Anda di halaman 1dari 186

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER DI APOTEK SANITAS PERIODE JUNI 2015

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Apoteker (Apt.)

Program Studi Profesi Apoteker

Gelar Apoteker (Apt.) Program Studi Profesi Apoteker Disusun Oleh: Brigitta Lynda Rakasiwi, S.Farm. 148115012

Disusun Oleh:

Brigitta Lynda Rakasiwi, S.Farm.

148115012

Kresensiana Yosriani, S.Farm.

148115033

Lusiana Rani Oktaviani, S.Farm.

148115038

Albertus Agung Argiyanditya Putra, S.Farm.

148115071

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2015

i

IIALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER DI APOTEK SAFTITAS

PERIODE JT]I\[I2015

Diajukan untukMemenuhi Salah Satu Syarat

Meqpqp il $$r $pteker (Apr.)

Pfogram Studi Pi6fe$i goteker

'

'

,,' "

'

t'1 .1

''

'.

:--"t

r.'.:

''.:

l;;;ti1

'

::r

li. :,

'l:::rln' r:r ::i:ii'

,

tii"1i.i111,

I

.

1

::

Disusun Oleh: ,

Bri itta Lid& Rakasiwi,, S.F:$nr, , ,.,. ,,,

(1481L5012)

Kresensiffi

,i':ii ':,

(14811,5033)

rusianaffi o

#;;r

f:''.

;.' .".' ,'

(148,11503S)

, .

i

,','

.,

Atbertits Agtiirg Argiyandirya.Futra, S.Farm.

. 'rul:!11

,,

,,

'

(1481 15071)

Pembimbing Fakultas

(Dr. Yustina Sri Hartati, Apt.)

Pembimbing Tempat PKPA

Y I'banltas

I>.JtarYono No'l

iboYAKARTA

(Drs. Sulasmono, Apt.)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, dan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Sanitas Yogayakarta dan menyusun tugas akhir laporan yang berjudul “LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI

APOTEKER PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER DI APOTEK SANITAS PERIODE JUNI 2015” dengan baik. Laporan praktek kerja ini disusun untuk memenui salah satu syarat memperoleh gelar Apoteker di Program Studi Profesi Apoteker dan sebagai dokumentasi dari praktek kerja yang telah penyusun laksanakan di Apotek Sanitas Yogayakarta. Dalam pelaksanaan PKPA hingga selesainya penyusunan laporan ini, penulis mendapat banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Dra. Th. B. Titien Siwi Hartayu, Apt., M.Kes., Ph.D., dan Ibu Maria Wisnu Donowati, M.Sc., Apt. selaku Ketua dan Wakil Ketua Program, Studi Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Dr. Yustina Sri Hartini, M.Si., Apt. selaku Dosen Pembimbing Internal PKPA di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. Drs. Sulasmono, Apt. selaku pembimbing PKPA di Apotek Sanitas.

5. Endah Sri Lestari, S.Farm., Apt. dan Agnesia Mariene Inggrid Silli, S.Farm., Apt. selaku Apoteker Pendamping di Apotek Sanitas.

6. Segenap Asisten Apoteker (AA) dan karyawan Apotek Sanitas: Ibu Dwi Ratnawati,Ibu Tri Wahyuni, Ibu Endang Ismijati, Ibu Aris, Pak Tarjo, Emak Supanem, Mba Venny, dan Pak Istandi.

7. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan PKPA ini. Terimakasih atas dukungannya.

iii

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Semoga laporan PKPA ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi perapotekan.

Yogyakarta, Juni 2015

iv

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

PRAKATA

iii

DAFTAR ISI

v

DAFTAR GAMBAR

viii

DAFTAR TABEL

x

BAB I PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Tujuan

3

C. Manfaat

3

BAB II TINJAUAN UMUM APOTEK

4

A. Aspek Legalitas dan Organisasi

4

1.

Peraturan Perundang-undangan terkait Apotek

4

2. Sumpah dan Kode Etik Profesi Apoteker terkait Bidang Farmasi Perapotekan

6

3. Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek dan Studi Kelayakan

15

4. Struktur Organisasi Apotek

21

B. Aspek Bisnis

21

1. Permodalan

21

2. Perhitungan BEP, PP, dan ROI

25

3. Strategi Pengembangan Apotek

27

4. Perpajakan

29

5. Kewirausahaan

36

C. Aspek Pengelolaan Sumber Daya

36

1. Sumber Daya Manusia

36

2. Sarana dan Prasarana

40

3. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan

 

Lainnya

42

v

4.

Administrasi

50

D. Aspek Asuhan Kefarmasian (Pharmaceutical Care)

51

1. Konseling, Promosi, dan Edukasi

51

2. Pengobatan Sendiri (Self Medication)

53

3. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care).

53

E. Aspek Pelayanan Kefarmasian

53

1. Pengelolaan Resep

53

2. Pengelolaan dan Penggolongan Obat Wajib Apotek

59

3. Pengelolaan dan Penggolongan Obat Keras, Obat yang Mengandung Prekursor, Narkotika, dan Psikotropika

61

4. Pengelolaan dan Penggolongan Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, Obat Tradisional, Kosmetik, Alat Kesehatan Dan Perbekalan Kesehatan Lainnya

72

5. Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa Serta Pemusnahan Serta Pemusnahan Obat dan Resep

76

6. Evaluasi Mutu Pelayanan

77

BAB III TINJAUAN APOTEK SANITAS DAN PEMBAHASAN

79

A. Aspek Legalitas dan Organisasi

79

1. Sejarah Apotek Sanitas

79

2. Sumpah/Janji dan Kode Etik Apoteker

82

3. Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek dan Studi Kelayakan

83

4. Struktur Organisasi Apotek Sanitas

84

B. Aspek Bisnis

85

1. Permodalan

85

2. Strategi Pengembangan Apotek

85

3. Perpajakan

88

4. Kewirausahaan

89

vi

C.

Aspek pengelolaan Sumber Daya

90

1. Sumber Daya Manusia

90

2. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Apotek

94

3. Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Lainnya

96

4. Administrasi

103

D. Aspek Asuhan Kefarmasian (Pharmaceutical Care)

107

1. Pelayanan Informasi Obat (PIO)

107

2. Konseling dan Promosi

108

3. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (Home Pharmacy Care).

109

4. Pemantauan Terapi Obat (PTO)

110

5. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

110

6. Pengobatan Sendiri (Self Medication)

111

E. Aspek Pelayanan Kefarmasian

111

1. Pengelolaan Resep

111

2. Pengelolaan dan Penggolongan Obat Wajib Apotek

115

3. Pengelolaan dan Penggolongan Obat Keras, Obat yang Mengandung Prekursor, Narkotika, dan Psikotropika

115

4. Pengelolaan dan Penggolongan Obat Bebas, Obat Bebas Terbatas, Obat Tradisional, Kosmetik, Alat Kesehatan Dan Perbekalan Kesehatan Lainnya

119

5. Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa Serta Pemusnahan

Serta Pemusnahan Obat dan Resep

120

6. Evaluasi Mutu Pelayanan

121

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

128

A. Kesimpulan

128

B. Saran

128

DAFTAR PUSTAKA

129

LAMPIRAN

132

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.

Skema Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek Berdasarkan

KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002

18

Gambar 2.

Grafik Break Even Point

26

Gambar 3.

Logo Obat Keras

62

Gambar 4.

Logo Obat Narkotika

65

Gambar 5.

Logo Obat Psikotropika

69

Gambar 6.

Logo Obat Bebas

72

Gambar 7.

Logo Obat Bebas Terbatas

72

Gambar 8.

Keterangan peringatan pada obat bebas terbatas

73

Gambar 9.

Logo Jamu

74

Gambar 10.

Logo Obat Herbal Terstandar

74

Gambar 11.

Logo Fitofarmaka

75

Gambar 12.

Struktur Organisasi Apotek Sanitas

85

Gambar 13.

Alur Pelayanan Resep di Apotek Sanitas

115

Gambar 14.

Diagram tingkat kepuasan pasien terhadap ketanggapan

apoteker terhadap pasien

121

Gambar 15.

Diagram tingkat kepuasan pasien terhadap kebersihan

ruang tunggu

122

Gambar 16.

Diagram tingkat kepuasan ruang tunggu Apotek Sanitas

122

Gambar 17.

Diagram tingkat kepuasan terhadap kelengkapan obat

dan alat kesehatan Apotek Sanitas

123

Gambar 18.

Diagram tingkat kepuasan terhadap kesesuaian harga obat

Apotek Sanitas

124

Gambar 19.

Diagram tingkat kepuasan kecepatan pelayanan obat

Apotek Sanitas

124

Gambar 20.

Diagram tingkat kepuasan keramahan apoteker

Apotek Sanitas

125

viii

Gambar 21.

Diagram tingkat kepuasan kemampuan apoteker dalam

memberikan Informasi Obat

125

Gambar 22.

Diagram tingkat kepuasan kecepatan pelayanan kasir

Apotek Sanitas

126

Gambar 23.

Diagram tingkat kepuasan pasien terhadap ketersediaan brosur, leaflet, poster, dll sebagai informasi obat kesehatan 127

ix

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel

I.

Kode Etik

Apoteker Indonesia beserta Implementasi

9

Tabel II.

Perbedaan antara Etik dan Hukum

14

Tabel III.

Perbedaan antara Badan Usaha Perseorangan dan Firma

23

Tabel IV.

Perbedaan antara Perseroan Terbatas (PT) dan

Commanditaire Vennootschap (CV)

23

Tabel V.

Batas Waktu Penyampaian SPT Masa

31

Tabel VI.

Batas Waktu Penyampaian SPT Tahunan

31

Tabel VII.

Denda Pajak

31

Tabel VIII.

Batas Waktu Pembayaran atau Penyetoran Pajak

32

Tabel IX.

Jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Tahunan

untuk setiap status

34

Tabel X.

Tarif Pajak untuk Penghasilan Kena Pajak (PKP)

34

Tabel XI.

Perbedaan PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 dengan

KMK RI Nomor 1027 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Apotek

54

Tabel XII.

Perbedaan PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 dengan

KMK RI Nomor 1027 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Apotek

57

Tabel XIII.

Penggolongan Prekursor

63

Tabel XIV.

Perbedaan Psikotropika Dan Narkotika Berdasarkan

Surat Pesanan

71

x

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan dalah satu hal yang sangat penting bagi setiap

manusia dalam mendukung setiap kegiatan yang dilakukan setiap hari. Menurut

Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 36 Tahun 2009 tentang

kesehatan pada pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan

sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan

setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Berdasarkan pengertian

kesehatan menurut Undang-undang tersebut, maka kesehatan sangat dibutuhkan

oleh setiap orang untuk dapat hidup produktif baik secara sosial dan ekonomis.

