Anda di halaman 1dari 128

RENCANA

PENGEMBANGAN

KER A JINAN
NA SIONAL

2015-2019

RENCANA PENGEMBANGAN
KERAJINAN NASIONAL 2015-2019

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

Dionisius Ardiyanto Narjoko


Titik Anas
Haryo Aswicahyono

PT. REPUBLIK SOLUSI

RENCANA PENGEMBANGAN
KERAJINAN NASIONAL 2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasihat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf
Ahman Sya, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Mumus Muslim, Setditjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya
Watie Moerany S, Direktur Pengembangan Seni Rupa
Yuke Sri Rahayu, KasubditTata Usaha - Pengembangan Seni Rupa
Tim Studi
Dionisius Ardiyanto Narjoko
Titik Anas
Haryo Aswicahyono
ISBN
978-602-72367-4-5
Tim Desain Buku
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Yosifinah Rachman
Farly Putra Pratama
Sari Kusmaranti Subagiyo
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima kasih kepada narasumber dan peserta Focus Group Discussion (FGD):
Adhi Nugraha (Dosen KriyaFSRD ITB)
I Wayan Seriyoga Parta (Kurator/Dosen
Anika Widiana (STIE Prasetiya Mulya)
Universitas Negeri Gorontalo)
Antin Sambodo (Seniman Keramik Jinjit
Dr. Kahfiati Kahdar (Head Of Craft
Pottery)
Department/Dosen FRSD ITB)
Ari Anindya H. (Kemenkop & UKM)
Ir. Kirono Arundatie, MM (Daty handicraft)
Asmojo Jono Irianto (Dosen Kriya FSRD
Drs. Ponimin, M.Hum (Seniman Keramik/
ITB)
Dosen Universitas Negeri Malang)
Bambang Irianto (ditjen IKM Wil 3)
Pranandang Adi L. (Ditjen IKM)
Basuki Antariksa (Peneliti Ekonomi Kreatif R. Rizky A. Adiwilaga (Bandung Creative City
Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif )
Forum)
Budi Prasodjo (Kemenko Perekonomian)
R. Setyo Aji (Pengurus PEKALRLIN)
Dinny Jusuf (Toraja Melo)
Siti Alfisahrah (Kemenkop & UKM)
Emmy Soebagyo (Nendo / Batik Bogor)
Thamrin Bustami (ASEPHI Jakarta)
F. Widayanto (Seniman Keramik)
Timbul Raharjo (Dosen Kriya ISI Yogyakarta)
Frida Adyasari (Ditjen PDN Kemenko)
Uke Kurniawan (Batik Banten)
Harry Purwanto (PT. Artura Insanindo/
William Kwan (Peneliti/Pemerhati Batik)
Penggagas Kegiatan Indonesian Contemporary Yuyun Sriwahyuni (Rizqi Batik Tasikmalaya)
Art & Design)
Yusuf Susilo Hartono (Majalah Galeri)

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, dengan berkat dan Rahmat-Nya maka dapat
diselesaikan buku Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2025. Dari buku ini
diharapkan pembaca semakin mengenal tentang subsektor kerajinan di Indonesia dan mengetahui
langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengembangkannya.
Buku ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
atas tugas, fungsi, dan kewenangannya dalam membantu Presiden Republik Indonesia untuk
menyelenggarakan tugas pemerintahan. Diharapkan melalui kementerian ini dapat membantu
pelaku kreatif kerajinan untuk berkembang, kesejahteraannya meningkatkan dan karyanya
bermanfaat bagi masyarakat luas.
Dalam rangka pengembangan subsektor kerajinan, maka Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif membuat buku yang berisi rencana aksi jangka menengah untuk subsektor Kerajinan
dari tahun 2015-2019. Buku in diharapkan mampu berikan gambaran lengkap tentang kerajinan
di Indonesia dan juga arah mengenai perkembangan di lima tahun kedepan. Oleh karena itu,
maka penulis memulai dengan memberikan pemahaman mengenai definisi dan sejarah kerajinan
di Indonesia. Setelah itu dilanjutkan dengan pemaparan pelaku-pelaku dan proses pembuatan
nilainya. Kemudian dijelaskan juga kondisi pasarnya serta kesempatan dan tantangan yang ada.
Bagian terakhir yang berguna untuk para pengambil kebijakan, adalah visi, misi, dan tujuan
dari susbsektor kerajinan di Indonesia.
Kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penyusunan buku ini, dimulai dari akademisi,
pelaku kreatif kerajinan, komunitas, media, hingga perwakilan kementerian terkait lainnya yang
aktif berkontribusi dalam penyelengaraan diskusi kelompok, pencarian data hingga penyajian
penulisannya, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Jakarta, September 2014.


Salam Kreatif,

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

vii

Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................................................................vii
Daftar Isi.............................................................................................................................. viii
Daftar Gambar.....................................................................................................................xi
Daftar Tabel.........................................................................................................................xii
Ringkasan Eksekutif..........................................................................................................xiii
BAB 1 PERKEMBANGAN SUBSEKTOR KERAJINAN DI INDONESIA...........................3
1.1 Definisi Dan Ruang Lingkup Subsektor Kerajinan.........................................................4
1.1.1 Definisi Subsektor Kerajinan....................................................................................4
1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Subsektor Kerajinan................................................8
1.2 Sejarah dan Perkembangan Subsektor Kerajinan..............................................................10
1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Subsektor Kerajinan Dunia..........................................10
1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Subsektor Kerajinan Indonesia....................................16
BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI SUBSEKTOR KERAJINAN
INDONESIA.......................................................................................................................... 27
2.1 Ekosistem Subsektor Kerajinan..........................................................................................28
2.1.1 Definisi Ekosistem.....................................................................................................28
2.1.2 Peta Ekosistem Kerajinan..........................................................................................28
2.2 Peta dan Ruang lingkup Industri Kerajinan.......................................................................38
2.2.1 Peta Industri Kerajinan..............................................................................................38
2.2.2 Ruang Lingkup Industri Kerajinan............................................................................40
2.2.3 Model Bisnis di Industri Kerajinan............................................................................47
BAB 3 KONDISI UMUM SUBSEKTOR KERAJINAN DI INDONESIA...............................49
3.1 Kontribusi Ekonomi Subsektor..........................................................................................50
3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)................................................................. 52
3.1.2 Berbasis KetenagaKerjaan.........................................................................................53
3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan..................................................................................54
3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga..........................................................................55
3.2 Kebijakan Pengembangan Subsektor..................................................................................56

viii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

3.3 Struktur Pasar Subsektor....................................................................................................57


3.4 Daya Saing Subsektor........................................................................................................58
3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Subsektor.........................................................59
BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN SUBSEKTOR KERAJINAN DI INDONESIA.................65
4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 2015-2019...........................................66
4.2 Visi, Misi, Tujuan Pengembangan Kerajinan......................................................................67
4.2.1 Visi Pengembangan Kerajinan...................................................................................67
4.2.2 Misi Pengembangan Kerajinan................................................................................. 69
4.2.3 Tujuan Pengembangan Kerajinan............................................................................. 70
4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis pencapaian Pengembangan Kerajinan.................................71
4.4 Arah kebijakan Pengembangan Kerajinan..........................................................................74
4.4.1 Arah Kebijakan Penciptaan Pelaku Kreatif Subsektor Kerajinan yang Berdaya Saing
dan Mampu Mengangkat Potensi Kekayaan Lokal...................................................74
4.4.2 Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan, Dan Pemanfaatan Sumber Daya
Alam Dan Budaya Bagi Kerajinan Secara Berkelanjutan...........................................74
4.4.3 Arah Kebijakan Penciptaan Industri Kerajinan Yang Berkembang Secara Optimal
dan Berkualitas........................................................................................................ 74
4.4.4 Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Pembiayaan Bagi Proses Kreasi Kerajinan yang
Transparan, Mudah Diakses dan Bersaing................................................................ 74
4.4.5 Arah Kebijakan Penciptaan Industri Kerajinan yang Mampu Menjawab Kebutuhan
dari Pasar Domestik dan Internasional..................................................................... 74
4.4.6 Arah Kebijakan Penciptaan Infrastruktur dan Teknologi yang Mendukung Pelaku
Kerajinan Untuk Maju dan Berkembang..................................................................75
4.4.7 Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan Yang Menghargai Proses Kreatif dari
Setiap Produk Kerajinan...........................................................................................75
4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Kerajinan........................................................ 75
4.5.1 Meningkatnya Kuantitas Dan Kualitas Pendidikan Yang Mendukung Penciptaan
Kerajinan................................................................................................................. 75
4.5.2 Meningkatnya Kuantitas Dan Kualitas Sumber Daya Manusia Pelaku Dan
Pendukung Kerajinan...............................................................................................75
4.5.3 Tersedianya Materi Bahan Mentah Dan Sumber Budaya Lokal Bagi Kerajinan,
Yang Terpercaya, Mudah Dan Cepat Di Akses ....................................................... 76
4.5.4 Meningkatnya Wirasusahawan Kreatif Kerajinan Yang Mampu Mengembangkan
Produk Sesuai Dengan Kondisi Lokal Dan Internasional........................................ 76
4.5.5 Meningkatnya Kualitas Dan Kuantitas Usaha-Usaha Kerajinan Di Berbagai
Daerah.....................................................................................................................76
4.5.6 Terciptanya Karya Kerajinan Yang Beragam Dan Berkualitas................................... 76

ix

4.5.7 Meningkatnya Ketersediaan Pembiayaan Bagi Proses Kreasi Kerajinan Yang


Transparan, Mudah Diakses Dan Bersaing............................................................... 77
4.5.8 Meningkatkan Akses Pasar Produk Kerajinan Di Pasar Domestik Dan
Internasional............................................................................................................77
4.5.9 Meningkatnya Ketersediaan Jaringan Telematika, Logistik Yang Mendukung
Pengembangan Kerajinan.........................................................................................77
4.5.10 Meningkatnya Penerapan Teknologi Produksi Yang Optimal Untuk
Meningkatkan Nilai Tambah Barang Kerajinan Yang Berkualitas Dan Beragam.......77
4.5.11 Meningkatnya Partisipasi Aktif Pemegang Kepentingan Dalam Pengembangan
Kerajinan Yang Berkualitas Dan Berkelanjutan........................................................ 78
4.5.12 Meningkatkan Pemahaman Aspek-Aspek Hukum Terkait Ekonomi Kreatif Dan
Hak Kekayaan Intelektual Serta Menjamin Perlindungan Hukum Bagi Pelaku
Kreatif .....................................................................................................................78
4.5.13 Meningkatkan Iklim Usaha Yang Kondusif Bagi Pelaku Kreatif Sub Sektor
Kerajinan................................................................................................................. 78
4.5.14 Meningkatnya Apresiasi Kepada Orang Pelaku Kerajinan Dan Karya Kreatif
Mereka.....................................................................................................................78
BAB 5 PENUTUP................................................................................................................... 81
5.1 Kesimpulan.......................................................................................................................82
5.1 Saran.................................................................................................................................86
LAMPIRAN............................................................................................................................ 89

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Daftar Gambar
Gambar 11 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Subsektor Kerajinan.......................9
Gambar 12 Sejarah Perkembangan Kerajinan........................................................................25
Gambar 21 Peta Ekosistem Subsektor Kerajinan....................................................................30
Gambar 22 Proses Kreasi Subsektor Kerajinan.......................................................................31
Gambar 23 Proses Produksi Kerajinan...................................................................................32
Gambar 24 Proses Distribusi Kerajinan................................................................................ 33
Gambar 25 Proses Promosi Kerajinan....................................................................................34
Gambar 26 Lingkungan Pengembangan Kerajinan................................................................35
Gambar 27 Kegiatan Apresiasi Sub Sektor Kerajinan............................................................ 35
Gambar 28 Kegiatan Pendidikan Subsektor Kerajinan............................................................36
Gambar 29 Pasarnya Barang Kerajinan Di Indonesia............................................................ 37
Gambar 210 Proses Pengarsipan Dokumentasi Kerajinan......................................................38
Gambar 211 Peta Industri Kerajinan......................................................................................39
Gambar 3-1 Kinerja Daya Saing Subsektor Kerajinan Saat Ini................................................58

xi

Daftar Tabel
Tabel 21 KBLI Subsektor Kerajinan dalam KBLI 2009......................................................... 40
Tabel 31 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan ...............................................................50
Tabel 32 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis PDB Tahun 2010-2013 ........... 53
Tabel 33 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis Ketenagakerjaan Tahun
2010-2013.............................................................................................................. 54
Tabel 34 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis Aktivitas Usaha Tahun
2010-2013 ..............................................................................................................55
Tabel 35 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis Konsumsi Rumah
Tangga Tahun 2010-2013 .......................................................................................56
Tabel 36 Potensi dan Permasalahan Penembangan Subsektor Kerajinan ................................ 59
Tabel 41 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Kerajinan 2015 - 2019................... 68

xii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Ringkasan Eksekutif
Dokumen rencana aksi jangka menengah kerajinan 2015-2019 disusun dengan maksud untuk
memberikan gambaran secara utuh mengenai kondisi subsektor kerajinan saat dokumen ini dibuat
dan juga memberikan arahan perkembangannya dalam konteks ekonomi kreatif di Indonesia.
Dokumen ini dibagi menjadi empat bagian besar. Pada bagian pertama, dimulai dengan pemaparan
mengenai pemahaman mengenai Kerajinan di Indonesia. Disini dipaparkan pengertian kerajinan
secara konseptual serta seberapa luas yang dimaksud dengan kerajinan yang akan dibahas dalam
dokumen ini. Selanjutnya, dibagian pertama juga dijelaskan sejarah perkembangan kerajinan di
dunia dan Indonesia, serta titik-titik penting dalam sejarah tersebut bagi dunia kerajinan.
Di bagian kedua, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai lingkungan ekosistem di subsektor
kerajinan. Pada bagian ini, dijelaskan mengenai pihak-pihak yang dan, apa perannya dan juga
apa yang dihasilkannya. Secara sederhana, interaksi berbagai pihak dalam subsektor kerajinan
dapat dibagi menjadi empat lingkungan; yaitu lingkungan pembuatan nilai kreatif, pasar, arsip
serta, dan lingkungan pengembangan. Setelah itu, pada bagian kedua ini juga dijelaskan pihakpihak usaha lain yang terkait dalam hubungan perekonomian. Disini terlihat bahwa subsektor
kerajinan bisa terpengaruh dan memberikan pengaruh kepada usaha lain.
Selajutnya di bagian ketiga, dipaparkan mengenai kondisi subsektor kerajinan jika dilihat dari
indikator ekonomi serta kebijakan yang mempengaruhinya. Dimulai dengan faktanya bahwa
struktur pasar untuk subsektor kerajinan merupakan berbentuk monopolistik. Lalu terlihat
bahwa kerajinan merupakan penyumbang penerimaan domestik bruto ketiga terbesar setelah
kuliner dan mode. Lalu kerajinan juga mampu memberikan penghidupan melalui penyerapan
tenaga kerja yang besar juga. Dari sisi aktivitas perusahaan, kerajinan juga bisa menyediakan
usaha-usaha di Indonesia, walaupun terlihat pertumbuhannya yang melambat. Dan terakhir
terlihat bahwa konsumsi rumah tangga saat ini akan produk-produk kerajinan menjadi melambat.
Pada bagian ini juga terlihat daya saing subsektor kerajinan di Indonesia yang masih berjuang
menjawab tantangan serta meraih potensi di waktu yang bersamaan. Secara keseluruhan subsektor
ini dirasakan belum optimal bersaing dengan produk sejenis dari negara lain, khususnya di area
kualitas produk dan sumberdaya orang kreatifnya.
Oleh karena itu, di bagian ke-empat dipaparkan visi, misi, tujuan serta sasaran yang akan
dicapai dalam kurun waktu 2015-2019. Visi yang akan dituju oleh subsektor kerajinan yaitu
agar mampu bersaing di tingkat internasional dengan tetap memberikan kontribusi bagi seluruh
rakyat Indonesia. Hal ini kemudian diterjemahkan kedalam tiga misi besar, tujuh tujuan, serta 14
sasaran strategis yang kemudian di jabarkan kedalam berbagai rencana aksi. Sehingga harapannya
melalui dokumen ini dapat menghantarkan kemajuan kepada subsektor kerajinan secara khusus,
dan secara umumnya mampu memberikan arahan yang jelas dalam mengembangkan kegiatan
ekonomi kreatif di Indonesia.

xiii

If you fail to plan, you are planning to fail.

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

PERIKLANAN 2015-2019

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

TV & RADIO 2015-2019

VIDEO 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

TEKNOLOGI INFORMASI 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI RUPA 2015-2019

PENERBITAN 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI PERTUNJUKAN 2015-2019

17

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

16

MUSIK 2015-2019

15

18

PENELITIAN & PENGEMBANGAN 2015-2019

PERFILMAN
2015-2019

14

KULINER 2015-2019

10

KERAJINAN 2015-2019

ARSITEKTUR 2015-2019

09

12
08

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

11

ARSITEKTUR
2015-2019

06
05
04

KEKUATAN BARU INDONESIA


MENUJU 2025

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

xiv

Benjamin Franklin

xv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

BAB 1
Perkembangan Subsektor
Kerajinan di Indonesia

BAB 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Subsektor Kerajinan


Pemahaman kerajinan sebagai salah satu subsektor dalam ekonomi kreatif adalah penting, karena
kerajinan berbasis kepada ide dari daya kreativitas seseorang akan pengetahuan, warisan budaya, dan
juga teknologi yang diketahuinya. Untuk kerajinan sendiri, mayoritas kreativitasnya berbasis budaya.
Ketika kerajinan bisa menghasilkan keluaran (output) dari pemanfaatan kreativitas, keahlian, dan bakat
individu untuk menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan juga kualitas hidup yang lebih baik,
maka bisa dikatakan ia telah menjadi bagian dari industri kreatif. Dimana ia akan memiliki peran yang
penting dalam ekonomi kreatif karena mampu menggerakan sektor-sektor lainnya yang berkaitan.
Untuk dapat mengembangkan kerajinan sebagai salah satu subsektor dalam ekonomi kreatif, maka
pemahaman mengenai definisi dan ruang lingkup subsektor ini adalah mutlak. Berangkat dari
pemahaman definisi serta ruang lingkup, maka proses selanjutnya untuk melakukan pemetaan
dan perencanaan perkembangan subsektor ini pun akan menjadi lebih baik dan jelas arahnya.
Tetapi proses pemahaman ini mendapat tantangan tersendiri, yaitu pemahaman kerajinan yang
kontekstual dengan ekonomi kreatif. Di satu sisi kerajinan dilihat sebagai sebuah kreativitas
dengan basis seni dan budaya. Di sisi lain, ada sudut pandang tentang kerajinan dari sisi ekonomi
dan industri kreatif. Hal ini bukan berarti pemahaman yang satu akan lebih baik dari yang lain.
Pemahaman kerajinan dari sisi seni dan budaya pun bisa berbeda-beda. Apa yang dipahami sebagai
kerajinan pada satu masyarakat bisa berbeda dengan masyarakat lainnya. Selain itu, sejarah juga
berperan dalam membentuk definisi sebuah kerajinan. Peristiwa-perisitiwa penting yang terjadi
di suatu masyarakat akan membentuk proses kreatif yang berbeda jika kita tarik di skala negaranegara yang memiliki latar belakang budaya dan sejarah yang berbeda-beda.
Pada sisi ekonomi dan industri kreatif, pemahaman kerajinan lebih menekankan pada proses
kreasi nilai. Nilai disini diartikan bahwa kerajinan itu dihasilkan dengan memiliki kegunaan/
fungsi dalam kehidupan sehari-hari dan juga memberikan manfaat ekonomis bagi pembuat
atau penciptanya. Lebih jauh lagi, seperti disebutkan di atas, nilai dari industri kerajinan akan
terlihat dari penciptaan pekerjaan dan peningkatan taraf hidup individu-individu yang terkait.
Menyadari adanya dua sudut pandang akan kerajinan, dan melihat keperluan akan pentingnya
pembuatan dokumen pengembangan dan rencana jangka menengah subsektor ini, maka kita perlu
menentukan definisi dan ruang lingkupnya dengan menyesuaikan kepada budaya serta proses
pembuatan nilai untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Diharapkan dengan pemahaman
definisi dan ruang lingkup yang kontekstual ini, maka potensi dan pengembangan subsektor
kerajinan dapat semakin jelas menjaga tradisi akan produk kerajinan yang berkontribusi terhadap
perekonomian Indonesia.

1.1.1 Definisi Subsektor Kerajinan


Pemahaman definisi dalam buku ini akan dibagi menjadi dua pendekatan. Dimulai dari
pemahaman definisi etimologis, yaitu dengan memahami arti sebuah kata berdasarkan asal
katanya. Hal ini dilakukan dengan menelusuri perubahan bentuk dan makna kata seiring
berjalannya waktu. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembahasan definisi secara konseptual. Di
bagian ini kita akan melihat kerajinan sesuai dengan teori-teori yang berkaitan dengan kerajinan.
Kemudian ditutup dengan kesimpulan definisi tentang subsektor kerajinan.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Jika kita lihat padanan kata kerajinan dalam bahasa Inggris, maka akan kita temukan kata
craft. Berasal dari kata crft (bahasa Inggris kuno) yang merupakan serapan dari bahasa Jerman,
kata ini memiliki arti kekuasaan, kekuatan fisik, keahlian. Hadir juga dalam bahasa Belanda,
yaitu kracht dan juga bahasa Swedia kraft yang memilki arti kekuatan. Kata craft ini
kemudian dalam bahasa Inggris berkembang dalam pemahamannya, yaitu dari keahlian, seni,
ilmu dan talenta, hingga ke perdagangan, kerajinan tangan, panggilan dan sesuatu yang
dibuat atau dibangun.1
Sekarang kita melihat asal kata kerajinan dalam bahasa Indonesia. Kata kerajinan berasal dari
kata rajin yang berarti suka bekerja, getol, dan sungguh-sungguh bekerja. Ia mendapatkan
awalan ke dan akhiran an yang kemudian menjadi kata benda yang berarti barang yang
dihasilkan melalui keterampilan tangan seperti tikar, anyaman, gerabah, dan sebagainya. Selain
itu, ada juga istilah yang sering dipakai untuk kata kerajinan, yaitu kriya. Kata ini memiliki
arti pekerjaan (kerajinan) tangan.2
Dalam konteks asal kata di negara-negara Eropa dengan yang ada di Indonesia, bisa dikatakan bahwa
kerajinan atau kriya memiliki pengertian yang mirip. Di Eropa, kerajinan dipahami sebagai sesuatu
penguasaan keahlian dalam berkreasi. Sedangkan di Indonesia kerajinan dipahami bahwa sebagai
suatu barang yang dihasilkan akibat proses pekerjaan yang terus menerus (menjadi semakin ahli
dalam berkreasi). Dalam terjemahan kerajinan dan kriya masuk juga unsur kata tangan. Maksudnya
tangan di sini adalah sebagai simbol dari kerajinan manual. Lebih jauh lagi yaitu bahwa dalam
perjalanan sejarah kreasi barang kerajinan, individu-individunya banyak yang mengerjakannya
dengan menggunakan tenaga tangan. Tapi, seiring perkembangan zaman dan teknologi, tidak
jarang individu tersebut juga menggunakan bantuan teknologi dan mesin dalam berkreasi barang
kerajinan dan tidak melupakan koordinasi anggota tubuh yang lain (seperti mulut, kaki, dan lain-lain).
Walaupun bisa dikatakan mirip, tetapi terdapat perbedaan mengenai pemahaman istilah kata
kerajinan dan kriya. Seni kriya berasal dari kata Sanskerta yaitu kr yang berarti mengerjakan
dan dari akar kata tersebut berubah menjadi karya, kriya, dan kerja. Menurut Haryono (seperti
dikutip oleh Parta, 2009), kata kriya ini memiliki arti khusus yaitu mengerjakan sesuatu untuk
menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni. Pemahaman ini senada dengan pendapat Gustami
(1997) yang mengatakan bahwa seni kriya adalah karya seni yang unik, punya karakteristik di
mana di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, filosofis, dan sekaligus fungsional.
Selanjutnya oleh Gustami dikatakan, bahwa dalam mewujudkan karya seni kriya ini didukung
oleh craftmanship yang tinggi. Pemisahan kriya dengan kerajinan juga dapat dilihat dari sejarahnya,
yaitu pada masa kerajaan. Kriya tumbuh dalam lingkungan istana, sedangkan kerajinan tumbuh
pada lingkungan luar istana.3
Sebagai salah satu cabang seni rupa, seni kriya memiliki akar yang kuat, yaitu nilai tradisi yang
bermutu tinggi. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu, para kriyawan dari keraton menghasilkan
karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofis tinggi. Sehingga memberikan legitimasi pada
produk seni kriya zaman dahulu.4
(1) Online etimology dictionary, http://www.etymonline.com
(2) Kamus Besar Bahasa Indonesia (online), http://kbbi.web.id/rajin ; http://kbbi.web.id/kriya
(3) Pengertian Kriya, 2009, http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/pengertian-seni-kriya/
(4) Seni kriya dan seni kerajinan dalam industri kreatif, Dr. Timbul Raharjo, M.Hum. 2010, http://timbulkasonganblog.
blogspot.com/2010/03/seni-kriya-dan-seni-kerajinan-dalam.html

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

Dengan beralihnya dari sistem kerajaan menjadi kenegaraan, maka perbedaan antara karya kriya
dengan kerajinan menjadi semakin tidak berjarak. Hal ini terlihat dari segi kualitas, karya-karya
kriya tradisi sudah banyak dibuat dan dipasarkan untuk memenuhi tuntutan pariwisata. Sedangkan
kerajinan Indonesia banyak yang mendapatkan apresiasi baik di dalam negeri ataupun luar negeri
dengan permintaan ekspornya. Dengan memiliki spesifikasi teknik, ide, dan pengerjaan yang
tinggi, maka produk kerajinan di masyarakat sekarang lebih tepat dikatakan sebagai kriya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui organisasi untuk pendidikan, pengetahuan, dan
kebudayaan (UNESCO), memiliki kerangka pemahaman sendiri tentang kerajinan. UNESCO
memulai memahami kerajinan dari pengakuan arti pentingnya tentang Intangible Cultural
Heritage. Organisasi ini mengakui bahwa istilah warisan kebudayaan tidak hanya terbatas
pada obyek-obyek monumen dan koleksi barang, tetapi juga warisan dalam bentuk tradisi atau
cara hidup (intangible/tidak berwujud) yang diwariskan oleh nenek moyang kita dan kemudian
kita teruskan kepada generasi selanjutnya. Hal ini contohnya seperti: tradisi berkata-kata, seni
pertunjukan, praktek sosial, ritual, acara-acara pesta, pengetahuan tentang alam semesta, dan
pengetahuan dan keahlian untuk menghasilkan kerajinan tradisional.
Selanjutnya, UNESCO melihat kerajinan dari pemahaman mengenai traditional craftmanship
atau keahlian tradisional. Masih sejalan dengan perlindungan warisan budaya yang tidak berwujud,
UNESCO melihat bahwa keahlian dalam pembuatan kerajinan adalah lebih penting dibanding
barang hasil kerajinannya. Mereka merasa bahwa perlu ada usaha-usaha dalam mendorong
para perajin untuk bisa meneruskan keahlian dan pengetahuan kerajinannya kepada orang lain
(khususnya kepada anggota komunitasnya). Organisasi ini kemudian menjelaskan cara perajin
mengekspresikan keahliannya, pengunaan barang-barang hasil kerajinan dan juga keahlian apa
saja yang dibutuhkan. Seperti dikutip pada bagian berikut ini:
There are numerous expressions of traditional craftsmanship: tools; clothing and jewellery; costumes and
props for festivals and performing arts; storage containers, objects used for storage, transport and shelter;
decorative art and ritual objects; musical instruments and household utensils, and toys, both for amusement
and education. Many of these objects are only intended to be used for a short time, such as those created
for festival rites, while others may become heirloom that are passed from generation to generation. The skills
involved in creating craft objects are as varied as the items themselves and range from delicate, detailed
work such as producing paper votives to robust, rugged tasks like creating a sturdy basket or thick blanket.5
Dari kutipan tersebut dapat dipahami bahwa kreasi barang kerajinan memerlukan keahlian yang
kompleks. Mereka (perajin) harus memahami bahan/media berkreasi, kegunaannya, jangka waktu
penggunaan, serta tingkat kerumitan yang dituntut dalam berkreasi.
Dan terakhir, UNESCO memandang kerajinan dari sudut pandang pembuatnya. Berdasarkan
Simposium UNESCO/ITC di Manila, October 1997, organisasi ini mendefinisikan produk
kerajinan, sebagai berikut:
Artisanal products are those produced by artisans, either completely by hand, or with the help of hand
tools or even mechanical means, as long as the direct manual contribution of the artisan remains the
most substantial component of the finished product. These are produced without restriction in terms of
(5) Traditional Craftmanship, UNESCO, http://www.unesco.org/culture/ich/?pg=00057

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

quantity and using raw materials from sustainable resources. The special nature of artisanal products
derives from their distinctive features, which can be utilitarian, aesthetic, artistic, creative, culturally
attached, decorative, functional, traditional, religiously and socially symbolic and significant.6
Dalam kutipan diatas, UNESCO menyebut individu yang menghasilkan barang kerajinan sebagai
artisan. UNESCO tidak secara langsung mendefinisikan apa itu kerajinan, melainkan memberikan
pengertian mengenai apa itu produk kerajinan. UNESCO menyatakan bahwa sebuah produk akan
dianggap sebagai produk kerajinan jika kontribusi manual dari sang perajin masih merupakan
komponen terbesar dalam produk akhirnya. Dikatakan juga bahwa hasil kerajinan tidak dibatasi
secara jumlah dan bahan-bahan. Dengan tidak melupakan fitur unik dari produk kerajinan yaitu
mulai dari berguna, indah, artistik, kreatif, berdasarkan budaya, dekoratif, fungsional, tradisional,
hingga bersifat keagamaan dan bersifat sosial secara signifikan.

