Anda di halaman 1dari 228

RENCANA

PENGEMBANGAN
INDUSTRI

MODE

NA SIONAL

2015-2019

Rencana pengembangan
industri mode nasional 20152019

Tee Dina Midiani


Taruna K. Kusmayadi
Mohamad Alim Zaman
Meta Andriani
Daesy Christina
Boysanto Pasaribu
Siti Arfiah Arifin

PT. REPUBLIK SOLUSI

iv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

RENCANA Pengembangan
industri MODE nasional 2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasihat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf
Harry Waluyo, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan IPTEK
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Poppy Savitri, Setditjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan IPTEK
Zoraida Ibrahim, Direktur Pengembangan Desain dan IPTEK
Janne Dalawir, Kasubdit Desain Mode
Tim Studi
Tee Dina Midiani
Taruna K. Kusmayadi
Mohamad Alim Zaman
Meta Andriani
Daesy Christina
Boysanto Pasaribu
Siti Arfiah Arifin
ISBN
978-602-72367-6-9
Tim Desain
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Rendi Iken Satriyana Dharma
Sari Kusmaranti Subagiyo
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima kasih Kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD)
Dody Edward
Roy Sianipar
Prijambodo
Jetty R. Hadi
DR. Ing. Totok Hari Wibowo, MSc
Tutum Rahanta
Sjamsidar Isa
Alphonzus Widjaja
Sri Lastami
Ila Sailah
Kahfiati Kahdar
Retno Murti
Ali Charisma
Diaz Parzada
Rian Salmun
Eldalia
Endah Dwi Sotyati
Qaris Tajudin
Dwi Ani Parwati
Intan Setiati
Wildan
Dinny Mutiah
Asnil Bambani Amri
Imelda Like Wahyu
Jenahara
Leony Anwar

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kekayaan alam, seni, dan budaya. Dengan
memaksimalkan seluruh kekayaan lokal yang dimiliki, kita akan dapat memajukan ekonomi
kreatif di Indonesia. Yang lebih terutama, ekonomi kreatif Indonesia akan memiliki keunikannya
sendiri sebagai salah satu kekuatan untuk bersaing di dunia internasional.
Visi Indonesia menjadi negara sejahtera dapat dicapai melalui aspek pariwisata dan ekonomi kreatif,
salah satunya adalah melalui subsektor mode yang memiliki tujuan menjadikan Indonesia sebagai
salah satu pusat mode dunia di tahun 2025 melalui produk ready to wear yang mengoptimalkan
kekuatan lokal. Local inspiration with contemporary spirit.
Guna mencapainya, yang harus dilakukan adalah dengan memperkuat fondasi melalui kekuatan
lokal, kepedulian akan lingkungan hidup, dan sosial, serta melalui inovasi dan mereking, dengan
tiga pilar utama riset, capacity building, dan pengembangan bisnis menuju produk ready to wear
craft fashion.
Selain itu, strategi untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat mode dalam arti pusat inspirasi
adalah melalui pembentukan pembuatan trend forcasting yang akan membawa inspirasi indonesia
sebagai tawaran untuk produk gaya hidup global, bukan hanya untuk produk mode melainkan
untuk produk-produk lifestyle lainnya. Dengan seluruh potensi kekayaannya, Indonesia harus
mampu menjadi inspirasi, memberikan sugesti, dan acuan bagi industri mode global.
Program peningkatan dan pengembangan inovasi, mereking, pengembangan kapasitas, dan bisnis
pun dapat mengacu pada strategi tren. Apalagi jika disinkronisasi dalam satu benang merah,
saling berkaitan, sehingga Indonesia memiliki daya dobrak yang berdampak besar. Otomatis hal
ini juga akan memberikan dampak positif bagi industri mode dari hulu ke hilir.
Sinergi antar pemangku kepentingan yang terkait, baik instansi pemerintah, dunia bisnis,
pendidikan, dan komunitas juga memiliki peran penting guna menghindari tumpang tindih
kegiatan atau program. Seperti yang telah diketahui, selama ini sudah banyak kegiatan atau
program yang dilakukan dalam berbagai bidang, juga di subsektor mode guna pengembangan
ekonomi kreatif, namun dikarenakan tidak adanya perencanaan yang terintegrasi, kemajuannya
pun terkesan lambat dan berjalan di tempat.
Oleh karena itu, sebuah rancangan yang mengaitkan seluruh rangkaitan kegiatan sangat
dibutuhkan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Berdasarkan inilah maka Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyusun Rencana Aksi Jangka Menengah Ekonomi Kreatif
sebagai panduan dalam program pengembangan ekonomi kreatif, terutama di subsektor mode.
Ini masih merupakan langkah awal menuju rangkaian sinergi kegiatan, sehingga acuan ini tidak
hanya sekedar menjadi sebuah panduan yang dinikmati namun juga dilaksanakan secara maksimal.

vii

Mimpi Indonesia mampu menjadi negara sejahtera, melalui pariwisata dan ekonomi kreatif
bukanlah sekedar mimpi, semua itu akan sangat mungkin tercapai. Apalagi jika dilaksanakan
bersama-sama, saling bergotong-royong, sebagai salah satu kepribadian bangsa Indonesia.

Salam Kreatif

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

viii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Daftar Isi
Kata Pengantar

vii

Daftar Isi

ix

Daftar Gambar

xi

Daftar Tabel..................................................................................................................... xii


Ringkasan Eksekutif

xiii

BAB 1 PERKEMBANGAN MODE DI INDONESIA

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Mode

1.1.1 Definisi Mode......................................................................................................2


1.1.2 Ruang Lingkup Perkembangan Mode
1.2 Sejarah dan Perkembangan Mode

4
8

1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Mode Dunia

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Mode Indonesia

20

BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI MODE INDONESIA

37

2.1 Ekosistem Mode

38

2.1.1 Definisi Ekosistem Mode

38

2.1.2 Peta Ekosistem Mode

39

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Mode

75

2.2.1 Peta Industri Mode

75

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Mode

85

2.2.3 Model Bisnis di Industri Mode

94

BAB 3 KONDISI UMUM MODE DI INDONESIA

99

3.1 Kontribusi Ekonomi Mode

100

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)

103

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan

104

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan

105

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

106

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor

107

3.2 Kebijakan Pengembangan Mode

109

3.2.1 Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI)

109

3.2.2 Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)

109

3.2.3 Permendag 70

110
ix

3.2.4 Hak Perlindungan Konsumen

110

3.2.5 Pajak Penjualan Barang Mewah

111

3.2.6 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI)

111

3.3 Struktur Pasar Mode

112

3.4 Daya Saing Mode

114

3.5 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan Mode

115

BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN Industri MODE INDONESIA

125

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019

126

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Mode

127

4.2.1 Visi Pengembangan Mode

128

4.2.2 Misi Pengembangan Mode

129

4.2.3 Tujuan Pengembangan Mode

130

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Mode

131

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Mode

137

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Mode

139

4.5.1 Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Pendidikan Mode yang Mendukung


Penciptaan dan Penyebaran Pelaku Mode Secara Merata dan Berkelanjutan

139

4.5.2 Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Pelaku Mode yang Berdaya Saing,
Profesional dan Mampu Membawa Potensi Lokal ke dalam Selera Global

141

4.5.3 Penciptaan Pengembangan Bahan Baku Serat Nabati, Hewani dan Buatan
Manusia dari Sumber Daya Alam Yang Beragam, Kompetitif dan Terbarukan 141
4.5.4 Penciptaan Sistem Informasi Sumber Daya Budaya Lokal, yang dapat Diakses
Secara Mudah dan Cepat
142
4.5.5 Meningkatnya Jumlah Usaha dan Pengusaha Mode Lokal di Lingkungan
Tatanan Hukum Pasar yang Adil

142

4.5.6 Perwujudan Keanekaragaman Produk Mode Lokal yang Berbasis Inovasi serta
Memiliki Kekuatan di Pasar Domestik Maupun Internasional
144
4.5.7 Peningkatan Pengembangan dan Fasilitasi Penciptaan Lembaga Pembiayaan
yang Mendukung Perkembangan Industri Mode

145

4.5.8 Peningkatan Penetrasi dan Diversifikasi Pasar Produk Mode di dalam


dan Luar Negeri

145

4.5.9 Penciptaan Percepatan Proses Produksi, Promosi, dan Distribusi

146

4.5.10 Penciptaan Regulasi yang Mendukung Penciptaan Iklim yang Kondusif Bagi
Pengembangan Industri Mode
147
BAB 5 PENUTUP

151

5.1 Kesimpulan

152

5.2 Saran 

156

LAMPIRAN
x

161
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Daftar Gambar
Gambar 1-1 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Subsektor Mode

Gambar 1-2 Perkembangan Mode di Indonesia

34

Gambar 2-1 Proses Kreasi Subsektor Mode

39

Gambar 2-2 Peta Ekosistem Mode

40

Gambar 2-3 Contoh Skema Proses Kreatif

47

Gambar 2-4 Contoh Skema Mix and Match

49

Gambar 2-5 Skema Proses Produksi

53

Gambar 2-6 Contoh Proses Ban Berjalan Produksi Pakaian

57

Gambar 2-7 Proses Distribusi Subsektor Mode

62

Gambar 2-8 Proses Penjualan Subsektor Mode

64

Gambar 2-9 Peta Industri Mode

77

Gambar 2-10 Model Bisnis Pengembangan Subsektor Mode

94

Gambar 3-1 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Produk Domestik Bruto (PDB)
Ekonomi Kreatif (2013)
103
Gambar 3-2 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Tenaga Kerja Ekonomi Kreatif
(2013)
104
Gambar 3-3 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Unit Usaha Ekonomi Kreatif
(2013)

105

Gambar 3-4 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Konsumsi Rumah Tangga
Ekonomi Kreatif (2013)

106

Gambar 3-5 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Ekspor Ekonomi Kreatif (2013) 107
Gambar 3-6 Pertumbuhan Ekspor Subsektor Mode tahun 2010-2013
(dalam juta rupiah)

108

Gambar 3-7 Daya Saing Industri Mode

114

xi

Daftar Tabel
Tabel 1-1 Contoh Pembagian Produk Mode

Tabel 2-1 KBLI (Kualifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) 2009 Industri Mode

86

Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Mode 2010-2013

101

Tabel 3-2 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan Mode

116

Tabel 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Mode 2015-2019

127

xii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Ringkasan Eksekutif
Mode sebagai salah satu subsektor di dalam ekonomi kreatif adalah penyumbang kedua terbesar
bagi PDB Indonesia, merupakan sebuah subsektor yang dalam perkembangannya mengalami
perubahan definisi. Pada awalnya, mode yang identik dengan hanya busana, kini memiliki
definisi yang sedikit lebih luas, adalah sebagai suatu gaya hidup dalam berpenampilan yang
mencerminkan identitas diri atau kelompok. Untuk pengembangannya, mode memiliki ruang
lingkup yang mencakup ready to wear dan made to order.
Di Indonesia, mode mengalami perubahan yang cukup dinamis dan pesat, terutama sejak memasuki
era ekonomi informasi dan kreatif di tahun 2000-an. Pelaku-pelaku mode yang berprestasi, baik
dari akademisi, desainer, pelaku bisnis hingga lembaga-lembaga riset dan pengembangannya
pun mulai banyak bermunculan. Sebut saja Iwan Tirta, Non Kawilarang, dan Peter Sie sebagai
pelopor-pelopor di industri mode. Di generasi saat ini pun, siapa yang tidak kenal dengan Josephine
Komara (Obin) dan Anne Avantie. Nama kedua pelaku mode di bidang pengembangan tekstil
serta busana kebaya pun melebar hingga ke dunia manca negara. Perkembangannya yang pesat itu
pulalah yang akhirnya mencetuskan banyaknya bermunculan saluran-saluran distribusi hingga
lembaga-lembaga pendidikan yang berfokus pada industri mode. Mode menjadi sebuah potensi
baru untuk menguasai perekonomian Indonesia, bahkan dunia.
Namun dalam perkembangannya, industri mode tidak luput bersinggungan dengan industriindustri lainnya, terutama yang termasuk dalam ekonomi kreatif, seperti industri musik, industri
perfilman, industri kerajinan, industri pertekstilan, industri fotografi, industri media (televisi,
radio, audio, dan video), industri periklanan, industri percetakan dan penerbitan, industri
informasi teknologi, industri penelitian dan pengembangan hingga industri kuliner sekalipun.
Hal ini terjadi karena sifat industri mode yang mampu dan mudah untuk diserap oleh berbagai
kalangan, di manapun, dan kapanpun hingga menjadi industri yang dinamis.

xiii

If you fail to plan, you are planning to fail.

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

PERIKLANAN 2015-2019

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

TV & RADIO 2015-2019

VIDEO 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

TEKNOLOGI INFORMASI 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI RUPA 2015-2019

PENERBITAN 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI PERTUNJUKAN 2015-2019

17

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

16

MUSIK 2015-2019

15

18

PENELITIAN & PENGEMBANGAN 2015-2019

PERFILMAN
2015-2019

14

KULINER 2015-2019

10

KERAJINAN 2015-2019

ARSITEKTUR 2015-2019

09

12
08

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

11

ARSITEKTUR
2015-2019

06
05
04

KEKUATAN BARU INDONESIA


MENUJU 2025

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

xiv

Benjamin Franklin

xvi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

BAB 1
Perkembangan Mode
di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Mode


Bagi masyarakat umum, ada pendapat bahwa mode identik dengan dunia glamor, serba mahal
dan unreachable, dunia yang berkisar pada peragaan busana, peragawati cantik, dan perancang.
Bahkan bagi siswa sekolah mode, banyak yang memasuki dunia ini sebagai sarana menjadi selebriti,
segera setelah lulus, membuka usaha sendiri, membuat peragaan busana, dan menjadi perancang
terkenal tanpa persiapan pengembangan sisi bisnisnya. Masih banyak pula yang beranggapan
bahwa presentasi mode dalam bentuk peragaan busana semata-mata hanya sebagai pengisi acara
hiburan, berkaitan dengan dunia entertainment, selebriti, dan sosialita.
Namun sesungguhnya dunia mode tidak sesederhana itu. Mode memiliki ruang lingkup yang
sangat luas dan pengelolaannya memiliki kerumitan tersendiri. Mulai dari bahan baku (dari sisi
hulu), proses serat, menjadi tekstil, kemudian produk akhir mode, hingga tata kelola pemasarannya
di mal atau gerai penjualan (dari sisi hilir). Keanekaragaman produk mulai dari alas kaki hingga
ujung rambut, tentu memiliki perbedaan proses dan pangsa konsumennya. Ruang lingkupnya
sedemikian luas hingga melibatkan lebih dari 4 juta warga Indonesia di belakang industrinya.
Luasnya ruang lingkup ini tentunya menghadirkan banyak permasalahan yang harus disadari dan
tidak mungkin untuk ditangani secara serempak. Perlu penanganan satu-persatu dan prioritas
untuk menuju titik yang sama. Selain koordinasi dari lintas asosiasi terkait, orang kreatif yang
bersangkutan, serta keberpihakan, perlu koordinasi pemerintah dalam hal kebijakan dari aspek
kegiatan hulu hingga hilir. Misalnya, soal Pajak Pertambahan Nilai (Direktorat Jenderal Pajak)
yang seyogyanya telah terbayarkan oleh pihak produsen (asosiasi atau supplier atau perancang)
pada proses bahan baku (perizinan, ekspor, dan impor), namun dalam praktiknya dikenakan
pajak lagi bagi penjualan finished goodsplus margin atau komisi kepada Department Stores (pemilik
mall/Dept.Store) yang menjual produk si produsen/supplier. Hal ini membuat mark-up yang harus
ditambah ke harga jual lebih tinggi dan otomatis mengurangi daya saing produk mode tersebut.
Hal ini hanya salah satu kasus industri mode yang begitu kompleks.
Dari gambaran di atas, perlu dijabarkan definisi dan ruang lingkupnya di Indonesia. Kesamaan
sudut pandang ini dapat menjadi acuan dasar bagi para pelaku dan stakeholder untuk membuat
gambaran ekosistem, bisnis model, telaah potensi, permasalahan dan penyusunan arah strategi
dan rencana aksi untuk mencapai sasaran yang ditetapkan.

1.1.1 Definisi Mode


Mode merupakan suatu penanda dari perubahan gaya hidup pada satu periode, yang tidak dapat
dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan, budaya manusia, dan kemajuan teknologi
yang semakin cepat. Mode adalah sesuatu yang menunjukkan perubahan sekaligus menentang
keberadaan yang lalu dan menuju ke kepeloporan, bukan pengikut (Servewright, 2007:160)1.
Dengan demikian, mode mengedepankan pemahaman tentang suatu yang baru dengan semangat
besar secara terus menerus. Fenomena ini merupakan cerminan dari berbagai kejadian yang
telah diterima dan digunakan sebagai bagian dari sejarah sosial. Menurut Carter (1977), seperti
yang dikutip dari Zaman (2013), fenomena ini menampilkan berbagai ungkapan semangat,
menyuguhkan pola perubahan tanpa henti suatu penampilan siluet. Mode secara terus menerus
mencari pembaruan karena fokus pada perubahan. Kecepatan dari perubahan ini menuntut
desainer untuk selalu kreatif dan mampu bertahan pada tekanan situasi tertentu.
(1) Seivewright, Simon. Research and Design (Singapore: AVA Publishing SA, 2007), hlm.160.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Polhemus dan Procter juga menunjukkan bahwa dalam masyarakat kontemporer Barat, istilah
fashion kerap digunakan sebagai sinonim dari istilah dandanan, gaya dan busana, sedangkan
Malcolm Barnard melihat fashion sebagai komunikasi.Penelusuran dalam kata busana sebagai
kata kerja dirumuskan dalam arti, membusanai diri sendiri dengan perhatian pada efeknya.
Artinya lebih dari sekadar membusanai diri, tetapi juga berdandan dan mengenakan perhiasan.
Jadi, meski semua pakaian disebut busana, tidak semua dandanan dapat disebut fashionable. Oleh
karena itu, mode dan pakaian merupakan cara yang paling signifikan yang dapat dipakai dalam
mengonstruksi, mengalami dan memahami relasi sosial dewasa ini.
Menurut Simmel, terdapat dua kecenderungan sosial yang penting dalam membentuk fashion,
yaitu kebutuhan untuk menyatu dan kebutuhan untuk terisolasi. Bila salah satu kecenderungan itu
hilang, maka fashion tidak akan terbentuk. Masih menurut Simmel, individu haruslah memiliki
hasrat untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dan harus memiliki hasrat menjadi
sesuatu yang terlepas dari bagian itu.
Selain itu, terdapat pemahaman mengenai arti mode dan fashion menurut asal kata dan penelusuran
perubahan maknanya, antara lain:
Mode berasal dari bahasa Latin, modus, berarti gaya yang berlaku secara umum dalam hal
berpakaian atau berperilaku. Istilah tersebut juga diserap oleh bahasa Belanda, modus, yang
mengacu pada bentuk produk.
Fashion menurut Malcolm diserap dari bahasa Latin, factio, yang artinya membuat. Makna
asli fashion adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang, tidak seperti dewasa ini yang
memaknai fashion sebagai sesuatu yang dikenakan seseorang.
Fashion yang merupakan istilah dari bahasa Inggris dapat berarti busana atau pakaian (Peter,
1987) dan berbicara tentang pakaian adalah berbicara mengenai sesuatu yang sangat dekat dengan
diri manusia, seperti yang dikutip oleh Idi Subandi Ibrahim (peneliti media dan kebudayaan
pop dalam pengantar buku Malcolm Barnard, fashion dan komunikasi, 2007). Thomas Carlyle
mengatakan bahwa pakaian adalah perlambang jiwa. Masih menurut Idi Subandi Ibrahim:
pakaian tak bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia.2
Dalam perkembangannya, istilah fashion di Indonesia diubah menjadi fesyen. Namun berdasarkan
kesepakatan antara para praktisi, akademisi dan pemerhati subsektor ini, penggunaan istilah
fesyen diganti menjadi mode. Istilah mode ini tidak hanya berarti pakaian dan perlengkapannya,
tetapi juga gaya berpakaian atau berperilaku.
Mode merupakan salah satu subsektor dalam ekonomi kreatif dan merupakan salah satu industri
kreatif yang memberikan kontribusi ekonomi yang besar bagi Indonesia. Istilah mode yang
mengacu pada aktivitas industri telah dijabarkan dalam buku Rencana Pengembangan Industri
Kreatif tahun 2008, Kementerian Perdagangan sebagai berikut.

(2) Pengertian Fashion Menurut Ahli. Surya Putra. Tautan www. duniailmu12.blogspot.com/2013/07/pengertianfashion-menurut-ahli.html
BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

Kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain


pakaian, desain alas kaki dan desain aksesori
mode lainnya, produksi pakaian mode dan
aksesorinya, konsultansi lini produk mode, serta
distribusi produk mode.
Sumber: Buku Rencana Pengembangan Industri Kreatif tahun 2008

Berdasarkan perkembangan konsep mode, maka mode dimaknai sebagai kombinasi atau perpaduan
dari gaya/style yang memiliki kecenderungan berubah dan menampilkan pembaruan; pilihan
yang dapat diterima, digemari, dan digunakan oleh mayoritas masyarakat; suatu cara untuk dapat
diterima oleh masyarakat umum sebagai lambang ekspresi dari identitas tertentu sehingga dapat
memberikan rasa percaya diri dalam penampilan bagi pemakainya; serta mode tidak hanya selalu
tentang cara berpakaian, pencitraan atau merancang busana, tetapi juga peran dan makna pakaian
dalam tindakan sosial. Gaya dalam pengertian mode adalah ciri atau karakter penampilan dari
bahan atau hal lain yang membedakan dari jenis mode lainnya, sedangkan desain adalah sesuatu
yang lebih khusus dari gaya terkini.
Berdasarkan pemahaman di atas dan hasil pendapat bersama antara para praktisi, pemerhati dan
akademisi dalam dunia mode, maka mode dapat didefinisikan sebagai berikut.

Suatu gaya hidup dalam berpenampilan yang


mencerminkan identitas diri atau kelompok.
Sumber: Focus Group Discussion subsektor Mode Mei-Juni 2014, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Definisi mode di atas dapat dijabarkan dalam beberapa kata kunci.


1. Gaya hidup adalah bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang dapat berubah sesuai
dengan zaman atau keinginan seseorang yang dapat dilihat dari bahasa, kebiasaan hingga
cara berbusana. Mode dapat menjadi medium yang digunakan untuk menyatakan sikap
dan perasaan dengan memadukan berbagai desain yang akan menjadi penentu terhadap
nilai yang dianut oleh individu atau kelompok tersebut.
2. Berpenampilan bukan lagi hanya suatu hal yang dilihat dalam berbusana, tetapi juga
gaya berbusana atau berperilaku yang merupakan lambang identitas.
3. Identitas diri atau kelompok adalah representasi ciri khas individu atau kelompok yang
dapat berkembang menjadi sebuah budaya. Lebih kompleks lagi, mode dapat berperan
sebagai strata pembagian kelas, status, pekerjaan dan kebutuhan terhadap tren yang
sedang berlaku.

1.1.2 Ruang Lingkup Perkembangan Mode


Berdasarkan penjabaran definisi di atas, ruang lingkup substansi subsektor mode dapat dibagi
berdasarkan jenis proses dan volumenya, jenis produk, fungsi produk, serta segmen pasar.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Gambar 1-1 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Subsektor Mode

Secara substansial, mode dapat dibagi berdasarkan jenis proses, baik itu secara industri, tradisional,
madetoorder ataupun readytowear.
1. Industri. Merupakan proses pembuatan produk mode secara industrial/pabrikan.
2. Tradisional. Merupakan proses pembuatan produk mode dengan teknik tradisional,
secara manual atau yang biasa disebut handmade/satuan.
Produk yang dibuat berdasarkan proses industri dan tradisional biasanya berupa tekstil,
fragrances, dan kosmetik.
3. Madetoorder. Merupakan jenis proses pembuatan produk mode khusus sesuai pesanan,
dari individu atau kelompok, atau dengan kata lain dikerjakan untuk private client, yang
hasil produknya dapat dibagi berdasarkan volume, antara lain:
a. Tailor Made yaitu produk mode yang dalam proses pembuatannya diawali dengan

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

pengukuran dan penyelesaian khusus berdasarkan pesanan per individu.


b. High Fashion atau adibusana yaitu produk mode tailor made, namun dibuat dengan
teknik pengerjaan yang lebih rumit, menggunakan material berkualitas tinggi, serta
proses penyelesaian yang lebih mendetail sehingga prosesnya dapat membutuhkan
waktu yang lebih lama.
c. Uniform atau seragam yaitu produk mode sejenis yang dibuat dalam jumlah banyak
dan berfungsi sebagai seragam dari perusahaan atau kelompok tertentu.
4. Readytowear, disebut juga siap pakai, yaitu proses pembuatan produk mode yang dibuat
berdasarkan ukuran standar/umum dan hasilnya dipasarkan sebagai produk siap pakai.
Produk readytowear ini memiliki spesifikasi tujuan pasar yang berkaitan dengan gaya,
selera serta kelas ekonominya dan merupakan produk yang paling banyak dikonsumsi
olehz masyarakat pada umumnya. Produk siap pakai (readytowear) dapat dikelompokkan
berdasarkan volumenya sebagai berikut.
a. Deluxe atau mewah, yaitu rancangan desainer yang merupakan designer label,
dengan jumlah kuantitas produksi dibuat terbatas.
b. Mass product atau produk massal, yaitu karya desainer/perusahaan swasta dengan
jumlah kuantitas produksi lebih banyak. Mass product terdiri atas dua jenis:
i.Second label, merupakan hasil kreasi desainer;
ii. Private label, merupakan hasil kreasi industri garmen.
Penamaan madetoorder dan readytowear biasanya hanya untuk produk pakaian, aksesori, dan
alas kaki.
Produk busana dan alas kaki kemudian dapat dibagi lagi berdasarkan fungsi penggunaannya
menjadi casual wear, active sports wear, formal wear, occasional wear, lingerie, bridal, muslim wear,
dan maternity wear.
1. Casual Wear adalah jenis produk mode yang berfungsi sebagai busana untuk aktivitas
sehari-hari mulai dari pakaian terusan/dress, rain/trench coat; atasan seperti blazer, bomber
jacket, cardigan, jackets, sweater, sweat shirt, t-shirt; dan bawahan seperti skirt, trousers,
pullover, short sleeves shirt, jumpsuits, cargo pants, shorts, dan jodphur pants.
2. Active Sports Wear adalah jenis produk mode yang berfungsi sebagai busana khusus
kegiatan olahraga seperti: swimwear, tracksuits/training suits, skiwear, ice jersey t-shirts,
leggings, boxers, singlets, stirups, wind breaker jackets, gimnastic suits, dan martial art suits.
3. Formal Wear adalah jenis produk mode yang tidak hanya berfungsi sebagai busana
formal, tetapi juga sebagai busana untuk kegiatan-kegiatan tertentu (occasional wear)
seperti pernikahan (bridal). Jenis produk ini biasanya berupa evening/cocktail/party wear
hingga busana nasional/national costumes.
4. Lingerie adalah jenis produk mode intimate seperti pakaian dalam dan pakaian tidur.
5. Muslim Wear adalah jenis produk mode yang khusus dibuat berdasarkan syariat/aturan
agama Islam, yang tidak transparan, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, tertutup kecuali
bagian wajah dan telapak tangan, tidak panjang menjuntai sehingga dapat terinjak, tidak

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

bermotifkan binatang/manusia atau bentuk stylization/stilasi dari bentuk keduanya hingga


ketentuan bahwa busana perempuan tidak menyerupai busana pria dan sebaliknya.
6. Maternity adalah jenis produk yang digunakan khusus untuk kaum perempuan yang
sedang mengandung hingga menyusui.

Jenis produk-produk mode tersebut kemudian dibagi berdasarkan gender dan jangkauan usia
yang termasuk dalam segmen pasar. Pembagian tersebut antara lain: baby, infant, toddler, kids,
pre-teen, teenager, young adult, adult, ladies wear, dan mens wear.
Tabel 1-1 Contoh pembagian produk mode

CASUAL WEAR

FORMAL WEAR/OCCASIONAL
WEAR

ACCESSORIES

Blazer

Bridal wear

Hair ornaments/accessories

Bomber jacket

Cocktail dresses

Hats & caps

Cardigan
Jackets

Headbands
EVENING WEAR FOR MENS

Headscarf

Sweater

Suits

Ninja caps (for muslim)

Sweat shirt

Long sleve shirt

Sunglasses

T-Shirt

Formal jacket

Ties/Bow Ties

Trousers

Vest

Tie Clips

Pullover

Long coat

Bolo tie

Short sleeves shirt

Tuxedo shirt

Colar bar

Jumpsuits

Cape

Imitations/custome jewellery

Cargo pants

Pantalons

Dress gloves

Jacket

Handkerchiefs
EVENING WEAR FOR LADIES

Shorts

Sleeves Extention

Jodphur pants

Tube mini dress

Cufflinks

Rain/trench coat

Longdress

Scarves

Bustier

Shawls

Long skirts

Belts

Blouse

Mini skirts

Cumberbands

Kangaroo Pants

Ball gowns

Handbags

Dress

Bolero

Backpacks

Breast feeding tops

Suits

Socks & stockings

Breast feeding dress

National costumes

Footwear

MATERNITY WEAR

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

CARREER WEAR

SPECIALITY WEAR

ACTIVE SPORTS WEAR

Blazer

Down jackets

Swimwear

Blouses

Downcoats

Tracksuits/training suits

Pantalons

Raincoats

Skiwear

Mini skirt

Bodysuits

Ice jersey T-shirts

Knee length skirt

Brassiere

Leggings

Camisol

Briefs

Boxers

Mini dress

Homewear

Singlets

Sack dress

Nightwear & pajamas

Stirups

Scarfs

Long john

Wind breaker jackets

Cravatte

Gimnastic suits
MUSLIM WEAR

Martial art suits

Tunic
Abaya
Kaftan
Mukena
Long skirt
Pallazo
Body suits

Dari ruang lingkup substansi subsektor mode yang tergambar di atas, dapat dikatakan bahwa
cakupan bidang mode sangatlah luas. Untuk mencapai hasil yang maksimal, perlu ditentukan
fokus pengembangan, yaitu produk readytowear, terutama pakaian, aksesori, dan alas kaki,
dengan beberapa alasan sebagai berikut.
Produk readytowear mampu memenuhi cepatnya kebutuhan pasar sesuai perubahan
gaya hidup masyarakat.
Produk jenis readytowear juga memiliki kemampuan untuk diserap oleh pasar yang lebih
luas sehingga dapat meningkatkan nilai perekonomian secara signifikan.
Kecenderungan banyaknya para couturier yang sudah beralih ke produk ready-to-wear.

1.2 Sejarah dan Perkembangan Mode


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Mode Dunia
Perkembangan mode dunia selalu dipengaruhi oleh kondisi sosial yang terjadi pada masanya,
yang disebut juga vice versa. Perkembangan tersebut ditujukan pada mode urban atau umum yang
sering digunakan masyarakat dunia pada masanya, berkiblat pada busana perempuan yang selalu

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

berubah dan dinamis karena perkembangan busana laki-laki telah memiliki estetika serumpun
dan jarang berubah selama puluhan dekade.
Pada awal abad ke-20, perempuan masih mengikuti gaya abad sebelumnya, yaitu menggunakan
korset yang ketat. Pada tahun 1912, Paul Poiret melepaskan perempuan dari belenggu korset
tersebut. Dekade ini merupakan awal dari emansipasi gaya berpakaian perempuan modern. Pada
masa ini merupakan abad baru ketika dunia mode terlahir kembali dengan pandangan yang
berbeda. Inovasi terbaru muncul dari desainer dunia, seperti Coco Chanel, Madeleine Vionnette
dan Elsa Schiaparelli yang menyuguhkan potongan, warna, serta gaya yang memiliki karakter
androgynous. Uniknya, pada saat ini mode telah berkolaborasi dengan seni lain, seperti seni lukis
yang terinspirasi dari Salvadore Dali dan Pablo Picasso. Dari sinilah dunia mode mulai berkibar
sampai sekarang, dengan pembagian istilah dan periode perkembangannya yang meliputi flapper
(1920-an); chanel look (1930-an); war and working class (1940-an); new look, pin up and teddy boys
(1950-an); camiseta, mods, and skinheads (1960-an); hippie, disco, punk and skaters (1970-an); new
wave, aerobic, yuppie, and casual (1980-an); supermarket of style, grunge, and mix up (1990-an);
dan tahun 2000-an ke atas.

Perkembangan mode dunia dari tahun 1900-1950


Sumber: glogster.com

FLAPPER (1920-an). Pada masa setelah Perang Dunia I, Amerika memasuki era makmur dan
memainkan peran penting pada gaya berbusana tahun 1920. Fashion gaya Flapper yang berarti
New Breed muncul. Pada masa ini, perempuan mulai mendapat perhatian. Memasuki angkatan
kerja dalam jumlah besar, dekade mode memasuki era modern karena mereka mulai membebaskan
diri dari konstruksi pakaian yang menyiksa dan mulai mengenakan pakaian yang nyaman,
seperti rok pendek atau celana. Dekade ini juga dipengaruhi oleh gaya Art Deco yang diiringi
oleh musik Charleston. Pria meninggalkan pakaian yang terlalu formal dan mulai mengenakan
pakaian olahraga untuk pertama kalinya. Gaya berbusana menjadi lebih kasual dan tidak
glamor seperti dekade sebelumnya, dengan ciri pakaian lebih longgar dari bahan kain tebal dan
tertutup. Berlanjut ke tahun 1925, gaya busana telah dikaitkan denganRoaring Twentiesyang
penuh semangat dan terus menjadi ciri busana sampai dengan tahun 1930.

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

CHANEL LOOK (1930-an). Pada tahun 1930-an, efek Depresi Besarmulai memengaruhi
masyarakat dunia dan perkembangan mode yang lebih konservatif untuk para pengungsi. Bagi
perempuan, rok panjang dapat membawa kembali tampilan tradisional yang feminin. Namun,
ciri mode tahun 1920-an tetap membutuhkan waktu lebih lama untuk dihapuskan. Topi mungil
tetap populer sampai sekitar tahun 1933, sementara rambut pendek tetap populer bagi banyak
wanita sampai akhir dekade tersebut. Sedangkan untuk pria, perubahan yang terlihat adalah
variasi warna yang menjadi lebih lembut.

Gaya busana tahun 1930-an


Sumber: glamourdaze.com

WAR AND WORKING CLASS (1940-an). Perang Dunia II menyebabkan terpengaruhnya gaya
busana dunia. Pabrik-pabrik baju digunakan untuk sarana pembuatan senjata. Bahan pembuatan
kain wool digunakan untuk mendanai perang sehingga muncul produk-produk sintetisseperti
stocking dan pakaian dalam yang terbuat dari nilon.
Nuansa baju dibuat berwarna hitam dan nuansa navy dengan warna coklat dan hijau kehitaman.
Pakaian yang digunakan kebanyakan merupakan pakaian yang nyaman digunakan dan mayoritas
mengombinasikan dengan pakaian era tahun 1930-an. Selain itu, yang menjadi tren mode tahun
1940-an adalah ikat kepala penutup rambut untuk kalangan pekerja perempuan. Pada masa ini
ditandai dengan banyaknya buruh perempuan sebagai tenaga kerja, dan mulai menggunakan
pakaian yang sering digunakan pria, seperti pakaian kerja atau perpaduan mantel bengkel dengan
bawahan perempuan.
Paris yang sedang terisolasi pada tahun 1940-an membuat Amerika memanfaatkan kecerdikan
dan kreativitas desainernya. Para aktris seperti Rita Hayworth, Katharine Hepburn, dan Marlene
Dietrich memiliki pengaruh besar terhadap mode populer pada masa itu.
NEW LOOK, PIN UP DAN TEDDY BOYS (1950-an). Perkembangan mode 1950-an, jauh
dari sisi revolusioner dan progresif sehingga melahirkan gema nostalgia yang kuat dari masa lalu.

10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Kemudian Haute Couture Christian Dior menciptakan tandingannya dengan peluncuran koleksi
pertama pada Februari 1947 berupa koleksi gaun dengan pinggang kecil dan rok penuh melebar
keluar di bawah bodice kecil (New Look).
Terlepas dari kenyataan bahwa perempuan telah memiliki hak untuk memilih, bekerja, dan
mengemudi mobil sendiri, mereka tetap mengenakan gaun yang terbuat dari bahan mewah,
dengan atasan berpinggang dan rok gathered ditambah petty coat sampai pertengahan betis.

New Look Christian Dior


Sumber: whatladylikes.co

Setelah Perang Dunia II, teknologi tekstil buatan mulai berkembang. Pakaian dibuat dengan kain
nilon, orlon, dan dakron. Mode pada dekade ini merujuk pada citra yang lebih segar, namun tidak
seglamor pada tahun 1920. Pendekatan mode pada seluruh lini perempuan mulai diperkenalkan
pada tahun 1950-an, ditandai dengan busana remaja yang mulai berkembang untuk bersaing
dengan busana orang dewasa.
Tahun 1950 juga dihiasi dengan berkembangnya pakaian yang lebih urban namun tetap modis,
yang dipengaruhi oleh lagu-lagu Elvis Presley bernuansa Rock and Roll, serta gaya berbusana
Marilyn Monroe dan James Dean. Gaya urban dan pop culture ini dikenal dengan sebutan Pin
Up yang cenderung ringan dan semi terbuka.
Pada tahun 1950-an, salah satu tren yang berkembang disebut dengan istilah Teddy Boys yang
muncul setelah perang panjang di Inggris. Sejak saat itu, masyarakat dunia mulai menyadari
pentingnya bersatu dan ingin mengurangi kesenjangan sosial. Para penjahit tradisional mulai
memperkenalkan jas berkancing satu, panjang dan pas di badan. Bahannya dari beledu yang

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

11

diberi manset. Namun gaya jas ini sangat flamboyan dan elegan sehingga di mata para pekerja
pabrik, persamaan derajat yang telah dijanjikan hanyalah omong kosong belaka. Akan tetapi, kaum
muda tidak menyerah. Melalui kreativitasnya mereka memadukan semangat lewat gaya baju yang
elegan, efektif, dan powerful, yang dipakai sehari-hari dan dikenal dengan istilah Teddy Boys.
CAMISETA, MODS, AND SKINHEADS (1960-an). Tahun 1960 juga dihiasi dengan
munculnya gerakan-gerakan pemuda yang menentang pemerintah. Peran dan dominasi anak
muda mulai terlihat dalam perkembangan dunia yang memengaruhi gaya berbusana masyarakat
umum. Budaya memakai celana jeans dan kaos oblong pertama kali populer pada masa ini. Istilah
Camiseta sendiri berarti kaos dalam bahasa Spanyol.

Gaya Skinheads di London


Sumber: inovskywallker.blogspot.com

Sampai tahun 1960-an, Paris dianggap sebagai pusat mode dunia dengan pengaruh desainer Yves
Saint Laurent, Pierre Cardin, dan Pierre Balmain. Namun, antara tahun 1960 dan 1969 terjadi
goncangan pada struktur dasar mode. Dari tahun 1960 dan seterusnya hanya ada satu tren mode
yang berkembang karena pengaruh kehidupan masyarakatnya yang berlaku. Desainer-desainer
seperti Mary Quant dan Andre Courreges dengan model bernama Twiggy berperan dalam
busana kaum muda yang independen, yang tidak didasarkan pada kelompok usia yang lebih tua.
Berbeda sekali dengan gaya pendahulu mereka, para perempuan dari tahun 1960-an yang
mengadopsi gaya kekanak-kanakan, dengan rok pendek straight mengingatkan pada tampilan
tahun 1920-an. Perubahan mendasar dalam pakaian pria tahun 1960-an ada pada jenis kain
yang digunakan. Penyebaran celana jeans berfungsi untuk mempercepat perubahan radikal.
Mode yang berkembang tahun 1960-an juga terkenal dengan istilah mods, yang berasal dari kata
modernist, mengekspresikan tidak adanya perbedaan kelas lewat pakaian yang dipakai, serta
minimalis. Karakter mods untuk pria adalah rambut yang dipotong rapi, kerah kemeja bundar,

12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

jaket tipe roman yang pendek dan berkancing tiga, celana yang menyempit tanpa ada lipatan di
bawahnya dan sepatu lancip. Sedangkan gaya mods untuk perempuan adalah rambut berponi
rapi, potongan bob, stocking mulus, rok sederhana, blazer yang pendek dan sepatu lancip. Mods
memberikan inspirasi terhadap penekanan arti less is more. Akan tetapi, gaya ini tidak disukai
oleh masyarakat. Kemudian muncul pemberontakan lewat mode yang menunjukkan identitas
masyarakat menengah ke bawah dengan mayoritas pekerja pabrik sehingga berkembanglah mode
skinheads yang lahir dengan gaya boots besar seperti sepatu Doc Martens, jeans ketat, jaket pekerja
pabrik dan ciri khas kepala botak.
HIPPIE, DISCO, PUNK AND SKATERS (1970-an). Please Yourself adalah slogan dari
tahun 1970-an, yang banyak dilihat sebagai akhir dari gaya yang baik. Pada dekade ini muncul
gerakan antipemerintah yang menentang perang Vietnam dan dikenal dengan sebutan hippie,
yang dipengaruhi gaya berbusana bohemian style. Gaya hippie identik dengan pakaian longgar
yang menunjukkan kedekatan mereka dengan alam. Cinta damai, hidup back to nature, dan sikap
protes menginspirasi kehidupan para hippies. Lewat moto flower power, mereka menunjukkan
pengaruh berpakaian yaitu warna dan motif cerah, serta baju dan celana lebar.
Dekade ini dilanjutkan dengan gaya yang muncul di akhir 1960-an. Jeans tetap compangcamping,tiedyemasih populer, dan mode untuk unisex semakin menjamur. Tahun 1970-an,
secara harfiah juga merupakan dekade dari apa saja. Tidak peduli apa pun gayanya, membuat
slogan mode ini telah mencapai puncaknya pada tahun 1970-an.
Pada awal dekade ini, gaya kaum rastafarians yang didukung oleh sang legenda Bob Marley,
ditunjukkan dengan penggunaan ikat pinggang, ban tangan, topi, dan kaos, yang warnanya
sesuai dengan bendera suci Ethiopia yaitu merah, emas dan hijau. Gaya rambut kaum ini pun
menirukan karakter unik yang mudah dikenali dengan rambut dikepang kecil atau digimbal
(dreadlock). Gaya dreadlock ini disukai karena pembuatan dan perawatannya yang menggunakan
bahan-bahan tradisional dan natural.

Kegiatan dan gaya para Skaters


Sumber: andersamneus.wordpress.com

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

13

Selain itu, olahraga skating mulai digemari dan para skaters biasanya memamerkan atraksinya
di arena untuk bermain. Lalu mereka mulai bermain di tempat umum dan para skaters mulai
memengaruhi gaya berbusana dengan penggunaan celana longgar, kaos dengan sablonan gambar
grafis dan warna-warna cerah.
Kemudian pada akhir 1970-an terkenal dengan budaya musik disco. Gaya berbusana pada masa
ini didominasi oleh anak-anak muda dengan penggunaan atasan yang ketat, sepatu beralas rata,
dan celana bell bottoms serta gaya rambut ditarik ke belakang, seperti gaya aktor John Travolta
dengan filmnya yang terkenal Saturday Night Fever.

Musisi Sex Pistols yang menyebarkan gaya busana Punk


Sumber: lesenlaufenlauschen.derwesten.de

Akhir tahun 1970-an juga diramaikan dengan gaya berbusana punk. Gaya ini berasal dari Inggris,
kemudian menyebar di Amerika Serikat dan dunia. Aliran ini berawal dari grup band bernama
Sex Pistols dengan lagunya God Save The Queen. Kaum punk juga menentang kondisi politik
yang identik dengan budaya sub-culture yang secara eksplisit menentang politik kotor, menerapkan
kehidupan mandiri, lugas, dan kebebasan. Gaya berbusana punk identik dengan rambut spike
tajam, baju hitam dengan ornamen metal tajam dan make-up yang mencolok. Pada dekade ini juga
bermunculan para desainer, seperti Claude Montana, Thierry Mugler, Kenzo, dan Hanae Mori.
NEW WAVE, AEROBIC, YUPPIE, DAN CASUAL (1980-an). Selama akhir abad ke-20,
mode mulai memasuki era memadupadankan semuanya. Gaya populer Barat diadopsi di seluruh
dunia, dan banyak desainer dari Timur memiliki dampak yang mendalam pada mode. Bahan
sintetis seperti lycra, spandex, dan viscose menjadi banyak digunakan. Fashion show mulai banyak
ditayangkan di televisi serta mengambil prioritas tinggi dalam kalender sosial para fashionista.
Para desainer dunia pada dekade ini adalah Donna Karan, Gianni Versace, Giafranco Ferre,
Norma Kamali, Calvin Klein, dan Anne Klein.
Tren mode kembali melihat ke masa lalu, gaun malam dan gaun panjangbaroque muncul
kembali. Kaos dan celana jeans makin populer dikalangan remaja. Pada masa ini, musik tetap
menjadi bagian penting dari gaya berbusana urban pada tahun 1980-an awal. Masih dipengaruhi
oleh budaya punk, new wave menawarkan gaya berbusana yang lebih diterima khalayak umum.

14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Pengaruh televisi dan film yang lebih terjangkau menyebabkan budaya busana di tahun 1980
ini lebih cepat tersebar. Tahun 1980-an ditandai dengan berkembangnya teknologi portable
seperti radio. Musik mulai didengar di jalan raya, taman bermain, juga tempat umum lainnya
melalui radiojinjing yang mengusung gaya disco. Musik bergaya jalanan dengan baju kedodoran
dan nuansa outdoor yaitu rap mulai digandrungi. Berkembangnya teknologi juga menyebabkan
perubahan gaya hidup. Kalangan pekerja tidak lagi bergelut dengan mesin sebagai buruh karena
banyak yang bekerja di dalam ruangan dengan perangkat elektronik di hadapan mereka. Para
pekerja tersebut tidak melulu kaum pria, tetapi juga kaum perempuan yang mulai menapaki
dunia karier sehingga julukan wanita karir dan independen mulai dikenal dunia.
Merebaknya kalangan pekerja kantoran membuat tren busana akhir tahun 1980-an disebut yuppie,
singkatan dari young urban professional atau young upwardly-mobile professional. Gaya berbusana
yuppie dikenal dengan pakaian-pakaian kantoran rapi dengan aksen minimalis, tak terkecuali
perempuan yang mulai menggunakan jas dipadu dengan rok atau celana panjang dari kain.
Casual menunjukkan kesuksesan dan kekayaan pribadi yang lahir bersamaan dengan diangkatnya
Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris sehingga banyak yang menyebut gaya ini
adalah thatcherism. Gaya casual adalah penyempurnaan gaya sportif yang menjadikannya lebih
rapi dan trendi. Karakteristik casual memakai pakaian dengan label kelas atas, misalnya Lacoste,
Lois, Burberry, dan Adidas. Vest dan jaket track suit juga sangat digemari pada masa ini.

Thatcherisme
Thatcherisme menggambarkan politik keyakinan, kebijakan sosial ekonomi, dan gaya politik
Inggris Konservatif pada masa pemerintahan Perdana Menteri Margaret Thatcher, dari tahun 1975
sampai 1990. Dalam hal ideology, Thatcherisme berupa platform politik yang lebih menekankan
pasar bebas dengan pengendalian pengeluaran pemerintah dan pajak pemotongan yang digabung
dengan unsur nasionalisme Inggris, baik di dalam maupun di luar negeri. Thatcherisme juga
menekankan kepercayaan pasar bebas kepada negara kecil.

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

15

Baroness Thatcher dengan latar belakang sebagai seorang putri pemilik toko kelontong, mempunyai
citra seorang pekerja keras. Dia juga berkeyakinan bahwa para pemimpin Negara Serikat mencoba
menghalangi kemajuan ekonomi dunia, dan menentang kebijakan serta pemotongan moneter
belanja publik. Meskipun paham Thatcherisme didasarkan pada filosofi moneter, Thatcher
juga ingin menempatkan filosofi kehidupan sehari-hari, dengan menjalankan keuangan negara
seperti keuangan rumah tangga. Sehingga Thatcher memperkenalkan privatisasi industri milik
negara, termasuk British Telecom, British Gas, British Airways, dan perusahaan listrik, dengan
menempatkan perusahaan-perusahaan tersebut kembali ke tangan pihak swasta.
Thatcher percaya bahwa nilai-nilai keluarga Victoria adalah cara untuk memperbaiki masyarakat,
yang bukan hanya berkaitan dengan cara-cara ekonomi, tetapi juga kehormatan dan nilai-nilai
sosial. Sehingga Thatcherisme juga berhubungan dengan gaya pribadi sang Iron Lady sendiri,
dengan gaya casual yang menunjukkan kesuksesan dan kekayaan pribadinya. Gaya ini berciri
khas rapi dan trendi dengan karakteristik memakai busana label kelas atas.
Sumber: www.princeton.edu

SUPERMARKET OF STYLE, GRUNGE, AND MIX UP (1990-an). Istilah supermarket of


style digunakan untuk mendeskripsikan identitas orang yang tidak loyal pada satu jenis gaya
saja karena penganutnya memakai semua gaya dengan cara mix and match. Sekarang gaya yang
diciptakan tidak lagi sebagai bentuk pemberontakan, tetapi juga sebagai alternatif atau identitas
diri. Penganut gaya supermarket of style ini membuat gaya sendiri yang unik, dengan pilihan
pakaian yang berlapis atau bertumpuk, misalnya t-shirt lengan panjang ditumpuk dengan t-shirt
lengan pendek ditambah bandana dengan topi.

Serial televisi Beverly Hills 90210 yang populer di tahun 1990-an


Sumber: toutlecine.com

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Pada masa ini, muncul grup band seperti Nirvana dan Oasis yang menggemparkan dunia.
Aliran musik grunge berawal dari Amerika Serikat yang kemudian menyebar ke Inggris. Musik
grunge menjadi simbol mode tahun 1990-an. Meskipun demikian, tahun 1990 dikenal sebagai
tahun terburuk dalam sejarah mode dunia atau dikenal dengan sebutan The decade fashion has
forgotten. Style grunge ini mirip dengan gaya punk namun tidak begitu radikal. Celana jeans,
kaos, dan perpaduan dengan baju bermotif kotak-kotak lebar menjadi ciri identik gaya berbusana
masa ini, selain rambut gondrong dan berantakan sebagai pelengkap.
Celana blue jeans dengan denim jackets in acid wash, baby doll dress, t-shirt kedodoran, pakaian
olahraga, pakaian basket, pakaian baseball, sweatshirt, dan sweater, dengan perpaduan sepatu
sneakers dan keds yang disebut mix up. Gaya busana tahun 1960-an dan 1970-an juga berkembang
lagi di tahun 1990-an dengan munculnya busana floraldan gaya hippie. Pada dekade ini, desainer
yang terkenal adalah Marc Jacobs, John Galliano, Husen Challayan, Vera Wang, Ellie Saab, dan
Dries Van Nouten.
PERKEMBANGAN MODE PADA TAHUN 2000. Mulai tahun 2000-an, mode kembali
memandang ke masa lalu sebagai pusat inspirasi yang terkait dengan dekade-dekade sebelumnya.
Pakaian vintage, terutama dari tahun 1960-an, 1970-an, dan 1980-an kembali populer dan para
desainer mulai sering meniru gaya lampau dalam koleksinya. Pada awal dekade ini, muncul juga
perkembangan dari tampilan minimalis pada tahun 1990-an. Desainer juga mulai mengadopsi
banyak warna dengan tampilan anti-modern. Kemudian merek menjadi penting, terutama di
kalangan anak muda dan banyak artis mulai meluncurkan lini pakaian sendiri. Pakaian ketat
dan rambut panjang menjadi mainstream bagi banyak pria dan wanita.
Perkembangan mode pada tahun 2000-an masih memiliki istilah dan ciri yang sangat beragam,
sama seperti yang terjadi pada dekade dari tahun 1970 sampai dengan 1990:
1. NEW MILLENIUM. Pada dekade ini definisi mode adalah membaur dan menyatu,
misalnya payet di baju kasual, bahan-bahan kontradiktif seperti lycra yang menyelimuti
tubuh dan bahan nilon atau polyester yang ditumpuk jadi satu sehingga tidak ada lagi
batasan bahwa suatu rancangan busana sudah sesuai dengan pakemnya atau tidak. Gaya
ini juga menggunakan nuansa serba silver dan futuristik namun tetap glamor yang menjadi
awal perkembangan mode tahun 2000-an;
2. EMO. Pada pertengahan tahun 2000-an juga diwarnai gaya berbusana Emo, dengan ciri
khas serba gothic, hitam, eye shadow hitam, dan rambut lurus ke samping hingga hampir
menutupi mata. Potongan rambut lurus tajam namun tetap panjang juga menjadi gaya
rambut perempuan pada tahun 2000;
3. INDIE. Sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya, budaya sub-culture juga memiliki
peran yang mengusung budaya grunge, punk, dan hippie. Budaya indie berpusat pada
simbol pertentangan budaya konservatif yang berkembang. Asal mula kata indie yaitu
independent, atau disebut mandiri, yang mencerminkan cara memilih baju yang tidak
terpengaruh dengan model umum. Gaya busana indie terkenal dengan celana jeans pensil
ketat, perpaduan celana pendek dengan sepatu, kaos berbentuk v-neck, atau sweater
kedodoran. Selain itu, perpaduan retro, vintage, modern, sepatu canvas warna dengan tali
sepatu colourful adalah beberapa ciri karakter pakaian indie, yang gaya berbusananya lebih
cenderung pada perpaduan mode segala jenis pakaian namun masih terkesan modern.

