Anda di halaman 1dari 51

MAKALAH

TEKNOLOGI BATUBARA
Pencucian Batubara

DI SUSUN OLEH:
Nama

: 1. Andryana Nur Azizah

(13 644 028)

2. Taufiq Nurrachman

(13 644 032)

3. Erika Medina

(13 644 034)

4. Digna Surya Hapsari

(13 644 036)

Kelompok : 4 (Empat)
Kelas

: 5A (S1-Terapan)

Dosen

: Mustafa
TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SAMARINDA
2016
1

DAFTAR ISI

JUDUL
DAFTAR ISI ii
KATA PENGANTAR iii
SUMMARY

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penulisan 7


BAB II STUDI PUSTAKA
2.1 Pencucian Batubara

2.2 Studi Ketercucian Batubara (Washibility Test)


2.3 Tahapan tahapan Pencucian Batubara

12

16

2.4 Macam macam Alat Pencucian Batubara 36


BAB III SOAL DAN JAWABAN
BAB IV PENUTUP

49

RANGKUMAN

51

47

DAFTAR PUSTAKA 53

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta
hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah Pencucian Batubara. Apabila dalam
penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan atau kekurangan, kami
memohon maaf yang sebesar-besarnya karena kesempurnaan hanyalah
milik Allah SWT dan kekurangan hanyalah milik kami semata.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu penyusunan makalah ini.

Samarinda, Desember 2015


Penulis

SUMMARY
Pencucian batubara ialah usaha yang dilakukan untuk memperbaiki
kualitas batubara, agar batubara tersebut memenuhi syarat penggunaan
tertentu atau sesuai dengan permintaan pasar. Termasuk didalamnya
pembersihan untuk mengurangi impurities anorganik.
Dalam pencucian batubara, yang harus dipertimbangkan ialah
metode pencucian mana yang akan diterapkan untuk mempersiapakan
batubara sesuai keperluan pasar, dan apakah pencucian masih diperlukan,
karena pada prinsipnya batubara dapat dijual langsung setelah ditambang.
Kenyataannya penjualan langsung setelah ditambang tidak berarti
produser memperoleh keuntungan maksimum. Oleh karena itu dalam
memutuskan ini perlu dimasukan juga pertimbangan komersial.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil, batubara secara
umum adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari
endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk
melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari
karbon, hidrogen dan oksigen.
Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat
fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai
bentuk. Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti
C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Dewasa ini penggunaan batubara di dalam negeri adalah
sebagai sumber energi panas dan bahan bakar, terutama dalam
pembangkit tenaga listrik dan industri semen serta dalam jumlah
yang terbatas pada industri kecil, seperti pembakaran batu gamping,
genteng , sebagai reduktor dan industri pelabuhan timah dan nikel.
Selain itu batubara Indonesia digunakan untuk ekspor ke berbagai
negara antara lain Afrika, Eropa , Amerika dan Asia (Jepang,
Taiwan, Hongkong, Korea) dan lain-lain. Pemakaian batubara
terbesar sesuai urutannya adalah PLTU yang menggunakan bahan
bakar batubara, disusul oleh industri semen yang secara keseluruhan
telah beralih ke batubara, kemudian industri kimia, kertas, metalurgi,
briket batubara dan penggunaan industri kecil lainya. Batubara
5

sebagai sumber energi menguntungkan dari segi jumlah cadangan


dan

harga

energi

yang

dihasilkan,

sedangkan

kurang

menguntungkan karena berdampak negatif terhadap lingkungan.


Cadangan batubara atau endapan batubara menetukan
ekonomis tidaknya suatu penambangan batubara. Penaksiran
cadangan (reserve) dan sumber daya (resource) batubara meliputi
klasifikasi cadangan dan sumber daya tersebut serta cara
perhitungan.
Klasifikasi

batubara

merupakan

suatu

cara

untuk

mengelompokkan batubara menurut jenis dan klasifikasinya.


Berdasarkan klasifikasi ini dapat dilihat tinkatan (rank) batubara
tersebut dan kemungkinan pemanfaatannya. Kalisifikasi batubara ini
dimaksudkan untuk memenuhi keinginan dari produsen, konsumen
serta ahli-ahli teknologi yang menggunakan batubara. Dasar
kalisifikasi yang dianjurkan banyak sekali ragamnya, yaitu : analisa
struktur, kriteria fisik, kelakuannya selama waktu digunakan hingga
waktu tinggal dalam kondisi tertentu. Metode klasifikasi ini
dilakukan berdasarkan tingkat pembatubaraan dan berdasarkan data
analisa atau pengujian batubara tersebut. Klasifikasi batubara
berdasarkan tingkat pembatubaraan antara lain:
a. Batubara Lignit
b. Batubara Subbituminous
c. Batubara Bituminous
d. Batubara Antrasit

Metode klasifikasi batubara berdasarkan pengujian dapat di lakukan


dengan metode sebagai berikut :
1. ISO British Standard
2. ASTM Standard
3. Nilai Kalor
4. DIN Standard
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dalam pembuatan
makalah ini adalah :
1. Apa pengertian dari pencucian barubara?
2. Studi ketercucian batubara (washibility test)?
3. Tahapan tahapan dalam pencucian batubara?
4. Apa saja alat - alat yang dapat digunakan dalam pencucian
batubara?
1.3Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan

makalah

ini

adalah

untuk

media

pembelajaran tambahan kami agar lebih banyak mempunyai


referensi tentang pelajaran Teknologi Batubara, khususnya dalam
mempelajari Pencucian Batubara, serta juga makalah ini untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknologi Batubara.

BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1 Pencucian Batubara
Pencucian batubara ialah usaha yang dilakukan untuk
memperbaiki kualitas batubara, agar batubara tersebut memenuhi
syarat penggunaan tertentu atau sesuai dengan permintaan pasar.
(Nukman,2009).
Termasuk didalamnya pembersihan untuk mengurangi
impurities anorganic. Karakteristik batubara dan impurities yang
utama ditinjau dari segi pencucian secara mekanis ialah komposisi
ukuran yang disebut size consist, perbedaan berat jenis dari material
yang dipisahkan, kimia permukaan, friability relatif dari batubara
dan impuritiesnya serta kekuatan dan kekerasan.
Ada beberapa cara. Contoh sulfur, sulfur adalah zat kimia
kekuningan yang ada sedikit di batubara, pada beberapa batubara
yang ditemukan di Ohio, Pennsylvania, West Virginia dan Eastern
States lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai 10 % dari berat batu bara,
beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming, Montana dan
negara-negara bagian sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar
1/100ths (lebih kecil dari 1%) dari berat batubara. Penting bahwa
sebagian besar sulfur ini dibuang sebelum mencapai cerobong asap.
8

Satu cara untuk membersihkan batubara adalah dengan


cara mudah memecah batubara ke bongkahan yang lebih kecil dan
mencucinya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil di batu
bara disebut sebagai "pyritic sulfur" karena ini dikombinasikan
dengan besi menjadi bentuk iron pyrite, selain itu dikenal sebagai
"fool's gold dapat dipisahkan dari batubara. Secara khusus pada
proses satu kali, bongkahan batubara dimasukkan ke dalam tangki
besar yang terisi air, batubara mengambang ke permukaan ketika
kotoran sulfur tenggelam.
Dalam pencucian batubara, yang harus dipertimbangkan
ialah metode pencucian mana yang akan diterapkan untuk
mempersiapakan batubara sesuai keperluan pasar, dan apakah
pencucian masih diperlukan, karena pada prinsipnya batubara dapat
dijual langsung setelah ditambang. Kenyataannya penjualan
langsung setelah ditambang tidak berarti produser memperoleh
keuntungan maksimum. Oleh karena itu dalam memutuskan ini
perlu dimasukan juga pertimbangan komersial. Untuk menentukan
kesesuaian alat yang digunakan dalam mencuci batubara syarat yang
diperlukan adalah ukuran butir dari batubara yang akan dicuci,
spesifik gravity dan kapasitas produksi yang digunakan.
Fasilitas pencucian ini dinamakan "Coal Preparation
Plants" yang membersihkan batubara dari pengotor-pengotornya.
(Tirasonjaya, F.,2006).
9

Pengotor batubara dapat berupa pengotor homogen yang


terjadi di alam saat pembentukan batubara itu sendiri, yang disebut
dengan Inherent Impurities, maupun pengotor yang dihasilkan dari
operasi penambangan itu sendiri, yang disebut Extraneous
impurities.
Batubara dari ROM (run of mine) terdiri atas dua kategori
yaitu batubara bersih dan batubara kotor. Masingmasing kategori
dilakukan pereduksian ukuran/peremukan sedangkan batubara kotor
dilanjutkan dengan proses pencucian.
Sebelum

didirikan pabrik pencucian batubara maka

batubara yang di ROM di uji ketercucian batubara

(washibility

test). Setelah dilakukan washibility test batubara mempunyai sifat


mudah tercuci maka didirikan pabrik pencucian batubara (coal
whasing plant).
Recovery

pencucian sangat tergantung pada batubara

ROM yang mengandung material pengotor berupa tanah (soil),


parting, dan kapasitas peralatan pengolahan serta perawatannya.
Pada prinsipnya coal whashing plant memiliki titik yield
optimal dalam menghasilkan produknya,tergantung dengan kualitaas
dari feed yang masuk dalam washpalnt. Pada industri pertambangan
beberapa jenis metode pencucian batubara yang umum di pakai

10

dalam

diantaranya jig method,dense medium separator method

(DMS), shaking table, flotation.


Dengan demikian pencucian batubara bertujuan untuk
memisahkan dari material pengotornya dalam upaya meningkatkan
kualitas batubara sehingga nilai panas bertambah dan kandungan air
serta debu berkurang. Batubara yang terlalu banyak pengotor
cenderung akan menurunkan kualitas batubara itu sendiri sehingga
tidak dapat diandalkan dalam upaya penjualan ke konsumen. Pada
umumnya persyaratan pasar menghendaki kandungan abu tidak
lebih dari 10 %, dan pada umumya menghendaki nilai panas yang
berkisar antara 6000-6900 kcal/kg.
Batubara dari tambang terbuka dan tambang dalam harus
dipisahkan terlebih dahulu dari material pengotornya yang ditimbun
terlebih dahulu di Coal Yard. Dengan bantuan Whell Looader, raw
coal dimuat ke hopper, umpan dari hopper ini dipisahkan melalui
grizzly, sehingga batubara yang memiliki ukuran diatas 75 mm akan
dimuat ke Picking Belt yang selanjutnya akan dipisahkan dari
material pengotornya melalui hand picking secara manual,
sedangkan batubara yang berukuran -75 mm akan dijadikan umpan
pencucian.

