Anda di halaman 1dari 59

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat

Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Puji syukur tim penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT dan Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat, berkah, dan hidayah-Nya laporan tugas Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah
Setempat Kecamatan Gayungan Kota Surabaya ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Laporan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas dari dosen pengajar mata kuliah PBPALS serta untuk
menambah dan mendalami pengetahuan mengenai mata kuliah tersebut. Dalam penyusunan laporan ini,
penyusun menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Ir. Agus Slamet, M.Sc selaku dosen pengajar, terima kasih kesediaan, kesabaran, dan
ilmu yang diberikan dalam proses pembelajaran kami. Semoga ilmu yang diberikan kelak
akan berguna di masa yang akan datang.
2. Bapak Prof. Dr Ir. Sarwoko Mangkoedihardjo, M.Sc yang telah meluangkan waktu untuk
membimbing kami mengerjakan tugas besar dengan sabar. Semoga ilmu yang diberikan
berguna kelak.
3. Orang Tua kami yang selalu ikhlas mendoakan anaknya dalam setiap doa yang dipanjatkan.
Terima kasih atas dukungan dan nasehatnya selama ini.
4. Teman-teman kelas yang selalu membantu dalam pembuatan tugas ini.
5. Teman-teman Angkatan 2012 yang selalu menemani dan mengajarkan apabila terdapat
kesulitan dalam pembuatan tugas
Penyusunan laporan ini telah diusahakan semaksimal mungkin, namun sebagaimana manusia biasa
tentunya masih terdapat kesalahan. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat penyusun
harapkan.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Surabaya, Mei 2016

Penyusun

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................ ...0


DAFTAR ISI ................................................................................................................................. 1

BAB 1

PENDAHULUAN ........................................................................................................ 3
1.1. Latar Belakang .................................................................................................... 3
1.2. Tujuan ................................................................................................................ 3
1.3. Ruang Lingkup........................................................................... ......................... 5

BAB 2 GAMBARAN UMUM PERENCANAAN .................................................................... 5


2.1. Peta Kecamatan gayungan........................................................................... .......... 5
2.2 Luas, Batas Wilayah, dan Administrasi ................................................................... 6
2.3 Keadaan Demografi ................................................................................................. 6
2.4 Keadaan Demografi ................................................................................................. 6
BAB 3 DASAR PERENCANAAN AWAL ................................................................................ 7
3.1 Rencana Lokasi IPAL.............................................................................................. 7
3.2 Periode Perencanaan ................................................................................................ 8
3.3 Karakteristik Limbah .......................................................................................... 8
3.4 Baku Mutu Air Limbah ........................................................................................ 8
BAB 4 SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH ................................................................... 10
4.1 Kebutuhan Air Limbah ...................................................................................... 10
4.2 Perhitungan Dimensi Pipa Air Limbah ................................................................. 14
4.3 Perhitungan Penanaman Pipa Air Limbah ......................................................... 18
BAB 5 DED ANAEROBIC BAFFLED REACTOR (ABR) ..................................................... 20
5.1 Gambaran Umum Anaerobic Baffled Reactor (ABR)........................................... 20
5.2 Kriteria Desain Anaerob Baffled Reactor (ABR) .................................................. 20
5.3 Perhitungan Unit Anaerob Baffled Reactor (ABR)............................................... 21
BAB 6 ALTERNATIF PENGOLAHAN INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA .. 25
6.1 Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) ........................................................... 25
6.2 Alternatif Pengolahan ............................................................................................ 26
BAB 7 DED INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT).................................... 29
7.1 Solid Separation Chamber (SSC) .......................................................................... 29
7.2 Kolam Anaerobik .................................................................................................. 30

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
7.3 Kolam Fakultatif .............................................................................................................. 32
7.4 Kolam Maturasi................................................................................................................ 35
BAB 8 BILL OF QUANTITY (BOQ) ....................................................................................... 37
8.1 BOQ SPAL ......................................................................................................... 37
8.1.1 BOQ Perpipaan ....................................................................................... 37
8.1.2 BOQ penggalian pipa normal ................................................................. 37
8.1.3 BOQ Tenaga Kerja Dan Peralatan ........................................................... 43
8.2 BOQ IPAL Komunal ....................................................................................................... 46
8.3 BOQ IPLT ....................................................................................................................... 50

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua manusia pasti menghasilkan buangan, baik itu berupa cairan, padatan, maupun gas.
Buangan yang berupa cairan biasa disebut dengan air buangan atau air limbah. Air buangan atau air
limbah adalah air bekas pemakaian, baik rumah tangga ataupun industri. Air limbah tidak dapat dibuang
secara langsung ke lingkungan karena mengandung zat-zat organik, beberapa logam berat, bakteri, virus,
zat padat tersuspensi, dan senyawa-senyawa lain yang bisa mencemari lingkungan. Oleh karena itu, air
limbah perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air.
Pada umumnya, pengolahan air limbah dilakukan di suatu tempat yang disebut sebagai Bangunan
Pengolahan Air Limbah (BPAL). Air limbah yang dialirkan menuju memerlukan suatu saluran air limbah
yang selanjutnya dikumpulkan dalam IPAL komunal, begitu pula dengan limbah buangan (tinja) yang
selanjutnya mengalami pengolahan dalam instalasi pengelolaan lumpur tinja (IPLT). Dengan kata lain,
sistem perencanaan penyaluran air limbah bertujuan untuk mengalirkan air limbah dari suatu pemukiman
atau kawasan industri ke suatu tempat (BPAL) sehingga tidak akan menimbulkan bahaya atau kerusakan
bagi manusia dan lingkungan. Selain itu, dibutuhkan perencanaan bangunan pengolahan air limbah
setempat yang memenuhi syarat agar didapat effluen (hasil akhir) yang memenuhi baku mutu. Pengolahan
air limbah setempat (desentralisasi) biasa digunakan di kota-kota yang ada di Indonesia (Parkinson dan
Tayler, 2013).
Kecamatan Gayungsari, kota Surabaya merupakan salah satu contoh kecamatan yang memiliki
kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Kepadatan penduduk ini nantinya dapat menimbulkan suatu
permasalahan dalam sistem pengolahan air limbah jika bangunan pengolahan yang digunakan tidak sesuai
dengan standar yang berlaku. Karena itu, dibutuhkan suatu perencanaan bangunan pengolahan air limbah
setempat agar tidak menimbulkan permasalahan lingkungan di masa mendatang.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud pembuatan perencanaan bangunan pengolahan air limbah setempat di kecamatan
Gayungsari ini adalah sebagai berikut.

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

1. Untuk menyalurkan air limbah yang berasal dari domestik maupun non domestik menuju ke
instalasi pengolahan air limbah sehingga air dapat diolah kembali hingga mencapai standar baku
mutu yang berlaku.
2. Mencegah terjadinya pencemaran air di kecamatan Gayungsari
3. Menciptakan kondisi lingkungan yang sehat dan menghindari terjangkitnya penyakit menular
karena air, terutama air buangan yang merupakan media tumbuh dan berkembangnya bibit
penyakit.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari perencanaan bangunan pengolahan air limbah kecamatan Gayungsari ini adalah:
1. Bagian pertama perencanaan IPAL Komunal
a. Perencanaan SPAL
b. Perencanaan unit IPAL
2. Bagian kedua perencanaan IPLT
a. Pembuatan alternatif rangkaian unit-unit di IPLT
b. DED alternatif yang diipilih
3. DED IPAL Komunal dan IPLT
4. Lampiran berupa:
-

Gambar denah

Gambar potongan (2)

Gambar detail

Kelengkapan lain

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB II
GAMBARAN UMUM
2.1

Peta Kecamatan gayungan

Gambar 3. 1 Peta Kecamatan gayungan


2.2

Luas, Batas Wilayah, dan Administrasi

Perencanaan penyaluran air limbah ini diperuntukkan untuk Kecamatan gayungan selama 10 tahun ke
depan. Batas-batas administratif Kecamatan gayungan adalah sebagai berikut:
Utara

: Kecamatan Wonokromo

Selatan : Sidoarjo
Barat

: Kecamatan Jambangan

Timur

: Kecamatan Wonocolo

Kecamatan seluas 23,76 Km2 ini dibagi dalam 5 kelurahan sebagai berikut :
1) Kelurahan Sememi dengan luas wilayah 4,11 km2
2) Kelurahan Klakah Rejo dengan luas wilayah 0,45 km2
3) Kelurahan Kandangan dengan luas wilayah 3,16 km2

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

4) Kelurahan Tambak Oso Wilangun dengan luas wilayah 8,46 km2


5) Kelurahan Romo Kalisari dengan luas wilayah 7,58 km2

Wilayah Kecamatan gayungan termasuk wilayah geografis Kota Surabaya yang merupakan dataran
rendah dengan ketinggian rata-rata 4 m di atas permukaan laut
2.3

Keadaan Demografi

Data jumlah penduduk Kecamatan gayungan tahun 2012 sebagai berikut:


No

Kelurahan

Luas Wilayah
2

(Km )

Jumlah

Kepadatan

Penduduk (Jiwa)

Penduduk
(Jiwa/Km2)

1.

Ketintang

4,11

16.710

7.056

2.

Dukuh Menanggal

0,45

9.193

11.473

3.

Menanggal

3,16

10.331

4.555

4.