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

17

4. NEW ROMANTIC. Inggris adalah negara tempat munculnya gaya new romantic.
Penganutnya tidak mau disamakan dengan kaum punk. Agar terlihat berbeda, mereka
memberi bayangan pada pelupuk mata, ditambahkan maskara dan eyeliner tebal yang berlaku
bagi pria dan wanita. Contoh artis dengan gaya new romantic adalah Freddy Mercury.
5. GOTHIC. Misterius, senang kegelapan dan ingin tampil beda dari yang lain adalah ciri
khas gaya mode ini. Selain itu, para pemujanya wajib tampil dengan jubah dari bahan
beledu. Bagi mereka, gothic adalah penjelmaan dari drakula yang berupa kemewahan.
Make-up pembentuk lambang kegelapan juga menjadi pelengkap dandanan selain tato.
Wajah mereka harus diberi bedak putih pucat, alis dibentuk lengkungan tipis dan bibir
diberi lipstik merah menyala. Artis yang menggunakan gaya ini misalnya Marilyn Manson.
Mulai tahun 2010, muncul budaya pop culture lain yang disebut hipster. Budaya ini berasal
dari Amerika Serikat dan mewabah pada anak muda di seluruh dunia. Budaya berpakaian ini
menekankan pada kegiatan self-sustaining, DIY (Do It Yourself), dan antikonservatif. Pada
awalnya, budaya ini menekankan pada model busana yang dipakai oleh para tunawisma dan
orang urban miskin di negara tersebut.
Budaya hipster juga menekankan pada kegiatan yang tidak dapat lepas dari gadget pribadi,
smartphone, laptop, dan hardware personal lain. Hal tersebut diakibatkan karena pada tahun
2010 awal, produk elektronik semacam smartphone telah masuk pada hampir setiap negara dan
dapat dimiliki hampir setiap manusia. Penggunaan skinny jeans, kacamata besar, rambut tidak
terurus rapi, baju kedodoran, sepatu boot tinggi, penutup kepala, syal, jaket kedodoran, membawa
smartphone atau laptop Apple, naik sepeda, memakai tas vintage, dan minum kopi latte di pojokan
kafe menjadi ciri khas gaya berbusana hipster.
PERKEMBANGAN MODE DI ASIA. Sedikit berbeda dengan perkembangan mode di dunia
maka terdapat beberapa negara Asia yang berperan dalam perkembangan mode:
Jepang. Sejak tahun 1970 banyak desainer Jepang yang mulai berkiprah ke dunia mode internasional,
seperti Hanae Mori, Issey Miyake, Yohji Yamamoto, Hiroko Koshino, Junya Watanabe, label
Come des Garcons, hingga Kenzo. Kenzo merupakan label desainer mode Jepang yang eksis di
Paris hingga saat ini. Melalui kiprah desainer-desainernya, dibantu dengan keberadaan sebuah
label mode UNIQLO di seluruh dunia, akhirnya Jepang dapat diakui sebagai salah satu pusat
mode dunia.
Thailand. Tahun 1980 Thailand cukup maju dengan majalah-majalah modenya yang tersebar
ke seluruh dunia. Namun, majalah mode Thailand lebih spesifik menampilkan produk busana
yang memiliki unsur craft. Thailand juga menampilkan kekuatan craft melalui kain-kain
tradisionalnya seperti sutra, yang dimotori oleh Ratu Sirikit yang menemukan dan bekerja sama
dengan Jim Thomson. Selain itu, era 1970-an hingga 1980-an Thailand sangat terkenal dengan
publikasi majalah-majalah mode dan pola busana cocktail atau party wear. Majalah-majalah ini
justru menjadi acuan mode di lingkungan negara-negara ASEAN. Selanjutnya, sejak tahun 2009,
Thailand mulai memiliki acara Bangkok International Fashion Fair and Bangkok International
Leather Fair (BIFF & BIL).
Singapura. Negara ini diakui sebagai pusat destinasi belanja mode, dan pusat pembelian merekmerek internasional di Asia. Selain itu, Singapura mulai memfokuskan pada kompetensi generasi

18

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

muda melalui program-program kompetisi dan program kerja sama dengan negara-negara
ASEAN. Walaupun Singapura tidak memiliki SDA (Sumber Daya Alam) dan infrastruktur
produksi industri mode, Singapura berhasil menjadi salah satu fashion-hub atau salah satu kota
mode dunia dengan hadirnya begitu banyak merek-merek internasional yang memiliki flagship
stores di daerah pertokoan elitnya. Dari sisi MICE, pameran-pameran desain dan mode banyak
ditemukan di Singapura.
Republik Rakyat Tiongkok adalah negara yang dikenal sebagai produsen produk mode kelas
menengah ke bawah. Sejak tahun 1980-an, RRT terkenal sebagai subcontractor/CMT (Cut, Make,
Trim) bagi merek-merek internasional. Mulai periode tersebut, begitu banyak merek terkenal
seperti Giorgio Armani, Anne Klein, Esprit, Nino Cerutti, Pierre Cardin, telah diproduksi di RRT
untuk pasar Amerika sehingga tahun 1990-an, RRT mulai dikenal sebagai penyuplai terbesar
produk mode ke seluruh dunia di kelas menengah bawah hingga atas dengan harga yang sangat
kompetitif di levelnya. Produk-produk modenya pun bukan sekadar produk basic, tetapi juga
mengikuti arahan tren dunia.
Korea adalah negara dengan industri mode yang cukup maju, terutama industri tekstilnya.
Sejak tahun 1990-an, Korea melakukan gebrakan melalui industri musik dan film (biasa disebut
K-Pop dan K-Drama) dalam membawa serta industri modenya menjadi salah satu pilihan gaya
baru yang banyak digemari oleh generasi muda dunia. Pada tahun 2000-an, film-film Korea
membanjiri perfilman dunia. Tidak hanya filmnya yang digandrungi dunia, tetapi musiknya pun
(dengan video klipnya yang menawan) menjadi suguhan yang memikat bagi masyarakat dunia.
Gaya berbusana hingga gaya rambut dan tata rias wajah artis-artis atau selebriti Korea menjadi
inspirasi banyak remaja dunia. Gaya mode yang edgy, girlie, dan gothic menjadi panutan banyak
remaja dunia yang fashion conscious.
India adalah negara yang banyak menyuplai kain/tekstil ke seluruh dunia, seperti saree, wol, dan
cashmere. Seni tenun tekstil yang amat beragam menjadi sebuah industri tekstil vital di India
karena pemikiran tokoh filsufnya: bahwa kesejahteraan rakyat India harus berangkat dari hasil
tangan warga negaranya. Perempuan dan anak-anak biasanya menjadi pekerjanya. Selain menjadi
negara penyuplai craft textile terbesar di dunia, India juga dikenal dengan pengusaha-pengusaha
tekstil industri besar di dunia. Hal ini ditandai dengan banyaknya produk tekstil India yang
menguasai dunia, serta banyaknya warga keturunan India yang menguasai perdagangan tekstil
pada beberapa negara di luar India seperti, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Timur Tengah.
Hong Kong. Tahun 1966, negara ini mendirikan Hong Kong Trade Development Center
(HKTDC). Sebuah lembaga aliansi antara dunia industri dengan pemerintah yang bertujuan
sebagai pemasaran internasional dengan fokus manufacturers, traders dan service providers. Sejak
pendiriannya, HKTDC telah membuka pasar internasional dengan buyers dan pelaku-pelaku
usaha dari seluruh dunia sebagai partisipannya. Selanjutnya, Hong Kong menjadi tujuan utama
untuk keperluan mode dunia di kawasan Asia. Namun, tidak hanya untuk pakaian, HKTDC
juga mengadakan acara khusus untuk aksesori, peralatan rumah tangga, dan industri pendukung
mode lain. Setelah hampir 40 tahunan, Hong Kong yang rutin menyelenggarakan Hong Kong
Fashion Week dan World Boutique Hong Kong setahun dua kali ini terkenal sebagai pusat
dagang mode di Asia. Dengan bergabungnya kembali Hong Kong ke RRT, Hong Kong mampu
menjadi pusat pameran, mereks representative, buying agent dan merchandising, hingga memfasilitasi
sourcing bahan baku, aksesori, serta tempat berproduksinya pabrik-pabrik garmen besar di RRT.

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

19

Mode sangat
penting
karena dapat
meningkatkan
kehidupan serta
memberikan
kesenangan.
Dan layak
dilakukan dengan
baik.

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Mode


Indonesia
Sejak zaman prasejarah, manusia purba di Indonesia
telah mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu
yang ditumbuk untuk menutupi bagian atas dan bawah
tubuhnya secara terpisah. Berdasarkan bukti arkeologis,
pakaian dari kulit kayu disebut fuya atau tapa, pernah
ditemukan di daerah Kalimantan, Seram, Halmahera,
Nias dan Pantai barat Papua. Hal ini merupakan bukti
kebutuhan manusia terhadap sandang (pakaian),
pangan (makanan) dan papan (tempat tinggal). Akan
tetapi kebutuhan pakaian makin berkembang menjadi
sebuah identitas diri, sosial serta dijadikan sebagai tren
mode (estetika).

Wajah mode Indonesia tercatat sudah ada semenjak


ditemukannya alat pemintal benang, sebuah alat
untuk membuat material kain panjang sebagai penutup
seluruh tubuh dengan cara melilitkannya berkali-kali. Selain itu, agama juga memengaruhi cara
berpakaian dan perhiasan sejak abad ke-14. Hal ini dapat terlihat dari relief Candi Borobudur yang
menampilkan sekitar 2600 buah relief ragam pakaian dengan berbagai latar belakang kegiatan,
seperti bertani, membangun rumah, bermain musik dan menari.3 Dapat terlihat bahwa pada
abad tersebut, masyarakat Indonesia sudah berpakaian sesuai mode yang menunjukkan kekayaan
dan simbol status sosialnya.
-Vivienne Westwood

Kebaya
Asal kata kebaya berasal dari kata Arab abaya yang
berarti pakaian. Ada pendapat yang menyatakan
kebaya berasal dari China. Lalu menyebar ke Malaka,
Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi. Setelah akulturasi
yang berlangsung ratusan tahun, pakaian itu diterima
di budaya dan norma setempat. Namun ada juga
pendapat bahwa kebaya memang asli dari Indonesia.
Karena pakaian asli China adalah Cheongsam
yang berbeda dari kebaya. Bentuk paling awal dari
kebaya berasal dari istana Majapahit sebagai sarana
untuk memadukan Kemban, pembungkus tubuh
perempuan aristokrat, menjadi lebih sederhana
dan dapat diterima oleh ajaran agama Islam yang
baru masuk pada saat itu. Aceh, Riau, Johor dan
Sumatera Utara mengadopsi gaya kebaya Jawa sebagai
sarana ekspresi sosial status dengan penguasa Jawa
yang lebih halus.

(3) Borobudur. www.wikipedia.org. Tautan http://en.wikipedia.org/wiki/Borobudur

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Nama kebaya sebagai pakaian khas telah


dicatat oleh Portugal saat mendarat di Jawa.
Kebaya Jawa seperti yang ada sekarang
telah dicatat oleh Thomas Stamford Bingley
Raffles di 1817, terbuat dari bahan sutra,
brokat dan beludru, dengan pembukaan
pusat dari blus diikat oleh bros, bukan
oleh kancing, untuk menutupi Kemben,
dan digunakan bersama kain yang dijahit
membentuk tabung.
Sumber: Wikipedia

Da la m perkemba ng a nnya , kebaya


memiliki berbagai fungsi selain sebagai
busana. Salah satunya adalah menjadi
alat revolusi (tahun 1940), alat perjuangan
(zaman pemerintahan Soekarno-Hatta),
dan sebagai lambang istri yang tunduk
terhadap suami (zaman pemerintahan
Soeharto). Tren kebaya pun berkembang
dimulai dari Prajudi, Edward Hutabarat,
dan berkembang hingga ke era Anne
Avantie.
Sumber: 100 tahun Mode Indonesia

Kebaya dari bahan lurik


Sumber: artblat.files.wordpress.com

Salah satu gaya berpakaian Indonesia yang muncul dan bertahan hingga saat ini adalah adalah
kebaya. Awalnya, kebaya dari bahan lurik dipakai oleh perempuan Jawa di keraton. Gaya ini
kemudian diadaptasi oleh para peranakan Belanda dan kaum nyai, dikenal sebagai kebaya Nona
dibuat dari bahan renda halus, dan hardanger (bordiran putih di atas kain putih). Gaya kebaya
ini sempat dilarang pemakaiannya oleh Thomas Stamford Raffles, gubernur Belanda saat itu,
karena tidak ingin mereka meninggalkan gaya berpakaian Barat. Di sisi lain kebaya putih ini juga
dilarang dipakai oleh pribumi. Masuknya budaya Tiongkok membuat kebaya lebih bervariasi,
yakni ditambah dengan warna-warna pastel dan dihiasi bordiran, yang kemudian populer dengan
sebutan kebaya encim.
Perkembangan mode di Indonesia dimulai sejak munculnya Politik Etis, saat pendidikan Barat
diberlakukan di Indonesia tahun 1900, ditandai dengan banyaknya perempuan yang berasal dari
belahan dunia yang tinggal di Indonesia dan sudah berpenampilan modis.

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

21

Tren mode Indonesia bergeser tahun 1930-1940 sesuai dengan gaya internasional, yaitu bergaya
muda, santai, dan sportif yang menjadi tema bagi perempuan maupun laki-laki masa itu. Gaya
ini muncul dari perempuan-perempuan yang bersekolah di lembaga pendidikan yang berkiblat
pada pendidikan di Belanda. Masa sebelum penjajahan Jepang, mulai hadir sekolah-sekolah
kejuruan yang turut merangsang minat perempuan-perempuan di Indonesia untuk menjahit
bajunya sendiri, salah satunya adalah kursus jahit dari Vicky Mook. Tokoh-tokoh modis pada
masa tersebut adalah Maria Ulfah, Herawati Diah, Mien Soedarto, dan S.K Trimurti. Selain itu,
artis Fifi Young dan pertunjukan Miss Tjitjih dengan artis Devi Dja menjadi ikon mode. Gaya
busana Indonesia juga ditampilkan oleh Gusti Nurul melalui pertunjukan tari di hadapan Ratu
Juliana dari Belanda tahun 1939.
Pada 1950-an, hadir Joyce Mouthaan, seorang ontwerper/creatur yang mengadakan peragaan
busana pertama di Jakarta. Sejalan dengan itu, muncul pula Marion Glamour School, sekolah
yang melahirkan model-model andal. Pada era ini pula lahirlah kontes kecantikan pertama di
Indonesia yang diselenggarakan oleh Majalah Varia, dengan Dhewayani Pribadi sebagai Miss Varia.

Peter Sie
Peter Sie (Sie Tiam Ie), lahir di Bogor, Jawa
Barat, pada tanggal 28 Desember 1929, adalah
seorang pelopor perancang busana Indonesia
yang juga dijuluki Bapak Haute Couture
Indonesia. Sebagai perancang, Peter dikenal
karena ketelitian dan kehalusan pengerjaan
busana buatannya. Pelanggannya adalah para
perempuan kalangan elit, termasuk keluarga
Presiden Soekarno. Pendapat banyak orang
yang menyatakan bahwa beliau sebagai Bapak
Haute Couture Indonesia tidak membuatnya
bangga, justru beliau berpendapat bahwa
untuk menjadi penjahit Haute Couture itu
tidak mudah.
Peter Sie telah wafat pada bulan April tahun
2011. Para desainer yang pernah mengenalnya
menilai bahwa sosok Peter adalah seorang yang
perfeksionis, selalu memperhatikan teknik
pembuatan busana yang baik, pribadi yang
rendah hati, sangat terbuka dengan berbagai
macam wawasan, serta mau berbagi ilmu.
Sumber: www.id.wikipedia.org

Tahun 1960-an, mode Indonesia mulai berkembang, ditandai dengan berjayanya pelopor-pelopor
mode Indonesia seperti Peter Sie, pelopor busana haute couture Indonesia dan Non Kawilarang.
Sementara itu, tahun 1967 gerai ritel pertama Sarinah mulai memperkenalkan format Department
Store sebagai ritel modern. Sarinah pada awalnya lebih banyak menjual produk kerajinan yang

22

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

kemudian merambah ke penjualan busana dengan hadirnya Batik Keris dan Pasaraya di Gedung
Sarinah tersebut. Selain Batik Keris, mulai muncul merek-merek lokal ready-to-wear batik, seperti
Batik Danar Hadi, Batik Arjuna, dan Batik Semar, yang semuanya berasal dari Solo.

Irwan Tirta Bawa Batik Mendunia


Sumber: kabarinews.com

Irwan Tirta
Iwan Tirta dikenal sebagai desainer yang memulai kebangkitan awal desain batik selama tahun
19701980-an. Batik hasil desain Iwan Tirta telah digunakan oleh Presiden Amerika Ronald
Reagan dan First Lady Nancy Reagan di tahun 1980-an, Nelson Mandela, dan pemimpinpemimpin dunia di APEC Summit tahun 1994. Di tahun 2009, Iwan Tirta masuk ke dalam
majalah Time bersama Pakubuwono X, Pramoedya Ananta Toer, Raden Saleh, Srihadi, Yves
Saint Laurent, Halston, Ludwig van Beethoven Johann Sebastian Bach, dan Wolfgang Amadeus
Mozart.
Sumber: wikipedia.org

Dua tahun kemudian, tahun 1969, Gubenur DKI Jakarta Ali Sadikin melihat pentingnya pendidikan
nonformal, terutama yang berkaitan dengan keterampilan wanita dengan mencanangkan kursus
mode di Jakarta, yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI). Pada
perkembangannya, kursus mode ini berubah menjadi pendidikan tinggi formal mode pertama
di Indonesia. Pendidikan mode yang mengarah pada kebutuhan industri yaitu Akademi Seni

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

23

Rupa dan Desain (Asride) ISWI, dengan para pengajar mode lulusan internasional seperti Caka
Datuk (Belanda), Mohamad Alim Zaman (Belanda), Cita Joenoes (Perancis), dan lulusan asli
Indonesia, Porry Muliawan.
Selain ISWI, Gubernur DKI, Ali Sadikin juga meresmikan Perhimpunan Ahli Perancang Mode
Indonesia (PAPMI) sebagai awal mula kemunculan asosiasi mode sebagai wadah penting untuk
mengumpulkan para pelaku usaha/seprofesi di industri mode Indonesia. Anggota PAPMI antara
lain: Prajudi, Wahyudi, Susan Budihardjo, Elsa Sunarya, Elsie Iskandar, Arthur Tambunan, dan
lain-lain. Seiring dengan kemunculan PAPMI, model-model ternama mulai berkiprah di atas
catwalk seperti Rima Melati dan Titik Qadarsih, dengan ikon seperti Gaby Mambo, Baby Huwae,
dan Citra Dewi, serta tokoh-tokoh mode seperti Iwan Tirta, Harry Dharsono, Prajudi, Poppy
Dharsono, dan Ramli yang mulai memberikan sinyal dunia mode Indonesia

Pia Alisjahbana
Pia Alisjahbana, adalah pendiri Grup Femina
yang merupakan tokoh wartawan dan akademisi
serta memiliki kecintaan terhadap dunia mode
Indonesia. Nama aslinya adalah Suftalasifah,
lahir di Bondowoso, pada tanggal 26 Juli 1933.
Pia memulai kariernya di Fakultas Sastra,
Universitas Indonesia, dengan memimpin
Jurusan Bahasa Inggris pada tahun 1960-an.
Kemudian, beliau juga mendirikan program
pascasarjana Kajian Wilayah Amerika dan
Pusat Kajian Amerika di universitas tersebut.
Karena dikenal dekat dengan mahasiswanya,
Pia mempunyai ide untuk membuat majalah
mode. Beliau merintis penerbitan Majalah
Femina, bersama Mirtati Kartohadiprodjo
dan Widarti Gunawan pada tahun 1972.
Setahun kemudian beliau mendirikan majalah
remaja Gadis, yang mulai tenar pada saat
menyelenggarakan pemilihan Putri Remaja
tahun 1977, dan mencapai oplah sebanyak
90.000 eksemplar. Sambutan masyarakat sangat
antusias terhadap kehadiran majalah-majalah
tersebut karena belum mempunyai media yang
membahas mengenai mode di Indonesia yang
membidik target kaum perempuan. Selain itu,
Pia juga dikenal sebagai penggerak industri
mode Indonesia sejak tahun 1970-an dan dikenal
aktif di berbagai kegiatan sosial sampai saat ini.
Sumber: www.id.wikipedia.org

24

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Tahun 1970-an, muncul salah satu penggerak dunia mode di Indonesia, Pia Alisjahbana, perintis
penerbitan Majalah Femina, satu-satunya media di Indonesia yang membahas mode. Pada saat itu
tahun 1972, hadir toko ritel busana dengan nama Mickey Mouse di Blok M yang menjadi cikal
bakal berdirinya ritel modern Matahari Department Store (berlokasi di Pasar Baru) dan tahun
1990-an menjadi fashion retail terbesar di Indonesia. Kehadiran fashion retail ini memunculkan
merek-merek lokal Indonesia seperti Country Fiesta, Logo, Accent, Osella, H&R, dan lain-lain
yang menjadi primadona, khususnya di kalangan anak muda.
Generasi-generasi awal desainer seperti Itang Yunasz, Maarti Jorghi, Carmanita, Alex AB, Taruna
K. Kusmayadi, Samuel Wattimena, Edward Hutabarat, Chossy Latu, dan lainnya muncul setelah
Majalah Femina menyelenggarakan Lomba Perancang Mode (LPM) tahun 1979, yang diikuti
oleh majalah wanita lainnya seperti Sarinah (Lomba Cipta Busana) dengan Valentino Napitupulu
sebagai salah satu pemenangnya, dan Majalah Pertiwi.

Fashion Show LPTB Susan Budihardjo


Foto: Dok pribadi LPTB Susan Budiharjo

Pada saat bersamaan, tahun 1980-an geliat dunia mode Indonesia semakin terasa. Ditandai dengan
berkembangnya dunia pendidikan mode, berdirinya LPTB Susan Budihardjo, yang kemudian
menghasilkan desainer-desainer ternama di antaranya: Sebastian Gunawan, Eddy Betty, Adrian
Gan, Irsan, Didi Budiarjo, Denny Wirawan, Sofie, dan Tri Handoko. LPTB Susan Budihardjo
kini telah memiliki cabang di Surabaya dan Semarang. Selain desainer-desainer busana casual,
cocktail/party, desainer busana muslim pun mulai bermunculan di era ini. Diawali dengan
kemunculan desainer busana muslim seperti Fenny Mustafa (Shafira), Ida Royani, dan Anne
Rufaidah sebagai generasi awal desainer busana muslim Indonesia.

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

25

Tahun 1980-an, dua fotografer terkenal pada masa itu adalah Firman Ichsan dan Darwis
Triyadi. Hasil karya mereka banyak terpampang di majalah-majalah mode Indonesia maupun
iklan-iklan mode. Dalam perkembangannya, mulai muncul nama-nama seperti Timur Angin,
Jerry Aurum, Davy Linggar hingga Samuel Sunanto dan Nicoline Patricia Malina. Nama-nama
mereka sangat berkibar di banyak publikasi mode Indonesia. Selain itu, para fotografer dibantu
oleh stylists berpengaruh seperti Michael Pondaag dan Dedhy Rizaldi. Sedangkan dalam dunia
pemberitaan mode dan industri turunannya diwarnai dengan kemunculan jurnalis dan redaktur
mode berpengaruh seperti Evy Fadjari, Muara Bagdja, Retno Murti, Samuel Mulia, Asniar Wahab,
Ninuk Mardiana Pambudy, dan Cynthia Sujanto.
Dunia ritel pun semakin berkembang, Pasaraya mendirikan tokonya sendiri di Blok M dan
memberikan kesempatan bagi desainer-desainer Indonesia memasarkan merek-merek readyto-wear, seperti: Kisoon Harto, Saga Trend (merek milik Lily Salim), Eldas (merek milik Ellen
Darsana), Gacie (merek milik Itang Yunasz dan Enny Soekamto), Biyan, Ghea (merek milik
Ghea Panggabean), dan Stephanus Hamy. Pasaraya juga membuka outlet Indonesian Designer
yang diperuntukkan bagi desainer-desainer muda yang membuat produk ready-to-wear dengan
merek namanya sendiri. Disusul juga dengan department store lain seperti Rimo, Ramayana,
Robinson, dan Lotus.
Para perancang Indonesia yang semakin bertambah kemudian bersatu dalam Ikatan Perancang
Busana Madya Indonesia (IPBMI) tahun 1983. Namun, usia IPBMI tidak berlangsung lama.
Tahun 1986, IPBMI terpecah menjadi dua asosiasi: IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia)
dan APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia).
IPMI dibentuk dan diketuai oleh Sjamsidar Isa. IPMI yang memiliki 34 orang anggota ini
memiliki visi dan misi dalam menetapkan standar dalam dunia mode di Indonesia. Garis panjang
sejarah IPMI yang sudah berkiprah selama lebih dari 27 tahun, menjadikan IPMI sebagai bagian
penting dari perkembangan ndustri mode di Indonesia.
Tahun 1988, Batik Keris membuka Keris Gallery oleh Hardiman Tjokrosaputro dan kepengurusannya
dilanjutkan oleh Handianto Tjokrosaputro. Pada masa itu, Batik sudah menjadi bagian dari
tawaran tren melalui peragaan busana yang kerap diadakan di Keris Gallery.
Pada 1990-an mulailah banyak berdiri asosiasi. Tahun 1991, Asosiasi Pemasok Garmen dan
Aksesori Indonesia (APGAI) dibentuk dengan komitmen untuk menjadikan ritel bisnis nasional
menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional. APGAI diketuai oleh Poppy Dharsono yang
memiliki 113 anggota dan memegang lebih dari 300 perusahaan, baik lokal maupun internasional.
Tahun 1994, Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) kemudian diprakasai oleh
Poppy Dharsono, Pia Alisjahbana, Harry Dharsono, Peter Sie, Ramli dan Samuel Wattimena.
APPMI berdiri dengan AD/ART yang diadaptasi dari organisasi induknya yaitu Kamar Dagang
Indonesia (KADIN). Visi dan misi APPMI adalah memajukan dan mengembangkan industri mode
di Indonesia. APPMI hingga kini memiliki 11 Badan Pengurus Daerah (DKI Jakarta, Jawa Barat,
DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera
Utara, Nangroe Aceh Darussalam, dan Sumatera Barat) serta memiliki sekitar 220 anggota.

26

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Pada saat yang sama, bermunculan department store lain seperti Metro, Sogo, Seibu, Isetan,
JC Pennys, Harvey Nichols. Namun, Isetan, JC Pennys dan Harvey Nichols tidak bertahan
lama, bahkan kini telah berhenti beroperasi. Banyaknya department store memberi kesempatan
desainer/merek lokal bersanding dengan desainer/merek internasional dan memunculkan merek/
desainer readytowear baru seperti Itang Yunaz, Ghea, Biyan, Nuna, Musa, Jenny Johanes, Eldas,
Suzanna Wanasuka, Denny Wirawan, dan Sofie; serta merek-merek lokal lain seperti Colorbox,
Contempo, Coconut Island, Nail, Votum, dan Bubble Girl. Pada era ini, dunia mode dapat
dikatakan mengalami masa kejayaannya.
Namun, masa kejayaan ini tidak bertahan lama. Sekitar 1995-an, Indonesia diserbu oleh produk
yang berasal dari RRT. Pusat perbelanjaan seperti Mangga Dua hingga mal-mal ternama mulai
dibanjiri produk mode dari RRT, baik yang masuk secara legal maupun ilegal. Produk dengan
harga yang relatif murah ini membuat banyak merek lokal terimbas. Akan tetapi, gempuran
produk RRT ini mampu diimbangi dengan kreativitas anak muda di bidang mode yang muncul
melalui fenomena industri kreatif, di antaranya ditandai dengan hadirnya distribution store
(distro). Lahir dari komunitas independen, distro awalnya adalah toko untuk menjual produk
cinderamata dari kelompok musisi, kemudian berubah bentuk menjadi toko penjual busana
yang konsep produknya dititipkan langsung dari produsennya. Distro telah menjadi salah satu
bentuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang pengembangan mereknya dirancang dan
dikelola sendiri sehingga dapat menekan biaya produksi. Distro banyak berkembang di wilayah
Bandung dan sampai saat ini masih digemari.
Era tahun 1990-an diwarnai oleh banyaknya kompetisi, di antaranya:
1. Concours JeunedeCreature de La Mode Et Bijoux, diselenggarakan oleh Femina Group
dan Air France tahun 19922002. Kontestan yang berasal dari Indonesia saat itu
diseleksi di tanah air hingga akhirnya menghasilkan 10 finalis yang kemudian diseleksi
kembali di Perancis (tingkat internasional). Proses seleksi tersebut diselenggarakan oleh
Chambre Syndicalede la Haute Couture.
2. Indonesia Young Designer Contest, diselenggarakan oleh IPMI dan Kompas tahun
19901995.Dua finalisnya dikirim ke ajang ASEAN Young Designer Contest di Singapura.
3. Asian Young Designer Competition, yang diselenggarakan oleh APPMI tahun 1995
menghasilkan desainer Manish Aurora (India) dan Sofie (Indonesia) sebagai pemenangnya.
Dewan jurinya antara lain dari Majalah Elle (Paris), desainer Hiroko Koshino (Jepang),
dan fotografer fashion Firman Ichsan (Indonesia).
4. Palm Award, ditujukan bagi perancang muda untuk merancang satu set busana dengan
tema tertentu, yang diselenggarakan oleh Plaza Senayan Jakarta dan LaSalle College sejak
tahun 2000. Pemenang mendapatkan beasiswa sekolah di LaSalle College.
Sekolah-sekolah mode pun mulai banyak bermunculan seperti Sekolah Mode Indonesia (SMODIA),
Futura Fashion Centre, dan Sekolah Mode Harry Darsonoyang sudah lama tutup; Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP)yang telah berubah nama menjadi Universitas Negeri
Jakarta (UNJ), Insitut Kesenian Jakarta (IKJ), Bunka School of Fashion, Sekolah Mode Poppy
Dharsono, Phalie Studio, Sekolah Mode Lina Lea, Arva School of Fashion, Sekolah Tinggi
Desain InterStudi, Sekolah Tinggi Desain Indonesia, Bina Nusantara, dan beberapa sekolah
mode cabang dari luar negeri yaitu Esmod (tahun 1996), LaSalle dan Raffles School of Fashion.

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

27

Di dunia industri, merek internasional mulai banyak diproduksi di Indonesia, terutama oleh
perusahaan garmen di Bandung. Sejalan dengan banyaknya produksi merek internasional ini,
maka muncul konsep penjualan factory outlet. Semula, factory outlet adalah tempat menjual
sisa produksi dari merek internasional yang umumnya berada di sekitar pabrik. Namun pada
perkembangannya, konsep factory outlet ini menjadi konsep penjualan baru untuk ritel. Selain
sisa produk merek internasional, dijual juga produk-produk khusus factory outlet. Hal tersebut
membuat Bandung dikenal sebagai pusat factory outlet dengan berbagai ciri khas hingga saat ini.

Koleksi Mardiana Ika


Foto: Dok. pribadi Mardiana Ika

Tahun 2000-an ditandai dengan munculnya


acara-acara mode dengan skala besar sebagai
reaksi dari ketertarikan masyarakat akan
perkembangan mode di Indonesia. Dimulai
pada 2001, Bali Fashion Week (BFW) diadakan
sebagai acara fashion week pertama di Indonesia
yang diprakarsai oleh Mardiana Ika, desainer
yang telah go international dengan labelnya Ika
Butoni. Melalui Bali Fashion Week, Indonesia
mulai menyejajarkan dirinya dengan acara
mode internasional lainnya. Berangkat dari
pengalaman ini pula perancang Indonesia
mulai mengikuti pameran dagang internasional
seperti HongKong Fashion Week, BIFF and
BILL (Bangkok), Magic Show (Las Vegas),
dan Prt--Porter (Paris). Selain Mardiana
Ika, perancang yang rutin mengikuti pameran
dagang internasional adalah Ali Charisma.
Kemeriahan mode juga tampil di jalan umum.
Pada 1 Januari 2003, Jember Fashion Carnaval
(JFC) pertama kali dilaksanakan di Jawa Timur
bersamaan dengan HUT Kota Jember. Karnaval
busana ini digagas oleh Dynand Fariz yang juga
merupakan pendiri JFC Center, yang digelar
di jalanan utama Jember sepanjang 3,6 km;
dan masih diselenggarakan sampai sekarang.4

Tahun 2004, PT Summarecon Agung, Tbk. menyelenggarakan Jakarta Fashion and Food
Festival (JFFF) yang merupakan wadah berkumpulnya produk mode dan makanan khas favorit
Indonesia sebagai daya tarik wisata belanja di Jakarta Utara. PT Summarecon Agung, Tbk. juga
menyelenggarakan Gading Design Contest, bekerja sama dengan Esmod sejak 2006 dalam acara
Jakarta Fashion Food and Festival. Kontes ini ditujukan bagi desainer muda dan pemenangnya
mendapatkan beasiswa di sekolah mode Esmod.
Semakin banyaknya peragaan busana, jasa event organizer (EO) yang mengelola peragaan busana
dan para model juga semakin berkembang. Studio One, sebagai pelopor jasa EO di bawah pimpinan
Sjamsidar Isa, dengan para peragawati seperti Nani Sakri, Enny Sukamto, Licu, Ratna Dumila,
(4) Info lengkap lihat www.emberfashioncarnaval.com

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Dian Tanjung, Debby Sahertian dan peragawan seperti Yongki Komaladi dan Dody Heykal,
serta koreografer Denny Malik dan Paulus.

Koleksi Yosafat Dwi Kurniawan, salah satu desainer Indonesia Fashion Forward
Sumber: femaledaily.com

Tahun 2008, muncul Jakarta Fashion Week (JFW) yang diusung oleh Femina Group dan
diadakan di area mal selama sepekan. Hingga tahun 2011, JFW berfokus pada peragaan busana
dan memfasilitasi business matching yang bersifat B to B. Selain menampilkan peragaan busana
desainer Indonesia dan internasional, ajang ini juga dilengkapi upaya pendampingan kepada
para desainer untuk terjun ke bisnis mode secara profesional dan berkelanjutan dalam program
Indonesia Fashion Forward (IFF), sebagai program kerja sama dengan British Council, Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Centre Fashion Enterprise (CFE) yang berkedudukan di
Inggris. Selain itu, Kementerian Perdagangan menyediakan buyers room untuk desainer yang
tergabung dalam IFF agar dapat melakukan business matching dengan buyer dari mancanegara
sehingga program IFF dapat mengantarkan merek desainer lokal memasuki pasar internasional.
Pada era ini pula kain-kain tradisional mulai banyak dimanfaatkan oleh desainer-desainer mode
Indonesia. Hal ini menjadikan Cita Tenun Indonesia (CTI) yang diketuai oleh Okke Hatta
Rajasa memfokuskan diri pada upaya pelestarian dan pengembangan kain tradisional, dalam
bentuk program seperti: pelestarian budaya, pelatihan dan pengembangan pengrajin, pemasaran
kain tenun, penerbitan Buku Tenun Indonesia, riset tenun Indonesia, produksi ulang kain tenun
langka Indonesia, pameran kain tenun, peragaan busana tenun di dalam dan luar negeri, serta
pendidikan masyarakat melalui berbagai strategi.
Selain kain tradisional, kebaya juga mulai dilirik sebagai salah satu bentuk yang dapat dikembangkan
menjadi sebuah gaya baru. Tahun 2009, Majalah Kartini menyelenggarakan Lomba Rancang
Kebaya (LRK) yang bertujuan tidak hanya untuk melestarikan kebaya itu sendiri, tetapi juga
lomba mengajak perancang muda menghasilkan kebaya siap pakai untuk berbagai aktivitas.
Desainer-desainer yang turut memopulerkan gaya kebaya di antaranya Edo Hutabarat dan Anne

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

29

Salah satu area di even Brightspot Market


Sumber: agatawijaya.blogspot.com

Pada tahun yang sama, pameran ritel bergaya muda, seperti Brightspot Market menawarkan
sebuah konsep ritel baru, yang ditujukan untuk desainer muda readytowear dengan kapasitas
produksinya yang terbatas, tetapi tetap menawarkan gaya kontemporer bahkan avant garde
khas anak muda. Brightspot Market berhasil menaikkan nama desainer/produk lokal di tanah
air dan menjadi pusat perhatian dalam pergerakan mode, terutama untuk anak muda Jakarta,
dan memicu kemunculan konsep toko terpadu untuk produk/desainer lokal, seperti Level One,
The Goods Dept dan Fashion First. Naiknya nama-nama merek lokal juga disebabkan karena
mementingkan kualitas dan kepuasan pelanggan. Jika ada produk yang kurang memuaskan,
cepat diambil langkah untuk perbaikan. Pendapat konsumen juga didengarkan sehingga inovasi
produk terus berjalan. Faktor-faktor ini menyebabkan merek lokal mulai dapat berkompetisi
dengan merek luar negeri.
Tahun 2010, industri busana muslim mulai menunjukkan suaranya. Hal ini ditandai dengan
berjayanya desainer-desainer busana muslim seperti Nunik Mawardi, Iva Lativah, Irna Mutiara, Jeny
Tjahyawati dan perancang busana muslim generasi baru seperti Dian Pelangi dan Ria Miranda. Tren
mode muslim semakin tumbuh dan berkembang, terlebih dengan munculnya banyak komunitas
busana muslim seperti Hijabers, Hijabers Mom, dan HijUp. Sejalan dengan upaya antisipasi
kebutuhan busana muslim yang semakin berkembang dan upaya untuk menjadikan Indonesia
sebagai pusat fashion muslim dunia maka Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC)sebuah
konsorsium dengan fokus program pengembangan busana muslim Indonesiamenyelenggarakan
acara Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF). Acara ini merupakan pameran ritel khusus busana
muslim yang diselenggarakan setiap tahun menjelang bulan Ramadan.
Walaupun beberapa fashion week sudah banyak digelar, Indonesia masih memerlukan ajang
pameran dagang internasional (B to B) khusus untuk mode. Oleh karena itu, tahun 2012, Asosiasi
Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) memprakarsai Indonesia Fashion Week
(IFW) yang memiliki konsep sebagai international trade event dan direncanakan berlangsung

30

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

setiap musim (dua kali per tahun), dalam bentuk ekshibisi (pameran dagang berdasarkan kategori
produk), dan peragaan busana, serta dilengkapi dengan acara seminar, workshop, kompetisi dan
selebrasi. Namun, fokus IFW bukan hanya pada penyelenggaraan pameran, tetapi juga mulai
membangun fondasi hingga persiapan pelaku industrinya melalui program bersama dengan
kementerian, asosiasi dan stake holder lain, di antaranya: APINDO dan Chamber Trade of Sweden
dalam program sustainable fashion, APGAI dalam program kolaborasi desainer dan garmen,
dan 12 sekolah mode dalam program inovasi eksperimental Indonesia Trend Forecasting (ITF).
Sejalan dengan itu, dalam penyelenggaraan IFW tahun 2013, pemerintah yang diwakili oleh
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindustrian, Kementerian
Perdagangan, dan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah meluncurkan Cetak
Biru Ekonomi Kreatif Mode Indonesia hingga 25 tahun mendatang.
Seiring dengan kemajuan informasi dan teknologi, masyarakat Indonesia menjadi lebih terbuka
terhadap perkembangan mode dunia dan mulai menggemari satu gaya belanja baru yaitu online
shopping. Konsep online shopping dapat ditemukan di berbagai media seperti website hingga social
media dan banyak digunakan sebagai salah satu alternatif jalur pemasaran/penjualan bagi para
pelaku usaha mode di Indonesia.
Fenomena lain yang muncul dalam perkembangan mode Indonesia adalah mulai banyaknya
kesadaran untuk menggunakan bahan baku lokal seperti batik, tenun songket, tenun ikat,
sarung, lurik, juga jumputan sebagai bahan dasar produk mode ready-to-wear. Produk mode
ini, selain ditawarkan di department store, dapat juga ditemukan di pameran ritel/bazaar dan
pameran kerajinan. Kemunculan gaya khas Indonesia ini turut mewarnai industri kreatif mode.
Sementara itu, optimisme industri
mode ready-to-wear di Indonesia
terlihat dari keya k inan para
desainer untuk memproduksi
dan menjadikannya sebagai roda
pemutar bisnis. Industri kreatif
mode di Indonesia juga sudah
dapat membuktikan kemampuan
daya saing bisnis untuk pakaian
ready-to-wear ini. Sebagai contoh,
desainer Musa Widyatmodjo
mengeluarkan labelnya M by
Musa; Lenny Agustin dengan
label Lennor yang berdesain
global, ringan, muda, dan trendi
dengan permainan warna-warna
cerah; Sebastian Gunawan dengan
Koleksi Runa Palar
Sumber: balidiscovery.com

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

31

Koleksi 13th Shoes


Sumber: 13thshoes.wordpress.com

label Red Label dan Sebastian Sposa yang fokus pada gaun pengantin siap pakai untuk kelas
medium; Biyan Wanaatmadja dengan label Studio 123 dan (X) SML yang dapat ditemukan
di department store atau pusat perbelanjaan premium.
Selain desainer busana, dunia mode Indonesia mencatat nama-nama desainer lain seperti desainer
tekstil, aksesori dan alas kaki. Pada desainer tekstil, tercatat nama Iwan Tirta, Harry Dharsono,
Baron Manangsang, Josephine Komara (Obin), Carmanita, Nelwan Anwar, Wignyo Rahardi,
dan Merdi Sihombing. Desainer perancang aksesori: Surya Satir, Elizabeth Wahyu, Valentina
Taroreh, RinaldiA. Yuniardi, Runi Palar, Mieke Sahala, Ariani, dan merek lokal aksesori seperti
Artkea. Merek-merek lokal produk tas di antaranya Elizabeth, Bagteria, Sabbatha, The Sak, Dowa,
Webe, Baqita, Covet, dan Eiger, yang sebagian besar juga sudah diekspor ke beberapa negara.
Sementara itu, untuk desainer alas kaki seperti Vivian Rubianti, Yongki Komaladi, Tegep (Tegep
Boots), Ni Luh Djelantik, Linda Chandra, Mario Minardi (1983) dengan merek-merek lokal alas
kaki seperti Wimo, Keloom, BNV, 13th Shoes, Nefrin Shoes dan Edward Forrer.

32

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Koleksi Mario Minardi, desainer alas kaki


Foto: Dok. pribadi Mario Minardi

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

33

Gambar 1-2 Sejarah Perkembangan Mode

SEJARAH PERKEMBANGAN

Mode

Batik Keris membuka Keris Gallery oleh


Hardiman Tjokrosaputro, 1988

193o194o-an

IPBMI terpecah menjadi Ikatan Perancang


Mode Indonesia (IPMI) dan Asosiasi Perancang
Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), 1986
Berdirinya Ikatan Perancang Busana Madya
Indonesia (IPBMI), 1983

Mulai banyaknya tokoh-tokoh


wanita Indonesia modern yang berpenampilan
dalam tampilan busana barat,
di antaranya: Maria Ulfah, Herawati Diah,
Mien Soedarto, Devi Dja, dan S.K Trimurti

198o-an
Artis Fifi Young dan pertunjukan
Miss Tjitjih dengan artis Devi Dja
menjadi ikon-ikon mode.

Dibukanya
di Blok M
yang diisi oleh produk-produk readyto
wear hasil karya desainer Indonesia
yang kemudian disusul dengan
kemunculan
Rimo, Ramayana, Robinson, dan Lotus

Kemunculan desainer
busana muslim seperti
Fenny Mustafa (Shafira
yang kemudian menjadi
perusahaan busana muslim
terbesar di Indonesia),
Ida Royani dan Anne Rufaidah

Gaya busana yang ditampilkan oleh


Gusti Nurul melalui pertunjukan
tari di hadapan Ratu Juliana dari Belanda,
1939

195o-an

Berdirinya LPTB Susan Budihardjo


yang dirintis oleh desainer
Susan Budihardjo

Hadir Joyce Mouthaan yang merupakan


seorang ontwerper/creatur yang mengadakan
peragaan busana mode pertama di Jakarta

Lomba Perancang Mode (LPM) pertama


diselenggarakan oleh Majalah Femina, 1979

Munculnya Marion Glamour School,


sekolah modeling pertama
Kontes kecantikan pertama
di Indonesia
yang diadakan oleh Majalah Varia

197o-an

Berdirinya toko ritel busana Mickey Mouse


di Blok M yang menjadi cikal bakal ritel
modern Matahari Department Store, 1972

Berdirinya Asosiasi Pemasok Garmen


dan Aksesori Indonesia (APGAI), 1991

199o-an

Launching dan penandatanganan


kerja sama 4 Kementerian
(Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif, Kementerian
Perindustrian, Kementerian
Perdagangan, dan Kementerian
Koperasi dan Usaha Kecil
dan Menengah) untuk CETAK BIRU
Ekonomi Kreatif Mode Indonesia,
2013

Berdirinya Asosiasi Perancang Pengusaha


Mode Indonesia (APPMI), 1994

Bermunculannya
department store
seperti Metro, Sogo,
Seibu, Isetan, JC Penny's,
dan Harvey Nichols

2o13

Kreatif

Mode

Indonesia mulai diserbu


produk yang berasal dari RRT, 1995

Dadan Ketu, mendirikan Anonim,


distro pertama di Bandung, 1999

Ekonomi
Indonesia

2ooo-an

Masa puncak perkembangan distro


di wilayah Bandung
Diselenggarakannya Bali Fashion Week
(BFW) oleh Mardiana Ika, 2001

2o12
Pertama kali diselenggarakan
Indonesia Fashion Week (IFW)
oleh APPMI, 2012

Pertama kali dilaksanakannya


Jember Fashion Carnaval (JFC)
oleh Dynan Faris
di Jawa Timur bersamaan
dengan HUT
Kota Jember, 2003

Pia Alisjahbana merintis penerbitan


Majalah Femina
Munculnya tokoh-tokoh pelopor
mode Indonesia seperti Peter Sie
sebagai pelopor perancang
busana haute couture
Indonesia dan Nonkawilarang
Berdirinya gerai ritel pertama
, 1967

Gubenur DKI Jakarta Ali Sadikin


mencanangkan kursus mode yang
diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana
Wanita Indonesia (ISWI) yang kemudian
menjadi cikal bakal pendidikan formal
mode pertama di Indonesia, 1969

34

196o-an

Jakarta Fashion and Food Festival


pertama kali diselenggarakan oleh
PT. Summarecon Agung, Tbk., 2004

Kemunculan dari Iwan Tirta, Harry


Dharsono, Prajudi, Poppy
Dharsono dan Ramli yang telah
memberikan sinyal dalam dunia
mode Indonesia kepada dunia
internasional. gerai ritel pertama
Sarinah mulai diperkenalkan, 1967

2o1o

Pertama kali diselenggarakan


Jakarta Fashion Week (JFW)
oleh Femina Group, 2008

Penyelenggaraan Indonesia
Islamic Fashion Fair (IIFF)
pertama kali di Plaza Indonesia
oleh Indonesia Islamic Fashion
Consortium (IIFC ), 2010

Berdirinya Cita Tenun Indonesia


(CTI), 2008
Dibentuknya Perhimpunan
Ahli Perancang Mode
Indonesia (PAPMI) oleh
Gubernur DKI, Ali Sadikin

Diadakan Brightsport Market pertama kali,


2009

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

BAB 1 : Perkembangan Mode di Indonesia

35

36

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

BAB 2
Ekosistem dan Ruang
Lingkup Industri
Mode Indonesia

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

37

Koleksi Deden Siswanto


Sumber: Indonesia Fashion Week

2.1 Ekosistem Mode


2.1.1 Definisi Ekosistem Mode
Untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh dan mendalam mengenai industri mode,
perlu dilakukan pemetaan terhadap kondisi ideal industri mode. Kondisi tersebut merupakan best
practices di negara-negara industri mode yang sudah maju dan berdaya saing. Dalam pemetaan
ini, dijelaskan juga mengenai kondisi aktual dari industri mode di Indonesia untuk memahami
dinamikanya.
Pemahaman antara kondisi ideal negara maju dengan kondisi aktual di Indonesia dapat memberikan
gambaran mengenai kebutuhan dari industri mode nasional sehingga dapat berkembang dengan
baik. Hal ini dicapai melalui pertimbangan potensi (kekuatan dan peluang) dan permasalahan
(tantangan, kelemahan, ancaman, dan hambatan) yang dihadapi dalam mengembangkan industri
mode di Indonesia.
Ekosistem industri mode, yaitu sebuah sistem yang menggambarkan hubungan saling ketergantungan
(interdependent relationship) antar setiap peran di dalam proses penciptaan nilai kreatif dan dengan
lingkungan sekitar yang mendukung terciptanya nilai kreatif.
Untuk menggambarkan hubungan saling ketergantungan ini dibuat sebuah peta ekosistem yang
terdiri atas empat komponen utama:
1. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain)
2. Pasar - Konsumen, Audience, dan Customer (Market)
3. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment)
4. Pengarsipan (Archiving)
Keempat komponen ini mempunyai peran yang berbeda, namun saling berinteraksi dan membentuk
sebuah siklus dalam sebuah ekosistem subsektor industri mode yang dapat menghasilkan rantai
nilai kreatif secara berkelanjutan. Peta ekosistem subsektor mode adalah peta yang dibuat
dengan menggunakan pendekatan kondisi ideal atau modelling untuk menggambarkan bentuk

38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

sempurna industri mode secara komprehensif dan perkembangannya secara berkelanjutan.


Peta ini menggambarkan aktivitas yang terjadi pada setiap tahapan kreatif. Dalam hal ini, para
pelaku yang terlibat, dan keterkaitan antarkomponen dijadikan sebagai sebuah ekosistem secara
berkelanjutan sehingga mode dapat berkembang dalam konteks industri.

2.1.2 Peta Ekosistem Mode


A. RANTAI NILAI KREATIF
Rantai nilai kreatif (creative value chain) adalah rangkaian proses penciptaan nilai kreatif dengan
transaksi sosial, budaya, dan ekonomi yang terjadi di dalamnya. Pada setiap proses, terdapat
aktivitas utama, aktivitas pendukung, dan peran utama yang terkait. Pada umumnya, proses
dalam rantai nilai kreatif yang terjadi adalah kreasi-produksi-distribusi-komersialisasi.
Industri yang ada pada rantai nilai kreatif (creative value chain) meliputi: industri utama yang
merupakan penggerak dalam sektor industri kreatif dan industri pendukung (backward-forward
linkage industry) dalam proses pengembangan industri kreatif utama.

A.1.PROSES KREASI
Gambar 2-1 Proses kreasi subsektor mode

Proses kreasi sebagai awal dalam rantai nilai kreatif ekosistem


adalah kegiatan yang menunjukkan kemampuan untuk
mengembangkan ide-ide baru serta menemukan cara-cara
baru dalam melihat masalah dan peluang. Keberhasilan
kreasi menunjukkan sifat-sifat pengelolaan estetika (aesthetics
organizing), menemukan (inventing), mendorong batas
(boundary pushing), dan menembus batas (boundary breaking).
Hasil kreasi tertinggi adalah perpaduan kegiatan menemukan
(inventing) dan menembus batas (boundary breaking).

Contoh produk mode boundary breaking


Sumber: sarenza.co.uk

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

39

Gambar 2-2 Peta Ekosistem Mode

40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015 - 2019

Contoh produk mode boundary pushing dari Tex Saverio


Sumber: patriciaquintessence.blogspot.com

AKTIVITAS UTAMA DALAM PROSES KREASI


Rangkaian kegiatan dalam proses kreasi berawal dari riset untuk membentuk konsep, berlanjut
pada tahap inovasi, interpretasi, dan eksplorasi, kemudian dituangkan dalam desain dengan hasil
akhir berupa produk sampel.
a. Riset perubahan gaya hidup konsumen. Untuk mendukung kemampuan berkreasi,
sebagai tahap awal perlu dilakukan riset perilaku serta kecenderungan gaya hidup yang
telah dan sedang terjadi. Dimulai secara global dalam lingkup sosial, politik, ekonomi,
dan budaya dilanjutkan dengan tahapan berikut.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

41

menganalisis kecenderungan pola hidup saat ini melalui pengamatan lingkungan,


melalui media cetak, televisi, Internet maupun pameran/festival;

menganalisis kecenderungan tren dalam mode, arsitektur, interior, otomotif, desain


produk, dan aspek desain lainnya;

menganalisis informasi dan image;

menyintesis dan menemukan pola hidup mendatang;

membuat konsep, tema, orientasi, dan decoding.

Riset, analisis, dan sintesis ini menjadi acuan memprediksi perubahan gaya hidup dan
pola pikir konsumen. Perubahan ini kemudian diinterpretasikan dalam beberapa tawaran
tema dan menampilkan berbagai aspek baru, seperti: pemilihan bahan, penentuan warna,
wujud, dan siluet berpakaian. Konsep perubahan ini biasanya ditawarkan oleh institusi
tren internasional seperti Peclers Paris, Carlin International, StyleSight, WGSN, dan di
Indonesia diinisiasi oleh Indonesia Trend Forecasting. Informasi dari institusi tren tersebut
akan membantu penentuan konsep produk sesuai dengan musim yang akan datang.

Hasil decoding lembaga trend forecasting Peclers Paris


Sumber: holbrookstudio.com

b. Konsep produk berdasarkan tujuan pasar. Untuk mengetahui tujuan pasar, dilakukan
pemetaan perilaku konsumen dari sudut pandang demografi (jenis kelamin, rentang umur,
dan kelas sosial), geografi (kota, negara, dan musim), dan psikografi yang merupakan
kecenderungan penerimaan mode (avant garde/trend setter/pengikut mode aktif/pasif)
dan sikap dalam berpakaian (sporty casual, feminin romantic, sexy alluring, classic elegant,
excotic dramatic atau arty-off-beat).