11

2.2 Studi Ketercucian Batubara (Washibility Test)


Sebelum didirikan coal whasing plant batubara yang akan
ditambang dilakukan studi ketercucian batubara (washibility test)
sehingga dapat diketahui apakah batubara dapat di lakukan
pencucian.
Tujuan dilakukan Studi Ketercucian Batubara adalah :
a. Mendapatkan gambaran mengenai kelakuan berbagai fraksi
batubara apabila dilakukan pencucian dengan memakai medium
yang beda beda.
b. Mengetahui perolehan batubara untuk fraksi tertentu.
c. Mendapatkan Berat Jenis media yang paling baik, sehingga
didapatkan medium yang paling baik untuk media pencucian
dalam mencapai persyaratan tertentu.
d. Meramalkan kesulitan yang mungkin dialami pada proses
pencucian, dengan memakai media tertentu dan untuk
mengetahui BJ pencucian yang palingbaik.
Langkah langkah yang dilakukan dalam studi ketercucian batubara
adalah sbb :
a. Mengambil contoh yang representative.
b. Mengayak contoh untuk mendapatkan fraksi fraksi tertentu,
fraksi fraksi tersebut adalah :
Egg coal Ukuran butir -2 inch +1 inch
Nut Coal -1 inch +0,5 inch
12

Pea Coal -0,5inch +0,25 inch


Slag and Fine ukurannya -0,25 inch
c. Melakukan uji endap apung (Sink & Float) masing masing
fraksi.
d. Menentukan kadar abu dan belerang pada masing masing
e.
f.
g.
h.

fraksi dan BJ.


Mengolah data dengan tabulasi terhadap data yang didapat.
Membuat daftar tabel
Membuat kurva ketercucian
Menginterpretasikan data dan kurva.

Contoh daftar tabel yang digunakan untuk washabily test dapat


dilihat pada (Gambar 1) dan contoh pembuatan kurva ketercucian
batubara dapat dilihat pada (Gambar 2) serta tabel 1 merupakan
derajad kesulitan ketercucian batubara.

13

Gambar 1. Contoh tabel data washability test

14

Gambar 2. Contoh kurva washability test

15

Tabel 1. Derajad kesulitan


Angka
07
7 10
10 15
15 20
20 25
> 25

Tingkat kesulitan
Mudah
Sedikit sulit
Sulit
Sangat sulit
Sangat sulit
Formiable

2.3 Tahapan tahapan Pencucian Batubara


Dalam coal washing plant terdapat 4 tahap yaitu preparasi, pra
pencucian batubara, pencucian batubara dan pengeringan batubara.
1. Tahapan Preparasi
Kegiatan pengelompokan partikel ukuran yang berbeda-beda
merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan didalam
pabrik pencucian (Sudarsono,2003). Tahap preparasi

atau

operasi pengecilan pada pabrik pencucian perlu dilakukan


dengan tujuan :
a. Menyesuikan ukuran partikel batubara yang cocok dengan
oprasi peralatan pencucian.
b. Kotoran mudah terliberasi dari tubuh batubara.
c. Agar ukuran partikel batubara sesui dengan permintaan pasar.
d. Dalam pencucian Batubara ukuran memegang peranan
penting, ada keterkaitan antara ukuran dan metode pencucian.
16

Keterkaitan ukuran dan metode pencucian dapat di lihat pada


(Tabel 2).
Table 2. Coal Size Ranges for Cleaning Equipment
Ukuran Batubara
+ 8 inches
8 1/4

1/4 48M
48M 0

Metode Pencucian
Picking tables
Heavy media bath or
drums
Jigs
Diester tables
Heavy media cyclones
Air tables
Froth flotation

Sumber: Inspectors Guidance Manual Coal Preparation


Plants,1998.
Proses distribusi ukuran batubuara (Coal Sizing) mengunakan
roll crusher dengan ukuran dalam satuan mm sedangakan
hammermill yang ukuran sudah dalam satuan mess. Skema dari
sirkuit coal sizing ditunjukkan pada (Gambar 3).

17

Sumber:

Inspectors

Guidance

Manual

Coal

Preparation

Plants,1998.
Gambar 3. Coal Sizing Circuit
18

Tahap preparasi sampel:


Pengeringan Udara (Air Drying)
Pengeringan dilakukan dalam sampel yang terlalu basah
untuk diproses tanpa menghilangkan kadar air atau yang
menyebabkan sulitnya dilakukan crushser/mill. Proses
pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan drying
oven,

akan tetapi suhunya tidak boleh melebihi 40C

selama 4 jam, hal ini untuk menghindari proses oksidasi dari


batubara tersebut.
Penghancuran (Crushing)
Tujuannya untuk memperkecil ukuran batubara dan supaya
homogen tanpa menyebabkan perubahan pada masscrushing
adalah proses pengecilan ukuran atau sampel agar sampel
lebih halus. Adapun tipe alat penghancur yang sering
digunakan:
Jaw Crusher
Roll Crusher
Hammer Mill Crusher
Swing Hammer Crusher
Mixing (pencampuran)
Spoting (pembagian)
Sampel dilakukan pencampuran baik dengan secara manual
ataupun secara secara mekanis tanpa perubahan jumlah
massa dan pembagian yang merata sehingga analisa menjadi
lebih maksimal dan presentatif, alat yang digunakan untuk
19

pencampuran dan pembagian adalah Rotary Sample Divider


(RSD).
Hal hal yang perlu dalam preparasi sampel:

Perlu diketahui massa minimum yang diperlukan untuk

setiap ukuran.
Perlu diketahui sampel diperlukan untuk jenis analisa
Gunakan metode mekanikal dalam melakukan

pembagian
Kurangi waktu pengeringan sampel untuk menghindari

oksidasi
Jangan melakukan pengeringan diatas 40C.