Logo UNESCO

Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (bahasa Inggris: United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization, disingkat UNESCO) merupakan badan
khusus PBB yang didirikan pada tahun 1945. Tujuan organisasi ini adalah mendukung perdamaian dan keamanan dengan mempromosikan kerja sama antarnegara melalui pendidikan,
ilmu pengetahuan, dan budaya dalam rangka meningkatkan rasa saling menghormati yang
berlandaskan kepada keadilan, peraturan hukum, hak asasi manusia, dan kebebasan hakiki.
UNESCO memiliki anggota 191 negara. Organisasi ini bermarkas di Paris, Perancis, dengan 50
kantor wilayah serta beberapa institut dan pusat di seluruh dunia. UNESCO memiliki lima program
utama yang disebarluaskan melalui: pendidikan, ilmu alam, ilmu sosial & manusia, budaya, serta
komunikasi & informasi. Proyek yang disponsori oleh UNESCO termasuk program baca-tulis,
teknis, dan pelatihan guru; program ilmu internasional; proyek sejarah regional dan budaya, promosi
keragaman budaya; kerja sama persetujuan internasional untuk mengamankan warisan budaya dan
alam serta memelihara HAM; dan mencoba untuk memperbaiki perbedaan digital dunia.
Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_Pendidikan,_Keilmuan,_dan_Kebudayaan_PBB

Selain itu, Risatti (2007), dalam bukunya A Theory of Craft mendeskripsikan bahwa kerajinan
memiliki fungsi pencampur nilai-nilai manusia dan cara berekspresi dengan melewati batas
budaya, ruang, dan waktu. Risatti juga menambahkan bahwa kerajinan harus bisa mewakili
perannya di masyarakat modern atau dia akan kalah dibandingkan seni dan desain, serta satusatunya pendekatan untuk memahami dunia akan hilang.
(6) UNESCO, http://portal.unesco.org/culture/en/ev.php-URL_ID=35418&URL_DO=DO_TOPIC&URL_SECTION=201.html

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

Craft as uniquely blending function with a deeper expression of human values that transcend culture,
time, and space. Craft must articulate a role for itself in contemporary society, says Risatti; otherwise it
will be absorbed by fine art or design, and its singular approach to understanding the world will be lost.7
Dengan mengacu pada pemahaman akar kata dan juga konseptual di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksudkan sebagai kerajinan (kriya) adalah

Kerajinan (Kriya) merupakan bagian dari seni rupa


terapan yang merupakan titik temu antara seni dan
desain yang bersumber dari warisan tradisi atau ide
kontemporer yang hasilnya dapat berupa karya seni,
produk fungsional, benda hias dan dekoratif, serta
dapat dikelompokkan berdasarkan material dan
eksplorasi alat teknik yang digunakan, dan juga dari
tematik produknya.

Sumber: Focus Group Discussion subsektor kerajinan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (MeiJuni
2014).

Kata kunci dari definisi tersebut adalah:


1. Seni rupa terapan adalah berupa bentuk gabungan dari berbagai aspek yang melingkupi
seni, desain, dan kerajinan (kriya).
2. Warisan tradisi adalah sesuatu yang yang diteruskan dari generasi ke generasi baik
tertulis maupun (sering kali) lisan.
3. Kontemporer adalah memiliki nilai kekinian dan adanya pengaruh modernisasi.
4. Fungsional adalah memiliki fungsi khusus dan memberikan solusi atas kebutuhan atau
permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.
5. Dekoratif adalah memiliki efek dekorasi.
6. Material dan eksplorasi alat teknik adalah bahan baku yang digunakan serta teknik
produksi dari bahan baku yang digunakan tersebut, misalnya: ukiran kayu; pahat logam;
anyaman bambu, eceng gondok, atau tenun.
7. Tematik produk adalah jenis produk yang dihasilkan, misalnya: perhiasan, furniture,
tekstil, produk dekorasi interior, table ware, dan sebagainya.

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Subsektor Kerajinan


Selanjutnya, dasar yang kuat atas pembahasan juga dimulai dengan pemahaman akan konteks
atau ruang lingkup. Harapannya dengan pemahaman akan ruang lingkup maka akan memberikan
batasan-batasan yang jelas akan fokus pengembangan kerajinan dalam konteks pengembangan
ekonomi kreatif di Indonesia. Subsektor kerajinan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, bisa
(7) Risatti, H., 2007., A Theory of Craft: Function and Aesthetic Expression,University of North Carolina Press.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

dari materi yang digunakan, tematik produk, skala produksi dan pelaku kerajinan, hingga tujuan
penciptaan kerajinan itu sendiri. Dalam perjalanan perkembangan kerajinan di Indonesia, subsektor
ini bisa dipahami melalui beberapa sudut pandang, yaitu berdasarkan: jenis produk kerajinan,
bentuk, pelaku, dan skala produksinya, dan bahan dan teknik pengerjaan dari produk kerajinan
tersebut. Jika ditelaah lebih jauh maka pengelompokkan kerajinan dapat dijabarkan dibawah ini.
Gambar 1-1 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Subsektor Kerajinan
KERAJINAN
BERDASARKAN
JENIS PRODUK

BERDASARKAN
PELAKUDAN SKALA

BERDASARKAN
BENTUK PRODUK

BERDASARKAN
JENIS BAHAN

BERDASARKAN
TEKNIK

Ukir

Batu

Pahat

Limited
Edition Craft

Relief

Kayu, Rotan

Rakit

Individual
Craft

Lukisan Ukiran

Keramik

Cetak

Plastik

Pilin

Furniture/
Interior Product

Logam

Slabbing

Keris

Serat

Tenun

Perhiasaan

Kertas

Batik

Toys

Lainnya

Lainnya

2 Dimensi

Kerajinan
Seni

3 Dimensi

Mass Craft
Kerajinan
Desain

Limited
Edition Craft
Busana Adat
Individual
Craft
Kitchenware

Tableware

Glassware
Fokus Pengembangan Kerajinan

1. Berdasarkan jenis produknya, maka kerajinan (kriya) dapat dibedakan menjadi art-craft
dan craft-design.
a. Art-craft (kerajinan (kriya)-seni), merupakan bentuk kerajinan yang banyak
dipengaruhi oleh prinsip-prinsip seni. Tujuan penciptaannya salah satunya adalah
sebagai wujud ekspresi pribadi.

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

b. Craft-design (kerajinan (kriya)-desain), merupakan bentuk kerajinan (kriya) yang


mengaplikasikan prinsip-prinsip desain dan fungsi dalam proses perancangan dan
produksinya, dengan tujuan utamanya adalah pencapaian nilai komersial atau nilai
ekonominya.
2. Berdasarkan bentuknya, dapat dibedakan menjadi bentuk dua dan tiga dimensi. Bentuk
dua (2) dimensi, misalnya: karya ukir, relief, lukisan; sedangkan bentuk tiga (3) dimensi,
misalnya: karya patung dan benda-benda fungsional (seperti keris, mebel, busana adat,
perhiasan, mainan, kitchenware, glassware, tableware);
3. Berdasarkan pelaku dan skala produksinya, dapat dibedakan menjadi mass craft, limited
edition craft dan individual craft.
a. Handycraft/mass craft adalah kerajinan (kriya) yang diproduksi secara massal. Pelaku
dalam kategori ini misalnya perajin (kriyawan) di industri kecil dan menengah (IKM)
atau sentra kerajinan;
b. Limited Edition Craft adalah kerajinan (kriya) yang diproduksi secara terbatas. Pelaku
dalam kategori ini misalnya perajin (kriyawan) yang bekerja di studio/bengkel
kerajinan (kriya). Dan yang terakhir;
c. Individual Craft adalah kerajinan (kriya) yang diproduksi secara satuan (one of a
kind). Pelaku dalam kategori ini misalnya: seniman perajin (artist craftman) di studio.
4. Berdasarkan bahan yang digunakan, meliputi: keramik, kertas, gelas, logam, serat, tekstil
kayu dan sebagainya; dan
5. Berdasarkan teknik yang digunakan meliputi: teknik pahat (ukir), rakit, cetak, pilin,
slabing (keramik), tenun, batik (tekstil);
Berdasarkan penjelasan di atas dan dari hasil wawancara dengan beberapa pelaku usaha kerajinan,
maka dapat disimpulkan bahwa fokus pengembangan kerajinan dalam konteks industri kreatif,
meliputi: kerajinan seni (art-craft) dan juga kerajinan desain (craft-design).

1.2 Sejarah dan Perkembangan Subsektor Kerajinan


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Subsektor Kerajinan Dunia
Berbagai bukti menunjukkan bahwa industri kerajinan tangan memiliki sejarah yang panjang. Kerajinan
muncul pertama kali di zaman batu. Pada zaman tersebut, berbagai peralatan hidup manusia mulai dari
tombak untuk berburu binatang dan alat-alat masak seperti piring terbuat dari batu. Secara perlahan
dan seiring kemajuan yang diperoleh manusia, maka mereka mulai memanfaatkan bahan-bahan alam
seperti tanah liat, kayu, biji besi, tembaga, sutra, dan bulu-bulu binatang, serta serat tanaman. Oleh
karena itu, industri kerajinan memiliki sejarah yang panjang dan berumur lebih dari 4000 tahun.
Menurut para ahli, era Renaissance atau pembaharuan sangat berpengaruh bagi kesempurnaan
seni kerajinan tangan. Di dunia Barat, sejarah mencatat bahwa perajin ini cenderung tinggal di
daerah perkotaan dan membentuk asosiasi/perkumpulan. Mereka biasanya memiliki tingkat
pendidikan yang tinggi dan kelas sosial yang baik. Pendidikan tinggi tersebut dimiliki karena
tuntutan profesi dan juga secara tetap melakukan kegiatan pertukaran barang. Berbeda dengan
petani yang bisa memenuhi kebutuhan pokoknya secara sendiri, perajin harus bergantung pada
pertukaran barang untuk kelangsungan hidupnya.

10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Pada akhir abad ke-19, terjadi reformasi desain dan pergerakan sosial di Eropa, Amerika Utara
dan juga Australia. Pergerakan ini juga mengakibatkan pergerakan di area seni dan kerajinan.
Salah satu tokoh yang mendukung pergerakan ini yaitu William Morris dan John Ruskin yang
berpendapat bahwa masyarakat Eropa di saat sebelum masa industri, telah mencapai taraf hidup
yang memuaskan melalui proses kreatif dari produk kerajinan. Hal ini mereka bandingkan
dengan pengaruh masa industri yang memberikan pengaruh kurang baik kepada hidup mereka.
Bermula di tahun 1850-an, ketika sekelompok individu dari Universitas Oxford yaitu William
Morris, Edward Burne-Jones, dan beberapa temannya dari Pembroke College (nantinya mereka
dikenal sebagai Kelompok Birmingham) berkumpul dan membentuk visi mengenai keindahan
dan sosial dari pergerakan seni dan kerajinan. Walaupun pada masa ini Morris bisa dikatakan
tidak tertarik pada politik, tetapi ia dan kelompok Birmingham merasakan langsung masyarakat
industri dan menggabungkan rasa cintanya terhadap karya literatur roman dari Tennyson, Keats
dan Shelly dengan komitmen yang kuat akan reformasi sosial yang mendasar serta besar. Pada
tahun 1855, kelompok ini menemukan sebuah artikel tulisan John Ruskin yang mengulas tentang
seni dari Pre-Raphaelites (yaitu membedakan antara masa sebelum zaman industri yang memukau
dengan masa budaya kontemporer yang kasar). Tanpa disadari, kelompok ini sudah membentuk
persaudaraan yang memperjuangkan aktivitas-aktivitas literatur dan seni. Bahkan mereka memiliki
istilah tersendiri atas aktivitasnya, yaitu perang suci terhadap zaman (yang merusak seni) itu.

John Ruskin

William Morris

John Ruskin (8 February 181920 January 1900) adalah kritikus utama seni dari era victoria, ia
juga dikenal sebagai penyokong seni, ahli menggambar, pelukis cat air, seorang pemikir sosial, dan
dermawan. Ruskin menghasilkan berbagai macam karya tulis, mulai dari geologi, arsitektur, mitos,
pendidikan, hingga ekonomi politik. Gaya penulisannya juga bervariasi, dari puisi, materi kuliah,
pedoman perjalanan bahkan dongeng. Dalam semua karya-karya tulisnya, beliau menekankan
pada hubungan antara alam, seni dan masyarakat. Dia juga membuat sektsa yang cukup rinci
mengenai tanaman, burung-burung, pemandangan, struktur arsitek, dan juga barang hiasan.
William Morris (24 March 18343 October 1896) adalah seorang perancang tekstil, penyair, penulis
novel, penerjemah, dan juga aktivis yang mendukung paham sosialis. Sebagai kontributor utama dalam
kebangkitan produksi seni tekstil tradisional dan metode produksi di Inggris, beliau tercatat dalam
sejarah sebagai bagian dari pergerakan seni dan kerajinan. Memiliki latar belakang pendidikan tinggi
sebagai arsitek, selanjutnya dia mendirikan perusahaan di bidang dekor interior dengan rekan-rekannya.
Selain itu ia sukses dalam merancang karpet, wallpaper, mebel dan kaca patri untuk jendela-jendela.
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/John_Ruskin ; http://en.wikipedia.org/wiki/William_Morris

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

11

Awalnya Morris & Burne-Jones akan bergabung kepada persaudaraan tersebut, tetapi mereka
memilih berkarir dahulu, yaitu Morris sebagai arsitek dan Burne-Jones sebagai pelukis. Pada awal
tahun 1856, Morris bergabung ke arsitek Gothic revival di G.E.Street, dan bertemu pada teman
arsiteknya, Phillip Webb. Dari sinilah, mereka mulai mencoba-coba mengukir batu, kayu dan
bordir, kerajinan dengan logam, dan konsep-konsep pencahayaan. Sedangkan Burne-Jones menjadi
muridnya pelukis masa pre-Raphaelite, Gabriel Rossetti. Morris dan Burne-Jones kemudian di
tahun 1856 pindah ke Bloomsbury. Disinilah kelompok Birmingham menulis artikel tentang
politik di ranah seni untuk The Oxford and Cambridge Magazine, plus disini juga Morris memulai
mendesain mebel dan interior. Prinsip radikal dari Morris saat itu adalah dirinya berperan serta
dalam proses desain dan juga pembuatan dari seluruh produk mebel dan interiornya. Pendapat
senada juga di luncurkan oleh Ruskin. Ia merasa bahwa pemisahan kegiatan intelektual desain
dari kegiatan kreasi yang dilakukan secara manual/fisik adalah merusak tataran sosial dan
keindahan. Oleh karena itu, Morris menyatakan bahwa dia perlu menguasai teknik dan material
produksi baru kemudian melanjutkan ke pekerjaan di bengkelnya. Morris berpendapat bahwa
tanpa martabat, maka pekerjaan kreatif yang dilakukan akan terputus dari kehidupan itu sendiri.
Ide Morris ini terus menyebar pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Hasilnya, banyak
asosiasi dan juga komunitas yang terbentuk dengan dasar pemikirian Morris. Di Inggris sendiri,
antara tahun 1895-1905, telah berdiri organisasi seni dan kerajinan sebanyak 130 buah. Selain itu,
di tahun 1885 Birmingham School of Art menjadi sekolah terkemuka untuk seni dan kerajinan.
Dalam dunia pendidikan, bisa dikatakan bahwa ide-ide dari Morris telah diadopsi dan masuk
ke dalam filosofi pendidikan di akhir tahun 1880-an.
Pergerakan seni dan kerajinan ini pun menyebar ke Irlandia dan Skotlandia. Salah satu perajin
yang terkenal dengan kerajinan kacanya adalah Harry Clarke dan Evie Hone. Kerajinan Kaca
tersebut bisa dilihat dalam ornamen pada desain arstitek kapel Honan, di University College Cork.
Motif yang mirip pun banyak terlihat pada karya kerajinan perak, permadani, ilustrasi di buku,
dan juga mebel ukiran. Di Skotlandia, pergerakan ini juga terlihat pada hasil kerajinan kaca di
tahun 1850-an dengan tokohnya James Ballantine. Karyanya menempati salah satu jendela di
gereja Dunfermline Abbey dan juga di Katedral St.Giles di Edinburgh.
Di Amerika Serikat, pergerakan seni dan kerajinan ini terasa pertama kali di Chicago pada tahun
1897. Para pekerja seni di Amerika Serikat sendiri berusaha untuk menyesuaikan pemahaman gaya
seni dan kerajinan tersebut untuk negaranya. Ide-ide mengenai hal tersebut disebarkan melalui
jurnal, koran, dan kuliah-kuliah umum ke masyarakat. Tindak lanjut konkrit dari penyebaran ide
tersebut adalah sebuah pameran. Pameran The 1st American Arts & Crafts Exhibition berlangsung
di Boston pada April 1897. Suksesnya pameran ini kemudian membuahkan satu asosiasi The
Society of Arts and Crafts (SAC). Para pendirinya mengklaim bahwa mereka memiliki kepedulian
di luar penjualan semata, dan menekankan kepada pengembangan perajin agar bisa menghasilkan
kualitas desain dan karya.
Pergerakan seni dan kerajinan ini juga menyebar ke negara-negara lain. Seperti di Belgia pada tahun
1890 terinspirasi gerakan di Inggris, maka kemudian beberapa seniman dan arsitek membentuk
kelompok La Libre Esthetique. Lalu di Jerman, juga terbentuk asosiasi serupa pada tahun 1898. Di
Austria, Finlandia, Hungaria, dan Islandia terlihat juga karya-karya yang terinspirasi pergerakan
ini. Sampai di Jepang, di tahun 1920, Yanagi Soetsu juga menunjukkan minatnya pada ide-ide
yang dicetuskan Morris dan Ruskin.

12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Dari perjalanan di atas, bisa dilihat bahwa pada akhir abad ke-19 tersebut, di dunia Barat ada
dua pendekatan kepada kerajinan. Pertama, yang dicetuskan oleh Ruskin & Morris, yaitu
kerajinan tidak membutuhkan mesin dan penggunaannya hanya akan membuat penurunan
kualitas hidup perajin dan masyarakat. Dan yang kedua, yang mengatakan bahwa mesin dapat
memperbaiki kualitas karya dan perajinnya. Pada akhirnya, bahkan Morris bersikap rasional
dan mengatakan bahwa selama mesin-mesin tersebut bisa meningkatkan kualitas karya dan
kualitas hidup pembuatnya, maka ia bisa menerima. Hal ini bisa dipahami, karena ditakutkan
dengan hadirnya mesin manufaktur pada area seni dan kerajinan, bisa mengurangi craftsmanship/
keahlian dari sang pembuat.
Sejak revolusi industri, (1750-1850) kerajinan pun telah melewati perubahan struktural yang besar.
Akibat adanya industri besar yang memiliki jumlah produksi massal, maka dengan sendirinya
ada perajin yang membatasi pemasarannya pada segmen pasar yang tidak terlayani oleh industri
besar. Segmen ini adalah kelompok konsumen yang tidak menginginkan barang produksi massal.
Dampak lainnya adalah perajin sekarang juga memanfaatkan beberapa materi bahan produknya
dari komponen atau material setengah jadi. Hal ini dilakukan untuk memenuhi perkembangan
keinginan dari konsumennya.
Istilah kerajinan tangan pada masa itu dipahami memiliki dua arti. Pertama, sebagai sebuah
produk dari usaha seorang seniman yang memerlukan pengetahuan khusus, mungkin pengetahuan
teknikal dalam pengerjaannya atau peralatan khusus dalam memproduksinya, lalu mempekerjakan
pekerja manual, dapat diakses oleh masyarakat umum, dan dibuat dari material yang diluar tradisi
seperti keramik, kaca, kain, logam, dan kayu. Kedua, benda kerajinan tangan bisa dipahami
menjadi barang seni. Hal ini khususnya ketika barang tersebut berada di museum atau dipajang
di dalam rumah konsumennya.

Perajin kaca hias di Perancis


Sumber: Alexis Lecomte, Ministre de la Culture - France, http://www.unesco.org/culture/ich/?pg=00057

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

13

Di Amerika Serikat (AS) industri ini mulai berkembang pesat pada tahun 1940-an. Walaupun
faktanya masyarakat Amerika Serikat telah membuat dan menjual produk kerajinan tangan
sejak lama, tetapi meningkatnya industri kerajinan tangan yang dikenal sekarang dimulai sejak
berkembangnya industri pemasok barang-barang kerajinan di tahun 1940-an. Industri ini bermula
di wilayah Barat AS yang kemudian dalam 10 tahun setelahnya mulai menyebar secara luas ke
wilayah lain. Penyebaran ini juga disebabkan meningkatnya penjualan buku-buku teknis yang
membahas mengenai cara pembuatan kerajinan tangan.
Pada tahun 1960-an majalah yang menyasar perajin dan pelaku hobi, pertama kali diterbitkan.
Selain itu, terbit juga majalah yang membahas tentang teknik kerajinan dan jenis-jenis seni baru,
serta muncul buku tentang pola dan materi pasokan untuk kerajinan. Pada waktu yang sama,
perhatian media menyoroti industri ini ketika penerbit dan produsen barang kerajinan dan hobi
mulai marak melakukan pameran atas barang-barang kerajinannya.
Perhatian secara nasional mulai tertarik kepada pameran dan ribuan perajin ketika proyek
tentang cara membuat kerajinan muncul di acara televisi. Untuk membantu usaha para perajin
maka dibentuklah asosiasi dan organisasi untuk kerajinan dan seni. Pada pertengahan tahun
1970-an, sebuah hasil survei nasional menunjukkan hasil bahwa 2 dari 3 orang Amerika Serikat
telah berpartisipasi di bidang kerajinan dan seni, dan diperkirakan masih banyak lagi orang yang
akan ikut membuat kerajinan. Di masa itu juga disaksikan banyak dibukanya toko-toko pasokan
bahan-bahan kerajinan, penerbit yang menerbitkan buku-buku tentang kerajinan serta suksesnya
majalah-majalah yang ditujukan bagi konsumen barang kerajinan.
Awal 1980-an menjadi saksi bagaimana menjamurnya acara televisi mengenai kerajinan dan
suksesnya penjualan boneka Cabbage Patch. Kedua hal tersebut menambah perhatian kepada
industri kerajinan. Alhasil, semakin banyak pameran seni dan kerajinan digelar. Selain itu, tokotoko yang menjual produk kerajinan juga banyak bermunculan, bahkan tidak jarang ada yang
berumur pendek dan tutup. Saat inilah dirasakan bahwa perajin dan pemilik toko kerajinan
membutuhkan pengetahuan akan pengelolaan sebuah bisnis agar sukses dan berkelanjutan. Di
tahun 1979 terbitlah sebuah buku karangan Brabec, Creative Cash yang merupakan salah satu
buku yang membahas topik mengenai cara menjual barang seni dan kerajinan. Buku ini dirasakan
penting untuk para individu yang ingin mencapai sukses sebagai wiraswasta di bidang kerajinan.

Variasi boneka Cabbage Patch

14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Cabbage Patch Kids adalah produk boneka yang diciptakan oleh mahasiswa seni Xavier Roberts
di tahun 1978. Aslinya boneka ini bernama little people. Boneka ini awalnya dibuat dari kain
dan dijual pada pameran kerajinan lokal, yang selanjutnya dijual di Babyland General Hospital
in Cleveland, Georgia. Boneka ini sempat menjadi mainan paling populer di tahun 1980 dan
menjadi boneka dengan sejarah franchise paling lama di America.
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Cabbage_Patch_Kids )

Hal yang menarik terjadi di tahun 1980-an, yaitu terjadinya pembeliaan komputer oleh konsumen
rumah tangga. Mereka tidak membeli komputer untuk permainan, tetapi untuk menjalankan
bisnisnya dari rumah. Hal ini menarik karena para seniman dan perajin sudah memulai model
pekerjaan ini lebih dahulu 1 dekade. Sebab dari itu semua perubahan massal ini adalah teknologi
komputer, sehingga muncul revolusi work-at-home di tahun 1990-an. Tetapi tidak dapat dipungkiri
bahwa bisnis seni dan kerajinan lah yang pertama mengaplikasikannya.
UNESCO, sebuah organisasi internasional yang memiliki visi global akan peran sosial-budaya dan
ekonomi dari kerajinan di masyarakat, telah berusaha untuk membuat kegiatan yang seimbang,
jelas dan fokus kepada subsektor kerajinan ini. Dukungan dari organisasi dunia UNESCO
kepada dunia kerajinan banyak diwujudkan melalui berbagai penghargaan, seperti UNESCO
Craft Prize yang di anugerahkan dari tahun 1990-2005.
Selain itu, juga sejak 2001 dengan pengenalan penghargaan UNESCO Award of Excellence for
Handicraft. Dengan tidak melupakan kegiatan komersialisasi dari produk kerajinan di pasar
internasional. Dalam hal ini, berbagai aktivitas pendukung pengembangan kerajinan dilakukan
seperti pelatihan dan pameran kerajinan internasional (di luar negara asal perajin) baik di markas
UNESCO atau di pameran internasional lainnya. Maksud dari kegiatan-kegiatan UNESCO dalam
mengundang berbagai pihak yang memiliki kepentingan kepada kerajinan adalah untuk memastikan
bahwa subsektor kerajinan layak untuk mendapatkan prioritas dalam rencana pembangunan nasional.
Tahun 2000 hingga 2008 industri kerajinan di Amerika Serikat terus menunjukan perkembangan.
Hal ini ditambah dengan adanya internet yang mempermudah perajin individual dalam mencari
pembeli di internet yang menginginkan karya seni dan produk kerajinannya. Dari sisi pemasok
barang kerajinan juga semakin dimudahkan dengan banyaknya permintaan dari para perajin
yang mencari material bahan untuk karyanya.
Tetapi tahun 2009 hal itu berubah. Kedua belah pihak, konsumen ataupun pemasok terpukul
oleh adanya peraturan dari Consumer Product Safety Commission. Komisi ini mengeluarkan
peraturan mengenai kewajiban uji kandungan timbal pada produk-produk mainan, boneka,
produk garmen, dan barang-barang untuk anak kecil. Ketika peraturan ini berlaku, akibatnya
adalah ribuan individual produsen produk-produk tersebut bangkrut. Hal ini karena mereka
belum sanggup melewati uji kandungan timbal yang mahal sebelum menjual produknya. Selain
perajin individual, peraturan ini pun memengaruhi ritel modern Amazon.com yang kemudian
melarang penjualan ribuan produk di website-nya. Salah satu kabar baiknya, yaitu mainan anakanak merupakan salah satu segmen saja dalam industri kerajinan di Amerika Serikat. Walaupun
mereka masih dibayangi oleh pemulihan dari keadaan ekonomi yang sulit akibat krisis, tetapi
para perajin masih optimis bisa bangkit seperti mereka telah bangkit dari krisis-krisis yang lalu.

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

15

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Subsektor Kerajinan Indonesia


Sejarah kerajinan di Indonesia bisa ditelusuri dari masa prasejarah, masa pengaruh Hindu-Budha
hingga ke masa pengaruh Islam. Titik awalnya kerajinan di Indonesia berkembang pada zaman
Neolithikum. Di zaman ini, manusia sudah mulai menetap dan tidak lagi mengutamakan berburu
dan berpindah tempat. Ketika mereka menetap, maka mereka mulai membuat kerajinan tangan.
Kerajinan tangan yang mereka kembangkan adalah peralatan seperti pakaian, tembikar, dan
anyaman. Pada masa prasejarah akhir, kriya yang berkembang seperi contoh candrasa (kapak),
bejana, dan perhiasan. Di masa ini mereka terlihat berkembang dengan mulai munculnya motif
tertentu di peralatan tersebut. Plus, sudah dikenalnya kerajinan dengan bahan perunggu. Baik
candrasa dan bejana ditemukan bahwa dilengkapi dengan motif-motif hiasan yang nampaknya
selain mereka berfungsi pada kehidupan sehari, tapi juga mungkin sebagai simbol kebesaran
sang pemilik atau digunakan juga di ritual tertentu. Di masa prasejarah akhir ini terlihat bahwa
keterampilan merek dalam pengecoran perunggu sudah mahir. Ditambah dengan seniman yang
memulai menghias peralatan tersebut dengan hati-hati (tidak asal-asalan menghias). Pada masa
pengaruh Hindu-Buddha, yang berkembang adalah kriya wayang kulit. Wayang ini berkembang
pembuatan tokohnya hingga datangan pengaruh Islam ke Indonesia. Setelah Majapahit runtuh,
perkembangan kriya banyak terlihat bergeser ke Bali. Buktinya dari karya patung, pahatan,
dan lukisan (di materi daun lontar, kain, hingga permukaan langit-langit). Perkembangan seni
ukiran dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan bahwa seni berperan penting alam menjaga
keseimbangan dan keselarasan kehidupan. Akibatnya, arca-arca peninggalan masa ini masih
terlihat indah dan menarik minat banyak orang dari dalam/luar negeri.

Dengan mulai menetap, manusia mulai membuat perkakas untuk kegiatan sehari-hari
Sumber: http://yogadesign.wordpress.com

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Produk-produk kriya ditujukan pada awalnya untuk bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Sehingga
produk kriya bersifat fungsional seperti untuk kepentingan keagamaan dan kebutuhan manusia seharihari (perkakas rumah tangga). Sebagai contoh di zaman logam produk kriya seperti perhiasan (gelang,
kalung, dan cincin) yang dipakai sebagai penghormatan terhadap arwah nenek moyang. Selain itu produk
yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari contohnya: nekara, moko, candrasa, kapak dan bejana.
Pada dasarnya, keindahan yang unggul dari kerajinan Indonesia ini, datang dari penyatuan potensi
lokal dan pengaruh dari budaya luar negeri. Hal ini telah berlangsung melalui migrasi orang-orang
yang terjadi bertahap dari tahun 2500 sampai 500 SM. Hal lain yang memengaruhi adalah komunikasi
antarwilayah dan juga transaksi komersial yang terjadi antara penduduk di daratan Asia tenggara
dengan wilayah Cina Tenggara (Yunnan) dengan wilayah Vietnam serta Laos. Pengaruh juga datang
dari perdagangan dengan pedagang India, Cina, Arab, serta Eropa yang telah terjadi sejak lama.
Dari zaman logam, status kriya berubah ketika masuk agama Hindu-Buddha ke Indonesia. Agama
tersebut membawa pengaruh kepercayaan dan juga sistem sosial di masyarakat. Terjadinya asimilasi
pengaruh budaya Hindu-Buddha yang dibawa oleh pedagang dari India dengan kebudayaan di
Indonesia di masa itu yang melakukan penghormatan kepada arwah nenek moyang dan rohroh yang ada di alam sekitar. Pengaruh Hindu-Budha juga membawa perubahan sistem sosial
dengan struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta (adanya tingkat sosial di masyarakat).
Sistem sosial tersebut melahirkan kerajaan-kerajaan dengan berdasarkan kepercayaan Hindu. Sebagai
contoh kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanegara di
Jawa Barat, kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur
yang kemudian meluas pengaruh Hindu-nya hingga ke Bali. Dari pengaruh Hindu-Budha ini
melahirkan kesenian ukiran dan juga pembuatan patung sebagai perwujudan dewa-dewa. Dengan
kata lain, seni kriya menjadi konsumsi kaum elit di kerajaan/bangsawan. Sedangkan kerajinan
hanya bertumbuh di masyarakat kalangan biasa atau rendah.

