Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Ebola Virus Disease (EVD) adalah salah satu dari banyak penyakit demam berdarah.

Virus ini adalah yang sering berakibat fatal pada manusia dan primata (seperti monyet, gorilla
dan simpanse). EVD disebabkan oleh infeksi virus dari genus Ebolavirus. Spesies Ebola
Virus pertama ditemukan pada tahun 1976 di tempat yang sekarang dikenal sebagai Republik
Demokrasi Kongo dekat Sungai Ebola. Sejak itu, wabah muncul terus-menerus secara
sporadic (CDC, 2014)
Data WHO, 20 Agustus 2014, menyebutkan bahwa total kumulatif kasus global
sebanyak 2.615 kasus dengan 1.427 kematian (Case Fatality Rate /CFR =54,57 %). Kasus ini
tersebar di 4 negara terjangkit di Afrika Barat, yaitu Guinea 607 Kasus, Liberia 1.082 kasus,
Sierra Leone dilaporkan 910 kasus dan Nigeria ditemukan 16 kasus. Pada Februari 2015,
terdapat 124 kasus baru yang dikonfirmasi di tiga negara Afrika Barat yang paling terdampak.
WHO mengonfirmasi 39 kasus baru di Guinea. Adapun di Liberia, otoritas mengonfirmasi
lima kasus baru Ebola pekan lalu, meningkat dari seminggu sebelumnya. Sementara itu, di
Sierra Leone, ada 80 kasus baru infeksi, meningkat dari 65 kasus. menurut data terbaru
WHO, virus Ebola telah menginfeksi 22.495 orang di sembilan negara dengan 8.981 orang
meninggal (CFR 39,9%)
Di Indonesia sendiri data yang terbaru menyatakan terdapat 2 tenaga kerja diduga
terkena Ebola. Sebanyak 28 TKI pulang ke kampung halaman mereka pada Oktober lalu
setelah bekerja di Liberia, salah satu lokasi endemis virus. Dua dari tenaga kerja diduga
terkena Ebola namun setelah diperiksa dinyatakan pasien tidak tertular virus Ebola . Pada
September 2014 di Medan terdapat 1 kasus diduga terkena Ebola yang dirawat di Ruang
Infeksius RSUP H Adam Malik namun setelah diperiksa lebih lanjut pasien bukan terkena
virus Ebola.
Wabah Ebola harus diwaspadai di seluruh negara dunia termasuk di Indonesia. Karena
hewan sebagai host alami untuk penyakit ini, yaitu kelelawar buah, tersebar luas di seluruh
nusantara. Selain itu juga, kita juga harus waspada karena kini semakin banyak orang dari
benua Afrika datang dan bermukim di Indonesia. Bisa jadi ada di antara mereka yang berasal
dari negara tertular penyakit demam Ebola.
1

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) adalah unit pelaksana teknis di lingkungan


Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Permenkes tentang perubahan
atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 356/Menkes/Per/IV/2008 Tentang Organisasi Dan
Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan). KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan
masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi,
kekarantinaan,

pengendalian

dampak

kesehatan

lingkungan,

pelayanan

kesehatan,

pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul
kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja
bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara (Pasal 2 Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 356/MENKES/PER/IV/2008 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja
Kantor Kesehatan Pelabuhan)
1.2.
Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Ebola dalam PHEIC
1.2.2.
1.
2.
3.

Tujuan Khusus
Untuk mengetahui defenisi, etiologi, epidemiologi Ebola.
Untuk mengetahui cara penularan, pencegahan, tatalaksana Ebola
Untuk mengetahui bagaimana penanganan kasus Ebola di Indonesia.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Defenisi
Ebola Virus Disease (EVD) adalah salah satu dari banyak penyakit demam berdarah
virus. Ini adalah penyakit yang parah dan berakibat fatal pada manusia dan primata (seperti
monyet, gorila dan simpanse) (CDC, 2014)
2

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

2.2. Etiologi
Ebola disebabkan oleh infeksi dengan virus dari genus Ebolavirus family Filoviradae.
Terdapat lima subspesies dari Ebola virus. Empat dari lima menyebabkan penyakit pada
manusia; virus Ebola (Zaire ebolavirus); Virus Sudan (Sudan ebolavirus); Virus Ta Forest
(Ta Forest ebolavirus) dan virus Bundibugyo (Bundibugyo ebolavirus). Kelima, virus Reston
(Reston ebolavirus) yang menyebabkan penyakit pada primata tidak pada manusia.
Virus Ebola ditemukan di beberapa negara Afrika. Ebola pertama kali ditemukan pada
tahun 1976 di dekat Sungai Ebola di tempat yang sekarang Republik Demokratik Kongo.
Sejak itu, wabah telah muncul secara sporadis di Afrika. Host reservoir alami dari virus
Ebola masih belum diketahui. Namun, atas dasar bukti dan sifat virus yang sama, peneliti
percaya bahwa virus bawaan hewan dan kelelawar merupakan reservoir yang paling mungkin
(CDC, 2014)
2.3. Epidemiologi
Sejarah dan asal-usul di alam dari virus Ebola tetap menjadi misteri. Secara umum,
virus ini ada yang menyerang manusia yaitu Ebola Zaire, Ebola Tai Forest, Ebola
bundibugyo, Ebola Sudan dan ada yang hanya menyerang hewan primata yaitu Ebola Reston.
Beberapa hipotesis mengatakan bahwa terjadi penularan dari hewan yang terinfeksi ke
manusia. Kemudian dari manusia yang terinfeksi ini, virus bisa ditularkan ke manusia lain
dalam berbagai cara. Orang bisa terinfeksi karena berkontak dengan darah dan atau hasil
sekresi dari orang yang terinfeksi. Orang juga bisa terinfeksi karena kontak dengan benda
seperti jarum suntik yang terkontaminasi dengan orang yang terinfeksi. Penularan secara
nosokomial (penularan yang terjadi di klinik atau rumah sakit) juga dapat terjadi bila pasien
dan tenaga medis tidak memakai masker ataupun sarung tangan.

