Anda di halaman 1dari 3

Proses Pemfosilan pada Spongia agaricina

Bunga Bumi Heir Bintang1


21100114120025
1

Teknik Geologi Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia


Abstrak

Porifera adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler atau metazoa yang paling sederhana. Karena hewan
ini memiliki ciri yaitu tubuhnya berpori seperti busa tau spons sehingga porifera disebut juga sebagai hewan spons.
Paper ini dibuat dilatarbelakangi oleh adanya fosil sponge yang termasuk dalam filum porifera dengan tujuan untuk
bagaiman proses pemfosilan yang terjadi pada organisme tersebut. Metodologi yang digunakan adalah metode studi
kepustakaan dari buku dan dari web atau internet. Sponge termasuk dalam kelas Demospongiae. Demospongia
memiliki kerangka berupa empat spikula silica atau dari serabut spongin atau keduanya. Beberapa bentuk primitive
tidak memiliki rangka. Tipe saluran air yang ada pada spons ini berupa Leuconoid. Porifera yang masuk dalam
kelompok Demospongia memiliki penyebaran yang paling luas dari daerah tidal hingga kedalaman abvasal.
Beberapa bentuk memiliki habitat di air tawar. Proses pemfosilan sponge berawal saat hewan tersebut mati yang
kemudian mengalami transpotasi oleh air hingga kemudian energi transportasi berkurang dan organisme tersebut
terendapkan. Sponge terdudun dari rangka silika sehingga dapat terhindar dari proses pembusukan. Setelah
tertransportasi organisme ini akan mengalami penimbunan hingga berlangsunglah proses litifikasi. Saat proses
litifikasi berlangsung juga dapat berlangsung proses lain seperti terendapkannya mineral-mineral dari air tanah pada
organisme tersebut sehingga organisme ini menjadi lebih resisten dari erosi, pelapukan, dll. Proses tersingkapnya
dipengaruhi oleh tenaga endogen dan eksogen.
Keywords : Porifera ; Sponge ;Demospongiae ; fosil

Pendahuluan
Paper ini dibuat dilatarbelakangi oleh
proses pemfosilan pada sponge yang termasuk
dalam filum porifera. Maksud dari pembuatan
paper ini adalah untuk mengetahui proses-proses
yang terjadi sebelum sutu organisme menjadi
fosil. Tujuan dari pembuatan paper ini adalah
untuk proses pemfosilan pada filum porifera.
Tinjauan Pustaka
Porifera berasal dari bahasa latin
(porus = lubang, fere = mengandung atau
memiliki). atau spons atau hewan berpori adalah
sebuah filum untuk hewan multiseluler atau
metazoa yang paling sederhana. Terdapat 9.000
spesies. hewan ini memiliki ciri khas yaitu
tubuhnya berpori seperti busa atau spons
sehingga porifera disebut juga sebagai hewan
spons. Bentuk tubuhnya bervariasi ada yang ada
yang seperti vas, bercabang, bulat, kantung,
mangkuk, atau bercabang seperti tumbuhan dan
tidak teratur. Tubuhnya memiliki lubang-lubang

kecil atau pori (ostium). Ukuran tubuh porifera


antara 1 mm-2 m ( tinggi ).
Spongia (Spongia) agaricina adalah
spesies spons yang tergolong dalam kelas
Demospongiae. Spesies ini juga merupakan
bagian dari kelas Demospongiae, filum Porifera,
subregnum Parazoa, dan kingdom Animalia.
Seperti spons pada umumnya, spesies ini
memiliki tubuh yang berpori dan permukaan
yang keras seperti batu. Selain itu, Spongia
(Spongia) agaricina juga dapat menyerap
oksigen dari air melalui proses difusi.
Fosil (bahasa Latin: fossa yang berarti
"menggali keluar dari dalam tanah") adalah sisasisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang
menjadi batu atau mineral. Untuk menjadi fosil,
sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera
tertutup sedimen. Fosil terbentuk dari proses

