Anda di halaman 1dari 14

TUGAS TANAMAN AIR

NIPAH (Nypa fruticans)


Kelas M02 Semester Ganjil 2014/2015

Oleh :
Okki Putriani

145080100111034

Rizal Prabowo

145080101111020

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
MALANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah tentang Nipah. Atas izin-Nya
jugalah kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan baik, walaupun terdapat
beberapa kesalahan atau kekurangan didalamnya. Tujuan penulisan makalah ini
adalah untuk memberikan penjelasan mengenai nipah.
Makalah ini disusun berdasarkan standar dalam pembuatan makalah
yang diarahkan oleh dosen pengajar agar sesuai dengan standar pembuatan
makalah yang ada. Penyajian materi dalam makalah ini dituangkan dalam
bahasa yang sederhana agar mudah memahami konteks yang diberikan.
Demikian, kami berharap semoga keberadaan makalah ini sesuai dengan
standar pembuatan makalah yang telah ditentukan. Namun demikian, penyusun
sangat menyadari bahwa dalam penyajian makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
kami harapkan untuk lebih sempurnanya penyusunan makalah pada tugas-tugas
yang akan datang.

Malang, 16 September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.....................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................

ii

DAFTAR ISI................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang................................................................................

1. 2 Rumusan Masalah...........................................................................

1. 3 Tujuan.............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2. 1 Bioekologi Nipah..............................................................................

2.1.1 Biologi.....................................................................................

2.1.2 Ekologi....................................................................................

2.2 Distribusi Nipah ...............................................................................

2.3 Pemanfaatan Nipah..........................................................................

BAB III PENUTUP


3. 1 Simpulan ........................................................................................

3. 2 Saran...............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

LAMPIRAN ................................................................................................

iv

LAMPIRAN
Gambar 1. Buah Nipah...............................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nipah merupakan salah jenis tumbuhan penghuni ekosistem hutan mangrove
yang mempunyai berbagai manfaat baik secara ekonomi maupun ekologi yang
sangat berguna bagi kepentingan manusia, serta berpotensi sebagai sumber
bahan pangan dari potensi niranya sebagai energi bioetanol. Walaupun tergolong
tumbuhan yang potensial, pemanfaatan nipah secara konvensional masih sangat
jarang dilakukan. Hal ini dikarenakan kurangnya referensi dan pengetahuan
masyarakat mengenai tumbuhan nipah dan cara pengelolahannya. Padahal
hampir di sebagian besar sungai yang masih terpengaruh oleh pasangnya air
laut banyak dijumpai tumbuhan nipah dengan populasi yang sangat besar.
Kerusakan hutan mangrove yang menjadi habitat alami nipah merupakan
ancaman bagi keberadaan tanaman nipah dan kelangsungan ekonomi
masyarakat pesisir yang telah menggantungkan hidupnya dari tanaman nipah
maupun

lingkungan

pesisir.

Selain

itu

teknik

budidaya

nipah

untuk

pengembangan nipah prospektif di masa yang akan datang. Untuk mendapatkan


teknik budidaya tanaman nipah khususnya teknik pengadaan benih yang unggul,
silvikultur penanaman dan pemeliharaan serta teknik pemanenan niranya
diperlukan penelitian dan pengembangan. Diperkirakan tanaman nipah bisa
menghasilkan 4.000 liter/ha/th. Teknik penyadapan nira nipah dari masyarakat
yang baik perlu di sosialisasikan masyarakat sekitar hutan mangrove dan nipah.
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui lebih mendalam
mengenai kegunaan dan manfaat serta karakteristik yang dimiliki oleh nipah
sehingga dapat menjadi pengetahuan tambahan dalam mengolah dan
memanfaatkan nipah dalam kehidupan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Apakah pengertian dari nipah?
2. Bagaimanakah ciri-ciri nipah secara biologis?
3. Bagaimanakah klasifikasi dan taksonomi dari nipah?
4. Bagaimanakah habitat dan distribusi nipah?
5. Apa sajakah manfaat nipah bagi kehidupan?

