Anda di halaman 1dari 5

ADVOKASI: PENGANTAR UMUM

Eko Prasetyo, Ketua Badan Pekerja Social Movement Institue


Kita harus berdiri tegak dan berupaya untuk kebebasan kita. Seseorang tidak akan
dapat menunggangimu kecuali bila kau membungkuk (Martin Luther King Jr)
Orang-orang bernalar menyesuaikan diri mereka dengan dunia. Orang-orang tak
bernalar berusaha menyesuaikan dunia dengan diri mereka. Karena itu, seluruh
kemajuan, bergantung pada orang-orang tak bernalar (George Benhard Shaw)
Entah mengapa kita tak bosan dengan berita hukum. Anggota KPK menangkap
basah dosen teladan. Dituduh merima suap dalam jumlah milliaran rupiah. Belum
lama KPK juga menjerat seorang ketua partai bersama teman karibnya.
Tangkapanya kali ini agak meriah: ada perempuan, mobil hingga simpanan yang
mengejutkan jumlahnya. Tak lama kemudian pengacara dengan gigih membelanya.
Usaha untuk menerbitkan dalih tampak lucu dan ironi: junjung tinggi praduga tak
bersalah. Seakan pengadilan akan selalu menghadirkan nilai keadilan. Tak semua
orang bisa disebut bersalah sebelum ada pengadilan. Sialnya pengadilan berjalan
lamban dan penuh biaya. Meski ada KY tapi komisi ini miskin wewenang. Hingga
pengadilan bukan pertarungan memperebutkan kepastian dan keadilan hukum;
akan tetapi menciptakan prosedur untuk memberikan rasa saling permakluman.
Terjadilah apa yang paling rancu dalam hukum: kepastian hanya mengaburkan
perangai para pelaku kejahatan. Kepastian yang membuat hukum lebih melindungi
mereka yang punya segalanya: uang, jabatan dan pengaruh. Kepastian meluncur
menjadi kegiatan yang penuh aroma ritual: untuk pengendara mobil anak pejabat
yang membunuh banyak orang maka polisi mengusutnya perlahan. Sang putera
pejabat itu dihukum ringan karena masih sekolah, muda dan belum berbuat salah.
Para korban seperti deretan orang yang salah jalan: mobilnya ternyata tak bayar
pajak, dimodifikasi hingga membahayakan pengendara lain. Seakan hukum tidak
menuturkan kejadian yang sesungguhnya melainkan meneguhkan kejadian baru.
Hasilnya dramatik: yang salah dihukum dan yang benar bebas. Suasana perih itu
membawa hukum dalam bentuknya yang brutal, menegakkan dengan cara pilih
kasih. Karena itulah Wiji Thukul menulis puisi yang keras:
Jalan raya dilebarkan
Kami terusir
Mendirikan kampung
Digusur
Kami pindah-pindah
Menempel di tembok-tembok
Dicabut
Terbuang1
1 Iih Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, Indonesia Tera, 2000