Berbagai kerajinan kain pemenang Award of exellence for handycraft (Saluak Laka Songket Shoulder Cloth,
Songket, the wave of Nusa Penida, Tenun Songket Sambas, Hand drawn batik cloth, woven cloth with batik)
Sumber: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

17

Menurut Gustami (yang dikutip oleh Yoga Parta, 2009) mengatakan bahwa kriya berbeda dengan
kerajinan dari sisi profesinya. Hal ini khususnya terlihat pada masa kerajaan, seperti contohnya
pada masa Majapahit. Pembuat kriya akan berada dalam lingkungan istana dan disebut Empu.
Sementara pembuat kerajinan yang berada di luar lingkungan istana disebut sebagai Pandhe.
Dalam berkreasi, empu lebih mementingkan nilai keahlian dan kualitas skill. Sedangkan pandhe
dalam berkreasi mengutamakan fungsi dan penggunaan sebuah barang untuk mendukung
kebutuhan praktis bagi masyarakat.
Unsur-unsur kebudayaan asing makin memperkaya seni kerajinan, di samping itu tradisi seni
kerajinan lama tidak mati bahkan ikut menentukan nilai dan mutunya. Pusat-pusat kerajinan pada
zaman Islam-purba tidak hanya terdapat di pusat pemerintahan raja atau sultan, juga di kadipaten
dan kabupaten. Sesuai dengan perkembangan kehidupan ekonomi terjadilah persinggungan antara
kegiatan seni di istana dengan seni yang berkembang di masyarakat luar istana. Maka terjadilah
pergeseran nilai seni kerajinan dari benda upacara menjadi benda pakai dengan pertimbangan
ekonomi. Apabila di negara-negara lain para seniman Islam mampu menghasilkan bermacammacam karya kerajinan yang bermutu karena didukung oleh daya kreatif yang tinggi, maka seni
kerajinan Indonesia pada zaman Islam dalam perkembangannya lebih banyak mengalami proses
penghalusan dan penyempurnaan dari karya seni masa lampau. Pengaruh yang paling jelas adalah
terlihat pada pemberian motif. Di zaman ini, motif kriya dilarang menggunakan motif hewan
dan manusia. Pada masa ini juga munculah kerajinan (kriya) wayang kulit.

Berbagai kerajinan pemenang Award of exellence for handycraft (Red Dinggul, Keban Bronai-Mendong baskets, Copper
lamp with mega mendung batik motifs, bowl (tamarind wood), Earth layer vase, Copper hanging lamp Gong Lorigi)
Sumber: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

Di masa modern, sistem pemerintahan kerajaan pun ditinggalkan dan hal ini berpengaruh
kepada status dari kriya. Selain itu, sistem kasta juga tidak ada lagi, tetapi berubah. Berubah
ini berarti pembagian kelas sosial masyarakat bukan berdasar kasta, tapi berdasarkan tingkat
kemapanan ekonomi. Semakin seseorang mapan secara ekonomi, maka status dia akan lebih
tinggi dibandingkan orang yang tidak mapan secara ekonomi. Yang dulunya kaum elit adalah
kaum ningrat, sekarang ditempati oleh para konglomerat.
Di masa modern kriya tidak eksis lagi seperti pada masa lalu (Yoga Parta, 2009). Dikarenakan
posisi kriya yang tidak lagi spesial, maka kriya kini menjadi sebuah artefak masa lalu. Ditambah

18

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

lagi dalam masa industri modern sekarang, kriya menjadi sebuah objek budaya yang diproduksi
banyak dan diperjualbelikan untuk kepentingan ekonomi. Di masa ini masyarakat telah mengenal
modernisasi, sehingga seluruh pengerjaan pembuatan benda-benda kriya tidak hanya menggunakan
tangan, tetapi juga telah menggunakan alat/mesin. Contohnya dalam pembuatan batik, masyarakat
telah mengenal teknik pembuatan dengan cara cap ataupun dengansablon printing. Pembuatan
gerabah, keramik, dan guci pun telah menggunakan cetakan-cetakan yang terbuat dari besi.

Berbagai kerajinan pemenang Award of Exellence for Handycraft


(the leaf of life, Incung Kincai Filigree Brooch, Silver Jewellery).
Sumber: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

Aktivitas pada industri kerajinan di Indonesia sangat kental dengan indigenousskill (keahlian
lokal) di mana tingkat keterampilan dan karakteristiknya dapat dibedakan berdasarkan lokasi
atau daerah di mana indigenousskill tersebut tumbuh dan berkembang. Sehingga masyarakat dan
konsumen mengenal batik Cirebon, batik Jogja, patung Bali, mebel Jepara, mebel rotan Cirebon,
aneka kerajinan Tasikmalaya, dan lain-lain.

Berbagai kerajinan pemenang Award of exellence for handycraft


woven Ulap Doyo fibre, Ulap doyo slippers, table runner from recycled cement sack papers).
Sumber: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

19

Proses pemberian lilin malam pada kain batik.

Batik Indonesia menjadi semakin terkenal setelah memperoleh pengakuan dari United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu
Pengetahuan dan Kebudayaan PBB yang memutuskan batik Indonesia sebagai warisan pusaka dunia.
Pengakuan yang diberikan pada 2 Oktober 2009 lalu menjadi tonggak penting untuk eksistensi
batik di dunia internasional. Dalam rentang waktu sangat panjang batik hadir di bumi Nusantara.
Kata batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: amba, yang bermakna menulis dan titik,
yang bermakna titik. Walaupun kata batik berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri
tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa teknik membatik kemungkinan diperkenalkan
dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes, arkeolog Belanda,
dan F.A. Sutjipto, sejarawan Indonesia, percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti
Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang
dipengaruhi oleh Hinduisme, tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri,
Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan
alat canting sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.
Adapun detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi
kebijaksanaan Buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur
tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang
dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya
dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Sementara pada legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin, menceritakan
Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar
mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena
tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya
kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan dia hanya mampu membawa empat lembar sehingga
membuat sang Sultan kecewa. Kemudian keempat lembar kain tersebut ditafsirkan sebagai batik.

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Dalam literatur Eropa, teknik batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java, London,
1817 tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa
Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda, Van Rijekevorsel, memberikan
selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan
pada awal abad ke-19. Saat itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan
di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
Kemudian sejak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik
jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak. Adapun pada batik tradisional yang
diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis.
Hugh Clifford merekam industri membatik ini hingga menghasilkan kain pelangi dan kain telepok.
Dalam sejarah Indonesia, batik kemudian menjadi busana yang dikenakan oleh para tokoh,
mulai dari masa sebelum kemerdekaan hingga sekarang. Di awal tahun 1980-an, dalam
diplomasi ke luar negeri, Presiden Soeharto mengatakan batik sebagai warisan nenek moyang
Indonesia, terutama masyarakat Jawa yang hingga kini dikenakan oleh berbagai kalangan dan
usia. Dengan pengakuan UNESCO dan ditetapkannya Hari Batik Nasional pada 2 Oktober
semakin menempatkan batik tak hanya budaya Indonesia, tapi jati diri dan indentitas bangsa.
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/10/02/110518313/Ini-Sejarah-Panjang-Batik-Indonesia

Dalam dunia pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui konsorsium kurikulum
seni menetapkan bahwa istilah kerajinan diganti dengan kriya. Hal ini dipandang sebagai
usaha untuk mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, tapi juga bisa tampil kembali menjadi
seni yang terhormat dan bisa mengikuti perkembangan zaman. Seiring dengan perkembangan
zaman, maka praktek seni kriya yang awalnya berorientasi fungsional, kini mengalami pergeseran
orientasi penciptaan, termasuk untuk menjadi sebuah seni. Alhasil munculah kategori-kategori
dalam dunia kriya (kerajinan) yaitu kriya seni dan kriya desain.

Kriya kayu, dalam bentuk Jam tangan.Matoa Sumba


Sumber: http://matoa-indonesia.com/index/

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

21

Saat ini kriya (kerajinan) dihadapkan pada dua kenyataan, yaitu agar dapat menjaga tradisi dan
juga bisa beradaptasi. Kriya (kerajinan) diharapkan bisa menjaga dan mempertahankan nilai-nilai
lokal (tradisi) dan di sisi lain bisa mengikuti perkembangan dan pergerakan seni rupa (visual art).
Upaya ini sebenarnya sudah digiatkan terutama dalam seni keramik hadirnya nama F. Widayanto,
atau Hildawati. Selain itu juga sedang diintensifkannya pewacanan oleh kritikus kriya seperti
Asmudjo dan Agus Mulyadi (di Bali). Hal ini sebagai sebuah usaha memacu perkembangan seni
keramik di Indonesia. Selain medium keramik kriya mempunyai lingkup yang cukup luas, meliputi
kayu, batu, logam, dan serat (tekstil). Seni ukir (kriya) kayu nampaknya belum mendapatkan
perhatian yang serius terutama dalam hal pewacanaan, baik dari kritikus maupun senimannya
sendiri. Tetapi faktanya, bidang seni ini telah menggairahkan perekonomian di Bali khususnya
yang berbasis pada pariwisata budaya. Salah satu institusi yang sampai saat ini masih dengan
setia mengembangkan kriya kayu adalah ISI Denpasar di samping ISI Yogyakarya, ITB, IKJ,
dan STSI yang tersebar di beberapa kota di tanah air (Yoga Parta, 2010)

F. Widayanto saat ini adalah seniman keramik paling terkenal di Indonesia dengan hasil karya
yang original dan unik. Perhatian ke detail merupakan salah satu ciri khas di setiap karyanya.
Untuk dekorasi karya keramiknya, F. Widayanto memberikan elemen flora dan fauna. Dalam
berkarya, dia pasti mengeluarkan karakter dan tekstur dari tanah liat yang digunakan.
Untuk melengkapi karyanya, dia juga menggunakan materi kayu rotan, bambu, tali, dan logam.
Hal ini pun terbukti sukses memberikan kesan bahwa ada hubungan yang harmoni antara
tanah liat dan materi-materi lain.
Semua karya F. Widayanto adalah buatan tangannya, dari mulai proses membentuk, mendekor, hingga glazing. Hal ini untuk menjamin bahwa tidak ada dua hasil karya yang sama. Dan
semua produk yang dibuat oleh F. Widayanto merupakan karya individual, dan disinilah letak
dari daya tarik terbesarnya.
Sumber: http://www.fwidayanto.com

22

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Walaupun kerajinan dikatakan sebagai sumber inspirasi yang kemudian berpengaruh kepada
perubahan dan penciptaan, kenyataannya sekarang kerajinan dihadapi pada tantangan kehidupan
modern, khususnya isu pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan. Produksi
kerajinan di konteks ini dikatakan untuk melayani konsumen eksternal, yaitu kelompok konsumen
yang berada di luar dari kelompok masyarakat yang memproduksi. Praktek produksi ini terlihat
jelas pada area produksi kerajinan di daerah urban atau daerah tujuan wisata, seperti Parapat,
Bukittinggi, Bali, Yogyakarta, dan Jakarta.

Proses menenun kain Ulosuntuk di ekspor ke Eropa & Amerika


Sumber: http://www.antaranews.com/en/news/89062/batak-ulos-marketed-to-europe-america. Foto: Fanny Octavianus

Disini kita lihat bahwa ada dua konteks pemahaman tradisi yang berjalan bersama ke dalam produksi
kerajinan masa kini. Produksi ini sebagai simbol akan keberlanjutan budaya dan perubahan, yang
juga mewakili masyarakat Indonesia yang sedang berubah menyambut kemajuan dengan tidak
melupakan adatnya. Sekarang kita lihat keberadaan dan produksi kerajinan Indonesia dihadapkan
pada fenomena dua sisi. Di satu sisi, kerajinan menunjukkan semangat untuk meneruskan tradisi
dan membuktikan nilai-nilai mulia tradisi itu sendiri. Sedangkan disisi lain, menunjukkan
produksi kerajinan yang dipengaruhi keadaan sosial saat ini, seperti kepentingan permintaan
konsumen dan tuntutan gaya hidup modern.
Semua hal di atas, pada akhirnya terhubung kepada hubungan sistemik antara produksi, distribusi,
dan konsumsi secara baru, yang berpengaruh kepada perubahan kualitas dan kuantitas dalam
aspek keindahan, teknis dan fungsional. Kecenderungan ini terlihat pada daerah produsen
kerajinan di Indonesia. Hal ini khususnya terlihat di daerah pusat kunjungan wisatawan dan
memiliki akses langsung ke dunia luar, seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali, Lombok, dan
sebagian dari Kalimantan dan Papua.

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

23

Setiap kecenderungan tersebut menyebabkan produksi kerajinan Indonesia bergerak ke arah


produksi dengan perbedaan yang luas dan juga beragam. Di samping itu, tidak terlepas juga bahwa
kerajinan yang berangkat dari nilai-nilai tradisi akan terkena pengaruh dari nilai pembaharuan,
khususnya di aspek tampilan.
Produk kerajinan tangan Indonesia tercipta dari kekayaan yang sangat beragam, sebagai hasil dari
ratusan keahlian dari suku yang berbeda-beda dari berbagai pulau. Hal ini nampak dari berbagai
variasi material yang digunakan, teknik, ukuran, dan juga fungsi yang yang dapat ditemukan di
berbagai sudut Nusantara. Banyak kerajinan tangan yang dibuat sebagai buah dari tradisi yang telah
ada selama ratusan tahun di sebuah komunitas, ada juga kerajinan yang hampir punah. Sehingga
bisa dikatakan bahwa keunggulan kerajinan Indonesia terletak khususnya pada keindahan yang
diturunkan. Hal ini muncul tidak hanya dari keahlian dan baiknya hasil kerja perajin, tapi juga
kreativitas dan sensitivitas yang telah turun dalam penggunaan material, dalam bentuk gaya,
warna, tektsur, dan dalam penampilan yang beragam dan harmoni dalam ukuran dan bentuk.

24

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Gambar 1-2 Sejarah Perkembangan Kerajinan di Indonesia

1948 berdirinya GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia)

2000
sebelum
masehi

1950
-Bung Karno mengusulkan adanya Batik nasional Indonesia.
-Penggunaan kain Batik yang luas (hiasan, taplak, dll), muncul
teknik cap untuk membatik
-Kebangkitan nasionalisme, menciptakan gaya Tiga Negeri

Prasejarah akhir

1900sekarang

masyarakat mulai bercocok tanam, dan membuat


perkakas untuk kehidupan sehari (kapak, bejana, nekara)

MASA HINDU BUDHA


masuknya pengaruh dari India dan terbentuknya
kerajaan-kerajaan di Nusantara

ABAD
viii - x
masehi

1958 Pusat Penelitian Batik didirikan di Yogyakarta


1960
-mulai seringnya pergelaran busana batik di ruang publik
-Munculnya gaya Indonesia Raya, yaitu dengan kesadaran
desain-desain daerah lain di Indonesia

1990 Iwan Tirta mengeluarkan koleksi perhiasan


Nusantara (perhiasan dengan motif batik)

1991 - istilah kriya seni muncul di festival kesenian Yogyakarta III

ABAD XV
1999 - Inacraft pertama kali muncul dan semakin
berkembang hingga sekarang

MASA ISLAM
terjadilah pergeseran nilai seni kerajinan dari benda
upacara menjadi benda pakai dengan pertimbangan ekonomi

2001 Iwan Tirta juga mengeluarkan barang pecah belah dengan corak batik

2002 masih dengan corak batik, Iwan Tirta mengeluarkan benda-benda perak ukiran

MASA MODERN
kriya menjadi sebuah objek budaya yang diproduksi banyak dan
diperjualbelikan untuk kepentingan ekonomi

1900sekarang

2003 pengakuan dari UNESCO akan wayang sebagai


Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanit

2005 pengakuan UNESCO akan Keris dari Indonesia, sebagai


karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia
1942 pengaruh perang dunia ke-2, dalam motif batik:
gaya Hokokai (dengan kuntum bunga sakura), gaya Pagi Sore,
gaya Terang Bulan

2009 - pengakuan UNESCO akan Batik sebagai warisan pusaka dunia

2013 - Biennale Desain dan Kriya Indonesia pertama

Bab 1: Perkembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

25

26

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

BAB 2
Ekosistem dan
Ruang Lingkup
Industri Subsektor
Kerajinan Indonesia
BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

27

2.1 Ekosistem Subsektor Kerajinan


2.1.1 Definisi Ekosistem
Dalam upaya memahami dan mengenal industri ekonomi kreatif, maka pendekatan dengan
menggunakan pemetaan ekosistem dipilih. Pada pendekatan ini akan memberikan gambaran
menyeluruh kondisi ideal dari ekosistem kerajinan. Gambaran menyeluruh ini disarikan berdasarkan
pada hasil kajian yang sudah dilakukan, dan diharapkan dapat menjadi kenyataaan bagi industri
kreatif di Indonesia, khususnya subsektor kerajinan.
Ekosistem secara umum merupakan suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara
segenap komponen yang saling mempengaruhi. Di dalam ekosistem ini terdapat keterkaitan
antar komponen yang menggambarkan aktivitas di setiap tahapan kreatif dan peran pelaku
utama yang terlibat di dalamnya.
Adapun komponen-komponen utama dalam peta ekosistem kerajinan adalah:
1. Rantai nilai kreatif (creative value chain)
Dalam rantai nilai kreatif terdapat penggambaran mengenai aktivitas utama, aktivitas
pendukung, peranan, dan pelaku yang terlibat di dalamnya, serta keluaran dari setiap
proses tersebut. Hasil akhir dari kegiatan rantai nilai kreatif kerajinan yaitu barang
kerajinan dengan berbagai material bahan.
2. Lingkungan pengembangan (nurturance environment)
Untuk menjaga kelangsungan dan perkembangan proses penciptaan karya kreatif kerajinan,
maka diperlukan dukungan dari lingkungan pengembangan (nurturance environment)
yang terdiri dari aktivitas apresiasi dan pendidikan. Kedua komponen tersebut diperlukan
untuk regenerasi orang-orang kreatif pada industri kerajinan dan memotivasi orang-orang
kreatif yang ada saat ini untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas karya yang
dihasilkannya.
3. Pasar (market)
Bagian ini menggambarkan keluaran rantai nilai kreatif kerajinan yang dinikmati oleh
masyarakat, baik yang menjadi target pasar maupun masyarakat umum yang bukan
menjadi target dari produk kerajinan. Selain itu sebuah karya kerajinan akan dilihat juga
oleh penikmat seni, kritikus, pedagang barang-barang kerajinan, hingga perusahaan.
4. Pengarsipan (archiving)
Pengarsipan merupakan proses dokumentasi dan penyimpanan karya atau catatan mengenai
kerajinan tertentu. Idealnya arsip ini dapat diakses dan dimanfaatkan oleh orang-orang
kreatif kerajinan, wirausahawan, asosiasi, pelaku bisnis, lembaga pendidikan, komunitas,
kaum intelektual, dan pemerintah sebagai media pembelajaran dan literasi.

2.1.2 Peta Ekosistem Kerajinan


Seperti telah disebutkan sebelumnya, kerajinan adalah kegiatan kreatif yang berkaitan dengan
keahlian kreasi, produksi, distribusi, dan penyajian produk yang dibuat dihasilkan oleh tenaga
pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya. Berikut
akan diberikan gambaran model ideal interaksi antar komponen yang terjadi pada subsektor
kerajinan di Indonesia.

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

A. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain)


Rantai nilai kreatif (creative value chain) merupakan kunci utama dalam setiap subsektor ekonomi
kreatif. Disebut kunci karena pada tahap inilah awal dari proses terjadinya penciptaan produk
kerajinan yang bernilai bagi berbagai pihak. Tahapan dalam rantai nilai subsektor kerajinan terbagi
ke dalam empat proses, yaitu kreasi, produksi, distribusi, dan promosi. Pada usaha kerajinan di
Indonesia, mayoritas pengrajin akan melakukan semua aktivitas dalam rantai nilai-nya secara
sendiri. Pada perkembangannya saat ini, ada yang mengatakan bahwa pengrajin ini berlaku
hanya sebagai pelaku di proses produksi dan seterusnya. Sedangkan mulai muncul trend bahwa
dibagian kreasi ide, lebih dominan dilakukan oleh desainer. Desainer ini pun sekarang semakin
banyak berasal dari usaha di luar kerajinan tersebut.

A.1 Proses Kreasi


Awal dari rantai nilai kreatif adalah tahapan proses kreasi. Aktivitas pada tahap ini menuntut
kreativitas paling tinggi. Karena di tahap inilah pengrajin dituntut untuk bisa memiliki ide yang
kemudian akan dibuat menjadi sebuah barang bernilai bagi konsumen serta memiliki kandungan
seni yang besar. Pihak-pihak yang berperan dalam tahap ini adalah:
1. Pengrajin, yang dimaksudkan sebagai pengrajin disini adalah orang yang pekerjaannya
membuat barang-barang kerajinan atau orang-orang yang mempunyai keterampilan
berkaitan dengan kerajinan tertentu.
2. Desainer, adalah seorang individu yang melakukan desain atau merancang sebuah barang.
Individu ini akan berperan membantu sang pengrajin untuk memberikan masukan
mengenai rancangan sebuah barang kerajinan. Ada juga pengrajin yang sudah bisa
melakukan sendiri proses perancangan/mendesain barang kerajinannya sendiri.
Pelaku-pelaku kreatif tersebut selanjutnya akan berkreasi. Gambar 2-1 memperlihatkan aktivitasaktivitas utama tersebut dan juga hasil keluaran dari proses ini. Aktivitas pertama dimulai dari
penciptaan ide. Baik pengrajin maupun desainer akan melalui proses pencarian ide dan inspirasi
akan produk kerajinannya. Hal ini biasanya tidak terbatas lokasi dan waktu untuk munculnya
sebuah ide. Aktivitas yang kedua adalah mengkonkritkan ide tersebut dalam sebuah desain/
rancangan. Rancangan paling dasar biasanya dalam bentuk gambaran kasar atau model dasar
dari produknya. Dan selanjutnya, aktivitas finalisasi konsep sebuah produk. Di tahap final ini
para pelaku kreatif kerajinan akan memperhalus konsep produknya, dengan biasanya membuat
rincian spesifik akan rancangan produk tersebut. Hasil akhir dari proses pertama ini adalah
sebuah konsep produk kerajinan. Sang pelaku akan memiliki gambaran yang jelas mengenai
pilihan bahan yang akan digunakan, cara pembuatan hingga kegunaan dari produk tersebut.

Proses kreatif tidak hanya mencakup kualitas suatu


barang, tetapi juga harus fokus pada kreativitas
dalam keberlanjutan usaha, bagaimana cara
produksi dan penjualannya. Oleh karena itu,
diperlukan kerjasama yang baik antar industri untuk
memajukan setiap subsektor kerajinan.

Sumber: Focus Group Discussion subsektor Kerajinan, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Mei-Juni 2014)

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

29

Gambar 2-1 Peta Ekosistem Subsektor Kerajinan

30

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Gambar 2-2 Proses Kreasi Subsektor Kerajinan

A.2 Proses Produksi


Tahap selanjutnya dalam rantai nilai kreatif adalah proses produksi. Pada tahap ini, intinya
adalah semua aktivitas yang diperlukan untuk mewujudkan produk kerajinan yang utuh. Pelakupelaku dalam tahapan produksi ini pun terbagi dua, yaitu pelaku utama dan pihak-pihak terkait
lainnya. Untuk pelaku utama adalah:
1. Pengrajin, yang dimaksudkan sebagai pengrajin disini adalah orang yang pekerjaannya
membuat barang-barang kerajinan atau orang-orang yang mempunyai keterampilan
berkaitan dengan kerajinan tertentu.
2. Sentra kerajinan tradisional, merupakan suatu daerah tertentu yang terdapat banyak
pengrajin dengan fokus hasil kerajinan tertentu. Misalnya sentra kerajinan gerabah, sentra
kerajinan batik, dan lain-lain.
3. Studio workshop kriya/desain, adalah pihak yang akan memberikan dukungan teknis
kepada pengrajin untuk mewujudkan barang kerajinan sesuai dengan ide dan konsep
yang telah di tentukan sebelumnya.
Selain itu, pihak-pihak yang terkait dalam tahap produksi ini adalah:
1. Pemasok bahan mentah, adalah pihak-pihak yang menguasai atau memiliki akses langsung
kepada bahan mentah dari produk kerajinan.
2. Lembaga pembiayaan, merupakan sebuah institusi yang memiliki usaha menawarkan
pembiayaan jika dibutuhkan oleh pengrajin untuk melakukan kegiatan produksinya.
Lembaga ini bermacam-macam bentuknya, dari koperasi hingga sebuah bank.

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

31

3. Penjamin kualitas, adalah pihak yang bertugas memang untuk menjaga standard produksi
barang kerajinan. Dalam melaksanakan tugasnya, pihak ini akan mengevaluasi barang
kerajinan dengan ukuran-ukuran tertentu akan sebuah produk berkualitas.
4. Pekerja asisten pengrajin, merupakan pihak yang memberikan bantuan umum kepada
pengrajin dalam mewujudkan kreasinya.
Gambar 2-3 Proses Produksi Kerajinan

Terdapat empat hal aktivitas berbeda yang dilaksanakan dalan tahap proses produksi ini. Pertama
adalah tahapan pemilihan dan penentuan bahan. Setelah konsep barang kerajinan selesai, maka
pengrajin perlu menentukan bahan atau materi apa yang akan digunakan untuk mewujudkan
kreasinya. Pemilihan bahan ini tergantung dari konsep barang kerajinan itu sendiri, plus tingkat
ketersediaan bahan tersebut di pasaran. Hal ini karena akan menentukan kelancaran proses produksi
keseluruhan. Tahapan kedua, setelah yakin bahwa bahan yang dibutuhkan tersedia cukup, maka
aktivitas selanjutnya adalah membuat sketsa detail spesifikasi dan dimensi produknya. Tahap
ketiga, yaitu bagian produksi mewujudkan dalam bentuk barang kerajinan dan juga mengetesnya
ke pasar secara terbatas. Harapannya di tahap ini, pengrajin akan mendapatkan masukan dari
konsumen, jika seandainya dibutuhkan penyesuaian. Dan tahap ke-empat yaitu finalisasi dan
pengecekan kualitas. Pada tahap ini pelaku kreatif akan memperbaiki produknya (jika diperlukan),

32

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

serta dengan bantuan penjamin kualitas akan mengecek apakah produk kerajinannya sudah
memiliki kualitas yang sama sesuai harapan dari konsumennya.

A.3 Proses Distribusi


Proses selanjutnya yang ketiga adalah proses distribusi. Aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam
tahapan ini yaitu berupa proses pemindahan barang-barang kerajinan dari tempat produksi
hingga tempat tujuan pasarnya. Pada tahapan ini pelaku utamanya adalah pengrajin itu sendiri,
ditambahkan dengan keterlibatan pihak-pihak luar terkait, seperti:
1. Pengusaha pemilik galeri & toko barang kerajinan, mereka adalah para pengusaha yang
melakukan pembelian barang-barang kerajinan untuk kemudian di jual di
2. Pengusaha kerajinan (orientasi ekspor), hampir sama dengan tipe pengusaha sebelumnya,
yaitu juga melakukan pembelian dari pengrajin, tetapi kemudian melakukan penjualannya
di pasar luar negeri.
Gambar 2-4 Proses Distribusi Kerajinan

Aktivitas di tahap ini adalah usaha dalam rangka menyampaikan produk jadi hingga ke tangan
konsumen di pasar. Hal ini bisa dilihat pada gambar 2-4. Aktivitas dimulai dengan mengemas
produk dengan kemasan yang menjaga keutuhan barang kerajinan tersebut. Lalu kemudian
barang-barang itu dihantarkan hingga mencapai pasar tujuannya. Ada berbagai pilihan tempat
untuk menyampaikan barang kerajinan tersebut. Dari toko milik pengrajin sendiri, sewa tempat

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

33

di pasar tradisional, bazaar barang kerajinan, pasar lelang, festival seni, hingga toko retail modern
yang ada di kota besar atau bahkan juga secara online.

A.4 Proses Promosi


Aktivitas terakhir dalam rantai nilai kreatif pada subsektor kerajinan adalah proses promosi. Di tahap
ini pengrajin sebagai pelaku utama akan mengkomunikasikan kepada para konsumennya mengenai
barang-barang kerajinan. Aktivitas yang terjadi dalam tahap ini dapat dibedakan menjadi 2. Pertama,
pengrajin akan memilih cara mengkomunikasikannya melalui pameran dengan tujuan komersial
seperti misalnya pada pameran Inacraft. Atau kedua, ia akan memilih untuk mengkomunikasikan
barang kerajinannya melalui pameran nonkomersial, seperti pada museum, eksebisi seni tahunan.
Selain itu, pengrajin akan dapat memilih apakah ingin melakukan dua jenis kegiatan promosinya
tadi baik di dalam ataupun di luar negeri. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2-5.
Gambar 2-5 Proses Promosi Kerajinan

B. Lingkungan Pengembangan Kreativitas (Nurturance Environment)


Di tahap ini akan dijelaskan mengenai lingkungan pengembangan (nurturance environment)
kreativitas dari subsektor kerajinan. Bagian ini penting, karena pada bagian inilah terjadi proses
penemuan dan pengembangan dari keahlian serta sosok-sosok yang akan membesarkan subsektor
kerajinan. Keterkaitan lingkungan ini dengan komponen lain di ekosistem subsektor kerajinan
dapat dilihat pada gambar 2-6.

34

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Gambar 2-6 Lingkungan Pengembangan Kerajinan

B.1 Apresiasi
Gambar 2-7 Kegiatan Apresiasi Sub Sektor Kerajinan

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

35

Bagian apresiasi ini muncul dengan tujuan untuk memberikan pengakuran dan penghargaan
terhadap pelaku-pelaku di subsektor kerajinan. Penghargaan bagi pelaku-pelaku kerajinan dapat
hadir dari lembaga hukum, pihak media, asosiasi pelaku kerajinan, pemerintah, dan juga dari
konsumen sendiri. Seperti ditunjukan pada gambar 2-7, apresiasi dalam subsektor kerajinan dapat
berupa penghargaan terhadap perajin dan karya-nya, serta ulasan di media. Untuk penghargaan
bagi karya perajin bisa dimulai dari perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI). Kemudian
penghargaan dari konsumen ketika membeli sebuah produk kerajinan, serta penghargaan dan
pengakuan terhadap perajin yang berprestasi baik di pasar dalam negeri ataupun luar negeri juga
harus ada. Selain itu, bentuk apresiasi dalam ulasan di media pun bisa semakin luas. Hal ini
terbukti dengan adanya ulasan-ulasan di media tradisional dan juga media online (website atau blog).