Gayungan

8,46

10.752

409

6,07

46.986

6563

Jumlah

Sumber: Kantor Kecamatan gayungan

2.4

Tata Guna Lahan

Data tata guna lahan Kecamatan Gayungan untuk beberapa fasilitas umum sebagai berikut.
No

Kelurahan

Tempat Ibadah

Posyandu

Pasar

Ketintang

61

52

Dukuh Menanggal

20

Menanggal

20

36

Gayungan

95

116

Jumlah

Sumber: Kantor Kecamatan gayungan

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB III
DASAR PERENCANAAN AWAL

3.1

Rencana Lokasi IPAL


Untuk menentukan lokasi pembangunan IPAL harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya

adalah elevasi muka tanah. Sebaiknya IPAL diletakkan di tempat yang mempunyai kontur tanah yang
lebih rendah dari daerah di sekitarnya. IPAL komunal adalah lokasi terakhir dari suatu Sistem Penyaluran
Air Limbah (SPAL) daerah. Selain itu, penentuan lokasi IPAL juga disesuaikan dengan ketersediaan
lahan dan kemudahan aksesibilitas untuk menuju lokasi tersebut. Pembangunan IPAL dilakukan pada
daerah di sekitar apartemen Dian Regency, jalan Gayungsari Bahagia, dengan pertimbangan bahwa di
lokasi tersebut masih terdapat lahan yang cukup untuk pembangunan IPAL Komunal.
Gambar 3. 2 Peta Lokasi Pembangunan IPAL Komunal

Sumber : www.google.earth.com

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
3.2

2015

Periode Perencanaan
Proses perencanaan suatu instalasi pengolahan air limbah ada dua yaitu:

a. Initial years adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan konstruksi bangunan dan bangunan
yang siap beroperasi.
b. Design years adalah tahun dimana bangunan mencapai 100 persen kapasitas yang direncanakan.
Periode desain secara umum ditentukan berdasarkan faktor-faktor berikut:
Kinerja fasilitas pengolahan selama initial years ketika dilakukan ekspansi dimensi
Kegunaan instalasi pengolahan bagi masyarakat
Suku bunga, biaya konstruksi sekarang dan yang akan datang, dan ketersediaan dana.
Kemudahan dan kesulitan untuk perluasan area instalasi pengolahan
Pertumbuhan penduduk mendatang (termasuk pergantian dalam komunitas), area pelayanan,
pertumbuhan faktor industri dan komersial, kebutuhan air dan karakteristik air buangan.
Perencanaan bangunan pengolahan ini dilakukan langsung dalam satu tahapan. Sedangkan initial
years direncanakan selama kurang lebih 2 tahun termasuk waktu untuk perencanaan, masa tender, dan
waktu pembangunan instalasi.
3.3

Karakteristik Limbah
Berikut data karakteristik air limbah Kecamatan Gayungsari pada tahun 2015.
Tabel 3.1 Data Karakteristik Air Limbah
Limbah

Konsentrasi

BOD

250 mg/l

TSS

200 mg/l

Sumber : Tugas Besar PBPAL 2015

3.4

Baku Mutu Air Limbah


Penentuan standar baku mutu yang dipersyaratkan agar air limbah dapat masuk ke badan air

penerima dalam perencanaan ini menggunakan Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 45 Tahun 2002
tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Industri atau Kegiatan Usaha Lainnya di Jawa Timur serta
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air. Penggunaan kedua standar ini pada hakikatnya saling melengkapi dengan
pertimbangan yang logis. Sebagai contoh untuk parameter BOD, lebih dipilih baku mutu berdasarkan
Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 45 Tahun 2002 dengan nilai sebesar 50 mg/l (untuk kelas II)

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

daripada nilai sebesar 3 mg/l (untuk kelas II) berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001. Hal tersebut
dikarenakan secara alamiah dalam badan air (dalam hal ini air sungai) telah terdapat bahan organik, baik
yang berasal dari sumbernya maupun dari lingkungan di sekitar sungai yang larut dalam air. Jadi tanpa
ada pencemaran pun, hampir tidak mungkin BOD air sungai mencapai di bawah 3 mg/l.
Baku mutu yang digunakan adalah kelas II yang peruntukannya untuk prasarana/sarana rekreasi
air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, dan air untuk mengairi pertanaman. Berikut adalah tabel
4.2 yang menyajikan baku mutu air limbah:
Tabel 3. 1 Baku Mutu Air Limbah
Limbah

Satuan

Baku Mutu yang Digunakan

BOD

mg/L

30

TSS

mg/L

100

Sumber : Keputusan Gubernur Jawa Timur No. 45 Tahun 2002 dan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 82 Tahun 2001

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB IV
SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH
4.1 Kebutuhan Air Limbah
Untuk menentukan total kebutuhan air limbah, biasanya dihitung terlebih dahulu kebutuhan air
bersih dari daerah perencanaan tersebut. Beberapa ketetapan dalam perhitungan kebutuhan air bersih
adalah sebagai berikut:
Debit air buangan biasanya bervariasi antara 50 sampai 100% dari kebutuhan air bersih total
(Reynold dan Richards, 1996). Besarnya air limbah diasumsikan sebesar 80% dari debit air
limbah. Hal ini dikarenakan sekitar 20% dari air bersih tersebut digunakan untuk kegiatan
operasional, penyiraman tanaman, serta akibat penguapan.
Jumlah jiwa/SR diasumsikan sebanyak 5 jiwa
Diasumsikan persentase pelayanan seluruh daerah yang dilayani adalah 100% karena dalam hal
sistem penyaluran air limbah, total debit air limbah yang didapat dari pemakaian air PDAM
maupun bukan dari PDAM tetap dilayani.

Sistem penyaluran air limbah dalam perencanaan bangunan pengolahan air limbah setempat ini
dilakukan hanya untuk 90 KK (5 orang/KK) di kecamatan Gayungsari, kota Surabaya. Perhitungan debit
air limbah dilakukan dengan mengasumsikan bahwa 75% dari air bersih adalah air limbah. Di dalam
perencanaan ini, digunakan satu macam fasilitas penyediaan bersih yaitu sambungan rumah (SR).
Penempatan fasilitas ini dengan mempertimbangkan pola tingkat sosial ekonomi masyarakat. Fasilitas
sambungan rumah ini langsung menuju ke pelanggan. Dengan memperhatikan SR, kota Surabaya
termasuk dalam kategori kota besar dengan unit konsumsinya sebesar 170 L/orang.hari. Perencanaan
SPAL dengan 90 KK di kecamatan Gayungsari ini direncanakan melayani daerah Dian Regency di jalan
Gayungsari Bahagia. Berikut merupakan gambar daerah pelayanan dan rencana perpipaannya.

10

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Gambar 4.1 SPAL Kecamatan Gayungsari

Keterangan:
-

Jalur pipa A-a melayani 25 KK

Jalur pipa B-b melayani 25 KK

Jalur pipa E-e melayani 40 KK

Jalur pipa C-IPAL melayani 90 KK

Setelah diketahui rencana SPAL yang akan dibuat, selanjutnya dapat dilakukan perhitungan debit
limbah untuk masing-masing jalur pipa.

Contoh perhitungan debit air limbah untuk jalur A-B


Diasumsikan debit air limbah sebesar 127,5 L/orang.hari.
Q

= 127,5 L/org.hari
= 0,000007 m3/s

1. Menentukan debit air limbah rata-rata (Qaverage), yaitu:


Q average air limbah

= 0,000007 m3/s x 125 orang


= 0,001 m3/s

11

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

2. Menentukan faktor peak dengan menggunakan salah satu rumus berikut.


Babbit

fp=5/p^0.2

Harmon

fp=14/(4+p^0.5)

Fair &
Geyer

fp = 18+(p)^0.5/(4+p)0.5

MMBW

fp = (2.25+(15*10^6)/P^1*414)^(1/6)

Dalam perencanaan ini digunakan rumus Babbit, sehingga didapatkan nilai fp sebesar
1,904
3. Menentukan debit air limbah puncak (Qpeak)
Qpeak

= fpeak x Qaverage
= 1,904 x 0,001 m3/s
= 0,002 m3/s

4. Menentukan faktor infiltrasi dengan menggunakan grafik average infiltration rate allowance
for new sewers pada gambar di bawah ini, dimana luas wilayahnya diasumsikan sebesar
15,75 ha. Perhitungan untuk Fp tidak dilakukan dengan mempertimbangkan luas daerah yang
dilayani oleh 1 jalur pipa, akan tetapi luas seluruh daerah pelayanan sebagai asumsi untuk
catchment area.