Advokasi lalu jadi taktik dan metode. Bukan usaha untuk memenangkan perkara
tapi mencari peluang. Pada tiap suasana yang getir hukum takkan mungkin
bertahan hanya dengan tarung antar pasal. Hukum tak bisa lagi bicara mengenai isi
ketentuan. Hukum musti didekati dengan metode gerilya; mencari sekutu,
meluaskan isu, mengembangkan lobbi hingga merubah ketentuan. Jadi tak harus
advokasi itu adalah membela di hadapan sidang, tapi sebuah cara yang meletakkan
posisi korban pada kedudukan pastinya. Meski secara etimologi advokasi itu artinya
lebih dekat dengan membela. Karena posisi membela maka advokasi selalu dekat
dan berdampingan dengan korban. Itu makanya advokasi bukan sekedar usaha
untuk memenangkan perkara melainkan bagaimana korban diletakkan dalam posisi
yang lebih terpenuhi haknya.
Jika mau disebut contoh mungkin korban pelanggaran HAM jadi contoh paling tepat.
Walau negara tak banyak berbuat, seperti menjerat pelaku atau membuat
persidangan, tapi para korban tak kemudian diam. Tindakan pertama-tama yang
dilakukan adalah membuat asosiasi. Berkumpul dan membuat organ yang
memayungi posisi mereka. Korban-korban itu bertemu, membangun jaringan hingga
saling merawat kepercayaan. Ada acara yang terus dilakukan rutin di depan istana,
kemisan. Tiap kamis mereka ingatkan pada kekuasaan bahwa korban pelanggaran
HAM itu masih menuntut keadilan. Tak sekedar itu mereka juga menuntut pejabat
berwenang: kejaksaan utamanya untuk melakukan penuntutan. Peluang hukum
yang ada terus dimanfaatkan dan digunakan untuk menguatkan posisi. Singkatnya
hukum dimanfaatkan untuk dicari celahnya yang memungkinkan terpenuhinya hak
korban. Advokasi pada titik ini adalah upaya untuk melindungi posisi dan
melempangkan peran para korban. Disanalah sebenarnya organisasi punya peran
penting.
Organisasi memerankan diri dalam konsolidasi. Lewat organisasi maka disusun peta
persoalan yang sebenarnya: struktur sosial perlu diamati untuk dilihat dimana
peluang dan potensi para aktor yang bisa dilibatkan, kultur dibaca untuk
diidentifikasi mana-mana ruang yang dapat jadi mesin produksi kesadaran kritis dan
kebijakan terus-menerus ditafsirkan dalam konteks kepentingan korban dan
keadilan. Maka sebuah organisasi yang meletakkan advokasi sebagai strategi akan
berusaha untuk melebarkan peran dengan banyak fungsi. Pertama-tama adalah
memahami persoalan dan akarnya. Kedua mempertajam analisa dan melihat
peluang. Ketiga meluaskan hubungan dengan membentuk jaringan. Terakhir adalah
usaha untuk melakukan kampanye dan pembelaan secara terus-terusan. Kegiatan
ini takkan mungkin ditampung dalam suasana organisasi yang tidak lincah dan
kurang inisiatif. Dibutuhkan daya gerak organisasi yang mahir membaca peluang,
selalu berusaha memanfaatkan kesempatan dan gigih dalam melakukan tekanan.
Saya ingin menuturkan kisah advokasi terhadap kasus traficking yang cemerlang.
Kasus ini memang usaha untuk memadamkan pelacuran anak-anak perempuan di

Kamboja. Bukan cerita gemilangnya yang hebat tapi renungan para pejuangnya
yang inspiratif. Hikmah ini diperoleh setelah mereka melalui jalan terjal, berliku dan
rumit. Sebuah jalan yang membuat mereka meyakini bahwa upaya advokasi untuk
korban perdagangan manusia tak hanya butuh keberanian, tapi kesabaran dan
ketabahan.
.bagi kami ada tiga pelajaran dalam kisah pembelaan atas korban
perdagangan manusia. Pertama, menyelamatkan anak perempuan dari
tempat pelacuran, sungguh rumit dan tak pasti. Bahkan, kadang-kadang
mustahil, dan itulah sebabnya langkah paling produktif adalah berfokus pada
upaya pencegahan dan penghapusan tempat pelacuran. Pelajaran kedua,
jangan pernah menyerah. Membantu orang lain memang sulit juga tak
terduga, dan intervensi kita tak tak selalu berhasil, tetapi kesuksesan
mungkin dapat diraih, dan kemenangan seperti itu sungguh penting
pelajaran ketiga adalah ketika masalah sosial begitu luas sampai tak
terpecahkan secara tuntas, hal itu tetap saja pantas diberantas. Saya selalu
ingat kisah yang saya dapatkan dari teman di Hawaii
.seorang laki-laki pergi ke pantai dan melihat pantai itu dipenuhi bintang
laut yang terdampar akibat ombak. Seorang bocah lelaki kecil sedang
berjalan disana, memungutinya dan mengembalikannya ke laut
apa yang kau lakukan nak? Tanya lelaki itu. kau lihat kan betapa sudah
banyaknya bintang laut di dalam sana? Tak ada bedanya dikembalikan atau
tidak
Si bocah berfikir sejenak, kemudian mengambil seekor bintang laut lagi dan
melemparkannya ke laut.
pasti ada bedanya bagi yang satu ini katanya.. 2
Ini bukan sekedar kisah padat motivasi. Tapi kisah inspiratif mengenai bagaimana
melakukan advokasi. Bukan pada hasil kemenangan tapi bagaimana membuat
langkah, tahapan dan jejak. Terkadang kita kesal dengan korban yang tak tahu jika
dibela, tak mengerti jika mau dilindungi dan tak mau tahu apa yang sudah kita
korbankan. Kerapkali saya dikeluhi mengenai teman-teman mahasiswa yang
membela kawanya untuk dapat keringanan SPP. Setelah dibantu bukan ucapan
terimakasih yang diperoleh tapi anak-anak itu membolos, jatuh nilainya hingga
malas berorganisasi. Seakan semua pembelaan itu percuma dan sia-sia. Mungkin itu
pula yang membuat advokasi itu membutuhkan daya tahan tinggi: tak sekedar
untuk beradu siasat tapi juga bagaimana mempertahankan prinsip. Terutama
prinsip untuk selalu berada bersama korban.

