Anda di halaman 1dari 19

Pembahasan

Toksikologi adalah ilmu yang memepelajari sumber ,sifat serta khasiat racun ,gejala-gejala dan
pengobatan pada keracunan ,serta kelainan yang didapatkan pada korban yang meninggal .Racun
pula ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam dosis toksik
akan menyebabkan gangguan kesehatan atau mengakibatkan kematian.
Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, karena garam sianida dalam takaran kecil
sudah cukup untuk menimbulkan kematian pada seseorang dengan cepat seperti bunuh diri yang
dilakukan oleh beberapa tokoh Nazi.1
Kematian akibat keracunan CN umumnya terjadi pada kasus bunuh diri dan pembunuhan. Tetapi
mungkin pula terjadi akibat kecelakaan di laboratorium, pada penyemprotan (fumigasi) dalam
pertanian dan penyemprotan di gudang-gudang kapal.1
Garam sianida, NaCN dan KCN dipakai dalam proses pengerasan besi dan baja, dalam proses
penyepuhan emas dan perak serta dalam fotografi. AgCN digunakan dalam pembuatan semir
sepatu putih. K-Ferosianida digunakan dalam bidang fotografi, Acrylonitrile digunakan untuk
sintesis karet. Ca-Cyanimide untuk pupuk penyubur.1
Cyanogen (C2N2) dipakai dalam sintesis kimiawi. Sianida juga didapat dari biji tumbuhtumbuhan terutama biji-bijian dari genus prunus yang mengandung glikosida sianogenetik atau
amigdalin; seperti singkong liar, umbi-umbian liar, temu lawak, cherry liar, plum, aprikot,
amigdalin liar, jetberry bush dan lain-lain.1
Aspek Hukum2
Penyelidikan dan Penyidikan
Pasal 4 KUHAP
Penyelidik adalah setiap pejabat polisi Negara Republik Indonesia.
Pasal 5 KUHAP
1
a

Penyelidik sebagaimana dimaksud pasal 4:


Karena kewajibannya mempunyai wewenang:
1 Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
2 Mencari keterangan dan barang bukti;
3 Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda
pengenal diri;

4 Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.


Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa:
1 Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan;
2 Pemeriksaan dan penyitaan surat;
3 Mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
4 Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik.
Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana
tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik.2

Pasal 6 KUHAP
(1) Penyidik adalah :
a. pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia;
b. pejabat pegawai negeri sipil yang diberi wewenang

khusus oleh Undang-Undang

(2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut
dalam peraturan pemerintah.2
Pasal 7 KUHAP
(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya
mempunyai wewenang:
a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang terjadinya tindak pidana;
b. melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian;
c. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa surat atau tanda pengenal diri
tersangka;
d. melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;
e. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
g. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
h. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan

pemeriksaan

perkara;
i. mengadakan penghentian Penyidikan;
j.

mengadakan

tindakan

lain

menurut

hukum

yang

bertanggung

jawab

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang
sesuai dengan Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam
pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam
pasal 6 ayat (1) huruf a.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung
tinggi hukum yang berlaku.2
Pasal 2 PP no. 27 / 1983:

1
a

Penyidik adalah:
Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya

berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi;


Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang sekurangkurangnya berpangkat Pengatur

Muda Tingkat I (Golongan II/b) atau yang disamakan dengan itu.


Dalam hal di suatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf a, maka Komandan Sektor Kepolisian yang berpangkat bintara di
bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatannya adalah penyidik.
3 Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a ditunjuk oleh Kepala
Kepolisian Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
4

berlaku.
Wewenang petiunjukan sebagaimana dimakstid dalam ayat (3) dapat dilimpahkan
kepada pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.


Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b diangkat oleh Menteri atas
usul diri Departemen yang membawahkan pegawai negeri tersebut, Menteri sebelum
melaksanakan pengangkatan terlebih dulu mendengarkan pertimbangan Jaksa Agung

dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia.


Wewenang pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dapat dilimpahkan
kepada pejabat yang di ditunjuk oleh Menteri.2

Pasal 3 PP no. 27 / 1983:


1

Penyidik pembantu adalah:


a Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya
b

berpangkat Sersan Dua Polisi


Pegawai Negeri Sipil Tertentu dalam lingkungan Kepolisian Negeri Republik
Indonesia yang sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda (Golongan II/a) atau

yang disamakan dengan itu.


Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf b diangkat oleh Kepala
Kepolisian Republik Indonesia atas usul komandan atau pimpinan kesatuan masingmasing.

Wewenang pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilimpahkan


kepada pejabat Kepolisian Negari Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.2

Pasal 79 UU Kesehatan
1

Selain penyidik pejahat polisi negara Republik Indonesia juga kepada pejabat pegawai
negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam

Undang-undang ini.
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
a melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan
b melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan
c meminta keterangan dan bahan bukti dan orang atau badan usaha
d melakukan pemeriksaan atas surat dan atau dokumen lain
e melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti
f meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan
g menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan
tentang adanya tindak pidana di bidang kesehatan.

Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan menurut Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Penangkapan dan Penahanan
Pasal 17 KUHAP
Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana
berdasarkan bukti permulaan yang cukup.
Pasal 19 KUHAP
1)Penangkapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17, dapat dilakukan untuk paling lama satu
hari.
2)Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak diadakan penangkapan kecuali dalam hal ia telah
dipanggil
Barang bukti dan penyitaan
Pasal 39 KUHAP
Yang dapat dikenakan penyitaan adalah:
a. Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh
dari tindak pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana.

b. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana untuk
mempersiapkannya.
c. Benda yang dipergunakan untuk menghalangi penyidikan tindak pidana.
d. Benda khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana.
e. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.
Pasal 133 KUHAP
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Pasal 134 KUHAP
1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga
korban
2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menrangkan sejelas jelasnya tentang
maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang
perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang undang ini.
Pasal 179 KUHAP
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedkteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar benarnya menurut
pengetahuan dalam bidang keahlianya.

Prosedur Medikolegal2
Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benarbenar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Pasal 184 KUHAP
1

Alat bukti yang sah ialah


a

keterangan saksi

keterangan ahli

surat

petunjuk

keterangan terdakwa.

Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Pasal 185 KUHAP


(1) Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan
(2) Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah
terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai dengan suatu
alat bukti yang sah lainnya.
(4) Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan
dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada .hubungannya

satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau
keadaan tertentu.
(5) Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan
keterangan saksi.
(6) Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguh-sungguh
memperhatikan
a

persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain

persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain

alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang tertentu

cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat
mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

(7) Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain tidak
merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang
disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Penjelasan : Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh
penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan
mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.
Pasal 187 KUHAP
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau
dikuatkan dengan sumpah, adalah:

berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian
atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan
yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu

surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi
tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu
keadaan

surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dan padanya

surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain.

Rahasia Jabatan dan Pembuatan SKA / Visum et Repertum


Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 1960 tentang lafal sumpah dokter
"Saya bersumpah/berjanji bahwa: Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan
perikekemanusiaan;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bersusila, sesuai dengan
martabat pekerjaan saya;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena
keilmuan saya sebagai Dokter. dst.
Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran
Pasal 1 PP No 10/1966.

Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang
tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan
kedokteran.
Pasal 2 PP No 10/1966.
Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang yang tersebut dalam pasal 3,
kecuali apabila suatu peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi daripada Peraturan
Pemerintah ini menentukan lain.
Pasal 3 PP No 10/1966
Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1 ialah:
a.tenaga kesehatan menurut pasal 2 Undang-undang tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran
Negara tahun 1963 No. 79).
b.mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan, pengobatan
dan/atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Pasal 4 PP No 10/1966
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai: wajib simpan rahasia kedokteran yang tidak atau
tidak dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112 Kitab Undang-undang Hukum Pidana,
Menteri Kesehatan dapat melakukan tindakan administratif berdasarkan pasal 11 Undang-undang
tentang Tenaga Kesehatan.
Pasal 5 PP No 10/1966.
Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh mereka yang disebut dalam
pasal 3 huruf b, maka Menteri Kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan berdasarkan
wewenang dan kebijaksanaannya.
Pasal 6 PP No 10/1966

Dalam pelaksanaan peraturan ini Menteri Kesehatan dapat mendengar Dewan Pelindung Susila
Kedokteran dan/atau badan-badan lain bilamana perlu.
Pasal 322 KUHP
1

Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau
pencariannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah

Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut
atas pengaduan orang itu.

