Anda di halaman 1dari 27

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN
KONTRUKSI DESA
BIDANG KEGIATAN:
PKM PENGABDIAN MASYARAKAT

Diusulkan oleh:
410014061
410014064
410014066
410014067
410014087

PUJANGGA NUSANTARATahun Angkatan 2014


BOBI EKO PRIYANTO
Tahun Angkatan 2014
SAKILLA GIA MENTARI
Tahun Angkatan 2014
NOVIA RIBKA UTAMI
Tahun Angkatan 2014
ANTONIA DYAH AYU W.R.A
Tahun Angkatan 2014

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL


YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Pembangunan pada dasarnya merupakan suatu rangkaian upaya yang


dilakukan terus menerus untuk mencapai tingkat kehidupan masyarakat yang
sejahtera. Sejalan dengan semakin pesatnya pembangunan dan dimulainya era
perbaikan di segala bidang, baik industri, perdagangan maupun pariwisata,
tentunya akan disertai dengan pembangunan infrastruktur untuk menunjangnya.
Suatu infrastruktur (konstruksi) yang baik harus dibangun berdasarkan
pertimbangan yang matang sehingga nantinya konstruksi tersebut dapat bertahan
dalam waktu yang lama dan tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ilmu
geologi yang mempelajari bumi, tempat konstruksi tersebut berdiri, memiliki
kontribusi dan peranan yang sangat vital untuk dapat menunjang terciptanya
maksud dan tujuan pembangunan konstruksi tersebut sehingga diharapkan
pembangunan konstruksi dapat berlangsung dengan cepat dan murah dengan hasil
yang memuaskan.
Dalam pembangunan suatu konstruksi, terdapat tiga tahapan utama, yaitu
pra konstruksi, syn konstruksi, dan pasca konstruksi. Pada tahapan pra konstruksi
ini peranan geologist mutlak diperlukan untuk menginvestigasi kondisi geologi
daerah konstruksi sehingga didapatkan data dan informasi geologi yang
diperlukan. Data dan informasi geologi tersebut nantinya akan menentukan
tahapan konstruksi selanjutnya (desain konstruksi). Data dan informasi geologi
yang diperlukan meliputi informasi geologi permukaan yang berupa data tanah,
batuan, airtanah, struktur geologi, dan stratigrafi daerah rencana konstruksi.
Sedangkan untuk informasi geologi bawah permukaan meliputi pemetaan, coring,
dan pengukuran geofisika lainnya.
Pada tahapan selanjutnya yaitu syn-konstruksi. Pada tahap ini, geologist
berperan dalam mengawasi perkembangan konstruksi suatu bangunan berdasarkan
keadaan geologi yang telah diidentifikasi sebelumnya.
Pada tahap selanjutnya yaitu tahapan pasca konstruksi, geologist berperan
dalam maintenance terkait perkembangan kondisi geologi pada daerah konstruksi
tersebut.
Indonesia adalah negara dengan gugusan pulau terbesar di dunia. Saat ini,
akses penghubung antar pulau tersebut sebagian besar masih menggunakan akses
laut yang lebih lama dan memakan biaya yang besar. Sehingga untuk menunjang
kegiatan pembangunan dan perekonomian antar pulau, diperlukan adanya
akselerasi infrastruktur tertentu untuk menunjang pembangunan tersebut. Salah
satunya adalah pembangunan desa.

Menurut KBBI, desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah
keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang
kepala desa)
Oleh karena itu, kami mengambil permasalahan mengenai Pengaruh
Struktur Geologi Terhadap Pembangunan Kontruksi Desa. Daerah yang kami
pilih sebagai case study adalah Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten
Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini memiliki struktur geologi
yang komplek sehingga cukup menarik untuk dibahas akibat adanya kompleksitas
keadaan geologi daerah tersebut.
1.2