2 Lih Nicholas D Kristaf & Sherly WuDunn, Perempuan Menjunjung Separuh Langit,
Gramedia, 2010

Dalam konteks kebijakan tentu advokasi punya misi tegas: mendorong lahirnya
kebijakan yang memenuhi kepentingan luas publik. Pada pengalaman saya
misalnya kebijakan untuk gratiskan pendidikan. Pertimbanganya komplit: kebijakan
pendidikan yang gratis akan membuat akses pendidikan dapat disentuh oleh siapa
saja dan dari kelas sosial manapun. Pendidikan gratis juga akan meningkatkan
angka partisipasi pendidikan. Ringkasnya pendidikan gratis telah memecahkan
persoalan baku dalam pendidikan: akses, kurikulum hingga pengajaran. Maka usaha
untuk mendorong lahirnya kebijakan pendidikan gratis memerlukan segala upaya:
mempengaruhi banyak pihak untuk percaya bahwa pendidikan gratis itu sebuah
kebutuhan, meyakinkan pada pengambil kebijakan pendidikan gratis akan
mengatasi banyak masalah pendidikan dan mengajak segala kalangan untuk
memperjuangkan kebijakan ini. Upaya advokasi seperti itu membuahkan hasil yang
lumayan: kebijakan pendidikan gratis itu diterapkan di mana-mana.
Kebijakan pendidikan gratis merupakan kegiatan advokasi yang mendulang
dukungan efektif. Keberhasilanya tak ditentukan oleh kebenaran tuntutan itu:
melainkan didukung oleh tim yang solid. Pertama-tama tim itu berusaha untuk
memahami persoalan pendidikan secara lebih mendalam. Persoalan itu dijelaskan
dengan cara baca yang kompleks: pendidikan dilihat dari sisi politik, ekonomi dan
kebudayaan. Sisi-sisi itu perlu dijelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana guna
menjaring dukungan sebanyak mungkin kalangan. Kekuatan tim itu juga ditunjang
oleh pemahaman masalah bersama aktor-aktor yang terlibat di dalamnya.
Memahami itu tak hanya mengenal tapi juga menemukan aktor-aktor yang
bertanggung jawab. Sisi yang membuat advokasi itu menemukan metode yang jitu:
mengembangkan lobi, merebut pengaruh dan melakukan tekanan.
Maka advokasi tak hanya memerlukan tim yang kuat tapi juga cara-cara kreatif.
Pengalaman saya dalam merekam advokasi untuk warga Pati dalam soal Bukit
Kendeng: menunjukkan bagaimana mereka memperluas isu itu kemana-mana.
Media massa dan sosial salah satu kekuatan. Juga lobbi untuk mempengaruhi
pengambil kebijakan dapat ditempuh. Singkatnya advokasi adalah usaha untuk
memperbanyak teman seluas-luasnya. Di samping berfungsi sebagai jaringan dapat
digunakan untuk kekuatan penekan. Maka dalam upaya untuk mendekatkan pada
pemenuhan tujuan, advokasi membutuhkan beberapa sarana. Pada upaya untuk
meloloskan kebijakan yang berpihak diperlukan cara-cara saintifik: menggali data,
melakukan riset partisipatoris, mengidentifikasi variabel penunjang hingga
mendiskpripsikanya dalam laporan yang rinci. Upaya yang dulu saya tempuh ketika
mendokumentasikan buku Orang Miskin dilarang Sakit.
Sebenarnya pertanyaan prinsipnya mengapa advokasi itu penting? Pengalaman
memberitahu bahwa advokasi itu berguna, setidaknya, pertama untuk memahami
bahwa tiap persoalan itu punya sebab yang kompleks, kedua bahwasanya usaha
untuk menangani masalah itu membutuhkan pendekatan yang beragam dan ketiga
pusat perubahan itu ada pada kebijakan. Diatas landasan itulah advokasi

sesungguhnya adalah usaha terus-menerus dan serius untuk mengatasi persoalan


dengan metode, cara dan instrumen yang melibatkan partisipasi seluas-luasnya
masyarakat. Hanya melalui mekanisme itulah maka advokasi bisa dikatakan
sebagai kerja bersama dengan visi pembebasan dan pemenuhan keadilan. Dimana
dua unsur itu bukan saja ditemukan dalam pengadilan, tapi melalui kerja besar
yang berjalan dengan upaya sungguh-sungguh dan melibatkan semua kalangan.
Sampai di titik ini saya meyakini bahwa advokasi merupakan cara paling signifikan
dalam merubah sebuah kebijakan. Tinggal bagaimana keberanian, kesungguhan
dan sikap konsisten kita dalam menjalaninya. Terimakasih.