Antara tahun 1976 dan 1998 dari sampel 30.000 mamalia, burung, reptil, amfibi dan
arthropoda dari daerah wabah, tidak terdeteksi Ebolavirus tetapi terdapat beberapa materi
genetik yang ditemukan pada enam tikus (Mus setulosus dan Praomys) dan satu berangberang (Sylvisorex ollula) yang dikumpulkan di Republik Afrika Tengah pada tahun 1998.
Virus terdeteksi di bangkai dan simpanse selama wabah pada tahun 2001 dan 2003, yang
kemudian menjadi sumber infeksi manusia. Namun, angka kematian yang tinggi dari infeksi
di spesies ini membuat mereka tidak mungkin sebagai reservoir alami.
3

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Ebola merupakan salah satu kasus emerging zoonosis yang paling menyita perhatian
publik karena kemunculannya yang sering dan memiliki angka mortalitas yang tinggi pada
manusia. Virus Ebola pertama kali diidentifikasi di provinsi Sudan dan di wilayah yang
berdekatan dengan Zaire (saat ini dikenal sebagai Republik Kongo) pada tahun 1976, setelah
terjadinya suatu epidemi di Yambuku (daerah Utara Republik Kongo) dan Nzara (daerah
Selatan Sudan). Sejak ditemukannya virus Ebola, telah dilaporkan sebanyak 1850 kasus
dengan kematian lebih dari 1200 kasus diantaranya. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari
genus Ebolavirus yang tergolong famili Filoviridae. Inang atau reservoir dari Ebola belum
dapat dipastikan, namun telah diketahui bahwa kelelawar pemakan buah adalah salah satu
hewan yang bertindak sebagai inang alami dari Ebola. Virus Ebola juga telah dideteksi pada
daging simpanse, gorila, monyet Macaca Fascicularis dan kijang liar (Y.Guidmard, 1999)
Penyebaran virus Ebola dalam skala global masih terbatas. Hal ini berkaitan dengan
transmisinya yang tidak melalui udara dan juga jarak waktu yang diperlukan virus Ebola
untuk menginfeksi satu individu ke individu lainnya. Selain itu, onset virus yang relatif cepat
dapat mempercepat diagnosa terhadap penderita sehingga dapat mengurangi penyebaran
penyakit melalui penderita yang bepergian dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Penyakit ini
dapat dikaitkan dengan kebiasaan manusia, terutama di daerah Afrika, untuk mengkonsumsi
daging hewan liar. Daging hewan liar yang terkontaminasi akan menjadi media yang efektif
dari penularan Ebola pada manusia.
Wabah Ebola terakhir telah terjadi di negara-negara berikut : Republik Demokratik
Kongo (DRC), Gabo, Sudan Selatan, Pantai Gading, Uganda, Republik Kongo (ROC), Afrika
Selatan (impor). Epidemi wabah Ebola di 2014 adalah yang terbesar dalam sejarah dan
mempengaruhi beberapa Negara di Afrika Barat. Dua kasus impor, termasuk satu kematian
serta dua kasus yang diperoleh secara lokal pada petugas layanan kesehatan yang telah
dilaporkan di Amerika Serikat dan satu kasus telah dilaporkan di Spanyol (CJ. Peters, 1999)
2.4. Gejala Klinis
Setelah masa inkubasi 2 sampai 21 hari (kisaran 5-10 hari), pasien tiba-tiba
mengalami gejala demam Ebola meliputi: radang sendi, sakit punggung, diare, kelelahan,
sakit kepala, rasa tidak enak badan, kerongkongan terasa sangat sakit dan muntah-muntah.
Sedangkan pada gejala akhir, demam Ebola dapat menujukkan gejala seperti gatal-gatal,
pendarahan dari mata, telinga dan hidung, pendarahan dari mulut dan dubur (pendarahan
gastrointestinal), radang pada mata (konjungtivitis), bengkak pada organ genital (labia dan
4

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

scrotum), keluarnya darah melalui permukaan kulit, rongga atas mulut terlihat memerah,
pingsan, kegagalan fungsi hati dan gangguan penglihatan.
Sebelum suatu daerah diduga terkena wabah, pasien yang mengalami gejala awal
keliru didiagnosis malaria, demam tipus, disentri, influenza atau berbagai infeksi bakteri,
yang semuanya jauh lebih umum dan kurang fatal. Virus Ebola dapat mempengaruhi
meningkatkan sel darah putih, AST, ALT dan amilase. Menurunkan limfosit, fungsi ginjal
dan bisa terjadi proteinuria.
Tapi dalam wabah terbaru di Uganda, pasien meninggal dengan gejala demam dan
muntah. Gejala yang biasanya tidak terlihat pada pasien Ebola inilah yang membuat WHO
menjadi khawatir. Hal itu menjadi tanda munculnya strain baru virus Ebola yang mematikan.
Bentuk baru virus Ebola itu terdeteksi dalam sebuah wabah di Uganda bagian barat. Dalam
waktu kurun dari sebulan, strain tak dikenal itu telah menewaskan 18 orang. Sebanyak 90
persen pasien yang terserang virus Ebola meninggal, artinya hanya 10 persen saja pasien
yang terinfeksi virus Ebola yang dapat selamat.