Pasal 48 KUHP
Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.
MA 117/K/Kr/1968 2 Juli 1969
Dalam noodtoestand harus dilihat adanya :
1. Pertentangan antara dua kepentingan hukum.
2. Pertentangan antara kepentingan hukum dan kewajiban.
3. Pertentangan antara dua kewajiban hukum.
Pasal 49
1

Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri
maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendiri maupun orang
lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang

melawan hukum.
Pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang langsung disebabkan oleh keguncangan
jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana

Pasal 50
Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak
dipidana.
Pasal 51

Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan oleh

penguasa yang berwenang, tidak dipidana.


Perintah jabatan tanpa wewenang, tidak menyebabkan hapusnya pidana, kecuali jika yang
diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa perintah diberikan dengan wewenang dan
pelaksanaannya termasuk dalam lingkungan pekerjaannya.

Bedah Mayat Klinis, Anatomis dan Transplantasi


Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis
serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia
Pasal 2 PP No 18/ 1981
Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut
a

Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah
penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan dengan

pasti;
Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga penderita

menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau masyarakat sekitarnya
Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila dalam jangka waktu
2x24 jam (dua kali dua puluh empat) jam tidak ada keluarga terdekat dari yang
meninggal dunia datang ke rumah sakit

Pasal 10 2 PP No 18/ 1981


1

Transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia dilakukan dengan memperhatikan

ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dan huruf b.


Tata cara transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia diatur oleh Menteri Kesehatan.

Pasal 11 2 PP No 18/ 1981


1

Transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia hanya boleh dilakukan oleh dokter yang

bekerja pada sebuah rumah sakit yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.
Transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia tidak boleh dilakukan oleh dokter yang
merawat atau mengobati donor yang bersangkutan.

Pasal 12 2 PP No 18/ 1981


Dalam rangka transplantasi penentuan saat mati ditentukan oleh 2 (dua) orang dokter yang tidak
sangkut paut medik dengan dokter yang melakukan transplantasi.
Pasal 13 2 PP No 18/ 1981

Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, Pasal 14, dan Pasal 15 dibuat
diatas kertas bermaterai dengan 2 (dua) orang saksi.
Pasal 14 2 PP No 18/ 1981
Pengambilan alat dan atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan transplantasi atau BANK
MATA dari korban kecelakaan yang meninggal dunia, dilakukan dengan persetujuan tertulis
keluarga yang terdekat.
Pasal 15 2 PP No 18/ 1981
1

Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat dan atau jaringan tubuh manusia diberikan
oleh calon donor hidup, calon donor yang bersangkutan terlebih dahulu diberitahu oleh
dokter yang merawatnya termasuk dokter konsultan mengenai sifat

operasi, akibat-

akibatnya, dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.


Dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus yakin benar, bahwa donor yang
bersangkutan telah menyadari sepenuhnya arti dari pemberitahuan tersbeut.

Pasal 16 2 PP No 18/ 1981


Donor atau keluarga donor yang meninggal dunia tidak berhak atas sesuatu kompensasi material
apapun sebagai imbalan transplantasi.
Pasal 17 2 PP No 18/ 1981
Dilarang memperjual-belikan alat dan atau jaringan tubuh manusia.
Pasal 18 2 PP No 18/ 1981
Dilarang mengirim dan menerima alat dan atau jaringan tubuh manusia dalam semua bentuk ke
dan dari luar negeri
Pasal 19 2 PP No 18/ 1981
Larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18 tidak berlaku untuk keperluan
penelitian ilmiah dan keperluan lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Pasal 70 UU Kesehatan
Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dankewenangan
untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Keterangan Palsu
Pasal 267

Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang ada atau
tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun

Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang ke dalam rumah
sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan
tahun enam bulan.

Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat keterangan
palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.

Pasal 7 KODEKI
Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya.

Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP)


Tempat kejadian perkara ( TKP ) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat
terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Meskipun
kelak terbukti bahwa di tempat tersebut tidak pernah terjadi suatu tindak pidana, tempat tersebut
tetap disebut sebagai TKP yang berhubungan dengan manusia sebagai korban, seperti kasus
penganiayaan, pembunuhan dan kasus kematian mendadak ( dengan kecurigaan).Dasar
pemeriksaan adalah hexameter, yaitu menjawab 6 pertanyaan : apa yang terjadi, siapa yang
terasngkut, dimana dan kappa terjadi, bagaimana terjadinya dan dengan apa melakukannya, serta
kenapa terjadi peristiwa tersebut ? . Pemeriksaan kedokteran forensik di TKP harus mengikuti
ketentuan yang berlaku umum pada penyidikan di TKP, yaitu menjaga agar tidak mengubah
TKP. Semua benda bukti yang ditemukan agar dikirim ke laboratorium setelah sebelumnya
diamankan sesuai dengan prosedur.1
Bila korban masih hidup maka tindakan yang paling utama dan pertama bagi dokter adalah
menyelamatkan koban dengan tetap menjaga keutuhan TKP. Pada kasus yang terjadi, korban
didapatkan dalam keadaan telah mati, maka tugas dokter adalah menegakkan diagnosis
kematian, memperkirakan saat kematian, memperkirakan sebab kematian, memperkirakan cara

kematian, menemukan dan mengamankan benda bukti biologis dan medis. Bila perlu dokter
dapat melakukan anamnesa dengan saksi-saksi untuk mendapatkan gambaran riwayat medis
korban.1
Pemeriksaan dimulai dengan membuat foto dan sketsa TKP, termasuk penjelasan mengenai letak
dan posisi korban, benda bukti dan interaksi lingkungan. Mayat yang ditemukan dibungkus
dengan plastic atau kantung plastic khusus untuk mayat setelah sebelumnya kedua tangannya
dibungkus plastik sebatas pergelangan tangan. Pemeriksaan sidik jari oleh penyidik dapat
dilakukan sebelumnya.1
Bercak darah yang ditemukan di lantai atau di dinding diperiksa dan dinilai apakah berasal dari
nadi atau dari vena, jatuh dengan kecepatan ( dari tubuh yang bergerak ) atau jatuh bebas, kapan
saat perlukaannya, dan dihubungkan dengan perkiraan bagaimana terjadinya peristiwa. Benda
bukti yang ditemukan dapat berupa pakaian, bercak mani, bercak darah, rambut, obat, anak
peluru, selongsong peluru, benda yang diduga senjata diamankan dengan memperlakukannya
sesuai prosedur, yaitu dipegang dengan hati-hati serta dimasukan ke dalam kantong plastik, tanpa
meninggalkan jejak sidik baru. Benda bukti yang bersifat cair dimasukan ke dalam tabung reaksi
kering. Benda bukti berupa bercak kering di atas dasar keras harus dikerok dan dimasukan ke
dalam amplop atau kantong plastik, bercak pada kain diambil seluruhya atau bila bendanya besar
digunting dan dimasukan ke dalam amplop atau kantong plastik. Benda benda keras diambil
seluruhnya dan dimasukan ke dalam kantung plastik. Semua benda bukti di atas harus diberi
label dengan keterangan tentang jenis benda, lokasi temuan, saat temuan dan keterangan lain
yang diperlukan.1
Pada kasus ini, kedua mayat ditemukan

berbaring di atas tempat tidurnya dengan posisi

terlentang. Tidak ada tanda-tanda perkelahian berupa luka dan segala sesuatu yang berada di
dalam ruangan tersebut masih tertata rapi seberti biasanya. Kedua korban ditemukan dengan
kamar terkunci dari dalam, yang menunjukan bahwa perkara kematian yang terjadi berlangsung
ketika kedua korban sudah berniat untuk beristirahat didalam kamar. Pada kasus, setelah
dilakukan identifikasi TKP oleh penyidik, juga ditemukan dua buah gelas kaca yang berisi sisa
susu, yang menunjukkan bahwa sebelum kedua korban meninggal, ada riwayat meminum susu
tersebut.