42

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Ciri-ciri Sporty Casual


busana harus memberi kebebasan bergerak, praktis, dan nyaman;
bentuk kemeja, blus sportif, rok A-line, dan berbagai potongan celana;
bahan yang tidak mudah kusut, katun, denim, drill, dan kanvas;
tidak menyukai warna putih karena akan cepat kotor, lebih menyukai broken white, khaki,
dan warna netral lain;
make-up natural dan potongan rambut yang praktis mudah diatur;
identik dengan the American girl, gaya yang mendominasi pakaian ready-to-wear saat ini dan
disukai wanita dalam berbagai usia, warna kulit, dan ukuran tubuh.
Ciri-ciri Feminin Romantic
semua yang memberi kesan feminin;
gaun terusan, blus-blus manis, rok lebar dengan detail kerut, pita, bunga, dan renda;
bahan yang halus lembut seperti sutra, voile, sifon, dan batist;
motif bunga-bunga ala Laura Ashley;
warna pastel dan semua warna dalam nuansa lembut/tint;
make-up manis dengan rambut ikal, dibiarkan terurai atau digelung kecil ala Victorian, dan
disemat dengan bunga-bunga kecil.
Ciri-ciri Sexy Alluring
menyukai busana yang membentuk tubuh, ketat, menonjolkan keindangan tubuh;
bahan stretch, jersey, lycra, rajut, dan semua yang dapat membalut tubuh dengan pas;
warna merah merupakan warna utama di samping warna cemerlang lainnya;
motif bunga yang sensual, bentuk geometris yang kuat, dan semua yang dapat menarik perhatian;
make-up glamor dan rambut panjang digerai di satu sisi.
Ciri-ciri Classic Elegant
menyukai gaya tailor yang terkesan rapi dan elegan;
two pieces atau three pieces yang mudah dipadu-padan;
tidak menyukai busana dengan motif bunga dan lebih memilih motif geometris sederhana,
garis, dan kotak yang teratur;
tidak menyukai warna-warna yang terlalu terang atau berkesan kumal. Hitam dan krem adalah
warna kegemarannya selain abu, coklat, maroon, dan berbagai nuansa keunguan;
bahan yang tidak terlalu kaku atau tidak terlalu tipis, tidak suka membentuk tubuh. Kualitas
yang utama, bahan seperti wol, sutra dan berbagai olahan alam yang sempurna;
make-up secukupnya dengan potongan rambut praktis dan rapi;
menyukai aksesori dengan kualitas terbaik.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

43

Ciri-ciri Exotic Dramatic


mempunyai gaya sendiri, suatu gaya individual yang dapat dilihat dari berbagai elemen etnik,
seperti longgar, tumpuk, gaya sarung berpadu dengan gaya urban;
menyukai warna gelap dengan aksen warna cerah, terutama warna tanah dan warna-warna
musim gugur;
berbagai motif yang memberi kesan dramatis, berukuran besar dan artisitik etnik;
make-up natural;
Ciri-ciri Arty-off-beat
tampil dengan sesuatu yang tidak lazim;
bentuk pakaian yang dipadu-padan dengan tidak lazim;
perpaduan warna yang aneh, kuning oker dengan ungu anggur, biru langit dengan mustard
dan fuschia, dan sebagainya. warna gelap dengan aksen cerah;
perpaduan motif dan berbagai bahan bertekstur, seersucker, beledu emboss, renda kuno, motif
garis kapur, dan bunga-bunga besar.
make-up natural, perhatian dramatis pada mata atau bahkan tanpa make-up, rambut bisa panjang
ikal atau sangat pendek di-highlight.

Koleksi Putu Aliki yang bernuansa sporty casual


Sumber: Indonesia Fashion Week 2014

44

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Koleksi Biyan yang bernuansa feminin romantic


Sumber: art8amby.wordpress.com

Kolaborasi Hannie Hananto dan The Executive

Koleksi Sally Koeswanto yang bernuansa sexy alluring

menghasilkan koleksi bernuansa classic elegant

Sumber: oneporktaco.wordpress.com

Sumber: Indonesia Fashion Week

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

45

Koleksi Carmanita yang bernuansa exotic dramatic


Sumber: foto.okezone.com

Arty-off-beat, (Alm) Anna Piagi, fashion writer dari Majalah


Vogue Italia
Sumber: harpersbazaar.com

Selain pemetaan perilaku konsumen, perlu juga ditentukan konsep produk yang disesuaikan
dengan fungsi pakainya. Contoh fungsi pakai antara lain: casual wear, formal wear, occasional wear,
active sports wear, career wear, intimate/lingerie, maternity wear, dan masih banyak lagi. Uraian
tersebut dibutuhkan untuk menjadi dasar dari pembentukan karakter merek, ialah merek dagang
yang menunjukkan nilai dan keuntungan (keunggulan, keistimewaan, kualitas, dan kekuatan),
budaya, personalitas, dan sasaran pemasaran.
Konsep tema. Penyusunan konsep tema terbagi menjadi dua, yang pertama adalah tahap
persiapan, mencakup observasi dan pengumpulan informasi yang merujuk pada karya-karya
desainer favorit, lingkungan, selera pribadi, dan informasi trend forecasting. Tahap kedua adalah
tahap penyusunan yang dimulai dari konsep awal dan diterapkan menjadi gaya pribadi dalam
tema. Tema dapat bersifat konkret maupun abstrak yang melalui karakterisasinya akan menjadi
dasar dari perwujudan koleksi. Tema divisualkan dalam bentuk collage, gabungan image yang
dapat menggambarkan karakter, gaya, dan elemen desain yang akan terwujud.
a. Inovasi, eksplorasi, dan interpretasi merupakan tahap lanjutan setelah penentuan
konsep dan dapat dijelaskan sebagai berikut.
inovasi ialah suatu kemampuan untuk menerapkan solusi kreatif terhadap masalah
dan peluang untuk meningkatkan atau memperkaya kehidupan. Inovasi dapat
terbentuk melalui eksplorasi dan interpretasi;

46

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

eksplorasi dan interpretasi dilakukan melalui proses


pemahaman dan penemuan bahan, wujud, warna, serta
hubungan di antaranya sehingga dapat menghasilkan karya
eksperimen yang inovatif sebagai rujukan sampel produk
mode yang akan dibuat. Proses eksplorasi dan interpretasi
dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya mencari
bentuk baru, mengolah bahan, eksperimental teknik, dan
sebagainya;

Gambar 2-3 Contoh


Skema Proses Kreatif

b. Desain, proses intelektual yang secara kreatif menjawab masalah


dan peluang, bukan semata-mata indah (estetika) melainkan
memiliki kegunaan ( functional), ketahanan (endurable), nilai
ekonomis (economical), dan mudah ditangani (practical/easy to treat).
Sebagai ungkapan keindahan, desain adalah upaya mengelola berbagai
unsur seperti warna, bahan, siluet, teknik dan menerjemahkannya dalam
desain produk mode dengan memerhatikan prinsip harmoni, proporsi,
keseimbangan, dan pusat perhatian. Namun standar keindahan tidak
selalu sama berdasarkan prinsip yang dianut, hal tersebut berkembang
sesuai perubahan selera masyarakat. Misalnya, warna yang dianggap
harmonis dahulu adalah warna yang selaras/matching, namun saat ini
yang dianggap tren adalah yang bertabrakan, kombinasi warna yang
aneh, dan tidak lazim. Juga dalam keseimbangan, bentuk distorsi, dan
asimetris saat ini dianggap lebih modern.
Desain juga tidak semata-mata indah atau unik, tetapi harus fungsional. Hal ini menjadi jawaban
bagi pemecahan masalah. Secara fungsi desain bisa saja berputar balik menjadi alternatif pakai
baru, namun tetap berpegang pada nilai kegunaan. Desain juga harus mampu bertahan karena
mutu dan kemampuan pakai, mempunyai nilai ekonomis, yang relatif terjangkau, memiliki
kesesuaian antara produk dan harga jual, juga berpeluang sebagai nilai tambah secara ekonomi.
Produk desain sebagai produk terapan pastinya juga mempunyai nilai praktis, mudah ditangani,
seperti mudah dikenakan, disimpan, dan mudah dirawat.

Standar keindahan tidak selalu


sama berdasarkan prinsip yang
dianut, hal tersebut berkembang
sesuai perubahan selera
masyarakat.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

47

Casual mens wear karya 3D (Tri Handoko dan Dave Hendrik


Sumber: Indonesia Fashion Week 2013

Proses desain berawal dari konsep tema yang telah dipilih, dan mengacu pada hasil inovasi,
eksplorasi dan interpretasi kemudian disusun perwujudan koleksi yang terdiri atas berbagai desain
untuk atasan, bawahan, dan terusan, yang digelar dalam penampilan basic, kontemporer, dan
avant garde dalam berberapa seri koleksi, yang kemudian dipadupadankan menjadi coordinate
design (mix and match).

Mode kategori basic adalah desain yang memiliki kemampuan untuk bertahan lama.
Mode kategori kontemporer adalah desain yang menunjukkan aspek kekinian sesuai dengan
tren yang berlaku saat ini.
Mode kategori avant garde (garda depan) adalah desain yang menampilkan selera yang akan
datang dan memiliki nilai kebaruan yang unik

48

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Proses dan skema penyusunan koleksi mix and match dapat dicontohkan sebagai berikut.
Gambar 2-4 Contoh Skema Mix and Match

Tahapan proses penyusunan koleksi dapat dijabarkan sebagai berikut.


1. Inspirasi tema dan deskripsi dari inspirasi yang diambil; suasana yang terbangun, sifat,
dan karakter yang terungkap, akan menjadi batasan dan landasan pengolahan bentuk
selanjutnya. Penjelasan tema ini diperkuat dengan collage yang dibuat pada konsep awal.
2. Penjabaran suasana pengaruh untuk memudahkan mengembangkan inspirasi, langkah
selanjutnya adalah merinci dalam beberapa unsur yang membangun tema tersebut.
3. Menerjemahkan suasana pengaruh dalam unsur mode, bahan, warna, teknik, siluet, dan
detil. Hasil yang diperoleh dalam proses inovasi, eksplorasi, dan interpretasi menjadi
acuan pengembangan desain.
4. Berbagai ide yang muncul dikembangkan dan digabungkan dalam beberapa alternatif
serial desain.
5. Menyusun koleksi per seri desain dalam pilihan desain basic, kontemporer atau avant
garde untuk tops, bottoms, dan dresses.
6. Memadupadan koleksi per seri menjadi satu kesatuan karakter sebagai tawaran ungkapan
style sesuai tema.
Hasil akhir dari proses desain ini adalah desain koleksi dalam bentuk sketsa dan gambar teknis.
Sketsa akan memperlihatkan tampilan keseluruhan desain yang ditawarkan, sedangkan gambar
teknis atau gambar kerja adalah gambar yang menunjukkan detil desain yang dimaksud. Dalam
gambar teknis akan terbaca bagaimana proporsi, ukuran, detail, dan teknik yang dimaksud oleh
desainer. Contoh bahan, olahan bahan, contoh teknik atau pengayaan detil lain juga terlampir
bersama gambar teknis ini agar menjadi acuan tahap selanjutnya.

tim

Fashion illustrator
is one art form
interpreted by
another.
David Downton, fashion illustrator

Hasil dari keseluruhan proses kreasi berupa


desain koleksi yang dilengkapi dengan gambar
teknis ini bermuara pada pembuatan pola,
pemotongan, jahit, finishing termasuk olah
bahan (jika diperlukan) yang dikerjakan oleh
sample room sehingga terwujud gaya seutuhnya,
yang kemudian ditawarkan kepada pasar. Hasil
sampel dari proses kreasi ini pula yang biasanya
digunakan dalam proses promosi, baik berupa

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

49

pemotretan untuk ditawarkan ke buyer maupun


digunakan untuk peragaan busana.
Proses kreasi yang terjadi di subsektor mode
berlangsung terus menerus. Hasil dari kreasi adalah
desain bernilai inovasi yang merupakan jawaban
permasalahan. Setelah hasil kreasi masuk ke dalam
pasar, hal ini akan menjadi acuan untuk inovasi
berikutnya. 5
Menurut Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
(SKKNI), perancang mode atau disebut juga desainer
adalah pemain kunci dalam proses kreasi. Desainer
adalah seorang profesional di bidang mode yang
bertugas merancang dan membuat gambar-gambar
model (sketsa dan gambar teknis) dan pola yang
memenuhi standar estetika untuk sebuah busana
atau pakaian dan pelengkapnya. Desainer adalah
salah satu pihak yang memiliki peran besar karena
potensinya dalam kreativitas, keterampilan, cita rasa
seni, dan mampu memanfaatkan nilai-nilai estetika
dari sumber-sumber yang ada. Dalam menciptakan
suatu busana, desainer tidak hanya mengandalkan
kreativitas melalui konsep-konsep yang diciptakan,
tetapi juga harus memerhatikan kecenderungan
pasar dengan mengadakan uji pasar. Dalam proses
desain, desainer juga didampingi para stylist, yang
membantu mengembangkan ide desain dan membuat
eksperimental bahan dan bentuk, pembuat pola dan
penjahit serta tenaga ahli lain, misalnya pembordir,
pemasang payet, dan sebagainya untuk merealisasikan
sampel hasil kreasi.

The first version


of a garment
made in real
fabrics is called
the sample. It
is this garment
that goes on
the catwalk or
is shown to the
press. Samples
are generally
made to a
standard size 8
to 10 to fit the
models.
Sorger & Udale, 2006 5

Sebagai sebuah siklus, penciptaan kreasi di dalam industri mode berawal dari keterampilan dan
bakat dari para pelakunya. Kegiatan kreatif yang terkait dalam subsektor mode adalah kreasi
pakaian, kreasi alas kaki, kreasi aksesori, dan konsultasi lini produk mode yang melibatkan para
konsultan sebagai salah satu pelaku utama dalam proses kreasi.
Selain itu, yang juga berperan dan membantu dalam langkah awal adalah lembaga trend
forecasting yang membantu penentuan rantai kreasi untuk menciptakan konsep desain karena
melalui peramalan dapat diketahui aspek permintaan pasar yang akan berhubungan dengan
proses penciptaan desain busana.

(5) Richard Sorge & Jenny Udale. The Fundamentals of Fashion Design (Lausanne: Ava Pub, 2006), hlm 107.
50

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Pelaku-pelaku utama dalam proses kreasi dikategorikan menjadi:


1. Desainer, seorang profesional di bidang perancangan mode yang bertugas membuat
konsep, tema, merancang dan membuat sketsa, gambar teknis dan pola sesuai dengan
tren yang ditentukan.

Koleksi Lenny Agustin di Indonesia Fashion Week 2014


Sumber: Indonesia Fashion Week 2014

2. Lembaga trend forecasting, lembaga atau organisasi yang melalukan riset dan observasi
terhadap perubahan gaya hidup masyarakat dan menuangkannya dalam prognosa (peramalan)
tren mendatang dan menawarkan decoding desain untuk berbagai konsep produk.

Trend Forecasting Indonesia Milestone


Sumber: Indonesia Trend Forecasting

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

51

3. Konsultan, dalam hal ini adalah konsultan mode, merupakan pihak yang menciptakan
solusi kreatif atau memberi saran mengenai fashion item tertentu yang akan dikenakan
sesuai dengan kebutuhan individu atau kelompok.
4. Desainer/stylist sampling, seorang profesional di bidang perancangan mode yang bertugas
merancang dan membuat gambar-gambar model dan pola yang memenuhi standar estetika
untuk sebuah busana sampai memproduksinya menjadi produk sampling.
5. Tim eksperimen, pihak yang membantu desainer melakukan berbagai eksperimen yang
dibutuhkan, misalnya olah bahan, olah teknik, pewarnaan, eksperimen bentuk/draping,
desain hiasan, dan sebagainya untuk pengembangan produk sampling.
6. Tim produksi sampling, pihak yang bertanggung jawab atas proses produksi dari
kegiatan produksi sampling.
7. Tim finishing sampling, pihak yang mengawasi proses akhir dari sebuah proses produksi.
8. Tim pengendali mutu, pihak yang melakukan pemeriksaan sampel agar seluruh
sampel yang dibuat oleh perusahaan bebas dari cacat, kerusakan, penyimpangan atau
ketidaksesuaian baik model, mutu jahitan, ukuran, warna, dan lainnya.

AKTIVITAS PENDUKUNG DALAM PROSES KREASI


Proses kreasi adalah proses yang didominasi oleh para insan kreatif seperti desainer. Di dalam
sebuah proses kreasi, diperlukan kegiatan-kegiatan lain di luar pengembangan aktivitas utama
untuk mendukung jalannya proses kreasi yang mencakup:
1. Pemilihan tekstil, pengembangan tekstil, spesifikasi bahan, proses, bahan baku,
pengembangan motif, warna, dan serat yang dilakukan oleh lembaga riset seperti Balai
Tekstil, Balai Kulit, Balai Sepatu, dan Balai Besar Batik.
2. Pengembangan desain busana dan perlengkapannya melalui inovasi desain yang dilakukan
oleh siswa sekolah mode terutama dalam karya tugas akhir, lembaga pendidikan dan balai
pelatihan, dapat menjadi masukan bagi proses kreatif mode.
3. Pemahaman budaya dan sejarah dengan melakukan pemetaan terhadap sesuatu yang
ingin dilakukan, melakukan pengembangan, pelestarian, pemasaran, dan pemberdayaan
masyarakat tentang berbagai strategi. Di Indonesia, kegiatan-kegiatan ini dilakukan intensif
oleh beberapa pihak seperti Cita Tenun Indonesia, Dekranas, Yayasan Batik Nusantara,
Paguyuban Batik Nusantara, Persatuan Pecinta Batik, dan Ratna Busana.
4. Pemahaman pasar, observasi selera yang berlaku saat ini, riset perubahan pola pikir
masyarakat yang dilakukan oleh lembaga riset, media, dan lembaga trend forecasting dapat
menjadi dasar pengembangan produk mode.
Proses kreasi sebagai titik awal dan bagian paling utama dalam rantai nilai ekosistem mode dapat
berperan menghadirkan inovasi yang menjadi salah satu kekuatan daya saing. Di Indonesia,
proses kreasi lebih banyak menjadi satu kesatuan dalam perusahaan produksi, biasanya ditangani
oleh desainer atau sample room untuk kebutuhan awal proses produksi di perusahaan yang sama.
Pemain atau perusahaan yang berkegiatan secara khusus diproses kreasi, yang hanya menghasilkan
desain sebagai produk akhir untuk dipasarkan, dapat dikatakan hampir tidak ada. Kalaupun
ada, biasanya hanya dilakukan perseorangan dan berskala kecil.

52

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Sesungguhnya ini merupakan peluang usaha yang sangat baik, mengingat masih banyak perusahaan
produsen yang lemah pada sisi proses kreasi. Bagi banyak perusahaan, investasi di bidang proses
kreasi dianggap masih mahal dan belum dibutuhkan karena mudahnya mengakses desain dari
banyak sumber, misalnya melalui media cetak atau elektronik, baik dari hasil liputan peragaan
busana maupun karya merek internasional/terkenal. Namun akibat dari konsep follower ini, desain
yang dihasilkan menjadi kurang berdaya saing, terlalu banyak keseragaman, tidak mempunyai
kekhasan sehingga harus bersaing pada segi harga. Dengan demikian, kebutuhan desain yang
inovatif menjadi suatu solusi sekaligus membuka peluang bagi perusahaan yang dapat menjadi
outsource konsep kreasi.
Gambar 2-5 Skema Proses Produksi

Perusahaan dengan fokus proses kreasi dapat memberi


alternatif kepada produsen-produsen mode yang memiliki
titik lemah pada kreasi, terutama yang sebelumnya hanya
fokus dalam proses produksi dengan mengandalkan input
desain/kreasi dari pihak buyer. Salah satu pendukung
utama dalam proses kreasi adalah lembaga tren, yang
berfungsi untuk memberi informasi perubahan pola
pikir konsumen terutama dalam gaya hidup, dan
menawarkan inspirasi lokal dalam selera global sehingga
pelaku industri mode tidak terjebak menjadi sekadar
pengekor/follower sebagaimana yang saat ini terjadi.

A.2.PROSES PRODUKSI
Proses produksi merupakan tahapan kedua dalam
rantai nilai kreatif ekosistem subsektor mode yang
terdiri atas: praproduksi, produksi, dan pascaproduksi.
Jika di tahap kreasi hasil akhirnya adalah sample
produk, yang siap ditawarkan kepada buyer atau
siap untuk di produksi sesuai target market suatu
perusahaan, tujuan akhir dari proses produksi adalah
menghasilkan produk siap pakai, dalam jumlah
massal untuk didistribusikan ke berbagai tujuan
pasar. Penentuan jumlah produksi tergantung dari
model bisnis yang dipakai. Jika sampel dari hasil
kreasi ditawarkan lebih dahulu kepada buyer, jumlah
produksi berarti sesuai dengan PO (purchase order)
dari buyer. Jumlah produksi dapat pula ditentukan
oleh in-house merchandiser perusahaan, jika konsep
bisnisnya adalah pengadaan stok baru, kemudian
dipasarkan. Dari sampel yang dihasilkan oleh proses
kreasi maka dianalisis dan dibuat perkiraan target
penjualan untuk menjadi patokan penentuan jumlah
produksi.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

53

AKTIVITAS UTAMA DALAM PROSES PRODUKSI


Proses awal produksi melalui beberapa kegiatan dikenal sebagai praproduksi. Praproduksi meliputi
pembuatan sampel produksi, perhitungan biaya produksi (costing), dan perencanaan produksi.
1. Pembuatan sampel produksi. Setelah buyer atau fashion merchandiser memilih produk
yang diinginkan dari sampel yang ditawarkan, merchandiser production akan mencatat
seluruh perubahan yang diinginkan dalam Form Production Sample. Dalam form ini
akan mencatat informasi seperti: desain, jumlah, warna, bahan baku, dan size spec, cara
jahit, hasil akhir jahitan hingga cara peletakan wash care dan merek label.

Contoh technical page untuk sample


Sumber: winnierose-caceres.blogspot.com

Pantone Chart yang sering digunakan untuk panduan warna internasional


Sumber: denielleemans.com

54

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Pada beberapa usaha mode, form production sample bisa berupa technical page lengkap
dengan gambar teknis produk, contoh bahan hingga seluruh rinciannya. Setelah technical
page dikonfirmasi oleh buyer, merchandiser production akan berkoordinasi dengan bagian
sample production untuk membuat penyesuaian. Saat penyesuaian inilah biasanya
merchandiser production akan melakukan pemeriksaan ketersediaan bahan baku yang
akan digunakan. Jika jumlah pesanan belum diketahui saat ini, merchandiser production
akan memberitahukan langsung jumlah kapasitas produksi dengan bahan baku tersebut
ke buyer. Sampel produksi yang telah disesuaikan, kemudian dikirimkan ke buyer untuk
disetujui dan proses produksi selanjutnya pun bisa dimulai.
2. Perencanaan produksi. Sampel yang telah disetujui oleh buyer, kemudian akan dikirimkan
ke bagian perencanaan produksi yang biasa disebut sebagai Production Planner and
Inventory Control (PPIC)/ Production Planning Control (PPC). PPC kemudian akan
membuat perencanaan produksi berdasarkan pesanan
dari buyer. Perencanaan produksi terdiri atas:

Pattern
grading is
the scaling
of a pattern
to a different
size by
implementing
important
points of the
pattern using
an algorithm
in the clothing
and footwear
industry.

a. Pattern grading, berdasarkan rentang ukuran


yang dipesan oleh buyer. Pattern grading dapat
dilakukan saat pembuatan sampel. Tujuan dari
grading adalah untuk menciptakan pola dalam
ukuran standar yang berbeda yaitu besar, sedang dan
kecil atau ukuran standar lainnya (10, 12, 14, 16 dan
seterusnya). Pada umumnya kita dapat menemukan
pakaian yang sudah jadi dengan ukuran S, M, L,
XL, dan XXL.6
b. Marker making bertujuan untuk menentukan
panjang dan lebar (umumnya menggunakan satuan
ukur yard) bahan baku yang dibutuhkan untuk
setiap desain. Computer software dapat membantu
tim pengukur membuat tata letak bahan baku
yang pas sehingga dapat digunakan secara efisien.
Pengukuran dibuat sesuai dengan pola-pola yang
melekat pada bahan baku. Dari proses ini, produsen
dapat mengetahui seberapa banyak bahan baku yang
akan dibutuhkan.7
c. Persiapan dan pembelian bahan baku,
termasuk bahan baku utama dan bahan baku
pendukungnya. Jumlah bahan baku yang dibutuhkan
berdasarkan hasil perhitungan yang didapat melalui
proses marker biasanya ditambahkan 2-5% atau
lebih untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam proses produksi.

Sumber: wikipedia

(6) Proses Pembuatan Pakaian di Pabrik Baju. www.pabrikbaju,net. Tautan http://pabrikbaju.net/2012/04/11/


proses-pembuatan-pakaian-di-pabrik-baju/
(7) Ibid

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

55

3. Perhitungan biaya produksi merupakan salah satu bagian penting dalam proses praproduksi
karena akan menjadi dasar untuk penentuan harga jual produk. Perhitungan biaya ini
meliputi biaya tetap, biaya tidak tetap dan margin. Biaya tetap atau overhead adalah
pengeluaran tetap per bulan yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut seperti listrik,
air, telepon, upah tenaga kerja tetap, dan pengeluaran bulanan lainnya, termasuk biaya
promosi. Hitungan biaya overhead persatuan produk dengan cara: biaya bulanan tetap yang
dikeluarkan oleh pemilik usaha dibagi dengan jumlah produk yang mampu dihasilkan
per bulan. Pengeluaran tidak tetap meliputi seluruh bahan baku yang digunakan sesuai
desain dan kebutuhan serta upah pekerjaan yang biasanya dihitung persatuan/proyek
(untuk jasa cutting, sewing, pemasangan hiasan/kancing, trimming, hingga jasa packing
yang dihargai per item) biaya pengiriman. Berdasarkan kedua biaya ini, dapat diketahui
harga pokok produk tersebut sehingga dapat ditentukan persentase keuntungan. Namun
sebelum harga akhir/harga jual, perlu pula diperhitungkan margin yang harus di-share
sebagai biaya atau ongkos penjualan. Biasanya dihitung dalam bentuk persentase sebagai
bagian keuntungan untuk pihak penjual, baik departement store, butik, outlet maupun
chainstore dari pemilik merek itu sendiri.

Setelah melalui tahap praproduksi, proses dilanjutkan pada tahap produksi yang biasa disebut
sebagai bulk production/produksi dalam jumlah banyak dan dapat dibagi menjadi beberapa tahapan.
1. Cutting/pemotongan bahan baku utama dan pendukungnya. Dapat menggunakan mesin
potong yang sesuai dengan jenis bahan baku atau menggunakan teknik komputerisasi.
2. Sorting/bundling. Bahan baku yang telah dipotong kemudian dikelompokkan berdasarkan
ukuran, warna, dan kelompok desainnya. Pada beberapa usaha menggunakan alat bantu
seperti sticker/kapur jahit untuk memberikan tanda hasil potongan berdasarkan kelompoknya.

Salah satu contoh pabrik garmen ukuran besar


Sumber: sritex.co.id

56

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

3. Sewing adalah proses penggabungan hasil potongan melalui proses jahit hingga membentuk
produk jadi. Metode yang digunakan dalam sewing biasanya adalah metode ban berjalan
dengan menggunakan banyak operator mesin jahit (disebut juga tukang jahit), baik itu
mesin jahit biasa ataupun mesin obras dan sebagainya. Dalam proses ini, pengerjaan
sebuah produk terbagi dalam beberapa langkah, setiap langkah dikerjakan oleh setiap
operator/tukang jahit. Misalnya mulai dari operator yang menggabungkan/menjahit sisi,
operator lain hanya menjahit lengan kemudian ada bagian memasang lengan, yang lain
lagi hanya menjahit kerah dan seterusnya hingga pada akhirnya produk tersebut selesai
secara keseluruhan. Metode bab berjalan ini dapat digunakan juga dari awal proses
produksi hingga pengemasan produk akhir. Dalam proses sewing pihak produsen kelas
kecil sampai kelas menengah dapat memiliki tenaga outsourcing di luar tenaga in-house-nya
sendiri. Tujuannya selain untuk mempercepat proses produksi, juga agar mengefisiensikan
biaya produksi. Sedangkan untuk produsen skala besar, biasanya semua proses ini akan
dikerjakan oleh tenaga in-house-nya sendiri.
Gambar 2-6 Contoh proses ban berjalan produksi pakaian

Setelah tahap produksi dilaksanakan, akan dilanjutkan dengan tahap post-produksi sebagai berikut.
1. Pengendalian Mutu (Quality Control) yang berfungsi sebagai penjamin mutu produk
sebelum dikirim. Fungsi kontrol diterapkan pada beberapa bagian antara lain:
a. Kualitas bahan baku setelah produksi
b. Kualitas pola dan hasil cutting
c. Size spec sesudah sewing, washing atau ironing
d. Kualitas jahitan
e. Kualitas hasil akhir ironing atau washing (untuk beberapa produk yang mengalami
proses washing demi mendapatkan warna yang diinginkan)
f. Kualitas trimming dan pemasangan label.
Dalam proses quality control, buyer akan memberikan rentang toleransi ukuran yang
berkisar kurang lebihnya tergantung kesepakatan bersama antara buyer dan produsen,
terutama jika menggunakan bahan baku yang mudah susut/melebar.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

57

Parameter pengendalian mutu sebelum produksi dan pre-production adalah shade matching,
fabric construction, GSM (gram per meter persegi), shrinkage, kecocokan antara rib, collars,
dan cuffs, fabric holes, vertical & horizontal stripes, knitting defects (missing loops atau sinker
lines), bowing, dan noda. Parameter ini dapat berubah-ubah tergantung standardisasi
produsen dan buyer dalam setiap prosesnya.
2. Finishing, terdiri atas:
a. Trim atau trimming adalah aplikasi aksesori seperti kancing atau hiasan seperti payet/
mote/bordir/renda dan lainnya yang bersifat hanya dapat ditambahkan sesudah sewing.
b. Pemasangan identitas produk jadi seperti price tag dan hang tag.
c. Ironing dengan melakukan kontak langsung dengan alat pemanas atau menggunakan
steam iron penghasil uap panas.
Untuk memastikan produk tetap dalam kualitas prima, produsen dapat melakukan
quality control kembali.
3. Packing merupakan proses memasukkan produk yang sudah dikemas ke dalam kemasan
berdasarkan ukuran, warna, ataupun jenis produk untuk mencegah produk menjadi
kotor/rusak.
Pelaku-pelaku utama dalam proses produksi dapat dikategorikan menjadi:
1. Merchandiser Production atau sering disebut MD di industri mode memiliki tanggung
jawab untuk memastikan suatu order yang diberikan oleh buyer. Seperti desain pakaian,
cara jahit dan hasil jahitan harus sesuai dengan technical page yang diberikan oleh buyer.
Untuk memastikan ini, MD harus berkoordinasi dengan bagian sampel. Selain itu, MD
juga harus memastikan bahwa segala material (fabrics dan trims) memiliki kualitas yang
sesuai dengan standar buyer. Untuk memastikan ini, MD atau bagian purchasing harus
mencari supplier yang sesuai dan mengirimkan contohnya kepada buyer untuk disetujui.
Setelah itu, bagian merchandiser melakukan koordinasi dengan produksi bagian cutting,
sewing, finishing, dan juga quality control.
2. Production Planning and Inventory Control (PPIC) atau Production Planning
Control (PPC) yang memiliki tanggung jawab untuk membuat perencanaan produksi
atau konsumsi seperti membuat detail order berdasarkan informasi dari merchandiser,
membuat perencanaan konsumsi material, dan merencanakan kebutuhan bahan baku.
Bagian planning atau perencanaan juga bertugas membuat dan menggandakan dari detil
pemesanan yang diberikan oleh buyer melalui tim marketing.
3. Pattern maker, bertanggung jawab untuk membuat pola sampling dan melakukan grading
sesuai dengan standar ukuran busana yang berlaku.
4. Marker maker, bertanggung jawab menggandakan pola, serta menyusun panel untuk
mengoptimalkan efisiensi penggunaan bahan baku.
5. Cutters adalah yang biasa disebut sebagai tukang potong. Bertanggung jawab atas proses
fabric cutting sesuai dengan pola ataupun marker yang dibuat.
6. Production sample, bertanggung jawab untuk membuat produk sampel sebelum masuk
ke bagian produksi.
7. Operator mesin, baik itu mesin jahit, mesin obras, mesin bordir, ataupun mesin lainnya.
8. Quality Control (QC), adalah tim pengendali mutu.

58

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Proses pembuatan pola


Sumber: blogs.saic.edu

9. Craftsmen di industri mode biasa disebut sebagai tukang pasang aksesori (kancing/
payet/lainnya), adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian pekerjaan tangan yang
membutuhkan ketelitian tersendiri.
10. CMT (Cutting-Making-Trimming) adalah jenis usaha yang hanya mengerjakan proses
cutting, making hingga trimming.
11. OEM (Original Equipment Manufacturing) adalah jenis usaha yang memiliki kegiatan
membuat komponen produk yang dijual kepada buyer. Kemudian, buyer tersebut membuat
produk yang menggunakan komponen dengan mengeluarkan merek perusahaannya.
12. ODM (Original Design Manufacturing) adalah jenis usaha yang merancang dan
memproduksi produk yang kemudian diberi merek oleh perusahaan lain untuk dijual.
13. OBM (Original Merek Manufacturing) adalah jenis usaha yang menjual produk dan
komponen yang dibuat oleh perusahaan lain dan diakui sebagai produk bermerek milik
sendiri.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

59

Fashion is not created by


a single individual but by
everyone involved in the
production of fashion, and thus
fashion is a collective activity.
Yuniya Kawamura, Fashion-ology

60

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Kegiatan produksi yang dilakukan oleh para pelaku industri mode di Indonesia berskala sangat
beragam. Mulai dari mikro hingga industri besar, hanya terpaku pada proses produksi untuk
memenuhi permintaan ekspor yang tidak banyak melibatkan proses penciptaan konsep kreasi.
Pada saat ini, pemerintah dan pelaku industri mode terus berupaya untuk memajukan ekonomi
daerah dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis lokal dengan menyusun program-program
yang dapat bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan konsep ekonomi
kreatif, misalnya Akademi Komunitas dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

AKTIVITAS PENDUKUNG DALAM PROSES PRODUKSI


Dalam proses produksi, ada beberapa aktivitas pendukung yang dilakukan di samping aktivitas
utama, di antaranya:
1. Persiapan logistik. Pemeriksaan bahan baku di dalam perusahaan garmen dapat disebut
inspeksi kain. Proses inspeksi kain diawali dengan relaksasi kain untuk mengurangi
penyusutan akibat efek tarikan saat kain pertama kali digulung. Setelah relaksasi, kain
akan diperiksa apakah ada noda atau cacat untuk mengurangi tingginya angka kegagalan
produk akibat cacat di bahan baku.
2. Penentuan line of production. Setiap produk dapat memiliki jenis line of production yang
berbeda sesuai dengan tahapan pengerjaan proses produksi, atau seringkali dikenal
dengan istilah ban berjalan.Semakin rumit proses pengerjaan, semakin panjang pula line
of production, yang otomatis akan memengaruhi harga jual produk tersebut.
3. Penentuan tenaga kerja, akan dikerjakan secara keseluruhan di dalam suatu perusahaan
(in-house), atau dibantu oleh perusahaan lain/jobber (outsourcing).
4. Pemasti mutu untuk mengawasi produk mode yang akan diekspor. Umumnya kebutuhan
untuk pemasti mutu datang dari buyer dengan menggunakan lembaga pemasti mutu
seperti Sucofindo atau Bureau Varitas.

Proses inspeksi kain


Sumber: oeko-tex.com

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

61

A.3Proses Distribusi
Gambar 2-7 Proses Distribusi
Subsektor Mode

Proses distribusi secara umum mencakup kegiatan yang bertujuan


untuk mempermudah penyampaian barang dari produsen kepada
konsumen atau dengan kata lain, sebuah aktivitas yang mampu
menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi pemasaran dan
memperlancar arus saluran pemasaran tersebut.
Distribusi adalah salah satu aspek dari pemasaran. Distribusi
juga dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang berusaha
memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan
jasa dari produsen kepada konsumen sehingga penggunaannya
sesuai dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan
saat dibutuhkan). Seorang atau sebuah perusahaan distributor
adalah perantara yang menyalurkan produk dari pabrikan atau
manufaktur kepada pengecer atau retailer. Setelah suatu produk
dihasiklan suatu pabrik, produk tersebut dikirimkan (dan biasanya
juga dijual) ke suatu distributor. Distributor tersebut kemudian
menjual produk tersebut atau pelanggan yang merupakan proses
pengadaan produk untuk dikonsumsi oleh konsumen akhir atau
business user secara langsung ataupun tidak langsung dengan
perantara.8

AKTIVITAS UTAMA DALAM PROSES DISTRIBUSI


Pihak-pihak yang terlibat dalam subsektor mode harus mampu
mengembangkan mereknya seperti membina kemitraan,
mempresentasikan koleksi, mengelola proses produksi, dan
mengembangkan sistem distribusi. Desainer dapat membuat suatu
rancangan dengan menampilkan hasilnya saat mengomunikasikan
produk kepada para buyer dan merchandiser perusahaan lain. Hal
ini membuat desainer harus mengamati pola distribusi terhadap
produk busana bagi sejumlah konsumen sehingga dapat menjadi
input dan sumber informasi dalam mengembangkan modelmodel produk berpotensi yang disukai konsumen tersebut. Proses
distribusi ini juga tentunya bernaung kepada asosiasi distributor
pada pelaksanaannya.
Jenis jaringan distribusi yang biasa dipakai untuk produk mode:
1. Wholesale adalah jenis kegiatan pendistribusian kepada para retailer atau industri,
institusional, atau pengguna komersial melalui buying agent atau trader. Dalam praktiknya
sekarang, wholesaler dapat menjual kepada konsumen akhir atau end consumer dalam
jumlah besar.

(8) Distribution. www.wikipedia.org. Tautan http://en.wikipedia.org/wiki/Distribution_%28business%29

62

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

2. Retail melalui merchandiser akan menghubungkan langsung produsen sebagai pihak


yang mendistribusikan produk dengan konsumen akhir, seperti department store, mall,
fashion outlet, ataupun online store.
Istilah wholesale dan retail juga merupakan istilah yang umum digunakan dalam proses penjualan.
Pelaku utama dalam proses distribusi:
1. Fashion Merchandiser bertanggung jawab pada kegiatan pengadaan barang secara
terus menerus dengan melakukan jual beli produk. Dalam perusahaan yang melakukan
transaksi penjualan retail kepada konsumen akhir, seperti departemen store ataupun mal,
Fashion Merchandiser (MD) berhubungan dengan supplier dalam upaya pengadaan
barang. Seorang MD bertanggung jawab untuk memilih produk yang tepat dengan
jumlah tertentu dan menentukan penyebarannya sesuai wilayah department store/toko/
butik/outlet yang ada. Dalam praktik penjualan seorang MD juga akan bekerja sama
dengan visual merchandiser yang bertanggung jawab dalam kegiatan penataan produk/
attractive display untuk toko/outlet/butik.
2. Buying Agent, pada umumnya memiliki tanggung jawab yang sama, bertanggung jawab
melakukan kegiatan jual beli produk. Namun, buying agent hanya membeli produk untuk
dijual kembali kepada buyer, melalui berbagai aktivitas promosi seperti ikut serta dalam
pameran dagang, penjualan melalui katalog atau ke butik, department store dan desainer.
Jadi, sasaran penjualan bukan kepada konsumen akhir. Buying agent atau dikenal juga
dengan istilah trading company, dapat dikatakan sebagai perantara antara produsen dengan
buyer. Penanggung jawab juga disebut sebagai fashion merchandiser (MD). Namun tanggung
jawab MD di trading company ini adalah membantu mencari produk yang dibutuhkan
buyer, atau sebaliknya, dan menjembatani seluruh proses hingga distribusi.
Pada kenyataannya, perusahaan distribusi produk mode di Indonesia masih banyak memasarkan
merek-merek luar negeri dibandingkan merek lokal, misal: Mitra Adi Perkasa dan lainnya.
Perusahaan perusahaan ini umumnya memegang hak distribusi dari merek internasional dan
membuka butik untuk merek-merek tersebut di mal-mal terkemuka di Indonesia. Hal ini sangat
disayangkan karena pada akhirnya jika kita ke mal-mal yang ada terutama di kota-kota besar.
Dominasi merek internasional ini akan ada di premium area seluruh mal sehingga menyebabkan
tejadinya keseragaman. Sesungguhnya beberapa perusahaan skala besar (Matahari, Ramayana,
dan lainnya) dan perusahaan skala menengah (Delami Mereks, Contempo Group, PT Warna
Mardhika, dan lainnya) sudah berusaha memenuhi permintaan pasar mode Indonesia, namun
upaya ini baru memenuhi 40% dari daya serap pasar. Kurang bersaingnya merek nasional ini akibat
proses supply chain yang panjang karena masih mengandalkan material impor dan belum didukung
oleh infrastruktur penunjang yang cukup baik. Permendag No. 70 Tahun 2013 telah menerapkan
peraturan bahwa pelaku ritel harus mengusung produk lokal sebanyak 80% di tempatnya. Melalui
peraturan ini diharapkan peran pelaku ritel dalam mendukung jaringan distribusi produk lokal
dapat meningkat. Terlebih dengan akan masuknya era pasar bebas, dukungan dalam bentuk
memberi peluang sebesar-besarnya bagi produsen untuk memperluas jaringan distribusinya
dengan membuka butik/outlet di area premium di mal akan sangat membantu.

AKTIVITAS PENDUKUNG DALAM PROSES DISTRIBUSI


Beberapa kegiatan yang merupakan aktivitas pendukung dalam proses distribusi, dan yang
merupakan aktivitas utama dalam proses penjualan.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

63

A.4Proses Penjualan
Gambar 2-8 Proses Penjualan Subsektor Mode

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Setelah melalui proses kreasi, produksi dan distribusi, seluruh produk mode akhirnya mengalami
proses penjualan sebelum dapat digunakan oleh konsumen akhir. Pada awalnya produk mode
dapat ditemui di seluruh tempat, berisi dengan produk yang dipajang dan melibatkan interaksi
langsung antara penjual dan pembelinya. Namun dengan berkembangnya era Internet di dunia,
penggunaan saluran baru ini akhirnya dapat menjadi salah satu kanal yang patut diperhitungkan
dalam proses penjualan.

AKTIVITAS UTAMA DALAM PROSES PENJUALAN


Beberapa jenis kanal yang biasa digunakan dalam distribusi ataupun penjualan produk mode,
secara wholesale atau ritel , dan didukung oleh asosiasi penjualan, dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Trade Event atau pameran dagang merupakan sebuah kegiatan yang diadakan di tempat
khusus untuk buyer. Sistem penjualan di trade event ini bersifat pesanan dari sampel produk
yang dipamerkan dalam area ekshibisi dan dihadiri oleh buyer yang merupakan wholesaler,
retailer, ataupun distributor. Keberadaan trade event berskala internasional menjadi salah
satu indikator utama dari perkembangan industri mode di sebuah negara karena trade
event merupakan ajang pertemuan bisnis antara produsen dan buyer. Jenis transaksi yang
terjadi di dalam trade event tidak bersifat statis (hanya terhitung selama penyelenggaraan),
tetapi juga bersifat progresif, atau memiliki potensi peningkatan nilai transaksi sesudah
penyelenggaraan trade event selesai. Hal inilah yang menyebabkan negara-negara industri
mode yang maju biasanya sudah memiliki trade event khusus mode sendiri. Seperti Pret a
Porter dan Whos Next di Perancis, Bread and Butter di Jerman, WWD Magic di Amerika
Serikat, Hong Kong Fashion Week di Hong Kong, Japan Fashion Week di Jepang, BIFF
& BILL di Thailand.

Koleksi Ali Charisma di Hong Kong Fashion Week


Sumber: Dok. Ali Charisma

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

65

Trade event umumnya diselenggarakan 2 kali setahun. Pertama untuk pameran koleksi spring
summer dan yang kedua untuk pameran koleksi autumn winter. Trade event juga memiliki spesifikasi
produk tertentu, ada yang menampilkan produk fashion secara keseluruhan, ada yang khusus
untuk pria, atau khusus aksesori, khusus produk anak, khusus produk kulit, dan sebagainya.

Bread & Butter Trade Event


Sumber: warriorsofdesire.com

Trade Event Indonesia Fashion Week


Sumber: Dok.Indonesia Fashion Week 2012

66

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

2.

Pameran ritel diadakan di tempat umum dan terbuka untuk umum dengan menjual
produk yang dapat dibeli langsung oleh konsumen akhir. Pameran ritel diadakan dalam
jangka waktu tertentu dan umumnya mempunyai tema yang disesuaikan dengan hari raya
atau musim tertentu. Misalnya holiday season, chrismast fair, lebaran fair, dan sebagainya.

3. Trunk Show adalah sebuah pentas seni peragaan busana (pakaian, alas kaki, atau aksesori)
yang memiliki fokus pada penjualan dan tidak dibuka untuk umum (hanya untuk buyer).
Trunkshow yang biasa digelar dalam penyelenggaraan pekan mode memainkan peran penting
dalam menyebarkan mode dan budaya dan menjadi tempat penting untuk mengetahui
perkembangan terbaru mengenai tren mode. Penyelenggaranya akan mendatangkan
beragam retailer dan buyer, termasuk dari department store untuk bertransaksi langsung
dengan desainer. Kegiatan pameran yang diselenggarakan di ajang trunk show ini selain
mampu meningkatkan penjualan dari hasil rancangan para desainer, juga dapat menarik
perhatian dari para calon buyer yang memiliki prospek untuk membeli dan memperluas
jaringan.
4.

Fashion show adalah sebuah pentas seni peragaan busana, bisa pakaian, alas kaki, atau
aksesori yang diadakan oleh desainer secara individu atau kelompok seperti department store.
Fashion show hanya untuk undangan (tamu-tamu pilihan dari desainer/penyelenggara)
atau dibuka untuk masyarakat umum. Fashion show dapat berkaitan dengan promosi
penjualan, dapat juga untuk image mereking atau dikaitkan dengan charity dan perayaan
lainnya.

5. Fashion week adalah acara yang diadakan


dari kalangan industri mode, biasanya
berlangsung beberapa hari dalam seminggu,
yang menampilkan karya terbaru dari
desainer dan pemilik rumah mode dalam
sebuah pergelaran. Acara ini dihadiri oleh
buyer dan media untuk melihat tren yang
sedang berlaku saat itu. Konsep awal fashion
week adalah sebuah pekan mode, dengan
beberapa rumah mode di sebuah kota yang
menggelar fashion show secara bersamaan
(hanya berbeda hari/jam penyelenggaraan).
Namun dalam perkembangannya, fashion
week dapat berupa 2 macam, antara lain:
a. Fashion week ya ng memilik i
kegiatan trade event dan fashion
show di dalamnya. Contoh: Hong
Kong Fashion Week di Hong Kong,
Japan Fashion Week di Jepang, dan
Indonesia Fashion Week di Indonesia.
b. Fashion week yang hanya diisi
dengan berbagai macam pergelaran
busana, seperti: Paris Fashion Week
di Perancis, Milan Fashion Week di
Italia, dan Jakarta Fashion Week
di Indonesia.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

Karya Desainer di Jakarta Fashion Week


Sumber: ashioncentral.asia

67

6.

Katalog/Buku adalah sarana bagi penjual yang menyajikan informasi detil mengenai
produk, seperti harga dan fitur produk, disertai foto produk dalam rangka mendorong
penjualan. Namun, katalog/buku dapat juga menjadi salah satu media penjualan dengan
metode distribusi melalui keagenan.

7.

Social media, sebuah media online, para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi
dan berbagi, serta menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, forum, dan dunia virtual.9
Banyaknya pengguna social media dimanfaatkan bagi sejumlah produsen atau distributor
untuk menjadi sarana penjualan yang efektif. Mudah, cepat dan sangat luas jaringannya.

Diana Rikasari, Fashion Blogger Indonesia


Sumber: cottonink.blogspot.com

8. E-commerce/Daring merupakan suatu media untuk melakukan penjualan yang mengandalkan


akses internet. Saat ini aktivitas penjualan melalui e-commerce/daring menjadi alternatif
favorit baru, baik dari sisi penjual maupun pembeli karena metode ini memudahkan transaksi
pembelian/pemesanan yang dapat dilakukan dari lokasi mana pun, dan kapan pun tanpa
harus mengunjungi toko. Dalam e-commerce, proses pembayaran dapat dilakukan dengan
metode provisioning, seperti transfer melalui ATM/sms banking/internet banking, melalui
kartu kredit, atau melalui akun seperti PayPal. Saat ini, media daring seperti social media
dan e-commerce/daring menjadi salah satu channel penjualan terbaik untuk menangkap
target pasar dari generasi muda yang melek teknologi.
9. Distribution Outlet atau distro adalah jenis toko yang menjual pakaian dan aksesori yang
dititipkan oleh pembuat pakaian yang diproduksi sendiri. Distro berkembang pesat di
Bandung, diawali dengan kelompok penggemar musik yang menjual suvenir produk mode
(9) Media Sosial. www.wikipedia.org. Tautan http://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial

68

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

sebagai dukungan grup musik yang didominasi anak muda, kemudian berkembang menjadi
lebih khusus menjual produk mode. Sasaran pasar utamanya adalah anak-anak muda.
10. Factory Outlet merupakan istilah yang dipakai toko yang khusus menjual produk sebuah
pabrik, biasanya merupakan produk dengan merek terkenal. Pada awalnya, factory outlet
letaknya berdekatan dengan pabrik (biasanya di pinggir kota) dan hanya menjual barang
sisa ekspor/sisa produksi pabrik tersebut. Namun pada perkembangannya sekarang, factory
outlet telah menjadi toko yang menjual berbagai macam merek, tidak hanya produk satu
pabrik saja, tetapi juga dari berbagai macam produsen, dan berlokasi di tengah kota.
11. Showroom, adalah ruang atau tempat yang digunakan untuk memamerkan suatu produk
dengan tujuan menampilkan koleksi dari merek tertentu yang akan dijual. Showroom
umumnya didesain sedemikian rupa sehingga mampu menampilkan konsep image merek
dan tema yang ditawarkan dalam kurun waktu tertentu.
12.

Department Store merupakan toko serba ada yang menjual barang eceran dari berbagai
macam merek yang menjual pakaian, sepatu, tas, parfum, dan kebutuhan gaya hidup
lainnya. Dapat berlokasi di dalam sebuah pusat perbelanjaan/mal atau berdiri sendiri.
Beberapa departement store berskala besar memiliki lantai khusus untuk produk mode
perempuan, laki-laki, anak-anak, dan produk peralatan rumah tangga. Departement store
dapat terbagi dalam beberapa kelas berdasarkan rentang harga jual produknya.

13.

Specialty Store atau umum disebut sebagai butik adalah toko pengecer yang menjual
merek tertentu dengan jumlah terbatas. Pelaku mode yang tidak menjual produknya di
departement store, umumnya memiliki butik yang letaknya sama dengan workshop.

14.

Merek endorser, adalah individu yang mendapatkan insentif dari merek, baik bersifat
tangible/uang dan intangible/bukan uang, dalam menyampaikan berita baik tentang
suatu merek.10

15. Merek ambassador, adalah individu pemakai merek yang sangat menyukai produk tersebut
sehingga mereka dengan sukarela mau merekomendasikannya kepada orang lain11.

16. Media cetak/elektronik, adalah jenis dari media massa yang merupakan media informasi
di masyarakat. Media cetak dapat berupa majalah, surat kabar atau tabloid, sedangkan
media elektronik dapat berupa televisi atau radio.
Para pelaku industri mode di Indonesia sudah mulai melakukan pengembangan bisnis dengan
mengadakan acara-acara komersial di dalam dan luar negeri secara intensif, seperti trade event,
pameran retail, trunk show, dan fashion show. Hal ini dilakukan agar pelaku industri mode dapat
meningkatkan nilai jual dari merek dagang/produk yang dimilikinya, yang serta merta dapat
mengembangkan bisnisnya.
Pelaku utama dalam proses penjualan.
1. Sales Promotion Boy (SPB)/Sales Promotion Girl (SPG) adalah istilah yang umumnya
terdapat pada penjualan ritel atau yang menjual produk mode langsung kepada konsumen.
2. Manajer Penjualan/Marketing Manager adalah pihak yang bertanggung jawab melakukan
penjualan wholesale kepada pihak buyer.
(10) Mana Sahabatmu, SBY. Amalia E.Maulana, 2011. Tautan http://amaliamaulana.com/blog/mana-sahabatmu-sby/
(11) Ibid.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

69

B. PASAR
Pasar (Market) adalah pihak yang mengapresiasi produk mode dan memiliki karakteristik pasar
yang berbeda dibandingkan dengan industri kreatif lainnya, dipengaruhi oleh ruang lingkup
substansinya, meliputi:
1. Konsumen khusus atau dapat disebut juga audience yaitu pihak yang menikmati kegiatan
yang menampilkan produk mode, seperti peragaan busana, dan dapat dibedakan menjadi
dua: audience umum yang menikmati penampilan produk mode hanya dengan kepekaan
indrawi, dan audience ahli yang menikmati kegiatan dan menampilkan produk mode
dengan pengetahuan khusus.
a. Audience umum biasanya berasal dari masyarakat. Untuk kalangan kelas menengah
ke atas contohnya adalah kaum sosialita.
b. Audience ahli memiliki peran vital dalam perkembangan industri mode karena
audience ahli dapat menciptakan wacana, kritik, dan kurasi yang dapat meningkatkan
kualitas dari produk mode serta meningkatkan kualitas pemahaman dari pasar
terhadap kreativitas. Umumnya berasal dari kalangan media (redaktur atau jurnalis
di media mode), akademisi, atau researcher yang telah memiliki pengalaman dan
keahlian khusus dalam industri mode.
2. Konsumen umum, yaitu konsumen yang merupakan target pasar dari ruang lingkup
ready-to-wear, merupakan orang yang membeli ataupun menggunakan produk mode
untuk kepentingan dirinya sendiri.

C. LINGKUNGAN PENGEMBANGAN (NURTURANCE ENVIRONMENT)


Setelah memahami keseluruhan komponen rantai nilai kreatif yang merupakan proses utama
dalam ekosistem industri mode, pembahasan akan dilanjutkan kepada komponen lingkungan
pengembangan yang memengaruhi keseluruhan proses utama dan terdiri atas dua komponen besar.

