Anda di halaman 1dari 174

laporan kelapa sawit

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman kelapa sawit pertama kali ditemukan di negara Afrika Barat dan tanaman ini
disebut sebagai tanaman tropikal. Selain di Afrika Barat tanaman kelapa sawit ini banyak juga di
temukan di Afrika Selatan serta negara-negara tetangga seperti Malaysia, Pantai Gading,
Thailand, Papua Nugini, Brazilia dan juga negara-negara lainnya. Indonesia merupakan produsen
terbesar kedua kelapa sawit setelah malaysia, diperkirakan pada tahun 2008 Indonesia
merupakan produsen kelapa sawit di dunia (Pahan, 2006).
Keberhasilan pengembangan tanaman kelapa sawit di Indonesia tidak terlepas dari
ketersediaan faktor pendukung, salah satu diantaranya ketersediaan bahan tanam unggul kelapa
sawit. Sumber resmi benih kelapa sawit unggul antara lain: Pusat Penelitian Kelapa Sawit
(PPKS), PT Socfindo, PT London Sumatera (Anonim, 2007).
Kelapa sawit termasuk produk yang banyak diminati oleh investor karena nilai
ekonominya cukup tinggi. Para investor mengivestasikan modalnya untuk membangun
perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit. Selama tahun 1990-2000, luas areal
perkebunan kelapa sawit mencapai 14.164.439 ha atau meningkat 21,5% jika dibandingkan akhir
tahun 1990 yang hanya 11.651.439 ha. Rata-rata produktivitas kelapa sawit mencapai 1,396
ton/ha/tahun untuk perkebunan rakyat dan 3,50 ton/ha/tahun untuk perkebunan besar.
Produktivitas kelapa sawit tersebut dinilai cukup tinggi bila dibandingkan dengan produktivitas
komoditas perkebunan lain (Fauzi, dkk, 2004).

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) banyak tumbuh subur di daerah yang
memiliki iklim tropis. Pada daerah ini matahari bersinar sepanjang hari dengan curah hujan yang
cukup tinggi serta rata-rata suhu 22C sampai 32C pada ketinggian 500 m dari permukaan laut.
Kondisi ini memungkinkan kelapa sawit sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan
lahan yang cukup luas.
Di Indonesia sendiri kelapa sawit tersebar di beberapa wilayah diantaranya pulau
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Khusus untuk sulawesi, salah satunya terdapat di
daerah Gorontalo tepatnya di Kabupaten Gorontalo Kecamatan Pulubala Desa Molamahu yang
dikelola oleh PT. Lembah Hijau Group yang sementara ini masih dalam tahap pembibitan (Pre
Nursery dan Main Nursery) dengan jumlah 368.000 bibit. Varietas yang digunakan yakni
varietas sriwijaya yang berasal dari hasil persilangan antara varietas dura x pasifera. PT. Lembah
Hijau Group yang bergerak di bidang budi daya tanaman kelapa sawit, telah memberikan
kontribusi nyata bagi pemerintah dan masyarakat Molamahu yang pada awalnya hidup di bawah
garis kemiskinan dan serba terbatas kini telah bisa merasakan kehidupan yang tergolong
sejahtera.
Melihat pentingnya tanaman kelapa sawit dewasa ini dan masa yang akan datang, seiring
dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan minyak sawit, maka perlu dipikirkan
usaha peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kelapa sawit secara tepat agar sasaran yang
diinginkan dapat tercapai. Salah satu diantaranya adalah bahan perbanyakan tanaman berupa
bibit, untuk itu perlu adanya pengawasan bibit yang baik antara lain di pembibitan awal (Pre
Nursery) dan di pembibitan utama (Main Nursery). Pada pembibitan ini, perlu adanya
pengamatan secara visual terhadap penampilan bibit dengan cara membandingkan bibit normal
dengan bibit abnormal yang diakibatkan oleh faktor kultur teknis dan faktor genetik.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah di atas adalah bagaimana penampilan bibit abnormal selama fase
pembibitan pada tahap Pre-Nursery ?

1.3

Tujuan
Untuk mengetahui penampilan bibit abnormal selama fase pada tahap Pre-Nursery.

1.4 Manfaat

1. Menambah wawasan tentang bagaimana menentukan bibit abnormal pada pada kelapa
sawit (Elaeis guineensis Jacq.) tahap Pre-Nursery
2. Memberikan kontribusi positif terutama bagi penulis sebagai bentuk pengembangan daya
kreatif di bidang ilmu pengetahuan khususnya tentang budidaya kelapa sawit (Elaeis
guineensis Jacq).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Kelapa Sawit


Klasifikasi kelapa sawit sebagai berikut :
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Keluarga

: Palmaceae

Sub keluarga

: Cocoideae

Genus

: Elaeis

Spesies

: Elaeis guineensis Jacq.

Varietas

: Elaeis guineensis Jacg. Var.

Sriwijaya
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit)

Menurut Maksi (2008), morfologi tanaman kelapa sawit adalah sebagai berikut:
2.1.1 Akar
Tanaman kelapa sawit memiliki jenis akar serabut. Akar utama akan membentuk akar
sekunder, tertier dan kuartener. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan
samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas
untuk mendapatkan tambahan aerasi.
2.1.2 Batang
Batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter sekitar 2075 cm. Tinggi batang
bertambah sekitar 45 cm per tahun. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai pertambahan tinggi
dapat mencapai 100 cm per tahun. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12

tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan
menjadi mirip dengan kelapa.
2.1.3 Daun
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Susunan ini
menyerupai susunan daun pada tanaman kelapa. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna
sedikit lebih muda.Panjang pelepah daun sekitar 7,59 m. Jumlah anak daun pada setiap pelepah
berkisar antara 250400 helai. Produksi pelepah daun selama satu tahun mencapai 2030
pelepah.
2.1.4 Bunga
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu. Bunga jantan dan betina
terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan
berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Sehingga pada umumnya tanaman
kelapa sawit melakukan penyerbukan silang. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang
sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
2.1.5 Buah
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat
jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua
jantan.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit
yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak
dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati
fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan
rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri dari tiga lapisan:


Eksoskarp : Bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
Mesoskarp : Serabut buah
Endoskarp : Cangkang pelindung inti
Endosperm : Biji
Embrio

: Lembaga
Buah terkumpul di dalam tandan. Dalam satu tandan terdapat sekitar 1.600 buah.

Tanaman normal akan menghasilkan 2022 tandan per tahun. Jumlah tandan buah pada tanaman
tua sekitar 1214 tandan per tahun. Berat setiap tandan sekitar 2535 kg.
Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit
dibagi menjadi 3 yakni :
Dura,
Pisifera, dan
Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap
memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan
kandungan minyak pertandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang
namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah
persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi
kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap
fertil. Beberapa tenera unggul persentase daging per buahnya dapat mencapai 90% dan
kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28% (Sastrosayono, 2003).
2.2 Syarat Tumbuh
2.2.1 Iklim

Menurut Maksi (2008), kelapa sawit merupakan tanaman yang tumbuh liar di hutanhutan, lalu dibudidayakan. Tanaman kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan yang baik
agar mampu tumbuh dan berproduksi secara optimal diantaranya :
a. Kelapa sawit adalah tanaman daerah tropis yang tumbuh baik antara garis
lintang 130C Lintang Utara dan 120C Lintang Selatan, terutama di kawasan Afrika, Asia
dan Amerika.
b.

Persyaratan iklim yang dikehendaki oleh kelapa sawit secara umum adalah sebagai
berikut :

Curah hujan per tahun adalah 1500-4000 mm, optimal 2000-3000 mm.

Suhu optimum yang dikehendaki adalah 280C dan tinggi tempat optimal adalah 0 500
meter dari atas permukaan laut

Kelembaban rata-rata 75 %.

2.2.2 Tanah
Menurut Anonim (2006) meyebutkan bahwa ada beberapa tipe tanah yang baik untuk
budidaya kelapa sawit.
a. Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tetapi kelapa

sawit dapat

tumbuh optimal pada jenis tanah Latososl, Podsolik Merah Kuning dan Aluvial.
b. Sifat-sifat fisika dan kimia yang harus dipenuhi untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit
yang optimal adalah sebagi berikut :

Drainase baik dan permukaan air tanah cukup dalam atau menghindari tanah

tanah yang berdrainase jelek dengan permukaan air tanah yang dangkal.

Solum cukup dalam (sekitar 80 cm) dan tidak berbatu agar perkembangan akar
tidak terganggu.

Reaksi tanah masam dan pH antara 4,0-6,5 ( pH optimumnya 5 5,5 ).


Dapat tumbuh pada bermacam-macam tanah, asalkan gembur, aerasi dan
draenasenya baik, kaya akan humus dan tidak mempunyai lapisan padas

c. Tanah-tanah yang tidak memenuhi syarat untuk kelapa sawit adalah :

Tanah pantai yang sangat berpasir

Tanah gambut yang tebal, yang menyebabkan akar tidak dapat mencapai lapisan
mineral sehingga tanaman mudah tumbang atau pertumbuhannya miring.

2.3 Persiapan Lahan


Pembukaan lahan merupakan salah satu tahapan kegiatan dalam budidaya Kelapa Sawit
yang sudah ditentukan jadwalnya berdasarkan tahapan pekerjaan yang akan dilakukan sesuai
dengan jenis lahannya (areal) hutan, areal alang-alang, areal gambut.
Supaya areal tersebut dapat ditanami Kelapa sawit maka areal tersebut harus bersih dari
vegetasi atau semak belukar yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman
pokok. Sedangkan untuk memudahkan dalam pengelolaan tanaman Kelapa sawit dibutuhkan
suatu perencanaan tata ruang kebun yang direncanakan pada saat pembukaan lahan dan sebelum
penanaman Kelapa sawit (Setyamidjaja, 2003).

2.4 Pembibitan

Bibit merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses pengadaan bahan tanaman
yang dapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi pada masa selanjutnya. Pembibitan
merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit.
Melalui tahap pembibitan sesuai standar teknis diharapkan dapat dihasilkan bibit yang baik dan
berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan
tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan pada
saat pelaksanaan penanaman (transplanting).
Menurut Dirattanhun (2007), untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas seperti
tersebut di atas, diperlukan pedoman kerja yang dapat menjadi acuan, sekaligus kontrol selama
pelaksanaan di lapang. Untuk itu berikut ini disampaikan tahapan pembibitan, mulai dari
persiapan, pembibitan awal dan pembibitan utama.
2.4.1 Pemilihan Lokasi
Penentuan lokasi pembibitan perlu memperhatikan beberapa persyaratan sebagai
berikut:

Areal pembibitan harus terletak sedekat mungkin dengan daerah yang direncanakan
untuk ditanami dengan memperhitungkan biaya pengangkutan bibit

Areal diusahakan mempunyai topografi datar dan berada di tengah-tengah Kebun

Dekat dengan sumber air dan air tersedia cukup untuk penyiraman, dengan kualitas yang
memenuhi syarat.

Dekat dengan tempat pengambilan media tanam untuk pembibitan.

Drainase baik, sehingga pada musim hujan tidak tergenang air.

Lokasi Pembibitan mempunyai jalan yang mudah dijangkau dan mempunyai kondisi
baik.

Dekat dengan tenaga kerja lapangan sehingga memudahkan dalam pengawasan.

Areal harus jauh dari sumber hama dan penyakit, serta mempunyai sanitasi yang baik.

2.4.2 Luas Pembibitan


Kebutuhan areal pembibitan umumnya 1,01,5% dari luas areal pertanaman yang
direncanakan. Luas areal pembibitan yang dibutuhkan bergantung pada jumlah bibit dan
jarak tanam yang digunakan. Dalam menentukan luasan pembibitan perlu diperhitungkan
pemakaian jalan, yang untuk setiap hektar pembibitan diperlukan jalan pengawasan
sepanjang 200 m dengan lebar 5 m.
2.4.3 Sistem Pembibitan
Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tahapan
pekerjaan, tergantung kepada persiapan yang dimiliki sebelum kecambah dikirim ke lokasi
pembibitan. Untuk pembibitan yang menggunakan satu tahap (single stage), berarti
penanaman kecambah kelapa sawit langsung dilakukan ke pembibitan utama (Main
Nursery). Sedangkan pada sistem pembibitan dua tahap (double stage), dilakukan
pembibitan awal (Pre Nursery) terlebih dahulu selama 3 bulan pada polybag berukuran
kecil dan selanjutnya dipindah ke pembibitan utama (Main Nursery) dengan polybag
berukuran lebih besar.

Sistem pembibitan dua tahap banyak dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan,


karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

Kemudahan dalam pengawasan dan pemeliharaan serta tersedianya waktu persiapan


pembibitan utama pada tiga bulan pertama.

Terjaminnya bibit yang akan ditanam ke lapangan, karena telah melalui beberapa tahapan
seleksi, baik di pembibitan awal maupun di pembibitan utama.

Seleksi yang ketat (10%) di pembibitan awal dapat mengurangi keperluan tanah dan
polybag besar di pembibitan utama.

2.4.4 Media Tanam


Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik,
misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 10-20 cm. Tanah yang digunakan harus
memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama dan penyakit, pelarut,
residu dan bahan kimia). Bila tanah yang akan digunakan kurang gembur dapat dicampur
pasir dengan perbandingan pasir : tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum
dimasukkan ke dalam polybag, campuran tanah dan pasir diayak dengan ayakan kasar
berdiameter 2 cm. Proses pengayakan bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisasisa kayu, batuan kecil dan material lainnya.
2.4.5 Kantong Plastik (Polybag)
Ukuran polybag tergantung pada lamanya bibit di pembibitan. Pada tahap pembibitan
awal (Pre-Nursery), polybag yang digunakan berwarna putih atau hitam dengan ukuran

panjang 22 cm, lebar 14 cm, dan tebal 0,07 mm. Setiap polybag dibuat lubang diameter 0,3
cm sebanyak 12-20 buah.
Pada tahap pembibitan utama (Main-Nursery) digunakan polybag berwarna hitam
dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 37-40 cm dan tebal 0,2 mm. Pada setiap polybag dibuat
lubang diameter 0,5 cm sebanyak 12 buah pada ketinggian 10 cm dari bawah polybag.

2.4.6 Pembibitan Awal ( Pre-Nursery )


Benih yang sudah berkecambah dideder dalam polybag kecil, kemudian diletakkan
pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya. Ukuran
polybag yang digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm ( lay flat ). Polybag diisi dengan
1,5 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi lubang untuk drainase.
Kecambah ditanam sedalam 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm. Setelah
bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 4 bulan dan berdaun 4 5 helai,
bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pembibitan utama (main-nursery). Keadaan tanah
di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian air pada lapisan
atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit.
Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha
memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan
karena siraman.

2.4.7 Pembibitan Utama ( Main-Nursery )


Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar,
berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang

pada bagian bawahnya untuk drainase. Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak
sebanyak 15 30 kg per polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara
(sebelum dipindahkan) di pesemaian bibit (Anonim 2007).
Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan
tanah polybag besar dan tanah sekitar bibit di padatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada
polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur
dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x 100
cm (Anonim 2007).
2.4.8

Pemeliharaan (pada pembibitan)


Bibit yang yang telah ditanam di prenursery atau nursery perlu dipelihara dengan baik

agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang
sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat.
Pemeliharaan bibit meliputi :
Penyiraman
Penyiangan
Pengawasan dan seleksi
Pemupukan

a. Penyiraman
Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7
8 mm pada hari yang bersangkutan.

Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus dengan
semprotan halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat
tumbuhnya tidak padat.
Kebutuhan air siraman 2 liter per polybag per hari, disesuaikan dengan umur
bibit.

b. Penyiangan
Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag harus dibersihkan,
dikored atau dengan herbisida
Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan
pertumbuhan gulma.

c. Pengawasan dan seleksi


Pengawasan bibit ditujukan terhadap pertumbuhan bibit dan perkembangan
gangguan hama dan penyakit
Bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis
harus dibuang.
Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main nursery,
yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan, serta pada saat pemindahan
bibit ke lapangan.
Menurut Anonim (2007), seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama
dilakukan pada waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan
setelah bibit berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan

sebelum bibit dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah


berumur 12-14 bulan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri:
a) bibit tumbuh meninggi dan kaku
b) bibit terkulai
c) anak daun tidak membelah sempurna
d) terkena penyakit
e) anak daun tidak sempurna.
Menurut Buana, dkk (2004), seleksi bertujuan untuk menghindari terangkutnya
bibit abnormal ke tahap pembibitan selanjutnya. Bibit abnormal dapat disebabkan oleh
faktor kultur teknis, dan faktor genetik atau serangan hama dan penyakit. Seleksi
dilaksanakan saat pindah tanam. Tanaman normal pada umur 3 bulan, biasanya telah
memiliki 3-4 helai daun dan telah sempurna bentuknya. Beberapa bentuk bibit abnormal
yang harus dibuang pada saat pelaksanaan seleksi, yaitu:
Anak daun sempit dan memanjang seperti daun lalang

(narrow-

leaves).
Bibit yang pertumbuhannya terputar (twisted).

Bibit yang tumbuh kerdil (dwarfish).

Bibit yang anak daunnya bergulung (rolled-leaves)

Bibit yang anak daunnya kusut (crinkled)

Bibit yang ujung daunnya membulat seperti mangkok (collante).

Bibit yang terserang penyakit tajuk (crown-disease)


d. Pemupukan
Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat
dan subur.

Pupuk yang diberikan adalah Urea dalam bentuk larutan dan pupuk majemuk.
Dosis dan jenis pupuk yang diberikan dapat dilihat pada table berikut ini :

BAB III
TEKNIK PELAKSANAAN
3.1.Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan kajian ini dilaksanakan di PT Lembah Hijau Group Sejatera Dusun
Onggama Desa Molamahu Kecamatan Pulubala Kabupaten Gorontalo Waktu pelaksanaan kajian
ini sejalan dengan pelaksanaan magang dari Fakultas Ilmu-ilmu Pertanian Universitas Negeri
Gorontalo selama 2 bulan yaitu dari tanggal 23 februari sampai 24 juni 2008.
3.2. Alat dan Bahan Yang Digunakan
1.

Alat Tulis Menulis

2.

Kamera

3.

Buku Panduan Seleksi Bibit

4.

Bibit kelapa sawit

3.3. Metode Pelaksanaan


Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah metode observasi yakni pengamatan
langsung terhadap penampilan bibit kelapa sawit yang diakibatkan oleh faktor kultur teknis dan
faktor genetik.
3.4. Variabel Pengamatan
Variabel yang diamati yakni penampilan pertumbuhan bibit abnormal yang diakibatkan
oleh faktor kultur teknis dan faktor genetik. Faktor kultur teknis seperti pertumbuhan bibit

terhambat (stressed), daun berputar (twisted leaf), daun berkerut (crinkled leaf), layu (wilted),
daun tidak membuka (collante), sedangkan faktor genetik seperti pertumbuhan terhambat (runt),
daun alang-alang (grass leaf), daun kaku/tegak (erected), daun albino (chimaera), daun
menggulung (rolled leaf).
3.5. Prosedur Pelaksanaan
Pengamatan dilakukan terhadap seluruh variabel pertumbuhan bibit kelapa sawit dengan
cara membandingkan antara bibit normal dengan bibit abnormal. Selain itu penyebab bibit
abnormal dapat dikelompokkan atas faktor kultur teknis dan faktor genetik. Bibit dengan
penampilan menyimpang dari bibit normal yang telah ditentukan ( tinggi, jumlah pelepah, dan
besar bonggol ) serta beda populasi yang ada seperti pertumbuhan terhambat, pertumbuhan
berputar, albino, daun alang-alang dan daun tidak membuka.

contoh laporan praktikum Agronomi Tanaman Perkebunan


BAB I PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Program pengembangan dan pembangunan perkebunan kelapa sawit dengan pola
kemitraan sangat menguntungkan bagi berbagai aspek, baik ekonomi, social, maupun
lingkungan.Ditinjau dari aspek ekonomi, perkebunan kelapa sawit dapat mendukung industry
dalam negeri berbasis produk berbahan dasar kelapa sawit. Selain itu dengan terbangunnya
banyak sentra ekonomi di wilayah baru akan mendukung pembangunan ekonomi regional.
Ditinjau dari aspek social, terjadinya penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar dan
memperkecil kesenjangan pendapatan petani dengan pengusaha perkebunan.
Dari aspek lingkungan, adanya pengembangan dan pembanggunan perkebunan kelapa
sawit dilahan yang telah lama terbuka dan tidak produktif akan merehabilitasi lahan kritis
dan marginal dalam skala yang luas. Selain itu, terbangunnya perkebunan yang luas akan
menambah ketersediaan oksigen serta sekaligus menyerap karbon. Perkebunan kelapa sawit
yang luas juga dapat mendukug fungsi hidroorologis, yaitu kemampuan untuk menyerap air
pada musim hujan serta melepasnya secara bertahap pada musim kemarau.

B.

RUANG LINGKUP
1.

Budidaya Tanaman Kelapa Sawit

Budidaya tanaman kelapa sawit meliputi penyiapan bibit, persiapan lahan, pengolahan
lahan, pemeliharaan tanaman sampai panen.
2.

Pola Kemitraan dan Kelembagaan Petani

a.

Pola kemitraan perkebunan


1.

Kemitraan pola PIR (perkebunan inti rakyat)


Kemitraan perusahaan inti rakyat (PIR) merupakan kemitraan perkebunan
generasi pertamayang dimulai pada tahun 1980an. Program PIR merupakan pola
pengembangan perkebunan rakyat dengan menggunakan perkebunan besar
sebagai inti dan sekaligus sebagai pelaksana pengembangan kebun plasma.Pola
ini awalnya dibangun perusahaan perkebunan Negara untuk masyarakat di
wilayah pedesaan.

2.

Kemitraan pola KKPA (kredit koperasi primer anggota)


Kemitraan pola KKPA merupakan pola kemitraan perusahaan inti dan petani
dalam wadah koperasi untuk meningkatkan daya guna lahan petani peeserta
dalam usaha meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para anggota melalui
kredit

jangka

panjang

dari

bank.Perusahaan

inti

sebagai

pengembang

melaksanakan pembangunan kebun kelapa sawit untuk petani peserta dengan


biaya

pembangunan

dari

kredit

bank

hingga

tanaman

kelapa

sawit

menghasilkan.Perusahaan inti juga membangun kelembagaan petani sebagai


wadah pembinaan dan bimbingan bagi petani peserta mengenai budidaya dan
manajemen perkebunan kelapa sawit.Pembinaan minimum dilakukan selama satu
siklus tanam.
3.

Kemitraan pola PRP (program revitalisasi perkebunan)


Pada pola PRP, pendampingan dan pemberdayaan petani menjadi lebih terencana
dengan kontrak manajemen selama satu siklusdan sistem manajemen satu atap.
Pengelolaan seluruh kebun, baik milik perusahaan inti maupun milik petani
plasma mendapat perlakuan yang sama, mulai dari persiapan penanaman,
pengelolaan kebun, hingga pengelolaan hasil. Pengelolaan kebun plasma selama
satu siklus tanam melibatkan petani semaksimal mungkin, sehingga stabilitas
produk usaha tani, dan pendapatan petani plasma lebih diproritaskan.

C. TUJUAN PRAKTIKUM
1.

Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman kelapa sawit

2.

Diharapkan dapat membedakan budidaya tanaman kelapa sawit yang baik dan yang
tidak baik.

3.

Diharapkan Bisa menerapkan budidaya tanaman kelapa sawit yang baik dan
berpotensi

D.

MANFAAT PRAKTIKUM
1.

Mengetahui teknik budidaya tanaman kelapa sawit yang baik

2.

Bisa membedakan teknik budidaya yang baik dan yang kurang baik

3.
E.

Dapat menerapkan teknik budidaya yang bagus

TEMPAT DAN WAKTU


1.

Tempat Praktikum
Lokasi praktikum teletak di desa Bina Baru kecamatan Kampar kiri tengah kabupaten

Kampar provinsi Riau


2.

Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan pada hari kamis 9 January 2014 mulai pukul 08.00 sampai

pukul 15.00.
F.

PELAKSANAAN
1.

SARANA
Sarana meliputi empat buah mobil mini bus yang menampung sekitar 125 orang

peserta praktikum, kantor koperasi yang digunakan sebagai pertemuan/ tatap muka antara
praktikan dengan karyawan instansi/lembaga.
2.

ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kamera yang di gunakan untuk

mengambil poto sebagai dokumentasi, alat- alat tulis digunakan untuk mencatat semua
jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan

BAB II LANGKAH-LANGKAH PRAKTIKUM


A.

Mendatangi lokasi praktikum

B.

Melakukan tatap muka/ ramah tamah sekaligus perkenalan di kantor instansi tempat praktikum

C.

Melakukan survey kelapangan

D.

Melakukan pengmatan dilapangan

E.

Melakukan Tanya jawab (wawancara) di lapangan

F.

Mengambil poto sebagai dokumentasi

G.

Penyerahan cendra mata sekaligus acara pamitan dan ucapan terima kasih

H.

Pulang ke kampus

BAB III HASIL PENGAMATAN


Table 1.1 hasil wawancara di lapangan
N

PERTANYAAN

JAWABAN

KETERANGAN

O
1
2

Berapa luas perkebunan,?


Luas kebun sekitar 9 hektar
Apa nama varietas yang di Varietas yang kami gunakan

tanam.?
Berapa umur tanaman.?

Bagaimana

pemupukannya.?
dalm setahun
Apa nama pupuk yang di Npk mutiara, urea, tsp, kcl dan

gunakan.?
tankos
Berapa dosis pupuk yang Untuk

adalah tenera
Umur tanaman ini sekitar 15

tahun
sistem Pemupukan dilakukan 4 kali

di berikan.?

pupuk

unorganik

sekitar 1 kg/batang, sedangkan


untuk tankos satu truk cold
diesel

Kapan

dilakukan.?
Bagaimana
pengendalian

tanaman
pemupukan Pada waktu

batang

tanah

dalam

keadaan lembab
cara Pengendalian hama dilakukan
hama

dan dengan cara manual dan di

tanaman.?
Bagaimana

menyerang menyerang yaitu hama ulat


kumbang badak
cara Pengendaliannya dengan cara

menanggulangi hama yang mengikis


dominan itu.?
11

10

penyakit tanaman.?
semprot
Hama apa yang paling Hama yang paling dominan
dominan

10

untuk

kemudia

bagian

terserang

menyemprotnya

dengan pestisida
apa nama pestisida yang di Merk dagang pestisida adalah

12

gunakan.?
Bagaimana
pemanenan

regen
sistem Disini sistem pemanenannya
yang

di menggunkan sistem giring,,

lakukan.?

yaitu ada yang mengawasi

13

pemanen.
Berapa produktivitas per Produksinya

14

bulan.?
ton/ha/bulan
Bagaimana sistem rotasi Panen dilakukan dua kali satu

15

panennya.?
bulan
Apa alat yang digunakan Alat yang di gunakan yaitu
dalam pemanenan.?

egrek,,

tapi

sekitar

masih

ada

sebagian menggunakan dodos


tanggapan Untuk brondolan,, itu untuk si

16

Bagaimana

17

bapak tentang brondolan.? pekerja


Bagaimana
tentang Hasil yang di panen, itu
pengolahan

hasil lansung di bawa ke pabrik,,

tanamannya.?

bukan kita yang mengolahnya,


pabriknya sekitar satu jam dari
sini.

BAB IV PEMBAHASAN
TEKNIK BUDIDAYA KELAPA SAWIT
A.

PEMBIBITAN
Sasaran pembibitan adalah menyediakan bibit kelapa sawit yang superior dan siap

di tanam di perkebunan.Selain itu, kegiatan ini memastikan ketersediaan bibit dalam


jumlah yang cukup, berkualitas dan tepat waktu dengan biaya yang rasional.Kondisi

bibit yang superior, baik secara genetic maupun fenotipe, merupakan satu jaminan
untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi.
Metode pembibitan kelapa sawit biasanya menggunakan polybag nursery (bibit
ditempatkan dalam polibag).
1.

Bahan Tanam
Bahan tanam merupakan faktor penentu keberhasilan

pembibitan dan

pembangunan kebun secara keseluruhan. Bahan tanam adalah benih kelapa sawit
unggul.Calon bibit harus dihasilkan dan dikecambahkan oleh lembaga resmi yang
ditunjuk oleh pemerintah.
2.

Pembibitan Awal
Pembibitan awal (pre nursery) merupakan tempat kecambah kelapa sawit

(germinated seeds) di tanam dan di pelihara hingga umur tiga bulan.Selanjutnya, bibit
tersebut dipindahkan ke pembibitan utama (main nursery). Pembibitan pre nursery
dilakukan selama 2-3 bulan, sedangkan pembibitan pada main nursery selama 10-12
bulan. Bibit akan siap ditanam pada umur 12-14 bulan (3 bulan di pre nursery dan 911 bulan di main nursery).
Kegiatan-kegiatan pre nursery meliputi:
a.

Pemilihan lokasi yang sesuai persyaratan

b.

Pemesanan kecambah

c.

Penyiapan babybag

d.

Penanaman kecambah

e.

Pembuatan naungan

f.

Penyiraman dan penyiangan

g.

Pemupukan

h.

Proteksi dan seleksi

i.

Pengangkutan bibit

Kegiatan-kegiatan main nursery meliputi:


a.

Penentuan lokasi

b.

Pembuatan lay out dan pancang

c.

Pembuatan jaringan irigasi

d.

Penyiapan polybag

e.

Penanaman

f.

Penyiraman dan penyiangan

g.

Pemupukan

h.

Pengendalian hama dan penyakit

i.

Penyeleksian

j.

Pengangkutan bibit

B.

PERSIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN KELAPA SAWIT

1.

Persiapan Lahan

Adapun hal-hal yang dilakukan dalam persiapan lahan adalah:


a.

Menentukan jenis lahan

b.

Menentukan system pembukaan lahan

c.

Menentukan tahapan pembukaan lahan

d.

Melakukan konservasi lahan

e.

Membuat manajemen waktu

2.

Penanaman

Adapun hal-hal yang berkaitan dengan penanaman adalah:


a.

Pembuatan ajir (tiang pancang)

b.

Pembuatan lobang tanam

c.

Penanaman bibit kelapa sawit

d.

Penanaman tanaman penutup tanah (kacang-kacangan)

C.

PEMELIHARAAN KELAPA SAWIT

1.

Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

Adapun hal-hal yang perlu dikerjakan dalam pemeliharaan tanaman kelapa sawit pada
masa belum menghasilkan adalah:
a.

Penyulaman

b.

Penyiangan

c.

Pengendalian hama dan penyakit tanaman

d.

Pemupukan

e.

Kastrasi

2.

Tanaman Menghasilkan

Adapun hal-hal yang perlu dikerjakan pada tanaman menghasilkan adalah:


a.

Penyiangan

b.

Sanitasi

c.

Polinasi

d.

Pemupukan

e.

Pengendalian hama dan penyakit tanaman

D.

PANEN
Panen merupakan salah satu factor penting yang menetukan kualitas dan kuantitas

produksi.Tanaman kelapa sawit umumnya sudah mulai di panen pada umur tiga tahun
di kebun.Pekerjaan panen meliputi pemotongan tandan buah masak, pengutipan
brondolan, dan pengangkutan ke TPH.
1.

Persiapan Panen
Persiapan panen berkaitan dengan penyediaan tenaga kerja dan alat-alat panen

yang diperlukan, kegiatan awal lainnya dalam persiapan panen adalah pembuatan
atau peningkatan mutu jalan, karena jalan merupakan factor penunjang yang penting
dalam pengangkutan hasil dari kebun ke pabrik. Akses jalan yang perlu disiapkan
untuk proses panen diantaranya jalan penghubung (jalan utama), jalan produksi, jalan
control, dan jalan pikul (pasar).
2.

Keberhasilan Panen
Keberhasilan penen sangat ditentukan dari hasil produksi kebun, meliputi tandan,

minyak dan inti sawit. Keberhasilan panen dipengaruhi oleh persiapan panen yang

baik dan efektif, mulai dari kodisi jalan, tenaga kerja, alat-alat yang digunakan,
waktu memulai panen, pemahaman kriteria matang tandan dan cara pemanenan.
3.

Pelaksanaan Panen
Sistem panen tergantung pada jenis tenaga kerja pemanen (harian atau borongan),

karyawan harian tetap (KHT) atau karyawan harian lepas (KHL). Pelaksanaan panen
dibedkan atas dua sistem
a.

Sistem Giring
Sistem panen yang seluruh hasil panennya ditempatkan disatu lokasi panen secara

bersamaan, sehingga masing-masing pemanen bias memanen di tempat yang berbeda.


Sistem ini cocok untuk pemanen dengan potensi produksi yang tinggi.Kelebihan
sistem giring adalah pekerjaan lebih cepat selesai karena selalu di awasi mandor.
b.

Sistem Tetap
Sistem yang masing-masing pemanennya ditempatkan dilokasi panen tertentu,

sehingga masing-masing pemanen selalu memanen di tempat yang sama. Sistem ini
lebih sesuai untuk pemanen borongan yang potensi produksinya rendah.Kelebihn
sistem tetap adalah lebih teliti dan tidak memengaruhi fisiologis tanaman.

BAB V PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Tanaman kelapa sawit memilki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan, karna
keuntungannya yang sangat banyak, baik dari segi social, lingkunga, terutama dari segi
ekonomi.Budidaya tanaman kelapa sawit dengan menggukan teknik yang berdasarkan ilmu
pengetahuan sangat menguntungkan, karna produktivitas yang dihasilkan sangat memuaskan,
ditambah lagi dengan manajemen perkebunan yang baik.
Budidaya tanaman kelapa sawit harus didasari ilmu pengetahuan, baik dalam dalam bentuk teori
dan praktik, sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan.

B.

SARAN
Untuk meningkatkan

produktivitas didalam budidaya tanaman kelapa sawit, penggunaan

herbisida seharusnya diganti dengan menggunakan mesin potong rumput, karna herbisida sedikit
banyaknya mempengaruhi terhadap pertumbuhan tanaman budidaya, berbeda dengan
penggunaan mesin pemotong rumput yang tidak merugikan bagi tanaman, bahkan rumput yang
telah dipotong dapat menambah unsur hara bagi tanaman budidaya sekaligus penyubur tanah.

irmairmaagro01.blogspot.com/2014/01/contoh-laporan-praktikumagronomi.html

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan tanaman komoditas perkebunan yang cukup penting di
Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Komoditas kelapa
sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil olahannya, menduduki peringkat ketiga
penyumbang devisa nonmigas terbesar bagi negara setelah karet dan kopi. Kelapa sawit adalah
tanaman penghasil minyak nabati yang dapat diandalkan, karena minyak yang dihasilkan
memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan oleh tanaman lain.
Keunggulan tersebut diantaranya memiliki kadar kolesterol rendah bahkan tanpa kolesterol
(Sastrosayono, 2007).
Luas areal perkebunan kelapa di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
yang cukup berarti. Tahun 2002 luasnya 4.116.646 ha,meningkat menjadi 5.239.171 pada tahun
2003 (pertumbuhan 27,26%). Tahun 2004 luasnya 5,601.770 ha (pertumbuhan 6,9%) dan sampai
bulan Oktober 2007 luas lahan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 6,3 juta ha, bertambah
dari 6,07 juta ha pada tahun 2006. Riau menduduki posisi pertama dengan luas lahan 1,409 jutab
ha, disusul Sumatera Utara dengan luas 1,044 juta ha dan Sumatera Selatan dengan luas lahan
606.600 ha (Pardamean, 2008).
Melihat pentingnya tanaman kelapa sawit dewasa ini dan masa yang akan datang, seiring
dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan minyak sawit, maka perlu dipikirkan
usaha peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kelapa sawit secara tepat agar sasaran yang
diinginkan dapat tercapai. Salah satu diantaranya adalah bahan perbanyakan tanaman berupa
bibit, untuk itu perlu tindakan kultur teknis atau perawatan bibit yang baik antara lain dengan
jalan pemupukan pada waktu di pembibitan awal dan di pembibitan utama (Khaswarina, 2001).

Tujuan utama dari pembibitan adalah untuk mempersiapkan bibit yang baik dengan
kriteria sehat, kuat dan kokoh. Hal ini merupakan salah satu factor penentu dari keberhasilan
penanaman di lapangan dan untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil dikemudian hari.
Sebagai mana dijelaskan oleh Setyamidjaja (1996) bahwa tujuan dari pembibitan adalah untuk
mendapatkan bibit yang tumuh seragam dan bebas dari bibit yang abnormal sehingga diperoleh
bibit yang baik (Hartawan, 2006).
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) merupakan salah satu tanaman penghasil
minyak nabati yang sangat penting. Dewasa ini tanaman kelapa sawit tumbuh sebagai tanaman
liar (hutan), setengah liar dan sebagai tanaman budi daya yang tersebar di berbagai negara
beriklim tropis bahkan mendekati subtropis di Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Tanaman
kelapa sawit dimasukkan pertama kali di Indonesia oleh bangsa Belanda dari Bourbon
(Rheunion) atau Mauritius sebanyak dua batang dan dari Amsterdam juga dua batang. Bibit
tersebut di tanam di Kebun Raya Bogor untuk dijadikan tanaman koleksi pada tahun 1848
(Setyamidjaja, 2006).
Tanah yang subur sebagai media tanam yaitu tanah yang mempunyai profil yang dalam
melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH sekitar 6-6,5 mempunyai aktivitas jasad renik
yang tinggi, kandungan unsure haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak
terdapat pembatasan tanah untuk pertumbuhan tanaman (Soemantri, 2010).
Kompos tandan kelapa sawit telah diuji dan berpengaruh baik pada pembibitan kelapa
sawit. Pemberian kompos TKKS 50% dan tanah 50% mampu meningkatkan tinggi tanaman dan
jumlah pelepah pembibitan kelapa sawit sebesar 16,81 cm dan 3,17 pelepah. Aplikasi bahan
organic seperti kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) adalah 100kg/pohon yang
diaplikasikan 2 tahap dalam setahun (Firmansyah, 2010).

Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan
pemberian kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) terhadap pertumbuhan kecambah
kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) (DxP) di pre nursery.
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh media tanam dan pemberian kompos TKKS (Tandan Kosang Kelapa
Sawit) terhadap pertumbuhan kecambah

kelapa sawit (Elaeis guinensis

Jacq) (DxP) di pre nursery serta adanya interaksi keduanya terhadap pertumbuhan kecambah
kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) (DxP) di pre nursery.
Kegunaan Penulisan
-

Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Budidaya
Tanaman Kelapa Sawit dan Karet Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
Sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman
Adapun klasifikasi tanaman kelapa sawit (Elais guinensis Jacq) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Famili

: Palmaceae

Subfamili

: Cocoideae

Genus

: Elaeis

Spesies

: Elaeis guineensis Jacq

(Soemantri, 2010).
Sebagai tanaman jenis palma, kelapa sawit tidak memiliki akar tunggang dan akar
cabang. Akar yang keluar dari pangkal batang sangat besar jumlahnya dan terus bertambah
banyak dengan bertambahnya umur tanaman. System perakaran kelapa sawit dapat diuraikan
sebagai berikut: (a). Akar Primer, yaitu akar yang keluar dari bagian bawah batang , tumbuh
secara vertical atau mendatar dan berdiameter 5-10 mm, (b). Akar Sekunder, yaitu akar yang
tumbuh dari akar primer, yang arah tumbuhnya mendatar ataupun ke bawah dan berdiameter 1-4
mm, (c). Akar Tertier, yaitu akar yang tumbuhnya mendatar, panjangnya mencapai 15 cm dan
berdiameter 0,5-1,5 mm, (d). Akar Kuarter, yaitu akar-akar cabang dari akar tertier yang
berdiameter 0,2-0-5 mm dan panjangnya rata-rata

3 cm (Setyamidjaja, 2006).