1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah yang dibuat dapat ditarik beberapa tujuan dari
pembuatan makalah, yaitu:
1. Untuk mengetahui pengertian ataupun definisi tentang nipah
2. Untuk mengetahui karakteristik ataupun ciri-ciri nipah dari segi biologi
3. Untuk memahami klasifikasi dan taksonomi nipah
4. Untuk mengetahui tempat hidup dan daerah distribusi penyebaran nipah
5. Untuk mengetahui manfaat nipah bagi kehidupan masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bioekologi Nipah


2.1.1 Biologi
a. Identifikasi
Nipah memiliki buah yang membulat seperti buah pandan
dengan panjang bonggol hingga 45 cm. Batang pohon nipah
membentuk rimpang yang terendam oleh lumpur. Akar serabutnya
dapat mencapai panjang 13 m. Panjang anak daun dapat
mencapai 100 cm dan lebar daun 4-7 cm. Daun nipah yang sudah
tua berwarna kuning, sedangkan daunnya yang masih muda
berwarna hijau. Banyaknya anak daun dalam tiap tandan
mencapai 25-100 helai (Vernandos dan Huda, 2008). Buah tipe
buah batu dengan mesokarp bersabut, bulat telur terbalik dan
gepeng dengan 2-3 rusuk, coklat kemerahan, 11 x 13 cm,
terkumpul dalam kelompok rapat menyerupai bola berdiameter
sekitar 30 cm (Steenis (1981)). Struktur buah berbentuk bulat,
warna coklat, kaku dan berserat. Pada setiap buah terdapat satu
biji berbentuk menyerupai telur. Ukuran diameter kepala buah
nipah dapat mencapai 45 cm dan diameter biji 4-5 cm (Rusila et
al., 1999).

Gambar 1. Buah Nipah (Rusila et al., 1999)


b. Taksonomi
Klasifikasi nipah menurut Ditjenbun (2006):
Kingdom

: Plantae

Division

: Magnnoliophyta

Classis

: Liliopsida

Ordo

: Arecales

Familia

: Arecaceae

Genus

: Nypa

Spesies

: Nypa fruticans

c. Asal Usul dan Macam-Macam Nipah


Tanaman nipah mempunyai nama yang berbeda-beda di
setiap daerah tumbuhnya. Di Malaysia dan Indonesia dengan
nama umum nipah. Di Filipina dalam bahasa tagalog diberi nama
loso. Adapun di Australia oleh orang Aborigin disebut ki-bano dan
tacannapoon. Di Indonesia sendiri setiap daerah mempunyai
nama-nama yang berbeda untuk setiap jenis palma ini. Tercatat
bermacam-macam nama daerah untuk nipah antara lain di
Sumatera;

bak

nipah

(Aceh),

nipah

(Karo),

pusuk

(Angkola/Mandailing), dan lain-lain (Bandini et. al., 1996).


Indonesia sendiri terdapat sekitar 130 genera dengan
kurang lebih 1100 spesies dan tersebar di wilayah Indonesia,
salah satunya palem jenis nipah (Nypa friticans). Umumnya nipah
berbentuk pohon meskipun tidak secara keseluruhan. Nipah
mempunyai bentuk tubuh yang semampai. Jenis-jenis nipah yaitu
ada yang berbentuk liana menyerupai tali yang memerlukan pohon
lain sebagai panjatan untuk hidupnya. Ada pula yang tubuhnya
seakan akan hanya terdiri atas daun-daun saja karena batangnya
yang berkembang. Nipah dan salak misalnya mewakili kelompok
ini (Bandini, 1996).
d. Siklus Hidup
Nipah merupakan salah satu jenis palem yang memiliki
siklus hidup hampir sama dengan jenis palem yang lainnya yaitu

memiliki perbungaan pada ujung batang. Palem dominan bersifat


hapasantik yaitu setelah berbunga dan berbuah lalu mati. Selain
diujung batang, perbungaan ada yang tumbuh diantara daun
(interfoliar), dimana makin keatas perbungaan yang muncul
semakin muda (Bandini, 1996).
e. Reproduksi
Karangan bunga

