Anda di halaman 1dari 12

Fungsi Suplemen Ca dan Vitamin D dalam Pertumbuhan Tulang

dan Kontraksi Otot


Karina Marcella Widjaja
102011183
Kelompok F6
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespendensi:
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11510
Telp: (021) 5694-2061, Fax: 021-5631731, E-mail: karinamarcella25@hotmail.com

Pendahuluan
Saat ini penyakit musculoskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di
dunia. Salah satunya yang berperan adalah vitamin D dan kalsium. Namun dewasa ini banyak
manusia yang kurang mengkonsumsi vitamin tersebut. Pertumbuhan tulang normal dan
proses mineralisasi membutuhkan vitamin D, kalsium dan fosfor yang adekuat. Kalsium
merupakan mineral yang penting bagi manusia antara lain sebagai metabolisme tubuh, kerja
jantung, dan pergerakan otot. Apabila kekurangan kalsium (defisiensi), pertumbuhan tulang
akan terhambat dan pembentukan kembali tulang juga akan lambat. Defisiesi yang lama dari
berbagai hal diatas mengakibatkan akumulasi matriks tulang yang tidak dimineralisasikan.
Sebagian besar patah tulang atau fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tibatiba dan
berlebihan seperti pada skenario dimana seorang anak kecil terjatuh dan patah tulang pahanya
ketika sedang menuruni tangga.
Untuk itu, makalah ini dibuat untuk memberikan informasi tentang fungsi suplemen
kalsium dan vitamin D pada pertumbuhan tulang, pembentukan tulang, dan kontraksi otot.

Struktur Makroskopis Tulang


Secara garis besar tulang dikenal ada dua tipe yaitu tulang korteks (kompakta) dan
tulang trabekular (berongga/spongiosa).
Struktur kompakta/kortikal terdapat pada bagian tepi tulang panjang meliputi
permukaan eksternal. Pada bagian internal tulang, terdapat struktur spongiosa seperti jala-jala
sedangkan bagian tengah tulang panjang kosong atau disebut cavitas medullaris untuk tempat
sumsum tulang.
Struktur maksoskopis tulang dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Tulang korteks/kompakta:
Pada persendian, tulang kompakta ditutupi oleh kartilago/tulang rawan sepanjang hidup
yang disebut tulang subchondral. Tulang ini merupakan bagian terbesar penyusun
kerangka, mempunyai fungsi mekanik, modulus elastisitas yang tinggi dan mampu
menahan tekanan mekanik berupa beban tekukan dan puntiran yang berat. Tulang korteks
terdapat pada tulang panjang ekstremitas dan vertebra. Bagian-bagian tulang panjang
yang panjang dan silindris disebut diaphysis, sedangkan ujung proksimal dan distalnya
terdapat epiphysis dan metaphysis. Jadi, diaphysis adalah batang tulang panjang,
epiphysis adalah ujung akhir tulang panjang sedangkan metaphysis adalah ujung tulang
panjang yang melebar ke samping.
2. Tulang spongiosa/canselou/trabekular:
Tulang spongiosa juga keras seperti tulang kompakta tetapi secara makroskopis terlihat
berongga-rongga. Mempunyai elastisitas yang lebih kecil dari tulang korteks dan
mengalami proses resorpsi lebih cepat dibandingkan dengan tulang korteks. Tulang
spongiosa terdapat pada daerah metafisis dan epifisis tulang panjang serta pada bagian
dalam tulang pendek. Jika dilihat dengan mikroskop kanal Havers, tulang ini besar dan
mengandung lebih sedikit lamella.1
Struktur Mikroskopis Tulang
Tulang kompakta tidak bisa diberi nutrisi melalui difusi permukaan pembuluhpembuluh darah, sehingga memerlukan sistem Haversi. Tulang trabekular lebih porus dan
menerima nutrisi dari pembuluh darah di sekitar ruang sumsum. Tulang dewasa baik yang
kompakta maupun trabekular secara histologis adalah tulang lamela. Lamella menunjukkan
tumpukan paralel serabut kolagen.
Setiap batang potongan melintang tulang kompakta lamelar disebut sistem Haversi
atau osteon. Inti sistem Haversi adalah kanal Haversi dimana darah, limfe dan serabut saraf