Gambar 1. Manifestasi Pendarahan Pada Pasien Ebola

Ada beberapa hal yang menyebabkan penyebaran penyakit Ebola (Demam Berdarah
Ebola) sangat dikhawatirkan, antara lain:
1. Serangannya muncul secara sangat mendadak
2. Gejala-gejala klinik sangat berat.
3. Menimbulkan kematian dalam waktu yang sangat singkat.
4. Angka kematiannya sangat tinggi yaitu 90-92% dari jumlah penderita.
5. Karena Virus Ebola mampu berpindah dari penderita ke orang lain, sehingga transportasi
sangat mendukung kemungkinan penyebarannya ke berbagai bagian dunia dalam waktu
yang sangat singkat.
5

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

6. Belum ada obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit Ebola.


7. Vaksin untuk penyakit Ebola hingga kini belum dapat dibuat.
2.5. Diagnosis
1. Anamnesis
Melakukan Anamnesis meliputi :
a. Gejala dan tanda (sesuai dengan definisi kasus)
b. Riwayat kontak dengan kasus dalam investigasi dan kasus konfirmasi PVE (dalam 21
hari terakhir)
c. Riwayat perjalanan dari daerah atau Negara terjangkit (dalam 21 hari terakhir)
Anamnesis dilakukan di ruang isolasi dengan meminimalisir petugas yang kontak
(menggunakan form PVE-LK). Pada saat melakukan anamnesis petugas sudah
menggunakan alat pelindung diri.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara umum dan khusus sesuai keadaan pasien. Pada
kasus-kasus yang berat dapat ditemukan perdarahan internal dan eksternal
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Penegakan diagnosis PVE
Untuk diagnosis pasti PVE dilakukan pemeriksaan PCR, sampel dikirim ke
balitbangkes sesuai dengan prosedur. Bahan pemeriksaan nya adalah :
i.
Spesimen darah dengan EDTA (vacutainer tutup ungu) 4 cc dan clot activator
(vacutainer kuning) sebanyak 4 cc sudah dilakukan sentrifuge sebelum
ii.

dikirim.
Pengambilan spesimen darah dilakukan setelah 3 hari atau 72 jam setelah

timbul gejala sehari sekali selama 3 hari berturut-turut


b. Pemeriksaan penunjang lain untuk menyingkirkan penyakit yang mempunyai gejala
serupa seperti malaria, demam dengue, leptospirosis, chikungunya, thypoid :
i.
Darah (Hb, Ht, Trombosit, Leukosit, SGOT, SGPT, Ureum/kreatinin, analisis
ii.
iii.
iv.

gas darah, elektrolit, dan gula darah)


Urin lengkap
Feses lengkap (bila diare)
Pemeriksaan malaria (rapid test, pemeriksaan mikroskopis: darah tebal, darah

v.
vi.
vii.
viii.

tipis)
Pemeriksaan leptospirosis (rapid test, PCR)
Pemeriksaan dengue/chikungunya (serologi, PCR, NS1)
Pemeriksaan typhoid (tubex TF atau Widal)
Pemeriksaan radiologis sesuai dengan gejala dan tanda klinis (KemenKes RI,
2015)

2.6. Differensial Diagnosa


6

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Malaria
Demam tifoid
Shigellosis
Kolera
Leptospirosis
Riketsiosis
Demam relaps
Meningitis
Hepatitis
Demam hemoragik viral lainnya

2.7. Tatalaksana
Menurut CDC, tidak ada vaksin maupun obat yang direkomendasikan oleh FDA untuk
penyakit virus Ebola. Penyakit virus ebola ditatalaksana sesuai dengan symptom dan
komplikasi yang muncul. Intervensi yang dapat dilakukan pada awal timbulnya penyakit
antara lain :
1. Pemberian cairan intravena (IV) dan menjaga keseimbangan elektrolit
2. Pemberian oksigen dan mengontrol tekanan darah
3. Mengobati infeksi yang ada.
Kesembuhan dari penyakit Ebola bergantung pada respon imunitas penderita serta
penanganan suportif yang baik. Antibodi akan muncul dan bertahan sekitar 10 tahun pada
penderita yang sembuh dari infeksi Ebola. Pada beberapa penderita yang sembuh dari
penyakit Ebola dapat ditemukan komplikasi jangka panjang berupa gangguan penglihatan
dan persendian (CDC, 2015)
2.8. Pencegahan
Jika bepergian ke daerah yang terkena wabah Ebola, pastikan untuk melakukan hal
berikut (CDC, 2015):
1. Menjaga kebersihan, misalnya, mencuci tangan dengan sabun atau berbasis alkohol
serta menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh.
2. Hindari kontak dengan benda yang berhubungan dengan darah atau cairan tubuh
orang yang terinfeksi (seperti pakaian, tempat tidur, jarum, dan peralatan medis).
3. Hindari kontak dengan kelelawar dan primata.
4. Hindari fasilitas di mana pasien Ebola sedang dirawat.
5. Setelah kembali, pantau kesehatan selama 21 hari serta hubungi tenaga medis jika
timbul gejala Ebola.