Demi menjamin kesehatan bagi setiap manusia, maka harus didukung dengan

tersedianya berbagai fasilitas kesehatan yang memadai dan berkualitas. Salah satu

fasilitas kesehatan yang dapat menunjang dan menjalin kesehatan bagi setiap

manusia adalah apotek dimana apotek berperan untuk melayani masyarakat untuk

menyediakan obat-obatan dan sediaan farmasi untuk menunjang dan

meningkatkan kesehatan bagi setaip manusia.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang

Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek pasal 1 ayat (1) pengertian apotek

adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh

apoteker. Pelayanan kefarmasian yang dimaksud adalah suatu pelayanan langsung

dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sedian farmasi

dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan

pasien. Berdasarkan pernyataan tersebut, untuk menciptakan pelayanan

kefarmasian yang bertanggung jawab dan mendapatkan hasil yang pasti serta

dapat meningkatkan mutu kehidupan pasien, dibutuhkan sumber daya manusia

yang berkualitas dan memiliki kompetensi di bidang tersebut. Apoteker

merupakan sumber daya manusia yang penting guna menciptakan apotek yang

dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bertanggung jawab dan berkualitas

menciptakan apotek yang dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bertanggung jawab dan berkualitas Periode Juni 2015 1
menciptakan apotek yang dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bertanggung jawab dan berkualitas Periode Juni 2015 1
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Apoteker sendiri
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Apoteker sendiri

untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Apoteker sendiri menurut Peraturan

Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker

dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Begitu pentingnya peran

seorang apoteker untuk demi mewujudkan apotek sebagai salah satu sarana

pelayanan kefarmasian yang bertanggung jawab dan bermutu menuntut seorang

Apoteker memiliki kualitas yang memadai dan mampu melakukan tugas dan

tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Program Studi Pendidikan Apoteker (PSPA) Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma mengadakan kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker

(PKPA) di apotek dengan maksud mempersiapkan calon apoteker untuk terjun ke

dunia pelayanan kefarmasian secara profesional. Selain itu, Praktek Kerja Profesi

Apoteker (PKPA) di apotek merupakan salah satu sarana bagi para calon apoteker

guna mendapatkan pengalaman di bidang kefarmasian di apotek guna

meningkatkan kualitas apoteker tersebut sehingga dapat berperan aktif dalam

meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat kelak. Untuk mewujudkan hal

tersebut maka PSPA Fakultas Farmasi Sanata Dharma bekerjasama dengan

Apotek Sanitas untuk menyelenggarakan praktek kerja bagi para calon apoteker

Fakultas Farmasi Sanata Dharma yang diadakan pada periode bulan Juni 2015.

Dengan adanya kegiatan PKPA di Apotek Sanitas ini, diharapkan mahasiswa

calon apoteker mempunyai gambaran tentang cara mengelola apotek dan mampu

melaksanakan fungsinya untuk melakukan pelayanan kefarmasian yang

bertanggung jawab, profesional, sesuai dengan sumpah/janji apoteker, sesuai

dengan kode etik, dan mengutamakan prinsip kemanusiaan.

sesuai dengan sumpah/janji apoteker, sesuai dengan kode etik, dan mengutamakan prinsip kemanusiaan. Periode Juni 2015 2
sesuai dengan sumpah/janji apoteker, sesuai dengan kode etik, dan mengutamakan prinsip kemanusiaan. Periode Juni 2015 2
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta B. TUJUAN 1. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta B. TUJUAN 1. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang

B.

TUJUAN

1. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi dan tanggung

jawab apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek.

2. Membekali calon apoteker agar memiliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan

dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek.

3. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan mempelajari

strategi dan pengembangan apotek.

4. Mempersiapkan calon apoteker dalam memasuki dunia kerja.

5. Memberi gambaran nyata tentang permasalahan pekerjaan kefarmasian di

apotek.

C.

MANFAAT

1. Mahasiswa calon apoteker dapat mengetahui, memahami tugas dan tanggung

jawab apoteker dalam mengelola apotek.

2. Mahasiswa calon apoteker mendapatkan pengalaman praktis mengenai

pekerjaan kefarmasian di apotek.

3. Mahasiswa calon apoteker mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di

apotek.

4. Mahasiswa calon apoteker dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk

menjadi apoteker yang profesional di apotek.

apoteker dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk menjadi apoteker yang profesional di apotek. Periode Juni 2015 3
apoteker dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk menjadi apoteker yang profesional di apotek. Periode Juni 2015 3
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta BAB II TINJAUAN UMUM APOTEK A. Aspek Legalitas dan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta BAB II TINJAUAN UMUM APOTEK A. Aspek Legalitas dan

BAB II

TINJAUAN UMUM APOTEK

A. Aspek Legalitas dan Organisasi

1. Peraturan Perundang-undangan yang terkait Apotek

Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan apotek yang berlaku

antara lain Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 2009 mengenai Pekerjaan

Kefarmasian, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (KMK RI)

Nomor 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian

Ijin Apotek, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (PMK RI) Nomor

889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Ijin Praktik, dan Ijin Kerja Tenaga

Kefarmasian, serta PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek.

Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 5 Tahun 1997

tentang Psikotropika juga merupakan peraturan perundang-undangan yang

berkaitan dengan apotek, pada pasal 12 mengatur tentang penyaluran psikotropika

dari pedagang besar farmasi kepada apotek dan penyerahan psikotropika oleh

apotek kepada pasien harus berdasarkan resep dokter. Dalam PMK RI Nomor 3

Tahun 2015 mengatur tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan

Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi juga berkaitan dengan

apotek sebab mengatur peredaran, penyaluran, penyerahan, penyimpanan,

pemusnahan, pencatatan hingga pelaporan psikotropika, narkotika, dan prekursor

farmasi.

Dalam PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek menyebutkan bahwa apotek adalah sarana pelayanan

kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Terdapat

standar dalam pelayanan kefarmasian yaitu tolak ukur yang digunakan sebagai

pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan

kefarmasian. Dalam PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 mengandung beberapa

ketentuan umum sebagai berikut:

kefarmasian. Dalam PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 mengandung beberapa ketentuan umum sebagai berikut: Periode Juni
kefarmasian. Dalam PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 mengandung beberapa ketentuan umum sebagai berikut: Periode Juni
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat

a. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik

kefarmasian oleh apoteker.

b. Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunaka sebagai

pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan

kefarmasian.

c. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung

jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud

mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

d. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada apoteker,

baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan dan

menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.

e. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.

f. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang

digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan

patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,

pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.

g. Alat Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan yang tidak

mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,

menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan

kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi

tubuh.

h. Bahan Medis Habis Pakai adalah alat kesehatan yang ditujukan untuk

penggunaan sekali pakai (single use) yang daftar produknya diatur dalam

peraturan perundang-undangan.

i. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah

mengucapkan sumpah jabatan apoteker.

j. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam

menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli

Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten

Apoteker.

Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker. Periode Juni 2015 5
Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker. Periode Juni 2015 5
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta k. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal pada
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta k. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal pada

k. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal pada Kementerian Kesehatan yang

bertanggung jawab di bidang kefarmasian dan alat kesehatan.

2. Sumpah dan Kode Etik Profesi Apoteker terkait Bidang Farmasi

Perapotekan

Menurut PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang standar pelayanan

kefarmasian di apotek menyatakan apoteker adalah sarjana farmasi yang telah

lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Dalam

melakukan pelayananan kefarmasian seorang apoteker harus menjalankan

perannya sesuai yang dinyatakan dalam PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 pada Bab

IV mengenai sumber daya kefarmasian yaitu:

a. Pemberi layanan

Apoteker sebagai pemberi layanan harus berinteraksi dengan pasien. Dapat

mengintegrasikan pelayananan pada sistem pelayanan kesehatan secara

berkesinambungan.

b. Pengambil keputusan

Apoteker harus mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan dengan

menggunakan seluruh sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

c. Komunikator

Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan pasien maupun profesi

kesehatan lainnya sehubungan dengan terapi pasien.

d. Pemimpin

Apoteker diharapkan memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin.

Kepemimpinan yang diharapkan meliputi keberanian mengambil keputusan

yang empati dan efektif, serta kemampuan mengkomunikasikan dan

mengelola hasil keputusan.

e. Pengelola

Apoteker harus mampu mengelola sumber daya manusia, fisik anggaran dan

informasi secara efektif. Apoteker harus mengikuti kemajuan teknologi

informasi dan bersedia berbagi informasi tentang obat dan hal lain yang

berhubungan dengan obat.

f. Pembelajar seumur hidup

berbagi informasi tentang obat dan hal lain yang berhubungan dengan obat. f. Pembelajar seumur hidup Periode
berbagi informasi tentang obat dan hal lain yang berhubungan dengan obat. f. Pembelajar seumur hidup Periode
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Apoteker harus terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Apoteker harus terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan

Apoteker harus terus meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan

profesi melalui pendidikan berkelanjutan (Continuing Professional

Development/CPD).

g. Peneliti

Apoteker harus selalu menerapkan prinsip atau kaidah ilmiah dalam

mengumpulkan informasi sediaan farmasi dan pelayanan kefarmasian dan

dapat memanfaatkannya dalam pengembangan dan pelaksanaan pelayanan

kefarmasian.

Isi lafal Sumpah/Janji Apoteker berdasarkan PP RI Nomor 20 Tahun

1962 sebagai berikut:

a. Sebelum seorang apoteker melakukan jabatannya, maka ia harus

mengucapkan sumpah menurut cara agama yang dipeluknya atau

mengucapkan janji. Ucapan sumpah dimulai dengan kata-kata yang

disesuaikan dengan kebiasaan agama masing-masing.

Sumpah/Janji berbunyi sebagai berikut:

1) Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan

b.

terutama dalam bidang kesehatan.

2) Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena

pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai apoteker.

3) Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan

kefarmasiaan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum dan

perkemanusiaan.

4) Saya akan mejalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai

dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.

5) Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berikhtiar dengan

sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan

keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan

sosial.

6) Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan

penuh keinsyafan.

sosial. 6) Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan. Periode Juni 2015 7
sosial. 6) Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh keinsyafan. Periode Juni 2015 7
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta International Pharmaceutical Federation (FIP) pada tanggal
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta International Pharmaceutical Federation (FIP) pada tanggal

International Pharmaceutical Federation (FIP) pada tanggal 31 Agustus

2014 hingga 4 September 2014 mengadakan kongres yang membahas panduan

Sumpah/Janji Apoteker yang baru yang bertempat di Bangkok. Luc Besancon

yang adalah Sekretaris Jenderal FIP membuat pernyataan bahwa organisasi

profesi masing-masing negara dapat mengadopsi nilai-nilai yang ada dalam model

sumpah ini, yang disesuaikan dengan kondisi kefarmasian setempat. Berikut isi

Sumpah/Janji Apoteker versi FIP:

Sebagai seorang apoteker, saya bersumpah untuk melayani guna kepentingan

kemanusiaan dan untuk mendukung idealisme dan komitmen profesi saya.

2) Saya akan dipandu dalam semua dimensi kehidupan saya dengan standar

1)

tertinggi perilaku manusia.

3) Saya akan menerapkan seluruh pengetahuan dan kemampuan saya untuk

mendukung kesehatan dan kesejahteraan semua orang yang saya layani.

Saya akan selalu menempatkan kebutuhan semua orang yang saya layani di

atas kepentingan pertimbangan pribadi.

4)

5) Saya akan memperlakukan semua orang yang saya layani sama, adil dan

dengan hormat, tanpa memandang jenis kelamin, ras, etnis, agama, budaya

atau keyakinan politik.

6) Saya akan melindungi kerahasiaan informasi pribadi dan kesehatan yang

dipercayakan kepada saya.

Saya harus menjaga pengetahuan profesional dan kompetensi sepanjang karir

saya.

8) Saya akan mendukung kemauan pengetahuan dan standar praktek dalam

7)

farmasi.

Saya akan memelihara penyusun anggota masa depan profesi saya.

9)

10) Saya akan menggunakan semua kesempatan untuk mengembangkan praktek

kolaboratif dengan semua profesional kesehatan di lingkungan saya.