lewat. Kanal-kanal kecil tambahan disebut kanal-kanal Volkmann membelah jaringan tulang
secara oblique pada sudut runcing di permukaan periosteal dan endosteal.2
Sel-sel penyusun tulang terdiri dari:
1. Osteoblas: berfungsi menghasilkan jaringan osteosid menyekresi sejumlah besar fosfatase
alkali yang berperan penting dalam pengendapan kalsium dan fosfat ke dalam matriks
tulang.
2. Osteosit: adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai lintasan untuk pertukaran
kimiawi melalui tulang yang padat.
3. Osteoklas: adalah sel sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang
dapat diabsorpsi. Sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecah matriks dan
beberapa asam yang melarutkan mineral tulang sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke
dalam darah.
4. Matriks tulang: kira-kira 50% dari berat kering matriks tulang adalah bahan anorganik.
Yang teristimewa banyak dijumpai adalah kalsium dan fosfor, namun bikarbonat, sitrat,
magnesium, kalium dan natrium juga ditemukan. Bahan organik dalam matriks tulang
adalah kolagen tipe 1 dan substansi dasar, yang mengandung agregat proteoglikan dan
beberapa glikoprotein struktural spesifik. Glikoprotein tulang mungkin bertanggung
jawab atas kalsifikasi matriks tulang. Jaringan lain yang mengandung kolagen tipe 1
biasanya tidak mengapur dan tidak mengandung glikoprotein tersebut. Karena kandungan
kolagennya yang tinggi, matriks tulang yang terdekalsifikasi terikat kuat dangan pewarna
serat kolagen. Gabungan mineral dangan serat kolagen memberikan sifat keras dan
ketahanan pada jaringan tulang. Setelah tulang mengalami dekalsifikasi, bentuknya tetap
terjaga, namun menjadi fleksibek mirip tendon. Dengan menghilangkan bagian dari
matriks yang terutama beurpa kolagen bentuk tulang juga masih terjaga namun kini
menjadi rapuh, mudah patah dan hancur ketika dipegang.
5. Periosteum dan Endosteum: permukaan luar dan dalam tulang ditutupi lapisan sel-sel
pembentuk tulang dan jaringan ikat yang disebut periosteum dan endosteum. Periosteum
terdiri atas lapisan luar serat-serat kolagen dan fibrobals. Berkas serat kolagen priosteum
yang disebut serat sharpey, memasuki matriks tulang dan mengikat periosteum pada
tulang. Lapisan dalam periosteum yang lebih banyak mengandung sel terdiri atas sel-sel
mirip fibroblast yan gdisebut sel osteoprogenitor, yang berpotensi membelah melalui
mitosis dan berkembang menjadi osteoblas. Endosteum melapisi semua rongga dalam di
dalam tulang dan terdiri atas selapis sel osteoprogenitor gepeng dan sejumlah kecil
jaringan ikat. Karenanya endosteum lebih tipis daripada periosteum. Fungsi utama dari

Periosteum dan Endosteum adalah memberi nutrisi kepada jaringan tulang dan
menyediakan osteoblas baru secara kontinu untuk perbaikan atau pertumbuhan tulang.1
Anatomi Ekstremitas Inferior (Os Femur)
Os femur merupakan tulang yang berhubungan dengan os coxae di bagian superior
dan berhubungan dengan os tibia dan os fibula di bagian inferior.