B.2 Pendidikan
Untuk menjamin keberlanjutan subsektor kerajinan, maka pendidikan berorientasi kerajinan harus terjadi.
Pihak yang terlibat disini merupakan semua lembaga pendidikan yang berkepentingan membentuk sumber
daya manusia baik itu sebagai orang kreatifnya, atau bisa juga sumber daya manusia pendukung yang
berhubungan dengan kerajinan. Pendidikan ini bisa dalam bentuk pendidikan formal maupun informal.
Dari tingkat sekolah dasar hingga tingkat pasca sarjana. Di tingkat sekolah dasar misalnya dimulai dengan
pendidikan keterampilan. Kemudian berlanjut di sekolah menengah kejuruan dan berlanjut dengan
munculnya sekolah tinggi dengan kekhususan di jurusan Seni serta sekolah bagi pihak pendukungnya
seperti sekolah politeknik di bidang kerajinan. Semua proses ini dapat dilihat pada gambar 2-8.
Gambar 2-8 Kegiatan Pendidikan Subsektor Kerajinan

36

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

C. Pasar (Market)
Pada bagian ini menjelaskan pihak-pihak yang menjadi pembeli dari barang-barang kerajinan.
Lebih lengkapnya, pasar yang dimaksudkan disini tidak hanya pihak yang membeli, tetapi juga
pihak yang menggunakan atau menkonsumsi barang-barang kerajinan. Sudah sering terjadi
bahwa pembeli dan pengguna dari barang-barang kerajinan Indonesia itu datang dari dalam dan
luar negeri. Selanjutnya mengenai skala pasarnya pun juga dapat dibedakan menjadi konsumen
perorangan dan konsumen bisnis/usaha. Pembeli dan pengguna perorangan bisa merupakan
masyarakat umum, atau orang-orang penikmat karya seni hingga individu yang berperan sebagai
pengamat/kritikus seni kriya itu sendiri. Sedangkan untuk pembeli dan pengguna dari usaha bisa
datang dari perusahaan yang memang melakukan perdagangan barang-barang kerajinan, atau
usaha yang menggunakan karya kerajinan dalam kegiatan bisnisnya. Jenis pasar yang terakhir
biasanya akan memberikan jumlah pembelian yang lebih besar dibandingkan dengan pasar
perorangan. Hal ini terjadi karena mereka biasanya membeli dalam jumlah yang lebih banyak.
Gambar 2-9 Pasarnya barang kerajinan di Indonesia

D. Pengarsipan (Archiving)
Satu bagian yang tidak kalah penting adalah bagian Pengarsipan. Di bagian ini terjadi proses
pengumpulan, penyimpanan dan juga pemberian akses ke publik. Seperti yang ada pada gambar 2-10.
Yang dimaksud dengan pengumpulan disini adalah aktivitas pencarian dan pengumpulan bukti-bukti
mengenai karya kerajinan. Setelah itu, kemudian dilanjutkan kepada penyimpanan dokumen-dokumen
atau contoh produknya kedalam system pengarsipan yang jelas pembagiannya dari jenis, asal daerah,
hingga karya pengrajin tertentu. Dan aktivitas terakhir adalah pemberian akses kepada masyarakat
umum agar bisa melihat dan membaca dokumen arsip tersebut. Pada pelaksanaannya aktivitas
pengarsipan ini paling dasarnya sudah dilakukan oleh sang pengrajin sendiri. Baru kemudian muncul
peran dari pemerintah melalui badan resmi arsip nasional ataupun melalui bagian pada kementerian
yang terkait. Selain itu pihak yang bisa melakukan pengarsipan adalah konsumen yang bisa saja juga
menjadi kolektor barang-barang kerajinan. Dengan kemudian diikuti oleh pihak media, asosiasi, dan
juga lembaga pendidikan yang juga melakukan aktivitas pengakrsipan ini.

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

37

Gambar 2-10 Proses pengarsipan dokumentasi kerajinan

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Kerajinan


2.2.1 Peta Industri Kerajinan
Usaha kreatif kerajinan merupakan bisnis yang berpengaruh kepada pihak yang luas. Hal ini
terlihat dari peta industri kerajinan di Indonesia. Industri kerajinan mampu memberikan pengaruh
baik ke industri hulu dan hilir pada beberapa tahapan penciptaan nilai kreatif. Pada peta ini akan
dijelaskan gambaran hubungan pelaku industri yang memberikan suplai (supply) ke pelaku industri
utama (backward linkage), dan juga hubungan pelaku industri yang memberikan permintaan
(demand) oleh pelaku industri utama (forward linkage). Hal bisa dilihat pada gambar 2-11.
Kita akan melihat hubungan pelaku industri yang terkait untuk setiap rantai nilai yang ada. Dimulai
pada proses kreasi, pelaku utama yaitu pengrajin dan desainer sepenuhnya melakukan kegiatan
menciptakan ide secara independent (tidak tergantung pihak luar). Dilanjutkan dengan proses produksi,
para pengrajin mendapatkan dukungan dari pemasok bahan mentah untuk materi kerajinannya, lalu
lembaga pembiayaan & koperasi untuk mendukung pendanaan produksinya, kemudian dari perusahaan
BUMN & Swasta sebagai mitra pembina atau pendamping, serta para asisten yang membantu pekerja.
Di sini mereka semua akan berlaku sebagai pemasok (supplier backward linkage). Bagian kedua
dalam rantai nilai adalah distribusi dan promosi. Pada proses distribusi, pengrajin akan dibantu oleh
perusahaan jasa logistik dan transportasi sebagai pemasok untuk jasa menghantarkan barang kerajinan
ke saluran penjualan/pameran. Setelah itu, pengrajin akan menyebarkan berbagai barang jadi melalui
pendukungnya seperti pengelola pasar seni, pemilik toko retail, online, serta specialty store yang khusus
menjual produk kerajinan di tokonya. Selain itu juga ada galeri & hotel-restaurant sebagai tempat untuk
menjual barang-barang kerajinan. Kemudian pada proses promosi, pengrajin akan mendapat pasokan
modal dana untuk melakukan berbagai kegiatan komunikasi, dan juga sarana transaksi atas barang
kerajinan. Selain itu, event organizer akan memasok pengrajin dalam bentuk bantuan akan keperluankeperluan pameran di berbagai tempat. Terkait dengan proses promosi, pengrajin akan memilih berbagai
media (cetak, elektronik, dan digital) dan juga tempat-tempat untuk merealisasikan pameran barang
kerajinannya, seperti galleri ataupun gedung serba guna.
38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Gambar 2-11 Peta Industri Kerajinan

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

39

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Kerajinan


Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) merupakan klasifikasi baku mengenai
kegiatan ekonomi yang terdapat di Indonesia. KBLI disusun dengan maksud untuk menyediakan
satu set kelompok kegiatan ekonomi di Indonesia agar dapat digunakan untuk penyeragaman
pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data masing-masing kegiatan ekonomi, serta untuk
digunakan disaat mempelajari keadaan atau perilaku ekonomi menurut masing-masing kegiatan
ekonomi. Dengan penyeragaman tersebut, keterbandingan data kegiatan ekonomi antar waktu,
antar wilayah, dan keterbandingan dengan data internasional dapat dilakukan.
Dikarenakan banyaknya jenis lapangan usaha yang bisa dimasukan ke dalam definisi Kerajinan,
maka pencatatan dalam KBLI untuk kerajinan inipun juga tersebar di berbagai kelompok kategori.
Kelompok kode industri subsektor kerajinan berdasarkan KBLI 2009 adalah:
Tabel 2-1 KBLI Subsektor Kerajinan dalam KBLI 2009

KATEGORI

Industri Pengolahan

KELOMPOK

15129

INDUSTRI BARANG DARI KULIT DAN KULIT BUATAN UNTUK KEPERLUAN


LAINNYA
Kelompok ini mencakup usaha pembuatan barang-barang dari kulit dan
kulit buatan untuk keperluan yang belum terliput dalam kelompok 15121
sampai dengan 15123, seperti jok, sabuk pengaman, alat pengepak dan
kerajinan tatah sungging (hiasan, wayang dan kap lampu) dan lain-lain.

16292

INDUSTRI BARANG ANYAMAN DARI TANAMAN BUKAN ROTAN DAN


BAMBU
Kelompok ini mencakup usaha pembuatan macam-macam tikar, keset,
tas, topi, tatakan dan kerajinan tangan lainnya yang bahan utamanya
bukan rotan dan bambu, seperti pandan, mendong, serat, rumput dan
sejenisnya.

16293

INDUSTRI KERAJINAN UKIRAN DARI KAYU BUKAN MEBELLER


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan macam-macam barang
kerajinan dan ukir-ukiran dari kayu, seperti relief, topeng, patung,
wayang, vas bunga, pigura dan kap lampu.

32903

INDUSTRI KERAJINAN YTDL


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan barang-barang kerajinan dari
bahan tumbuh-tumbuhan dan hewan, seperti kerajinan pohon kelapa,
tempurung, serabut, akar-akaran, kulit, gading, tanduk, tulang, bulu,
rambut, binatang yang diawetkan, kegiatan taxidermy (mengisi kulit
binatang dengan kapas dan lain-lain sehingga nampak seperti binatang
hidup), karangan bunga, rangkaian bunga berbentuk lingkaran dan
keranjang bunga; bunga, buah-buahan dan daun-daunan buatan dan
barang-barang lukisan.

40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

KATEGORI
KELOMPOK

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan


Sepeda Motor

47781

PERDAGANGAN ECERAN BARANG KERAJINAN DARI KAYU, BAMBU,


ROTAN, PANDAN, RUMPUT DAN SEJENISNYA
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus barang
kerajinan dari kayu, bambu, rotan, pandan, rumput dan sejenisnya,
seperti patung, topeng, relief, ukiran nama, wayang, pigura, kap lampu,
bingkai, talam/baki, tas, keranjang, tikar, topi/tudung, kerai, hiasan
dinding dan keset. Termasuk kegiatan galeri kesenian yang menjual
barang kerajinan tersebut.

47782

PERDAGANGAN ECERAN BARANG KERAJINAN DARI KULIT, TULANG,


TANDUK, GADING, BULU DAN BINATANG/HEWAN YANG DIAWETKAN
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus barang
kerajinan dari kulit, tulang, tanduk, bulu dan binatang/hewan yang
diawetkan, seperti kipas dari kulit penyu, karangan bunga dari kulit
kerang, pipa rokok dari tulang, pajangan dari tanduk, pajangan dari
gading, pajangan dari bulu burung merak dan binatang/hewan yang
diawetkan. Termasuk kegiatan galeri kesenian yang menjual barang
kerajinan tersebut.

47783

PERDAGANGAN ECERAN BARANG KERAJINAN DARI LOGAM


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus barang
kerajinan dari logam, seperti vas bunga, patung, tempat lilin, piala, medali
dan gantungan kunci. Termasuk kegiatan galeri kesenian yang menjual
barang kerajinan tersebut.

47784

PERDAGANGAN ECERAN BARANG KERAJINAN DARI KERAMIK


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus barang
kerajinan dari keramik, seperti patung, vas bunga, asbak, tempat sirih,
celengan dan pot bunga. Termasuk kegiatan galeri kesenian yang menjual
barang kerajinan tersebut.

47789

PERDAGANGAN ECERAN BARANG KERAJINAN DAN LUKISAN LAINNYA


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus barangbarang kerajinan dan lukisan lainnya yang belum tercakup dalam
kelompok 47781 s.d. 47785. Termasuk kegiatan galeri kesenian yang
menjual barang kerajinan tersebut.

47881

PERDAGANGAN ECERAN KAKI LIMA DAN LOS PASAR BARANG


KERAJINAN
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran kaki lima barang
kerajinan dari kayu, bambu, rotan, pandan, rumput dan sejenisnya,
kulit, tulang, tanduk, gading, bulu dan hewan yang diawetkan, logam,
keramik yang dilakukan di pinggir jalan umum (kaki lima), serambi muka
(emper) toko atau tempat tetap di pasar yang dapat dipindah-pindah
atau didorong (los pasar), seperti patung, topeng, relief, ukiran nama,
wayang, keranjang, tikar, topi/tudung, kerai, keset, pajangan dari tanduk,
pipa rokok dari tulang, vas bunga, tempat lilin piala dari logam, asbak,
celengan pot bunga dari keramik dan lain-lain.

47998

PERDAGANGAN ECERAN KELILING BARANG KERAJINAN, MAINAN ANAKANAK DAN LUKISAN


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran barang
kerajinan, mainan anak-anak dan lukisan yang dilakukan dengan cara
menjajakannya berkeliling dan tidak mempunyai tempat yang tetap atau
menjualnya mendatangi rumah ke rumah masyarakat/langganan

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

41

KATEGORI

KELOMPOK

85498

Jasa Pendidikan
JASA PENDIDIKAN KERAJINAN DAN INDUSTRI
Kelompok ini mencakup kegiatan pendidikan kerajinan dan industri
yang diselenggarakan swasta. Kegiatan yang termasuk dalam kegiatan
ini adalah jasa pendidikan atau kursus anyaman dan kerajinan, bordir,
hantaran, keterampilan atau home industri, membatik, menjahit,
meubelair, MPP, MPWA, pertukangan kayu, sablon, tata boga/memasak,
tata busana, tenun, ukir kayu

Sumber: KBLI (2009)

Pada kenyataannya, kerajinan di Indonesia telah menjadi sebuah industri yang besar. Hal ini
terlihat dengan banyaknya lapangan usaha yang merupakan bagian dari kelompok industri
kerajinan yaitu:
1. Industri Batik yang mencakup usaha pembatikan dengan proses malam (lilin) baik yang
dilakukan dengan tulis, cap, maupun kombinasi antara cap dengan tulis;

Proses Produksi Kain Batik

2. Industri Permadani yang mencakup usaha pembuatan permadani dan sejenisnya, yang
terbuat dari serat, baik serat alam, sintetis, maupun serat campuran, baik yang dikerjakan
dengan proses tenun (woven), tufting, braiding, flocking, dan needlepunching;
3. Industri Bordir/Sulaman yang mencakup usaha bordir/sulaman, baik yang dikerjakan dengan
tangan maupun dengan mesin, seperti: kain sulaman,pakaian jadi/barang jadi sulaman, dan badge;
4. Industri Kain Rajut yang mencakup usaha pembuatan kain yang dibuat dengan cara
rajut atau pun renda;
5. Industri Barang dari Kulit dan Kulit Buatan untuk keperluan lainnya yang mencakup
usaha pembuatan barang-barang dari kulit dan kulit buatan seperti: jok, dan kerajinan
tatah sungging (hiasan, wayang, dan kap lampu);
6. Industri Anyam-anyaman dari Rotan dan Bambu yang mencakup usaha pembuatan
macam-macam tikar, webbing, lampit, tas, topi, tampah, kukusan, bakul kipas, tatakan,
bilik/gedek dan sejenisnya yang bahan utamanya dari rotan atau bambu;
7. Industri Anyam-anyaman dari Tanaman, Selain Rotan dan Bambu yang mencakup usaha
pembuatan tikar, keset, tas, topi, tatakan, dan kerajinan tangan lainnya yang bahan

42

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

utamanya dari pandan, mendong, serat, rumput, dan sejenisnya;Industri Kerajinan Ukirukiran dari Kayu kecuali Mebeller yang mencakup usaha pembuatan macam-macam
barang kerajinan dan ukir-ukiran dari kayu, seperti: relief, topeng patung, wayang, vas
bunga, pigura, dan kap lampu;

Proses Pembuatan Kerajinan Ukiran Kayu

8. Industri Alat-alat Dapur dari Kayu, Rotan, dan Bambu yang mencakup usaha pembuatan
alat-alat dapur yang bahan utamanya kayu, bambu dan rotan, seperti: rak piring, rak
bumbu masak, parutan, alu, lesung, talenan, cobek, dan sejenisnya;
9. Industri Barang dari Kayu, Rotan, Gabus yang tidak diklasifikasikan di tempat lain yang
mencakup usaha pembuatan barang-barang dari kayu, rotan, dan gabus, yang belum
tercakup sebelumnya. Barang-barang dari kayu misalnya: alat tenun, peti mati, pajangan
dari rotan, ayunan bayi dari rotan, kuda-kudaan dari rotan.
10. Industri Perlengkapan dan Peralatan Rumah Tangga dari Gelas yang mencakup usaha
pembuatan macam-macam perlengkapan rumah tangga dari gelas, seperti cangkir, piring,
mangkuk, teko, stoples, asbak, dan botol susu bayi; barang-barang pajangan dari gelas,
seperti: patung, vas, lampu kristal, semprong lampu tekan dan semprong lampu tempel;
11. Industri barang-barang lainnya dari gelas yang mencakup usaha pembuatan macam-macam
barang dari gelas seperti: tasbih, rosario, manik gelas, gelas enamel, dan aquarium, serta
bahan bangunan dari gelas seperti: bata, ubin, dan genteng;
12. Industri Perlengkapan Rumah Tangga dari Porselin yang mencakup pembuatan macammacam perlengkapan rumah tangga dari porselen, seperti: piring, tatakan, cangkir,
mangkuk, teko, sendok, dan asbak, serta usaha pembuatan barang pajangan dari porselen
seperti: patung, tempat bunga, kotak rokok, dan guci;
13. Industri barang-barang dari Tanah Liat yang mencakup usaha pembuatan barang dari
tanah liat/keramik untuk perlengkapan rumah tangga, pajangan/hiasan, dan sejenisnya,
seperti: piring, cangkir, mangkuk, kendi, teko, periuk, tempayan, patung, vas bunga,
tempat piring, sigaret, dan celengan;
Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

43

Proses Pembuatan Kerajinan Patung dari Tanah Liat.

14. Industri Bahan Bangunan dari Tanah Liat/Keramik selain Batu Bata dan Genteng yang mencakup
usaha pembuatan barang dari tanah liat/keramik seperti: kloset, ubin, dan lubang angin;
15. Industri Barang dari Marmer dan Granit untuk Keperluan Rumah Tangga dan Pajangan
yang mencakup usaha pembuatan macam-macam barang dari marmer/granit untuk
keperluan rumah tangga dan pajangan, seperti: daun meja, ornamen, dan patung;
16. Industri Barang dari Batu untuk Keperluan Rumah Tangga dan Pajangan yang mencakup
pembuatan macam-macam barang dari batu untuk keperluan rumah tangga dan pajangan.
Seperti: lumpang, cobek, batu pipisan, batu asah, batu lempengan, batu pecah-pecahan,
abu batu, dan kubus mozaik;
17. Jasa Industri untuk Bahan Berbagai Pekerjaan Khusus terhadap Logam dan Barang-barang
dari Logam yang mencakup kegiatan jasa industri untuk pelapisan, pemolesan, pewarnaan,
pengukiran, pengerasan, pengkilapan, pengelasan, pemotongan, dan berbagai pekerjaan
khusus terhadap logam atau barang-barang dari logam;
18. Industri Furnitur dari Kayu yang mencakup usaha pembuatan furnitur dari kayu untuk
rumah tangga dan kantor seperti: meja, kursi, bangku, tempat tidur, lemari, rak, kabinet,
penyekat ruangan, dan sejenisnya;
19. Industri Furnitur dari Rotan, dan/atau Bambu yang mencakup pembuatan furnitur
dengan bahan utamanya dari rotan dan/atau bambu seperti: meja, kursi, bangku, tempat
tidur, lemari, rak, penyekat ruangan dan sejenisnya;
20. Industri Furnitur dari Logam yang mencakup pembuatan furnitur untuk rumah tangga dan
kantor yang bahan utamanya dari logam seperti: meja, kursi, rak, springbed, dan sejenisnya;

44

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

21. Industri Furnitur yang mencakup pembuatan furnitur yang bahan utamanya bukan kayu,
rotan, bambu, logam, plastik, dan bukan barang imitasi, seperti: kasur, bantal, dan guling
dari kapuk, dakron, dan sejenisnya;
22. Industri Permata yang mencakup usaha pemotongan pengesahan, dan penghalusan batu berharga
atau permata dan sejenisnya seperti berlian perhiasan, intan perhiasan, batu aji, dan intan tiruan
23. Industri Barang Perhiasan Berharga untuk Keperluan Pribadi dari Logam Mulia yang
mencakup usaha pembuatan barang-barang, perhiasan yang bahan utamanya dari logam
mulia (emas, platina, dan perak) untuk keperluan pribadi, seperti: cincin, kalung, gelang,
giwang, bross, ikat pinggang, dan kancing, termasuk bagian dan perlengkapannya;
24. Industri Barang Perhiasan Berharga Bukan untuk Keperluan Pribadi dari Logam Mulia
yang mencakup usaha pembuatan perhiasan yang bahan utamanya dari logam mulia
selain untuk keperluan pribadi, seperti: peralatan makan dan minum, barang hiasan
untuk rumah tangga, piala, medali dan noveltis, termasuk bagian dan perlengkapannya;
25. Industri Barang Perhiasan Bukan untuk Keperluan Pribadi dari bukan Logam Mulia
yang mencakup usaha pembuatan barang-barang perhiasan dari logam tidak mulia
selain untuk keperluan pribadi, seperti: tempat cerutu, tempat sirih, piala, medali, dan
vas bunga, termasuk pembuatan koin baik yang legal sebagai alat tukar maupun tidak.
26. Industri Alat-alat Musik Tradisional yang mencakup usaha pembuatan alat-alat musik
tradisional, seperti: kecapi, seruling bambu, angklung, calung, kulintang, gong, gambang,
gendang, terompet tradisional, rebab dan tifa;
27. Industri Alat-Alat Musik Non Tradisional yang mencakup usaha pembuatan alat-alat
musik non tradisional, seperti: alat musik petik, (gitar, bas, dan sejenisnya), alat musik
tiup (terompet, saxophone, clarinet, harmonika, dan sejenisnya), alat musik gesek (biola,
cello, dan sejenisnya), alat musik perkusi (drum set, selofon, metalofon, dan sejenisnya),
serta usaha pembuatan piano/organ, pianika, akordeon, dan garputala.
28. Industri Mainan yang mencakup usaha pembuatan macam-macam mainan, seperti:
boneka dari kayu, kain, karet, dan sejenisnya, catur, mainan jenis kendaraan, mainan
berupa senjata, toys set, dan mainan edukatif dari kayu, bambu atau rotan;
29. Industri Kerajinan yang tidak diklasifikasikan di tempat lain yang mencakup usaha
pembuatan barang-barang kerajinan dari bahan tumbuh-tumbuhan dan hewan, seperti:
kerajinan pohon kelapa, tempurung, serabut, akar akaran, kulit, gading, tanduk, tulang,
bulu, rambut, binatang yang diawetkan dan barang-barang lukisan;
30. Perdagangan Besar Barang-barang Keperluan Rumah Tangga khususnya mencakup usaha
perdagangan besar peralatan dan perlengkapan rumah tangga, seperti: perabot rumah
tangga (furnitur), peralatan dapur dan memasak, lampu dan perlengkapannya, peralatan
dari kayu, wallpaper, karpet dan sebagainya;
31. Perdagangan Besar berbagai Barang-barang dan Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya,
mencakup usaha perdagangan besar berbagai barang-barang dan perlengkapan rumah
tangga lainnya, seperti: mainan anak-anak, jam dan sejenisnya, perhiasan, barang-barang
dari kulit, dan barang kerajinan lainnya;
32. Perdagangan Eceran Barang Perhiasan yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus
barang perhiasan baik terbuat dari batu mulia, ataupun bukan logam mulia seperti:
berlian, intan, batu aji, serbuk dan bubuk intan, cincin, kalung, gelang, giwang/anting-

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

45

anting, tusuk konde peniti, bross, ikat pinggang, dan kancing dari logam mulia (platina,
emas, dan perak);
33. Perdagangan Eceran Jam yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus berbagai
jam, seperti: arloji tangan, arloji saku, jam dinding, jam beker, lonceng, dan alat ukur
lainnya, termasuk juga bagian dari arloji dan jam;
34. Perdagangan Eceran Furnitur yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus furnitur,
seperti: meja, kursi, lemari, tempat tidur, rak buku, raks epatu, dan bufet, serta perdagangan
eceran khusus kasur dan bantal/guling;
35. Perdagangan Eceran Barang Pecah Belah dan Perlengkapan Dapur dari Batu atau Tanah Liat
yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus barang pecah belah dan perlengkapan
dapur yang terbuat dari batu atau tanah liat, seperti: piring, mangkok, cangkir, teko,
kendi, periuk, cobek, tempayan, lumpang, asbak, dan uleg-uleg;
36. Perdagangan Eceran Barang Pecah Belah dan Perlengkapan Dapur dari Kayu, Bambu, atau
Rotan yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus barang pecah belah dan perlengkapan
dapur yang terbuat dari kayu, bambu, atau rotan, seperti: rak bambu, alu, lesung, parutan
kelapa, telenan, papan gilesan, centong, bakul, tampah, kukusan, kipas, tudung saji, tusukan
sate, gilingan daging;
37. Perdagangan Eceran Alat-alat Musik yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus
alat-alat musik, baik alat musik tradisional maupun alat musik modern, seperti: kecapi,
seruling bambu, calung, angklung, kulintang, gamelan, set, rebab, rebana, tifa, sasando,
flute, saxophone, harmonika, trombone, gitar, mandolin, ukulele, harpa, bass, gambus,
biola, cello, piano/organ, drumset, dan garpu tala;
38. Perdagangan Eceran Barang Kerajinan dari Kayu, Bambu, Rotan, Pandan, Rumput, dan sejenisnya
yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus barang kerajinan dari kayu, bambu, rotan,
pandan, rumput, dan sejenisnya, seperti: patung, topeng, relief, ukiran nama, wayang, pigura, kap
lampu, bingkai, talam/baki, tas, keranjang, tikar, topi, tudung, kerai, hiasan dinding, dan keset;
39. Perdagangan Eceran Barang Kerajinan dari Kulit, Tulang, Tanduk, Gading, Bulu, dan
Binatang/Hewan yang diawetkan yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus
barang kerajinan dari kulit, tulang, tanduk, bulu, dan binatang/hewan yang diawetkan,
seperti: kipas dari kulit penyu, karangan bunga dari kulit kerang, pipa rokok dari tulang,
pajangan dari tanduk, pajangan dari gading, pajangan dari bulu burung merak, dan
binatang/hewan yang diawetkan;
40. Perdagangan Eceran Barang Kerajinan dari Logam yang mencakup usaha perdagangan
eceran khusus barang kerajinan dari logam, seperti: vas bunga, patung, tempat lilin, piala,
medali, dan gantungan kunci;
41. Perdagangan Eceran Barang Kerajinan dari Keramik yang mencakup usaha perdagangan
eceran khusus barang kerajinan dari keramik, seperti: patung, vas bunga, asbak, tempat
sirih, celengan, dan pot bunga;
42. Perdagangan Eceran Mainan Anak-anak yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus
macam-macam mainan anak-anak, seperti: boneka, bekel, congklak, scrable, karambol,

46

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

mainan yang berupa alat musik, mobil-mobilan, mainan berupa senjata, mainan berupa
alat memasak, dan mainan berupa perabotan rumah tangga;
43. Perdagangan Eceran Lukisan yang mencakup usaha perdagangan eceran khusus barangbarang lukisan, seperti: lukisan orang, lukisan binatang, dan lukisan pemandangan;
44. Perdagangan Eceran Barang-barang Kerajinan, Mainan Anak-anak, dan Lukisan lainnya;
45. Perdagangan Eceran Kaki Lima Barang Kerajinan yang mencakup usaha perdagangan eceran
kaki lima barang kerajinan dari kayu, bambu, rotan, pandan, rumput dan sejenisnya, kulit,
tulang, tanduk, gading, bulu dan hewan yang diawetkan, logam, keramik yang dilakukan
dipinggir jalan umum, serambi muka (emper), toko atau tempat tetap dipasar yang dapat
dipindah-pindah atau didorong seperti: patung, topeng, relief, ukiran nama, wayang ,
keranjang, tikar, topi/tudung, kerai, pajangan dari tanduk, pipa rokok dari tulang, vas
bunga, tempat lilin piala dari logam, asbak, celengan pot bunga dari keramik, dan lain-lain;
46. Perdagangan Eceran Kaki Lima Lukisan. Kelompok ini mencakup usaha perdagangan
eceran barang-barang lukisan yang dilakukan dipinggir jalan umum, serambi muka
(emper), toko atau tempat tetap dipasar yang dapat dipindah-pindah atau didorong seperti:
lukisan orang, binatang, dan pemandangan.

2.2.3 Model Bisnis di Industri Kerajinan


Proses bisnis yang terjadi pada sub sektor kerajinan bisa dikatakan sesuai dengan yang terjadi
pada ekosistem-nya, yaitu dimana ada empat aktivitas utama-nya. Pertama, ketika perajin dengan
proses kreatif-nya mencari inspirasi, baik itu dilakukan-nya sendiri, atau melalui bantuan designer.
Masih dalam proses kreasi ini, biasanya sang perajin akan membuat sketsa, lalu desain awal hingga
membuat model. Proses kedua ini yang cukup panjang. Ditahap kedua ini ia akan menanyakan
ke pihak-pihak pendukung dalam studio-nya, apakah model kerajinan tersebut disetujui dan
akan berlanjut ke pembuatan prototype. Setelah itu biasanya akan ada tes pasar yang dilakukan
terbatas. Dari hasil tes pasar tersebut, maka sang perajin akan mendapatkan masukan untuk
mengkoreksi dan membetulkan produknya. Kemudian setelah melewati tahap penyempurnaan,
maka produk itu baru akan diproduksi untuk diperbanyak.
Seiring dengan waktu, muncul juga model bisnis kerajinan yang baru. Di model ini, muncul
1 pihak baru yaitu pengusaha kerajinan. Dengan bekal pengetahuan wiraswasta, pengetahuan
pasar lebih baik, maka pengusaha kerajinan ini menjaring beberapa perajin yang dijadikan mitra
dalam berusaha. Pengusaha ini akan membawa ide mengenai design sebuah produk kerajinan
yang diminati pasar dan kemudian akan membuat pesanan ke para perajin. Setelah jadi produk
akhirnya, maka pengusaha ini yang akan melaksanakan kegiatan pemasaran-nya.