11) Dalam mengambil sumpah ini/ membuat janji ini, saya menghormati mereka

yang telah mendukung perkembangan saya sebagai seorang apoteker dan

berkomitmen diri untuk tidak bertindak dengan cara yang bertentangan

dengan mereka yang telah bersumpah.

diri untuk tidak bertindak dengan cara yang bertentangan dengan mereka yang telah bersumpah. Periode Juni 2015
diri untuk tidak bertindak dengan cara yang bertentangan dengan mereka yang telah bersumpah. Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Kode etik adalah panduan sikap dan perilaku tenaga profesi
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Kode etik adalah panduan sikap dan perilaku tenaga profesi

Kode etik adalah panduan sikap dan perilaku tenaga profesi dalam

menjalankan profesinya, sebagai aturan-aturan norma yang menjadi ikatan moral

profesi. Kode etik profesi apoteker merupakan salah satu pedoman untuk

membatasi, mengatur dan sebagai petunjuk bagi apoteker dalam menjalankan

profesinya secara baik dan benar serta tidak melakukan perbuatan tercela. Setiap

organisasi profesi memerlukan kode etik agar praktek profesinya berjalan sesuai

dengan norma-norma yang berlaku dan dapat dihargai oleh masyarakat. Kode etik

merupakan hal yang sangat dinamis sesuai dengan perkembangan teknologi dan

ilmu pengetahuan serta dinamika dalam praktek profesi sendiri, sehingga perlu

dilakukannya penyesuaian yang tidak hanya merujuk pada perkembangan praktek

profesi dalam negeri tetapi ada baiknya merujuk ke negara lain juga agar dapat

terus memperbaharui pengetahuan yang terbaru.

Namun, Kongres XIX Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) tahun 2014

menyatakan bahwa belum ada perubahan mengenai isi kode etik apoteker,

sehingga sampai saat ini kode etik yang digunakan adalah Nomor 006/2009 yang

disahkan tanggal 8 Desember 2009 yang merupakan hasil keputusan Kongres

Nasional XVIII ISFI tahun 2009. Kode etik apoteker yang berlaku di Indonesia

dibagi menjadi 5 (lima) bab sebagai berikut:

Tabel I. Kode Etik Apoteker Indonesia beserta Implementasi

KODE ETIK

IMPLEMENTASI

MUKADIMAH

Bahwasanya seorang apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya serta dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan bimbingan dan keridhaan Tuhan Yang Maha Esa. Apoteker di dalam pengabdiannya serta dalam mengamalkan keahliannya selalu berpegang teguh kepada sumpah/janji apoteker. Menyadari akan hal tersebut apoteker di dalam pengabdian profesinya berpedoman pada satu ikatan moral yaitu: Kode Etik Apoteker Indonesia.

Setiap apoteker dalam melakukan pengabdian dan pengamalan ilmunya harus didasari oleh sebuah niat luhur untuk kepentingan makhluk lain sesuai dengan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa. Sumpah dan janji apoteker adalah komitmen seorang apoteker yang harus dijadikan landasan moral dalam pengabdian profesinya. Kode Etik sebagai kumpulan nilai- nilai atau prinsip harus diikuti oleh apoteker sebagai pedoman dan petunjuk serta standar minimal perilaku.

prinsip harus diikuti oleh apoteker sebagai pedoman dan petunjuk serta standar minimal perilaku. Periode Juni 2015
prinsip harus diikuti oleh apoteker sebagai pedoman dan petunjuk serta standar minimal perilaku. Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta BAB I KEWAJIBAN UMUM     Sumpah apoteker yang
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta BAB I KEWAJIBAN UMUM     Sumpah apoteker yang

BAB I KEWAJIBAN UMUM

 
 

Sumpah apoteker yang diucapkan

Pasal 1

apoteker untuk bisa diamalkan pengabdiaanya, harus dihayati dengan baik dan dijadikan landasan moral dalam setiap tindakan dan perilakunya. Dalam sumpah apoteker ada beberapa poin yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Melaksanakan asuhan kefarmasian

Seorang apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah/Janji Apoteker.

2. Merahasiakan kondisi pasien, resep, dan medication record untuk pasien

 

3. Melaksanakan praktek profesi sesuai landasan praktek profesi yaitu ilmu, hukum dan etik.

Pasal 2

Kesungguhan dalam menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia dinilai dari ada tidaknya laporan masyarakat, ada tidaknya laporan dari sejawat apoteker atau sejawat tenaga kesehatan lainnya, serta tidak ada laporan dari Dinas Kesehatan Pengaturan pemberian sanksi ditetapkan dalam peraturan organisasi (PO).

Seorang apoteker harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.

Pasal 3

Setiap Apoteker Indonesia harus mengerti, mengayati, dan mengamalkan kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Apoteker Indonesia. Kompetensi yang dimaksud adalah keterampilan, sikap dan perilaku yang berdasarkan pada ilmu, hukum dan etik. Ukuran Kompetensi seorang apoteker dinilai lewat uji kompetensi. Kepentingan kemanusiaan harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tindakan dan keputusan seorang Apoteker Indonesia. Bilamana suatu saat seorang apoteker dihadapkan kepada konflik tanggung jawab profesional, maka dari berbagai opsi yang ada seorang Apoteker harus memilih risiko yan paling kecil dan paing tepat untuk kepentingan pasien dan masyarakat.

Seorang apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai kompetensi Apoteker Indonesia serta selalu mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.

 

Seorang

apoteker

harus

mengembangkan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya secara

Seorang apoteker harus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya secara Periode Juni 2015 10
Seorang apoteker harus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya secara Periode Juni 2015 10
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   Pasal 4   terus menerus.  Aktivitas
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   Pasal 4   terus menerus.  Aktivitas
 

Pasal 4

 

terus menerus. Aktivitas seorang apoteker dalam mengikuti perkembangan bidang kesehatan diukur dari nilai SKP yang diperoleh dan Hasil Uji Kompetensi. Jumlah SKP minimal yang harus diperoleh apoteker ditetapkan dalam PO.

Seorang apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.

 

Pasal 5

 

Seorang apoteker dalam tindakan profesionalnya harus menghindarkan diri dari perbuatan yang akan merusak seseorang ataupun merugikan orang lain. Seorang apoteker dalam menjalankan tugasnya dapat memperoleh imbalan dari pasien atas jasa yang diberikannya dengan tetap memegang teguh kepada prinsip mendahulukan kepentingan pasien.Besarnya jasa pelayanan ditetapkan dalam PO.

Di dalam menjalankan tugasnya seorang apoteker harus selalu menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.

 

Pasal 6

 

Seorang apoteker harus menjadi kepercayaan masyarakat atas profesi yang disandangnya dengan jujur dan penih integritas. Seorang apoteker tidak akan menyalahgunakan kemampuan profesionalnya kepada orang lain.

Seorang apoteker harus senantiasa

Seorang apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain.

menjaga

perilakunya

di

hadapan

publik.

 

Pasal 7

 

Seorang apoteker dalam memberikan informasi kepada pasien/masyarakat harus dengan yakin bahwa informasi tersebut sesuai, relevan, dan selalu up to date”. Sebelum memberikan informasi, apoteker harus menggali informasi yang dibutuhkan dari pasien ataupun orang yang datang menemui apoteker mengenai pasien serta penyakitnya. Seorang apoteker harus mampu berbagi informasi mengenai pelayanan kepada pasien dengan tenaga profesi kesehatan yang terlibat. Seorang apoteker harus senantiasa meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap obat, dalam bentuk penyuluhan, memberikan informasi, melakukan monitoring

Seorang

apoteker

harus

menjadi

sumber

informasi

sesuai

dengan

profesinya.

 
apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya.   Periode Juni 2015 11
apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya.   Periode Juni 2015 11
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   pengobatan, dan sebagainya.   
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   pengobatan, dan sebagainya.   
 

pengobatan, dan sebagainya.

 

penyuluhan

Kegiatas

ini

mendapat

nilai SKP.

Pasal 8

Tidak ada alasan bagi apoteker untuk tidak tahu perundang-undangan atau peraturan yang terkait dengan kefarmasian. Untuk itu setiap apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan peraturan, sehingga setiap apoteker dapat menjalankan profesinya dengan tetap berada dalam koridor UU atau peraturan.

apoteker harus membuat prosedur tetap sebagai pedoman kerja bagi seluruh personil di apotek, sesuai kewenangan atas dasar peraturan perundangan yang ada.

Seorang apoteker harus aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang- undangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.

BAB II KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN

 
 

Kepedulian kepada pasien adalah hal yang paling utama dari seorang apoteker.

Setiap tindakan dan keputusan profesional dari apoteker harus berpihak kepada kepentingan pasien dan masyarakat.

Seorang apoteker harus mampu mendorong pasien untuk ikut dalam keputusan pengobatan.

Pasal 9

Seorang apoteker harus mampu mengambil langkah-langkah untuk menjaga kesehatan pasien khusunya janin, bayi, anak-anak serta orang yang dalam kondisi lemah.

Seorang apoteker harus yakin bahwa obat yang diserahkan kepada pasien adalah obat yang terjamin kualitas, kuantitas, efikasi, serta cara pakai obat yang tepat.

Seorang apoteker dapat melakukan praktek kefarmasian harus mengutamakan kepentingan masyarakat, menghormati hak asasi pasien dan melindungi makhluk hidup insan secara umum

Seorang apoteker harus menjaga kerahasiaan pasien, rahasia kefarmasian, dan rahasia kedokteran dengan baik.

Seorang apoteker harus menghormati keputusan profesi yang telah ditetapkan oleh dokter dalam bentuk penulisan resep dan sebagainya.

Dalam hal seorang apoteker akan mengambil kebijakan yang berbeda

resep dan sebagainya.  Dalam hal seorang apoteker akan mengambil kebijakan yang berbeda Periode Juni 2015
resep dan sebagainya.  Dalam hal seorang apoteker akan mengambil kebijakan yang berbeda Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   dengan permintaan seorang dokter, maka apoteker harus
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   dengan permintaan seorang dokter, maka apoteker harus
 

dengan permintaan seorang dokter, maka apoteker harus konsultasi/ komunikasi dengan dokter tersebut, kecuali UU/peraturan membolehkan apoteker untuk mengambil keputusan demi kepentingan pasien.

BAB III KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

 
 

apoteker

Setiap

harus

menghargai

teman

sejawatnya,

termasuk

rekan

kerjanya.

 

Pasal 10

 

Bilamana seorang apoteker dihadapkan kepada suatu situasi yang problematik, baik secara moral atau peraturan perundang-undagan yang berlaku, tentang hubungannya dengan sejawatnya, maka komunikasi

Seorang

apoteker

harus

memperlakukan

teman

sejawatnya

sebagaimana

diperlakukan.

ia

sendiri

ingin

 

antarsejawat harus dilakukan dengan baik dan santun.

Apoteker harus berkoordinasi dengan IAI ataupun Majelis Pertimbangan Etik dalam menyelesaikan permasalahan dengan teman sejawat.

 

Pasal 11

 

Bilamana seorang apoteker melihat sejawatnya melanggar kode etik, dengan cara yang santun dia harus melakukan komunikasi dengan sejawatnya tersebut untuk mengingatkan kekeliruan tersebut. Bilamana ternyata yang bersangkutan sulit untuk menerima maka dapat disampaikan kepada IAI atau Majelis Etik dan Disiplin Apoteker Indonesia (MEDAI) untuk dilaukan pembinaan.

Seorang apoteker harus selalu saling mengingatkan dan saling menasehati untuk mematuhi ketentuan-ketentuan kode etik.

 

Pasal 12

 

Seorang apoteker harus menjalin dan memelihara kerjasama dengan sejawat apoteker lainnya.

Seorang apoteker harus membantu teman sejawatnya dalam mejalankan pengabdian profesinya.

Seorang apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan kerjasama yang baik sesama apoteker di dalam memelihara keluhuran martabat jabatan kefarmasian, serta mempertebal rasa saling mempercayai di dalam menunaikan tugasnya.