Pada pakaian yang dikenakan kedua korban ditemukan noda bercak putih kekuningan samar
yang dicurigai adalah bekas muntah-muntahan korban sebelum meninggal, untuk itu perlu
diambil kerokan terhadap bercak dan dimasukkan ke plastik. Perlu juga dicatat warna dari bercak
noda, ukuran, dilakukan penciuman apa bau dari bercak noda tersebut bila masih tersisa baunya.
Bau ini dapat mengidentifikasi sebab kematiannya. Pada keracunan sianida, bau muntahmuntahan seperti bau amandel.1

Pemeriksaan Medik
Pemeriksaan Medik yang umum dilakukan oleh seorang dokter ahli forensic meliputi
pemeriksaan traumatologi dan pemeriksaan tanatologi. Dalam kasus ini kedua korban ditemukan
oleh penyidik dalam keadaan mati di atas tempat tidurnya. Tidak ditemukan luka-luka ataupun
tanda-tanda kekerasan atau perkelahian pada kedua mayat. Sehingga penyelidikan lebih
difokuskan kepada pemeriksaan tanatologi.2,3
Thanatologi adalah topik dalam ilmu kefdokteran forensik yang mempelajari hal mati serta
perubahan yang terjadi pada tubuh setelah seseorang mati. Thanatologi juga bermanfaat untuk
memastikan kematian klinis, memperkirakan sebab kematian, dan saat kematian.2
Dalam kasus ini, yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a) Lebam Mayat
Biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya makin
bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam.Sebelum waktu ini, lebam
mayat masih menghilang (memucat) pada penekanan dan dapat bisa berpindah jika posisi
mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila
penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut dilakukan pada 6 jam pertama setelah
mati klinis.Pada kasus keracunan 10 jam pasca mati sudah terjadi lebam mayat yang
menetap.2
Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk memperkirakan penyebab
kematian :
Merah kebiruan merupakan warna normal lebam

Merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN atau suhu dingin


Merah gelap menunjukkan asfiksia
Biru menunjukkan keracunan nitrit
Coklat menandakan keracunan aniline
b) Kaku Mayat
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kirakira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) kearah
dalam (sentripetal).Cadaveric spasm merupakan kaku mayat

yang timbul dengan

intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat
habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena
kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal, Pada kasus sudah terjadi
kaku mayat, dan sukar dilawan.2,3
c) Penurunan Suhu
Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara,
bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu
keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus,
posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, pada umumnya orang tua serta
anak kecil.Suhu sudah menurun pada kasus.2,3
d) Proses Pembusukan
Perubahan warna. Perubahan ini pertama kali tampat pada fossa iliaka kanan dan kiri
berupa warna hijau kekuningan, disebabkan oleh perubahan hemoglobin menjadi
sulfmethemoglobin. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh abdomen, bagian
depan genitalia eksterna, dada, wajah dan leher. Dengan semakin berlalunya waktu maka
warnanya menjadi semakin ungu.Pada mayat dalam kasus belum terjadi pembusukan.2,4

Pemeriksaan Luar Jenazah


Untuk skenario keracunan sianida ini ,yakni pada pemeriksaan luar jenazah ,tercium bau
amandel yang patognomonik untuk keracunan CN ,tercium dengan cara menekan dada mayat

sehingga akan keluar gas dari mulut dan hidung .Bau tersebut harus cepat dapat ditentukan
karena indra pencium kita cepat teradaptasi sehingga tidak dapat membaui bau khas tersebut .
Sianosis terjadi pada bibir dan wajah ,busa keluar dari mulut dan lebam mayat berwarna merah
terang karena darah vena kaya akan oksi-Hb . Posisi tangan kanan mayat laki-laki memegang
dada, sedangkan pada mayat perempuan ditemukan tangan kanan memegang tangan kiri mayat
laki-laki. Pada mayat perempuan terjadi cadaveric spasme pada tangan kanan. Terus ,terjadi
penurunan suhu pada kedua mayat dengan suhu mayat 20 oC. Tidak ditemukan tanda kekerasan
pada kedua mayat. Terjadi perubahan pada mata kedua mayat yaitu kornea mata menjadi keruh,
tepi retina dan batas diskus akan sangat kabur. Masih belum terjadi pembusukan pada kedua
mayat .2,5
Pemeriksaan Dalam Jenazah
Tercium bau amandel yang khas waktu membuka rongga dada ,perut dan otak serta lambung
(bila racun melalui mulut) .Darah ,otot dan penampang organ tubuh dapat berwarna merah terang
.Selanjutnya ,hanya ditemukan tanda-tanda asfiksia pada organ organ tubuh .
Pada korban yang menelan garam alkali sianida ,dapat ditemukan kelainan pada mukosa
lambung beupa korosi dan berwarna merah kecoklatan karena terbentuk hematin alkali dan pada
perabaan mukosa licin seperti sabun .Korosi dapat mengakibatkan perforasi lambung yang dapat
terjadi antemortal atau postmortal .2,5

