Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat


infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang
supuratif di dalam rongga mata dan struktur di dalamnya. Peradangan supuratif di
dalam bola mata akan memberikan abses di dalam badan kaca. 1
Di Amerika Serikat, Endoftalmitis endogen jarang ditemukan, hanya 2-15 %
dari semua kasus endoftalmitis. Rata-rata kejadiannya adalah sekitra 5 per 100.000
dari semua pasien. Semenjak 1980, infeksi Candida dilaporkan akibat penggunaan
obat intravena. Endoftalmitis eksogen ditemukan sekitar 60% kasus setelah operasi
intraocular. Biasanya muncul seminggu setelah operasis. Di Amerika Serikat,
endoftalmitis post katarak ditemukan sekitar 0.1-0.3% operasi memiliki komplikasi,
biasanya setelah 3 tahun. Endoftalmitis juga bisa terjadi setelah suntik intavitreal,
meskipun hanya 0.029% perinjeksi. Endoftalmitis post trauma, ditemukan 4-13 dari
semua kecelakaan okuler. Insiden endoftalmitis dengan intraocular foreign bodies
sekitar 7-31%. Endoftalmitis oleh karena operasi katarak dijumpai pada usia lebih 80
tahun. 2
Keluhan berupa kemunduran tajam penglihatan yang diseratai dengan rasa
sakit merupakan keluhan yang menonjol pada endoftalmitis. Terdapat edema
palpebra, konjungtiva kemotik dengan kekeluhan kornea yang ringan. Pemeriksaan
yang perlu dilakukan pada setiap endoftalmitis ialah mengambil cairan mata atau
badan kaca untuk pemeriksaan kuman penyebab. sebaiknya dilakukan pemerikasaan
sediaan hapus dan biakan dari bagian segmen anterior bola mata. 3
Penatalaksanaan pada kasus endoftalmitis dapat diberikan antibiotic sesuai
penyebabnya, siklopegik dan kortikosteroid secara hati-hati. Tindakan pembedahan

pada endoftalmitis dapat berupa eviserasi yaitu mengeluarkan seluruh isi bola mata
dan abses dalam bola mata dilakukan bila pengobatan dengan obat gagal, atau
enukleasi yaitu mengeluarkan bola mata dengan memotong otot penggerak mata serta
saraf optic dilakukan bila keadaan mata sudah tenang atau telah terjadi ftisis bulbi.
Kadang-kadang dilakukan drainase untuk mengeluarkan nanah. 3

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Anatomi Mata


a. Anatomi Kelopak Mata
Kelopak mata atau sering disebut palpebra mempunyai fungsi melindungi
bola mata dari trauma, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film
air mata di depan kornea. Kelopak mata merupakan pelindung mata yang paling baik
dengan membasahi mata dan melakukan penutupan mata bila terjadi rangsangan dari
luar. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedangkan di
bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada
kelopak mata terdapat beberapa bagian antara lain; kelenjar sebasea, kelenjar keringat
atau kelenjar Moll, kelenjar zeis pada pangkal rambut bulu mata, serta kelenjar
Meibom pada tarsus. 4

Gambar 1. Potongan Sagital Palpebra Superior


3

b. Anatomi Sistem Lakrimal


Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata.
Sistem ekskresi mulai pada pungtum lakrimalis, kanalikuli lakrimal, sakus lakrimal
yang terletak di bagian depan rongga orbita, air mata dari duktus lakrimal akan
mengalir ke dalam rongga hidung di dalam meatus inferior. 4

Gambar 2. Sistem Lakrimalis


Sistem lakrimal terdiri atas 2 bagian, yaitu:
o

Sistem produksi atau glandula lakrimal. Glandula lakrimal terletak di temporo


antero superior rongga orbita.
Sistem ekskresi, yaitu yang terdiri atas pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal,
sakus lakrimal dan duktus nasolacrimal. Sakus lakrimal terletak di bagian
depan rongga orbita. Air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam
rongga hidung di dalam meatus inferior. 4

c. Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva atau selaput lendir mata adalah membran yang menutupi sklera
dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang bersifat
membasahi bola mata terutama kornea dihasilkan oleh sel Goblet. Terdapat tiga
bagian konjungtiva yaitu; konjungtiva tarsal yang menutup tarsus, konjungtiva bulbi
4

membungkus bulbi okuli serta menutupi sklera, dan konjungtiva forniks sebagai
tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. 4

Gambar 3. Konjungtiva
d. Anatomi Bola Mata
Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata di
bagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat
2 kelengkungan yang berbeda. Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu: 4