Seorang apoteker harus saling mempercayai teman sejawatnya dalam menjalin dan memelihara kerjasama.

BAB IV KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAM SEJAWAT LAIN

Pasal 13 Seorang apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk membangaun dan meningkatkan

Apoteker harus mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan tenaga profesi kesehatan lainnya secara seimbang dan bermartabat.

hubungan yang harmonis dengan tenaga profesi kesehatan lainnya secara seimbang dan bermartabat. Periode Juni 2015 13
hubungan yang harmonis dengan tenaga profesi kesehatan lainnya secara seimbang dan bermartabat. Periode Juni 2015 13
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan

hubungan profesi, saling mempercayai, menghargai dan menghormati sejawat petugas kesehatan lain.

Pasal 14

Seorang apoteker hendak menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lain.

Bilamana seorang Aaoteker menemui hal-hal yang kurang tepat dari pelayanan profesi kesehatan lainnya, maka Apoteker tersebut harus mampu mengkomunikasikannya dengan baik kepada profesi tersebut, tanpa yang bersangkutan harus merasa dipermalukan.

BAB IV

PENUTUP

Pasal 15 Seorang apoteker sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan kode etik Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya sehari-hari. Jika seorang apoteker baik dengan sengaja maupun tak sengaja melanggar atau tidak mematuhi kode etik Apoteker Indonesia, maka dia wajib mengakui dan menerima sanksi dari pemerintah, ikatan/organisasi profesi farmasi yang menanganinya (IAI) dan mempertanggung jawabkannya kepada TYME.

Apabila apoteker melakukan pelanggaran kode etik apoteker, yang bersangkutan dikenakan sanksi organisasi. Sanksi dapat berupa pembinaan, peringatan, pencabutan keanggotaan sementara, dan pencabutam keanggotaan tetap. Kriteria pelanggatan kode etik diatur dalam peraturan organisasi, dan ditetapkan setelah melalui kajian yang mendalam dari MEDAI.

Selanjutnya MEDAI meyampaikan hasil telaahnya kepada petugas cabang dan pengurus daerah.

Etik dan hukum memiliki tujuan yang sama yaitu mengatur tata tertib dan

tenteramnya kehidupan masyarakat. Etik merupakan norma, nilai atau pola

tingkah laku kelompok profesi tertentu dalam memberikan pelayanan kepada

masyarakat. Hukum adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh suatu

kekuasaan dalam mengatur kehidupan masyarakat.

Tabel II. Perbedaan antara Etik dan Hukum

 

Etik

Hukum

Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi

Hukum dibuat oleh suatu badan pemerintahan atau adat

Etik berlaku untuk lingkungan profesi

Hukum berlaku untuk umum

Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis yang dibentuk oleh ikatan atau organisasi profesi

Pelanggaran hukum diselesaikan melalui pengadilan atau sanksi administrasi

Etik

tidak

seluruhnya

dalam

Hukum tercantum secara terinci dalam kitab UU dan dalam lembaran negara

bentuk tertulis

 

Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik

Penyelesaian pelanggaran hukum memerlukan bukti fisik

etik tidak selalu disertai bukti fisik Penyelesaian pelanggaran hukum memerlukan bukti fisik Periode Juni 2015 14
etik tidak selalu disertai bukti fisik Penyelesaian pelanggaran hukum memerlukan bukti fisik Periode Juni 2015 14
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 3. Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek dan Studi Kelayakan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 3. Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek dan Studi Kelayakan

3. Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek dan Studi Kelayakan

Berdasarkan PMK RI Nomor 922 Tahun 1993 pasal 2 ayat (1) disebutkan

bahwa sebelum melaksanakan kegiatannya, APA wajib memiliki Surat Izin

Apotek (SIA). Setelah PP RI Nomor 51 Tahun 2009 disahkan, pada pasal 51 ayat

(2) dikatakan bahwa seorang apoteker yang melakukan pelayanan kefarmasian

wajib memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA). Surat Tanda Registrasi

Apoteker dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan dengan mendelegasikan kepada

Komite Farmasi Nasional (KFN) dan berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat

diperpanjang kembali dalam jangka waktu 5 (lima) tahun selama memenuhi

persyaratan.

Berdasarkan PMK RI Nomor 899 Tahun 2011 pada pasal 7 tentang

Registrasi, Izin Praktek dan Izin Kerja dinyatakan untuk memperoleh STRA,

Apoteker harus memenuhi persyaratan:

a. Memiliki ijazah apoteker

b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi

c. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji apoteker

d. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki

surat izin praktek, dan

e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi

Dalam PMK RI Nomor 899 Tahun 2011 pasal 10 dinyatakan juga bahwa

bagi apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dianggap telah lulus uji

kompetensi dan dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung.

Pencabutan STRA menurut PMK yang sama yaitu pasal 16 menyatakan jika:

a. Permohonan yang bersangkutan

b. Pemilik STRA atau STRTTK tidak lagi memenuhi persyaratan fisik dan mental

untuk menjalankan pekerjaan kefarmasian berdasarkan surat keterangan dokter

c. Melakukan pelanggaran disiplin tenaga kefarmasian atau

d. Melakukan pelanggaran hukum dibidang kefarmasian yang dibuktikan dengan

putusan pengadilan.

Peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai perijinan

apotek terdapat pada PMK RI Nomor 922 Tahun 1993 tentang Ketentuan dan

mengatur mengenai perijinan apotek terdapat pada PMK RI Nomor 922 Tahun 1993 tentang Ketentuan dan Periode
mengatur mengenai perijinan apotek terdapat pada PMK RI Nomor 922 Tahun 1993 tentang Ketentuan dan Periode
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tata Cara Pemberian Ijin Apotek yang telah diperbaharui
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Tata Cara Pemberian Ijin Apotek yang telah diperbaharui

Tata Cara Pemberian Ijin Apotek yang telah diperbaharui dalam PMK RI Nomor

1332 Tahun 2002, pada pasal 4 tercantum sebagai berikut:

1. Izin apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan.

2. Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin apotek kepada Kepada

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

3. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan

pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek

sekali setahun kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepada

Dinas Kesehatan Provinsi.

Menurut KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002, pasal 4 ayat (2) dijelaskan

bahwa Menteri melimpahkan wewenang pemberian izin apotek kepada Kepala

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Adapun tata cara pemberian izin apotek

menurut KMK di atas terdapat pada pasal 7 sebagai berikut:

1. Permohonan ijin apotek diajukan oleh apoteker kepada Kepala Dinas

Kesehatan Kabupaten/Kota setempat (Form Apt-1).

2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari kerja

setelah menerima permohonan (Form Apt-1) dapat meminta bantuan teknis

kepada Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap

kesiapan apotek untuk melakukan kegiatan (Form Apt-2).

3. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/kota atau Kepala BPOM selambat-

lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepada

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan kepada

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Form Apt-3).

4. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam poin 2 dan 3 tidak

dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap

melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi (Form

Apt-4).

5. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil

pemeriksaan sebagaimana dimaksud poin 3, atau pernyataan yang dimaksud

diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud poin 3, atau pernyataan yang dimaksud Periode Juni 2015 16
diterima laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud poin 3, atau pernyataan yang dimaksud Periode Juni 2015 16
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta poin 4, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta poin 4, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat

poin 4, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan

Surat Izin Apotek (Form Apt-5).

6. Bila hasil pemeriksaan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala

BPOM yang dimaksud poin 3 (tiga) masih belum memenuhi persyaratan,

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua

belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan (Form Apt-6).

7. Terhadap surat penundaan sebagaimana dimaksud poin 6, apoteker diberi

kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-

lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal penundaan.

8. Bila apoteker menggunakan modal pihak lain, maka penggunaan modal

dimaksudkan wajib didasarkan atas perjanjian kerjasama antara APA dan

Pemilik Modal Apotek (PMA). PMA harus memenuhi persyaratan tidak

pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang

obat sebagaimana dinyatakan dalam surat pernyataan yang bersangkutan.

9. Terhadap permohonan izin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan

APA atau persyaratan apotek atau lokasi apotek yang tidak sesuai dengan

permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam jangka

waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat

Penolakan disertai alasannya (Form Apt-7).

12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penolakan disertai alasannya (Form Apt-7). Periode Juni 2015 17
12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penolakan disertai alasannya (Form Apt-7). Periode Juni 2015 17
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Apoteker (Form Apt-1) Kepala Dinas Kab/Kota Tim
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Apoteker (Form Apt-1) Kepala Dinas Kab/Kota Tim

Apoteker

(Form Apt-1)

Kepala Dinas

Kab/Kota

Tim penilaian Dinkes Kab/Kota atau bantuan teknis BPOM (Form Apt-2)

Kepala Dinkes

Kab/Kota

(Form Apt-3)

Tidak Memenuhi syarat

Surat Penolakan beserta alasan

Apoteker mengajukan surat permohonan baru

Jika tidak

dilakukan

pemeriksaan

12 hari kerja

Surat pernyataan siap melakukan kegiatan dengan tembusan ke Kepala Dinkes Provinsi (Form Apt-4)

Mengajukan permohonan

Diperiksa selambat- lambatnya 6 hari kerja

Selambat-lambatnya 6 hari kerja

Selambat-lambatnya 12 hari kerja

6 hari kerja Selambat-lambatnya 12 hari kerja Memenuhi syarat Surat Ijin Apotek (Form Apt-5) Belum
6 hari kerja Selambat-lambatnya 12 hari kerja Memenuhi syarat Surat Ijin Apotek (Form Apt-5) Belum

Memenuhi syarat

Surat Ijin Apotek (Form Apt-5)

Belum memenuhi syarat

Surat Penundaan (Form Apt-6)

Diberikan kesempatan untuk melengkapi persyaratan selambat- lambatnya 1 bulan

Gambar 1. Skema Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek Berdasarkan KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002

bulan Gambar 1. Skema Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek Berdasarkan KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002
bulan Gambar 1. Skema Tata Cara Perijinan Pendirian Apotek Berdasarkan KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Untuk memperoleh izin apotek maka apoteker pemohon harus
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Untuk memperoleh izin apotek maka apoteker pemohon harus

Untuk memperoleh izin apotek maka apoteker pemohon harus memiliki

izin gangguan (Hinder Ordonantie/HO). Berdasarkan Peraturan Daerah Kota

(Perda) Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2008 tentang Izin Gangguan, syarat-syarat

yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin gangguan adalah:

a. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) pemohon yang masih berlaku.

b. Dokumen untuk mengelola lingkungan hidup, dikecualikan bagi usaha yang

menimbulkan gangguan kecil.

c. Fotokopi Izin Membangun Bangun Bangunan (IMBB) sesuai peruntukan/

fungsi, sedang bagi bangunan yang belum ber-IMBB dilampiri surat

penyataan kesanggupan mengurus IMBB bermaterai Rp 6.000,00 (Khusus

bagi usaha yang menimbulkan gangguan kecil).

d. Fotokopi bukti kepemilikan atau sertifikat tanah atau surat keterangan lain

yang sah.

e. Fotokopi akta pendirian/cabang perusahan bagi usaha yang berbadan hukum.

f. Surat pernyataan persetujuan/ tidak keberatan dari pemilik tempat atau bukti

sewa (bagi tempat usaha yang bukan milik sendiri).

g. Denah tempat usaha.

h. Izin gangguan lama asli (SK dan Tanda Izin) bagi permohonan perpanjangan.

i. Persetujuan dari tetangga sekitar tempat usaha yang diketahui oleh pejabat

setempat (RT, RW, Lurah, dan Camat).

j. Foto bangunan tampak depan, kelihatan dua pot dengan diameter pot 50 cm

dan tinggi tanaman minimal 50 cm.

k. Stopmap snelhecter warna kuning.