C.1.APRESIASI
Apresiasi merupakan tanggapan terhadap produk/merek mode, pelaku mode, serta proses penciptaan
nilai kreatif di bidang mode yang menstimulasi peningkatan kualitas.
Apresiasidapatdilihatdariduasudutpandang:
1. Apresiasi oleh pasar (konsumen, audience, dan customer) adalah kegiatan yang dapat
ditunjukkan dari konsumsi serta tanggapan pasar terhadap produk/merek, orang, dan
proses kreatif. Apresiasi ini dapat ditingkatkan melalui proses peningkatan literasi
masyarakat terhadap kreativitas.
2. Apresiasiterhadappelaku (orang), produk/merek, dan proses kreatif adalah kegiatan
yang dapat berupa penghargaan, pemberian insentif, dan apresiasi terhadap HKI (Hak
atas Kekayaan Intelektual) Apresiasi ini dapat ditingkatkan dengan mengomunikasikan
orang serta karya kreatif tersebut kepada masyarakat.
Dengan adanya kegiatan apresiasi yang baik, para pelaku di industri mode akan terdorong untuk
terus berkreasi dan berinovasi.
Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) adalah hak eksklusif yang diberikan suatu hukum atau
peraturan kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. Menurut UU yang telah

70

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

disahkan oleh DPR-RI pada tanggal 21 Maret 1997, HKI adalah hak-hak secara hukum yang
berhubungan dengan permasalahan hasil penemuan dan kreativitas seseorang atau beberapa orang
yang berhubungan dengan perlindungan permasalahan reputasi dalam bidang komersial (commercial
reputation) dan tindakan/jasa dalam bidang komersial (goodwill).12 Hak eksklusif tersebut diberikan
atas penggunaan hasil pemikiran pencipta dalam kurun waktu tertentu. Dalam subsektor mode,
hal tersebut tertuang dalam desain yang digunakan dalam kepentingan komersial sehingga HKI
dalam industri ini dapat dilihat dari perihal merek dagang. Pasal 3 Undang-Undang No. 15 Tahun
2001 tentang merek, mengatur cara untuk melindungi suatu hak cipta yang dapat melindungi
ekspresi dari suatu gagasan atau ide. Pasal tersebut menyatakan bahwa hak atas merek adalah
hak eksklusif yang diberikan negara kepada pemilik yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek
sehingga pemiliknya mendapat hak yang dilindungi oleh hukum. Desainer sebagai pencipta, atau
pihak lain sebagai pemegang hak cipta yang sah, dapat mendaftarkan karya ciptanya di Direktorat
Jenderal HKI, agar kepemilikannya bersifat legal sehingga apabila ada pihak lain atau kompetitor
mengklaim karya tersebut, pemiliknya mudah untuk membuktikannya secara hukum.
Selain itu, kegiatan apresiasi dapat berupa pemberian penghargaan kepada seluruh pelaku mode.
Kegiatan pemberian penghargaan tersebut dapat diberikan oleh pemerintah, asosiasi, institusi
maupun media kepada para pionir mode, tokoh mode, produsen mode, baik secara kualitas dan
kuantitas, serta desainer yang memiliki kemampuan desain dan produksi yang baik.
Apresiasi dapat berbentuk literasi terhadap dunia mode yang terdiri atas:
1. Literasi Spesifik, melibatkan peran tenaga pendidik dan tokoh mode;
2. Literasi Umum, penerapannya dapat dimulai dari pendidikan anak usia dini, pendidikan
dasar, pendidikan tingkat menengah, pendidikan tingkat lanjut dan pendidikan tingkat
tinggi.
Keseluruhan hal tersebut dapat terintegrasi dalam kurikulum pendidikan nasional. Lebih lanjut,
tahap apresiasi yang telah dibahas di atas juga terkait dengan industri media yang terkait dengan
review mode dan kritik mode.
Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan di industri mode yang dihadiri oleh masyarakat, terutama dari
kalangan menengah ke atas merupakan salah satu tanda bahwa apresiasi di bidang mode sudah
mulai berkembang di Indonesia. Namun masih dalam batasan memerhatikan dan menikmati
secara indra.
Selain itu, media massa juga sudah mempunyai peranan yang cukup penting dalam menumbuhkan
apresiasi masyarakat terhadap perkembangan subsektor mode, bahkan dalam media nonmedia
massa seperti media sosial ataupun fashion blog. Apresiasi terhadap produk maupun merek dapat
juga meningkatkan nilai ekonomi produk/merek tersebut.
Di Indonesia, kehadiran dalam pameran ataupun peragaan busana sudah menjadi salah satu
bentuk apreasi. Namun masih dalam porsi menikmati ataupun memerhatikan. Kalaupun ada,
porsinya masih tidak lebih banyak dibandingkan apresiasi masyarakat terhadap produk/merek
(12) Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Dhika Augustyas, 2012. Tautan https://dhiasitsme.wordpress.com/2012/03/31/
hak-atas-kekayaan-intelektual-haki/

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

71

luar negeri. Bagi sebagian masyarakat, produk/merek asing lebih dapat menaikkan image. Oleh
karena itu, masih dibutuhkan berbagai bentuk program apresiasi yang dapat meningkatkan nilai
penjualan produk/merek tersebut.

C.2.PENDIDIKAN

Fashion Show karya murid-murid ESMOD


Sumber: kevinaulia.blogspot.com

Pendidikan adalah proses pembelajaran yang meliputi peningkatan pengetahuan, keterampilan,


sikap dan perilaku yang sangat berpengaruh pada penciptaan orang kreatif. Kegiatan pendidikan
ini meliputi (1) pendidikan formal, yaitu pendidikan di sekolah yang diperoleh secara teratur,
sistematis, bertingkat, dan mengikuti syarat-syarat yang jelas; (2) nonformal, yaitu pendidikan
di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; dan (3)
informal, yaitu pendidikan yang diperoleh dari keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan
belajar secara mandiri.
Pendidikan membantu perkembangan industri mode dalam rangka menciptakan tenaga kerja
terlatihnya, serta memberikan kesempatan kepada penyedia pelatihan dan pendidikan mode
untuk mengetahui pelaku-pelaku yang memiliki potensi dalam subsektor mode. Keberadaan
pendidikan mode di Indonesia memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangannya.
Jenis pendidikan mode di Indonesia dibedakan menjadi tiga:
1. Pendidikan desain adalah pendidikan yang memilki fokus materi pengajaran mulai dari
berpikir kreatif, pengenalan warna dan bentuk dan elemen desain, pembuatan konsep,
inovasi bentuk hingga penyusunan koleksi. Pendidikan ini ditunjang oleh keterampilan
teknis lain, menggambar mode mulai dari anatomi tubuh, gambar teknis hingga ilustrasi.
Dalam pendidikan desain, materi teknis konstruksi pola dan menjahit menjadi materi
72

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

pengajaran utama, walaupun bukan sebagai ahli pola dan jahit namun pengetahuan
ini tetap mutlak diperlukan sebagai fondasi dalam pengembangan desain. Selain itu,
manajemen bisnis dan penentuan target pasar dalam hingga perancangan busana juga
diberikan sebagai penunjang.
2. Pendidikan teknis adalah pendidikan yang memiliki fokus materi pengajaran mulai dari
pembuatan pola hingga teknis menjahit dan pengoperasian alat-alat jahit, penyesuaian
sifat bahan dengan teknologinya, pengolahan berbagai teknik pengayaan seperti bordir,
payet, dan sebagainya. Dalam pendidikan teknis, pendidikan desain dan pendidikan
manajemen bisnis tetap diajarkan, namun dalam kapasitas pengetahuan dasar. Sebagian besar
lembaga pendidikan mode di Indonesia memiliki pendidikan teknis di level tailor-made.
Sedangkan untuk pendidikan teknis khusus industri, terutama yang telah menggunakan
teknologi terbaru, sistem pengerjaan membentuk line of production, sampai saat ini hanya
bersifat sewaktu-waktu dan diberikan saat pelaku sudah terjun langsung di industri besar.
3. Pendidikan manajemen bisnis adalah pendidikan yang memiliki materi pendidikan
desain dan teknis, namun memiliki fokus pada ilmu pengelolaan manajemen, usaha,
dan kewirausahaan sebagai aspek komersial. Materi lain yang diberikan adalah konsep
pemasaran, strategi pemasaran mulai dari penentuan harga hingga mereking. Di Indonesia,
pendidikan manajemen bisnis di lembaga pendidikan formal masih belum banyak.
Pendidikan mode yang sifatnya akademik secara umum terbagi menjadi dua:
1. Pendidikan formal seperti Sekolah Menengah Kejuruan (3 tahun), Diploma (1 tahun
untuk D1, 2 tahun untuk D2, dan 3 tahun untuk D3), Sarjana (5 tahun), dan Pasca
Sarjana (2 tahun untuk S2 dan S3).
2. Pendidikan nonformal seperti seminar, kursus, pelatihan, dan workshop.
Adapun skema pemberian materi pendidikan pada jenjang sekolah menengah dan sekolah tinggi
adalah pada tahun-tahun pertama, siswa diajarkan pengetahuan desain, teknis, dan manajemen
bisnis dasar/umum; lalu baru di tahun-tahun akhir dilakukan penjurusan yang lebih mendalam
hingga akhirnya dapat menghasilkan fashion designer yang kompeten di bidangnya.
Sedangkan untuk pendidikan jenjang pascasarjana (S2 dan S3), siswa diharapkan mampu
melakukan kajian ataupun penelitian ilmiah yang dapat mengaitkan beberapa variabel yang ada
dalam industri mode.
Pendidikan dalam industri mode diharapkan dapat memiliki standar kompetensi profesi yang
akan menghasilkan sumber daya manusia terdidik dan terlatih. Walaupun pada kenyataannya,
kurikulum pendidikan mode di Indonesia memang belum sesuai dengan kebutuhan industri dari
segi bisnis. Pendidikan mode masih dianggap sebagai pendidikan yang tidak berkaitan dengan
konsep, namun lebih kepada praktik kerja. Kurangnya lembaga pendidikan di jenjang pascasarjana
maupun tenaga pendidik yang bergelar tersebut harusnya tidak menjadi penghalang untuk
lebih memahami konsep dan kondisi mode di Indonesia. Selain itu, lembaga pendidikan mode
di Indonesia masih berfokus pada penciptaan produk jadi pakaian. Produk jadi seperti sepatu,
tas, ataupun aksesori lainnya belum menjadi bagian dari materi pengajaran di lembaga-lembaga
tersebut. Umumnya, pelaku mendapatkan pengetahuannya secara autodidak.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

73

Lebih lanjut, dalam dunia pendidikan mode terdapat kajian mode yang melibatkan balai riset,
balai pelatihan, dan laboratorium serta studi banding.

Decoding tema Adroit dari Indonesia Trend Forecasting: Re+Habitat 2015/2016 karya murid sekolah mode
Sumber: Dok. Ivana Tanos

PENGARSIPAN
Komponen yang terakhir adalah pengarsipan (archiving), yang merupakan aktivitas pendukung dari
kegiatan apresiasi dan pendidikan, serta terdiri atas tahapan pengumpulan-restorasi-penyimpananpreservasi secara sirkuler. Tujuan dari proses pengarsipan ini adalah sebagai media yang dapat
diakses oleh publik untuk mendapatkan informasi dan data terkait industri mode. Akses ini dapat
digunakan oleh pelaku industri mode sebagai sumber inspirasi maupun oleh masyarakat sebagai
media literasi. Arsip juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran di lembaga pendidikan.
Tahapan pengumpulan dapat dilakukan dengan menggunakan metode serupa citizen journalism,
dengan seluruh kalangan (baik pemerintahan, akademisi, asosiasi, industri/dunia usaha, komunitas,
hingga masyarakat umum) yang dapat memiliki akses untuk melakukan proses input pengarsipan.
Data-data berupa tulisan ataupun gambar yang telah di-input tersebut kemudian dapat diverifikasi
keabsahannya oleh tim editor untuk dipublikasikan.
Tahap restorasi hanya dilakukan apabila dokumen atau hal yang perlu diarsipkan tersebut sudah
mengalami kerusakan atau ketidaksesuaian sehingga perlu dilakukan proses perbaikan tanpa
mengubah nilai atau makna aslinya sebelum dilakukan proses penyimpanan dan preservasi.
Luasnya industri mode dengan banyaknya pelaku, baik individu maupun perusahaan menyebabkan
kondisi di dalam ekosistem subsektor mode akan menjadi sangat dinamis. Siklusnya mengalami
variasi yang beragam sehingga proses pengarsipan di industri mode banyak dilakukan oleh desainer,

74

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

lembaga trend forecasting, konsultan, dan pelaku industri garmen, terutama yang berkaitan dengan
rantai nilai kreatif (creative value chain), dan media.

ASOSIASI
Dalam ekosistem subsektor mode, asosiasi-asosiasi mempunyai peranan yang cukup penting
sebagai wadah untuk mengumpulkan para pelakunya dan memengaruhi setiap komponen rantai
nilai dalam ekosistem tersebut. Berikut adalah asosiasi di dalam industri mode yang terbagi
menjadi empat kelompok:
1. Asosiasi Profesi/Produksi
a. APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia)
b. IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia)
c. APGAI (Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia)
d. APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia)
e. APGAPINDO (Asosiasi Pengusaha Gaun Pengantin dan Perlengkapan Indonesia)
f. PTI (Perhimpunan Tailor Indonesia)
g. APRISINDO (Asosiasi Persepatuan Indonesia)
h. IIFC (Indonesia Islamic Fashion Consortium)
i. IPBM (Ikatan Perancang Busana Muslim)
2. AMIN (Asosiasi Merek Indonesia) Asosiasi Distribusi
a. APRINDO (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia)
b. ARDIN (Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distrbutor Indonesia)
c. AFI (Asosiasi Franchise Indonesia)
3. Asosiasi Penjualan
a. ASPERAPI (Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia)
4. Asosiasi Pendidikan
a. IWAPI (Ikatan Wanita usaha Indonesia)
b. ISWI (Ikatan Sarjana Wanita Indonesia)

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Mode


2.2.1 Peta Industri Mode
Peta industri adalah peta yang secara garis besar menggambarkan hubungan antarpelaku dan
entitas usaha yang membentuk industri utama, mulai dari proses kreasi hingga penjualan; serta
pelaku dan entitas (industri) pendukung yang memberikan suplai (backward linkage) ataupun
yang memberikan permintaan (forward linkage) kepada industri utama mode.
Industri mode yang kerap dinamis dan terus mengikuti perubahan masyarakat sekitar mengakibatkan
banyaknya industri mode yang dipengaruhi olehnya, hingga industri-industri utama di bidang
ekonomi kreatif lain seperti desain, seni pertunjukan, periklanan, teknologi informasi, penerbitan,
televisi dan radio, film, seni rupa, penelitian dan pengembangan, fotografi, video, permainan
interaktif, animasi, hingga musik.
BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

75

Dalam peta industri ini, pembahasan mengenai keterkaitan tersebut akan dibahas secara lebih detil.

Koleksi Ali Charisma dalam underwater photography oleh Benjamin Von Wong
Sumber: darkbeautymag.com

A. PELAKU INDUSTRI DALAM PROSES KREASI


Sebelum proses kreasi dimulai, penciptaan produk mode dimulai dari industri backward linkage
seperti:
1. Industri tekstil yang berkaitan dengan busana merupakan industri yang tercakup dari
pengolahan bahan baku menjadi serat, benang, dan kain. Jenis-jenis industri tekstil dapat
dibagi berdasarkan bahan baku (seperti katun, linen, dan rayon) dan cara pengolahannya
(seperti weaving dan knitting). Industri tekstil di Indonesia masih berfokus pada penciptaan
bahan baku untuk keperluan industri besar, baik lokal maupun ekspor.
2. Industri kerajinan tekstil lebih menekankan proses kreasi, produksi, dan distribusi
yang dihasilkan oleh tenaga pengrajin sehingga jumlah produksinya relatif lebih sedikit
(bukan produksi massal). Contoh hasil produksi industri ini adalah kain batik, sutra dan
tenun dari produksi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
3. Industri riset dan pengembangan. Tren produk tekstil diperkirakan akan lebih
mengembangkan value-added product. Oleh karena itu, kemajuan industri ini melalui riset
dan pengembangan untuk mengantisipasi perubahan pasar dan kemajuan teknologi di
bidang tekstil harus ditingkatkan karena subsektor mode akan sulit bersaing tanpa adanya
riset dan pengembangan. Asosiasi Industri Tekstil di Indonesia juga telah mendukung
kemajuan ini dengan melakukan program pelatihan, sertifikasi, dan penempatan bidang
industri garmen yang dilakukan oleh Balai Pengembangan SDM dan Balai Diklat Industri.

76

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Gambar 2-9 Peta Industri Mode

BAB 2 : Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

77

Sedangkan industri forward linkage mengarah kepada industri penerbitan dan percetakan buku
mode. Buku mode yang merupakan hasil dari proses riset yang terjadi dalam proses kreasi berisi
ide dan konsep mengenai tahap awal dalam pembuatan produk mode yang juga didukung oleh
beberapa industri lainnya, seperti: jasa fotografi mode, jasa desain grafis, dan jasa percetakan.
Proses riset mode yang salah satunya akan menghasilkan trend forecasting memiliki industri
forward linkage seperti industri musik, film, animasi, periklanan, percetakan dan penerbitan,
fotografi, video, televisi dan radio, desain, hingga arsitektur dalam kegiatan-kegiatannya (dari
penciptaan hingga promosi/sosialisasi).Namun dalam perkembangannya, pelaku-pelaku yang
hanya memiliki entitas usaha di proses kreasi tidaklah banyak. Usaha yang bergerak di bidang
kreasi biasanya juga memiliki kegiatan produksi dan distribusi, dan beberapa memiliki hingga
kegiatan penjualan.

B. PELAKU INDUSTRI DALAM PROSES PRODUKSI


Di dalam proses produksi, manajer produksi
memegang peranan penting di industri mode.
Beberapa industri backward linkage yang
mendukung proses produksi sebagai core
industries:
1. Industri perlengkapan dan peralatan
potong jahit merupakan industri yang
memproduksi mesin jahit, seperti mesin
jahit high speed, mesin jahit obras, mesin
jahit lubang kancing, mesin jahit pasang
kancing, mesin potong, dan gunting listrik.
2. Industri perlengkapan dan peralatan
pengendali mutu merupakan industri
yang menyediakan perlengkapan untuk
pengendalian (control) produksi, seperti
setrika uap, mesin trimming, mesin relaksasi
kain, dan mesin pemeriksa kain.

Fotografi mode

3. Industri manekin merupakan industri yang


memproduksi patung manekin, yaitu sosok
tubuh atau patung menyerupai manusia,
baik dari segi bentuk badan, kaki, tangan,
kepala, bahkan wajahnya dapat serupa
dengan wajah manusia aslinya.

Sumber: haoss.org

4. Industri teknologi jahit merupakan industri yang menjual teknologi (baik software ataupun
hardware) sebagai pendukung peralatan jahit yang sudah terkomputerisasi.
5. Industri bahan pelengkap meliputi industri yang memproduksi bahan pelengkap produk
busana, penggunaannya sebagai hiasan (aksesori) atau yang memiliki nilai guna bagi
pemakainya.

78

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Jenis benang bordir


Foto: Dresy Christina

Selain kelima industri di atas, ada juga industri tekstil dan industri kerajinan tekstil yang menjadi
backward linkage industry di proses kreasi.
6. Jasa pengendali mutu merupakan pihak yang melakukan pemeriksaan sampel agar
seluruh sampel yang dibuat oleh perusahaan bebas dari cacat, kerusakan, penyimpangan
atau ketidaksesuaian, baik model, mutu jahitan, ukuran, warna, dan lain sebagainya.
Contohnya: Bureau Veritas, Succofindo, dan masih banyak lagi.
Dilanjutkan dengan forward linkage industries dalam proses produksi sebagai berikut.
1. Industri perbankan merupakan bagian dalam industri jasa keuangan, dalam hal ini
disebut bank.
2. Industri keuangan nonbank merupakan bagian dalam industri jasa keuangan, dalam hal
ini mencakup asuransi, dana pensiun, simpan pinjam, dan lembaga keuangan lainnya.
3. Jasa konsultan bisnis dan manajemen merupakan pihak lain yang ruang lingkupnya
memberikan masukan terhadap masalah yang berhubungan dengan bisnis dan manajemen.
4. Jasa konsultan dan bantuan hukum merupakan pihak yang menangani konsultasi hukum,
bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan
tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien.
Keempat forward linkage industry di atas juga menjadi bagian dari proses kreasi, produksi, distribusi,
dan penjualan di industri utama.

C. PELAKU INDUSTRI DALAM PROSES DISTRIBUSI


Dalam proses distribusi, subsektor mode didukung oleh beberapa pihak terkait. Banyak produsen
menggunakan perantara untuk membawa produknya ke pasar. Saluran distribusi ini berfungsi
sebagai perantara agar produk dapat digunakan dan dikonsumsi oleh konsumen atau pengguna
industri yang lain, serta melibatkan peran aktif buying agent dan merchandiser. Dalam saluran
distribusi, perantara yang membeli dalam jumlah cukup banyak untuk kemudian disalurkan ke
retailer, disebut wholesaler, retailer tersebut menyalurkannya kembali kepada konsumen akhir.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

79

Tak hanya harus memperkuat sistemnya, kekuatan tim distribusi di subsektor mode juga harus
diperhatikan. Peran media massa, yaitu media cetak, media elektronik serta media sosial yang
berkaitan juga dengan proses penjualan diyakini menjadi pendukung paling penting agar segala
informasi mengenai tren terbaru tentang mode dapat diketahui oleh masyarakat luas. Promosi
mengenai kreativitas subsektor mode perlu disampaikan secara massal kepada masyarakat sebagai
salah satu bentuk apresiasi. Pada era digital seperti sekarang, sindrom mengenai media sosial
dirasakan oleh setiap orang. Pola hidup masyarakat sudah tergantung pada keberadaan media
sosial . Banyaknya media sosial yang muncul seperti jejaring sosial maupun blog menjadi saluran
komunikasi massal yang efektif. Fungsi media sosial saat ini juga semakin meluas. Tak hanya
digunakan sebagai sarana publikasi dan pemasaran, media sosial juga dapat digunakan sebagai
sarana pemesanan dan jual beli serta dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan konsumen.
Hadirnya fashion blogger/blogger maupun para perancang busana yang memiliki akses ke jejaring
sosial menjadi alternatif favorit bagi para pelaku industri mode ini untuk mempromosikan
karyanya kepada masyarakat.
Industri-industri backward linkage yang terkait dalam proses distribusi:
1. Industri pengemasan, merupakan industri yang bergerak pada kegiatan pengemasan
produk yang siap dikirimkan kepada konsumen.
2. Industri pengangkutan darat, laut dan udara, merupakan industri yang menyediakan
jasa pengangkutan barang di darat, laut dan udara yang sering disebut sebagai forwarder.
Selain memberikan jasa pengiriman, pihak forwarder biasanya juga memberikan layanan
pembuatan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, terutama untuk produk-produk mode
yang akan dikirimkan ke luar negeri (ekspor). Contoh dokumennya:
a. Certificate of Origin (COO), merupakan dokumen yang dikeluarkan oleh Kementerian
Perdagangan dan bersifat memvalidasi bahwa produk yang tercantum adalah asli
dibuat di Indonesia. Pada beberapa negara, COO menjadi sebuah keharusan bagi
pelaku industri mode yang ingin mengirimkan barangnya tanpa harus membebani
si pembeli dengan nilai pajak tinggi. COO terdiri atas 2 jenis, Form A dan Form B,
tergantung dari negara tujuan ekspor.
b. PEB atau Pemberitahuan Ekspor Barang adalah dokumen pabean yang digunakan
untuk memberitahukan pelaksanaan ekspor barang. PEB dibuat oleh eksportir atau
kuasanya dengan menggunakan software PEB secara online. Barang yang akan diekspor
wajib diberitahukan ke Kantor Bea dan Cukai dengan menggunakan PEB ini. PEB
diajukan untuk memperoleh respons Persetujuan Ekspor (PE). Barulah kemudian
PE digunakan sebagai surat jalan untuk memasukkan barang ekspor ke kawasan
pabean/kawasan dalam pengawasan bea cukai yang dipersiapkan untuk ekspor.13
c. Asuransi hingga dokumen yang terkait dengan kebutuhan di bea cukai Indonesia
ataupun negara tujuan.
3. Jasa pengiriman barang, yaitu pihak yang bertanggung jawab atas pengiriman barang
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

(13) Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). www.exim.web.id. Tautan http://www.exim.web.id/2009/04/pemberitahuan-ekspor-barang-peb.html

80

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Beberapa jenis forward linkage industries dalam proses distribusi adalah industri perbankan,
industri keuangan nonbank, jasa konsultan bisnis dan manajemen, serta jasa konsultan dan
bantuan hukum. Dalam proses distribusi, industri perbankan memegang peranan penting dalam
penerbitan Letter of Credit atau sering disingkat menjadi L/C, LC, atau LOC, adalah sebuah cara
pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa menunggu
berita dari luar negeri setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan keluar negeri (kepada
pemesan).14 Selain L/C, industri perbankan juga menyediakan pembukaan rekening mata uang
asing untuk memperkecil biaya tukar akibat perbedaan mata uang.

Karya Ardistia New York, desainer Indonesia yang memulai kariernya di Amerika
Sumber: Dok. Indonesia Fashion Week 2012

D. PELAKU INDUSTRI DALAM PROSES PENJUALAN


Selain melalui jalur online yang sedang menjadi tren saat ini, jalur offline sebagai sarana penjualan
masih menjadi cara utama untuk menjual karya pelaku subsektor mode. Produk mode adalah
produk yang berwujud dan dinikmati secara visual sehingga pameran (exhibition) dan pergelaran
busana (fashion show) sering dilakukan secara berkala sebagai ajang apresiasi sekaligus penjualan.
Individu yang menawarkan suatu produk dalam suatu proses penjualan retail disebut sales person,
atau dalam penjualan wholesale menggunakan istilah lain.
Seluruh kegiatan penjualan yang diadakan dengan skala besar atau nasional adalah salah satu
contoh bahwa keberhasilan industri mode akan semakin nyata berkat kerja sama yang terintegrasi
dengan backward linkage industries, yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Industri media merupakan industri yang bergerak di bidang media informasi di masyarakat.
Media cetak bisa berupa majalah, surat kabar atau tabloid, sedangkan media elektronik
bisa berupa televisi atau radio. Di Indonesia, industri media memiliki peran penting karena

(14) Letter of Credit. www.wikipedia.org. Tautan http://id.wikipedia.org/wiki/Letter_of_credit

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

81

dapat memberikan informasi yang bersifat pembelajaran untuk masyarakat umum dan
apresiasi terhadap para pelaku industri mode.
2. Industri perlengkapan pameran dan panggung merupakan pihak yang menyewakan
perlengkapan untuk kebutuhan pameran dan panggung seperti lighting, kursi, meja, rak
display, hingga papan nama. Dalam industri mode, industri perlengkapan pameran dan
panggung ini berkaitan erat dengan jasa kontraktor.
3. Industri periklanan merupakan industri yang terkait dengan penciptaan atau penggunaan
pengetahuan dan informasi untuk diolah menjadi hal yang menjadi daya tarik bagi yang
melihat, membaca atau mendengarnya. Industri ini berkaitan erat dengan industri media.

Contoh Iklan Koleksi Danjyo Hiyoji dan Nikicio


Sumber: homelesslongitude.com

4. Industri percetakan dan penerbitan merupakan industri yang terkait dengan penulisan
konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta
kegiatan kantor berita.
5. Industri musik merupakan salah satu dari bagian industri kreatif yang memiliki fokus
pada penjualan komposisi, rekaman, dan pertunjukan musik.
6. Industri MICE merupakan singkatan dari Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition,
yang dalam industri pariwisata atau pameran merupakan jenis kegiatan pariwisata yang
biasanya dilakukan oleh kelompok besar dan direncanakan dengan matang untuk suatu
tujuan tertentu.15 Industri ini mampu memberikan multiplier effect yang sangat besar
terhadap industri-industri lainnya, salah satunya adalah industri mode dan pariwisata.
7. Industri Internet merupakan industri yang menyediakan infrastruktur jaringan internet dan
penyedia layanan Internet. Industri ini menjadi penting karena mampu menghilangkan
keterbatasan jarak dan waktu dalam upaya pengembangan industri mode.

(15) MICE. www.wikipedia.org. Tautan http://id.wikipedia.org/wiki/MICE


82

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Selain tujuh industri di atas, industri perbankan, industri pengangkutan darat, laut dan udara
menjadi bagian dari industri backward linkage.
1. Jasa event organizer merupakan penyedia jasa profesional penyelenggara acara. Besar dan
kecil jasa event organizer sangat bervariasi jumlahnya di Indonesia.
2. Jasa kontraktor merupakan badan/lembaga/orang yang mengupayakan atau melakukan
aktivitas pengadaan, baik berupa barang maupun jasa yang dibayar dengan nilai kontrak
yang telah disepakati.
3. Jasa agency model merupakan pihak yang menyediakan jasa model untuk kebutuhan
peragaan busana atau pemotretan.
4. Jasa make-up dan hair styling merupakan pihak yang menyediakan jasa tata rias wajah
dan rambut, yang juga dapat memberikan nilai tambah bagi koleksi yang diperagakan
dalam fashion show.
5. Jasa video dan fotografi merupakan jasa yang menawarkan pendokumentasian kegiatan
dalam bentuk digital, yaitu video dan foto. Di industri mode Indonesia, yang biasanya
membuka usaha jenis ini adalah fotografer/videografer yang pernah bekerja di industri
media mode. Selain karena memang sudah memiliki jaringan, mereka juga memiliki
pengalaman yang dibutuhkan oleh industri mode saat melakukan usahanya. Perkembangan
yang terjadi, jasa ini tidak sekadar jasa dokumentasi biasa, tetapi juga dari segi artistik
dan fashion.

Fotografi mode karya Alex AB


Foto: Firman Ichsan

6. Jasa music director dan koreografer. Music director adalah orang yang bertanggung
jawab atas tata suara, sedangkan koreografer adalah orang yang bertanggung jawab atas
koreografi/rancangan gerakan model di atas panggung. Biasanya koreografi digunakan
untuk mengatur gerakan tari, namun dalam perkembangannya koreografi juga digunakan

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

83

dalam olah raga (senam, ski, dan pemandu sorak) hingga seni serta musik (opera dan
marching band).
7. Jasa pengiriman barang merupakan industri yang bergerak atas pengiriman barang sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
Proses penjualan juga dapat dihubungkan dengan forward linkage industry-nya:
1. Industri seni pertunjukan merupakan sebuah industri yang memiliki fokus pengembangan
pada karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu
tertentu, yang melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh seniman, dan hubungan
antara seniman dengan penonton.
2. Industri film merupakan industri media komunikasi yang bersifat audio visual untuk
menyampaikan suatu pesan kepada individu atau kelompok yang berkumpul di suatu
tempat tertentu.

Industri film sebagai forward linkage industry bagi industri mode


Sumber: hdwallpaper.in

3. Industri pariwisata merupakan kumpulan usaha pariwisata yangsaling terkait dalam


rangka menghasilkan barang dan/atau jasabagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dalam
penyelenggaraanpariwisata.16 Kegiatan industri mode seperti trade event dapat menyumbang
nilai ekonomi yang cukup tinggi bagi industri pariwisata karena biasanya trade event akan
(16) Lihat UU Tentang Pariwisata No. 10 tahun 2009

84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

didatangi oleh desainer dan buyer internasional. Sumbangan nilai ekonominya akan berasal
dari hotel, penerbangan, hingga kunjungan ke pusat wisata di Indonesia.
Selain itu, industri perbankan, industri keuangan nonbank, industri transportasi darat, laut,
dan udara, jasa konsultasi bisnis dan manajemen serta jasa konsultan dan bantuan hukum juga
menjadi bagian dari forward linkage industries.
Selanjutnya, seluruh proses rantai kreatif akan berhubungan dengan venue yang merupakan
wadah proses penjualan. Venue tersebut dapat berupa trade event, showroom, katalog/buku,
e-commerce, dan media elektronik.
Venue dapat berhubungan dengan forward linkage industries seperti industri perbankan, industri
keuangan nonbank, industri pariwisata, jasa konsultasi bisnis dan manajemen, dan jasa konsultan
dan bantuan hukum.

Batik Solo sebagai inpirasi tren


Sumber: Dok. Indonesia Trend Forecasting

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Mode


Menurut pendekatan KBLI (Kualifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) tahun 2009 yang
dikeluarkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), ruang lingkup usaha mode dalam hubungannya
antara core industries, backward industries dan forward industries, untuk subsektor ekonomi kreatif
termasuk dalam beberapa golongan kategori/kode klasifikasi disajikan dalam tabel di bawah ini.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

85

Tabel 2-1 KBLI (Kualifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) 2009 Industri Mode

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

13922

INDUSTRI BARANG JADI TEKSTIL SULAMAN


Kelompok ini mencakup usaha barang jadi tekstil sulaman, baik yang dikerjakan
dengan tangan maupun dengan mesin, seperti pakaian/barang jadi sulaman dan
badge.

14111

INDUSTRI PAKAIAN JADI (KONVEKSI) DARI TEKSTIL


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan pakaian jadi (konveksi) dari tekstil/
kain (tenun maupun rajutan) dengan cara memotong dan menjahit sehingga siap
dipakai, seperti kemeja, celana, kebaya, blus, rok, baju bayi, pakaian tari dan pakaian
olahraga, baik dari kain tenun maupun kain rajut yang dijahit.

14112

INDUSTRI PAKAIAN JADI (KONVEKSI) DARI KULIT


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan pakaian jadi (konveksi) dari kulit atau
kulit imitasi, dengan cara memotong dan menjahit sehingga siap pakai, seperti jaket,
mantel, rompi, celana dan rok. Termasuk pembuatan aksesori pakaian dari kulit
seperti welders leather aprons atau pakaian kerja tukang las dari kulit.

14120

PENJAHITAN DAN PEMBUATAN PAKAIAN SESUAI PESANAN


Kelompok ini mencakup usaha penjahitan dan pembuatan pakaian sesuai pesanan
yang melayani masyarakat umum dengan tujuan komersial.

14131

INDUSTRI PERLENGKAPAN PAKAIAN DARI TEKSTIL


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan perlengkapan pakaian jadi (konveksi)
tekstil dan dari kain dengan cara memotong dan menjahit sehingga siap dipakai,
seperti topi, peci, dasi, sarung tangan, mukena, selendang, kerudung, ikat pinggang,
syal, bando, dasi tuksedo, dan lain-lain, baik dari kain tenun maupun kain rajut yang
dijahit. Termasuk industri alas kaki dari bahan kain tanpa sol dan bagian-bagian dari
produk yang disebutkan sebelumnya.

14132

INDUSTRI PERLENGKAPAN PAKAIAN DARI KULIT


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan perlengkapan pakaian jadi dari kulit atau
kulit imitasi, dengan cara memotong dan menjahit sehingga siap pakai, seperti topi,
sarung tangan, ikat pinggang, dan lain-lain. Termasuk industri penutup kepala dari
kulit berbulu dan bagian-bagian dari produk yang disebutkan sebelumnya.

14200

INDUSTRI PAKAIAN JADI DAN BARANG DARI KULIT BERBULU


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan pakaian jadi/barang jadi dari kulit berbulu
dan atau perlengkapannya, seperti mantel berbulu, berbagai barang dari kulit
berbulu, misalnya gambar, tikar, keset dan barang lain dari kulit berbulu, seperti
permadani, kain kilap industri.

14301

INDUSTRI PAKAIAN JADI RAJUTAN


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan pakaian jadi, seperti sweater, cardigan,
baju kaos, mantel, dan barang sejenisnya, termasuk topi yang dibuat dengan cara
dirajut ataupun renda, kecuali industri rajutan kaos kaki.

14302

INDUSTRI PAKAIAN JADI SULAMAN/BORDIR


Kelompok ini mencakup usaha pakaian jadi sulaman, baik yang dikerjakan dengan
tangan maupun dengan mesin.

14303

INDUSTRI RAJUTAN KAOS KAKI DAN SEJENISNYA


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan kaos kaki yang dibuat dengan cara rajut
ataupun renda, seperti kaos kaki, termasuk kaos kaki, stocking, dan pantyhose.

86

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

15201

INDUSTRI ALAS KAKI UNTUK KEPERLUAN SEHARI-HARI


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan alas kaki untuk keperluan sehari-hari
dari kulit dan kulit buatan, karet, kanvas dan kayu, seperti sepatu harian, sepatu
santai (casual shoes), sepatu sandal, sandal kelom dan selop. Termasuk juga usaha
pembuatan bagian-bagian dari alas kaki tersebut, seperti atasan, sol dalam, sol luar,
penguat depan, penguat tengah, penguat belakang, lapisan dan aksesori dari kulit dan
kulit buatan.

15202

INDUSTRI SEPATU OLAHRAGA


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan sepatu untuk olahraga dari kulit dan kulit
buatan, karet dan kanvas, seperti sepatu sepak bola, sepatu atletik, sepatu senam,
sepatu jogging dan sepatu balet. Termasuk juga usaha pembuatan bagian bagian dari
sepatu olahraga tersebut, meliputi atasan, sol luar, sol dalam, lapisan dan aksesori.

15203

INDUSTRI SEPATU TEKNIK LAPANGAN/KEPERLUAN INDUSTRI


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan sepatu termasuk pembuatan bagianbagian dari sepatu untuk keperluan teknik lapangan/industri dari kulit, kulit buatan,
karet dan plastik, seperti sepatu tahan kimia, sepatu tahan panas, dan sepatu
pengaman.

15209

INDUSTRI ALAS KAKI LAINNYA


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan alas kaki lainnya yang belum termasuk
golongan manapun, seperti sepatu kesehatan dan sepatu lainnya, misalnya sepatu
dari gedebok (pelepah batang pisang) dan eceng gondok. Termasuk industri gaiter,
legging dan barang sejenisnya.

46100

PERDAGANGAN BESAR ATAS DASAR BALAS JASA (FEE) ATAU KONTRAK


Kelompok ini mencakup usaha agen yang menerima komisi, perantara (makelar),
pelelangan, dan pedagang besar lain yang memperdagangkan barang-barang di
dalam negeri atas nama pihak lain. Kegiatannya antara lain agen komisi, broker
barang dan seluruh perdagangan besar lainnya yang menjual atas nama dan
tanggungan pihak lain, kegiatan yang terlibat dalam penjualan dan pembelian
bersama atau transaksi perusahaan untuk keperluan yang penting, termasuk internet
dan agen yang terlibat dalam perdagangan seperti bahan baku pertanian, binatang
hidup; bahan baku tekstil dan barang setengah jadi; bahan bakar, biji-bijian, logam
dan industri kimia, termasuk pupuk; makanan, minuman dan tembakau; tekstil,
pakaian, bulu, alas kaki dan barang dari kulit; kayu-kayuan dan bahan bangunan;
mesin, termasuk mesin kantor dan komputer, perlengkapan industri, kapal, pesawat;
furnitur, barang keperluan rumah tangga dan perangkat keras; kegiatan perdagangan
besar rumah pelelangan.

46412

PERDAGANGAN BESAR PAKAIAN


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar pakaian, termasuk pakaian
olahraga dan perdagangan besar aksesori pakaian seperti sarung tangan, dasi dan
penjepit. Termasuk perdagangan besar kaos kaki.

46413

PERDAGANGAN BESAR ALAS KAKI


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar alas kaki, seperti sepatu, sandal,
selop dan sejenisnya.

46419

PERDAGANGAN BESAR TEKSTIL, PAKAIAN DAN ALAS KAKI LAINNYA


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar haberdashery, seperti jarum,
benang jahit dan lain-lain, perdagangan besar barang dari kulit berbulu dan
perdagangan besar payung.

46497

PERDAGANGAN BESAR PERHIASAN DAN JAM


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar berbagai barang perhiasan dan
jam.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

87

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

47711

PERDAGANGAN ECERAN PAKAIAN


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus pakaian, baik terbuat dari
tekstil, kulit, maupun kulit buatan, seperti kemeja, celana, jas, mantel, jaket, piyama,
kebaya, blus, rok, daster, singlet, kutang/BH, gaun, rok dalam, baju bayi, pakaian tari,
pakaian adat, mukena dan jubah.

47712

PERDAGANGAN ECERAN SEPATU, SANDAL DAN ALAS KAKI LAINNYA


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus sepatu, sandal dan alas
kaki lainnya baik terbuat dari kulit, kulit buatan, plastik, karet, kain maupun kayu,
seperti sepatu laki-laki dewasa, sepatu perempuan dewasa, sepatu anak, sepatu
olahraga, sepatu sandal, sandal, selop dan sepatu kesehatan.

47713

PERDAGANGAN ECERAN PELENGKAP PAKAIAN


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus pelengkap pakaian,
seperti selendang, kerudung, sapu tangan, ikat kepala, blangkon, peci, topi, dasi, ikat
pinggang, cadar, sarung tangan, kaos kaki, handuk dan selimut.
Termasuk juga perdagangan eceran kancing baju, ritsleting dan benang jahit.

47714

PERDAGANGAN ECERAN TAS, DOMPET, KOPER, RANSEL, DAN SEJENISNYA


Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran khusus tas, dompet, koper, ransel
dan sejenisnya, baik terbuat dari kulit, kulit buatan, tekstil, plastik ataupun karet,
seperti tas tangan, tas belanja, tas sekolah, tas surat, tas olahraga, dompet, kotak
rias, sarung pedang/pisau, tempat kamera, tempat kaca mata dan kotak pensil.

47895

PERDAGANGAN ECERAN KAKI LIMA DAN LOS PASAR PAKAIAN, ALAS KAKI,
PERLENGKAPAN PAKAIAN DAN BARANG PERLENGKAPAN PRIBADI BEKAS
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran pakaian, alas kaki, pelengkap
pakaian dan barang perlengkapan pribadi bekas yang dilakukan di pinggir jalan
umum (kaki lima), serambi muka (emper) toko atau tempat tetap di pasar yang dapat
dipindah-pindah atau didorong (los pasar), seperti baju bekas, celana bekas, mantel
bekas, sepatu bekas, selendang dan topi bekas, jam tangan bekas, dan barang
perhiasan bekas.

47912

PERDAGANGAN ECERAN MELALUI MEDIA UNTUK KOMODITI TEKSTIL, PAKAIAN,


ALAS KAKI DAN BARANG KEPERLUAN PRIBADI
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran berbagai jenis barang tekstil,
pakaian, alas kaki dan barang keperluan pribadi melalui pesanan (surat, telepon
atau internet) dan barang akan dikirim kepada pembeli sesuai dengan barang yang
diinginkan berdasarkan katalog, iklan, model, telepon, radio, televisi, internet, media
massa, dan sejenisnya.

47994

PERDAGANGAN ECERAN KELILING TEKSTIL, PAKAIAN, ALAS KAKI, DAN BARANG


KEPERLUAN PRIBADI
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan eceran tekstil, pakaian, alas kaki dan
barang keperluan pribadi yang dilakukan dengan cara menjajakannya berkeliling dan
tidak mempunyai tempat yang tetap atau menjualnya mendatangi rumah ke rumah
masyarakat/langganan.

74100

JASA PERANCANGAN KHUSUS


Kelompok ini mencakup usaha jasa perancangan khusus, seperti perancangan
mode yang berhubungan dengan tekstil, pakaian jadi, sepatu, perhiasan, furnitur
dan dekorasi interior serta barang mode lainnya seperti halnya barang pribadi atau
rumah tangga; perancang industrial, yaitu penciptaan dan pengembangan desain dan
spesifikasi yang mengoptimalkan penggunaan, nilai dan tampilan produk, termasuk
penentuan bahan, konstruksi, mekanisme, bentuk, warna dan penyelesaian akhir
permukaan produk, pendekatan kepada kebutuhan dan karasteristik manusia,
keamanan, pengenalan pasar dan efisien dalam produksi, distribusi, penggunaan dan
produksi; jasa perancang grafik dan kegiatan dekorasi interior.

88

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

96991

JASA VERMAK PAKAIAN


Kelompok ini mencakup usaha vermak pakaian, yang melayani masyarakat umum
dengan tujuan komersial.

13121

INDUSTRI PERTENUNAN (BUKAN PERTENUNAN KARUNG GONI DAN KARUNG


LAINNYA)
Kelompok ini mencakup usaha pertenunan, baik yang dibuat dengan alat gedogan,
alat tenun bukan mesin (ATBM), alat tenun mesin (ATM) ataupun alat tenun lainnya,
kecuali industri kain tenun ikat.

13122

INDUSTRI KAIN TENUN IKAT


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan kain tenun ikat dan usaha pewarnaan
benang dengan cara mengikat terlebih dahulu.

13123

INDUSTRI BULU TIRUAN TENUNAN


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan bulu tiruan dengan penenunan.

13133

INDUSTRI PENCETAKAN KAIN


Kelompok ini mencakup usaha pencetakan kain, termasuk juga pencetakan kain motif
batik.

13134

INDUSTRI BATIK
Kelompok ini mencakup usaha pembatikan dengan proses malam (lilin), baik yang
dilakukan dengan tulis, cap maupun kombinasi antara cap dan tulis.

13911

INDUSTRI KAIN RAJUTAN


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan kain yang dibuat dengan cara rajut
ataupun renda.

13912

INDUSTRI KAIN SULAMAN/BORDIR


Kelompok ini mencakup usaha kain sulaman/bordir, baik yang dikerjakan dengan
tangan maupun dengan mesin.

13913

INDUSTRI BULU TIRUAN RAJUTAN


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan bulu tiruan rajutan.

13922

INDUSTRI BARANG JADI TEKSTIL SULAMAN


Kelompok ini mencakup usaha barang jadi tekstil sulaman, baik yang dikerjakan
dengan tangan maupun dengan mesin, seperti pakaian/barang jadi sulaman dan
badge.

18111

INDUSTRI PENCETAKAN UMUM


Kelompok ini mencakup kegiatan industri percetakan surat kabar, majalah dan
periodik lainnya seperti tabloid, surat kabar, majalah, jurnal, pamflet, buku dan
brosur, naskah musik, peta, atlas, poster, katalog periklanan, prospektus dan iklan
cetak lainnya, perangko pos, perangko perpajakan, dokumen, cek dan kertas rahasia
lainnya, buku harian, kalender, formulir bisnis dan barang-barang cetakan komersial
lainnya, kertas surat atau alat tulis pribadi dan barang-barang cetakan lainnya hasil
mesin cetak, offset, klise foto, fleksografi dan sejenisnya, mesin pengganda, printer
komputer, huruf timbul dan sebagainya termasuk alat cetak cepat; pencetakan
langsung ke bahan tekstil, plastik, kaca, logam, kayu dan keramik, kecuali pencetakan
tabir sutera pada kain dan pakaian jadi; dan pencetakan pada label atau tanda
pengenal (litografi, pencetakan tulisan di makam, pencetakan fleksografi dan
sebagainya). Termasuk pula mencetak ulang melalui komputer, mesin stensil dan
sejenisnya, misal kegiatan fotokopi atau thermocopy. Barang cetakan ini biasanya
merupakan hak cipta.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

89

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

49431

ANGKUTAN BERMOTOR UNTUK BARANG UMUM


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang dengan kendaraan bermotor
dan dapat mengangkut lebih dari satu jenis barang, seperti angkutan dengan truk,
pick up, dan container.

50131

ANGKUTAN LAUT DOMESTIK UMUM LINER UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang umum melalui laut dengan
menggunakan kapal laut antarpelabuhan dalam negeri dengan melayari trayek tetap
dan teratur atau liner. Termasuk usaha persewaan angkutan laut berikut operatornya.

50132

ANGKUTAN LAUT DOMESTIK UMUM TRAMPER UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang umum melalui laut dengan
menggunakan kapal laut antarpelabuhan dalam negri dengan melayari trayek tidak
tetap dan tidak teratur atau tramper. Termasuk usaha persewaan angkutan laut
berikut operatornya.

50133

ANGKUTAN LAUT DOMESTIK KHUSUS UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang dengan menggunakan kapal
laut yang dirancang secara khusus untuk mengangkut suatu jenis barang tertentu.
Termasuk usaha persewaan angkutan laut berikut operatornya.

50134

ANGKUTAN LAUT DOMESTIK PERINTIS UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha angkutan laut untuk barang yang menghubungkan
daerah-daerah terpencil serta daerah yang potensial, namun belum berkembang
serta belum menguntungkan untuk dilayari secara komersial ke daerah-daerah
yang telah berkembang. Kegiatan angkutan laut perintis ditetapkan oleh Direktur
Jenderal dengan trayek tetap dan teratur atau liner serta penempatan kapalnya
untuk mendorong pengembangan daerah terpencil yang bersumber dari dana APBN
dan dikelola melalui DIP pada setiap tahun anggaran. Termasuk usaha persewaan
angkutan laut berikut operatornya.

50135

ANGKUTAN LAUT DOMESTIK PELAYARAN RAKYAT


Kelompok ini mencakup usaha angkutan laut yang ditujukan untuk mengangkut
barang dan/atau hewan dengan menggunakan kapal layar, kapal motor tradisional
dan kapal motor dengan ukuran tertentu. Perusahaan pelayaran rakyat merupakan
perusahaan angkutan laut berbadan hukum Indonesia yang diterbitkan dan
dilegalisasi oleh Pejabat Kepala Kantor wilayah Departemen Perhubungan setempat.
Termasuk usaha persewaan angkutan laut berikut operatornya.

50141

ANGKUTAN LAUT INTERNASIONAL UMUM LINER UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang umum melalui laut dengan
menggunakan kapal laut antarpelabuhan di Indonesia dengan pelabuhan di luar
negeri dengan melayari trayek tetap dan teratur atau liner. Termasuk usaha
persewaan angkutan laut berikut operatornya.

50142

ANGKUTAN LAUT INTERNASIONAL UMUM TRAMPER UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang umum melalui laut dengan
menggunakan kapal laut antarpelabuhan di Indonesia dengan pelabuhan di luar
negeri dengan melayari trayek tidak tetap dan tidak teratur atau tramper. Termasuk
usaha persewaan angkutan laut berikut operatornya.

50143

ANGKUTAN LAUT INTERNASIONAL KHUSUS UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha angkutan laut internasional khusus untuk barang.
Angkutan laut khusus dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia dengan
kondisi dan persyaratan kapalnya disesuaikan dengan jenis kegiatan usaha
pokoknya serta untuk melayani trayek tidak tetap dan tidak teratur atau tramper
antarpelabuhan di Indonesia dengan pelabuhan di luar negeri. Termasuk usaha
persewaan angkutan laut berikut operatornya.

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

50144

ANGKUTAN LAUT INTERNASIONAL PELAYARAN RAKYAT


Kelompok ini mencakup usaha angkutan laut yang ditujukan untuk mengangkut
barang dan/atau hewan dengan menggunakan kapal layar, kapal motor tradisional
dan kapal motor dengan ukuran tertentu antarpelabuhan di Indonesia dengan
pelabuhan di luar negeri. Perusahaan pelayaran rakyat merupakan perusahaan
angkutan laut berbadan hukum Indonesia. Termasuk usaha persewaan angkutan laut
berikut operatornya.

50224

ANGKUTAN PENYEBERANGAN UMUM ANTARPROVINSI UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha angkutan penumpang dan atau kendaraan dari satu
provinsi ke provinsi lain dengan menggunakan kapal penyeberangan yang terikat
dalam trayek.

50226

ANGKUTAN PENYEBERANGAN UMUM ANTARKABUPATEN/KOTA UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan penyeberangan di laut, danau, selat
dan teluk, antarpelabuhan penyeberangan antarkabupaten/kota sebagai jembatan
bergerak yang menghubungkan dua tempat tertentu, yang merupakan kelanjutan
dari jaringan jalan raya dan atau kereta api. Termasuk usaha persewaan angkutan
penyeberangan berikut operatornya.

50227

ANGKUTAN PENYEBERANGAN PERINTIS ANTARKABUPATEN/KOTA UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan penyeberangan di laut, danau, selat
dan teluk antarkabupaten/kota untuk barang yang menghubungkan daerahdaerah terpencil serta daerah yang potensial namun belum berkembang serta
belum menguntungkan untuk dilayari secara komersial ke daerah-daerah yang
telah berkembang. Termasuk usaha persewaan angkutan penyeberangan berikut
operatornya.

50228

ANGKUTAN PENYEBERANGAN UMUM DALAM KABUPATEN/KOTA UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan penyeberangan di laut, danau, selat
dan teluk, antarpelabuhan penyeberangan dalam kabupaten/kota sebagai jembatan
bergerak yang menghubungkan dua tempat tertentu, yang merupakan kelanjutan
dari jaringan jalan raya dan atau kereta api. Termasuk usaha persewaan angkutan
penyeberangan berikut operatornya.

50229

ANGKUTAN PENYEBERANGAN LAINNYA UNTUK BARANG TERMASUK


PENYEBERANGAN ANTARNEGARA
Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan penyeberangan di laut, selat, dan
teluk, antara pelabuhan penyeberangan di Indonesia dengan pelabuhan di Luar
Negeri sebagai jembatan bergerak yang menghubungkan dua tempat tertentu, yang
merupakan kelanjutan dari jaringan jalan raya dan atau kereta api. Termasuk usaha
persewaan angkutan penyeberangan berikut operatornya.

51201.

ANGKUTAN UDARA BERJADWAL DOMESTIK UMUM UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang, kargo dan pos dengan pesawat
udara berdasarkan rute dan jadwal tertentu dengan tujuan kota-kota atau provinsi di
dalam negeri.

51202

ANGKUTAN UDARA BERJADWAL DOMESTIK PERINTIS UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang, kargo dan pos dengan pesawat
udara berdasarkan rute dan jadwal tertentu pada penerbangan dalam negeri yang
digunakan untuk menghubungkan daerah terpencil atau pedalaman (daerah yang
moda tranportasi lain tidak ada dan atau kapasitas kurang memenuhi permintaan)
dan atau untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan wilayah, dan atau untuk
mewujudkan stabilitas pertahanan keamanan negara. Termasuk usaha persewaan
angkutan udara berikut operatornya.

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

91

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

51203

ANGKUTAN UDARA BERJADWAL INTERNASIONAL UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang, kargo dan pos dengan pesawat
udara berdasarkan rute dan jadwal tertentu dengan tujuan kota-kota di luar negeri.

51204

ANGKUTAN UDARA TIDAK BERJADWAL DOMESTIK UMUM UNTUK


BARANG
Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang, kargo dan pos dengan pesawat
udara berdasarkan penerbangan tidak berjadwal yang dilakukan secara komersial
pada penerbangan dalam negeri.

