Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

EKSPLORASI BATUGAMPING

DISUSUN OLEH:
OKTRIZAL SYAHPUTRA
710012192

S1 TEKNIK PERTAMBANGAN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL
YOGYAKARTA
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta karunianya kepada penulis sehingga
penulis berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah
tepat pada waktunya yang berjudul EKSPLORASI GAMPING
Makalah ini berisikan tentang informasi tentang EKSPLORASI
GAMPING. Sehingga dengan begitu diharapkan Makalah ini dapat
memberikan informasi kepada kita semua tentang tahap-tahap
eksplorasi yang di gunakan ketika mengeksplor daerah batu
gamping.
penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal
sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha
kita. Amin.

Yogyakarta,29 April 2013

Penyusun

SARI
Batugamping ( limestone ) , tentunya tidak banyak orang
yang menyadari akan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari,
akan tetpi para insinyur sipil sudah tau pastinya bahwa
Batugamping di gunakan untuk batu hias dan terutama bahan

semen yang membuat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi


yang sering kita lihat di pinggiran jalan perkotaan menjadi kuat dan
kokoh.
Sebagai seorang engginer pertambangan kita di tuntut untuk
mampu mengambil cadangan batu gamping yang tersedia di alam
Indonesia ini, sehingga dapat membantu dalam pembangunan negri
ini, dan tentu juga dalam mengerjakannya dengan penuh tanggung
jawab dan integritas sehingga alam Indonesia juga terselamatkan.
Selain itu kita juga diharapkan mampu mencari atau pun
sekedar mengetahui mengenai sumberdaya Batugamping yang
cadangannya bernilai ekonomis untuk di tambang, untuk itu kita
harus paham mengenai eksplorasi,
Eksplorasi batugamping yang umum dikerjakan adalah
menghitung volume dan mengetahui kualitas cadangan ,
sedangkan kegiatan awal berupa pencarian endapan(prospeksi)
umumnya jarang dilakukan karena endapan batugamping sudah di
ketahui keberadaannya dan mudah di temukan.
Tahap-tahap eksplorasi gamping :
-

Pemetaan topograf
Pengambilan contoh bongkahan
Pemboran inti
Analisa contoh

ii

Perhitungan cadangan.

DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.......................................
i
SARI......................................
.... ii
DAFTAR ISI.......................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ...................................
1
1.2 Tujuan ......................................
. 2
1.3 Manfaat
................................
...... 2
BAB II ISI
2.1 Pengertian
...................................
. 3

2.1.1 Batugamping
............................... 3
2.1.2 Eksplorasi
...............................

2.2 Eksplorasi Batugamping


.............................. 5
2.2.1 Pemetaan topograf
......................... 5
2.2.2 Pengambilan contoh bongkahan
.................. 7
2.2.3 Pemboran inti
........................... 9
2.2.4 Analisa contoh
............................ 10
2.2.5 Perhitungan cadangan
............................. 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
...............................
. 13
DAFTAR PUSTAKA

iii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kompas geologi
Gambar 2.2 Contoh Peta Geologi

iv

Gambar 2.3 a) Sumur uji dibuat menembus ore body yang


mempunyai posisi yang horizontal, b) Posisi channel yang vertikal
pada dinding sumur uji.
Gambar 2.4 cahnnel pada sumur uji ketika endapan permukaan
tidak homogen

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Indonesia bisa dikatakan Negara yang sedang berkembang
dan akan terus berkembang saat ini di mana masih banyak akan
terjadi pembangunan, baik dari segi industri, perusahaan dari atas
hingga ke bawah dan juga termasuk pembangunan dalam sektor
keluarga atau individual.
Untuk itu dimana setiap terjadi pembangunan pasti haru ada
bentuk konkrit yang dari pembangunan itu sendiri yang mana
sebagai bukti pembnagunan itu sendiri.
Batugamping ( limestone ) , tentunya tidak banyak orang
yang menyadari akan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari,
akan tetpi para insinyur sipil sudah tau pastinya bahwa
Batugamping di gunakan untuk batu hias dan terutama bahan
semen yang membuat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi
yang sering kita lihat di pinggiran jalan perkotaan menjadi kuat dan
kokoh.
Sebagai seorang engginer pertambangan kita di tuntut untuk
mampu mengambil cadangan batu gamping yang tersedia di alam
Indonesia ini, sehingga dapat membantu dalam pembangunan negri
ini, dan tentu juga dalam mengerjakannya dengan penuh tanggung
jawab dan integritas sehingga alam Indonesia juga terselamatkan.
Selain itu kita juga diharapkan mampu mencari atau pun
sekedar mengetahui mengenai sumberdaya Batugamping yang
cadangannya bernilai ekonomis untuk di tambang, untuk itu kita
harus paham mengenai eksplorasi, dan tentunya mengenai
EKSPLORASI GAMPING yang mana akan di bahas dalam makalah
ini.