Pada tahun-tahun pertama, sejak kecambah tumbuh menjadi tanaman kelapa sawit tidak
tampak adanya pertumbuhan memanjang. Awalnya terbentuk poros batang dan sekitar poros
tersebut terbentuk daun-daun yang ukurannya semakin bertambah besar. Setelah tanaman
berumur 4 tahun, batang mulai memperlihatkan pertumbuhan memanjang. Ketebalan batang
tergantung pada kekuatan pertumbuhan daun-daunnya. Tanaman yang tumbuh kurus memanjang
menandakan bahwa faktor-faktor tumbuhnya tidak sempurna. Tanaman yang masih muda dan
pertumbuhan batangnya cepat tinggi (dilihat dari lingkar bekas daun yang cepat menanjak) akan
memberikan hasil produksi dibawah normal (Sastrosayono, 2007).
Daun terdiri dari tangkai daun (petiole) yang kedua sisinya terdapat dua baris . tangkai
daun bersambungan langsung dengan tulang daun utama (rachis) yang lebih panjang dari tangkai
daun. Pada kiri dan kanan tulang daun terdapat anak daun (pinnae). Tiap anak daun terdapat

tulang daun (lidi) yang menghubungkan anak daun dengan tulang daun utama. Pada tanaman
kelapa sawit pembentukan daun kelapa sawit membutuhkan waktu 4 tahun dari awal
pembentukan daun hingga daun menjadi layu secara alami. Pada saat kuncup daun telah mekar,
daun kelapa sawit sudah berumur 2 tahun dari awal pembentukannya. Kelapa sawit dapat
menghasilkan 1-3 daun setiap bulannya (Lumbangaol, 2010).
Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai
mengeluarkan bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang,
sedangkan bunga betina agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan bersilang
(cross pollination), artinya bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari
pohon yang lainnya dengan perantara angin dan serangga penyerbuk (Sunarko, 2007).
Tandan buah tumbuh di ketiak daun. Daun kelapa sawit setiap tahun tumbuh sekitar 2024 helai. Semakin tua umur kelapa sawit, pertumbuhan daunnya semakin sedikit sehingga buah
yang terbentuk semakin menurun. Meskipun demikian, tidak berarti hasil produksi minyaknya
menurun. Hal ini disebabkan semaki tua umur tanaman, ukuran buah kelapa sawit semakin besar.
Kadar minyak yang dihasilkannya pun akan semakin tinggi. Berat tandan buah kelapa sawit
bervariasi dari beberapa ons hingga 30 kg (Sastrosayono, 2007).
Syarat Tumbuh
Iklim
Komponen iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kelapa sawit adalah suhu
udara, curah hujan dan kelembaban udara. Lokasi penelitian yang terletak di sekitar khatulistiwa
yaitu 012-020 Lintang Utara dan

10114-10124 Bujur Timur serta ketinggian dari

muka laut antara 7-50 m, mempengaruhi jumlah dan pola komponen iklim tersebut. Hasil
pengamatan komponen iklim tersebut selama 10 tahun terakhir (1998-2007) disajikan pada Tabel

2. Rata-rata jumlah curah hujan tahunan sebesar 2.339 mm/tahun, rata-rata suhu udara tahunan
sebesar 26,4C dan kelembaban udara rata-rata 81,2% (Wigena dkk, 2008).
Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai berada pada
Ketinggian pertanaman kelapa sawit yang ideal berkisar antara

15 LU-15 LS.

0-500 m dpl. Kelapa sawit

menghendaki curah hujan sebesar 2.000-2.500 mm/tahun. Suhu optimum untuk pertumbuhan
kelapa sawit adalah 29-30 C. Intensitas penyinaran matahari sekitar 5-7 jam/hari. Kelembaban
optimum yang ideal sekitar 80-90 %. Bila semua syarat tersebut telah terpenuhi maka lokasi
tersebut sudah bisa digunakan sebagai area pembibitan sekaligus budidaya kelapa sawit
(Soemantri, 2010).
Tanaman kelapa sawit membutuhkan intensitas cahaya matahari yang cukup tinggi untuk
dapat melakukan fotosintesis kecuali pada kondisi juvenile di pre nursery. Dengan semakin
menjauhnya suatu daerah dari khatulistiwa misalnya pada daerah 10 0 LU intensitas cahaya akan
turun berkisar 1218-1500 J/cm2/hari. Intensitas 1218 terjadi pada bulan Desember sedangkan
1500 terjadi pada periode Maret-September (Pahan, 2011).
Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah disekitar lintang
Utara-Selatan 120. Jumlah curah hujan yang baik adalah sekitar 200-2500 mm/tahun, tidak
mempunyai defisit hujan relative lama sepanjang tahun. Temperature yang optimal bagi
pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah 24-280C temperature teredah 180C dan tertinggi
320C. kelembaban 80% dan lama penyinaran matahari 5-7 jam/hari. Angin dengan kecepatan
rata-rata 5-6 km/jam (Soehardjo dkk, 1996).
Tanah
Tanah-tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit dan banyak terdapat di
daerah tropis diuraikan sebagai berikut: Latosol, tanah latosol di daerah tropis bisa berwarna

merah, coklat dan kuning. Tanah latosol terbentuk di daerah yang iklimnya juga cocok untuk
tanaman kelapa sawit. Tanah latosol mudah tercuci dan melapisi sebagian besar tanah di daerah
tropkal basah. Tanah Aluvial sangat penting untuk tanaman kelapa sawit, meskipu kesuburannya
disetiap tempat berbeda-beda. Aluvial ditepi pantai dan sungai umum ditanami kelapa sawit
(Sastrosayono, 2007).
Tanah yang baik untuk budidaya kelapa sawit harus banyak mengandung lempung,
beraerasi baik dan subur. Tanah harus berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum
cukup dalam dan tidak berbatu. Tanah latosol, ultisol, dan aluvial yang meliputi tanah gambut,
dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit. Tanah memiliki
derajat kemasaman (pH) antara 4-6. Ketinggian tempat yang ideal bagi pertumbuhan kelapa
sawit antara

1-400 meter diatas permukaan laut. Topografi datar, berombak dan hingga

bergelombang masih dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit dan lereng antara 0-25%
(Lumbangaol, 2010).
Kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti podsolik, latosol, hidromorfik
kelabu, regosol, andosol ,organosol dan alluvial. Solum yang dalam lebih dari 80 cm, tekstur
lempung, dan lempung berpasir dengan komposisi 20-60% pasir, 10-40% dan 20-50% liat.
Struktur perkembangannya kuat, konsistensinya gembur sampai agak teguh dan permeabilitas
sedang

(Soehardjo dkk, 1996).


Sebagian besar lahan-lahan yang digunakn sebagai perkebunan kelapa sawit termasuk

jenis-jenis tanah latosol (orisol), alluvial dan laterit (ultisol) sedangkan Purba dan Lubis mencatat
tujuh jenis tanah yang dapat dipakai untuk usaha tani kelapa sawit yaitu tanah organosol, regosol,
Andosol,

Aluvial,

Latosol,

Podsolik

merah

kuning

(Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).

dan

Podsolik

Cokelat

Media Tanam
Ada beberapa yang menjadi penentu kualitas bibit kelapa sawit yang akan di tanam, salah
satu yang terpenting adalah media tanam yang digunakan. Pada umumnya digunakan lapisan
tanah atas (top soil) yamg subur. Namun pada daerah tertentu top soil sulit didapatkan hal ini
disebabkan oleh penggunaannya yang makin terkikis akibat erosi. Tingkat kesuburan sub soil
yang tidak stabil dapat diperbaiki dengan menambahkan bahan bahan pembenah tanah
(amelioran) sehingga tanah sub soil benar-benar dapat menggantikan peran top soil sebagai
media tanam pembibitan kelapa sawit (Soemantri, 2010).
Media tanam untuk pembibitan yang terpenting bahwa media tanam tersebut memiliki
sifat porous dan memiliki kesuburan tinggi. Tanah yang digunakan untuk mengisi polibag adalah
tanah dengan bebas dari akar-akaan, batu-batuan dan benda lain. Tanah yang dianjurkan adalah
mengandung cukup bahan organic berpasir 20-30% dan berliat (Pramana, 2010).
Lapisan atas tanah atau topsoil cukup banyak mengandung bahan organic dan biasanya
berwarna gelap karena penimbunan bahan organic. Sedangkan tanah sub soil mengalami cukup
pelapukan, mengandung lebih sedikit bahan organic. Produktivitasnya sedikit karena ditentukan
oleh keadaan sub soil tersebut (Soemantri, 2010).
Tanah yang mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur, berdrainase baik,
pemukaan air tanah cukup dalam, solum 80 cm pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah
latosol, ultisol,alluvial tanah gambut saprik. Tanah lapisan tanah sudah diayak, dan tanah dalam
polibag harus lembab

(Wahyudi, 2010).

Pupuk kandang memang dapat menambah tersedianya bahan makanan (unsur hara) bagi
tanaman yang dapat diserapnya dari dalam tanah. Selain itu, pupuk kandang ternyata mempunyai
pengaruh yang positif (baik) terhadap sifat fisis dan kimiawi tanah, mendorong kehidupan

(perkembangan) jasad renik. Dengan perkataan lain pupuk kandang mempunyai kemampuan
mengubah berbagai faktor dalam tanah, sehingga menjadi faktor-faktor yang menjamin
kesuburan tanah (Sutedjo, 2002).
Horizon A dan Horizon B disebut dengan istilah solum yang merupakan tanah horizon A
disebut juga dengan istilah Top Soil atau tanah atas sedangkan horizon B disebut dengan Sub
Soil atau tanah bawah. Sub Soil merupakan penimbunan (illuviasi) dari bahan-bahan yang
tercuci diatasnya seperti bahan organik liat besi dan aluminium. Dengan berlangsungnya
pembentukan tanah maka tanah horizon B mengalami perkembangan dan berdiferensiasi menjadi
horizon-horizon B1, yakni peralihan dari horizon A ke horizon B

(Wahyudi, 2010).

Partikel-partikel pasir yang ukurannya jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang
kecil dibandingkan debu dan liat. Oleh karena itu peranannya di dalam mengatur sifat-sifat kimia
tanah adalah kecil maka fungsi utamanya adalah untuk perbaikan sifat-sifat tanah. Bila jumlah
pasir tidak terlalu banyak dalam tanah, pengaruhnya akan baik karena cukup longgar air akan
mudah meresap dan jumlahnya cukup dikandung tanah, udara tanah mudah masuk dan tanah
mudah diolah (Sutedjo, 2002).

Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)


Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan bahan organic yang mengandung
42,8% C, 2,90% K2O, 0,80% N, 0,22% P2O5, 0,30% MgO dan unsur-unsur mikro antara lain 10
ppm B, 23 ppm Cu, 51 ppm Zn. Namun menurut Darmoskoro dan Winarna (2001) tandan
kosong kelapa sawit mempunyai kadar C/N yang tinggi yaitu 45-55. Hal ini dapat menurunkan
ketersediaan N karena N termobilisasi dalam proses perombakan bahan organic dalam tanah.

Hasil penelitian Hidayat, dkk (2007) menyimpan tanah top soil yang ditambahkan kompos
TKKS dengan perbandingan 8:2 dapat menggantikan bahkan lebih baik dari fungsi top soil
sebagai media tanam pembibitan utama kelapa sawit (Soemantri, 2010).
Aplikasi kompos TKKS diperkaya mikroba pada pembibitan dapat meningkatkan
pertumbuhan bibit kelapa sawit. Aplikasi kompos TKKS pada TM mengurangi penggunaan
pupuk kimia 50% dan produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian puuk kimia
standar 100%. Tanaman sawit yang diaplikasikan dengan kompos terlihat lebih tahan terhadap
kekurangan air kekurangan pupuk organic yaitu kandungan hara lambat tersedia diperlukan
dalam jumlah relative besar dibandingkan pupuk kimia serta butuh biaya angkut dan aplikasi
yang besar (Taniwiryono dan Isroi, 2008).
Kompos TKS meningkatkan kandungan unsure hara N,P,K bahkan kandungan hara
tersebut lebih besar dari rekombinasi pemupukan kimia kompos. Kompos tandan kelapa sawit
telah diuji dan berpengaruh baik pada pembibitan kelapa sawit. Pemberian kompos TKS 50%
dan tanah 50% mampu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah pelepah pembibitan kelapa
sawit 16,81 cm dan 3,17 pelepah (Firmansyah, 2010).
Tandan kosong kelapa sawit/janjang kosong merupakan produk pabrik sawit (PKS)
setelah TBS dip roses dari sterilizer dan stripper. Kompos tandan kosong/janjang kosong kaya
kandungan materi organic dan nutrisi bagi tanaman. Aplikasi JJK dapat meningkatkan proses
dekomposisi sehingga kandungan fisik, biologi dan kimia pada tanah meningkatkan peremajaan
tanah yang penting untuk jangka waktu yang lama dalam rangka mempertahankan produksi TBS
agar tetapa tinggi (Pahan, 2011).
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan
pupuk organic karena diperoleh dalam jumlah besar dan murah. Tandan kosong kelapa sawit

(TKKS) tidak dapat langsung terurai menjadi kompos. Agar dapat diubah menjadi unsur yang
lebih sederhana TKKS harus didegradasi terlebih dahulu proses degradasi secara alamiah
memakan waktu yang sangat lama, untuk itu dipakai jamur merang untuk mendegradasi
kandungan lignin dan selulosa (Ningtyas dkk, 2009).

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Percobaan


Percobaan ini dilakukan setiap hari Senin dari bulan April sampai Mei 2012 di
Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas
Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat 25 meter diatas
permukaan laut.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah benih kelapa sawit sebagai
objek percobaan, kompos TKKS (tandan kosong kelapa sawit) sebagai bahan campuran media
tanam, sub soil sebagai media tanam, subsoil sebagai campuran media tanam, polibag digunakan
sebagai wadah media tanam dan label sebagai penanda polibag.

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk mencampur media
tanam, gembor untuk menyiram benih, timbangan untuk menimbang kompos, buku data dan alat
tulis untuk menulis data.
Metode Percobaan
Percobaan ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) factorial yang
terdiri dari 2 faktor perlakuan yaitu:
Faktor I

: Media tanam (M) dengan 2 taraf

M1

: Top soil + pasir (2:1)

M2

: Sub soil + Pupuk kandang sapi (3:1)

Faktor II

: Kompos TKKS dengan 3 taraf

T0

: 10 gr

T1

: 20 gr

T3

: 30 gr

Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu


M1TO

MIT2

M2T1

M1TI

M2T0

M2T2

Jumlah ulangan

:3

Jumlah plot per ulangan

:6

Jumlah bibit perpolibag

:1

Jumlah bibit perplot

:2

Jumlah kecambah seluruhnya

: 36 bibit

Bagan Percobaan

PELAKSANAAN PERCOBAAN

Persiapan Media Tanam


Media tanam yang digunakan adalah sesuai dengan masing-masing perlakuan yaitu
campuran top soil dan pasir dengan perbandingan 2:1 (M1) dan campuran sub soil dan pupuk
kandang sapi dengan perbandingan 3:1 (M2).
Aplikasi Kompos TKKS
Masing-masing perlakuan media tanam dicampur dengan kompos TKKS sesuai dengan
perlakuan masing-masing yaitu 10 gram (T0), 20 gram (T1) dan

30 gram (T2) kemudian

dimasukkan ke dalam polibag.


Penanaman
Penanaman dilakukan dalam polibag, bibit kelpa sawit ditanam sedalam 1 cm dalam
polibag sebanyak 2 benih per polibag.
Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari sampai kondisi kapasitas lapang dan selanjutnya
dikurangi bila keadaan tanah masih basah dan lembab.
Pengamatan Parameter

Tinggi Tunas (cm)


Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan dihitung mulai dari
permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman dengan interval 1 minggu.

Jumlah Daun (Helai)


Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna.
Perhitungan jumlah daun dilakukan dengan interval 1 minggu.

Diameter Batang (mm)


Diameter batang dihitung dengan menggunakan jangka sorong setiap 1 minggu
sekali diukur dari 2 sisi batang diukur dari pangkal tanaman tersebut atau 1 cm diatas
permukaan tanah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel Tinggi Tunas Kelapa Sawit 8 MST (cm)
Ulangan
Perlakua
n
I
II
III
M1A0
16,00
16,00
16,30
M1A1
18,60
17,00
17,99
M1A2
19,00
20,00
19,99
M2A0
15,00
16,00
16,00
M2A1
17,00
17,99
17,00
M2A2
18,50
18,00
18,00
Total
104,10
104,99
105,28
Rataan
17,35
17,50
17,55

Total
48,30
53,59
58,99
47,00
51,99
54,50
314,37
52,40

Rataan
16,10
17,86
19,66
15,67
17,33
18,17
104,79
17,47

Tabel Data Jumlah Daun Kelapa Sawit 8 MST (helai)


Ulangan
Perlakua
n
I
II
III
M1A0
2,50
2,50
2,80
M1A1
3,00
3,00
3,00
M1A2
3,00
3,00
3,00
M2A0
2,50
2,50
2,50
M2A1
2,50
2,50
2,50
M2A2
2,50
3,00
2,50
Total
16,00
16,50
16,30
Rataan
2,67
2,75
2,72

Total
7,80
9,00
9,00
7,50
7,50
8,00
48,80
8,13

Rataan
2,60
3,00
3,00
2,50
2,50
2,67
16,27
2,71

Tabel Data Diameter Batang Kelapa Sawit 8 MST (mm)


Ulangan
Perlakua
n
I
II
III
Total
M1A0
0,59
0,81
1,21
2,61
M1A1
0,98
1,58
1,24
3,80
M1A2
0,50
1,30
1,30
3,10
M2A0
0,65
0,89
1,25
2,79
M2A1
0,70
1,15
1,27
3,12
M2A2
0,85
1,45
1,41
3,71
Total
4,27
7,18
7,68
16,12
Rataan
0,71
1,20
1,28
3,19

Rataan
0,87
1,27
1,03
0,93
1,04
1,24
6,37
1,06

Pembahasan
Dari hasil percobaan diketahui bahwa tinggi tunas kelapa sawit 8 MST tertinggi adalah
pada perlakuan MIA2 yaitu top soil + pasir dengan pemberian 30 gr kompos TKKS (Tandan
Kosong Kelapa Sawit) yaitu sebesar 19,66 cm. Hal ini dikarenakan dibandingkan dengan
perlakuan lain pada perlakuan M1A2 diaplikasikan paling banyak kompos TKKS sehingga
kandungan hara N,P,K yang sangat penting terutama dalam meningkatkan tinggi tanaman cukup
tersedia dan dapat diserap tanaman kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan literatur

Firmansyah

(2010) yang menyatakan bahwa kompos TKS meningkatkan kandungan unsur hara N,P,K
bahkan kandungan hara tersebut lebih besar dari rekombinasi pemupukan kimia kompos.
Pemberian kompos TKS 50% dan tanah 50% mampu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah
pelepah pembibitan kelapa sawit.
Berdasarkan data pengamatan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST diketahui bahwa data
terendah terdapat pada perlakuan M2A0 dengan sub soil, pupuk kandang sapi dan pemberian 10
gr kompos TKKS. Hal ini disebabkan karena jumlah kompos yang diaplikasikan sangat rendah
selain itu penggunaan sub soil sebagai media tanam juga kurang mendukung pertumbuhan
kecambah kelapa sawit sangat berbeda dengan penggunaan top soil yang subur sedangkan sub

soil karena merupakan penimbunan dari bahan-bahan yang tercuci diatasnya seperti bahan
organik, liat besi dan aluminium yang kurang subur. Hal ini sesuai dengan literatur Wahyudi
(2010) yang menyatakan bahwa Sub Soil merupakan penimbunan (illuviasi) dari bahan-bahan
yang tercuci diatasnya seperti bahan organik liat besi dan aluminium sehingga tingkat
kesuburannya rendah.
Dari hasil percobaan diketahui bahwa jumlah daun tertinggi pada 8 MST di dapat pada
perlakuan M1A1 (media tanam top soil + pasir (2:1), dicampurkan dengan 20 gr kompos TKKS)
dan M1A2 (media tanam top soil + pasir (2:1), dicampurkan dengan 30 gr kompos TKKS)
dengan jumlah daun masing-masing 3 helai. Pada perlakuan ini keduanya menggunakan top soil
dan pasir sebagai media tanam dengan aplikasi kompos TKKS 20 gr dan 30 gr. Pengaplikasian
kompos TKKS tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun kelapa sawit. Peranan top soil
pada perlakuan ini sangat besar karena top soil cukup banyak mengandung bahan organik yang
dibutuhkan tanaman dalam melaksanakan proses pertumbuhannya. Hal ini sesuai dengan
literatur Soemantri (2010) yang menyatakan bahwa Lapisan atas tanah atau topsoil cukup banyak
mengandung bahan organic dan biasanya berwarna gelap karena penimbunan bahan organic.
Sedangkan tanah sub soil mengalami cukup pelapukan, mengandung lebih sedikit bahan
organik.
Data pengamatan jumlah daun kelapa sawit 8 MST terendah di dapatkan dari perlakuan
M2A0 (sub soil + pupuk kandang sapi (3:1) dicampur dengan 10 gr kompos TKKS) dan M2A1
(sub soil + pupuk kandang sapi (3:1) dicampur dengan 20 gr kompos TKKS) yang sama-sama
menggunakan subsoil sebagai media tanam. Penggunaan media tanam berupa top soil
sebenarnya masih kurang baik jika dibandingkan dengan penggunaan media tanam berupa
topsoil yang mengandung lebih banyak bahan organik sehingga jumlah daun yang dihasilkan

akan lebih banyak dan pertumbuhan benih kelapa sawit menjadi lebih subur. Hal ini sesuai
dengan literatur Soemantri (2010) yang menyatakan bahwa Lapisan atas tanah atau topsoil cukup
banyak mengandung bahan organic dan biasanya berwarna gelap karena penimbunan bahan
organik. Sedangkan tanah sub soil mengalami cukup pelapukan, mengandung lebih sedikit
bahan organik.
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa data

diameter batang kelapa sawit 8 MST

tertinggi adalah pada perlakuan M1A1 yaitu dengan media tanam top soil, pasir dan aplikasi 20
gr kompos TKKS. Kompos tandan kosong kelapa sawit yang diberikan mampu meningkatkan
bahan organik serta memberi nutrisi yang cukup bagi bibit kelapa sawit yang secara langsung
mempengaruhi pertumbuhan bibit kelapa sawit misalnya kearah peambahan diameter batang
kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan literatur Pahan (2011) yang menyatakan bahwa Kompos
tandan kosong/janjang kosong kaya kandungan materi organic dan nutrisi bagi tanaman. Aplikasi
JJK dapat meningkatkan proses dekomposisi sehingga kandungan fisik, biologi dan kimia pada
tanah meningkatkan peremajaan tanah yang penting untuk jangka waktu yang lama.
Data pengamatan diameter batang kelapa sawit 8 MST terendah diperoleh dari perlakuan
M1A0 (top soil + pasir (2:1) dicampur dengan 10 gr kompos TKKS) karena pada perlakuan ini
pengaplikasian kompos TKKS terendah yaitu hanya sebesar 10 gr sehingga unsur hara yang
tersedia dari kompos TKKS tersebut juga sangat rendah. Kompos TKKS diketahui mengandung
unsure N,P,K tinggi bahkan kandungan hara tersebut lebih besar dari rekombinasi pemupukan
kimia kompos. Hal ini sesuai dengan literatur Firmansyah (2010) yang menyatakan bahwa
kompos TKS meningkatkan kandungan unsur hara N,P,K bahkan kandungan hara tersebut lebih
besar dari rekombinasi pemupukan kimia kompos. Kompos tandan kelapa sawit telah diuji dan

berpengaruh baik pada pembibitan kelapa sawit karena mengandung unsur hara yang sangat
penting.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1.

2.

3.

Media Tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Hal ini dapat
dilihat pada tinggi tunas tertinggi pada perlakuan media tanam M1A2 sebesar 20 cm,
Jumlah daun tertinggi pada perlakuan M1A2 sebesar 3 dan diameter batang tertinggi pada
M1A1 sebesar 1,27.
Pemberian kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) berpengaruh terhadap
pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Hal ini dapat dilihat pada tinggi tunas tertinggi pada
perlakuan media tanam M1A2 sebesar 20 cm, Jumlah daun tertinggi pada perlakuan M1A2
sebesar 3 dan diameter batang tertinggi pada M1A1 sebesar 1,27.
Interaksi antara Media Tanam dengan Pemberian kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa
Sawit) berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Hal ini dapat dilihat
pada tinggi tunas tertinggi pada perlakuan media tanam M1A2 sebesar 20 cm, Jumlah daun
tertinggi pada perlakuan M1A2 sebesar 3 dan diameter batang tertinggi pada M1A1 sebesar
1,27.

Saran
Sebaiknya pengambilan data dilakukan dengan hati-hati dan seksama sehingga
didapatkan data pengamatan yang akurat.

http://janganjurnalsaja.blogspot.com/2012/06/pengaruh-media-tanam-danpemberian.html

BAB I PENDAHULUAN A . Latar Belakang Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) saat
ini merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting disektor
pertanian umumnya, dan sektor perkebunan khususnya, hal ini disebabkan karena dari sekian
banyak tanaman yang menghasilkan minyak atau lemak, kelapa sawit yang menghasilkan nilai
ekonomi terbesar per hektarnya di dunia (Balai Informasi Pertanian, 1990). Melihat pentingnya
tanaman kelapa sawit dewasa ini dan masa yang akan datang, seiring dengan meningkatnya
kebutuhan penduduk dunia akan minyak sawit, maka perlu dipikirkan usaha peningkatan kualitas
dan kuantitas produksi kelapasawit secara tepat agar sasaran yang diinginkan dapat tercapai.
Salah satu diantaranya adalah pengendalian hama dan penyakit. (Sastrosayono 2003). Tanaman
kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat menjadi andalan dimasa depan
karena berbagai kegunaannya bagi kebutuhan manusia. Kelapa sawit memiliki arti penting bagi
pembangunan nasional Indonesia. Selain menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada
kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumberdevisa negara. Penyebaran perkebunan kelapa
sawit di Indonesia saat ini sudah berkembang di 22 daerah propinsi. Luas perkebunan kelapa
sawit pada tahun 1968 seluas 105.808 hadengan produksi 167.669 ton, pada tahun 2007 telah
meningkat menjadi 6.6 juta ha dengan produksi sekitar 17.3 juta ton CPO (Sastrosayono 2003).
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan primadona Indonesia. Di tengah krisis
global yang melanda dunia saat ini, industri sawit tetap bertahan dan memberi sumbangan besar
terhadap perekonomian negara. Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang luas, industri
sawit menjadi salah satu sumber devisa terbesar bagi Indonesia. Data dari Direktorat Jendral
Perkebunan (2008) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit
di Indonesia, dari 4 713 435 ha pada tahun 2001 menjadi 7.363.847 ha pada tahun 2008 dan luas
areal perkebunan kelapa sawit ini terus mengalami peningkatan. Peningkatan luas areal tersebut
juga diimbangi dengan peningkatan produktifitas. Produktivitas kelapa sawit adalah 1.78 ton/ha
pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 2.17 ton/ha pada tahun 2005. Hal ini merupakan
kecenderungan yang positif dan harus dipertahankan. Untuk mempertahankan produktifitas
tanaman tetap tinggi diperlukan pemeliharaan yang tepat dan salah satu unsur pemeliharaan
Tanaman Menghasilkan (TM) adalah pengendalian hama dan penyakit. Sektor perkebunan
merupakan salah satu potensi dari subsektor pertanian yang berpeluang besar untuk
meningkatkan perekonomian rakyat dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Pada saat ini,
sektor perkebunan dapat menjadi penggerak pembangunan nasional karena dengan adanya
dukungan sumber daya yang besar, orientasi pada ekspor, dan komponen impor yang kecil akan
dapat menghasilkan devisa non migas dalam jumlah yang besar. Produktivitas kelapa sawit
sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya yang diterapkan. Pemeliharaan tanaman merupakan
salah satu kegiatan budidaya yang sangat penting dan menentukan masa produktif tanaman.
Salah satu aspek pemeliharaan tanaman yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya kelapa
sawit adalah pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dan penyakit yang baik dapat
meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman. B . Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan
makalah ini adalah untuk mengetahui cara budidaya tanaman kelapa sawit dan teknik
pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kelapa sawit. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer, skunder, tertier dan kuartier.
Akar-akar primer pada umumnya tumbuh ke bawah, sedangkan akar skunder, tertier dan kuartier
arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. Akar kuartier berfungsi menyerap unsur hara dan air
dari dalam tanah. Akar-akar kelapa sawit banyak berkembang di lapisan tanah atas sampai
kedalaman sekitar 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit (Setyamidjaja, 2006).
Tanaman kelapa sawit umumnya memiliki batang yang tidak bercabang. Pada pertumbuhan awal

setelah fase muda (seedling) terjadi pembentukan batang yang melebar tanpa terjadi
pemanjangan internodia (ruas). Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak di pucuk batang,
terbenam di dalam tajuk daun. Di batang terdapat pangkal pelepah-pelepah daun yang melekat
kukuh (Sunarko, 2008). Pertumbuhan awal daun berikutnya akan membentuk sudut. Daun pupus
yang tumbuh keluar masih melekat dengan daun lainnya. Arah pertumbuhan daun pupus tegak
lurus ke atas dan berwarna kuning. Anak daun (leaf let) pada daun normal berjumlah 80-120
lembar (Setyamidjaja, 2006). Tanaman kelapa sawit berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan
mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong
memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan
penyerbukan bersilang (cross pollination). Artinya bunga betina dari pohon yang satu dibuahi
oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaan angin dan atau serangga penyerbuk
(Sunarko, 2008). Tandan buah tumbuh di ketiak daun. Semakin tua umur kelapa sawit,
pertumbuhan daunnya semakin sedikit, sehingga buah terbentuk semakin menurun. Hal ini
disebabkan semakin tua umur tanaman, ukuran buah kelapa sawit akan semakin besar. Kadar
minyak yang dihasilkannya pun akan semakin tinggi. Berat tandan buah kelapa sawit bervariasi,
dari beberapa ons hingga 30 kg (Setyamidjaja, 2006). Kelapa sawit termasuk tanaman daerah
tropis yang umumnya dapat tumbuh di daerah antara 120 Lintang Utara 120 Lintang Selatan.
Curah hujan optimal yang dikehendaki antara 2.000-2.500 mm per tahun dengan pembagian
yang merata sepanjang tahun. Lama penyinaran matahari yang optimum antara 5-7 jam per hari
dan suhu optimum berkisar 240-380C. Ketinggian di atas permukaan laut yang optimum berkisar
0-500 meter (Setyamidjaja, 2006). Di daerah-daerah yang musim kemaraunya tegas dan panjang,
pertumbuhan vegetatif kelapa sawit dapat terhambat, yang pada gilirannya akan berdampak
negatif pada produksi buah. Suhu berpengaruh pada produksi melalui pengaruhnya terhadap laju
reaksi biokimia dan metabolisme dalam tubuh tanaman. Sampai batas tertentu, suhu yang lebih
tinggi menyebabkan meningkatnya produksi buah. Suhu 200C disebut sebagai batas minimum
bagi pertumbuhan vegetatif dan suhu rata-rata tahunan sebesar 22-230C diperlukan untuk
berlangsungnya produksi buah (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005). Kelapa sawit dapat
tumbuh baik pada sejumlah besar jenis tanah di wilayah tropika. Persyaratan mengenai jenis
tanah tidak terlalu spesifik seperti persyaratan faktor iklim. Hal yang perlu ditekankan adalah
pentingnya jenis tanah untuk menjamin ketersediaan air dan ketersediaan bahan organik dalam
jumlah besar yang berkaitan dengan jaminan ketersediaan air (Mangoensoekarjo dan Semangun,
2005). Tanah yang sering mengalami genangan air umumnya tidak disukai tanaman kelapa sawit
karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase yang jelek bisa menghambat kelancaran
penyerapan unsur hara dan proses nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman akan kekurangan
unsur nitrogen (N).Karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan kelapa
sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang (Sunarko, 2008). BAB
III PEMBAHASAN 2.1 Syarat Tumbuh Sebagai tanaman yang dibudidayakan, tanaman kelapa
sawit memerlukan kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan
dapat berproduksi secara maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan
kelapa sawit antara lain keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga dapat
mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit adalah faktor genetis, perlakuan budidaya, dan
penerapan teknologi. a) Iklim Curah hujan dan kelembaban Tanaman kelapa sawit dapat
tumbuh dengan di daerah tropik, dataran rendah yang panas, dan lembab. Curah hujan yang baik
adalah 2.500-3.000 mm per tahun yang turun merata sepanjang tahun. Daerah pertanaman yang
ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah dataran rendah yakni antara 200-400 meter di atas
permukaan laut. Pada ketinggian tempat lebih 500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan

kelapa sawit ini akan terhambat dan produksinya pun akan rendah Penyinaran matahari Lama
penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit adalah 7-5 jam per hari.pertumbuhan kelapa
sawit di Sumatera Utara terkanal baik karena berkat iklim yang sesuai yaitu lama penyinaran
matahari yang tinggi dan curah hujan yang cukup. Umumnya turun pada sore atau malam hari.
Suhu Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan hasil kelapa sawit. Suhu rata-rata
tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa sawit berada antara 25-27 0C, yang menghasilkan
banyak tandan. Variasi suhu yang baik jangan terlalu tinggi. Semakin besar variasi suhu semakin
rendah hasil yang diperoleh. Suhu, dingin dapat membuat tandan bunga mengalami merata
sepanjang tahun. b) Tanah Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung
pada karakter lingkungan fisik tempat pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan. Jenis tanah
yang baik untuk bertanam kelapa sawit adalah tanah latosol, podsolik merah kuning, hidromorf
kelabu, aluvial, dan organosol/gambut tipis. Kesesuaian tanah untuk bercocok tanam kelapa
sawit ditentukan oleh dua hal, yaitu sifat-sifat fisis dan kimia tanah. Sifat fisik tanah
Pertumbuhan kelapa sawit akan baik pada tanah yang datar atau sedikit miring, solum dalam dan
mempunyai drainase yang baik, tanah gembur, subur, permeabilitas sedang, dan lapisan padas
tidak terlalu dekat dengan permukaan tanah. Tanah yang baik bagi pertumbuhan juga harus
mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alamiah maupun hara tambahan.
Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal. Dalam
menentukan batas-batas yang tajam mengenai kesesuaian sifat fisis tanah di antara tipe-tipe tanah
memang relatif sulit. Sifat kimia tanah Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada tanah pH
4,0-6,5 dan pH optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang memiliki pH rendah biasanya dijumpai
pada daerah pasang surut, terutama tanah gambut. Tanah organosol atau gambut mengandung
lapisan yang terdiri atas lapisan mineral dengan lapisan bahan organik yang belum terhumifikasi
lebih lanjut memiliki pH rendah. 2.2 Teknik budidaya tanaman kelapa sawit 2.3 Persiapan Lahan
Pembukaan lahan merupakan salah satu tahapan kegiatan dalam budidaya Kelapa Sawit yang
sudah ditentukan jadwalnya berdasarkan tahapan pekerjaan yang akan dilakukan sesuai dengan
jenis lahannya (areal) hutan, areal alang-alang, areal gambut. Supaya areal tersebut dapat
ditanami Kelapa sawit maka areal tersebut harus bersih dari vegetasi atau semak belukar yang
akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman pokok. Sedangkan untuk
memudahkan dalam pengelolaan tanaman Kelapa sawit dibutuhkan suatu perencanaan tata ruang
kebun yang direncanakan pada saat pembukaan lahan dan sebelum penanaman Kelapa sawit
(Setyamidjaja, 2003). 2.4 Pembibitan Bibit merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses
pengadaan bahan tanaman yang dapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi pada
masa selanjutnya. Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan budidaya
tanaman kelapa sawit. Melalui tahap pembibitan sesuai standar teknis diharapkan dapat
dihasilkan bibit yang baik dan berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang
memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam
menghadapi kondisi cekaman lingkungan pada saat pelaksanaan penanaman (transplanting).
Menurut Setyamidjaja, (2006), untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas seperti
tersebut di atas, diperlukan pedoman kerja yang dapat menjadi acuan, sekaligus kontrol selama
pelaksanaan di lapang. Untuk itu berikut ini disampaikan tahapan pembibitan, mulai dari
persiapan, pembibitan awal dan pembibitan utama. 2.4.1 Pemilihan Lokasi Penentuan lokasi
pembibitan perlu memperhatikan beberapa persyaratan sebagai berikut: Areal pembibitan harus
terletak sedekat mungkin dengan daerah yang direncanakan untuk ditanami dengan
memperhitungkan biaya pengangkutan bibit Areal diusahakan mempunyai topografi datar dan
berada di tengah-tengah Kebun Dekat dengan sumber air dan air tersedia cukup untuk

penyiraman, dengan kualitas yang memenuhi syarat. Dekat dengan tempat pengambilan media
tanam untuk pembibitan. Drainase baik, sehingga pada musim hujan tidak tergenang air. Lokasi
Pembibitan mempunyai jalan yang mudah dijangkau dan mempunyai kondisi baik. Dekat dengan
tenaga kerja lapangan sehingga memudahkan dalam pengawasan. Areal harus jauh dari sumber
hama dan penyakit, serta mempunyai sanitasi yang baik. 2.4.2 Luas Pembibitan Kebutuhan areal
pembibitan umumnya 1,01,5% dari luas areal pertanaman yang direncanakan. Luas areal
pembibitan yang dibutuhkan bergantung pada jumlah bibit dan jarak tanam yang digunakan.
Dalam menentukan luasan pembibitan perlu diperhitungkan pemakaian jalan, yang untuk setiap
hektar pembibitan diperlukan jalan pengawasan sepanjang 200 m dengan lebar 5 m. 2.4.3 Sistem
Pembibitan Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua
tahapan pekerjaan, tergantung kepada persiapan yang dimiliki sebelum kecambah dikirim ke
lokasi pembibitan. Untuk pembibitan yang menggunakan satu tahap (single stage), berarti
penanaman kecambah kelapa sawit langsung dilakukan ke pembibitan utama (Main Nursery).
Sedangkan pada sistem pembibitan dua tahap (double stage), dilakukan pembibitan awal (Pre
Nursery) terlebih dahulu selama 3 bulan pada polybag berukuran kecil dan selanjutnya
dipindah ke pembibitan utama (Main Nursery) dengan polybag berukuran lebih besar. Sistem
pembibitan dua tahap banyak dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan, karena memiliki
beberapa keuntungan, antara lain: Kemudahan dalam pengawasan dan pemeliharaan serta
tersedianya waktu persiapan pembibitan utama pada tiga bulan pertama. Terjaminnya bibit yang
akan ditanam ke lapangan, karena telah melalui beberapa tahapan seleksi, baik di pembibitan
awal maupun di pembibitan utama. Seleksi yang ketat (10%) di pembibitan awal dapat
mengurangi keperluan tanah dan polybag besar di pembibitan utama. 2.4.4 Media Tanam Media
tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik, misalnya tanah bagian
atas (top soil) pada ketebalan 10-20 cm. Tanah yang digunakan harus memiliki struktur yang
baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama dan penyakit, pelarut, residu dan bahan kimia).
Bila tanah yang akan digunakan kurang gembur dapat dicampur pasir dengan perbandingan pasir
: tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum dimasukkan ke dalam polybag,
campuran tanah dan pasir diayak dengan ayakan kasar berdiameter 2 cm. Proses pengayakan
bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisa-sisa kayu, batuan kecil dan material
lainnya. 2.4.5 Kantong Plastik (Polybag) Ukuran polybag tergantung pada lamanya bibit di
pembibitan. Pada tahap pembibitan awal (Pre-Nursery), polybag yang digunakan berwarna putih
atau hitam dengan ukuran panjang 22 cm, lebar 14 cm, dan tebal 0,07 mm. Setiap polybag dibuat
lubang diameter 0,3 cm sebanyak 12-20 buah. Pada tahap pembibitan utama (Main-Nursery)
digunakan polybag berwarna hitam dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 37-40 cm dan tebal 0,2
mm. Pada setiap polybag dibuat lubang diameter 0,5 cm sebanyak 12 buah pada ketinggian 10
cm dari bawah polybag. 2.4.6 Pembibitan Awal ( Pre-Nursery ) Benih yang sudah berkecambah
dideder dalam polybag kecil, kemudian diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120
cm dan panjang bedengan secukupnya. Ukuran polybag yang digunakan adalah 12 x 23 cm atau
15 x 23 cm ( lay flat ). Polybag diisi dengan 1,5 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap
polybag diberi lubang untuk drainase. Kecambah ditanam sedalam 2 cm dari permukaan tanah
dan berjarak 2 cm. Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 4 bulan
dan berdaun 4 5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pembibitan utama (mainnursery). Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek.
Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang dibutuhkan oleh
bibit. Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha memperoleh
kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman.