Berdasarkan Perda Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2008 tentang izin

penyelenggaraan sarana kesehatan dan tenaga kesehatan pasal 13 dikatakan bahwa

permohonan izin penyelenggaraan sarana kesehatan harus memenuhi persyaratan

administrasi sebagai berikut:

a. Fotokopi KTP yang masih berlaku bagi pemohon perorangan

b. Fotokopi akta pendirian bagi pemohon yang berbadan hukum atau berbadan

usaha

pemohon perorangan b. Fotokopi akta pendirian bagi pemohon yang berbadan hukum atau berbadan usaha Periode Juni
pemohon perorangan b. Fotokopi akta pendirian bagi pemohon yang berbadan hukum atau berbadan usaha Periode Juni
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta c. Fotokopi Surat Izin Kerja (SIK) dan atau Surat
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta c. Fotokopi Surat Izin Kerja (SIK) dan atau Surat

c. Fotokopi Surat Izin Kerja (SIK) dan atau Surat Izin Praktek (SIP) tenaga

kesehatan

d. Melampirkan denah lokasi bangunan

e. Fotokopi izin gangguan

f. Proposal studi kelayakan dalam pengelolaan sarana kesehatan

g. Surat pernyataan untuk memeriksakan kualitas air setiap 6 (enam) bulan,

bermaterai cukup

Studi kelayakan merupakan suatu rancangan secara komprehensif suatu

proyek untuk melihat kelayakan proyek tersebut untuk dilaksanakan (Umar,

2005). Tujuannya ialah untuk menghindari risiko kerugian dan untuk

memudahkan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian. Aspek-

aspek yang perlu dinilai dalam studi kelayakan, antara lain:

a. Aspek Finansial

Merupakan aspek kunci dari suatu studi kelayakan. Aspek ini mencakup

kajian terhadap jumlah dana yang diperlukan (baik keperluan investasi awal

dan kebutuhan modal kerja), kajian terhadap proyeksi prospek arus kas

masuk dan keluar. Landasan yang dapat digunakan untuk menganalisis

kelayakan finansial yaitu metode Payback Periode (PP), Net Present Value

(NPV), dan Profitability Index (PI).

b. Aspek Hukum

Termasuk hal yang berkaitan dengan kelengkapan dan keabsahan dokumen,

mulai dari bentuk usaha sampai izin-izin yang harus dimiliki.

c. Aspek Pasar dan Pemasaran

Studi pasar akan memberikan gambaran mengenai intensitas persaingan,

informasi tentang kebutuhan dan keinginan konsumen, pendapatan rata-rata

calon konsumen, ketersediaan saluran distribusi dan sarana transportasi.

d. Aspek Manajemen dan Organisasi

Penting dalam hal merekrut SDM sebelum menjalankan kegiatan usaha,

perumusan organisasi dan uraian tugas.

e. Aspek Ekonomi dan Sosial

menjalankan kegiatan usaha, perumusan organisasi dan uraian tugas. e. Aspek Ekonomi dan Sosial Periode Juni 2015
menjalankan kegiatan usaha, perumusan organisasi dan uraian tugas. e. Aspek Ekonomi dan Sosial Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Bertujuan untuk menilai seberapa jauh pengaruh pada
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Bertujuan untuk menilai seberapa jauh pengaruh pada

Bertujuan untuk menilai seberapa jauh pengaruh pada lingkungan sekitar

usaha, dan bagaimana peningkatan pendapatan disekitar usaha, dan

penerimaan negara melalui PPN, PPh, dan retribusi daerah, dll.

f. Aspek Dampak Lingkungan

Perlu diperhatikan dan menganalisa setiap usaha yang didirikan karena akan

menjadi faktor penentu dalam proses perizinan.

4. Struktur Organisasi Apotek

Struktur organisasi merupakan komponen dalam suatu organisasi yang

menunjukkan adanya pembagian kerja (job description) dan fungsi masing-

masing jabatan yang terkoordinasi. Selain itu, struktur organisasi juga

menunjukkan spesialisasi pekerjaan, garis perintah, dan tanggung jawab pekerjaan

misal suatu laporan (Hartini dan Sulasmono, 2007). Dalam mengelola suatu

apotek yang baik, suatu organisasi yang baik merupakan salah satu faktor yang

dapat mendukung keberhasilan suatu apotek, oleh sebab itu dibutuhkan garis

wewenang dan tanggung jawab yang jelas dan saling mengisi disertai dengan

adanya pembagian tugas yang jelas pada masing-masing bagian dalam suatu

struktur organisasi. Struktur organisasi harus menggambarkan secara jelas antara

pembagian dan hubungan pekerjaan, fungsi dan kewajiban, wewenang, tanggung

jawab dan hak, sehingga tujuan apotek dapat tercapai dengan mengefektifkan dan

mengefisienkan kinerja apotek (Hartini dan Sulasmono, 2007).

1. Permodalan

B. Aspek Bisnis

Menurut PP RI Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian

Bab 1 pasal 1, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan

praktek kefarmasian oleh apoteker. Maka apotek merupakan tempat usaha

yang memerlukan modal dalam menjalankan usahanya. Modal adalah dana

yang diperlukan baik untuk memulai usaha maupun untuk menjaga usaha

agar tetap beroperasi dan bertumbuh. Menurut Anief (2005) sumber modal

dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:

tetap beroperasi dan bertumbuh. Menurut Anief (2005) sumber modal dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu: Periode Juni
tetap beroperasi dan bertumbuh. Menurut Anief (2005) sumber modal dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu: Periode Juni
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a. Sumber intern, merupakan dana yang didapat dari
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a. Sumber intern, merupakan dana yang didapat dari

a. Sumber intern, merupakan dana yang didapat dari pengumpulan hasil

operasi perusahaan (laba).

b. Sumber ekstern, merupakan dana yang diperoleh dari pinjaman pihak

luar, misalkan dari bank.

c. Sebagai tambahan investasi, merupakan dana yang diperoleh dari

pemasukan modal baru dari pemilik perusahaan.

Di tinjau dari penggunaanya modal terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu:

1)

Modal kerja lancar (aktiva lancar dan pasiva lancar)

Modal kerja lancar disebut juga modal berputar karena modal ini tertanam

dalam barang-barang yang diolah/digunakan sehingga berubah bentuk

menjadi bentuk yang lain secara terus menerus dalam jangka waktu

operasional. Modal ini juga dibutuhkan oleh perusahaan dalam siklus

kegiatan operasinya dalam waktu yang ditentukan dan bukan untuk tujuan

investasi/rehabilitasi.

2)

Modal tetap

Modal tetap merupakan modal yang diinvestasikan dalam bentuk barang-

barang yang tidak mengalami perubahan selama jangka panjang (lebih dari

satu tahun). Modal tetap ini didapatkan dari aktiva tetap yang dimiliki apotek.

Menurut Umar (2005), terdapat 2 (dua) jenis modal yang digunakan di

apotek yaitu:

a. Modal operasional, berupa aktiva lancar meliputi kas, wesel tagih, piutang

dagang, uang muka sediaan, persediaan, dan beberapa barang yang dapat

diubah menjadi kas dalam waktu kurang dari satu tahun.

b. Modal non operasional, berupa aktiva tetap meliputi tanah, bangunan,

peralatan dalam gedung, dan perlengkapan apotek.

Berdasarkan PP RI Nomor 51 Tahun 2009 pasal 25 tentang Pekerjaan

Kefarmasian, menyebutkaan prinsip kerjasama dalam permodalan apotek bahwa

ayat (1) apoteker dapat mendirikan apotek dengan modal sendiri dan atau modal

dari pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan, dan ayat (2) bila

apoteker yang mendirikan apotek bekerjasama dengan pemilik modal maka

pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh apoteker yang

dengan pemilik modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh apoteker yang Periode Juni 2015
dengan pemilik modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh apoteker yang Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bersangkutan. Aturan tersebut di atas akan menentukan bentuk
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bersangkutan. Aturan tersebut di atas akan menentukan bentuk

bersangkutan. Aturan tersebut di atas akan menentukan bentuk usaha apotek, ada

beberapa bentuk usaha apotek antara lain:

a. Apotek perseorangan

Jika bentuk usaha apotek perseorang maka modal berasal dari perseorangan.

Pemilik modal dapat berperan pula sebagai Apoteker Pengelola Apotek

(APA) ataupun pemilik modal bukan APA. Kelebihan bentuk usaha apotek

perseorangan ialah wewenang keputusan manajemen ada di tangan pemilik

usaha dan keuntungan usaha sepenuhnya menjadi hak pemilik usaha.

b. Commanditaire Vennootschap (CV)/Perseroan Terbatas (PT)/Firma

Bentuk usaha jenis ini modalnya berasal dari beberapa orang, dan laba dibagi

sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Pemilik modal dapat berperan

pula sebagai Apoteker Pengelola Apotek (APA).

Tabel III. Perbedaan antara Badan Usaha Perseorangan dan Firma

Perbedaan

Perseorangan

Firma

Modal

Sendiri/Perseorangan

Dua orang/lebih sesuai akte pendirian

Tanggung jawab

Tanggung jawab pribadi

Tanggung jawab penuh oleh perusahaan

Laba

Laba pribadi

Dibagi sesuai akte pendirian

Pajak

Lebih murah karena bukan badan usaha

Tergantung laba yang didapat

Tabel IV. Perbedaan antara Perseroan Terbatas (PT) dan Commanditaire Vennootschap (CV)

Perseroan Terbatas (PT)

Commanditaire Vennotschap (CV)

PT adalah perusahaan yang didirikan dengan modal bersama berbentuk saham dengan aturan hukum yang jelas

CV

modalnya

tidak

diatur

secara

jelas

PT yang berbadan hukum memiliki kedudukan yang sama dengan orang per orang dari sisi hukum, misal nama PT yang digunakan untuk nama rekening bank seperti layaknya orang. PT juga dapat bertindak di muka pengadilan layaknya orang

CV

merupakan badan hukum yang

tidak memiliki legalitas hingga

tingkat pengadilan

 

PT dapat memiliki harta kekayaan terpisah dari pendiri / pemiliknya

CV

kekayaan pendiriannya tidak

terpisahkan dari kekayaan CV. Hal

 

ini sangat penting karena bila nanti terjadi gulung tikar, maka CV akan

ikut

mengalami kebangkrutan karena

CV

dimiliki oleh perorangan atau

maka CV akan ikut mengalami kebangkrutan karena CV dimiliki oleh perorangan atau Periode Juni 2015 23
maka CV akan ikut mengalami kebangkrutan karena CV dimiliki oleh perorangan atau Periode Juni 2015 23
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   beberapa orang saja PT didirikan minimal 2 orang,
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   beberapa orang saja PT didirikan minimal 2 orang,
 

beberapa orang saja

PT didirikan minimal 2 orang, tergantung banyaknya saham yang dimiliki dan berdasar RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)

CV

didirikan minimal 2 orang, yang

salah satunya selaku persero aktif

yang mengurusi, dan sekaligus menjadi Direktur, dan persero aktif

 

atau

disebut Persero Komanditer

Setiap terjadi perubahan anggaran dasar harus berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham

Apabila terjadi perubahan anggaran dasar tidak perlu Rapat Umum Pemegang Saham

Akta pendirian atau perubahan PT harus di laporkan dan atau mendapatkan pengesahan dari Menteri hukum dan HAM RI