51205

ANGKUTAN UDARA TIDAK BERJADWAL DOMESTIK PERINTIS UNTUK BARANG


Kelompok ini mencakup usaha pengangkutan barang, kargo dan pos dengan pesawat
udara berdasarkan pada penerbangan tidak berjadwal yang dilakukan secara
komersial pada penerbangan dalam negeri yang menghubungkan daerah-daerah
pedalaman yang belum terdapat moda transportasi.

52291

JASA PENGURUSAN TRANSPORTASI (JPT)


Kelompok ini mencakup usaha pengiriman dan atau pengepakan barang dalam
volume besar, melalui angkutan kereta api, angkutan darat, angkutan laut maupun
angkutan udara.

52292

JASA EKSPEDISI MUATAN KERETA API DAN EKSPEDISI ANGKUTAN DARAT (EMKA &
EAD)
Kelompok ini mencakup usaha pengiriman dan atau pengepakan barang dalam
volume besar, baik yang diangkut melalui kereta api maupun alat angkutan darat.

52293

JASA EKSPEDISI MUATAN KAPAL (EMKL)


Kelompok ini mencakup usaha pengiriman dan atau pengepakan barang dalam
volume besar, yang diangkut melalui angkutan laut.

52294

JASA EKSPEDISI MUATAN PESAWAT UDARA (EMPU)


Kelompok ini mencakup usaha pengiriman dan atau pengepakan barang dalam
volume besar, yang diangkut melalui alat angkutan udara.

59111

PRODUKSI FILM, VIDEO, DAN PROGRAM TELEVISI OLEH PEMERINTAH


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan dan produksi gambar bergerak, film, video,
program televisi atau iklan bergerak televisi yang dikelola oleh pemerintah atas dasar
balas jasa juga usaha pembuatan film untuk televisi dan jasa pengiriman film dan
agen pembukuan film.

59112

PRODUKSI FILM, VIDEO, DAN PROGRAM TELEVISI OLEH SWASTA


Kelompok ini mencakup usaha pembuatan dan produksi gambar bergerak, film, video,
program televisi atau iklan bergerak televisi yang dikelola oleh swasta atas dasar
balas jasa juga usaha pembuatan film untuk televisi dan jasa pengiriman film dan
agen pembukuan film.

59201

PEREKAMAN SUARA
Kelompok ini mencakup usaha pembuatan master rekaman suara asli di piringan
hitam, pita kaset, Compact Disc (CD), dan sejenisnya dan kegiatan jasa perekaman
suara di studio atau tempat lain, termasuk hasil pemrograman radio yang direkam
(tidak langsung), audio untuk film, televisi dan lain-lain.

92

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

64190

JASA PERANTARA MONETER LAINNYA


Kelompok ini mencakup penerimaan simpanan dan/atau penutupan simpanan dan
pemberian kredit atau pinjaman dana. Bantuan kredit dapat berbagai macam bentuk,
seperti pinjaman, pinjaman dengan jaminan, kartu kredit, dan lain-lain. Kegiatan ini
pada umumnya dilakukan oleh lembaga keuangan selain bank sentral, seperti jasa
perantara keuangan yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, seperti rentenir, Credit
Union, kegiatan pos giro dan bank tabungan pos, lembaga khusus yang berwenang
memberikan kredit untuk pembelian rumah dan juga mengambil deposito dan
kegiatan money order.

69100

JASA HUKUM
Kelompok ini mencakup usaha jasa pengacara/penasihat hukum, notaris, lembaga
bantuan hukum serta jasa hukum lainnya, dalam hal bantuan nasihat dan perwakilan
dalam kasus sipil, kasus kriminal, kasus perselisihan tenaga kerja, persiapan
dokumen hukum, dokumen badan hukum, perjanjian kerja sama atau dokumen yang
serupa dalam kaitan dengan pembentukan perusahaan, hak paten dan hak cipta,
penyiapan akta notaris, surat wasiat, trust dan sebagainya dan kegiatan lainnya
notaris umum, notaris hukum sipil, juru sita, arbiter, pemeriksa, dan liperi.

70209

KEGIATAN KONSULTASI MANAJEMEN LAINNYA


Kelompok ini mencakup ketentuan bantuan nasihat, bimbingan dan operasional usaha
dan permasalahan organisasi dan manajemen lainnya, seperti perencanaan strategi
dan organisasi; keputusan wilayah yang secara alami berkaitan dengan keuangan;
tujuan dan kebijakan pemasaran; perencanaan, praktik dan kebijakan sumber daya
manusia; perencanaan penjadwalan dan pengontrolan produksi. Penyediaan jasa
usaha ini dapat mencakup bantuan nasihat, bimbingan dan operasional usaha dan
pelayanan masyarakat mengenai hubungan dan komunikasi masyarakat atau umum,
kegiatan lobi, berbagai fungsi manajemen, konsultasi manajemen oleh agronomis dan
agrikultural ekonomis pada bidang pertanian dan sejenisnya, rancangan dari metode
dan prosedur akuntansi, program akuntansi biaya, prosedur pengawasan anggaran
belanja, pemberian nasihat dan bantuan untuk usaha dan pelayanan masyarakat
dalam perencanaan, pengorganisasian, efisiensi dan pengawasan, informasi
manajemen dan lain-lain.

74201

JASA FOTOGRAFI
Kelompok ini mencakup usaha jasa fotografi atau pemotretan, baik untuk perorangan
atau kepentingan bisnis, seperti fotografi untuk paspor, sekolah, pernikahan
dan lain-lain; fotografi untuk tujuan komersial, publikasi, mode, real estate atau
pariwisata; fotografi dari udara (pemotretan dari udara atau aerial photography) dan
perekaman video untuk acara seperti pernikahan, rapat dan lain-lain. Kegiatan lain
adalah pemprosesan dan pencetakan hasil pemotretan tersebut, meliputi pencucian,
pencetakan dan perbesaran dari negatif film atau cine-film yang diambil klien;
laboratorium pencucian film dan pencetakan foto; photo shop (tempat cuci foto) satu
jam (bukan bagian dari toko kamera); mounting slide dan penggandaan dan restoring
atau pengubahan sedikit tranparansi dalam hubungannya dengan fotografi. Termasuk
juga kegiatan jurnalis foto dan pembuatan mikrofilm dari dokumen.

82301

JASA PENYELENGGARA PERTEMUAN, PERJALANAN INSENTIF, KONFERENSI DAN


PAMERAN
Kelompok ini mencakup usaha pengaturan, promosi dan atau pengelolaan acara,
seperti jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang (negarawan,
usahawan, cendekiawan, dan sebagainya). Termasuk juga dalam kelompok ini, usaha
jasa yang merencanakan, menyusun dan menyelenggarakan program perjalanan
insentif dan usaha jasa yang melakukan perencanaan dan penyelenggaraan pameran
dagang dan usaha, konvensi, konferensi dan rapat atau pertemuan. Kegiatan ini
disebut juga jasa MICE (Meeting, Insentive, Convention and Exhibition).

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

93

KATEGORI /
KODE

JUDUL - DESKRIPSI

82302

JASA EVENT ORGANIZER


Kelompok ini mencakup kegiatan jasa Event Organizer yang mengorganisasikan
rangkaian acara, dimulai dari proses pembuatan konsep, perencanaan, persiapan,
eksekusi hingga rangkaian acara selesai dalam rangka membantu klien mewujudkan
tujuan yang diharapkan melalui rangkaian acara yang diadakan. Jasa Event Organizer
adalah penyelenggaraan sebuah acara berdasarkan pedoman kerja dan konsep
acara tersebut dan mengelolanya secara profesional. Kegiatan EO yang dicakup pada
kelompok ini adalah EO pernikahan, pesta ulang tahun dan acara sejenisnya.

85491

JASA PENDIDIKAN MANAJEMEN DAN PERBANKAN


Kelompok ini mencakup kegiatan pendidikan manajemen dan perbankan yang
diselenggarakan swasta. Kegiatan yang termasuk dalam kegiatan ini adalah jasa
pendidikan atau kursus administrasi bisnis, administrasi perkantoran, administrasi
kesehatan, administrasi, administrasi niaga, akuntansi, akuntansi bisnis, akuntansi
perbankan, akuntansi perkantoran, akuntansi perpajakan, akuntansi perusahaan,
asuransi, ekspor impor, kepabeanan, dan cukai, kewirausahaan, manajemen,
manajemen administrasi, manajemen bisnis, manajemen informatika, manajemen
kesehatan, manajemen keuangan, manajemen keuangan dan perpajakan, manajemen
pariwisata, manajemen pelatihan, manajemen pemasaran/perdagangan, manajemen
perbankan, perkantoran, manajemen perusahaan, properti, manajemen terapan,
mengetik, pemasaran/marketing, pemasaran busana, pengamanan/sekuriti,
perbankan dan pasar modal, perkantoran, perpajakan, polibisnis, pramurukti,
pramusiwi, pramuwisma, sales manajemen, sekretaris, tata kota, wiraniaga dan
lain-lain.

2.2.3 Model Bisnis di Industri Mode


Seperti yang kita ketahui, begitu banyak aspek cara memproduksi, promosi, distribusi, dan
penjualan dari produk mode. Model bisnis yang paling ideal adalah sejak langkah awal pembuatan
konsep desain hingga penjualan produk mode tersebut, seperti di bawah ini.
Gambar 2-10 Model Bisnis Pengembangan Subsektor Mode

Model bisnis di industri mode pada umumnya melibatkan seluruh proses rantai kreatif dimulai
dari kreasi, produksi, distribusi dan penjualan, tetapi terdapat sedikit modifikasi mengenai urutan
terjadinya proses dalam model bisnis tersebut. Penjelasannya sebagai berikut.

94

Pada awalnya, perancang mode pakaian dan pelengkapnya mempunyai konsep kreasi,
lalu menghasilkan sampel yang akan dipromosikan melalui trade event, fashion show,

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

katalog/buku, media sosial, e-commerce/daring, showroom, fashion week, merek endorser


dan media cetak atau media elektronik.

Pengumpulan pesanan akan dilakukan setelah tahap buying session oleh bagian retail atau
tahap sales campaign oleh bagian wholesale, yaitu para pihak yang bertanggung jawab
untuk memastikan suatu pesanan yang telah diberikan oleh konsumen.

Proses produksi dan persiapan produk yang sudah dipesan akan melibatkan beberapa
pihak seperti:
Technical designer, yaitu pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan fitting
terhadap produk sampling untuk produksi.
Pattern maker, yaitu pihak yang membuat pola dari desain yang sudah digambar
oleh perancang busana.
Pattern grader, yaitu pihak yang mengatur pola berdasarkan standar ukuran baju.
Fitting model, yaitu pengepasan busana yang sudah dibuat untuk dicoba digunakan
langsung ke tubuh model.
Quality control specialist, yaitu pihak yang menjamin agar semua proses produksi
berjalan sesuai dengan rencana dan dapat memuaskan buyer.
Planner, yaitu pihak yang berhubungan langsung dengan perancang, merchandiser
dan buyer untuk menentukan perencanaan produksi. Planner juga berperan sebagai
pemasaran dan produksi dan harus tahu mengenai perkembangan tren mode terbaru.

Setelah tahapan pengendali mutu dan melalui perantara jasa pengiriman barang, maka produk
mode yang dihasilkan dapat menuju tahap akhir yaitu distribusi kepada pemesannya.
Model bisnis di atas adalah sebuah gambaran ideal dari pengorganisasian langkah-langkah di
industri mode. Begitu banyak alternatif model bisnis lain yang banyak ditemukan di sekitar kita
dewasa ini. Dari yang paling sederhana, desainer membuat konsep desain dan sampel hingga
jasa seorang agen mengumpulkan produk-produk mode untuk ditawarkan dan dijual kembali
(reselling). Di bawah ini adalah beberapa contoh model bisnis di lingkup industri mode:
1. Model bisnis penjualan konsep oleh desainer: konsep desain (dilakukan oleh desainer)
sampel (dilakukan oleh desainer) penjualan (dilakukan oleh desainer) sampel
produksi (dilakukan oleh garmen);
2. Model bisnis desainer/pemilik merek yang tidak memiliki pabrik/fasilitas produksi:
konsep desain (dilakukan oleh pemilik merek/desainer) sampel (dilakukan oleh pemilik
merek/subcontractor) sampel produksi (dilakukan oleh subcontractor) produksi
(dilakukan oleh subcontractor) pengendali mutu dan pengiriman barang distribusi
dan penjualan (dilakukan oleh pemilik merek);
3. Model bisnis jasa pembuatan produk (CMT): pemilik merek menurunkan order CMT
berdasarkan spesifikasi proses pembuatan sampel approval oleh pemesan bulk
production quality control pengiriman barang ke pemesan;
4. Model bisnis agen jasa (trader): pembelian sampel (dilakukan oleh agen) presentasi ke
pemilik-pemilik butik atau departement stores pemesanan ke produsen distribusi
penjualan ritel kepada konsumen;
5. Model bisnis agen jasa (trader): pembelian produk/konsinyasi (oleh agen) promosi dan
penjualan retail (online/offline) kepada konsumen. Contoh: The Goods Dept, Fashion
First, Zalora, BerryBenka, dan Hijup.com;

BAB 2:Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia

95

6. Model bisnis pemilik hak distribusi merek tertentu: pemilik merek menawarkan produk
per musim distributor berlisensi membeli produk promosi penjualan di flagship
boutique. Contoh: Mitra Adi Perkasa (MAP), Mahagaya, dan Berca;
7. Model bisnis sistem pembelian beli putus kepada produsen: perencanaan pembelian (oleh
merchandiser departement store/butik) pembelian (di ajang fashion trade atau fashion
week) pemesanan produk mutu dan pre-delivery check pengiriman distribusi
penjualan ke konsumen;
8. Model bisnis sistem pembelian konsinyasi kepada produsen/desainer: desainer
mempresentasikan konsep departement store memberikan persetujuan area penjualan
dan menentukan margin (komisi) pembuatan produk distribusi penjualan;
9. Model Virtual Selling: desainer mengadakan fashion show promosi dan penjualan lewat
live streaming online order produksi pengiriman produk kepada konsumen.
Contoh: fashion show Alexander McQueen.
Seiring berjalannya waktu, model bisnis di industri mode pun mengalami kemajuan, tidak hanya
terpaku kepada penjualan secara nyata di tempat atau disebut juga off-line, tetapi juga mengalami
berbagai perkembangan model bisnis seperti:
1.

Omni Channel merupakan evolusi multi channel-retail yang terkonsentrasi kepada


pendekatan tanpa batas dalam berhubungan dengan konsumen melalui semua saluran
belanja yang tersedia, yaitu perangkat Internet mobile, komputer, televisi, radio, e-mail,
katalog, dan sebagainya. Dalam model ini, konsumen dapat menggunakan semua saluran
secara bersamaan, dan penjual juga dapat menggunakannya untuk melacak pelanggan
di seluruh saluran. Dengan model ini, penjualan dibuat lebih efisien melalui penawaran
yang relatif banyak terhadap konsumen tertentu yang ditentukan oleh pola pembelian,
afinitas jaringan sosial, kunjungan situs, loyalitas konsumen, dan data lainnya.

2. Multi Level Marketing (MLM) disebut juga pemasaran berjenjang, yaitu sebuah model
bisnis yang tidak berkelanjutan dan melibatkan pembayaran peserta yang menjanjikan
jasa, terutama untuk mendaftarkan orang lain ke dalam skema, daripada memasukkan
investasi riil atau penjualan produk dan jasa yang merupakan model konvensional. Model
ini merupakan jalur alternatif bagi pelaku bisnis subsektor mode untuk mendistribusikan
produknya kepada konsumen.
3. Kolaborasi antara desainer dan pelaku industri garmen. Kolaborasi dalam industri mode
dapat terjadi antara desainer dan pelaku industri garmen. Desainer membuat konsep
rancangannya kemudian dalam proses pembuatannya akan dikerjakan oleh garmen, yang
biasanya berhubungan dengan koleksi musim tertentu. Model ini dapat dilaksanakan
oleh para desainer yang lebih ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya,
sekaligus merupakan ajang bagi industri garmen untuk mendukung keberadaan para
desainer.

96

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

98

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

BAB 3
Kondisi Umum Industri
Mode di Indonesia

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

99

3.1 Kontribusi Ekonomi Mode


Ekonomi Kreatif, disebut juga Industri Kreatif merupakan industri yang berasal dari pemanfaatan
kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan
pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.
Menurut data BPS, pertumbuhan ekonomi kreatif sepanjang tahun 2013 mencapai 5,76%.
Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar
5,74%. Sementara itu, pada 2013, kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian sebesar
Rp641,8 triliun atau mencapai 7% dari PDB nasional. Sektor ekonomi kreatif juga mencatat
surplus perdagangan selama 20102013 dengan nilai surplus sebesar Rp118 triliun. Selain itu,
kontribusi devisa dari sektor ekonomi kreatif mencapai USD 11,89 miliar atau berkontribusi
sebesar 11,04% pada total keseluruhan devisa Indonesia.
Berdasarkan studi pemetaan industri kreatif yang dilaksanakan Departemen Perdagangan,
kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian Indonesia dapat dilihat dari lima indikator
utama, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan, jumlah perusahaan, ekspor, dan
dampak terhadap sektor lain, yang dapat ditambah dengan satu indikator lainnya yaitu konsumsi
rumah tangga.
Dalam konteks terkait dengan ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) yang akan berlaku efektif di akhir 2015, dapat mendorong pertumbuhan banyak
peluang, hasil dari integrasi perekonomian ASEAN melalui MEA, termasuk di sektor ekonomi
kreatif. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Indonesia, Mari Elka Pangestu,
menyatakan bahwa pihaknya akan fokus untuk mengembangkan lima subsektor industri kreatif
yang paling potensial yaitu: film, musik, mode, kuliner, dan konten digital.

Tercatat bahwa ada tiga subsektor ekonomi kreatif


di Indonesia yang memberikan kontribusi ekonomi
paling besar yaitu kuliner (33%), mode (28%) dan
kerajinan (14%).
Dengan berlakunya MEA, peningkatan daya saing sektor jasa Indonesia menjadi semakin
penting tidak hanya untuk meningkatkan ekspor dari sektor jasa, tetapi juga ekspor barangnya.
Ekonomi kreatif juga dapat mendorong daya saing sektor jasa dan ekspor Indonesia. Lebih lanjut,
perkembangan subsektor-subsektor ekonomi kreatif seperti desain, serta riset dan pengembangan
mendorong ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam rantai nilai global, termasuk meraup
manfaat dari integrasi perekonomian ASEAN melalui MEA.
Pertumbuhan industri kreatif nasional ditargetkan mencapai 10% pada 2014 dan dapat menjadi
tiga besar kontributor untuk Produk Domestik Bruto (PDB). Beberapa kendala memang masih
menghantui laju industri kreatif seperti minimnya akses pembiayaan, perlindungan Hak atas
Kekayaan Intelektual (HKI), serta akses pasar yang memiliki saingan hebat dari produk asing.
Namun, untuk akses pasar dan sistem e-commerce (kegiatan komersial berbasis elektronik) dapat
menjadi upaya bagi para pebisnis produk kreatif untuk dapat merambah pasar.

100

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Kedepannya, ekonomi kreatif secara umum dan industri kreatif secara khusus diyakini akan
menjadi primadona. Ada tiga alasan yang mendasari keyakinan tersebut, yaitu hemat energi karena
lebih berbasis pada kreativitas, lebih sedikit menggunakan sumber daya alam, dan menjanjikan
keuntungan lebih tinggi. Ketiga faktor di atas juga ditopang oleh ketersediaan sumber daya
manusia (SDM) yang berlimpah. Saat ini jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta. Populasi
yang berusia 15-29 tahun berkisar 40,2 juta atau hampir 18,4% merupakan pasar yang sangat
gemuk bagi produk-produk industri kreatif. Di Bali, yang merupakan sentra industri kreatif,
jumlah pebisnis yang merambah e-commerce menunjukkan kenaikan data yang signifikan dari
tahun 2008 dengan jumlah 30 orang menjadi 536 orang pada 2013.
Selanjutnya, diperlukan adanya perlakuan khusus bagi industri kreatif karena kontribusi yang cukup
signifikan bagi perekonomian nasional. Walaupun dengan kondisi bahwa output sektor industri
kreatif mode belum dapat memenuhi kebutuhanpasar dalam negeri, yang berarti permintaan
besar dari dalam negeri, sedangkan pemenuhannya masih kurang sehingga merek luar negeri
berlomba-lomba untuk dapat masuk ke pasar dalam negeri. Hal ini seharusnya diketahui oleh
pemerintah dan pelaku pasar dalam negeri di subsektor ini karena jika kekosongan ini dapat
dipenuhi, akan menambah kontribusi pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan. Kontribusi
subsektor mode ini terhitung besar. Akan tetapi berdasarkan pengamatan kontribusi dari pabrikan
yang memproduksi merek luar negeri denganskala besar tetap mendominasi dalam menyumbang
pertumbuhan kontribusi tersebut.
Kesimpulannya bahwa industri di subsektor ini belum dapat memenuhi permintaan karena belum
terintegrasinya data permintaan pasar secara baik, serta belum mampu untuk dapat menghasilkan
produk sesuai permintaan dengan harga wajar dan sesuai dengan spesifikasi kualitas yang diminta.
Dengan kenaikan upah minimum regional (UMR), ditambah peningkatan biaya operasional dari
kenaikan listrik, dan lainnya, akan memberi dampak cukup serius terhadap total biaya produksi
sehingga jika kondisi ini tidak diimbangi dengan kapasitas output produksi yang semakin baik,
akan memengaruhi nilai jual dari permintaan pasar. Dengan kata lain, perhitungan kontribusi
tersebut jangan menyangkut keseluruhan industri kreatif yang tidak berhubungan dengan
tahap awal kreasi dan inovasi pembuatan produk mode sehingga nilai keseluruhan indikator
kontribusinya tidak akan menjadi over estimated (over valued). Secara umum kontribusi ekonomi
subsektor mode dapat dilihat pada Tabel 3-1.
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Mode 2010-2013
INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

BERBASIS PRODUK DOMESTIK BRUTO

Nilai Tambah
Subsektor (ADHB)*

Miliar
Rupiah

127,817.46

147,503.21

164,538.27

181,570.33

155,357.32

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
Terhadap Ekonomi
Kreatif (ADHB)*

Persen

27.02

27.99

28.43

28.29

27.93

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
Terhadap Total PDB
(ADHB)*

Persen

1.98

1.99

2.00

1.99

1.99

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

101

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

7.20

5.67

6.44

6.43

Pertumbuhan Nilai
Tambah Subsektor
(ADHK)**

BERBASIS KETENAGAKERJAAN

Jumlah Tenaga Kerja


Subsektor

Orang

3,750,197

3,787,450

3,809,339

3,838,756

3,796,435

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

32.63

32.48

32.28

32.33

32.43

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

3.47

3.45

3.44

3.46

3.46

Pertumbuhan
Jumlah Tenaga Kerja
Subsektor

Persen

0.99

0.58

0.77

0.78

Produktivitas Tenaga
Kerja Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

34,083

38,945

43,193

47,299

40,880.20

BERBASIS AKTIVITAS PERUSAHAAN

Jumlah Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

1,072,056

1,088,978

1,102,101

1,107,956

1,092,773

Kontribusi Jumlah
Perusahaan terhadap
Jumlah Perusahaan
Ekonomi Kreatif

Persen

20.37

20.42

20.42

20.44

20.41

Kontribusi Jumlah
Perusahaan terhadap
Total Usaha

Persen

1.97

1.98

1.99

1.98

1.98

Pertumbuhan Jumlah
Perusahaan

Persen

1.58

1.21

0.53

1.10

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta
Rupiah

62,470,814.20

67,896,022.70

70,120,777.07

76,788,615.06

69,319,057.26

Kontribusi Ekspor
Subsektor Terhadap
Ekspor Sektor
Ekonomi Kreatif

Persen

64.60

64.55

63.66

64.55

64.34

Kontribusi Ekspor
Subsektor Terhadap
Total Ekspor

Persen

3.94

3.47

3.51

3.69

3.65

Pertumbuhan Ekspor
Subsektor

Persen

8.68

3.28

9.51

7.16

102

Persen

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

BERBASIS KONSUMSI RUMAH TANGGA

Nilai Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor

Juta
Rupiah

203,441,664.00

228,960,498.87

256,057,250.12

282,879,064.84

242,834,619.46

Kontribusi Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor terhadap
Konsumsi Sektor
Ekonomi Kreatif

Persen

31.67

32.36

32.75

32.64

32.36

Kontribusi Konsumsi
Rumah Tangga
terhadap Total
Konsumsi Rumah
Tangga

Persen

5.58

5.65

5.69

5.60

5.63

Pertumbuhan
Konsumsi Rumah
Tangga

Persen

12.54

11.83

10.47

11.62

*ADHB = Atas Dasar Harga Berlaku **ADHK = Atas Dasar Harga Konstan
Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


Gambar 3-1 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Produk Domestik Bruto (PDB) Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

103

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013

Gambar kontribusi subsektor mode terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi
kreatif di Indonesia menyatakan bahwa subsektor ini memberikan kontribusi sebesar 28%
terhadap nilai totalnya. Laju pertumbuhan PDB pada 2013 untuk subsektor mode, ekonomi
kreatif dan Indonesia secara keseluruhan adalah 6,44%; 5,74% dan 5,76%. Sementara itu, nilai
PDB subsektor mode pada 2013 adalah Rp181,57 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan PDB
sebesar 6,44% untuk periode tahun 2010-2013.

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Gambar 3-2 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Tenaga Kerja Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

104

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013

Gambar kontribusi subsektor mode terhadap total tenaga kerja ekonomi kreatif di Indonesia
menyatakan bahwa subsektor ini memberikan kontribusi sebesar 32,33% terhadap nilai totalnya.
Laju pertumbuhan tenaga kerja pada 2013 untuk subsektor mode, ekonomi kreatif dan Indonesia
secara keseluruhan adalah 32,33%; 0,62%, dan -0,50%. Sementara itu, jumlah tenaga kerja
subsektor mode pada 2013 adalah 3.838.755, dengan rata-rata pertumbuhan tenaga kerja sebesar
32,36% untuk periode tahun 2013.

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Gambar 3-3 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Unit Usaha Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

105

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013

Gambar kontribusi subsektor mode terhadap total unit usaha ekonomi kreatif di Indonesia
menyatakan bahwa subsektor ini memberikan kontribusi sebesar 20,44% terhadap nilai totalnya.
Laju pertumbuhan unit usaha pada 2013 untuk subsektor mode, ekonomi kreatif dan Indonesia
secara keseluruhan adalah 0,53%; 0,41% dan 0,90%. Sementara itu, jumlah unit usaha subsektor
mode pada 2013 adalah 1.107.955, dengan rata-rata pertumbuhan unit usaha sebesar 1,11% untuk
periode tahun 2010-2013.

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Gambar 3-4 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Konsumsi Rumah Tangga Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

106

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

KONTRIBUSI TERHADAP TOTAL KONSUMSI RT EKONOMI KREATIF (2013)


Periklanan, 0.01%
Desain, 1,05%
Seni Rupa, 0.16%

Kuliner,
42.41%

Riset & Pengembangan, 0.01%


Radio & Televisi, 0.33%

Mode,
32.64%

Kerajinan,
16.76%

Teknologi Informasi, 0.98%


Penerbitan
& Percetakan, 4.17%
Seni Pertunjukan, 0.48%
Musik, 0.50%
Permainan Interaktif, 0.48%
Arsitektur, 0.05%

NILAI KONSUMSI RT (2013)

Rp 282.879,1 M

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013

Gambar kontribusi subsektor mode terhadap total konsumsi rumah tangga ekonomi kreatif di
Indonesia menyatakan bahwa subsektor ini memberikan kontribusi sebesar 32,64% terhadap nilai
totalnya. Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada 2013 untuk subsektor mode, ekonomi
kreatif dan Indonesia secara keseluruhan adalah 32,64%; 10,83% dan 12,25%. Sementara itu,
nilai konsumsi rumah tangga subsektor mode pada tahun 2013 adalah Rp282,88 triliun, dengan
rata-rata pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 32,58% untuk periode tahun 2010-2013.

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor


Gambar 3-5 Kontribusi Subsektor Mode terhadap Total Ekspor Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah


BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

107

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013

Gambar kontribusi subsektor mode terhadap total ekspor ekonomi kreatif di Indonesia menyatakan
bahwa subsektor ini memberikan kontribusi sebesar 64,55% terhadap nilai totalnya. Laju
pertumbuhan nilai ekspor pada 2013 untuk subsektor mode, ekonomi kreatif dan Indonesia secara
keseluruhan adalah 9,51%; 8,01% dan 4,03%. Sementara itu, nilai ekspor subsektor mode pada
2013 adalah Rp76,8 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan nilai ekspor sebesar 7,16% untuk
periode tahun 2010-2013. Sementara itu, menurut data Comtrade, nilai ekspor subsektor mode
lebih dari Rp3,1 triliun pada 2013, dengan rata-rata pertumbuhan dari tahun 2010 sampai 2013
sekitar 11%.
Gambar 3-6 Pertumbuhan Ekspor Subsektor Mode tahun 2010-2013 (dalam juta rupiah)

Sumber: COMTRADE

108

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

3.2 Kebijakan Pengembangan Mode


3.2.1 Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI)
Konsep mengenai Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) subsektor mode tertuang dalam desain
yang digunakan untuk kepentingan komersial, yang aspeknya dapat dilihat dari perihal merek
dagang. Undang-Undang No. 15 Pasal 3 Tahun 2001 tentang Merek, mengatur cara melindungi
suatu hak cipta mengenai ekspresi suatu gagasan atau ide. Pasal tersebut menyatakan bahwa hak
atas merek adalah hak eksklusif yang diberikan negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam
Daftar Umum Merek sehingga pemilik tersebut berhak atas mereknya yang dilindungi oleh hukum.
Selanjutnya, desainer sebagai pencipta, atau pihak lain sebagai pemegang hak cipta yang sah, dapat
mendaftarkan karya ciptanya di Direktorat Jenderal HKI, agar kepemilikannya bersifat legal.
Biaya pengurusan HKI sebesar Rp600 ribu yang berlaku selama 10 tahun. Pembebasan biaya akan
berlaku bagi desainer apabila disertai surat keterangan dari pihak terkait yang menyatakan bahwa
desainer tersebut belum mampu membiayai pengurusannya. Walaupun waktu pengurusannya
masih lama karena terkait proses birokrasi, Dirjen HKI tetap berupaya untuk terus mempersingkat
prosesnya agar lebih mempermudah para desainer atau pelaku industri kreatif mode.
Pentingnya kesadaran HKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) di masyarakat, menjadi perhatian
khusus para pelaku industri kreatif maupun praktisi hukum saat ini, walaupun sebagian besar
masyarakat tidak mengetahui pentingnya regulasi ini karena sebagian besar adalah masyarakat
agraris. Sedangkan HKI sendiri banyak diperjuangkan oleh masyarakat perdagangan yang
tinggal di daerah perkotaan. Selain dilatarbelakangi oleh faktor demografi, minimnya kesadaran
perlindungan HKI juga disebabkan oleh kekecewaan masyarakat terhadap pelaksanaan pengaturan
HKI terkait regulasi dan implementasinya sehingga banyak pelaku industri mode yang belum
mengurusnya. Oleh sebab itu, diperlukan sosialisasi mengenai pentingnya perlindungan HKI
kepada masyarakat, disertai perbaikan kinerja dari penegak hukum dalam prosedur atau
penindakan atas pelanggaran HKI.

3.2.2 Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)


Peraturan ini merupakan rumusan kemampuan kerja yang dikeluarkan oleh Kementerian Tenaga
Kerja dan Transmigrasi tahun 2013, yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan atau
keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas-tugas dan syarat jabatan dan
ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan disusun berdasarkan
kebutuhan lapangan usaha yang memuat kompetensi teknis, pengetahuan dan sikap kerja. Selain
itu, standar kompetensi dapat berarti pernyataan yang menguraikan keterampilan, pengetahuan
dan sikap yang harus dilakukan pada saat bekerja, serta dalam penerapannya sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan oleh tempat bekerja.
SKKNI dikelompokkan ke dalam jenjang kualifikasi dengan mengacu kepada Kualifikasi Kerja
Nasional Indonesia (KKNI) dan/atau jenjang jabatan. Pengelompokannya didasarkan pada
tingkat kesulitan pelaksanaan, sifat dan tanggung jawab pekerjaannya. Rancangan peraturan
ini dibakukan melalui forum konvensi antar asosiasi profesi, pakar, dan praktisi untuk sektor,
subsektor, dan bidang tertentu dan ditetapkan oleh Peraturan Menteri, yang diformulasikan
menggunakan format Regional Model of Competency Standard (RCMS) dan distandarkan
pada cakupan bidang pekerjaannya sehingga SKKNI juga menjadi acuan dalam penyusunan
materi ujian kompetensi.

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

109

Pada kenyataannya, standar kompetensi ini belum dapat diaplikasikan dengan baik karena adanya
perbedaan dalam kurikulum pendidikan mode yang diajarkan dengan kebutuhan industri yang
akan menyerap lulusan sekolah mode tersebut. Dalam hal ini, peran pemerintah sebagai regulator
diharapkan dapat memperbaiki kurikulum pendidikan mode agar terjadi suatu kondisi link and
match antara lembaga pendidikan dan industrinya. Penerapan standar ini juga dapat membuat
para Sumber Daya Manusia (SDM) di industri kreatif mode memiliki produktivitas yang lebih
tinggi dan berdaya saing baik.

3.2.3 Permendag 70
Awal tahun ini, pemerintah mengadakan sosialisasi Permendag 70 untuk memberikan akses dan
tempat bagi produk dalam negeri yang berkualitas tinggi. Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan
Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) dan Asosiasi Pengusaha Ritel
Indonesia (APRINDO), pemerintah berupaya mewajibkan toko ritel modern untuk memasarkan
80% dari total barang dagangannya berupa produk dalam negeri, yang tertuang dengan jelas
dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 70 tahun 2013 tentang Pedoman Penataan dan
Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.
Realisasi kewajiban peraturan ini akan diberlakukan pada 12 Juni 2016, dengan harapan agar
dapat meningkatkan kepentingan semua pihak, termasuk pedagang dan distributor, khususnya
pemilik pasar modern dan produsen dalam negeri, melalui cara promosi dan sinergi di antara
para pelaku usaha tersebut.
Kalangan pengamat ekonomi menilai bahwa penerapan peraturan ini akan menghadapi kesulitan
dan butuh pengkajian kembali karena pada penerapannya di lapangan masih terbuka peluang
impor barang di segala lini, yang kebijakannya pun diatur oleh Kementerian Dalam Negeri.
Pengamat menyangsikan bahwa peraturan ini dapat dapat berjalan lancar pada 2016 nanti.
Biasanya pusat ritel modern memiliki standar tersendiri untuk seluruh produk yang dijual,
sedangkan produk dalam negeri masih sedikit yang mempunyai kualitas tinggi. Hal ini juga
terjadi karena kesalahan pemerintah yang membiarkan produk-produk impor terjual dengan
leluasa di dalam negeri sehingga peraturan ini dianggap sebagai kebijakan populis jika dilihat
dari waktunya, yang baru dikeluarkan pada saat ini. Padahal peraturan mengenai masuknya
barang impor masih dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan yang justru tidak mendukung
pengembangan produk lokal agar dapat bersaing dengan produk impor.

3.2.4 Hak Perlindungan Konsumen


Pasal 1 Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mempunyai
pengertian bahwa segala upaya menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan
kepada hak konsumen. Tujuan penyusunannya adalah (1) meningkatkan kesadaran, kemampuan,
dan kemandirian konsumen dalam melindungi diri, (2) mengangkat harkat dan martabat
konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan atau jasa,
(3) meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hakhaknya sebagai konsumen, (4) menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung
unsur kepastian hukum, keterbukaan informasi serta akses untuk memperoleh informasi; dan
(5) menumbuhkan kesadaran pelaku usaha, sehingga tumbuh sikap jujur dan bertanggungjawab
dalam penyediaan barang dan atau jasa yang berkualitas.

110

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Pada dasarnya, undang-undang ini dibuat untuk melindungi konsumen, terutama dalam industri
kreatif subsektor mode, tetapi kenyataannya hak konsumen masih sering diabaikan. Padahal
pemenuhan kewajiban dari konsumen tersebut telah dilaksanakan sehingga diperlukan adanya
pengkajian ulang disertai pemberian sanksi yang lebih tegas dalam penerapan undang-undang
ini agar konsumen, baik private atau umum, tidak merasa dirugikan dan penjual dapat lebih
menyadari kewajibannya terhadap para konsumennya.

3.2.5 Pajak Penjualan Barang Mewah


Peraturan ini adalah PP No.7 Pasal 1 Tahun 2002 yang berisi mengenai kelompok barang yang
dikenakan pajak penjualan karena tergolong barang mewah. Pemerintah mengeluarkan peraturan
tersebut karena dipandang perlu untuk lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan dalam
pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah, sebagai pengganti
Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah No. 145 Tahun 2000
tentang Kelompok Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah Yang Dikenakan Pajak Penjualan
Atas Barang Mewah.
Pada kedua peraturan ini, beberapa produk subsektor mode, termasuk dalam kelompok barang
kena pajak tergolong mewah yang dikenakan pajak penjualan dengan tarif 30% yaitu (1) kelompok
barang-barang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari logam mulia atau dari logam yang
dilapisi logam mulia atau campuran dari logam tersebut dan (2) kelompok jenis alas kaki; serta
kelompok barang kena pajak tergolong mewah yang dikenakan pajak penjualan dengan tarif
75% yaitu kelompok barangbarang yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari batu mulia dan
atau mutiara atau campuran dari bahan tersebut.
Melalui besarnya penerapan pajak di atas, dapat dikatakan bahwa para konsumen produk mode
yang telah disebutkan merasa keberatan karena tingginya pajak yang dikenakan (sebesar 30%
dan 75%). Selain itu, para penjual biasanya mewajibkan pembayaran pajak tersebut kepada
konsumennya dengan cara menaikkan harga produk sangat tinggi sehingga pemerintah diharapkan
dapat mengkaji kembali nilai besaran pajak dalam peraturan ini, untuk memberikan keringanan
kepada para konsumen sekaligus porsi yang berimbang dalam kewajiban pembayaran pajak
penjualan produk mode yang termasuk barang mewah tersebut antara penjual dan konsumen.

3.2.6 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI)


Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), diterbitkan oleh Kepala Badan Pusat
Statistik, No. 57 Tahun 2009 adalah referensi para pelaku usaha untuk menentukan kualifikasi
usahanya yang berisi 21 jenis kategori. Klasifikasi ini dibutuhkan dalam penentuan Surat Izin
Usaha Perdagangan (SIUP). Dasar penyusunan KBLI adalahInternational Standard Industrial
Classification of All Economic Activities (ISIC),sampai dengan 4 digit,disesuaikan denganASEAN
Common Industrial Classification (ACIC)danEast Asia Manufacturing Statistics (EAMS),serta
dikembangkan rinci sampai 5 digit untuk kegiatan ekonomi yang khas Indonesia.
Pengertian dasar Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), yaitu (1) KBLIadalah
klasifikasi rujukan yang digunakan untuk mengklasifikasikan aktivitas/kegiatan ekonomi Indonesia
ke dalam beberapalapangan usaha/bidang usahayang dibedakan berdasarkan jenis kegiatan
ekonomi yang menghasilkan produk/output, baik berupa barang maupun jasa, (2) KBLIterdiri
atas struktur pengklasifikasian kegiatan ekonomi yang konsisten dan saling berhubungan,
didasarkan pada konsep, definisi, prinsip,dan tatacarapengklasifikasianyang telah disepakati secara

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

111

internasional, (3) KBLImenyediakan kerangka kerja yang komprehensif, yang data ekonominya
dapat dikumpulkan dan disajikan dalam format yang didesain untuk tujuanpengumpulan data,
pengolahan, diseminasi, dananalisis,sertaperencanaandan evaluasikebijakan, yang menunjukkan
struktur klasifikasi menunjukkan format standar untuk mengelola informasi rinci tentang keadaan
ekonomi, sesuai dengan prinsip-prinsip dan persepsi ekonomi.
Mengenai usaha terkait ekonomi kreatif, BPS telah mengeluarkan jenis klasifikasinya sendiri
yang diambil dari KBLI 2009 dan sudah termasuk klasifikasi produk, jenis perdagangan dan
jasa dalam industri kreatif mode. Namun KBLI ekonomi kreatif ini dinilai masih banyak
kekurangan mengenai jenis produk dan jasanya, seperti (1) tidak teridentifikasinya seluruh jenis
produk mode yang terdiri dari jajaran busana atau pakaian dan pelengkapnya, (2) terdapatnya
pengklasifikasian jenis jasa usaha yang sama sekali tidak berhubungan dengan industri kreatif
mode, (3) profesi desainer mode yang masih digolongkan ke dalam jasa perancangan khusus dan
belum teridentifikasi sendiri, serta lainnya. Sebagai tindak lanjut, perbaikan mengenai isi dalam
KBLI ekonomi kreatif tersebut telah dituliskan dalam subbab 2.2.2 Ruang Lingkup Industri
dalam buku ini.

3.3 Struktur Pasar Mode


Menurut data BPS 2013, jumlah unit usaha atau perusahaan yang bergerak di bidang mode
sebesar 1.107.955 unit dengan laju pertumbuhan sekitar 0,53%; dan kontribusi jumlah unit
usaha mode terhadap total industri kreatif di Indonesia sebesar 20,44%. Lebih jelasnya, dalam
industri kreatif subsektor ini, yang memiliki kontribusikandungan produklokal masih lebih
besar atau sekitar 80% (dengan catatan untuk produk dengan kandungan lokal kurang dari 20%
atau produk impor 100% tidak diikutsertakan), terbagi menjadi perusahaan dengan skala besar,
menengah dan kecil. Ukuran tersebut dilihat dari besaran perspektif finansial serta besar atau
kecilnyasimpul distribusipenjualan (retail channel distribution).
Jumlah perusahaan dengan skala besar yang berkontribusi kurang dari 10% dan menguasai
pangsapasarhampir 40% (misalnya Matahari, Ramayana, dan lain-lain). Sementara itu, untuk
perusahaan skala menengah jumlahnya mendekati 20% dan menguasai pangsa pasar hampir 30%
(Delami Mereks, PT Warna Mardhika, Contempo Group, dan lain-lain). Perusahaan besar dan
menengah tersebut banyak berproduksi dengan pola CMT (Cutting, Making, Trimming), serta
OEM, ODM, dan OBM (Original Equipment Manufacturing, Original Design Manufacturing,
dan Original Merek Manufacturing). Masih menurut data BPS, kontribusi perusahaan besar dan
menengah tersebut dapat dinilai cukup dominan terhadap nilai ekspor industri mode pada 2013
yaitu USD251.21 M, dengan rata-rata nilai pertumbuhan dari tahun 2010-2013 sebesar 11%.
Sedangkan untuk perusahaan kecil, jumlahnya lebih besar dari 70% dan berbentuk UMKM
(Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), tetapi hanya mampu menguasai pangsa pasar sekitar 30%
(juga termasuk industri kerajinan tekstil dengan distribusi penjualan terbatas dan mayoritas
sebagai distribusi wholesale dan belum berkembang dalam distribusi ritel).
Dari angka persen penguasaan pangsa pasar di atas, dapat terlihat bahwa belum sampai terjadi
praktik monopoli di industri mode Indonesia. Hal ini disebabkan oleh distribusi, penjualan serta
rantai prosesnya masih cukup luas untuk saling dijajaki di seluruh jenis perusahaan. Namun,
perusahaan besar secara konsisten setiap tahunnya menunjukkan pertumbuhan bisnisyang
cukup signifikan, diikuti perusahaan skala menengah. Sementara perusahaan skala kecil dengan
modal kerja dan kemampuan membangun daya saing, rantai distribusi dan penjualan yang sangat

112

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

terbatas, cenderung menunjukkan stagnasi atau dapat dikatakan mengalami penurunan dalam
menguasai pangsa pasar.
Lebih lanjut, pasar persaingan sempurna ditandai dengan munculnya perusahaan jenis konveksi
yang memproduksi barang dengan kualitas rendah dan harga murah, serta perusahaan garmen
yang banyak memproduksi pesanan merek luar negeri dengan menggunakan lini produksi
CMT dan atau OEM, ODM serta OBM, misalnya: Sritex. Menurut data yang dihimpun dari
APGAI (Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia), anggota APGAI adalah sebanyak
113 perusahaan yang mengelola lebih dari 500 merek baik merek lokal maupun luar negeri. Di
sisi lain, industri kreatif subsektor mode Indonesia bersaing kuat dengan kehadiran perusahaan
importir yang mendistribusikan merek-merek luar negeri (mereked goods) dan perusahaanperusahaan yang mengimpor produk mode dari RRT.
Kondisi pasar yang kurang seimbang juga terjadi karena banyaknya merek luar negeri yang
ditargetkan untuk kalangan kelas menengah ke atas, sedangkan produk lokal untuk kalangan
tersebut masih sedikit. Apalagi ditambah dengan fakta bahwa mayoritas konsumen Indonesia
menganggap merek luar negeri masih lebih baik kualitasnya daripada merek lokal. Namun
sekarang, pasar yang melayani konsumen menengah ke atas tersebut mulai berkembang di
Indonesia, misalnya dalam venue ritel departement store dengan kondisi desainer lokal dapat
bersaing dengan desainer luar negeri dan in-house merek milik venue itu sendiri.
Di sisi lain, berdasarkan data State of The Global Islamic Economi Report pada 2013, yang
menunjukkan bahwa gaya berbusana muslim di Indonesia telah menginspirasi banyak negara Islam
untuk mengembangkan kreativitasnya. Indonesia menempati urutan pertama dalam pertumbuhan
tren busana muslim, yaitu sebesar 72%, dengan nilai total konsumsi pasar sebesar USD16,8 juta
dan nilai ekspor sebesar USD7 juta. Oleh sebab itu, pada saat ini Indonesia juga telah dijadikan
pusat tren busana muslim seiring dengan pertumbuhan desainernya yang meningkat drastis.
Kondisi ini juga diperkuat dengan data yang diperoleh dari keterangan Asosiasi Pengusaha Ritel
Indonesia (APRINDO) tentang total jumlah penjualan ritel pada 2013 sebesar Rp16 triliun,
termasuk di dalamnya untuk penjualan produk mode umum dan muslim sebesar Rp4 triliun
atau sekitar 25%. Porsi ini tergolong cukup besar karena banyaknya variasi produk yang dijual
dalam usaha ritel di Indonesia.

Gaya berbusana muslim di Indonesia telah


menginspirasi banyak negara Islam untuk
mengembangkan kreativitasnya. Indonesia
menempati urutan pertama dalam pertumbuhan
tren busana muslim, yaitu sebesar 72%, dengan nilai
total konsumsi pasar sebesar USD16,8 juta dan nilai
ekspor sebesar USD7 juta.

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

113

3.4

Daya Saing Mode


Gambar 3-7 Daya Saing Industri Mode

Daya saing dalam industri mode dapat dilihat dari berbagai sisi. Berawal dari pendidikan mode
di Indonesia yang memang masih bermasalah, seiring dengan kondisi kurikulum yang belum
sesuai dengan kebutuhan industri sehingga menciptakan gap yang besar antara lulusan institusi
pendidikan dan industri yang menyerapnya, seperti yang ditunjukkan nilai 4.3. Masalah ini
memang telah disadari oleh para akademisi, pelaku industri, dan Dirjen DIKTI sebagai regulator
kurikulum, tetapi para pemangku kepentingan tersebut masih belum dapat menyusun kurikulum
yang sesuai dan mencakup seluruh pembelajaran yang penting bagi lulusan pendidikan mode.
Jumlah lembaga pendidikan mode formal dan nonformal di Indonesia yang masih berkisar 20an memang dinilai belum maksimal untuk mengakomodasi kebutuhan peminat mode terhadap
pendidikannya, tetapi jika dilihat dari sisi lain, keberadaan sekolah mode yang cukup banyak
tidak akan memberikan dampak positif bagi para peminat tersebut apabila tidak diiringi dengan
perbaikan kurikulum serta peningkatan kualitas pengajar.
Selain itu, industri mode merupakan industri yang sudah cukup berkembang dibanding subsektor
ekonomi kreatif lainnya dengan nilai terbesar yaitu 6.3, tetapi dibalik perkembangannya terdapat
potensi dan permasalahan yang tidak sedikit, terutama berkaitan dengan aspek Sumber Daya
Alam (SDA), Sumber Daya Budaya (SDB), dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ditunjukkan
angka 5.0. Industri kreatif subsektor ini juga memiliki beberapa masalah mengenai Sumber Daya
Manusia (SDM), yaitu (1) kekurangan tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas
dan memiliki skill khusus secara teknis sehingga menyebabkan terhambatnya proses produksi,

114

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

yang berkaitan dengan daya saing rendah dari para SDM tersebut dalam menyambut AFTA dan
MEA pada tahun 2015, (2) kesadaran dan pengetahuan para tenaga SDM tersebut mengenai
aspek keselamatan kerja dinilai masih kurang, dan (3) rendahnya kedisiplinan tenaga SDM
dalam mematuhi standar kompetensi kerja yang berlaku, yang berakibat kepada rendahnya
produktivitas. Lebih lanjut lagi mengenai kondisi SDM, yaitu masih kurangnya pendidikan
atau pelatihan yang tersedia untuk mendukung agar industri ini dapat mencapai kapasitas output
yang efektif, sedangkan kelemahan dari SDA adalah kekayaan alam yang berlimpah, tapi belum
mampu untuk diolah produk turunannya sehingga Indonesia mengekspor bahan baku mentah,
tetapi harus mengimpor bahan baku turunannya untuk memenuhi permintaan produksi.
Kondisi ketidaktersediaan pusat arsip dan pusat kajian perkembangan mode Indonesia yang
representatif berakibat pada minimnya ketersediaan arsip, buku, dan dokumentasinya. Oleh
karena itu, penelitian mengenai SDA dan SDB produk mode Indonesia masih perlu diperbanyak,
walaupun penelitian untuk mengetahui sumber daya alternatif yang dapat dijadikan bahan baku
material untuk pembuatan produk mode sudah mulai dikembangkan, misalnya serat nanas,
sutra ulat bulu, serat rami, bambu, eceng gondok, dan lain-lain. Permasalahan lainnya adalah
kesulitan untuk mendapatkan bahan baku sebagai material produksi sehingga material tersebut
masih tergantung pada produk impor dari RRT dan India yang banyak beredar di Indonesia.
Di sisi lain, orientasi pelaku industri mode di Indonesia masih belum mementingkan kebutuhan
dalam negeri karena infrastruktur untuk memenuhi industri kreatif lokal dinilai masih belum
memadai, khususnya bagi perusahaan kecil, tetapi dialami juga oleh perusahaan besar dan menengah.
Hal ini terjadi karena masih belum adanya pemahaman yang terintegrasi antara para stake holder
untuk mendukung berkembangnya industri kreatif subsektor mode. Peran pemerintah, intelektual
pendidikan, pelaku bisnis, dan industri serta komunitas, secara terintegrasi harus melakukan
penelitian yang hasil akhirnya dapat diterjemahkan terhadap permintaan pasar. Infrastruktur
penunjang tersebut memang sudah tersedia tapi masih belum memadai untuk dapat mendukung
pertumbuhan industri karena sangat terkait dengan tren mode sehingga seluruh perubahan harus
direspons dengan cepat disertai ketersediaan bahan baku utama dan beberapa aksesori penunjang
untuk siap produksi agar dapat menjadi suatu produk yang bersaing mengikuti kebutuhan pasar.
Terakhir tentunya akan berhubungan dengan waktu yang lebih panjang dalam proses supply chain
karena industri ini sangat berhubungan dengan waktu penjualan (season launching) yang tepat. Di
sini peran aktif pemerintah adalah dapat memahami dinamika kebutuhan industri yaitu bekerja
sama dengan para pihak terkait dalam membangun infrastuktur industri penunjang tersebut.
Bukan hanya untuk investasi asing (tujuan ekspor), tetapi juga lebih melihat dan mendukung
terciptanya industri penunjang yang dapat dimulai dari skala kecil dan menengah yang pro lokal
dengan jalan memberi insentif agar industri ini dapat terus berkembang. Jumlah impor bahan
baku dan bahan penunjang terus bertambah tiap waktu, hal ini dapat memberikan gambaran
besarnya permintaan pasar untuk mendukung adanya industri penunjang terhadap industri
kreatif mode di Indonesia.

3.5 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan Mode


Berdasarkan evaluasi dalam pengembangan industri mode di Indonesia, di bawah ini adalah tabel
mengenai potensi dan permasalahan dalam pengembangan mode di Indonesia.

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

115

Tabel 3-2 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan Mode

NO

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

PILAR : SUMBER DAYA KREATIF


1

116

Jumlah siswa lulusan sekolah


mode di Indonesia yang
mengerti konsep kreasi telah
cukup banyak sejak tahun 2000an, seiring dengan pertambahan
jumlah lembaga pendidikannya,
dengan jumlah lembaga
pendidikan mode lebih dari 20.

Peningkatan jumlah pengusaha


yang bergerak di subsektor
mode akan memperbanyak
jumlah perusahaannya,
diiringi dengan peningkatan
penyerapan Sumber Daya
Manusia (SDM) yang terdiri
atas para seniman, dan artisan
sebagai orang kreatif, hingga ke
orang produksi, pemasaran dan
promosi.

1.1

Pertambahan kuantitas sekolah mode hanya


tersebar di kota-kota besar di Indonesia karena
target pasarnya adalah kalangan menengah ke atas.

1.2

Banyak tenaga kreatif, tetapi belum seluruhnya


bermental kreatif, dalam arti kemampuan
memecahkan masalah dan inovasi.

1.3

Konsep kreatif masih banyak berada dalam


kemampuan pengolahan estetis sehingga kurang
berdaya saing. Di antaranya, karya kreatif
belum banyak menggali potensi lokal, hanya
pengembangan atau mengikuti gaya global saja,
kurang khas.

1.4

Kuantitas pengajar yang belum cukup, terutama


yang mengenyam pendidikan mode secara
maksimal.

1.5

Beasiswa untuk pendidikan mode masih kurang


karena bidang mode dianggap jenis pendidikan
vokasi.

1.6

Kurikulum pendidikan mode masih lebih


menekankan pada aspek teori, dibanding praktik
dan pengembangan bisnisnya.

