif pemangku


kepentingan dalam pengembangan industri
fotografi secara berkualitas dan berkelanjutan

Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/


wirausaha/usaha kreatif lokal di bidang fotografi
baik itu di dalam dan luar negeri

Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap


sumber daya alam dan budaya lokal yang
mendukung industri fotografi

7.1

7.2

7.3

7.4

Adanya kebijakan kerjasama dengan industri fotografi


Adanya kebijakan pembiayaan industri kreatif
Adanya kebijakan pengembangan pasar untuk fotografi
Adanya kebijakan pengembangan infrastruktur untuk pengembangan fotografi
Adanya kebijakan Hak Kekayaan Intelektual di bidang fotografi

c
d
e
f
g

Adanya program-program sosialisasi mengenai HKI di kota-kota kreatif

Adanya pengarsipan dan publikasi sumber daya alam dan budaya yang dapat memperkaya fotografi
Indonesia

Adanya fasilitas untuk mempublikasikan tulisan terkait fotografi di media massa

Peningkatan jumlah penghargaan kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif fotografi di dalam


negeri

Adanya forum fotografi nasional

Adanya kebijakan pengembangan pariwisata melalui fotografi

Adanya kebijakan pendidikan fotografi

7. Terciptanya kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam pengembangan industri fotografi Indonesia

MISI/TUJUAN/SASARAN

118

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

Perbaikan dan
penambahan fasilitas
pendidikan fotografi di
pendidikan tinggi

Pembangunan institusi
pendidikan fotografi
baru di daerah-daerah
yang potensial

Review & revisi


kurikulum pendidikan
fotografi

Mereview kembali dan melakukan revisi bila


diperlukan pada kurikulum pendidikan yang
sudah ada terkait dengan ekonomi kreatif,
khususnya bidang fotografi

Analisis kebutuhan institusi pendidikan fotografi


(formal dan non-formal); penyusunan prioritas
pembangungan institusi pendidikan fotografi; dan
pembangunan institusi pendidikan fotografi

Pendataan fasilitas pendidikan fotografi yang


diperlukan di pendidikan tinggi; perbaikan dan
penambahan fasilitas pendidikan fotografi di
pendidikan tinggi

Peninjauan dan perancangan ulang rumpun


kelimuan dari fotografi di lembaga pendidikan

Menteri Pendidikan & Kebudayaan


Asosiasi Keprofesian Fotografi

Menteri Pendidikan & Kebudayaan


Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif
Kepala Daerah

Menteri Pendidikan & Kebudayaan


Institusi Pendidikan Tinggi

Menteri Pendidikan & Kebudayaan


Asosiasi Keprofesian Fotografi

Memberikan beasiswa
kepada para pengajar
untuk melanjutkan
studi sampai dengan
jenjang S3

Memberikan insentif
penelitian kepada para
pengajar

Insentif yang diberikan terutama untuk para


pengajar yang menghasilkan karya-karya ilmiah
yang terpublikasi ataupun memiliki HKI

Dibukanya alokasi beasiswa khusus kepada para


pengajar fotografi yang berkaitan dengan industri
kreatif oleh pemerintah

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Menteri Keuangan

SASARAN 2: Meningkatnya kualitas tenaga kerja kreatif (orang kreatif) di bidang fotografi

Perbaikan nomenklatur
pendidikan fotografi

SASARAN 1: Meningkatnya kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan orang kreatif di bidang fotografi secara berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

MATRIKS RENCANA AKSI PENGEMBANGAN FOTOGRAFI 2015 - 2019

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

119

Perbaikan dan
penambahan fasilitas
pendidikan fotografi di
pendidikan tinggi

Pembuatan
standarisasi/sertifikasi
fotografer

Studi, penyusunan, pengesahan standar dan


sertifikasi fotografi Indonesia

Pendataan fasilitas pendidikan fotografi yang


diperlukan di pendidikan tinggi; perbaikan dan
penambahan fasilitas pendidikan fotografi di
pendidikan tinggi

Membandingkan kurikulum, metode pengajaran,


fasilitas, dan outcome dari pendidikan fotografi
di luar negeri

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif;
Menteri Hukum dan HAM

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Institusi Pendidikan Tinggi

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

Pendirian pusat
manajemen
pengetahuan di bidang
fotografi

Pendataan, studi kelayakan, perancangan,


dan pendirian pusat manajemen pengetahuan
fotografi Indonesia

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Membuat langkahlangkah strategis


dalam menciptakan
dan mengembangkan
wirausaha di bidang
fotografi

Adanya forum fotografi


nasional

Forum fotografi tersebut mempertemukan


antar pemangku kepentingan dalam industri
fotografi, misalnya pemerintah, industri, institusi
pendidikan, wirausaha kretif, dan komunitas,
yang dapat dikemas dalam bentuk online/offline,
seminar, talkshow, festival, dan lain sebagainya.