CV

hanya perlu didaftarkan melalui

Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri setempat sesuai dengan kedudukan/domisili perusahaan

Proses pendiriannya relatif lebih lama, karena nama PT harus mendapat pengesahan dari menteri terlebih dahulu, dan anggaran dasar harus mendapat pengesahan oleh Menteri Hukum dan HAM RI dan biaya yang dibutuhkan jauh lebih besar

Proses pendiriannya lebih cepat dan biaya yang dibutuhkan relatif lebih

kecil

Berdasarkan UU Nomor RI 40 Tahun 2007 modal dasar perseroan ditentukan sebagai berikut: Modal dasar minimal Rp. 50.000.000 (lima puluh juta)

Dalam akta CV tidak disebutkan besarnya modal dasar, modal ditempatkan atau modal disetor.

c. Koperasi

Koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan beberapa orang,

dengan modal yang terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman. Modal

sendiri berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan khusus, dan

hibah. Sedangkan modal pinjaman berasal dari anggota koperasi, bank, dan

sumber lain. Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) apotek dilakukan secara adil

sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.

d. Pemerintah

Kegiatan bisnis yang dikelola oleh pemerintah dimana modal awalnya berasal

dari pemerintah (lembaga, instansi atau BUMN yang ditunjuk oleh

pemerintah).

modal awalnya berasal dari pemerintah (lembaga, instansi atau BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah). Periode Juni 2015
modal awalnya berasal dari pemerintah (lembaga, instansi atau BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah). Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2. Perhitungan Break Even Point , Payback Periode ,
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2. Perhitungan Break Even Point , Payback Periode ,

2. Perhitungan Break Even Point, Payback Periode, dan Return on

Investment

a. Break Even Point (BEP)

Break Even Point (BEP) adalah suatu titik dimana perusahaan dalam

proses operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami

kerugian. Apotek dikatakan ”break even atau impas” bila pada periode tertentu

dalam laporan perhitungan laba-ruginya tidak memperoleh laba dan tidak

mengalami kerugian. Nilai BEP digunakan untuk menetapkan titik dimana total

penjualan (pendapatan yang diterima) besarnya sama dengan total biaya atas

penjualan tersebut (pengeluaran) (Anief, 2005). Analisa BEP berhubungan

dengan biaya tetap, biaya variabel, dan juga volume penjualan. Berikut rumus

BEP menurut Anief (2005):

BEP (rupiah) =

BEP (rupiah) =

BEP (unit) =

BEP (unit) =

Keterangan:

1) Biaya tetap merupakan biaya yang besarannya tetap dan tidak bergantung

dengan jumlah penjualan tiap periodik, contoh: gaji pegawai dan bunga

pinjaman.

2) Biaya variabel merupakan biaya yang dapat berubah secara proporsional

sesuai perubahan penjualan atau produknya, contoh: biaya pembelian

barang, biaya listrik, dan biaya telepon, biaya suplai apotek (misal: etiket,

label, klip plastik, pot dan botol untuk wadah obat).

3) Hasil penjualan yaitu nilai penjualan dari barang yang terjual, yakni nilai

pembelian ditambah margin keuntungan.

4) Harga pokok penjualan (HPP), yaitu harga pokok atau nilai pembelian dari

barang yang terjual pada kurun waktu tertentu, merupakan hasil

perhitungan harga pokok dari persediaan awal ditambah pembelian barang

pada kurun waktu tertentu dikurang persediaan barang akhir.

awal ditambah pembelian barang pada kurun waktu tertentu dikurang persediaan barang akhir. Periode Juni 2015 25
awal ditambah pembelian barang pada kurun waktu tertentu dikurang persediaan barang akhir. Periode Juni 2015 25
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 5) Volume penjualan (omset) merupakan nilai penjualan dari
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 5) Volume penjualan (omset) merupakan nilai penjualan dari

5) Volume penjualan (omset) merupakan nilai penjualan dari barang yang

terjual pada suatu periode tertentu.

Fungsi analisa BEP antara lain:

a) Sebagai landasan dalam merencanakan tingkat keuntungan yang akan

diperoleh (profit planning)

b) Sebagai dasar untuk menentukan tingkat penjualan yang

menguntungkan

c) Sebagai dasar untuk mengendalikan kegiatan operasional yang sedang

berjalan (controlling)

d) Sebagai pertimbangan pengambilan keputusan dalam menentukan

jumah karyawan (Anief, 2005).

keputusan dalam menentukan jumah karyawan (Anief, 2005). Gambar 2. Grafik Break Even Point b. Payback Period

Gambar 2. Grafik Break Even Point

b. Payback Period (PP)

Payback Period (periode pengembalian) menunjukkan waktu yang

diperlukan untuk menutup atau mengembalikan pengeluaran suatu investasi.

Payback Period digunakan untuk menghitung jangka waktu pengembalian

modal dan kecepatan kembalinya dana investasi. Apotek layak dilaksanakan

bila PP yang diperoleh lebih kecil dari maksimum penetapan PP, begitu pula

sebaliknya (Suryana, 2018). Berikut rumus Payback Period (Suryana, 2008):

Payback Period =

Payback Period = x 1 tahun

x 1 tahun

(Suryana, 2018). Berikut rumus Payback Period (Suryana, 2008): Payback Period = x 1 tahun Periode Juni
(Suryana, 2018). Berikut rumus Payback Period (Suryana, 2008): Payback Period = x 1 tahun Periode Juni
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta c. Return on Investment (ROI) Return on Investment (ROI)
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta c. Return on Investment (ROI) Return on Investment (ROI)

c. Return on Investment (ROI)

Return on Investment (ROI) adalah suatu metode untuk mengukur

efektifitas suatu usaha dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva

ataupun total investasi yang dimiliki oleh usaha tersebut (Suryana, 2008).

Besarnya nilai ROI dipengaruhi oleh dua faktor yaitu tingkat perputaran aktiva

yang digunakan untuk operasi dan profit margin.

Profit margin ialah besarnya keuntungan operasi (dinyatakan dalam

persentase dan jumlah penjualan bersih). Profit margin mengukur tingkat

keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan yang dihubungkan dengan

penjualan. Apabila nilai ROI yang diperoleh lebih besar dari bunga pinjaman,

maka apotek tersebut layak untuk didirikan, begitu pula sebaliknya (Umar,

2005). Berikut rumus ROI menurut Suryana (2008):

ROI =

ROI = x 100%

x 100%

3. Strategi Pengembangan Apotek

Strategi pengembangan apotek merupakan suatu strategi yang akan

digunakan untuk mengubah kondisi yang ada saat ini (current condition) menjadi

kondisi di saat yang akan datang (future condition) dalam periode waktu tertentu.

Dalam menjalankan strategi pengembangan, apotek yang bersangkutan harus

memiliki visi, misi, program kerja, dan standar prosedur operasional yang jelas

(Umar, 2005).

Strategi dalam pengembangan apotek terbagi dalam 2 (dua) aspek, yaitu

intensifikasi dan ekstensifikasi.

a. Intesifikasi antara lain dengan cara:

1) Manajemen administrasi

Berkaitan dengan pengelolaan administrasi menggunakan sistem berbasis

komputerisasi untuk mempermudah dalam pendataan baik untuk

administrasi obat dan keuangan.

2) Manajemen pelayanan

untuk mempermudah dalam pendataan baik untuk administrasi obat dan keuangan. 2) Manajemen pelayanan Periode Juni 2015
untuk mempermudah dalam pendataan baik untuk administrasi obat dan keuangan. 2) Manajemen pelayanan Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Berkaitan dengan memperhatikan keinginan masyarakat yang
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Berkaitan dengan memperhatikan keinginan masyarakat yang

Berkaitan dengan memperhatikan keinginan masyarakat yang dapat

dilakukan dengan menyediakan fasilitas (pendingin ruangan, televisi,

timbangan berat badan, penyediaan air minum), memberikan pelayanan

terhadap pasien (ramah, konseling informasi obat yang tepat), layanan antar

obat, home care, dan lain-lain.

3) Manajemen sumber daya manusia (SDM)

Berkaitan dengan peningkatan pengetahuan baik kemampuan dan

keterampilan karyawan. Misalnya dengan memberikan kesempatan untuk

mengikuti pelatihan secara berkala untuk meningkatkan skill dan agar

informasi yang selalu terbaru sehingga pemakaian sumber daya manusia

menjadi lebih efektif dan efisien. Penempatan posisi kerja sesuai dengan

kemampuan karyawan, memberikan reward and punishment untuk

memotivasi karyawan agar berprestasi secara baik.

4) Manajemen pembelian

Berkaitan dengan pembelian barang menggunakan skala prioritas dengan

memperhatikan pola konsumsi, pola penyakit, sistem pengadaan,

memperhatikan diskon ataupun bonus berdasarkan kuota pembelian dari

PBF dan tanggal kadaluarsa obat.

5) Manajemen penyimpanan

Berkaitan dengan penyimpanan menggunakan sistem First In First Out

(FIFO) dan First Expire Date First Out (FEFO) dengan memperhatikan

kesesuaian ruang simpan terhadap sifat fisika kimia obat.

6) Manajemen ruang

Berkaitan dengan ruangan yang ditata dengan bersih, terdapat ruang

konseling, penataan barang yang rapi, sanitasi, sirkulasi udara, pencahayaan

yang memadai.

b. Ekstensifikasi antara lain dengan cara:

1) Pembukaan cabang

Berguna untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses apotek dan

melayani masyarakat lebih luas. Pembukaan cabang apotek dapat dalam

kota ataupun di kota lain.

dan melayani masyarakat lebih luas. Pembukaan cabang apotek dapat dalam kota ataupun di kota lain. Periode
dan melayani masyarakat lebih luas. Pembukaan cabang apotek dapat dalam kota ataupun di kota lain. Periode
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2) Manajemen pemasaran Berkaitan dengan kerjasama dengan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2) Manajemen pemasaran Berkaitan dengan kerjasama dengan

2) Manajemen pemasaran

Berkaitan dengan kerjasama dengan instansi, dokter, perusahaan yang

merupakan salah satu jalan untuk menjaring pelanggan sehingga

meningkatkan penjualan dan dapat menjadi sarana promosi apotek.

3) Diferensiasi usaha

Berkaitan dengan upaya pengembangan apotek dengan adanya inovasi baru

misalnya dengan menjual makanan dan peralatan bayi, produk kosmetik,

dan lain-lain.

Berdasarkan PMK RI Nomor 922 Tahun 1993 tentang Ketentuan dan

Tata Cara Pemberian Izin Apotek, apotek sebagai tempat melakukan penyaluran

sediaan farmasi dan perbekalan farmasi. Serta terdapat pula dalam KMK RI

Nomor 1332 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa pelayanan produk kefarmasian

diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas pelayanan dan perjualan produk

lainnya yang berguna untuk menunjukkan integritas dan kualitas produk serta

mengurangi risiko kesalahan dalam penyerahan. Hal tersebut dapat digunakan

sebagai dasar bagi apotek untuk mengembangkan usahanya.