Rumusan Masalah

1.3

Tujuan

1.4

Luaran yang Diharapkan

BAB II
DASAR TEORI
Geologi adalah ilmu yang mempelajari asal, struktur, komposisi, sejarah,
dan proses-proses yang terjadi di Bumi. Dalam ilmu geologi terdapat cabang ilmu
lain yaitu Geologi Teknik. Geologi Teknik adalah cabang ilmu geologi yang
berperan dalam rekayasa keteknikan suatu konstruksi bangunan berdasarkan
kondisi dan aspek-aspek geologinya.
Data-data geologi yang diperlukan untuk menunjang konstruksi berupa :
1.
Morfologi dan kemiringan
Meliputi kondisi bentang alam beserta unsur-unsur geomorfologi lainnya,
penafsiran genesa morfologi dan perkembangan geomorfologi yang mungkin akan
terjadi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan bentuk lembah, pola aliran
sungai, sudut lereng, pola gawir dan bentuk-bentuk bukit. Morfologi atau bentang
alam seperti tampak pada saat sekarang ini merupakan hasil kerja dari sistem
alam, yaitu proses-proses dalam bumi (tektonik/vulkanisme) dan proses-proses
luar (air permukaan, gelombang, longsoran, tanaman, binatang termasuk
manusia).
Morfologi sangat penting dalam hubungannya dengan pelaksanaan
pembangunan, yaitu untuk mengetahui karakteristik bentang alamnya seperti
kemiringan lereng dalam kaitannya dengan jangkauan optimum sudut lereng
untuk keperluan kesampaian lokasi dan operasional kendaraan pengangkut bahan
bangunan dan tataguna lahan pada saat ini.
2.
Satuan tanah dan batuan
Satuan tanah dan batuan memberikan informasi mengenai susunan atau
urutan stratigrafi dari tanah dan batuan secara vertikal maupun horisontal. Untuk
itu perlu dilakukan pemerian sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan yang dapat
diamati langsung di lapangan secara megaskopis.
Penyusunan satuan geologi teknik dilakukan dengan cara pengelompokan
tanah dan batuan yang mempunyai sifat fisik dan keteknikan yang sama atau
mendekati sama. Informasi mengenai kondisi tanah dan batuan ini sangat mutlak
diperlukan untuk pembuatan pondasi suatu bangunan.
3.
Struktur Geologi
Struktur geologi meliputi pemerian jurus dan kemiringan lapisan batuan,
kekar, rekahan, sesar, lipatan dan ketidakselarasan. Data ini sangat penting dalam
pekerjaan
pembangunan
infrastruktur
guna
mengurangi
kemungkinan failure akibat struktur geologi atau memecahkan permasalahan yang
dapat terjadi akibat struktur geologi seperti longsor.
Intensitas kekar atau retakan, tingkat kehancuran batuan yang diakibatkan
oleh adanya sesar terutama bila dijumpai sesar aktif maupun perselingan lapisan

batuan yang miring adalah merupakan zona lemah yang dapat menimbulkan
permasalahan yang masif seperti longsor dan amblesan.
4.
Airtanah
Pengamatan yang perlu dilakukan meliputi kedalaman muka air tanah
bebas, sifat korosifitas air tanah, dan munculnya mata air atau rembesan yang
dapat mempengaruhi perencanaan konstruksi pondasi bangunan. Investigasi
airtanah diperlukan untuk mengetahui tingkat korosivitas dan kemungkinan
amblesan akibat air tanah dari bangunan tersebut.
5.
Bahaya Geologi
Meliputi pengamatan dan penilaian tentang ada tidaknya bahaya yang
mungkin dapat terjadi sebagai akibat dari faktor geologi. Identifikasi bahaya
geologi sangat erat kaitannya dengan pembangunan infrastruktur, karena
dikhawatirkan akan menjadi kendala atau hambatan selama pembangunan
maupun pasca pembangunan, antara laian struktur sesar aktif, gerakan
tanah/batuan, banjir bandang, amblesan tanah/batuan, bahaya kegunungapian,
erosi dan abrasi, kegempaan, tsunami, dan lempung mengembang.
Selain data-data geologi, pengetahuan terhadap desain konstruksi sangat
penting diketahui. Dalam hal ini, konstruksi yang direncanakan berupa bangunan
jembatan.
Jembatan adalah suatu bangunan teknik/struktur konstruksi yang dibuat
untuk menyebrangi suatu rintangan seperti lembah/sungai/rel kereta api/jalan raya
dibangun untuk laluan pejalan kaki/kendaraan. Jembatan seiring dengan berjalan
waktu, mengalami perubahan macam, bentuk, dan bahan sesuai dengan kemajuan
zaman dan teknologi mulai dari yang sedehana sampai paling mutakhir.
Pada umumnya suatu bangunan jembatan terdiri dari 4 bagian pokok,
yaitu:
1.
Konstruksi bangunan atas (superstructure)
Konstruksi bangunan atas (superstructure) yaitu bangunan yang berada
pada bagian atas suatu jembatan yang berfungsi menampung beban-beban yang
ditimbulkan oleh suatu lintasan orang/kendaraan, dll kemudian menyalurkan
bebannya pada bagian bawah. Bagian-bagian superstructures terdiri atas atas :
Trotoir : Sandaran dan peninggi trotior, konstruksi trotoir
Lantai kendaraan
Balok diafragma
Balok gelagar
Ikatan pengaku
Perletakan (rol dan sendi)