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Antara Luas Wilayah dengan Faktor Infiltrasi
Dari gambar di atas, maka didapat nilai faktor infiltrasi = 8 m3/ha.hari

12

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Faktor peak infiltrasi

2015

= 15 m3/ha.hari

5. Menentukan debit rata-rata infiltrasi


Qave inf

= (fpeak inf / 86400s/hari) x Luas jalur A-B


= 0,0001875 m3/s

6. Menentukan debit rata-rata infiltrasi


Qpeak inf

= Qave inf x Fp infiltrasi


= 0,0028125 m3/s

7. Menentukan total debit air limbah puncak


Qpeak total

= Qpeak + Qpeak inf


= 0,002 m3/s + 0,0028125 m3/s
= 0,004 m3/s

8. Menentukan debit minimum


Qminimum

1 JumlahPenduduk
x

5
1000

0, 2

xQ average

= 0,00012 m3/s
Dengan menggunakan cara yang sama, didapatkan debit air limbah untuk jalur lainnya seperti
yang tercantum pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.1 Perhitungan Debit Air Limbah Kecamatan Gayungsari


Jalur

Pipa

ave

Fpeak

Jumlah

Q min

Luas

faktor

Fpeak

Q ave

Q peak

peak

Penduduk

(m3/s)

(ha)

infiltrasi

infiltrasi

Infiltrasi

Infiltrasi

total

(m3/s)

(m3/s)

A-B

0,001

1,904

0,002

125

0,00012

1,08

15

0,00018

0,00281

0,004

B-C

0,001

1,904

0,002

125

0,00012

0,6

15

0,00010

0,00156

0,003

C-E

0,002

1,657

0,003

250

0,00027

0,6

15

0,00010

0,00156

0,004

A-a

0,001

1,904

0,002

125

0,00012

0,3

15

5,28E-05

0,00078

0,002

B-b

0,001

1,904

0,002

125

0,00012

0,3

15

5,28E-05

0,000781

0,002

E-e

0,003

1,509

0,004

400

0,00047

0,48

15

8,33E-05

0,00125

0,005

C-IPAL

0,002

1,000

0,002

450

0,00030

0,4

15

6,94E-05

0,00104

0,003

Sumber: Hasil Perhitungan

13

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

4.2 Perhitungan Dimensi Pipa Air Limbah


Perhitungan dimensi pipa air limbah dilakukan berdasarkan pada pembebanan air limbah pada
masing-masing pipa. Dalam perhitungan dimensi pipa untuk saluran air limbah, ada persyaratan yang
harus diperhatikan, sebagai berikut:
- Direncanakan nilai d/D = 0,8 karena sebanyak 40% diameter pipa berisi udara.
-

Penentuan besarnya nilai Qp/Qf dan d/D dapat dilihat pada gambar Hydraulics Elements for
Circular Sewers. Aliran dalam perpipaan air buangan terutama untuk sistem konvensional
harus memenuhi salah satu persyaratan yaitu self cleansing. Hal ini bertujuan agara kecepatan
alirannya tidak mengakibatkan timbulnya gas Hidrogen sulfide (H2S) dan endapan.

Contoh perhitungan untuk pipa jalur a-b yaitu:


1. Panjang pipa (L)

= 25 m

2. Elevasi medan awal

= 3,4 m

3. Elevasi medan akhir

= 3,2 m

Sehingga beda tingggi h

= elevasi medan awal elevasi medan akhir


= 3,4 3,2 = 0,2 m

4. Slope medan

h
L

= 0,008
5. Debit puncak

= 0,0045 m/s

6. Jenis pipa yang dipakai adalah PE dengan koefisien n = 0,013


7. Direncanakan d/D

= 0,8

Dari d/D = 0,8 kemudian dimasukkan ke dalam grafik Hydraulic Elements for Circular Sewer
yaitu gambar di bawah ini untuk mencari Qpeak/Qfull (garis merah).

14

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Gambar 4. 1 Grafik Hydraulic Elements for Circular Sewer


Dari gambar di atas didapatkan nilai Qpeak/Qfull = 0,975 m/s.
8. Mencari nilai debit maksimal (Qfull)

Qfull

Q peak
Q peak Q full

= 0,00459 m/s

9. Mencari ukuran diameter pipa air limbah

Q full .n
D
0,3117.S 12

0 , 375

0,00459(0,013)

2
0,3117 (0,005 )

0 , 375

0,11 m

DHITUNG = 0,11 m = 110 mm


karena pipa dengan inner diameter 110 mm tidak tersedia di pasaran, maka dipilih pipa
dengan diameter 150 mm yang mendekati nilai diameter sebelumnya dan tersedia di pasaran.
10. Mengecek debit maksimal dengan diameter baru yang dipakai
1

Q full check

8
= 0,312 .D3 .S 2 . =0,01076 m/s
n

11. Mengecek luas penampang pipa dengan diamaeter baru yang dipakai

1
. .D 2 = 0,0018 m2
4
ARDILLA SUKMA PRATIWI
A full check

15

3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

12. Mengecek kecepatan maksimal dengan diamaeter baru yang dipakai


V full check

Q fullcheck
A fullcheck

= 0,609 m/s

13. Debit minimum (Q min)= 0,000115 m/s


14. Mencari nilai perbandingan antara debit minimum dengan debit maksimal

Q min
0,011
Qfullcek
Dimasukkan nilai perbandingan tersebut ke dalam grafik Hydraulic Elements for Circular
Sewer dan didapat nilai d/D = 0,2 serta Vmin/Vfull = 0,45.
15. Mencari nilai kecepatan minimum (Vmin)
Vmin

= Vfull x Vmin/Vfull
= 0,274 m/s

Perhitungan dimensi pipa air limbah untuk jalur lainnya dapat dilihat pada tabel berikut.

16

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Tabel 4.2 Perhitungan Dimensi Pipa Air Limbah Kecamatan Gayungsari


No

Jalur pipa

Jenis Pipa

L pipa

elevasi medan

(m)

awal

akhir

slope medan

slope rancang

Q peak

d/D

Q peak / Q full

Q full

(m/s)

m/s

A-B

Primer

25

3,4

3,2

0,2

0,00800

0,005

0,0045

0,8

0,975

0,00459

B-C

Primer

29

3,2

0,2

0,00690

0,005

0,0032

0,8

0,975

0,00331

C-E

Primer

101

2,6

0,4

0,00396

0,005

0,0045

0,8

0,975

0,00458

A-a

Sekunder

237

3,4

2,7

0,7

0,00295

0,001

0,0024

0,8

0,975

0,00251

B-b

Sekunder

237

3,2

2,7

0,5

0,00211

0,001

0,0024

0,8

0,975

0,00251

E-e

Sekunder

344

2,6

2,4

0,2

0,00058

0,001

0,0055

0,8

0,975

0,00561

C-IPAL

Primer

88

2,8

2,2

0,02500

0,01

0,0028

0,8

0,975

0,00286

Q full

terpasang

check

full

Vfull

Q Min

Q min/Qfull

d/D

V min/V full

Q peak/Q full

d/D

check

cek

check

min

check

cek

m/s

m/s

m /s

mm

m/s

m/s

m/s

0,013

0,11

150

0,15

0,01076

0,018

0,609

0,000115

0,011

0,2

0,45

0,274

0,416

0,7

0,013

0,10

150

0,15

0,01076

0,018

0,609

0,000115

0,011

0,2

0,45

0,274

0,300

0,7

0,013

0,11

150

0,15

0,01076

0,018

0,609

0,000265

0,025

0,2

0,45

0,274

0,415

0,7

0,013

0,12

150

0,15

0,00481

0,018

0,273

0,000115

0,024

0,2

0,45

0,123

0,508

0,8

0,013

0,12

150

0,15

0,00481

0,018

0,273

0,000115

0,024

0,2

0,45

0,123

0,508

0,8

0,013

0,16

200

0,20

0,01037

0,031

0,330

0,000466

0,045

0,2

0,45

0,149

0,528

0,7

0,013

0,08

150

0,15

0,01522

0,018

0,862

0,000298

0,020

0,2

0,45

0,388

0,183

0,8

Sumber: Hasil Perhitungan

17

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

4.3 Perhitungan Kedalaman Penanaman Pipa Air Limbah


Kedalaman penanaman pipa mengikuti slope pipa yang telah ditetapkan sebelumnya. Slope
tersebut diusahakan sedapat mungkin mengikuti slope medan dan diusahakan sedemikian rupa sehingga
pemompaan tidak diperlukan. Pompa digunakan apabila penanaman pipa telah mencapai atau lebih dari 7
meter. Berikut merupakan contoh perhitungan untuk jalur A-B.
Panjang pipa (L)
Slope pipa (s)
Headloss

= 25 m
= 0,005 m/m
= L x Slope = 0,125 m

Elevasi Atas Pipa


Keadaan awal

= elevasi tanah awal - kedalaman awal pipa


= 3,4 m 1 m = 2,4 m

Keadaan akhir

= elevasi atas pipa keadaan awal - headloss


= 2,4 m - 0,125 m = 2,28 m

Elevasi Bawah Pipa


Keadaan awal

= elevasi atas pipa keadaan awal diameter pipa


= 2,4 m 0,150 m = 2,25 m

Keadaan akhir

= elevasi atas pipa keadaan akhir - diameter pipa


= 2,28 m - 0,150 m = 2,13 m

Kedalaman penanaman pipa


Keadaan awal

= elevasi tanah awal (elevasi bawah pipa keadaan awal


pondasi pasir bawah pipa)
= 3,4 m (2,25 m 0,1 m) = 1,25 m

Keadaan akhir

= elevasi tanah akhir (elevasi bawah pipa akhir pondasi pasir


bawah pipa)
= 3,2 m (2,13 m 0,1 m) = 1,175 m 7m, sehingga tidak
dilakukan pemasangan pompa.

Berikut merupakan tabel perhitungan kedalaman penanaman pipa untuk jalur lainnya.