1.7

Belum banyaknya kurikulum yang berbasis


kekuatan lokal dan berorientasi pada kebutuhan
pasar dan selera global

1.8

Kurang adanya hubungan komunikasi antara


industri dan penyedia pendidikan sehingga link and
match antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan
industri tidak optimal sehingga masih banyak hasil
didik yang kurang siap pakai.

2.1

Kekurangan tenaga Sumber Daya Manusia (SDM)


yang berkualitas dan memiliki keterampilan khusus
secara teknis sehingga menyebabkan terhambatnya
proses produksi. Hal ini juga terkait dengan daya
saing yang rendah dari para SDM tersebut dalam
menyambut AFTA.

2.2

Kurangnya etos kerja dan motivasi, juga rendahnya


kedisiplinan tenaga SDM dalam mematuhi standar
kompetensi kerja yang berlaku, yang berakibat
kepada rendahnya produktivitas.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

NO

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

Keahlian khusus turun temurun


yang sudah dimiliki oleh SDM
Indonesia, seperti menenun,
membatik, membordir mengukir,
menganyam, dan keahlian
kerajinan tangan lainnya.

Keahlian yang tidak didukung oleh pelatihan


berkelanjutan sehingga mutu SDM menjadi stagnan,
masih bersifat kerajinan, masih sebagai kegiatan
keseharian, belum dianggap serius dalam nilai
ekonomi.

Perlindungan ketenagakerjaan
dalam industri kreatif mode
sudah mulai ada.

Kesadaran dan pengetahuan para tenaga Sumber


Daya Manusia (SDM) mengenai aspek keselamatan
kerja dinilai masih kurang.

1.1

Bahan alternatif kebanyakan hanya sampai tahap


eksperimental, atau diproduksi terbatas. Belum
dibuat pola pengembangan terpadu untuk dapat
memenuhi kebutuhan industri. Penelitian terkait
sumber daya alam produk mode Indonesia masih
perlu diperbanyak.

1.2

Kesulitan dalam mengakses data mengenai


dokumentasi kerajinan tekstil yang berkaitan
dengan produk mode, baik data sebagai inspirasi
maupun untuk memenuhi kebutuhan kreasi dan
produksi.

1.3

Belum adanya pusat arsip dan pusat kajian


perkembangan mode Indonesia yang representatif
sehingga berakibat pada minimnya ketersediaan
arsip, buku dan dokumentasi dunia mode Indonesia
lainnya.

1.4

Belum banyak kelompok yang mengolah potensi


bahan baku untuk kebutuhan industri, misalnya
diangkat sebagai tren.

2.1

Kesulitan untuk mendapatkan bahan baku


pembuatan kain tradisional sebagai material
produksi kain.

2.2

Material utama masih tergantung pada produk


impor dan bersaing ketat dengan produk dari RRT
dan India yang banyak beredar di Indonesia.

3.1

Desain kain tradisional yang sangat beragam


terus diulang-ulang sehingga terkesan tidak ada
pembaruan.

PILAR : SUMBER DAYA PENDUKUNG


1

Riset untuk mengetahui sumber


daya alternatif selain kapas,
yang dapat dijadikan bahan
baku material untuk pembuatan
produk mode sudah mulai
ada, misalnya: serat nanas,
sutra, dan lain-lain. Selain itu,
penemuan sumber material
baru untuk produk mode juga
telah mulai dikembangkan (yang
ramah lingkungan), misal serat
rami, bambu, eceng gondok, dan
lain-lain.

Potensi kekayaan alam


Indonesia untuk bahan baku
serat hewani dan nabati

Keragaman kain sebagai bagian


dari budaya Indonesia yang
berkaitan dengan produk mode,
misalnya kerajinan batik, kain
jumputan, tenun ikat, dan lainlain. Selain itu, kerajinan sulam
tangan dan bordir (hasil hand
made) dapat digunakan sebagai
aplikasinya.

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

117

NO

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

Upaya pengembangan kain


tradisional melalui kerja sama
desainer dengan penenun
sehingga menghasilkan karya
baru yang inovatif dari bahan
baku lokal.

Pengembangan hanya sampai tahap kerja sama


sesaat antara desainer dan penenun/perajin,
kurang dikembangkan untuk industri.

Intensitas komunikasi dalam


penggunaan bahan baku lokal
untuk produk mode sudah
mulai dilaksanakan dengan
penggunaan material ramah
lingkungan untuk pewarnaan,
misalnya indigo dan lainnya.

5.1

Akses informasi terhadap sumber daya alam dan


sumber daya lokal produk mode Indonesia dinilai
masih minim.

5.2

Kurangnya jejaring informasi dan kerja sama


sehingga potensi potensi ini belum maksimal
dimanfaatkan.

1.1

Jiwa kewirausahaan para wirausaha di subsektor


mode dinilai masih kurang.

1.2

Perencanaan bisnis yang belum matang sehingga


banyak pelaku usaha mode baru yang muncul
namun seringkali tidak bertahan lama.

2.1

Akibat komunikasi yang tidak optimal, konsep


kolaborasi tersebut masih harus dipertajam agar
mempunyai daya saing yang baik.

2.2

Belum adanya persamaan persepsi dan standar


konsep kerja sama mengakibatkan kolaborasi yang
tidak menyeluruh atau hanya dalam kurun waktu
sesaat.

PILAR : INDUSTRI
1

Wirausaha kreatif di bidang


mode sudah mulai banyak.

Kolaborasi desain antara


desainer dan pelaku garmen
sudah mulai ada, diiringi
dengan kerja sama di tingkat
internasional yang mengusung
produk mode lokal.

Jumlah usaha di subsektor


mode terhitung sangat besar (di
atas satu juta unit).

Tuntutan buruh mengenai Upah Minimum Regional


(UMR) yang cenderung naik dari tahun ke tahun,
menyebabkan hengkangnya beberapa investor
industri mode ke negara Asia lainnya.

Penciptaan model bisnis baru


yang sudah mulai dilaksanakan
oleh para pelaku kreatif, seperti
Omni Channel, Multi Level
Marketing (MLM), dan kolaborasi
desain antara desainer dan
industri garmen.

Belum banyak pelaku usaha mode yang


menerapkan model bisnis ini karena kurang
sosialisasi, kurang pemahaman atau sistem yang
terbentuk belum sempurna.

Keragaman karya pelaku


kreatif mode Indonesia sudah
mulai banyak dan diminati oleh
pencinta mode di dalam dan luar
negeri.

Kemampuan memenuhi kuantitas dan kualitas


karya kreatif lokal yang masih kurang. Secara
kualitas: akibat belum adanya standardisasi
terutama dalam penentuan ukuran dan pengendali
mutu. Dari sisi kuantitas: karena kelemahan
pengaturan sistem produksi dan kurangnya kerja
sama dengan pengusaha kecil dengan besar.

118

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

NO

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

PILAR : PEMBIAYAAN
1

Lembaga dan sumber


pembiayaan untuk perusahaan
terkait subsektor mode
khususnya yang baru berdiri,
selain bank, mulai banyak
ditemukan, misalnya investor
perorangan, koperasi, dana
binaan dari BUMN, atau
pemerintahan, CSR, dan lainlain.

Lembaga sumber pembiayaan


non-bank telah muncul untuk
pendirian usaha subsektor
mode.

2.1

Biasanya jumlah pinjaman yang tidak besar.

2.2

Akses pembiayaan dinilai tidak tepat sasaran dan


sulit persyaratannya bagi para pelaku usaha mode
yang masih membutuhkannya.

2.3

Kesulitan akses dari para pelaku usaha subsektor


mode yang belum paham mengenai prosedur dari
lembaga pembiayaan.

2.4

Kurangnya perencanaan usaha dan strategi


serta sistem kerja kurang maksimal sehingga
perkembangannya tahapan pengembangan kurang
terarah dan hasil tidak maksimal.

1.1

Ketersediaan akses dan distribusi pasar yang


menyeluruh masih banyak dilakukan oleh produk
luar negeri.

1.2

Walaupun pusat perbelanjaan menjamur, tempat


utama biasanya didominasi merek internasional
merek dan pengisi lain umumnya merek nasional
skala besar, sehingga diversifikasi produk, jenis,
dan merek menjadi terbatas dan banyak terjadi
keseragam dipusat-pusat perbelanjaan.

1.3

Kegiatan untuk mendukung distribusi produk


lokal dinilai masih berat oleh pengusaha ritel
modern terutama merek lokal yang diproduksi oleh
pengusaha mode yang notabene adalah pengusaha
UMKM, yang selain secara modal terbatas,
konsistensi dalam produksi juga belum baik

Lembaga pembiayaan masih membutuhkan jaminan


yang tangible, seperti: ijazah, sertifikat, dan
terutama business plan, yang kebanyakan belum
bisa dipenuhi oleh para pelaku usaha subsektor
mode

PILAR : PEMASARAN
1

Kebutuhan masyarakat
terhadap produk mode semakin
meningkat dari tahun ke tahun,
sehingga meningkatkan jumlah
pusat perbelanjaan yang
menjual produk mode.

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

119

NO
2

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)
Produk karya kreatif mode yang
sudah mulai banyak diekspor

Media sosial membantu


promosi dan pemasaran
(misalnya Facebook, Twitter,
Instagram, dan sebagainya),
sekaligus mempermudah aspek
pengarsipan (misalnya Youtube,
Pinterest dan sebagainya).

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

2.1

Produk mode impor banyak beredar di Indonesia


dan belum diimbangi dengan kegiatan ekspor
produk lokal atau produk lokal yang menjadi tuan
rumah di negeri sendiri.

2.2

Secara jumlah ekspor produk kreatif masih belum


signifikan, karena pemasaran belum meluas,
dan pelaku yang sudah mulai melakukan upaya
pemasaran ekspor umumnya masih skala kecil
yang masih mempunyai kelemahan di produksi.

Pemanfaatan e-commerce bagi produsen kecil


yang lebih banyak mempromosikan produk luar
negeri (produk mode impor) dibanding produk lokal.
Kelompok online shop skala kecil ini sebenarnya
seperti butik kecil yang menjual berbagai produk
impor yang dibeli secara eceran dan masuk
handcarry (dibawa langsung) dari negara asal tanpa
bea masuk.

PILAR : INFRASTRUKTUR & TEKNOLOGI


1

Produksi kerajinan tekstil dapat


berkembang menjadi industri
besar agar siap untuk skala
industri mode.

1.1

Infrastruktur industri penunjang masih lemah


karena belum adanya pemahaman terintegrasi
antara pemilik modal dan pemilik usaha kerajinan
tekstil.

Penggunaan teknologi komputer


untuk pembuatan konsep kreasi,
pelaksanaan produksi dan
distribusi serta akses penjualan
produk mode telah banyak
digunakan.

2.1

Banyak yang belum menguasai teknologi komputer


untuk aplikasi seni dan desain.

1.1

Sosialisasi SKKNI masih dirasa kurang.

1.2

Belum tersedianya aksesori SKKNI untuk menguji


dan berhak mengeluarkan sertifikasi SKKNI kepada
perancang.

1.3

Realisasi pelaksanaan standar kompetensi kerja


tersebut masih belum dapat diterapkan oleh
sumber daya manusianya.

PILAR : KELEMBAGAAN
1

120

Standar Kompetensi Kerja


Nasional Indonesia (SKKNI)
untuk bidang mode sudah ada.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

NO
2

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)
Regulasi Permendag 70 untuk
mendukung distribusi penjualan
produk lokal di pasar ritel
modern.

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

2.1

Regulasi terhadap kurikulum pendidikan mode


masih belum sesuai dengan output yang dibutuhkan
industri kreatifnya.

2.2

Permendag 70 untuk mendukung distribusi produk


lokal dinilai masih berat oleh pengusaha ritel
modern karena kurang kuatnya positioning produk
lokal di mal-mal yang prominen tersebut sehingga
belum menjadi daya tarik yang kuat terhadap
konsumen.

2.3

Kecilnya modal sehingga produsen merek tersebut


menyuplai produknya secara tidak berkelanjutan.

2.4

Lemahnya regulasi mengenai penataan saluran


distribusi dan penjualan untuk produk mode sesuai
dengan koridor masing-masing, misalnya factory
outlet, toko kecil, pasar tradisional, wholesaler, toko
ritel besar (supermarket, department store atau
hypermarket), dan pameran.

Adanya regulasi Hak Kekayaan


Intelektual (HKI) yang sudah
disederhanakan prosedurnya
untuk proteksi produk bagi para
pelaku usaha subsektor mode.

Para pelaku usaha subsektor mode yang belum


paham mengenai regulasi pembuatan HKI dan
menilai bahwa prosedurnya masih berbelit-belit
disertai anggapan biaya pengurusannya mahal.

Pelaksanaan program-program
untuk mengembangkan
subsektor mode yang
merupakan kerja sama antara
pemerintah dan beberapa
stake holder, seperti Pekan
Produk Kreatif Indonesia (PPKI)
oleh Kemenparekraf bekerja
sama dengan kementeriankementerian lain.

Banyaknya pihak yang terkait dan belum adanya


kesamaan konsep, tujuan, strategi, dan pembagian
peran yang jelas mengakibatkan perkembangannya
terkesan kurang terkoordinasi sehingga seolaholah menuju tanpa arah (euforia).

Jumlah organisasi dan


komunitas untuk mengumpulkan
aspirasi para pelaku kreatif
mode sudah cukup banyak.

5.1

Informasi mengenai gerakan Indonesia Kreatif


untuk mendukung apresiasi industri kreatif belum
banyak diketahui oleh masyarakat.

5.2

Program organisasi dan komunitas tersebut masih


dinilai hanya untuk kemajuan anggotanya, belum
terkait dengan kemajuan dunia mode Indonesia.

6.1

Belum ada program penghargaan setingkat


nasional yang menghargai keseluruhan aspek
kreatif mode Indonesia.

6.2

Belum ada program penghargaan tingkat


internasional yang diinisiasi oleh Indonesia.

Program penghargaan untuk


pelaku kreatif mode sudah
mulai banyak dilaksanakan oleh
lembaga maupun perseorangan.

Kerja sama antara para pelaku


kreatif dan dunia internasional
untuk meningkatkan hubungan
diplomasi sudah banyak
dilakukan.

BAB 3: Kondisi Umum Industri Mode di Indonesia

Belum maksimalnya tindak lanjut nyata dari kerja


sama untuk peningkatan diplomasi tersebut.
Jikalau ada hanya untuk kalangan terbatas, belum
dimaksimalkan penyerapan manfaatnya untuk lebih
banyak pelaku industri.

121

NO
8

10

122

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)
Ruang publik untuk aktivitas
para pelaku kreatif mode mulai
banyak dibutuhkan dan dinilai
memadai.

Partisipasi para pelaku kreatif


mode Indonesia di kancah
internasional sudah mulai
banyak.

Usaha untuk meningkatkan


literasi masyarakat terhadap
perkembangan mode sudah
banyak dilakukan oleh media
massa.

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

8.1

Keberadaan ruang publik permanen untuk


kegiatan peragaan busana belum ada, sehingga
memanfaatkan ruang lain dengan ditambah
perlengkapan tambahan (stage, lighting,
soundsystem, LED) sehingga beban produksi
menjadi tinggi.

8.2

Ruang publik untuk pameran dagang setaraf


internasional belum banyak sehingga didominasi
tempat tertentu yang menyebabkan harga sewa
gedung menjadi tinggi dan menjadi beban berat bagi
penyelenggara pameran.

9.1

Konsep tujuan dari partisipasi kegiatan


internasional kadang kurang terarah sehingga
konsep program dengan partisipan seringkali tidak
sesuai.

9.2

Belum adanya kolaborasi dan kerja sama yang


harmonis antara para stakeholder dalam subsektor
mode terutama dalam rancangan strategis
sehingga hasil partisipasi belum maksimal atau
sudah berhasil namun tidak ditindaklanjuti.

10.1

Arah strategi tidak terencana dengan baik sehingga


dampak terhadap masyarakat kurang terarah.

10.2

Apresiasi terhadap merek nasional dan desainer


lokal masih kalah jika dibandingkan dengan merek
internasional dan desainernya.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

124

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

BAB 4
Rencana Pengembangan
Industri Mode Indonesia

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

125

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019


Arahan RPJPN 2005-2025, pembangunan nasional tahap ketiga (2015-2019) adalah ditujukan
untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber
daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan iptek yang terus meningkat.
Pembangunan periode 2015-2019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimalisasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 2015- 2019 adalah pembangunan yang kuat, inklusif dan
berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesia yang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur ekonomi dan ketahanan ekonomi yang kuat.
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia di berbagai
wilayah Indonesia secara adil dan merata.
3. Menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah dan
perusahaan yang benar dan baik.
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.

Dalam rancangan teknokratik RPJMN 2015-2019 terdapat enam agenda pembangunan, yaitu: (1)
Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup
dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan; (4)
Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6) Pembangunan Kelautan.
Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan untuk memantapkan
pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan
ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuat landasan
kelembagaan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkan iptek dan kreativitas
serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan solusi atas permasalahan dan

126

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan industri
kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.
Secara strategis pengembangan ekonomi kreatif tahun 2015-2019 bertujuan untuk menciptakan
ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai
dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif, dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.
Sejalan dengan strategi di atas tersebut, pengembangan industri mode untuk 5 tahun ke depan juga
bertujuan untuk menciptakan industri mode yang berdaya saing global. Tidak hanya memperkuat
kualitas produk dan branding-nya, landasan berpikir kreatif, pelaku, sistem pendukung seperti
pendidikan, infrastruktur, dan prasarana, teknologi, kelembagaan hingga aspek pembiayaan
juga menjadi target pengembangan industri mode 2015-2019. Hal ini dikarenakan kompleksnya
ekosistem industri mode yang hampir menyentuh seluruh aspek subsektor ekonomi kreatif lainnya
ataupun non-ekonomi kreatif, hingga target pengembangan diharapkan bisa merata baik ke
seluruh wilayah Indonesia, namun juga ke seluruh aspek utama dan pendukung di industri mode.

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Mode


Visi, misi, tujuan dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan mode pada periode
2015-2019 yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan
program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait secara terarah dan terukur. Secara umum,
kerangka strategis pengembangan mdoe pada periode 2015-2019 dapat dilihat pada Tabel 4-1.

VISI

Indonesia menjadi salah satu pusat mode dunia dengan mengoptimalkan kekuatan lokal yang
fokus pada konsep ready-to-wear craft fashion

MISI

Tabel 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Mode 2015-2019

Mengoptimalkan pemanfaatan
dan mengembangkan
sumber daya manusia,
alam, dan budaya lokal yang
berdaya saing, dinamis dan
berkelanjutan

Mengembangkan industri
mode yang berdaya saing,
tumbuh, beragam, dan
berkualitas

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

Mengembangkan lingkungan
industri yang kondusif dengan
pengintegrasian rantai industri
yang melibatkan seluruh
pemangku kepentingan di
industri mode

127

Terciptanya pelaku mode


yang berdaya saing dan
mampu mengangkat
potensi kekayaan lokal

Terwujudnya
perlindungan,
pengembangan dan
pemanfaatan sumber
daya lokal
yang diperkaya dengan
perubahan perilaku,
kepedulian terhadap
lingkungan hidup
dan sosial sehingga
memiliki kekhasan yang
dinamis dan berdaya
saing

SASARAN STRATEGIS

TUJUAN

Meningkatnya kualitas
dan kuantitas pendidikan
mode yang mendukung
penciptaan dan
penyebaran pelaku
mode secara merata dan
berkelanjutan

Meningkatnya kuantitas
dan kualitas pelaku
mode yang berdaya
saing, profesional dan
mampu membawa
potensi lokal ke dalam
selera global

Terciptanya
pengembangan bahan
baku serat nabati,
hewani, dan buatan
manusia dari sumber
daya alam yang
beragam, kompetitif dan
terbarukan

Terciptanya sistem
informasi sumber daya
budaya lokal, yang dapat
diakses secara mudah
dan cepat

Terwujudnya
industri mode yang
dinamis, berdaya
saing, serta mampu
menghasilkan
keanekaragaman
produk yang
siap menghadapi
persaingan dunia
mode internasional

Meningkatnya
jumlah usaha dan
pengusaha mode
lokal di lingkungan
tatanan hukum pasar
yang adil

Terwujudnya
keanekaragaman
produk mode
lokal yang
berbasis inovasi
serta memiliki
kekuatan di pasar
tdomestik maupun
internasional

Terciptanya pembiayaan
dan akses yang sesuai,
mudah diakses, dan
kompetitif bagi
industri lokal.

Terciptanya perluasan
pasar lokal dan
internasional yang
berkualitas

Tersedianya teknologi dan


infrastruktur yang sesuai,
mudah diakses, dan
kompetitif.

Terciptanya kelembagaan
yang mendukung
pengembangan industri
mode dan memiliki
hubungan yang harmonis

Meningkatnya
pengembangan dan
fasilitasi penciptaan
lembaga pembiayaan yang
mendukung perkembangan
industri mode

Meningkatnya penetrasi
dan diversifikasi pasar
produk mode di dalam dan
luar negeri

Terciptanya percepatan
proses produksi, promosi,
dan distribusi

10

Terciptanya regulasi yang


mendukung penciptaan
iklim yang kondusif bagi
pengembangan industri
mode

4.2.1 Visi Pengembangan Mode


Berdasarkan kondisi mode di Indonesia saat ini, tantangan yang mungkin dihadapi, serta dengan
memperhitungkan daya saing serta potensi yang dimiliki dan juga arahan strategis pembangunan
nasional dan juga pengembangan ekonomi kreatif periode 20152019, visi pengembangan mode
selama periode 20152019 adalah:

128

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Indonesia menjadi salah satu pusat mode dunia dengan mengoptimalkan kekuatan lokal yang
fokus pada konsep readytowear craft fashion.
Adapun penjabaran visi tersebut didasari:
1.

Pusat modeadalah sebuahkota atau negara sebagai pusat industri desain, produksi, ritel
produk, acara (misalnya pekan modedan penghargaan mode), pameran, dan aktivitas
perdagangan terkait dengan mode yang menghasilkan bisnis signifikan bagi negara
tersebut. Pusat mode umumnya memiliki sub-budayakuat yang mampu memberikan
inspirasi, tidak hanya bagi kalangan profesional mode, tetapi juga bagi masyarakat negara
yang bersangkutan dan harus diakui oleh masyarakat dunia.

2.

Kekuatan lokal berarti sumber daya alam, budaya, sumber daya manusia dan penciptaan
trend forecasting (kerja sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan para
pemangku kepentingan industri mode) yang memiliki keragaman/variabel dan berpotensi
besar untuk menjadi inspirasi di dalam industri mode.

3.

Ready-to-wear fashion adalah produk mode yang memiliki konsep ready-to-wear atau
siap pakai dan diproduksi secara massal.

4.

Craft merupakan simbol kekuatan lokal yang didasari berbagai keterampilan khusus
maupun aspek budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

4.2.2 Misi Pengembangan Mode


Dalam mewujudkan visi Indonesia menjadi salah satu pusat mode dunia dengan mengoptimalkan
kekuatan lokal yang fokus pada konsep ready-to wear craft fashion, disusun misi dalam rangka
pengembangan subsektor industri mode. Misi pengembangan subsektor industri mode tersebut
sebagai berikut.
1. Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya manusia, alam,
dan budaya lokal yang berdaya saing, dinamis dan berkelanjutan, yang artinya (1)
mengembangkan sumber daya manusia hingga mampu menjadi pelaku-pelaku mode yang
kompeten di bidangnya, salah satunya melalui lembaga pendidikan; (2) menciptakan,
mengembangkan serta mengoptimalkan potensi sumber daya manusia, sumber daya
alam, serta sumber daya budaya Indonesia yang memiliki standar internasional; (3)
menjadikan sumber daya Indonesia (konten lokal) sebagai sumber inspirasi dalam setiap
kegiatan pengembangan industri mode, salah satunya dalam penciptaan arahan tren
mode khas Indonesia.
2. Mengembangkan industri mode yang berdaya saing, tumbuh, beragam, dan berkualitas,
artinya (1) industri mode Indonesia mampu menghadapi persaingan dunia internasional
dengan nilai-nilai lokal; (2) memiliki produk mode yang beragam dan berkualitas tinggi.
3. Mengembangkan lingkungan industri yang kondusif dengan pengintegrasian
rantai industri yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di industri mode,
artinya (1) pemerintah memfasilitasi dalam pengembangan industri mode, baik dalam
bentuk dukungan partisipasi, dukungan program, penyediaan ruang publik, penciptaan
regulasi yang keberpihakan pada industri mode dalam negeri, hingga pemberian insentif
serta apresiasi bagi pelaku-pelaku mode yang berprestasi; (2) upaya kerja sama antar
para pemangku kepentingan hingga mampu menciptakan sebuah sistem yang mampu
mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas pelaku/produk mode lokal.

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

129

4.2.3 Tujuan Pengembangan Mode


Dari penjabaran misi tersebut di atas, berikut adalah tujuan yang ingin dicapai dalam rangka
pengembangan subsektor industri mode, sebagai ukuran tercapainya Indonesia menjadi salah
satu pusat mode dunia dengan mengoptimalkan kekuatan lokal tahun 20152019 mendatang.
1. Terciptanya pelaku mode yang berdaya saing dan mampu mengangkat potensi
kekayaan lokal. Pelaku mode yang dimaksud adalah desainer, usaha kecil dan menengah,
industri kecil dan menengah, pengrajin, industri besar, akademisi, dan komunitas mode.
Berdaya saing yang dimaksud adalah memiliki kreativitas, memiliki inovasi dan mampu
memecahkan masalah. Mampu mengangkat potensi kekayaan lokal yang dimaksud
adalah memiliki kemampuan untuk memanfaatkan kekayaan-kekayaan lokal di dalam
setiap karya hingga pasar internasional akan mengenali dan mengakuinya sebagai produk
asli Indonesia.
2. Terwujudnya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal
yang diperkaya dengan perubahan perilaku, kepedulian terhadap lingkungan hidup
dan sosial sehingga memiliki kekhasan yang dinamis dan berdaya saing. Sumber
daya lokal yang dimaksudkan adalah sumber daya alam serta sumber daya budaya
yang dimiliki oleh Indonesia. Perlindungan yang dimaksud adalah memastikan bahwa
sumber daya yang dimanfaatkan terjaga kuantitas dan kualitasnya sehingga tidak punah.
Pemanfaatan yang dimaksud adalah sumber daya yang sudah ada dimanfaatkan secara
maksimal baik sebagai bahan baku, materi inspirasi trend forecasting/koleksi, ataupun
sebagai bahan penelitian. Diperkaya dengan perubahan perilaku yang dimaksud adalah
senantiasa dinamis dan mengikuti perkembangan gaya hidup/teknologi terbaru. Kepedulian
terhadap lingkungan hidup dan sosial yang dimaksud adalah kegiatan pengembangan
dan pemanfaatan sumber daya harus bersifat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan
dampak negatif terhadap lingkungan alam ataupun masyarakat Indonesia.
3. Terwujudnya industri mode yang dinamis, berdaya saing, serta mampu menghasilkan
keanekaragaman produk yang siap menghadapi persaingan dunia mode internasional.
Yang dimaksud adalah industri mode yang mengikuti perkembangan jaman, memiliki
standar yang diakui oleh seluruh dunia dengan produk-produk mode yang beraneka
ragam jenis dan bentuknya sehingga menjadi produk yang berdaya beli tinggi di pasar
internasional.
4. Terciptanya pembiayaan dan akses yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif bagi
industri lokal. Yang dimaksudkan adalah lembaga-lembaga pembiayaan serta fasilitasi
terhadap dukungan modal dengan syarat-syarat yang mampu dipenuhi oleh para pelaku
usaha skala kecil hingga usaha skala besar/industri. Yang sesuai yang dimaksud adalah
sesuai dengan kapasitas usaha pengguna/peminjam.
5. Terciptanya perluasan pasar lokal dan internasional yang berkualitas, adalah
meningkatnya nilai ekonomi yang dihasilkan melalui transaksi jual-beli produk mode lokal
di toko/butik/dept. store/distro dan di kegiatan pameran dagang dalam dan luar negeri.
6. Tersedianya teknologi dan infrastruktur yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif.
Teknologi dan infrastruktur adalah alat/mesin/software serta hubungan kerja sama/
kolaborasi yang sesuai, user friendly, dan memiliki standar global yang mendukung
kegiatan di industri mode,
7. Terciptanya kelembagaan yang mendukung pengembangan industri mode dan memiliki
hubungan yang harmonis, adalah penciptaan lembaga pemerintahan/nonpemerintahan,

130

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

regulasi/deregulasi yang memiliki fokus pada kegiatan pengembangan industri mode serta
memiliki tujuan serta visi yang sama sehingga tidak tumpang tindih/berulang.

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Mode


Untuk mencapai tujuan pengembangan mode, terdapat 10 sasaran strategis yang dapat diindikasikan
oleh 118 indikasi strategis. Sasaran dan indikasi strategis pengembangan mode meliputi:
1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas pendidikan mode yang mendukung penciptaan
dan penyebaran pelaku mode secara merata dan berkelanjutan, yang dapat diindasikan
dengan:
a. Peningkatan materi pengajaran dan kegiatan yang yang mendorong terciptanya
mental kreatif (keberanian daya imajinasi dan kemampuan pemecahan masalah).
b. Terciptanya materi pengajaran dan kegiatan yang yang merangsang perilaku pemecahan
masalah berbasiskan tujuh sikap mental kreatif.
c. Pertumbuhan sikap apresiatif dan pemanfaatan nilai lokal sebagai bentuk perwujudan
kecintaan lokal.
d. Memiliki materi pengajaran yang berkaitan dengan kewirausahaan dan niaga mode
dengan memanfaatkan teknologi.
e. Pertumbuhan jumlah tenaga pengajar mode yang berkualitas di tingkat nasional
dan global.
f. Peningkatan kerja sama antara pendidikan mode lokal dan global dalam bentuk
pendirian cabang lembaga pendidikan mode asing di dalam negeri, penciptaan
program di lembaga pendidikan mode lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan
mode asing, program pertukaran pelajar, ataupun beasiswa.
g. Terciptanya standardisasi kualitas sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah
lembaga pendidikan mode.
h. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana lembaga pendidikan mode yang sudah
ada yang sudah sesuai standardisasi.
i.

Memiliki lembaga pendidikan baru formal/nonformal/informal di daerah-daerah


berpotensi untuk pengembangan industri mode, contoh: Tasikmalaya, Pekalongan,
Makassar, dan Lasem.

j. Memiliki lembaga pendidikan mode terpadu dari jenjang pendidikan menengah


hingga pascasarjana
k. Peningkatan jumlah lembaga pendidikan mode untuk jenjang setara dengan S1.
l.

Memiliki lembaga pendidikan mode untuk jenjang yang setara dengan S2 dan S3.

m. Peningkatan jumlah forum komunikasi antar institusi dunia usaha dan dunia
pendidikan yang memiliki fokus pada kegiatan kreasi, produksi, pemasaran, penjualan,
kerja sama, dan riset.
n. Pertumbuhan komunikasi antar institusi dalam hal pembentukan kurikulum
berdasarkan kompetensi.
o. Penambahan akses magang/kerja praktek di dunia usaha.
p. Pertumbuhan akses uji coba pasar di dunia usaha bagi siswa lembaga pendidikan mode

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

131

q. Peningkatan jumlah kurikulum mode yang berbasis praktek lapangan (magang/


kerja praktek/uji coba pasar).
r. Penambahan akses bagi praktisi yang ingin menjadi pengajar di lembaga pendidikan
mode, termasuk dalam penyusunan kurikulum.
2. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelaku mode yang berdaya saing, profesional
dan mampu membawa potensi lokal ke dalam selera global, yang diindikasikan dengan:
a. Memiliki sistem yang mengharuskan sebuah merek terdaftar secara legal.
b. Terselenggaranya kegiatan pengidentifikasian potensi para pelaku mode melalui
pendaftaran merek.
c. Peningkatan jumlah pelatihan/pengayaan/fasilitas partisipasi di pameran bagi para
pelaku mode yang berbasis pengembangan kekayaan lokal ke pasar global.
d. Penambahan program kompetensi mode berbasis teknologi terbaru seperti pelatihan
penggunaan alat ajar serta pemanfaatan media online untuk pemasaran dan riset.
e. Terciptanya kerja sama dengan dunia industri untuk dukungan penyediaan teknologi
yang bersangkutan.
f. Terciptanya standar kompetensi pelaku mode yang sesuai dengan lapangan.
g. Terciptanya program sertifikasi pelaku mode yang dapat diaplikasikan secara merata.
h. Peningkatan program perlindungan kerja bagi pelaku mode di dalam negeri.
3. Terciptanya pengembangan bahan baku serat nabati, hewani dan buatan manusia
dari sumber daya alam yang beragam, kompetitif dan terbarukan, yang dapat
diindikasikan dengan:
a. Peningkatan jumlah SDA lokal yang termanfaatkan menjadi bahan baku melalui proses
serta pemanfaatan yang ramah lingkungan dan dapat dibeli dengan harga terjangkau.
b. Terciptanya proses kerja yang tidak memiliki dampak pencemaran terhadap lingkungan.
c. Terciptanya sistem informasi (bank data) yang menyimpan data perusahaan pengolahan
bahan baku.
d. Pertumbuhan program uji coba SDA berbasis teknologi, contoh: uji coba proses
pewarnaan alam agar warna tahan lama.
e. Terselenggaranya penelitian untuk penciptaan bahan baku lokal dari SDA yang ada
di Indonesia.
f. Terciptanya standardisasi proses pewarnaan alam yang diakui secara internasional.
g. Peningkatan jumlah pendaftaran HKI terhadap penemuan bahan baku lokal,
pewarnaan alam, dan produk yang menggunakan konsep sustainable fashion (industri
hijau, pemanfaatan limbah, minimalisir pencemaran, dan lain-lainnya).
h. Peningkatan mutu sistem produksi sehingga efisien dan yang menjamin ketersediaan
kebutuhan bahan baku industri secara berkesinambungan dan harga yang kompetitif.
i. Peningkatan sistem produksi dari tradisional menjadi industri.
j. Peningkatan keragaman dan mutu industri sehingga tidak hanya dapat melayani
kebutuhan eksport, tetapi juga kebutuhan dalam negeri.
k. Terciptanya sistem standardisasi mutu bahan baku lokal untuk produk-produk mode
internasional.

132

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Pewarnaan Alam di SwarnaFest 2014

l. Peningkatan kualitas sistem standardisasi mutu bahan baku lokal.


m. Terselenggaranya program penyediaan bahan baku hasil kerja sama antarpemerintah,
intelektual, asosiasi, dan pengusaha.
n. Terciptanya stabilitas ketersediaan dan proses pendistribusian bahan baku.
4. Terciptanya sistem informasi sumber daya budaya lokal, yang dapat diakses secara
mudah dan cepat, yang dapat diindikasikan dengan:
a. Terselenggaranya program eksperimen dan penemuan gaya baru berbasis budaya
Indonesia.
b. Terciptanya pusat dokumentasi untuk hasil eksperimen berbasis budaya.
c. Terselenggaranya proses identifikasi dan pendokumentasian SDB sebagai inspirasi.
d. Terciptanya sistem informasi (bank data) SDB Indonesia yang dapat diakses oleh umum.
5. Meningkatnya jumlah usaha dan pengusaha mode lokal di lingkungan tatanan
hukum pasar yang adil, yang dapat diindikasikan dengan:
a. Terciptanya program start-up usaha mode.
b. Terciptanya program kelompok kerja usaha mode yang berbasis wilayah/cluster/unit
koperasi dengan konsep pemasaran bersama.
c. Terciptanya standar industri mode yang setara dengan standar internasional.
d. Peningkatan jumlah usaha mode yang mampu mengakses standar industri mode.
e. Terciptanya konsep industri mode hijau.
f. Terciptanya sertifikasi hijau di industri mode.
g. Pertumbuhan jumlah usaha mode yang telah menerapkan sertifikasi hijau.

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

133

h. Terselenggaranya program kemudahan bagi usaha mode yang telah menerapkan


sertifikasi hijau.
i. Terselenggaranya program ko-kreasi dan ko-produksi antar usaha mode.
j. Pertumbuhan jumlah program magang bagi mahasiswa mode di usaha-usaha mode.
k. Peningkatan dukungan terhadap program pelatihan yang mendukung industri tekstil,
industri aksesori pakaian, dan kegiatan promosi seperti acara pameran/fashion show.
l. Peningkatan jumlah dunia usaha yang dapat mengakses bahan baku utama dan
alternatif.
m. Terciptanya program national brand kolaborasi pelaku mode.
n. Terciptanya program mentoring bisnis mode.
o. Pertumbuhan jumlah pengusaha mode yang memiliki skill-knowledge-attitude.
p. Memiliki program-program yang berbasis inkubator bisnis yang bersifat
kesinambungan dan bekerja sama dengan dunia usaha.
q. Memiliki program-program penciptaan entrepreneur mode, seperti kompetisi,
lokakarya atau pelatihan.

Diklat Desain Pakaian Jadi 2014 di Balai Diklat Industri

6. Terwujudnya keanekaragaman produk mode lokal yang berbasis inovasi serta memiliki
kekuatan di pasar domestik maupun internasional, yang dapat diindikasikan dengan:
a. Memiliki arahan tren berbasis sumber daya Indonesia yang dapat dipergunakan tidak
hanya di dunia mode, tetapi juga di sektor ekonomi kreatif lainnya.
b. Memiliki lembaga trend forecasting Indonesia yang memiliki kekuatan riset, inovasi
dan pengembangan.
c. Pertumbuhan jumlah pelaku mode yang telah mengaplikasikan arahan tren Indonesia
dalam produknya.
d. Memiliki sentra kreatif dan kelompok kerja sebagai langkah awal live-in-designer.
e. Memiliki program live-in-designer yang didampingi oleh praktisi mode di 33 ibu
kota provinsi di seluruh Indonesia.

134

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

f. Memiliki program mentoring serupa dengan live-in-designer, khusus untuk daerahdaerah pedalaman Indonesia.
g. Memiliki program kompetisi khusus mode berskala lokal dan nasional, yang berbasis
inovasi dan penciptaan usaha kreatif.
h. Terciptanya pusat data (bank data) kreasi dan inovasi produk mode.
i. Peningkatan jumlah fasilitasi keikutsertaan produk mode di pameran/fashion show
di Indonesia dan negara-negara Asia, Eropa, dan Amerika.
7. Meningkatnya pengembangan dan fasilitasi penciptaan lembaga pembiayaan yang
mendukung perkembangan industri mode, yang dapat diindikasikan dengan:
a. Memiliki skema/model pembiayaan yang user friendly dan sesuai usaha/pelaku yang
disasar.
b. Peningkatan jumlah pendanaan bagi calon/pelaku mode yang memiliki potensi.
c. Memiliki koperasi/lembaga pembiayaan yang khusus menangani pendanaan/
pembiayaan di wilayah-wilayah yang memiliki potensi mode.
d. Peningkatan mutu layanan lembaga pembiayaan yang sudah ada.
8. Meningkatnya penetrasi dan diversifikasi pasar produk mode di dalam dan luar
negeri, yang dapat diindikasikan dengan:
a. Memiliki lembaga riset yang khusus melakukan penelitian pasar industri mode di
dalam dan luar negeri.
b. Memiliki sistem informasi (bank data) yang user friendly mengenai produk dan
pelaku mode di dalam dan luar negeri.
c. Pertumbuhan jumlah merek-merek lokal yang dijual di lokasi prime mal-mal Indonesia.
d. Peningkatan akses aplikasi program franchise untuk produk mode.
e. Memiliki kegiatan-kegiatan yang mensosialisasikan/mempromosikan informasiseputar
tata cara franchise dan keuntungannya.
f. Peningkatan jumlah dukungan partisipasi pelaku/produk mode di acara-acara dalam
negeri.
g. Mengembangkan konsep dan rencana aksi branding dan promosi di dalam dan luar
negeri, yang dapat mensinergikan pelaksanaan branding dan promosi yang dilakukan
oleh pemerintah maupun pemerintah daerah.Peningkatan penggunaan inspirasi dan
bahan baku lokal untuk pembuatan produk mode.
h. Peningkatan rasa kecintaan akan produk mode/merek lokal melalui kegiatan-kegiatan
seperti kampanye, talkshow/bincang-bincang/diskusi, forum komunitas, dan masih
banyak lagi.
i. Peningkatan jumlah pembelian produk/merek mode lokal di dalam negeri.
k. Memiliki standar klasifikasi kegiatan di industri mode.
l. Peningkatan jumlah dukungan terhadap pameran, festival, misi dagang serta jejaring
B2B di Indonesia, negara-negara Asia, Eropa, dan Amerika.
m. Peningkatan jumlah produk/merek mode lokal yang dijual di luar negeri.
n. Peningkatan akses pengurusan dokumen dan legalitas untuk produk ekspor.
o. Memiliki sistem informasi untuk pengurusan dokumen/legalitas produk ekspor.
p. Memiliki sistem informasi (bank data) untuk informasi seputar regulasi ekspor

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

135

produk mode dari negara tujuan yang bersangkutan.

Sunday Dress Up salah satu bentuk kegiatan untuk


meningkatkan rasa kecintaan akan produk lokal

9. Terciptanya percepatan proses produksi, promosi dan distribusi, yang dapat


diindikasikan dengan:
a. Memiliki software lokal yang murah dan user friendly untuk proses desain mode,
pembuatan-grading-marker pola, pengecekan kualitas bahan, potong, jahit, dan bordir.
b. Memiliki dan menyertifikasi teknologi produksi dan pengolahan bahan baku produk
mode.
c. Peningkatan kualitas lembaga penelitian dan inkubator teknologi yang menghasikan
teknologi pendukung industri mode.
d. Peningkatan jumlah kerja sama riset teknologi pendukung industri mode.
e. Memiliki tenaga-tenaga ahli pengoperasi software dan hardware pendukung industri
mode.
10. Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi
pengembangan industri mode, yang dapat diindikasikan dengan:
a. Memiliki regulasi pendidikan mode yang menitikberatkan kreativitas.
b. Memiliki regulasi yang menjamin kebebasan berekspresi dalam industri mode.
c. Memiliki regulasi untuk pemberian insentif pada upaya penciptaan kreativitas.
d. Memiliki regulasi penciptaan bank data dan pengarsipan sejarah mode hingga jenisjenis produk mode.
e. Memiliki regulasi yang dapat meningkatkan literasi masyarakat tentang industri
mode.
f. Memiliki regulasi mengenai penggunaan sumber daya alam sebagai bahan baku
produk mode.
g. Memiliki regulasi yang mengatur mengenai perlindungan, pengembangan, dan
pemanfaatan sumber daya alam dan budaya tanpa merusak lingkungan.

136

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

h. Memiliki regulasi yang mengatur (1) pemberian insentif bagi masyarakat yang
berpartisipasi dalam pelestarian (perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan)
budaya; (2) pengembangan dan pemanfaatan budaya berbasis kreativitas.
i. Memiliki regulasi yang mengatur mengenai penelitian sumber daya lokal sebagai
bahan baku lokal dan pemanfaatan budaya sebagai inspirasi penciptaan produk
mode.
j. Memiliki regulasi yang mengatur penataan industri mode beserta industri pendukungnya.
k. Memiliki regulasi perpajakan, kepabeanan, dan retribusi untuk dapat mempercepat
pemberian insentif pada pengembangan industri mode serta pemastian tidak adanya
pengulangan pada penagihan pajak.
l. Memiliki regulasi yang menjamin keterbukaan informasi mengenai industri mode
terhadap publik.
m. Memilik regulasi yang mengatur metode dan akses pembiayaan di industri mode.
n. Memiliki regulasi yang mendukung penciptaan lembaga pembiayaan dan peningkatan
akses pembiayaan bagi industri mode.
o. Memiliki regulasi yang mendorong dan memfasilitasi PMA maupun PMDN di
sektor industri mode secara adil.
p. Memiliki regulasi yang mengatur tataniaga produk mode untuk perluasan pasar di
dalam dan luar negeri.
q. Memiliki regulasi yang mengatur pengadaan barang dan jasa pemerintah yang
mengarusutamakan kreativitas, terutama pada legalitas aliran barang ekspor.
r. Memiliki regulasi yang mendorong investasi industri mode Indonesia ke luar negeri.
s. Memiliki regulasi pengaturan informasi dan transaksi elektronik yang dapat menjamin
privasi masyarat dan meminimalisasi cyber crime dengan tetap memberikan ruang
pada tumbuh kembangnya kreativitas.
t. Memiliki regulasi atas teknologi informasi dan telekomunikasi yang mendorong
percepatan penyediaan infrastruktur teknologi pendukung industri mode.
u. Memiliki regulasi yang mengatur riset dan pengembangan teknologi tepat guna bagi
industri mode.
v. Memiliki regulasi HKI untuk menjamin perlindukan bagi produk mode lokal.
w. Memiliki regulasi yang mengatur penataan, perlindungan, dan perdagangan di usaha
mode.

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Mode


Arah pengembangan industri mode dijabarkan berdasarkan tujuan pengembangan industri
mode, meliputi 7 tujuan utama, yaitu: (1) terciptanya pelaku mode yang berdaya saing dan
mampu mengangkat potensi kekayaan lokal; (2) terwujudnya perlindungan, pengembangan,
dan pemanfaatan sumber daya lokal yang diperkaya dengan perubahan perilaku, kepedulian
terhadap lingkungan hidup dan sosial sehingga memiliki kekhasan yang dinamis dan berdaya
saing; (3) terwujudnya industri mode yang dinamis, berdaya saing, serta mampu menghasilkan
keanekaragaman produk yang siap menghadapi persaingan dunia mode internasional; (4)
terciptanya pembiayaan dan akses yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif bagi industri lokal;
(5) terciptanya perluasan pasar lokal dan internasional yang berkualitas; (6) tersedianya teknologi
dan infrastruktur yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif; (7) terciptanya kelembagaan yang

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

137

mendukung pengembangan industri mode dan memiliki hubungan yang harmonis. Tujuh tujuan
tersebut menghasilkan 34 arah kebijakan sebagai berikut:
1. Menciptakan dan mengembangkan kualitas pendidikan mode yang mengutamakan
kreativitas, kewirausahaan, kesadaran lingkungan alam, sosial dan budaya, kemampuan
memanfaatkan teknologi tinggi, dan menghargai nilai-nilai lokal.
2. Mengembangkan dan memfasilitasi penciptaan lembaga pendidikan formal dan nonformal, baik pemerintah atau swasta terutama di daerah yang memiliki potensi kekayaan
lokal (batik, tenun, penghasil serta, masyarakat yang terampil).
3. Menyelaraskan antara tahapan pendidikan serta meningkatkan partisipasi dunia usaha
dalam pendidikan.
4. Menciptakan pelaku mode yang profesional, mampu memanfaatkan teknologi dan
infrastruktur industri mode, serta mampu mengembangkan potensi kekayaan lokal agar
dapat diterima dalam pasar global.
5. Perlindungan terhadap pelaku mode Indonesia di dalam negeri.
6. Mengembangkan pusat pengetahuan, riset dan eksperimen SDA (sumber daya alam)
Indonesia berbasis teknologi yang mudah diakses.
7. Mengembangkan bahan baku lokal yang kompetitif dan berkualitas.
8. Menciptakan dan meningkatkan skala produksi dan daya saing bahan baku lokal di
dalam dan luar negeri.
9. Mengembangkan eksperimen dan eksplorasi sumber budaya Indonesia sebagai inspirasi
dalam proses inovasi produk mode.
10. Mengembangkan pusat pengetahuan dan sistem informasi industri mode berbasis budaya
Indonesia.
11. Memfasilitasi penciptaan usaha mode lokal di seluruh wilayah Indonesia.
12. Mengembangkan standar industri mode nasional yang diakui secara global.
13. Memfasilitasi kolaborasi dan linkage antar usaha mode maupun antara industri mode
dengan industri lainnya di tingkat lokal, nasional, dan global.
14. Meningkatnya jumlah pengusaha mode lokal yang profesional, dinamis serta berdaya
saing di persaingan dunia mode internasional.
15. Meningkatnya jenis keanekaragaman serta kualitas produk mode.
16. Terciptanya sistem informasi produk mode yang berbasis inovasi.
17. Membuka peluang pasar dosmetik dan nternasional.
18. Mengembangkan alternatif pembiayaan yang sesuai, dapat diakses dengan mudah dan
kompetitif.
19. Mengembangkan dan memfasilitasi penciptaan lembaga pembiayaan yang mendukung
perkembangan industri mode.
20. Mengembangkan sistem informasi pasar produk mode di dalam negeri yang terpusat dan
dapat diakses dengan mudah.
21. Memberikan kesempatan yang sama untuk produk lokal potensial untuk bersaing di
pasar dalam negeri.
22. Meningkatkan mereking produk/usaha mode lokal di dalam dan luar negeri.

138

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

23. Membuka peluang pasar baru melalui even dalam dan luar negeri.
24. Meningkatkan kualitas pelayanan ekspor produk mode lokal.
25. Meningkatkan pengembangan teknologi yang sesuai untuk proses utama dan pendukung
di industri mode.
26. Meningkatkan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam melakukan pengembangan
teknologi.
27. Harmonisasi-regulasi (menciptakan, de-regulasi) pendidikan dan apresiasi yang
menitikberatkan kreativitas.
28. Harmonisasi-regulasi (menciptakan, de-regulasi) pemanfaatan dan pengembangan sumber
daya lokal bagi industri mode.
29. Harmonisasi-regulasi (menciptakan, de-regulasi) penciptaan value chain, penataan industri
mode baik industri utama dan industri pendukungnya (backward and forward linkage).
30. Harmonisasi-regulasi (menciptakan, de-regulasi) pembiayaan bagi industri mode.
31. Harmonisasi-regulasi (menciptakan, de-regulasi) perluasan pasar produk mode.
32. Harmonisasi-regulasi teknologi dan infrastruktur pendukung industri kreatif.
33. Harmonisasi-regulasi (menciptakan, de-regulasi) Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
34. Harmonisasi-regulasi (menciptakan, de-regulasi) penciptaan pasar yang adil berdasarkan
ukuran usaha (kecil, sedang dan besar).

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Mode


Strategi pengembangan jangka menengah subsektor mode merupakan pendekatan pelaksanaan
perencanaan dan rencana aksi dalam kurun waktu 2015-2019, yang dilaksanakan dengan beberapa
prinsip dasar, sebagai berikut:
1. Dalam melaksanakan rencana aksi pengembangan subsektor mode, pemerintah berfungsi
sebagai fasilitator, yaitu pihak yang memfasilitasi pengembangan bukan sebagai penyelenggara
acara atau even. Sebagai fasilitator, pemerintah menjembatani berbagai kepentingan para
pemangku kepentingan dalam pengembangan industri mode dan memberi dana fasilitasi.
2. Perencanaan dan pelaksanaan rencana aksi pengembangan subsektor mode melibatkan
pelaku profesional di industri mode, yang mencakup para akademisi, para praktisi, tenaga
riset, dan pemerhati mode.
3. Pemberian dana fasilitasi dilakukan dengan transparan dan akuntabel.

4.5.1 Peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan mode yang


mendukung penciptaan dan penyebaran pelaku mode secara merata dan
berkelanjutan
Peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan mode yang mendukung penciptaan dan penyebaran
pelaku mode secara merata dan berkelanjutan memiliki 10 strategi yang dicapai melalui 11
rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membentuk mental kreatif dan kecintaan akan lokal sejak dini dalam kurikulum
pendidikan mode. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan
adalah pembuatan kurikulum kreatif, melalui pendidikan seni yang menghadirkan sikap
mental perseptual, intelektual, fisikal, kreatif, ekonomi, emosional dan sosial.

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

139

2. Strategi 2: Menyusun dan mengembangkan kurikulum pendidikan mode dengan penekanan


pada pembentukan mental kreatif dan mandiri melalui pemecahan masalah. Untuk
melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah pembuatan
kegiatan simulasi yang merangsang kemampuan pemecahan masalah baik intra maupun
ekstrakurikuler, berdasarkan kurikulum yang telah disusun sebelumnya.
3. Strategi 3: Mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang memiliki fokus pada
aspek kewirausahaan, pemanfaatan teknologi tinggi, memiliki kesadaran akan lingkungan
alam, sosial dan budaya, dan menghargai nilai-nilai lokal. Untuk melaksanakan strategi
ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Kegiatan dan program studi pengembangan sarung yang memiliki fokus pada
penemuan bentuk baru sebagai upaya pemecahan masalah
b. Promosi dan sosialisasi pengembangan sarung
c. Mengadakan kegiatan yang mengarah ke pengenalan, pemahaman, peng-apresiasian,
dan penerapan nilai lokal pada diri dan lingkungannya.
4. Strategi 4: Peningkatan kualitas tenaga pengajar yang menjunjung tinggi kode etik profesi
di tingkat nasional dan global.
5. Strategi 5: Meningkatkan kerja sama lembaga pendidikan mode lokal dengan lembaga
pendidikan mode global. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah program pertukaran pelajar dan beasiswa di bidang mode.
6. Strategi 6: Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana lembaga pendidikan mode yang
sudah ada. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan
adalah pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan dunia industri
dan teknologi terbaru.
7. Strategi 7: Menciptakan dan meningkatkan sebaran lembaga pendidikan mode hingga
jenjang pascasarjana. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah program pertukaran pelajar dan beasiswa di bidang mode.
8. Strategi 8: Mengembangkan komunikasi dua arah antar institusi dunia usaha dan dunia
pendidikan secara berkala untuk pembentukan kurikulum berdasarkan kompetensi.
Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah forum
komunikasi antar dunia usaha dan pendidikan yang memiliki fokus pengembangan di
segi kreasi, produksi, pemasaran, riset, dan pemasaran.
9. Strategi 9: Memfasilitasi penciptaan dan pengembangan strategi pendidikan mode yang
berbasis program magang/kerja praktek/uji coba pasar di dunia usaha. Untuk melaksanakan
strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah program praktek kerja di
daerah ataupun kota-kota besar.
10. Strategi 10: Memberikan akses bagi para praktisi dunia usaha mode untuk dapat menjadi
tenaga pengajar di lembaga pendidikan mode lokal. Untuk melaksanakan strategi ini,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah forum komunikasi antar dunia usaha
dan pendidikan yang memiliki fokus pengembangan di segi kreasi, produksi, pemasaran,
riset, dan pemasaran.