2.

Konstruksi bangunan bawah (substructure)


Konstruksi bangunan bawah (substructure) yaitu bangun jembatan yang
terletak pada bagian bawah, yang fungsinya menerima beban-beban yang
diberikan bangunan atas dan kemudian menyalurkan ke pondasi. Beban tersebut
kemudian oleh pondasi disalurkan ke tanah. Meliputi :
Pangkal jembatan (abutment dan pondasi)
Pilar (pier dan pondasi)

Gambar II-1. Konstruksi jembaran


3.

Pondasi
Pondasi jembatan berfungsi meneruskan seluruh beban jembatan ke tanah
dasar. Berdasarkan sistimnya, fondasi abutment atau pier jembatan dapat
dibedakan menjadi beberapa macam jenis, antara lain :
a) Pondasi telapak (spread footing)
b) Pondasi sumuran (caisson)
c) Pondasi tiang (pile foundation)

Tiang pancang kayu (Log Pile),

Tiang pancang baja (Steel Pile),

Tiang pancang beton (Reinforced Concrete Pile),

Tiang pancang beton prategang pracetak (Precast Prestressed Concrete Pile),

Tiang beton cetak di tempat (Concrete Cast in Place),

Tiang pancang komposit (Compossite Pile)


4.
Oprit
Oprit merupakan timbunan jalan pendekat jembatan, yaitu segmen yang
menghubungkan konstruksi perkerasan dengan kepala jembatan. Permasalahan
utama pada timbunan jalan pendekat ini yaitu sering terjadinya penurunanatau
deformasi pada ujung pertemuan antara struktur perkerasan jalan terhadap ujung
kepala jembatan.

Gambar II-2. Oprit jembaran

Gambar II-3. Oprit jembaran (Teknis)

BAB III
STUDI KASUS
KONDISI GEOLOGI DAN IMPLIKASINYA PADA KONSTRUKSI
JEMBATAN SURABAYA-MADURA
Pembangunan jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) sangat dipengaruhi
oleh kondisi geologi daerah konstruksi. Suatu jembatan perlu bertumpu pada
batuan yang rigid dari berbagai aspek agar stabilitas dan keberlangsungan
jembatan dapat terpenuhi sesuai yang direncanakan. Aktivitas tektonik/struktur
geologi dan kondisi geologi lainnya dapat menyebabkan batuan yang sebelumnya
terbentuk cukup masif akan dapat menjadi retak atau pecah dan membentuk zona
zona lemah. Keberadaan zona lemah pada batuan pondasi menyebabkan
penurunan kualitas batuan. Karena itu keberadaan zona lemah ini perlu mendapat
perhatian lebih dalam perencanaan kontruksi jembatan.
GEOLOGI REGIONAL DAERAH KONSTRUKSI
Secara fisiografi daerah Surabaya-Madura dan sekitarnya termasuk bagian
Timur Perbukitan Kendeng, bagian Tengah Perbukitan Rembang-Madura,
Pedataran Aluvium Jawa sebelah Utara, Pedataran Tengah Jawa Timur dan bagian
Timur lekuk Randublatung (Gambar III-1 dan III-2).
Tiga satuan morfologi dapat di bedakan di daerah ini, yaitu dataran rendah,
perbukitan bergelombang dan perbukitan karst. Dataran rendah menjulang hingga
25 m di atas permukaan laut, dan terbentang di bagian Selatan dan Tengah.
Daerah dibagian Selatan merupakan bagian dari delta Sidoarjo yang dibentuk oleh
K. Surabaya dan K. Porong. Perbukitan bergelombang menjulang antara 15-200 m
di atas permukaan laut, umumnya berpuncak tumpul dan landai. Satuan ini
terbentang di bagian Utara dan Barat. Daerah Perbukitan Karst menjulang antara
50-200 m di atas permukaan laut, dan menempati bagian Timurlaut. Di daerah ini
umumnya lereng agak terjal.