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Petugas kesehatan yang akan terpapar dengan penderita Ebola harus mengikuti langkahlangkah berikut (CDC, 2015):
1. Memakai alat pelindung diri yang sesuai (personal protective equipment).
2. Pengendalian infeksi dan sterilisasi dengan langkah yang tepat, misalnya mengisolasi
pasien Ebola dari pasien lain.
3. Hindari kontak tanpa pelindung dengan jenazah yang meninggal karena Ebola.
4. Melapor jika terdapat kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh, tidak terbatas
kotoran, air liur, urin, muntah dan air mani dari penderita Ebola. Virus ini dapat
masuk ke dalam tubuh melalui kulit rusak atau selaput lendir yang tidak dilindungi,
misalnya, mata, hidung atau mulut.

BAB 3
PEMBAHASAN
3.1. PHEIC
PHEIC adalah kedaruratan kesehatan kejadian luar biasa (KLB) yang meresahkan
dunia. KLB suatu penyakit tidak secara otomatis memberikan informasi yang cukup untuk
mengetahui apakah penyakit tersebut menyebar secara Internasional. Beberapa faktor seperti
letak geografi serta jumlah kasus, waktu, jarak, batas Internasional, kecepatan dan
penyebarannya dan faktor lainnya yang sangat relevan untuk dianalisis sehingga dapat
ditentukan apakah suatu KLB merupakan penyakit berpotensi dalam penyebaran
Internasional (Depkes RI, 2008)
WHO merekomendasikan pemeriksaan yang dapat dilaksanakan oleh suatu negara
yang mengalami PHEIC, negara lainnya dan pengelola transportasi. seperti melakukan
pemeriksaan yang tepat untuk pemeriksaan rutin terhadap risiko kesehatan masyarakat yang
sedang berlangsung di bandara, pelabuhan, lintas batas. Pemeriksaan dapat dilakukan kepada
manusia, barang, kargo, kontainer, kapal pesawat, transportasi darat dan paket pos.
Rekomendasi sementara dibuat oleh WHO secara khusus, dan waktu terbatas dan didasarkan
pada risiko yang spesifik sebagai jawaban dari PHEIC (Depkes RI, 2008)
Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) adalah pernyataan resmi
oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diumumkan oleh Komite Darurat yang tubuh

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

beroperasi di bawah Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) dari krisis kesehatan


masyarakat Sebagai instrumen internasional yang mengikat secara hukum pada pencegahan
penyakit, pengawasan, pengendalian, dan respon yang diadopsi oleh 194 negara. (Renee,
2009)
Penerapan IHR adalah suatu langkah penting bagi negara-negara dalam bekerjasama
guna memperkuat pertahanan dunia terhadap PHEIC umumnya dan pengendalian risiko
penyakit menular khususnya. Pertimbangan tersebut menjadi dasar bagi negara-negara dunia
untuk memberlakukan IHR, termasuk dalam menghadapi suatu situasi atau keadaan krisis,
seperti :

a. Mencegah penyebaran penyakit yang beresiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat


b. Menghidarkan kerugian akibat pembatasan atau larangan perjalanan dan perdagangan
yang diakibatkan oleh masalah kesehatan masyarakat dunia.
Untuk membantu suatu negara mengidentifikasi apakah suatu keadaan merupakan
PHEIC, IHR mempersiapkan instrumen dan mengarahkan negara untuk mengkaji suatu
kejadian di wilayahnya dan menginformasikan kepada WHO setiap kejadian yang merupakan
PHEIC dengan kreteria sebagai berikut:
a). Berdampak/ berisiko tinggi bagi kesehatan masyarakat.
b). KLB atau sifat kejadian tidak diketahui
c). Berpotensi menyebar secara Internasional
d). Berisiko terhadap perjalanan maupun perdagangan
e). Kemungkinan membutuhkan koordinasi dalam penanggulangannya
Pada tanggal 6 Agustus, WHO mengadakan Komite Darurat ahli internasional untuk
meninjau wabah dan memberikan masukan kepada Direktur Jenderal, sesuai dengan
Peraturan Kesehatan Internasional, apakah wabah Ebola merupakan penyakit virus Public
Health Emergency of International Concern (PHEIC). Pada 8 Agustus 2014 wabah Ebola di
Afrika Barat dinyatakan sebagai