2.4.7 Pembibitan Utama ( Main-Nursery ) Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan
dibutuhkan polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat),
tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase. Polybag diisi dengan
tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 30 kg per polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit
yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan) di pesemaian bibit (Setyamidjaja, 2006). Bibit
dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag
besar dan tanah sekitar bibit di padatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada polybag besar
kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan dan diatur dengan hubungan
sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x 100 cm x 100 cm (Setyamidjaja,
2006). 2.4.8 Pemeliharaan (pada pembibitan) Bibit yang yang telah ditanam di prenursery atau
nursery perlu dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan subur, sehingga bibit akan
dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur dan saat tanam yang tepat. Pemeliharaan bibit
meliputi : v Penyiraman v Penyiangan v Pengawasan dan seleksi v Pemupukan a. Penyiraman
Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari 7 8 mm pada
hari yang bersangkutan. Air untuk menyiram bibit harus bersih dan cara menyiramnya harus
dengan semprotan halus agar bibit dalam polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak
padat. Kebutuhan air siraman 2 liter per polybag per hari, disesuaikan dengan umur bibit. b.
Penyiangan Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag harus
dibersihkan, dikored atau dengan herbisida Penyiangan gulma harus dilakukan 2-3 kali dalam
sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. c. Pengawasan dan seleksi Pengawasan
bibit ditujukan terhadap pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan hama dan penyakit
Bibit yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus
dibuang. Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat pemindahan ke main nursery,
yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9 bulan, serta pada saat pemindahan bibit ke lapangan.
Menurut (Setyamidjaja, 2006), seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama dilakukan
pada waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan setelah bibit
berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan sebelum bibit dipindahkan
ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 12-14 bulan. Tanaman yang
bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri: a) bibit tumbuh meninggi dan kaku b) bibit
terkulai c) anak daun tidak membelah sempurna d) terkena penyakit e) anak daun tidak
sempurna. d. Pemupukan Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh bibit yang sehat,
tumbuh cepat dan subur. Pupuk yang diberikan adalah Urea dalam bentuk larutan dan pupuk
majemuk. 2.4.9 Panen Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah
penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah
matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen
adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau
sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. 2.5 Hama dan
Penyakit 2.5.1. Hama a. Hama Tungau Penyebabnya tungau merah (Oligonychus). Bagian
diserang adalah daun. Gejala terlihat pada daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz.
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara Semprot Pestisida atau Natural BVR. b. Ulat Setora
Penyebabnya adalah (Setora nitens). Bagian yang diserang adalah daun. Gejala yang terlihat
pada daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian dengan cara penyemprotan
dengan Pestisida 2.5.2. Penyakit a. Root Blast Penyebab dari penyakit ini yaitu (Rhizoctonia
lamellifera) dan (Phythium Sp). Bagian diserang akar. Gejala dapat dilihat dari bibit di
persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar.
Pengendalian dengan cara pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim

kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan (Zaman, 2006). b. Garis Kuning
Penyebab dari penyakit ini yaitu (Fusarium oxysporum). Bagian diserang daun. Gejala terdapat
bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering.
Pengendalian dengan cara inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. c. Dry Basal Rot
Penyebab penyakit ini yaitu (Ceratocyctis paradoxa). Bagian diserang batang. Gejala terdapat
pada pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering.
Pengendalian dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit BAB IV PENUTUP 4.1
Kesimpulan Tanaman kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat menjadi
andalan dimasa depan karena berbagai kegunaannya bagi kebutuhan manusia. Kelapa sawit
termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di daerah antara 120 Lintang
Utara 120 Lintang Selatan. Curah hujan optimal yang dikehendaki antara 2.000-2.500 mm per
tahun dengan pembagian yang merata sepanjang tahun. Lama penyinaran matahari yang
optimum antara 5-7 jam per hari dan suhu optimum berkisar 240-380C Tanaman kelapa sawit
mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika
tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat
1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang
lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas
dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. Tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah
brondolan kuran lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun, jumlah brondolan
sekitar 15-20 butir. Tanaman kelapa sawit akan menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang
dapat dipanen pada saat tanaman berumur 3 atau 4 tahun DAFTAR PUSTAKA Sastrosayono, S.,
2003. Budidaya Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta. Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya
Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. 62 Hal. Sunarko, 2008. Petunjuk Praktis Budidaya dan
Pengolahan Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta. Setyamidjaja dan Djoehana. 1991.
Budidaya Kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit.
Penebar Swadaya. Jakarta. 410 hal. Perangin-angin, S.A. 2006. Pengendalian Gulma di Kebun
Kelapa Sawit (Elaeis guinensis Jacq.) Kawan Batu Estate, PT. Teguh Sempurna, Minamas
Plantation, Kalimantan Tengah. Zaman, F.F.S.B. 2006. Manajemen Pengendalian Hama dan
penyakit pada Tanaman Belum Mengahasilkan di Perkebunan Kelapa Sawit (Elaeis guinensis
Jacq.) PT. Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
http://newfachrulislami.blogspot.com/2013/10/makalah-budidaya-kelapasawit-elaeis_20.html

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Di Indonesia, tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang banyak


dikebunkan oleh perusahaan-perusahaan besar, baik pemerintah maupun
swasta. Bahkan masyarakat pun banyak bertanam kelapa sawit secara kecilkecilan. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kelapa sawit sangat cocok
tumbuh di Indonesia. Jika Indonesia ditargetkan untuk menjadi negara
penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tentu orang-orang yang
mengelolanya, mulai dari pembibitan, penanaman sampai ke teknik
pengelolahan hasil panen harus berlaku profesional.
A.

Sejarah Penyebaran Tanaman Kelapa Sawit

Pada awalnya bangsa Portugis mengenal tanaman kelapa sawit saat melakukan
perjalanan ke Pantai Gading (Ghana). Mereka heran ketika menyaksikan
penduduk setempat menggunakannya untuk memasak dan sebagai bahan
kecantikan. Tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dan daerah-daerah lain
di Asia sebagai tanaman hias sekitar tahun 1848. Daerah pertama di Indonesia
yang diketahui sangat cocok untuk membudidayakan tanaman kelapa sawit ini
adalah Sumatera Utara.
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dilakukan oleh beberapa perusahaan
perkebunan kelapa sawit. Di pulau Sumatera saja hingga tahun 1920 sudah
puluhan perusahaan perkebunan yang menanam kelapa sawit. Masa suram
bagi tanaman kelapa sawit sempat terjadi pada waktu penjajahan Jepang, yang
mengakibatkan kebun kelapa sawit diganti dengan tanaman pangan. Hal itu
menyebabkan pabrik-pabrik pengolahan tidak lagi berproduksi.
Potensi areal perkebunan Indonesia masih terbuka luas untuk tanaman kelapa
sawit. Upaya perluasan perkebunan komoditas kelapa sawit dilaksanakan
dengan jangkauan daerah penanaman meluas ke luar dari daerah serta kelapa
sawit sebelumnya, yaitu dengan membangun perkebunan-perkebunan baru di
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Data menunjukkan kecendrungan
peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit, khususnya perkebunan rakyat.
B.

Perdagangan Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan minyak nabati yang penting, di samping kelapa,


kacang-kacangan, jagung, bunga matahari, dan sebagainya. Komoditas kelapa
sawit merupakan komoditas perdagangan yang menjanjikan. Minyak kelapa
sawit mampu menghasilkan berbagai hasil industri hilir yang dibutuhkan
manusia, seperti minyak goreng, mentega, sabun, kosmetik, dan lain
sebagainya.
Minyak kelapa sawit yang mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh
dalam proses selanjutnya akan menghasilkan fraksi olein, stearin, dan fatty
acid. Olein dipergunakan untuk pembuatan minyak goreng, stearin digunakan
untuk pembuatan mentega, sedangkan fatty acid dalam pengembangannya
dapat digunakan sebagai bahan dasar oleokimia.
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi yang sangat menguntungkan,
sehingga perluasan areal sangat maju pesat. Industri pengolahan kelapa sawit
di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sejumlah pabrik dengan kapasitas
produksi minyak sawit CPO (Crude Palm Oil) tersebar hampir di seluruh provinsi
di Indonesia. Pemasaran produk kelapa sawit pada perkebunan besar negara
dilakukan secara bersama melalui kantor pemasaran yang sudah ditunjuk
bersama, sedangkan untuk perkebunan besar swasta, pemasaran dilakukan
oleh masing-masing perusahaan. Pada umumnya perusahaan besar, baik
negara maupun swasta menjual produk kelapa sawit dalam bentuk olahan,
yaitu minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Penjualan
langsung kepada eksportir ataupun ke pedagang atau industri dalam negeri.
Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh rakyat yang hasil produksinya
terbatas, penjualan sulit dilakukan apabila ingin menjualnya langsung ke
industri pengolah. Oleh karena itu, petani harus menjualnya melalui pedagang
tingkat desa atau melalui KUD, kemudian berlanjut ke pedagang besar hingga
ke industri pengolah. Penjangnya rantai pemasaran hasil perkebunan rakyat ini
menyebabkan tingkat keuntungan yang diperoleh para petani relatif kecil.
A.

Prospek Budidaya Kelapa Sawit

Permintaan yang cenderung terus meningkat menyebabkan harga minyak sawit


dalam negeri pun terus menunjukkan peningkatan, walaupun perlu diperhatikan
bahwa harga minyak sawit dalam negeri sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor, terutama harga minyak goreng dari bahan lain di dunia.
Produksi minyak kelapa sawit (CPO) di dalam negeri diserap oleh industri
pangan, terutama industri minyak goreng dan industri nonpangan seperti
industri kosmetik dan farmasi. Potensi pasar yang lebih besar dipegang oleh

industri minyak goreng. Potensi tersebut terlihat dari semakin bertambahnya


jumlah penduduk yang membutuhkan minyak goreng dalam proses memasak
bahan pangannya.
Komoditas kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan yang sangat
menjanjikan. Pada masa depan, minyak sawit diyakini tidak hanya mampu
menghasilkan berbagai hasil industri hilir yang dibutuhkan manusia seperti
minyak goreng, mentega, sabun, kosmetik, tetapi juga menjadi subtitusi bahan
bakar minyak yang saat ini sebagian besar dipenuhi dengan minyak bumi.
A.

Produk Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya

Hasil utama tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit atau yang sering
dikenal dengan nama CPO (Crude Palm Oil) dan inti sawit. Minyak sawit dapat
dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi
yang cukup lengkap. Industri yang banyak menggunakan minyak sawit sebagai
bahan baku adalah industri pangan, industri kosmetik, dan farmasi. Bahkan
minyak sawit telah dikembangkan sebagai sakah satu bahan bakar.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak sawit memiliki keuntungan
dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Keunggulan tersebut antara lain:
1. Menjadi sumber minyak nabati termurah karena efisiensi minyak
kelapa sawit ini tinggi;
2. Dibanding minyak lainnya,
produktivitas yang tinggi;

minyak

kelapa

sawit

mempunyai

3. Dibanding minyak nabati lainnya, minyak kelapa sawit mempunyai


manfaat yang lebih luas, baik pada industri pangan, maupun pada
industri non pangan;
4. Kandungan gizi minyak kelapa sawit lebih unggul daripada minyak
nabati lainnya.
5. B.
6. 1.

Teknik Budidaya Tanaman Kelapa Sawit


Syarat Tumbuh

Sebagai tanaman yang dibudidayakan, tanaman kelapa sawit memerlukan


kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan
dapat
berproduksi
secara
maksimal.
Faktor-faktor
yang
dapat
mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit antara lain keadaan iklim dan
tanah. Selain itu, faktor yang juga dapat mempengaruhi pertumbuhan

kelapa sawit adalah faktor genetis, perlakuan budidaya, dan penerapan


teknologi.
a.
Iklim

Curah hujan dan kelembaban

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropik, dataran


rendah yang panas, dan lembab. Curah hujan yang baik adalah 2.500-3.000
mm per tahun yang turun merata sepanjang tahun. Daerah pertanaman
yang ideal untuk bertanam kelapa sawit adalah dataran rendah yakni
antara 200-400 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tempat lebih
500 meter di atas permukaan laut, pertumbuhan kelapa sawit ini akan
terhambat dan produksinya pun akan rendah.

Penyinaran matahari

Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit adalah 7-5 jam per
hari.pertumbuhan kelapa sawit di Sumatera Utara terkanal baik karena
berkat iklim yang sesuai yaitu lama penyinaran matahari yang tinggi dan
curah hujan yang cukup. Umumnya turun pada sore atau malam hari.

Suhu

Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan hasil kelapa sawit.
Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah pertanaman kelapa sawit berada
antara 25-27 0C, yang menghasilkan banyak tandan. Variasi suhu yang baik
jangan terlalu tinggi. Semakin besar variasi suhu semakin rendah hasil yang
diperoleh. Suhu, dingin dapat membuat tandan bunga mengalami merata
sepanjang tahun.
b.
Tanah
Pertumbuhan dan produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung pada
karakter lingkungan fisik tempat pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan.
Jenis tanah yang baik untuk bertanam kelapa sawit adalah tanah latosol,
podsolik merah kuning, hidromorf kelabu, aluvial, dan organosol/gambut tipis.
Kesesuaian tanah untuk bercocok tanam kelapa sawit ditentukan oleh dua hal,
yaitu sifat-sifat fisis dan kimia tanah.

Sifat fisis tanah

Pertumbuhan kelapa sawit akan baik pada tanah yang datar atau sedikit
miring, solum dalam dan mempunyai drainase yang baik, tanah gembur,
subur, permeabilitas sedang, dan lapisan padas tidak terlalu dekat dengan
permukaan tanah.
Tanah yang baik bagi pertumbuhan juga harus mampu menahan air yang cukup
dan hara yang tinggi secara alamiah maupun hara tambahan. Tanah yang
kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal. Dalam
menentukan batas-batas yang tajam mengenai kesesuaian sifat fisis tanah di
antara tipe-tipe tanah memang relatif sulit.

Sifat kimia tanah

Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada tanah pH 4,0-6,5 dan pH
optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang memiliki pH rendah biasanya
dijumpai pada daerah pasang surut, terutama tanah gambut. Tanah
organosol atau gambut mengandung lapisan yang terdiri atas lapisan
mineral dengan lapisan bahan organik yang belum terhumifikasi lebih lanjut
memiliki pH rendah.
2.
Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman merupakan hal yang sangat penting dalam usaha
budidaya tanaman karena menentukan masa perkembangan dan pertumbuhan
tanaman. Perawatan tidak hanya ditujukan pada tanamannya, tetapi juga pada
media tanah pada lahan pertanaman tersebut. Perawatan tanaman kelapa
sawit meliputi penyulaman, pembuatan piringan, penanaman tanaman sela,
pengendalian gulma, pemangkasan, pemupukan, dan penyerbukan buatan.
2.2

Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.


1. Sebagai bahan kajian mahasiswa mengenai panen dan penanganan
pasca panen pada tanaman kelapa sawit.
2. Sebagai cara untuk mempelajari berbagai cara panen dan penanganan
pasca panen pada tanaman kelapa sawit.
3. Sebagai syarat untuk melaksanakan tugas individu dari dosen.
BAB II
METODE PENULISAN
2.1
Objek Penulisan

Objek penulisan mencakup gambaran/penjelasan, penentuan saat panen yang


tepat, cara panen, perubahan-perubahan yang terjadi setelah panen,
pemeliharaan kualitas selama penyimpanan dan pengangkutan dan penentuan
kelas produk (grading).
2.2

Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan makalah ini, penulis secara umum mendapatkan bahan tulisan
dari berbagai referensi, baik dari tinjauan kepustakaan berupa buku buku atau
dari sumber media internet yang terkait dengan budidaya kelapa sawit dengan
panen dan penanganan pasca panennya.
2.3

Metode Analisis

Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analisis, yaitu dengan


mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yang ada,
menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya,
serta mencari alternatif cara panen dan penanganan pasca panen yang tepat.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Manajemen Panen Kelapa Sawit

Tujuan manajemen budidaya kelapa sawit adalah untuk menghasilkan produksi


kelapa sawit yang maksimal per hektar areal dengan biaya produksi serendah
mungkin, menjaga perkebunan beserta infrastrukturnya dengan menggunakan
teknologi yang ramah lingkungan dan secara sosial dapat dipertangungjawabkan, mempertahankan produktivitas tinggi secara berkesinambungan
dalam beberapa generasi pertanaman serta mempertahankan kesuburan tanah
dalam jangka panjang.
Tahapan akhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit adalah panen tandan buah
segar (TBS) yang menjadi salah satu kunci penentu produktivitas kelapa sawit.
Produktivitas kelapa sawit ditentukan oleh seberapa banyak kandungan minyak
yang diperoleh dan seberapa baik mutu minyak yang dihasilkan. Hasil minyak
yang diperoleh dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah
tata cara panen kelapa sawit.
Pada makalah ini akan dibahas tentang bagaimana manajemen panen kelapa
sawit agar diperoleh tingkat produktivitas yang tinggi.

A.

Identifikasi Tanaman Siap Panen

Dalam budidaya kelapa sawit panen merupakan salah satu kegiatan penting
dan merupakan saat-saat yang ditunggu oleh pemilik kebun, karena saat panen
adalah indikator akan dimulainya pengembalian inventasi yang telah
ditanamkan dalam budidaya. Melalui pemanenan yang dikelola dengan baik
akan diperoleh produksi yang tinggi dengan mutu yang baik dan tanaman
mampu bertahan dalam umur yang panjang.
Berbeda dengan tanaman semusim, pemanenan kelapa sawit hanya akan
mengambil bagian yang paling bernilai ekonomi tinggi yaitu tandan buah yang
menghasilkan minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit dan tetap membiarkan
tanaman berproduksi secara terus menerus sampai batas usia ekonomisnya
habis. Secara umum batas usia ekonomis kelapa sawit berkisar 25 tahun, dan
dapat berkurang bergantung dari tingkat pemeliharaan yang dilakukan
termasuk cara pemananen.
Pemanen kelapa sawit yang salah akan mengakibatkan rendahnya produksi dan
pendeknya usia ekonomis. Oleh karena itu, pemanenan harus dilakukan dengan
tepat agar tanaman tetap berproduksi baik dan diperoleh mutu yang baik.
Selain itu setelah panen harus segera dilakukan penanganan pasca panen
menginggat tandan buah kelapa sawit akan cepat mengalami penurunan mutu
dalam waktu 24 jam setelah panen.
Pertanyaan yang pertama kali muncul dalam benak pemilik kebun kepala sawit
adalah kapan panen pertama/perdana dilakukan agar segera diperoleh hasil
(baca uang) dan tidak merusak tanaman kelapa sawit. Penentuan panen
pertama secara umum dilakukan berdasarkan umur tanaman dan dikoreksi
melalui performa tanaman. Hal ini bermakna meskipun tanaman telah memiliki
umur yang cukup untuk menghasilkan tandan buah sawit, tetapi bilamana
performa tanaman, khususnya bonggol dan ukuran tandan buah terlaku kecil
(kurang ari 3 kg) maka umur pertama panen di tunda dengan membuang
bunga dan bakal buah yang ada.
Kelapa Sawit sudah mulai berbunga, tetapi tandan buah segar yang dihasilkan
belum mencapai 3 kg sehingga tanaman belum dapat dikategorikan sebagai
tanaman menghasilkan. Bilamana performa/penampilan bonggol batang belum
cukup kekar tetapi sudah berbunga, maka pada tanaman tersebut harus
diablasi yaitu pembuangan bunga untuk membuang tandan kecil (kurang dari 3
kg) pada tanaman baru berbuah dan untuk mendorong pertumbuhan tanaman
agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang seragam. Secara normal kelapa
sawit yang tumbuh subur sudah dapat menghasilkan buah serta siap dipanen

pertama pada umur sekitar 3,5 tahun jika dihitung mulai dari penanaman biji
kecambah di pembibitan. Namun jika dihitung mulai penanaman di lapangan
maka tanaman berbuah dan siap panen pada umur 2,5 tahun.
B.

Identifikasi Tandan Buah Masak

Jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan kelapa sawit bergantung dari
berbagai faktor, dan salah satu faktor terpenting adalah kematangan buah
pada saat dipanen dan penangananya sampai di PKS. Panen harus
menghasilkan tandan buah segar pada kematangan optimal, pemanenan
pada tandah buah mentah (belum optimal) cenderung akan mengakibatkan
berkurangnya jumlah minyak yang dihasilkan, dan sebaliknya pemanenan
yang terlalu matang dan penanganan yang lambat atau busuk akan
menghasilkan minyak dengan kandungan Free Fatty Acid (asam lemak bebas)
yang tinggi.
Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah 20-22 tandan/tahun. Pada
tanaman yang semakin tua produktivitasnya semakin menurun menjadi 12 14
tandan/tahun. Banyaknya buah yang terdapat dalam satu tandan tergantung
pada faktor genetik, umur, lingkungan dan teknik budidaya. Jumlah buah
pertandan pada tanaman yang cukup tua mencapai 1600 buah. Matang panen
kelapa sawit dapat dilihat secara visual dan secara fisiologi. Secara visual dapat
dilihat dari perubahan warna kulit buah menjadi merah jingga, sedangkan
secara fisiologi dapat dilihat dari kandungan minyak yang maksimal dan
kandungan asam lemak bebas yang minimal.
Pada saat matang tersebut dicirikan pula oleh membrondolnya buah. Kriteria
tandan buah yang masak pada tanaman muda dan tanaman menghasilkan
sedikit berbeda. Pada tanaman muda yang baru pertama kali dipanen, kriteria
matang tandan matang panen berupa 1-2 brondolan per tandan perlu
digunakan mengingat tandan masih kecil dan cepat masak. Standar ini harus
disesuaikan berdasarkan kondisi iklim setempat dan pengalaman pekerja. Ciri
tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari
tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang
lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.
Ciri-ciri lain yang digunakan adalah apabila sebagian buah sudah membrondol
(jatuh di piringan). Secara alamiah dan bobot rata-rata tandan sudah mencapai
3 kg. Jumlah brondolan buah inilah yang dijadikan dasar untuk memanen
tandan buah, yaitu tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun, jumlah
brondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10 tahun,

jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Namun secara praktis digunakan kriteria
umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat 2 brondolan.
Kriteria panen yang diharapkan adalah bila tingkat kematangan buah sudah
mencapai fraksi kematangan 13 dimana persentase buah luar yang jatuh
sekitar 12,5 %-75 %. Ada dua jenis sistem panen, yaitu sistem giring dan sistem
tetap.
C.

Persiapan Panen

Teknik panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak maksimum
dengan kualitas yang paling baik. Untuk mencapai maksud ini perlu
kematangan buah yang optimum, selang panen yang tepat, metode
pengumpulan buah, dan pengangkutan hasil yang baik ke pabrik pengolahan
buah sawit.
Aspek yang paling penting diperhatikan dalam panen dan pengangkutan buah
adalah hal-hal yang mempengaruhi kualitas akhir dari minyak sawit, khususnya
menyangkut kadar asam lemak bebas. Jadi, untuk mendapatkan hasil panen
yang berkualitas tinggi sebaiknya dibuat persiapan panen yang baik.
Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3
tahun. Buah akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penerbukan. Agar
panenan berjalan lancar, tempat pengumpulan hasil (TPH) harus dipersiapkan
dan jalan pengangkutan hasil (pasar pikul) diperbaiki untuk memudahkan
pengangkutan hasil panen dari kebun ke pabrik. Para pemanen juga harus
mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Pemanenan kelapa sawit perlu
memperhatikan beberapa ketentuan umum agar tandan buah segar (TBS) yang
dipanen sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu
baik.
A.

Kriteria Tanaman Menghasilkan

Agar tanaman belum menghasilkan (TBM) dapat digolongkan menjadi tanaman


menghasilkan (TM), maka perlu diperhatikan kriteria berikut.
a)

Kerapatan panen telah mencapai 60% atau lebih

b)

Bobot tandan rata-rata lebih berat daripada 3 kg.

c)

Angka sebaran panen lebih banyak daripada 5.

1.

Kerapatan

Kerapatan panen adalah angka persentase jumlah pohon yang memiliki tanda
buah yang sudah matang panen dalam suatu areal pertanaman belum
menghasilkan (TBM). Untuk mengetahui kerapatan panen tersebut, maka
dilakukan pemeriksaan dan pencatatan jumlah pohon yang sudah memiliki
tandan buah matang panen dari setiap petak tanaman yang terdapat dalam
areal TBM tersebut. Bila terdapat lebih dari 60% atau lebih pohon yang
mempunyai tandan matang panen, maka petak tersebut dinyatakan menjadi
tanaman menghasilkan (TM).
2.

Bobot rata-rata tandan

Setiap tandan yang sudah matang panen diambil secara acak dari setiap hektar
tanaman kemudian ditimbang. Jika rata-rata bobot telah lebih dari 3 kg maka
panenan dapat dilakukan dan diteruskan dengan pemeriksaan penyebaran
panen. Bila bobot rata-rata tandan masih di bawah 3 kg, panen harus
ditangguhkan, karena tandan kecil secara teknik tidak dapat diolah pabrik
sehingga tidak mempunyai nilai ekonomis.
Kriteria matang panen yang dijadikan patokan di perkebunan kelapa sawit
adalah bila sudah ada 2 brondolan (buah yang lepas dari tandannya) untuk tiap
kilogram tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau satu brondolan untuk
tiap kilogram tandan beratnya lebih dari 10 kg. Melihat adanya brondolan yang
jatuh ke piringan, maka panenan dapat dilakukan.
3.

Kerapatan sebaran panen

Kerapatan sebaran panen adalah angka yang menyatakan jumlah pohon yang
telah memiliki tandan matang panen dalam baris tanaman pada satu petak
(blok) tanaman sawit. Angka ini penting diketahui untuk efisiensi pemanenan,
karena menyangkut jarak (ruang) dan waktu yang dibutuhkan untuk memanen.
B.

Derajat Kematangan Buah

Mutu minyak buah biasanya dinyatakan sebagai persentase minyak tandan.


Untuk tujuan praktis disebut rendemen minyak atau nisbah ekstraksi.
Rendemen minyak (RM) yang diperoleh di pabrik sangat dipengaruhi oleh
standar kematangan buah yang mana buah berubah warna dari hitam menjadi
merah oranye hingga terjadi kematangan penuh.
1.

Kriteria matang panen

Faktor yang vital adalah konversi karbohidrat menjadi minyak di mesokrap


berlangsung pada stadia akhir perkembangan buah. Seminggu sebelum masak

hanya 80% minyak dari potensi total minyak dalam mesokrap, sintesis minyak
berlangsung terus sebelum buah tanggal dari tandan (membrondol). Penurunan
atau peningkatan yang nyata dari kandungan minyak setelah buah membrondol
dan sebelum membusuk ditandai oleh perubahan ciri-ciri jaringan mesokrap.
Gambar 1. Kriteria matang yang siap dipanen
Kadar minyak tertinggi terdapat pada saat buah membrondol, seyogianya untuk
mengoptimalkan hasil adalah mengutip buah yang membrondol, tetapi hal ini
tidak praktis dan tidak ekonomis, karena tandan buah akan matang
keseluruhannya selama 15 hari sesudah brondolan pertama. Karena tandan
kecil yang lebih cepat membrondol daripada tandan yang besar. Maka jika
panenan ditunggu hingga semua atau hampir semua buah membrondol,
pembusukan buah yang terlebih dahulu masak mulai terjadi dan dapat
menurunkan kualitas dan kuantitas. Di sisi lain, jika pemanenan dilakukan sejak
buah yang pertama membrondol, maka kadar asam lemak bebas (ALB) rendah
pada minyak maupun inti.
Gambar 2. Brondolan
Penentuan saat panen sangat mempengaruhi kandungan asam lemak bebas
(ALB) minyak sawit yang dihasilkan. Apabilan pemanenan buah dilakukan
dalam keadaan lewat matang, maka minyak yang dihasilkan mengandung
asam lemak bebas (ALB) dalam persentase tinggi (lebih dari 5%). Sebaliknya,
bila pemanenan dilakukan dalam keadaan buah belum matang, selain kadar
ALBnya rendah, rendemen minyak yang diperoleh juga rendah.
Gambar 3. Buah sawit siap panen
Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa tingkatan dari tandan buah segar (TBS)
yang dipanen. Tingkatan TBS tersebut sangat mempengaruhi mutu panen,
termasuk kualitas minyak sawit yang dihasilkan.
Tabel. Tingkatan TBS yang dipanen
Tingkat

Jumlah Brondolan

Kematangan

0.

1-12,5% buah luar membrondol

Mentah

1.

12,5-25% buah luar membrondol

Kurang matang

2.

25-50% buah luar membrondol

Matang I

3.
4.
5.

50-75% buah luar membrondol


75-100% buah luar membrondol
Buah dalam juga membrondol,
dan ada buah yang busuk

Matang II
Lewat matang I
Lewat matang II

Sumber: Pusat Penelitan Marihat, 1983


Jadi, berdasarkan tingkat TBS yang dipanen tersebut di atas, maka derajat
kematangan yang baik adalah jika tandan-tandan yang dipanen berada tingkat
1,2, dan 3.
Secara ideal dengan mengikuti ketentuan dan kriteria matang panen dan
terkumpulnya brondolan serta pengangkutan yang lancar, maka dalam suatu
panenan akan diperoleh komposisi tingkat tandan segar sebagai berikut.
1)

Jumlah brondolan di pabrik sekitar 25% dari berat tandan seluruhnya.

2)
Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 2 dan 3 minimal 65% dari
jumlah tandan.
3)
Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 1 maksimal 20% dari
jumlah tandan.
4)
Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 4 dan 5 maksimal 15% dari
jumlah tandan.
Untuk memperoleh tingkat kematangan tandan perlu diatur frekuensi panen
atau putaran panen di suatu kebun. Dalam keadaan yang tidak terhindarkan,
dapat saja hasil panenan dari tingkat kematangan tandan yang lebih tinggi,
sehingga komposisi tandan buah segar (TBS) dengan tingkat kematangan (3
dan 4) : 65%, mulai matang (2) : 20%, dan lewat matang (5) : 15%. Dengan
komposisi demikian akan diperoleh produksi minyak maksimum dengan biaya
minimum dan asam lemak bebas (ALB) masih berada di bawah 5%.
2.

Frekuensi panen

Untuk memperoleh keseragaman kematangan pada standar yang dikehendaki,


maka suatu areal pertanaman harus dipanen setiap hari. Karena hal seperti ini
tidak ekonomis, maka perlu diadakan putaran atau rotasi panen.
Untuk menentukan selang atau interval panen yang tepat perlu dievaluasi
kekurangan setiap panen serta kualitas dan kuantitas maksimum. Sebaiknya
memanen tidak perlu terlalu singkat dan terlalu lama untuk memperoleh

kuantitas dan kualitas hasil serta biaya panen yang optimal. Umumnya putaran
panen yang dianjurkan adalah 7-10 hari. Jika selang waktu kurang dari 7 hari,
banyak buah kurang matang; tetapi jika selang waktu lebih dari 10 hari, maka
banyak buah kelewat matang; sehingga tandan buah segar tidak merata
matangnya.
1.1

Pengolahan Hasil Panen

Hasil panen dari kebun merupakan tandan buah segar (TBS) yang harus segera
diangkut ke pabrik pengolahan untuk mendapatkan hasil minyak kelapa sawit
yang bermutu tinggi. Proses pengolahan hasil panen ini berlangsung cukup
panjang, dimulai dari pengangkutan TBS dari lahan pertanaman ke pabrik
pengolahan sampai menghasilkan minyak kelapa sawit dan hasil
sampingannya.
Hasil olahan utama TBS pada pabrik pengolahan adalah:
1)

Minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan daging buah,

2)

Minyak inti sawit yang dihasilkan dari ekstraksi inti sawit.

A.

Pengangkutan TBS ke Pabrik Pengolahan

Tandan buah segar (TBS) yang baru dipanen harus segera diangkut ke pabrik
dapat segera diolah. Buah yang tidak dapat segera diolah akan mengalami
kerusakan atau akan menghasilkan minyak dengan kadar asam lemak bebas
tinggi, sehingga sangat berpengaruh tidak baik terhadap kualitas minyak yang
dihasilkan.
Salah satu upaya untuk menghindari terbentuknya asam lemak bebas adalah
pengangkutan buah dari kebun ke pabrik harus dilakukan secepatnya dan
menggunakan alat angkut yang baik, seperti lori, traktor gandengan, atau truk.
Sebaiknya dipilih alat angkut yang besar, cepat, dan tidak terlalu banyak
membuat guncangan selama dalam perjalanan. Hal ini untuk menjaga agar
perlukaan pada buah tidak terlalu banyak.
Segera setelah sampai di pabrik, pengolahan harus secepatnya ditimbang dulu,
kemudian memasuki tahap-tahap pengelolaan selanjutnya. Tandan buah segar
yang diterima dari kebun harus ditimbang dengan cermat yang nantinya perlu
di dalam proses pengendalian mutu, rendemen hasil yang diperoleh.
TBS yang sudah diterima dari kebun dan sudah ditimbang harus secepat
mungkin masuk pengolahan tahap pertama agar gradasi mutu dapat ditekan
sekecil mungkin, yaitu tahap perebusan atau sterilisasi tanda buah.

BAB IV
KESIMPULAN

Setelah ditinjau dari pembuatan makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut.
1. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang dibudidayakan yang
memerlukan kondisi lingkungan yang baik atau cocok, agar mampu
tumbuh subur dan dapat berproduksi secara maksimal.
2. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit
antara lain keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga
mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit adalah faktor genetis,
perlakuan budidaya, dan penerapan teknolgi.
3. Untuk teknik panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah
minyak yang maksimum dengan kualitas yang paling baik.
4. Buah yang dipanen itu harus mencapai optimum kematangannya
dengan selang panen yang tepat, sesuai kriteria matangnya dan
pengangkutan hasil yang baik ke pabrik pengolahan buah sawit.
5. Rendemen minyak (RM) yang diperoleh di pabrik sangat dipengaruhi
oleh standar kematangan buah yang mana buah berubah warna dari
hitam menjadi merah oranye hingga kematangan penuh.
6. Hasil panen dari kebun merupakan tandan buah segar (TBS) yang
harus segera diangkut ke pabrik pengolahan untuk mendapatkan hasil
minyak kelapa sait yang bermutu tinggi.

Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang
sangat diunggulkan saat ini sehingga masih bisa lebih dikembangkan, melihat

dari prospek pasar dunia maupun dalam negeri. Luas areal perkebunan
kelapa sawit selalu meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data statistik
tahun 2012 luas keseluruhan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 9
271 039 ha sedangkan produksinya mencapai lebih dari 23 633 412 ton
(Ditjenbun 2012). Perkembangan produktivitas kelapa sawit di Indonesia selama
tahun 2003 sampai 2009 menunjukkan pola yang sama untuk ketiga status
pengusahaan. Produktivitas tandan buah segar (TBS) kelapa sawit Indonesia
mancapai 15 ton ha-1 tahun-1, sedangkan rata-rata produktivitas minyak kelapa
sawit Indonesia selama periode tahun 2003 sampai 2009 adalah sebesar 3.27
ton ha-1 tahun-1. Rata-rata produktivitas minyak kelapa sawit terbesar pada
perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 3.59 ton ha -1 tahun-1 disusul
perkebunan besar negara (PBN) sebesar 3.48 ton ha -1 tahun-1 dan perkebunan
rakyat (PR) sebesar 2.97 ton ha-1 tahun-1 (Fauzi et al. 2012).
Teknik budidaya yang mulai berkembang memicu minat investasi kelapa
sawit di Indonesia. Salah satu bagian dari budidaya yang paling penting adalah
pembibitan.
Pembibitan
merupakan
proses
menumbuhkan
dan
mengembangkan biji atau benih menjadi bibit yang siap untuk ditanam
(Pardamean 2008). Sasaran pembibitan ini adalah menyediakan bibit kelapa
sawit unggul dan siap ditanam di perkebunan. Selain itu, kegiatan ini
memastikan ketersediaan bibit dalam jumlah yang cukup, berkualitas, dan
tepat waktu dengan biaya yang ekonomis. Kondisi bibit unggul, baik secara
genetik maupun fenotipe merupakan modal perusahaan perkebunan kelapa
sawit untuk mendapatkan produktivitas dan mutu minyak kelapa sawit yang
tinggi (Sunarko 2007).
Kondisi bibit unggul dapat diperoleh melalui dua tahapan pembibitan, yaitu
pembibitan awal (prenursery) dan pembibitan utama (main nursery). Pada
sebagian jenis tanaman termasuk kelapa sawit, proses pembibitan diperlukan
karena dipandang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan penanaman
benih langsung dilapangan (Mangoensoekarjo dan Semangun 2005).
Tahapan pembibitan ini harus dilakukan dengan benar karena keberhasilan
penanaman kelapa sawit di lapangan sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat media
tanam dan bibit yang digunakan. Hal ini akan mempengaruhi keuntungan dan
kerugian perusahaan baik berupa dana, waktu, maupun tenaga. Inilah yang
menjadi alasan pentingnya peranan pembibitan dalam keberhasilan
perkebunan kelapa sawit.

TINJAUAN PUSTAKA
Bibit Tanaman Kelapa Sawit
Varietas Bibit Kelapa Sawit
Bahan tanam yang banyak digunakan sebagai bibit kelapa sawit adalah
benih. Pada umumnya benih yang akan ditanam berasal dari persilangan
tanaman induk dura x pisifera (D x P) yang disebut tenera. Pahan (2011)
menjelaskan bahwa tanaman induk dura berasal dari pohon kelapa sawit yang
ditanam di Kebun Raya Bogor (1848) dan tanaman induk pisifera berasal dari
berbagai sumber di Afrika. Perbedaan varietas tanaman dura, pisifera, dan
tenera berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1 Deskripsi varietas kelapa sawit dura, pisifera, dan tenera


Varietas

Deskripsi

Dura

Tempurung tebal (2 8 mm).


Daging buah relatif tipis, yaitu 35 50%
terhadap buah. Kernel besar kandungan minyak
rendah.

Dalam persilangan, dipakai sebagai pohon


induk betina.

Pisifera

Ketebalan tempurung sangat tipis.

Daging buah tebal, lebih tebal dari daging


buah dura. Daging biji sangat tipis.

Tidak dapat diperbanyak tanpa dengan jenis


lain.

Tenera

Hasil dari persilangan dura dan pisifera. Ketebalan


empurung tipis (0.5 4 mm).

Daging buah sangat tebal (60 96% dari buah).


Tandan buah lebih banyak.
Sumber: Fauzi et al. (2012)
Bibit kelapa sawit dapat juga dikembangkan dengan metode kultur jaringan
(tissuee culture). Metode ini menghasilkan benih secara massal. Teknologi
kultur jaringan merupakan satu cara untuk mendapatkan klon kelapa sawit
dengan perlakuan khusus dari bahan biakan berupa jaringan muda. Jaringan
muda yang digunakan sebagai bahan perbanyakan (eksplan) tanaman kelapa
sawit adalah daun muda (janur) atau ujung akar (Fauzi et al. 2012).

Morfologi Bibit Kelapa Sawit


Benih yang telah berkecambah sempurna dapat dilihat setelah
kecambah berumur kira-kira 14 sampai 21 hari. Benih yang telah berkecambah
sempurna memiliki plumula (bakal daun) dan radikula (bakal akar). Bentuk
plumula meruncing sedangkan bentuk radikula agak tumpul dan saling bertolak
belakang. Pertumbuhan bibit pada minggu-minggu pertama sangat tergantung
pada cadangan makanan di dalam endosperma (minyak inti). Daun pertama,
kedua bahkan ketiga masih berbentuk tabung dan belum mempunyai helaian.
Daun selanjutnya mulai membentuk helaian yang lanceolate (secara
konvensional disebut daun pertama). Daun-daun selanjutnya mempunyai
helaian yang lanceolate, bifid, dan akhirnya baru secara lengkap menjadi
pinnate (Pahan 2012).

Pengecambahan Kelapa Sawit


Pengecambahan Bibit Kelapa Sawit
Menurut Sunarko (2007), benih kalapa sawit untuk calon bibit harus
dihasilkan dan dikecambahkan oleh lembaga resmi yang ditunjuk oleh
pemerintah. Proses pengecambahan umumnya dilakukan sebagai berikut.
1.

Tangkai tanda buah dilepaskan dari spikeletnya.

2.

Tandan buah diperam selama tiga hari dan sekali-kali disiram air. Pisahkan
buah dari tandannya dan peram lagi selama tiga hari.
3.
Buah dimasukkan ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dari
biji. Biji dicuci dengan air, lalu direndam dalam air selama 6 sampai 7 hari. Air
rendaman diganti setiap hari. Selanjutnya biji tadi direndam dalam Dithane M45 konsentrasi 0.2% selama 2 menit, lalu dikering anginkan.
4.
Biji kelapa sawit dimasukkan dalam kaleng pengecambahan dan disimpan
dalam ruangan bertemperatur 390 C dengan kelembapan 60 - 70% selama 60
hari. Setiap tujuh hari, benih dikering anginkan selama tiga menit.
5.
Setelah 60 hari, benih direndam dalam air sampai kadar air 20 - 30% dan
dikering anginkan lagi. Benih dimasukkan kedalam larutan Dithane M-45 0.2%
selama 1 - 2 menit. Kemudian disimpan di ruangan bertemperatur 27 0 C.
Setelah 10 hari, benih berkecambah. Biji yang berkecambah pada hari ke-30
tidak digunakan lagi.

Seleksi Kecambah Kelapa Sawit


Sebelum ditanam ke polybag, seleksi kecambah yang abnormal, patah,
busuk, dan rusak. Cara yang mudah dan cepat untuk menentukan kualitas
kecambah yang baru diterima salah satunya dengan uji berat jenis. Caranya
seluruh kecambah dimasukkan ke dalam wadah berisi air jernih. Kecambah
yang abnormal biasanya mengambang (Lubis dan Widanarko 2011).
Menurut Tim Bina Karya Tani (2009), ciri-ciri kecambah yang baik dan layak
untuk ditanam antara lain:
a.

Warna radikula kekuning-kuningan, sedangkan warna plumula keputihputihan.


b.
Ukuran radikula lebih panjang daripada plumula.
c.
Pertumbuhan radikula dan plumula lurus dan berlawanan arah.
d.
Panjang maksimum radikula 5 cm, sedangkan panjang plumula 3 cm.