4. Perpajakan

Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 2007 tentang

Perubahan Ketiga atas UU RI Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan

Tata Cara Perpajakan, yang dimaksud dengan:

a. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terhutang oleh orang

pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,

dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk

keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

b. Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak,

pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban

perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

perpajakan.

c. Pengusaha kena pajak (PKP) adalah pengusaha yang melakukan penyerahan

Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak

berdasarkan Undang-Undang RI tentang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan

Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang RI tentang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan Periode Juni
Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang RI tentang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan Periode Juni
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta perubahannya. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta perubahannya. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor

perubahannya. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68 Tahun

2010 pada Pasal 4, menyatakan bahwa pengusaha yang dikukuhkan sebagai

PKP bila penghasilan brutonya melebihi Rp 600.000.000,- namun ketentuan

tersebut diubah pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197 Tahun 2013

yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 2014 yaitu bila penghasilan brutonya

melebihi Rp 4.800.000.000,-.

d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada

Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang

dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam

melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya. Ketika seorang APA akan

mencari NPWP, sebelumnya harus ada izin tempat usaha (Hinder

Ordonantie/HO) terlebih dahulu. Setelah memperoleh izin tempat usaha, baru

memperoleh Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan NPWP. Setelah

mendapatkan keduanya maka perusahaan (dalam hal ini apotek) wajib

membayar pajak dan melapor tiap bulannya ke kantor pajak.

e. Masa pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk

menghitung, menyetor dan melaporkan pajak yang terhutang dalam suatu

jangka waktu tertentu (1 bulan kalender).

f. Tahun pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib

Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.

g. Pajak yang terhutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam

masa pajak, dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

h. Surat pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan

untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak

dan/atau bukan objek pajak dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. SPT berfungsi sebagai

sarana Wajib Pajak untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan

perhitungan jumlah sebenarnya pajak terhutang.

i. Surat Pemberitahuan Masa adalah surat pemberitahuan untuk suatu masa

pajak. Masa pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak

untuk suatu masa pajak. Masa pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak Periode
untuk suatu masa pajak. Masa pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak Periode
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang

untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terhutang dalam

suatu jangka waktu tertentu (1 bulan kalender).

Tabel V. Batas Waktu Penyampaian SPT Masa

Jenis pajak

Yang menyampaikan SPT Masa

Batas waktu penyampaian SPT

PPh pasal 21

Pemotongan PPh pasal 21

Paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak

PPh pasal 23

Pemotongan PPh pasal 23

Paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak

j. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah surat pemberitahuan untuk suatu tahun

pajak atau bagian tahun pajak. Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka

waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan PPh untuk paling lama 2

(dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau

dengan cara lain kepada Direktur Jenderal Pajak dan harus disertai dengan

penghitungan sementara pajak yang terhutang dalam 1 (satu) tahun pajak dan

Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak

yang terhutang, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan

Menteri Keuangan.

Tabel VI. Batas Waktu Penyampaian SPT Tahunan

Jenis Pajak

Yang menyampaikan SPT Tahunan

Batas waktu penyampaian SPT Tahunan

SP Tahunan

Wajib pajak yang mempunyai NPWP

Paling lama 3 bulan setelah akhir tahun pajak (31 Maret)

PPh Pribadi

SP Tahunan

Wajib pajak yang mempunyai NPWP

Paling lama 4 bulan setelah akhir tahun pajak (31 April)

PPh Badan

Tabel VII. Denda Pajak

Jenis Pajak

Denda Telat

Denda Telat/ Tidak Lapor/ Tidak Menyampaikan

Bayar

SP Masa PPN

Pribadi

 

Rp 500.000,-

Badan

2% dari jumlah pajak yang dibayarkan

SP Masa Lainnya (PPh pasal 21, 23)

Pribadi

Rp 100.000,-

Badan

SP Tahunan

Pribadi

Rp 100.000,-

Badan

 

Rp 1.000.000,-

k. Surat Setoran Pajak (SSP) adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak

yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan

dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk

oleh Menteri Keuangan. Tempat pembayaran yang dimaksud adalah

tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Tempat pembayaran yang dimaksud adalah Periode Juni 2015 31
tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Tempat pembayaran yang dimaksud adalah Periode Juni 2015 31
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Bank/Unit Bank dan Kantor Pos dan Giro yang ditunjuk
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Bank/Unit Bank dan Kantor Pos dan Giro yang ditunjuk

Bank/Unit Bank dan Kantor Pos dan Giro yang ditunjuk oleh Menteri

Keuangan untuk menerima pembayaran pajak.

Tabel VIII. Batas Waktu Pembayaran atau Penyetoran Pajak

Jenis Pajak

Batas waktu penyampaian atau penyetoran

PPh pasal 21

Tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir

PPh pasal 23

Tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir

Berdasarkan kelompok, pajak dibagi menjadi 4 yaitu:

a. Pajak Langsung

Pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan.

b. Pajak Tak langsung

Pajak yang pada akhirnya dilimpahkan pada pihak lain, misalnya PPN dan

materai.

c. Pajak Daerah

Pajak yang wewenang pemungutannya berada pada pemerintah daerah baik

tingkat provinsi atau kabupaten. Contoh Reklame dan pajak Surat Tanda

Nomor Kendaraan.

d. Pajak Pusat

Pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat PPh 21, 23, 28, 29.

Masyarakat diberi kepercayaan menghitung dan membayar sendiri pajak

yang terhutang (self assessment). Dalam pembayaran pajak berdasarkan system

self assesment, wajib pajak mempunyai beberapa hak dan kewajiban yang perlu

dilakukan yaitu:

a. Mendaftarkan diri sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak, dimana

wajib pajak berkedudukan atau bertempat tinggal,

b. Menyetorkan pajak dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) ke

kantor pos atau bank yang ditunjuk paling lambat tanggal 15 tiap bulannya,

c. Melaporkan sekalipun nihil dengan menggunakan SPT masa ke kantor

pelayanan pajak atau kantor penyuluhan setempat paling lambat tanggal 20

tiap bulannya (Direktur Jenderal, 2013).

Apotek juga mempunyai kewajiban untuk membayar pajak. Pajak yang

dikenakan pada apotek antara lain:

Apotek juga mempunyai kewajiban untuk membayar pajak. Pajak yang dikenakan pada apotek antara lain: Periode Juni
Apotek juga mempunyai kewajiban untuk membayar pajak. Pajak yang dikenakan pada apotek antara lain: Periode Juni
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a. Pajak daerah Berdasarkan UU RI Nomor 28 Tahun
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a. Pajak daerah Berdasarkan UU RI Nomor 28 Tahun

a. Pajak daerah

Berdasarkan UU RI Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan

Retribusi Daerah, pajak daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah

kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan

yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan

imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-

besarnya kemakmuran rakyat. Pajak daerah yang dikenakan pada apotek antara

lain:

1) Pajak reklame

Besarnya pajak tergantung pada jenis papan reklame, ukuran, jumlah iklan,

dan tempat wilayah pemasangan reklame. Bila iklan apotek bersangkutan

kurang dari 25% dari reklame pabrik, maka apotek bersangkutan bebas dari

pajak reklame. Pajak ini dibayarkan satu tahun sekali.

2) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Merupakan pajak yang besarnya tergantung pada luas tanah, luas dan jenis

bangunan, dan lokasi tempat usaha. Pajak ini dibayarkan satu tahun sekali.

3) Pajak inventaris

Adalah pajak yang dibayarkan atas inventaris yang dimiliki. Contohnya

adalah kendaraan bermotor.

b. Pajak Pusat

Merupakan pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat. Pajak pusat yang

dikenakan pada apotek adalah:

1) Pajak tak langsung

Merupakan pajak yang pada akhirnya dilimpahkan ke pihak lain,

contohnya Pajak pertambahan nilai (PPN) yaitu pajak yang dibayar dari

10% penjualan dikurangi pajak masukan. Pajak pertambahan nilai paling

lambat disetorkan tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak

berakhir.

2) Pajak langsung

Merupakan pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang

bersangkutan.

2) Pajak langsung Merupakan pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan. Periode Juni
2) Pajak langsung Merupakan pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan. Periode Juni
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta i. Pajak penghasilan (PPh) pasal 21 PPh 21 mengatur
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta i. Pajak penghasilan (PPh) pasal 21 PPh 21 mengatur

i. Pajak penghasilan (PPh) pasal 21

PPh 21 mengatur pajak pribadi atau perorangan, besarnya PPh 21

berdasarkan atas penghasilan netto dikurangi Penghasilan Tidak Kena

Pajak (PTKP). Yang termasuk PPh 21 adalah penghasilan berupa gaji,

upah, dan honorium. Berdasarkan hasil Revisi dari PMK RI Nomor 162

Tahun 2012, UU RI Nomor 36 Tahun 2008, dan UU RI Nomor 17

Tahun 2000 besarnya PTKP yaitu:

Tabel IX. Jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Tahunan untuk setiap status

Tidak Kawin (TK)

 

Kawin (K)

TK/0

Rp 36.000.000,-

K/0

Rp 72.000.000,-

TK/1

Rp 39.000.000,-

K/1

Rp 75.000.000,-

TK/2

Rp 42.000.000

K/2

Rp 78.000.000,-

TK/3

Rp 45.000.000,-

K/3

Rp 81.000.000,-

Peraturan ini akan berlaku mulai 1 Juli 2015

Tabel X. Tarif Pajak untuk Penghasilan Kena Pajak (PKP)

Lapisan Penghasilan Kena Pajak

Tarif Pajak

Sampai dengan Rp 50.000.000,-

5%

>Rp 50.000.000,- sampai dengan Rp 250.000.000,-

15%

>Rp 250.000.000,- sampai dengan Rp 50.000.000,-

25%

>Rp 50.000.000,-

30%

Menghitung tarif PPh orang pribadi dapat dicontohkan sebagai berikut,

jika omset kurang dari Rp. 4.800.000.000/ tahun ialah:

1. Dengan Pembukuan / Neraca Laba-Rugi

Laba bersih 1 tahun = Omset Harga Pokok Penjualan

Biaya Operasional

PKP 1 tahun = Laba bersih 1 tahun Penghasilan Tidak Kena Pajak

Pajak Penghasilan Pribadi = Penghasilan Kena Pajak x Tarif Pajak

Pribadi

2. Dengan menggunakan Norma

Penghasilan Netto 1 tahun = Omset x Tarif Norma

PKP 1 tahun = Penghasilan Netto 1 tahun Penghasilan Tidak Kena

Pajak

= Omset x Tarif Norma PKP 1 tahun = Penghasilan Netto 1 tahun – Penghasilan Tidak
= Omset x Tarif Norma PKP 1 tahun = Penghasilan Netto 1 tahun – Penghasilan Tidak
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Pajak Penghasilan Pribadi = Penghasilan Kena Pajak x Tarif
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Pajak Penghasilan Pribadi = Penghasilan Kena Pajak x Tarif

Pajak Penghasilan Pribadi = Penghasilan Kena Pajak x Tarif Pajak

Pribadi

ii.

Pajak penghasilan (PPh) pasal 23

Berdasarkan UU RI Nomor 36 Tahun 2008 pasal 23, PPh Pasal 23

adalah pajak penghasilan yang dipotong atas penghasilan yang diterima

atau diperoleh berdasarkan modal, misal dari deviden, uang sewa.

Besarnya PPh 23 adalah deviden dikenai 15% dari keuntungan yang

dibagikan, sedangkan konsultan hukum, konsultan pajak dan jasa

lainnya dikenai pajak 2% yang telah dipotong pajak penghasilan

sebagaimana dimaksud dalam pasal 21.

iii.

Pajak penghasilan (PPh) final 1%

Berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 PPh final 1% adalah pajak

penghasilan bersifat final yang besarnya 1%. Pengenaan pajak tersebut

didasarkan pada peredaran bruto tertentu atau omset usaha dalam 1

(satu) tahun pajak terakhir sebelum tahun pajak yang bersangkutan.

Wajib pajak yang dikenakan PPh final memenuhi kriteria antara lain

wajib pajak orang pribadi atau badan tidak termasuk bentuk usaha tetap

dan menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto tidak

melebihi Rp 4.800.000.000,- dalam satu tahun pajak. Besarnya tarif

pajak penghasilan final adalah 1%.

iv.