Public Health Emergency of International Concern

(PHEIC).
3.2. IHR
3.2.1. Pengertian
9

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

IHR adalah suatu instrumen internasional yang secara resmi mengikat untuk
diberlakukan oleh seluruh negara anggota WHO, maupun bukan negara anggota WHO
tetapi setuju untuk dipersamakan dengan negara anggota WHO.
Mengingat terbatasnya ruang lingkup aplikasi IHR (1969) yang hanya melakukan
control terhadap 3 penyakit karantina, yaitu kolera, pes,dan yellow fever, maka pada Mei
2005 para anggota WHO yang tergabung dalam World Health Assembly (WHA)
melakukan revisi terhadap IHR (1969). IHR (1969) ini digantikan dengan IHR(2005)
yang diberlakukan pada 15 Juni 2007.
Tujuan dan ruang lingkup IHR adalah untuk mencegah, melindungi dan
mengendalikan terjadinya penyebaran penyakit secara internasional, serta melaksanakan
public health response sesuai dengan risiko kesehatan masyarakat, dan menghindarkan
hambatan yang tidak perlu terhadap perjalanan dan perdagangan internasional.
3.2.2. Justifikasi Pemberlakuan IHR
Pemberlakuan IHR pada negara-negara di dunia disebabkan oleh, antara lain:
1.Mencegah penyebaran penyakit yang beresiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat.
2.Menghindarkan kerugian akibat pembatasan atau larangan perjalanan dan
perdagangan yang diakibatkan oleh masalah kesehatan masyarakat, seperti
penyebaran penyakit potensial wabah maupun PHEIC lainnya.
3.2.3. Penanggung Jawab Pelaksanaan IHR di Indonesia
Tanggung jawab dalam pelaksanaan IHR (2005) berada pada WHO dan negara yang
terikat pada peraturan ini. Di Indonesia, Depkes bertanggung jawab pada pelaksanaan
IHR (2005) dan WHO akan mendukung pelaksanaannya.
Ditjen PP & PL beserta Unit Pelaksana Teknis Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP),
pengelola transportasi dan stakeholder lain juga ikut serta dalam mengimplementasikan
pemeriksaan yang direkomendasikan.
3.2.4. Pemberitahuan
Setiap negara anggota diwajibkan nuntuk menginformasikan kepada WHO tentang
seluruh kejadian yang berpotensi menimbulkan PHEIC dan memberikan verifikasi dari
informasi tersebut. Hal ini dimaksudkan agar WHO menjamin kerjasama yang baik untuk
perlindungan yang efektif serta menginformasikan risiko kesehatan masyarakat dan
tindakan cepat dan tepat yang dapat dilaksanakan.
10

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

3.2.5. National IHR Focal Points dan WHO IHR Contact Points
Setiap negara anggota diwajibkan membentuk National IHR Focal Point yang
bertanggung jawab terhadap tata hubungan operasional pelaksanaan IHR dengan WHO
serta menerima dan mengirim informasi kepada WHO dalam waktu 24 jam per hari dan 7
hari per minggu. Sementaraitu, WHO menyiapkan dan menginformasikan IHR Contact
Points di tingkat pusat maupun daerah.

Tugas National IHR Focal Points :


1.

Bekerja sama dengan WHO dalam mengkaji risiko KLB dan PHEIC.

2.

Melakukan diseminasi informasi kepada lintas sektoral terkait.

3.

Memberi kewenangan sepenuhnya kepada petugas yang ditunjuk pada jalur


kedatangan.

4.

Bertindak sebagai koordinator dalam menganalisis kejadian dan risiko KLB.

5.

Berkoordinasi secara intens dengan Bakornas Penanggulangan Bencana.

6.

Memberikan saran kepada Menteri Kesehatan dan Departemen terkait dalam


melaksanakan notifikasikepada WHO.

7.

Memberikan saran kepada Menteri Kesehatan dan Departemen terkait dalam


melaksanakan rekomendasidari WHO dan memberlakukan rekomendasi sebagai
aplikasi rutin atau periodik.

8.

Mengkaji sistem surveilans dan kapasitas dalam merespons serta mengidentifikasi


kebutuhan pengembangan, termasuk kebutuhan pelatihan di tingkat nasional.

9.

Bekerjasama dengan WHO untuk menyiapkan dukungan program intervensi dalam


pencegahan atau penanggulangan KLB dan PHEIC lainnya.

10. Melaporkan perkembangan melalui kajian, perencanaan dan pelaksanaan IHR


(2005).
11. Bekerja sama dengan WHO dalam menyiapkan pesan umum.
12. Bekerja sama dan melakukan pertukaran informasi antar negara atau regional.
3.2.6.

Dukungan dan Bantuan WHO Terhadap Negara Anggota Dalam Pelaksanaan


IHR

11

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Dalam pelaksanaan IHR, WHO menyiapkan bantuan berupa kerjasama antar negara
dalam pengevaluasian, pengkajian dan peningkatan kapasitas kesehatan masyarakat.
Bantuan yang diberikan juga termasuk mendukung negara dalam mengidentifikasi
sumber dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan mempertahankan kapasitas
negara tersebut. Selanjutnya, WHO akan terus menyiapkan bantuan teknis dan logistik
agar dapat memfasilitasi pelaksanaan IHR secara efektif dan lengkap.