18

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Tabel 4.3 Perhitungan Kedalaman Penanaman Pipa Air Limbah


No

Jalur

Headloss

Elevasi atas pipa

Elevasi bawah

Pondasi Pasir

Kedalaman

Pipa

(m)

(m)

pipa (m)

Bawah Pipa (m)

Penanaman (m)

Awal

Akhir

Awal

Akhir

Awal

Akhir

AB

0,125

2,4

2,28

2,25

2,13

0,1

1,250

1,175

BC

0,145

2,2

2,06

2,05

1,91

0,1

1,250

1,195

CE

0,505

2,0

1,50

1,85

1,35

0,1

1,250

1,355

Aa

0,237

2,4

2,16

2,25

2,01

0,1

1,250

0,787

Bb

0,237

2,2

1,96

2,05

1,81

0,1

1,250

0,987

Ee

0,344

1,6

1,26

1,40

1,06

0,1

1,300

1,444

C IPAL

0,880

2,0

1,12

1,85

0,97

0,1

1,250

1,930

Sumber: Hasil Perhitungan

Tabel 4.4 Perhitungan Jumlah Manhole yang Digunakan


N
o

Jalur

Panjang

Jarak Antar

Manhole yang digunakan

Jumlah

Pipa

Pipa

terpakai

Manhole

(m)

(mm)

(m)

Lurus

Belokan

Pertigaan

Perempatan

manhole

A-B

25

150

25

B-C

29

150

25

C-E

101

150

25

A-a

237

150

25

B-b

237

150

25

E-e

344

200

25

13

13

C-IPAL

88

150

25

Sumber: Hasil Perhitungan

19

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB V
DETAIL ENGINEERING DESIGN
ANAEROBIC BAFFLED REACTOR (ABR)
5.1

Gambaran Umum Anaerob Baffled Reactor (ABR)

Dalam pengolahan air limbah, perlu direncanakan suatu unit pengolahan dan pengelolaaan air
limbah domestik sehingga effluen yang akan dibuang ke dalam badan air sudah memenuhi baku mutu
yang tersedia, seperti tercantum pada Lampiran Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun
2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik.
Unit IPAL yang direncanakan adalah Anaerobic Baffled Reactor (ABR). Pada dasarnya, ABR
merupakan pengembangan dari reaktor upflow anaerobic sludge blanket (UASB). Menurut McCarty dan
Bachmann (1992), dalam Barber dan Stuckey, 1999, ABR adalah reaktor yang menggunakan serangkaian
dinding (baffle) untuk membuat air limbah yang mengandung polutan organik untuk mengalir di bawah
dan ke atas (melalui) dinding dari inlet menuju outlet. Pengolahan limbah cair secara biologi anaerob
memiliki keuntungan antara lain tidak memerlukan oksigen, sederhana dalam konstruksi dan
operasionalnya, bangunan kompak, produksi lumpur lebih sedikit, tingkat efisiensi pengolahan lebih
tinggi, biaya operasi dan pemeliharaan rendah dan mampu menghasilkan biogas (Hermana, 2008). Selain
itu juga sesuai untuk beban organik tinggi, kemampuan penyisihan patogen tinggi dan konsumsi energi
rendah (Noykova, 2002).
ABR terdiri dari beberapa zona antara lain:
1. Zona settling
2. Zona stabilisasi
3. Zona lumpur
5.2

Kriteria Desain Anaerob Baffled Reactor (ABR)


Adapun kriteria desain ABR berdasarkan Sasse (1998) adalah sebagai berikut.

Rasio SS/COD

: 0,35 0,45

HRT di bak pengendap

: 2 jam

Velocity uplow

: 1,4 2 m/jam

Panjang kompartemen

: <50% - 60% dari tingginya

Organic loading

: <3 kg COD/m3.hari

20

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

HRT

Volume lumpur pada bak pengendap 4 L/m3 BOD5 dan pada tangki pertama 1,4 L/m3

: 8 jam

BODrem
5.3

2015

Perhitungan Unit Anaerob Baffled Reactor (ABR)

Diketahui :
Jumlah Penduduk

= 450 jiwa (total 3 ABR)

BODinf

= 250

BOD/COD

= 0,69

TSS

= 200 mg/L

CODinf

= 362,32 mg/L

Direncanakan :
Waktu Pengaliran

= 24 jam

Waktu Pengurasan Lumpur = 18 bulan


Jumlah ABR

= 3 unit

H ABR

=3m

Dihitung
CODout bak pengendap

= CODinf x (1-% CODpenyisihan)


= 362,32 x (1-0,25)
= 271 mg/L

BODout bak pengendap

= BODinf x (1-% BODpenyisihan)


= 250 x (1-0,25)
= 187,5 mg/L

CODout ABR

= CODout di bak pengendap x (1-% CODpenyisihan )


= 271 x (1-0,75)
= 67,9 mg/L

BODout ABR

= BODout di bak pengendap x (1-% BODpenyisihan)


= 187,5 x (1-0,7)
= 56,25 mg/L

Perhitungan dimensi bak pengendap:

21

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Zona Settling
Q

=127,5 L/orang.hari

Jumlah penduduk (P)

= 150 jiwa

Td limbah tercampur

= 1.5 0.3 log P x Q


= 1.5 0.3 log (150x127,5)
= 0,22 hari

fp

[(18 ( p ^0.5)]
(4 p)^0.25

= 2,44
Volume settling

= Q x td x fp
= 127,5 x 0,22 x 2,44
= 10,05 m3

Ditetapkan H = 1,5 m dengan perbandingan p:l yaitu 2:1


As

Volume
H
= 10,05 m3/1,5 m
= 6,69 m

Lebar

As
2
= 1,49 m

Panjang

= 2 x lebar
= 2,99 m

Zona Stabilisasi
Volume stabilisasi

= Rs x P
= 0,0425 x 150
= 6,375 m3

Hst

Volume
As
= 0,95 m

Zona Lumpur
Volume lumpur

22

=SxNxP

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

= 9 m3
HL

Volume
As
= 1,34 m

Total
Htotal

= Hs + Hst +HL
= 3,8 m

Hinlet

= Htotal + H fb
= 4,1 m

Perhitungan kompartemen:
Jumlah kompartemen
Lebar kompartemen

= 1,49 m

Houtlet

= 4,4 m

Panjang kompartemen

= 0,5 H
= 2,20 m

Volume kompartemen

=pxlxh
= 14,43 m3

Jumlah kompartemen (n)

= (Vol ABR Vol settling)/ Vkompartemen


= 3 buah

Dimensi Outlet kompartemen:


Kecepatan outflow
Debit

= 0,8 m/jam
=PxQ
= 127,5 L/orang. hari x 150 orang x 86400/1000
= 0,00021 m3/detik

A outlet

= Q/v outflow
= (0,00021 m3/detik) / (0,00022 m2)
= 0,9960 m2

Tinggi bukaan outlet

= Aoutlet/W outlet
= 0,9960 m2/ 2 m
= 0,498 m

H celah

= Aoutlet/Panjang kompartemen
= 0,67 m

23

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Cd

= 0,3

= 1[{Cd (2g)0.5) Aoutlet)2]


= 0,57

Hf

= kQ2
= 0,000000028 m

Dimensi Pipa Outlet:


Kekasaran pipa (n)

= 0,013

Slope pipa (n)

= 0,005

Dimensi pipa

= [(Qxn)/(3.14 x s0.5 x R2/3)]0.5


= 5 cm

24

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB VI
ALTERNATIF PENGOLAHAN
INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA

6.1

Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)

Pengolahan air limbah dengan menggunakan sistem setempat memerlukan pengurasan yang
dilakukan secara berkala. Pengurasan lumpur di dalam tangki dilakukan dengan menggunakan truk tinja
untuk selanjutnya dibawa ke instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).
Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) adalah instalasi pengolahan air limbah yang dirancang
hanya menerima dan mengolah lumpur tinja melalui mobil (truk tinja). Pengolahan lumpur tinja di IPLT
merupakan pengolahan lanjutan karena lumpur tinja yang telah diolah pada sistem IPAL Komunal
sebelumnya belum layak dibuang ke lingkungan. Lumpur tinja yang terakumulasi di cubluk dan tangki
septik yang secara reguler dikuras atau dikosongkan kemudian diangkut ke IPLT. Lumpur akan diolah
sehingga menjadi lumpur kering yang disebut dengan cake dan air olahan yang sudah aman untuk
dibuang ataupun dimanfaatkan kembali. IPLT merupakan salah satu upaya terencana untuk meningkatkan
pengolahan dan pembuangan limbah yang memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan.
Pengolahan lumpur tinja dilakukan dengan dua tujuan utama yaitu:
1. Menurunkan kandungan zat organik dari dalam lumpur tinja.
2. Menghilangkan atau menurunkan kandungan mikroorganisme patogen (bakteri, virus, jamur
dan lain sebagainya)
Dalam perencanaan ini, IPLT direncanakan melayani 100% penduduk di kota Surabaya, bukan
hanya di kecamatan Gayungsari saja. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas truk tinja
(5m3) yang dianggap cukup untuk melayani satu kota. IPLT harus terus beroperasi, karenanya satu buah
IPLT sebaiknya melayani satu kota dengan sistem pengurasan lumpur yang beragam agar IPLT dapat
beroperasi terus-menerus setiap harinya. Dalam perencanaan ini, IPLT diletakkan berdekatan dengan
lokasi IPAL komunal untuk memudahkan perpindahan lumpur tinja dari ABR ke lokasi IPLT.
Berdasarkan data Tugas Besar Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat Kota Surabaya,
IPLT direncanakan melayani 130.000 orang. Karakteristik lumpur yang masuk ke IPLT (berdasarkan
sumber materi diseminasi Bintek PLP tahun 2012) adalah sebagai berikut:
-

25

Laju/kapasitas lumpur tinja sebesar 0,5 L/orang/hari

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

6.2

BOD

= 5.000 mg/L

TS

= 40.000 mg/L

TVS

= 2.500 mg/L

TSS

= 15.000 mg/L

2015

Alternatif Pengolahan
Dengan memperhatikan karakteristik dan standar kualitas air limbah, serta mempelajari alternatif

pengolahan yang ada maka selanjutnya dapat dibuat tiga alternatif pengolahan yang dapat digunakan pada
perencanaan ini. Berikut adalah beberapa macam rangkaian proses pengolahan yang direncanakan.
Alternatif Pengolahan I

Kolam Anaerobik I

SSC

Kolam Maturasi

Kolam Fakultatif II

Kolam Anaerobik II

Kolam Fakultatif I

Alternatif Pengolahan II

SSC

Kolam Anaerobik I

Kolam Fakultatif I

Kolam Maturasi

Kolam Fakultatif II

Kolam Anaerobik I

Kolam Anaerobik II

Alternatif Pengolahan III

SSC

Kolam Maturasi

26

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Kolam Fakultatif I

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat

2015

Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

Berdasarkan perencanaan diagram alir di atas, maka dapat ditentukan hasil perhitungan removal
tiap-tiap alternatif. Tabel berikut ini menyajikan hasil removal di tiap bangunan.