Proses crushing memerlukan proses pendukung seperti


hopper dan feeder agar dapat beroperasi secara optimal.

Hopper (Penampung)
Hopper adalah bak penampung material padat
sebelum diteruskan kedalam crusher (mesin penghancur)
dengan bantuan feeder (mesin pengumpan). Hal yang
harus dicermati dalam pemakaian hopper di industri
pengolahan bahan galian adalah pengurangan daya
tampung dari hopper. Hal ini merupakan kerugian karena
hopper

tidak

dapat

menampung

material

padat

sebagaimana mestinya sehingga akan mempengaruhi


proses kerja pengolahan bahan galian secara keseluruhan
20

karena hopper merupakan tahap awal dari proses


pengolahan bahan galian.
Dua masalah utama yang terjadi dalam hopper
adalah timbulnya arching dan rathole. Arching adalah
fenomena yang terjadi dimana pada bagian atas keluaran
hopper material padat membentuk cekungan ke dalam.
Sedangkan rathole adalah lubang yang tidak terisi oleh
material padat dan terdapat pada bagian tengah dari
hopper.
Pada dasarnya aliran keluar pada hopper dapat
dibagi menjadi tiga jenis yaitu mass flow, funnel flow,
expanded flow. Mass flow adalah bentuk aliran dimana
seluruh material padat dalam hopper bergerak dengan
serentak kebawah menuju keluaran hopper. Kondisi ini
dapat terjadi bila dinding hopper memiliki kemiringan
yang tajam dan halus. Funnel flow adalah bentuk aliran
dimana hanya material solid yang berada diatas lubang
keluaran hopper saja yang bergerak kebawah. Expanded
flow adalah bentuk aliran mass flow 4 yang dilanjutkan
dengan bentuk aliran funnel flow. Hal ini dapat terjadi
karena terciptanya rathole yang stabil.
Oleh sebab itu desain hopper sangatlah penting.
Desain sebuah hopper ditentukan dari material apa yang
akan mengisi hopper. Karakteristik material padat yang
akan mengisi hopper akan menjadi acuan utama sehingga
21

kita dapat menentukan panjang area silinder dan panjang


area kerucut dari hopper. Karakteristik material juga
akan menentukan lebar dari diameter keluaran hopper
dan kemiringan selimut kerucut sehingga dengan desain
yang tepat diharapkan tidak terbentuk arching dan
rathole. Dengan desain yang tepat kita juga dapat
menentukan bentuk aliran keluar yang akan terjadi.
Pemilihan material sebagai liner untuk hopper
memiliki peranan yang besar. Material yang bersifat
sticky cenderung memiliki daya adhesi yang besar. Oleh
karena itu penting untuk mendapatkan material liner
yang memiliki permukaan yang bersifat smooth tetapi

mampu menahan impact yang terjadi di dalam hopper.


Feeder (Pengumpan)
Feeder adalah mesin pengumpan yang berfungsi
untuk menghantarkan material padat kedalam crusher
(mesin penghancur) dari hopper (bak penampung).
Feeder diperlukan untuk menghasilkan laju masuk
material padat yang relatif konstan atau variable speed ke
dalam crusher. Laju material padat yang masuk
diharapkan teratur agar kerja crusher dapat menjadi
optimal. Dengan laju material padat yang masuk teratur
maka crusher akan terhindar dari kondisi crusher yang
mendadak kosong ataupun mendadak penuh. Kondisi

22

crusher yang kosong atau terlalu penuh akan mengurangi


efektifitas kerja crusher.
Terdapat beberapa jenis feeder yang dikenal di
industri, diantaranya adalah belt feeder, apron feeder,
rotary table feeder, chain feeder, rotary plow feeder,
screw feeder dan vibratory feeder.
2. Tahap Pra pencucian/Pneumatic Cleaning.
Tujuan dari tahap ini adalah menghilangkan material pengotor
yang melekat pada batubara dan mengurangi batubara yang
berukuran -0,5 mm atau kurang 3/8 inchi. Pada tahap ini akan
memisahkan batubara (high-ash) dengan batubara (low-ash).
Batubara kadar abu tinggi berada diatas sedangkan batubara
kadar rendah berada dibawah. Skema dapat dilihat pada
(Gambar.4).

