Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit tumor merupakan ruang lingkup yang universal. Penyakit ini
eksistensinya sejalan dengan permulaan sejarah dan menyeranang manusian
dimanapun ia tinggal, suku apapun, warna, tingkat pengetahuan dan tingkat sosial,
Myoma uteri merupakan salah satu tumor jinak yang tmbuh pada myiometrium
dengan adanya pertumbuhan myoma ini mengakibatkan terganggunya fungsi dari
uterus, diantaranya resiko abortus, perdarahan pada proses persalinan dan juga
dapat menyebabkan infertilitas.
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang myoma, pada wanita yang berkulit hitam yang lebih banyak. Di
Indonesia myoma uteri ditemukan 2,39 11% pada penderita genekologi yang
dirawat (ilmu kandungan, 1997).
Oleh karena itu kita sebagai calon perawat merasa perlu mengetahui lebih jelas
tentang myoma uteri dan cara penanganannya, karena dalam menberikan asuhan
keperawatan, perawat memberi motivasi dan penyuluhan serta mencegah
komplikasi

yang

mungkin

terjadi

sehingga

dapat

mempercepat

proses

penyembuhan. Dalam hal ini kita kita sangat membutuhkan kolaborasi dengan tim
medik terutama dalam bidang genekologi.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain memenuhi persyaratan Mata Ajar
326 juga bertujuan antara lain:
1. Menjelaskan apa sebenarnya penyakit Myoma uteri dan bagaimana terjadinya
serta penanganannya.
1

2. Untuk mengetahui asuhan keperwatan yang tepat pada penderita Myoma uteri
3. Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam memberi asuhan keperawatan
pada penderita Myoma.

C. Metode Penulisan.
Metode penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini :
1. Studi Kepustakan dengan mengambil beberapa literatur yang berhubungan
dengan kasus ginekologi khususnya myoma uteri
2. Studi Kasus di Unit perawatan Lukas

D. Sistematika Penulisan.
Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah diawali dengan kata
pengantar diikuti daftar isi. Bab I
penulisan, metode penulisan,

memuat latar belakang masalah, tujuan

sistematika penulisan disusun untuk memberi

gambaran pada isi makalah ini. Bab II tinjauan teoritis yang mencakup konsep
dasar medik, definisi, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala,
tes diagnostik, terapi dan komplikasi yang mungkin terjadi. Konsep dasar
keperawatan menguraikan tentang pengkajian , diagnosa keperawatan, dan
perencanaan. Bab III, memuat pengamatan kasus. Bab IV , berisi pembahasan
kasus, Bab V memuat kesimpulan dan diakhiri dengan daftar pustaka.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KOMSEP DASAR MEDIK


1. Definisi
Myoma Uteri adalah pertumbuhan jaringan ikat yang abnormal pada otot
otot rahim sehingga uterus membesar. Golongan ini termasuk tumor jinak.

2. Etiologi
Penyebab secara pasti belum diketahui. Diperkirankan dari sel sel otot yang
belum matang. Beberapa teori mengatakan, karena adanya stimulasi estrogen,
mengingat:
a. Myoma tumbuh lebih cepat pada masa hamil
b. Tidak pernah ditemukan sebelum masa menarrche
c. Myoma biasanya akan mengalami atrophy sesudah menopouse
d. Sering ditemukan hiperplasia endometrium bersama dengan myoma uteri.
Insiden myoma uteri adalah pada sekitar 20% 30% terjadi pada wanita yang
berusia sekitar 35 tahun.

3. Anatomi dan Fisiologi


a. Genitalia luar:
-

Tundum (monsueneris)

Labia mayora

Labia minora

Klitoris
3

Vestibulum

Himen

Perinium.

b. Genitalia dalam:
-

Vagina (liang kemaluan)

Uterus (rahim)
Bentuknya seperti buah pir yang letaknya di dalam pelvis antara rectum di
belakang kandung kemih depan. Ototnya disebut myometrium. Uterus
terapung dalam pelvis dengan jaringan ikat dan ligamentum. Panjang
uterus kurang lebih 7,5 CM, lebar 5 CM, dan tebal 2,5 CM dengan berat
kurang lebih 50 gr.
Pada rahim wanita dewasa yang belum pernah melahirkan, panjang uterus
antara 5 8 CM dengan berat kira kira 30 60 gr.
Uterus terdiri dari fundus uteri, korpus uteri, servic uteri. Sedangkan
dinding uterus terbentuk dari jaringan otot dengan lapisan sebagai berikut:
a. Endometrium (lapisan dalam)
b. Myometrium (lapisan otot polos)
c. Peritonium veseral (lapisan serosa yang terdiri atas:
-

