Anda di halaman 1dari 45

Kejahatan Seksual

PENDAHULUAN

Kejahatan seksual (sexual offences), sebagai


salah satu bentuk dari kejahatan yang
menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa
manusia
Sebagai konsekuensi dari pasal-pasal KUHP dan
KUHAP
Di Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan
yang diduga merupakan tindak kejahatan
seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli
Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan

Kejahatan
Seksual

Kejahatan
Seksual

Persetubuhan

Kejahatan seksual adalah kepuasan


seksual yang diperoleh melalui
persetubuhan tanpa persetujuan
korban atau dengan persetujuan
yang didapat melalui ancaman, rasa
takut, dan penipuan. (Sharma, 2011)

Tindakan hubungan seksual tanpa seizin


pemilik tubuh atau dengan izin pemilik
tubuh yang didapatkan dengan kekerasan/
ancaman/ paksaan dan penipuan. (Idris,
1997)

Suatu peristiwa dimana alat kelamin


laki-laki masuk ke dalam alat kelamin
perempuan dengan atau tanpa
terjadinya pancaran air mani. (Abdul
M.I, Agung L.T, 2008)

Prevalensi Kasus
Kejahatan Seksual

Kejahatan seksual paling banyak


didapatkan pada usia muda yatu usia 1530 tahun, biasanya korban adalah wanita
dan anak-anak dibawah umur dam terjadi
pada kalangan sosial ekonomi yang rendah
karena,
kurangnya
pendidikan
dan
lingkungan yang padat. (Sharma, 2011)

DASAR HUKUM

BAB

XIV

KUHP

tentang

kejahatan

terhadap

kesusilaan, upaya pembuktian secara kedokteran


forensik ditujukan untuk:
(1) Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan,
(2) Menentukan adanya kekerasan,
(3) Memperkirakan umur, dan
(4) Menentukan pantas tidaknya korban untuk
kawin

Pasal

284

(1) Dihukum dengan pidana penjara paling lama sembilan


bulan
(2)Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan
suami/istri yang tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku
pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan
permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena
alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan
dalam sidang pengadilan belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak
diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena
perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah
meja dan tempat tidur menjadi tetap.

Pasal

285

Barang

siapa

ancaman
wanita

dengan

kekerasan

bersetubuh

perkawinan,

kekerasan

memaksa
dengan

diancam

karena

dia

atau

seorang
di

luar

melakukan

perkosaan dengan pidana penjara paling


lama dua belas tahun.

Pasal

286

Barang siapa bersetubuh dengan seorang


wanita

di

luar

perkawinan,

padahal

diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan


pingsan

atau

dengan

pidana

sembilan tahun.

tidak

berdaya,

penjara

diancam

paling

lama

Pasal

287
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang
wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya
atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya
belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak
jelas, bawa belum waktunya untuk dikawin,
diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan,
kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas
tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan
pasal 291 dan pasal 294.

Pasal

288

(1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan


seorang wanita yang diketahuinya atau sepatutnya
harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum
waktunya

untuk

mengakibatkan

dikawin,

luka-luka

apabila

diancam

perbuatan

dengan

pidana

luka-luka

berat,

penjara paling lama empat tahun.


(2)

Jika

perbuatan

mengakibatkan

dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun.


(3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.

Pasal

289

Barang

siapa

ancaman
untuk

dengan

kekerasan

melakukan

kekerasan

memaksa
atau

atau

seorang

membiarkan

dilakukan perbuatan cabul, diancam karena


melakukan
kehormatan

perbuatan
kesusilaan,

yang

menyerang

dengan

penjara paling lama sembilan tahun.

pidana

Pasal

290

Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun


1.Barang

siapa

melakukan

perbuatan

cabul

dengan

seorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan


atau tidak berdaya;
2.Barang

siapa

melakukan

perbuatan

cabul

dengan

seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus


diduganya, bahwa umumya belum lima belas tahun atau
kalau umumya tidak jelas, yang bersangkutan belum
waktunya untuk dikawin;

3.Barang

siapa

membujuk

seseorang

yang

diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya


bahwa umurnya belum lima belas tahun atau
kalau umumya tidak jelas yang bersangkutan
atau kutan belum waktunya untuk dikawin, untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan
cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan
orang lain.

Pasal

291

(1) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal


286, 287, 289, dan 290 mengakibatkan lukaluka berat, dijatuhkan pidana penjara paling
lama dua belas tahun;
(2) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal
285, 286, 287, 289 dan 290 mengakibatkan
kematisn dijatuhkan pidana penjara paling lama
lima belas tahun.