23

Sumber : Inspectors Guidance Manual Coal Preparation Plants,1998

Gambar 4. Pneumatic Cleaning Circuit


3. Tahap Pencucian.
Proses pencucian batubara dapat menggunakan dua prinsip
pemisahan, yaitu :
a. Pemisahan batubara murni dengan pengotornya berdasarkan
sifat densitas relatifnya. Batubara murni mempunyai densitas
sekitar 1,3 sedangkan pengotornya mempunyai densitas
relative diatas 2,2.
24

b. Pemisahan batubara murni dengan pengotornya berdasarkan


sifat ketertarikannya permukaannya terhadap air.
Batubara mempunyai sifat tidak tertarik terhadap air
(hydrophobic) sementara pengotornya bersifat tertarik terhadap
air (hydrophilic).
Prinsip fisika yang dipakai di dalam operasi pemisahan
batubara bersih dari pengotornya berdasarkan densitas relatifnya
adalah dengan prinsip endap-apung (float and sink). Proses
dimana partikel mengendap ke dasar fluida dan membentuk
endapan disebut settling. Teori pengendapan bebas (free setling)
dipakai untuk operasi pemisahan partikel batubara dari
pengotornya dengan cara diendapkan di dalam suatu larutan yang
densitas relatifnya di antara densitas relatif batubara dan densitas
relatif pengotor. Operasi pemisahan dengan cara pengendapan
tidak mungkin dilakukan dalam kondisi pengendapan bebas
karena ada partikel-partikel lain di dalam larutan yang
mempengaruhi kecepatan pengendapan, kondisi pengendapan
yang sebenarnya adalah pengendapan terrintangi (hindered
settiling). Pengendapan terrintangi dipengaruhi oleh sifat fisik
partikel misalnya ukuran partikel, kekentalan larutan, dan
densitas relatif partikel-partikel yang terlibat.

25

Batubara yang datang dari muka penambangan biasanya


terdiri dari batubara bersih yang bercampur dengan sejumlah
pengotor yang densitasnya lebih tinggi daripada densitas
batubara seperti shale, batu-batuan dan clay, yang harus
dipisahkan di pabrik pencucian sebelum batubara dikirim ke
pembeli. Alat-alat yang dipakai pada operasi pemisahan yang
bekerja pada perbedaan densitas meliputi launder, meja goyang
(shaking table) dan jig. Alat-alat ini bekerja dengan bantuan
gerakan air, baik secara horizontal, atau vertical, atau keduanya.
Faktor yang mempengaruhi efisiensi proses alat-alat ini antara
lain ukuran dan bentuk partikel.
Larutan yang digunakan di laboratorium biasanya berupa
larutan organik. Prinsip endap-apung dipakai dalam skala industri
untuk memisahkan batubara bersih dari pengotornya, tetapi tentu
saja tidak mungkin menggunakan larutan organik untuk operasi
pemisahannya karena biayanya akan sangat mahal dan sangat
berbahaya. Operasi pemisahan skala industri dikenal nama
pemisahan media berat (dense medium separation= DMS atau
heavy medium separation= HMS).
Prinsip pemisahan media berat adalah bentuk dan ukuran
partikel tidak boleh berperan terlalu besar, pemisahan hanya
didasarkan pada perbedaan densitas relatif. Agar bentuk dan
ukuran partikel di dalam operasi pemisahan media berat, maka
26

media pemisahannya harus tidak dalam keadaan mengalir


(stationer). Semakin kecil arus media pemisah di dalam operasi
pencucian, semakin kecil pula pengaruh ukuran dan bentuk
partikel.
Larutan yang ideal untuk pemisahan media berat adalah
larutan yang mempunyai densitas relatif yang pasti dan tetap
seperti misalnya perchlorethylene dan bromoform. Namun kedua
larutan ini terlalu mahal bila dipakai untuk operasi berkapasitas
besar sehingga perlu ditemukan larutan lain yang lebih murah.
Salah satu alternatif yang pernah dicoba adalah dengan suatu
larutan garam seperti misalnya Natrium Klorida (NaCl), Kalsium
Klorida (CaCl2), dan Zinc Klorida (ZnCl2). Beberapa kerugian
dengan larutan garam ini misalnya larutan bersifat kental dan
lengket sehingga gerakan partikel batubara relatif lambat, kecuali
bila densitas relatifnya lebih rendah, misalnya 1,35. Larutan
bersifat korosif dan relatif mahal. Selain itu, adanya garam yang
tersisa dapat mempengaruhi sifat batubara dan konsekuensinnya
akan merugikan pemakai batubara.
Penggunaan larutan organik dan larutan yang mengandung
garam tidak memuaskan operasi pencucian batubara dalam skala
besar. Kemudian media lain dicoba dan ternyata sangat berhasil
hingga sekarang. Media ini berupa partikel padat yang sangat
halus yang dicampur dengan air membentuk suspensi. Suspensi
27

adalah campuran bahan padat dengan bahan air. Partikel padat


yang tidak larut dalam air ini digiling sampai halus sekali
sehingga partikel ini tidak bisa mengendap selama operasi
pencucian , akan tetapi terdistribusi secara merata ke seluruh
bagian larutan. Cairan yang dipakai dalam preparasi batubara
adalah suspensi air (densitas relatif = 1) dengan material padat
mineral magnetit.
Tahap pencucian ini terjadi di dalam baum jig dan
hydrocyclone.
a. Baum Jig
Batubara pre-treatment yang berukuran -75 mm dialirkan
ke baum jig melalui lubang umpan (jig fedd sluice). Pada
baum jig, umpan mengalami konsentrat gaya berat, sehingga
diperoleh tiga macam produk yaitu :
1. Batubara tercuci hasil konsentrasi gaya berat berukuran
-75 mm + 0,5 mm diteruskan ke dalam static screen dan
double deck vibrating screen untuk dikurangi kandungan
airnya, serta dilakukan pemisahan ukuran partikelnya.
Double deck vibrating screen mempunyai lubang bukaan
sebelah atas 5 mm dan lubang bukaan sebelah bawah 0,5
mm, sehingga terjadi pemisahan ukuran batubara tercuci