Tabel 6.1 Perhitungan Removal Alternatif I


Bangunan

% Bod

BOD inlet

BOD Outlet

% TSS

TSS Inlet

TSS outlet

Removal

(mg/l)

(mg/l)

removal

(mg/l)

(mg/l)

5000

5000

85

15000

2250

Kolam Anaerobik I

75

5000

1250

60

2250

900

Kolam Anaerobik II

75

1250

312,5

60

900

360

Kolam Fakultatif I

80

480

96

60

960

192

Kolam Fakultatif II

80

96

19,2

80

192

38,4

Kolam Maturasi

80

19,2

3,84

38,4

38,4

SSC

Sumber: Hasil Perhitungan


Tabel 6.2 Perhitungan Removal Alternatif II
Bangunan

% Bod

BOD inlet

BOD Outlet

% TSS

TSS Inlet

TSS outlet

Removal

(mg/l)

(mg/l)

removal

(mg/l)

(mg/l)

5000

5000

85

15000

2250

Kolam Anaerobik I

60

5000

2000

60

2250

900

Kolam Fakultatif I

80

1200

480

60

2400

960

Kolam Fakultatif II

80

480

96

80

960

192

Kolam Maturasi

80

96

19,2

192

192

SSC

Sumber: Hasil Perhitungan

Tabel 6.3 Perhitungan Removal Alternatif III


Bangunan

% Bod

BOD inlet

BOD Outlet

% TSS

TSS Inlet

TSS outlet

Removal

(mg/l)

(mg/l)

removal

(mg/l)

(mg/l)

5000

5000

85

15000

2250

Kolam Anaerobik I

75

5000

1250

60

2250

900

Kolam Anaerobik II

75

1250

312,5

60

900

360

Kolam Fakultatif I

80

312,5

62,5

80

360

72

Kolam Maturasi

70

62,5

18,75

72

72

SSC

Sumber: Hasil Perhitungan

27

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Berdasarkan hasil perhitungan removal tiap alternatif diatas, dapat diketahui bahwa alternatif II
tidak memenuhi baku mutu. Sedangkan alternatif I dan III memenuhi baku mutu dengan nilai BOD outlet
sebesar 19,2 mg/l untuk alternatif I dan 18,75 mg/l untuk alternatif III, TSS outlet sebesar 38,4 mg/l untuk
alternatif I dan 72 mg/l untuk alternatif III. Dalam perencanaan ini dipilih alternatif III karena effluen
yang dihasilkan sudah memenuhi baku mutu dan alternatif III menghabiskan biaya yang lebih sedikit
daripada alternatif I yang menggunakan 2 buah kolam anaerobik dan 2 buah kolam fakultatif.

28

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB VII
DETAIL ENGINEERING DESIGN
INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA

7.1

Solid Separation Chamber (SSC)


Unit Solid Separation Chamber (pemisah lumpur) berfungsi untuk menampung endapan lumpur.

Unit ini biasa digunakan dalam proses pengolahan di IPLT secara konvensional. SSC terdiri dari beberapa
lapisan yaitu pasir, gravel dan perforated wall. Pasir berfungsi sebagai media penyaring untuk
memisahkan cairan dan padatan pada lumpur. Supernatan (cairan yang telah terpisah dari padatan) hasil
proses pengeringan lumpur ditampung pada saluran drainase yang berada di bawah bak pemisah lumpur
untuk selanjutnya disalurkan menuju ke kolam anaerobik.
Selanjutnya, hasil cake yang terbentuk dari unit pengolahan ini disalurkan ke SDB (bila solid 10
20%) dan dibawa ke dumping area (bila solid >20%). Dalam perencanaan ini tidak digunakan SDB
karena lumpur yang terbentuk hanya sedikit, sehingga dilakukan pengolahan kembali dalam SSC dengan
proses resirkulasi. SSC dapat meremove kekeruhan antara 50-90% (Metcalf & Eddy,1993).
-

Kriteria Perencanaan SSC


H lumpur tinja
Freeboard

= 0,3 m
= 0,5 m

Solid content

= 20%

H Pasir

= 0,2 m

H gravel

= 0,2 m

Waktu pengisian

= 5 hari

P:L

=2:1

TS

= 40000 mg/l

= 65 m3/hari

Perhitungan
Dry solid product = TS x Q
= 2600 kg/hari
Vol solid product = 2063,49 l = 2,1 m3/hari
Vol cake product

= (2,1 m3/hari x 100) : 20%


= 10,3 m3/hari

29

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Volume cake 5 hari

2015

= 5 x 10,3 m3/hari
= 52 m3/hari

As

= Vol / h
= 172 m2

P:L

=2:1

= 9,3 m

= 18,5 m

H total

= 1,2 m

Volume total

= Vol cake/20%
= 51,5873 m3

Volume air

= Vol total vol cake


= 41 m3

7.2

Kolam Anaerobik
Kolam anaerobik berfungsi untuk menguraikan kandungan zat organik (BOD) dan padatan

tersuspensi (SS) dengan cara anaerobik atau tanpa oksigen. Kolam dapat dikondisikan menjadi anaerobik
dengan cara menambahkan beban BOD yang melebihi kemampuan fotosintesis secara alami dalam
memproduksi oksigen (Benefield & Randall. 1980). Kolam anaerobik biasanya digunakan sebagai
pengolahan pendahuluan dan cocok untuk air limbah dengan konsentrasi BOD yang tinggi. Kolam
anaerobik diletakkan sebelum kolam fakultatif karena kolam ini berfungsi sebagai pengolahan
awal/pendahuluan. Selain itu, reaksi penguraian (degradasi) yang terjadi di dalam kolam anaerobik lebih
cepat terjadi pada wilayah panas. Oleh karena itu, kolam anaerobik cocok diaplikasikan di Indonesia
engingat temperatur yang tinggi dan relatif konstan setiap tahun.
Lumpur tinja tergolong high strength wastewater yang cocok diolah dengan menggunakan kolam
anaerobik. Penurunan konsentrasi material organik terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas mikroba
yang memproduksi biogas dan lumpur. Lumpur yang terbentuk merupakan hasil dari pemisahan padatan
yang terlarut dalam influen yang kemudian akan mengendap pada bagian dasar kolam. Selanjutnya,
material organik yang masih tersisa akan diuraikan lebih lanjut.
Kelebihan dari kolam anaerobik diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Dapat membantu memperkecil dimensi/ukuran kolam fakultatif dan maturasi
2. Dapat mengurangi penumpukan lumpur pada unit pengolahan berikutnya
3. Biaya operasional murah
4. Mampu menerima limbah dengan konsentrasi yang tinggi

30

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Kekurangan dari kolam anaerobik diantaranya adalah sebagai berikut:


1. Menimbulkan bau yang dapat mengganggu
2. Proses degradasi berjalan lambat
3. Memerlukan lahan yang luas
Berdasarkan hasil perhitungan pada bab sebelumnya, dalam perencanaan ini akan digunakan 2
buah kolam anaerobik agar dapat mendegradasi kontaminan sehingga menghasilkan kualitas efluen yang
sesuai dengan baku mutu. Berikut merupakan kriteria perencanaan dan tahapan perhitungan kolam
anaerobik.

Tabel 7.1 Acuan Kriteria Perencanaan Kolam Anaerobik

Kriteria Perencanaan Kolam Anaerobik I


H kolam

=5m

Freeboard = 0,4 m

P:L

=2:1

OLR

= 500 gBOD/m3.hari

BOD removal

= 75%

= 65 m3/hari

Perhitungan
As

= Q x BV / h
= 65 m3/hari x 5000:500 / 5 m
= 130 m2

P:L

31

=2:1

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
L

=8m

= 16 m

Volume

2015

= 16 m x 8 m x 5 m
= 650 m3

Waktu detensi

= Vol / Q
= 10 hari

BOD yang tersisa = (100-75)% x 5000


= 1250 mg/l

Kriteria Perencanaan Kolam Anaerobik II


H kolam

=5m

Freeboard = 0,4 m

P:L

=2:1

OLR

= 500 gBOD/m3.hari

BOD removal

= 75%

BOD in

= 1250 mg/l

= 65 m3/hari

Perhitungan
As

= Q x BV / h
= 65 m3/hari x 1250:500 / 5 m
= 33 m2

P:L

=2:1

=4m

=8m

Volume

=8mx4mx5m
= 163 m3

Waktu detensi

= Vol / Q
= 2,5 hari

7.3

Kolam Fakultatif
Kolam fakultatif berfungsi untuk menguraikan dan menurunkan konsentrasi bahan organik yang

ada di dalam limbah yang telah diolah pada kolam anaerobik. Proses yang terjadi pada kolam fakultatif
adalah campuran antara proses anaerob dan aerob. Secara umum, kolam fakultatif dibagi menjadi tiga