Langkah-langkah strategis yang dimaksud


adalah suatu acuan yang bertahap bagi
pemerintah dalam menghasilkan para
wirasusaha baru dan juga mengembangkan
wirausaha yang ada saat ini di bidang fotografi

Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif;


Komunitas; Asosiasi Profesi

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi;
Menteri Perindustrian; Kepala Daerah

SASARAN 4: Meningkatnya wirausaha kreatif lokal di bidang fotografi yang memiliki ketahanan dan berdaya saing

SASARAN 3: Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam dan budaya lokal yang akurat dan terpercaya serta dapat diakses secara mudah dan cepat

Studi banding dengan


perguruan-perguruan
tinggi fotografi di
manca negara

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

120

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Studi, penyusunan, pengesahan standar dan


sertifikasi fotografi Indonesia

Dalam pengembangan unit usaha fotografi perlu


diidentifikasi pihak-pihak yang bersangkutan;
area apa saja yang dapat dikembangkan;
pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam
pelaksanaan; proses monitoring dan evaluasi

Perencanaan pemetaan unit usaha fotografi


di Indonesia; Pemetaan unit usaha fotografi di
Indonesia; Publikasi hasil pemetaan unit usaha
fotografi di Indonesia.

Menteri Pendidikan & Kebudayaan;


Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif;
Menteri Hukum dan HAM

Menteri Perindustrian; Menteri Koperasi


dan UKM; Menteri Perdagangan; Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Tenaga Kerja & Transmigrasi; Menteri
Keuangan; Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan; Menkominfo; Menteri Riset
dan Teknologi; Bappenas; Badan Pusat
Statistik

Pembinaan komunitas
fotografi Indonesia

Pendataan kota-kota yang memiliki komunitas


fotografi; Penyusunan materi seminar usaha
kreatif fotografi; Seminar/talkshow tentang
usaha kreatif fotografi

Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif;


Menteri Koperasi dan UKM; Menteri
Perindustrian; Kepala Daerah;
Komunitas

Pengembangan skema
pembiayaan industri
kreatif

Kegiatan dalam pengembangan usaha ini adalah:


studi pembiayaan usaha kreatif, penyusunan
metode pembiayaan usaha kreatif yang tepat
guna dan tepat sasaran, pembuatan website
informasi pembiayaan usaha kreatif

Menteri Keuangan; Bank Indonesia;


Menteri Perindustrian; Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri Pariwisata & Ekonomi
Kreatif

SASARAN 7: Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi industri fotografi lokal yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

PENANGGUNGJAWAB

Menteri Perindustrian; Menteri Koperasi


dan UKM; Menteri Perdagangan;
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;
Bappenas; Badan Pusat Statistik

SASARAN 6: Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif lokal di bidang fotografi

Pembuatan
standarisasi/sertifikasi
fotografer

Koordinasi
pengembangan unit
usaha fotografi

Pemetaan unit usaha


fotografi di Indonesia

SASARAN 5: Meningkatnya usaha kreatif lokal di bidang fotografi yang berdaya saing

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

121

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB

Pemberian fasilitas,
dana, akses pasar
bagi fotografer untuk
melakukan usaha
fotografi di dalam
maupun luar negeri

Pemberian fasilitas dan


dana bagi fotografer
untuk mengikuti
pameran fotografi di
dalam maupun luar
negeri

Pemberian fasilitas dan dana untuk mendorong


keikutsertaan karya fotografi Indonesia yang
berkualitas untuk mengikuti pameran fotografi di
dalam maupun luar negeri

Fasilitas yang diberikan seperti kesempatan dan


peluang untuk berpartisipasi dalam kegiatankegiatan fotografi di dalam dan luar negeri,
ditunjang dengan dana yang dapat digunakan
untuk investasi dan pengembangan usaha, dan
saluran distribusi yang memungkinkan para
pelaku industri fotografi dapat memperluas
pasarnya baik dalam skala nasional maupun
internasional

Memfasilitasi pengembangan pusat data


pengetahuan fotografi seperti mengenai
studi, hasil pemetaan, dan jurnal dengan
cara: mengumpulkan hasil studi; membangun
sistem pengetahuan; mensosialisasikan pusat
pengetahuan fotografi; dan memonitor dan
evaluasi tingkat penggunaan pusat pengetahuan
fotografi

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perindustrian; Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri Perdagangan;
Komunitas; Asosiasi keprofesian;

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perindustrian; Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri Perdagangan;
Komunitas; Asosiasi keprofesian;

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Pengadaan
infrastruktur untuk
mempermudah akses
ke daerah-daerah yang
memiliki objek-objek
pariwisata

Akses yang dimaksud adalah sebagai berikut:


jalan raya, listrik, jaringan internet, lingkungan
yang bersih, transportasi, akomodasi, dan lainlain.

Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif;


Menteri Pekerjaan Umum; Menteri
Komunikasi dan Informasi; Menteri
BUMN; Kepala Daerah

SASARAN 9: Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang memadai dan kompetitif

Pemberian fasilitas
untuk pengembangan
pusat data
pengetahuan untuk
fotografi Indonesia

SASARAN 8: Meningkatnya diversifikasi dan penetrasi pasar karya fotografi di dalam negeri dan luar negeri

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

122

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB

Pembinaan komunitas
fotografi Indonesia

Kerjasama
pengembangan
teknologi

Teknologi dalam fotografi di Indonesia saat


ini masih tergantung dengan pihak produsen
khusunya dari luar negeri, oleh sebab itu
diperlukan upaya kerjasama untuk menciptakan
pengembangan teknologi yang berasal dari
dalam negeri

Pembinaan komunitas diperlukan untuk


menumbuhkembangkan industri fotografi di
Indonesia

Kerjasama yang dimaksud adalah kolaborasi


antara pemerintah, institusi pendidikan, bisnis/
industri, dan komunitas, salah satu bentuknya
dapat berupa kerjasama antara pihak industri
dengan membangun laboratorium di institusi
pendidikan

Menteri Perindustrian; Menteri


Pendidikan dan Kebudayaan; Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Perdagangan; Menteri Riset dan
Teknologi, Menteri BUMN; Komunitas;
Industri fotografi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan;


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;
Komunitas

Menteri Perindustrian; Menteri


Pendidikan dan Kebudayaan; Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Perdagangan; Komunitas; Industri
fotografi

Penyusunan kebijakan
yang sesuai bagi
wirausaha fotografi

Kebijakan di bidang pendidikan, pariwisata,


industri, pembiayaan, pasar, infrastruktur, dan
HKI

Menteri Perindustrian; Menteri Pendidikan


dan Kebudayaan; Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif; Menteri Keuangan;
Menteri Pekerjaan Umum; Menteri Hukum
dan HAM; Menteri Komunikasi dan
Informasi; Menteri Perdagangan; Menteri
Riset dan Teknologi, Menteri BUMN;
Komunitas; Industri fotografi

SASARAN 11: Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri fotografi

Kerjasama dengan
industri fotografi

SASARAN 10: Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna yang mudah diakses dan kompetitif

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

123

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

Adanya forum fotografi


nasional

Forum fotografi tersebut mempertemukan


antar pemangku kepentingan dalam industri
fotografi, misalnya pemerintah, industri, institusi
pendidikan, wirausaha kretif, dan komunitas,
yang dapat dikemas dalam bentuk online/offline,
seminar, talkshow, festival, dan lain sebagainya.
Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif;
Komunitas; Asosiasi Profesi

Pemberian fasilitas
untuk publikasi tulisan
terkait fotografi di
media massa

Sosialisasi HKI di kotakota kreatif

Sosialisasi yang dilakukan seminar, tulisantulisan, dan penegakan hukum dalam kaitannya
dengan fotografi

Dengan makin banyaknya tulisan mengenai


fotografi Indonesia di media massa nasional dan
internasional, diharapkan masyarakat semakin
sadar akan fotografi

Event yang dimaksud adalah pemberian


penghargaan kepada orang kreatif, karya kreatif,
usaha kreatif, dan wirausaha kreatif di bidang
fotografi

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Hukum dan HAM

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

Menteri Pariwisata dan Ekonomi


Kreatif; Menteri Perindustrian; Menteri
Perdagangan

Pemberian fasilitas
untuk mengarsipkan
sumber daya alam dan
budaya yang dapat
memperkaya fotografi
Indonesia

Pengarsipan sumber daya alam dan budaya


Indonesia; Publikasi hasil pengarsipan di
pusat pengetahuan fotografi; Evaluasi hasil
pengarsipan;

Menteri Perindustrian; Menteri Koperasi


dan UKM; Menteri Perdagangan; Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan;

SASARAN 14: Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal yang mendukung industri fotografi

Event fotografi
Indonesia

SASARAN 13: Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal di bidang fotografi baik itu di dalam dan luar negeri

2017

TAHUN

SASARAN 12: Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan industri fotografi secara berkualitas dan berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

126

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019