28

setelah melewati double deck vibrating screen sebagai


berikut :
Batubara tercuci ukuran -75 mm + 5 mm batubara
tercuci ukuran -75 mm + 5 mm ini diangkut oleh belt

conveyor.
Batubara tercuci ukuran -5 mm + 0,5 mm batubara
tercuci ukuran -5 mm + 0,5 mm ini dibawa oleh belt
conveyor dan selanjutnya bersama produk kasar di

bawa ke storage.
Batubara tercuci ukuran -0,5 mm batubara tercuci
ukuran -0,5 mm ini ditampung pada dua macam
sumuran (sump). Untuk yang lolos dari descliming
screen ditampung effluent sump, sedangkan yang lolos
dari sizing screen ditampung pada main sump. Batubara
yang masuk ke effluent sump, bersama-sama dengan air
dipompakan ke effluent cyclone dan yang masuk ke
main sump dipompakan ke classifying cyclone untuk
kemudian diproses lebih lanjut pada unit pencucian

berikutnya.
2. Produk menengah (middling). Produk menengah dari
baum jig diangkut dengan elevator A. dan ditumpahkan ke
dalam bak penampung kotoran (discard bin).
3. Batuan pengotor (Discard). Batuan pengotor dari pengotor
produk baum jig diangkut dengan elevator B yang
kemudian ditumpahkan ke dalam discard bin. Selanjutnya
produk menengah dan produk pengotor ini dibuang ke
29

tempat pembuangan dengan alat angkut truck. Skema dari


Jig-Table Cleaning Circuit ditunjukkan pada (Gambar 5).

Sumber : Inspectors Guidance Manual Coal Preparation


Plants,1998
30

Gambar 5. Jig Table Cleaning Circuit


b. Hydrocyclone
Umpan (feed) dari hydrocyclone berasal dari effluent sump
dan main sump. Material yang masuk ke dalam hyrocylone
tersebut akan mengalami konsentrasi gaya karena adanya
gaya sentrifugal yang terjadi di dalam cyclone, sehingga akan
menghasilkan produk limpahan atas (overflow) dan produk
limpahan bawah (under flow). Limpahan bawah tersebut
selanjutnya akan menjadi umpan pada slurry screen. Produk
limpahan atas dari hydrocyclone selanjutnya diproses pada
1.

peralatan sebagai berikut :


Head Box
Pada head box produk limpahan atas dari cyclone tersebut
terbagi lagi menjadi dua macam produk, yaitu produk
limpahan atas dari head box yang dipompakan lagi pada
lounder untuk dipakai pencucian kembali dan produk
limpahan bawah yang selanjutnya dialirkan ke thickener.
Pengotor batubara yang berasal dari lumpur dan juga
batubara berbutir halus (fine coal) ikut bersama air

2.

pencucian yang dialirkan ke tempat penampungan.


(R.Hutamadi dan Edie Kurnia Djunaedi,2005).
Bak Pengendap (Thickener)
Over flow dari cyclone dialirkan ke bak penampungan
(thickener). Material yang masuk ke thickener merupakan
material pengotor yang telah bercampur membentuk
lumpur, walau pada kenyataannya masih banyak produk
31

batubara

umuran 0,5 mm

yang

terbawa

bersama

kotorannya. Didalam thickener dengan bantuan flocculant


terjadi proses pengendapan. Air yang digunakan akan
diproses untuk dapat digunakan kembali batubara akan di
ditambahkan reagen sehingga batubara akan mengapung
diatas cairan. Air akan dialirkan kembali kepencuian dan
batubara bersih akan masuk ke mesin pengering. Skema
dari

Water

Clarification

Circuit

ditunjukkan

pada

(Gambar.6).

32

Sumber

Inspectors

Guidance

Manual

Coal

Preparation

Plants,1998

Gambar 6. Water Clarification Circuit

4. Tahap Pengurangan Kandungan Air Batubara

33

Batubara yang sudah bersih dari berbagai proses pembersihan


akan

dikeringkan

dengan

mengunakan

fluid

bed

dyrer.

Pengoperasian pengeringan ini dibawah tekanan gas yang


diambil dari sumber panas dari ruang fulidisasi. Tungku
pengendali suhu bekerja disistem kontrol untuk mencocokan
perubahan penguapan.

Sumber : Inspectors Guidance Manual Coal Preparation


Plants,1998
Gambar 7. Fluid-bed Dryer
2.4 Macam macam Alat Pencucian Batubara
1. Jig
Pencucian dengan alat ini didasarkan pada perbedaan
spesific gravity. Proses yang dilakukan Jig ini adalah adanya
34

stratifikasi dalam bed sewaktu adanya air hembusan. Kotoran


cenderung tenggelam dan batubara bersih akan timbul di atas.
Basic jig, Baum jig sesuai digunakan untuk pencucian
batubara ukuran besar, walaupun Baum Jig dapat melakukan
pencucian pada batubara ukuran besar tetapi lebih efektif
melakukan pencucian pada ukuran 10 35 mm dengan spesific
gravity 1,5 1,6. Modifikasi Baum jig adalah Batac jig yang
biasa digunakan untuk batubara ukuran halus.
Untuk batubara ukuran sedang, prinsipnya sama yaitu
pulsing (tekanan) air hembusan berasal dari samping atau dari
bawah bed. Untuk menambah bed atau mineral keras yang
digunakan untuk meningkatkan stratifikasi dan menghindari
percampuran kembali, mineral yang digunakan biasanya adalah
felspar yang berupa lump silica dengan ukuran 60 mm.