Persiapan Pembibitan
Sistem Pembibitan
Sistem pembibitan kelapa sawit meliputi perkecambahan, persemaian, dan
pembibitan. Metode persemaian dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
persemaian dalam bentuk bedengan dan persemaian dengan polybag
(Tim Bina Karya Tani 2009).

Sistem pembibitan kelapa sawit menggunakan polybag dapat dilakukan


dengan dua cara, yaitu pembibitan dua tahap (prenursery dan main nursery)
dan pembibitan cara satu tahap (Setyamidjaja 2006).

Lokasi Pembibitan
Menurut Hartanto (2011), menyebutkan bahwa lokasi pembibitan perlu
memperhatikan beberapa persyaratan antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Areal memiliki topografi yang rata (kurang dari 15%) dan berada ditengah
kebun.
Dekat dengan sumber air.
Memiliki akses jalan yang baik sehingga memudahkan dalam pengawasan.
Untuk 1 ha pembibitan diperlukan jalan pengawasan sepanjang 200 m x 5 m.
Terhindar dari gangguan hama, penyakit, ternak, dan manusia.
Tidak jauh dari areal yang akan ditanami.
Tidak terlalu jauh dengan sumber tanah (top soil) untuk mengisi polybag.

Persiapan Areal pembibitan


Menurut Pahan (2012), persiapan areal dan program pembibitan dapat
dibagi menjadi 3 bagian utama antara lain :
1.

Pembersihan tapak pembibitan : Tapak harus dibersihkan dari semak belukar


selebar 50 m. Luas tapak pembibitan tergantung pada rencana penanaman di
lapangan, jarak tanam bibit, dan umur bibit yang akan ditanam.
2.
Tata letak dan jadwal operasional persemaian : Areal persemaian harus satu
kompleks dengan pembibitan utama, tetapi harus di luar jangkauan siraman
sprinkler atau sistem irigasi lain di pembibitan utama. Kegiatan pembangunan
dan perawatan persemaian meliputi membangun bedengan dan naungan,
membangun gudang, memasang sistem instalasi air, mengisi dan menyusun
polybag di bedengan, menanam kecambah, perawatan semai.
3.
Persiapan rencana tata letak dan jadwal operasional pembibitan utama :
Program operasional pembibitan direncanakan dengan mempertimbangakan
beberapa faktor yang harus diperhatikan meliputi pemilihan sistem irigasi yang
akan dipakai, tata letak dari sistem irigasi yang dipilih, jarak tanam bibit, lebar
jalan dalam hubungannya dengan populasi bibit per petak.

Kebutuhan Kecambah
Kebutuhan kecambah adalah 140% dari jumlah bibit yang akan ditanam
meliputi seleksi kecambah 2.5%, seleksi di prenursery 10%, seleksi di main
nursery 15%, cadangan penyisipan 5% sehingga kebutuhan kecambah yang
diperlukan untuk pembibitan adalah 1.40 x jumlah pohon ha-1 (Hartanto 2011).

Penyiapan Polybag dan Media Tanam


Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas
baik misalnya tanah bagian atas (top soil). Tanah yang digunakan harus
memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama dan
penyakit, pelarut, residu, bahan kimia). Pada tahap pembibitan pendahuluan
polybag yang digunakan berwarna putih atau hitam dengan ukuran panjang 22
cm, lebar 14 cm, dan tebal 0.07 mm. Disetiap polybag dibuat lubang
berdiameter 0.3 cm sebanyak 12 samapi 20 lubang. Pada tahap pembibitan
utama digunakan polybag warna hitam dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 37
sampai 40 cm dan tebal 0.2 mm. Pada setiap polybag dibuat lubang diameter
0.5 cm sebanyak 12 buah pada ketinggian 10 cm dari bawah polybag (PPKS
2003).

Pembibitan Awal (Prenursery)


Bedengan. Bedengan dibuat dengan cara meninggikan permukaan tanah
atau membuat parit drainase pembatas selebar 50 cm dan dalam 15-20 cm
sehingga terbentuk bedengan berukuran lebar yang dapat memuat 12 polybag
dan panjang 10 sampai 12 m (Syakir et al. 2010).
Naungan. Naungan di pembibitan awal berfungsi untuk mencegah bibit
kelapa sawit terhadap sinar matahari secara langsung, menghindari
terbongkarnya tanah di polybag akibat terpaan air hujan. Dalam pembuatan

naungan perlu diatur intensitas penerimaan cahaya matahari yang masuk.


Persentase penaungan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Pengaturan naungan di prenursery


Umur (bulan)

Naungan (%)

0 - 1.5

100

1.5 - 2.5
> 2.5

50
Naungan dihilangkan secara
bertahap

Sumber: PPKS (2003)


Penanaman Kecambah. Dua hari menjelang penanaman kecambah,
polybag yang berisi media tanam harus disiram. Permukaan media tanamnya
digemburkan dengan jari telunjuk atau ibu jari, lalu dibuat lubang untuk
meletakkan kecambah. Ketika menanam, radikula harus mengarah ke bawah
dan plumula mengarah ke atas. Kecambah diletakkan sedalam 2 cm di bawah
permukaan tanah, kemudian tanahnya diratakan kembali hingga menutup
kecambah tersebut (Sunarko 2007).

Pembibitan Utama (Main Nursery)


Persiapan dan Pengolahan Tanah. Persiapan dilakukan dengan
meratakan areal menggunakan buldozer. Tanah dikikis setebal 10 cm
dikumpulkan ke bagian tepi areal. Tanah hasil kikisan dapat digunakan sebagai
media tanam (PPKS 2003).
Instalasi Penyiraman. Faktor yang sangat penting untuk menjamin
keberhasilan pembibitan adalah kemampuan menyediakan air untuk bibit
dalam jumlah yang cukup dengan jaringan irigasi yang baik. Sistem penyiraman
dengan sprinkler dianjurkan pada areal dengan ketersediaan air yang
cukup.untuk menjamin distribusi air yang merata diperlukan juga pompa air

yang baik. Selain itu, penataan sprinkler yang baik sangat diperlukan guna
memenuhi kebutuhan penyiraman (PPKS 2003).
Pemancangan. Pola tanam yang digunakan adalah pola tanam segitiga
sama sisi misal dengan jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90 cm. Jumlah bibit yang
diperlukan tergantung pada jarak tanam yang digunakan (PPKS 2003).
Pengisian Tanah ke Polybag. Tanah yang digunakan untuk pengisian
polybag diusahakan tanah yang kering untuk memudahkan pengayakan.
Pengisian tanah dilakukan sampai 3 cm dari permukaan polybag. Rata-rata
bobot tanah untuk setiap polybag 20 kg. Setelah pengisian, media perlu
disiram setiap hari selama 7 sampai 10 hari sebelum penanaman (PPKS 2003).
Pembuatan Lubang pada Polybag. Media tanam perlu disiram air
sampai jenuh sehari sebelumnya, lubang tanam dibuat ditengah polybag
dengan kedalaman disesuaikan dengan ukuran polybag kecil. Pada setiap
lubang diberi pupuk NPKMg 15:15:6:4 sebanyak 5 g (PPKS 2003).

Penanaman Bibit. Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam setelah kantong


polybag kecil dibuang. Tanah disekeliling lubang ditekan padat merata,
selanjutnya dilakukan penambahan tanah sampai sebatas leher akar.
Penanaman bibit harus terorganisasi dengan baik, setiap jenis persilangan
ditanam mengelompok. Jenis persilangan satu sama lain harus diberi tanda
yang jelas dan diberi papan nama dilapangan (PPKS 2003).

Pemeliharaan Pembibitan
Menurut Pahan (2012), pemeliharaan pembibitan merupakan faktor utama
yang menentukan keberhasilan program pembibitan. Tanpa pemeliharaan yang
baik, bibit yang unggul sekali pun tidak akan bisa mengekspresikan keunggulan
dan semuanya akan sia-sia.

Pemeliharaan Prenursery
Persemaian
merupakan
periode
kritis.
Kecerobohan
dalam
pemeliharaan penyemaian dapat menyebabkan kecambah mati (tidak tumbuh).

a.

b.

c.

d.

e.

f.

Penyiraman: Penyiraman dilakukan secara manual, disiram dua kali sehari


pagi dan sore. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor
(Pahan
2012).
Penyiangan Gulma: Penyiangan gulma dalam polybag dilakukan dua minggu
sekali, termasuk menambah tanah ke kantong bibit yang miring dan tersembul
akarnya (Pahan 2012).
Pemupukan: Pemberian pupuk majemuk dan urea dalam bentuk larutan
dilakukan setelah semai berumur 1 bulan dengan interval waktu setiap minggu
dengan dosis 50 cc larutan 0.2% urea pada minggu 1 dan 3, 50 cc larutan 0.2%
NPK 15:15:6:4 pada minggu 2 dan 4. Aplikasi pupuk NPK coated yang
controlled-release seperti Meister MX 20 6 14 + 3 Mg + TE sebanyak
5 g/semai dapat memecahkan masalah karena cukup diberikan sekali pada saat
tanam kecambah dan sekali pada saat alih tanam ke pembibitan utama
(Pahan 2012).
Hama dan Penyakit: Serangan hama dan penyakit selama di prenursery
umumnya belum ada. Jika ada, dapat diberantas dengan hand picking (diambil
menggunakan tangan) (Sunarko 2007).
Seleksi Semai: Bibit yang tumbuh abnormal (kerdil, daun tegak kaku,
memanjang, atau daun tidak berkembang baik), patah, busuk, atau terserang
penyakit dicabut dan dimusnahkan. Seleksi dilakukan dua kali yaitu pada umur
sekitar 1.5 bulan dan pada saat pemindahan ke pembibitan utama (Syakir et al.
2010).
Pemindahan dan Pengangkutan Bibit: Pemindahan bibit dari pembibitan awal
dilakukan pada saat bibit berumur 2.5 sampai 3 bulan dengan jumlah daun 3
sampai 4 daun. bila areal pembibitan awal berdekatan dengan pembibitan
utama maka bibit yang akan ditanam dapat diangkut menggunakan kotak kayu
dengan ukuran 70 cm x 50 cm x 20 cm (PPKS 2003).

Pemeliharaan Main Nursery


Menurut Pahan (2012), pemeliharaan pembibitan utama (main nursery)
merupakan
kelanjutan
dari
pemeliharaan
penyemaian
(prenursery).
Pemeliharaan pembibitan utama harus tetap dilakukan dengan hati-hati.
Perawatan yang baik akan meningkatkan vigor bibit yang nantinya akan
berdampak pada peningkatan produksi pada tahun pertama menghasilkan.
a.

Pengisian dan Penyusunan Polybag: Tempat yang digunakan untuk


pembibitan utama adalah kantong plastik polythene hitam tahan sinar ultra
violet dengan ukuran 42.5 cm 50 cm. Kantong diisi sekitar 20 kg tanah

b.

c.

d.

e.

f.

lapisan atas (top soil) yang telah dicampur pupuk kandang dengan
perbandingan 3 : 1 sampai setinggi sekitar 1 cm dari bibit kantong. Kantong
disusun di areal pembibitan yang telah dibersihkan dengan jarak tanam
90
cm 90 cm 90 cm berbentuk segi tiga sama sisi diukur dari pusat kantong
(Pahan 2012).
Transplanting: Pemindahan semai ke kantong besar dilakukan pada umur 3
sampai 4 bulan. Sebelum diecer ke dekat kantong besar, semai disiram terlebih
dahulu. Kantong plastik semai dipotong (dikoyak) pada bagian dasarnya dan
dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat dalam kantong besar. Tanah di
sekitar semai dipadatkan dengan jari sehingga permukaan tanah antara semai
harus rata dengan tanah dalam kantong besar (Pahan 2012).
Penyiraman: Rata-rata kebutuhan air di pembibitan setara dengan curah
hujan 3.4 mm hari-1 (2.25 liter per polybag). Penyiraman tidak perlu dilakukan
jika turun hujan pada hari tersebut dengan curahan minimum 8 mm (Pahan
2102).
Mulching: Untuk menghindari memadatnya permukaan tanah, mencegah
penguapan air, dan mengatur kelembaban tanah pada musim kemarau,
permukaan tanah harus ditutup dengan mulsa. Mulsa yang digunakan bisa
berupa cangkang biji sawit (limbah pabrik) sebayak 1 kg polibag -1 atau cacahan
daun alang-alang dan sejenisnya (Sunarko 2007).
Pengendalian Gulma: Dilakukan satu bulan sesudah penanaman di
pembibitan utama dan dilakukan terus-menerus sampai bibit berumur 11 bulan
karena pertumbuhan gulma sudah tertekan oleh pengaruh naungan bibit.
Pengendalian gulma secara manual dilakukan dua rotasi per bulan. Pada
umumya pengendalian gulma di pembibitan utama dilakukan di dalam kantong
dan diantara kantong (Pahan 2012).
Pemupukan: Pada umumnya pemupukan bibit kelapa sawit dilakukan
menggunakan pupuk majemuk NPKMg. Penambahan unsur lain dilakukan jika
terdapat gejala defisiensi. Jenis pupuk yang dipakai ialah jenis pupuk majemuk
NPKMg 15:15:6:4 sampai umur 5 bulan dan selanjutnya dipakai pupuk
majemuk NPKMg 12:12:17:2. Jadwal dan dosis pemupukan dapat dilihat pada
Tabel 3 (PPKS 2003).

Tabel 3 Rekomendasi pemupukan bibit kelapa sawit


Jenis dan Dosis Pupuk
Umur
(minggu)

Urea

15:15:6:4

12:12:7:2

Kieserite

(g/bibit)

(g/bibit)

(g/bibit)

2.5

Pembibitan awal :
4 12

2 g/liter
air/100
bibit

Pembibitan utama :
14 dan 15

2.5

15 dan 16

5.0

17 dan 18

7.5

20 dan 22

10.0

24, 26, 30, 32

10.0

5.0 (pada
MST)

26,

32

34, 36, 38, 40

15.0

7.5 (pada
MST)

36,

40

42, 44, 46, 48

20.0

10.0
MST)

50 dan 52

25.0

10.0 (pada 52 MST)

(pada

44,48

Sumber : PPKS (2003)

g.

Pengendalian Hama dan Penyakit: Tindakan preventif untuk mengendalikan


hama dan penyakit di pembibitan kelapa sawit umumnya tidak dianjurkan
sehingga sangat penting untuk mengetahui hama dan penyakit umum di
pembibitan (Pahan 2012).
h.
Seleksi Bibit: Seleksi bibit di pembibitan utama merupakan pekerjaan untuk
menyingkirkan atau memusnahkan bibit yang abnormal dan mempertahankan
bibit yang bermutu baik dan sehat untuk dialihtanamkan ke lapangan.

Persentase seleksi dari persemaian sampai dengan ditanam di lapangan


tergantung dari jenis bibit dan rekomendasi dari institusi penghasil benihnya.
Jadwal seleksi di pembibitan utama harus tepat dan umumnya dilakukan 3
sampai 4 kali. Semakin ketat seleksi yang dilakukan, mutu bibit yang dihasilkan
juga akan semakin baik. Jadwal seleksi dan umur tanaman dilakukan sebagai
berikut.
Seleksi I : umur 3 sampai 4 bulan (saat alih-tanam).
Seleksi II : umur 6 bulan.
Seleksi III : umur 8 bulan.
Seleksi IV : saat akan dialihtanamkan ke lapangan (Pahan 2012).

PEMBIBITAN UTAMA KELAPA SAWIT


Pembibitan utama merupakan tahap kedua dari sistem pembibitan dua tahap.
Pada tahap ini bibit dipelihara dari umur 3 bulan hingga 12 bulan. Pelaksanaan
pembibitan utama dan kualitas bibit yang dihasilkan sangat menentukan
keberhasilan rencana penanaman di lapangan dan capaian tingkat produksi
dikemudian hari. Tahapan kegiatan pembibitan utama meliputi:
1) Persiapan dan pengolahan tanah, dilakukan dengan meratakan areal
menggunakan builldozer. Tanah dikikis setebal 10 cm dikumpulkan ke bagian
tepi areal. Tanah hasil kikisan dapat digunakan sebagai media tanam, prosedur
pembukaan areal pembibitan sama seperti prosedur pembukaan areal untuk
pertanaman kelapa sawit.
2) Kebutuhan air dan instalasi penyiraman, faktor yang sangat penting untuk
menjamin keberhasilan pembibitan adalah kemampuan menyediakan air untuk
bibit dalam jumlah yang cukup dengan jaringan irigasi yang baik. Kebutuhan air
di pembibitan bertambah sejalan dengan pertambahan umur bibit. Di
pembibitan utama, bibit akan tumbuh secara normal bila kebutuhan airnya
terpenuhi, yaitu sebesar 12,5 mm (ekivalen hujan) setiap 2 hari. Volume air
yang diberikan dengan sistem sprinkler di pembibitan utama harus memenuhi
kebutuhan tersebut. Sistem penyiraman dengan sprinkler dianjurkan pada areal
dengan ketersediaan sumber air yang cukup. Pada sumber air yang terbatas,
penyiraman dianjurkan menggunakan pipa dan selang plastik yang dilengkapi
dengan kepala gembor. Sistem ini dapat menghemat pemakaian air sesuai
kebutuhan bibit di dalam polybag.
3) Pemasangan pipa untuk penyiraman sistem gembor, pipa primer dipasang di
tengah-tengah yaitu di pinggir jalan utama ( 6 inch), dari pipa primer ini

dibuat cabang-cabang dengan pipa ukuran 2 inch, kemudian dari pipa 2


inch dibuat cabang lagi dengan ukuran 1 inch. Dari ujung pipa ini dibuat kran
yang disambung dengan slang plastik yang panjangnya 25 m dan pada ujung
selang diberi kepala gembor untuk penyiraman.
4) Penyiraman dengan sprinkler, terdiri dari beberapa komponen utama
meliputi jaringan pipa (pipa induk, pipa utama dan pipa distribusi), nozzle
sprinkler dan pompa air. Penyiraman dengan sistem sprinkler memiliki
beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari sistem sprinkler adalah
distribusi air yang merata pada setiap bibit dan biaya operasional penyiraman
lebih murah. Sedangkan kekurangannya dilihat dari mahalnya biaya investasi,
kebutuhan air lebih banyak dan memungkinkan terjadinya penggenangan di
areal pembibitan bila sistem drainasenya kurang berfungsi.
5) Pemancangan, dilaksanakan bila pembuatan jaringan pipa penyiraman telah
selesai. Pola tanam yang digunakan adalah pola tanam segitiga sama sisi
dengan jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90 cm. Jarak antar barisan di pembibitan
adalah 0,867 x 90 cm = 77,9 cm ~ 78 cm. Pemancangan dapat menggunakan
metode empat persegi panjang dengan sisi 90 cm x 156 cm. Empat titik sudut
empat persegi panjang dan titik temu diagonalnya adalah titik tanam.
6) Pengisian tanah ke polybag, tanah yang digunakan untuk pengisian p[olybag
diusahakan tanah yang kering. Hal ini bertujuan untuk mempermudah proses
pengayakan. Pengisian tanah dilakukan sampai 3 cm dari permukaan polybag.
Rata-rata bobot tanah untuk setiap polybag 20 kg. Setelah pengisian tanah,
media perlu disiram setiap hari selama 7 - 10 hari sebelum penanaman.
Pemilihan jenis tanah sebagai media tanam merupakan faktor penentu untuk
keberhasilan pembibitan. Tanah yang berasal dari lokasi dengan tingkat
kesuburan yang baik akan sangat membantu pertumbuhan vegetatif bibit.
7) Pembuatan lubang pada polybag, untuk mempercepat dan mempermudah
pembuatan lubang pada media tanam di polybag perlu dibantu dengan alat
khusus seperti sekop kiecil, tugal, bor dan tanah. Kedalaman lubang
disesuaikan dengan ukuran polybag kecil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
saat persiapan transplanting adalah :
- Media tanam pada polybag perlu disiram air sampai jenuh sehari sebelumnya
untuk mempermudah pembuatan lubang;
- Pembuatan lubang dengan alat tanam diusahakan pada bagian tengah
permukaan tanah polybag, agar pertumbuhan akar tanaman merata.
- Pada setiap lubang diberi pupuk NPKMg (15-16-6-4) sebanyak 5 gram.
8) Penanaman bibit, kelancaran penanaman bibit ke main nursery bergantung
pada kecepatan membuat lubang tanaman di pembibitan utama, kecepatan
mengangkut bibit dari pembibitan awal ke pembibitan utama dan kecepatan
serta ketrampilan menanam bibit. Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam

setelah kantong polybag kecil dibuang. Tanah di sekeliling lubang ditekan


hingga padat merata, selanjutnya dilakukan penambahan tanah sampai sebatas
leher akar. Bagian atas kantong plastik setinggi 2-3 cm dibiarkan kosong
sebagai tempat meletakkan pupuk, air ataupun mulsa pada saat diperlukan.
9) Pemeliharaan pembibitan utama meliputi penyiraman, penyiangan,
pemberian mulsa, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit.
Kebutuhan air di pembibitan utama 2 ltr/hari/polybag, disiram 2x sehari pagi
dan sore hari. Penyiraman dilakukan dengan selang berkepala gembor atau
sprinkler, bila curah hujan >8 mm tidak dilakukan penyiraman. Penyiangan
dilakukan di sekitar dan di dalam polybag dengan tujuan membersihkan
pembibitan dari vegetasi selain bibit kelapa sawit dan mencegah terbentuknya
lapisan kedap air di permukaan tanah yang dapat menurunkan kemampuan
menerima air siraman. Pemberian mulsa dilakukan untuk mengurangi
penguapan air maupun pupuk, diberikan dalam bentuk sisa tanaman atau
cangkang sawit disekeliling bibit pada saat berumur 2 bulan dengan ketebalan
1-2 cm. Pemupukan menggunakan pupuk majemuk NPKMg (15-15-6-4) sampai
umur 5 bulan dan selanjutnya dipakai pupuk majemuk (12-12-17-2),
penambahan unsur lain jika terdapat gejala defisiensi. Beberapa hama umum
yang dijumpai adalah Kumbang Apogonia, belalang dan ulat api, keong dan
tikus. Pengendalian kumbang Apogonia, belalang dan ulat api dilakukan dengan
menyemprotkan Sevin 0,15% (1,5 g bahan aktif/liter air) ketanaman dengan
interval 10 hari sekali hingga hama menghilang. Pengendalian tikus dengan
racun tikus sedangkan keong secara manual atau menggunakan racun.
Sedangkan penyakit yang dijumpai adalah penyakit daun Anthracnosa dan
Culvularia. Pengendalian Curvularia dilakukan melalui penyemprotan fungisida
Kaptafol 0,2% dengan rotasi 2 minggu. Kegiatan pengendalian tidak
menggunakan fungisida yang mengandung tembaga (copper), air raksa
(mercury) dan timah.
10) Seleksi bibit, dilaksanakan bertahap pada umur bibit 4 bulan, 8 bulan dan
saat akan dipindahkan ke lapangan(12 bulan), karena munculnya gejala
bibittidak normal sejalan dengan bertambahnya umur. Beberapa faktor yang
dapat memperbesar bibit tidak normal antara lain: kesalahan menanam saat
pindah tanam dari pembibitan awal ke pembibitan utama, terlalu cepat
sehingga terjadi scorching atau terlambat sehingga terjadi penumbuhan
meninggi (etiolasi), penyiraman kurang merata, terlalu deras atau air tidak
cukup, kesalahan pemberian pupuk, herbisida atau pemakaian obat-obatan
serta jarak tanam terlalu rapat.
11) Persiapan bibit untuk penanaman, umur 10-12 bulan bibit siap untuk
dipindahkan ke lapangan, pada 15 - 20 hari sebelum diangkut dilakukan
pemutusan akar-akar bibit yang menembus polybag dan untuk menjaga kondisi

agar tetap baik perlu dilakukan penyiraman yang intensif. Bibit dikelompokkan
berdasarkan persilangan, diatur sesuai dengan kapasitas angkut mobil. Bibit
diangkut tegak lurus dengan dipegang bagian polybag, bukan bagian daun atau
batang untuk menghindari pecahnya tanah dalam polybag dan rusaknya
polybag sebelum ditanam. Sebelum diangkut disiram dengan air sebanyakbanyaknya menghindari kekeringan jika beberapa hari setelah ditanam tidak
turun hujan.
Disusun kembali oleh : Siti Hafsah Husas
Sumber : Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Kelapa Sawit, Departemen
Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta, 2006
Langkah Langkah Pembibitan Kelapa Sawit

Langkah I

Tujuan Pembibitan Kelapa Sawit adalah untuk menghasilkan bibit kelapa sawit yang
berkwalitas tinggi yang harus tersedia sesuai dengan kebutuhan tahapan penanaman
oleh kebun itu sendiri, ataupun untuk dijual kembali.
PENENTUAN LOKASI BIBITAN :
Faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan lokasi pembibitan:
1. Ketersediaan air yang bermutu baik dan bersih dengan pH minimum 4 yang
cukup untuk mengairi minimal 80.000 liter/ha/hari (sesuai dengan jumlah bibit
yang ada).
2. Lokasi diusahakan datar, berdrainase baik dan tidak terkena banjir.
3. Tersedia Top Soil (lapisan atas tanah/humus) dalam jumlah yang cukup untuk
pengisian polybag.
4. Aman dari segala gangguan termasuk pohon tinggi di sekitar lokasi pembibitan.
PENENTUAN LUAS BIBITAN:
Umur bibit siap tanam yang optimum adalah 11 s/d 13 bulan. Sedangkan jarak antara
polybag pada Main Nursery harus 90 cm, dengan bentuk segitiga sama sisi, sehingga
luas 1 Ha bibitan dapat menampung lebih kurang 12.000 bibit.
PERSIAPAN LAHAN DAN PELAKSANAAN PEMBIBITAN :
Lahan bibitan harus sudah dalam kondisi bersih lengkap dengan instalasi air dan
jaringan jalan sebelum penanaman kecambah dimulai, dan untuk Perusahaan Besar

biasanya pembibitan dilakukan dengan 2 tahapan, dan untuk kebun pribadi lebih sering
melakukan satu tahapan saja (untuk hemat cost/biaya). Tetapi pembahasan kita kali ini
menggunakan 2 tahapan yaitu Pre Nursery dan Main Nursery.
Sistem Irigasi
Tujuan penerapan sistem irigasi yang tepat adalah untuk memastikan bahwa masingmasing polybag bibit dilapangan memperoleh air yang cukup setiap hari untuk
mendapatkan pertumbuhan yang optimal.
Penyiraman bibit menggunakan sistem pengairan berkabut (mist irrigation), dengan
demikian air yang digunakan juga harus bermutu baik dan bersih dengan pH air
minimum 4.
Ukuran Mesin dan Pompa Air
Kapasitas mesin dan pompa air yang digunakan dengan sistem Mist Irrigation
(pengairan berkabut) dan menggunakan Sumizansui sesuai dengan kondisi di
lapangan, dan dapat dilihat dalam tabel berikut :
Luas Plot
Bibitan

Ukuran Pompa

Ukuran Mesin

s/d 15 Ha

270 USGM @ 150 FT 20 HP @ 1.250 RPM


Head

>15 s/d 25 Ha

540 USGM @ 150 FT 35 HP @ 1.300 RPM


Head

Demikian belajar kita tentang persiapan pembibitan, dan saya akan melajutkan dengan bahan
PRE NURSERY di PEMBIBITAN KELAPA SAWIT (Kedua)
Langkah II

PRE NURSERY
Tujuan Pre Nursery adalah memberikan waktu lebih longgar untuk membuat persiapan
areal bibitan dan mempersempit tempat pemeliharaan bibit selama 3 bulan pertama
(pada saat bibit memilii 4-5 helai daun) untuk memudahkan pemeliharaan yang optimal.
Ukuran Polybag
Ukuran polybag kecil (babybag) adalah 0,075 mm x 15 cm x 23 cm lay flat (setelah diisi
akan berdiameter +/- 10 cm dan tinggi +/- 17,5 cm) berwarna hitam dengan dua baris
lubang perforasi berjarak 5 cm x 5 cm. Letak lubang dimulai dari tengah kantong plastik
bagian bawah.
Media Tanam
Media tanam menggunakan top soil (kedalaman 20-30 cm) tanah mineral dengan
tekstur lempung, kecuali di areal gambut dapat menggunakan tanah gambut. Media
tanah tersebut sebaiknya diayak (disaring) memakai saringan 1 cm x 1 cm untuk
mencegah masuknya gumpalan-gumpalan tanah, serta bersih dari sampah dan kotoran

lainnya. Media tanam harus dicampur dengan 50 kg pupuk Rock Posphate (RP) +/- 2
m3 tanah (+/- 1.000 polybag kecil).
Pengisian Polybag
Cara pengisian polybag kecil :
1. Empat minggu sebelum penanaman kecambah, polybag harus sudah diisi tanah
dalam jumlah cukup.
2. Guncang polybag pada waktu pengisian untuk memadatkan tanah dan diisi
sampai mencapai ketinggian 1 cm dari bibir polybag (hampir penuh).
3. Polybag disiram air setiap hari sampai tanah jenuh sebelum dilakukan
penanaman dan isi kembali dengan tanah bila diperlukan.
Penempatan dan Penyusunan Polybag
1. Persiapkan bedengan dengan lebar 120 cm dan panjang yang disesuaikan
dengan kondisi areal (10-15 m), jarak antar bedengan 70 cm. Tanah bedengan
ditinggikan +/- 6 cm dengan mengikis tanah dari daerah antar bedengan,
sehingga air tidak akan tergenang di bedengan. Dipasang papan lebar 10 cm
atau bambu disepanjang pinggir bedengan, untuk menahan agar polybag tidak
tumbang.
2. Polybag disusun secara rapat pada bedengan. Dalam satu bedengan areal pre
nursery dapat disusun sebanyak 1.200 s/d 1.800 polybag kecil.
Sementara dah dulu, akan kita lanjutkan tetap di Pre Nursery tetapi dengan sub topick
yang lebih seru lagi.
Langkah III

Perlakuan Terhadap Kecambah


Pada waktu penerimaan, peti harus diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar
matahari langsung, dibuka dan tiap-tiap kantong harus diperiksa. Setiap kantong
kecambah harus dibiarkan terbuka selama beberapa menit untuk memungkinkan
terjadinya pergantian udara. Kecambah harus segera ditanam pada hari diterima. Pada
waktu akan dilakukan penanaman, kecambah harus diperiksa dan dipisahkan yang
abnormal dan double tone (kembar).
Kriteria kecambah abnormal:
1. Belum jelas radicula (berwarna putih) dan atau plumula (berwarna kuning)
2. Radicula atau plumula yang busuk

3. Radicula atau plumula searah


4. Adanya pertumbuhan jamur
5. Bentuk yang tidak normal atau rusak.
Embrio yang sedang berkembang masih terlampau lemah dan harus
diperlakukan dengan hati-hati. Kecambah harus selalu berada pada tempat yang
terlindung sejak diterima sampai selesai tanam. Apabila plumula kembar, maka
yang lemah harus dibuang dan kecambah ditanam seperti biasa.
Penanaman Kecambah
Prosedur yang dilakukan :
1. Siram tanah di polybag sampai jenuh sebelum kecambah ditanam
2. Kantong plastik kecambah dibuka dengan hati-hati dan letakkan
kecambah di baki yang beralaskan karung yang basah yang telah
direndam air dalam larutan fungisida Thiram dengan konsentrasi 0,2 %.
3. Kemudian kecambah diseleksi dan dihitung
4. Penanaman kecambah harus memperhatikan posisi radicula yang akan
diposisikan arak kebawah dan plumula yang akan diposisikan ke atas.
5. Kecambah ditanam dengan kedalaman sekitar 2 cm dibawah permukaan
tanah polybag. Hindarkan penanaman kecambah yang terlalu dalam atau
terbalik.
6. Polybag disiram sampai jenuh setelah penanaman kecambah
7. Pemberian naungan disesuaikan dengan iklim setempat.
Naungan
Pada tahap awal bibit dapat diletakkan dibawah naungan, setelah dua daun
keluar naungan dapat dikurangi sebesar 50 % dan setelah daun ketiga keluar
naungan harus sudah dihilangkan. Luas naungan minimal sebesar luas
bedengan dengna tinggi naungan lebih kurang 2 m. Kini banyak perusahaan
besar tidak lagi menggunakan naungan sebagai standard yang baku.
Penyiraman
8. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari selama 30 menit atau
setara dengan 6 mm curah hujan untuk setiap penyiraman.

9. Bila malam harinya ada curah hujan > 10 mm, tidak perlu penyiraman
pada keesokan pagi harinya, dan penyiraman sore harinya bergantung
pada kelembaban tanah di polybag.
10. Bila pagi hari turun hujan > 10 mm, maka tidak perlu penyiraman pagi dan
sore.
11. Bila ada genangan air yang bertahan di polybag setelah penyiraman,
maka buat tambahan lubang polybag dengan cara menusuknya
menggunakan tusuk bambu berdiameter 5 mm.
Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma di dalam polybag dan diluar polybag dilakukan secara
manual (mencabut) dan tidak boleh menggunakan herbisida, karena pada saat
bibit di Pre Nursery (3 bulanan) bibit sangat rentan terhadap bahan kimiawi
utamanya herbisida.
Seleksi
Seleksi bibit dilakukan pada umur 2 bulan dan pada saat transpalanting. Bibit
yang telah afkir harus dimusnahkan agar bibit afkir tidak terkirim ke lapangan
ataupun terjual karena menyangkut masa depan kebun selama 25 tahun.
Ciri Fisik Bibit yang afkir di Pre Nursery
12. Pucuk bengkok dan daun berputar, disebabkan karena pada saat
penanaman terbalik.
13. Daun lalang atau daun sempit (narrow grass leaf), disebabkan faktor
genetik.
14. Daun kerdil dan sempit (stum/little leaf)
15. Daun menyempit dan tegak (acute/eret leaf)
16. Daun yang menggulung (rolled leaf)
17. Daun berkerut/keriput (crinkle leaf)
18. Daun melipat (collante)
19. Bibit kerdil (stunted)
20. Chimaera, Sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah pucat
atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna hijau
gelap dan jaringan yang normal

21. Bibit dengan serangan penyakit berat, Sebagian tambahan dari


karakteristik yang telah dikemukakan di atas, bibit yang terserang penyakit
bercak daun yang disebabkan jamur curvularia dan penyakit antracnose
(daun membusuk dari pinggir) disebabkan jamur boitrodiplodia,
melaconium elaidis dan glomerella singulata harus afkir.
Langkah IV

Main Nursery ( MN )
Transpalanting (perpindahan dari Pre Nursery ke Main Nursery) dilakukan pada bibit
yang berumur 3 s/d 4 bulan atau memiliki 4 s/d 5 helai daun.
Polybag
Ukuran Polybag besar adalah 0,15 mm x 35 cm x 50 cm lay flat (setelah diisi tanah
diameter +/- 23 cm dan tinggi +/- 39 cm) berwarna hitam dengan empar garis lubang
perforasi 5 cm x 5 cm.Ketebalan polybag harus merata, hal ini dapat dilihat dengan cara
mengamati dibalik sinar matahari, todak ada bagian terang karena tipis. Kelenturan
polybag harus baik agar tidak rusak atau mudah merobek karena terik matahari.
Media Tanam
Sama dengan di Pre Nursery.
Pengisian Polybag
Polybag harsu sudah selesai diisi tanah minimal 4 minggu sebelu pemindahan bibit dari
Pre Nursery, untuk mendapatkan tingkat kepadatan tanah yang stabil setelah dilakukan
penyiraman setiap hari.
Cara Pengisian Polybag Besar (Large Bag) :
1. Polybag harus dibalik sebelum diisi tanah agar polybag dapat berdiri tegak dan
silendris.
2. Media tanah harus disaring melalui saringan 1,5 cm x 1,5 cm untuk menghindari
adanya gumpalan-gumpalan tanah, sampah, akar tanaman.
3. Persiapkan media tanam dan isikan ke dalam polybag, hindarkan pemadatan
tanah dalam polybag dengan cara menekan kuat ke arah bawah, tetapi dengan
cara mengguncang hingga ketinggian tanah 2,5 cm dari bibir polybag.
Penempatan Polybag
Polybag disusun dengan jarak 90 cm segitiga sama sisi. Untuk dapat menempatkan
polybag dengan rapi, terlebih dahulu dilakukan pemancangan didua sisi petak memakai
alat meteran dan tali dengan menggunakan bahan cat dan anak pancang. Pada saat
menyusun polybag, tidak dibenarkan meyengkram bibir polybag, tetapi memindahkan
dengan cara memegang dasar dari polybag tersebut, agar polybag tidak robek.

Transpalanting di Polybag Besar


Prosedur pelaksanaan transpalanting dari polybag kecil ke polybag besar adalah :
1. Untuk temapt pemindahan bibit polybag kecil dibutuhkan cutter untuk menyayat
polybag kecil tersebut, dan dibutuhkan angkong untuk memindahkan ke areal
Manin Nursery.
2. Pastikan polybag besar sudah tersusun benar dengna posisi tegak dan telah diisi
dengan tanah.
3. Satu hari sebelum tranpalanting, siram tanah di polybag besar sampai jenuh air,
guna memudahkan pembuatan lubang tanam pada keesokan harinya.
4. Buat lubang di tengah polybag dengna menggunakan alat pelubang yang sudah
dipersiapkan, kedalaman lubang dibuat +/- 20 cm atau disesuaikan dengan tinggi
tanah di polybag kecil.
5. Siram bibit di prenursery sebelum dipindahkan
6. Setelah bibit yang akan ditranspalanting berada disamping polyubag besar,
maka sayat polybag kecil secara vertikal disepanjang sisinya dengan cutter,
keluarkan bibit lengkap dengan tanahnya dari polybag kecil dengan hati-hati dan
masukkan ke dalam lubang tanam di polybag besar, da dipastikan saat
memindahkannya tidak ada rongga diantara tanah yang baru dipindahkan.
7. Lakukan penyiraman secukupnya segera sesudah transpalanting.

Langkah V

Perawatan
Perawatan bertujuan membersihkan gulma yang tumbuh di dalam maupun di luar di
antara polybag.
Seua peralatan yang dipakai untuk kegiatan perawatan seperti alat semprot, ember,
takaran dan pengaduk, harus diberi tulisan "khusus herbisida" secara jelas dengan
warna merah, dan disimpan terpisah dari peralatan lainnya (gudang herbisida),
sehingga dipastikan perlatan tersebut tidak dapat digunakan untuk kegiatan
penyemprotan pupuk daun maupun pengendalian hama penyakit.
Penyiraman
Penyiraman setiap polybag memerlukan 2 liter air perhari atau dengan sumisansui
kebutuhan air ini dapat dipenuhi dengan penyiraman selama 60 menit.

Pemberian Mulsa
Mulsa diberikan secara merata di atas permukaan tanah dalam polybag segera setelah
penanaman. Mulsa yang dianjurkan adalah cangkang, apabila tidak tersedia dapat juga
digantikan oleh fiber atau potongan lalang kering.
"Pengendalian hama penyakit dan Pemupukan akan dijelaskan di post yang akan
datang"
Seleksi Bibit di Main Nursery
Tahapan Seleksi :
1. Pada umur bibit 6 bulan
2. Pada umur bibit 9 bulan
3. Pada umur bibit 12 bulan
4. Pada saat persiapan pengiriman bibit ke lapangan.
Ciri-ciri Bibit Abnormal di Main Nursery
1. Kerdil (runt/stunted)
2. BIbit erect, akibat faktor genetik, daun tumbuh dengan sudut yang sangat
sempit/tajam terhadap sumbu vertikal sehingga tumbuh tegak.
3. Bibit yang layu dan lemah (limp)
4. Bibit Flat top,akibat faktor genetik, daun yang baru tumbuh dengan ukuran yang
makin pendek dari daun yang lebih tua, sehingga tajuk bibit terlihat rata.
5. Short Internode, Jarak antara daun dan tulang pelepah (rakhis) terlihat sangat
dekat dan bentuk pelepah tampak pendek.
6. Wide Internode, Jarak antara daun pada rakhis terlihat sangat lebar. Bibit terlihat
sangat terbuka dan lebih tinggi dari normal.
7. Anak daun yang sempit dan melidi (narrow leaf)
8. Anak daun tidak pecah (Ijuvenile)
9. Daun berkerut (crinkle leaf)
10. Chimaera, Sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah menjadi pucat
atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna hijau gelap dari
jaringan normal.