nipah

berupa

bunga majemuk

yang

muncul di ketiak daun, berumah satu, dengan bunga betina


terkumpul di ujung membentuk bola dan bunga jantan tersusun
dalam malai serupa untai, merah, jingga atau kuning pada cabang
di bawahnya. Setiap untai mempunyai 4-5 bulir bunga jantan yang
panjangnya mencapai 5 cm. Bunga nipah jantan dilindungi
oleh seludang bunga, namun bagian yang terisi serbuk sari tetap
tersembul keluar. Bunga nipah betina berbentuk bulat peluru dan
bengkok mengarah ke samping. Panjang tangkai badan bunga
mencapai 100 170 cm. Benang sari berjumlah 6-9 buah atau
lebih, jarang berjumlah 3. Selain itu biji kebanyakan dengan putik
lembaga seperti tanduk pada buah batu besar melekat dengan
lapisan terdalam dari dinding buah. Nipah memiliki serbuk sari
yang lengket dan penyerbukan biasanya dibantu oleh lalat
Drosophila. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada
biji membantu penyebaran mereka melalui air. Kadang-kadang
bersifat vivipar (Steeni, 2003).
2.1.2 Ekologi
Nipah merupakan jenis mangrove yang banyak didapati di rawarawa air payau dan di depan muara-muara sungai pada ketinggian 0-200
m dpl serta daerah yang beriklim basah dan mengandung cukup bahanbahan organik disekitarnya (Hyene, 1987). Nipah atau Nypa fruticans
(Thunb.) Wurmb merupakan salah satu anggota suku Palmae yang dapat
tumbuh di sepanjang sungai yang terpengaruh oleh pasang surut air laut
dan tumbuhan ini dikelompokkan pula dalam ekosistem hutan mangrove.
Jenis ini tumbuh rapat berkelompok, seringkali membentuk komunitas

murni yang luas di sepanjang sungai dekat muara hingga sungai dekat air
payau (Kitamura et. al., 1997).
Tumbuhan nipah tumbuh pada substrat yang halus, pada bagian
tepi atas dari jalan air. Substrat tumbuh nipah berupa tanah halus. Derajat
keasaman (pH) yang sesuai antara 6 - 6,5. Kondisi suhu lingkungan yang
cocok

berkisar

20o-35o C.

Suhu

rendah

sangat

mempengaruhi

pertumbuhan nipah karena tanaman nipah sangat toleran terhadap suhu


pengaruh terhadap suhu rendah akan mengakibatkan nipah sulit untuk
berbunga dan berbuah. Memerlukan masukan air tawar tahunan yang
tinggi. Jarang terdapat di luar zona pantai. Biasanya tumbuh pada
tegakan yang berkelompok. Memiliki sistem perakaran yang rapat dan
kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap pertumbuhan masukan air,
dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove lainnya
(Bandini, 1996).
Menurut Steenis (1981), konsentrasi sulfida tanah dan salinitas
menyebabkan perbedaan struktur dominasi vegetasi mangrove. Salinitas
pada zona mangrove terbagi tiga yaitu salinitas rendah berada pada
kadar 20. Sedang antara 20-40 mmosh/ cm 3 dan salinitas kuat yaitu
diatas 40 micromhos/ cm3. Nipah tumbuh pada kadar salinitas antara 50100 mmosh/cm3. Kadar salinitas tinggi menyebabkan tanaman menjadi
kerdil serta produksi malai dan buahnya menjadi rendah. Nipah
digolongkan zona transisi dari pantai ke hutan dataran rendah (Gunarjo,
2008). Berdasarkan penelitian oleh Kathiresan 2001, tempat tumbuh
tanaman nipah digolongkan pada zona berikut :
1. Hutan mangrove pinggiran (ringing mangrove forest)
Berada di sepanjang perbatasan garis pantai banyak dipengaruhi
oleh jangkauan pasang surut, mudah tekena erosi dan akan lama
untuk kembali ke bentuk daratan semula jika terpapar ombak besar
saat terjadi pasang surut.
2. Hutan mangrove sungai (riverine mengrove forest)
Merupakan bagian terlebat pada mangrove yang ada di sepanjang
sungai dan anak sungai. Zona hutan mangrove ini banyak dilewati ari
segar dalam jumlah besar berupa air tawar yang akan menuju laut
sepanjang sungai, aliran air membawa tanah yang mengendap
membentuk endapan liat berupa tanah alluvial mengandung banyak