32

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

zona atau lapisan yang memiliki kondisi dan proses degradasi yang berbeda. Lapisan paling atas disebut
dengan zona aerobik karena pada bagian atas kolam ini kaya akan oksigen. Kedalaman zona aerobik ini
sangat bergantung pada beban yang diberikan pada kolam, iklim, banyaknya sinar matahari, angin dan
jumlah algae yang berkembang didalamnya. Oksigen yang berlimpah berasal dari udara di permukaan
kolam, proses fotosintesis algae dan adanya agitasi atau pengadukan akibat tiupan angin. Zona aerobik
juga berfungsi sebagai penghalang bau hasil produksi gas dari aktivitas mikroba pada zona dibawahnya.
Zona tengah kolam disebut dengan zona fakultatif atau zona aerobik-anaerobik. Pada zona ini,
kondisi aerob dan anaerob ditemukan bergantung pada jenis mikroba yang tumbuh.Zona paling bawah
disebut dengan zona anaerobik dimana oksigen sudah tidak ditemukan lagi. Pada zona ini ditemukan
lapisan lumpur yang terbentuk dari padatan yang terpisahkan dan mengendap pada dasar kolam. Proses
degradasi material organik dilakukan oleh bakteri dan organisme mikroskopis (protozoa, cacing dan lain
sebagainya).
Kelebihan dari kolam fakultatif diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sangat efektif menurunkan jumlah atau konsentrasi bakteri patogen hingga (60-99%)
2. Mampu menghadapi beban yang berfluktuasi
3. Operasi dan perawatan mudah sehingga tidak memerlukan keahlian tinggi
4. Biaya operasi dan perawatan murah
Kekurangan dari kolam fakultatif diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Memerlukan luas lahan yang besar
2. Waktu tinggal yang lama
3. Jika tidak dirawat dengan baik kolam bisa menjadi sarang serangga seperti nyamuk
4. Berpotensi mengeluarkan bau
5. Memerlukan pengolahan lanjutan terutama akibat pertumbuhan algae pada kolam
Berikut merupakan kriteria perencanaan dan tahapan perhitungan kolam fakultatif.

Tabel 7.2 Acuan Kriteria Perencanaan Kolam Fakultatif

33

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

Kriteria Perencanaan Kolam Fakultatif


H kolam

=2m

Freeboard = 0,4 m

P:L

=2:1

OLR

= 40 gBOD/m3.hari

BOD removal

= 80%

BOD in

= 312,5 mg/l (<400 mg/l)

= 65 m3/hari

Perhitungan
Td

= 11,7 hari

Volume

= Q x td
= 65 m3/hari x 11,7 hari
= 762 m3

As

= Vol / h
= 762 m3/hari / 5 m
= 381 m2

P:L

=2:1

= 13,8 m

= 28 m

BOD remove

= 80% x BOD in
= 250 mg/l

34

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BOD yang tersisa = 63 mg/l

7.4

Kolam Maturasi
Kolam maturasi digunakan untuk mengolah limbah yang berasal dari kolam fakultatif dan

biasanya disebut sebagai kolam pematangan. Kolam ini merupakan rangkaian akhir dari proses
pengolahan air limbah sehingga dapat menurunkan konsentrasi padatan tersuspensi (SS) dan BOD yang
masih tersisa didalamnya. Fungsi utama kolam maturasi adalah untuk menghilangkan mikroba patogen
yang terdapat didalam limbah melalui perubahan kondisi yang berlangsung dengan cepat serta pH yang
tinggi. Proses degradasi terjadi secara aerobik melalui kerjasama antara mikroba aerobik dan algae. Alga
melakukan fotosintesis membantu meningkatkan konsentrasi oksigen di dalam air olahan yang digunakan
oleh mikroba aerob. Kolam maturasi dirancang untuk mengolah limbah dengan konsentrasi yang jauh
lebih rendah dibandingkan konsentrasi limbah awal saat masuk ke IPLT.
Kelebihan dari kolam maturasi diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Biaya operasi rendah karena tidak menggunakan aerator
2. Mampu menyisihkan nitrogen hingga 80%
3. Mampu menyisihkan mikroba patogen
Kekurangan dari kolam maturasi diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Hanya mampu menyisihkan BOD dengan konsentrasi relatif kecil
Berikut merupakan kriteria perencanaan dan tahapan perhitungan kolam fakultatif.
Tabel 7.3 Acuan Kriteria Perencanaan Kolam Maturasi

35

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
-

Kriteria Perencanaan Kolam Maturasi


H kolam

= 1,25 m

Freeboard = 0,3 m

P:L

=2:1

OLR

= 40 gBOD/m3.hari

BOD removal

= 70%

= 65 m3/hari

Perhitungan
Td

= 0,2 hari

Volume

= Q x td
= 65 m3/hari x 0,2 hari
= 10 m3

As

= Vol / h
= 10 m3/hari / 1,25 m
= 8 m2

P:L

=2:1

=2m

=4m

H total

= 1,6 m

BOD remove

= 70% x BOD in
= 44 mg/l

BOD yang tersisa = 19 mg/l

36

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

BAB VIII
BILL OF QUANTITY (BOQ)

BOQ atau Bill of Quantity merupakan perincian dari seluruh peralatan dan pekerjaan yang
dibutuhkan di dalam perencanaan bangunan pengolahan air limbah setempat Kota Surabaya
8.1

BOQ SPAL

8.1.1

BOQ Perpipaan
Dalam perencanaan ini digunakan pipa PVC. Setiap batang pipa PVC memiliki panjang 4 m.

Berikut merupakan rincian perpipaan yang digunakan dalam perencanaan ini.


Tabel 8.1 Perhitungan Panjang Tiap Segmen Pipa
No

Jalur
pipa

Jenis Pipa

L pipa
(m)

D (m)

L pipa tiap

Jumlah

batang (m)

Pipa (buah)

A-B

Primer

25

0,15

B-C

Primer

29

0,15

C-E

Primer

101

0,15

25

A-a

Sekunder

237

0,15

59

B-b

Sekunder

237

0,15

59

E-e

Sekunder

344

0,20

86

C-IPAL

Primer

88

0,15

22

Sumber: Hasil Perhitungan


8.1.2

BOQ penggalian pipa normal


Penggalian pipa direncanakan pada keadaan tanah stabil (normal) seperti gambar 8.1. Penanaman

pipa dari muka tanah direncanakan sesuai dengan diameter pipa yang dapat dilihat pada gambar berikut.

37

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Gambar 8. 1 Galian Normal Pipa Penyalur Air Limbah


Adapun nilai a,b,c,d dan w telah diatur dalam standar Departemen Pekerjaan Umum yang dapat
dilihat melalui tabel berikut.

Tabel 8.2 Standar Urugan Galian yang Diperkenankan


D

Abcd

(mm)

(cm)

(cm)

(cm)

(cm)

(cm)

50-100

100-115

55-60

65-75

15

15

150-200

120-125

65-70

75

15

15

250-300

130-135

75-80

75

15

15

350-400

140-150

85-95

75

15

15

500-600

160-170

100-110

75

15

15

600-700

180-190

120-130

75

15

15

700-900

190-200

140-150

75

15

15

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum

Tabel 8.3 Dimensi Saluran yang Direncanakan


D

(mm)

(m)

(m)

(m)

100-350

0,15

0,15

350-500

1,2

0,15

0,15

500-1000

1,5

0,2

0,2

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum

38

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Tabel 8.4 Dimensi Saluran yang Terpakai
No

Jalur pipa

D (mm)

a (m)

b (m)

c (m)

A-B

150

0,15

0,15

B-C

150

0,15

0,15

C-E

150

0,15

0,15

A-a

150

0,15

0,15

B-b

150

0,15

0,15

E-e

200

0,15

0,15

C-IPAL

150

0,15

0,15

Sumber : Hasil Perhitungan

h1

y1

Ld

y2

y1

h2

Volume II

Volume I

Gambar 8. 2 Bentuk Galian yang direncanakan Sepanjang Saluran


Perhitungan BOQ untuk galian pipa adalah sebagai berikut:

D = diameter pipa.

h = kedalaman penanaman pipa.

h1 = kedalaman penanaman pipa awal.

h2 = kedalaman penanaman pipa akhir.

y = kedalaman galian = h + D + c.

y1 = kedalaman galian awal.

y2 = kedalaman galian akhir.

39

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

x = y2 - y1, z = ( (y12) + (L pipa2) )1/2

Volume galian I

= 0,3 2 D y1 Ld

Volume galian II

= 1

Volume galian total = Volume galian I + Volume galian II

Volume pipa

Volume urugan pasir = [D + (0,3 x 2)] x (b + D + c) x Ld Volume pipa.

Volume Sisa Tanah Galian = Volume galian total Volume urugan pasir

0,3 2 D x Ld

1
D 2 Ld
4

Contoh perhitungan BOQ galian pipa pada saluran A-B adalah sebagai berikut:

1. D = 150 mm = 0,15 m
2. Panjang saluran = L pipa = 25 m
3. h1 = 1,25 m, h2 = 1,175 m
4. y1 = h1 + D + c = 1,25 + 0,15 + 0,15 = 1,55 m
5. y2 = h2 + D + c = 1,175 + 0,15 + 0,15 = 1,475 m
6. x = y2 y1 = 0,075 m
7. z = 25,048 m
8. Volume galian I

= 0,3 2 D y1 Z
= 29,063 m3

1
9. Volume galian II

0,3 2 D x Ld

= 0,7 m3
10 Volume galian total

= Volume galian I + Volume galian II


= 329,766 m3

11. Volume pipa

1
D 2 Psaluran
= 4
= 0,44 m3

12. Volume urugan pasir


= [(D + (0,3 x 2)) x (b + D + c) x Ld] Volume Pipa

40

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

2015

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

= [(0,15+ (0,3 x 2)) x (0,15 + 0,15 + 0,15) x 25] (0,44)


= 8,438 m3
13. Volume Sisa Tanah Galian = Volume galian total Volume urugan pasir
= 21,328 m3

Untuk perhitungan BOQ galian dan urugan pipa pada saluran selanjutnya dapat dilihat pada tabel
berikut.