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Subsektor Kerajinan Indonesia

47

48

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

BAB 3
Kondisi Umum
Subsektor Kerajinan
di Indonesia

BAB 3: Kondisi Umum Subsektor Kerajinan di Indonesia

49

3.1 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan


Merupakan suatu keharusan untuk memperhitungkan peran subsektor kerajinan secara umum
dalam perekonomian Indonesia dan secara khusus kepada ekonomi kreatif. Peran atau kontribusi
kerajinan ini selanjutnya dapat digunakan sebagai data awal untuk perumusan kebijakan di
Indonesia yang terkait dengan subsektor kerajinan. Diketahui bahwa kontribusi kerajinan dalam
pembangunan Indonesia adalah besar dan penting. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dijelaskan
kontribusi ekonomi kerajinan yang dapat dilihat dari lima aspek dasar.
Adapun kelima aspek tersebut adalah; produk domestik bruto, ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan,
konsumsi rumah tangga, dan berdasarkan kontribusi terhadap ekspor nasional. Aspek pertama
yaitu dengan dasar produk domestik bruto akan menggambarkan besaran hasil produksi yang
mampu dikeluarkan oleh pengrajin dalam 1 tahun. Aspek kedua melihat dari dasar berapa besar
tenaga kerja yang mampu diserap oleh subsektor kerajinan. Aspek ketiga akan melihat seberapa
besar kerajinan mampu menghasilkan usaha-usaha baru di Indonesia. Selanjutnya aspek keempat
melihat besaran permintaan atau konsumsi rumah tangga akan produk kerajinan. Dan terakhir
aspek kelima melihat jumlah ekspor produk kerajinan kepada keseluruhan ekspor dari Indonesia.
Berikut dalam Tabel 3-1 dipaparkan data kinerja kontribusi kerajinan berdasarkan pada lima
aspek tersebut.
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan (2010-2013)

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

1.

Berbasis Produk Domestik Bruto

Nilai Tambah
Subsektor
(ADHB)*

Miliar
Rupiah

72,955.16

79,516.69

84,222.86

92,650.89

82,336.40

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
terhadap
Ekonomi Kreatif
(ADHB)*

Persen

15.42

15.09

14.55

14.44

14.88

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
terhadap Total
PDB (ADHB)*

Persen

1.13

1.07

1.02

1.02

1.06

Pertumbuhan
Nilai Tambah
Subsektor
(ADHK)**

Persen

3.51

1.91

6.38

3.93

2.

Berbasis Ketenagakerjaan

Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

2,909,574.37

2,988,100.67

3,077,098.67

3,109,047.21

3,020,955

50

Orang

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

25.31

25.62

26.08

26.19

25.80

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

2.69

2.72

2.78

2.81

2.75

Pertumbuhan
Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

Persen

2.70

2.98

1.04

2.24

Produktivitas
Tenaga Kerja
Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

7,766

7,827

7,746

8,155

7,873.54

3.

Berbasis Aktivitas Perusahaan

Jumlah
Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

1,054,753

1,063,645

1,071,680

1,076,612

1,066,673

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap
Jumlah
Perusahaan
Ekonomi Kreatif

Persen

20.04

19.95

19.85

19.86

19.93

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap Total
Usaha

Persen

1.94

1.94

1.93

1.92

1.93

Pertumbuhan
Jumlah
Perusahaan

Persen

0.84

0.76

0.46

0.69

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta
Rupiah

15,539,776.54

17,773,446.95

20,176,373.93

21,723,601.04

18,803,299.61

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
terhadap
Ekspor Sektor
Ekonomi Kreatif

Persen

16.07

16.90

18.32

18.26

17.39

Bab 3: Kondisi Umum Subsektor Kerajinan di Indonesia

51

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
terhadap Total
Ekspor

Persen

0.98

0.91

1.01

1.04

0.99

Pertumbuhan
Ekspor
Subsektor

Persen

14.37

13.52

7.67

11.85

4.

Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

Nilai Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor

Juta
Rupiah

110,447,341.00

121,993,598.46

133,549,297.45

145,267,724.11

127,814,490.25

Kontribusi
Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor
terhadap
Konsumsi
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

17.19

17.24

17.08

16.76

17.07

Kontribusi
Konsumsi
Rumah Tangga
terhadap Total
Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

3.03

3.01

2.97

2.88

2.97

Pertumbuhan
Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

10.45

9.47

8.77

9.57

*ADHB = Atas Dasar Harga Berlaku

**ADHK = Atas Dasar Harga Konstan

Sumber: Badan Pusat Statistik 2014, diolah

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


Jika dibandingkan dengan nilai tambah sub sektor lain dalam kategori ekonomi kreatif, kontribusi
nilai tambah yang diberikan terhadap PDB oleh subsektor Kerajinan dapat dikatakan cukup
besar, yakni pada rata-rata 1,06%. Subsektor Kerajinan berada pada urutan nomor 3 terbesar
penyumbang PDB setelah subsektor Kuliner dan Mode. Sehingga dirasakan perlunya stimulasi
subsektor ini agar dapat berkembang lebih baik. Namun jika dilihat perkembangannya tampak
bahwa kontribusi subsektor Kerajinan terhadap PDB Indonesia berdasarkan harga berlaku maupun
harga konstan mengalami penurunan setiap tahun. Hal ini ditunjukkan dari besaran nilai tambah
yang dihasilkan dan persentase laju pertumbuhannya yang secara rata-rata mencapai 1,06%.
Dari tingkat laju pertumbuhan subsektor itu sendiri, subsektor Kerajinan merupakan salah satu
subsektor yang mengalami pertumbuhan rendah di ekonomi kreatif, 3,93%. Sedangkan subsektor
Teknologi informasi bertumbuh pada tingkat rata-rata 8,81%. Walaupun begitu, pertumbuhan
di subsektor Kerajinan tahun 2013 merasakan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari tahun
sebelumnya. Di mana dibanding tahun 2012 pertumbuhannya pada tingkat 6, 38%. Bisa dikatakan

52

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Perlambatan di tahun 2012 tidak hanya dialami oleh subsektor Kerajinan, namun juga terjadi
hampir di seluruh subsektor ekonomi kreatif.
Tabel 3-2 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis PDB Tahun 2010-2013

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

1.

Berbasis Produk Domestik Bruto

Nilai Tambah
Subsektor (ADHB)

Miliar
Rupiah

72,955.16

79,516.69

84,222.86

92,650.89

82,336.40

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
terhadap Ekonomi
Kreatif (ADHB)

Persen

15.42

15.09

14.55

14.44

14.88

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
terhadap Total
PDB (ADHB)

Persen

1.13

1.07

1.02

1.02

1.06

Pertumbuhan
Nilai Tambah
Subsektor (ADHK)

Persen

3.51

1.91

6.38

3.93

Sumber: Badan Pusat Statistik

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Pada bagian ini kita melihat perkembangan subsektor Kerajinan dari sisi tenaga kerja yang ada.
Data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor ini merupakan kedua
terbesar setelah subsektor Mode. Hal ini cukup menggembirakan bahwa subsektor Kerajinan
mampu menyerap tenaga kerja yang besar.
Tingkat partisipasi tenaga kerja subsektor Kerajinan terhadap ketenagakerjaan Nasional
masih terbilang rendah, yaitu hanya pada rata-rata 2,75%. Tetapi tingkat partisipasinya pada
ketenagakerjaan ekonomi kreatif menunjukan sebaliknya, yaitu pada tingkat rata-rata 25,80%.
Namun secara keseluruhan, tingkat partisipasi subsektor ini baik. Hal ini terlihat bahwa angka
partisipasi kepada ekonomi kreatif dan nasional terus meningkat dari tahun 2010 hingga 2013.
Jika dibandingkan tahun 2012, pada tahun 2013 subsektor Kerajinan mengalami penurunan
laju pertumbuhan tenaga kerja. Sementara ditinjau dari produktivitas tenaga kerja, subsektor
Kerajinan termasuk ke dalam salah satu subsektor yang menghasilkan produktivitas terendah
dibanding subsektor lainnya. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah dalam membuat
kebijakan ketenagakerjaan. Sehingga para tenaga kerja baru dapat melihat potensi subsektor ini
dan tertarik berkarya di subsektor ini.

Bab 3: Kondisi Umum Subsektor Kerajinan di Indonesia

53

Tabel 3-3 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis Ketenagakerjaan Tahun 2010-2013

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

2.

Berbasis Ketenagakerjaan

Jumlah
Tenaga Kerja
Subsektor

Orang

2,909,574.37

2,988,100.67

3,077,098.67

3,109,047.21

3,020,955

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor
Ekonomi
Kreatif

Persen

25.31

25.62

26.08

26.19

25.80

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

2.69

2.72

2.78

2.81

2.75

Pertumbuhan
Jumlah
Tenaga Kerja
Subsektor

Persen

2.70

2.98

1.04

2.24

Produktivitas
Tenaga Kerja
Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

7,766

7,827

7,746

8,155

7,873.54

Sumber: Badan Pusat Statistik

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Jumlah perusahaan yang bergerak di subsektor Kerajinan pada tahun 2013 mencapai 1.076.612
perusahaan, dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 0.69%. Dari segi jumlah perusahaan,
subsektor Kerajinan termasuk ke-2 terbesar setelah subsektor Mode. Namun telihat bahwa laju
pertumbuhannya di semakin menurun sejak tahun 2011. Hal ini memberikan sinyal adanya
kejenuhan dari pelaku usaha untuk masuk ke dalam industri ini.
Jika dilihat dari nilai ekspor, lagi-lagi subsektor Kerajinan termasuk nomor 2 terbesar setelah
subsektor Mode. Untuk kontribusi kepada ekspor ekonomi kreatif dan total ekspor subsektor
Kerajinan cukup baik. Hal ini terlihat dari meningkatnya kontribusi subsektor Kerajinan kepada
kedua hal tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah laju pertumbuhan ekspor subsektor Kerajinan,
yang ternyata semakin rendah sejak 2011. Sementara dari nilai impor dapat dikatakan subsektor
Kerajinan memiliki trend ketergantungan pada impor yang rendah.

54

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Tabel 3-4 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis Aktivitas Usaha Tahun 2010-2013

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

3.

Berbasis Aktivitas Perusahaan

Jumlah
Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

1,054,753

1,063,645

1,071,680

1,076,612

1,066,673

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap
Jumlah
Perusahaan
Ekonomi
Kreatif

Persen

20.04

19.95

19.85

19.86

19.93

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap Total
Usaha

Persen

1.94

1.94

1.93

1.92

1.93

Pertumbuhan
Jumlah
Perusahaan

Persen

0.84

0.76

0.46

0.69

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta
Rupiah

15,539,776.54

17,773,446.95

20,176,373.93

21,723,601.04

18,803,299.61

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
terhadap
Ekspor Sektor
Ekonomi
Kreatif

Persen

16.07

16.90

18.32

18.26

17.39

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
terhadap Total
Ekspor

Persen

0.98

0.91

1.01

1.04

0.99

Pertumbuhan
Ekspor
Subsektor

Persen

14.37

13.52

7.67

11.85

Sumber: Badan Pusat Statistik

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Subsektor Kerajinan memiliki nilai konsumsi rumah tangga ke-3 terbesar setelah kuliner dan
mode. Kabar ini merupakan kabar baik baik pelaku usaha di subsektor Kerajinan. Tetapi yang
perlu diwaspadai adalah laju pertumbuhannya konsumsinya yang menurun sejak 2011. Hal perlu
menjadi perhatian bagi setiap pihak yang terkait dengan subsektor Kerajinan, agar bisa membuat
rumah tangga mempertimbangkan dan mengkonsumsi produk-produk kerajinan Indonesia.

Bab 3: Kondisi Umum Subsektor Kerajinan di Indonesia

55

Tabel 3-5 Kontribusi Ekonomi Subsektor Kerajinan Berbasis Konsumsi Rumah Tangga Tahun 2010-2013

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA
127,814,490.25

Nilai
Konsumsi
Rumah
Tangga
Subsektor

Juta
Rupiah

110,447,341.00

121,993,598.46

133,549,297.45

145,267,724.11

Kontribusi
Konsumsi
Rumah
Tangga
Subsektor
terhadap
Konsumsi
Sektor
Ekonomi
Kreatif

Persen

17.19

17.24

17.08

16.76

17.07

Kontribusi
Konsumsi
Rumah
Tangga
terhadap
Total
Konsumsi
Rumah
Tangga

Persen

3.03

3.01

2.97

2.88

2.97

Pertumbuhan
Konsumsi
Rumah
Tangga

Persen

10.45

9.47

8.77

9.57

Sumber: Badan Pusat Statistik

3.2 Kebijakan Pengembangan Subsektor Kerajinan


Terdapat beberapa kebijakan yang memberikan dampak langsung pada kinerja subsektor kerajinan.
Berikut adalah analisis terhadap kebijakan-kebijakan tersebut:
1. Undang-undang No. 14 tahun 1997 tentang Perlindungan Perindustrian dan Undang-undang
No. 12 tahun 1997 tentang Hak cipta. Kedua undang-undang ini menjadi dasar dukungan
hukum untuk subsektor ekonomi kreatif. Pada UU No. 14/1997 tentang perlindungan
perindustrian dikatakan bahwa desain produk industri mendapat perlindungan hukum
yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah. Dan kemudian ditambahkan,
barang siapa dengan sengaja tanpa hak melakukan peniruan desain produk industri
sebagaimana dimaksud dalam pasal diatas, dipidana selama-lamanya 2 (dua) tahun
atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Sedangkan
dari UU.12/1997 tentang Hak Cipta secara spesifik memberikan sanksi yang lebih berat
dibanding dengan UU. No. 14/1997. Disini dikatakan bahwa bab VI pasal 44 ayat 1,
Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak ciptaan
atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau

56

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Dan kemudian ditegaskan
pada ayat 2, barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Dari kedua undang-undang
tersebut jelas bahwa produk kerajinan yang dihasilkan oleh para perajin mendapatkan
jaminan perlindungan atas tindakan pembajakan.
2. Selanjutnya undang-undang tentang hak cipta diperbaharui dengan dikeluarkannya;
Undang-undang No. 12 tahun 2002 tentang Hak Cipta.
3. Undang-undang No.31 tahun 2000 tentang Desain Industri. Pada undang-undang ini
juga dikatakan mengenai perlindungan kepada desain industri, termasuk di dalamnya
untuk kepentingan membuat kerajinan tangan. Hal ini disebutkan dalam Bab I, pasal
1, Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis
atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi
atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga
dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang,
komoditas industri, atau kerajinan tangan.
Bisa disimpulkan bahwa tantangan terbesar dari sisi kebijakan untuk subsektor kerajinan adalah
bagaimana peran pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jenderal HaKI, Kementerian Hukum
dan HAM RI) agar dapat mensosialisasikan Undang-Undang yang terkait dengan Hak Cipta
kepada masyarakat. Hal ini karena masih banyaknya karya masyarakat yang merupakan kekayaan
bangsa Indonesia di daerah-daerah, yang belum mendapatkan perlindungan hukum. Ditambah
lagi, masyarakat yang belum menyadari arti penting dari pendaftaran/pendataan karya cipta
dan karya kreatif tersebut. Diharapkannya pemerintah daerah pun juga berperan sama, yaitu
menyadarkan arti penting hak cipta kepada setiap perajin di daerahnya. Sehingga mereka akan
langsung merasakan manfaat komersial dari produk kerajinan mereka.

3.3 Struktur Pasar Subsektor Kerajinan


Struktur Pasar subsektor Kerajinan: Monopolistik. Sifat-sifat monopolistik adalah: ada banyaknya
perusahaan, dan masuknya perusahaan baru ke pasar ini adalah bebas (tidak ada hambatan). Tetapi
barang yang dihasilkan setiap perusahaan adalah berbeda. Berbeda karena, setiap perusahaan menjual
merek atau versi barang yang berbeda dalam hal kualitas, tampilan ataupun reputasi. Sehingga
setiap perusahaan merupakan produsen satu-satunya dari merek tersebut. Besarnya kesuksesan
tergantung pada seberapa sukses sang perusahaan dapat membedakan produknya dari produkproduk perusahaan lain. Kekuasaan yang bagaikan memiliki monopoly ini pada dasarnya terbatas.
Hal ini karena sebetulnya para konsumen dapat dengan mudah berpindah kepada merek substitusi
(penggantinya). Oleh karena itu, itulah sebabnya ada usaha-usaha kerajinan yang mengenakan harga
barang kerajinannya mahal tetapi tidak jauh lebih mahal dari substitusi terdekatnya.
Pasar monopolistik memiliki 2 karakter. Karakter pertama, perusahaan akan bersaing dengan menjual
produk yang berbeda tetapi mudah digantikan oleh perusahaan lain, tapi barang penggantinya
tersebut tidaklah pengganti yang sempurna atau barang yang sama persis. Karaketer kedua, bagi
perusahaan adalah bebas untuk masuk dan keluar pasar dengan merek mereka. Sehingga jika
ada perusahaan lama yang merasa usahanya tidak menguntungkan lagi, maka mereka pun bebas
untuk keluar dari pasar tersebut.

Bab 3: Kondisi Umum Subsektor Kerajinan di Indonesia

57

Kedua karakter itupun akan terlihat pada pasar produk-produk Kerajinan. Untuk karakter
yang pertama, sebuah perusahaan batik tidak akan membuat satu buah baju batik yang sama
persis dengan perusahaan batik lainnya. Mungkin yang terjadi adalah kemiripan motif, tetapi
hanya sampai di situ, sifat-sifat produk lainnya bisa berbeda. Karakter yang kedua adalah, jika
ada perusahaan batik yang ingin masuk pasar ini, maka mereka bisa masuk dan keluar sesuai
keinginan berusahanya mereka. Tidak ada hambatan untuk masuk dan keluar menjadi pemain
di pasar produsen batik. Oleh karena mudah masuknya pesaing ke pasar ini, maka disarankan
agar pemain-pemain di pasar monopolistik ini untuk bisa membedakan produknya tidak hanya
melalui keunikan produknya. Mereka bisa saja membedakan penawaran produknya melalui cara
lain seperti; membuka toko di lokasi lain, keahlian dari para agen penjualan, bahkan sampai
kemudahan pembayaran akan produk-produknya.

3.4 Daya Saing Subsektor Kerajinan


Gambar 3-1 Kinerja Daya Saing Subsektor Kerajinan Saat Ini

Hasil focus group discussion dan indepth interview dengan pengamat subsektor ini, diketahui bahwa
daya saing produk kerajinan Indonesia cukup baik di dalam negeri. Selain karena karakter pasar
kerajinan yang menawarkan produk-produk yang unik dan tidak sama persis, juga penyebabnya
adalah perilaku konsumen Indonesia. Hal ini dikarenakan bahwa pada dasarnya, konsumen
dalam negeri kita masih loyal dengan produk-produk kerajinan yang khususnya dibuat oleh
perajin dari Indonesia.
Yang menjadi tantangan daya saing adalah ketika produk kerajinan Indonesia dibandingkan
dengan produk serupa dari negara lain. Oleh karena itu, tantangan daya saing ini terasa sekali
di pasar luar negeri. Hal ini berarti tidak adanya lagi sentimen nasionalisme dari konsumen dan
pilihan didasarkan pada kualitas produk. Kualitas produk disini adalah seperti kerapihan produk,
penggunaan bahan yang baik, produk bisa tahan lama, ketepatan produksi barang, dan lain-lain.

58

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Sering kali hal-hal kualitas produk kerajinanlah yang membuat konsumen akan membeli. Dan
karena sering kali kualitas produk yang tidak standard dan tidak konsisten inilah yang akhirnya
menggerogoti daya saing produk-produk kerajinan dari Indonesia di pasar luar negeri.
Indonesia merupakan pasar yang potensial dikarenakan ukuran pasar yang besar dan kondisi
perekonomian makro yang dilihat dari tingkat pertumbuhan ekonominya. Tetapi untuk memiliki
subsektor kerajinan yang kuat dan berkembang, maka kita tidak dapat untuk terus bergantung
kepada pasar dalam negeri.

3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Subsektor Kerajinan


Pada bagian ini dijelaskan potensi dan permasalahan subsektor Industri Kreatif di Indonesia,
dengan merujuk 7 isu strategis yang dialami oleh ekonomi kreatif, yaitu: sumber daya kreatif,
sumber daya pendukung, industri, pembiayaan, pemasaran, infrastruktur dan teknologi, serta
kelembagaan.
Tabel 3-6 Potensi dan Permasalahan Penembangan Subsektor Kerajinan

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

1.

SUMBER DAYA KREATIF

Dilihat dari besarnya jumlah populasi


penduduk Indonesia usia produktif
di masa depan. Hal ini akan berguna
sebagai tenaga pengrajin ataupun tenaga
pendukung bagi pengrajin di masa-masa
depan.

Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia


Indonesia di bidang kerajinan (kurangnya
SDM yang berkualitas, mulai dari sikap &
mentalnya).

Banyaknya SMK (Sekolah Menengah


Kejuruan) kerajinan, ditambah adanya
perguruan tinggi senirupa & design.

Sangat sedikitnya potensi orang kreatif, dari


populasi orang muda yang jumlahnya besar
(proporsi).

Pendidikan nonformal di bidang


kerajinan, seperti kursus-kursus di
bidang kerajinan.

Sulitnya alih pengetahuan antar generasi tua


ke generasi muda, karena adanya perbedaan
orientasi antar generasi. Misalnya, generasi
muda yang ingin serba cepat dan kurang
menyukai seni tradisional.

Terjadinya kolaborasi & sinergi dengan


lembaga pendidikan formal & nonformal
manajemen. Sebagai contoh, dengan
kerjasama dengan sekolah tinggi
ekonomi ataupun fakultas ekonomi
sebuah universitas.

Hilangnya para maestro craft, dan belum


sempat alih pengetahuan.

Kurangnya sekolah-sekolah yang mampu


mencetak orang kreatif

Kurangnya berpikir secara out of the box,


khususnya dari sisi pengrajin.

Kurangnya pemahaman akan HKI (Hak


Kekayaan Intelektual) dalam kegiatan
ekonomi kreatif umumnya dan khususnya di
industri kerajinan.

Kurikulum pendidikan yang tidak mendukung


dihasilkannya orang-orang kreatif

Tidak mendukung motivasi/keinginan


berwirausaha

Bab 3: Kondisi Umum Subsektor Kerajinan di Indonesia

59

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

60

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)
10

Tidak adanya kesinambungan antara


kurikulum SMK dengan jenjang pendidikan
yang lebih tinggi (polytechnic seni,
pendidikan seni rupa).

11

Seringkali tidak tepat sasarannya kegiatan


pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada
pengrajin.

12

Tidak tepatnya pemangku kepentingan


dalam pengelolaan & pelaksanaan program/
pelatihan.

2.

SUMBER DAYA PENDUKUNG

Kayanya nilai budaya & tradisi Indonesia


yang tersebar di berbagai daerah.

Kurangnya pendataan, pengembangan,


& pengadaan bahan-bahan berasal dari
sumber daya alam Indonesia.

Materi bahan mentah untuk produkproduk kerajinan yang tersedia di dalam


negeri dalam jumlah yang tidak sedikit
juga.

Kurang optimalnya pengelolaan & distribusi


sumber daya alam sebagai bahan baku
untuk industri kerajinan.

Terjadinya Cross learning (pembelajaran)


antar budaya di satu daerah dengan
daerah lain yang mengakibatkan semakin
luasnya persebaran budaya di Indonesia.

Tidak ada dan/atau kurangnya kebijakan


untuk pengadaan & pengembangan berbagai
jenis bahan baku siap pakai untuk industri
kerajinan yang standard.

Adanya anggapan bahwa bahan mentah


kerajinan lebih baik di ekspor ke negaranegara pesaing.

Kurangnya pendataan, pendokumentasian


karya-karya budaya yang dapat
mengembangkan kerajinan Indonesia.

Kurangnya promosi terhadap potensi


sumber daya budaya.

3.

INDUSTRI

Masih adanya kewajiban bagi BUMN


dan perusahaan swasta agar mengikuti
program pendampingan kemitraan
dengan pengrajin.

Kurangnya R & D (research & development)


oleh para pengrajin (Orang kreatif).

Adanya sistem penjamin kualitas &


standard, seperti curator dan system
standard dalam produksi barang
kerajinan yang massal.

Kurangnya fasilitasi mesin & peralatan


dalam proses produksi barang kerajinan.

Kurangnya kegiatan produksi barang


kerajinan yang berkelanjutan & ramah
lingkungan

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)
4.

PEMBIAYAAN

Pengrajin sekarang mendapat


kesempatan akan akses dana untuk
operasional produksi kerajinan mereka.
Yang mana bersumber dari:
1. Produk kredit pembiayaan, baik itu
berasal dari perbankan dan juga non
perbankan.
2. Koperasi di tingkat daerah juga
membantu pembiayaan ke para
pengrajin.
3. Dana CSR (Corporate Social
Responsibility) dari perusahaanperusahaan swasta.
4. Lembaga pemerintah, seperti BUMN
(Badan Usaha Milik Negara).
5. Lembaga/perusahaan asing, seperti
lembaga bantuan dari luar negeri
ataupun dari perusahaan luar negeri.

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

tidak adanya lembaga yg memberikan


pendanaan ke pelaku usaha kerajinan
dengan konsep angel investor/model
ventura.

banyak pelaku usaha kerajinan yang


mengetahui ttg produk kredit ke usaha kecil,
tapi belum banyak yang memanfaatkan.

secara umum sumber pendanaan untuk


men-support industri kerajinan di Indonesia,
adalah kecil. Dalam arti masih bermodel
harus dengan jaminan kredit seperti di
perbankan ketika mengucukan kredit kepada
perusahaan biasa.

5.

PEMASARAN

Potensi permintaan dari pasar dalam &


luar negeri

Lemahnya posisi pengrajin dalam


menentukan harga dengan pembeli, karena
lemahnya posisi asosiasi pengrajin.

Online marketing (termasuk di dalamnya


peran social media).

Belum kuatnya penggunaan produk


kerajinan lokal di outlet potensial, terutama
hotel & restaurant.

Terlihat dari pameran kerajinan di dalam


negeri yang selalu padat

Belum optimalnya penggunaan produk


kerajinan di instansi pemda ataupun swasta
nasional/daerah.

Jumlah kelas menengah di Indonesia


yang besar dan memiliki daya beli yang
besar juga.

Belum dimanfaatkannya teknologi informasi


sebagai sarana pemasaran yang efektif.

Tren penggunaan kerajinan lokal untuk


memenuhi kebutuhan masyarakat.

Lemahnya pemahaman tentang konsep


branding dalam pemasaran kerajinan.

Semakin banyaknya permintaan produk


yang dihasilkan dengan keterampilan
tangan yang sangat tinggi.

Kurangnya pengetahuan tentang


manajemen, usaha, pemasaran, keuangan
dsb.

Semakin banyaknya pengrajin yang


menjual produk dengan memasukan
unsur pengalaman mencoba & lengkap
beserta cerita mengenai kerajinan
tersebut.

Tidak adanya kebijakan klasifikasi pasar


industri kerajinan berdasarkan klasifikasi
produk kerajinannya.

Bab 3: Kondisi Umum Subsektor Kerajinan di Indonesia

61

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

62

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)
8

Belum siapnya IKM (Industri Kecil Menengah)


kerajinan untuk menghadapi Masyarakat
Ekonomi ASEAN (di antaranya produk
kerajinan impor yang lebih murah).

Produk kerajinan yang dibuat di luar daerah


asal kerajinan tersebut, dan masuk kembali
ke daerah asal sebagai produk pesaing.

6.

INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI

Perkembangan teknologi informasi


menciptakan beberapa potensi
bagi subsektor kerajinan. Seperti
perkembangan teknologi baru untuk
produksi, sehingga proses produksi
barang menjadi lebih efisien dan juga
efektif.

Kurangnya pengembangan alat-alat


produksi yang efisien & efektif.

Munculnya teknologi dalam produksi


barang-barang kerajinan.

Belum terserapnya secara optimal subsidi


dana atau skema pengadaan dan/atau
pengembangan teknologi bagi industri
kerajinan, khususnya program dari
pemerintah.

Kurangnya teknologi yang dapat


memaksimalkan bahan baku berasal dari
sumber daya alam Indonesia.

7.

KELEMBAGAAN

Peran aktif dari lembaga pemerintah


(kementerian, BUMN).

Penguatan lembaga konsultasi HKI


terutama di daerah, sehingga mereka
bisa memberikan pemahaman HKI kepada
pengrajin.

Peran aktif dari lembaga swasta.

Kurangnya koordinasi antar kementerian


terkait kebijakan didalam industri kerajinan.
(Perindustrian, Perdagangan, KUKM dan
Kemenparekraf).

Peran aktif dari Asosiasi untuk bantu


pengrajin berkembang.

Lemahnya penegakan hukum dan HKI.

Belum optimalnya kebijakan pemerintah


yang mendukung pemasaran produk
kerajinan. Di antaranya kebijakan
pajak, promosi, pengadaan bahan baku,
infrastruktur, dsb.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

BAB 4
Rencana Pengembangan
Subsektor Kerajinan di
Indonesia

BAB 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

65

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 2015-2019


Arahan RPJPN 2005-2025, pembangunan nasionaltahap ketiga (2015-2019) adalahditujukan
untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan
sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan iptek yang
terus meningkat.
Pembangunan periode 2015-2019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 2015- 2019 adalahpembangunan yang kuat, inklusif, dan
berkelanjutan.Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesiayang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi,yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur ekonomi danketahanan ekonomi yang kuat.
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesiadi berbagai
wilayah Indonesia secaraadil dan merata.
3. Menjadikan Indonesia yangbersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah
dan perusahaan yang benar dan baik.
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.
Dalam rancangan teknokratik RPJMN 2015-2019 terdapat enam agenda pembangunan, yaitu: (1)
Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup,
dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan; (4)
Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6) Pembangunan Kelautan.
Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan untuk memantapkan
pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta
kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuatlandasan
kelembagaanuntuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkaniptek dan kreativitas
serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan solusi atas permasalahan dan
tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan industri
kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.