Ligamentum kardinale kiri dan kanan yang mencegah agar uterus


tidak turun

Ligamentum sakrouterium kiri dan kanan untuk menahan uterus

Ligamentum rotundum sebagai penahan uterus agar tetap pada


posisi antefleksi

Ligamentumlatum; yang meliputi tuba

Ligamentum infundibulo berfungsi sebagai penahan tuba falupii

Fungsi uterus adalah untuk menahan ovum yang telah dibuahi. Pada saat
bayi lahir, uterus berkontraksi mendorong bayi dan plasenta keluar.
4

Sedangkan ovarium terletak pada bagian kanan dan kiri di bawah tuba
uterida yang fungsinya:
-

Memproduksi ovum

Memproduksi hormon estrogen

Menghasilkan progesteron

Tuba Falupii menjalar ke arah lateral kiri dan kanan. Panjangnya kira
kira 12 CM dengan diameter 3 8 CM, terdiri atas:
-

Part Interstitialis

Part Ismika/itmus

Parst ampularis

Infundibulum

4. Patofisiologi
Myoma sering disebut fiboid (jaringan ikat), walaupun asalnya dari jaringan
otot yang belum matang yang tumbuh secara abnormal karena stimulasi estrogen.
Myoma dapat bersifat tunggal ataupun multiple dan mampu mencapai ukuran
besar dengan konsistensi keras dan memiliki batas batas kapsul yang jelas,
sehingga dapat dilepaskan dari jaringan sekitarnya.

5. Tanda dan Gejala


Myoma tidak selalu memberikan gejala, namun dapat ditemukan beberapa gejala
sebagai berikut:
a. Adanya masa pada abdomen
b. Perdarahan dapat berupa menorrhagia metrorrhagia, perdarahan yang terjadi
dapat menyebabkan anemia berat, lemah, dan pusing
c. Nyeri yang mungkin disebabkan karena adanya gangguan peredaran darah
yang disertai nekrose atau peradangan dan perlengketan. Kadang kadang
5

torsi myoma sub serosa. Pada myoma sangat besar, nyeri dapat disebabkan
karena tekanan pada saraf.
d. Akibat tekanan di perut kemungkinan ada keluhan miksi. Penekanan terhadap
kandung kemih dapat menyebabkan disuria atau pollakisuria. Pada uretra
terjadi retensi urine. Pada rektum akan terjadi konstipasi atau sakit saat
defekasi.
e. Keluhan umum lain, seperti rasa lelah, lemas, dan lesu.

6. Test Diagnostik
-

USG

Rontgen abdomen

Laparascopy

Kuretage.

7. Klasifikasi Myoma
Menurut bentuknya, myoma dapat dijumpai sebagai berikut:
1. Myoma Sub mukosa
Myoma ini tumbuh tepat di bawah jaringan endometrium. Paling sering
menimbulkan perdarahan banyak dan memerlukan hysterectomi walau ukuran
myoma kecil. Kemungkinan terjadi srcoma lebih besar. Sering mempunyai
tangkai Myoma Geburt.
2. Myoma intertitial yang terletak pada myometrium. Jika besar atau multiple
menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol benjol
3. Myoma sub serosa atau Sub peritoneal. Letaknya di bawah Tunica serosa dan
selaput dinding luar. Kadang kadang vena yang ada akan pecah dan terjadi
perdarahan intra abdominal. Myoma Sub serosa

bertangkai dan dapat

mengalami torsi (putaran tangkai).


6

8. Kompliksi
-

Torsi

Pertumbuhan leiomyosarcoma

Nekrosis dan infeksi.

9. Pengelolaan Medik
1. Konservatif
Bila terjadi pada wanita yang mendekati menopose: observasi tanda dan
gejala. Jika myoma bertambah besar harus dioperasi.
2. Radio therapy. Tujuannya adalah agar ovarium tidak berfungsi. Biasanya
dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi.
3. Operasi:
-

Myomectomi.Bila masih menginginkan keturunan maka dilakukan


kuretage dahulu dan diobservasi perkembangannya. Kerugian operasi:
melemahkan dingiding uterus, perlengketan, residif (terulang kembali)

Hysterektomi. Dilakukan pada myoma besar dan multiple.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Pola pemeliharaan kesehatan:
Mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet.
b. Pola nutrisi dan metabolik:
Mual, muntah, suhu tubuh meningkat terutama daerah abdomen.
c. Pola eliminasi:
-