3.2.7. Fungsi dan Peran KKP dalam Pelaksanaan IHR 2005


1. Melaksanakan pemantauan alat angkut, kontainer dan isinya yang datang dan pergi
dari daerah terjangkit serta menjamin bahwa barang-barang diperlakukan dengan baik
dan tidak terkontaminasi dari sumber infeksi,vektor dan reservoar.
2. Melaksanakan dekontaminasi serta pengendalian vektor dan reservoar terhadap alat
angkut yang digunakan oleh orang yang bepergian.
3. Melakukan pengawasan deratisasi, disinfeksi, disinseksi dan dekontaminasi.
4. Menyampaikan saran/ rekomendasi kepada operator alat angkut guna melakukan
pemeriksaan lengkap terhadap alat angkut atau kendaraannya.
5. Melakukan pengawasan pembuangan sisa-sisa bahan yang terkontaminasi (seperti air,
makanan dan sisa pembuangan manusia)
6. Melakukan pemeriksaan dan pemantauan terhadap pembuangan sisa-sisa bahan alat
angkut yang dapat menimbulkan pencemaran dan penyakit.
7. Melakukan pengawasan terhadap agen pelaksana perjalanan dan angkutan di wilayah
kedatangan.
8. Melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan apabila terjadi hal-hal yang tidak
diharapkan, sesuai dengan kebutuhan (emergency case).
9. Melakukan komunikasi dengan National IHR Focal Point.
10. Melaksanakan pemeriksaan yang direkomendasikan oleh WHO untuk setiap
kedatangan dari daerah tertular apabila terindikasi bahwa pemeriksaan keberangkatan
dari daerah terinfeksi dianggap tidak benar/ tidak sah.
11. Melaksanakan prosedur disinseksi, deratisasi, desinfeksi, dekontaminasi, serta
pemeriksaan sanitasi lainnya dengan tidak menyebabkan atau seminimalnya
kecelakaan, ketidaknyamanan dan kerusakan(Aditama, 2008)
3.3. Incidence Rate, Prevalence Rate, Case Fatality Rate Kasus Ebola

12

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Virus Ebola (Ebola Virus Disease/ EVD) yang mewabah di beberapa negara Afrika
Barat sejak saat ini kasusnya meningkat tajam dan mendapatkan perhatian serius dari
dunia Internasional. Data terbaru WHO tanggal 18 Maret 2015 menunjukkan telah
terdapat 20.701 kasus dengan 10.194 kematian dengan CFR 49%.
Wabah menakutkan virus Ebola telah melanda dan menyerang beberapa negara di
belahan Afrika Barat seperti di Sierra Leone, Liberia, Guinea dan Nigeria. Terhitung
mulai Maret 2014 lalu, virus Ebola terus menjadi pemberitaan media massa dan perhatian
dunia, karena virus ini tidak hanya menjangkiti penduduk lokal, namun telah menyerang
warga asing termasuk dua warga negara Amerika di kawasan Afrika Barat. Penyebaran
virus ini sangat mengkhawatirkan karena tiap tahun terus mencatat banyak kasus dan
korban jiwa, namun obatnya masih belum ditemukan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Ebola yang mempunyai nama lain
virus Ebolavirus (EBOV), genus virus dan penyakit demam hemorrhagic Ebola (EHF),
virus demam hemorrhagic (VHF) atau demam berdarah viral, merupakan salah satu
penyakit akibat virus yang paling mematikan bagi manusia.
Sejarah pertama kali di temukanya virus Ebola adalah pada tahun 1978, telah terjadi
wabah Ebola demam hemmorrhagic di Zaire dan Sudan. Seorang pekerja toko di Nzara,
Sudan mendadak sakit dan lima hari berselang dinyatakan meninggal dunia. Dengan
kematiannya, dunia kembali disadarkan terhadap keganasan virus Ebola yang secara
perlahan telah menjadi wabah epidemik di seluruh wilayah tersebut. Korban selanjutnya
adalah seorang dokter yang merawat salah satu korban yang terkena virus Ebola karena
kontak fisik cukup dekat. Kasus lain terjadi di rumah sakit Maridi, Sudan, 33 dari 61
(CFR 54%) suster yang merawat penderita Ebola, dikabarkan tewas karena virus
tersebut.
Berdasarkan infografis yang di buat WHO terdapat sebaran kasus pada 4 negara di
Afrika Barat yaitu:
a. Guinea. Terjadi 3389 Kasus (2966 kasus konfirmasi, 395 kasus probable, dan 29
kasus suspek) termasuk 2224 kematian dengan CFR 65 persen.
b. Liberia. Terjadi 9526 kasus (3150 kasus konfirmasi, 1879 kasus probable, dan 4497
kasus suspek) termasuk 4264 kematian dengan CFR 44,76 persen.

13

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

c. Sierra Leone. Terjadi 11.751 kasus (8487 kasus konfirmasi, 287 kasus probable dan
2977 kasus suspek) termasuk 3691 kematian dengan CFR 31,41 persen.
Di Indonesia hingga kini, belum ditemukan kasus konfirmasi penderita yang
mengidap virus Ebola. Namun demikian, Indonesia termasuk salah satu negara yang telah
menyatakan siaga menghadapi kemungkinan warganya terinfeksi virus Ebola. Bentuk
kesigapan dan respon cepat Pemerintah Indonesia di tunjukkan melalui peringatan perjalanan
bagi orang-orang yang berencana pergi ke kawasan Afrika, khususnya ke Sierra Leone,
Liberia, Guinea dan Nigeria. Pemerintah Indonesia juga telah menyiapkan rumah sakit untuk
menangani kasus Ebola. Status siaga yang diterapkan Pemerintah Indonesia dalam
mengantisipasi merebaknya wabah Ebola belum tentu memberi jaminan bahwa Virus Ebola
tidak masuk di Indonesia.
Angka kejadian Ebola yang dilaporkan pada tanggal 18 Maret 2015

Angka kejadian Ebola kasus confirmed, probable dan suspected di Afrika Barat

14

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Kasus confirmed dan probable berdasarkan jenis kelamin dan usia

3.4.