Gambar 4. Bola Mata


o

Sklera
Sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada

mata serta bagian putih pada bola mata yang bersama kornea sebagai pembungkus
dan pelindung isi bola mata. Bagian terdepan sclera disebut kornea yang bersifat
transparan yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kelengkungan
kornea lebih besar dibandingkan sclera. 4
o

Jaringan uvea
Merupakan jaringan vascular. Jaringan sclera dan uvea dibatasi oleh ruang

potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada rudapaksa yang
disebut perdarahan suprakoroid. 4
Jaringan uvea terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid. Pada iris terdapat pupil
yang oleh 3 susunan ototdapat mengatur jumlah sinar yang masuk ke dalam bola
mata. Otot dilator dipersarafi oleh para simpatis, sedang sfingter iris dan otot
siliar dipersarafi oleh para simpatis. Otot siliar yang terletak di badan siliar
mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi. 4

Badan siliar yang terletak di belakang iris menghasilkan cairan bilik mata
(akuos humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal
irirs di batas kornea dan sclera. 4
o

Retina
Retina terletak paling dalam dan mempunyai susunan lapis sebanyak 10 lapis

yang merupakan lapis membrane neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi
rangasangan pada saraf optic dan diteruskan ke otak. 4
Kornea
Kornea merupakan selaput bening mata dan bagian terdepan dari sklera yang
bersifat transparan sehingga memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. Kornea
berperan meneruskan dan memfokuskan cahaya ke dalam bola mata. Pembiasan
terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar
masuk kornea dilakukan oleh kornea. Kornea terdiri dari beberapa lapis jaringan yang
menutup bola mata bagian depan yaitu epitel, membran bowman, stroma, membran
descement dan endotel. Saraf sensoris yang mempersarafi kornea yaitu saraf siliar
longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid yang
masuk ke dalam stroma korneamenembus membran Bowman dan melepaskan
selubung Schwannya. 4
Uvea
Uvea merupakan lapis vaskuler di dalam bola mata yang banyak mengandung
pembuluh darah yaitu ; iris, badan siliar, koroid. Iris atau selaput pelangi mempunyai
kemampuan mengatur secara otomatis masuknya sinar ke dalam bola mata. Badan
siliar mengandung otot untuk melakukan akomodasi sehingga lensa dapat
mencembung dan merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem ekskresi
di belakang limbus. Koroid itu sendiri lapis tengah pembungkus bola mata yang
banyak mengandung pembuluh darah dan memberikan makan lapis luar retina. 4
Pupil

Pupil pada anak-anak pupil berukuran kecil karena belum berkembangnya


saraf simpatis. Orang dewasa ukuran pupil sedang, dan orang tua pupil mengecil
akibat rasa silau yang dibangkitkan oleh lensa yang sklerosis. Pada waktu tidur pupil
mengalami pengecilan akibat dari berkurangnya rangsangan simpatis dan kurang
rangsangan hambatan miosis. Mengecilnya pupil berfungsi untuk mencegah aberasi
kromatis pada akomodasi. 4
Sudut Bilik Mata Depan
Dibentuk oleh jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada bagian ini
terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata. Berkaitan dengan sudut ini didapatkan
jaringan trabekulum, kanal Schlemm, baji sclera, garis Schwalbe dan jonjot iris. 4
Lensa Mata
Jaringan ini berasal dari ectoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam
mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris yang
terdiri dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan
menipis pada saat terjadinya akomodasi. 4
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata
belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di
dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga
membentuk nucleus lensa. Nucleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras di
bandingkan korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat
zonula Zinn yang menggantungkan lensa diseluruh ekuatornya pada badan siliar. 4
Badan Kaca
Merupakan suatu jaringan seperti kaca bening yang terletak antara lensa
dengan retina. Badan kaca bersifat semi cair di dalam bola mata. Mengandung air
sebanyak 90% sehingga tidak dapat lagi menyerap air. Fungsinya adalah
mempertahankan bola mata agar bola mata tetap bulat. Peranannya mengisi ruang
untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Badan kaca melekat pada bagian tertentu
jaringan bola mata. Perlekatan itu terdapat pada bagian yang disebut ora serata, pars
plana, dan papil saraf optic. 4
8