Retensi urine
7

Konstipasi

d. Pola aktivitas dan latihan


Pusing, lemah
e. Pola persepsi sensorik dan kognitif
Adanya nyeri pada daerah abdomen.
f. Pola persepsi diri dan konsep diri
Gangguan body image
g. Pola mekanisme copping dan toleransi terhadap stress
Cemas, ada reaksi penolakan terhadap prognosis
h. Pola reproduksi seksual
-

Kebiasaan berganti pasangan

Menorrhagi

Metrorragi

2. Diagnosa Keperawatan dan Implementasi


Pre operasi
1. Nyeri berhubungan dengan proses infeksi tumor
HYD: nyeri berkurang sampai dengan hilang
Rencana Tindakan:
-

Kaji karakteristik nyeri, lokasi, frekfensi


R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya

Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut , marah, cemas)


R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk
mengurangi nyeri

Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam


R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri
8

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik


R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri

2. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan


HYD: kecemasan pasien berkurang
Rencna Tindakan:
-

Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien


R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan
pasien

- Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan


ketakutannya
R/ untuk mengurangi kecemasan
-

Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa


medik
R/ memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat

Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan


R/ dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima
kenyataan penyakit dan pengobatan

3. Perubahan pola eliminasi: retensi urine berhubungan dengan penekanan dari


myoma uteri
HYD: mengosongkan kandung kemih secara adequat sesuai kebutuhan
individu
Rencana Tindakan:
-

Observasi dam catat jumlah /frekfensi berkemih


R/ menentukan apakah kandung kemih dikosongkan

Lakukan palpasi terhadap adanya distensi kandung kemih


R/ dapat menandakan adanya retensi urine
9

Berikan stimulus terhadap pengosongan urine dengan mengalirkan air,


letakkan air hangat dan dingin secara bergantian pada daerah supra pubika
R/ meningkatkan proses perkemihan dan merelaksasikan spinkter urine

Lakukan katerisasi

terhadapresidu urine setelah berkemih sesuai

kebutuhan
R/ mengurangi pembengkakan pada kandung kemih

Post Operasi
1. Perubahan retensi urine berhubungan dengan manipulasi tindakan pembedahan
HYD: pasien dapat berkemih secara teratur dan tuntas
Rencana Tindakan:
- Ukur dan catat intake output
R/ menentukan keseinbangan cairan
-

Perhatikan pola berkemih dan awasi keluaran urine


R/ dapat mengindikasikan retensi urine bila berkemih dengan sering dan
jumlah sedikit/ kurang

Palpasi kandung kemih, kaji keluhan ketidak nyamanan, penuh, ketidak


mampuan berkemih
R/ kandung kemih penuh, distensi kandung kemih diatas simpisis pubis
menunjukkan

Berikan tindakan berkemih rutin contoh: prifasi, posisi norma/aliran air


pada bascom, penyiraman air hangat pada perinium
R/ meningkatkan relaksasai otot perineal dan dapat mempermudah upaya
berkemih

Berikan perawatan kebersihan perineal dan perawatan kateter (bila ada)


R/ meningkatkan kebersihan menurunkan resiko ISK asenden

10

Kolaborasi pemasangan kateter bila diindikasikan pasien tidak mampu


berkemih atau tidak nyaman
R/ edema atau pengaruh suplai saraf dapat menyebankan atoni kandung
kemih/ retensi kandung kemih memerlukan dekompresi kandung kemih

2. Gangguan body image : harga diri rendah berhubungan dengan perubahan


feminitas, ketidak mampuan mempunyai anak
HYD: pasien mengatakan dapat menerima diri pada situasi dan beradaptasi
terhadap perubahan pada citra tubuh
Rencana tindakan:
-

Berikan kesempatan pada pasienuntuk mengungkapkan perasaannya

Kaji stress emosi pasien, identifikasi kehilangan pada pasien/ orang


terdekat. Dorong pasien untuk mengekspresikan

Berikan informasi akurat, kuatkani nformasi uang diberikan sebelumnya


R/

memberi

kesempatan

pada

pasien

untuk

bertanya

dan

mengasimilasikan informasi
-

Berikan lingkungan terbuka pada pasien untuk mendiskusikan masalah


seksualitas
R/ meningkatkan saling berbagai keyakinan / nilai tentan subjek sensitif

Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penolakan


R/ mengidentifikadi tahap kehilangan/ menentukan intervensi

Kolaborasi dengan konseling profesional sesuai kebutuhan


R/ memerlukan bantuan tambahan untuk mengtasi perasaan kehilangan

3. Resiko tinggi terhadap disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan


pola respon seksualitas (tidak adanya irama kontraksi uterus selama
orgasme)
11

HYD: Pasien mengatakan pemahaman perubahan anatomi fungsi seksual


Mengidentifikasi kepuasan seksual yang diterima dan beberapa alternatif
cara mengekspresikan sex
Rencana tindakan:
-

Mendengarkan peryataan pasien/ oraang terdekat


R/ masalah sex sering tersembunyi sebgai pernyataan humor atau
ungkapan yang gamblang

Kaji infomasi pasien orang terdekat tentang anatomi/fungsi sex dan


pengaruh prosedur pembedahan.

R/ Kesalahan

informasi / konsep yang mempengaruhi peambilan

keputusan.
-

Identifikasikan faktor budaya/nilai dan adanya konplik

R/ Dapat mempengaruhi kembalinya kepuasan hubungan sex.

Bantu pasien untuk menyadari/menerima perubahan pada dirinya

R/ Meningkatkan koping dan memudahkan pemecahan masalah.

Diskusikan sensasi /ketidakmampuan fisik,perubahan

pada respon

seperti individu biasanya


-

R/ Kehilangan sensori dapat terjadi sementara dan akan kembali baik


dalam waktu beberapa minggu .

4. Nyeri pada perut bawah berhubungan dengan luka insisi operasi


HYD: Nyeri hilang ditandaidengan pasien tampak rilex
Rencana Tindakkan:
-

Kaji intensitas nyeri , lokasi,frekuensi

R/ sebagai evaluasi untuk menentukan intervensi selanjutnya

Anjurkan dan ajarkan teknik relaksasi

R/ mengurangi nyeri

Bantu pasien menemukan posisi yang nyaman


12

R/ Mempengaruhi kemampuan pasien untuk rilek tidur dan istirahat

Kolaborasi dengan dokter pemberian therapi analgesik

R/Mengurangi nyeri

5. Kurang pengetahuan tentang perawatan ,prognosidan pengobatan


HYD Pasien mengatakan pemahaman tentang kondisi
Rencana tindakan:
-

Tinjau ulang efek prosdur pembedahan dan harapan pada masa


datang

R/ Memberi dasar pengetahuan pada pasien

Diskusikan masalah yang diantsipasi selamapenyembuhan

R/Fungsi fisik,emosi dapat mempengaruhi kumulatif yang dapat


memperlambat penyembuhan.

Diskusikan

melakukan

aktivitas

secara

bertahap,tekankan

pentingnya respon individu dalan penyembuhan


-

R/ mempercepat penyenbuhan

Menghindari mengakat barang yang berat,duduk yang lama

R/ Dapat memperlambat penyembuhan,aktivitas meningkatkan


tekanan intra abdominal,duduk lama menyebabkan pembentukan
trombus

Identifikasi kebutuhan:protein tinggi

R/Memfasilitas penyembuhan /regenerasi jaringan

Identifikasi

tanda

dan

gejala

yang

memerlukan

evaluasi

medik:perdarahan,luka
-

R/Mencegah situasi yang mengancamhidup

Kaji ulang Th/ penambahan hormon

13

R/Histerectomi total memerlukan penambahan hormon karena


dibutuhkan porsi suplai darah keovarium diklem selama prosedur.
BAB III
PENGAMATAN KASUS

Pasien Ny. S berusia 64 tahun masuk tanggal 19-11-2000 dari UGD dengan
diagnosa Hypertensi dan suspect CVD. Tanggal 26-11-200 pasien mengeluh nyeri pad
perut bawah oleh dokter dianjurkan untuk foto panggul tanggal 27-11-2000 kesan
suspect calcified fibroid dari uteri di USG abdomen tanggal 29-11-2000 hasil
menyokong tumor, uterin dengan klasifikasi fibroid , tanggal 1-12-2000 di CT
abdomen bawah lagi hasil Calcified fibrosis dari uterus. Dan pasien direncanakan
operasi tanggal 6-12-2000. Pasien sudah operasi hysterectomi total. Saat pengkajian
pasien tampak berbaring lemah, terpasang infus DIR 6 jam ?kolf di tangan kiri dan
terpasang dower kateter lancar. Luka operasi balutan tampak bersih. Pasien mengeluh
nyeri opersi ada, masih lamas dan mata rasa mengantuk.
Mengobervasi TTV TD: 150/90 mmhg SH 37.8 , N 78 x/ mnt, P 20x/ mnt. Pasien
pernah dirawat selama 7 hari di RS Boromeus Bandung. Karena tekanan darah tinggi
TD: 200/110mmhg, TD terendah 150/90mmhg.