Potensial Ebola di Indonesia


Cara masuk virus Ebola di Indonesia yaitu dapat melalui:
1. Arus Transportasi
Masuknya virus Ebola tersebut bisa diakibatkan oleh warga indonesia yang
berkunjung dari Africa yang terinfeksi virus ebola atau bisa juga melalui warga negara
15

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Africa yang terinfeksi virus Ebola yang berkunjung ke Indonesia. Semua pendatang
yang berasal dari afrika di beri Health Alert Card atau Kartu Kewaspadaan
Kesehatan. Kartu ini berisi data (nama, kebangsaan, no. pasport, datang dari, dengan
penerbangan/kapal, tanggal kedatangan dan alamat di Indonesia) sehingga apabila
mereka mengalami gelaja virus Ebola harus menyertakan kartu tersebut saat berobat.
Selain itu di bandar udara di indonesia sendiri juga disediakan Thermal Scanner yaitu
alat yang dapat mendeteksi suhu penumpang dari pesawat, kemudian apabila
penumpang dari Africa ketika melewati Thermal Scanner di dapati suhu yang tinggi,
kemudian di sertai gejala Ebola segera dapat dirujuk ke rumah sakit. Sementara di
pelabuhan sendiri fasilitas Thermoscanner belum tersedia, sehingga kita tidak bisa
mengetahui suhu suhu dari penumpang.
2. Tenaga Kerja
Menurut data tahun 2014 jumlah tenaga kerja Indonesia di Afrika adalah sebanyak
587 orang. Tenaga kerja juga merupakan sumber penyebab tersebarnya virus Ebola
apabila mereka pulang ke Indonesia. Akan tetapi banyak juga tenaga kerja Indonesia
yang tidak terdeteksi akibat berkerja secara illegal.
3. Vektor
Kemungkinan virus Ebola ditularkan melalui hewan sangat kecil disebabkan karena
tidak adanya transport atau transaksi langsung hewan dari Afrika ke Indonesia. Tetapi
bisa juga diakibatkan hewan seperti kelelawar yang membawa virus dari Asia
Tenggara salah satunya Philipina diakibatkan dekatnya Philiphina dari Indonesia yaitu
pulau Sulawesi sehingga hewan tersebut dapat menyebarkan virus tersebut di
Indonesia. Salah satu virus Ebola yang berasal dari Philipina yaitu virus Reston
Ebolavirus (RESTV).
dilaporkan

Sementara ini di Indonesia sampai saat ini belum pernah

kasus infeksi akibat virus ebola, namun dengan kemajuan system

transportasi serta kondisi geografis Indonesia dengan Philipina tidak menutup


kemungkinan virus ebola bisa mewabah

16

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1. Ebola dinyatakan dalam PHEIC karena di tiga negara episenter Ebola yaitu Guinea,
Liberia, dan Sierra Leone ditemukan beberapa hal yaitu sistem kesehatan tidak
berjalan dengan baik dan itu dipengaruhi oleh sumber daya manusia, kondisi
finansial dan material, tidak berpengalaman menangani virus Ebola karena
mispersepsi, mobilitas penduduk tinggi, penularan terjadi dalam beberapa generasi
di ibu kota tiga negara tersebut dan terjadi penularan di fasilitas kesehatan dan
rumah sakit. Pada 8 Agustus 2014 wabah Ebola di Afrika Barat dinyatakan sebagai
Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
2. Ebola adalah suatu penyakit yang menyerang manusia yang disebabkan oleh sejenis
virus dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae. Virus ini pertama kali ditemukan di
Afrika, daerah selatan Sudan dan Zaire pada tahun 1976 pada tubuh seekor monyet.
Setelah terjadinya suatu epidemi di Yambuku, daerah Utara Republik Congo dan
Nzara, daerah Selatan Sudan. Sejak ditemukannya virus Ebola, telah dilaporkan
sebanyak 1850 kasus dengan kematian lebih dari 1200 kasus diantaranya. Periode
inkubasi Ebola dapat berkisar dari 2 sampai 21 hari dengan gejala yang biasanya
17