140

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

4.5.2 Peningkatan kuantitas dan kualitas pelaku mode yang berdaya saing,
profesional dan mampu membawa potensi lokal ke dalam selera global
Peningkatan kuantitas dan kualitas pelaku mode yang berdaya saing, profesional dan mampu
membawa potensi lokal ke dalam selera global memiliki 4 strategi yang dicapai melalui 4 rencana
aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membentuk dan mengembangkan potensi para pelaku yang memiliki kemampuan
membawa kekayaan lokal yang dapat dibawa ke dalam pasar global. Untuk melaksanakan
strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Program kompetensi pelaku industri dalam hal kreasi dan produksi.
b. Program kompetensi pelaku dalam hal riset, pemasaran, dan penjualan berkerja sama
dengan kementerian, dunia usaha, dan lembaga riset.
2. Strategi 2: Mengembangkan program kompetensi yang memanfaatkan teknologi terbaru
dan infrastruktur di industri mode, mulai dari industri kecil sampai dengan industri
besar. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
program kompetensi pelaku dalam hal riset, pemasaran, dan penjualan berkerja sama
dengan kementerian, dunia usaha, dan lembaga riset.
3. Strategi 3: Mengidentifikasi profil profesi, mengembangkan standar kompetensi, dan
memfasilitasi sertifikasi pelaku mode yang diakui secara global. Untuk melaksanakan
strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Pengembangan standar kompetensi pelaku mode yaitu SKKNI (Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia).
b. Penciptaan program sertifikasi pelaku mode.
4. Strategi 4: Mengembangkan sistem perlindungan kerja bagi pelaku mode di dalam
negeri. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
sebagai berikut:
a. Pengembangan standar kompetensi pelaku mode yaitu SKKNI (Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia).
b. Penciptaan program sertifikasi pelaku mode.

4.5.3 Penciptaan pengembangan bahan baku serat nabati, hewani dan


buatan manusia dari sumber daya alam yang beragam, kompetitif dan
terbarukan
Penciptaan pengembangan bahan baku serat nabati, hewani dan buatan manusia dari sumber
daya alam yang beragam, kompetitif dan terbarukan memiliki 10 strategi yang dicapai melalui
2 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Mengidentifikasi dan mengembangkan SDA menjadi bahan baku yang
dibutuhkan oleh industri mode (baik dari yang sudah ada maupun bahan baku lokal baru)
yang ramah lingkungan, berkualitas, dan kompetitif. Untuk melaksanakan strategi ini,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan bank data yang menampung
data-data usaha pengolahan bahan baku lokal.
2. Strategi 2: Mengembangkan sistem informasi SDA Indonesia yang akurat, dikelola secara
profesional, dan mudah untuk diakses. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

141

aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan bank data yang menampung data-data usaha
pengolahan bahan baku lokal.
3. Strategi 3: Mengembangkan program uji coba SDA yang berbasis teknologi.
4. Strategi 4: Memfasilitasi penelitian penciptaan bahan baku lokal yang berdaya saing dan
berkualitas dari SDA yang ada.
5. Strategi 5: Mengembangkan standardisasi proses pewarnaan alam yang dapat diterima
dan dimanfaatkan oleh dunia internasional. Untuk melaksanakan strategi ini, maka
rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan standardisasi proses pewarnaan
alam secara bertahap.
6. Strategi 6: Memfasilitasi pendaftaran, perlindungan, dan penegakan HKI terhadap
penemuan bahan baku lokal dan pewarnaan alam.
7. Strategi 7: Mengembangkan sistem produksi bahan baku sehingga dapat menjamin
ketersediaan bagi industri mode dengan kompetitif dan berkesinambungan .
8. Strategi 8: Menjamin dan meningkatkan kualitas sistem standardisasi mutu bahan baku
lokal bernilai tambah sehingga dapat bersaing di pasar dalam negeri maupun luar negeri.
9. Strategi 9: Meningkatkan kerja sama pemerintah, intelektual, dan bisnis dalam
pemanfaatan bahan baku lokal.
10. Strategi 10: Menjamin ketersediaan bahan baku dan pendistribusiannya yang mudah
diakses dan cepat dari hulu ke hilir.

4.5.4 Penciptaan sistem informasi sumber daya budaya lokal, yang dapat
diakses secara mudah dan cepat
Penciptaan sistem informasi sumber daya budaya lokal, yang dapat diakses secara mudah dan
cepat memiliki 3 strategi yang dicapai melalui 1 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Mengembangkan dan mendokumentasikan program eksperimen serta penemuan
gaya baru dengan basis budaya Indonesia sebagai inspirasinya.
2. Strategi 2: Mengidentifikasi, mendokumentasikan budaya Indonesia yang dapat dijadikan
inspirasi.
3. Strategi 3: Mengembangkan sistem informasi sumber daya budaya Indonesia yang akurat,
dikelola secara profesional, dan mudah diakses oleh berbagai pihak.
Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan
bank data yang menampung data sumber daya budaya Indonesia.

4.5.5 Meningkatnya jumlah usaha dan pengusaha mode lokal di lingkungan


tatanan hukum pasar yang adil
Meningkatnya jumlah usaha dan pengusaha mode lokal di lingkungan tatanan hukum pasar
yang adil memiliki 13 strategi yang dicapai melalui 11 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Menciptakan program start-up usaha mode dan memberikan kemudahan akses
untuk penciptaan usaha mode lokal. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana
aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan dan pengembangan program start-up usaha
mode yang disertai dengan pendampingan.
2. Strategi 2: Mengembangkan program kelompok kerja berdasarkan pembagian wilayah/
kluster/unit koperasi. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu

142

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

dilakukan adalah penciptaan dan pengembangan kelompok kerja usaha mode berbasis
wilayah/kluster/unit koperasi dengan konsep pemasaran bersama.
3. Strategi 3: Menciptakan dan mengembangkan standar industri yang setara dengan
standar internasional. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang
perlu dilakukan adalah penciptaan standar industri mode yang setara dengan standar
internasional (fokus tahap pertama adalah standardisasi ukuran).
4. Strategi 4: Memfasilitasi akses usaha mode terhadap standar industri yang telah
dikembangkan. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah penciptaan standar industri mode yang setara dengan standar internasional
(fokus tahap pertama adalah standardisasi ukuran).
5. Strategi 5: Mengembangkan sertifikasi hijau di industri mode dan memberikan kemudahan
bagi usaha-usaha yang menerapkannya. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka
rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Penciptaan dan pengembangan industri hijau
b. Penciptaan standar eco label fashion
6. Strategi 6: Memfasilitasi ko-kreasi dan ko-produksi antar usaha mode di tingkat lokal,
nasional, dan global. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah penciptaan fashion district.
7. Strategi 7: Memfasilitasi program magang (internship) tenaga kerja mode di industri mode
atau industri kreatif lainnya sehingga dapat terjadi transfer pengetahuan baik di dalam
maupun luar negeri.
8. Strategi 8: Meningkatkan dukungan terhadap program-program di industri penunjang/
pendukung mode lokal. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang
perlu dilakukan adalah penciptaan fashion district.
9. Strategi 9: Memfasilitasi akses dunia usaha terhadap bahan baku, bahan baku alternative,
sumber daya budaya, dan pelaku mode lokal yang berkualitas dan kompetitif dan mendorong
kerja sama lembaga pemerintah/swasta dengan industri mode. Untuk melaksanakan
strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah pengembangan mereking
bagi pelaku/usaha mode yang berpotensi dalam program Indonesian Brands dengan
siklus per 36 bulan.
10. Strategi 10: Menciptakan kolaborasi para pelaku mode untuk menghasilkan satu national
brand yang mampu bersaing di pasar lokal dan internasional. Untuk melaksanakan strategi
di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan dan pengembangan
national brand kolaborasi pelaku mode.
11. Strategi 11: Meningkatkan skill-knowledge-attitude pengusaha-pengusaha mode dengan
menghadirkan mentor bisnis mode berpengalaman lokal dan internasional. Untuk
melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan
dan pengembangan program mentoring bisnis berkerja sama dengan dunia usaha.
12. Strategi 12: Mengembangkan program inkubator bisnis yang melibatkan seluruh
pemangku kepentingan dan dikelola secara profesional. Untuk melaksanakan strategi
di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan dan pengembangan
program-program berbasis inkubator bisnis yang berkesinambungan.

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

143

13. Strategi 13: Meningkatkan program rangsangan dalam menciptakan entrepreneur


dalam bidang mode. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah kompetisi dan lokakarya kewirausahaan mode.

4.5.6 Perwujudan keanekaragaman produk mode lokal yang berbasis


inovasi serta memiliki kekuatan di pasar domestik maupun internasional
Perwujudan keanekaragaman produk mode lokal yang berbasis inovasi serta memiliki kekuatan
di pasar domestik maupun internasional memiliki 5 strategi yang dicapai melalui 8 rencana aksi,
sebagai berikut:
1. Strategi 1: Memfasilitasi penciptaan arahan tren berupa riset dan pengembangan desain
dan konten produk mode yang memanfaatkan sumber daya lokal. Untuk melaksanakan
strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Penciptaan dan pengembangan lembaga trend forecasting Indonesia.
b. Pengembangan sentra kreatif.
c. Penciptaan bulan kreatif dan pengembangan wisata mode.
2. Strategi 2: Mengembangkan program mentoring/live-in-designer di daerah dengan praktisi
mode sebagai pendamping. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang
perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Live-in-designer.
b. Pendidikan dan pelatihan desain-produksi dalam 3 tahap berjenjang dan
berkesinambungan.
3. Strategi 3: Menyelenggarakan kompetisi mode yang menitikberatkan pada inovasi
produk dan penciptaaan usaha kreatif mode di daerah untuk menstandardisasi mutu
dan menstimulasi keanekaragaman produk. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka
rencana aksi yang perlu dilakukan adalah kompetisi berbasis inovasi dan penciptaan usaha
kreatif di wilayah nasional dan lokal (contoh: Reka Baru Desain Indonesia).

Reka Baru Desain Indonesia


Sumber: dgi-Indonesia.com

144

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

4. Strategi 4: Menciptakan dan mengembangkan pusat pengumpulan data kreasi produk


mode yang memiliki nilai inovasi tinggi dan beragam. Untuk melaksanakan strategi di atas,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penciptaan bank data yang menampung
data produk-produk inovasi mode, arahan tren, dan sentra kreatif.
5. Strategi 5: Memberikan apresiasi terhadap produk mode lokal dengan mengadakan/
memfasilitasi keikutsertaan di pameran atau fashion show dalam dan luar negeri. Untuk
melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah fasilitasi
partisipasi produk mode di pameran/fashion show di Indonesia, Asia, Eropa, dan Amerika.

4.5.7 Peningkatan pengembangan dan fasilitasi penciptaan lembaga


pembiayaan yang mendukung perkembangan industri mode
Peningkatan pengembangan dan fasilitasi penciptaan lembaga pembiayaan yang mendukung
perkembangan industri mode memiliki 4 strategi yang dicapai melalui 2 rencana aksi, sebagai
berikut:
1. Strategi 1: Menciptakan dan mengembangkan skema/model pembiayaan yang tepat
sasaran untuk usaha dan pengusaha mode dari berbagai tingkatan.
2. Strategi 2: Memfasilitasi pendanaan bagi calon atau pelaku mode yang berpotensi.
3. Strategi 3: Menciptakan dan mengembangkan koperasi/lembaga pembiayaan lain untuk
wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk pengembangan industri mode.
4. Strategi 4: Meningkatkan mutu layanan lembaga pembiayaan yang sudah ada.
Untuk melaksanakan strategi tersebut di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
sebagai berikut:
a. Penciptaan dan pengembangan koperasi simpan pinjam di daerah sentra kreatif dengan
sistem pinjaman sangat lunak.
b. Pengembangan jaringan koperasi di daerah fokus sentra kreatif.

4.5.8 Peningkatan penetrasi dan diversifikasi pasar produk mode di dalam


dan luar negeri
Peningkatan penetrasi dan diversifikasi pasar produk mode di dalam dan luar negeri memiliki
12 strategi yang dicapai melalui 4 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membentuk lembaga riset yang khusus meneliti mengenai pasar industri mode
di dalam negeri dan luar negeri.
2. Strategi 2: Mengembangkan sistem informasi (bank data) yang user friendly mengenai
pelaku dan produk mode.
3. Strategi 3: Memberikan kemudahan bagi produk mode lokal potensial yang ingin menjual
produknya di lokasi-lokasi utama di dalam negeri.
4. Strategi 4: Mendorong kemudahan proses franchise bagi produk/usaha mode lokal yang
potensial.
5. Strategi 5: Memfasilitasi partisipasi dalam even mode dalam negeri.
6. Strategi 6: Mengembangkan konsep dan rencana aksi branding dan promosi di dalam
dan luar negeri, yang dapat mensinergikan pelaksanaan branding dan promosi yang
dilakukan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah.
7. Strategi 7: Mengoptimalkan penggunaan inspirasi, bahan baku, dan tenaga kerja lokal
untuk pelaku mode.
Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

145

8. Strategi 8: Membangun konsumen mode yang lebih menghargai nilai-nilai lokal yang
terkandung di dalam produk/usaha mode.
9. Strategi 9: Terciptanya standardisasi klasifikasi berbagai kegiatan di industri mode,
misalnya penggunaan nama fashion week.
10. Strategi 10: Memberikan dukungan terhadap pameran, festival, misi dagang serta jejaring
B2B para pelaku mode.
11. Strategi 11: Kemudahan pengurusan dokumen dan legalitas bagi produk mode yang
akan diekspor.
12. Strategi 12: Mengembangkan sistem informasi mengenai regulasi ekspor produk mode
dari negara tujuan ekspor yang akurat, terpercaya, mudah diakses, dan dikelola secara
profesional.
Untuk melaksanakan strategi tersebut di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
sebagai berikut:
a. Penciptaan dan pengembangan lembaga riset pasar industri mode dalam dan luar negeri.
b. Penciptaan bank data yang menampung data produk-produk serta pelaku industri mode
di dalam dan luar negeri.
c. Promosi produk-produk asli Indonesia ke pasar internasional melalui pameran-pameran
dagang.
d. Sosialisasi dan pengembangan franchise.

4.5.9 Penciptaan percepatan proses produksi, promosi, dan distribusi


Penciptaan percepatan proses produksi, promosi, dan distribusi memiliki 12 strategi yang dicapai
melalui 4 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Memfasilitasi penyediaan software pendukung untuk proses kreasi-produksidistribusi hingga promosi yang murah dan user-friendly. Untuk melaksanakan strategi
di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah Penciptaan dan pengembangan
software lokal dan user friendly untuk proses desain mode, pembuatan-grading-marker
pola, pengecekan kualitas, bahan, potong, jahit, dan bordir.
2. Strategi 2: Menyediakan dan menyertifikasi teknologi produksi serta pengolahan bahan
baku untuk produk mode. Untuk melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang
perlu dilakukan adalah penciptaan sertifikasi teknologi produksi dan pengolahan bahan
baku produk mode
3. Strategi 3: Mengoptimalkan lembaga penelitian dan inkubator teknologi yang dapat
menghasilkan teknologi pendukung industri mode. Untuk melaksanakan strategi di atas,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah riset teknologi pendukung industri mode.
4. Strategi 4: Meningkatkan dan mengembangkan kerja sama riset teknologi secara multidisiplin
antar institusi, antar industri, dan antar lembaga. Untuk melaksanakan strategi di atas,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah riset teknologi pendukung industri mode.
5. Strategi 5: Menyediakan tenaga ahli yang memiliki kemampuan untuk mengoperasikan
teknologi pendukung industri mode, baik berupa software maupun hardware. Untuk
melaksanakan strategi di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah penyediaan
tenaga ahli pengoperasi software dan hardware pendukung industri mode secara
berkesinambungan.

146

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

4.5.10 Penciptaan regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang


kondusif bagi pengembangan industri mode
Penciptaan regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri
mode memiliki 5 strategi yang dicapai melalui 4 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Harmonisasi-regulasi pendidikan untuk menitikberatkan kreativitas dalam
pendidikan.
2. Strategi 2: Harmonisasi-regulasi untuk menjamin kebebasan berekpresi bagi masyarakat
dan memberikan insentif pada upaya-upaya yang dapat menumbuhkan kreativitas yang
bertangung-jawab dan bermanfaat di masyarakat.
3. Strategi 3: Harmonisasi-regulasi pendokumentasian dan pengarsipan sejarah dan produk
mode untuk menitikberatkan kreativitas di masyarakat.
4. Strategi 4: Harmonisasi-regulasi untuk dapat meningkatkan literasi masyarakat tentang
industri mode dan apresiasi terhadap kreativitas para pelakunya.
5. Strategi 5: Harmonisasi-regulasi tata niaga sumber daya alam lokal sebagai bahan baku
industri mode secara adil.
6. Strategi 6: Harmonisasi-regulasi pelestarian (perlindungan, pengembangan, dan
pemanfaatan) sumber daya untuk memberikan dan mendukung pemanfaatan sumber
daya alam (bahan baku lokal) dan sumber daya budaya lokal, tanpa merusak lingkungan.
7. Strategi 7: Harmonisasi-regulasi kebudayaan untuk dapat: (1) meningkatkan pemahaman
(literasi) masyarakat terhadap budaya; (2) memberikan insentif dan meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam pelestarian (perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan) budaya;
(3) mengarusutamakan kreativitas dalam pengembangan dan pemanfaatan budaya.
8. Strategi 8: Harmonisasi-regulasi riset sumber daya lokal untuk menghasilkan bahan baku
lokal berkualitas, berdaya saing, dan kompetitif serta menghasilkan pengetahuan budaya
yang dapat menginspirasi penciptaan produk mode.
9. Strategi 9: Harmonisasi-regulasi yang adil dalam penataan industri mode baik industri utama
dan industri pendukungnya (backward dan forward linkage) yang dapat meningkatkan
efisiensi dan efektivitas dari pengembangan industri tersebut.
10. Strategi 10: Harmonisasi-regulasi perpajakan (pajak negara maupun pajak daerah),
kepabeanan dan retribusi untuk dapat mempercepat memberikan insentif pada pengembangan
industri mode, dan dipastikan tidak terjadi tumpang tindih atau adanya pengulangan
pada penagihan perpajakan.
11. Strategi 11: Harmonisasi-regulasi keterbukaan informasi publik untuk memberikan akses
seluas-luasnya bagi masyarakat untuk dapat berpartisipasi aktif dalam pengembangan
industri mode.
12. Strategi 12: Harmonisasi-regulasi metode dan akses pembiayaan (funding) kepada
industri mode.
13. Strategi 13: Harmonisasi-regulasi lembaga pembiayaan untuk meningkatkan akses
pembiayaan bagi industri mode.
14. Strategi 14: Harmonisasi-regulasi penanaman modal dalam dan luar negeri yang mendorong
dan memfasilitasi PMA maupun PMDN di sektor industri kreatif secara adil.
15. Strategi 15: Harmonisasi-regulasi tataniaga karya kreatif (barang dan jasa) untuk dapat
memperluas pasar karya kreatif di dalam maupun di luar negeri.

Bab 4: Rencana Pengembangan Industri Mode Indonesia

147

16. Strategi 16: Harmonisasi-regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah yang
mengarusutamakan kreativitas, terutama pada legalitas aliran barang ekspor maupun impor.
17. Strategi 17: Harmonisasi-regulasi investasi untuk mendorong investasi industri kreatif
Indonesia ke luar negeri.
18. Strategi 18: Harmonisasi-regulasi informasi dan transaksi elektronik untuk dapat
melindungi privasi masyarakat dan meminimalisasi cyber crime dengan tetap memberikan
ruang kepada tumbuhkembangnya kreativitas.
19. Strategi 19: Harmonisasi-regulasi teknologi informasi dan telekomunikasi yang mendorong
percepatan penyediaan infrastruktur teknologi informasi dan telekomunikasi di seluruh
Indonesia yang kompetitif.
20. Strategi 20: Harmonisasi-regulasi riset dan pengembangan teknologi untuk mengembangkan
teknologi yang tepat guna bagi ekonomi kreatif.
21. Strategi 21: Harmonisasi-regulasi Hak atas Kekayaan Intelektual untuk dapat menjamin
perlindungan (pendaftaran yang mudah, penegakan hukum atas pembajakan, dan tindakan
melanggar HKI) bagi produk lokal dan internasional (merek impor).
22. Strategi 22: Harmonisasi-regulasi yang mengatur penataan, perlindungan, dan perdagangan
di usaha-usaha bidang mode.
Untuk melaksanakan strategi tersebut di atas, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
penciptaan dan penyesuaian regulasi yang mendukung industri mode.

148

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

150

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

BAB 5:Penutup

151

5.1 Kesimpulan
Kesadaran akan pentingnya ekonomi kreatif semakin meluas ke seluruh pemangku kepentingan
setelah Mari Elka Pangestu selaku Menteri Perdagangan Republik Indonesia pada tahun 2009
meluncurkan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif Indonesia dan Instruksi Presiden
Nomor 6 Tahun 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif. Komitmen pemerintah untuk
mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia semakin besar, hal ini ditunjukkan dengan dibentuknya
kementerian yang membidangi ekonomi kreatif secara khusus, yaitu Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif pada 21 Desember 2011 berdasarkan Perpres Nomor 92 Tahun 2011. Untuk
mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia, Kementerian ini diperkuat dengan dua Direktorat
Jenderal yang secara khusus menangani pengembangan ekonomi kreatif, yaitu Direktorat Jendral
Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya dan Direktorat Jendral Ekonomi Kreatif Berbasis
Media Desain dan Iptek.
Bagi Indonesia, ekonomi kreatif merupakan sektor yang penting untuk mendorong terwujudnya
Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur di tahun 2025 mendatang, sesuai dengan
amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (RPJPN) 2005-2025. Ekonomi kreatif merupakan sektor yang penting untuk
dikembangkan, pertama karena berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Tahun 2013
ekonomi kreatif berkontribusi 7% terhadap PDB Nasional (ADHK), menyerap 11,8 juta tenaga
kerja (11% dari total tenaga kerja nasional), menciptakan 5,4 juta usaha kreatif yang sebagian
besar adalah UKM, dan 17% dari total konsumsi rumah tangga dalam negeri adalah konsumsi
produk kreatif. Kedua, mengangkat citra dan identitas bangsa Indonesia. Karya, produk, dan
orang kreatif Indonesia diakui oleh bangsa-bangsa di dunia karena kualitas dan kreativitasnya.
Ketiga, menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. Dengan kreativitas, sumber daya
terbatas bahkan limbah dapat dimanfaatkan untuk menciptakan produk dan karya kreatif yang
bernilai tambah tinggi. Keempat, mendorong penciptaan inovasi yang merupakan solusi kreatif
dari permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Melalui ekonomi kreatif
ilmu pengetahuan dan pola berpikir desain akan diterapkan secara berkelanjutan untuk dapat
mengejawantahkan kreativitas dan sumber daya lokal menjadi produk dan karya kreatif yang
bernilai tambah tinggi. Kelima, melestarikan budaya Indonesia dan meningkatkan toleransi
sosial. Ekonomi kreatif merupakan softpower bagi Indonesia untuk menembus pasar global dan
menjadi alat pemersatu bangsa yang terdiri dari beanekaragam suku bangsa.
Pengembangan ekonomi kreatif difokuskan pada pengarusutamaan kreativitas di setiap sektor
dan kehidupan bermasyarakat untuk dapat menciptakan daya saing global dan kualitas hidup
bangsa Indonesia. Untuk mewujudkan ekonomi kreatif sebagai penggerak terciptanya Indonesia
yang berdaya saing dan masyarakat berkualitas hidup tidak mudah. Setidaknya ada tujuh isu
strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif, yaitu (1) ketersediaan sumber daya manusia
yang profesional dan kompetitif; (2) ketersediaan bahan baku berupa sumber daya alam dan
budaya yang berkualitas, beragam, dan kompetitif; (3) pengembangan industri kreatif yang
berdaya saing, tumbuh dan beragam; (4) ketersediaan pembiayaan yang sesuai, mudah diakses dan
kompetitif; (5) perluasan pasar bagi karya, usaha, dan orang kreatif; (6) ketersediaan infrastruktur
dan teknologi yang sesuai dan kompetitif; dan (7) kelembagaan dan iklim usaha yang kondusif
bagi pengembangan ekonomi kreatif.
Tujuh isu strategis pengembangan ekonomi kreatif dapat diselesaikan dengan mengimplementasikan
model pengembangan ekonomi kreatif yang digerakkan oleh quad-helix. Model pengembangan

152

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

ekonomi dapat dianalogikan menjadi sebuah bangunan yang terdiri dari pondasi, pilar dan
atap. Pondasi pengembangan ekonomi kreatif adalah orang kreatif. Pilar pengembangan
ekonomi kreatif ada lima yaitu, sumber daya kreatif berupa sumber daya alam dan sumber
daya budaya, industri yang terdiri dari core creative industry (industri inti) dan backward and
forward linkage creative industry, pembiayaan, teknologi dan infrastruktur, dan pemasaran.
Pilar ini akan diperkuat oleh quad-helix melalui kelembagaan berupa norma, nilai, peraturan
dan perundangan, hukum yang mengatur interaksi para aktor-aktor utama (intelektual, bisnis,
komunitas, dan pemerintah) dalam pengembangan ekonomi kreatif. Kokohnya fondasi, kuatnya
pilar dan harmonisnya kelembagaan menjadi kunci pengembangan ekonomi kreatif.
Berdasarkan model tersebut, maka disusunlah Rencana Aksi Jangka Menengah Mode 2015-2019
dengan visi Indonesia menjadi salah satu pusat mode dunia dengan mengoptimalkan
kekuatan lokal yang fokus pada konsep ready-to-wear craft fashion.. Visi ini kemudian
dijabarkan menjadi 3 misi utama, 7 tujuan dan 10 sasaran strategis yang ingin dicapai hingga
tahun 2019 mendatang, yang akan diimplementasikan melalui 88 strategi. Kerangka strategis
pengembangan ekonomi kreatif subsektor mode hingga 2019 dijelaskan sebagai berikut.
1. Misi pertama adalah mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber
daya manusia, alam, dan budaya lokal yang berdaya saing, dinamis dan berkelanjutan.
Misi ini dijabarkan menjadi dua tujuan utama dan empat sasaran strategis sebagai berikut:
1. Penciptaan pelaku mode yang berdaya saing dan mampu mengangkat potensi kekayaan
lokal, yang dapat diindikasikan dari tercapainya sasaran meningkatnya kualitas dan
kuantitas pendidikan mode yang mendukung penciptaan dan penyebaran pelaku
mode secara merata dan berkelanjutan; serta meningkatnya kuantitas dan kualitas
pelaku mode yang berdaya saing, profesional, dan mampu membawa potensi lokal
ke dalam selera global.
2. Perwujudan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal
yang diperkaya dengan perubahan perilaku, kepedulian terhadap lingkungan hidup,
dan sosial sehingga memiliki kekhasan yang dinamis dan berdaya saing yang dapat
diindikasikan dari tercapainya sasaran terciptanya pengembangan bahan baku serat
nabati, hewani, dan buatan manusia dari sumber daya alam yang beragam, kompetitif,
dan terbarukan; serta terciptanya sistem informasi sumber daya budaya lokal yang
dapat diakses secara mudah dan cepat.
2. Misi kedua adalah mengembangkan industri mode yang berdaya saing, tumbuh,
beragam, dan berkualitas. Misi ini ingin mencapai tujuan terwujudnya industri mode
yang dinamis, berdaya saing, serta mampu menghasilkan keanekagraman produk yang
siap menghadapi persaingan dunia mode internasional yang ditandai oleh dua sasaran
strategis: (1) meningkatnya jumlah usaha dan pengusaha mode lokal di lingkungan tatanan
hukum pasar yang adil; (2) meningkatnya jumlah usaha dan pengusaha mode lokal yang
berbasis inovasi serta memiliki kekuatan di pasar dosmetik maupun internasional.
3. Misi ketiga adalah mengembangkan lingkungan industri yang kondusif dengan
pengintegrasian rantai industri yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan
di industri mode. Misi ini meliputi empat aspek penting: (1) pembiayaan; (2) pemasaran;
(3) infrastruktur dan teknologi, serta (4) kelembagaan yang tidak terbatas pada organisasi
atau lembaga terkait dengan pengembangan ekonomi kreatif nasional dan daerah, tetapi
juga termasuk nilai-nilai, kebijakan, peraturan dan perundangan serta hukum yang

BAB 5:Penutup

153

mengatur interaksi antarpemangku kepentingan ekonomi kreatif. Tujuan yang ingin


dicapai dalam misi ini meliputi:
1. Terciptanya permbiayaan dan akses yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif bagi
industri lokal yang diindasikan dari meningkatnya pengembangan dan fasilitasi
penciptaan lembaga pembiayaan yang mendukung pengembangan industri mode.
2. Terciptanya perluasan pasar lokal dan internasional yang berkualitas yang diindasikan
dari meningkatnya penetrasi dan diversifikasi pasar produk mode di dalam dan luar
negeri.
3. Tersedianya teknologi dan infrastruktur yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif
yang diindasikan dari terciptanya percepatan proses produksi, promosi, dan distribusi.
4. Terciptanya kelembagaan yang mendukung pengembangan industri mode dan
memiliki hubungan yang harmonis yang diindikasikan dari terciptanya regulasi yang
mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri mode.
Visi misi ini disusun untuk sesuai dengan rencana pengembangan ekonomi kreatif jangka menengah
2015-2019 yang ditekankan pada pencapaian daya saing kompetitif berlandaskan keunggulan
sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas dengan kemampuan pengembangan dan
pemanfaatan ilmu dan teknologi. Kondisi yang ingin dicapai adalah meningkatnya kuantitas dan
kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai dan berkualitas;
meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang ramah lingkungan dan
kompetitif; meningkatnya pertumbuhan dan daya saing industri kreatif; terciptanya lembaga
pembiayaan dan akses pembiayaan yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal; meningkatnya
keragaman segmen dan pangsa pasar ekonomi kreatif; meningkatnya pengembangan dan akses
terhadap infrastruktur dan teknologi yang sesuai dan kompetitif bagi industri kreatif; dan
terciptanya iklim usaha yang kondusif dan meningkatnya apresiasi terhadap karya kreatif lokal.
Untuk mencapainya disusun Rencana Aksi Jangka Menengah Mode 2015-2019 yang terbagi
atas lima bagian, yaitu:
1. BAB 1 Perkembangan Mode di Indonesia, memuat dua konten utama, yaitu mengenai
definisi dan ruang lingkup industri mode, serta sejarah dan perkembangannya. Ruang
lingkup mode dibagi berdasarkan proses dan volumenya, jenis produk, fungsi produk
serta tujuan segmentasi pasar. Penjabaran ruang lingkup ini untuk memberi gambaran
luasnya cakupan bidang mode dan menjadi dasar perlunya fokus pengembangan untuk
mencapai hasil yang maksimal sesuai visi misi yang telah ditetapkan. Sejarah dan
perkembangan mode memberi gambaran pergeseran konsep mode sebagai gaya hidup.
Di awal kemunculannya, mode lebih banyak ditujukan bagi kalangan atas, kini mode
telah menjadi kebutuhan setiap lapisan masyarakat. Pergeseran ini dijabarkan dalam
sejarah industri mode sejak tahun 1900-an hingga kini, baik secara global ataupun yang
terjadi di Indonesia, mencakup perubahan dalam style, pelaku dan tokoh-tokoh di setiap
era serta berbagai kegiatan yang mewarnai perjalanan dunia mode.
2. BAB 2 Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Mode Indonesia, memaparkan
ekosistem mode serta peta, ruang lingkup, dan model bisnis industri mode di Indonesia.

154

Ekosistem mode bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai sistem yang


menggambarkan hubungan saling ketergantungan (interdependent relationship) setiap peran
di dalam proses penciptaan nilai kreatif dan dengan lingkungan sekitar yang mendukung

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

terciptanya nilai kreatif di industri mode. Baik mulai dari proses riset, kreasi, produksi,
distribusi, penjualan, hingga pasar, apresiasi, dan pendidikan. Peta industri mode
bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai hubungan antarpelaku dan entitas
usaha yang membentuk industri utama, serta pelaku dan entitas (industri) pendukung yang
memberikan suplai (backward linkage) ataupun yang memberikan permintaan ( forward
linkage) kepada industri utama mode. Ruang lingkup industri mode bertujuan untuk
memberikan pemahaman mengenai ruang lingkup usaha mode dalam hubungannya
antara core industries, backward industries dan forward industries menurut pendekatan
KBLI (Kualifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) tahun 2009 yang dikeluarkan oleh
BPS (Badan Pusat Statistik). Model bisnis industri mode bertujuan untuk memberikan
pemahaman mengenai bentuk-bentuk model bisnis yang terdapat di industri mode.
Melalui pemaparan ini diperoleh gambaran kondisi aktual dari industri mode Indonesia
untuk dapat memahami potensi dan permasalah yang ada.
3. BAB 3 Kondisi Umum Mode di Indonesia, memaparkan mengenai kontribusi ekonomi
mode, kebijakan pengembangan mode, struktur pasar mode, daya saing mode, serta potensi
dan permasalahan dalam pengembangan mode. Kontribusi ekonomi bertujuan untuk
memberikan pemahaman jumlah kontribusi yang disumbangkan oleh industri mode
terhadap perekonomian Indonesia yang berbasis produk domestik bruto (PDB), berbasis
ketenagakerjaan, berbasis aktivitas perusahaan, berbasis konsumsi rumah tangga, dan
berbasis nilai ekspor. Kebijakan pengembangan mode bertujuan untuk memberikan
pemahaman mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Standar Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia (SKKNI), Permendag 70, Hak Perlindungan Konsumen, Pajak Penjualan
Barang Mewah, dan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI). Struktur pasar mode
bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai pasar industri mode dari skala kecil
hingga skala besar serta persaingan yang terjadi di dalamnya yang akhirnya mempengaruhi
kontribusi ekonomi Indonesia. Daya saing mode bertujuan untuk memberikan pemahaman
mengenai tingkat daya saing industri mode yang dilihat dari aspek sumber daya kreatif,
sumber daya pendukung, industri, pembiayaan, pemasaran, kelembagaan, infrastruktur,
dan teknologi. Potensi dan permasalahan dalam pengembangan mode bertujuan
untuk memaparkan seluruh potensi dan permasalahan yang terjadi di dalam industri
mode dari 7 dimensi: (1) sumber daya kreatif; (2) sumber daya pendukung; (3) industri;
(4) pembiayaan; (5) pemasaran; (6) infrastruktur dan teknologi; serta (7) kelembagaan.
4. BAB 4 Rencana Pengembangan Mode Indonesia merupakan bagian yang menjelaskan
rencana pengembangan industri mode meliputi: arahan strategis pengembangan ekonomi
kreatif 2015-2019; visi, misi, tujuan, dan sasaran pengembangan mode; sasaran dan indikasi
strategis pengembangan mode; arah kebijakan pengembangan mode; strategi dan rencana
aksi pengembangan mode. Bab ini bertujuan untuk memberikan pemahaman skala dan
lingkup pengembangan mode sampai dengan tahun 2019, apa yang ingin dicapai pada
tahun 2019 berdasarkan kondisi saat ini, dan langkah-langkah apa yang dilakukan untuk
mencapai kondisi yang diharapkan pada tahun 2019.
5. BAB 5 Kesimpulan dan Saran. Bagian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman
mengenai pokok pikiran dalam dokumen rencana induk pengembangan ekonomi kreatif
hingga 2025 memberikan saran langkah-langkah yang harus dilakukan ke depan kepada
semua pemangku kepentingan sehingga rencana pengembangan ekonomi kreatif ini dapat
diimplementasikan secara efektif dan efisien.

BAB 5:Penutup

155

Target pembaca dari dokumen Rencana Aksi Jangka Menengah Mode 2015-2019 yang berjudul
Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia Menuju 2015-2019 adalah quad-helix (pemerintahbisnis-intelektual-komunitas), media, pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum. Bagi
pemerintah, dokumen ini diharapkan dapat memberikan acuan dan panduan dalam mengembangkan
program dan kegiatan terkait industri mode di Indonesia. Bagi bisnis, dokumen ini diharapkan
dapat memberikan pemahaman mengenai potensi dan peluang pengembangan industri mode di
Indonesia sehingga semakin banyak bisnis yang berinvestasi dalam pengembangan mode. Bagi
intelektual, dokumen ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan referensi dalam melakukan
penelitian dan pengembangan terkait industri mode. Bagi komunitas, dokumen ini diharapkan
memberikan inspirasi untuk terus menghasilkan karya kreatif berkualitas. Bagi media, dokumen
ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi dan literasi media mengenai industri mode sehingga
media dapat semakin terlibat dalam komunikasi industri mode kepada masyarakat. Bagi pelajar
dan mahasiswa, dokumen ini diharapkan dapat memberikan inspirasi untuk bekerja dan berkarya
di bidang industri mode. Bagi masyarakat umum, dokumen ini diharapkan dapat meningkatkan
apresiasi dan literasi mengenai industri mode.

5.2 Saran
Rencana jangka menengah 2015-2019 untuk pengembangan mode telah disusun, namun ini
baru merupakan langkah awal untuk mensinergikan seluruh sumber daya untuk mencapai visi,
misi, tujuan, dan sasaran yang sama sehingga diperoleh hasil yang optimal bagi masyarakat.
Pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari pelaksanaan perencanaan yang dibuat merupakan
salah satu tantangan di masa mendatang. Terkait dengan hal ini, maka terdapat beberapa isu
yang menjadi perhatian kita bersama:
1. Pema hama n mengena i ekonomi k reatif mode da n kesepa kata n renca na
pengembangannya.

Ruang lingkup industri mode sangat luas dan berbagai langkah pengembangan dari para
pemangku kepentingan yang terlibat pun sudah banyak dikerjakan. Namun semua upaya
yang dilakukan tidak mengarah pada pengembangan strategis yang terencana. Diperlukan
pemahaman yang sama mengenai konsep ekonomi kreatif mode dan kesepakatan upaya
pengembangannya, pemetaan potensi dan permasalahan, pemahaman mengenai apa, di
mana, siapa, kapan, mengapa, dan bagaimana pola pengembangan industri mode ini.
Kesepakatan mengenai rencana pengembangan akan memberi kepastian arah yang dituju
sehingga memudahkan penyusunan strategi dan pencapaian visi misi yang diharapkan.

2. Fondasi pengembangan melalui kekuatan sumber daya.


156

Fondasi pengembangan melalui kekuatan nilai-nilai lokal, kesadaran lingkungan, dan


sosial menjadi dasar untuk pengembangan ekonomi kreatif yang berdaya saing. Sumber
daya alam, budaya, manusia, diatur secara strategis, dan terutama dengan konsep
berkesinambungan agar dapat menjadi kekuatan menghadapi keunggulan industri mode
internasional. Pemanfaatan keberagaman kekayaan alam, budaya dan ketrampilan teknis
dapat menjadi tawaran keunikan ditengah kecenderungan gaya hidup yang cenderung
seragam. Kesadaran lingkungan dan sosial juga merupakan hal yang mutlak sebagai
bentuk tanggung jawab dunia industri mode terhadap masyarakat dan dunia. Konsep
ini harus disepakati sebagai fondasi untuk membangun industri mode tanah air.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

3.

Trend Forecasting sebagai strategi untuk mencapai Indonesia sebagai salah satu
pusat mode dunia.

Rencana induk pengembangan ekonomi kreatif mode merumuskan pencapaian Indonesia


sebagai salah satu pusat mode dunia. Pencanangan ini dibuat dengan tujuan mensejahterakan
rakyat melalui industri mode. Suatu tujuan yang tidak mudah mengingat mode adalah
industri yang relatif masih baru di Indonesia dibandingkan negara-negara mode internasional.
Namun bukan tidak mungkin jika memiliki strategi yang tepat. Salah satunya adalah
menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat inspirasi mode, melalui konsep lembaga
trend forecasting, mengoptimalkan sumber daya alam, budaya, dan manusia, Indonesia
dapat berkontribusi ikut mendandani dunia.

4. Tahapan pengembangan ekonomi kreatif mode melalui kerjasama quad-helix.


Perkembangan dunia mode yang sangat pesat di satu sisi menghadirkan upaya-upaya
instant, yang secara sekilas terlihat dunia mode Indonesia sudah maju dan sejajar secara
internasional, namun jika diteliti ternyata industri ini cenderung rapuh, belum memiliki
fondasi yang kuat. Secara kreativitas dapat dikatakan pelaku industri ini tidak kalah, namun
secara bisnis belum memadai, bahkan masih banyak yang melihat mode semata-mata bagian
dari dunia hiburan dan selebriti. Tahapan pengembangan ekonomi kreatif mode melalui
pengembangan riset, sumberdaya manusia dan sisi bisnis sudah direncanakan, selanjutnya
kesiapan dan kerjasama quad-helix: dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, dan
pemerintahan untuk memperkuat fondasi dan langkah pengembangan perlu dilakukan,
agar arah pengembangan mode sebagai bagian dari ekonomi kreatif mempunyai struktur
yang kuat.

5.

Koordinasi dan sinergi lintas sektor dan lintas regional.

Aktivitas pengembangan ekonomi kreatif mode sudah banyak dilakukan dan melibatkan
banyak kementerian serta lembaga. Namun pola pengembangan banyak yang tumpang
tindih dan berulang, sehingga koordinasi lintas sektor merupakan tantangan utama
untuk dapat mengimplementasikan memantau dan mengevaluasi pelaksanaan rencana
pengembangan yang telah disusun. Selain lintas sektor, koordinasi dan sinergi juga perlu
dilakukan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, karena implementasi rencana
aksi pengembangan ekonomi kreatif mode banyak dilakukan di daerah-daerah. Dan yang
terutama dalam koordinasi dan sinergi ini adalah ketegasan penentuan kepemimpinan
dan kesediaan dari semua pemangku kepentingan untuk bekerjasama mencapai tujuan
yang disepakati.

6.

Partisipasi aktif pemangku kepentingan dan kerjasama dengan para pemangku


kepentingan.

Keunikan ekonomi kreatif mode adalah dinamika perubahan yang sangat cepat. Mode
adalah gaya hidup, dalam era dimana informasi dan teknologi sudah sedemikian maju
maka perubahan gaya hidup ini juga semakin cepat dan punya kecenderungan terjadi
keseragaman. Upaya untuk menjadi sejajar dengan selera global di satu sisi dan memiliki
kekhasan disisi lain adalah mutlak. Kepekaan memahami, melihat dan memprediksi,
meresponi perubahan ini merupakan kekuatan yang dimiliki oleh pelaku serta para para
pemangku kepentingan, dan kurang dimiliki pemangku kepentingan di pemerintahan.
Karena itu untuk dapat mempercepat pengembangan ekonomi kreatif mode, pemerintah
perlu bermitra dengan asosiasi dan komunitas serta pelaku bisnis mode baik dalam
perencanaan maupun pelaksanaan program. Di sisi lain, perlu juga didorong orang kreatif

BAB 5:Penutup

157

dan wirausaha kreatif mode untuk berorganisasi dan difasilitasi untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia yang terlibat aktif dalam organisasi dan tata kelola organisasi
(asosiasi/komunitas) yang menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan ekonomi
kreatif mode Indonesia.
7. Pengembangan sistem perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
pengembangan ekonomi kreatif mode.

158

Perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi merupakan sebuah proses yang


berjalan secara berkesinambungan. Supaya pencapaian dalam setiap tahapan dapat menjadi
pembelajaran dan juga menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan di tahun berikutnya,
maka diperlukan sebuah sistem perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi yang
dapat diakses, aman, transparan, dan dapat ditelusuri dengan mudah. Pemanfaatan sistem
informasi dalam sistem ini menjadi kebutuhan utama, sehingga sistem ini akhirnya juga
dapat menjadi pusat pengetahuan bagi proses pengembangan ekonomi kreatif mode di
Indonesia.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

160

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

LAMPIRAN

LAMPIRAN

161

162

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

ARAH

STRATEGI

1.1

Meningkatnya kualitas dan kuantitas pendidikan


mode yang mendukung penciptaan dan penyebaran
pelaku mode secara merata dan berkelanjutan
Menciptakan dan mengembangkan
kualitas pendidikan mode yang
mengutamakan kreativitas,
kewirausahaan, kesadaran
lingkungan alam, sosial dan budaya,
kemampuan memanfaatkan
teknologi tinggi, dan menghargai
nilai-nilai lokal

Mengembangkan dan memfasilitasi


penciptaan lembaga pendidikan
formal dan nonformal, baik
pemerintah atau swasta terutama
di daerah yang memiliki potensi
kekayaan lokal (batik, tenun,
penghasil serta, masyarakat yang
terampil)

1. Terciptanya pelaku mode yang berdaya saing dan mampu mengangkat potensi kekayaan lokal

Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana lembaga


pendidikan mode yang sudah ada
Menciptakan dan meningkatkan sebaran lembaga
pendidikan mode hingga jenjang pascasarjana

Peningkatan kualitas tenaga pengajar yang


menjunjung tinggi kode etik profesi di tingkat nasional
dan global

Mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran


yang memiliki fokus pada aspek kewirausahaan,
pemanfaatan teknologi tinggi, memiliki kesadaran
akan lingkungan alam, sosial dan budaya, dan
menghargai nilai-nilai lokal

Meningkatkan kerja sama lembaga pendidikan mode


lokal dengan lembaga pendidikan mode global

Menyusun dan mengembangkan kurikulum


pendidikan mode dengan penekanan pada
pembentukan mental kreatif dan mandiri melalui
pemecahan masalah

Membentuk mental kreatif dan kecintaan akan lokal


sejak dini dalam kurikulum pendidikan mode

Misi 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya manusia, alam dan budaya lokal yang berdaya saing, dinamis dan berkelanjutan

MISI/ TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI MODE

LAMPIRAN

163

Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelaku mode


yang berdaya saing, profesional dan mampu
membawa potensi lokal ke dalam selera global
Menciptakan pelaku mode yang
profesional, mampu memanfaatkan
teknologi dan infrastruktur
industri mode, serta mampu
mengembangkan potensi kekayaan
lokal agar dapat diterima dalam
pasar global

Perlindungan terhadap pelaku mode


Indonesia di dalam negeri

Menyelaraskan antara tahapan


pendidikan serta meningkatkan
partisipasi dunia usaha dalam
pendidikan

ARAH

Mengembangkan sistem perlindungan kerja bagi


pelaku mode di dalam negeri

Mengidentifikasi profil profesi, mengembangkan


standar kompetensi, dan memfasilitasi sertifikasi
pelaku mode yang diakui secara global

Mengembangkan program kompetensi yang


memanfaatkan teknologi terbaru dan infrastruktur
di industri mode, mulai dari industri kecil sampai
dengan industri besar

Memberikan akses bagi para praktisi dunia usaha


mode untuk dapat menjadi tenaga pengajar di
lembaga pendidikan mode lokal

Membentuk dan mengembangkan potensi para pelaku


yang memiliki kemampuan membawa kekayaan lokal
yang dapat dibawa ke dalam pasar global

Memfasilitasi penciptaan dan pengembangan strategi


pendidikan mode yang berbasis program magang/
kerja praktek/uji coba pasar di dunia usaha

Mengembangkan komunikasi dua arah antar


institusi dunia usaha dan dunia pendidikan secara
berkala untuk pembentukan kurikulum berdasarkan
kompetensi

STRATEGI

2.1

Terciptanya pengembangan bahan baku serat


nabati, hewani dan buatan manusia dari sumber
daya alam yang beragam, kompetitif dan terbarukan
a

Mengembangkan pusat pengetahuan,


riset dan eksperimen SDA (sumber
daya alam) Indonesia berbasis
teknologi yang mudah diakses

Mengidentifikasi dan mengembangkan SDA menjadi


bahan baku yang dibutuhkan oleh industri mode (baik
dari yang sudah ada maupun bahan baku lokal baru)
yang ramah lingkungan, berkualitas, dan kompetitif

2. Terwujudnya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal yang diperkaya dengan perubahan perilaku, kepedulian terhadap lingkungan
hidup dan sosial sehingga memiliki kekhasan yang dinamis dan berdaya saing

1.2

MISI/ TUJUAN/SASARAN

164

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

MISI/ TUJUAN/SASARAN

Menciptakan dan meningkatkan


skala produksi dan daya saing bahan
baku lokal di dalam dan luar negeri

Mengembangkan bahan baku lokal


yang kompetitif dan berkualitas

ARAH

Menjamin dan meningkatkan kualitas sistem


standardisasi mutu bahan baku lokal bernilai tambah
sehingga dapat bersaing di pasar dalam negeri
maupun luar negeri
Meningkatkan kerja sama pemerintah, intelektual,
dan bisnis dalam pemanfaatan bahan baku lokal
Menjamin ketersediaan bahan baku dan
pendistribusiannya yang mudah diakses dan cepat
dari hulu ke hilir

3
4

Memfasilitasi pendaftaran, perlindungan, dan


penegakan HKI terhadap penemuan bahan baku lokal
dan pewarnaan alam

Mengembangkan sistem produksi bahan baku


sehingga dapat menjamin ketersediaan bagi industri
mode dengan kompetitif dan berkesinambungan

Mengembangkan standardisasi proses pewarnaan


alam yang dapat diterima dan dimanfaatkan oleh
dunia internasional

Memfasilitasi penelitian penciptaan bahan baku lokal


yang berdaya saing dan berkualitas dari SDA yang ada

Mengembangkan program uji coba SDA yang berbasis


teknologi

3
1

Mengembangkan sistem informasi SDA Indonesia


yang akurat, dikelola secara profesional, dan mudah
untuk diakses

STRATEGI

LAMPIRAN

165

Terciptanya sistem informasi sumber daya budaya


lokal, yang dapat diakses secara mudah dan cepat

Mengembangkan eksperimen dan


eksplorasi sumber budaya Indonesia
sebagai inspirasi dalam proses
inovasi produk mode
Mengembangkan pusat pengetahuan
dan sistem informasi industri mode
berbasis budaya Indonesia

ARAH

Mengidentifikasi, mendokumentasikan budaya


Indonesia yang dapat dijadikan inspirasi
Mengembangkan sistem informasi sumber daya
budaya Indonesia yang akurat, dikelola secara
profesional, dan mudah diakses oleh berbagai pihak

Mengembangkan dan mendokumentasikan program


eksperimen serta penemuan gaya baru dengan basis
budaya Indonesia sebagai inspirasinya

STRATEGI

3.1

Meningkatnya jumlah usaha dan pengusaha mode


lokal di lingkungan tatanan hukum pasar yang adil

Memfasilitasi penciptaan usaha


mode lokal di seluruh wilayah
Indonesia

Mengembangkan standar industri


mode nasional yang diakui secara
global

Menciptakan dan mengembangkan standar industri


yang setara dengan standar internasional
Memfasilitasi akses usaha mode terhadap standar
industri yang telah dikembangkan
Mengembangkan sertifikasi hijau di industri mode
dan memberikan kemudahan bagi usaha-usaha yang
menerapkannya

2
3

Mengembangkan program kelompok kerja


berdasarkan pembagian wilayah/kluster/unit
koperasi

Menciptakan program start-up usaha mode dan


memberikan kemudahan akses untuk penciptaan
usaha mode lokal

3. Terwujudnya industri mode yang dinamis, berdaya saing, serta mampu menghasilkan keanekaragaman produk yang siap menghadapi persaingan dunia mode
internasional

Misi 2 : Mengembangkan industri mode yang berdaya saing, tumbuh, beragam, dan berkualitas

2.2

MISI/ TUJUAN/SASARAN

166

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

MISI/ TUJUAN/SASARAN

Meningkatnya jumlah pengusaha


mode lokal yang profesional, dinamis
serta berdaya saing di persaingan
dunia mode internasional

Memfasilitasi kolaborasi dan linkage


antar usaha mode maupun antara
industri mode dengan industri
lainnya di tingkat lokal, nasional, dan
global

ARAH

Meningkatkan program rangsangan dalam


menciptakan wirausaha dalam bidang mode

Menciptakan kolaborasi para pelaku mode untuk


menghasilkan 1 merek nasional yang mampu
bersaing di pasar lokal dan internasional

Mengembangkan program inkubator bisnis yang


melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan
dikelola secara profesional

Memfasilitasi akses dunia usaha terhadap bahan


baku, bahan baku alternatif, sumber daya budaya, dan
pelaku mode lokal yang berkualitas dan kompetitif
dan mendorong kerja sama lembaga pemerintah/
swasta dengan industri mode

Meningkatkan dukungan terhadap program-program


di industri penunjang/pendukung mode lokal

Meningkatkan skill-knowledge-attitude pengusahapengusaha mode dengan menghadirkan mentor bisnis


mode berpengalaman lokal dan internasional

Memfasilitasi program magang (internship) tenaga


kerja mode di industri mode atau industri kreatif
lainnya sehingga dapat terjadi transfer pengetahuan
baik di dalam maupun luar negeri

Memfasilitasi ko-kreasi dan ko-produksi antar usaha


mode di tingkat lokal, nasional, dan global

STRATEGI

LAMPIRAN

167

Terwujudnya keanekaragaman produk mode lokal


yang berbasis inovasi serta memiliki kekuatan di
pasar domestik maupun internasional
Meningkatnya jenis keanekaragaman
serta kualitas produk mode

Terciptanya sistem informasi produk


mode yang berbasis inovasi
Membuka peluang pasar dosmetik
dan internasional

ARAH

Menyelenggarakan kompetisi mode yang


menitikberatkan pada inovasi produk dan penciptaaan
usaha kreatif mode di daerah untuk menstandardisasi
mutu dan menstimulasi keanekaragaman produk

Memberikan apresiasi terhadap produk mode lokal


dengan mengadakan/memfasilitasi keikutsertaan di
pameran/fashion show dalam dan luar negeri

Menciptakan dan mengembangkan pusat


pengumpulan data kreasi produk mode yang memiliki
nilai inovasi tinggi dan beragam

Mengembangkan program mentoring/live-in-designer


di daerah dengan praktisi mode sebagai pendamping

Memfasilitasi penciptaan arahan tren berupa riset


dan pengembangan desain dan konten produk mode
yang memanfaatkan sumber daya lokal