66

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Secara strategispengembangan ekonomi kreatif tahun 2015-2019 bertujuan untuk menciptakan


ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai
dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.
Subsektor kerajinan tentu saja akan mendukung pencapaian dari tujuan pembangunan ekonomi
kreatif tersebut. Ada empat cara diharapkan kerajinan bisa membantu mencapainya. Yaitu, pertama
dengan membuat permintaan yang kuat akan barang kerajinan Indonesia pada pasar dalam
negeri. Kedua, dengan memperkuat kegiatan produksi kerajinan itu sendiri. Seperti dari sumber
daya manusia pengrajin atau pendukungnya, akses permodalan yang mudah dan berbiaya rendah,
serta menjamin adanya pasokan bahan mentah kerajinan. Ketiga, dengan merancang lingkungan
usaha yang berdekatan dan saling mendukung dari sisi usaha. Sehingga diharapkan biaya lebih
kecil dan pengetahuan bisa lebih mudah disebarkan diantara pihak-pihak terkait. Dan terakhir,
keempat melalui penciptaan iklim usaha melalui kebijakan pemerintah agar terjadi persaingan
yang sehat yang memacu perbaikan dan inovasi.

4.2 Visi, Misi, Tujuan, dan Pengembangan Kerajinan


Visi, misi, tujuan dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan kerajinan
pada periode 2015-2019 yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan
dalam melaksanakan program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait secara terarah
dan terukur. Secara umum, kerangka strategis pengembangan kerajinan pada periode 2015-2019
dapat dilihat pada gambar 4-1.

4.2.1 Visi Pengembangan Kerajinan


Berdasarkan kepada keadaan subsektor kerajinan di Indonesia saat ini, termasuk potensi yang ada,
serta tantangan yang mungkin menghadang dan juga arahan strategis pembangunan nasional
dan pengembangan ekonomi kreatif periode 2015-2019, maka visi pengembangan kerajinan
selama periode 2015-2019 adalah:

Terwujudnya subsektor kerajinan yang berdaya saing


global serta berkontribusi pada kesejahteraan rakyat
yang berkelanjutan

Terwujudnya subsektor kerajinan yang berdaya saing global yang dimaksudkan disini adalah
bahwa subsektor kerajinan adalah sektor unggulan dalam ekonomi kreatif di Indonesia. Hal
ini terlihat dari besarnya kontribusi sektor kerajinan dalam PDB Indonesia, yang menempati
posisi ketiga terbesar setelah subsektor kuliner dan mode. Melalui visi ini bisa dikatakan bahwa
subsektor kerajinan bercita-cita menjadi pemenang dalam persaingan di pasar domestik maupun
internasional. Posisi pemenang ini dapat diraih dengan memiliki daya saing yang baik. Dengan
memiliki daya saing yang baik, pasar (dalam atau luar negeri) akan mampu melihat produk
kerajinan Indonesia yang berkualitas.

Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

67

Berkontribusi pada kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan berarti dengan menjadi


pemenang persaingan, diharapkan bisa menghantarkan pelaku di subsektor kerajinan menjadi
sejahtera. Pelaku kerajinan di Indonesia masih mayoritas berskala UMKM (Usaha Mikro Kecil
dan Menengah). Di subsektor ini pun dikenal bahwa kegiatan produksinya yang padat karya.
Sehingga jika ada perajin yang mampu memenangi persaingan di pasar, maka akan membawa
manfaat positif yang luas. Dalam arti, ketika usaha seorang perajin menjadi maju, maka karyawan
beserta pihak-pihak yang terkait juga bisa semakin sejahtera.

VISI

Mengoptimalkan
pengembangan dan
pemanfaatan sumber
daya lokal yang berdaya
saing, dinamis, &
berkelanjutan

Mengembangkan industri
kerajinan yang berdaya
saing, tumbuh, beragam,
dan berkualitas

Mengembangkan lingkungan yang


kondusif untuk pemberdayaan potensi
dan pengetahuan kerajinan yang
berdasarkan kreativitas dengan
melibatkan seluruh pemangku
kepentingan

Terciptanya sumber pembiayaan


bagi proses kreasi kerajinan yang
transparan, mudah diakses, dan
bersaing.

Terwujudnya industri kerajinan


yang mampu menjawab kebutuhan
dari pasar domestik dan
internasional.

Terciptanya infrastruktur dan


teknologi yang mendukung
pelaku kerajinan untuk maju dan
berkembang.

Terwujudnya kelembagaan yang


menghargai proses kreatif dari
setiap produk kerajinan.

Meningkatnya ketersediaan
pembiayaan bagi proses kreasi
kerajinan yang transparan, mudah
diakses dan bersaing.

Meningkatkan akses pasar produk


kerajinan di pasar domestik dan
internasional

Meningkatnya ketersediaan jaringan


telematika, logistik yang mendukung
pengembangan kerajinan.

10

Meningkatnya penerapan teknologi


produksi yang optimal untuk
meningkatkan nilai tambah barang
kerajinan yang berkualitas dan
beragam.

11

Meningkatnya partisipasi aktif


pemegang kepentingan dalam
pengembangan kerajinan yang
berkualitas dan berkelanjutan

TUJUAN

Terwujudnya subsektor kerajinan yang berdaya saing global serta berkontribusi pada
kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan.

MISI

Tabel 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Kerajinan 2015 - 2019

SASARAN STRATEGIS

68

Terciptanya pelaku
kreatif kerajinan
yang berdaya
saing dan mampu
mengangkat
potensi kekayaan
lokal.

Terwujudnya
industri kerajinan
yang berkembang
secara optimal dan
berkualitas.

Terjaminnya
perlindungan,
pengembangan,
dan pemanfaatan
sumber daya alam
dan budaya bagi
kerajinan secara
berkelanjutan
Meningkatnya
kuantitas dan
kualitas pendidikan
yang mendukung
penciptaan
kerajinan

Meningkatnya
kuantitas dan
kualitas sumber
daya manusia
pelaku dan
pendukung
kerajinan.

Meningkatnya
wirausahawan
kreatif kerajinan
yang mampu
mengembangkan
produk sesuai
dengan kondisi lokal
dan internasional

Meningkatnya
kualitas dan
kuantitas usahausaha kerajinan di
berbagai daerah

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Tersedianya materi
bahan mentah
dan sumber
budaya lokal bagi
kerajinan, yang
terpercaya, mudah,
dan cepat di akses.

terciptanya karya
kerajinan yang
beragam dan
berkualitas

12

Meningkatkan pemahaman
aspek-aspek hukum terkait
ekonomi kreatif dan Hak Kekayaan
Intelektual serta menjamin
perlindungan hukum bagi pelaku
kreatif

13

Meningkatkan iklim usaha yang


kondusif bagi pelaku kreatif
subsektor kerajinan.

14

Meningkatnya apresiasi kepada


orang pelaku kerajinan dan karya
kreatif mereka.

4.2.2 Misi Pengembangan Kerajinan


Dalam mewujudkan Visi pengembangan subsektor Kerajinan tersebut, maka pencapaiannya akan
melalui pelaksanakan Misi pengembangan subsektor Kerajinan 2015-2019, yaitu sebagai berikut:
1. Mengoptimalkan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal yang berdaya
saing, dinamis, & berkelanjutan. Misi pertama ini memiliki 3 arti, yaitu:
a. Mengembangkan sumber daya manusia penghasil dan pendukung kerajinan yang
merata di seluruh wilayah Indonesia. Serta mengembangkan kualitas sumber daya
manusia penghasil kerajinan agar bisa menghasilkan barang kerajinan yang berdasarkan
pada kekayaan nilai-nilai lokal dengan sentuhan kekinian sehingga mampu bersaing
di tingkat global.
b. Dalam pengembangan kerajinan ini pihak-pihak yang terkait harus dapat menjaga
keseimbangan antara melestarikan nilai-nilai budaya lokal dengan memasukan
unsur-unsur kekinian. Diharapkan dengan praktek ini bisa memperkuat karakter
dan jatidiri bangsa Indonesia.
c. Ketika mengembangkan kerajinan ini, penggunaan dan pengembangan sumber daya
alam lokal juga harus bisa dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga kegiatan penciptaan
kerajinan ini bisa berlangsung secara terus menerus dan mampu memberikan nilai
ke generasi selanjutnya.
2. Mengembangkan industri kerajinan yang berdaya saing, tumbuh, beragam,
dan berkualitas, di sini berarti mampu membuat suatu ekosistem yang mendukung
berkembangnya wirausaha di bidang kerajinan, serta mampu membuat dan meningkatkan
karya kerajinan yang berkualitas
3. Mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk pemberdayaan potensi dan
pengetahuan kerajinan yang berdasarkan kreativitas dengan melibatkan seluruh
pemangku kepentingan. Misi ini memiliki 2 arti, yaitu:
a. Lingkungan kondusif berarti pemerintah dapat memfasilitasi terciptanya infrastruktur
subsektor kerajinan yang kondusif. Hal ini termasuk di dalamnya: insitusi, peraturanperaturan yang dapat memberikan insentif pada penciptaan nilai barang-barang
kerajinan dan mengatur kelancaran jalannya pasar barang kerajinan, serta akses
pembiayaan dan pembentukan jejaring dan asosiasi.
b. Keterlibatan seluruh pemangku kepentingan berarti pemerintah meyakinkan seluruh
pihak yang berkepentingan dari para pengrajin, akademis, hingga praktisi mampu
ikut serta secara aktif mengembangkan kerajinan ini secara transparan dan akuntabel.
Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

69

4.2.3 Tujuan Pengembangan Kerajinan


Berdasarkan pada tiga misi yang diemban untuk pencapaian visi yang sudah ditetapkan, kemudian
akan ditentukan 7 (tujuh) tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Terciptanya pelaku kreatif subsektor kerajinan yang berdaya saing dan mampu
mengangkat potensi kekayaan lokal. Pelaku kreatif pada subsektor kerajinan ini
mencakup dari pengrajin, sentra kerajinan tradisional, pengusaha kerajinan, studioworkshop kriya/desain, serta independent artist/designer. Pelaku kreatif yang berdaya saing
artinya mempunyai keahlian dan pengetahuan untuk menciptakan dan mendukung karya
kerajinan dengan tidak melupakan potensi-potensi dari dalam negeri.
2. Terjaminnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam
dan budaya bagi kerajinan secara berkelanjutan. Perlindungan berarti perlu adanya
peraturan yang menjamin agar sumber daya alam juga dilestarikan, serta sumber daya
budaya bisa dijaga dengan pengarsipan yang baik. Pengembangan artinya baik sumber
daya alam atau budaya bisa digunakan sepenuhnya untuk inspirasi karya-karya kerajinan.
Dan terakhir, pemanfaatan disini berarti semua pihak yang berkepentingan dapat memiliki
akses ke sumber daya alam dan budaya tersebut dalam proses penciptaan nilai barang
kerajinan di kemudian hari.
3. Terwujudnya industri kerajinan yang berkembang secara optimal dan berkualitas.
Hal ini berarti terjadi sebuah sistem yang mendorong tumbuhnya usaha dan wirausaha
di bidang yang mampu memberikan keluaran secara konsisten berupa barang-barang
kerajinan yang berkualitas.
4. Terciptanya sumber pembiayaan bagi proses kreasi kerajinan yang transparan, mudah
diakses, dan bersaing. Pembiayaan yang transparan berarti publik dapat mengetahui
semua informasi terkait dengan hal tersebut. Mudah diakses berarti berbagai pihak dapat
mudah mendapatkan pembiayaan tersebut melalui sistem informasi yang terpadu. Dan
bersaing berarti lembaga pembiayaan yang ada akan secara sehat berusaha memberikan
pelayanaan terbaik kepada pelaku-pelaku kreatif. .
5. Terwujudnya industri kerajinan yang mampu menjawab kebutuhan dari pasar
domestik dan internasional. Artinya adalah terciptanya barang-barang kerajinan yang
berkualitas sehingga jumlah permintaan dan pembeli akan barang-barang tersebut akan
meningkat, baik di dalam atau luar negeri.
6. Terciptanya infrastruktur dan teknologi yang mendukung pelaku kerajinan untuk
maju dan berkembang. Hal ini berarti para pelaku kerajinan mendapatkan sarana,
prasarana, dan teknologi mutakhir yang mampu membantu dan mengembangkan proses
kreasi kerajinan mereka dengan lebih efisien dan efektif.
7. Terwujudnya kelembagaan yang menghargai proses kreatif dari setiap produk
kerajinan. Kelembagaan yang menghargai berarti bahwa untuk mengembangkan kerajinan
maka diperlukan peraturan atau perundang-undangan yang melindungi hak kekayaan
intelektual dari para pelaku kreatif kerajinan. Selain itu, penghargaan juga dapat di
berikan melalui kelembagaan yang mengatur mengenai apresiasi terhadap pelaku kreatif
kerajinan yang berprestasi baik di dalam atau luar negeri.

70

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pencapaian Pengembangan Kerajinan


Untuk mencapai tujuh tujuan pengembangan kerajinan, maka terdapat empat belas sasaran
strategis yang dapat diindikasikan oleh 53 indikasi strategis. Sasaran dan indikasi strategis
pengembangan kerajinan meliputi:
1. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan kerajinan.
a. Naiknya jumlah sekolah menengah kejuruan kerajinan, politeknik kerajinan, dan
jurusan kerajinan di perguruan tinggi seni di luar pulau jawa.
b. Meningkatnya sekolah menengah kejuruan kerajinan, politeknik kerajinan, dan jurusan
kerajinan di perguruan tinggi di luar Jawa dengan nilai akreditasi baik di luar pulau Jawa.
c. Terdapatnya pembaharuan kurikulum pendidikan yang menekankan pada kualitas, disiplin
berkreasi, dan mudah diterapkan pada sekolah-sekolah kerajinan di seluruh Indonesia.
d. Kualitas pengajaran yang meningkat, dengan metode pengajaran yang mendorong
kreatifitas.
2. Meningkatnya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pelaku dan pendukung kerajinan.
a. Terciptanya secara merata jumlah lulusan sekolah kerajinan dari berbagai tingkatan
(sekolah menengah kejuruan, politeknik, perguruan tinggi).
b. Meningkatnya jumlah pelaku kerajinan dan juga pendukungnya yang memiliki latar
belakang pendidikan kerajinan.
c. Terciptanya pelaku kerajinan yang produktif, menjunjung tinggi kualitas, menghargai
seni dan keaslian, paham menggunakan teknologi dalam kegiatan kreasinya, mampu
mengelola sumberdaya yang ada, dapat bekerja sama dengan pihak lain, serta peduli
dengan kondisi sekitarnya.
d. Terciptanya system secara berkala mengirimkan pelaku dan pihak pendukung
untuk mendapatkan pelatihan/studi lanjut dari insitusi pendidikan yang unggul.
Tersedianya materi bahan mentah dan sumber budaya lokal bagi kerajinan, yang
terpercaya, mudah, dan cepat di akses.
e. Terciptanya pusat data acuan yang berisi informasi mengenai lokasi tersedianya
bahan-bahan mentah kerajinan tertentu di Indonesia, serta juga informasi harga
bahan-bahan tersebut di pasaran.
f. Mudahan diaksesnya pusat data bahan mentah tersebut oleh pelaku dan pihak pendukung.
g. Terkontrolnya harga-harga baham mentah untuk berbagai kerajinan.
h. Meningkatnya jumlah dokumentasi dan kumpulan catatan mengenai nilai budaya,
dan juga produk budaya dari seluruh wilayah di Indonesia.
3. Meningkatnya wirausahawan kreatif kerajinan yang mampu mengembangkan produk
sesuai dengan kondisi lokal dan internasional.
a. Meningkatnya jumlah keanggotaan pelaku kerajinan yang tergabung dalam asosiasiasosiasi kerajinan.
b. Meningkat jumlah usaha-usaha dengan produk utama barang-barang kerajinan di
berbagai daerah di Indonesia.
c. Meningkatnya jumlah usaha berbentuk wokshop atau studio yang fokus pada kreasi
barang kerajinan.
d. Terciptanya sentra-sentra kerajinan baru di berbagai daerah.

Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

71

4. Meningkatnya kualitas dan kuantitas usaha-usaha kerajinan di berbagai daerah.


a. Semakin banyak pelaku dan pendukung kerajinan yang memahami mengenai standard
barang berkualitas dari kerajinannya.
b. Terciptanya asosiasi atau komunitas untuk mengembangkan pelaku usaha kerajinan
di berbagai daerah.
c. Masih bertahannya usaha-usaha kerajinan yang sudah lama dan juga meningkatnya
jumlah usaha-usaha yang baru.
d. Terciptanya kolaborasi antara pelaku kerajinan dalam menghantarkan produk yang
lebih berkualitas.
5. Terciptanya karya kerajinan yang beragam dan berkualitas.
a. Semakin kecilnya jumlah keluhan yang muncul dari pembeli barang kerajinan, baik
di dalam atau luar negeri.
b. Konsistennya usaha kerajinan dalam kesempatan mengenalkan berbagai produkproduk barunya.
6. Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi proses kreasi kerajinan yang transparan,
mudah diakses, dan bersaing.
a. Semakin banyaknya institusi keuangan yang mengeluarkan produk pembiayaan bagi
usaha kecil dan menengah di bidang kerajinan.
b. Terciptanya kebijakan pemerintah yang mendukung pembiayaan produksi kerajinan
oleh BUMN atau bank pemerintah.
c. Terciptanya skema keringanan pembiayaan (pajak) dari pemerintah untuk operasional
usaha-usaha kerajinan.
d. Semakin banyak macamnya pihak yang menyediakan pembiayaan kepada usaha
kerajinan dalam bentuk investasi atau pinjaman.
7. Meningkatkan akses pasar produk kerajinan di pasar domestik dan internasional.
a. Semakin banyaknya jumlah pengusaha kerajinan yang megikuti pameran produk
kerajinan di dalam dan luar negeri.
b. Semakin meningkatnya jumlah toko atau galeri barang kerajinan di berbagai retail
modern di kota-kota besar di Indonesia.
c. Terciptanya outlet resmi barang kerajinan di berbagai daerah wisata di Indonesia.
d. Semakin banyaknya usaha-usaha kerajinan yang memiliki website atau melakukan
kegiatan penjualan melalui internet.
e. Terciptanya pusat informasi produk kerajinan Indonesia di berbagai kedutaan besar
di seluruh dunia.
f. Meningkatnya jumlah pengunjung dan pembeli pameran kerajinan, baik di dalam
atau luar negeri
g. Meningkatnya pembeli dengan skala perusahaan atau bisnis untuk barang-barang kerajinan.
8. Meningkatnya ketersediaan jaringan telematika, logistik yang mendukung pengembangan
kerajinan.
a. Terciptanya jelas jalur logistik ke berbagai daerah di Indonesia, untuk menjamin
penghantaran pasokan dan barang jadi ke pasar.
b. Terciptanya skema bantuan teknologi komunikasi dan informasi bagi usaha-usaha
kerajinan.

72

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

9. Meningkatnya penerapan teknologi produksi yang optimal untuk meningkatkan nilai


tambah barang kerajinan yang berkualitas dan beragam.
a. Meningkatnya adopsi penggunaan teknologi komunikasi dan informasi di setiap
kegiatan rantai nilai usaha kerajinan yang ada.
b. Meningkatnya adopsi teknologi dalam kegiatan produksi barang-barang kerajinan,
sehingga mampu meningkatkan kualitas barang yang dihasilkan.
10. Meningkatnya partisipasi aktif pemegang kepentingan dalam pengembangan kerajinan
yang berkualitas dan berkelanjutan.
a. Semakin aktifnya peran Dewan Kerajinan Nasional
b. Terciptanya komunitas/asosiasi pelaku kerajinan di berbagai daerah untuk setiap
jenis kerajinan.
c. Terciptanya komunitas /asosiasi pendukung kerajinan di berbagai daerah untuk
setiap jenis kerajinan.
d. Meningkatnya peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang berkaitan dengan
kerajinan.
11. Meningkatkan pemahaman aspek-aspek hukum terkait ekonomi kreatif dan Hak Kekayaan
Intelektual serta menjamin perlindungan hukum bagi pelaku kreatif.
a. Terciptanya peraturan yang akan memberikan jaminan atas hak kekayaan intelektual
dari barang kreasi pengrajin.
b. Semakin kecilnya kasus perselisihan dari pelaku kerajinan terkait dengan pelanggaran
hak atas ciptaan barang kerajinan.
c. Meningkatnya program pelatihan bagi pelaku kerajinan dan pendukungnya mengenai
peraturan akan perlindungan hak kekayaan intelektual.
d. Terciptanya suasana berusaha dengan jaminan sanksi bagi pihak yang melanggar
aturan yang berlaku.
12. Meningkatkan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku kreatif kerajinan.
a. Terciptanya kebijakan pemerintah yang akan mengatur agar berbagai pihak yang
berkecimpung dalam dunia kerajinan tidak akan saling merugikan.
b. Terciptanya mekanisme perdagangan di pasar yang akan sama-sama menguntungkan
bagi pelaku kerajinan serta konsumennya.
c. Terciptanya mekanisme keringanan biaya atau pajak dalam berusaha bagi para pelaku
dan pendukung kerajinan.
13. Meningkatnya apresiasi kepada orang pelaku kerajinan dan karya kreatif mereka.
a. Terciptanya instrumen penghargaan bagi pelaku kerajinan dan pendukung kerajinan
yang berprestasi, baik dari dalam negeri ataupun dari luar negeri.
b. Semakin meningkatnya pelaku dan pendukung kerajinan yang mendapatkan
penghargaan tersebut.
c. Terciptanya pola pikir di konsumen bahwa pemakaian produk kerajinan dalam negeri
merupakan hal yang baik.
d. Meningkatnya penggunaan barang kerajinan dalam berbagai unsur kehidupan sehari-hari.
e. Semakin banyaknya kolektor, museum, dan galeri untuk barang-barang kerajinan.

Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

73

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Kerajinan


Arah pengembangan kerajinan dijabarkan berdasarkan tujuan pengembangan kerajinan, yang
meliputi 7 tujuan utama, yaitu: (1) Terciptanya pelaku kreatif subsektor kerajinan yang berdaya saing
dan mampu mengangkat potensi kekayaan lokal; (2) Terjaminnya perlindungan, pengembangan,
dan pemanfaatan sumber daya alam dan budaya bagi kerajinan secara berkelanjutan; (3)
Terwujudnya industri kerajinan yang berkembang secara optimal dan berkualitas; (4) Terciptanya
sumber pembiayaan bagi proses kreasi kerajinan yang transparan, mudah diakses, dan bersaing;
(5) Terwujudnya industri kerajinan yang mampu menjawab kebutuhan dari pasar domestik dan
internasional; (6) Terciptanya infrastruktur dan teknologi yang mendukung pelaku kerajinan
untuk maju dan berkembang; dan (7) Terwujudnya kelembagaan yang menghargai proses kreatif
dari setiap produk kerajinan. Berikut arah kebijakan-kebijakan dari setiap tujuan yang ada:

4.4.1 Arah kebijakan penciptaan pelaku kreatif subsektor kerajinan yang


berdaya saing dan mampu mengangkat potensi kekayaan lokal
a. Meningkatkan kuantitas dan kualitas lembaga pendidikan formal vokasional dan
nonformal, serta mengembangkan kurikulum bagi kerajinan.
b. Penyusunan program pelatihan yang melibatkan desainer, lembaga pendidikan dan
penelitian dengan pelaku kreatif subsektor kerajinan.

4.4.2 Arah kebijakan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan


sumber daya alam dan budaya bagi kerajinan secara berkelanjutan
a. Menyusun kebijakan bekerjasama dengan lembaga/instansi terkait untuk mendukung
tumbuhnya pelaku usaha yang bergerak dibidang penyediaan bahan baku, bahan penolong
dan/atau bahan-bahan terkait lainnya.

4.4.3 Arah kebijakan penciptaan industri kerajinan yang berkembang


secara optimal dan berkualitas
a. Memfasilitasi penciptaan dan peningkatan kompetensi keahlian-pengetahuan-sikap
wirausaha kreatif kerajinan, agar bisa membuat produk dengan konteks lokal, nasional,
dan internasional.
b. Mendirikan/merevitalisasi pusat kerajinan di daerah, bekerjasama dengan instansi terkait.
c. Memfasilitasi kolaborasi antar usaha dalam industri kerajinan dengan industri lainnya,
baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional

4.4.4 Arah kebijakan penciptaan sumber pembiayaan bagi proses kreasi


kerajinan yang transparan, mudah diakses, dan bersaing
a. Menyusun berbagai skema dukungan pembiayaan bersama instansi/lembaga terkait bagi
usaha kerajinan.
b. Menyusun berbagai skema dukungan pembiayaan bersama instansi/lembaga terkait bagi
pelaku kreatif subsektor kerajinan

4.4.5 Arah kebijakan penciptaan industri kerajinan yang mampu menjawab


kebutuhan dari pasar domestik dan internasional
a. Mendorong pemerintah provinsi, kota/kabupaten untuk membuat perda untuk
menggunakan unsur-unsur rupa dan material lokal dalam bangunan dan fasilitas umum.
b. Menyusun peta craft fair, trade show dan pameran berkala internasional dan berkualitas.

74

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

4.4.6 Arah kebijakan penciptaan infrastruktur dan teknologi yang


mendukung pelaku kerajinan untuk maju dan berkembang
a. Menyusun peta perkembangan teknologi mutakhir dalam subsektor kerajinan sesuai
jenis/kategori subsektor kerajinan.
b. Menyusun program pelatihan sesuai jenis/kategori subsektor kerajinan.

4.4.7 Arah kebijakan penciptaan kelembagaan yang menghargai proses


kreatif dari setiap produk kerajinan
a. Mengadakan kampanye menggunakan produk kerajinan asli Indonesia bukan bajakan
atau import.
b. Membuat daftar hitam pelaku kreatif subsektor kerajinan yang karyanya jiplakan atau
bajakan.
c. Melakukan proses seleksi produk kreatif untuk mendapatkan dukungan dalam proses
pendaftaran HKI.
d. Kampanye usaha perdagangan kerajinan yang beretika dan bersaing sehat.
e. Memberikan penghargaan kepada pelaku kreatif subsektor kerajinan yang melakukan
praktek usaha jujur dan beretika kreatif (tidak menjiplak atau membajak).

4.5 Strategi dan rencana aksi pengembangan kerajinan


Strategi pengembangan kerajinan merupakan pendekatan pelaksanaan perencanaan, dan rencana
aksi dalam kurun waktu tertentu.

4.5.1 Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendukung


penciptaan kerajinan
1. Strategi 1: hadirnya lembaga pendidikan politeknik yang akan mendukung kerajinan.
Rencana aksi untuk strategi ini adalah dengan men-survey jenis-jenis kerajinan apasaja
yang mebutuhkan dukungan lulusan tenaga pendukung teknis. Hal ini akan dijawab
dengan pendirian sekolah politeknik khusus untuk kerajinan tersebut.
2. Strategi 2: terciptanya kurikulum pendidikan yang mendukung kreativitas. Rencana aksi
untuk mendukung strategi ini adalah dengan mempertemukan pihak pelaku kerajinan,
perwakilan dari konsumen, serta pemilik usaha/bisnis kerajinan. Untuk kemudian
membahas mengenai pengetahuan dan keterampilan apa saja yang dibutuhkan dari
seorang lulusan sekolah-sekolah kerajinan.
3. Strategi 3: sertifikasi pelaku usaha kerajinan dari lembaga pendidikan yang berhubungan
dengan kerajinan. Terkait dengan strategi ini, maka rencana aksi yang akan dilakukan
adalah dengan melakukan penilaian dengan standard yang telah di setujui oleh asosiasi
atau komunitas dari pelaku kerajinan tertentu.

4.5.2 Meningkatnya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pelaku


dan pendukung kerajinan.
1. Strategi 1: memfasilitasi kerjasama antara desainer, lembaga penelitian, dan pengembangan
dengan pelaku kreatif subsektor kerajinan. Rencana aksi yang akan dilakukan adalah

Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

75

dengan memberikan sebuah system produksi, dimana pada tahap awal akan dibutuhkan
peran peneliti untuk melihat trend pasar dan perkembangan dunia kerajinan, lalu
ditambahkan dengan peran desainer untuk memberikan rancangan barangnya dan
akhirnya akan direalisasikan oleh sang pengrajin.
2. Strategi 2: memfasilitasi pelaku kreatif subsektor kerajinan untuk mengikuti kompetisi
di tingkat nasional dan internasional. Untuk strategi ini, maka rencananya akan dengan
memberikan fasilitas dukungan pembiayaan dan hal lain yang dibutuhkan untuk bisa
berangkat maju ke kompetisi yang ada. Tentunya pihak yang terpilih melewati tahapan
seleksi dahulu.

4.5.3 Tersedianya materi bahan mentah dan sumber budaya lokal bagi
kerajinan, yang terpercaya, mudah, dan cepat di akses.
1. Strategi 1: mengoptimalkan informasi dan promosi bahan baku serta membangun jejaring
antara pelaku usaha usaha yang mau bergerak dibidang penyediaan bahan baku, bahan
penolong dan/atau bahan-bahan terkait lainnya dengan kerajinan. Adapaun rencana aksi
yang akan dilewati untuk merealisasikan strategi ini adalah:
a. Dengan membuat suatu pusat data yang akan dikelola pemerintah. Pusat informasi
ini akan berisi mengenai detail bahan mentah kerajinan, lokasi bahan itu tersedia
dimana, serta harga yang ditawarkan oleh penjualnya.
b. Pusat data ini juga akan memberikan informasi siapa saja pihak-pihak yang siap
menawarkan bahan mentah tersebut.
2. Strategi 2: mempermudah pendirian usaha dan insentif bagi pelaku usaha yang mau
bergerak di bidang penyediaan bahan baku, bahan penolong dan/atau bahan-bahan
terkait lainnya. Rencana aksi untuk strategi ini adalah dengan pemerintah memberikan
insentif keuangan bagi pengusaha bahan-bahan kerajinan, khususnya dengan penekanan
pada kemampuan memasok bahan tersebut secara berkelanjutan.

4.5.4 Meningkatnya wirasusahawan kreatif kerajinan yang mampu


mengembangkan produk sesuai dengan kondisi lokal dan internasional
1. Strategi 1: mempermudah perijinan usaha terhadap start-up company. Rencananya
kegiatan yang akan dilakukan untuk mendukung strategi ini adalah dengan memberikan
persyaratan yang sederhana kepada usaha-usaha baru (start-up) di bidang kerajinan.
2. Strategi 2: mempermudah proses pendirian badan usaha untuk start-up company.
Meneruskan dari strategi sebelumnya, rencana aksi untuk aksi ini adalah dengan
mendukung penyederhanaan birokrasi terkait untuk usaha-usaha baru di bidang kerajinan.