1.2 Tujuan
Tujuan dari panyusunan makalah ini yakni :

1. Untuk mengetahui bagai mana cara mengeksplorasi


sumberdaya Batugamping.
2. Untuk mengetahui alat yang di gunakan dalam eksplorasi
Batugamping

1.3 Manfaat
Manfaat yang ingin di capai dari penyusunan makalah ini
tidak lepas dari tujuannya yakni :
1. Menambah pengetahuan penulis dan pembaca mengenai
cara meng eksplorasi sumberdaya batu gamping
2. Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam
menggunakan alat eksplorasi.

BAB II
ISI
2

2.1

Pengertian

Sebelum memasuki tahap eksplorasi kita harus mengerti Dan


mengetahui mengenai beberapa hal berikut :
2.1.1 Batugamping
Batugamping/batukapur/limestone
golongan

batuan

sedimen

yang

merupakan

paling

salah

banyak

satu

jumlahnya.

Batugamping itu sendiri terdiri dari batugamping non-klastik dan


batugamping klastik. Batugamping non-klastik, merupakan koloni
dari binatang laut antara lain dari Coelentrata, Moluska, Protozoa
dan

Foraminifera

atau

batugamping

ini

sering

juga

disebut

batugamping Koral karena penyusun utamanya adalah Koral.


Batugamping

Klastik,

merupakan

hasil

rombakan

jenis

batugamping non-klastik melalui proses erosi oleh air, transportasi,


sortasi, dan terakhir sedimentasi.selama proses tersebut banyak
mineral-mineral lain yang terikut yang merupakan pengotor,
sehingga sering kita jumpai adanya variasi warna dari batugamping
itu sendiri. Seperti warna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua,
coklat, merah bahkan hitam.
Secara kimia batugamping terdiri atas Kalsium karbonat
(CaCO3).

Dialam

tidak

jarang

pula

dijumpai

batugamping

magnesium. Kadar magnesium yang tinggi mengubah batugamping


dolomitan dengan komposisi kimia CaCO3MgCO3.
Ciri dari batugamping adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.

Warna : Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan


Kilap : Kaca, dan tanah
Goresan : Putih sampai putih keabuan
Bidang belahan : Tidak teratur
Pecahan : Uneven

f. Kekerasan : 2,7 3,4 skala mohs


g. Berat Jenis : 2,387 Ton/m3
h. Tenacity : Keras, Kompak, sebagian berongga
2.1.2 Eksplorasi
Adapun beberapa pengertian eksplorasi :
Mc. Kinstry H . E : Suatu kegiatan yg meliputi keseluruhan
urutan pekerjaan mulai dari pencarian suatu prospek
( reconnaissance ) sampai evaluasi dari prospek tsb dan
memperluas lokasi lain disekitar daerah yg telah dilakukan kegiatan
penambangan.
Alan M. Bateman : Suatu kegiatan yg bertujuan akhirnya
adalah penemuan kondisi geologi berupa endapan mineral yg
bernilai ekonomis.
Peel dan W. C. Petters : Eksplorasi merupakan kegiatan
yg dilakukan setelah prospeksi atau setelah endapan bahan galian
tsb ditemukan dan bertujuan utk mengetahui ukuran, bentuk
kedudukan, sifat dan nilai dari endapan bahan galian tsb.
Prinsip-prinsip (konsep) dasar eksplorasi tersebut antara lain :
1. Target eksplorasi
Jenis bahan galian (spesifkasi kualitas) dan
Pencarian model-model geologi yang sesuai
2. Pemodelan eksplorasi
Menggunakan model geologi regional untuk pemilihan daerah
target eksplorasi,
Menentukan model geologi lokal berdasarkan keadaan lapangan,
dan mendiskripsikan petunjuk-petunjuk geologi yang akan
dimanfaatkan, serta

Penentuan metode-metode eksplorasi yang akan dilaksanakan


sesuai dengan petunjuk geologi yang diperoleh.
Selain itu, perencanaan program eksplorasi tersebut harus
memenuhi kaidah-kaidah dasar ekonomis dan perancangan (desain)
yaitu :
1. Efektif ; penggunaan alat, individu, dan metode harus sesuai
dengan keadaan geologi endapan yang dicari.
2. Efsien ; dengan menggunakan prinsip dasar ekonomi, yaitu
dengan biaya serendah-rendahnya untuk memperoleh hasil yang
sebesar-besarnya.
3. Cost-benefcial ; hasil yang diperoleh dapat dianggunkan
(bankable). Model geologi regional dapat dipelajari melalui salah
satu konsep genesa bahan galian yaitu Mendala Metalogenik, yaitu
yang berkenaan dengan batuan sumber atau asosiasi batuan,
proses-proses geologi (tektonik, sedimentasi), serta waktu
terbentuknya suatu endapan bahan galian.