GAMBAR 1 Os Femur (Anterior dan Posterior view)3

Bentuk Tulang
Tulang-tulang yang menyusun tubuh kita sangat banyak jumlahnya. Berdasarkan bentuknya,
tulang penyusun tubuh kita dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu tulang pipa, tulang
pendek, tulang pipih, dan tulang tidak beraturan.
1. Tulang Pipa

Tulang ini memiliki bentuk memanjang dan tengahnya berlubang. Disebut tulang pipa
karena tulang jenis tersebut berbentuk seperti pipa dengan kedua ujungnya yang bulat.
Ujung tulangnya yang berbentuk bulat dan tersusun atas tulang rawan disebut epifise.
Sedangkan pada jenis ini bagian tengah tulang pipa yang berbentuk silindris dan
berongga disebut diafise. Di antara epifise dan diafise terdapat bagian yang disebut
metafise. Contoh: tulang paha, tulang betis, dan tulang lengan.
2. Tulang Pendek
Tulang pendek memiliki bentuk sesuai dengan namanya berbentuk pendek. Tulang ini
bersifat ringan dan kuat. Meskipun tulang ini pendek, tulang ini mampu menahan beban
yang cukup berat. Contohnya adalah tulang pergelangan tangan, telapak tangan, dan
telapak kaki.
3. Tulang Pipih
Tulang ini memiliki bentuk pipih seperti pelat. Contoh dari tulang pipih adalah tulang
penyusun tengkorak, tulang rusuk, dan tulang dada.
4. Tulang tidak Beraturan
Tulang jenis ini merupakan gabungan dari berbagai bentuk tulang. Contohnya adalah
tulang wajah dan tulang yang terdapat pada ruas-ruas tulang belakang.4

Pertumbuhan dan Pembentukan Tulang


Pemanjangan tulang berlangsung hanya pada perbatasan antara diafisis dan epifisis
(lempengepifisis). Mendekati diafisis, sel-sel ini mengalami hipertropi dan matriksnya akan
mengalami kalsifikasi. Tulang dapat dibentuk dengan 2 cara: mineralisasi langsung dari
matriks yang disekresiosteoblas (osifikasi intramembranosa) atau oleh deposisi matriks
tulang pada matriks tulang rawan yang sudah ada (osifikasi endokondral).
1. Osifikasi intramembranosa

GAMBAR 2. Osifikasi Intramembranosa.5


Terjadi pada kebanyakan tulang pipih, disebut demikian karena terjadi di dalam
kondensasi jaringan mesenkim. Tulang frontal dan parietal tengkorak,selain bagian tulang
oksipital dan temporal dan mandibula serta maksila, dibentuk melalui osifikasi
intramembranosa. Proses ini juga ikut dalam pertumbuhan tulang-tulang pendek,
dan penebalan tulang panjang. Pada lapisan kondensasi mesenkim, titik awal osifikasi
disebut pusat osifikasi primer. Proses diawali saat sekelompok sel berkembang menjadi
osteoblas.
Osteoblas menghasilkan matriks tulang dan diikuti kalsifikasi, berakibat sebgaian
osteoblas dibungkus simpai, yang kemudian menjadi osteosit. Pulau-pulau pembentukan
tulang ini membentuk dinding yang membatasi rongga-rongga panjang yang berisi kapiler.
2. Osifikasi endokondral

GAMBAR 3. Osifikasi Endokondral.5


yaitu suatu proses penulangan tidak langsung, selalu didahului dengan terbentuknya
tulang rawan (cartilago) dan prosesnya lebih kompleks. Jaringan mesencym mula-mula
membentuk tulang rawan hyaline yang sekaligus merupakan pola tulang yang akan
dibentuk. Pertumbuhan sampai menjadi tulang berlangsung melalui tahap berikut :
- Pertumbuhan sel-sel tulang rawan: sel-sel mesencym menjadi sel calon tulang
-

rawan(chondroblast) kemudian melanjut menjadi sel tulang rawan (chondrocyte).


Perbanyakan dan pembesaran chondrocyte yang berderat-deret menurut poros panjang

tulang.
Pengapuran matriks tulang rawan.
Pergantian tulang rawan yang mengapur dengan tulang secara proses penulangan
langsung.
Tulang rawan epifisi dibagi dalam 5 zona, yang dimulai dari sisi epifisis tulang:

(1) Zona istirahat, terdiri atas tulang rawan hialin tanpa perubahan morfologi dalam sel, (2)
Dalam zona proliferasi, kondrosit cepat membelah dan tersusun dalam kolom-kolom sel
secara paralelterhadap sumbu panjang tulang. (3) Zona hipertrofi tulang rawan mengandung
kondrosit besar yang sitoplasmanya telah menimbun glikogen. Matriks yang telah diresorpsi
hanya tersisa berupa septa tipis di antara kondrosit. (4) Zona kalsifikasi tulang rawan,
kondrosit mati, septatipis matriks tulang rawan mengalami pengapuran (kalsifikasi) dengan
mengendapnya hidroksi apatit. (5) Di zona osifikasi, muncul jaringan tulang endokondral.
Kapiler darah dansel-sel osteoprogenitor yang dibentuk melalui mitosis sel, berasal dari invasi periosteum
kerongga yang ditinggalkan kondrosit. Sel osteoprogenitor membentuk osteoblas, yang
tersebar membentuk lapisan tidak utuh di atas septa matriks tulang rawan berkapur. Akhirnya,
osteoblas meletakkan matriks tulang di atas matriks tulang rawan 3 dimensi yang berkapur.
Sebagai

kesimpulan,

pertumbuhan

memanjang

tulang-tulang

panjang

terjadi

melalui proliferasi kondrosit dalam lemperng epifisis di dekat epifisis. Pada waktu yang
sama, kondrosit sisi diafisis dari lempeng mengalami hipertrofi; matriksnya mengalami
perkapuran,dan sel-selnya mati. Karena kecepatan kedua kejadian yang berlawanan ini
(proliferasi dan destruksi) kuranglebih sama, tebal lempeng epifisis tidak banyak berubah.
Bahkan, lempeng epifisis didesak menjauhi bagian diafisis sehingga tulang tersebut
bertambah panjang.6

Fungsi Suplemen Ca dan Vitamin D dalam Pertumbuhan Tulang dan Kontraksi Otot
Kalsium
Kalsium dalam tulang merupakan sumber kalsium darah. Walaupun makanan kurang
mengandung kalsium, konsentrasinya dalam darah akan tetap normal.
Osteoblas menambah dan menimbun kalsium ke dalam tulang, sebalinya osteoklas
dan menimbun kalsium ke dalam tulang. Ketika tubuh kekurangan kalsium, kalsium dari
tulang akan dilepaskan untuk mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga mengakibatkan tulang
tidak akan keropos. Sementara pada waktu otot berkontraksi, kalsium berperan dalam
interaksi protein di dalam otot, yaitu aktin dan miosin.
Vitamin D
Yang mengatur konsentrasi kalsium dalam cairan tubuh ini adalah hormon-hormon
paratiroid (PTH) dan tirokalsitonin dari kelenjar tiroid serta vitamin D. Hormon paratiroid
dan vitamin D meningkatkan kalsium darah.
Fungsi utama dari vitamin D adalah:
-

Mempertahankan konsentrasi kalsium dan fosfor serum dalam kisaran normal dengan
meningkatkan efisiensi usus halus untuk menyerap mineral-mineral tersebut dari
makanan.

Mengatur pernyerapan kalsium di usus sehingga kadar kalsium dalam darah normal.

Membantu mempertahankan agar tulang tetap kuat dan padat.

Mencegah penyakit rickets pada anak akibat kekurangan vitamin D.

Mempercepat pertumbuhan dan pembentukan tulang kembali.

merangsang absorbsi kalsium oleh saluran cerna hormon paratiroid merangsang


pelepasan kalsium dari tulang ke dalam darah.
Vitamin D merupakan salah satu vitamin yang fungsinya di dalam tubuh cukup unik

karena mirip dengan fungsi hormon. Hormon tersebut adalah paratiroid. Perlu diketahui
bahwa dalam proses pengubahan calcidiol menjadi calcitrol, hormon paratiroid (PTH)-lah
yang merangsang ginjal melakukan proses itu. Bila terlalu banyak calcidiol di dalam tubuh,
akan terlalu banyak hormon paratiroid yang dilepaskan. Karena hormon tersebut juga
merangsang pembentukan osteoclast (sel-sel yang melarutkan tulang), terlalu banyak PTH
akan menyebabkan pengeroposan tulang. Karena itu, terlalu banyak vitamin D juga tidak baik
bagi tulang.7
Remodeling Tulang