Retina
Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang mengandung reseptor
dan akan meneruskan rangsangan cahaya yang diterimanya berupa bayangan. Retina
berbatas dengan koroid dengan sel epitel retina, dan terdiri atas lapisan: 4
o

o
o
o

o
o

Lapis fotoreseptor, merupakan lapis terluar retina terdiri atas sel batang yang
mempunyai bentuk ramping, dan sel kerucut.
Membran limitan eksterna yang merupakan membrane ilusi.
Lapis nucleus luar, merupakan susunan lapis nucleus sel kerucut dan batang.
Lapis pleksiform luar, merupakan lapis aselular dan merupakan tempat
sinapsis fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.
Lapis nucleus dalam, merupakan tubuh sel bipolar, sel horizontal dan sel
Muller.
Lapis pleksiform dalam merupakan bagian aseluler tempat sinaps sel bipolar,
sel amakrin dengan sel ganglion.
Lapis sel ganglion yang merupakan lapis badan sel neuron kedua.
Lapis serabut saraf, merupakan lapis akson sel ganglion menuju kea rah saraf
optic.
Membrane limitan interna, merupakan membrane hialin antara retina dan
badan kaca. 4

Gambar 5. Lapisan Retina


Saraf Optik
Saraf optic yang keluar dari polus posterior bola mata membawa 2 jenis
serabut saraf, yaitu saraf penglihat dan saraf pupilomotor. Kelainan saraf optic
menggambarkan gangguan yang diakibatkan tekanan langsung atau tidak langsung
terhadap saraf optic ataupun perubahan toksik dan anoksik yang mempengaruhi
penyaluran aliran listrik. 4
Sklera
Bagian putih bola mata yang bersama-sama dengan kornea merupakan
pembungkus dan pelindung isi bola mata. Sclera berjalan dari papil saraf optic sampai
kornea. Sclera anterior ditutupi oleh 3 lapis jaringan ikat vaskuler. Sclera mempunyai
kekuatan tertentu sehingga mempengaruhi pengukuran tekanan bola mata. 4

10

Gambar 6. Iris, Sklera dan Pupil


e. Anatomi Rongga Orbita
Rongga orbita adalah rongga yang berisi bola mata dan terdapat 7 tulang
yang membentuk dinding orbita yaitu: lakrimal, etmoid, sfenoid, frontal, dan dasar
orbita yang terutama terdiri atas tulang maksila, bersama-sama tulang palatinum dan
zigomatikus. 3
Foramen optic terletak pada apeks rongga orbita, dilalui oleh saraf optic,
arteri, vena dan saraf simpatik yang berasal dari pleksus carotid. Fisura orbita
superior di sudut orbita atas temporal dilalui oleh saraf lakrimal (V), saraf frontal (V),
saraf troklear (IV), saraf okulomotor (III), saraf nasosiliar (V), abdusen (VI), dan
arteri vena oftalmik. Fisura orbita inferior terletak di dasar tengan temporal orbita
dilalui oleh saraf infra-orbita dan zigomatik dan arteri infra orbita. Fossa lakrimal
terletak di sebelah temporal atas tempat duduknya kelenjar lakrimal. 3

11

Gambar 7. Rongga Orbita


2.2 Definisi Endoftalmitis
Endoftalmitis adalah radang purulent pada seluruh jaringan intraocular,
disertai dengan terbentuknya abses di dalam badan kaca. Bila terjadi peradangan
lanjut yang mengenai ke 3 dinding bola mata, maka keadaan ini disebut
panoftalmitis.5
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat
infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang
supuratif di dalam rongga mata dan struktur di dalamnya. Peradangan supuratif di
dalam bola mata akan memberikan abses di dalam badan kaca.1
2.3 Epidemiologi Endoftalmitis
Di Amerika Serikat, Endoftalmitis endogen jarang ditemukan, hanya 2-15 %
dari semua kasus endoftalmitis. Rata-rata kejadiannya adalah sekitra 5 per 100.000
dari semua pasien. Semenjak 1980, infeksi Candida dilaporkan akibat penggunaan
obat intravena. Endoftalmitis eksogen ditemukan sekitar 60% kasus setelah operasi

12

intraocular. Biasanya muncul seminggu setelah operasis. Di Amerika Serikat,


endoftalmitis post katarak ditemukan sekitar 0.1-0.3% operasi memiliki komplikasi,
biasanya setelah 3 tahun. Endoftalmitis juga bisa terjadi setelah suntik intavitreal,
meskipun hanya 0.029% perinjeksi. Endoftalmitis post trauma, ditemukan 4-13 dari
semua kecelakaan okuler. Insiden endoftalmitis dengan intraocular foreign bodies
sekitar 7-31%. Endoftalmitis oleh karena operasi katarak dijumpai pada usia lebih 80
tahun. 2
2.4 Etiologi Endoftalmitis
Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk
bersama trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen). 1
Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau infeksi
sekunder pada tindakan pembedahan yang membuka bola mata. Endoftalmitis
endogen terjadi akibat penyebaran bakteri, jamur, ataupun parasite dari focus infeksi
di dalam tubuh. 1
Bakteri yang sering merupakan penyebab adalah stafilokok, streptokok,
pneumokok, pseudomonas dan basil sublitis. 1
Jamur yang sering mengakibatkan endoftalmitis supuratif adalah aktinomises,
aspergilus, fitomikosis sportrikum dan kokidioides. 1
2.5 Tipe Endoftalmitis
Terdapat 2 tipe endoftalmitis, endogen dan eksogen
a)

b)