41

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Tabel 8.4 BOQ Galian dan Urugan Pipa


No

Jalur

Panjang

pipa

Pipa

(m)

Kedalaman
Awal h1 (m)

Akhir h2 (m)

Kedalaman Galian
Awal y1 (m)

Akhir y2 (m)

Volume galian (m)


I

II

(m)

Volume

Volume

Volume

urugan

sisa

total

pasir

tanah

(m)

(m)

galian

galian

Volume pipa
(m)

(m)
1

A-B

25

0,15

1,250

1,175

1,550

1,475

0,075

25,048

29,063

0,703

29,766

0,442

8,438

21,328

B-C

29

0,15

1,250

1,195

1,550

1,495

0,055

29,041

33,713

0,598

34,311

0,512

9,788

24,523

C-E

101

0,15

1,250

1,355

1,550

1,655

0,105

101,012

117,413

3,977

121,389

1,784

34,088

87,302

A-a

237

0,15

1,250

0,787

1,550

1,087

0,463

237,005

275,513

41,149

316,662

4,186

79,988

236,674

B-b

237

0,15

1,250

0,987

1,550

1,287

0,263

237,005

275,513

23,374

298,887

4,186

79,988

218,899

E-e

344,4

0,20

1,300

1,444

1,650

1,794

0,144

344,404

454,608

19,893

474,501

10,814

137,760

336,741

C-IPAL

88

0,15

1,250

1,930

1,550

2,230

0,680

88,014

102,300

22,440

124,740

1,554

29,700

95,040

Sumber: Hasil Perhitungan

42

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

8.1.3

2015

Bill Of Quantity Tenaga Kerja Dan Peralatan

Volume pekerjaan dihitung berdasarkan pada kemampuan pekerja dalam menyelesaikan


pekaerjaannya dalam satuan per meter. Penggalian lahan dan pembuatan saluran diperlukan tenaga kerja
dengan ketentuan sebagai berikut.
Tabel 8. 5 Ketentuan Jumlah Pekerja
No
1

Bidang

indeks satuan (oh)

Penggalian tanah
kuli / tenaga lapangan

0,75

mandor / tenaga pengawas

0,025

pengurugan pasir
kuli / tenaga lapangan

0,3

mandor / tenaga pengawas

0,01

pembuangan sisa tanah galian


kuli / tenaga lapangan

0,33

mandor / tenaga pengawas

0,03

truk / buah

10 m
Sumber : SNI DT 91 0006 200

Contoh perhitungan BOQ galian pipa pada saluran A-B adalah sebagai berikut:

Volume Galian Total

= 29,766 m3

Volume Urugan pasir

= 8,438 m3

Volume Sisa Tanah Galian

= 21,328 m3

Panjang Pipa

= 25 m

BOQ Tenaga Kerja untuk Galian dan Urugan Pipa


a.

Untuk penggalian tanah


Tenaga lapangan atau Kuli
Mandor atau Tenaga Pengawas

= 29,766 m3 x 0,75 oh = 22 oh
= 29,766 m3 x 0,025 oh = 1 oh

b. Untuk pengurugan pasir


Tenaga lapangan atau Kuli
Mandor atau Tenaga Pengawas

43

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

= 8,438 m3 x 0,3 oh = 3 oh
= 8,438 m3 x 0,01 oh = 1 oh

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
c.

2015

Untuk pembuangan sisa galian tanah


Tenaga lapangan atau Kuli
Mandor atau Tenaga Pengawas

= 21,328 m3 x 0,330 oh = 7 oh
= 21,328 m3 x 0,01 oh = 1 oh

BOQ Peralatan untuk Galian dan Urugan Pipa

a.Jumlah unit Truk

= 2 buah

Perhitungan volume pekerjaan dan peralatan selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut.

44

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Tabel 8.6 BOQ Tenaga Kerja dan Peralatan untuk Galian dan Urugan Pipa
No

Jalur

Panjang

Volume

Jumlah

Jumlah

Volume

Jumlah

Jumlah

Volume

Jumlah

Jumlah

pipa

pipa (m)

galian

tenaga

tenaga

urugan

tenaga

tenaga

sisa tanah

tenaga

tenaga

total (m)

lapangan

pengawas

pasir

lapangan

pengawas

galian

lapangan

pengawas

(oh)

(oh)

(m)

(oh)

(oh)

(m)

(oh)

(oh)

Jumlah truk

unit

A-B

25

29,766

22

8,438

2,53125

21,328

B-C

29

34,311

26

9,788

2,93625

24,523

C-E

101

121,389

91

34,088

10,22625

87,302

29

A-a

237

316,662

237

79,988

23,99625

236,674

78

24

B-b

237

298,887

224

79,988

23,99625

218,899

72

22

E-e

344,4

474,501

356

12

137,760

41,328

336,741

111

34

C-IPAL

88

124,740

94

29,700

8,91

95,040

31

10

Sumber: Hasil Perhitungan

45

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
8.2

2015

BOQ IPAL Komunal


Dalam perencanaan ini, ABR berjumlah 3 buah. Berikut merupakan hasil perhitungan BOQ ABR

tiap-tiap unitnya meliputi penggalian tanah, urugan pasir dan tanah dan pembetonan yaitu:
Dimensi ABR
Panjang

= 5,9 m

Lebar

= 2,9 m

Kedalaman

=3m

Freeboard

= 0,3 m

Volume

= 56,463 m3

Volume galian tanah ABR


P

= Panjang + 2 m + 10 m
= 17,9 m

= Lebar + 2 m + 10 m
= 14,9 m

= Kedalaman + 2 m + 10 m
= 15,3 m

Volume penggalian 1 ABR

= 4080,663 m3

Pekerjaan Urugan Pasir


A1

= 5,9 m + 2 m + 10 m

= 17,9 m

A2

= 2,9 m + 2 m + 10 m

=14,9 m

Tebal urugan pasir

=1m

Volume urugan pasir 1 ABR

= 266,71 m3 - 56,463 m3
= 210,247 m3

Pekerjaan Beton Lantai Kerja


Tebal lantai kerja
Luas dasar ABR

= 0,3 m
= 17,11 m2

Volume beton lantai kerja 1 ABR

= 5,133 m3

Pekerjaan Urugan Tanah


Volume galian tanah

= 4080,663 m3

Volume ABR

= 56,463 m3

46

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Volume beton lantai kerja 1 ABR

= 5,133 m3

Volume urugan pasir 1 ABR

= 210,247 m3

2015

Volume tanah urugan pasir 1 ABR


= Vol galian tanah (Vol ABR + Vol beton lantai kerja + Vol urugan pasir)
= 3808,82 m3

Pekerjaan Tanah Buangan


Volume urugan pasir 1 ABR

= 210,247 m3

Volume beton lantai kerja 1 ABR

= 5,133 m3

Volume tanah dibuang

= 215,38 m3

Pekerjaan Beton Lantai ABR


Tebal lantai 1 ABR

=1m

Luas dasar 1 ABR

= 17,11 m2

Volume beton lantai 1 ABR

= 17,11 m3

Pekerjaan Beton Spesi Dinding


Tebal dinding

=1m

Luas dinding 1 ABR

= (2 x 5,9 x 2,9) + (2 x 2,9 x 3,3)


= 52,78 m2

Volume spesi dinding 1 ABR

= 52,78 m3

Pekerjaan Beton Atap ABR


Tebal atap

= 0,15 m

Luas atap 1 ABR

= 17,11 m2

Volume beton atap 1 ABR

= 2,56 m3

Pekerjaan Pembesian
Berat Besi Lantai
Berat besi lantai adalah berat besi yang ada pada beton ABR, dengan asumsi bahwa pada setiap 1
m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:

47

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Berat besi lantai = Volume beton lantai x 150 kg/m3


= 17,11 m3 x 150 kg/m3
= 2566,5 kg
Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka
= 2566,5 kg : 200 kg
= 12,8

Berat Besi Dinding


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton dinding ABR, dengan asumsi bahwa
pada setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi dinding

= Volume beton dinding x 150 kg/m3


= 52,78 m3 x 150 kg/m3
= 7917 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 7917 kg : 200 kg
= 39,5

Berat Besi Atap


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton atap ABR, dengan asumsi bahwa pada
setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi atap

= Volume beton atap x 150 kg/m3


= 2,56 m3 x 150 kg/m3
= 384 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 384 kg : 200 kg
= 1,92

Hasil perhitungan BOQ ABR dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8.7 Hasil Perhitungan BOQ ABR


No

48

Uraian pekerjaan

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Material

Satuan

Jumlah

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
A

Pekerjaan galian

Penggalian tanah biasa


Urugan tanah

Urugan pasir

3
4

Pegangkutan tanah sejauh 30 m

Pekerjaan Lantai

Pek dan bhn beton lantai kerja

m3
tanah
pasir

4080,663

3808,82

210,247

m
m

2015

tanah dibuang

215,38

beton 1:3:5

m3

5,133

Pek dan bhn beton lantai ABR

beton 1:3:5

17,11

Pek dan bhn pembesian

besi/200kg

kg

12,8

Pekerjaan dinding dan sekat dinding

Pek dan bhn beton dinding

beton 1:3:5

m3

52,78

Pek dan bhn pembesian

besi/200kg

kg

39,5

Pekerjaan atap

Pek dan bhn beton atap

beton 1:3:5

m3

2,56

Pek dan bhn pembesian

besi/200kg

kg

1,92

Sumber: Hasil Perhitungan

49

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
8.3

2015

BOQ IPLT
Berikut merupakan hasil perhitungan BOQ tiap-tiap unitnya meliputi penggalian tanah, urugan

pasir dan tanah dan pembetonan.