Gambar III-1. Sketsa Peta Fisiografi Lembar Surabaya dan Sepulu (Sukardi,1992)

Gambar III-2. Fisiografi Pulau Jawa (Van Bemmelen, 1949) dan lokasi
pembangunan jembatan Surabaya-Madura

Gambar III-3. Peta Geologi Lembar Surabaya & Sapulu (Supandjono, dkk, 1992)

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Surabaya & Sapulu yang dibuat oleh
Supandjono, dkk (1992), skala 1 : 100.000, di daerah Surabaya-Madura dan
sekitarnya setidaknya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) satuan stratigrafi tidak resmi.
Berurutan dari umur tua sampai muda terdiri dari: Satuan Batupasir (Formasi
Pamekasan Qpp) pada lajur Rembang-Madura yang terdiri dari Batupasir,
Batulempung dan konglomerat yang diperkirakan berumur Plistosen, Satuan
Batupasir (Formasi Kabuh Qpk) pada lajur Kendeng yang terdiri dari Batupasir
dan Konglomerat yang diperkirakan Plistosen Tengah dan Satuan Aluvium (Qa)
yang terdiri dari kerakal, kerikil, pasir dan lempung.

Gambar III-4. Urutan stratigrafi daerah Surabaya dan sekitarnya (Supandjono,


dkk, 1992)
Secara umum terdapat tiga pola kelurusan struktur utama di Pulau Jawa,
dari tua ke muda yaitu pola Meratus yang berarah Timurlaut-Baratdaya, pola
Sunda yang berarah Utara-Selatan, dan pola Jawa yang berarah Barat-Timur
(Pulunggono dan Martodjojo, 1994).

Gambar III-5. Pola struktur umum Pulau Jawa (Pulunggono Dan


Martodjojo,1994)
GEOLOGI DAERAH KONSTRUKSI
Menurut Sukardi, 1992, struktur geologi di Lajur Rembang-Madura
memperlihatkan tektonik yang lebih kuat daripada di Lajur Kendeng. Lipatan di
Lajur Rembang-Madura mempunyai kemiringan lapisan antara 50 dan 20
sedangkan di Lajur Kendeng hanya berkisar antara 10 dan 30. Sesar-sesarnya
juga memperlihatkan bahwa Lajur Rembang-Madura lebih rapat dibandingkan
dengan yang di Lajur Kendeng. Sesar di Lajur Rembang umumnya berupa sesar
turun. Pada Gambar III-6, terlihat ada 6 antiklin yang berada di cakupan wilayah
kajian yang pada tahapan selanjutnya akan diperhitungkan pengaruh sumber
gempa terhadap lokasi antikilin-antiklin tersebut. Antiklin tersebut berada di
Rembang, Bojonegara, Surabaya dan Pulau Madura.