35

Gambar 8. Jig

36

Gambar 9. Jig
2.

Dense Medium Separator (DMS)


Dense medium ini juga dioperasikan berdasarkan
perbedaan spercific gravity. Menggunakan medium pemisahan
air, yaitu campuran magnetite dan air. Medium campuran ini
mempunyai spesific gravity antara batubara dan pengotornya.
Slurry magnetite halus dalam air dapat mencapai densitas relatif
sekitar 1,8 ukuran batubara yang efektif untuk dilakukan
pencucian adalah 0,5 150 mm dengan Spesific gravity 1,3
37

1,9 type dense-medium separator yang digunakan dapat berupa


bath cyclone dan cylindrical centrifugal. Untuk cylinder
centrifugal separator digunakan untuk pencucian batubara
ukuran besar dan sedang.
Dense medium cyclone bekerja karena adanya kecepatan
dense medium, batubara dan pengotor oleh gaya centrifugal.
Batubara bersih ke luar menuju ke atas dan pengotornya
menuju ke bawah. Gambar 9 menunjukkan contoh dense
medium bath dan dense medium cyclone. Faktor penting dalam
operasi berbagai dense medium sistem didasarkan pada
magnetite dan efisiensi recovery magnetite yang digunakan
lagi.

Gambar 10. Dense Medium Separator

38

Gambar 11. Dense Medium Separator


3.

Hydrocyclone
Hydrocyclone adalah water based cyclone dimana
partkel-partikel berat mengumpul dekat dengan dinding
cyclone dan kemudian akan ke luar lewat cone bagian bawah.
Partikel-partikel yang ringan (partikel bersih) menuju pusat dan
kemudian ke luar lewat vortex finder. Diameter cyclone sangat
berpengaruh terhadap efektifitas pemisahan. Kesesuaian ukuran
partikel batubara yang akan dicuci adalah 0,5 150 cm dengan
spesifik gravity 1,3 1,5.
39

Gambar 12. Hydrocyclone

40

4.

Gambar 13. Hydrocyclone


Shaking Tables
Proses shaking table adalah dengan meja miring terdiri
dari rib-rib (tulang-tulang) bergerak ke belakang dan maju terus
menerus dengan arah yang horisontal. Partikel-partikel batubara
bersih (light coal) bergerak ke bawah table, sedangkan partikel41

partikel kotor (heavy partical) merupakan partikel yang tidak


diinginkan terkumpul dalam rib dan bergerak ke bagian akhir
table.
Batubara ukuran halus dapat dicuci dengan alat ini secara
murah tetapi kapasitasnya kecil dan hanya efektif untuk
melakukan pencucian pada batubara dengan spesific gravity
lebih besar 1,5 dengan ukuran partikel batubara yang dicuci 0,5
15 mm.

Gambar 14. Shaking Table

42

Gambar 15. Shaking Table


5.

Froth Flotation
43

Froth Flotation merupakan metode pencucian batubara


yang banyak digunakan untuk ukuran batubara halus. Froth
flotation cell digunakan untuk membedakan karakteristik
permukaan batubara. Campuran batubara dan air dikondisikan
dengan reagen kimia supaya gelembung udara melekat pada
batubara dan mengapung sampai ke permukan, sementara itu
partikel-partikel yang tidak diinginkan akan tenggelam.
Gelembung udara naik ke atas melalui slurry di dalam cell dan
batubara bersih terkumpul dalam gelembung busa berada di
atas. Kesesuaian ukuran butir batubara yang dicuci < 0,5 mm
dengan spesifik gravity 1,3.

Gambar 16. Froth Flotation

44

Gambar 17. Froth Flotation

BAB III
SOAL DAN JAWABAN

45

1.

Sebutkan pengertian dari pencucian batubara?


Jawab:
Pencucian batubara ialah usaha yang dilakukan untuk memperbaiki
kualitas batubara, agar batubara tersebut memenuhi syarat
penggunaan tertentu atau sesuai dengan permintaan pasar

2.

Apa tujuan pencucian batubara?


Jawab:
pencucian batubara bertujuan untuk memisahkan dari material
pengotornya dalam upaya meningkatkan kualitas batubara sehingga
nilai panas bertambah dan kandungan air serta debu berkurang.

3.

Sebutkan tahap-tahap pencucian batubara?


Jawab:
- Tahap Preparasi
- Tahap Pra pencucian/Pneumatic Cleaning
- Tahap pencucian
- Tahap Pengurangan Kandungan Air Batubara

4.

Sebutkan alat-alat pencucian batubara?