Pemeriksaan Laboratorium dan Toksikologi

Uji Kertas Saring

Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan asam pikrat jenuh, biarkan hingga menjadi
lembab.Teteskan satu tetes isi lambung atau darah korban, diamkan sampai agak mongering,
kemudian teteskan Na2CO3 10% 1 tetes.Uji positif bila terbentuk warna ungu.
Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan HO3 1%, kemudian ke dalam larutan kanji 1% dan
keringkan.Setelah itu kertas saring dipotong potong seperti kertas lakmus.Kertas ini dipakai
untuk pemeriksaan masal pada para pekerja yang diduga kontak dengan CN.Caranya dengan
membasahkan kertas dengan ludah di bawah lidah.Uji positif bila warna berubah menjadi

biru.Hasil uji berwarna biru muda meragukan sedangkan bila warna tidak berubah (merah muda)
berarti tidak terdapat keracunan.2
Kertas saring dicelup dalam larutan KCl, dikeringkan dan dipotong potong kecil. Kertas tersebut
dicelupkan ke dalam darah korban, bila positif maka warna akan berubah menjadi merah terang
karena terbentuk sianmethemoglobin.2

Reaksi Shonbein-Pagenstecher (Reaksi Guajacol)

Masukkan 50mg isi lambung/jaringan ke dalam botol Erlenmeyer.Kertas saring (panjang 3-4 cm,
lebar 1-2 cm) dicelupkan ke dalam larutan guajacol 10% dalam alkohol, keringkan.Lalu
celupkan ke dalam larutan 0.1%, CuSO4 dalam air dan kertas saring digantungkan di atas
jaringan dalam botol.Bila isi lambung alkalis, tambahkan asam atas jaringan dalam botol.Bila isi
lambung alkalis, tambahkan asam tartrat untuk mengasamkan, agar KCN mudah terurai.Botol
tersebut dihangatkan. Bila hasil reaksi positif akan terbentuk warna biru-hijau pada kertas saring.
Reaksi ini tidak spesifik, hasil positif semu didapatkan bila isi lambung mengandung klorin,
nitrogen oksida atau ozon; sehingga reaksi ini hanya untuk skrining.4

Reaksi Prussian Blue (Biru Berlin)

Isi lambung/jaringan disetilasi dengan destilator. 5 ml destilat + 1 ml NaOH 50% + 3 tetes FeSO 4
10% rp + 3 tetes FeCl3 5%, panaskan sampai hamper mendidih, lalu dinginkan dan tambahkan
HCl pekat tetes demi tetes sampai terbentuk endapan Fe(OH) 3, teruskan sampai endapan larut
kembali dan terbentuk biru berlin. 2

Cara Gettler Goldbaum

Dengan menggunakan 2 buah flange (piringan), dan di antara kedua flange dijepitkan kertas
saring Whatman No. 50 yang digunting sebesar flange.Kertas saring dicelupkan ke dalam larutan
FeSO4 10% rp selama 5 menit, keringkan lalu celupkan ke dalam larutan NaOH 20% selama
beberapa detik.Letakkan dan jepitkan kertas saring di antara kedua flange.Panaskan bahan dan
salurkan uap yang terbentuk hingga melewati kertas saring bereagensia antara ke dua
flange.Hasil positif bila terjadi perubahan warna pada kertas saring menjadi biru.2,3

Daftar pustaka
1

Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Edisi I. Jakarta:Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia;1994.h.3-9.
Widiatmaka W. Budiyanto A. Sudiono S, dkk. Ilmu kedokteran forensik. Edisi I, cetakan ke.

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI. 1997.


Keracunan sianida. Diunduh dari https://www.scribd.com/doc/104929714/Keracunan-

Sianida. 16 Desember 2015.


Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI. Teknik Autopsi

Forensik. Cetakan ke-4. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI. 2000.
Dr.Abdul Munim Idries. Luka akibat tembakan senjata api. Bab 5. Pedoman ilmu
kedokteran forensik. Edisi pertama. Jakarta: Binarupa Aksara;1997.hal 286-346.