Endoftalmitis endogen diakibatkan penyebaran bakteri dari tempat lain di


tubuh kita melalui aliran darah.
Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau infeksi pada
tindakan pembedahan yang membuka bola mata. Endoftalmitis endogen
sangat jarang, hanya 2-15% dari seluruh endoftalmitis. 1

13

2.6 Patofisiologi Endoftalmitis


Endopthalmitis atau abses korpus vitreus adalah peradangan berat dalam bola
mata, biasanya akibat trauma mata atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk
radang supuratif dalam bola mata, dan akan mengakibatkan abses di badan kaca.
Endopthalmitis eksogen terjadi akibat trauma tembus atau infeksi sekunder pada
tindakan pembedahan yang membuka bola mata. Endopthalmitis endogen akibat
penyebaran bakteri, jamur atau parasit dari focus infeksi dalam tubuh. 1
Peradangan oleh bakteri memberikan gambaran berupa rasa sakit yang sangat,
kelopak mata merah dan bengkak, bilik mata depan keruh, kadang disertai hipopion.
Di dalam badan kaca dapat ditemukan massa putih abu-abu hipopion ringan dan
bentuk abses satelit di dalam badan kaca. 1
2.7 Gambaran Klinis
Bila infeksi disebabkan oleh bakteri maka perjalanan penyakit cepat serta
gejala timbul beberapa jam, gejala ini

makin lama makin berat. Endoftalmitis

baketeri pasca bedah dapat di lihat segera (1-3 hari) sesudah pembedahan dengan
keluhan utama mata terasa sakit. Endoftalmitis yang disebabkan kuman yabg kurang
virulen terlihat lambat sesudah pembedahan apalagi bila penderita sudah diberi
antibiotik. Bila penyebabnya jamur maka perjalan penyakit perlahan-lahan, malahan
kadang-kadang gejala mulai beberapa minggu kemudian. 3
Keluhan berupa kemunduran tajam penglihatan yang diseratai dengan rasa
sakit merupakan keluhan yang menonjol pada endoftalmitis. Terdapat edema
palpebra, konjungtiva kemotik dengan kekeluhan kornea yang ringan. 3
Terdapat kekeruhan dalam bilik mata berupa flare ataupun hipopion. Badan
kaca keruh dan kadang terdapat abses di dalam badan kaca. Kekeruhan didalam
badan kaca akan memberikan refleks berwarna putih pada pupil sehingga gambaran
seperti retinoblastoma atau pseudoretonoblastoma terutama pada anak-anak. Badan
kaca merupakan tempat peradangan walaupun tempat masuk trauma dari depan. 3

14

Pada endoftalmitis bila telah terdapt hipopion maka keadan endoftalmitis


sudah lanjut sehingga prognosis nya sudah buruk. Endoftalmitis memerlukan
diagnosis dini yang cepat untuk menghindari keadaan yang biasanya berakhir dengan
kebutaan. Endoftalmitis yang yang sebabkan kuman yang kurang virulen tidak
terlihat satu minggu sampai beberapa minggu sesudah trauma atau pembedahan.
Demikian pula infeksi jamur dapat terlihat sesudah beberapa hari atau minggu.
Endoftalmitis akibat jamur berjalan lambat, tidak sakit dan dengan gejala dibagian
luar bola mata yang enteng. Terdapat iridosiklitia dan vitreitis prognosis yang tidak
bereaksi terhadap pengobatan dan obat anti radang. 3
2.8 Diagnosis Endoftalmitis
A. Anamnesis
Bila infeksi disebabkan oleh bakteri maka perjalanan penyakit cepat
serta gejala timbul beberapa jam, gejala ini makin lama makin berat. 3
Endoftalmitis baketeri pasca bedah dapat di lihat segera (1-3 hari)
sesudah pembedahan dengan keluhan utama mata terasa sakit. 3
Bila penyebabnya jamur maka perjalan penyakit perlahan-lahan,
malahan kadang-kadang gejala mulai beberapa minggu kemudian. 3
Keluhan berupa kemunduran tajam penglihatan yang diseratai dengan
rasa sakit merupakan keluhan yang menonjol pada endoftalmitis. Terdapat
edema palpebra, konjungtiva kemotik dengan kekeluhan kornea yang ringan.
Badan kaca keruh dan kadang terdapat abses di dalam badan kaca. Kekeruhan
didalam badan kaca akan memberikan refleks berwarna putih pada pupil
sehingga gambaran seperti retinoblastoma atau pseudoretonoblastoma. 3
Endoftalmitis yang yang sebabkan kuman yang kurang virulen tidak
terlihat satu minggu sampai beberapa minggu sesudah trauma atau
pembedahan. Demikian pula infeksi jamur dapat terlihat sesudah beberapa
hari atau minggu. Endoftalmitis akibat jamur berjalan lambat, tidak sakit dan
dengan gejala dibagian luar bola mata yang enteng.3
15

B. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang perlu dilakukan pada setiap endoftalmitis ialah
mengambil cairan mata atau badan kaca untuk pemeriksaan kuman penyebab.
sebaiknya dilakukan 3
Bahan dibiakan dalam agar darah, agar coklat ataupun dalam larutan
thiaglycolat pada suhu 37 derajat selcius (suhu badan). Agar sabouraud dan
agar darah dipakai untuk membiakan jamur pada suhu 25 derajat (suhu
kamar). 3
Pemeriksaan Oftalmoskopi di perlukan untuk melihat bagian mata
dalam mata yang meliputi, fundus dimana terdiri dari retina, diskus optikus,
macula dan pembuluh darah.
Bila dengan pemeriksaan oftalmoskop, fundus tidak terlihat. Maka
dapat dilakukan pemeriksaan USG. Dengan pemeriksaan Ultrasonografi
(Gelombang suara ultra) dapat digunakan untuk mengukur dimensi dan
struktur okuler. Dapat mengetahui apakah ada benda asing alam bola mata
atau tidak. Pemindaian ultrasonografi dapat digunakan untuk mengukur
kedalaman dan bentuk bola mata sebelum pemasangan implant lensa
intraokuler sehingga dapat diperoleh refraksi yang tepat.
2.9 Diagnosis Banding Endoftalmitis
Diagnosis banding endoftalmitis adalah:

Cavernous Sinus Thrombosis

Corneal Laceration

Corneal Ulceration dan Ulcerative Keratitis pada Emergency Medicine

Emergency Care of Corneal Abrasion

Globe Rupture

16

Herpes Zoster Ophthalmicus

Infective Endocarditis

Iritis dan Uveitis

Postoperative inflammation 2

2.10 Penatalaksanaan
a)
o
o
o

Antibiotik diberikan sebagai:


Suntikan periokular atau subkonjungtiva
Sistemik, ampisilin 2 gr/hari dan kloramfenikol 3 gr/hari
Sesuai kausa:
- Stafilococcus: basitrasin topical, metisilin subkonjungtiva dan iv
- Pneumococcus, Streptococcus dan Stafilococcus: penisilin G, topical,
subkonjungtiva, iv
- Batang gram negative lain: gentamisin
- Jamur: amfoterisin intravena, subkonjungtiva, iv

b) Siklopegik 3 kali sehari tetes mata


c) Antobiotika intravitreal bila sarana memungkinkan untuk melakukannya
d) Kortikosteroid diberikan dengan berhati-hati
Pembedahan
Eviserasi yaitu mengeluarkan seluruh isi bola mata dan abses dalam bola mata
dilakukan bila pengobatan dengan obat gagal.
Enukleasi yaitu mengeluarkan bola mata dengan memotong otot penggerak
mata serta saraf optic dilakukan bila keadaan mata sudah tenang atau telah terjadi
ftisis bulbi.
Kadang-kadang dilakukan drainase untuk mengeluarkan nanah. 3
2.11 Penyulit Endoftalmitis

17

Penyulit endoftalmitis adalah bila proses peradangan mengenai ketiga lapisan


mata (retina, koroid dan sclera) dan badan kaca maka akan mengakibatkan
panoftalmitis. 1,3,6
2.12 Prognosis Endoftalmitis
Prognosis endoftalmitis dan panoftalmitis sangat buruk terutama bila
disebabkan jamur atau parasite. Bila penyebabnya bakteri dan mendapat pengobatan
yang tepat, maka hasil akan baik, sedangkan bila terlambat maka hasilnya sangat
tidak memuaskan. Diagnosis dini dan pemberian obat yang tepat dan cepat adalah
cara untuk menangani penderita dengan endoftalmitis sehingga dapat terhindar dari
kebutaan.1,3

18

BAB III
LAPORAN KASUS
ANAMNESIS PRIBADI
Nama

: Duth Man

Umur

: 46 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Desa Perapat Batu Nunggul, NAD

No. MR.