Jawab:
- Jig
- Dense Medium Separator (DMS)
- Hydrocyclone
- Shaking Tables
- Froth Flotation

46

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pencucian batubara ialah usaha yang dilakukan untuk
memperbaiki kualitas batubara, agar batubara tersebut memenuhi
syarat penggunaan tertentu atau sesuai dengan permintaan pasar.
Tujuan dilakukan Studi Ketercucian Batubara adalah
mendapatkan gambaran mengenai kelakuan berbagai fraksi
batubara, mengetahui perolehan batubara untuk fraksi tertentu,
mendapatkan berat jenis media yang paling baik, dan
meramalkan kesulitan yang mungkin dialami pada proses
pencucian.
Langkah langkah yang dilakukan dalam studi ketercucian
batubara ialah mengambil contoh yang representative, mengayak
contoh untuk mendapatkan fraksi fraksi tertentu, melakukan uji
endap apung (Sink & Float) masing masing fraksi, menentukan
kadar abu dan belerang pada masing masing fraksi dan BJ,
mengolah data dengan tabulasi terhadap data yang didapat,
membuat daftar table, membuat kurva ketercucian, dan
menginterpretasikan data dan kurva.
Tahapan pencucian batubara yaitu tahapan preparasi, tahap pra
pencucian/pneumatic cleaning, tahap pencucian, dan tahap
pengurangan kandungan air batubara.
Macam-macam alat yang digunakan dalam pencucian batu bara
yaitu jig, dense medium separator (DMS), hydrocyclone, shaking
tables, dan froth flotation.
4.2 Saran
47

Apabila recovery pada alat pencucian batubara ingin dinaikkan


maka produksi akan bertambah tetapi Kadar Abu pada produk
akan meningkat maka nilai CV batubara tersebut akan turun.
Seiring dengan bertambahnya produksi maka biaya produksi
otomatis akan bertambah juga. Hal ini perlu dipertimbangkan
lagi.
Ketika ingin melakukan pencucian batubara maka harus
dipertimbangkan karakteristik output dengan keperluan pasar
atau konsumen yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan
maksimal.

48

RANGKUMAN
Pencucian batubara ialah usaha yang dilakukan untuk memperbaiki
kualitas batubara, agar batubara tersebut memenuhi syarat penggunaan
tertentu atau sesuai dengan permintaan pasar. Pencucian batubara
bertujuan untuk memisahkan dari material pengotornya dalam upaya
meningkatkan kualitas batubara sehingga nilai panas bertambah dan
kandungan air serta debu berkurang. Batubara yang terlalu banyak
pengotor cenderung akan menurunkan kualitas batubara itu sendiri.
Dalam pencucian batubara, yang harus dipertimbangkan ialah
metode pencucian. Batubara dari ROM (run of mine) terdiri atas dua
kategori yaitu batubara bersih dan

batubara kotor. Masingmasing

kategori dilakukan pereduksian ukuran/peremukan sedangkan batubara


kotor dilanjutkan dengan proses pencucian.
Sebelum didirikan pabrik pencucian batubara maka batubara yang
di ROM di uji ketercucian batubara (washibility test). Setelah dilakukan
washibility test batubara mempunyai sifat mudah tercuci maka didirikan
pabrik pencucian batubara (coal whasing plant).
Recovery pencucian sangat tergantung pada batubara ROM yang
mengandung material pengotor berupa tanah (soil), parting, dan kapasitas
peralatan pengolahan serta perawatannya.Pada prinsipnya coal whashing
plant

memiliki

titik

yield

optimal

dalam

menghasilkan

produknya,tergantung dengan kualitaas dari feed yang masuk dalam


49

washpalnt. Pada industri pertambangan beberapa jenis metode pencucian


batubara yang umum di pakai dalam

diantaranya jig method,dense

medium separator method (DMS), shaking table, flotation.

50

DAFTAR PUSTAKA
Dwi P, Agus. 2012. Proses Pencucian batubara.
https://www.academia.edu/5448002/Proses_Pencucian_batubara.
Diakses 19 Desember 2015
Mulyadini, C, dkk. 2015. TEORI PENGENDAPAN PARTIKEL UNTUK
KONSENTRASI

OPERASI

DAN

PRINSIP

FISIKA.

http://www.slideshare.net/vestersaragih/kelompok-3-teoripengendapan-partikel-untuk-konsentrasi-operasi.

Diakses

21

Desember 2015
Nukman. 2009. Pencucian Batuabra Asal Tanjung Enim Di Dermaga
Kertapai Dengan Mengunakan Air Bergelembung Udara:Suatu
Usaha Peningkatan Mutu Batuabara ,[Jurnal] Rekayasa Sriwijaya
Putra,

no.2 vol.18,juli 2009 hal 31-37.


M.O.D,
dkk.
2014.
MKP

Pencucian

Batubara.

http://www.slideshare.net/vestersaragih/presentation-washingplant-kel-5. Diakses 21 Desember 2015


Situmorang, S. 2015.
https://www.academia.edu/8339593/Pencucian_batubara. Diakses
19 Desember 2015
Sudarsono & Arif S. 2005. Pengantar Preparasi dan Pencucian
Batubara. Bandung : ITB.
Wikipedia. 2015. Batubara. https://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara.
Diakses 31 Desember 2015.
Zulkifli, A. 2012. Pedoman Teknis

Pengolahan

Batubara

2.

http://bangazul.com/pedoman-teknis-pengolahan-batubara-2/.
Diakses 31 Desember 2015

51