11. Terserang crown disease, akibat faktor genetik, pelepah menjadi bengkok,
melintir dan mudah patah.
12. Blast, bibit biasanya berubah secara progressif ke arah cokelat dan mati
perlahan-lahan dimulai dari daun yang lebih tua dan bergerak ke atas daun yang
lebih muda.
13. Bibit yang terserang busuk pada pucuk daun.
14. dll, diamati kira-kira mana bibit yang tidak normal, atau beda dari temantemannya.
Setelah itu ditanam deh.....
Mungkin teknis pembibitan sekian dulu, dan bila ada sesuatu yang ketinggalan, maka
akan kami posting kembali sesuai dengan kemajuan dan perkembangan teknis bibitan
terbaru...
Selamat mencoba.
BAB I PENDAHULUAN A . Latar Belakang Tanaman kelapa sawit (Elaeis
guineensis Jacq) saat ini merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang
menduduki posisi penting disektor pertanian umumnya, dan sektor perkebunan
khususnya, hal ini disebabkan karena dari sekian banyak tanaman yang
menghasilkan minyak atau lemak, kelapa sawit yang menghasilkan nilai
ekonomi terbesar per hektarnya di dunia (Balai Informasi Pertanian, 1990).
Melihat pentingnya tanaman kelapa sawit dewasa ini dan masa yang akan
datang, seiring dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan minyak
sawit, maka perlu dipikirkan usaha peningkatan kualitas dan kuantitas produksi
kelapasawit secara tepat agar sasaran yang diinginkan dapat tercapai. Salah
satu diantaranya adalah pengendalian hama dan penyakit. (Sastrosayono
2003). Tanaman kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang
dapat menjadi andalan dimasa depan karena berbagai kegunaannya bagi
kebutuhan manusia. Kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan
nasional Indonesia. Selain menciptakan kesempatan kerja yang mengarah pada
kesejahteraan masyarakat, juga sebagai sumberdevisa negara. Penyebaran
perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini sudah berkembang di 22 daerah
propinsi. Luas perkebunan kelapa sawit pada tahun 1968 seluas 105.808
hadengan produksi 167.669 ton, pada tahun 2007 telah meningkat menjadi 6.6
juta ha dengan produksi sekitar 17.3 juta ton CPO (Sastrosayono 2003).
Tanaman kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan primadona Indonesia.
Di tengah krisis global yang melanda dunia saat ini, industri sawit tetap
bertahan dan memberi sumbangan besar terhadap perekonomian negara.
Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang luas, industri sawit menjadi

salah satu sumber devisa terbesar bagi Indonesia. Data dari Direktorat Jendral
Perkebunan (2008) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan luas areal
perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dari 4 713 435 ha pada tahun 2001
menjadi 7.363.847 ha pada tahun 2008 dan luas areal perkebunan kelapa sawit
ini terus mengalami peningkatan. Peningkatan luas areal tersebut juga
diimbangi dengan peningkatan produktifitas. Produktivitas kelapa sawit adalah
1.78 ton/ha pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 2.17 ton/ha pada tahun
2005. Hal ini merupakan kecenderungan yang positif dan harus dipertahankan.
Untuk mempertahankan produktifitas tanaman tetap tinggi diperlukan
pemeliharaan yang tepat dan salah satu unsur pemeliharaan Tanaman
Menghasilkan (TM) adalah pengendalian hama dan penyakit. Sektor
perkebunan merupakan salah satu potensi dari subsektor pertanian yang
berpeluang besar untuk meningkatkan perekonomian rakyat dalam
pembangunan perekonomian Indonesia. Pada saat ini, sektor perkebunan dapat
menjadi penggerak pembangunan nasional karena dengan adanya dukungan
sumber daya yang besar, orientasi pada ekspor, dan komponen impor yang
kecil akan dapat menghasilkan devisa non migas dalam jumlah yang besar.
Produktivitas kelapa sawit sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya yang
diterapkan. Pemeliharaan tanaman merupakan salah satu kegiatan budidaya
yang sangat penting dan menentukan masa produktif tanaman. Salah satu
aspek pemeliharaan tanaman yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya
kelapa sawit adalah pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian hama dan
penyakit yang baik dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman.
B . Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
cara budidaya tanaman kelapa sawit dan teknik pengendalian hama dan
penyakit pada tanaman kelapa sawit. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tanaman
Kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer, skunder, tertier dan
kuartier. Akar-akar primer pada umumnya tumbuh ke bawah, sedangkan akar
skunder, tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. Akar
kuartier berfungsi menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Akar-akar
kelapa sawit banyak berkembang di lapisan tanah atas sampai kedalaman
sekitar 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit (Setyamidjaja, 2006).
Tanaman kelapa sawit umumnya memiliki batang yang tidak bercabang. Pada
pertumbuhan awal setelah fase muda (seedling) terjadi pembentukan batang
yang melebar tanpa terjadi pemanjangan internodia (ruas). Titik tumbuh batang
kelapa sawit terletak di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun. Di batang
terdapat pangkal pelepah-pelepah daun yang melekat kukuh (Sunarko, 2008).
Pertumbuhan awal daun berikutnya akan membentuk sudut. Daun pupus yang
tumbuh keluar masih melekat dengan daun lainnya. Arah pertumbuhan daun
pupus tegak lurus ke atas dan berwarna kuning. Anak daun (leaf let) pada daun

normal berjumlah 80-120 lembar (Setyamidjaja, 2006). Tanaman kelapa sawit


berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan
atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan
bunga betina agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan
bersilang (cross pollination). Artinya bunga betina dari pohon yang satu dibuahi
oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaan angin dan atau
serangga penyerbuk (Sunarko, 2008). Tandan buah tumbuh di ketiak daun.
Semakin tua umur kelapa sawit, pertumbuhan daunnya semakin sedikit,
sehingga buah terbentuk semakin menurun. Hal ini disebabkan semakin tua
umur tanaman, ukuran buah kelapa sawit akan semakin besar. Kadar minyak
yang dihasilkannya pun akan semakin tinggi. Berat tandan buah kelapa sawit
bervariasi, dari beberapa ons hingga 30 kg (Setyamidjaja, 2006). Kelapa sawit
termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di daerah
antara 120 Lintang Utara 120 Lintang Selatan. Curah hujan optimal yang
dikehendaki antara 2.000-2.500 mm per tahun dengan pembagian yang merata
sepanjang tahun. Lama penyinaran matahari yang optimum antara 5-7 jam per
hari dan suhu optimum berkisar 240-380C. Ketinggian di atas permukaan laut
yang optimum berkisar 0-500 meter (Setyamidjaja, 2006). Di daerah-daerah
yang musim kemaraunya tegas dan panjang, pertumbuhan vegetatif kelapa
sawit dapat terhambat, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pada
produksi buah. Suhu berpengaruh pada produksi melalui pengaruhnya terhadap
laju reaksi biokimia dan metabolisme dalam tubuh tanaman. Sampai batas
tertentu, suhu yang lebih tinggi menyebabkan meningkatnya produksi buah.
Suhu 200C disebut sebagai batas minimum bagi pertumbuhan vegetatif dan
suhu rata-rata tahunan sebesar 22-230C diperlukan untuk berlangsungnya
produksi buah (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2005). Kelapa sawit dapat
tumbuh baik pada sejumlah besar jenis tanah di wilayah tropika. Persyaratan
mengenai jenis tanah tidak terlalu spesifik seperti persyaratan faktor iklim. Hal
yang perlu ditekankan adalah pentingnya jenis tanah untuk menjamin
ketersediaan air dan ketersediaan bahan organik dalam jumlah besar yang
berkaitan dengan jaminan ketersediaan air (Mangoensoekarjo dan Semangun,
2005). Tanah yang sering mengalami genangan air umumnya tidak disukai
tanaman kelapa sawit karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase
yang jelek bisa menghambat kelancaran penyerapan unsur hara dan proses
nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman akan kekurangan unsur nitrogen
(N).Karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan kelapa
sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang
(Sunarko, 2008). BAB III PEMBAHASAN 2.1 Syarat Tumbuh Sebagai tanaman
yang dibudidayakan, tanaman kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan
yang baik atau cocok, agar mampu tumbuh subur dan dapat berproduksi secara

maksimal. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit


antara lain keadaan iklim dan tanah. Selain itu, faktor yang juga dapat
mempengaruhi pertumbuhan kelapa sawit adalah faktor genetis, perlakuan
budidaya, dan penerapan teknologi. a) Iklim Curah hujan dan kelembaban
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan di daerah tropik, dataran rendah
yang panas, dan lembab. Curah hujan yang baik adalah 2.500-3.000 mm per
tahun yang turun merata sepanjang tahun. Daerah pertanaman yang ideal
untuk bertanam kelapa sawit adalah dataran rendah yakni antara 200-400
meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian tempat lebih 500 meter di atas
permukaan laut, pertumbuhan kelapa sawit ini akan terhambat dan produksinya
pun akan rendah Penyinaran matahari Lama penyinaran matahari yang baik
untuk kelapa sawit adalah 7-5 jam per hari.pertumbuhan kelapa sawit di
Sumatera Utara terkanal baik karena berkat iklim yang sesuai yaitu lama
penyinaran matahari yang tinggi dan curah hujan yang cukup. Umumnya turun
pada sore atau malam hari. Suhu Suhu merupakan faktor penting untuk
pertumbuhan dan hasil kelapa sawit. Suhu rata-rata tahunan daerah-daerah
pertanaman kelapa sawit berada antara 25-27 0C, yang menghasilkan banyak
tandan. Variasi suhu yang baik jangan terlalu tinggi. Semakin besar variasi suhu
semakin rendah hasil yang diperoleh. Suhu, dingin dapat membuat tandan
bunga mengalami merata sepanjang tahun. b) Tanah Pertumbuhan dan
produksi kelapa sawit dalam banyak hal bergantung pada karakter lingkungan
fisik tempat pertanaman kelapa sawit itu dibudidayakan. Jenis tanah yang baik
untuk bertanam kelapa sawit adalah tanah latosol, podsolik merah kuning,
hidromorf kelabu, aluvial, dan organosol/gambut tipis. Kesesuaian tanah untuk
bercocok tanam kelapa sawit ditentukan oleh dua hal, yaitu sifat-sifat fisis dan
kimia tanah. Sifat fisik tanah Pertumbuhan kelapa sawit akan baik pada tanah
yang datar atau sedikit miring, solum dalam dan mempunyai drainase yang
baik, tanah gembur, subur, permeabilitas sedang, dan lapisan padas tidak
terlalu dekat dengan permukaan tanah. Tanah yang baik bagi pertumbuhan
juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara
alamiah maupun hara tambahan. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai
berpasir dan tanah gambut tebal. Dalam menentukan batas-batas yang tajam
mengenai kesesuaian sifat fisis tanah di antara tipe-tipe tanah memang relatif
sulit. Sifat kimia tanah Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada tanah pH
4,0-6,5 dan pH optimumnya antara 5,0-5,5. Tanah yang memiliki pH rendah
biasanya dijumpai pada daerah pasang surut, terutama tanah gambut. Tanah
organosol atau gambut mengandung lapisan yang terdiri atas lapisan mineral
dengan lapisan bahan organik yang belum terhumifikasi lebih lanjut memiliki
pH rendah. 2.2 Teknik budidaya tanaman kelapa sawit 2.3 Persiapan Lahan
Pembukaan lahan merupakan salah satu tahapan kegiatan dalam budidaya

Kelapa Sawit yang sudah ditentukan jadwalnya berdasarkan tahapan pekerjaan


yang akan dilakukan sesuai dengan jenis lahannya (areal) hutan, areal alangalang, areal gambut. Supaya areal tersebut dapat ditanami Kelapa sawit maka
areal tersebut harus bersih dari vegetasi atau semak belukar yang akan
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman pokok. Sedangkan
untuk memudahkan dalam pengelolaan tanaman Kelapa sawit dibutuhkan
suatu perencanaan tata ruang kebun yang direncanakan pada saat pembukaan
lahan dan sebelum penanaman Kelapa sawit (Setyamidjaja, 2003). 2.4
Pembibitan Bibit merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses
pengadaan bahan tanaman yang dapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil
produksi pada masa selanjutnya. Pembibitan merupakan langkah awal dari
seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit. Melalui tahap
pembibitan sesuai standar teknis diharapkan dapat dihasilkan bibit yang baik
dan berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki
kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam
menghadapi kondisi cekaman lingkungan pada saat pelaksanaan penanaman
(transplanting). Menurut Setyamidjaja, (2006), untuk menghasilkan bibit yang
baik dan berkualitas seperti tersebut di atas, diperlukan pedoman kerja yang
dapat menjadi acuan, sekaligus kontrol selama pelaksanaan di lapang. Untuk
itu berikut ini disampaikan tahapan pembibitan, mulai dari persiapan,
pembibitan awal dan pembibitan utama. 2.4.1 Pemilihan Lokasi Penentuan
lokasi pembibitan perlu memperhatikan beberapa persyaratan sebagai berikut:
Areal pembibitan harus terletak sedekat mungkin dengan daerah yang
direncanakan untuk ditanami dengan memperhitungkan biaya pengangkutan
bibit Areal diusahakan mempunyai topografi datar dan berada di tengah-tengah
Kebun Dekat dengan sumber air dan air tersedia cukup untuk penyiraman,
dengan kualitas yang memenuhi syarat. Dekat dengan tempat pengambilan
media tanam untuk pembibitan. Drainase baik, sehingga pada musim hujan
tidak tergenang air. Lokasi Pembibitan mempunyai jalan yang mudah dijangkau
dan mempunyai kondisi baik. Dekat dengan tenaga kerja lapangan sehingga
memudahkan dalam pengawasan. Areal harus jauh dari sumber hama dan
penyakit, serta mempunyai sanitasi yang baik. 2.4.2 Luas Pembibitan
Kebutuhan areal pembibitan umumnya 1,01,5% dari luas areal pertanaman
yang direncanakan. Luas areal pembibitan yang dibutuhkan bergantung pada
jumlah bibit dan jarak tanam yang digunakan. Dalam menentukan luasan
pembibitan perlu diperhitungkan pemakaian jalan, yang untuk setiap hektar
pembibitan diperlukan jalan pengawasan sepanjang 200 m dengan lebar 5 m.
2.4.3 Sistem Pembibitan Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan
menggunakan satu atau dua tahapan pekerjaan, tergantung kepada persiapan
yang dimiliki sebelum kecambah dikirim ke lokasi pembibitan. Untuk

pembibitan yang menggunakan satu tahap (single stage), berarti penanaman


kecambah kelapa sawit langsung dilakukan ke pembibitan utama (Main
Nursery). Sedangkan pada sistem pembibitan dua tahap (double stage),
dilakukan pembibitan awal (Pre Nursery) terlebih dahulu selama 3 bulan pada
polybag berukuran kecil dan selanjutnya dipindah ke pembibitan utama (Main
Nursery) dengan polybag berukuran lebih besar. Sistem pembibitan dua tahap
banyak dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan, karena memiliki beberapa
keuntungan, antara lain: Kemudahan dalam pengawasan dan pemeliharaan
serta tersedianya waktu persiapan pembibitan utama pada tiga bulan pertama.
Terjaminnya bibit yang akan ditanam ke lapangan, karena telah melalui
beberapa tahapan seleksi, baik di pembibitan awal maupun di pembibitan
utama. Seleksi yang ketat (10%) di pembibitan awal dapat mengurangi
keperluan tanah dan polybag besar di pembibitan utama. 2.4.4 Media Tanam
Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik,
misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 10-20 cm. Tanah yang
digunakan harus memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi
(hama dan penyakit, pelarut, residu dan bahan kimia). Bila tanah yang akan
digunakan kurang gembur dapat dicampur pasir dengan perbandingan pasir :
tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum dimasukkan ke dalam
polybag, campuran tanah dan pasir diayak dengan ayakan kasar berdiameter 2
cm. Proses pengayakan bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisasisa kayu, batuan kecil dan material lainnya. 2.4.5 Kantong Plastik (Polybag)
Ukuran polybag tergantung pada lamanya bibit di pembibitan. Pada tahap
pembibitan awal (Pre-Nursery), polybag yang digunakan berwarna putih atau
hitam dengan ukuran panjang 22 cm, lebar 14 cm, dan tebal 0,07 mm. Setiap
polybag dibuat lubang diameter 0,3 cm sebanyak 12-20 buah. Pada tahap
pembibitan utama (Main-Nursery) digunakan polybag berwarna hitam dengan
ukuran panjang 50 cm, lebar 37-40 cm dan tebal 0,2 mm. Pada setiap polybag
dibuat lubang diameter 0,5 cm sebanyak 12 buah pada ketinggian 10 cm dari
bawah polybag. 2.4.6 Pembibitan Awal ( Pre-Nursery ) Benih yang sudah
berkecambah dideder dalam polybag kecil, kemudian diletakkan pada
bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan
secukupnya. Ukuran polybag yang digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23
cm ( lay flat ). Polybag diisi dengan 1,5 2,0 kg tanah atas yang telah diayak.
Tiap polybag diberi lubang untuk drainase. Kecambah ditanam sedalam 2 cm
dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm. Setelah bibit dederan yang berada di
prenursery telah berumur 3 4 bulan dan berdaun 4 5 helai, bibit dederan
sudah dapat dipindahkan ke pembibitan utama (main-nursery). Keadaan tanah
di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek. Pemberian
air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang

dibutuhkan oleh bibit. Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat


membantu dalam usaha memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat
melindungi bibit terhadap kerusakan karena siraman. 2.4.7 Pembibitan Utama
( Main-Nursery ) Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan
polybag yang lebih besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay
flat), tebal 0,11 mm dan diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.
Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 30 kg per
polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum
dipindahkan) di pesemaian bibit (Setyamidjaja, 2006). Bibit dederan ditanam
sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan tanah polybag
besar dan tanah sekitar bibit di padatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit pada
polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan,
dibersihkan dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan
jarak misalnya 100 cm x 100 cm x 100 cm (Setyamidjaja, 2006). 2.4.8
Pemeliharaan (pada pembibitan) Bibit yang yang telah ditanam di prenursery
atau nursery perlu dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan
subur, sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang sesuai dengan umur
dan saat tanam yang tepat. Pemeliharaan bibit meliputi : v Penyiraman v
Penyiangan v Pengawasan dan seleksi v Pemupukan a. Penyiraman
Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari, kecuali apabila jatuh hujan lebih dari
7 8 mm pada hari yang bersangkutan. Air untuk menyiram bibit harus
bersih dan cara menyiramnya harus dengan semprotan halus agar bibit dalam
polybag tidak rusak dan tanah tempat tumbuhnya tidak padat. Kebutuhan air
siraman 2 liter per polybag per hari, disesuaikan dengan umur bibit. b.
Penyiangan Gulma yang tumbuh dalam polybag dan di tanah antara polybag
harus dibersihkan, dikored atau dengan herbisida Penyiangan gulma harus
dilakukan 2-3 kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma.
c. Pengawasan dan seleksi Pengawasan bibit ditujukan terhadap
pertumbuhan bibit dan perkembangan gangguan hama dan penyakit Bibit
yang tumbuh kerdil, abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis
harus dibuang. Pembuangan bibit (thinning out) dilakukan pada saat
pemindahan ke main nursery, yaitu pada saat bibit berumur 4 bulan dan 9
bulan, serta pada saat pemindahan bibit ke lapangan. Menurut (Setyamidjaja,
2006), seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama dilakukan pada
waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan setelah
bibit berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan
sebelum bibit dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan
setelah berumur 12-14 bulan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang,
dengan ciri-ciri: a) bibit tumbuh meninggi dan kaku b) bibit terkulai c) anak
daun tidak membelah sempurna d) terkena penyakit e) anak daun tidak

sempurna. d. Pemupukan Pemupukan bibit sangat penting untuk memperoleh


bibit yang sehat, tumbuh cepat dan subur. Pupuk yang diberikan adalah Urea
dalam bentuk larutan dan pupuk majemuk. 2.4.9 Panen Mulai berbuah setelah
2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika
tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen,
dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen
adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya
kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang
beratnya 10 kg atau lebih. 2.5 Hama dan Penyakit 2.5.1. Hama a. Hama Tungau
Penyebabnya tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun.
Gejala terlihat pada daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian
dapat dilakukan dengan cara Semprot Pestisida atau Natural BVR. b. Ulat Setora
Penyebabnya adalah (Setora nitens). Bagian yang diserang adalah daun. Gejala
yang terlihat pada daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian
dengan cara penyemprotan dengan Pestisida 2.5.2. Penyakit a. Root Blast
Penyebab dari penyakit ini yaitu (Rhizoctonia lamellifera) dan (Phythium Sp).
Bagian diserang akar. Gejala dapat dilihat dari bibit di persemaian mati
mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar.
Pengendalian dengan cara pembuatan persemaian yang baik, pemberian air
irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan
(Zaman, 2006). b. Garis Kuning Penyebab dari penyakit ini yaitu (Fusarium
oxysporum). Bagian diserang daun. Gejala terdapat bulatan oval berwarna
kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering.
Pengendalian dengan cara inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. c.
Dry Basal Rot Penyebab penyakit ini yaitu (Ceratocyctis paradoxa). Bagian
diserang batang. Gejala terdapat pada pelepah mudah patah, daun membusuk
dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian dengan menanam bibit
yang telah diinokulasi penyakit BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Tanaman
kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat menjadi
andalan dimasa depan karena berbagai kegunaannya bagi kebutuhan manusia.
Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di
daerah antara 120 Lintang Utara 120 Lintang Selatan. Curah hujan optimal
yang dikehendaki antara 2.000-2.500 mm per tahun dengan pembagian yang
merata sepanjang tahun. Lama penyinaran matahari yang optimum antara 5-7
jam per hari dan suhu optimum berkisar 240-380C Tanaman kelapa sawit mulai
berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat
dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah
matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan
matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang
beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan

yang beratnya 10 kg atau lebih. Tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun,
jumlah brondolan kuran lebih 10 butir dan tanaman dengan umur lebih 10
tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Tanaman kelapa sawit akan
menghasilkan tandan buah segar (TBS) yang dapat dipanen pada saat tanaman
berumur 3 atau 4 tahun Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Make Money at : http://bit.ly/copy_win
Cara Menanam Kelapa Sawit

Cara Menanam Kelapa Sawit adalah judul Post kali ini akan membahas tentang
bagaimana cara menanam kelapa sawit yang benar. Secara teori penanaman Kelapa sawit
bisa dikatakan gampang-gampang susah lah, bagi petani yang telah memiliki jam terbang
yang panjang tentu mereka lebih tahu tentang cara penanaman yang benar secara
praktis. Namun untuk mendapatkan hasil yang bagus, anda tidak perlu trial and error.
Berkut ini kami sampaikan proses penanaman Kelapa Sawit yang menurut kami sudah
cukup sistematis.
Pertama, Persiapan lahan
Biasanya kelapa sawit sering ditanam pada lahan bekas hutan yang baru akan dibuka
untuk pertanian, ada juga lahan bekas perkebunan karet atau lainnya, ataupun bekas
tanaman kelapa sawit yang sudah tua dan akan dilakukan peremajaan kembali. Sekarang
kenali dulu calon lahan yang akan anda tanami..
Untuk persiapan lahan perlu dilaksanakan proses pembukaan lahan yang secara mekanis,
pada bekas hutan atau bekas tanaman lain seperti karet dan sebagainya terdiri dari
beberapa pekerjaan, yakni: a) menumbang, yaitu memotong pohon besar dan kecil
dengan mengusahakan agar tanahnya terlepas dari tanah; b) merumpuk, yaitu
mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan untuk memudahkan pembakaran. c)

merencek dan membakar, yaitu memotong dahan dan ranting kayu yang telah ditumpuk
agar dapat disusun sepadat mungkin, setelah kering lalu dibakar. d) pengolahan tanah
secara mekanis.
Sedangkan pada pada tanah bukaan ulangan terdiri dari pekerjaan, yakni: a) pengolahan
tanah secara mekanis dengan menggunakan traktor. b) meracun batang pokok kelapa
sawit dengan cara membuat lubang sedalam 20 cm pada ketinggian 1 meter pada pokok
tua. Lubang diisi dengan Natrium arsenit 20 cc per pokok, kemudian ditutup dengan
bekas potongan lubang; c) membongkar, memotong dan membakar. Dua minggu setelah
peracunan, batang pokok kelapa sawit dibongkar sampai akarnya dan telah kering lalu
dibakar; d) pada bukaan ulangan pembersihan bekas-bekas batang harus diperhatikan
dengan serius karena sisa batang, akar dan pelepah daun dapat menjadi tempat
berkembangnya hama (misalnya kumbang Oryctes) atau penyakit ( misalnya cendawan
Ganoderma).
Kedua, Pemancangan
Maksud pemancangan adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit
sesuai dengan jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila
dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur. System jarak yang digunakan
adalah segitiga sama sisi, dengan jarak 9 m x 9 m x 9 m yang nantinya populasi tanaman
sekitar 122 pohon. Ada juga petani yang menggunakan teknik mata lima atau anda
langung mengukur jarak tanam 8m x 9m atau bahkan 8m x 8m. Berapanpun ukuran jarak
yang akan akan jadikan patokan dalam penanam seharusnya tidak terlalu rapat karena
akan mempengaruhi produksifitas pohon tersebut. Jadi jangan memaksakan untuk
menanam populasi pohon sawit terlalu banyak dengan mempersempit jarak tanam, hal
ini yang akan berakibat fatal.

Ketiga, Pembuatan lubang tanaman


Lubang tanaman dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukuran lubang, panjang x
lebar x dalam adalah 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah atas
dan bawah dipisahkan, masing-masing di sebelah Utara dan Selatan lubang.
Keempat, Menanam
Cara menanam bibit yang ada pada polybag, yaitu:
- Siapkan bibit yang siap tanam pada masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat.
- Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah
dan persediaan air cukup untuk bibit.
- Sebelum penanaman dilakukan pupuklah dasar lubang dengan menaburkan secara
merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gram per lubang.
- Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hatihati, kemudian masukkan ke dalam lubang.
- Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah
ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat
berdiri tegak.
- Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama
ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan,
lubang tidak akan tergenang air.
- Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.
- Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.
Inilah cara penanaman kelapa sawit, semoga bermanfaat. Lanjutkan membaca untuk
pemeliharaan Tananaman Kelapa Sawit...
A. Pendahuluan
Budidaya kepala sawit di lahan gambut mempunyai suatu tantangan tersediri. Lahan gambut
merupakan lahan yang berpotensi tinggi, namun dalam kondisi tidur. Hal ini dapat diketahui bahwa
kandungan bahan organik di dalam lahan gambut sangat tinggi, bahan tersebut merupakan sumber
unsur hara yang sangat potensial.
Namun lahan gambut merupakan lahan yang bermasalah beberapa masalahan pada umumnya terjadi
di lahan gambut adalah sebagai berikut:
1. Permasalahan bahwa unsur hara tersebut dalam kondisi tidak dapat
diserap oleh tanaman dikarenakan adanya keasaman tanah, dan
beberapa unsur terikat dampak dari proses penimbunan dan
perendaman yang beratus-ratus tahun.

2. Kandungan unsur hara tertentu yang berasal dari tanah relatif sangat
sedikit. Walaupun dibutuhkan tanaman relatif sedikit, namun karena
ketersediaan di lahan tidak mencukupi maka tanaman yang ada di
atasnya sering mengalami kekurangan unsur tersebut yang
berdampak pada proses metabolisme dan kesehatan tanaman.
3. Kandungan unsur-unsur racun bagi tanaman dan hewan yang
merupakan dampak dari keasaman tanah tersebut. Secara proses
kimiawi hidroksida akan diikat, sedangkan unsur-unsur kation yang
biasanya berupa logam menjadi terlepas yang menjadi senyawa racun
bagi tanaman, hewan dan manusia.
4. Kandungan air yang ada di lahan gambut. Struktur lahan gambut tidak
padat, yaitu terdiri dari sisa-sisa tanaman yang tidak membusuk
secara total. Sehingga antara satu bagian dengan bagian lainnya
mempunyai rongga. Pada saat lahan digenangi air maka seluruh
lapisan terisi air. Kondisi ini terjadi beratus tahun karena lahan gembut
biasanya pada lahan yang tergenang air yang tidak teralirkan. Upaya
membuat drainase dan mengalirkan air yang menggenang akan
berdampak pada mengalirnya seluruh air yang ada di lahan tersebut.
Sehingga lahan menjadi kering kerontang.
5. Ketebalan gambut berpengaruh terhadap tanaman. Tekstur lahan tidak
mantap, banyak rongga, bahan berasal dari materi tanaman,
kandungan tanah alam sangat sedikit atau bahka tidak ada. Untuk
tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan besar, maka ketebalan
gambut menjadi masalah. Lahan gambut pada umumnya tidak padat,
sehingga tanaman besar dapat miring atau bahkan rubuh jika ditanam
di lahan gambut.
6. Banyak lagi permasalahan yang ada di lahan gambut yang tidak
seluruhnya dituliskan di sini.
B. Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Lahan Pertanian
Pemanfaatan lahan gambut untuk lahan pertanian yang subur telah terjadi di berbagai daerah, di luar
negeripun lahan-lahan subur di benua Amerika, Canada, dan Amerika Tengah dan Amerika Selatan
(Argentina, Brazil dan Chili) sebagian berasal dari lahan gambut. Demikian pula lahan di Indonesia
sendiri sebagian berasal dari lahan gambut. Khusus untuk budidaya tanaman sawit sudah banyak
lahan gambut yang digunakan.
Adanya inovasi baru di bidang teknologi pertanian sangat memungkinkan penanganan lahan gambut
dengan hasil yang optimal. Selama ini penanganan lahan gambut di Indonesia masih menggunakan
sederhana, namun hasilnya cukup menggembira-kan. Proses sederhana ini akan lebih optimal
dengan menambah atau menyempurnakan dengan menggunakan inovasi teknologi yang saat ini

telah ditemukan. Beberapa proses penanganan lahan gambut menjadi lahan pertanian khususnya
untuk budidaya kelapa sawit adalah:
1. Proses fisik: dilakukan dengan membangun/menata lahan sehingga drainase dan pembentukan
lahan untuk media tanaman tersedia. Lahan yang semula digenangi air, maka dilakukan drainase
yang membuat lahan tidak tergenang lagi. Jika ada tanaman di atasnya maka tanaman dapat tumbuh
dan tidak terganggu dengan adanya air yang tergenang. Pembangunan drainase ini dinamakan tata
air makro dan tata air mikro. Proses ini tetap dilakukan karena pembenahan fisik sangat diperlukan.
2. Proses kimia: dilakukan pada lahan-lahan yang mempunyai keasaman tinggi atau pH rendah,
maka berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Dalam kondisi tertentu membuat tanaman tidak
dapat tumbuh. Upaya perlakukan yang digunakan adalah memberikan kapur tohor dan dolomit.
Proses ini membutuhkan waktu yang relatif lama dan membutuhkan materi kapur dan dolomit relatif
banyak. Sedangkan hasil yang dicapai masih meragukan, jika kondisi keasaman sangat kuat justru
kapur menggumpal dan lahan tidak berubah.
Penanganan lahan asam menjadi netral dapat dilakukan dengan cara memproduksi bahan katalisator
yang mengubah sifat asam tanah menjadi netral, dan bahan tersebut dapat diproduksi dari bahan
gambut bersangkutan. Proses tersebut hanya dapat dilakukan oleh makluk hidup mikroba/ jasat
renik.
Ada jenis mikroba yang dapat menghasilkan enzym bersifat katalisator yang mampu mengubah
senyawa asam menjadi netral. Mikroba tersebut ditemukan pada tanaman yang seharusnya tidak
tumbuh di lahan gambut, tetapi ditemukan tumbuh. Setelah diteliti ternyata terdapat mikroba yang
bersifat seperti yang dijelaskan di atas. Pada saat ini mikroba tersebut telah dikembangkan dengan
mikroba lain dalam produk dariTeknologi Bio Perforasi (pupuk hayati Bio P 2000 Z, pupuk
organik granul Bio Alami dan pupuk organik cair Phosmit
3. Proses alami: biasanya penanganan lahan gambut ini dengan cara alami yaitu ditanami dengan
jenis tanaman yang cocok. Dengan berjalannya waktu dicoba dengan tanaman lainnya dan semakin
beragam. Biasanya menunggu antara 5 tahun untuk lahan gambut jenis D dan E, sedangkan pada
lahan gambut C dan B membutuhkan antara 5 sampai 10 tahun. Bahkan untuk lahan A dan sebagian
B
membutuhkan
waktu
lebih
dari
10
tahun.
Lamanya proses tersebut dikarenakan kondisi dan kandungan unsur-unsur kimia yang perlu diubah
menjadi kondisi yang cocok dengan pertumbuhan tanaman.
Misalnya: Tanah asam perlu dinetralkan; kandungan unsur yang bersifat penghambat tanaman
(logam-logam berat) perlu diubah persenyawaannya menjadi tidak beracun, bahan organik yang
belum
busuk
perlu
dibusukkan.
Proses ini sebenarnya secara alami dilakukan oleh mikroba. Lamanya waktu yang dibutuhkan dalam
proses ini karena keberadaan mikroba relatif sedikit, dan bahkan tidak ada. Dengan jumlah relatif
sedikit tingkat pencapaian hasil menjadi lambat dan kurang sempurna sesuai harapan.

Inovasi yang dilakukan Teknologi Bio Perforasi (pupuk hayati Bio P 2000 Z, pupuk organik
granul Bio Alami dan pupuk organik cair Phosmit adalah gabungan penyediaan unsur hara siap
serap dan mikroba-mikroba digunakan sebagai pengelola tanah dan tanaman yang terdiri dari:
(a) Mikroba pengelola kondisi lahan, yang mempunyai kemampuan sebagai pengubah keasaman
tanah, mikroba yang mampu mengubah unsur racun bagi tanaman menjadi senyawa tidak beracun.
(b) Mikroba pengelola unsur hara tanaman yang mempunyai kemampuan: menyerap unsur N2,O2,
H20, CO dari udara; mempunyai kemampuan menguraikan ikatan Phospat di tanah. Mengubah zatzat kimia termasuk pupuk an organik menjadi organik dan menyimpannya dalam tubuh yang siap
diserap
tanaman.
Dari dua kemampuan tersebut maka lahan gambut dapat dipercepat paling lambat 2 tahun sudah
sama dengan kondisi secara biasa mencapai 10 tahun.
4. Proses pembakaran: Proses ini sering dilakukan untuk penanganan lahan gambut. Proses ini
diawali dengan mengalirkan air yang tergenang dengan membuat saluran drainase. Setelah kering
lahan
dibakar.
Dampak yang ditimbulkan dengan proses pembakaran ini adalah:

Hilangnya timbunan unsur hara (gambut) yang bernilai milyaran jika


dikonversikan dengan harga pupuk an organik.

tanah menjadi sangat miskin, dan biasanya jika digunakan untuk


lahan pertanian memerlukan unsur tambahan termasuk nitrogen yang
seharusnya melimpah di lahan gambut.

berpengaruh
dibicarakan.

Penggunaan teknologi bio perforasi yaitu memfungsikan Mikroba


dekomposer
yang
mempunyai
kemampuan
menguraikan/
membusukkan baik bahan organik maupun membongkar bahan-bahan
an organik dari tanah maupun batuan lunak.

Dengan demikian lahan gambut yang berasal dari tanaman yang tidak
diuraikan karena tergenang, dengan bantuan mikroba pada proses
teknologi bio perforasi akan terdekomposing (teruraikan) atau
mengalami proses pembusukan menjadi bahan organik yang tidak
beracun bagi tanaman dengan kandungan unsur hara tidak hilang baik
oleh pembakaran maupun tercuci air.C. Teknik Budidaya Tanaman
Sawit di Lahan Gambut.

1. Penyiapan Lahan.

terhadap

emisi

carbon

yang

sangat

ini

semarak

Kondisi lahan di setiap tempat berbeda-beda, sebagian terdiri dari


genangan air yang membenami lahan bersangkutan (kondisi ini
ditemukan paling banyak), lahan yang tidak tergenangi lahan dan
banyak ditumbuhi semak belukar, lahan yang banyak ditumbuhi pohon
bakau atau pohon yang tumbuh di rawa, dll. Kondisi gambut juga
berlain-lainan ketebalannya mulai dari ketebalan kurang dari 50 cm
sampai pada ketebalan lebih dari 3 meter.

Teknik penyiapan lahan perlu dilihat dari secara makro dan mikro.
Penanganan makro adalah:

(1) Pembuatan Saluran.

(a) Pembuatan saluran primer, yaitu saluran yang dibuat antar wilayah
yang digunakan untuk drainase, Saluran ini digunakan mengalirkan air
yang ada di lahan antar wilayah. Pembuatannya basanya didasarkan
pada countur tanah, dan dibuat pada tanah yang paling rendah
diantara lahan di sekelilingnya.

(b) Pembuatan saluran sekunder,yaitu saluran yang dibuat di dalam


wilayah antar area. Saluran ini mengarah ke saluran primer
diupayakan air diusahakan tidak menggenang namun air tanah jangan
langsung habis mengalir. Jika langsung mengalir habis pada umumnya
lahan kering kerontang karena air mudah mengalir diantara gambur
yang mempunyai struktur longgar.

(c) Pembuatan saluran tersier, yaitu saluran-saluran kecil sebagai


saluran untuk mengalirkan kebelihan air yang ada di lahan.
Diusahakan bahwa saluran ini selain dighunakan sebagai saluran
drainase juga dapat digunakan sebagai saluran pengairan

(2) Penanganan Lahan.


Pada penanganan lahan sering menjadi suatu dilema. Jika dilakukan secara manual seperti
pembersihan dari semak belukar, dan tanaman baik besar maupun kecil maka memerlukan biaya
yang relatif besar dan hasil yang diperoleh berkejaran dengan waktu. Pada umumnya para
pengusaha melakukan dengan cara pembakaran, dengan demikian biaya yang digunakan untuk
penanganan lahan menjadi lebih kecil, dengan hasil terlihat dengan segera. Namun dampak negatif
yang diperolehnya dari proses pembakaran adalah:
1. humus di lahan gambut menjadi hilang,
2. adanya penambahan emisi carbon di udara yang pada saat ini banyak
mendapatkan sorotan dari dunia.

3. kesuburan hanya bertahan beberapa tahun, yang dampaknya pada


perawatan tanaman yang memerlukan cost ( biaya ) lebih tinggi
4. kerusakan tanah cepat terjadi.
Cara natural merupakan cara yang bijaksana yaitu dengan membuat lahan tersebut dilakukan
penanganan secara alami. Artinya bahwa proses-proses yang dilakukan untuk mengubah dari lahan
yang sifatnya gambut menjadi lahan pertanian dilakukan dengan cara alami. Sebenarnya, alam telah
memberikan suatu proses alam yang maha dasyat, yang mampu mengubah suatu kondisi yang
ekstrim menjadi kondisi yang dapat diterima. Namun untk mencapai hal tersebut diperlukan waktu
yang relatif lama dengan dukungan kondisi lingkungan yang memadai.
Penanganan fisik yang selama ini dilakukan oleh para pengusaha, petani seperti pembuatan guludan,
pembuatan mencampurkan lahan yang padat dengan lahan dari gambut, dan lain-lain seluruhnya
dapat diterima. Hanya saja proses tersebut perlu disertai dengan proses alami yang mendasar dalam
perbaikan kondisi tanah yaitu proses jasat renik/ mikroba sebagai pengelola alami.
Di alam terdapat jutaan mikroba, namun hanya sedikit yang mempunyai kemampuan untuk
mengubah lahan gambut menjadi lahan yang subur untuk tanaman. Dalam hal ini kandungan
beberapa mikroba yang terkandung di dalam Bio P 2000 Z memang specialis mikroba untuk
kebutuhan tersebut.
Lahan yang telah dilakukan pengolahan secara fisik maka dapat dilakukan perubahan dengan
mikroba yang ada di dalam prosesTeknologi Bio Perforasi (pupuk hayati Bio P 2000 Z, pupuk
organik granul Bio Alami dan pupuk organik cair Phosmit dengan cara sebagai berikut:
a) Pada lahan gambut tebal di awal pembukaan.

Pada lahan ini dilakukan berbagai usaha fisik seperti dilakukan di atas
diantaranya pembuatan saluran, pembentukan teras sesuai dengan
kultur.

Lahan yang sudah kering disemprotkan dekomposer yang sesuai


dengan lahan gambut dengan dosis 2 hingga 3 liter per hektar
disiramkan.

Setiap 2 bulan diulangi dengan merata, dari perlakukan tersebut


selama 1 tahun maka lahan banyak mengalami perubahan terutama
dalam kondisi keasaman dan tekstur tanah. pH tanah menjadi
mengarah ke netral, sedangkan teksturnya mengalami kepadatan
karena banyak yang mengalami dekomposi (pelapukan).

Pada lahan yang sudah dapat ditanami maka dilakukan penanaman


dengan tanaman yang sesuai dengan kondisi tersebut seperti jenisnya
seperti pohon yang dapat tumbuh di daerah rawa, akasia, nangka,
mangga, dll.

Bersamaan itu dilakukan pengelolaan lahan dengan memberikan


penyemprotan/ penyiraman menggunakan larutan pupuk hayati Bio P
2000 Z + pupuk organik cair Phosmit

Setelah lahan sudah mengalami perubahan baik secara tekstur/


struktur maupun kimia tanam maka tanaman siap untuk dilakukan
penamanan komoditi utama (mis: Sawit, karet, tanaman pangan, dll).