: 97.92.45

Tgl. Masuk RS

: 25 November 2015

ANAMNESIS PENYAKIT
Keluhan Utama : Mata kiri merah
Telaah

: Hal ini dialami pasien sejak 3 hari yang lalu. Riwayat


terkena tanaman padi 3 minggu yang lalu. Riwayat mata
dikucek-kucek (+), mata merah (+), silau (+), kabur (+),
Riwayat penggunaan obat tetes mata tidak jelas. Pasien
merupakan rujukan dari RS Kota Cane.

RPT

: -

RPO

: 19

A.V.O.D

: 5/60

A.V.O.S

: 1/300

Kor. Sph

:-

Kor. Sph

:-

Cyl

:-

Cyl

:-

Menjadi

:-

Menjadi

:-

KMB

:-

KMB

:-

TOD

: tdp

TOS

: tdp

Compos mentis

Anemis

(-)

Tekanan Darah :

120/70mmHg

Ikterik

(-)

Frekuensi Nadi :

80 x/menit

Dyspnoe

(-)

Frekuensi Nafas :

20 x/menit

Sianosis

(-)

Temperatur

36,7oC

Edema

(-)

STATUS PRESENT
Sensorium

STATUS GENERALISATA

Kepala :
Hidung

Mata
:

Pada Status Ophthalmicus

Tidak dijumpai kelainan

Leher

Tidak dijumpai kelainan

Thorax

Tidak dijumpai kelainan

Abdomen

Tidak dijumpai kelainan

Ekstr Sup/Inf

Tidak dijumpai kelainan

20

STATUS OPHTHALMICUS
PEMERIKSAAN

OCULI DEXTRA

OCULI SINISTRA

Visus

3/60

1/300

Posisi

Orthoforia

Orthoforia

Palpebra Superior

Blepharospasme (-), sekret (-)

Palpebra Inferior

Blepharospasme (-), sekret (-)

Conj. Tars.

Blepharospasme (+), sekret


(+)
Blepharospasme (+), sekret
(+)

Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

Conj. Tars. Inferior

Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

Conj. Bulbi

Injeksi siliar (-)

Injeksi konjungtiva (+)

Injeksi konjungtiva (-)

Injeksi siliar (+)

Infiltrate (-)

Defek hampir seluruh

Superior

Cornea

marginal. Abses (+) total.


Kesan : Korneamalasia
COA

Sedang

Sulit dinilai

Pupil

Bulat, regular, RC (+), 2-3

Sulit dinilai

mm
Iris

Coklat

Sulit dinilai

Lensa

Jernih

Sulit dinilai

Corpus Vitreum

Tidak dilakukan pemeriksaan

Tidak dilakukan pemeriksaan

21

Fundus Oculi

Tidak dilakukan pemeriksaan

Tidak dilakukan pemeriksaan

Gambar

DIAGNOSIS

Endophthalmitis OS

ANJURAN

- Jaga kebersihan mata


- Tidak menggosok-gosok mata
- Memakai kacamata pelindung
- Memakai obat secara teratur

RENCANA

TERAPI

Rawat Inap

USG orbita sinista

Eviscerasi

C. LFX ED 1gtt/jam OS

C. Natacent ED 1 gtt / 2 jam OS


C. Tropin 1% ED 2 gtt I OS
Ciprofloxacin 2 x 750 mg
22

As. Mafenamat 3 x 500 mg


Metyl Prednisolon 3 x 4 mg
Ranitidine 2 x 1 tab.

FOLLOW UP
Tanggal : 26 November 2015
S : Mata merah, Nyeri (+)
O : VOD

: 6/60 (bedside)

23

VOS

: 1/300 (bedside)

Status Ophthalmicus OS
Palpebra Superior

: Blepharospasme (+)

Palpebra Inferior

: Blepharospasme (+)

Conjungtiva Tarsalis Superior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Tarsalis Inferior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Bulbi

: Inj. Conjungtiva (+) ; Inj. Silier (+)

Cornea

: Defek hampir seluruh marginal;Abses (+) total

COA

: Sulit Dinilai

Iris

: Sulit Dinilai

Pupil

: Sulit Dinilai

Lensa

: Sulit Dinilai

A : Endophtalmitis OS

P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- C. Natacent ED 1 gtt / 2 jam OS
- Ciprofloxacin 500 mg 2x1
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1
- Ranitidine 150 mg 2x1
24