nutrisi yang membuat tegakan vegetasi lebih tinggi dan tumbuh


dengan cepat

2.2 Distribusi Nipah


Distribusi nipah meliputi Asia Tenggara, Malaysia, seluruh Indonesia,
Papua New Guinea, Filipina, Australia, dan Pasifik barat (Rusila et al., 1999).
Sebaran jenis mangrove ini utamanya di daerah equator, melebar dari Sri Langka
ke Asia Tenggara hingga Australia Utara. Luas pertanaman nipah di Indonesia
diperkirakan 700.000 ha, merupakan nipah yang terluas dibandingkan dengan
Papua Nugini seluas 500.000 ha dan Filipina dengan luas sebaran 8.000 ha
(Gunarjo, 2008). Mangrove jenis Nipah (Nypa fruticans) merupakan salah satu
spesies utama penyusun hutan mangrove dengan komposisi 30% dari total luas
area mangrove atau sekitar 973.205,54 hektar (Bandini, 1996).

2. 3 Pemanfaatan Nipah
Daun nipah juga dapat dianyam untuk membuat tikar, tas, topi dan aneka
keranjang anyaman. Di Sumatera, pada masa silam daun nipah yang muda
(dinamai pucuk) dijadikan daun rokok yaitu lembaran pembungkus untuk
melinting tembakau setelah dikelupas kulit arinya yang tipis, dijemur kering,
dikelantang untuk memutihkannya dan kemudian dipotong-potong sesuai ukuran
rokok. Beberapa naskah lama Nusantara juga menggunakan daun nipah sebagai
alas tulis, bukannya daun lontar (Heyne, 1987).
Manfaat lainnya adalah berupa tangkai daun dan pelepah nipah yang
dapat
digunakan sebagai bahan kayu bakar yang baik. Pelepah daun nipah juga
mengandung selulosa yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan
pulp (bubur kertas). Lidinya dapat digunakan untuk sapu, bahan anyam-anyaman
dan tali. Nipah dapat pula disadap niranya, yakni cairan manis yang diperoleh
dari
tandan bunga yang belum mekar. Nira yang dikeringkan dengan dimasak
dipasarkan sebagai gula nipah (palm sugar). Dari hasil oksidasi gula nipah dapat
dihasilkan cuka. Di Pulau Rote dan Sawu, Nusa Tenggara Timur, nira nipah
diberikan ke ternak babi di musim kemarau. Konon, hal ini bisa memberikan rasa
manis pada daging babi (Alrasyid, 2001).

Di Filipina dan juga di Papua, nira ini diperam untuk menghasilkan


semacam tuak yang dinamakan tuba (dalam bahasa Filipina). Fermentasi lebih
lanjut dari tuba akan menghasilkan cuka. Di Malaysia, nira nipah dibuat sebagai
bahan baku etanol yang dapat dijadikan bahan bakar nabati pengganti bahan
bakar minyak bumi. Etanol yang dapat dihasilkan adalah sekitar 11.000
liter/ha/tahun, jauh lebih unggul dibandingkan kelapa sawit (5,000 liter/ha/tahun).
Sedangkan umbut nipah dan buah yang muda dapat dimakan. Biji buah nipah
yang muda, yang disebut tembatuk, mirip dengan kolang-kaling (buah atep), dan
juga diberi nama attap chee (menurut dialek China tertentu). Sedangkan buah
yang sudah tua bisa ditumbuk untuk dijadikan tepung (Heyne, 1987).
Buah nipah yang masih mengkal dapat dimanfaatkan sebagai kolangkaling dan manisan. Buah nipah yang masih mengkal dikupas kulitnya dan
diambil bijinya lalu dibersihkan dan direndam dalam air. Buah nipah yang masih
setengah masak dapat dimakan seperti halnya kolang-kaling dan diolah menjadi
manisan. (Heyne, 1987).
Nira yang dihasilkan dari pohon nipah digunakan sebagai bahan baku
pembuatan gula merah. Produksi nira perhektar bergantung pada tersedinya
jumlah malai siap sadap, keterampilan teknis tenaga kerja dan gangguan hama.
Umumnya rata-rata produksi nira per hari 1 ,6-2 liter perpohon (2 kali sadap) dan
rata-rata produksi nira per malai 48-60 liter per pohon untuk jangka penyadapan
selama 3 bulan. Berdasarkan analisa laboratorium, nira segar memiliki komposisi
:Brix 15-17%; Sukrosa 13-15%; Gula reduksi 0,2-0,5% dan Abu 0,3-0,7%
(Alrasyid, 2001).
Disamping sebagai bahan makanan, nipah (Nypa fruticans) mengandung
ekstrak aktif yang bermanfaat untuk menghambat penyakit yang disebabkan oleh
radikal bebas di dalam tubuh. Kandungan zat penghambat peroksida lipid pada
nipah menunjukkan aktivitas yang kuat. Peroksidasi lipid berperan dalam proses
penuaan dan beberapa penyakit kronis termasuk diabetes, gangguan saraf,
kardio (penyakit pembuluh darah) dan kanker. Kandungan lain dalam nipah yaitu
polifenol, tannin dan alkaloid. merupakan senyawa kimia yang digolongkan dalan
antioksidan alami yang dapat ditemukan dalam tanaman (Heyne, 1987).
Selain itu saat ini banyak diproduksi makanan kesehatan baik berupa pil,
kapsul dan suplemen yang berantioksidan. Makanan kesehatan mempunyai
pangsa yang besar bahkan telah menjadi gaya hidup. Oleh karena itu,
penemuan dan pengembangan bahan antioksidan dari sumber daya hayati laut