Pemupukan an organik yang diperlukan pada lahan gambut adalah


pupuk Kalium (KCl), Phospat (SP36, atau sejenisnya) dan Calsium (Ca)
dari kapur, dolomit dan sejenisnya.

b) Pada lahan gambut tipis di awal pembukaan.

Pada lahan gambut tipis yang belum dilakukan budidaya maka caranya
dilakukan suatu petakan sesuai dengan counture permukaan bumi.
Tujuannya untuk pengaturan baik draenasi maupun pengairan.

Penggunaan pupuk Mikroba Bio P 2000 Z pada 3 bulan sebelum


melakukan penanaman lahan disiramkan/ didsemprotkan dengan Bio P
2000 Z dengan dosis 2 hingga 3 liter per hektar. Diulangi lagi 2 bulan
berikutnya, 1 minggu sebelum tanam maka dilakukan lagi
penyemprotan dengan dosis 1 liter per hektar.

Pemupukan an organik yang diperlukan pada lahan gambut adalah


pupuk Kalium (KCl), Phospat (SP36, atau sejenisnya) dan Calsium (Ca)
dari kapur, dolomit dan sejenisnya.

c) Pada lahan gambut yang telah mengalami pelapukan atau yang telah dilakukan budidaya
pertanian.

Lahan gambut yang telah mengalami pelapukan biasanya bermasalah


terhadap kandungan unsur hara yang kurang seimbang bagi
pertumbuhan tanaman. Hal tersebut terjadi karena kandungan unsur
hara yang baik perlu keseimbangan antara unsur-unsur organik dan an
organik sebagai bahan untuk enzym mineral dan vitamin.

Untuk menyeimbangkan kebutuhan tersebut harus dilakukan


pembongkaran zat-zat yang masih terikat secara persenyawaan
menjadi zat yang dapat terserap oleh tanaman. Proses tersebut hanya
dapat dilakukan oleh mikroba tertentu.Pupuk Bio P 2000 Z berisikan
mikroba tersebut selain mikroba yang berfungsi lainnya.

Penggunaan pupuk Mikroba Bio P 2000 Z pada 3 bulan sebelum


melakukan penanaman lahan disiramkan/ didsemprotkan dengan Bio P
2000 Z dengan dosis 2 hingga 3 liter per hektar. Diulangi lagi 2 bulan
berikutnya, 1 minggu sebelum tanam maka dilakukan lagi
penyemprotan dengan dosis 1 liter per hektar.

Pemupukan an organik yang diperlukan pada lahan gambut adalah


pupuk Kalium (KCl), Phospat (SP36, atau sejenisnya) dan Calsium (Ca)
dari kapur, dolomit dan sejenisnya, dan Nitrogen (N) seperti Urea dan
sejenisnya.

Pemeliharaan Tanaman.

Selama pemeliharaan maka dilakukan penyemprotan / penyiraman


( pada beberapa lobang yang dibuat sekitar tanaman) dengan dosis 1
liter per hektar per aplikasi. Periodik pemberian periodik 5 kali yaitu
pada bulan Januari, Maret, Mei, Juli, Nopember.

CARA
MENGGUNAKAN
A. Dengan cara fermentasi.

PUPUK

HAYATI

BIO

2000

Siapkan air 20 liter di ember, berikan 1 kg gula dan 1 kg urea.

Aduk hingga merata, dan tuangkan 1 liter pupuk bio P 2000 Z.

Diamkan 48 jam, setiap 1 liter air fermentasi tambahkan 6 liter air

Gunakan semprotkan untuk 1 ha ke tanah dan tanaman.

Waktu pagi sebelum pkl. 10.00 atau sore sesudah pkl 16.00.

B.
Dengan
cara
menggunakan
dicampur
PHOSMIT
Phosmit berfungsi sebagai zat yang mampu membangunkan mikroba dari kondisi tidur, dan
sekaligus sebagai bahan makanan untuk tanaman maupun mikroba. Dengan demikian, daya kerja
penggabungan Bio P 2000 Z dan Phosmit dibuat saling mendorong pertumbuhan tanaman.

siapkan air 200 liter air tambahkan pupuk Bio P 2000 Z 1 liter dan 1
liter phosmit dan siap digunakan untuk lahan 1 ha ke tanah dan
tanaman.

Waktu pagi sebelum pkl. 10.00 atau sore sesudah pkl 16.00.

SEJARAH KELAPA SAWIT


Tanaman kelapa sawit adalah sumber utama minyak nabati sesudah kelapa di
Indonesia. Tanaman ini dikenal di dunia barat setelah orang Portugis berlayar ke
Afrika tahun 1466. Dalam perjalanan ke Pantai Gading (Ghana), penduduk
setempat terlihat menggunakan kelapa sawit untuk memasak maupun untuk
bahan kecantikan. Pada tahun 1970 untuk yang pertama kali dikapalkan
sejumlah biji kelapa sawit ke Inggris dan memasuki daratan benua Eropa tahun
1844. Beberapa tahun kemudian Eropa mengimport inti sawit.
Tahun 1848 tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia dan daerah-daerah lain
di Asia sebagai tanaman hias. Ada 4 tanaman yang ditanam di Kebun Raya
bogor (Botanical Garden) Bogor, dahulu bernama Buitenzorg, dua berasal dari
Bourbon (Mauritius) dan dua lainnya dari Hortus Botanicus, Amsterdam
(Belanda). Pada tahun 1853 keempat tanaman tersebut telah berbuah dan
bijinya disebarkan secara gratis. Pada pengamatan tahun 1858, ternyata
keempat tanaman tersebut tumbuh subur dan berbuah lebat. Walaupun berbeda
waktu penanaman (asal Bourbon lebih dulu dua bulan), tanaman tersebut
berbuah dalam waktu yang sama, mempunyai tipe yang sangat beragam,
kemungkinan diperoleh dari sumber genetik yang sama (Rutgers, 1922). Kirakira 10 tahun kemudian, diadakan uji coba penanaman kelapa sawit pertama di
Indonesia yang dilakukan di karesidenan Banyumas 14 acre dan di karesidenan
Palembang 3 acre (Sumatera Selatan). Hasil uji coba tersebut menunjukkan
bahwa tanaman kelapa telah berbuah pada tahun keempat setelah ditanam
dengan tinggi batang 1,5 m, sedangkan di negeri asalnya baru berbuah pada
tahun keenam atau ketujuh. Selanjutnya uji coba dilakukan di Muara Enim tahun
1869, Musi Ulu 1870 dan Biliton 1890 (Van Heurn, 1948) tetapi tidak begitu baik
pertumbuhannya. Hal ini baru disadari kemudian, bahwa iklim daerah
Palembang kurang sesuai untuk pertumbuan kelapa sawit. Kemudian
dikembangkan ke Sumatera Utara, ternyata sungguh baik. Keunggulan kelapa
sawit Sumatera Utara sudah dikenal sejak sebelum perang dunia ke II dengan
varietas Dura Deli (bahasa Inggris: Deli Dura) yakni tanaman kelapa sawit yang
ditanam di Tanah Deli (Medan dan sekitarnya).
Selama 40 50 tahun sesudah tanaman kelapa sawit masuk ke Indonesia hanya
digunakan sebagai tanaman hias, barulah pada tahun 1911 diperkebunkan di
Sumatera Utara, hanya 9,1% di Lampung dan 4,1 % di Aceh (Daswir dan
Panjaitan, 1981). Sekarang ini sudah tersebar luas di berbagai propinsi lain

termasuk di Pulau Jawa melalui proyek PIR atau perluasan usaha Perusahaan
Perkebunan Negara (PPN) ataupun Perseoran Terbatas Perkebunan Nusantara
(PTPN) yang kebanyakan berpusat di Sumatera Utara, dan Riau serta
pembukaan lahan baru oleh perusahaan asing maupun swasta nasional.
Pada awal tahun 80-an, tanaman kelapa sawit digelari sebagai komoditi
primdona karena memberi keuntungan yang melimpah. Dengan adanya hal ini,
perluasan areal dapat terealisasi dengan kemajuan yang pesat. Kalau sebelum
perang dunia ke II, Sumatera Utara dan Aceh adalah penghasil minyak kelapa
sawit terbesar di dunia, tetapi setelah perang, Malaysia adalah penghasil minyak
sawit yang utama. Ini berkat kemajuan Malaysia mengelola perkebuna sawit
secara efisien dan didukung oleh penelitian dan pengembangan

JENIS-JENIS KELAPA SAWIT


Jenis kelapa sawit yang di budidayakan terdiri dari dua jenis yaitu :
1)
Elaeis Guineensis
2)
Elaeis Oleifera
Kedua jenis ini pertama kali yang terluas di budidayakan orang. Dari kedua jenis
spesies kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing
a) Elaeis Guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi.
b) Elaeis Oleifera memiliki tingkat ketinggian batang yang rendah.
Banyak orang sedang menyilangkan kedua jenis kelapa sawit ini. Dengan tujuan
untuk mendapatkan kelapa sawit yang tinggi produksi dan mudah di panen.
Elaeis oleifera saat ini mulai di budidayakan untuk menambah keanekaragaman
sumber daya genetik.

Penangkaran kelapa sawit sering kali dilihat berdasakan dari ketebalan


cangkang yang terdiri dari.
-Dura
-Pisifera
-Tenera

* Dura merupakan jenis kelapa sawit yang memiliki cangkang tebal sehingga
produksi CPO-nya sangat rendah. Dan di anggap cepat merusakan mesin
pengolahanya. Jenis ini memiliki ciri yaitu tandan buahnya besar-besar dan
memiliki bobot yang sangat berat, dengan kandungan minyak pertandan berkisar
18%
*Pisifera merupakan jenis kelapa sawit yang tidak memiliki cangkang. Sehingga
tidak memiliki inti(karnel) tetapi menghasilkan minyak sangat ekonomis. Pada
bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah.

* Tenera adalah hasil persilangan induk dura dan jantan fisifera. Jenis tenera di
anggap bibit unggul karena melengkapi masing-masing induk. Dengan sifat
cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa jenis tenera
unggul memiliki persentase daging setiap butir buah mencapai 90%. Dan
kandungan minyak pertandannya mencapai 28%. Untuk pembibitan massal
digunakan tenik kultur jaringan. Hasil olahan produksi minyak kelapa sawit
digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun,
kosmetik,industri baja kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak kelapa
sawit sangat beragam kegunaanya. Karena keunggulan sifat yang dimiliki adalah
tahan oksidasi dengan tekanan tinggi. Mampu melarutkan bahan kimia, yang
tidak larut oleh bahan pelarut lainya. Mempunyai daya melapis yang tinggi dan
tidak menimbulkan iritasi pada tubuh untuk kosmetik.

ASAL USUL KELAPA SAWIT


Tanaman penghasil minyak nabati terdapat 3 jenis, yaitu Elaeis guinensis jacq,
Elaeis oleifera atau Elaeis melanocca dan Elaeis odora atau Barcella odora
(Corley, 1976). Kelapa sawit yang banyak ditanam di Indonesia adalah berasal
dari Afrika.
Beberapa varietas kelapa sawit adalah: Dura, Pisifera, Tenera, Macro carya, dan
Dwikka wakka.
Penggolongan varietas berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah
menurut Hutgers dan Yampolski:
1. Varietas Macrocarya = type Congo
tebal tempurung 4-8 mm
daging buah 30-50 %
tempurung/buah 20-40 %
inti 10 %
2. Varietas Dura = type Deli
tebal tempurung 2-5 mm
daging buah 50-70 %
tempurung/buah 20-40 %
inti 10 %
3. Varietas Tenera = type Lesobe
tebal tempurung 0,5-2,5 mm
daging buah 70-85 %
tempurung/buah 5-20 %
inti 8-10 %

4. Varietas Pisifera
tebal tempurung +- 0 mm
daging buah 85-100 %
tempurung/buah +- 0 %
inti 0-5 %
Penggolongan kelapa sawit berdasakan warna buah menurut Vanderwejn:
1. Nigrescens
Buahnya berwana hitam pada saat masih muda dan berubah menjadi orange
kehitam-hitaman pada saat buah matang.
2. Virescens
Buahnya berwana hijau pada saat masih muda dan berubah menjadi orange

pada saat buah matang.


3. Albescens
Buahnya berwana keputih-putihan pada saat masih muda dan berubah menjadi
kekuning-kuningan pada saat buah matang.

EKOLOGI KELAPA SAWIT


Tanaman kelapa sawit dapat hidup dengan baik pada daerah 15"LU-15"LS, yaitu
dekat daerah edar garis khatulistiwa. Ketinggian lahan yang ideal adalah pada
ketinggian 0-500 m dpl. Curah hujan yang sesuai adalah 2.000-2.500 mm/tahun.
Suhu optimum adalah 29-30"C. Intensitas penyinaran adalah 5-7 jam/hari.
Kelembaban yang ideal adalah 80-90%. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik
pada jenis tanah Podsolik, Latosil, Hidromorfik kelabu, Alluvial atau Regosol.
Nilai pH optimum adalah 5-5,5. Perkebunan kelapa sawit baik dibangun pada
tanah yang gembur, subur, datar (tidak lebih dari 15", berdrainase yang baik,
dengan lapisan solum yang dalam.

BUDIDAYA SAWIT

Pembibitan
Untuk memperoleh tanaman kelapa sawit yang berkualitas, salah satunya adalah
dengan melaukan pembibitan yang benar. Karena proses pembibitan ini aka
sangat berpengaruh terhadap kualitas dan rpoduksi dari tanaman kelapa sawit
dikemudian harinya. Oleh karena itu berikut adalah cara pembibitan kelapa sawit
yang baik.

I. Persyaratan Benih
Benih yang baik untuk bibit kelapa sawit harus berasal dari indukan yang jelas
dan berkualitas baik. Saat ini di Indonesia terdapat 6 (enam) produsen benih
resmi dalam negeri yang menyediakan benih untuk bibit kelapa sawit yaitu Pusat
Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, PT London Sumatera (Lonsum), PT
Socfin, PT Tunggal Yunus Estate, PT Dami Mas Sejahtera dan PT Bina Sawit
Makmur.
Benih-benih yang dihasilkan oleh produsen resmi ini telah mengalami proses
introduksi yang sedemikian rupa dan berulang-ulang sehingga menghasilkan
kualitas sangat baik, berasal dari indukan yang jelas asal usulnya seperti
Delidura dan bapak Pisifera.

II. Pengecambahan Benih

1. Cara yang biasa dilakukan oleh PPKS Medan


a. Melepaskan tangkai buah dari spikeletnya.
b. Waktu pemeraman tandan buah dilakukan selama tiga hari dan sekali-sekali
disiram air. Kemudian pisahkan buah dari tandannya dan diperam lagi selama
tiga hari.
c. Proses yang dilakukan untuk memisahkan daging buah dari bijinya, buah
dimasukkan kedalam mesin pengaduk. Kemudian cuci biji yang dihasilkan
dengan menggunakan air, setelah itu masukkan kedalam larutan Dithane M-45
0,2% selama kira-kira tiga menit. Keringkan dan seleksi untuk memperoleh biji
yang berukuran seragam.
d. Proses selanjutnya semua benih yang telah ditreatment disimpan di dalam
suatu ruangan tertentu yang telah diatur bersuhu berkisar 27C dan kelembaban
berkisar 60-70% sebelum dikecambahkan.

2. Cara lainnya
a. Melakukan perendaman biji dalam air selama 6 7 hari, penggantian air
dilakukan secara rutin setiap hari, lalu rendam dalam larutanDithane M - 45 0,2%
selama lebih kurang dua menit, selanjutnya biji dikeringanginkan.

b. Biji yang telah selesai ditreatment dimasukkan kedalam kaleng


pengecambahan dan
ditempatkan dalam ruangan dengan temperatur berkisar 39C dan kelembaban
berkisar 60 70% selama enampuluh hari. Selanjutnta setiap tujuh hari benih
dikeringanginkan selama tiga menit.
c. Setelah enampuluh hari rendam benih dalam air sampai kadar air 20 30%
dan dikeringanginkan lagi. Masukkan biji ke dalam larutanDithane M 45 0,2%
selama lebih kurang dua menit.
d. Selanjutnya benih disimpan diruangan dengan suhu yang sudah diatur
berkisar 27C. Setelah sepuluh hari benih berkecambah, pada hari ke 30 tidak
digunakan lagi.

III. Teknik Pembibitan Benih Berkecambah


Secara umum terdapat dua teknik pembibitan yaitu cara dua tahap melalui
dederan (prenursery) dan cara langsung tanpa dederan. Lahan pembibitan
dibersihkan, diatur perataannya dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman.
Ada beberapa model jarak tanam biji dipembibitan yaitu 50 x 50 cm, 60 x 60 cm,
65 x 65 cm, 70 x 70 cm, 80 x 80 cm, 85 x 85 cm, 90 x 90 cm atau 100 x 100 cm
dalam bentuk segitiga sama sisi. Kebutuhan bibit per hektar dapat diketahui
berkisar antara 12.500 sampai 25.000 butir tergantung jarak tanam yang akan
digunakan. Sebelumnya agar disiapkan dan disesuaikan segala persyaratan
yang diperlukan seperti yang sudah disampaikan dalam gambaran
umumpersyaratan tumbuh dalam tulisan sebelumnya.

1. Cara tak langsung


a. Dederan
Kecambah dimasukkan ke dalampolybag 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm berisi 1,5
2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah di tanam dan
dibenamkan sedalam dua cm. Tanah di polybag harus selalu terjaga
kelembabannya. Simpanpolybag dibedengan dengan diameter berkisar 120 cm.
Setelah berumur 3 4 bulan dan berdaun emapat sampai lima helai bibit
dipindahkan kemudian ditanam ke pembibitan.
b. Pembibitan
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polybag 40 x 50 cm atau 45 x 60 cm
setebal 0,1 mm yang berisi 15 30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum
bibit ditanam, siram tanah di dalam polybag sampai lembab. Polybag disusun
diatas lahan yang telah diratakan dan diatur dalam posisi segitiga sama sisi
dengan jarak seperti disebutkan diatas.

2. Cara langsung

Cara ini pada prinsipnya untuk melakukan penghematan terutama dalam hal
penggunaan tenaga dan biaya. Kkecambah langsung ditanam di dalam polybag
ukuran besar seperti pada cara pembibitan.

IV. Pemeliharaan pembibitan

1. Tindakan pemeliharaan dilakukan pada bibit di dederan dan di pembibitan.


a. Penyiraman dilakukan dua kali sehari kecuali jika ada hujan lebih dari 7 8
mm. Kebutuhan air sekitar 2 liter untuk setiappolybag.
b. Gulma yang tumbuh dicabut atau disemprot dengan herbisida setiap tiga
bulan. Penyiangan dilakukan 2 3 kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan
pertumbuhan gulma. Pemulsaan adalah cara lain untuk mencegah gulma
dengan cara menaburkan serasah di polybagsekaligus upaya mempertahankan
kelembaban.
c. Proses penyeleksian bibit yang tumbuh abnormal, berpenyakit dan
mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Proses seleksi dilakukan pada saat
berumur 4 dan 9 bulan.
d. Pemupukan dilakukan berapa kali selama masa pembibitan, diberikan urea
atau pupuk majemuk.

2. Pemberian pupuk di pembibitan


a. Umur bibit 4 5 minggu larutan urea 0,2%, 3 4 liter larutan/100 bibit dalam
satu minggu rotasi.
b. Umur bibit 6 7 larutan urea 0,2%, dosis 4 5 liter larutan/100 bibit dalam
satu minggu rotasi.
c. Umur bibit 8 16 minggu ;rustica 15.15.6.4 dosis 1 gram/bibit dalam 2 minggu
rotasi.
d. Umur bibit 17 20 minggu,rustica 12.12.17.2 dosis 5 gram/bibit dalam 2
minggu rotasi.
e. Umur bibit 21 28 minggu,rustica 12.12.17.2 dosis 8 gram/bibit dalam 2
minggu rotasi.
f. Umur bibit 29 40 minggu,rustica 12.12.17.2 dosis 15 gram/bibit dalam 2
minggu rotasi.
g. Umur bibit 41 48 minggu,rustica 12.12.17.2 dosis 17 gram/bibit dalam 2
minggu rotasi.

V. Pembiakan dengan Kultur Jaringan


Bahan pembiakan berupa sel akar biasa disebut sebagai metode Inggris dan sel
daun biasa disebut sebagai metode Perancis. Metode ini mampu memperbanyak

bibit tanaman dengan tingkat produksi tinggi dengan skala yang besar dan
pertumbuhan tanaman seragam.

VI. Seleksi Bibit


Proses penyeleksian bibit dilakukan sebanyak dua kali yaitu penyeleksian di
pembibitan pendahuluan/dederan dan pembibitan utama. Tanaman-tanaman
yang tidak memenuhi standar kebutuhan seperti bentuknya yang abnormal
dibuang, ciri-ciri :
a. Postur bibit terkulai
b. Postur bibit kerdil, tidak tumbuh sempurna
c. Postur bibit meninggi dan kaku
d. Terkena serangan penyakit
e. Bentuk anak daun tidak tumbuh sempurna
f. Anak daun tidak membelah dengan sempurna

Penyemaian
Agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan penanaman maka perlu diketahui
mana bagian daun dan mana bagian akar dari bibit/ kecambah kelapa sawit.
Plumula atau calon daun biasanya berwarna kehijauan, sedangkan radikula atau
calon akar umumnya berwarna lebih kekuningan dan berbulu.

Sebelum kecambah ditanam di polibeg yang telah diisi tanah, terlebih dahulu
dibuat lubang di dalam polibeg sedalam + 3 cm ( umumnya dengan cara
menekan tanah pada polibeg dengan ibu jari). Kemudian kecambah dimasukkan
ke dalam polibeg dengan radikula di bagian bawah, setelah itu kecambah ditutup
dengan tanah (plumula harus tertutup tanah). Kecambah harus disiram segera
setelah penanaman selesai.

Tahapan pekerjaan dalam penyemaian benih meliputi:


1. Benih yang sudah berkecambah disemai dalam polybag kecil, kemudian
diletakkan pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang
bedengan secukupnya.
2. Ukuran polybag yang digunakan adalah 12 cm x 23 cm atau 15 cm x 23 cm
(lay flat).
3. Polybag diisi dengan 1,5-2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag
diberi lubang untuk drainase.
4. Kecambah ditanam sedalam 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm.
5. Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3-4 bulan dan
berdaun 4-5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit
(nursery).
6. Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak
becek. Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapat menjaga
kelembaban yang dibutuhkan oleh bibit.
7. Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha
menghasilkan kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap
kerusakan
karena siraman.
8. Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih
besar, berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan
diberi lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.
9. Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15-30
kg/polybag, disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum
dipindahkan) di pesemaian bibit.
10. Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leherakar berada pada
permukaan tanah polybag besar dan tanah sekitar bibit dipadatkan agar bibit
berdiri tegak. Bibit

pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan,
dibersihkan dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak
misalnya 100 cm x
100 cm x100 cm

Persiapan Lahan
Biasanya kelapa sawit sering ditanam pada lahan bekas hutan yang baru akan
dibuka untuk pertanian, ada juga lahan bekas perkebunan karet atau lainnya,
ataupun bekas tanaman kelapa sawit yang sudah tua dan akan dilakukan
peremajaan kembali. Sekarang kenali dulu calon lahan yang akan anda tanami..
Untuk persiapan lahan perlu dilaksanakan proses pembukaan lahan yang secara
mekanis, pada bekas hutan atau bekas tanaman lain seperti karet dan
sebagainya terdiri dari beberapa pekerjaan, yakni
a) menumbang, yaitu memotong pohon besar dan kecil dengan mengusahakan
agar tanahnya terlepas dari tanah.
b) merumpuk, yaitu mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan untuk
memudahkan pembakaran.
c) merencek dan membakar, yaitu memotong dahan dan ranting kayu yang telah
ditumpuk agar dapat disusun sepadat mungkin, setelah kering lalu dibakar.
d) pengolahan tanah secara mekanis.
Sedangkan pada pada tanah bukaan ulangan terdiri dari pekerjaan, yakni:
a) pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan traktor.
b) meracun batang pokok kelapa sawit dengan cara membuat lubang sedalam
20 cm pada ketinggian 1 meter pada pokok tua. Lubang diisi dengan Natrium
arsenit 20 cc per pokok, kemudian ditutup dengan bekas potongan lubang.
c) membongkar, memotong dan membakar. Dua minggu setelah peracunan,
batang pokok kelapa sawit dibongkar sampai akarnya dan telah kering lalu
dibakar.
d) pada bukaan ulangan pembersihan bekas-bekas batang harus diperhatikan
dengan serius karena sisa batang, akar dan pelepah daun dapat menjadi tempat
berkembangnya hama (misalnya kumbang Oryctes) atau penyakit ( misalnya
cendawan Ganoderma).

Kedua, Pemancangan
Maksud pemancangan adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami
kelapa sawit sesuai dengan jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya,
sehingga lurus bila dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur.
System jarak yang digunakan adalah segitiga sama sisi, dengan jarak 9 m x 9 m
x 9 m yang nantinya populasi tanaman sekitar 122 pohon. Ada juga petani yang
menggunakan teknik mata lima atau anda langsung mengukur jarak tanam 8m x
9m atau bahkan 8m x 8m. Berapanpun ukuran jarak yang akan akan jadikan

patokan dalam penanam seharusnya tidak terlalu rapat karena akan


mempengaruhi produksifitas pohon tersebut. Jadi jangan memaksakan untuk
menanam populasi pohon sawit terlalu banyak dengan mempersempit jarak
tanam, hal ini yang akan berakibat fatal.

Ketiga, Pembuatan lubang tanaman


Lubang tanaman dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukuran lubang,
panjang x lebar x dalam adalah 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada waktu menggali
lubang, tanah atas dan bawah dipisahkan, masing-masing di sebelah Utara dan
Selatan lubang.

Keempat, Menanam
Cara menanam bibit yang ada pada polybag, yaitu:
- Siapkan bibit yang siap tanam pada masing-masing lubang tanam yang sudah
dibuat.
- Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar
kelembaban tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.
- Sebelum penanaman dilakukan pupuklah dasar lubang dengan menaburkan
secara merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250
gram per lubang.
- Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit
dengan hati-hati, kemudian masukkan ke dalam lubang.
- Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan
memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan
dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak.
- Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah
polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan
demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air.
- Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.
- Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.

Penanaman
Cara menanam kelapa sawit yang benar
Berikut saya berikan beberapa tips dan cara dalam menanam kelapa sawit. Tips
ini dirangkum dari pengalaman saya selama belajar, membuat bibit dan
bertanam kelapa sawit yang benar.

1. Pada lahan daerah kering, menanam sawit sebaiknya dengan sistem lembah
tangkapan air. Maksudnya tanah digali dahulu berbentuk bulat berdiameter
150cm sedalam 30cm,baru ditengahnya digali lagi lubang petak ukuran
5050x50cm untuk lubang penanaman bibit.

Ini akan sangat membantu asupan air, karena sawit adalah tanaman yang
sangat banyak membutuhkan air. Selain itu akan membantu efisiensi
pemupukan, karena akan menghidari hanyutnya pupuk dibawa air hujan. Akan
tetapi tentu biayanya cukup besar. Namun dalam jangka panjang, perlakuan ini
akan jauh lebih menguntungkan.

2. Pada lahan yang ada serangan hama tikusnya, balutlah pangkal pohon
sawit yang baru ditanam dengan kawat ram atau kawat kandang ayam setinggi
50 cm. Bagian bawah kawat harus kandas ke tanah. Bisa juga memakai jala
bekas. Pembalutan dilakukan dengan tidak terlalu ketat, agar pertumbuhan
batang sawit tidak terganggu.

3. Bila ada pohon sawit yang berbuah jarum, atau durinya saja yang banyak
namun buahnya kecil, jangan ditebang atau diganti. Kumpulkan sampah daunan
kering disekitar pangkal batangnya lalu bakar sampai daun pada pelepah
terbawah pohon sedikit layu. Lakukan setiap 20 hari sekali atau setiap
pemanenan sawit sekitarnya. Selain itu, buah jarumnya harus tetap dipanen,
dibuang. Pelepahnya juga dibersihkan sesuai rotasi pembersihan pelepah sawit
lainnya. Secara perlahan pohon sawit ini akan berubah buahnya menjadi bagus
layaknya sawit yang normal.

4.Lahan yang terlalu tinggi kandungan asam dan/atau aluminiumnya


(AL), maka dapat dinetralkan dengan menaburkan pupuk abu, atau pupuk
Dotani, atau tanah kapur sebanyak 30 kg perpohon. Perlakuan ini juga dapat
diterapkan untuk lahan gambut dalam.
5. Ciri sawit jenis dura : sabut buahnya tipis, kernel ( tempurung bijinya )
besar dan tebal. Biji ( intinya ) juga besar atau berjumlah sampai tiga biji dalam
satu tempurung atau cangkang. Jenis ini banyak ditanam petani rakyat, karena
bobot TBS-nya yang lebih berat. Sebaliknya sawit jenis tenera, sabut kelapanya
tebal, kernelnya kecil dan kulit kernelnya tipis. Bobot tbsnya lebih ringan

dibanding sawit jenis dura Jenis tenera ini banyak ditanam perkebunan besar
karena rendemen atau pesentase CPO nya yang tinggi. Juga kulit bijinya yang
tipis dan lunak akan sangat menghemat usia peralatan pabrik kelapa sawit.

6. Jarak tanam pohon sawit sebaiknya tak kurang dari 98 meter. Kecuali
anda menggunakan bibit sawit unggul pelepah pendek. Sawit unggul pelepah
pendek ini memang dapat ditanam lebih rapat dari pada sawit lokal. Dan lebih
menguntungkan dalam jangka pendek dan menengah. Tetapi dalam jangka
panjang, maka hasilnya akan kalah sedikit dibanding sawit lokal, karena usia
sawit lokal yang lebih panjang 3-4 tahun. Selain itu, sawit unggul tandan
buahnya akan sedikit mengecil bila sudah berusia di atas 18 tahun dibanding
sawit lokal. Dan batang pohon sawit unggul tidaklah sekokoh sawit lokal,
sehingga sering patah atau tumbang jika ada angin besar.
Ini yang membuat banyak perkebunan besar pohon sawitnya tinggal 60-75
persen saja saat akan peremajaan. Bandingkan dengan sawit lokal yang
biasanya bertahan pada kisaran 90 persen pohon masih berdiri. Selain faktor
bibit, faktor pemupukan juga ikut menentukan kekokohan pohon. Pupuk yang
banyak akan membuat batang dan akar pohon sawit menjadi rapuh. Ciri pohon
sawit yang kebanyakan pupuk adalah batangnya gundul, sedikit sekali sisa
pangkal pelepah yang masih menempel.

7. Saat ini beberapa perkebunan melakukan planting inter planting saat


peremajaan tanaman sawit. Maksudnya, tiga tahun sebelum sawit tua diafkir
atau ditumbang, bibit sawit baru berumur dua tahun telah ditanam tepat diantara
jarak tanak lama. Setelah tanaman baru berumur tiga tahun, baru sawit lama
ditumbang dengan buldozer. Ada juga yang membunuh pohon tua itu dengan
racun. Caranya adalah batang pohon sawit tua dibor dengan bor listrik mata
panjang sampai pertengahan batangnya, lalu disuntikkan racun ke dalam lubang
hasil bor tadi. kemudian lubang ditutup dengan tanah liat. Posisi lubang adalah
mengarah ke bawah, sehingga racun tidak tumpah. Jumlah racun berkisar 150
cc.

8. Bibit sawit yang umur dua tahun, sebelum dibawa ke lapangan, dipotong
dulu semua pelepahnya setengah, kecuali bagian pucuk. Ini untuk mencegah
stress akibat penguapan air pohon yang berlebihan. Ingat, jangan membuang
tanah yang ada dalam polibag. Dan polibag harus dibuka sebelum bibit
ditanamkan. Hentikan penyiraman bibit dua hari sebelum dipindahkan ke
lapangan, guna mencegah pecahnya tanah saat
diangkut.

9. Waktu membongkar bibit besar dari tempat tanam pembibitannya,


miringkanlah bibit lalu potonglah akarnya yang menembus polibag dengan
arit/sabit. Jangan pernah menariknya dengan paksa. Demikian sedikit tips
tentang cara bertanam sawit.

Pemupukan

Dosis dan Cara Pemupukan Kelapa Sawit :

Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk N, P, K, Mg dan B (Urea, TSP, KCl,
Kiserit dan Borax). Pemupukan tambahan dengan pupuk Borax pada tanaman
muda sangat penting, karena kekurangan Borax (Boron deficiency) yang berat
dapat mematikan tanaman kelapa sawit. Dosis pupuk yang digunakan
disesuaikan dengan umur tanaman atau sesuai dengan anjuran Balai Penelitian
Kelapa Sawit. Dosis pemupukan pada tanaman kelapa sawit yang sudah
menghasilkan :
1. Urea 2,0-2,5 diberikan 2x aplikasi
2. KCl 2,5-3,0 diberikan 2x aplikasi
3. Kiserit 1,0-1,5 diberikan 2x aplikasi
4. SP-36 0,75-1,0 diberikan 1x aplikasi
5. Borax 0,05-0,1 diberikan 2x aplikasi

Pupuk N ditaburkan merata mulai jarak 50 cm dari pokok sampai di pinggir luar
piringan. Pupuk P, K dan Mg harus ditaburkan merata pada jarak 1-3 m dari
pokok. Pupuk B ditaburkan merata pada jarak 30-50 cm dari pokok. Waktu
pemberian pupuk sebaiknya dilaksanakan pada awal musim hujan (SeptemberOktober), untuk pemupukan yang pertama dan pada akhir musim hujan (MaretApril) untuk pemupukan yang kedua. Untuk tanaman yang belum menghasilkan,
yang berumur 0-3 tahun, dosis pemupukan per pohon per tahunnya adalah
sebagai berikut :
1. Urea 0,40-0,60 diberikan 2 x aplikasi
2. KCl 0,20-0,50 diberikan 2 x aplikasi
3. Kiserit 0,10-0,20 diberikan 2x aplikasi
4. SP-36 0,25-0,30 diberikan 1 x aplikasi
5. Borax 0,02- 0,05 diberikan 2 x
Aplikasi Pupuk N, P, K, Mg, B ditaburkan merata dalam piringan mulai jarak 20
cm dari pokok sampai ujung tajuk daun. Waktu pemupukan sebaiknya
dilaksanakan pada awal musim hujan (September-Oktober), untuk pemupukan
yang pertama dan pada akhir musim hujan (Maret- April) untuk pemupukan yang
kedua. Demikian dulu informasi tentang dosis dan cara pemupukan kelapa sawit.

Pemeliharaan
a. Cara perawatan
Pada daerah tertentu harus dilakukan perawatan yang berbeda seperti di daerah
gambut dibutuhkan unsur hara mikro seperti cu dan fe dan juga harus dibuat
drainase yang baik sedangkan di daerah mineral dan rata hal ini mungkin tidak di
perlukan.

b. Adopsi teknologi
Peralatan pertanian selalau mengalami kemajuan dari manual ke mekanis dan
biasanya mekanis akan meningkatkan produktifitas sehingga biaya akan lebih
murah. Jadi selalu harus di cari jenis tehnologi terbaru yang sesuai karena
beberapa tehnologi pertanian yang terbaru tidak cocok di pakai dalam
perkebunan kelapa sawit.

Adapun kegiatan pemeliharaan atau perawatan tanaman kelapa sawit adalah :

1. Pengendalian gulma
Gulma yang harus di kendalikan dalam perkebunan kelapa sawit adalah gulma
kelas A seperti lalang, bambu, pisang, anak kayu, senduduk dan lain lain.

2. Pemupukan
Pupuk yang dibuthkan kelapa sawit adalah Urea/ZA, MOP/KCl,
Dolomit/Kieserite, RP/TSP/SP-36 dan Borate serta Cuprum dan Ferrit.

3. Tunas
Dalam penunasan hal yang harus di perhatikan adalah jumlah pelepah.
a. Tanaman kelapa sawit berumur < 9 tahun tunasan harus songgo 3
b. Tanaman kelapa sawit berumur 9 - 15 tahun tunasan songgo 2
c. Tanaman kelapa sawit berumur > 15 tahun tunasan songgo 1

4. Hama dan Penyakit


Ada banyak hama dan pekait kelapa sawit terutama adalah hama pemakan daun
yang sangat memerlukan perhatian yang serius

5. Cara Panen
Panen yang salah menyebabkan tanaman menjadi stress sehingga kegiatan
panen saya masukkan kedalam perawatan kelapa sawit.

NAMA-NAMA PERUSAHAAN KELAPA SAWIT


DI KABUPATEN SEKADAU

1. PT Kalimantan Sanggar Pusaka (KSP) di Kecamatan Nanga Belitang*


2. PT Kalimantan Bina Permai (KBP) di Kecamatan Belitang Hulu**
3. PT Multi Jaya Perkasa (MJP) di Kecamatan Sekadau Hilir dan Sekadau
Hulu*
4. PT Surya Deli di Kecamatan Sekadau Hilir*
5. PT Sumatra Makmur Lestari di Kecamatan Sekadau Hulu**
6. PT Arvena Sepakat di Kecamatan Sekadau Hulu**
7. PT Agrindo Prima Niaga di Kecamatan Sekadau Hulu
8. PT Multi Prima Entakai (MPE) di Kecamatan Sekadau Hilir*
9. PT Multi Prima Entakai 2 di Kecamatan Sekadau Hulu**
10. PT Multi Prima Entakai Pemubuh di Kecamatan Sekadau Hulu**
11. PT Agro Plankan Lestari di Kecamatan Sekadau Hilir**
12. PT Permata Hijau Sarana di Kecamatan Sekadau Hilir**
13. PT Agro Andalan di Kecamatan Sekadau Hulu***
14. PT Agro Anugerah Lestari di Kecamatan Sekadau Hilir**
15. PT Seguri Serasam Sejahtera di Kecamatan Sekadau Hulu**
16. PT Parna Agro Mas LG di Kecamatan Belitang Hilir**
17. PT Tintin Boyok Sawit Makmur (TBSM) di Kecamatan Sekadau Hulu**
18. PT Grand Utama Mandiri di Kecamatan Belitang Hulu**
19. PT Bintang Sawit Lestari di kecamatan Sekadau Hulu**
20. Koperasi Perkebunan Tirta Sejahtera di kecamatan Sekadau Hilir

*PIR-Trans (Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi)


**Kemitraan Program Revitalisasi Pemerintah
***Perkebunan Besar Swasta

CARA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT YANG BAIK

Untuk memperoleh tanaman kelapa sawit yang berkualitas, salah satunya adalah dengan
melaukan pembibitan yang benar. Karena proses pembibitan ini aka sangat berpengaruh terhadap
kualitas dan rpoduksi dari tanaman kelapa sawit dikemudian harinya. Oleh karena itu berikut
adalah cara pembibitan kelapa sawit yang baik.

I. Persyaratan Benih
Benih yang baik untuk bibit kelapa sawit harus berasal dari indukan yang jelas dan berkualitas baik.
Saat ini di Indonesia terdapat 6 (enam) produsen benih resmi dalam negeri yang menyediakan
benih untuk bibit kelapa sawit yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, PT London
Sumatera (Lonsum), PT Socfin, PT Tunggal Yunus Estate, PT Dami Mas Sejahtera dan PT Bina
Sawit Makmur.
Benih-benih yang dihasilkan oleh produsen resmi ini telah mengalami proses introduksi yang
sedemikian rupa dan berulang-ulang sehingga menghasilkan kualitas sangat baik, berasal dari
indukan yang jelas asal usulnya sepertiDelidura dan bapak Pisifera.

II. Pengecambahan Benih

1. Cara yang biasa dilakukan oleh PPKS Medan

a. Melepaskan tangkai buah dari spikeletnya.


b. Waktu pemeraman tandan buah dilakukan selama tiga hari dan sekali-sekali disiram air.
Kemudian pisahkan buah dari tandannya dan diperam lagi selama tiga hari.
c. Proses yang dilakukan untuk memisahkan daging buah dari bijinya, buah dimasukkan kedalam
mesin pengaduk. Kemudian cuci biji yang dihasilkan dengan menggunakan air, setelah itu
masukkan kedalam larutan Dithane M-45 0,2% selama kira-kira tiga menit. Keringkan dan seleksi
untuk memperoleh biji yang berukuran seragam.
d. Proses selanjutnya semua benih yang telah ditreatment disimpan di dalam suatu ruangan
tertentu yang telah diatur bersuhu berkisar 27C dan kelembaban berkisar 60-70% sebelum
dikecambahkan.

2. Cara lainnya
a. Melakukan perendaman biji dalam air selama 6 7 hari, penggantian air dilakukan secara rutin
setiap hari, lalu rendam dalam larutan Dithane M - 45 0,2% selama lebih kurang dua menit,
selanjutnya biji dikeringanginkan.
b. Biji yang telah selesai ditreatment dimasukkan kedalam kaleng pengecambahan dan
ditempatkan dalam ruangan dengan temperatur berkisar 39C dan kelembaban berkisar 60 70%
selama enampuluh hari. Selanjutnta setiap tujuh hari benih dikeringanginkan selama tiga menit.
c. Setelah enampuluh hari rendam benih dalam air sampai kadar air 20 30% dan
dikeringanginkan lagi. Masukkan biji ke dalam larutan Dithane M 45 0,2% selama lebih kurang
dua menit.
d. Selanjutnya benih disimpan diruangan dengan suhu yang sudah diatur berkisar 27C. Setelah
sepuluh hari benih berkecambah, pada hari ke 30 tidak digunakan lagi.