4.5.5 Meningkatnya kualitas dan kuantitas usaha-usaha kerajinan di


berbagai daerah
1. Strategi 1: memfasilitasi program magang, mentoring, dan kemitraan dalam proses produksi
kerajinan secara bertahap dan berkelanjutan. Rencananya untuk mendukung strategi ini,
maka aksinya adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa-siswa berprestasi
untuk ikut bekerja dalam program magang pada usaha kerajinan yang sudah mapan.

4.5.6 Terciptanya karya kerajinan yang beragam dan berkualitas


1. Strategi 1: memfasilitasi penelitian pelaku kreatif kerajinan akan perkembangan pasar,
serta memjembatani kolaborasi antar pelaku kerajinan dan pihak-pihak lain, baik di

76

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

tingkat nasional atau internasional. Rencana aksi yang akan dilakukan adalah dengan
membuat suatu buletin atau laporan berkala mengenai perkembangan kebutuhan dan
selera dari konsumen yang ada, baik di dalam atau luar negeri.

4.5.7 Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi proses kreasi kerajinan


yang transparan, mudah diakses, dan bersaing.
1. Strategi 1: memfasilitasi pembiayaan kepada pelaku kreatif yang baru dengan konsep angel
investor di mana dana tersebut apabila terjadi kegagalan tidak dianggap sebagai temuan.
Rencana aksi untuk strategi ini adalah dengan membuat suatu acara di mana memungkinkan
angel investor untuk bertemu dan membicarakan proposal ide usaha kerajinan mereka.
2. Strategi 2: memfasilitasi kemudahan dalam memperoleh insentif pajak. Rencana aksi
terkait strategi ini adalah dengan pemerintah memberikan langsung potongan pajak bagi
usaha-usaha kerajinan, serta usaha pendukungnya.

4.5.8 Meningkatkan akses pasar produk kerajinan di pasar domestik dan


internasional
1. Strategi 1: mewajibkan pasar modern untuk memberikan sarana/tempat penjualan
dan promosi produk dari pelaku kreatif. Rencananya akan ditunjuk beberapa pusat
perbelanjaan di kota besar di Indonesia untuk menyediakan tempat bagi wadah untuk
sarana penjualan barang kerajinan.
2. Strategi 2: meningkatkan promosi dan pemasaran melalui kegiatan craft fair, trade fair,
exhibition tingkat domestik dan internasional. Untuk mendukung strategi ini, maka
rencananya pemerintah akan memilih beberapa perwakilan usaha kerajinan untuk
didukung mengikuti kegiatan promosi dan pemasaran. Untuk pemilihannya bisa melewati
seleksi di tingkat asosiasi ataupun kriteria yang telah ditentukan oleh pemerintah.

4.5.9 Meningkatnya ketersediaan jaringan telematika, logistik yang


mendukung pengembangan kerajinan.
1. Strategi 1: menyediakan informasi perkembangan terkini teknologi sesuai dengan kategori
pelaku kerajinan. Rencana aksi pendukung strategi ini adalah dengan membuat publikasi
berkala yang berisi informasi teknologi-teknologi dan jalur distribusi yang menguntungkan
bagi usaha kerajinan.
2. Strategi 2: memfasilitasi kebutuhan mesin dan peralatan kepada pelaku kreatif subsektor
kerajinan. Untuk mendukung strategi ini, rencana aksinya adalah dengan memberikan
bantuan modal bagi pelaku dan pendukung kerajinan agar dapat mengadopsi berbagai
teknologi dalam kegiatan rantai nilai kreatifnya.

4.5.10 Meningkatnya penerapan teknologi produksi yang optimal untuk


meningkatkan nilai tambah barang kerajinan yang berkualitas dan beragam.
1. Strategi 1: mengadakan pelatihan terkait penguasaan dan penggunaan teknologi yang
terkait. Guna mendukung strategi ini, maka rencana aksi yang akan dilakukan adalah dengan
memberikan pelatihan kepada pada pelaku dan pendukung kerajinan di berbagai daerah.
2. Strategi 2: mengadakan pendampingan kepada pelaku kreatif untuk meningkatkan
penguasaan teknologi. Setelah pelatihan, rencananya maka akan diberikan juga
pendampingan agar pemanfaatan teknologi yang ada akan bisa efektif dan efisien.
3. Strategi 3: memfasilitasi program magang untuk penguasaan dan peningkatan teknologi. Rencana
aksi untuk strategi ini adalah dengan menyalurkan siswa-siswa dan juga pelaku kerajinan untuk
magang pada usaha kerajinan yang sudah berpengalaman mengadopsi teknologi sejak lama.
Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

77

4.5.11 Meningkatnya partisipasi aktif pemegang kepentingan dalam


pengembangan kerajinan yang berkualitas dan berkelanjutan
1. Strategi 1: dewan kerajinan nasional dan asosiasi yang berperan aktif. Rencana aksi untuk
strategi ini adalah dengan menghidupkaan kembali cabang-cabang dewan kerajinan nasional
di daerah-daerah, beserta mendorong pembentukan asosiasi pelaku kerajinan di daerah-daerah.

4.5.12 Meningkatkan pemahaman aspek-aspek hukum terkait ekonomi


kreatif dan Hak Kekayaan Intelektual serta menjamin perlindungan hukum
bagi pelaku kreatif
1. Strategi 1: mendorong praktek usaha subsektor kerajinan yang menghargai karya asli
(original) bukan karya bajakan. Rencana aksi untuk mendukung strategi ini adalah
dengan membuat kampanye menghargai originalitas dari sebuah barang kerajinan. Hal ini
diharapkan akan membuat konsumen akan menghargai nilai lebih tinggi yang terkandung
pada produk yang dengan ide unik dan original.
2. Strategi 2: mengimplementasikan praktek usaha sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Rencana aksi untuk strategi ini adalah dengan sosialisasi penegakan
peraturan berusaha, dan memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melanggarnya.
3. Strategi 3: melakukan sosialisasi hukum terkait dengan ekonomi kreatif, HKI, dan
manajemen HKI ke segala level pelaku kreatif subsektor kerajinan. Kegiatan yang
direncanakan adalah dengan memberikan pelatihan berisi tentang hal-hal yang berkaitan
dengan perlindungan Hak Kekayaan Intektual dari hasil kreatif para pelaku dan
pendukung kerajinan.

4.5.13 Meningkatkan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku kreatif


subsektor kerajinan.
1. Strategi 1: mendorong praktek usaha yang menjunjung tinggi etika kreatifitas di antara pelaku
kreatif subsektor kerajinan. Adapun rencana aksinya adalah dengan memberikan pemahaman
kepada para pelaku kerajinan agar bersaing dalam melakukan bisnis dengan sehat dan perlu
juga melihat akan pengaruh usahanya kepada lingkungan hidup dan masyarakat sekitar.

4.5.14 Meningkatnya apresiasi kepada orang pelaku kerajinan dan karya


kreatif mereka.
1. Strategi 1: secara berkala berikan penghargaan kepada perajin berkualitas. Untuk mendukung
strategi ini, maka rencana aksinya adalah dengan membuat suatu acara penghargaan bagi pelaku
dan pendukung kerajian yang berprestasi di dalam dan luar negeri. Selain itu, penghargaan bisa
jug dalam bentuk kampanye pengunaan barang kerajinan dalam kehidupan sehari-hari.

78

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

79

80

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

Bab 4: Rencana Pengembangan Subsektor Kerajinan di Indonesia

81

5.1 Kesimpulan
Pertumbuhan ekonomi akan memberikan pengaruh yang baik bagi ekonomi kreatif. Diketahui
bahwa ekonomi kreatif merupakan tahapan perkembangan ekonomi sebuah bangsa setelah
ekonomi pertanian, ekonomi industri dan ekonomi informasi. Pertumbuhan ekonomi yang
cukup pesat terlihat dari perkembangan jumlah kelas menengah di Indonesia dalam beberapa
tahun terakhir. Pertengahan tahun 2013 dicatat jumlah konsumen kelas menengah hingga atas
sebanyak 74 juta orang, dan jumlah ini akan naik terus. Sehingga pada 2020 diperkirakan
jumlahnya akan sebanyak 141 juta orang (Budiartie, 2013). Bagi ekonomi kreatif, hal ini akan
menarik dari sisi potensi pasar dan tentunya potensi penghasil orang-orang kreatif. Salah
satu subsektor dalam ekonomi kreatif yang cukup berpotensi adalah Kerajinan. Mengenai
kerajinan (kriya) itu sendiri diartikan sebagai bagian dari seni rupa terapan yang merupakan
titik temu antara seni dan desain yang bersumber dari warisan tradisi atau ide kontemporer
yang hasilnya dapat berupa karya seni, produk fungsional, benda hias dan dekoratif, serta
dapat dikelompokkan berdasarkan material dan eksplorasi alat teknik yang digunakan, dan
juga dari tematik produknya.
Besarnya potensi ekonomi kreatif, khususnya dari subsektor kerajinan, terlihat dari semakin
besarnya perhatian masyarakat pada acara tahunan Inacraft (Jakarta International Handicraft
Trade Fair). Di tahun ke tujuh belas dari pelaksanaan pameran ini, Inacraft berhasil menunjukan
perkembangannya. Hal ini terlihat dari perkembangan pembeli dari sektor usaha, jumlah kontrak
perdagangan, dan jumlah penjualan eceran. Penyelenggaraan Inacraft di 2014 berhasil mencatat
pembelian dari sektor usaha sebanyak 898, dengan kontrak perdagangan sebesar 9 juta dollar
Amerika, dan penjualan eceran sebesar 115 miliar rupiah (di 2013 sejumlah 106 miliar rupiah).
Penyelengara pameran ini yaitu ASEPHI (asosiasi eksportir dan produsen handicraft Indonesia)
berharap dengan pameran ini akan mampu memberikan wadah agar produk kerajinan bisa tampil
dengan baik ke masyarakat umum dan dapat bersaing dengan produk sejenis di pasar luar negeri.
Suksesnya Inacraft dari tahun ke tahun tidak terlepas dari suksesnya penciptaan nilai yang saling
mengait dalam proses kreatif kerajinan. Hal ini yang disebut sebagai rantai nilai kreatif. Tahapan
ini merupakan kegiatan utama, karena disinilah terjadi penciptaan produk kerajinan yang bernilai
bagi berbagai pihak. Rantai nilai subsektor kerajinan terbagi ke dalam empat proses, yaitu kreasi,
produksi, distribusi, dan promosi. Dimulai dengan Kreasi oleh pengrajin dan desainer, tahap
ini menuntut tingkat kreativitas paling tinggi. Hal ini karena lahirnya konsep sebuah produk
kerajinan. Dilanjutkan dengan tahap Produksi, dimana pengrajin dibantu oleh studio/workshop
akan mewujudkan ide produk tadi. Tahap selanjutnya adalah Distribusi. Pada tahap ini pengrajin
juga akan dibantu oleh pengusaha seperti pemilik toko, galeri, pengusaha kerajian, serta asosiasi
untuk menyalurkan produk-produk kerajinannya. Dan terakhir tahap promosi yang dilakukan
oleh pengrajin dengan dibantu pemilik galeri, event organizer yang bertujuan mengkomunikasikan
produk kerajinan ke masyarakat luas.
Pembuatan nilai kreatif tidak akan berkelanjutan jika tidak ada tahapan pengembangan. Di
sinilah masuknya peran penghargaan (apresiasi) dan juga pendidikan. Penghargaan, yang dapat
dilakukan oleh pemerintah, asosiasi, masyarakat, lembaga hukum dan media. Mereka semua dapat
berperan serta dalam membuat subsektor kerajinan yang sehat dan mampu bersaing. Pemerintah
dapat memberikan penghargaan terhadap pengrajin berprestasi, lalu mengeluarkan produk hukum
yang menjamin tidak terjadinya perampasan hak kekayaan intektual. Sedangkan media dapat juga
memberikan porsi liputan untuk mengkomunikasikan produk kerajian ke masyarakat luas. Dan

82

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

konsumen dapat menghargai dengan melakukan pembelian dan menggunakan produk kerajinan
dalam kegiatan sehari-harinya. Selanjutnya juga ada proses penciptaan orang-orang kreatif dari
pendidikan. Di mana mereka akan mempelajari pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan
agar dapat berpikir kreatif dan mampu mewujudkan ide-ide kreatifnya.
Dari kedua tahapan besar diatas dapat kita lihat bahwa ada banyak pihak selain pengrajin yang
terkait dalam subsektor kerajinan. Mereka dapat menjadi pihak yang akan memasok kepada
pengrajin dan juga pihak yang akan menjadi pembeli (selain pasar konsumen) bagi hasil keluaran
dari pengrajin. Dalam proses pembuatan nilai kreatif, pengrajin membutuhkan dukungan dari
pemasok bahan-bahan kerajinannya, pembiayaan, hingga para pekerja yang membantu dalam
kegiatan produksinya. Di sisi lain, produk kerajinan membutuhkan dukungan dari pemilik
toko, galeri, museum, hingga gedung pameran untuk mendistribusikan dan mempromosikan
produk-produk kerajinannya.
Produk kerajianan di Indonesia sangat beragam, sehingga pencatatan dalam KBLI (Klasifikasi
Baku Lapangan usaha Indonesia) juga tersebar ke berbagai kategori. KBLI disusun dengan maksud
untuk menyediakan satu set kelompok kegiatan ekonomi di Indonesia agar dapat digunakan
untuk penyeragaman pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data masing-masing kegiatan
ekonomi, serta untuk digunakan disaat mempelajari keadaan atau perilaku ekonomi menurut
masing-masing kegiatan ekonomi. Dikarenakan banyaknya jenis lapangan usaha yang bisa
dimasukan ke dalam definisi Kerajinan, maka pencatatan dalam KBLI untuk kerajinan inipun
juga tersebar di berbagai kelompok kategori. Sederhananya fokus pengembangan dalam konteks
industri kreatif, meliputi: kerajinan seni (art-craft) dan juga kerajinan desain (craft-design).
Dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia, ada tujuh pilar utama yang perlu
diperhatikan, yaitu sumber daya kreatif, sumber daya pendukung, industri, pembiayaan, pemasaran,
infrastruktur dan teknologi, kelembagaan. Ketujuh pilar tersebut akan dianalisa dengan melihat
setiap potensi dan tantangan yang ada pada subsektor kerajinan.
Pilar pertama adalah sumber daya kreatif. Pilar ini pada dasarnya membahas mengenai sumber
daya manusia kreatif, beserta peran pendidikan yang akan membentuk mereka. Di area ini ,
potensi terbesarnya adalah jumlah populasi usia produktif di Indonesia saat ini yang besar. Hal
ini didukung dengan tersedianya pilihan sekolah mulai dari sekolah kejuruan hingga perguruan
tinggi. Ditambah lagi dengan terjadinya kolaborasi antara lembaga pendidikan kerajinan dan
lembaga lain, seperti fakultas ekonomi dari sebuah universitas. Namun, tantangan besar juga
berada disini. Hal itu adalah masih kecilnya jumlah orang kreatif dari keseluruhan populasi orang
di usia produktif tadi. Penyebabnya adalah sekolah kerajinan yang ada belum mencukupi dan
belum untuk mencetak orang kreatif ataupun pendukungnya. Selain itu, kurikulum pendidikannya
dirasakan kurang tepat menjawab kebutuhan para pengusaha kerajinan. Ada juga tantangan dari
proses alih pengetahuan kerajinan antar generasi yang tidak lancar.
Manusia yang kreatif, membutuhkan dukungan sumber daya budaya dan bahan-bahan mentah.
Kayanya Indonesia akan sumber-sumber kreatifitas dari budaya berbagai daerah sangat besar,
ditambah dengan materi bahan mentah kerajinan yang banyak berasal dari alam Indonesia. Tetapi
sayangnya pendataan dan pengelolaan kedua sumber daya pendukung tadi kurang maksimal,
sehingga tidak jarang dirasakan sumber insipirasi yang kurang dan bahan mentah yang langka
di pasar.

Bab 5: Penutup

83

Pilar ketiga adalah dari sisi Industri. Potensi dari industri untuk subsektor kerajinan adalah masih
terjalinnya kemitraan dari badan usaha milik negara dengan pengrajin. Mereka akan membina
para pengrajin untuk mengenalkan perihal standar kualitas barang serta sistem produksi yang
lebih berkelanjutan. Tetapi kadang ada juga tantangan seperti inovasi dan riset yang kurang
dilakukan oleh pengrajin. Tantangan lain muncul dari kurang tersedianya mesin-mesin untuk
produksi yang lebih baik dan banyak. Serta cara agar pengrajin bisa berproduksi dengan lebih
ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dari pilar pembiayaan bisa dikatakan keadaanya lebih baik. Hal ini terlihat dari luasnya
kesempatan pengrajin mendapatkan dana pembiayaan untuk usahanya. Mereka bisa mendapatkan
pembiayaan dari kredit perbankan, dana sosial perusahaan swasta dan badan usaha milik negara,
hingga pilihan dari koperasi. Tetapi tantangan muncul dari kurang mengertinya pengrajin akan
kesempatan ini. Ditambah lagi dirasakan bahwa pembiayan dari lembaga-lembaga tersebut masih
bersifat mengikat. Sehingga diharapkan pembiayaan dari modal ventura bisa lebih banyak lagi
di masa depan.
Pilar kelima adalah dari sisi pemasaran. Banyak kesempatan yang dapat diraih oleh subsektor
kerajinan. Diantaranya dari meningkatnya permintaan dalam negeri atas produk kerajinan untuk
digunakan sehari-hari. Begitu juga dengan permintaan dari luar negeri yang besar. Potensi terlihat
pada semakin banyak pengrajin yang semakin baik mengemas penjualannya. Tantangan dari sisi
pemasaran beragam dari kurangnya pemahaman pengrajin tentang branding, tentang penjualan
melalui internet, hingga kurang gencarnya penjualan ke konsumen bisnis.
Dari sisi infrastruktur dan teknologi dirasakan bahwa tantangan lebih besar dibandingkan dengan
potensi. Para pengrajin bisa meraih kesempatan dengan memasukan penggunaan teknologi yang
sesuai dengan kegiatan produksinya. Namun kendala hadir pada belum optimalnya bantuan
pemerintah untuk mesin-mesin, yang disebabkan oleh kurang penguasaan teknologi itu sendiri.
Belum lagi masalah dari kurangnya inovasi teknologi untuk sektor kerajinan. Hal ini akhirnya
dirasakan membuat laju perkembangan kerajinan menjadi tidak optimal.
Pilar ketujuh adalah dari sisi kelembagaan. Potensi yang hadir disini adalah dengan hadirnya
asosiasi/komunitas untuk para pengrajin, seperti Dewan Kerajinan Nasional. Selain itu, peran
dari lembaga pemerintah (Kementerian-kementerian, BUMN) dan juga lembaga swasta yang
turut mendukung pengrajin. Tetapi, lembaga-lembaga tersebut dapat juga menjadi tantangan jika
mereka tidak banyak berperan aktif. Selain itu, koordinasi antar kementerian terkait diharapkan
lebih lancar khususnya terkait dengan pembuatan dan penerapan kebijakan.
Sebagai tanggapan atas tantangan dan kesempatan yang ada saat ini, maka Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif membuat rencana pengembangan subsektor kerajinan untuk tahun 20152019. Dokumen Rencana Aksi Jangka Menengah Kerajinan 2015-2019 ini diharapkan mampu
memberikan penjelasan terinci mengenai subsektor kerajinan sebagai bagian ekonomi kreatif dan
hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk mengembangkannya.
Ada empat hal utama yang telah dipaparkan dalam dokumen ini. Yang pertama adalah Visi, ingin
terwujudnya subsektor kerajinan yang berdaya saing global serta berkontribusi pada kesejahteraan
rakyat yang berkelanjutan. Kedua, adalah misi untuk mencapai visi tersebut, disini ada tiga misi.
Hal ketiga, misi tersebut dijabarkan dalam tujuh tujuan. Dan keempat adalah empat belas sasaran

84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

strategis yang ingin dicapai pada tahun 2019. Kemudian dijelaskan juga mengenai dua puluh
enam strategi dan dua puluh enam rencana aksi.
Adapun kerangka strategis pengembangan subsektor kerajinan akan dijelaskan sebagai berikut:
Misi pertama adalah mengoptimalkan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal yang
berdaya saing, dinamis, & berkelanjutan. Misi ini dijabarkan dalam dua tujuan, yaitu (1) Terciptanya
pelaku kreatif subsektor kerajinan yang berdaya saing dan mampu mengangkat potensi kekayaan
lokal. (2) Terjaminnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan
budaya bagi kerajinan secara berkelanjutan. Selanjutnya ada tiga sasaran strategis untuk misi ini,
yang terdiri: (1) Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan
kerajinan. (2) Meningkatnya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pelaku dan pendukung
kerajinan. (3) Tersedianya materi bahan mentah dan sumber budaya lokal bagi kerajinan, yang
terpercaya, mudah, dan cepat di akses.
Misi kedua adalah Mengembangkan industri kerajinan yang berdaya saing, tumbuh, beragam, dan
berkualitas Misi ini diwujudkan dalam tujuan berupa; Terwujudnya industri kerajinan yang berkembang
secara optimal dan berkualitas. Pencapaian tujuan tersebut dapat dilihat dari pencapaian tiga sasaran
strategis: (1) Meningkatnya wirausahawan kreatif kerajinan yang mampu mengembangkan produk
sesuai dengan kondisi lokal dan internasional; (2) Meningkatnya kualitas dan kuantitas usaha-usaha
kerajinan di berbagai daerah; dan (3) Terciptanya karya kerajinan yang beragam dan berkualitas
Misi ketiga adalah Mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk pemberdayaan potensi
dan pengetahuan kerajinan yang berdasarkan kreativitas dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan. Misi ini dijabarkan melalui empat tujuan, yaitu: (1) Terciptanya sumber pembiayaan
bagi proses kreasi kerajinan yang transparan, mudah diakses, dan bersaing, (2) Terwujudnya industri
kerajinan yang mampu menjawab kebutuhan dari pasar domestik dan internasional, (3) Terciptanya
infrastruktur dan teknologi yang mendukung pelaku kerajinan untuk maju dan berkembang, (4)
Terwujudnya kelembagaan yang menghargai proses kreatif dari setiap produk kerajinan. Adapun
sasaran strategisnya adalah sebagai berikut: (1) Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi proses
kreasi kerajinan yang transparan, mudah diakses, dan bersaing, (2) Meningkatkan akses pasar produk
kerajinan di pasar domestik dan internasional, (3) Meningkatnya ketersediaan jaringan telematika,
logistik yang mendukung pengembangan kerajinan, (4) Meningkatnya penerapan teknologi produksi
yang optimal untuk meningkatkan nilai tambah barang kerajinan yang berkualitas dan beragam,
(5) Meningkatnya partisipasi aktif pemegang kepentingan dalam pengembangan kerajinan yang
berkualitas dan berkelanjutan, (6) Meningkatkan pemahaman aspek-aspek hukum terkait ekonomi
kreatif dan Hak Kekayaan Intelektual serta menjamin perlindungan hukum bagi pelaku kreatif, (7)
Meningkatkan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku kreatif kerajinan, (8) Meningkatnya apresiasi
kepada orang pelaku kerajinan dan karya kreatif mereka.

Bab 5: Penutup

85

5.2 Saran
Setelah dipaparkan visi, misi, tujuan, dan sasaran strategis untuk subsektor kerajinan, berikut adalah
rekomendasi yang penting juga untuk ditindaklanjuti. Hal ini penting karena diharapkan dengan saran
ini dapat mempercepat penerapan rencana aksi tersebut. Berikut saran-saran yang perlu diperhatikan:
1. Mendorong persaingan. Dengan membuat kondisi di mana persaingan dibiasakan, maka
akan memacu para pengrajin untuk bisa memenangi hati para konsumen. Sehingga dengan
sendirinya akan memacu mereka untuk bisa berkreasi dengan inovatif dan lebih baik terus.
Bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk para pengrajin melakukan kolaborasi antar
bidang kerajinan, sehingga bisa semakin kuat dan kreatif. Tentu saja, persaingan yang
ada ini harus dalam suasana yang sehat, yang bisa di atur melalui kebijakan persaingan
usaha yang sehat oleh pemerintah.
2. Permintaan lokal yang kuat. Salah satu syarat agar sebuah usaha bisa maju adalah dengan
terserapnya hasil usaha tersebut. Disinilah dibutuhkan pasar yang mampu menghargai,
membutuhkan dan akhirnya membeli harsil karya kreatif pengrajin. Hal tersebut bisa
diwujudkan melalui penciptaan event pameran dan promosi untuk kreasi kerajinan.
Dengan adanya acara tersebut, diharapkan bisa memberikan tempat bertemunya para
penjual dan pembeli. Dan hal ini bisa dilakukan oleh pemerintah ataupun pihak swasta.
3. Sentra kerajinan yang lebih luas. Yang dimaksudkan luas disini adalah dalam sentra kerajinan
diharapkan ada juga usaha-usaha pendukung kerajinan yang berlokasi berdekatan dengan
mereka. Pendukung misalnya pihak-pihak pemasok, pesaing dan juga pihak-pihak yang
hadir melengkapi usaha dari pengrajin tersebut. Hal ini akan menunjang proses kreatif
pengrajin melalui pengetahuan yang terbagi diantara mereka, hingga manfaat turunnya
biaya perdagangan diantara kegiatan usaha mereka.
4. Adanya faktor produksi yang baik. Hal ini dikarenakan dengan hadirnya faktor produksi
seperti modal, sumber daya manusia, dan ruang berkreasi yang dalam jumlah banyak
dan berkualitas, akan memacu usaha kerajinan untuk bisa produktif dan meningkatkan
kualitas hasil keluarannya.
5. Dukungan bea cukai. Diharapkan dengan dukungan dari pihak bea cukai terkait
dengan aliran keluar-masuk barang seni, maka akan membuat proses pengaliran hasil
kreasi kreatif dari atau kepada pengrajin akan lancar. Kelancaran distribusi merupakan
salah satu syarat dimana ekosistem subsektor kerajinan akan berjalan baik. Hal ini juga
akan meningkatkan besarnya penyerapan hasil karya pengrajin di pasar, yang akhirnya
menguntungkan kedua pihak, pengrajin dan juga konsumen.