dan pesisir sangat penting, mengingat antioksidan dapat diaplikasikan sebagai


bahan obat, makanan dan kosmetika (Bandini, 1996).

BAB III
PENUTUP

3. 1 Simpulan
Nipah merupakan salah satu jenis palmae yang hidup di daerah
mangrove yaitu sepanjang daerah pasang surut dan diantara sungai yang berair
payau. Nipah memiliki buah batu mesokarp menyerupai telur dan tergolong
Family Arecaceae dengan nama latin Nypa fruticans. Di Indonesia terdapat 130
genera dan 1100 spesies yang tersebar. Nipah tergolong jenis liana dan
mengalami siklus hidup hapasantik yaitu berbunga, berbuah lalu mati.
Penyerbukan nipah dibantu oleh lalat Drosopila. Namun dapat bereproduksi
secara vivipar. Habitat nipah di rawa-rawa air payau dengan Ph 6-6.5 serta
kondisi suhu lingkungan 20 - 35C. Distribusi nipah di sepanjang garis equator
meliputi Asia Tenggara, Australia dan Pasifik Barat. Nipah dapat dimanfaatkan
sebagai bahan pangan dan minuman, kerajinan rumah tangga, serta obat-obatan
medis.

3. 2 Saran
Demikian makalah ini kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca dan dapat memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang
nipah serta dapat diiringi dengan referensi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alrasyid, H. 2001. Pedoman Pengelolaan Hutan Nipah (Nypa fruticans) secara


Lestari. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Badan Litbang
Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Bandini, Y. 1996. Nipah Pemnis Alami Baru. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ditjenbun.

2006.

Daftar

Perkebunanberdasarkan

Komoditi

Binaan

Keputusan

Menteri

Direktorat
Pertanian

Jendral
Nomor

511/KPTS/PD 310/9/2006.
Gunarjo. 2008. Diversifikasi Kunci Ketahanan Pangan. Komunika: Edisi Khusus
Pangan. Pusat Data Depkominfo. Jakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Litbang Kehutanan.
Departemen Kehutanan. Jakarta.
Kathiresan, K. and B. L. Bingham. 2001. Biology of Mangrove and Mangrove
Ecosystem. Adv. Mar. Biol. 40, 81-151.
Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Handbook of
Mangroves in Indonesia : Bali and Lombok. Ministry of Indonesia and
JICA. Jakarta.
Rusila Noor, Y., M. Khazali., dan I N. N.Suryadiputra. 1999. Panduan Pengenalan
Mangrove di Indonesia. PHKA/WI-IP. Bogor.
Steenis, CGGJ van. 1981. Flora untuk Sekolah di Indonesia. PT Pradnya
Paramita. Jakarta.
Vernandos, A., N. Huda. 2008. Fermentasi Nira Nipah menjadi Etanol
Menggunakan Saccharomyces Cerevisiae. Skripsi. Universitas Riau.
Pekanbaru.