STRATEGI

4.1

Meningkatnya pengembangan dan fasilitasi


penciptaan lembaga pembiayaan yang mendukung
perkembangan industri mode

Mengembangkan alternatif
pembiayaan yang sesuai, dapat
diakses dengan mudah dan
kompetitif

Mengembangkan dan memfasilitasi


penciptaan lembaga pembiayaan
yang mendukung perkembangan
industri mode

4. Terciptanya pembiayaan dan akses yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif bagi industri lokal

Menciptakan dan mengembangkan koperasi/lembaga


pembiayaan lain untuk wilayah-wilayah yang memiliki
potensi untuk pengembangan industri mode
Meningkatkan mutu layanan lembaga pembiayaan
yang sudah ada

Memfasilitasi pendanaan bagi calon atau pelaku mode


yang berpotensi

2
1

Menciptakan dan mengembangkan skema/model


pembiayaan yang tepat sasaran untuk usaha dan
pengusaha mode dari berbagai tingkatan

Misi 3 : Mengembangkan lingkungan industri yang kondusif dengan pengintegrasian rantai industri yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan
di industri mode

3.2

MISI/ TUJUAN/SASARAN

168

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

5.1

Meningkatnya penetrasi dan diversifikasi pasar


produk mode di dalam dan luar negeri

Mengembangkan sistem informasi


pasar produk mode di dalam negeri
yang terpusat dan dapat diakses
dengan mudah

Memberikan kesempatan yang sama


untuk produk lokal potensial untuk
bersaing di pasar dalam negeri

Meningkatkan branding produk/


usaha mode lokal di dalam dan luar
negeri

Membuka peluang pasar baru


melalui even dalam dan luar negeri

ARAH

5. Terciptanya perluasan pasar lokal dan internasional yang berkualitas

MISI/ TUJUAN/SASARAN

Terciptanya standardisasi klasifikasi berbagai


kegiatan di industri mode, misalnya penggunaan
nama fashion week
Memberikan dukungan terhadap pameran, festival,
misi dagang serta jejaring B2B para pelaku mode

Membangun konsumen mode yang lebih menghargai


nilai-nilai lokal yang terkandung di dalam produk/
usaha mode

Mengoptimalkan penggunaan inspirasi, bahan baku,


dan tenaga kerja lokal untuk pelaku mode

Memfasilitasi partisipasi dalam even mode dalam


negeri

Mengembangkan konsep dan rencana aksi branding


dan promosi di dalam dan luar negeri, yang dapat
mensinergikan pelaksanaan branding dan promosi
yang dilakukan oleh pemerintah maupun pemerintah
daerah

Mendorong kemudahan proses franchise bagi produk/


usaha mode lokal yang potensial

Memberikan kemudahan bagi produk mode lokal


potensial yang ingin menjual produknya di lokasilokasi utama di dalam negeri

Mengembangkan sistem informasi (bank data) yang


user friendly mengenai pelaku dan produk mode

2
1

Membentuk lembaga riset yang khusus meneliti


mengenai pasar industri mode di dalam negeri dan
luar negeri

STRATEGI

LAMPIRAN

169

Meningkatkan kualitas pelayanan


ekspor produk mode lokal

ARAH

6.1

Terciptanya percepatan proses produksi, promosi


dan distribusi

Meningkatkan pengembangan
teknologi yang sesuai untuk proses
utama dan pendukung di industri
mode

Meningkatkan kolaborasi antar


pemangku kepentingan dalam
melakukan pengembangan teknologi

6. Tersedianya teknologi dan infrastruktur yang sesuai, mudah diakses dan kompetitif

MISI/ TUJUAN/SASARAN

Menyediakan tenaga ahli yang memiliki kemampuan


untuk mengoperasikan teknologi pendukung industri
mode, baik berupa software maupun hardware

Mengoptimalkan lembaga penelitian dan inkubator


teknologi yang dapat menghasilkan teknologi
pendukung industri mode

Meningkatkan dan mengembangkan kerja sama riset


teknologi secara multidisiplin antar institusi, antar
industri, dan antar lembaga

Menyediakan dan mensertifikasi teknologi produksi


serta pengolahan bahan baku untuk produk mode

Memfasilitasi penyediaan software pendukung untuk


proses kreasi-produksi-distribusi hingga promosi
yang murah dan user-friendly

Mengembangkan sistem informasi mengenai regulasi


ekspor produk mode dari negara tujuan ekspor yang
akurat, terpercaya, mudah diakses, dan dikelola
secara profesional

Kemudahan pengurusan dokumen dan legalitas bagi


produk mode yang akan diekspor

STRATEGI

170

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

ARAH

7.1

Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan


iklim yang kondusif bagi pengembangan industri
mode

Harmonisasi-regulasi (menciptakan,
de-regulasi) pemanfaatan dan
pengembangan sumber daya lokal
bagi industri mode

Harmonisasi-regulasi (menciptakan,
de-regulasi) pendidikan dan
apresiasi yang menitikberatkan
kreativitas

Harmonisasi-regulasi pelestarian (perlindungan,


pengembangan, dan pemanfaatan) sumber daya
untuk memberikan dan mendukung pemanfaatan
sumber daya alam (bahan baku lokal) dan sumber
daya budaya lokal, tanpa merusak lingkungan.
Harmonisasi-regulasi kebudayaan untuk dapat: (1)
meningkatkan pemahaman (literasi) masyarakat
terhadap budaya; (2) memberikan insentif dan
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
pelestarian (perlindungan, pengembangan, dan
pemanfaatan) budaya;(3) mengarusutamakan
kreatifitas dalam pengembangan dan pemanfaatan
budaya

Harmonisasi-regulasi untuk dapat meningkatkan


literasi masyarakat tentang industri mode dan
apresiasi terhadap kreativitas para pelakunya

Harmonisasi-regulasi pendokumentasian dan


pengarsipan sejarah dan produk mode untuk
menitikberatkan kreatifitas di masyarakat

Harmonisasi-regulasi tata niaga sumber daya alam


lokal sebagai bahan baku industri mode secara adil

Harmonisasi-regulasi untuk menjamin kebebasan


berekpresi bagi masyarakat dan memberikan
insentif pada upaya-upaya yang dapat menumbuhkan
kreativitas yang bertangung-jawab dan bermanfaat di
masyarakat

Harmonisasi-regulasi pendidikan untuk


menitikberatkan kreativitas dalam pendidikan

STRATEGI

7. Terciptanya kelembagaan yang mendukung pengembangan industri mode dan memiliki hubungan yang harmonis

MISI/ TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

171

MISI/ TUJUAN/SASARAN

Harmonisasi-regulasi (menciptakan,
de-regulasi) penciptaan value chain,
penataan industri mode baik industri
utama dan industri pendukungnya
(backward and forward linkage)

Harmonisasi-regulasi (menciptakan,
de-regulasi) pembiayaan bagi
industri mode

ARAH

Harmonisasi-regulasi lembaga pembiayaan untuk


meningkatkan akses pembiayaan bagi industri mode
Harmonisasi-regulasi penanaman modal dalam dan
luar negeri yang mendorong dan memfasilitasi PMA
maupun PMDN di sektor industri kreatif secara adil

2
3

Harmonisasi-regulasi keterbukaan informasi publik


untuk memberikan akses seluas-luasnya bagi
masyarakat untuk dapat berpartisipasi aktif dalam
pengembangan industri mode

Harmonisasi-regulasi metode dan akses pembiayaan


(funding) kepada industri mode

Harmonisasi-regulasi perpajakan (pajak negara


maupun pajak daerah), kepabeanan dan retribusi
untuk dapat mempercepat memberikan insentif pada
pengembangan industri mode, dan dipastikan tidak
terjadi tumpang tindih/pengulangan pada penagihan
perpajakan

Harmonisasi-regulasi yang adil dalam penataan


industri mode baik industri utama dan industri
pendukungnya (backward dan forward linkage) yang
dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari
pengembangan industri tersebut

Harmonisasi-regulasi riset sumber daya lokal


untuk menghasilkan bahan baku lokal berkualitas,
berdaya saing, dan kompetitif serta menghasilkan
pengetahuan budaya yang dapat menginspirasi
penciptaan produk mode

STRATEGI

172

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

MISI/ TUJUAN/SASARAN

Harmonisasi-regulasi teknologi dan


infrastruktur pendukung industri
kreatif

Harmonisasi-regulasi (menciptakan,
de-regulasi) Hak Kekayaan
Intelektual (HKI)

Harmonisasi-regulasi (menciptakan,
de-regulasi) penciptaan pasar yang
adil berdasarkan ukuran usaha
(kecil, sedang dan besar)

Harmonisasi-regulasi (menciptakan,
de-regulasi) perluasan pasar produk
mode

ARAH

Harmonisasi-regulasi yang mengatur penataan,


perlindungan dan perdagangan di usaha-usaha
bidang mode

Harmonisasi-regulasi Hak atas Kekayaan Intelektual


untuk dapat menjamin perlindungan (pendaftaran
yang mudah, penegakan hukum atas pembajakan
dan tindakan melanggar HKI) bagi produk lokal dan
internasional (merek impor)

Harmonisasi-regulasi riset dan pengembangan


teknologi untuk mengembangkan teknologi yang
tepat guna bagi ekonomi kreatif

Harmonisasi-regulasi teknologi informasi dan


telekomunikasi yang mendorong percepatan
penyediaan infrastruktur teknologi informasi dan
telekomunikasi di seluruh Indonesia yang kompetitif

Harmonisasi-regulasi investasi untuk mendorong


investasi industri kreatif Indonesia ke luar negeri

Harmonisasi-regulasi informasi dan transaksi


elektronik untuk dapat melindungi privasi masyarakat
dan meminimalisasi cyber crime dengan tetap
memberikan ruang kepada tumbuhkembangnya
kreativitas

Harmonisasi-regulasi pengadaan barang dan jasa


pemerintah yang mengarusutamakan kreatifitas,
terutama pada legalitas aliran barang ekspor maupun
impor

Harmonisasi-regulasi tataniaga karya kreatif (barang


dan jasa) untuk dapat memperluas pasar karya kreatif
di dalam maupun di luar negeri

STRATEGI

LAMPIRAN

173

INDIKASI STRATEGIS

1.1

Meningkatnya kualitas dan kuantitas


pendidikan mode yang mendukung
penciptaan dan penyebaran
pelaku mode secara merata dan
berkelanjutan

m. Peningkatan jumlah forum komunikasi antar institusi dunia usaha dan dunia pendidikan yang memiliki fokus pada
kegiatan kreasi, produksi, pemasaran, penjualan, kerja sama, dan riset

l. Memiliki lembaga pendidikan mode untuk jenjang yang setara dengan S2 dan S3

k. Peningkatan jumlah lembaga pendidikan mode untuk jenjang setara dengan S1

j. Memiliki lembaga pendidikan mode terpadu dari jenjang pendidikan menengah hingga pascasarjana

i. Memiliki lembaga pendidikan baru formal/nonformal/informal di daerah-daerah berpotensi untuk pengembangan


industri mode, contoh: Tasikmalaya, Pekalongan, Makassar, dan Lasem

h. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana lembaga pendidikan mode yang sudah ada yang sudah sesuai
standardisasi

g. Terciptanya standardisasi kualitas sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan mode

f. Peningkatan kerja sama antara pendidikan mode lokal dan global dalam bentuk pendirian cabang lembaga pendidikan
mode asing di dalam negeri, penciptaan program di lembaga pendidikan mode lokal yang didukung oleh lembaga
pendidikan mode asing, program pertukaran pelajar, ataupun beasiswa.

e. Pertumbuhan jumlah tenaga pengajar mode yang berkualitas di tingkat nasional dan global

d. Memiliki materi pengajaran yang berkaitan dengan kewirausahaan dan niaga mode dengan memanfaatkan teknologi

c. Pertumbuhan sikap apresiatif dan pemanfaatan nilai lokal sebagai bentuk perwujudan kecintaan lokal

b. Terciptanya materi pengajaran dan kegiatan yang yang merangsang perilaku pemecahan masalah berbasiskan 7
sikap mental kreatif

a. Peningkatan materi pengajaran dan kegiatan yang yang mendorong terciptanya mental kreatif (keberanian daya
imajinasi dan kemampuan pemecahan masalah).

1. Terciptanya pelaku mode yang berdaya saing dan mampu mengangkat potensi kekayaan lokal

Misi 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya manusia, alam dan budaya lokal yang berdaya saing, dinamis, dan berkelanjutan

MISI/ TUJUAN/SASARAN

MATRIKS INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN INDUSTRI MODE

174

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Meningkatnya kuantitas dan kualitas


pelaku mode yang berdaya saing,
profesional dan mampu membawa
potensi lokal ke dalam selera global

h. Peningkatan program perlindungan kerja bagi pelaku mode di dalam negeri

g. Terciptanya program sertifikasi pelaku mode yang dapat diaplikasikan secara merata

f. Terciptanya standar kompetensi pelaku mode yang sesuai dengan lapangan

e. Terciptanya kerja sama dengan dunia industri untuk dukungan penyediaan teknologi yang bersangkutan

d. Penambahan program kompetensi mode berbasis teknologi terbaru seperti pelatihan penggunaan alat ajar serta
pemanfaatan media online untuk pemasaran dan riset.

c. Peningkatan jumlah pelatihan/pengayaan/fasilitasi partisipasi di pameran bagi para pelaku mode yang berbasis
pengembangan kekayaan lokal ke pasar global

b. Terselenggaranya kegiatan pengidentifikasian potensi para pelaku mode melalui pendaftaran merek

a. Memiliki sistem yang mengharuskan sebuah merek terdaftar secara legal

r. Penambahan akses bagi praktisi yang ingin menjadi pengajar di lembaga pendidikan mode, termasuk dalam
penyusunan kurikulum

q. Peningkatan jumlah kurikulum mode yang berbasis praktek lapangan (magang/kerja praktek/uji coba pasar)

p. Pertumbuhan akses uji coba pasar di dunia usaha bagi siswa lembaga pendidikan mode

o. Penambahan akses magang/kerja praktek di dunia usaha

n. Pertumbuhan komunikasi antar institusi dalam hal pembentukan kurikulum berdasarkan kompetensi

INDIKASI STRATEGIS

2.1

Terciptanya pengembangan bahan


baku serat nabati, hewani dan
buatan manusia dari sumber daya
alam yang beragam, kompetitif dan
terbarukan

b. Terciptanya proses kerja yang tidak memiliki dampak pencemaran terhadap lingkungan

a. Peningkatan jumlah SDA lokal yang termanfaatkan menjadi bahan baku melalui proses serta pemanfaatan yang
ramah lingkungan dan dapat dibeli dengan harga terjangkau

2. Terwujudnya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya lokal yang diperkaya dengan perubahan perilaku, kepedulian terhadap lingkungan
hidup dan sosial sehingga memiliki kekhasan yang dinamis dan berdaya saing

1.2

MISI/ TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

175

2.2

Terciptanya sistem informasi sumber


daya budaya lokal, yang dapat
diakses secara mudah dan cepat

MISI/ TUJUAN/SASARAN

d. Terciptanya sistem informasi (bank data) SDB Indonesia yang dapat diakses oleh umum

c. Terselenggaranya proses identifikasi dan pendokumentasian Sumber Daya Budaya sebagai inspirasi

b. Terciptanya pusat dokumentasi untuk hasil eksperimen berbasis budaya

a. Terselenggaranya program eksperimen dan penemuan gaya baru berbasis budaya Indonesia

m. Terciptanya stabilitas ketersediaan dan proses pendistribusian bahan baku

l. Terselenggaranya program penyediaan bahan baku hasil kerja sama antar pemerintah, intelektual, asosiasi, dan
pengusaha

k. Peningkatan kualitas sistem standardisasi mutu bahan baku lokal

j. Terciptanya sistem standardisasi mutu bahan baku lokal untuk produk-produk mode internasional

i. Peningkatan keragaman dan mutu industri sehingga tidak hanya dapat melayani kebutuhan ekspor, tapi juga
kebutuhan dalam negeri

h. Peningkatan sistem produksi dari tradisional menjadi industri

g. Peningkatan mutu sistem produksi sehingga efisien dan yang menjamin ketersediaan kebutuhan bahan baku industri
secara berkesinambungan dan harga yang kompetitif

f. Peningkatan jumlah pendaftaran HKI terhadap penemuan bahan baku lokal, pewarnaan alam, dan produk yang
menggunakan konsep sustainable fashion (industri hijau, pemanfaatan limbah, minimalisir pencemaran, dan lainlainnya)

e. Terciptanya standardisasi proses pewarnaan alam yang diakui secara internasional

d. Terselenggaranya penelitian untuk penciptaan bahan baku lokal dari SDA yang ada di Indonesia

c. Pertumbuhan program uji coba SDA berbasis teknologi, contoh: uji coba proses pewarnaan alam agar warna tahan
lama

INDIKASI STRATEGIS

176

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

INDIKASI STRATEGIS

3.1

Meningkatnya jumlah usaha dan


pengusaha mode lokal di lingkungan
tatanan hukum pasar yang adil

q. Memiliki program-program penciptaan entrepreneur mode, seperti kompetisi, workshop atau pelatihan

p. Memiliki program-program yang berbasis inkubator bisnis yang bersifat kesinambungan dan berkerja sama dengan
dunia usaha

o. Pertumbuhan jumlah pengusaha mode yang memiliki skill-knowledge-attitude

n. Terciptanya program mentoring bisnis mode

m. Terciptanya program national merek kolaborasi pelaku mode

l. Peningkatan jumlah dunia usaha yang dapat mengakses bahan baku utama dan alternatif,

k. Peningkatan dukungan terhadap program pelatihan yang mendukung industri tekstil, industri aksesori pakaian, dan
kegiatan promosi seperti event pameran/fashion show

j. Pertumbuhan jumlah program magang bagi mahasiswa mode di usaha-usaha mode

i. Terselenggaranya program co-creation dan co-production antar usaha mode

h. Terselenggaranya program kemudahan bagi usaha mode yang telah menerapkan sertifikasi hijau

g. Pertumbuhan jumlah usaha mode yang telah menerapkan sertifikasi hijau

f. Terciptanya sertifikasi hijau di industri mode

e. Terciptanya konsep industri mode hijau

d. Peningkatan jumlah usaha mode yang mampu mengakses standar industri mode

c. Terciptanya standar industri mode yang setara dengan standar internasional

b. Terciptanya program kelompok kerja usaha mode yang berbasis wilayah/kluster/unit koperasi dengan konsep
pemasaran bersama

a. Terciptanya program start-up usaha mode

3. Terwujudnya industri mode yang dinamis, berdaya saing, serta mampu menghasilkan keanekaragaman produk yang siap menghadapi persaingan dunia mode
internasional

Misi 2 : Mengembangkan industri mode yang berdaya saing, tumbuh, beragam, dan berkualitas

MISI/ TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

177

Terwujudnya keanekaragaman
produk mode lokal yang berbasis
inovasi serta memiliki kekuatan
di pasar domestik maupun
internasional

i. Peningkatan jumlah fasilitasi keikutsertaan produk mode di pameran/fashion show di Indonesia dan negara-negara
Asia, Eropa, dan Amerika

h. Terciptanya pusat data (bank data) kreasi dan inovasi produk mode

g. Memiliki program kompetisi khusus mode berskala lokal dan nasional, yang berbasis inovasi dan penciptaan usaha
kreatif

f. Memiliki program mentoring serupa dengan live-in-designer, khusus untuk daerah-daerah pedalaman Indonesia

e. Memiliki program live-in-designer yang didampingi oleh praktisi mode di 33 ibu kota provinsi di seluruh Indonesia

d. Memiliki sentra kreatif dan kelompok kerja sebagai langkah awal live in designer

c. Pertumbuhan jumlah pelaku mode yang telah mengaplikasikan arahan trend Indonesia dalam produknya

b. Memiliki lembaga tren forecasting Indonesia yang memiliki kekuatan riset, inovasi dan pengembangan

a. Memiliki arahan tren berbasis sumber daya Indonesia yang dapat dipergunakan tidak hanya di dunia mode, namun
juga di sektor ekonomi kreatif lainnya

INDIKASI STRATEGIS

4.1

Meningkatnya pengembangan
dan fasilitasi penciptaan lembaga
pembiayaan yang mendukung
perkembangan industri mode

d. Peningkatan mutu layanan lembaga pembiayaan yang sudah ada

c. Memiliki koperasi/lembaga pembiayaan yang khusus menangani pendanaan/pembiayaan di wilayah-wilayah yang


memiliki potensi mode

b. Peningkatan jumlah pendanaan bagi calon/pelaku mode yang memiliki potensi

a. Memiliki skema/model pembiayaan yang user friendly dan sesuai usaha/pelaku yang disasar

4. Terciptanya pembiayaan dan akses yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif bagi industri lokal

Misi 3 : Mengembangkan lingkungan industri yang kondusif dengan pengintegrasian rantai industri yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan
di industri mode

3.2

MISI/ TUJUAN/SASARAN

178

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

5.1

Meningkatnya penetrasi dan


diversifikasi pasar produk mode di
dalam dan luar negeri

INDIKASI STRATEGIS

p. Memiliki sistem informasi (bank data) untuk informasi seputar regulasi ekspor produk mode dari negara tujuan yang
bersangkutan

o. Memiliki sistem informasi untuk pengurusan dokumen/legalitas produk ekspor

n. Peningkatan akses pengurusan dokumen dan legalitas untuk produk ekspor

m. Peningkatan jumlah produk/merek mode lokal yang dijual di luar negeri

l. Peningkatan jumlah dukungan terhadap pameran, festival, misi dagang serta jejaring B2B di Indonesia, negara-negara
Asia, Eropa, dan Amerika

k. Memiliki standar klasifikasi kegiatan di industri mode

j. Peningkatan jumlah pembelian produk/merek mode lokal di dalam negeri

i. Peningkatan rasa kecintaan akan produk mode/merek lokal melalui kegiatan-kegiatan seperti kampanye, talkshow/
bincang-bincang/diskusi, forum komunitas, dan masih banyak lagi

h. Peningkatan penggunaan inspirasi dan bahan baku lokal untuk pembuatan produk mode

g. Mengembangkan konsep dan rencana aksi branding dan promosi di dalam dan luar negeri, yang dapat mensinergikan
pelaksanaan branding dan promosi yang dilakukan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah

f. Peningkatan jumlah dukungan partisipasi pelaku/produk mode di event-event dalam negeri

e. Memiliki kegiatan-kegiatan yang mensosialisasikan/mempromosikan informasi seputar tata cara franchise dan
keuntungannya

d. Peningkatan akses aplikasi program franchise untuk produk mode

c. Pertumbuhan jumlah merek-merek lokal yang dijual di lokasi prime mall-mall Indonesia

b. Memiliki sistem informasi (bank data) yang user friendly mengenai produk dan pelaku mode di dalam dan luar negeri

a. Memiliki lembaga riset yang khusus melakukan penelitian pasar industri mode di dalam dan luar negeri

5. Terciptanya perluasan pasar lokal dan internasional yang berkualitas

MISI/ TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

179

Terciptanya percepatan proses


produksi, promosi dan distribusi

e. Memiliki tenaga-tenaga ahli pengoperasi software dan hardware pendukung industri mode

d. Peningkatan jumlah kerja sama riset teknologi pendukung industri mode

c. Peningkatan kualitas lembaga penelitian dan inkubator teknologi yang menghasikan teknologi pendukung industri
mode

b. Memiliki dan mensertifikasi teknologi produksi dan pengolahan bahan baku produk mode

a. Memiliki software lokal yang murah dan user friendly untuk proses desain mode, pembuatan-grading-marker pola,
pengecekan kualitas bahan, potong, jahit, dan bordir

INDIKASI STRATEGIS

7.1

Terciptanya regulasi yang


mendukung penciptaan iklim yang
kondusif bagi pengembangan
industri mode

i. Memiliki regulasi yang mengatur mengenai penelitian sumber daya lokal sebagai bahan baku lokal dan pemanfaatan
budaya sebagai inspirasi penciptaan produk mode

h. Memiliki regulasi yang mengatur (1); (2) pemberian insentif bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam pelestarian
(perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan) budaya; (3) pengembangan dan pemanfaatan budaya berbasis
kreatifitas

g. Memiliki regulasi yang mengatur mengenai perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan
budaya tanpa merusak lingkungan

f. Memiliki regulasi mengenai penggunaan sumber daya alam sebagai bahan baku produk mode

e. Memiliki regulasi yang dapat meningkatkan literasi masyarakat tentang industri mode

d. Memiliki regulasi penciptaan bank data dan pengarsipan sejarah mode hingga jenis-jenis produk mode

c. Memiliki regulasi untuk pemberian insentif pada upaya penciptaan kreativitas

b. Memiliki regulasi yang menjamin kebebasan berekspresi dalam industri mode

a. Memiliki regulasi pendidikan mode yang menitikberatkan kreativitas

7. Terciptanya kelembagaan yang mendukung pengembangan industri mode dan memiliki hubungan yang harmonis

6.1

6. Tersedianya teknologi dan infrastruktur yang sesuai, mudah diakses dan kompetitif

MISI/ TUJUAN/SASARAN

180

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

MISI/ TUJUAN/SASARAN

w. Memiliki regulasi yang mengatur penataan, perlindungan, dan perdagangan di usaha mode

v. Memiliki regulasi HKI untuk menjamin perlindungan bagi produk mode lokal

u. Memiliki regulasi yang mengatur riset dan pengembangan teknologi tepat guna bagi industri mode

t. Memiliki regulasi atas teknologi informasi dan telekomunikasi yang mendorong percepatan penyediaan infrastruktur
teknologi pendukung industri mode

s. Memiliki regulasi pengaturan informasi dan transaksi elektronik yang dapat menjamin privasi masyarakat dan
meminimalisasi cyber crime dengan tetap memberikan ruang kepada tumbuhkembangnya kreatifitas

r. Memiliki regulasi yang mendorong investasi industri mode Indonesia ke luar negeri

q. Memiliki regulasi yang mengatur pengadaan barang dan jasa pemerintah yang mengarusutamakan kreativitas,
terutama pada legalitas aliran barang ekspor

p. Memiliki regulasi yang mengatur tataniaga produk mode untuk perluasan pasar di dalam dan luar negeri

o. Memiliki regulasi yang mendorong dan memfasilitasi PMA maupun PMDN di sektor industri mode secara adil

n. Memiliki regulasi yang mendukung penciptaan lembaga pembiayaan dan peningkatan akses pembiayaan bagi industri
mode

m. Memilik regulasi yang mengatur metode dan akses pembiayaan di industri mode

l. Memiliki regulasi yang menjamin keterbukaan informasi mengenai industri mode terhadap publik

k. Memiliki regulasi perpajakan, kepabeanan, dan retribusi untuk dapat mempercepat pemberian insentif pada
pengembangan industri mode serta pemastian tidak adanya pengulangan pada penagihan pajak

j. Memiliki regulasi yang mengatur penataan industri mode beserta industri pendukungnya

INDIKASI STRATEGIS

LAMPIRAN

181

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Pembuatan kurikulum
kreatif, melalui
pendidikan seni yang
menghadirkan sikap
mental perseptual,
intelektual, fisikal,
kreatif, ekonomi,
emosional dan sosial.

Pembentukan tim
penyusun kurikulum yang
terdiri dari 2 akademisi
setara S3, 3 akademisi
setara S2, dan 5 akademisi
setara S1, total 10 orang.

Pembentukan tim uji coba


dan evaluasi

Rapat-rapat penyusunan
kurikulum tahap 1

Draft kurikulum yang


telah disusun kemudian
disosialisasikan melalui
Focus Group Discussion
dengan target peserta
adalah praktisi di
lembaga pendidikan dan
pengusaha-pengusaha
mode

Rapat-rapat penyusunan
kurikulum tahap 2
berdasarkan masukan
FGD - finalisasi

Jakarta (2015),
Pulau Jawa (2016)

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan; Asosiasi

2019

Sasaran 1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas pendidikan mode yang mendukung penciptaan dan penyebaran pelaku mode secara merata dan berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

MATRIKS RENCANA AKSI PENGEMBANGAN INDUSTRI MODE 2015-2019

182

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

SASARAN/RENCANA AKSI

Evaluasi hasil uji coba

Rapat finalisasi kurikulum

Sosialiasi kurikulum
ke seluruh lembaga
pendidikan mode di
wilayah tujuan

Promosi kurikulum
terbaru

Evaluasi kurikulum per


tahun

Laporan hasil uji coba per


2 bulanan

Kurikulum final
diujicobakan di lembaga
pendidikan mode, 5 yang
setara S1 dan 5 yang
setara kursus, selama 6
bulan

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan; Asosiasi

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan, Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

183

Pembuatan kegiatan
simulasi yang
merangsang
kemampuan
pemecahan masalah
baik intra maupun
ekstrakurikuler,
berdasarkan
kurikulum yang telah
disusun sebelumnya

SASARAN/RENCANA AKSI

Pembentukan tim
penyusun kegiatan yang
mampu merangsang
kemampuan pemecahan
masalah

Pertemuan koordinasi
dengan tim penyusun
kurikulum

Pertemuan penyusunan
kegiatan

Uji coba kegiatan dalam


program ekstrakurikuler

Evaluasi kegiatan

Uji coba kegiatan dalam


program intrakulikuler

Evaluasi kegiatan

Pertemuan koordinasi
dengan tim penyusun
kurikulum untuk
menyerahkan input
berdasarkan hasil evaluasi
kegiatan

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Jakarta (2015),
Pulau Jawa (2016)

FOKUS WILAYAH
Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan, Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

184

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Kegiatan dan program


studi pengembangan
sarung yang memiliki
fokus pada penemuan
bentuk baru sebagai
upaya pemecahan
masalah

SASARAN/RENCANA AKSI

Penyusunan SOP
dan petunjuk teknis
program yang bersifat
berkesinambungan dan
bertahap

Pertemuan koordinasi
untuk persiapan
pelaksanaan

Sosialisasi dan promosi


mengenai program

Pelaksanaan rangkaian
kegiatan program yang
berkesinambungan

Evaluasi program

Pertemuan koordinasi tim


studi untuk menentukan
arah pengembangan
sarung

Penyusunan tim studi


perwakilan dari asosiasi,
kementerian, dan dunia
usaha

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Jakarta, Jawa
dan Bali (20152016), Kalimantan,
Sumatera (20172018) Nusa
tenggara, Sulawesi
& Papua (2018-2019),

FOKUS WILAYAH
Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan, APPMI,
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perindustrian,
Perdagangan, dan
Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah

PENANGGUNGJAWAB
x

2015
x

2016
x

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

185

Promosi dan
sosialisasi
pengembangan
sarung

Mengadakan kegiatan
yang mengarah
ke pengenalan,
pemahaman, pengapresiasian, dan
penerapan nilai
lokal pada diri dan
lingkungannya.

SASARAN/RENCANA AKSI

Kegiatan dapat berupa


kompetisi, pameran,
eksplorasi, studi wisata,
dan apresiasi

Pelaksanaan kerja sama


dengan pemerintah
daerah/lembaga/institusi
swasta per daerah

Evaluasi kegiatan

Road show sosialisasi

Tahap 2: Pemahaman.
Dilakukan pemilihan topik
per daerah atau tema.

Penyebaran materi
promosi dan sosialisasi

Pembuatan materi
promosi dan sosialisasi
dalam berbagai versi
(online/offline)

Tahap 1: Pengenalan
keragaman lokal

Penyusunan rencana
promosi dan sosialisasi

Penyusunan tim promosi


dan sosialisasi

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Indonesia dan Asia

FOKUS WILAYAH

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan
dan Kebudayaan,
Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
APPMI, IPMI, IPMB,
IIFC, dan DekranasdaDekranasda

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perindustrian,
Perdagangan; Asosiasi,
dan dunia usaha

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

186

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Program praktek
kerja di daerah
ataupun kota-kota
besar

Program pertukaran
pelajar dan beasiswa
di bidang mode

Pengembangan
sarana dan prasarana
sesuai dengan
kebutuhan dunia
industri dan teknologi
terbaru

SASARAN/RENCANA AKSI

Ditujukan untuk lembaga


pendidikan formal, nonformal, dan informal

Beasiswa ke luar negeri


untuk pelajar di pulau
Jawa

Beasiswa ke Jakarta/
ibukota-ibukota di pulau
Jawa untuk pelajar dari
luar pulau Jawa

Untuk pendidikan tinggi:


memberikan kontribusi
terhadap pelaku seperti
konsep live in, berkerja
sama dengan pengrajin
untuk membuat proyek
bersama

Untuk sekolah menengah:


berkerja sama dengan
pengrajin supaya lebih
mengenal kemampuan
teknis

Pelaksanaan program
praktek yang
memanfaatkan sarana
dan prasarana dari balai
pelatihan dengan dibantu
oleh dunia usaha

Berkerja sama dengan


balai-balai pelatihan yang
sudah ada

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Disamakan dengan
fokus pembangunan
sentra kreatif

Pulau Jawa,
Sumatera

FOKUS WILAYAH

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan; Asosiasi

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan, Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Asosiasi

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Perindustrian; Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

187

Forum komunikasi
antar dunia usaha
dan pendidikan
yang memiliki fokus
pengembangan di
segi kreasi, produksi,
pemasaran, riset, dan
marketing

Dengan menggunakan
format dialog untuk saling
bertukar informasi di tiap
tingkatan dan tahapan.
Bisa dengan melalui
program kelas terbuka

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH
Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Pendidikan dan
Kebudayaan; Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB
x

2015
x

2016
x

2017

TAHUN

2018

Program kompetensi
pelaku industri
dalam hal kreasi dan
produksi

Program kompetensi
pelaku dalam hal
riset, pemasaran,
dan penjualan
berkerja sama dengan
kementerian, dunia
usaha, dan lembaga
riset

Promosi dan sosialisasi


mereking

Pengakuan kompetensi

Dialog terbuka

Kegiatan inkubasi B2B

Forum diskusi

Peninjauan pameran di
dalam dan luar negeri

Pelaksanaan riset

Pelatihan-pelatihan untuk
pelaku industri

Penetapan kurikulum

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perindustrian,
Balai Industri,
dunia pendidikan,
Perdagangan

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Perindustrian (industri
kecil dan menengah),
Badan Standardisasi
Nasional; Asosiasi;
Dekranasda

Sasaran 2: Meningkatnya kuantitas dan kualitas pelaku mode yang berdaya saing, profesional dan mampu membawa potensi lokal ke dalam selera global

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

188

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Penciptaan program
sertifikasi pelaku
mode

Pengembangan
standar kompetensi
pelaku mode yaitu
SKKNI (Standar
Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia)

Sosialisasi program ke
seluruh pelaku mode

Uji coba program

Pengembangan
kompetensi pelaku melalui
program pelatihan

Sosialisasi pendaftaran
sertifikasi pelaku mode

Pengembangan
kompetensi pelaku melalui
program pelatihan

Penerapan SKKNI secara


bertahap per daerah

Penyusunan program
kegiatan sertifikasi pelaku

Sosialisasi SKKNI ke
seluruh pelaku mode

Pengesahan SKKNI

DESKRIPSI RENCANA AKSI


(1) Pulau Jawa
& Bali; (2) Pulau
Sumatera; (3)
Pulau Kalimantan
& Sulawesi; (4)
Papua dan wilayah
Kepulauan lainnya

FOKUS WILAYAH

Badan Standardisasi
Nasional, Kementerian
/Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Perindustrian,
Perdagangan, Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif

Badan Standardisasi
Nasional, Kementerian
/Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Perindustrian,
Kementerian
Perdagangan, Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Tenaga Kerja dan
Transmigrasi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

Penciptaan
standardisasi proses
pewarnaan alam
secara bertahap

Pengumpulan data warna


alam dari para pakar
yang sudah melakukan
pewarnaan alam

Pulau Jawa,
Sumatera, dan
Indonesia bagian
Timur

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Perindustrian, Litbang,
Lingkungan Hidup, Riset
dan Teknologi; Asosiasi

2019

Sasaran 3. Terciptanya pengembangan bahan baku serat nabati, hewani dan buatan manusia dari sumber daya alam yang beragam, kompetitif dan terbarukan

SASARAN/RENCANA AKSI

LAMPIRAN

189

Penciptaan bank data


yang menampung
data-data usaha
pengolahan bahan
baku lokal

SASARAN/RENCANA AKSI

Pembuatan sistem bank


data

Uji coba (trial and error)

Sosialisasi bank data

Evaluasi

Penerapan ke dalam dunia


industri

Pembuatan sistem
untuk pengumpulan dan
pengolahan data

Sosialisasi proses
pewarnaan alam yang
telah distandardisasi

Pelaksanaan standardisasi
proses

Pembentukan kelompok
kerja, berkerja sama
dengan industri dan
asosiasi tekstil

Pelaksanaan uji
laboratorium

Pemilihan proses yang


dapat distandardisasi

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Riset dan Teknologi,
Kehutanan, Kelautan
dan Perikanan,
Perpustakaan Nasional,
Asosiasi (APPMI, IPMI,
API), Dekranasda,
Perdagangan,
Perindustrian

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

190

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

PENANGGUNGJAWAB

Penciptaan bank data


yang menampung
data sumber daya
budaya Indonesia

Pembentukan kelompok
kerja, berkerja sama
dengan Dekranasda, Dinas
Budaya Daerah, Asosiasi,
dan Komunitas

Pembuatan sistem
untuk pengumpulan dan
pengolahan data

Pembuatan sistem bank


data

Uji coba (trial and error)

Sosialisasi bank data

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Riset dan Teknologi,
Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan,
Perpustakaan Nasional;
Asosiasi

Penciptaan dan
pengembangan
program start-up
usaha mode yang
disertai dengan
pendampingan

Tahap awal dengan


kegiatan menyaring
calon-calon pelaku yang
berpotensi. Setelah
terpilih, program start-up
dimulai hingga ke tahap
pendampingan untuk uji
coba pasar

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perdagangan;
Asosiasi

Sasaran 5. Meningkatnya jumlah usaha dan pengusaha mode lokal di lingkungan tatanan hukum pasar yang adil

Sasaran 4. Terciptanya sistem informasi sumber daya budaya lokal, yang dapat diakses secara mudah dan cepat

SASARAN/RENCANA AKSI
2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

191

Pengembangan
mereking bagi pelaku/
usaha mode yang
berpotensi dalam
program Indonesian
Mereks dengan siklus
per 36 bulan

SASARAN/RENCANA AKSI

Pelaku/usaha mode
yang berpotensi dipilih
berdasarkan kualitas
produk, kesiapan usaha,
dan komitmen pelaku

Peserta program
diberikan mentoring
mereking minimal serta
bisnis selama 6 bulan oleh
konsultan bisnis ternama
untuk mengembangkan
mereknya

Peserta yang telah


diberikan mentoring,
kemudian akan difasilitasi
dalam partisipasi di
pameran dagang dalam
negeri seperti di Indonesia
Fashion Week dan Trade
Expo Indonesia

Selain itu juga peserta


program difasilitasi dalam
partisipasi di pameran
dagang internasional
seperti Hong Kong Fashion
Week di Hong Kong, WWD
Magic di Las Vegas, atau
Bread and Butter di Berlin

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH
Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Perdagangan, APPMI

PENANGGUNGJAWAB
x

2015
x

2016
x

2017

TAHUN

2018

2019

192

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Penciptaan dan
pengembangan
kelompok kerja
usaha mode berbasis
wilayah/kluster/
unit koperasi dengan
konsep pemasaran
bersama

Penciptaan standar
industri mode yang
setara dengan
standar internasional.
Fokus tahap 1 adalah
standardisasi ukuran

SASARAN/RENCANA AKSI

Pengumpulan dan
pengolahan data ukuran
yang digunakan di dalam
dan luar negeri

Pembuatan rumusan
standardisasi

Pemasaran dengan
berkerja sama bersama
Dept. Store

Melengkapi koleksi,
berkerja sama dengan
industri garmen

Pembentukan tim
penyusun

Pemasaran bersama
konsep 1 merek

Pelatihan kompetensi
kelompok

Pembentukan kelompok uji


coba produk

Hasil uji coba pasar dalam


kedua jenis pameran
dagang tersebut akan
dievaluasi untuk menjadi
panduan mentoring tahap
berikutnya

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Jakarta (20142015), Pulau Jawa,


Sumatera, Sulawesi,
Papua, Kalimantan
(2015-2025)

Pulau Jawa

FOKUS WILAYAH

Badan Standardisasi
Nasional, Kementerian/
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Perindustrian,
APPMI, Kementerian
Perdagangan

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah,
Perdagangan, APPMI,
APINDO, APGAI, API,
APBI, Dept. Store

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

193

Penciptaan dan
pengembangan
industri hijau

SASARAN/RENCANA AKSI

Sosialisasi ke kelompok
terbatas terlebih dahulu
(prioritas desainer)

Pembuatan materi
promosi dan sosialisasi

Presentasi di ajang
pameran dagang

Evaluasi promosi dan


sosialisasi

Penyelarasan
standardisasi tersebut
menjadi standardisasi
nasional

Berkerja sama dengan


institusi/lembaga
internasional yang
memiliki fokus pada
industri hijau

Perbaikan rumusan
berdasarkan hasil FGD

Pelaksanaan Focus Group


Discussion (FGD)

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Perindustrian,
Lingkungan Hidup,
Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

194

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Penciptaan standar
eco label fashion

SASARAN/RENCANA AKSI

Program kompetensi
desainer/UKM/IKM
yang memiliki fokus
pengembangan pada
industri hijau

Pembentukan kelompok
kerja

Perumusan pengolahan
sustainable fashion

Perapan kelompok kecil


sebagai penggerak

Sosialisasi dan promosi


dalam bentuk workshop,
presentasi dan penerapan
dalam dunia usaha dan
pendidikan

Pembentukan kelompok
penguji/kurator sebagai
perumus standardisasi
eco label

Perumusan sistem
pendaftaran, pengujian,
dan kriteria

Promosi dan soalisasi


hasil kurasi

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Pulau Jawa

FOKUS WILAYAH
Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Perindustrian,
Lingkungan Hidup,
Aosiasi, Perindustrian,
Perdagangan, Badan
Standardisasi Nasional,
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif

PENANGGUNGJAWAB
x

2015
x

2016
x

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

195

Penciptaan dan
pengembangan
national merek
kolaborasi pelaku
mode

Penciptaan dan
pengembangan
program mentoring
bisnis berkerja sama
dengan dunia usaha

Penciptaan dan
pengembangan
program-program
berbasis inkubator
bisnis yang
berkesinambungan

Kompetisi
dan workshop
entrepreneur mode

Penciptaan fashion
district

10

11

SASARAN/RENCANA AKSI

Fokus di tahun 2015


adalah penciptaan fashion
district busana muslim

Memfokuskan pada
penciptaan entrepreneurentrepreneur mode yang
berpotensi di Indonesia

Program Indonesia
Business Fashion
Development

Program Indonesia
Fashion Forward

Dunia usaha dapat


dijadikan wadah untuk
uji coba pasar bagi
pesertanya

National merek
merupakan hasil
kolaborasi dari berbagai
desainer

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Jakarta (2015:
muslim, 20162017: mode secara
umum); kota-kota
besar lainnya di 33
provinsi berjalan
dari 2018 dstnya

FOKUS WILAYAH

Pemerintah daerah,
KADIN, Asosiasi

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perdagangan

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perdagangan,
Asosiasi, Dunia usaha

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perdagangan

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Perdagangan, APPMI

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

196

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

Penciptaan dan
pengembangan
lembaga trend
forecasting Indonesia

Pembentukan tim trend


yang terdiri dari tim
riset, tim penyusun, tim
sosialisasi-promosi, dan
tim pelatihan

Riset kecenderungan
lifestyle di dalam dan luar
negeri

Riset sumber daya alam


dan budaya Indonesia
sebagai salah satu bagian
inspirasi dalam trend

Rapat penyusunan arahan


tren driver dan decoding

Focus Group Discussion


dengan mengundang
praktisi-praktisi di industri
mode

Rapat penyusunan naskah


buku tren

Sosialisasi buku tren


melalui launching, iklan,
road trip, dan lain-lain

Promosi trend forecasting


melalui berbagai media
online maupun offline,
pameran hingga fashion
show

Jakarta dan 33
provinsi Indonesia

Jakarta

Indonesia

Indonesia, Asia,
Eropa, dan Amerika

Jakarta

Kementerian /Lembaga
Pemerintah; Asosiasi

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif; Asosiasi

2018

Sasaran 6. Terwujudnya keanekaragaman produk mode lokal yang berbasis inovasi serta memiliki kekuatan di pasar domestik maupun internasional

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

LAMPIRAN

197

Pendidikan dan
pelatihan desainproduksi dalam 3
tahap berjenjang dan
berkesinambungan

SASARAN/RENCANA AKSI

Pembentukan tim
penyusunan kurikulum,
tim pengajar, dan tim
sosialisasi-promosi yang
terdiri dari kalangan
akademisi, praktisi, dan
dunia usaha

Penyusunan kurikulum
pendidikan dan pelatihan

Penyusunan materi
promosi, serta sosialisasi

Pelaksanaan pendidikan
dan pelatihan tahap 1

Evaluasi dan dokumentasi


hasil pendidikan dan
pelatihan tahap 1

Pelaksanaan pendidikan
dan pelatihan tahap 2

Evaluasi dan dokumentasi


hasil pendidikan dan
pelatihan tahap3

Evaluasi dan dokumentasi


hasil tren

Penyebaran trend melalui


sekolah-sekolah mode,
seminar, workshop,
pelatihan hingga kompetisi

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Pulau Jawa dan Bali

FOKUS WILAYAH

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Perindustrian,
Kementerian Koperasi
dan Usaha Kecil dan
Menengah; Asosiasi

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

198

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Pengembangan
sentra kreatif

SASARAN/RENCANA AKSI

Penyusunan program yang


sesuai

Pelaksanaan
pendampingan, terutama
di proses produksi

Pelaksanaan TOT untuk


para pendamping di
daerah

Promosi dan sosialisasi


untuk membantu
pemasaran

Sentra yang sudah siap


dapat dilanjutkan dengan
live in desainer

Evaluasi final

Penentuan daerah yang


akan dikembangkan sesuai
potensi yang dimiliki dan
yang akan datang

Evaluasi dan dokumentasi


hasil pendidikan dan
pelatihan tahap 3

Pelaksanaan pendidikan
dan pelatihan tahap 3

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Koperasi
dan Usaha Kecil dan
Menengah

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

199

Live-in-designer

SASARAN/RENCANA AKSI

Penyusunan tim live in


designer yang terdiri
dari desainer pengajar,
desainer pendamping, dan
asisten desainer

Pemetaan wilayah target


per 5 tahunan

Penyusunan naskah
pengajaran dan
pendampingan yang
disesuaikan berdasarkan
pemetaan wilayah di atas

Pelaksanaan pelatihan
tahap pertama, serta
pendampingan dilakukan
oleh desainer pengajar,
desainer pendamping, dan
asisten desainer

Pendampingan tahap
kedua dilakukan oleh
desainer pendamping dan
asisten desainer.

Desainer pengajar
melakukan pengajaran,
evaluasi, dan
pendampingan dengan
menggunakan rotasi
wilayah

Evaluasi pengajaran dan


pendampingan

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Disesuaikan dengan
wilayah fokus
pengembangan
sentra kreatif

FOKUS WILAYAH
Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif; Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB
x

2015
x

2016
x

2017

TAHUN

2018

2019

200

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Kompetisi berbasis
inovasi dan
penciptaan usaha
kreatif di wilayah
nasional dan lokal
(contoh: RBDI)

SASARAN/RENCANA AKSI

Penyusunan tim
operasional dan kurator

Pembuatan materi
promosi awal

Sosialisasi kompetisi ke
sekolah-sekolah mode

Rapat pemilihan
semifinalis

Pengumuman semifinalis
terpilih

Rapat pemilihan finalis

Wawancara finalis terpilih

Rapat pemilihan
pemenang

Pemberian penghargaan
pemenang kompetisi

Pelaksanaan kegiatan
promosi untuk karyakarya peserta terbaik,
melalui pameran dan
fashion show

Pemilihan karya terbaik


peserta per wilayah untuk
dipromosikan

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

201

Penciptaan bank data


yang menampung
data produk-produk
inovasi mode, arahan
tren, dan sentra
kreatif

Fasilitasi partisipasi
produk mode di
pameran/fashion
show di Indonesia,
Asia, Eropa, dan
Amerika

Penciptaan
bulan kreatif dan
pengembangan
wisata mode

SASARAN/RENCANA AKSI

Evaluasi

(1) Dikaitkan dengan


Biennale Design dengan
menampilkan karya
inovasi terbaik; (2)
Diadakan secara bertahap
di setiap kota

Diprioritaskan untuk
desainer/UKM/IKM yang
merupakan hasil program

Konsepnya mirip dengan


penciptaan bank data di
atas, namun memiliki
fokus pada pengumpulan
data hasil-hasil inovasi
dari sekolah mode,
kompetisi, dan sebagainya

Mentoring pemenang
kompetisi

Promosi dan sosialisasi


hasil kompetisi ke
pameran-pameran,
fashion show, dan lain-lain

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif

Kementerian /
Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Perdagangan,
Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah,
Perindustrian,
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Riset dan
Teknologi, Perpustakaan
Nasional; Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

202

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

Pengembangan
jaringan koperasi di
daerah fokus sentra
kreatif

Penciptaan dan
pengembangan
koperasi simpan
pinjam di daerah
sentra kreatif dengan
sistem pinjaman
sangat lunak

Kegiatan promosi/
sosialisasi koperasi di
daerah-daerah sentra
kreatif

Rapat evaluasi per 6 bulan

Per 1 tahun, jaringan


koperasi diperluas ke
desa-desa di luar yang
menjadi pusat sentra
kreatif tergantung hasil
evaluasi

Pembuatan materi
promosi/sosialisasi
koperasi ke UKM/IKM/
pengrajin di daerah

Penyusunan SOP dan


Juknis pelaksanaan

Rapat pengurus koperasi


untuk menentukan metode
simpan pinjam yang
digunakan

Penyusunan pengurus
koperasi

1-2 desa per tahun

Desa yang menjadi


pusat sentra kreatif

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah;
Asosiasi
x

Sasaran 7. Meningkatnya pengembangan dan fasilitasi penciptaan lembaga pembiayaan yang mendukung perkembangan industri mode

SASARAN/RENCANA AKSI

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

203

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

PENANGGUNGJAWAB

Penciptaan dan
pengembangan
lembaga riset pasar
industri mode dalam
dan luar negeri

Penciptaan bank data


yang menampung
data produk-produk
serta pelaku industri
mode di dalam dan
luar negeri

Pembentukan tim yang


terdiri dari (1) Website
development/IT/Technical
Support, (2) Editor/Tim
Validasi Data, (3) Penulis
konten, (4) Tim promosi
dan sosialisasi, (5) Tim
riset/pencari data, (6) Tim
pendokumentasian/log

Pembuatan sistem input


data

Penyusunan website bank


data

Pencarian (riset) dan input


data awal

Uji coba sistem selama 1


bulan

Evaluasi hasil uji coba


sistem

Pengumpulan data
berdasarkan yang sudah
ada, ataupun berkerja
sama dengan lembaga
penelitian

Pembentukan tim
riset yang terdiri dari
pengumpul data, pengolah
data, dan analisa data

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Riset dan Teknologi,
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Perindustrian,
Perdagangan,
Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah,
Perpustakaan Nasional,
Asosiasi

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Riset dan Teknologi,
Perdagangan

Sasaran 8. Meningkatnya penetrasi dan diversifikasi pasar produk mode di dalam dan luar negeri

SASARAN/RENCANA AKSI
2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

204

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Promosi produkproduk asli Indonesia


ke pasar internasional
melalui pameranpameran dagang

Sosialisasi dan
pengembangan
franchise

SASARAN/RENCANA AKSI

Pengembangan dan
perbaikan sistem

Evaluasi per tahun

Dimulai dari
pendampingan dan
coaching mereking

Fokus dalam pameran


dagang di dalam negeri
terlebih dahulu

Evaluasi dan dokumentasi


hasil kinerja bank data per
3 bulanan

Launching dan sosialisasi


bank data ke masyarakat
umum melalui iklan di
media online atau offline,
road trip ke kementerian,
sekolah-sekolah mode,
asosiasi, dan usaha-usaha
besar di industri mode

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Perdagangan; Asosiasi

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Perdagangan; Asosiasi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

205

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Penciptaan dan
pengembangan
software lokal dan
user friendly untuk
proses desain
mode, pembuatangrading-marker pola,
pengecekan kualitas,
bahan, potong, jahit,
dan bordir

Rapat koordinasi dengan


akademisi dari lembagalembaga pendidikan,
dunia usaha, dan ahli-ahli
teknologi yang berkaitan

Penyusunan tim, materi,


serta rencana kerja

Uji coba di beberapa


usaha mode skala kecil,
menengah, dan besar

Revisi dan penyempurnaan


software

Sosialisasi dan promosi

Bersamaan dengan
sosialisasi, pembuatan
dokumen-dokumen
legalitas terkait software

Distribusi ke lembagalembaga pendidikan mode


dan dunia usaha

Distribusi ke toko-toko
software di seluruh
Indonesia

Sasaran 9. Terciptanya percepatan proses produksi, promosi, dan distribusi

SASARAN/RENCANA AKSI

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Komunikasi dan
Informatika, Pendidikan
dan Kebudayaan,
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif; Asosiasi, dan
dunia usaha

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

206

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019

Riset teknologi
pendukung industri
mode

Penyediaan tenaga
ahli pengoperasi
software dan
hardware pendukung
industri mode secara
berkesinambungan

Berkerja sama dengan


sekolah teknologi seperti
Bina Nusanatara untuk
pelaksanaan kegiatan
pelatihan dan penyediaan
tenaga ahli

DESKRIPSI RENCANA AKSI

FOKUS WILAYAH

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Riset dan Teknologi,
Komunikasi dan
Informatika; Asosiasi,
Akademisi; Pendidikan
dan Kebudayaan

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Riset dan Teknologi

Badan Standardisasi
Nasional; Kementerian
/Lembaga Pemerintah
yang membidangi
urusan Riset dan
Teknologi, Perindustrian

PENANGGUNGJAWAB

Penciptaan dan
penyesuaian regulasi
yang mendukung
industri mode

Kementerian /Lembaga
Pemerintah yang
membidangi urusan
Hukum dan HAM

Sasaran 10. Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri mode

Penciptaan sertifikasi
teknologi produksi
dan pengolahan
bahan baku produk
mode

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

210

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Industri Mode Nasional 2015-2019