R : - Foto Thoraks PA
- EKG
- Konsul Interna
- Konsul Anastesi
Hasil Laboratorium
-

WBC / RBC / HGB / HCT / MCV / MCH / MCHC / PLT

/ LED

14.720 / 4,75 / 13,80 / 36,90 / 37,70 / 29,10 / 37,40 / 225.000 / 3,00


-

Waktu Protrombin / INR / APTT


13,3 detik

Natrium / Kalium / Chlorida


134

/ 1,07 - / 30,1

/ 3,5

/ 121

SGOT / SGPT / Alk. Phosp. / Tot. Bil. / Dir. Bil / Ur / Cr

/ Uric Acid / KGD

Adr.
19

/ 24

/ 57

/ 0,52

/ 0,14

/ 57 / 0,64 / 3,70

Tanggal : 27 November 2015


S : Mata merah, Nyeri (+)
O : Status Ophthalmicus OS
Palpebra Superior

: Blepharospasme (+)

Palpebra Inferior

: Blepharospasme (+)
25

/ 201

Conjungtiva Tarsalis Superior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Tarsalis Inferior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Bulbi

: Inj. Conjungtiva (+) ; Inj. Silier (+)

Cornea

: Defek hampir seluruh marginal;Abses (+) total

COA

: Sulit Dinilai

Iris

: Sulit Dinilai

Pupil

: Sulit Dinilai

Lensa

: Sulit Dinilai

A : Endophtalmitis OS
P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- C. Natacent ED 1 gtt / 2 jam OS
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1
- Ranitidine 150 mg 2x1
Hasil Foto Thoraks PA : Cardiomegali dengan Efusi Pleura Kiri + TB Paru Aktif
Hasil EKG

: Sinus Rhytme

Tanggal : 28 November 2015


S : Mata merah, Nyeri (+)
O : Status Ophthalmicus OS
Palpebra Superior

: Dalam Batas Normal

Palpebra Inferior

: Dalam Batas Normal


26

Conjungtiva Tarsalis Superior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Tarsalis Inferior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Bulbi

: Inj. Conjungtiva (+) ; Inj. Silier (+)

Cornea

: Defek hampir seluruh marginal;Abses (+) total

COA

: Sulit Dinilai

Iris

: Sulit Dinilai

Pupil

: Sulit Dinilai

Lensa

: Sulit Dinilai

A : Endophtalmitis OS
P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- C. Natacent ED 1 gtt / 2 jam OS
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1
- Ranitidine 150 mg 2x1

Tanggal : 29 November 2015


S : Mata merah, Nyeri (+)
O : Status Ophthalmicus OS
Palpebra Superior

: Dalam Batas Normal

Palpebra Inferior

: Dalam Batas Normal


27

Conjungtiva Tarsalis Superior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Tarsalis Inferior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Bulbi

: Inj. Conjungtiva (+) ; Inj. Silier (+)

Cornea

: Defek hampir seluruh marginal;Abses (+) total

COA

: Sulit Dinilai

Iris

: Sulit Dinilai

Pupil

: Sulit Dinilai

Lensa

: Sulit Dinilai

A : Endophtalmitis OS
P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- C. Natacent ED 1 gtt / 2 jam OS
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1
- Ranitidine 150 mg 2x1

Tanggal : 30 November 2015


S : Mata merah, Nyeri (+)
O : Status Ophthalmicus OS
Palpebra Superior

: Dalam Batas Normal

Palpebra Inferior

: Dalam Batas Normal


28

Conjungtiva Tarsalis Superior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Tarsalis Inferior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Bulbi

: Inj. Conjungtiva (+) ; Inj. Silier (+)

Cornea

: Defek hampir seluruh marginal;Abses (+) total

COA

: Sulit Dinilai

Iris

: Sulit Dinilai

Pupil

: Sulit Dinilai

Lensa

: Sulit Dinilai

A : Endophtalmitis OS
P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- C. Natacent ED 1 gtt / 2 jam OS
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1
- Ranitidine 150 mg 2x1
R : - Konsul Anastesi
- Eviscerasi OS + CLK (Cangkok Lemak Kulit) tanggal 1 Desember 2015
Tanggal : 01 Desember 2015
S : Mata merah, Nyeri (+)
O : Status Ophthalmicus OS
Palpebra Superior

: Dalam Batas Normal

Palpebra Inferior

: Dalam Batas Normal


29

Conjungtiva Tarsalis Superior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Tarsalis Inferior