Tulang diabsorbsi secara kontinu dengan adanya osteoklas. Mekanisme absorpsi sebagai
berikut:
1. Osteoklas mengeluarkan tonjolannya yang menyerupai vili kea rah tulang, yang
membentuk suatu permukaan bergelombang yang berdekatan dengan tulang.
2. Vili tersebut menyekresikan dua macam zat: enzim proteolitik, yang dilepaskan dari
lisosom osteoklas dan beberapa asam.
3. Enzim tersebut akan melarutkan matriks organic tulang.
4. Sel osteoklas mengimbimbisi tulang dengan memfagositosis partikel kecil dari matriks
dan kristal tulang.
5. Melepaskan produknya ke dalam darah.
6. Osteoklas biasanya terdapat dalam jumlah kecil namun terkonsentrasi. Begitu massa
osteoklas terbentuk, osteoklas akan memakan tulang selama kira-kira 3 minggu.
7. Pada akhir tahap, osteoklas menghilang dan terowongan akan ditempati osteoblas
kemudian tulang yang baru mulai terbentuk (remodeling).
8. Pembentukan tulang kemudian berjalan selama beberapa bulan.
9. Tulang yang baru berada dalam lingkaran konsentris yang berlapis (lamella) pada
permukaan dalam rongga sampai terowongan dipenuhi.
10. Pembentukan kembali tulang berhenti apabila tulang mulai mencapai pembuluh darah
yang memasok daerah tersebut (kanal Havers).
Remodeling dan absorpsi tulang secara kontinu memiliki beberapa fungsi fisiologis penting
yaitu:
1. Tulang biasanya menyesuaikan kekuatannya agar sebanding dengan derajat tekanan yang
diterimanya sehingga tulang akan menebal jika menerima beban berat.
2. Bentuk tulang dapat disusun kembali agar berfungsi sebagai penyangga mekanik oleh
proses pembentukan dan absorpsi tulang.
3. Karena tulang yang tua menjadi relative lemah dan rapuh, matriks organic yang baru
diperlukan sewaktu matriks organic tua berdegenerasi sehingga kekuatan tulang
dipertahankan.
4. Tulang yang memiliki kecepatan remodeling dan absorpsi yang tinggi memperlihatkan
lebih sedikit kerapuhan dibandingkan dengan tulang yang pembentukannya lambat.8

Mekanisme Kontraksi Otot

Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi. Otot memendek
jika sedang berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi. Kontraksi otot terjadi jika otot
sedang melakukan kegiatan , sedangkan relaksasi otot terjadi jika otot sedang beristirahat.
Dengan demikian otot memiliki 3 karakter, yaitu:
9

a. Kontraksibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memendek dan lebih pendek dari ukuran
semula, hal ini teriadi jika otot sedang melakukan kegiatan.
b. Ektensibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memanjang dan lebih panjang dari ukuran
semula.
c. Elastisitas,

yaitu

kemampuan

otot

untuk

kembali

pada

ukuran

semula.

Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu filamen aktin dan filamen miosin.
Filamen aktin tipis dan filamen miosin tebal. Kedua filamen ini menyusun miofibril.
Miofibril menyusun serabut otot dan serabut otot-serabut otot menyusun satu otot.9
Permulaan dari kontraksi otot rangka dimulai dengan potensial aksi di dalam
serabut-serabut otot. Keadaan ini menimbulkan arus listrik yang menyebar ke bagian dalam
dari serabut otot, dimana arus listrik tersebut menyebabkan pelepasan ion-ion kalsium dari
retikulum sarkoplasma. Ion-ion kalsium inilah yang akan menimbulkan peristiwa kimia dari
proses kontraksi otot. Semua proses untuk mengatur kontraksi otot disebut excitationcontraction coupling.
Kontraksi didasarkan adanya dua set filamen di dalam sel otot kontraktil yang
berupa filament aktin dan filamen miosin.. Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin
menyebabkan aktomiosin mengerut (kontraksi). Kontraksi ini memerlukan energi. Pada
waktu kontraksi, filamen aktin meluncur di antara miosin ke dalam zona H (zona H adalah
bagian terang di antara 2 pita gelap). Dengan demikian serabut otot menjadi memendek yang
tetap panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan ban I (pita terang) dan zona H
bertambah

pendek

waktu

kontraksi.