14

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

Setelah penulis melakukan praktek langsung dilapangan pada pasien dengan Mioma
Uteri post Histerectomi maka bila dibandingkan dengan teori yang didapat dari literatur
dan pelajaran yang didapat dibangku kuliah maka penulis menemukanberbagai
persama dan juga perbedaanpada saat pengkajian.
Adapun perbedaan yang penulis dapat pada pasien teori adalah pada ny S penulis
temukanmasalah yang sesuai dengan teori adalah:
1. Gangguan Perfusi jaringan serebral ditemukan pada pasien mempunyai riwayat
hipertensi,diketahui sejak juni 2000dengan TD 260/110dan pasien tanggal 19-112000

masuk

rumah

sakit

denganhipertensi

dan

cvd

karena

mengeluh

mual,muntah,pusing dan leher kaku, kedua kaki lemas,bicara pelo.


2. Resti infeksi karena tindakan invasif:terpasang infus di tangan kiridan chateter,dan
karena usia pasien 64tahun yangrentan terhadap infeksi.
3. Ketidakmampuan merawat diri:mandi, toleiting,karena pasien masih mengeluh
lemasdan ada riwayat CVD
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh karena pemasukan gizi yang
kurang.

Sedangkan masalah yang lain sama dengan teori yaitu :


1. Nyeri pada perut bawah berhubungan dengan luka insisi.
2. Kurang pengetahuan.

Masalah yangtidak ditemukan:


15

1. Gangguan body image harga diri,tidak diangkat karena pasie merasa sudah tua dan
sudah punya anak satu , lima cucu.
2. Resti terhadap disfungsi sexsual tidak diangkat karena usia ibu sudah pasien 64
tahun dan suaminya 70 tahun,dan sudah saling mengerti.
3. Retensi urine tidak diangkat karena pada pasien terpasang kateter.

Perencanaan
Perencanaan yang dilakukan pada pasien ini adalah:
-

ajarkan teknik relaksasi ( tarik nafas dalam)

Beri therapi sesuai intruksi dokter

Beri kompres es

Bantu pasien memenuhi kebutuhan pasien

Implementasi:
Implementasi yang dapat penulis lakukan pada pasien ini tidajk jauh berbeda dengan
teorimyaitu: mengajarkan teknik relaksasi seperti tarik nafas dalam,bila batuk pegang
daerah luka operasi ,mengoservasi tanda-tanda vital,memberi terapi sid,penyuluhan
tentang penyakitnya hipertensi, perawatan luka operasi, menghindari mengangkat
barang-barang yang berat.
Evaluasi pada perjalanan tindakan mulai dari pengkajian awal sampai tindakan
keperawatan pasien dapat bekerja sama dengan perawat

mampu memahami,

melaksanakan asuhan / penyuluhan yang diberikan kepada pasien. Secara realita dapat
dilihat dari respon pasien dan keluarga mendengarkan dengan penuh perhatian dan
mampu menjelaskan kembali, melakukan asuhan keperawatan yang telah diajarkan
oleh peerawat.

16

17

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Myoma Uteri adalah neoplasma jinak berasal dari otot uterus dan jaringan ikat
yang menumpangnya. Penyebab dari Myoma Uteri belum diketahui secara pasti,
diduga karena stimulasi dari hormon estrogen dan stress.
Tanda dan gejala yang khas dari Myoma Uteri adalah disminorrhea,
hipermenorrhea, menorrhagia, metroragia, nyeri pada abdomen bagian bawah,
nyei pada pelvis, kontipasi. Tetapi biasanya penderita tidak mempunyai keluhan
apa-apa dan tidak sadar bahwa mereka menderita Myoma Uteri.
Untuk pengobatan dilakukan histerectomy, miomektomi, sinar roentgen dan
radium. Untuk pasien dengan anemia diberikan transfusi darah, diet kaya protein,
kalsium, vitamin C.
B. Saran
Setelah penulis mengamati dan mempelajari kasus Myoma Uteri penulis
menganjurkan kepada masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke dokter bila
terdapat kelainan yang menyerupai gejala tersebut diatas. Pada penderita
dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang kaya protein, kalsium dan vitamin
C. Untuk pasien yang telah dilakukan pembedahan harus kontrol kedokter dan
merawat daerah luka dengan baik dan dengan tehnik yang aseptik untuk mencegah
infeksi post operasi.

18