2.2

Eksplorasi Batugamping
Eksplorasi batugamping yang umum dikerjakan adalah

menghitung volume dan mengetahui kualitas cadangan ,


sedangkan kegiatan awal berupa pencarian endapan(prospeksi)
umumnya jarang dilakukan karena endapan batugamping sudah di

2.2.I

ketahui keberadaannya dan mudah di temukan.


Tahap kegiatan eksplorasi gamping yakni:
Pemetaan topograf
Jika peta dasar (peta topograf) dari daerah eksplorasi sudah
tersedia, maka survei dan pemetaan singkapan (outcrop) atau
gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topograf skala 1 :

50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu


dilakukan pemetaan topograf lebih dahulu. Kalau di daerah
tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat
menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk
mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi
peta geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang
penting.
5

Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian


atau batubara (sasaran langsung), yang perlu juga diperhatikan
adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen
(jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya.
Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan
bantuan alat-alat seperti :
-kompas geologi
- inclinometer
- altimeter,

Gambar 2.1 Kompas geologi

serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan


sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat
dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).
Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian
digabungkan dan dibuat penampang tegak atau model

penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik


tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak,
pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan
jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut
kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat
ukur, teodolit, BTM, dll.). Dari kegiatan ini akan dihasilkan model
geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai
cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan
apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik
(prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek
yang baik maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi
selanjutnya.
Gambar 2.2 Contoh Peta
Geologi

2.2.II

Pengambilan contoh
bongkahan
Pengambilan
contoh bongkahan pada
batugamping menggunakan metode : CHANNEL SAMPLING
Metoda ini dapat digunakan pada endapan yang terdapat di
permukaan dan juga di dalam suatu tambang bawah tanah. Untuk
endapan yang dangkal, metoda ini dipakai dalam suatu sumur uji.
Alur (channel) dibuat pada sisi sumur uji. Pada suatu endapan

hidrotermal yang ditambang dengan sistem tambang bawah tanah,


channel dibuat dari hanging wall ke foot wall.
Aplikasi dari metoda-metoda yang ada harus disertai pula
dengan suatu design yang tepat. contoh mengenai chip sampling
dan channel sampling dalam eksplorasi batugamping adalah
sebagai berikut :
2.2.2.a Channel sampling dalam sumur uji
Dipakai untuk endapan permukaan.
7

Gambar 2.3 a) Sumur uji dibuat menembus ore body yang mempunyai
posisi yang horizontal, b) Posisi channel yang vertikal pada dinding sumur
uji.

Untuk suatu endapan permukaan yang tidak homogen, maka


channel dibagi menjadi beberapa sub channels sesuai kondisi
mineralisasi.

Gambar 2.4 cahnnel pada


sumur uji ketika endapan
permukaan tidak homogen

Keterangan :
t = tebal lapisan
K = kadar bijih

2.2.III

Pemboran inti
Untuk memperoleh inti bor, maka alat bor putar harus di
lengkapi dengan mata bor berlubang, tabung inti bor, dan
penangkap inti bor. Arah pengeboran dapat vertikalmaupun
horizontal, tetapi yang paling sering adalah pengoboran vertikal
hingga mencapai batuan dasar, dengan pola pengeboran dan jarak
bor yang
teratur, sehingga akan di peroleh sejumlah inti bor yang
representatif. Dengan demikian letak, bentuk atau posisi endapan

bahan galiannya dapat di ketahui dengan pasti. Bila semua inti bor
telah selesai di selidiki di laboratorium, maka akan di ketahui mutu
atau kadar mineral berharganya dan sifat-sifat fsik- mekanikmineraloginya secara lengkap
Perencanaan pemboran inti, meliputi :
Target tubuh bijih yang akan ditembus,
Lokasi (berpengaruh pada kesampaian ke titik bor dan
pemindahan (moving) alat),
Kondisi lokasi (berpengaruh pada sumber air, keamanan),
Kedalaman masing-masing lubang,
Jenis alat yang akan digunakan, termasuk spesifkasi,
Jumlah tenaga kerja,
Alat transportasi, dan
Jumlah (panjang) core box.
Sedapat mungkin, pada masing-masing perencanaan tersebut telah
mengikutkan jumlah/besar anggaran yang dibutuhkan. Selain itu,
prinsip dasar dalam penentuan jarak sedapat mungkin telah
memenuhi beberapa faktor lain, seperti :
1. Grid density (interval/jarak) antar titik observasi. Semakin detail
pekerjaan maka grid density semakin kecil (interval/jarak) semakin
rapat.
2. Persyaratan pengelompokan hasil perhitungan
cadangan/endapan. Contoh pada batubara ; syarat jarak untuk
klasifkasi terukur (measured) 400 m antar titik observasi.
2.2.IV