Pekerjaan Galian
SSC
Panjang

18,54

Lebar

9,27

Kedalaman +

1,20

0,2

Free Board
Tebal Dinding

Jenis Pekerjaan

Volume (m3)

Luas(m2)

Pekerjaan Galian Tanah

619,047619

Pekerjaan Tanah Buangan

619,047619

Pekerjaan Beton Lantai

103,1746032

Pekerjaan Beton Spesi Dinding

11,03697281

Pekerjaan Beton atap

96,44441949

Volume Bekisting Lantai (25%)

20,63492063

Volume Bekisting untuk Dinding

8,829578244

96,44441949

Pekerjaan Galian SC

Pekerjaan beton SC

Pekerjaan Bekisting SC

(80%)
Volume Bekisting Atap (100%)

Sumber: Hasil Perhitungan


Pekerjaan Pembesian
Berat Besi Lantai
Berat besi lantai adalah berat besi yang ada pada beton kolam, dengan asumsi bahwa pada setiap
3

1 m beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:


Berat besi lantai = Volume beton lantai x 150 kg/m3
= 103,17 m3 x 150 kg/m3

50

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

= 15476,19 kg
Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka
= 15476,19 kg : 200 kg
= 72,3
Berat Besi Dinding
Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton dinding kolam, dengan asumsi bahwa
pada setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi dinding

= Volume beton dinding x 150 kg/m3


= 11,03 m3 x 150 kg/m3
= 1655,54 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 1655,54 kg : 200 kg
= 8,3
Berat Besi Atap
Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton atap kolam, dengan asumsi bahwa pada
setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi atap

= Volume beton atap x 150 kg/m3


= 96,44 m3 x 150 kg/m3
= 14466,66 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 14466,66 kg : 200 kg
= 77,4
Pekerjaan Galian
Kolam Anaerobik I
Panjang

16

Lebar

Kedalaman + Free

5,4

0,2

Board
Tebal Dinding

51

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Jenis Pekerjaan

Volume (m3)

2015

Luas(m2)

Pekerjaan Galian SC
Pekerjaan Galian Tanah

4212

Pekerjaan Tanah Buangan

4212

156

Pekerjaan Beton Spesi Dinding

100,4369767

Pekerjaan Beton atap

144,2823488

Pekerjaan beton SC
Pekerjaan Beton Lantai

Pekerjaan Bekisting SC
Volume Bekisting Lantai (25%)

31,2

Volume Bekisting untuk Dinding

80,34958136

144,2823488

(80%)
Volume Bekisting Atap (100%)

Sumber: Hasil Perhitungan


Pekerjaan Pembesian
Berat Besi Lantai
Berat besi lantai adalah berat besi yang ada pada beton SSC, dengan asumsi bahwa pada setiap 1
m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi lantai = Volume beton lantai x 150 kg/m3
= 156 m3 x 150 kg/m3
= 23400 kg
Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka
= 23400 kg : 200 kg
= 108,2

Berat Besi Dinding


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton dinding SSC, dengan asumsi bahwa
pada setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi dinding

= Volume beton dinding x 150 kg/m3


= 100,43 m3 x 150 kg/m3
= 15065,54 kg

52

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 15065,54 kg : 200 kg
= 75,3
Berat Besi Atap
Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton atap SSC, dengan asumsi bahwa pada
setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi atap

= Volume beton atap x 150 kg/m3


= 144,28 m3 x 150 kg/m3
= 21642,35 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 21642,35 kg : 200 kg
= 117
Pekerjaan Galian
Kolam Anaerobik II
Panjang

Lebar

4,031129

Kedalaman +

5,4

0,2

Free Board
Tebal Dinding

Jenis Pekerjaan

Volume (m3)

Luas(m2)

Pekerjaan Galian Tanah

1053

Pekerjaan Tanah Buangan

1053

39

Pekerjaan Beton Spesi Dinding

50,12848835

Pekerjaan Beton atap

33,08717442

Volume Bekisting Lantai (25%)

7,8

Volume Bekisting untuk Dinding

40,10279068

Pekerjaan Galian SC

Pekerjaan beton SC
Pekerjaan Beton Lantai

Pekerjaan Bekisting SC

53

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

(80%)
Volume Bekisting Atap (100%)

33,08717442

Sumber: Hasil Perhitungan


Pekerjaan Pembesian
Berat Besi Lantai
Berat besi lantai adalah berat besi yang ada pada beton kolam, dengan asumsi bahwa pada setiap
1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi lantai = Volume beton lantai x 150 kg/m3
= 39 m3 x 150 kg/m3
= 5850 kg
Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka
= 5850 kg : 200 kg
= 24,8

Berat Besi Dinding


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton dinding kolam, dengan asumsi bahwa
pada setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi dinding

= Volume beton dinding x 150 kg/m3


= 50,12 m3 x 150 kg/m3
= 7519,27 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 7519,27 kg : 200 kg
= 37,6

Berat Besi Atap


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton atap kolam, dengan asumsi bahwa pada
setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi atap

= Volume beton atap x 150 kg/m3


= 33,08 m3 x 150 kg/m3
= 4963,07 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka

54

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

= 4963,07 kg : 200 kg
= 29,3
Pekerjaan Penggalian
Kolam Fakultatif
Panjang

27,61

Lebar

13,80

2,40

0,2

Kedalaman + Free
Board
Tebal Dinding

Jenis Pekerjaan

Volume (m3)

Luas(m2)

Pekerjaan Galian Tanah

2743,951934

Pekerjaan Tanah Buangan

2743,951934

Pekerjaan Beton Lantai

228,6626611

Pekerjaan Beton Spesi Dinding

36,35273228

Pekerjaan Beton atap

218,6697342

Volume Bekisting Lantai (25%)

45,73253223

Volume Bekisting untuk Dinding (80%)

29,08218582

Volume Bekisting Atap (100%)

218,6697342

Pekerjaan Galian SC

Pekerjaan beton SC

Pekerjaan Bekisting SC

Sumber: Hasil Perhitungan


Pekerjaan Pembesian
Berat Besi Lantai
Berat besi lantai adalah berat besi yang ada pada beton kolam, dengan asumsi bahwa pada setiap
3

1 m beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:


Berat besi lantai = Volume beton lantai x 150 kg/m3
= 228,66 m3 x 150 kg/m3
= 34299,39 kg
Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka

55

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

= 34299,39 kg : 200 kg
= 164

Berat Besi Dinding


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton dinding kolam, dengan asumsi bahwa
pada setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi dinding

= Volume beton dinding x 150 kg/m3


= 36,35 m3 x 150 kg/m3
= 5452,9 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 5452,9 kg : 200 kg
= 27,3

Berat Besi Atap


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton atap kolam, dengan asumsi bahwa pada
setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi atap

= Volume beton atap x 150 kg/m3


= 218,66 m3 x 150 kg/m3
= 32800,46 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 32800,46 kg : 200 kg
= 171,5

Pekerjaan Penggalian
Kolam Maturasi
Panjang

4,05

Lebar

2,02

Kedalaman +

1,55

0,2

Free Board
Tebal Dinding

56

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya
Jenis Pekerjaan

Volume (m3)

Luas(m2)

Pekerjaan Galian Tanah

38,10571544

Pekerjaan Tanah Buangan

38,10571544

Pekerjaan Beton Lantai

4,916866508

Pekerjaan Beton Spesi Dinding

3,189205247

Pekerjaan Beton atap

3,405441954

Volume Bekisting Lantai (25%)

0,983373302

Volume Bekisting untuk Dinding

2,551364198

3,405441954

2015

Pekerjaan Galian SC

Pekerjaan beton SC

Pekerjaan Bekisting SC

(80%)
Volume Bekisting Atap (100%)

Sumber: Hasil Perhitungan


Pekerjaan Pembesian
Berat Besi Lantai
Berat besi lantai adalah berat besi yang ada pada beton kolam, dengan asumsi bahwa pada setiap
1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi lantai = Volume beton lantai x 150 kg/m3
= 4,9 m3 x 150 kg/m3
= 737,52 kg
Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka
= 737,52 kg : 200 kg
= 2,6

Berat Besi Dinding


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton dinding kolam, dengan asumsi bahwa
pada setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi dinding

= Volume beton dinding x 150 kg/m3


= 3,18 m3 x 150 kg/m3
= 478,38 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka

57

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096

Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Limbah Setempat


Kecamatan Gayungsari Kota Surabaya

2015

= 478,38 kg : 200 kg
= 2,4

Berat Besi Atap


Berat besi dinding adalah berat besi yang ada pada beton atap kolam, dengan asumsi bahwa pada
setiap 1 m3 beton mempunyai berat besi sebesar 150 kg. Maka diperoleh:
Berat besi atap

= Volume beton atap x 150 kg/m3


= 3,4 m3 x 150 kg/m3
= 510,8 kg

Karena pekerjaan pembesian dihitung setiap 200 kg, maka


= 510,8 kg : 200 kg
= 3,7

58

ARDILLA SUKMA PRATIWI


3312100096