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

ditampilkan dalam waktu 10 atau 11 hari. Gejalanya yang ditimbulkan adalah


demam, sakit kepala, sakit sekitar persendian dan otot, sakit tenggorokan dan tubuh
lemah. Gejala ini diikuti juga oleh diare, sakit perut dan muntah-muntah. Ruamruam, mata memerah, tersedak, serta adanya pendarahan luar dan dalam ditemukan
pada beberapa pasien.
3. Ebola ditularkan oleh hewan (contohnya orang utan) yang sudah terinfeksi melalui
kontak langsung dengan manusia. Jika bepergian ke daerah yang terkena wabah
Ebola, memastikan agar menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun
serta menghindari kontak dengan benda yang berhubungan dengan darah atau cairan
tubuh orang yang terinfeksi (seperti pakaian, tempat tidur, jarum, dan peralatan
medis). Hindari kontak dengan kelelawar dan primata dan fasilitas dimana pasien
ebola sedang dirawat. Setelah kembali, pantau kesehatan selama 21 hari serta
hubungi tenaga medis jika timbul gejala Ebola.
4. Penyebaran virus Ebola dalam skala global masih terbatas. Hal ini berkaitan dengan
transmisinya yang tidak melalui udara dan juga jarak waktu yang diperlukan virus
Ebola untuk menginfeksi satu individu ke individu lainnya. Selain itu, onset virus
yang relatif cepat dapat mempercepat diagnosa terhadap penderita sehingga dapat
mengurangi penyebaran penyakit melalui penderita yang bepergian dari satu wilayah
ke wilayah lainnya. Penyakit virus ebola ditatalaksana sesuai dengan symptom dan
komplikasi yang muncul. Intervensi yang dapat dilakukan pada awal timbulnya
penyakit antara lain pemberian cairan intravena (IV) dan menjaga keseimbangan
elektrolit, pemberian oksigen dan mengontrol tekanan darah serta mengobati infeksi
yang ada.
4.2. Saran

1.

Bagi petugas KKP Kelas I Medan agar memberikan penyuluhan tentang penyakit
Ebola kepada masyarakat luas sehingga masyarakat paham dan waspada terhadap

penyakit tersebut.
2.
Bagi Dinas Kesehatan agar lebih memaksimalkan tugas dan fungsi pokoknya
dalam pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pengamatan penyakit, pemberantasan
penyakit menular langsung serta pemberantasan penyakit bersumber binatang dan
juga dalam pelaksanaan rencana penelitian, pengamatan dan tindakan saat terjadinya
wabah penyakit atau kejadian luar biasa sehingga meminimalisasikan penyebaran
3.

ebola ke Indonesia.
Bagi Dinas Sosial dan Tenaga Kerja agar lebih memaksimalkan tugas dan fungsi
pokoknya dalam upaya menyelenggarakan dan mengawasi bidang keselamatan kerja
18

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

dan kesehatan kerja terutama bagi tenaga kerja asing sehingga meminimalisasikan
penyebaran ebola ke Indonesia.
4.
Bagi masyarakat agar lebih waspada dan mengetahui faktor-faktor risiko yang
dapat menyebarkan penyakit Ebola seperti kontak dengan hewan yang menjadi
vektor penyakit ebola dan bagi masyarakat yang pergi ke daerah endemis tersebut
agar menghindari semua kontak dengan pasien yang terinfeksi, menyadari gejala
infeksi dan mencari perhatian medis pada tanda pertama dari penyakit.

DAFTAR PUSTAKA
1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2014. Ebola.
http://www.cdc.gov/vhf/ebola/index.html. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015.
2. CDC and World Health Organization. Infection control for viral hemorrhagic fevers in
the african health care setting. Atlanta. Georgia:US Department of Health and Human
Services, CDC, 1998.
3. Peters CJ, LeDuc JW. An Introduction to Ebola:the virus and the disease. J Infect Dis
1999;179(suppl):Ix-xvl
4. Guimard Y, Bwaka MA, Colebunders R, et al. Organization of patient care during the
Ebola hemorrhagic fever epidemic in Kikwit, Democratic Republic of the Congo,
1995. J Infect Dis 1999;179(suppl 1):S26874.
5. Halim, M. Suplement Vol 26 No.3 Juli-September 2005. http://www.harianterbit.com,
diakses 24 Maret 2015.
6. Aditama, T. Y., 2008. Buku Saku: Panduan Petugas Kesehatan Tentang International
Health Regulations (IHR) 2005. Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit &
Penyehatan
Lingkungan:
Departemen
Kesehatan
RI.
Available
in
http://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CCAQFjAA&
url=http%3A%2F%2Fwww.penanggulangankrisis.depkes.go.id%2F__pub
%2Ffiles70809bukusaku_ihr.pdf&ei=n38SVaXTGpWiuQTRm4LADw&usg=AFQjC
NEFdIgthyuiaBpu_83AsL3-8Zq95g&bvm=bv.89184060,bs.1,d.c2E (Accesed 24th
March 2015)
7. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Penyakit Virus Ebola. 2015. Direktorat Jendral
19

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior

Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan: Departemen Kesehatan RI.


8. http://www.cdc.gov/vhf/ebola/pdf/ebola-factsheet.pdf (Accesed 24th March 2015)
9. http://www.depkes.go.id/article/view/201408250001/tidak-ada-kasus-ebola-diindonesia.html (Accesed 24th March 2015)
10. http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/11/141102_indonesia_ebola_te
s (Accesed 24th March 2015)
11. Renee Dopplick (29 April 2009). "Inside Justice | Swine Flu: Legal Obligations and
Consequences When the World Health Organization Declares a "Public Health Emergency of
International Concern"". accessed 24 March 2015

12. World Health Organization, 2015. Ebola Situation Report- 18 March 2015. Available
from : http://apps.who.int/ebola/current-situation/ebola-situation-report-18-march2015 [Accessed 24 Maret 2015]

20