penghancuran peninggalan organisme yang

pernah hidup. Hal ini sering terjadi ketika


tumbuhan atau hewan terkubur dalam
kondisi lingkungan yang bebas oksigen.
Fosil yang ada jarang terawetkan dalam
bentuknya yang asli. Dalam beberapa kasus,
kandungan mineralnya berubah secara
kimiawi atau sisa-sisanya terlarut semua
sehingga digantikan dengan cetakan.
Metodologi
Pada paper ini, metodologi yang
digunakan adalah metode studi kepustakaan
dengan sumber dari internet/web dan buku.
Pembahasan

resisten, selain itu juga dapat berlangsung


pengendapan mineral-mineral yang berasal dari
air tanah yang kemudian mengisi celah-celah
pada rangka organisme sehingga resistensi
organisme bertambah. Untuk dapat menjadi fosil
suatu organisme harus berumur holosen atau
lebih dari 11.000 tahun terhitung dari organisme
tersebut mati. Setelah organisme ini tertimbun
selama lebih dari 11.000 tahun dan masih
menyisakan bagian kerasnya maka disebut
sebagai fosil. Pada umumnya fosil-fosil ini dapat
tersingkap karena adanya gaya endogen serta
eksogen. Sebagai contoh adalah uplift atau
pengangkatan yang dapat menyebabkan
kenaikan atau deformasi batuan sehingga lapisan
batuan yang awalny berada di bawah permukaan
dapat tersingkap, selain itu juga dapat dibantu
oelh proses eksogen seperti pelapukan, erosi, dll.
Kesimpulan

Spongia (Spongia) agaricina adalah


spesies spons yang tergolong dalam kelas
Demospongiae. Spesies ini juga merupakan
bagian dari kelas Demospongiae, filum Porifera,
subregnum Parazoa, dan kingdom Animalia.
Seperti spons pada umumnya, spesies ini
memiliki tubuh yang berpori dan permukaan
yang keras seperti batu. Selain itu, Spongia
(Spongia) agaricina juga dapat menyerap
oksigen dari air melalui proses difusi.
Spongia (Spongia) agaricina memiliki
bagian keras berupa rangka yang mengandung
silika sehingga memungkinkan untuk terbentuk
fosil. Proses pemfosilan berawal dari kematian
organisme tersebut, setelah mati organisme
dapat langsung mengalami pengendapan namun
juga dapat mengalami transportasi oleh agen
seperti air. Saat mengalami transportasi ini
bagian-bagian
lunak
dari
organisme
kemungkinan telah mengalami pembusukan
hingga meninggalkan bagian kerasnya saja. Saat
energi transportasi berkurang, organisme ini
akan mengalami pengendapan dan kemudian
akan tertimbun oleh material sedimen sehingga
terhindarkan dai kehancuran. Saat proses
penimbunan ini berlangsung litifikasi pada
rangka-rangka organisme yang mengandung
silika yang merupakan salah satu mineral yang

Spongia (Spongia) agaricina dapat


mengalami
pemfosilan
seteah
organise
megalami kematian yang kemudian mengalami
transportasi, kemudian terendapkan dan
mengalami penimbunan oleh material sedimen
hingga berlangsunglah proses pengawetan
secara alami hingga akhirnya organisme ini
dapat membentuk fosil. Roses tersingkapnya
fosil dapat disebabkan oleh tenaga endogen dan
eksogen yang dapat menyebabkan terjadinye
deformasi batuan.
Referensi
[1]https://id.wikipedia.org/wiki/Fosil (diakses pada
hari Rabu, 14 Oktober 2015)
[2]https://id.wikipedia.org/wiki/Spongia_
%28Spongia%29_agaricina (diakses pada hari
Rabu, 14 Oktober 2015)
[2]http://www.zonasiswa.com/2014/06/mengenalphylum-porifera.html(diakses pada hari Rabu,
14 Oktober 2015)

Lampiran

Gambar 1. Spongia agaricina

Gambar 2. Fosil Spongia agaricina