Gambar III-6. Antiklin yang terdapat di daerah Jawa Timur dan Madura (R
Sukamto, N Ratman dan T O Simandjuntak, 1996)

Gambar III-7. Struktur geologi daerah Surabaya dan Madura


(S Gafoer dan N Ratman, 1999)

Gambar III-8. Peta seimotektonik pulau jawa


(E.K.Kertapati, A. Soehaimi & A.Djuhanda, 1998)

Gambar III-9. Peta sebaran sesar aktif pulau jawa


(Supartoyo, Eka Tofani Putrantu & Djadja, 2005)
Gambar III-8 dan Gambar III-9 memperlihatkan sumber gempa dangkal
yang terjadi di Pulau Jawa yang berada di susunan struktur geologi sesar aktif.
Identifikasi mekanisme struktur geologi aktif di pulau jawa didapatkan dengan
cara interpretasi peta geologi regional skala 1:100.000 berdasarkan legenda dan
penampang melintang yang diperlihatkan pada Gambar III-10 hingga Gambar III11.
Untuk mengetahui besarnya sudut penunjaman Flores back arc, maka
dilakukan pembuatan penampang melintang di koordinat lokasi tersebut dan
dilakukan pengeplotan jarak dan kedalaman kejadian gempa utama terhadap
koordinat Flores back arc.

Gambar III-10. Peta geologi regional (S Gafoer dan N Ratman, 1999)

Gambar III-11. Tampak atas dan penampang melintang antiklin di sekitar Pulau
Madura (S Gafoer dan N Ratman, 1999)

Gambar III-11 memperlihatkan mekanisme antiklin Tempayung dengan


sudut 24o dan 30o dengan kedalaman 300m.
Mekanisme struktur geologi yang terjadi, pada umumnya dapat berupa
normal faults, horst dan graben, reverse fault, strike slip dan anticline dengan
mekanisme yang diperlihatkan pada Gambar III-12 sampai dengan Gambar III-16.

Gambar III-12. Mekanisme Normal fault

Gambar III-13. Horst dan Graben

Gambar III-14. Reverse Fault

Gambar III-15. Strike slip faults

Gambar III-16. Syncline dan Anticline

KONDISI SEISMOTEKTONIK SURAMADU


Sumber-sumber gempa di Indonesia diklasifikasikan dalam tiga zona
sumber gempa, yaitu:
1) Zona subduksi, yaitu zona kejadian gempa yang terjadi didekat batas
pertemuan antara lempeng samudra yang menunjam masuk kebawah lempeng
benua. Kejadian gempa akibat thrust fault, normal fault, reverse slip dan strike
slip yang terjadi sepanjang pertemuan lempeng dapat diklasifikasikan sebagai
zona subduksi.
2) Zona transformasi, yaitu zona kejadian gempa strike-slip yang terjadi pada
patahanpatahan yang terdefinisi dengan jelas, seperti Sesar Sumatra, dll.
3) Zona diffuse seismic, yaitu kejadian gempa yang tidak termasuk dalam dua
klasifikasi diatas.

Gambar III-17. Zona sumber gempa di Indonesia (Firmansjah & Irsyam, 1999;
Kertapati, 1999)
Surabaya dan Madura berada pada area 1 dan 20 (lihat Gambar III-17).
Hal ini menunjukkan bahwa efek dominan sumber gempa diakibatkan oleh zona
subduksi Jawa-Sumatra di bagian selatan Jawa dan Flores back arc thrust source
zones di bagian timur jawa dekat cekungan Bali. Zona subduksi Jawa terbentang
dari Selat Sunda hingga Cekungan Bali, dimana lempeng samudra menunjam
masuk ke bawah lempeng benua dengan kecepatan relatif sekitar 77mm/tahun.
Pada awal penunjaman di parit palung Jawa memiliki sudut yang landai
hingga mencapai kedalaman 100 km, yang biasa disebut Megathrust zone. Setelah
kedalaman 100 km sudut penunjaman bertambah besar dengan dip sekitar 50o
(Firmansyah & Irsyam) yang menerus hingga kedalaman 600km, yang biasa
disebut Benioff Zone (Gambar IV-28).

Gambar III-18. Penampang melintang kondisi geologi pulau jawa (DR. J. A.