III. Teknik Pembibitan Benih Berkecambah


Secara umum terdapat dua teknik pembibitan yaitu cara dua tahap melalui dederan (prenursery)
dan cara langsung tanpa dederan. Lahan pembibitan dibersihkan, diatur perataannya dan
dilengkapi dengan instalasi penyiraman. Ada beberapa model jarak tanam biji dipembibitan yaitu 50
x 50 cm, 60 x 60 cm, 65 x 65 cm, 70 x 70 cm, 80 x 80 cm, 85 x 85 cm, 90 x 90 cm atau 100 x 100
cm dalam bentuk segitiga sama sisi. Kebutuhan bibit per hektar dapat diketahui berkisar antara
12.500 sampai 25.000 butir tergantung jarak tanam yang akan digunakan. Sebelumnya agar
disiapkan dan disesuaikan segala persyaratan yang diperlukan seperti yang sudah disampaikan
dalam gambaran umum persyaratan tumbuh dalam tulisan sebelumnya.

1. Cara tak langsung


a. Dederan
Kecambah dimasukkan ke dalam polybag 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm berisi 1,5 2,0 kg tanah
lapisan atas yang telah diayak. Kecambah di tanam dan dibenamkan sedalam dua cm. Tanah di
polybag harus selalu terjaga kelembabannya. Simpan polybag dibedengan dengan diameter
berkisar 120 cm. Setelah berumur 3 4 bulan dan berdaun emapat sampai lima helai bibit
dipindahkan kemudian ditanam ke pembibitan.
b. Pembibitan
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polybag 40 x 50 cm atau 45 x 60 cm setebal 0,1 mm yang
berisi 15 30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah di dalam
polybag sampai lembab. Polybagdisusun diatas lahan yang telah diratakan dan diatur dalam posisi
segitiga sama sisi dengan jarak seperti disebutkan diatas.

2. Cara langsung
Cara ini pada prinsipnya untuk melakukan penghematan terutama dalam hal penggunaan tenaga
dan biaya. Kkecambah langsung ditanam di dalam polybag ukuran besar seperti pada cara
pembibitan.

IV. Pemeliharaan pembibitan/penyemaian

1. Tindakan pemeliharaan dilakukan pada bibit di dederan dan di pembibitan.


a. Penyiraman dilakukan dua kali sehari kecuali jika ada hujan lebih dari 7 8 mm. Kebutuhan air
sekitar 2 liter untuk setiap polybag.
b. Gulma yang tumbuh dicabut atau disemprot dengan herbisida setiap tiga bulan. Penyiangan
dilakukan 2 3 kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Pemulsaan
adalah cara lain untuk mencegah gulma dengan cara menaburkan serasah di polybag sekaligus
upaya mempertahankan kelembaban.

c. Proses penyeleksian bibit yang tumbuh abnormal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis
harus dibuang. Proses seleksi dilakukan pada saat berumur 4 dan 9 bulan.
d. Pemupukan dilakukan berapa kali selama masa pembibitan, diberikan urea atau pupuk
majemuk.

2. Pemberian pupuk di pembibitan


a. Umur bibit 4 5 minggu larutan urea 0,2%, 3 4 liter larutan/100 bibit dalam satu minggu rotasi.
b. Umur bibit 6 7 larutan urea 0,2%, dosis 4 5 liter larutan/100 bibit dalam satu minggu rotasi.
c. Umur bibit 8 16 minggu ; rustica 15.15.6.4 dosis 1 gram/bibit dalam 2 minggu rotasi.
d. Umur bibit 17 20 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 5 gram/bibit dalam 2 minggu rotasi.
e. Umur bibit 21 28 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 8 gram/bibit dalam 2 minggu rotasi.
f. Umur bibit 29 40 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 15 gram/bibit dalam 2 minggu rotasi.
g. Umur bibit 41 48 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 17 gram/bibit dalam 2 minggu rotasi.

V. Pembiakan dengan Kultur Jaringan


Bahan pembiakan berupa sel akar biasa disebut sebagai metode Inggris dan sel daun biasa
disebut sebagai metode Perancis. Metode ini mampu memperbanyak bibit tanaman dengan tingkat
produksi tinggi dengan skala yang besar dan pertumbuhan tanaman seragam.

VI. Seleksi Bibit


Proses penyeleksian bibit dilakukan sebanyak dua kali yaitu penyeleksian di pembibitan
pendahuluan/dederan dan pembibitan utama. Tanaman-tanaman yang tidak memenuhi standar
kebutuhan seperti bentuknya yang abnormal dibuang, ciri-ciri :
a. Postur bibit terkulai
b. Postur bibit kerdil, tidak tumbuh sempurna
c. Postur bibit meninggi dan kaku

d. Terkena serangan penyakit


e. Bentuk anak daun tidak tumbuh sempurna
f. Anak daun tidak membelah dengan sempurna

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI KEBUN HIKMAH 2


Tanggal Pelaksanaan : 20 24 Nopember 2009
Jam Pelaksanaan : 07. 00 16. 00 wib
Lokasi Pelaksanaan : Divisi Bibitan
A. Persiapan Areal Bibitan
1. Definisi : Suatu kegiatan yang dilakukan agar dapat melaksanakan kegiatan pembibitan.
2. Tujuan Pekerjaan : Untuk mempersiapkan areal pembibitan.
3. Alat dan Bahan :
a. Alat yang digunakan adalah :
- Top con
- Excavator, Buldozer, Road Grader.
b. Bahan yang digunakan adalah :
- Pipa instalasi air
- selang kirico
- kawat duri, tiang kayu dan pompa air.
4. Cara Pelaksanaan :
1. Penentuan areal.
Lokasi kemiringan maksimal 5%.
Tidak banjir pada saat musim hujan.
Dekat sumber air dan tersedia dalam jumlah yang cukup.
Aman dari gangguan binatang liar.
Dekat dengan lokasi penanaman.
2. Pengukran Areal Pembibitan.
3. Pembersihan lahan.
4. Pembuatan jalan dan parit keliling.
5. Pembuatan waduk penampung air.
6. Pembuatan instalasi penyiraman.
7. Pembuatan pagar kawat prenursery
Tanggal Pelaksanaan : 20 24 Nopember 2009
Jam Pelaksanaan : 07. 00 16. 00 wib
Lokasi Pelaksanaan : Divisi Bibitan

B. Kegiatan di Prenusery
1. Definisi : Suatu kegiatan tahap awal pembibitan kelapa sawit dengan cara
Penanaman kecambah di ploybag kecil.
2. Tujuan Pekerjaan : Menanam kecambah untuk dijadikan bibit kelapa sawit.
3. Alat dan Bahan :
a. Alat yang digunakan adalah :
- Cangkul, ayakan tanah.
- Kayu pelubang (tugalan).
b. Bahan yang digunakan adalah :
- Polibag kecil ( 15 x 23 cm ).
- Kecambah
- Tanah top soil yang sudah diayak dan pupuk RP.
4. Cara Pelaksanaan :
1. Persiapan media tanah.
Tanah top soil diayak agar bebas dari sampahlalu dicampur dengan pupuk RP 10 kg/4,5 m3 tanah
dan dikeringkan selama 4 minggu.
2. Pengisian polibag dengan tanah hingga penuh dan disusun pada bedengan dengan cara :
- Utara Selatan 8 polibag, Timur Barat 125 polibag (1000 polibag)
Utara selatan 10 polibag, Timur Barat .
Dengan jarak antar bedengan 0,5 m.
3. Penerimaan atau seleksi kecambah.
- Kecambah yang tidak lolos seleksi atau abnormal dimusnahkan dengan membuat berita acara.
4. Penanaman kecambah.
- Polybag yang telah diisi tanah disiram terlebih dahulu agar lembab, kemudian dibuat lubang tepat
ditengah sedalam 2 cm dengan kayu tugal atau dengan jari.
- lalu kecambah dimasukan dalam lubang dengan flumula diatas dan radikula dibawah, lalu ditutup
dengan tanah.
- Setiap bedeng diberi papan identitas berisikan varietas, maleprogeny dan number, tanggal dan
jumlah kecambah tertanam.
5. Perawatan.
- Penyiraman dengan ciriko 2 liter/hari.
- Merumput
- Konsolidasi.
- Pemupukan
- Pengendalian hama penyakit
6. Seleksi bibit dipre nursery.
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI KEBUN HIKMAH 2

Tanggal Pelaksanaan : 20 24 Nopember 2009


Jam Pelaksanaan : 07. 00 16. 00 wib
Lokasi Pelaksanaan : Divisi Bibitan
C. Kegiatan di Main Nursery
1. Definisi : Kegiatan setelah Pre Nurseri sebelum bibit siap di tanam di lahan.
2. Tujuan Pekerjaan : Mempersiapkan bibit sebelum di pindahkan kelahan.
3. Alat dan Bahan :
a. Alat yang digunakan adalah :
- Cangku, ayakan tanah, kayu pelubang.
- Handsprayer.
b. Bahan yang digunakan adalah :
- Tanah topsoil.
- Polibag (40 x 50)
- Pupuk RP, Herbisida dan Insektisida.
4. Cara Pelaksanaan :
1. Persiapan media tanah.
Tanah topsoil yang setelah di ayak di campur dengan pupuk RP (10 Kg / 4,5 m3) lalu di keringkan
(dibiarkan dalam 4 minggu)
2. Pengisian dan penyusunan polybag
Polybag diisi tanah sampai penuh lalu disusun dengan jarak tanam 0,90,90,9 m.
3. Pemindahan dan penanaman bibit
Pemindahan bibit dilakukan pada umur 3 bulan sesuai dengan tanggal tanam, varietas no male
pisifera.
Penanaman bibit.
4.Pemeliharaan bibit di main nursery .
_ Mulsa : pembarian mulsa berupa fiber dan cangkang untuk
menjaga kelembapan tanah dan tumbuhnya rumput
Penyiraman untuk main nursery sekitar 2-3 liter/ hari.
Konsolidasi, pertama dilakukan 1 minggu setelah tanam dan
selanjutnya dilakukan setiap bulan.
Merumput, didalam polybag dengan cara dicabut ( rotasi 2
minngu sekali ) dan merumput diantara polybag dengan bahan
kimia.
5. Pemupukan.
- Pemupukan ditaburkan dipermukaan tanah melingkar 4-5 cm
dari batang tanaman dan tidak dibenarkan mengenai daun dan taman.
6. Pengendalian hama penyakit.
Menggunakan insektisida atau fungisida.

7. Seleksi bibit di Main Nursery

CARA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT


Pembibitan Kelapa Sawit
Lokasi/areal untuk pelaksanaan pembibitan dengan pesyaratan : harus datar dan rata,
dekat dengan sumber air, dan letaknya sedapat mungkin di tengah-tengah areal yang
akan ditanami dan mudah diawasi. Lahan pembibitan harus diratakan dan dibersihkan
dari segala macam gulma dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman (misalnya
tersedia springkle irrigation), serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan parit-parit
drainase. Luas kompleks pembibitan harus sesuai dengan kebutuhan.
Terdapat dua teknik pembibitan yaitu: (a) cara langsung tanpa dederan dan (b) cara
tak langsung dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui
dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan pembibitan
utama(nursery)selama 9 bulan.
a) Cara langsung
Kecambah langsung ditanam di dalam polibag ukuran besar seperti pada cara
pembibitan. Cara ini menghemat tenaga dan biaya.
(b) Cara tak langsung
Cara tak langsung dilakukan dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui
dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan persemaian
bibit(nursery)selama 9 bulan.
Tahap pendederan (prenursery)
Benih yang sudah berkecambah di deder dalam polybag kecil, kemudia diletakkan
pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.
Ukuran polybag yng digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm (lay flat).
Polybag diisi dengan 1,5 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi
lubang untuk drainase.
Kecambah ditanam sedalam 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm.
Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 4 bulan dan
berdaun 4 5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit
(nursery).

Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek.
Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang
dibutuhkan oleh bibit.
Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha
memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap
kerusakan karena siraman.
Pesemaian bibit (nursery)
Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar,
berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi
lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.
Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 30 kg per polybag,
disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan)
dipesemaian bibit.
Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan
tanah polybag besar dan tanahsekitar bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit
pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan
dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm
x 100 cm x 100 cm.
Kegiatan pemeliharaan bibit Kelapa Sawit di pembibitan
1) Penyiraman; kegiatan penyiraman di pembibitan utama dilakukan dua kali dalam
sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Jumlah air yang diperlukan sekitar 918 liter per
minggu untuk setiap bibit.
2) Pemupukan; untuk pemupukan dapat digunakan berupa pupuk tunggal atau pupuk
majemuk (N,P,K dan Mg) dengan komposisi 15:15:6:4 atau 12:12:7:2.
3) Seleksi bibit; seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama dilakukan pada
waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan setelah bibit
berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan sebelum bibit
dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 12-14
bulan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri: a) bibit tumbuh
meninggi dan kaku, b) bibit terkulai, c) anak daun tidak membelah sempurna, d)
terkena penyakit, e) anak daun tidak sempurna.
Penanaman Kelapa Sawit
1) Persiapan lahan
Tanaman kelapa sawit sering ditanam pada areal / lahan : bekas hutan (bukaan baru,

new planting), bekas perkebunan karet atau lainnya ( konversi), bekas tanaman kelapa
sawit (bukaan ulangan, replanting).
Pembukaan lahan secara mekanis pada areal bukaan baru dan konversi terdiri dari
beberapa pekerjaan, yakni: a) menumbang, yaitu memotong pohon besar dan kecil
dengan mengusahakan agar tanahnya terlepas dari tanah; b) merumpuk, yaitu
mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan untuk memudahkan pembakaran. c)
merencek dan membakar, yaitu memotong dahan dan ranting kayu yang telah
ditumpuk agar dapat disusun sepadat mungkin, setelah kering lalu dibakar. d)
pengolahan tanah secara mekanis.
Pembukaan lahan secara mekanis pada tanah bukaan ulangan terdiri dari pekerjaan,
yakni: a) pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan traktor. b) meracun
batang pokok kelapa sawit dengan cara membuat lubang sedalam 20 cm pada
ketinggian 1 meter pada pokok tua. Lubang diisi dengan Natrium arsenit 20 cc per
pokok, kemudian ditutup dengan bekas potongan lubang; c) membongkar, memotong
dan membakar. Dua minggu setelah peracunan, batang pokok kelapa sawit dibongkar
sampai akarnya dan swetelah kering lalu dibakar; d) pada bukaan ulangan
pembersihan bekas-bekas batang harus diperhatikan dengan serius karena sisa
batang, akar dan pelepah daun dapat menjadi tempat berkembangnya hama (misalnya
kumbang Oryctes) atau penyakit ( misalnya cendawan Ganoderma).
2) Pengajiran ( memancang)
Maksud pengajiran adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit
sesuai dengann jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus
bila dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur. System jarak yang
digunakan adalah segitiga sama sisi, dengan jarak 9 m x 9 m x 9 m. Dengan system
segi tiga sama sisi ini, pada arah Utara Selatan tanaman berjarak 8,82 m dan jarak
untuk setiap tanaman adalah 9 m. Populasi (kerapatan) tanaman per hektar adalah
143 pohon.
3) Pembuatan lubang tanaman
Lubang tanaman dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukuran lubang, panjang x
lebar x dalam adalah 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah atas
dan bawah dipisahkan, masing-masing di sebelah Utara dan Selatan lubang.
4) Menanam
Cara menanam bibit yang ada pada polybag, yaitu:
- Sediakan bibit yang berasal dari main nursery pada masing-masing lubang tanam
yang sudah dibuat.

- Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban
tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.
- Sebelum penanaman dilakukan pupuklah dasar lubang dengan menaburkan secara
merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gram per
lubang.
- Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan
hati-hati, kemudian masukkan ke dalam lubang.
- Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan
tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar
bibit dapat berdiri tegak.
- Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag
sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila
hujan, lubang tidak akan tergenang air.
- Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.
- Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.
Pemeliharaan tanaman kelapa sawit
a. Penyulaman
- Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tumbuh kurang
baik.
- Saat menyulam yang baik adalah pada musim hujan.
- Bibit yang digunakan harus seumur dengan tanaman yang disulam yaitu bibit
berumur 10 14 bulan.
- Banyaknya sulaman biasanya sekitar 3 5 % setiap hektarnya.
- Cara melaksanakan penyulaman sama dengan cara menanam bibit.
b. Penanaman tanaman penutup tanah
- Tanaman penutup tanah (tanaman kacangan, Legume Cover Crop atau LCC) pada
areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika,
kimia dan biologi tanah, mencegah erosi dan mempertahankan kelembaban tanah,
menekan pertumbuhan gulma.

- Penanaman tanaman kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan


lahan selesai.
- Jenis-jenis tanaman kacangan yang umum di perkebunan kelapa sawit adalh
Centrosema pubescens, Colopogonium mucunoides dan Pueraria javanica.
- Biasanya penanaman tanaman kacangan ini dilakukan tercampur (tidak hanya satu
jenis).
c. Membentuk piringan (bokoran, circle weeding)
- Piringan di sekitar pokok (pohon kelapa sawit) harus tetap bersih. Oleh karena itu
tanah di sekitar pokok dengan jari-jari 1 2 meter dari pokok harus selalu bersih dan
gulma yang tumbuh harus dibabat, disemprot dengan herbisida.
d. Pemupukan
- Jenis pupuk yang diberikan adalah pupuk N,P,K,Mg dan B (Urea, TSP, Kcl, Kiserit dan
Borax).
- Pemupukan ekstra dengan pupuk Borax pada tanaman muda sangat penting, karena
kekurangan Borax (Boron deficiency) yang berat dapat mematikan tanaman kelapa
sawit.
- Dosis pupuk yang digunakan disesuaikan dengan anjuran Balai Penelitian untuk TBM
(Tanaman Belum Menghasilkan).
- Untuk tanaman menghasilkan dosis yang digunakan berdasarkan analisis daun.
- Dosis pemupukan tergantung pada umur tanaman.
- Contoh dosis pemupukan pada tanaman yang sudah menghasilkan adalah sebagai
berikut :
Urea : 2,0 2,5 kg/ph/th diberikan 2 x aplikasi
KCl : 2,5 3,0 kg/ph/th diberikan 2 x aplikasi
Kiserit : 1,0 1,5 kg/ph/th diberikan 2 x aplikasi
TSP : 0,75 1,0 kg/ph/th diberikan 1 x aplikasi
Borax : 0,05 0,1 kg/ph/th diberikan 2 x aplikasi

Untuk tanaman yang belum menghasilkan, yang berumur 0 3 tahun, dosis


pemupukan per pohon per tahunnya adalah sebagai berikut :
Urea : 0,40 0,60 kg
TSP : 0,25 0,30 kg
KCl : 0,20 0,50 kg
Kiserit : 0,10 0,20 kg
Borax : 0,02 0,05 kg
- Pada tanaman belum menghasilkan pupuk N,P,K,Mg,B ditaburkan merata dalam
piringan mulai jarak 20 cm dari pokok sampai ujung tajuk daun.
- Pada tanaman yang sudah menghasilkan: pupuk N ditaburkan merata mulai jarak 50
cm dari pokok sampai di pinggir luar piringan. Pupuk P,K dan Mg harus ditaburkan
merata pada jarak 1 3 meter dari pokok. Pupuk B ditaburkan merata pada jarak 30
50 cm dari pokok.
- Waktu pemberian pupuk sebaiknya dilaksanakan pada awal musim hujan (September
Oktober), untuk pemupukan yang pertama dan paada akhir musim hujan (Maret
April) untuk pemupukan yang kedua.
e. Pemangkasan daun
Maksud pemangkasan daun adalah untuk memperoleh pokok yang bersih, jumlah daun
yang optimal dalam satu pohon dan memudahkan panenan. Memangkas daun
dilaksanakan sesuai dengan umur / tingkat pertumbuhan tanaman.
Macam-macam pemangkasan :
- Pemangkasan pasir, yaitu pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman yang
berumur 16 20 bulan dengan maksud untuk membuang daun-daun kering dan buahbuah pertama yang busuk. Alat yang digunakan adalah jenis linggis bermata lebar dan
tajam yang disebut dodos.
- Pemangkasan produksi, yaitu pemangkasan yang dilakukan pada umur 20 28 bulan
dengan memotong daun-daun tertentu sebagai persiapan pelaksanaan panen. Daun
yang dipangkas dalah songgo dua (yaitu daun yang tumbuhnya saling menumpuk satu
sama lain), juga buah-buah yang busuk. Alat yang digunakan adalah dodos seperti
pada pemangkasan pasir.

- Pemangkasan pemeliharaan, adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanaman


berproduksi dengan maksud membuang daun-daun songgo dua sehingga setiap saat
pada pokok hanya terdapat daun sejumlah 28 54 helai. Sisa daun pada pemangkasan
ini harus sependek mungkin (mepet), agar tidak mengganggu dalam pelaksanaan
panenan.
Hama dan Penyakit Kelapa Sawit
Hama
a. Hama Tungau
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun
menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural
BVR.
b. Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan
sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.
Penyakit
a. Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit
di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan
akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim
kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan
pengunaan Natural GLIO.
b. Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna
kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian:
inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan
Natural GLIO semenjak awal.
c. Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah
patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah
dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami


belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar
penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan
tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan
herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata
AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .
Panen
Tanaman kelapa sawit mulai berbuah setelah berumur 2,5 tahun dan proses
pemasakan buah berkisar 5 - 6 bulan setelah terjadinya penyerbukan. Buah kelapa
sawit dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah
matang panen, dari 5 pohon kelapa sawit rata-rata terdapat 1 tandan buah matang
panen. Ciri tandan buah matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh
dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas
dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.
Sumber: Rangkuman dari berbagai sumber.

pembibitan kelapa sawit


BAB.1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda
pada tahun 1848, saat itu ada 4 batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mamitius
dan Amsterdam lalu ditanam di kebun Raya Bogor.Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai
diusahakan dan dibudidayakan secara komersial. Perintis usaha perkebunan kelapa
sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia). Bididaya yang dilakukannya
diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia
mulai berkembang. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur
Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha.
Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri penting penghasil minyak masak,
minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel) dan berbagai jenis turunannya
seperti minyak alkohol, margarin, lilin, sabun, industri kosmetika, industri baja, kawat,
radio, kulit, dan industri farmasi. Sisa pengolahannya dapat dimanfaatkan menjadi
kompos dan campuran pakan ternak
Minyak sawit merupakan sumber karotenoid alami yang paling besar. Kadar
karotenoid dalam minyak sawit yang belum dimurnikan berkisar antara 500-700 ppm
dan lebih dari 80%-nya adalah dan karoten. Dilihat dari kadar aktivitas provitamin
A, kadar karotenoid minyak sawit mempunyai aktivitas 10 kali lebih besar dibanding
wortel dan 300 kali lebih besar dibanding tomat
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang pesat pada tahun
1969. Pada saat itu luas areal perkebunan kelapa sawit adalah 119.500 hektar dengan
total produksi minyak sawit mentah(CPO dan KPO) 189 .000 ton per tahun.pada tahun
1988 luas areal perkebunan kelapa sawit bertambah menjadi 862.859 hektar dengan
produksi CPO sebanyak 1.713.000 ton,pada tahun 1995 luas nya mencapai 2.025 juta
hektar,terdiri dari 656 ribu hektar perkebunan rakyat (33%),404 ribu hektar
perkebunan negara/PTPN(20%),dan 962 ribu hektar perkebunan besar swasta
Nasional(47%),dengan total produksi minyak kelapa sawit 4.480.000 ton.angka ini di

perkirakan akan terus meningkat seiring semakin banyak nya investor yang
menanamkan modal secara besar-besaran pada perkebunan kelapa sawit di Riau,
Jambi, Bengkulu, Kalimantan,dan kawasan tengah maupun Timur Indonesia.
Kebutuhan akan ketersediaan bibit kelapa sawit berkualitas dengan kuantitas
yang terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan
minyak sawit. Perawatan bibit yang baik di pembibitan awal dan pembibitan utama
melalui dosis pemupukan yang tepat merupakan salah satu upaya untuk mencapai
hasil yang optimal dalam pengembangan budidaya kelapa sawit

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui teknik pemeliharaan pembibitan main nursery pada kelapa sawit.
2. Untuk mengetahui teknik pemindahan kelapa sawit dari main nursery ke lapang.

BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Tanaman Kelapa Sawit


Sejak pertengahan 2000, kelapa sawit telah menyusul kacang kedelai menjadi
tanaman minyak yang paling penting di dunia. Produksi minyak sawit terutama
didukung oleh penanaman intensif selama dua dekade terakhir di Malaysia dan
Indonesia yang sejauh dua utama produsen minyak sawit (Frank,2013). Akar
serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga
terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk
mendapatkan tambahan aerasi.Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun
majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda.
Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12
tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip
dengan kelapa. Masa umur ekonomis kelapa sawit yang cukup lama sejak mulai
tanaman mulai menghasilkan, yaitu sekitar 25 tahun menjadikan jangka waktu
perolehan manfaat dari investasi di sektor ini menjadi salah satu pertimbangan yang
ikut menentukan bagi kalangan dunia (Krisnohardi,2011).
bahan tanam utama biasanya pada kelapa sawit adalah Tenera, ia memiliki
banyak varietas. Hal ini bisa terjadi karena Pisifera dan dura. Jenis mungkin asal yang
berbeda, genetik dan kriteria seleksi. Itu berbagai jenis dura dan Pisifera dapat
mempengaruhi varietas Tenera selama proses hibrida (Hazir,2011). Bunga jantan dan
betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki
waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Buah
sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit
yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah.

Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah.
Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid)
akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya

2.2 Syarat Tumbuh


Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik
di daerah tropis (15 LU - 15 LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500
m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim
dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang
air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan
memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit. Minyak sawit ditanam
sebagai industri tanaman perkebunan, sering (terutama di Indonesia) pada hutan
hujan baru dibersihkan atau hutan rawa gambut bukan pada lahan yang sudah
terdegradasi atau bekas lahan pertanian (Mukherjee,2009).

2.3 Pembibitan Kelapa Sawit


Pembibitan merupakan kegiatan awal di lapangan bertujuan untuk
mempersiapkan bibit saiap tanam. Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar 1
tahun sebelum penanaman di lapangan agara bibit yang di tanam memenuhi syarat
baik umur maupun ukurannya (Setyamidjaja,2006). Pemilihan bibit sangat penting.
Perusahaan harus memilih bibit unggul agar produktivitas dan kualitas tanaman kelapa
sawit tinggi (Pardamean,2008). Pembibitan tanaman kelapa sawit dilakukan dengan
sistem dua tahap yaitu pembibitan awal (Prenursery) dan pembibitan utama (Main
nursery) (Sastrosayono, 2010).

Pembibitan Awal (Pre nursery)


Persiapan pembibitan akan menentukan sistem pembibitan yang aka dipakai
dengan melihat keuntungan dan kerugian komprehensif (Pahan, 2008).
Membuat naungan dengan tinggi + 1,8 2 m. Setelah itu bedengan dibuat dengan
ukuran panjang 10 m dan lebar 1,2 m, sedangkan jarak antar bedengan adalah 0,5 m.

Dalam 1 bedengan bisa memuat polybag sebanyak 1200 polybag. Kemudian, polybag
kecil yang berukuran 15 x 20 cm dengan tebal 0,07 mm disiapkan. Lalu media tanah
disiapkan dengan pupuk yang digunakan.
Pengisian tanah dilakukan 1 bulan sebelum kecambah ditanam. Semua polybag
yang sudah diisi kemudian disusun ke dalam bedengan. Kemudian benih ditanam satu
persatu ke dalam polybag dengan sebelumnya benih di seleksi dan polybag disiram
terlebih dahulu. Benih ditanam dengan posisi radikula pada bagian bawah dan plumula
pada bagian atas. Lahan pre nursery ini harus dipelihara selama 3 bulan agar bibit
menjadi sehat dan subur. Setelah ditanam, polybag diberi mulsa tangkos (sabut buah
kelapa sawit) dengan tujuan agar air siraman atau air hujan tidak langsung mengenai
permukaan tanah dalam polybag serta untuk menjaga kelembapan tanah
(Kasno,2011). Pemeliharaan pada tahap ini adalah penyiraman, penyiangan,
pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dan seleksi bibit.
1. Perlakuan Penyiraman dan Penyiangan
Penyiraman dilakukan 2 kali sehari dengan volume siraman 150 cc/polybag.
Penyiraman dilakukan pagi dan sore. Namun, apabila turun hujan pada hari itu juga
dan curah hujan mencapai diatas 8 mm, maka keesokan harinya tidak dilakukan
penyiraman selama 1 hari penuh dan apabila curah hujannya hanya mencapai 4 mm
maka penyiraman dilakukan sekali saja pada pagi hari atau sore hari. Peranan air pada
tanaman sebagai pelarut berbagai senyawa molekul organik (unsur hara) dari dalam
tanah kedalam tanaman, transportasi fotosintat dari sumber (source) ke limbung
(sink), menjaga turgiditas sel diantaranya dalam pembesaran sel dan membukanya
stomata, sebagai penyusun utama dari protoplasma serta pengatur suhu bagi tanaman
(Maryani, 2012).
Penyiangan yaitu membersihkan gulma gulma yang ada di dalam polybag dan
diluar polybag dengan cara manual, yaitu dengan rotasi kerja 2 kali dalam 1 bulan.
2. Perlakuan Pemupukan
Respon tanaman terhadap pemberian pupuk tergantung pada keadaan tanaman
dan ketersediaan hara di dalam tanah, Semakin besar respon tanaman, semakin
banyak unsur hara dalam tanah (pupuk) yang dapat diserap oleh tanaman untuk

pertumbuhan dan produksi (Arsyad,2012). Penggunaan pupuk anorganik di pembibitan


sangat dianjurkan pada pembibitan tanaman tahunan seperti kelapa sawit, dan sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan mutu bibit kelapa sawit (Jannah, 2012).
Selama tiga bulan di prenursery biasanya bibit tidak dipupuk. Namun, jika tampak
gejala kekurangan hara dengan gejala seperti daun menguning, bibit perlu dipupuk
menggunakan pupuk N dalam bentuk cair. Konsentrasi pupuk urea atau pupuk
majemuk sekitar 0,2% atau 2 gram per liter air untuk 100 bibit. Pupuk diaplikasikan
melalui daun dengan cara disemprot pada bibit berumur lebih dari satu bulan atau
telah memiliki tiga helai daun.
Frekuensi pemupukan dilakukan seminggu sekali. Pemberian pupuk pada
tanaman kelapa sawit pasca genangan sangat diperlukan, mengingat berkurangnya
ketersediaan unsur hara akibat genangan tersebut. Pemberian pupuk biasanya
dirancang untuk mengoptimumkan efisiensi penggunaan pupuk (Dewi, 2009).
3. Perlakuan Proteksi dan Seleksi
Serangan hama dan penyakit selama di prenursery biasanya belum ada. Jika
ada, dapat diberantas dengan diambil menggunakan tangan (hand picking). Serangan
penyakit yang berasal dari sejenis jamur dapat dikendalikan dengan fungisida dengan
dosis sesuai yang dianjurkan. Penyakit saat ini yang paling lazim dan menghancurkan
penyakit dalam budidaya kelapa sawit (Azahar, 2010). Kemudian seleksi
atau thinning out (TO) bibit disini adalah membuang bibit yang mati atau tidak normal
atau juga terserang hama dan penyakit sehingga tidak menular ke bibit yang lain.
Sekaligus dilakukan sebelum transplanting bibit main nursery.
4. Pengangkutan Bibit
Pengangkutan atau pengiriman bibit dari dari prenursery ke main
nursery dengan memasukkan babybag ke dalam peti kayu berukuran 66,5 x 42 x 27,5
cm. Setiap peti kayu dapat memuat 35 bibit. Pengangkutan harus berhati-hati dan bibit
harus segera ditanam dimain nursery.

Pembibitan Main Nursery


Pemilihan lokasi main nursery merupakan faktor yang sangat penting.
Lokasi yang tepat akan memudahkan pekerjaan di pembibitan dalam menghasilkan
bibit yang memenuhi syarat kualitas dan kuantitas. Kriteria lokasi pembibitan main

nursey yaitu letak pre nursery dekat dengan main nursery, areal harus rata, dekat
dengan sumber air dan bebas dari hama penyakit.
Setelah lokasi pembibitan diperoleh, maka bahan bahan untuk media tanam
harus disiapkan, yaitu penyiapan tanah yang berasal dari lapisan top soil. Kemudian
tanah diayak menggunakan ayakan dari kawat agar tanah bersih dari kotoran seperti
batu atau bekas akar. Lalu tanah dicampur dengan pupuk RP sebanyak 5 kg/ton tanah.
Kemudian polybag berukuran 45 x 50 cm dan tebal 0,2 mm disediakan dan
dilubangi sebanyak 60 80 lubang. Polybag lalu diisi tanah tadi hingga setengah
polybag, dipadatkan dan setelah itu diisi hingga penuh dan sisakan + 2 cm dari bibir
polybag. Setelah itu, areal sebelumnya harus telah dipancang menggunakan jarak
tanam 90 x 90 x 90 cm atau segitiga sama sisi. Jarak antar barisan 0.867 x 90 cm =
77,9 cm (78 cm) atau menyesuaikan dengan luas areal. Pancang lurus ke semua arah,
bertujuan untuk keseimbangan pertumbuhan dan kemudahan pemeliharaan. Tiap
petak disusun 5 baris polybag dan per barisnya 40 atau 50 bibit. Antara 2 petak
dipisah dengan membuang barisan ke 6 dan kelipatannya.
Pemindahan bibit dari pre nursery ke main nursery dilakukan saat bibit berumur
antara bulan yaitu pada saat bibit berdaun 2 3 helai. Bibit yang dipindah lebih dahulu
diseleksi. Pengangkutan bibit menggunakan kotak papan yang memuat 30 35
polybag. Sehari sebelum dipindahkan (transplanting) ke polybag besar,
bibit daripre nursey harus disiram terlebih dahulu. Pembibitan di main nursery ini juga
membutuhkan pemeliharaan yang meliputi sebagai berikut.
1. Perlakuan Penyiraman dan Penyiangan
Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur dengan jumlah yang cukup.
Jika musim kemarau, siram bibit dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari.
Kebutuhan air penyiramann sebanyak 2 liter air/bibit/hari. Penyiangan dilakukan
dengan mencabut gulma yang tumbuh dalam polibag, sekaligus menggemburkan
tanah dengan cara menusukkan sepotong kayu. Penyiangan lahan pembibitan(diluar
polibag) dilaksanakan secaraclean weeding, yakni menggunakan garuk. Rotasi
penyiangan 20-30 hari, tergantung dari pertumbuhan gulma.
2. Perlakuan Pemupukan

Biaya pupuk dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara intensif sekitar 5070% dari biaya pemeliharaan dan 25% dari seluruh biaya produksi (Kasno,2011). Dosis
dan jadwal pemupukan sangat tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit. Dimain
nursery, lebih dianjurkan untuk menggunakan pupuk mejemuk N-P-K-Mg dengan
komposisi 15-15-6-4 atau 12-12-17-2, serta ditambah Kieserite (pupuk yang
mengandung unsur Ca dan Mg).
3. Pemberian Mulsa
Pemberian mulsa adalah pemberian penutup tanah pada polybag. Pemberian
mulsa ini brfungsi untuk mengurangi penguapan, menekan pertumbuhan gulma dan
mencegah terkikisnya tanah pada polybag akibat percikan air saat penyiraman
ataupun air hujan. Mulsa berupa tandan kosong sawit dan setiap polybag
membutuhkan 500 gr mulsa yang diletakkan di sekeliling permukaan polybag.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang sering menyerang di pembibitan main nursery adalah hama ulat,
seperti ulat kantong. Pengendalian menggunakan Sevin 85 ES dengan konsentrasi 2
gr/liter air. Sedangkan penyakit yang sering menyerang adalah penyakit bercak daun
dan dikendalikan dengan menggunakan Dithane M 45 dengan konsentrasi 1 gr/liter air
dengan rotasi 2 kali sebulan.
5. Perlakuan Seleksi
Seleksi atau Thinning Out (TO) dilakukan berdasarkan ukuran pertumbuhan dan
kondisi tanamannya. Pada kegiatan seleksi bibit, ciri-ciri bibit yang jelek adalah bibit
kerdil, daun bergulung, anak daun rapat dan pendek karena teserang hama atau
penyakit. Bibit seperti inilah yang harus di buang
6. Pengangkutan Bibit

Pengangkutan bibit harus dapat menjamin bibit tidak rusak dan tidak layu
karena terkena panas atau angin kencang. Proses pengangkutan bibit dari lokasi
pembibitan main nursery ke lokasi penanaman dapat berjalan efisien melalui

pembagian tugas. Pekerjaan berikut ini seharusnya dibebankan kepada tenaga kerja
yang terpisah.

Tips Terbaik Dan Mudah Budidaya Kelapa Sawit : Kelapa sawit atau Elaeis ini adalah tumbuhan
industri penting penghasil minyak Seperti, Minyak Masak, Minyak Industri, Maupun bahan bakar
(Biodiesel) Yang perkebunanya menghasilkan keuntungan yang besar sehingga banyak hutan dan
perkebunan yang lama di komversi menjadi perkebunan buah kelapa sawit. Nah... Negara indonesia
kita ini adalah lumayan banyak penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Dunia. Di negara
indonesia penyebaranya di daerah Aceh, Pantai timur Sumatra, Jawa juga Sulawesi.
Cara penanaman kelapa sawit yang baik dan benar berikut ini saya berikan beberapa tips dalam
menanam kelapa sawit tersebut. Tips ini di rangkum dari pengalaman penulis selama belajar dan
bertanam tanaman kelapa sawit. Berikut di bawah ini tips terbaik mudah dan benar budidaya kelapa
sawit.
1. Pada lahan daerah yang kering, Dan menanam kelapa sawit dengan sistem lembah tangkapan air.
Maksutnya : Tanah di gali terlebih dahulu yang berbentuk bulat berdiameter (150 cm Sedalam 30
cm) Kemudian di Tengah-tengahnya di gali lubang petak yang berukuran (50 x 50 x 50 cm) Untuk
lubang penanaman Bibit. Hal ini akan sangat membantu asupan Air, Karena sawit adalah tanaman
yang sangat banyak membutuhkan air. Selain dari itu akan membantu Efisiensi pemupukan. Karena
akan menghindari hanyutnya pupuk yang terbawa air hujan. Akan tetapi tentu biayanya lumayan
besar, Namun dalam jangka panjang perlakuan ini akan jauh lebih menguntungkan anda.

2. Pada lahan yang ada serangan hama tikusnya, Balutlah pangkal pohon sawit yang baru di tanam
dengan kawat ram atau kawat kandang ayam setinggi (50 cm). Dan bagian bawah kawat haruslah
kandas ke tanah, Dan bisa juga memakai Jala bekas. Kemudian pembalutan dilakukan dengan tidak
terlalu ketat dan kuat, Agar pertumbuhan batang kelapa sawit tidak terganggu.