86

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

88

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

LAMPIRAN

Lampiran

89

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

Meningkatnya kuantitas dan kualitas


sumber daya manusia pelaku dan
pendukung kerajinan

Meningkatnya kuantitas dan kualitas


pendidikan yang mendukung
penciptaan kerajinan

Penyusunan program pelatihan yang


melibatkan desainer, lembaga pendidikan, dan
penelitian dengan pelaku kreatif subsektor
kerajinan

Meningkatkan kuantitas dan kualitas lembaga


pendidikan formal vokasional dan nonformal,
serta mengembangkan kurikulum bagi
kerajinan

Memfasilitasi pelaku kreatif subsektor kerajinan untuk


mengikuti kompetisi di tingkat nasional dan internasional

Sertifikasi pelaku usaha kerajinan dari lembaga pendidikan


yang berhubungan dengan kerajinan

Memfasilitasi kerjasama antara desainer, lembaga penelitian,


dan pengembangan dengan pelaku kreatif subsektor
kerajinan

Terciptanya kurikulum pendidikan yang mendukung


kreativitas

hadirnya lembaga pendidikan politeknik yang akan


mendukung kerajinan

Tersedianya materi bahan mentah


dan sumber budaya lokal bagi
kerajinan, yang terpercaya, mudah,
dan cepat di akses

Menyusun kebijakan bekerja sama dengan


lembaga/instansi terkait untuk mendukung
tumbuhnya pelaku usaha yang bergerak
dibidang penyediaan bahan baku, bahan
penolong dan/atau bahan-bahan terkait
lainnya

3. Mewujudkan industri kerajinan yang berkembang secara optimal dan berkualitas

MISI 2: Mengembangkan industri kerajinan yang berdaya saing, tumbuh, beragam, dan berkualitas

2.1

STRATEGI

Mengoptimalkan informasi dan promosi bahan baku serta


membangun jejaring antara pelaku usaha yang mau bergerak
di bidang penyediaan bahan baku, bahan penolong dan/atau
bahan-bahan terkait lainnya dengan kerajinan
Mempermudah pendirian usaha dan insentif bagi pelaku
usaha yang mau bergerak dibidang penyediaan bahan baku.
Bahan penolong dan/atau bahan-bahan terkait lainnya

2. Menjamin perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan budaya bagi kerajinan secara berkelanjutan

1.2

1.1

1. Penciptaan pelaku kreatif kerajinan yang berdaya saing dan mampu mengangkat potensi kekayaan lokal

MISI 1: Mengoptimalkan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal yang berdaya saing, dinamis, & berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN KERAJINAN 2015 - 2019

Lampiran

91

Meningkatnya kualitas dan kuantitas


usaha-usaha kerajinan di berbagai
daerah

Terciptanya karya kerajinan yang


beragam dan berkualitas

3.2

3.3

Memfasilitasi kolaborasi antar usaha


dalam industri kerajinan dengan industri
lainnya, baik di tingkat lokal, nasional, dan
internasional

Mendirikan/merevitalisasi pusat kerajinan di


daerah, bekerjasama dengan instansi terkait

Memfasilitasi penciptaan dan peningkatan


kompetensi keahlian-pengetahuan-sikap
wirausaha kreatif kerajinan, agar bisa
membuat produk dengan konteks lokal,
nasional dan internasional

ARAH KEBIJAKAN

memfasilitasi penelitian pelaku kreatif kerajinan akan


perkembangan pasar, Serta memjembatani kolaborasi antar
pelaku kerajinan dan pihak-pihak lain, baik di tingkat nasional
atau internasional

memfasilitasi program magang, mentoring dan kemitraan


dalam proses produksi kerajinan secara bertahap dan
berkelanjutan

Mempermudah proses pendirian badan usaha untuk start-up


company

Mempermudah perijinan usaha terhadap start-up company

STRATEGI

4.1

Meningkatnya ketersediaan
pembiayaan bagi proses kreasi
kerajinan yang transparan, mudah
diakses, dan bersaing

Menyusun berbagai skema dukungan


pembiayaan bersama instansi/lembaga
terkait bagi usaha kerajinan
Menyusun berbagai skema dukungan
pembiayaan bersama instansi/lembaga
terkait bagi pelaku kreatif subsektor kerajinan

Memfasilitasi kemudahan dalam memperoleh insentif pajak

Memfasilitasi pembiayaan kepada pelaku kreatif yang baru


dengan konsep angel investor di mana dana tersebut apabila
terjadi kegagalan tidak dianggap sebagai temuan

4. Penciptaan sumber pembiayaan bagi proses kreasi kerajinan yang transparan, mudah diakses, dan bersaing

MISI 3: Mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk pemberdayaan potensi dan pengetahuan kerajinan yang berdasarkan kreativitas dengan melibatkan seluruh
pemangku kepentingan

Meningkatnya wirausahawan
kreatif kerajinan yang mampu
mengembangkan produk
sesuai dengan kondisi lokal dan
internasional

3.1

MISI/TUJUAN/SASARAN

92

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

Meningkatkan akses pasar produk


kerajinan di pasar domestik dan
internasional

Mendorong pemerintah provinsi, kota/


kabupaten untuk membuat perda untuk
menggunakan unsur-unsur rupa dan material
lokal dalam bangunan dan fasilitas umum
Menyusun peta craft fair, trade show
dan pameran berkala internasional dan
berkualitas

Meningkatnya penerapan teknologi


produksi yang optimal untuk
meningkatkan nilai tambah barang
kerajinan yang berkualitas dan
beragam

6.2

Menyusun program pelatihan sesuai jenis/


kategori subsektor kerajinan

Menyusun peta perkembangan teknologi


mutakhir dalam subsektor kerajinan sesuai
jenis/kategori subsektor kerajinan

7.1

Meningkatnya partisipasi aktif


pemegang kepentingan dalam
pengembangan kerajinan yang
berkualitas dan berkelanjutan

Mengadakan kampanye menggunakan produk


kerajinan asli Indonesia bukan bajakan atau
impor

7. Mewujudkan kelembagaan yang menghargai proses kreatif dari setiap produk kerajinan

Meningkatnya ketersediaan jaringan


telematika, logistik yang mendukung
pengembangan kerajinan

6.1

Memfasilitasi program magang untuk penguasaan dan


peningkatan teknologi

Dewan Kerajinan Nasional dan asosiasi yang berperan aktif

Mengadakan pendampingan kepada pelaku kreatif untuk


meningkatkan penguasaan teknologi

Mengadakan pelatihan terkait penguasaan dan penggunaan


teknologi yang terkait

Memfasilitasi kebutuhan mesin dan peralatan kepada pelaku


kreatif subsektor kerajinan

2
1

menyediakan informasi perkembangan terkini teknologi


sesuai dengan kategori pelaku kerajinan

Meningkatkan promosi dan pemasaran melalui kegiatan Craft


Fair, Trade Fair, Exhibition tingkat domestik dan internasional

Mewajibkan pasar modern untuk memberikan sarana/


tempat penjualan dan promosi produk dari pelaku kreatif

STRATEGI

6. Penciptaan infrastruktur dan teknologi yang mendukung pelaku kerajinan untuk maju dan berkembang

5.1

5. Mewujudkan industri kerajinan yang mampu menjawab kebutuhan dari pasar domestik dan internasional

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

93

Meningkatkan pemahaman aspekaspek hukum terkait ekonomi kreatif


dan hak kekayaan intelektual serta
menjamin perlindungan hukum bagi
pelaku kreatif

Meningkatkan iklim usaha yang


kondusif bagi pelaku kreatif
subsektor kerajinan

Meningkatnya apresiasi kepada


orang pelaku kerajinan dan karya
kreatif mereka

7.2

7.3

7.4

MISI/TUJUAN/SASARAN

Memberikan penghargaan kepada pelaku


kreatif subsektor kerajinan yang melakukan
praktek usaha jujur dan beretika kreatif (tidak
menjiplak atau membajak)

Kampanye usaha perdagangan kerajinan yang


beretika dan bersaing sehat

Melakukan proses seleksi produk kreatif


untuk mendapatkan dukungan dalam proses
pendaftaran HKI

Membuat daftar hitam pelaku kreatif


subsektor kerajinan yang karyanya jiplakan
atau bajakan

ARAH KEBIJAKAN

secara berkala berikan penghargaan kepada perajin


berkualitas

Mendorong praktek usaha yang menjunjung tinggi etika


kreatifitas di antara pelaku kreatif subsektor kerajinan

Melakukan sosialisasi hukum terkait dengan ekonomi kreatif,


HKI dan Manajemen HKI ke segala level pelaku kreatif
subsektor kerajinan

Mengimplementasikan praktek usaha sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Mendorong praktek usaha subsektor kerajinan yang


menghargai karya asli (original) bukan karya bajakan

STRATEGI

94

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya kuantitas dan kualitas sumber


daya manusia pelaku dan pendukung kerajinan

Meningkatnya kuantitas dan kualitas


pendidikan yang mendukung penciptaan
kerajinan

Meningkatnya jumlah pelaku kerajinan dan juga pendukungnya yang memiliki latar belakang pendidikan
kerajinan
Terciptanya pelaku kerajinan yang produktif, menjunjung tinggi kualitas, menghargai seni dan keaslian,
paham menggunakan teknologi dalam kegiatan kreasinya, mampu mengelola sumber daya yang ada, dapat
bekerja sama dengan pihak lain, serta peduli dengan kondisi sekitarnya
Terciptanya system secara berkala mengirimkan pelaku dan pihak pendukung untuk mendapatkan pelatihan/
studi lanjut dari insitusi pendidikan yang unggul

Kualitas pengajaran yang meningkat, dengan metode pengajaran yang mendorong kreatifitas

Terdapatnya pembaharuan kurikulum pendidikan yang menekankan pada kualitas, disiplin berkreasi dan
mudah diterapkan pada sekolah-sekolah kerajinan di seluruh Indonesia

Terciptanya secara merata jumlah lulusan sekolah kerajinan dari berbagai tingkatan (sekolah menengah
kejuruan, politeknik, perguruan tinggi)

Meningkatnya sekolah menengah kejuruan kerajinan, politeknik kerajinan, dan jurusan kerajinan di perguruan
tinggi di luar Jawa dengan nilai akreditasi baik di luar pulau Jawa

Naiknya jumlah sekolah menengah kejuruan kerajinan, politeknik kerajinan, dan jurusan kerajinan di
perguruan tinggi seni di luar pulau Jawa

2.1

Tersedianya materi bahan mentah dan sumber


budaya lokal bagi kerajinan, yang terpercaya,
mudah, dan cepat di akses

Terciptanya pusat data acuan yang berisi informasi mengenai lokasi tersedianya bahan-bahan mentah
kerajinan tertentu di Indonesia, serta juga informasi harga bahan-bahan tersebut di pasaran
Mudah diaksesnya pusat data bahan mentah tersebut oleh pelaku dan pihak pendukung
Terkontrolnya harga-harga bahan mentah untuk berbagai kerajinan

a
b
c

2. Menjamin perlindungan, pengembangang, dan pemanfaatan sumber daya alam dan budaya bagi kerajinan secara berkelanjutan

1.2

1.1

1. Penciptaan pelaku kreatif kerajinan yang berdaya saing dan mampu mengangkat potensi kekayaan lokal

MISI 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang berdaya saing, dinamis, dan berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN KERAJINAN 2015-2019

Lampiran

95

Meningkatnya kualitas dan kuantitas usahausaha kerajinan di berbagai daerah

Terciptanya karya kerajinan yang beragam dan


berkualitas

3.2

3.3

Konsistennya usaha kerajinan dalam kesempatan mengenalkan berbagai produk-produk barunya

Terciptanya kolaborasi antara pelaku kerajinan dalam menghantarkan produk yang lebih berkualitas

Semakin kecilnya jumlah keluhan yang muncul dari pembeli barang kerajinan, baik di dalam atau luar negeri

Masih bertahannya usaha-usaha kerajinan yang sudah lama dan juga meningkatnya jumlah usaha-usaha
yang baru

Terciptanya asosiasi atau komunitas untuk mengembangkan pelaku usaha kerajinan di berbagai daerah.

Terciptanya sentra-sentra kerajinan baru di berbagai daerah

Meningkatnya jumlah usaha berbentuk wokshop atau studio yang fokus pada kreasi barang kerajinan

Semakin banyak pelaku dan pendukung kerajinan yang memahami mengenai standard barang berkualitas
dari kerajinannya

Meningkat jumlah usaha-usaha dengan produk utama barang-barang kerajinan di berbagai daerah di
Indonesia

Meningkatnya jumlah keanggotaan pelaku kerajinan yang tergabung dalam asosiasi-asosiasi kerajinan.

4. Penciptaan sumber pembiayaan bagi proses kreasi kerajinan yang transparan, mudah diakses, dan bersaing

MISI 3: Mengembangkan lingkungan yang kondusif untuk pemberdayaan potensi dan pengetahuan kerajinan yang berdasarkan kreativitas dengan melibatkan seluruh
pemangku kepentingan

Meningkatnya wirausahawan kreatif kerajinan


yang mampu mengembangkan produk sesuai
dengan kondisi lokal dan internasional

3. Mewujudkan industri kerajinan yang berkembang secara optimal dan berkualitas

3.1

INDIKASI STRATEGIS
Meningkatnya jumlah dokumentasi dan kumpulan catatan mengenai nilai budaya, dan juga produk budaya
dari seluruh wilayah di Indonesia

MISI 2: Mengembangkan industri kerajinan yang berdaya saing, tumbuh, beragam, dan berkualitas

MISI/TUJUAN/SASARAN

96

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi


proses kreasi kerajinan yang transparan,
mudah diakses, dan bersaing

Semakin banyaknya institusi keuangan yang mengeluarkan produk pembiayaan bagi usaha kecil dan
menengah di bidang kerajinan
Terciptanya kebijakan pemerintah yang mendukung pembiayaan produksi kerajinan oleh BUMN atau bank
pemerintah
Terciptanya skema keringanan pembiayaan (pajak) dari pemerintah untuk operasional usaha-usaha
kerajinan
Semakin banyak macamnya pihak yang menyediakan pembiayaan kepada usaha kerajinan dalam bentuk
investasi atau pinjaman

a
b
c
d

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatkan akses pasar produk kerajinan di


pasar domestik dan internasional

Semakin banyaknya jumlah pengusaha kerajinan yang megikuti pameran produk kerajinan di dalam dan
luar negeri
Semakin meningkatnya jumlah toko atau galeri barang kerajinan di berbagai retail modern di kota-kota
besar di Indonesia
Terciptanya outlet resmi barang kerajinan di berbagai daerah wisata di Indonesia
Semakin banyaknya usaha-usaha kerajinan yang memiliki website atau melakukan kegiatan penjualan
melalui internet
Terciptanya pusat informasi produk kerajinan Indonesia di berbagai kedutaan besar di seluruh dunia
Meningkatnya jumlah pengunjung dan pembeli pameran kerajinan, baik di dalam atau luar negeri
Meningkatnya pembeli dengan skala perusahaan atau bisnis untuk barang-barang kerajinan

a
b
c
d
e
f
g

6.1

Meningkatnya ketersediaan jaringan


telematika, logistik yang mendukung
pengembangan kerajinan

Terciptanya secara jelas jalur logistik ke berbagai daerah di Indonesia, untuk menjamin penghantaran
pasokan dan barang jadi ke pasar
Terciptanya skema bantuan teknologi komunikasi dan informasi bagi usaha-usaha kerajinan

a
b

6. Penciptaan infrastruktur dan teknologi yang mendukung pelaku kerajinan untuk maju dan berkembang

5.1

5. Mewujudkan industri kerajinan yang mampu menjawab kebutuhan dari pasar domestik dan internasional

4.1

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

97

Meningkatnya penerapan teknologi produksi


yang optimal untuk meningkatkan nilai
tambah barang kerajinan yang berkualitas dan
beragam

Meningkatnya adopsi penggunaan teknologi komunikasi dan informasi di setiap kegiatan rantai nilai usaha
kerajinan yang ada
Meningkatnya adopsi teknologi dalam kegiatan produksi barang-barang kerajinan, sehingga mampu
meningkatkan kualitas barang yang dihasilkan

Meningkatnya partisipasi aktif pemegang


kepentingan dalam pengembangan kerajinan
yang berkualitas dan berkelanjutan

Meningkatkan pemahaman aspek-aspek


hukum terkait ekonomi kreatif dan Hak
Kekayaan Intelektual serta menjamin
perlindungan hukum bagi pelaku kreatif

Meningkatkan iklim usaha yang kondusif bagi


pelaku kreatif subsektor kerajinan

7.1

7.2

7.3

INDIKASI STRATEGIS
a

Terciptanya mekanisme perdagangan di pasar yang akan sama-sama menguntungkan bagi pelaku kerajinan
serta konsumennya
Terciptanya mekanisme keringanan biaya atau pajak dalam berusaha bagi para pelaku dan pendukung
kerajinan

b
c

Terciptanya suasana berusaha dengan jaminan sanksi bagi pihak yang melanggar aturan yang berlaku

Terciptanya kebijakan pemerintah yang akan mengatur agar berbagai pihak yang berkecimpung dalam dunia
kerajinan tidak akan saling merugikan

Meningkatnya program pelatihan bagi pelaku kerajinan dan pendukungnya mengenai peraturan akan
perlindungan hak kekayaan intelektual

Semakin kecilnya kasus perselisihan dari pelaku kerajinan terkait dengan pelanggaran hak atas ciptaan
barang kerajinan

Meningkatnya peran pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang berkaitan dengan kerajinan

Terciptanya komunitas/asosiasi pendukung kerajinan di berbagai daerah untuk setiap jenis kerajinan

Terciptanya peraturan yang akan memberikan jaminan atas hak kekayaan intelektual dari barang kreasi
pengrajin

Terciptanya komunitas/asosiasi pelaku kerajinan di berbagai daerah untuk setiap jenis kerajinan

Semakin aktifnya peran Dewan kerajinan nasional

7. Mewujudkan kelembagaan yang menghargai proses kreatif dari setiap produk kerajinan

6.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

98

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

7.4

Meningkatnya apresiasi kepada orang pelaku


kerajinan dan karya kreatif mereka

MISI/TUJUAN/SASARAN

Terciptanya instrumen penghargaan bagi pelaku kerajinan dan pendukung kerajinan yang berprestasi, baik
dari dalam negeri ataupun dari luar negeri
Semakin meningkatnya pelaku dan pendukung kerajinan yang mendapatkan penghargaan tersebut
Terciptanya pola pikir di konsumen bahwa pemakaian produk kerajinan dalam negeri merupakan hal yang
baik
Meningkatnya penggunaan barang kerajinan dalam berbagai unsur kehidupan sehari-hari
Semakin banyaknya kolektor, museum dan galeri untuk barang-barang kerajinan

a
b
c
d
e

INDIKASI STRATEGIS

Lampiran

99

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB

Mensurvei jenis-jenis
kerajinan apa saja
yang membutuhkan
dukungan lulusan
tenaga pendukung
teknis

Mempertemukan
pihak pelaku kerajinan,
perwakilan dari
konsumen, serta
pemilik usaha/bisnis
kerajinan

Melakukan penilaian
dengan standard
yang telah di setujui
oleh asosiasi atau
komunitas dari pelaku
kerajinan tertentu

Dipilihnya perwakilan dari asosiasi/komunitas


pengrajin tertentu untuk menjadi anggota tim penilai
sekolah-sekolah kerajinan

Mengunjungi sekolah-sekolah kerajinan yang ada,


dan melakukan penilaian sesuai standard yang telah
ditetapkan

Mengevaluasi mengenai pengetahuan dan


keterampilan apa saja yang dibutuhkan dari seorang
lulusan sekolah-sekolah kerajinan

Pendirian sekolah politeknik khusus untuk kerajinan


tersebut

Mendata dan mengundang perwakilan dari


pengrajin, konsumen, dan pengusaha kerajinan
untuk diskusi

Mendata dan mengidentifikasi keahlian teknikal


yang dibutuhkan di produksi kerajinan tersebut

Kunjungan ke sentra-sentra kerajinan, dan


mengobservasi kegiatan teknis dalam produksi
kerajinan tersebut

Kementerian/lembaga yang
membidangi pendidikan dan
kerajinan

Kementerian/lembaga yang
membidangi pendidikan,
kerajinan dan perdagangan

Kementerian/lembaga yang
membidangi pendidikan dan
kerajinan

SASARAN 1: Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan kerajinan

SASARAN/RENCANA AKSI

MATRIKS RENCANA AKSI PENGEMBANGAN KERAJINAN 2015-2019

2016

2015

2018

2017

TAHUN

2019

100

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB

Memberikan fasilitas
dukungan pembiayaan
dan hal lain yang
dibutuhkan untuk bisa
berangkat maju ke
kompetisi yang ada

Sosialisasi mengenai mengikuti kompetisi, manfaat


dan mengapa perlu mengikuti kompetisi tersebut

Seleksi di tingkat daerah untuk memilih perwakilan


peserta yang akan maju ke tingkat nasional

Peserta yang terpilih akan diberikan paket bantuan


konsultasi dari para ahli terkait ataupun dari
pemenang di tahun sebelumnya

Lalu ditambahkan dengan peran desainer untuk


memberikan rancangan barangnya dan akhirnya
akan direalisasikan oleh sang pengrajin

Dimana pada tahap awal akan dibutuhkan peran


peneliti untuk melihat tren pasar dan perkembangan
dunia kerajinan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

Dengan membuat suatu


pusat data yang akan
dikelola pemerintah

Mendata dan mengidentifikasi bahan-bahan yang


dibutuhkan khusus dari kerajinan tertentu

Pusat informasi ini akan berisi mengenai detail


bahan mentah kerajinan, lokasi bahan itu tersedia
dimana, serta harga yang ditawarkan oleh
penjualnya

Pusat data ini juga akan memberikan informasi


siapa saja pihak-pihak yang siap menawarkan
bahan mentah tersebut.

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan,
perdagangan, telematika, dan
komunikasi

2016

2015

SASARAN 3: Tersedianya materi bahan mentah dan sumber budaya lokal bagi kerajinan, yang terpercaya, mudah, dan cepat diakses

Mengembangkan
sistem produksi yang
andal

SASARAN 2: Meningkatnya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pelaku dan pendukung kerajinan

SASARAN/RENCANA AKSI

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

101

Memberikan insentif
keuangan bagi
pengusaha bahanbahan kerajinan,
khususnya dengan
penekanan pada
kemampuan memasok
bahan tersebut secara
berkelanjutan

Mendata pengusaha-pengusaha yang


memperdagangkan bahan baku untuk kerajinan

Mengidentifikasi hal-hal yang bisa menghambat


mereka dalam memasok bahan kerajinan

Merumuskan kebijakan-kebijakan yang akan


mendukung lancarnya pengadaan pasokan
bahan kerajinan, hingga lancarnya penyampaian
bahan tersebut ke pasar atau pengrajin yang
membutuhkan

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan,
keuangan, perdagangan dan
hukum

PENANGGUNGJAWAB

2016

2015

Memberikan
persyaratan yang
sederhana kepada
usaha-usaha baru
(start-up) di bidang
kerajinan

Mendukung
penyederhanaan
birokrasi terkait untuk
usaha-usaha baru di
bidang kerajinan

Mensurvei beberapa usaha kerajinan terkait dengan


syarat-syarat pembentukan badan usaha

Mengidentifikasi syarat-syarat yang memperumit


dan menyulitkan para usaha tersebut

Menyederhanakan persyaratan yang ada, sehingga


sebuah usaha baru dapat segera terbentuk dan
berjalan

Menyesuaikan syarat tersebut dengan keadaan di


bidang kerajinan

Mendata persyaratan yang dibutuhkan untuk


mendirikan sebuah usaha kerajinan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

2017

TAHUN

SASARAN 4: Meningkatnya wirasusahawan kreatif kerajinan yang mampu mengembangkan produk sesuai dengan kondisi lokal dan internasional

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

102

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Memberikan
kesempatan kepada
siswa-siswa
berprestasi untuk ikut
bekerja dalam program
magang pada usaha
kerajinan yang sudah
mapan

Mensosialisasikan ke sekolah-sekolah kerajinan


mengenai program magang siswa (untuk yang
berada di tingkat akhir) pada sebuah usaha
kerajinan

Membuka pendaftaran peminat program magang


tersebut, dan kemudian seleksi berdasarkan
kualifikasi tertentu sesuai dengan permintaan usaha
kerajinan

Siswa terpilih akan langsung menjalankan


magangnya dengan berkala konsultasi kepada
pengajar mengenai perkembangan dalam
magangnya

Setelah selesai siswa kembali ke sekolah dengan


memberikan laporan ke pengajar dan pengusaha
kerajinan tersebut

Membuat suatu
buletin atau laporan
berkala mengenai
perkembangan
kebutuhan dan selera
dari konsumen yang
ada, baik di dalam atau
luar negeri

Dibentuk tim redaksi dalam dewan kerajinan untuk


membuat buletin ini

Pengumpulan materi bisa hasil berita, tulisan oleh


tim, pengrajin ataupun pihak terkait lainnya dengan
kerajinan. Juga diberikan ruang untuk iklan

Adanya bagian yang membahas mengenai


perkembangan kebutuhan konsumen, termasuk
selera konsumen dalam dan luar negeri

Buletin terbit sebulan sekali dan dikirimkan kepada


pengusaha-pengusaha kerajian

SASARAN 6: Terciptanya karya kerajinan yang beragam dan berkualitas

SASARAN 5: Meningkatnya kualitas dan kuantitas usaha-usaha kerajinan di berbagai daerah

SASARAN/RENCANA AKSI

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
perdagangan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
pendidikan

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

103

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

Pemerintah
memberikan langsung
potongan pajak
bagi usaha-usaha
kerajinan, serta usaha
pendukungnya

Memberikan potongan pajak sesuai dengan


klasifikasi produk dan skala usaha kerajinan.

Proposal terbaik akan mendapatkan investasi


dan bantuan konsultasi dengan investor itu dalam
meningkatkan kemampuan produksinya.

Tim ahli dan para investor akan berkeliling ke


berbagai ibukota provinsi untuk mendapatkan
proposal yang terbaik

Mengidentifikasi usaha-usaha kerajinan, dan usaha


pendukung kerajinan di setiap daerah.

Adanya tim ahli yang akan melakukan seleksi awal


bagi pengrajin yang memiliki proposal usaha yang
baik

Mensosialisasikan ke berbagai sentra kerajinan


mengenai program ini

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
keuangan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
perdagangan

Ditunjuk beberapa
pusat perbelanjaan di
kota besar di Indonesia
untuk menyediakan
tempat bagi wadah
untuk sarana penjualan
barang kerajinan

Survei pusat perbelanjaan yang ramai dengan


pengunjung di setiap wilayah

Membuka toko atau outlet untuk display & penjualan


barang kerajinan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
perdagangan

SASARAN 8: Meningkatkan akses pasar produk kerajinan di pasar domestik dan internasional

Membuat suatu acara


yang memungkinkan
angel investor
untuk bertemu dan
membicarakan
proposal ide usaha
kerajinan mereka

2016

SASARAN 7: Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi proses kreasi kerajinan yang transparan, mudah diakses, dan bersaing

SASARAN/RENCANA AKSI

2017

TAHUN

2018

2019

104

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Pemerintah akan
memilih beberapa
perwakilan usaha
kerajinan untuk
didukung mengikuti
kegiatan promosi dan
pemasaran

Seleksi di tingkat asosiasi/komunitas dengan


kriteria yang telah ditentukan oleh pemerintah

Memberangkatkan pengrajin terpilih untuk ikut misi


promosi pameran di luar negeri

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan,
perdagangan dan luar negeri

PENANGGUNGJAWAB

Membuat publikasi
berkala yang berisi
informasi teknologiteknologi dan jalur
distribusi yang
menguntungkan bagi
usaha kerajinan

Memberikan bantuan
modal bagi pelaku dan
pendukung kerajinan
agar dapat mengadopsi
berbagai teknologi
dalam kegiatan rantai
nilai kreatifnya

Mengidentifikasi kerajinan apa saja yang bisa


memanfaatkan teknologi dalam kegiatan rantai
nilainya

Memberikan bantuan dana dan juga pelatihan


pemakaian mesin-mesin tersebut

Bagi para penerima bantuan memiliki kewajiban


untuk kemudian meneruskan pengetahuannya ke
pengrajin lain

Buletin ini kemudian didistribusikan kepada para


pengrajin melalui asosiasi

Dalam buletin kerajinan yang telah dibuat


sebelumnya, juga memuat perkembangan teknologi
yang bisa dimanfaatkan oleh para pengrajin dalam
kegiatan kreasinya

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
perdagangan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan,
telematika dan komunikasi

SASARAN 9: Meningkatnya ketersediaan jaringan telematika dan logistik yang mendukung pengembangan kerajinan

SASARAN/RENCANA AKSI

2017

2016

2015

TAHUN

2018

2019

Lampiran

105

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

Memberikan pelatihan
kepada para pelaku dan
pendukung kerajinan di
berbagai daerah

Pendampingan agar
pemanfaatan teknologi
yang ada akan bisa
efektif dan efisien

Menyalurkan siswasiswa dan juga pelaku


kerajinan untuk
magang pada usaha
kerajinan yang sudah
berpengalaman
mengadopsi teknologi
sejak lama

Mensosialisasikan ke sekolah-sekolah kerajinan


mengenai program magang siswa (untuk yang
berada di tingkat akhir) pada sebuah usaha
kerajinan yang intensif menggunakan teknologi

Membuka pendaftaran peminat program magang


tersebut, dan kemudian seleksi berdasarkan
kualifikasi tertentu sesuai dengan permintaan usaha
kerajinan

Siswa terpilih akan langsung menjalankan


magangnya dengan konsultasi berkala kepada
pengajar mengenai perkembangan dalam
magangnya

Yang masih baru menggunakan teknologi


dalam produksinya, akan diprioritaskan untuk
mendapatkan konsultasi & pendampingan dari balai
latihan

Untuk skala yang kecil, mesin akan dipinjamkan atau


bisa dengan sistem sewa mesin

Mendata pengrajin sesuai dengan tingkat keahlian


dalam penggunaan teknologi yang ada

Para pengrajin dengan skala kecil dan masih


sedikit menggunakan teknologi dalam produksinya,
akan mendapatkan prioritas untuk mendapatkan
pelatihan

Mendata & mengklasifikasikan pengrajin


berdasarkan skala usaha dan penggunaan teknologi
dalam proses produksinya

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
pendidikan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

2018

SASARAN 10: Meningkatnya penerapan teknologi produksi yang optimal untuk meningkatkan nilai tambah barang kerajinan yang berkualitas dan beragam

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

106

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Setelah selesai siswa kembali ke sekolah dengan


memberikan laporan ke pengajar dan pengusaha
kerajinan tersebut

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB

2015

Menghidupkaan
kembali cabangcabang dewan
kerajinan nasional
di daerah-daerah,
beserta mendorong
pembentukan asosiasi
pelaku kerajinan di
daerah-daerah

Mendata cabang-cabang dewan kerajinan di daerahdaerah

Mengundang perwakilan pelaku kerajinan,


pendukung, asosiasi dan komunitas dalam bagian
struktur dewan kerajinan di daerah

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

2017

TAHUN

2018

2019

Membuat kampanye
menghargai originalitas
dari sebuah barang
kerajinan

Mengajak pengrajin dan ahli hukum kekayaan


intelektual untuk merumuskan pesan yang akan
disampaikan ke masyarakat

Membuat event-event di area publik terkait


kampanye ini. Hal ini dilakukan secara berulang
untuk menyadarkan dan mengingatkan masyarakat

Dalam event tersebut juga termasuk aktivasi pada


media sosial, dengan mengikutsertakan para tokoh
masyarakat

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan, hukum
dan HAM

SASARAN 12: Meningkatkan pemahaman aspek-aspek hukum terkait ekonomi kreatif dan Hak Kekayaan Intelektual serta menjamin perlindungan hukum bagi pelaku
kreatif

2016

SASARAN 11: Meningkatnya partisipasi aktif pemegang kepentingan dalam pengembangan kerajinan yang berkualitas dan berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

Lampiran

107

Memberikan pelatihan
berisi tentang hal-hal
yang berkaitan dengan
perlindungan hak
kekayaan intektual
dari hasil kreatif para
pelaku dan pendukung
kerajinan

Pelatihan ini dilakukan secara bertahap hingga


semua pelaku kerajinan mendapatkan pemahaman
yang sama akan perlindungan hak kekayaan
intelektual

Menyoroti contoh-contoh sanksi jika ada kejadian


pelanggaran aturan tersebut

Mengumpulkan pelaku kerajinan yang ada di


berbagai daerah dan memberikan pelatihan
mengenai cara melindungi hasil karya para
pengrajin

Pemahaman diberikan oleh tokoh masyarakat yang


dihormati di daerah tersebut. Dan dengan media
yang relevan bagi pelaku kerajinan

Kunjungan ke sentra-sentra kerajinan, dan


memberikan pemahaman mengenai pelaksanaan
hukum kekayaan intelektual

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Memberikan
pemahaman kepada
para pelaku kerajinan
agar bersaing dalam
melakukan bisnis
dengan sehat dan perlu
juga melihat akan
pengaruh usahanya
kepada lingkungan
hidup dan masyarakat
sekitar

Kunjungan dan sosialisasi ke sentra kerajinan


mengenai pentingnya dan kegunaan dari adanya
persaingan yang sehat di antara pengusaha
kerajinan

SASARAN 13: Meningkatkan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku kreatif kerajinan.

Sosialisasi penegakan
peraturan berusaha,
dan memberikan sanksi
kepada pihak-pihak
yang melanggarnya

SASARAN/RENCANA AKSI

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
perdagangan

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan, hukum
dan HAM

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan dan
perdagangan

PENANGGUNGJAWAB

2016

2015

2017

TAHUN

2018

2019

108

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019

Juga diberikan pemahaman bahwa iklim usaha


yang sehat juga dapat terjadi dengan terjadinya
kolaborasi antar pelaku kerajinan

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Membuat suatu acara


penghargaan bagi
pelaku dan pendukung
kerajinan yang
berprestasi di dalam
dan luar negeri. Selain
itu, penghargaan bisa
juga dalam bentuk
kampanye pengunaan
barang kerajinan dalam
kehidupan sehari-hari

Pendataan pengrajin yang produktif dan inovatif. Hal


ini dilakukan secara tahunan, untuk setiap cabang
kerajinan.

Dari data tersebut, dipilih lah pengrajin yang paling


berprestasi dan mendapatkan penghargaan dari
kementerian

Penghargaan juga termasuk dengan liputan di media


serta kampanye ke masyarakat untuk menggunakan
karya kerajinan tersebut dalam kehidupan seharihari

PENANGGUNGJAWAB

Kementerian/lembaga yang
membidangi kerajinan

SASARAN 14: Meningkatnya apresiasi kepada orang pelaku kerajinan dan karya kreatif mereka.

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

112

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Kerajinan Nasional 2015-2019