Katili, 1963)
Selain gempa-gempa yang terjadi akibat terjadinya pergerakan lempeng,
Surabaya-Madura juga dipengaruhi oleh gempa yang terjadi pada zona-zona
patahan yang berada disekitarnya, seperti patahan Lasem di perbatasan Jawa
Timur dan Jawa Tengah pada daerah pegunungan Kendeng. Gempa-gempa yang
terjadi akibat patahan pada dan diluar patahan tersebut diatas, tidak
diperhitungkan karena kontribusinya tidak turut mempengaruhi perhitungan
kegempaan daerah Surabaya. Jumlah dan besarnya Magnituda gempa di zona
subduksi ini dipengaruhi oleh umur, komposisi dan kecepatan pergeseran
lempeng. Sepanjang Busur Sunda faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi
jumlah terjadinya dan ukuran maksimum gempa dan dapat terlihat bahwa gempa
dangkal terdistribusi ke zona yang menyudut.
Identifikasi Distribusi Lokasi Pusat Gempa di Sekitar Suramadu
Analisa zona sumber gempa membutuhkan informasi dari katalog gempa
yang berupa catatan lokasi sumber gempa, mekanisme gempa serta besar
magnituda yang terjadi. Studi seismotektonik yang menggambarkan kondisi
struktur sumber gempa dapat melengkapi karakteristik sumber gempa yang akan
dikaji. Sumber gempa USGS dari tahun 1973-2006 yang di plotkan pada peta
Indonesia diperlihatkan pada Gambar IV-19.

Gambar III-19. Sebaran sumber gempa (Mw) di Indonesia berdasarkan data


USGS

Gambar III-20. Sebaran sumber gempa di Surabaya-Madura dengan momen


magnitude 5>Mw> 9.56
Jumlah pusat gempa pada suatu area tertentu akan berpengaruh pada nilai
parameter gempa, sehingga kondisi distribusi lokasi pusat gempa akan
berpengaruh pada penentuan area untuk model zona sumber gempa.
Permodelan Zona Sumber Gempa di Suramadu

Permodelan zona sumber gempa merupakan penentuan area setiap sumber


gempa yang diambil dari area distribusi lokasi sumber gempa yang terletak pada
radius sekitar 500 km dari surabaya. Potongan melintang dari distribusi sumber
gempa di setiap area dipergunakan untuk menganalisa sudut penunjaman subduksi
sumber gempa yang terjadi dan juga untuk memisahkan sumber gempa yang
berbeda jenis mekanismenya yang terletak pada area yang sama. Gempa yang
termasuk strike slip didefinisikan terletak pada kedalaman kurang dari 50 km dan
diluar daerah subduksi.

Gambar III-21. Kontur sumber gempa untuk pulau jawa

Gambar III-22. Area sumber gempa subduksi dengan kedalaman < 50 km

Gambar III-23. Area sumber gempa subduksi dengan kedalaman > 50km

Gambar III-24. Pembagian area sumber gempa subduksi

Gambar III-25. Fault zone of Rembang-Madura-Kangean-Sakala (Satyana, 2004)


Pada daerah ini, terlihat adanya kompleksitas keadaan geologi. Pada
gambar III-25, terlihat adanya fault zoneyang sangat kompleks pada daerah
tersebut. Pulau Madura mengalami uplift yang cukup cepat yang diimbangi
dengan isostasi cekungan selat madura yang semakin mendalam.

Gambar III-26. Sayatan geologi Madura-Jawa Timur (Satyana, 2004)


Berdasarkan pada sayatan diatas dapat kita lihat bahwa antara Pulau Jawa
dan Pulau Madura dipisahkan oleh struktur yang sangat kompleks. Pada gambar
Pulau Madura merupakan bagian yang memisahkan diri dari Pulau Jawa karena
proses pull apart basin.
IMPLIKASI PERMASALAHAN GEOLOGI TERHADAP KONSTRUKSI
JEMBATAN SURAMADU