Pasal

292

Orang dewasa yang melakukan perbuatan


cabul dengan orang lain sesama kelamin,
yang diketahuinya atau sepatutnya harus
diduganya belum dewasa, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun

Pasal

293

(1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau


barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan
keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakkan
seorang

belum

dewasa

dan

baik

tingkahlakunya

untuk

melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan


dia, padahal tentang belum kedewasaannya, diketahui atau
selayaknya harus diduganya, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang
terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu.
(3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini
adalah masing-masing sembilan bulan dan dua belas bulan.

Pasal

294

(1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul


dengan anaknya tirinya, anak angkatnya, anak
di bawah pengawannya yang belum dewasa,
atau dengan orang yang belum dewasa yang
pemeliharaanya, pendidikan atau penjagaannya
diannya yang belum dewasa, diancam dengan
pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(2) Diancam dengan pidana yang sama:

Pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan


orang yang karena jabatan adalah bawahannya,
atau

dengan

orang

yang

penjagaannya

dipercayakan atau diserahkan kepadanya,

Pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau


pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara,
tempat pen- didikan, rumah piatu, rumah sakit,
rumah

sakit

jiwa

atau

lembaga

sosial,

yang

melakukan perbuatan cabul dengan orang yang


dimasukkan ke dalamnya.

Bagan kejahatan seksual


yang berkaitan dengan
dasar hukum

Dengan
persetujuan si
perempuan

Umur si
perempuan
lebih dari 15
tahun
(ps. 284)

Umur si
perempuan
belum cukup 15
tahun (ps.287)

Dalam
perkawinan
(Ps.288)

Persetubuhan

Diluar
perkawinan

Tanpa
persetujuan si
perempuan

Dengan
kekerasan/anca
man kekerasan
(ps.285)

Si perempuan
dalam keadaan
pingsan /tidak
berdaya
(ps.286)

BAG. PERUT

12

6
BAG. BOKONG

MACAM MACAM

HYMEN

PEMERIKSAAN PADA
KASUS KEJAHATAN
SEKSUAL

P
E
M
E
R
I
K
S
A
A
N

ANAMNESIS

Umur

Waktu kejadian

Status perkawinan

Tempat kejadian

Haid : siklus dan hari pertama

Ada tidaknya perlawanan


korban

haid terakhir

Penyakit kelamin dan


kandungan

Riwayat persetubuhan
sebelumnya, waktu
persetubuhan terakhir dan
penggunaan kondom

Ada tidaknya penetrasi

Ada tidaknya ejakulasi

Tanyakan apakah pasien telah


mandi, membersihkan diri,
mengganti pakaian, atau minum
obat-obatan sejak kejadian
tersebut.

(Idris, 1997, Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al, 1997. )

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Korban

Pemeriksaan tersangka

Pemeriksaan pakaian

Pemeriksaan pakaian

Pemeriksaan tubuh

Pemeriksaan tubuh

(umum, genital, extra


genital) (Idris, 1997, Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al,
1997. )

Pemeriksaan Tubuh
Head

to Toe

Pemeriksa harus memerhatikan keadaan


umum dan mengecek tanda vital pasien.
Setelah itu inspeksi kedua tangan apakah
ada jejas atau adanya tanda bekas ikatan
pada pergelangan tangannya.

Inspeksi

lengan bawah untuk melihat jejas

karena upaya perlawanan terhadap tersangka.


Jejas bisa seperti lebam, lecet dan sayatan.
Pada pasien yang berkulit gelap, lebam sulit
dilihat

sehingga

bengkak

dan

nyeri

menjadi tanda yang khas pada lebam

tekan

Permukaan
diperhatikan

lengan

atas

adanya

dan

lebam.

aksilla

perlu

Korban

yang

dikekang dengan tangan biasanya meninggalkan


bekas lebam akibat jari pelaku menahan korban.

Cek apakah terdapat lebam, nyeri tekan atau


pendarahan pada hidung. Kemudian mulut juga
penting diperiksa untuk melihat adanya tanda
penetrasi pada palatum keras atau lunak yang
ditandai adanya petekia. Oral swab dilakukan
apabila terdapat indikasi.

Periksa

bagian

telinga

depan

maupun

belakang untuk melihat adanya shadow


bruising

yang

biasanya

diakibatkan

tekanan ke kepala

Palpasi dengan lembut untuk mengecek


adanya nyeri tekan atau pembengkakan
yang

menandakan

hematoma.

Rambut

yang rontok memungkinkan adanya tanda


penarikan rambut saat kekerasan seksual.

Lebam pada leher mengindikasikan kekerasan


seksual yang membahayakan nyawa. Lebam
yang diakibatkan hisapan dari gigitan perlu
diperhatikan dengan teliti dan perlu di swab
untuk mengecek adanya air liur sebelum
menyentuh leher.

Dada dan batang tubuh perlu diperiksa secara


komprehensif.

Khususnya

pada

dada,

kekerasan seksual lebih sering menimbulkan


tanda yang jelas dan menghasilkan bukti
berupa lebam akibat gigitan atau trauma
tumpul.