Ujung

miosin

dapat

mengikat

ATP

dan

menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara memotong


pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang
berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin
membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan, dan ujung
miosin lalu beristirahat dengan energi rendah, pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini
mengubah sudut perlekatan ujung miosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin energi
rendah dan aktin terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin.
Kemudian siklus tadi berulang Iagi.10
ATP (Adenosin Tri Phosphat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi otot.
ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan interaksi antara
aktin dan miosin yang memerlukan ATP.
ATP ----> ADP + P (oleh enzim ATPase)
10

Aktin + Miosin -------------------------> Aktomiosin


Fosfokreatin merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat dalam
konsentrasi tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak dapat dipakai langsung sebagai sumber
energi, tetapi fosfokreatin dapat memberikan energinya kepada ADP.
Fosfokreatin + ADP -----------------> keratin + ATP (menggunakan enzim Fosfokinase)
Pada otot lurik jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP. Pemecahan ATP
dan fosfokreatin untuk menghasilkan energi tidak memerlukan oksigen bebas. Oleh sebab itu,
fase kontraksi otot sering disebut fase anaerob.11
Kesimpulan
Jadi pemberian suplemen dan vitamin D berfungsi untuk pertumbuhan tulang,
pembentukan kembali tulang, dan kontraksi otot. Dimana hormon paratiroid merangsang
pelepasan kalsium dari tulang ke dalam darah. Osteoblas juga menambah dan menimbun
kalsium ke dalam tulang, sebaliknya osteoklas dan menimbun kalsium ke dalam tulang.
Ketika tubuh kekurangan kalsium, kalsium dari tulang akan dibawa ke dalam darah untuk
mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga tulang paha anak tersebut akan terbentuk kembali dan
proses osifikasi terjadi secara cepat. Selain itu, pemberian kalsium juga dapat meningkatkan
kontraksi otot sehingga otot anak tersebut dapat kembali bekerja dengan baik.

Daftar Pustaka
1. Suratun, Heryati, Manurung S, Raenah E. Klien gangguan sistem muskuloskeletal.
Jakarta: EGC; 2008.h.6-7.
2. Indriati, E. Biologi tulang manusia. Jakarta; 2004.
3. Gambar Os femur. Diunduh dari http://www.netterimages.com/image/4643.htm, 16
Maret 2012.
4. Macam-macam

bentuk

tulang.

Diunduh

dari

http://www.sentra-

edukasi.com/2011/07/macam-jenis-tulang-berdasarkan.html, 16 maret 2012.


5. Gambar osifikasi endocondral. Diunduh dari http://www.google.co.id/imgres?
q=osifikasi&start=77&um=1&hl=id&biw=1366&bih=632&tbm=isch&tbnid=ewFnF
BdegsGIiM:&imgrefurl=http://www.stmary.ws/highschool/science/humanbio/q1/q1no
tes/BoneTissueNotes.htm&docid=D2RUo81opd4ycM&imgurl=http://www.stmary.ws
/highschool/science/humanbio/q1/q1notes/endochondrial
11

%252520_bone.jpg&w=467&h=264&ei=RmRjT-ywBsrOrQfM-Ny9Bw&zoom=1,
16 Maret 2012.
6. Sloane, E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004.h.94-6.
7. Mengenal, mencegah, dan mengatasi tulang keropos. Tandra H. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama; 2009.h.34-6.
8. Guyton AC, Hall JE. Fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: EGC; 2008.h.1033-4.
9. Sherwood, L. Fisiologi manusia. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2001.
10. Barret KE, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. Ganongs review of medical
physiology. 23rd edition. United States: The McGraw-Hill; 2010. p. 79-114.
11. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta: EGC;
2009.

12