Analisa contoh(sifat fsik, mekanik,kimia)


Data hasil pengukuran dapat segera dilakukan pengolahan di
lapangan atau langsung dikirim ke kantor. Macam macam lab.

yang digunakan adalah : Lab. krismin, petrologi, mektan, mekbat,


PBG, kimia, batubara, X- ray fluorescence, X-ray diffraction. Studio
yang digunakan: Penginderaan jauh, pemetaan, geofsika, dll.
Setelah conto diperoleh, kemudian dibawa ke laboratorium
untuk dilakukan assay (analisis kadar). Karena yang dianalisis
tersebut

hanya

sebagian

kecil

dari

conto,

maka

diperlukan

preparasi (persiapan) conto, agar bagian conto yang dianalisis


masih representatif terhadap kondisi sebenarnya. Dalam proses
preparasi conto, hasil akhir yang diperoleh (tujuan preparasi itu
sendiri) yaitu conto dengan ukuran 100 # (mesh).
2.2.V

Perhitungan cadangan

Perhitungan

cadangan

yang

dilakukan

di

Pulau

Gee

menggunakan metode daerah pengaruh (Area Of influence).


Pemboran yang dilakukan merupakan pola pemboran yang
beraturan menurut lintasan-lintasan grid, dengan jarak antara
lintasan yang satu dengan lintasan yang lainnya adalah 25
meter.
Pada metode ini jumlah cadangan dihitung untuk
setiap blok daerah pengaruh yang hanya dipengaruhi oleh
satu lubang bor saja. Luas daerah pengaruh untuk satu titik
bor (tiap blok) dihitung dari setengah jarak (spacing) antara
dua titik bor yang berdekatan pada samping kiri kanan dan
muka belakang, sehingga membentuk suatu pola segi empat.
Penampang segi empat ini disebut blok yang terpakai apabila
kadar yang ada dalam blok tersebut sesuai dengan Cut Of
Grade yang sudah ditentukan.

10

Cut Of Grade (COG) menurut defnisi memiliki dua


pengertian yaitu sebagai berikut :
-

Kadar terendah yang masih memberikan keuntungan

apabila bijih tersebut ditambang.


-

Kadar terendah rata-rata yang masih menguntungkan

apabila bijih tersebut ditambang.


Untuk menghitung volume daerah pengaruh pada
metode area of influence digunakan rumus sebagai berikut :
V=A.t
Dimana :
V = Volume cadangan (m3)
A = Luas daerah pengaruh (m2)
t = Tebal bijih (m)

Sedangkan untuk menghitung tonage dari cadangan


eksplorasi menggunakan rumus sebagai berikut :
T = V . Density insitu
T = Tonage (Ton)
V = Volume cadangan (m3)
Density insitu saprolit = 1,5 Ton/m3

11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang telah di selesaikan dapat di ambil
kesimpulan bahwa :
1. Batugamping/batukapur/limestone merupakan salah satu
golongan batuan sedimen yang paling banyak jumlahnya.
Batugamping itu sendiri terdiri dari batugamping nonklastik dan batugamping klastik. Batugamping non-klastik,
merupakan koloni dari binatang laut antara lain dari
Coelentrata, Moluska, Protozoa dan Foraminifera atau
batugamping ini sering juga disebut batugamping Koral
karena penyusun utamanya adalah Koral.

12

2. Eksplorasi batugamping yang umum dikerjakan adalah


menghitung volume dan mengetahui kualitas cadangan ,
sedangkan kegiatan awal berupa pencarian
endapan(prospeksi) umumnya jarang dilakukan karena
endapan batugamping sudah di ketahui keberadaannya
dan mudah di temukan.
3. Tahap-tahap eksplorasi gamping :
- Pemetaan topograf
- Pengambilan contoh bongkahan
- Pemboran inti
- Analisa contoh
- Perhitungan cadangan.

DAFTAR PUSTAKA
13

http://mheea-nck.blogspot.com/2011/12/cadangan.html
http://penambang007.blogspot.com/2011/03/metode-prospeksi.html
http://perpuskam.blogspot.com/2010/06/pemetaangeologialterasi.html
http://geoyogi.wordpress.com/2012/03/03/alat-geologi-yangdigunakan-di-lapangan/feed/
http://vanlockhart.blogspot.com/2012/01/tata-cara-eksplorasi.html
http://aneka-publish.blogspot.com/2012/03/teknik-pemetaangeologi-dan-eksplorasi.html