Apabila

pemeriksaan

dada

tidak

bisa

harus

disertai

alasan dan didokumentasikan.

dilakukan
dengan

Pada

pemeriksaan

abdominal

perintahkan

pasien untuk berbaring. Kemudian periksa


apakah terlihat adanya lebam, luka lecet
ataupun luka terbuka. Palpasi juga perlu
dilakukan untuk mengetahui adanya trauma
internal ataupun kehamilan

Dengan posisi masih berbaring, periksa bagian


tungkai bawah. Khususnya pada paha bagian
dalam, kekerasan seksual kadang memberikan
tanda lebam karena ujung jari ataupun tanda
trauma tumpul yang biasa diakibatkan oleh
lutut dari pelaku. Inspeksi pergelangan kaki
untuk mengetahui adanya jeratan atau tidak.

Dengan posisi berdiri, periksa bagian posterior


dari tungkai bawah dan juga bokong. Apabila
pasien tidak bisa berdiri, lakukan dengan
posisi supinasi dan angkat tungkai bawah lalu
rotasikan ke bagian dalam. Periksa apakah
terdapat bukti biologis seperti air mani, air liur
atau darah.

Genito-anal

Persiapan
informed

consent dan posisi pasien dalam posisi

litotomi.

Area eksternal dari genital diinspeksi terlebih dahulu dan


dilakukan swab sebelum menyentuh dan memasang
spekulum.
Periksa labia mayor, labia minor, klitoris, selaput dara,

posterior forset dan perineum dari tanda adanya luka


atau nyeri tekan. Lakukan swab apabila terdapat
darah.

Pemeriksaan menggunakan spekulum bertujuan


untuk melihat dinding vagina apakah terdapat
jejas, luka lecet, luka terbuka ataupun lebam.

Untuk pemeriksaan anal, posisi miring lebih


mudah

daripada

saat

posisi

litotomi.

Pemeriksaan colok dubur dilakukan apabila


suspek adanya benda asing pada kanal anal.

Pemeriksaan Tersangka

Pemeriksaan pakaian
Catat adanya bercak semen, darah, dan sebagainya.
Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian
sehingga tidak perlu ditentukan.
Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari
darah deflorasi.
Trace evidence pada pakaian yang dipakai ketika terjadi
persetubuhan harus diperiksa.

Pemeriksaan Tersangka

Pemeriksaan tubuh

Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan


persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya
sel epitel vagina pada glans penis.

Perlu juga dilakukan pemeriksaan sekret uretra untuk


menentukan adanya penyakit kelamin

PEMBUKTIAN KEKERASAN
Kekerasan

Tidak ada kekerasan


Kekerasan
terjadi
namun
tidak meninggalkan bekas,
atau bekas sudah hilang
Luka luka : mulut dan bibir, leher,
puting susu, pergelangan tangan,
pangkal paha, pada alat genital
Luka lecet , bekas kuku, gigitan
(bites marks), luka memar, pingsan
(pembiusan). (Idris, 1997)

(Idris, 1997, Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al,


1997. )

PERKIRAAN UMUR

Pemeriksaan fisik :
Pertumbuhan seks sekunder
Menstruasi
Pertumbuhan gigi
Penyatuan dari tulang
tulang tengkorak

(Idris, 1997, Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al,


1997. )

42

PENENTUAN PANTAS DIKAWIN

Ilmu kedokteran :
MENSTRUASI Pasien harus diisolasi kurang lebih
8 minggu di rumah sakit. Sekarang digunakan
pemeriksaan vaginal smear.

Undang-undang perkawinan:
Yang mengatakan bahwa wanita boleh kawin
apabila ia telah berumur 16 tahun.

(Idris, 1997, Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al, 1997. )

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pelaku

Korban

Untuk menentukan adanya

cairan sperma

Untuk menentukan adanya


cairan mani

Untuk menentukan adanya


Kuman N. gonorrheae (GO)

Untuk menentukan adanya


kehamilan

Untuk menentukan
racun(toksikologi)

Untuk menentukan adanya


sel epitel vagina pada penis

Untuk menentukan adanya


Kuman N. gonorrheae (GO)

Referensi
1.

2.
3.

4.

5.
6.

7.

Sharma R.K.Concise Textbook of Forensic Medicine &


Toxicology 3rd Ed;2011.p.124
Idris, A. M. (1997). Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik.
Abdul M.I, Agung L.T. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik
dalam Proses Penyidikan. Jakarta; 2008
Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
FKUI; 1997. p.147-158.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
James, J. P., Jones, R., Karch, S. B., & Manlove, J. (2011).
Simpson's Forensic Medicine.
Vincent, J. M., DiMaio, & Dana, S. E. (2007). Handbook of
FORENSIC PATHOLOGY.
45

Anda mungkin juga menyukai