Konstruksi jembatan Suramadu dibuat dengan mempertimbangkan aspek


geologi yang cukup kompleks di daerah tersebut. Konstruksi jembatan Suramadu
terdiri dari 36 bentang untuk sisi Surabaya dan 45 bentang sisi Madura dengan
panjang masing-masing 40 meter. Konstruksi bangunan diatas menggunakan PCI
Girder. Sedangkan untuk bagian bawah menggunakan pondasi pipa baja
berdiameter 60 cm dengan panjang rata-rata 25 meter untuk sisi surabaya dan 27
meter untuk sisi Madura.
Jenis litologi dari masing-masing tempat pondasi mempengaruhi
konstruksi dari jembatan. Sisi bagian pondasi Madura lebih dikuatkan
konstruksinya dibandingkan dengan pondasi sisi Surabaya. Sisi Madura tersusun
atas litologi batugamping yang mudah mengalami subsidence sehingga dengan
kondisi tersebut, pondasi sisi Madura menjadi perhatian lebih dengan
potensi failure yang lebih besar. Pada sisi Surabaya menggunakan jumlah bentang
yang lebih sedikit karena pondasi yang berada di sisi Surabaya menumpu diatas
litologi berupa aluvial yang relatif stabil.

Kondisi tektonik dan struktur geologi juga menjadi hal yang sangat
dipertimbangkan dalam pembangunan jembatan Suramadu ini. Pondasi pada sisi
Madura lebih dikuatkan karena terdapat struktur geologi yang sangat kompleks
sehingga penentuan jumlah bentang yang berada pada sisi Madura berjumlah yang
lebih banyak daripada sisi Surabaya. Madura merupakan pulau yang berbentuk
akibat adanya uplifting terus menerus. Selat Madura merupakan hasil isostasi dari
pengangkatan yang terus menerus akibatnya selat ini pun semakin mendalam.
Dari segi resiko kegempaan, daerah jembatan Suramadu termasuk dalam
daerah yang cukup aman karena berada pada sisi back arc pulau Jawa yang relatif
lebih tenang. Namun yang menjadi perhatian adalah efek dominan sumber gempa
yang dapat berasal dari beberapa sumber yaitu zona subduksi : Jawa-Sumatra di
bagian selatan Jawa dan Flores back arc thrust source zones di bagian timur jawa
dekat cekungan Bali dan patahan Lasem. Patahan Lasem ini cukup aktif dan
berbahaya jika tidak diperhitungkan dalam pembangunan jembatan Suramadu.
Pada bagian tengah jembatan, dibuat dengan cable stay bridge. Hal
tersebut dibuat karena jembatan tersebut memotong laut yang cukup dalam
sehingga pembangunan di dalam air susah untuk dilakukan. Konstruksi pondasi
bagian tengah yang demikian sangat efektif karena pembuatannya lebih mudah.
Disisi lain konstruksi yang demikian dibuat dikarenakan basement dari jembatan
tersebut memiliki kompleksitas struktur geologi yang dikhawatirkan dapat
menyebabkan failure pada jembatan sehingga harus dibuat simpel dan sederhana
dan bertumpu pada bagian yang relatif rigid pada daerah yang kompleks struktur
geologi tersebut.

BAB IV
KESIMPULAN
1.

Investigasi geologi adalah hal yang mutlak dilakukan dalam membangun


konstruksi suatu bangunan.
2.
Peranan ilmu geologi sangat dibutuhkan khususnya pada masa pra konstruksi.
3.
Konstruksi jembatan Suramadu dibangun dengan menitikberatkan pada aspek
geologi berupa jenis litologi, struktur geologi, dan kegempaan.
4.
Konstruksi jembatan Suramadu pada sisi Madura lebih dikuatkan dibandingkan
pada sisi Surabaya karena pada sisi Madura terdapat keadaan geologi yang lebih
berpeluang menyebabkan jembatan tersebut mengalami failure.

DAFTAR PUSTAKA
Aldiamar, Fahmi, 2007, Analisis Resiko Gempa dan Pembuatan Respom Spektra Desain
untuk Jembatan Suramadu dengan Pemodelan Sumber Gempa 3D, Institut
Teknologi Bandung
Supandjono, dkk, 1992, Peta Geologi Lembar Surabaya-Sapulu, skala :100.000. Bandung
: Puslitbang Geologi
http://argajogja.blogspot.com/2011/06/desain-metode-konstruksi-jembatan.html
http://hamdimhd.blogspot.com/2012/07/construction-method-suramadu-project.html