: Hiperemis (+)

Conjungtiva Bulbi

: Inj. Conjungtiva (+) ; Inj. Silier (+)

Cornea

: Defek hampir seluruh marginal;Abses (+) total

COA

: Sulit Dinilai

Iris

: Sulit Dinilai

Pupil

: Sulit Dinilai

Lensa

: Sulit Dinilai

A : Endophtalmitis OS
P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- C. Natacent ED 1 gtt / 2 jam OS
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1
- Ranitidine 150 mg 2x1
R : - Eviscerasi OS + CLK (Cangkok Lemak Kulit) tanggal 1 Desember 2015

Tanggal : 02 Desember 2015


S : Post Operasi H1
O : Status Ophthalmicus OS
Mata dalam keadaan diverband
A : Post Eviscerasi OS
30

P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- Gentamicin EO 2 opplicated I OS
- Ciprofloxacine 500 mg 2x1
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1

Tanggal : 03 Desember 2015


S : Post Operasi H2
O : Status Ophthalmicus OS
Mata dalam keadaan diverband
A : Post Eviscerasi OS
P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- Gentamicin EO 2 opplicated I OS
- Ciprofloxacine 500 mg 2x1
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1

Tanggal : 04 Desember 2015


S : Post Operasi H3
O : Status Ophthalmicus OS
Mata dalam keadaan diverband
A : Post Eviscerasi OS

31

P : - C. LFX ED 1gtt/jam OS
- Gentamicin EO 2 opplicated I OS
- Ciprofloxacine 500 mg 2x1
- Asam Mefenamat 500 mg 3x1

Pasien PBJ tanggal 05 Desember 2015 dengan obat pulang :


-

C. LFX ED 1gtt/jam OS

Gentamicin EO 2 obturans I OS

Asam Mefenamat 500 mg 3x1

BAB IV
KESIMPULAN
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya akibat
infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis. Berbentuk radang
supuratif di dalam rongga mata dan struktur di dalamnya.

32

Di Amerika Serikat, Endoftalmitis endogen jarang ditemukan, hanya 2-15 %


dari semua kasus endoftalmitis. Rata-rata kejadiannya adalah sekitra 5 per 100.000
dari semua pasien. Endoftalmitis eksogen ditemukan sekitar 60% kasus setelah
operasi intraocular. Biasanya muncul seminggu setelah operasis.
Keluhan berupa kemunduran tajam penglihatan yang diseratai dengan rasa
sakit merupakan keluhan yang menonjol pada endoftalmitis. Terdapat edema
palpebra, konjungtiva kemotik dengan kekeluhan kornea yang ringan. Pemeriksaan
yang perlu dilakukan pada setiap endoftalmitis ialah mengambil cairan mata atau
badan kaca untuk pemeriksaan kuman penyebab. sebaiknya dilakukan pemerikasaan
sediaan hapus dan biakan dari bagian segmen anterior bola mata.
Penatalaksanaan pada kasus endoftalmitis dapat diberikan antibiotic sesuai
penyebabnya, siklopegik dan kortikosteroid secara hati-hati. Tindakan pembedahan
pada endoftalmitis dapat berupa eviserasi yaitu mengeluarkan seluruh isi bola mata
dan abses dalam bola mata dilakukan bila pengobatan dengan obat gagal, atau
enukleasi yaitu mengeluarkan bola mata dengan memotong otot penggerak mata serta
saraf optic dilakukan bila keadaan mata sudah tenang atau telah terjadi ftisis bulbi.
Kadang-kadang dilakukan drainase untuk mengeluarkan nanah.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Ilyas, Sidarta. Endoftalmitis in Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Balai

2.

Penerbit FKUI. 2010. P: 175-8


Egan,
Daniel
J.

Endophthalmitis.

Available

on

http://emedicine.medscape.com/article/799431-overviewcited on December 2,
2015
33

3.

Ilyas, Sidarta. Endoftalmitis in Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta:

4.

Balai Penerbit FKUI. 2005. P: 91-6


Ilyas, Sidarta. Anatomi dan Fisiologi Mata in Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga.

5.

Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2010. P: 1-13


Ilyas, Sidarta. Endoftalmitis in Ilmu Penyakit Mata Edisi Kedua. Jakarta: Balai

6.

Penerbit FKUI. 2003. P: 98-101


Ilyas, Sidarta, Muzakkir Tanzil, Salamun, Zainal Azhar. Endoftalmitis Non
Supuratif dan Supuratif in Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI. 2008. P: 67-70

34