Tips Terbaik Dan Mudah Budidaya Kelapa Sawit

3. Apabila ada pohon kelapa sawit yang berbuah Jarum, Atau durinya saja yang banyak
namun buah nya terlalu kecil, Stop, jangan di tebang atau di ganti, Kumpulkan sampah
dedaunan kering sekitar pangkal batangnya kemudian bakar sampai daun pada
pelapah terbawah pohon yang sedikit layu. Anda lakukan setiap 20 hari sekali atau
setiap pemanenan buah kelapa sawit Sekitarnya. Selain dari itu buah jarumnya
haruslah tetap di panen, Di buang, Dan pelapahnya juga di bersihkan sesuai rotasi
pembersihan pelapah kelapa sawit yang lainya. Kemidian secara Berlahan-lahan pohon
kelapa sawit ini akan berubah buahnya menjadi normal dan bagus layaknya buah sawit
yang Normal.
4. Lahan yang terlalu tinggi kandungan asam/Aluminiumnya (AL) Maka bisa di
netralkan dengan meneburkan Pupuk Abu atau pupuk Dotani dan tanah kapur
sebanyak (30 kg Perpohon). Hal seperti ini bisa juga di terapkan untuk lahan yang
gambut dalam.
5. Ciri-ciri sawit jenis dura : Sabut buahnya tipis, Kernel (Tempurung bijinya) Besar dan
tebal. Biji (Intinya) Juga besar atau berjumlah sampai 3 biji dalam satu tempurung atau
cangkang. Jenis ini banyak di tanam oleh rakyat petani, Karena Bobot TBS nya
yanglebih berat. Sebaliknya sawit jenis Tenera, Sawit tenera ini sabut kelapanya tebal,
Kernelnya kecil dan kulit kernelnya tipis. Bobot TBSnya lebih ringan di banding sawit
jenis dura,Jenis tenera ini paling banyak di tanam di perkebunan besar karena
rendemen atau pesentase CPO Nya yang tinggi. Juga kulit bijinya yang tipis dan lunak
akan sangat menghemat usia peralatan pabrik buah kelapa sawit.
6. Jarak tanaman pohon buah sawit sebaiknya tidak kurang dari (9 x 8 Meter) Kecuali
anda menggunakan bibit sawit unggul pelepah pendek. Sawit unggul pelepah pendek
tersebut memang bisa di tanam lebih rapat dari pada sawit lokal. Dan lebih

menguntungkan dalam jangka pendek dan menengah. Tetapi dalam jangka panjang
maka hasilnya akan kalah sedikit di banding sawit lokal. Karena usia sawit lokal yang
lebih panjang hingga (3-4 Tahun). Nah selain dari itu sawit unggul tandan buahnya
akan sedikit mengecil apabila telah berusia diatas lokal. Sehingga sering patah atau
tumbang jika datang badai atau angin besar.
Hal ini yang membuat banyak perkebunan besar pohon sawitnya tinggal (60-75%) saja
pada saat peremajaan. Bandingkan dengan sawit lokal yang biasanya bertahan pada
kisaran (90%) pohon masih berdiri.Selain dari faktor bibit, Faktor pemupukan juga ikut
menetukan kekokohan pohon. Pupuk yang banyak akan membuat batang dan akar
pohon sawit menjadi rapuh.Ciri-ciri pohon sawit yang kebanyakan pupuk adalah,
Batangnya Gundul, Sedikit sekali sisa pangkal pelapah yang masih menempel.

7. Pada saat ini perkebunan melakukan Planting inter planting pada saat peremajaan
tanaman buah sawit. Maksutnya : 3 tahun sebelum sawit tua diafkir atau di
tumbang,Bibit sawit baru berumur 2 tahun setelah di tanam tepat diantara jarak tanak
yang lama. Setelah tanaman baru berumur 3 tahun, Baru sawit lama di tumbang
dengan (Buldozer) Dan ada juga membunuh pohon tua tersebut dengan meracun.
Caranya : adalah batang di suntikkan racun kedalam lubang hasil pemboran tadi.
Kemudian lubang di tutup lagi dengan tanah liat, Dan posisi lubang adalah mengarah
ke bawah, Sehingga racun tidak tumpah, Dan jumlah racun berkisar (150 cc).
8. Bibit sawit yang berumur 2 tahun, Sebelum di bawa ke kebun sawit, Di potong
terlebih dahulu semua pelapahnya Setengah, Kecuali di bagian Pucuk. Hal ini untuk
mencegah Stress akibat penguapan air pohon yang berlebihan, Perhatikan, Jangan
membuang tanah yang ada di dalam (Polibag) Dan polibag haruslah di buka sebelum
bibit di tanamkan. Dan hentikan penyiraman bibit 2 hari sebelum di pindahkan ke
kebun atau kelapangan Guna mencegah pecahnya tanah pada saat diangkut.
9. Waktu membongkar bibit besar dari dari tempat tanam pembibitanya, Lalu
miringkan bibit kemudian potong akarnya yang menembus polibag dengan arit/sabit.
Peringatan, jangan pernah menariknya dengan paksa,demikian saja sedikit tips dengan
bertanam buah sawit. Apabila ada komentar atau yang ingin di perjelas silahkan saja
anda hubungi No Hp (0812 6307 6562) Terimakasih atas postingan bapak
http://peuyeumcipatat.blogspot.com.
Teknik Budidaya Sawit

1. Syarat pertumbuhan

Iklim : Lama penyinaran matahari Rata-rata (5-7 jam/hari) Curah hujan tahunan (1.500-

4.000 mm) Dan temperatur optimal (24-28 OC) Juga ketinggian tempat yang ideal
antara (1-500 m dpl) Kecepatan angin (5-6 km/jam) Untuk membantu proses
penyerbukan.
2. Media tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, Beraerasi baik dan subur. Berdrainase
baik, Permukaan air tanah cukup dalam, Dan solum juga cukup dalam (80 cm) pH
tanah 4-6,Dan tanah tidak berbatu,Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial,Tanah gambut
saprik, Dataran pantai dan muara sungai dapat di jadikan perkebunan kelapa sawit.
3.Pedoman teknis budidaya kelapa sawit
Pembibitan dan penyemaian : Kecambah di masukkan polibag (12 x 23 atau 15 x 23
cm berisi 1,5-2,0kg) Tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah di tanam
sedalam (2 cm) Dan tanah di polibag harus berumur sampai 3-4 bulan dan berdaun 4-5
helai, Dan bibit di pindah tanamkan. Bibit dari dederan di pndahkan kedalam polibag
(40 x 50 cm) setebal (0,11 mm) yang berisi (15-30 kg) tanah lapisan atas yang diayak,
Dan sebelum bibit di tanam siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup/liter air.
Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak (90 x 90 cm).
4. Pemeliharaan pembibitan
Penyiraman di lakukan 2 kali sehari, Dan penyiangan 2-3 kali sebelum atau di
sesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, Berpenyakit dan
mempunyai kelainan genetis harus di buang. Seleksi di lakukan pada umur 4 dan 9
bulan. Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut di bawah ini :
1. Pupuk makro
Minggu pertama : (15-15-6-4)
Minggu kedua dan tiga : (2 gram)
Minggu keempat dan lima : (4 gr)
Minggu enam dan delapan : (6 gr)
Minggu ke sepuluh dan dua belas : (8 gr)
Mingu ke 14, 15, 16 & 20 (8 g)
Minggu 22, 24, 26 & 28 (12gr)
Minggu 30, 32, 34 & 36 (17gr)
Minggu 38 & 40 (20gr).
Minggu 12-12-17-2 Minggu 19 & 21 (4gr)
Minggu 23 & 25 (6gr)
Minggu untuk 27, 29 & 31 (8gr)
POC NASA minggu mulai 1-40 (air memercik 1-2cc/lt perbibit 1-2 minggu).

Dengan Catatan: Akan lebih baik pembibitan diselingi / SUPER NASA 1-3 kali
digabungkan dengan dosis 1 botol + 400 bibit. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam
4 liter (4000 ml) air digunakan sebagai larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi
10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman

Teknik Penanaman
Penentuan Pola TanamanPola tanam monokultur atau tumpangsari dapat. Tanaman
penutup tanah (legume penutup tanaman LCC) di bidang perkebunan kelapa sawit
sangat penting karena dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah,
mencegah erosi, menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman
pengganggu ( gulma). Kacang-kacangan Penanaman harus dilaksanakan secepat
persiapan lahan selesai.3.2.2. Tanaman Lubang pembuatan
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50 40 cm
sedalam 40 cm. Sisa tanah digali (20 cm) dipisahkan dari tanah di bawah. 9 9x9 m
jarak. Daerah perbukitan, membuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m
dari sisi lereng.3.2.3. Penanaman Metode
Penanaman di awal musim hujan, setelah hujan turun terus. Sehari sebelum tanam,
bibit dalam polybag flush. Lepaskan plastik polybag dengan hati-hati dan menaruh
benih ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang telah tumbuh di kotoran selama 1
minggu + sekitar akar tanaman. Segera ditimbun dengan tanah digali. Tuang merata
dengan dosis POC NASA 5-10 ml / liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4
tutup / tangki). Hasilnya akan lebih baik jika Anda menggunakan SUPER NASA. Adapun
cara menggunakan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPER NASA
diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air digunakan sebagai larutan induk. Kemudian
setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

Pemeliharaan Tanaman
Jahitan dan SpasiDisulam dengan bibit tanaman mati berusia 10-14 bulan. Populasi 1
hektar + 135-145 pohon agar tidak ada sinar matahari kompetisi.3.3.2.
PenyianganTanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.3.3.3. PemupukanAnjuran
pemupukan sebagai berikut:Pupuk Makro
Urea 1. Bulan 6, 12, 18, 24, 30 & 362. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dll225 kg / ha1000 kg /
ha
TSP 1. Bulan 6, 12, 18, 24, 30 & 362. Bulan ke 48 & 60115 kg / ha750 kg / ha
MOP / KCl 1. Bulan 6, 12, 18, 24, 30 & 362. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dll200 kg / ha1.200
kg / ha
Kieserite 1. Bulan 6, 12, 18, 24, 30 & 362. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dll75 kg / ha600 kg /

ha
Borax 1. Bulan 6, 12, 18, 24, 30 & 362. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dll20 kg / ha40 kg / ha
NB. : Pupuk pertama harus di awal musim hujan (September-Oktober) dan kedua di
akhir musim hujan (Maret-April).
POC NASAa. Dosis POC NASA mulai awal tanam:0-36 bln 2-3 tutup / diencerkan
secukupnya dan tuangkan di sekitar pangkal batang, setiap 4-5 bulan> 36 bln 3-4
tutup / diencerkan secukupnya dan tuangkan di sekitar pangkal batang, setiap 3-4
bulan
b. Dosis POC NASA produksi di pabrik yang ada tetapi tidak dari awal memakai POC
NASATahap 1: Aplikasikan 3-4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bulan. Dosis 3-4
tutup / pohonTahap 2: Aplikasikan setiap 3-4 bulan. Dosis 3-4 tutup / pohonCatatan:
Akan lebih baik pemberian diselingi / ditambah SUPER NASA 1-2 kali / tahun dengan
dosis 1 botol 200 + tanaman. Bagaimana untuk melihat Teknik Penanaman (Titik
3.2.3.)3.3.4. Daun pemangkasanAda tiga jenis pemangkasan adalah:a. Pemangkasan
pasirMembuang daun kering, buah atau buah busuk pertama kalinya 16-20 tanaman
bulan.b. Penurunan produksiPotong daun yang tumbuh tumpang tindih (songgo dua)
untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.c. Pemeliharaan pemangkasanBuang daun
songgo dua secara teratur sehingga jumlah tanaman pokok hanya ada 28-54
helai.3.3.5. Bunga pengebirianBunga potong tumbuh pria dan wanita pada 12-20 bulan
tanaman tua.3.3.6. Buatan PenyerbukanUntuk mengoptimalkan jumlah tandan buah,
penyerbukan dibantu dibuat oleh manusia atau serangga.a. Penyerbukan oleh
manusiaSelesai saat tanaman 2-7 minggu pada bunga betina sedang represif (bunga
betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Karakteristik bunga represif adalah
kepala putik terbuka, warna stigma kemerahan dan berlendir. Penyerbukan cara:1.
Mandi bunga selubung.2. Campur serbuk sari dengan murni bedak (1:2). Serbuk sari
diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium,
semprotkan serbuk sari pada stigma menggunakan lap bayi / puffer.b. Penyerbukan
oleh serangga penyerbuk Kelapa SawitCamerunicus Elaeidobius serangga penyerbuk
tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dirilis menjadi bunga betina sebagai represif.
Keuntungan ini adalah tandan buah cara yang lebih besar, bentuk buah lebih
sempurna, lebih produksi minyak 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat
sampai 30%.

Hama dan Penyakit


3.4.1. Hamaa. Hama MitePenyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang
adalah daun. Gejala: daun bronz mengkilap dan berwarna. Pengendalian: Semprotkan
Pestona atau BVR.b. Ulat SetoraPenyebab: Setora Nitens. Bagian yang diserang adalah
daun. Gejala: daun dimakan sehingga lidinya ditinggalkan sendirian. Pengendalian:
Penyemprotan dengan Pestona.3.4.2. Penyakita. Akar LedakanPenyebab: Rhizoctonia
lamellifera dan Phythium Sp. Menyerang bagian akar. Gejala: Kematian mendadak di
persemaian bibit, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar.
Pengendalian: membuat persemaian yang baik, penyediaan air irigasi pada musim
kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan
penggunaan Natural GLIO.b. Garis kuningPenyebab: Fusarium oxysporum. Daun
diserang. Gejala: kuning pucat oval lingkaran di sekitar warna coklat pada daun, daun
kering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan
dengan penggunaan Natural GLIO sejak awal.c. Dry Rot BasalPenyebab: Ceratocyctis
paradoxa. Rods diserang. Gejala: kulit rapuh, daun dan busuk kering, daun muda mati
dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi
penyakit.Catatan: Jika pengendalian hama dengan menggunakan pestisida alami tidak
dapat mengatasi dengan pestisida kimia yang dianjurkan digunakan. Agar lebih merata
penyemprotan pestisida kimia dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan
Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup) / tangki. Penyemprotan herbisida
(untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat dicampur Perekat Perata AERO 810,
dosis + 5 ml (1/2 tutup) / tangk
Panen
Harvest TimeMulai berbuah setelah 2,5 tahun dan 5,5 bulan setelah penyerbukan
masak. Dapat dipanen ketika tanaman telah berusia 31 bulan, setidaknya 60% dari
buah itu masak panen, pohon-pohon 1 dari 5 tandan buah panen matang. Karakteristik
tandan matang dipanen minimal 5 bagian lepas / jatuh dari tandan yang beratnya
kurang dari 10 kg atau setidaknya 10 buah tandan longgar seberat 10 kg atau lebih.

Sekian terimakasih karena anda telah menyimak dan membaca artikel Tips Terbaik Dan
Mudah Budidaya Kelapa Sawit tersebut, Semoga banyak manfaatnya untuk anda
tentunya pengunjung saya http://sabdaalamnusantara.blogspot.com/2013/06/tipsterbaik-dan-mudah-budidaya-kelapa.html

ARA MENANAM KELAPA SAWIT


Berikut ini adalah langkah-langkah cara menanam kelapa sawit :

1. Sediakan bibit yang berasal dari main nursery pada masing-masing lubang tanam yang
sudah dibuat.
2. Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah dan
persediaan air cukup untuk bibit.
3. Sebelum penanaman dilakukan pupuklah dasar lubang dengan menaburkan secara merata
pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gram per lubang.
4. Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hatihati, kemudian masukkan ke dalam lubang.
5. Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke
sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat
berdiri tegak.
6. Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama
ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan,
lubang tidak akan tergenang air.
7. Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.
8. Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.
PENDAHULUAN

Kelapa sawit cocok ditanam di kawasan tanah yang gembur,


tanah liat gembur dan tanah gambut (kurang dari satu meter dalam).
Tanah gambut (lebih satu meter dalam), tanah asam kurang sesuai bagi tanaman kelapa sawit.
Walau bagaimanapun dengan pengurusan sistem pengairan dan penataan yang sempurna, jenis-

jenis tanah ini bisa juga ditanam dengan kelapa sawit.


PERLAKSANAAN KERJA
Pembersihan, pengajiran dan penanaman kacang penutup tanah dikawasan areal hendaklah
disempurnakan sebelum menanam bibit kelapa sawit.
Pembersihan: membersihkan areal hendaklah memperhitungkan biaya dan target, keadaan tanah
(curam atau rata), hutan atau kawasan peremajaan.
Sangatlah penting operasi pembersihan areal dijalankan serentak dengan masa pembibitan atau
dapat diperolehi dari penyedia. Jika mempunyai areal pembibitan sendiri, waktu persiapan areal
tanam hendaklah disesuaikan dengan waktu mengeluarkan bibit yang telah cukup umur untuk
ditanam diareal. Perancangan jadwal kerja adalah sangat penting untuk keberhasilan penanaman
diareal.
Pengajiran: Barisan tanaman dibuat mengikut arah Utara-Selatan supaya pohon-pohon
mendapat cahaya matahari yang maksimal.
kacangan penutup tanah: Menanam kacangan penutup tanah dapat dilakukan setelah proses
pengajiran selesai dilaksanakan. (Kawasan gambut tidak perlu tanam kacangan)
Masa menanam hendaklah pada musim hujan dan hindari menanam pada musim kemarau.
Biasanya jarak tanaman yang dipilih adalah 9 meter segi tiga yang menghasilkan 136 pohon per
hektar. Kepadatan pohon perhektar dengan jarak tanaman yang berbeda dapat dilihat seperti
dibawah : Jarak : Jumlah Pohon
Meter Pohon PerHektar
8.5
160
8.7
148
9.0
136
Buang pohon-pohon yang mati pada saat pemeriksaan sekurang-kurangnya 6 bulan.
Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan yang mempunyai manfaat pada buahnya sebagai bahan
baku pembuatan minyak. Minyak yang dihasilkan oleh kelapa sawit berbeda dengan minyak
yang dihasilkan dari kelapa.Minyak sawit berwarna kuning keemasan dengan bau dan rasa yang
tawar. Teksturnya mirip air bila diolah dengan benar. Seperti yang sudah umum kita tahu, minyak
sawit sering sekali digunakan sebagai media menggoreng bahan masakan. Dalam minyak sawit
mengandung beberapa vitamin dan omega sehingga sangat baik untuk tubuh. Bila dilihat dari sisi
lain, perkebunan kelapa sawit mempunyai prosprek yang sangat besar dan menjanjikan bila
ditekuni. Sebab permintaan akan sawit baik untuk ekspor maupun lokal sangat meningkat tajam
setiap tahunya. Jadi jika Anda ingin memulainya, perhatikan panduannya berikut ini:

Pembibitan
Pemilihan bibit yang unggulbisa menentukan hasil dari panen nanti. Bibit bisa dibeli dari kebun
pembibitan yang sudah terpercaya. Bibit yang sudah dibeli kemudian dikecambahkan dalam
polybag 1223 atau 1523 cm yang sudah diisi 1,5-2 kg tanah halus. Benamkan kecambah
sedalam 2 cm, jaga agar tanah selalu lembab. Setelah 3-4 bulan (berdaun 4-5 helai) maka bibit
dipindah dalam polybag 4050 cm yang sudah diisi 15-30 kg tanah halus. Atur dalam posisi
segitiga sama sisi dengan jarak antar tanaman 9090 cm. Lakukan penyiangan 2-3 kali sebulan
Buang bbit berpenyakit dan cacat saat umur 4 dan 9 bulan. Lakukan pemupukan dengan POC
secara berkala selama 2-3 minggu sekali.

Penanaman
Tanaman ditanam pada lahan yang telah disiapkan dengan cara membuat lubang tanam ukuran
5040 cm sedalam 40 cm dengan jarak tanam 9x9x9 m. Jika lahan berupa areal berbukit, maka
dibuat terasering dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng. Penanaman dilakukan awal musim
hujan. Lepaskan plastik polybag secara hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang tanam.
Basahi tnaman dengan air.

Perawatan
Lakukan penyulaman pada tanaman yang mati dengan bibit berumur 10-14 bulan. Lakukan
penjarangan, usahakan dalam 1 hektar lahan hanya terdapat 135-145 pohon agar tidak ada
persaingan sinar matahari. Jaga agar tanaman terhindar dari kepungan gulma dan rumput liar.
Berikan pupuk urea, TSP, dan KCL setiap 6 bulan sekali dimulai dari usia tanam 6 bulan dengan
dosis urea:TSP:KCL adalah 225 kg/ha:1000 kg/ha:1200kg/ha. Lakukan juga pemangkasan pasir
untuk membuang daun kering, buah pertama/ buah busuk pada umur 16-20 bulan. Selanjutnya
pemangkasan produksi dengan memotong daun yang tumbuhnya menumpukpada umur 20-28
bulan. Terakhir pemangkasan pemeliharaan dengan membuang daun-daun menumpuk secara
rutin sampai tanaman pokok hanya mempunyai 28-54 helai. Potong bunga-bunga jantan dan
betina pada umur 12-20 bulan. Agar hasil panen bisa maksimal, lakukan penyrbukan buatan pada
umur 2-7 minggu pada bunga dengan kepala putik terbuka berwarna kemerah-merahan dan
berlendir. campurkan serbuk sari dari pohon yang baik lalu Kibaskibaskan pada kepala putik.
Jika hanya mengandalkan penyerbukan dariserangga maka hasilnya tidak akan maksimal.

Pemanenan
Kelapa sawit mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan.
Pemanenan dilakukan setelah berumur 31 bulan. Buah yang siap panen adalah buah yang
lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang lebih 10 kg.
1. BUDIDAYA KELAPA SAWIT
syarat tumbuh
Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai berada pada 15 LU-15 LS.
Ketinggian pertanaman kelapa sawit yang ideal berkisar antara 1-500 m dpl. Lama
penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm.
Temperatur optimal 24-280C. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses
penyerbukan. Kelembaban optimum yang ideal sekitar 80-90 %. Kelapa sawit dapat
tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol.
Nilai pH yang optimum adalah 5,05,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur,
subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan
padas. Kondisi topografi pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15
derajat.

Penyediaan benih
1) Diperoleh Sumber Benih Kelapa Sawit
1) Diperoleh Sumber Benih Kelapa Sawit
Sumber benih yang baik dapat diperoleh dari balai-balai penelitian kelapa sawit,
terutama oleh Marihat Research Station dan Balai Penelitian Perkebunan Medan
(RISPA). Dalam penyediaan benih kelapa sawit, balai-balai penelitian tersebut
mempunyai kebun induk yang baik dan terjamin dengan pohon induk tipe Delidura dan
pohon bapak tipe Pisifera terpilih.
2) Penyediaan benih sendiri
Untuk memperoleh buah / benih yang baik, penyerbukan yang terjadi pada bunga
betina dari pohon induk harus dilakukan secara terkontrol. Untuk maksud tersebut,
penyerbukan harus dilaksanakan secara buatan. Dalam penyerbukan secara buatan,
pohon induk untuk bunga betina yang digunakan adalah tipe Dura atau Delidura
terpilih seperti terdapat di Marihat research Station, sedangkan sebagai pohon induk
bunga jantan digunakan tipe Pisifera yang juga tersedia di Marihat Research Station.
Penyerbukan buatan diawali dengan penyediaan serbuk sari. Beberapa saat sebelum
bunga matang, bunga jantan dari pohon induk terpilih dibungkus dengan kantung
plastik transparan. Setelah bunga jantan tersebut matang, lalu dipotong dan dibawa
ke laboratorium untuk dipisahkan dari tandannya, kemudian diangin-anginkan. Serbuk
sari ini dimasukkan ke dalam tube dengan mencampurkan 0,25 gram serbuk sari
dengan 1 gram talk. Tube yang telah berisi serbuk sari dimasukkan ke dalam sebuah
botol kemudian divakumkan. Sambil menunggu saat penggunaannya botol serbuk sari
harus disimpan di dalam almari pendingin (freezer). Pada pohon induk untuk bunga
betina terpilih, tandan bunga betina ditutup dengan kantung plastik transparan dan
diberi label. Amati bunga sampai mencapai tingkat matang reseptif. Ciri-ciri bunga
betina yang telah matang adalah : warna kepala putik menjadi kemerah-merahan dan
telah
terbuka dan berlendir. Setelah bunga betina reseptif, serbukilah dengan serbuk sari
yang telah disiapkan. Satu tube campuran serbuk sari (0,25 gram serbuk sari + 1 gram
talk) cukup untuk menyerbuki satu tandan bunga betina. Bunga betina yang telah
diserbuki diberi label dan ditutup dengan plastik transparan. Empat hari kemudian
penutup dibuka dan tandan bunga betina dibiarkan untuk pertumbuhannya lebih
lanjut. Setelah 6 bulan, tandan buah umumnya telah masak. Panen buah dan benih
dilakukan bila pada satu tandan telah terdapat paling sedikit satu buah telah lepas
dari tandannya.

Pengecambahan benih
1) Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya.
2) Tandan buah diperam selama tiga hari dan sekali-kali disiram air. Pisahkan buah
dari tandannya dan peram lagi selama 3 hari.
3) Masukkan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dari biji. Cuci
biji dengan air dan masukkan ke dalam larutan Dithane M-45 0,2% selama 3 menit.
Keringanginkan dan seleksi untuk memberoleh biji yang berukuran seragam. Semua
benih disimpan di dalam ruangan bersuhu 22 derajat C dan kelembaban 60-70%
sebelum dikecambahkan.
4) Untuk mengecambahkan benih, dilakukan perendaman terlebih dahulu. Benih
direndam dalam ember berisi air bersih selama 5 hari dan setiap hari air harus diganti
dengan air yang baru.
5) Setelah benih direndam, benih diangkat dan dikering anginkan di tempat teduh
selama 24 jam dengan menghamparkannya setebal satu lapis biji saja. Kadar air
dalam biji harus diusahakan agar tetap sebesar 17 %.
6) Selanjutnya benih disimpan di dalam kantong plastik berukuran panjang 65 cm yang
dapat memuat sekitar 500 sampai 700 benih. Kantong plastik ditutup rapat-rapat
dengan melipat ujungnya dan merekatnya. Simpanlah kantong-kantong plastik
tersebut dalam peti berukuran 30 x 20 x 10 cm, kemudian letakkan dalam ruang
pengecambahan yang suhunya 39 0C.
7) Benih diperiksa setiap 3 hari sekali ( 2 kali per minggu ) dengan membuka kantong
plastiknya dan semprotlah dengan air (gunakan hand mist sprayer) agar kelembaban
sesuai dengan yang diperlukan yaitu antara 21 22 % untuk benih Dura dan 28 30 %
untuk Tenera.
8) Setelah melewati masa 80 hari, keluarkan kantong dari peti di ruang
pengecambahan dan letakkan di tempat yang dingin. Kandungan air harus diusahakan
tetap seperti semula. Dalam beberapa hari benih akan mengeluarkan tunas
kecambahnya. Selama 15 20 hari kemudian sebagian besar benih telah berkecambah
dan siap dipindahkan ke pesemaian perkecambahan (prenursery ataupun nursery).
Benih yang tidak berkecambah dalam waktu tersebut di atas sebaiknya tidak
digunakan untuk bibit
Pembibitan

Lokasi/areal untuk pelaksanaan pembibitan dengan pesyaratan : harus datar dan rata,
dekat dengan sumber air, dan letaknya sedapat mungkin di tengah-tengah areal yang
akan ditanami dan mudah diawasi. Lahan pembibitan harus diratakan dan dibersihkan
dari segala macam gulma dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman (misalnya
tersedia springkle irrigation), serta dilengkapi dengan jalan-jalan dan parit-parit
drainase. Luas kompleks pembibitan harus sesuai dengan kebutuhan.
Terdapat dua teknik pembibitan yaitu: (a) cara langsung tanpa dederan dan (b) cara
tak langsung dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui
dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan pembibitan
utama(nursery)selama 9 bulan.
a) Cara langsung
Kecambah langsung ditanam di dalam polibag ukuran besar seperti pada cara
pembibitan. Cara ini menghemat tenaga dan biaya.
(b) Cara tak langsung
Cara tak langsung dilakukan dengan 2 tahap (double stages system), yaitu melalui
dederan/pembibitan awal (prenursery) selama 3 bulan dan persemaian
bibit(nursery)selama 9 bulan.
Tahap pendederan (prenursery)
Benih yang sudah berkecambah di deder dalam polybag kecil, kemudia diletakkan
pada bedengan-bedengan yang lebarnya 120 cm dan panjang bedengan secukupnya.
Ukuran polybag yng digunakan adalah 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm (lay flat).
Polybag diisi dengan 1,5 2,0 kg tanah atas yang telah diayak. Tiap polybag diberi
lubang untuk drainase.
Kecambah ditanam sedalam 2 cm dari permukaan tanah dan berjarak 2 cm.
Setelah bibit dederan yang berada di prenursery telah berumur 3 4 bulan dan
berdaun 4 5 helai, bibit dederan sudah dapat dipindahkan ke pesemaian bibit
(nursery).
Keadaan tanah di polybag harus selalu dijaga agar tetap lembab tapi tidak becek.
Pemberian air pada lapisan atas tanah polybag dapt menjaga kelembaban yang
dibutuhkan oleh bibit.

Penyiraman dengan sistem springkel irrigation sangat membantu dalam usaha


memperoleh kelembaban yang diinginkan dan dapat melindungi bibit terhadap
kerusakan karena siraman.
Persemaian bibit
Untuk penanaman bibit pindahan dari dederan dibutuhkan polybag yang lebih besar,
berukuran 40 cm x 50 cm atau 45 cm x 60 cm (lay flat), tebal 0,11 mm dan diberi
lubang pada bagian bawahnya untuk drainase.
Polybag diisi dengan tanah atas yang telah diayak sebanyak 15 30 kg per polybag,
disesuaikan dengan lamanya bibit yang akan dipelihara (sebelum dipindahkan)
dipesemaian bibit.
Bibit dederan ditanam sedemikian rupa sehingga leher akar berada pada permukaan
tanah polybag besar dan tanahsekitar bibit dipadatkan agar bibit berdiri tegak. Bibit
pada polybag besar kemudian disusun di atas lahan yang telah diratakan, dibersihkan
dan diatur dengan hubungan sistem segitiga sama sisi dengan jarak misalnya 100 cm x
100 cm x 100 cm.
Kegiatan Pemeliharaan Bibit Kelapa Sawit di Pembibitan
1) Penyiraman; kegiatan penyiraman di pembibitan utama dilakukan dua kali dalam
sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Jumlah air yang diperlukan sekitar 918 liter per
minggu untuk setiap bibit.
2) Pemupukan; untuk pemupukan dapat digunakan berupa pupuk tunggal atau pupuk
majemuk (N,P,K dan Mg) dengan komposisi 15:15:6:4 atau 12:12:7:2.
3) Seleksi bibit; seleksi dilakukan sebanyak tiga kali. Seleksi pertama dilakukan pada
waktu pemindahan bibit ke pembibitan utama. Seleksi kedua dilakukan setelah bibit
berumur empat bulan di pembibitan utama. Seleksi terakhir dilakukan sebelum bibit
dipindahkan ke lapangan. Bibit dapat dipindahkan ke lapangan setelah berumur 12-14
bulan. Tanaman yang bentuknya abnormal dibuang, dengan ciri-ciri: a) bibit tumbuh
meninggi dan kaku, b) bibit terkulai, c) anak daun tidak membelah sempurna, d)
terkena penyakit, e) anak daun tidak sempurna.
Penanaman Kalapa sawit
1) Persiapan lahan

Tanaman kelapa sawit sering ditanam pada areal / lahan : bekas hutan (bukaan baru,
new planting), bekas perkebunan karet atau lainnya ( konversi), bekas tanaman
kelapa sawit (bukaan ulangan, replanting).
Pembukaan lahan secara mekanis pada areal bukaan baru dan konversi terdiri dari
beberapa pekerjaan, yakni: a) menumbang, yaitu memotong pohon besar dan kecil
dengan mengusahakan agar tanahnya terlepas dari tanah; b) merumpuk, yaitu
mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan untuk memudahkan pembakaran. c)
merencek dan membakar, yaitu memotong dahan dan ranting kayu yang telah
ditumpuk agar dapat disusun sepadat mungkin, setelah kering lalu dibakar. d)
pengolahan tanah secara mekanis.
Bibit dipindahkan ke dalam polibag besar, dipelihara selama 9 - 12 bulan sampai siap untuk
dapat ditanam.

Main Nursery

Persiapan fasilitas Penyiraman harus sudah selesai 1 bulan sebelum pemindahan bibit
dari pre nursery ke main nursery.

Pengisian tanah di polybags harus sudah selesai untuk menerima pemindahan bibit dari
pre nursery sesuai jumlah bibit yang akan dipindahkan dan terus berlanjut sampai siap
untuk menampung semua kecambah.

Ukuran Polybag 50 cm x 40 cm x 0,2 cm, 500 lubang , jenis black UV stabilized)

Pompa dan mesin berkapasitas 30 kva untuk melayani 10 ha bibit di main nursery

Jumlah pipa dan perlengkapannya harus di hitung sesuai design di lapangan.

1. Persiapan Areal

Areal Pembibitan dekat dengan sumber air atau sungai

Areal datar dengan penggunaan areal 1 ha untuk 14.000 bibit

Dibuat parit drainase mengikuti pipa sekunder dari jaringan pipa penyiraman

Ukuran parit lebar dasar 30 cm, lebar atas 70 cm, dalam 40 cm

Bila penyiraman dengan sprinkler hendaknya dibuat dulu desainnya dan penempatan
pipa-pipanya

Bila diperlukan buat pagar keliling 150 m dengan kawat. Jarak antara tiang 3 m, tinggi
pagar 1,5 m

Jumlah tenaga kerja untuk membuat pagar 100 m/HK

Transplanting ke main nursery dilakukan pada bibit berumur 3-4 bulan atau memiliki 4-5
helai daun

2. Memancang

Umur bibit 8-10 bulan : jarak pancang 70 x 70 x 70 cm (23.000 bibit/ha)

Umur bibit 10 bulan : jarak pancang 90 x 90 x 90 cm (14.000 bibit/ha)

Kebutuhan tenaga kerja memancang 1.000 pancang/HK

3. Mengumpulkan Tanah

Metode sama dengan pembibitan Pre-Nursery

Tanah di polybag besar harus dilubangi dan selanjutnya dimasukkan 100 g pupuk RP ke
lubang polybag besar sebelum bibit ditanam

4. Ukuran Polybag

Ukuran polybag besar adalah 0,15 mm x 35 cm x 50 cm lay flat

Setelah diisi tanah diameter 23 cm dan tinggi 39 cm ; warna hitam

Lubang empat baris perforasi berjarak 5 cm x 5 cm

Tebal polibag harus merata tidak ada tebal tipis

5. Mengisi Polybag

Polybag harus sudah siap diisi tanah minimal 4 minggu sebelum transplanting dari PN
untuk mendapatkan tingkat kepadatan tanah yang stabil.

Polybag harus dibalik sebelum diisi tanah agar polybag dapat berdiri tegak dan silindris

Persiapan media tanam dan isikan ke dalam polybag. Hindarkan pemadatan tanah dalam
polybag dengan cara menekan kuat ke arah bawah

Guncang polybag pada waktu pengisian untuk memadatkan tanah dan mencegah agar
tidak ada bagian yang mengkerut atau terlipat sehingga ketinggian tanah dapat mencapai
2,5 cm dari bibir polybag.

Jumlah polybag 1 kg = 18 lembar; 1 plb 20 kg

Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 100 unit/HK

6. Menyusun Polybag

Polybag disusun di areal bibitan yang sudah dipancang

Menyeragamkan cara peletakan (contoh di selatan pancang). Pancang tidak boleh dicabut

Setiap 5 baris dikosongkan 1 baris untuk jalan pemeliharaan bibit

Kedua tangan pekerja harus berada pada dasar polybag dan tidak dibenarkan 1 tangan
menyengkeram bibit polybag bagian atas

Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 100 150 unit/HK

7. Menanam/Transplanting di Polybag Besar

Tanah di polybag dilubangi sebesar ukuran polybag kecil dengan alat berupa bor tanah
atau yang dibuat dari pipa 4 inch

Jumlah tenaga kerja untuk melubangi 250 unit/HK

Bibit yang telah memenuhi syarat (umur 3 bulan, daun 3-4, bentuk sempurna) diangkut
dengan kotak papan, diecer ke tempat polybag

Jumlah tenaga kerja untuk mengecer 700 bibit/HK

Penanaman dilakukan : bibit di polybag kecil dipegang miring, dasarnya disayat keliling
kemudian dilepas. Dimasukkan ke dalam lubang polybag besar. Sambil menahan bibit
polybagnya ditarik/dilepas. Tanah diratakan dan dipadatkan

Jumlah tenaga kerja untuk menanam 100 bibit/HK

8. Penyiraman Bibit

Bibit disiram 2 kali/sehari : pagi; jam 7.00 selesai selambat lambatnya jam 11.00, sore
jam 15.00 selesai

Jumlah tenaga kerja 2.500 bibit/HK

Apabila malam sebelumnya turun hujan dan tanah di polibag masih basah maka
penyiraman hanya dilaksanakan sore hari. Bila hujan pagi hari cukup lebat (> 10 mm)
maka sampai sore bibit tidak perlu disiram.

Kebutuhan air bibit : 1-3 bl = 1.0 ltr; 3-6 bl = 1.5 ltr; > 6 bl = 2 ltr

9. Pengendalian Gulma

Dilakukan 2 minggu sekali

Penyiangan dilakukan dalam polibag dan di luar polibag

Dalam polibag penyiangan dilakukan secara manual

Di antara polibag rumput-rumput disemprot dengan 2 kg karmex + 2,2 ltr gramoxone/450


ltr air/ha bibitan

Tenaga kerja diperlukan untuk penyiangan 0,7 ha/HK atau 8.000 bibit/HK

10. Pemberian Mulsa

Pada daerah yang terlalu kering/panas, bibit dalam polybag harus diberi mulsa

Mulsa diberikan secara merata di atas permukaan tanah dalam polybag segera setelah
bibit ditanam

Mulsa yang dianjurkan adalah cangkang, jerami ataupun lalang kering

Jumlah cangkang sawit yang diperlukan 0,5 kg/polibag

Jumlah tenaga kerja diperlukan adalah 2.500 bibit/HK

11. Konsolidasi Bibit

Konsolidasi bibit dilakukan 1x/bulan

Menegakkan polibag-polibag yang miring

Mengganti/membalut polibag yang pecah

Menambah tanah di polybag (hanya sampai umur 6 bulan)

Jumlah tenaga kerja diperlukan 2.000 bibit/HK

12. Pemeliharaan Parit drainase

Mengalirkan air yang tergenang 1 kali/minggu

Mendalamkan parit pada ukuran semula

Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 6-8 ha/HK

13. Pemupukan

Dimulai pada minggu ke 2 setelah bibit di transplanting

Jenis pupuk : pupuk majemuk NPK 15.15.6.4 dan NPK 12.12.17.2 serta pupuk Kieserite
atau Dolomit

Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 3.000 bibit/HK atau 5 HK/ha bibit

Cara pemupukan

Buat takaran pupuk sesuai dengan dosis

Pupuk ditaburkan merata pada permukaan tanah di polybag melingkar/keliling sejauh 10


cm dari bibit

Pupuk tidak boleh menyentuh bibit

Pelaksanaan setelah penyiraman pertama

Keterangan :
R I = NPK 15.15.6.4
R II = NPK 12.12.17.2
K = Kieserite
D = Dolomit
Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004)
14. Seleksi Bibit

Seleksi dilaksanakan dengan tahapan umur bibit 6, 9, 12 bulan dan pada persiapan
pengiriman bibit ke lapangan

Tata cara pelaksanaan seleksi bibit :

Berikan tanda dengan cat warna putih di polybag setiap bibit afkir/abnormal

Catat dan dibuat berita acara semua bibit afkir

Bibit afkir dikeluarkan dari blok bibitan dan dimusnahkan, jumlah bibit afkir selama di
main nursery antara 10-15 %

Jumlah tenaga kerja dibutuhkan 3.000 bbt/HK

15. Ciri bibit abnormal di Main Nursery

Kerdil (runt/stunted) Bibit yang pertumbuhan vegetatifnya jauh lebih kecil dibandingkan
dengan bibit sehat seumurnya

Bibit erect Faktor genetis, daun tumbuh dengan sudut yang sangat sempit/tajam terhadap
sumbu vertikal sehingga seperti tumbuh tegak.

Bibit yang layu dan lemah (limp) Penampilan pucat dan pertumbuhan daun muda
cenderung lebih pendek dari yang seharusnya

Bibit flat top, Faktor genetik, daun yang baru tumbuh dengan ukuran yang makin pendek
dari daun tua, sehigga tajuk bibit terlihat rata

Short internode, Jarak antara anak daun pada tulang pelepah (rakhis) terlihat dekat dan
bentuk pelepah tampak pendek

Wide internode, Jarak antara anak daun pada rakhis terlihat sangat lebar. Bibit terlihat
sangat terbuka dan lebih tinggi dari normal

Anak daun yang sempit (narrow leaf) Bentuk helai daun tampak sempit dan tergulung
sepanjang alur utamanya (lidi) sehingga bentuknya seperti jarum

Anak daun tidak pecah (juvenile) Helai anak daun tetap bersatu seluruhnya atau tidak
pecah

Daun berkerut (crinkle leaf) Daun terlihat berkerut. Gejala berat akibat factor genetic,
gejala ringan disebabkan karena kekurangan air

Chimaera Sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah menjadi pucat atau
bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna gelap dari jaringan yang
normal

Crown Diseases Faktor genetik, pelepah bengkok dan mudah patah

Blast Bibit berubah secara progresif ke arah coklat dan perlahan dimulai dari daun yang
tua bergerak ke daun yang lebih muda

Terserang hama dan penyakit Terserang busuk pucuk dan hama/penyakit yang harus
dipisahkan

16. Persiapan Pemindahan Bibit ke Lapangan

Pemutaran bibit (rotating) Bibit diputar pada tempatnya dua minggu sebelum dikirim ke
lapangan. Setelah bibit diputar harus disiram air dengan cukup setiap hari sampai waktu
pengiriman ke lapangan

Perlakuan Bibit untuk Persiapan Pengangkutan Menjelang persiapan tanam bibit


dikumpulkan rapat, setiap kelompok terdiri 100-200 bibit. Bibit disusun satu lapis di atas
truk dan disiram sebelum berangkat ke lapangan

Anda mungkin juga menyukai