Pajak penghasilan (PPh) pasal 28

Apabila jumlah pajak yang terhutang lebih kecil daripada jumlah kredit

pajak maka setelah dilakukan pemeriksaan kelebihan pembayaran pajak

dikembalikan dengan PPh pasal 28.

v.

Pajak penghasilan (PPh) pasal 29

Apabila jumlah pajak terutang untuk satu tahun pajak lebih besar dari

jumlah kredit maka harus dilunasi sesuai dengan PPh pasal 29. Menurut

UU RI Nomor 36 Tahun 2008 atas perubahan terhadap UU RI Nomor 7

Tahun 1983, batas akhir penyetoran pembayaran PPh pasal 29 pada

tanggal 31 Maret untuk PPh pribadi dan tanggal 30 April untuk PPh

badan (Hartini dan Sulasmono, 2007).

31 Maret untuk PPh pribadi dan tanggal 30 April untuk PPh badan (Hartini dan Sulasmono, 2007).
31 Maret untuk PPh pribadi dan tanggal 30 April untuk PPh badan (Hartini dan Sulasmono, 2007).
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 5. Kewirausahaan Kewirausahaan adalah proses menciptakan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 5. Kewirausahaan Kewirausahaan adalah proses menciptakan

5.

Kewirausahaan

Kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu yang baru (inovasi)

menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan, menanggung risiko keuangan,

fisik, serta risiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan yang dihasilkan serta

kepuasan pribadi. Ada beberapa kata kunci yang harus dipahami yaitu:

mengambil risiko, menjalankan usaha sendiri, memanfaatkan peluang-peluang,

menciptakan usaha baru, pendekatan yang inovatif, dan mandiri.

Seorang wirausahawan memiliki keahlian intuisi dalam

mempertimbangkan suatu kemungkinan atau kelayakan dan perasaan dalam

mengajukan sesuatu kepada orang lain. Seorang wirausahawan harus memiliki

ide-ide baru yang dihasilkan dari suatu kreativitas. Kreativitas merupakam

inisiatif terhadap suatu produk atau proses yang bermanfaat, benar, tepat, dan

bernilai terhadap suatu tugas yang lebih bersifat sebagai pedoman. Apotek sebagai

tempat melakukan pekerjaan kefarmasian dalam perjalanannya tidak bisa lepas

dari aspek bisnis karena sebuah apotek tidak akan bisa berkembang jika salah satu

dari aspek pelayanan dan aspek bisnis tidak berjalan dengan baik. Aspek

pelayanan dan aspek bisnis dalam apotek sama pentingnya dan harus seimbang

dalam manjalankannya.

Menurut Suharyadi, dkk (2007), apoteker menjadi seorang wirausahawan

yang baik bila memiliki ciri sebagi berikut: percaya diri, kreatif dan inovatif,

disiplin dan berkomitmen tinggi, mandiri dan realistis, berani mengambil risiko.

C. Aspek Pengelolaan Sumber Daya

Pengelolaan sumber daya merupakan hal yang penting dalam

penyelenggaraan kesehatan demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Dalam PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di

Apotek, sumber daya kefarmasian dibagi menjadi 2 (dua) bagian antara lain

sumber daya manusia serta sarana dan prasarana.

1. Sumber Daya Manusia

Sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang baik membutuhkan sumber

daya manusia yang berkompeten di bidangnya pula. Tugas apoteker penanggung

baik membutuhkan sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya pula. Tugas apoteker penanggung Periode Juni 2015
baik membutuhkan sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya pula. Tugas apoteker penanggung Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jawab salah satunya ialah mengelola pembagian tugas dan
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jawab salah satunya ialah mengelola pembagian tugas dan

jawab salah satunya ialah mengelola pembagian tugas dan wewenang seluruh

karyawan yang bekerja di apotek. Adanya struktur organisasi beserta job

description masing-masing karyawan serta SPO yang sudah diatur dan disetujui

oleh masing-masing karyawan. Hal ini bertujuan memperjelas alur komunikasi

serta tanggungjawab setiap karyawan kepada APA.

Sumber daya manusia di apotek terdiri dari tenaga kefarmasian dan

tenaga non-kefarmasian. Tenaga kefarmasian menurut PP RI Nomor 51 Tahun

2009 pasal 1 ayat (3) adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang

terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Sedangkan, tenaga non-

kefarmasian antara lain kasir, administrasi, dan bagian umum. Adapun dalam

menjalankan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian,

Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan atau Tenaga teknis

kefarmasian, hal ini sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam PP RI Nomor

51 Tahun 2009 pasal 20. Tujuan pengaturan standar pelayanan kefarmasian di

apotek disebutkan dalam PMK RI Nomor 35 Tahun 2009 pasal 2 poin a dan c

yaitu meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan melindungi pasien dan

masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan

pasien. Maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa peran apoteker sangat

penting dalam menetapkan dan memastikan pengobatan yang diterima oleh

pasien. Dalam menjalankan perannya, apoteker dapat dibantu oleh tenaga teknis

kefarmasian, yaitu tenaga yang membantu apoteker dalam menjalani pekerjaan

kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli madya farmasi, analis farmasi,

dan tenaga menengah farmasi atau asisten apoteker.

a. Apoteker

Apoteker menurut PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar

Pelayanan Kefarmasian di Apotek adalah sarjana farmasi yang telah lulus

sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. PMK RI

Nomor 35 Bab IV tentang Sumber Daya Kefarmasian menyebutkan bahwa

dalam melakukan pelayanan kefarmasian apoteker harus memenuhi kriteria

sebagai berikut:

1) Persyaratan administrasi

pelayanan kefarmasian apoteker harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Persyaratan administrasi Periode Juni 2015 37
pelayanan kefarmasian apoteker harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Persyaratan administrasi Periode Juni 2015 37
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a) Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta a) Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang

a) Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang terakreditasi

b) Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)

c) Memiliki sertifikat kompetensi yang masih berlaku

d) Memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA)

2) Menggunakan perlengkapan praktek antara lain baju praktek dan tanda

pengenal

3) Wajib mengikuti pendidikan berkelanjutan/ continuing professional

development (CPD) dan mampu memberikan pelatihan yang

berkesinambungan

4) Apoteker harus mampu mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan

diri, baik melalui pelatihan, seminar, workshop, pendidikan berkelanjutan

atau mandiri

5) Harus memahami dan melaksanakan serta patuh terhadap peraturan

perundang-undangan, sumpah apoteker, standar profesi (standar pendidikan,

standar pelayanan, standar kompetensi dan kode etik) yang berlaku.

Selain persyaratan di atas yang harus dimiliki, seorang apoteker juga

harus memiliki kemampuan yang didasarkan pada Eight Stars Pharmacist,

yang terdiri dari care giver (pemberi layanan), decision maker (pengambil

keputusan yang tepat), communicator (mampu berkomunikasi dengan pasien

maupun teman sejawat), leader (menempatkan diri sebagai pimpinan dalam

situasi multidisipliner), manager (mampu mengelola SDM secara efektif), life

long learner (pembelajaran sepanjang karir), teacher (membantu memberikan

pendidikan serta member peluang untuk meningkatkan pengetahuan bagi teman

sejawat dan masyarakat), researcher (melakukan riset demi kemajuan).

Apotek di apotek terdiri dari:

1) Apoteker Penanggung Jawab Apotek (APA)

Pengertian Apoteker Pengelola Apotek menurut KMK RI Nomor 1332 Tahun

2002 adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Dalam pasal

19 menyebutkan bahwa apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada

jam buka apotek, APA harus menunjuk Apoteker pendamping.

2) Apoteker Pendamping

tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk Apoteker pendamping. 2) Apoteker Pendamping Periode Juni 2015
tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk Apoteker pendamping. 2) Apoteker Pendamping Periode Juni 2015
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dalam KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002 pasal 1
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dalam KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002 pasal 1

Dalam KMK RI Nomor 1332 Tahun 2002 pasal 1 butir e, menyebutkan

bahwa Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek

disamping APA dan atau menggantikannya pada jam tertentu pada hari buka

apotek.

b. Tenaga Teknis Kefarmasian

Tenaga teknis kefarmasian menurut PMK RI Nomor 35 Tahun 2014

pasal 1 ayat (6) merupakan tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalankan

pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi,

Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/ Asisten Apoteker. Menurut UU

RI Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan pasal 8 menyebutkan

bahwa asisten tenaga kesehatan termasuk dalam tenaga di bidang kesehatan dan

pasal 10 ayat (1) menyebutkan bahwa asisten tenaga kesehatan harus memiliki

kualifikasi minimum pendidikan menengah di bidang kesehatan dan ayat (2)

menyebutkan bahwa asisten tenaga kesehatan hanya dapat bekerja di bawah

tenaga kesehatan.

Tenaga teknis kefarmasian yang telah memiliki STRTTK mempunyai

wewenang untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di bawah bimbingan

Apoteker yang telah memiliki STRA sesuai dengan pendidikan dan keterampilan

yang dimiilikinya.

c. Pemilik Modal Apotek (PMA)

Untuk mendirikan sebuah apotek, seorang APA dapat sekaligus

berperan sebagai PMA ataupun dapat bekerja sama dengan PMA sebagai

penyedia tempat dan sarana apotek. Hal ini tercantum dalam PP RI Nomor 51

Tahun 2009 pasal 25 ayat (1), dimana apoteker dapat mendirikan apotek dengan

modal sendiri dan atau modal dari pemilik modal baik perorangan maupun

perusahaan. Pada ayat (2) disebutkan bahwa dalam hal apoteker yang

mendirikan apotek bekerja sama dengan pemilik modal maka pekerjaan

kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh apoteker yang bersangkutan.

d. Tenaga Non-Kefarmasian

Tenaga non-kefarmasian didefinisikan semua tenaga kerja di apotek

yang tidak memiliki latar belakang ilmu kefarmasian dan atau tidak memiliki

tenaga kerja di apotek yang tidak memiliki latar belakang ilmu kefarmasian dan atau tidak memiliki Periode
tenaga kerja di apotek yang tidak memiliki latar belakang ilmu kefarmasian dan atau tidak memiliki Periode
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Apotek Sanitas Program Studi Profesi Apoteker Angkatan XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta suat izin untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian di sarana
XXIX Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta suat izin untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian di sarana

suat izin untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian di sarana kefarmasian.

Tenaga non-kefarmasian terdiri dari juru resep (respetir), kasir, akuntan, petugas

kebersihan dan karyawan lain. Hal ini tidak diatur dalam perundang-undangan

karena pengelolaan tenaga non-kefarmasian disesuaikan dengan kebutuhan

masing-masing apotek.

2. Sarana dan Prasarana

Berdasarkan PMK RI Nomor 35 Tahun 2014, sarana dan prasarana yang

ada di apotek sedapat mungkin mendukung pelayanan kepada pasien sehingga

pasien merasa puas akan pelayanan yang diberikan. Sarana dan prasarana apotek

dapat menjamin mutu sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis

pakai serta kelancaran praktik kefarmasian. Sarana dan prasarana yang diperlukan

untuk menunjang pelayanan kefarmasian di apotek meliputi sarana yang memiliki

fungsi:

a. Ruang penerimaan resep, ruang penerimaan resep sekurang-kurangnya terdiri

dari tempat penerimaan resep, 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set

komputer. Ruang penerimaan resep ditempatkan pada bagian paling depan

dan mudah terlihat oleh pasien.

b. Ruang pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas),

ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas

meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan

sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air

minum (air mineral) untuk pengenceran, sendok obat, bahan pengemas obat,