Anda di halaman 1dari 15

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,

Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX


Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

BAB I
PENGANTAR
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan kebutuhan utama manusia
agar aktivitas kehidupan manusia tidak terganggu. Menurut Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, bahwa kesehatan
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Dalam upaya mewujudkan masyarkat yang sehat, pemerintah membuat
instalasi kesehatan yang salah satunya adalah Pusat Kesehatan Masyrakat
(Puskemas). Menurut Permenkes RI No. 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan
Masyarakat, Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas
adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Setiap Puskesmas memiliki unit perbekalan farmasi yang bertugas untuk
menyalurkan obat kepada pasien. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun
2009 menyatakan bahwa setiap bentuk fasilitas pelayanan kefarmasian wajib
dikelola Apoteker.
Berdasarkan uraian di atas, Program Studi Profesi Apoteker Univesitas
Sanata Dharma bekerjasama dengan Puskesmas Prambanan memberikan
kesempatan kepada mahasiswa profesi apoteker untuk mempelajari secara
langsung aplikasi ilmu kesehatan di Puskesmas sehingga mahasiswa calon
apoteker nantinya memiliki kesiapan diri untuk memasuki dunia kerja.

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

1.

B. TUJUAN
Meningkatkan pemahaman tentang peran, fungsi, dan tanggung jawab

2.

Apoteker dalam pelayanan kefarmasian di Puskesmas.


Membekali agar memiliki wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan

3.

pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.


Memberikan kesempatan kepada untuk melihat dan mempelajari strategi dan

4.
5.

pengembangan di Puskesmas.
Mempersiapkan dalam memasuki dunia kerja.
Memberikan gambaran nyata tentang permasalahan pekerjaan kefarmasian di
Puskesmas.

1.

C. MANFAAT
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tugas dan tanggung jawab

2.

Apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas.


Mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan

3.
4.

kefarmasian di Puskesmas.
Mahasiswa mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di Puskesmas.
Mahasiswa dapat meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi Apoteker
yang profesional di Puskesmas.

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Aspek Manajemen Persediaan Obat dan Administrasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30
Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, Puskesmas
merupakan unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah
kerja. Kegiatan pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai di Puskesmas
meliputi:
1. Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi obat dan bahan medis
habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan
kebutuhan Puskesmas. Perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai
dilaksanakan setiap periode oleh Ruang Farmasi di Puskesmas. Tujuan
perencanaan adalah untuk mendapatkan:
a. Perkiraan jenis dan jumlah obat dan bahan medis habis pakai yang
mendekati kebutuhan.
b. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional.
c. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat.
Proses seleksi obat dan bahan medis habis pakai dilakukan dengan
mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi obat periode sebelumnya, data
mutasi obat, dan rencana pengembangan. Proses seleksi obat dan bahan medis
habis pakai juga harus mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan
Formularium Nasional. Proses seleksi ini harus melibatkan tenaga kesehatan yang
ada di Puskesmas seperti dokter, dokter gigi, bidan, dan perawat, serta pengelola
program yang berkaitan dengan pengobatan.
Proses perencanaan kebutuhan obat per tahun dilakukan secara berjenjang
(bottom-up). Puskesmas diminta menyediakan data pemakaian obat dengan
menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota akan melakukan kompilasi dan
analisa terhadap kebutuhan obat Puskesmas di wilayah kerjanya, menyesuaikan
pada anggaran yang tersedia dan memperhitungkan waktu kekosongan obat,
buffer stock, serta menghindari stok berlebih.
2. Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Tujuan permintaan obat dan bahan medis habis pakai adalah memenuhi
kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan
kebutuhan yang

telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan


pemerintah daerah setempat.

3. Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai


Penerimaan obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan dalam
menerima obat dan bahan medis habis pakai dari Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota sesuai
dengan permintaan yang telah diajukan. Tujuannya adalah agar obat yang diterima sesuai
dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Puskesmas. Semua
petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan bertanggung jawab atas ketertiban
penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan obat dan bahan medis habis
pakai berikut kelengkapan catatan yang menyertainya.
Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap obat dan bahan medis
habis pakai yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat,
bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh petugas penerima,
dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, maka petugas
penerima dapat mengajukan keberatan. Masa kedaluwarsa minimal dari obat yang
diterima disesuaikan dengan periode pengelolaan di Puskesmas ditambah satu bulan.

4. Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai


Penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai merupakan suatu kegiatan
pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari
kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan
yang ditetapkan. Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di Puskesmas dapat
dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Penyimpanan obat dan bahan
medis habis pakai dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a. Bentuk dan jenis sediaan.


b. Stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban).

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
c. Mudah atau tidaknya meledak/terbakar.
d. Narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus.
B. Aspek Distribusi Sediaan Farmasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 tahun 2014,
Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan kegiatan pengeluaran dan
penyerahan obat dan bahan medis habis pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi
kebutuhan sub unit/satelit farmasi Puskesmas dan jaringannya. Sub-sub unit di
Puskesmas dan jaringannya antara lain:

a. Sub unit pelayanan kesehatan di dalam lingkungan Puskesmas;


b. Puskesmas Pembantu;
c. Puskesmas Keliling;
d. Posyandu; dan
e. Polindes.
Tujuan distribusi sediaan farmasi adalah untuk memenuhi kebutuhan obat
sub unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis,
mutu, jumlah dan waktu yang tepat. Pendistribusian ke sub unit (ruang rawat inap,
UGD, dan lain-lain) dilakukan dengan cara pemberian obat sesuai resep yang
diterima (floor stock), pemberian obat per sekali minum (dispensing dosis unit)
atau kombinasi, sedangkan pendistribusian ke jaringan Puskesmas dilakukan
dengan cara penyerahan obat sesuai dengan kebutuhan (floor stock).
C. Pemeriksaan dan Pencatatan Obat Masuk-Keluar
Beberapa hal yang dilakukan pada unit farmasi di Puskesmas diantaranya
adalah pemeriksaan dan pencatatan obat masuk-keluar. Petugas penerimaan obat
wajib melakukan pemeriksaan terhadap obat-obat yang diserahkan. Pemeriksaan
yang dilakukan mencakup jumlah kemasan, jenis dan jumlah obat, kesesuaian
dengan isi dokumen (LPLPO) dan ditandatangani oleh petugas penerima atau
diketahui Kepala Puskesmas. Bila tidak memenuhi syarat, petugas penerima dapat
mengajukan keberatan (Depkes RI, 2001).

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Pencatatan dan pelaporan data obat di Puskesmas adalah suatu usaha yang
dilakukan untuk memonitor dan mendokumentasikan kegiatan pengelolaan obat
dan perbekalan farmasi di Puskesmas. Adanya monitoring dan dokumentasi dapat
membuktikan bahwa kegiatan pengelolaan obat dan perbekalan farmasi telah
dilakukan dan ada dokumentasinya yang dapat digunakan sebagai sumber data
(Anonim, 2010).
1. Sasaran pokok pencatatan obat di Puskesmas:
a. Terlaksananya tertib administrasi dan pengelolaan obat
b. Tersedianya data yang akurat dan tepat waktu
c. Tersedianya data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian oleh
unit yang lebih tinggi.
2. Macam-macam format pencatatan dan pelaporan obat di Puskesmas dan sub
unit pelayanan kesehatan:
a. Kartu stok obat
b. Laporan pemakaian dan lembar permintaan obat (LPLPO)
c. Buku catatan harian penerimaan dan pemakaian obat
d. Buku catatan harian penerimaan resep
e. Laporan obat rusak/daluarsa
f.

Surat pernyataan obat hilang.


D. Evaluasi
Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, harus

dilakukan pengendalian mutu yang meliputi monitoring dan evaluasi. Monitoring


merupakan kegiatan pemantauan selama proses berlangsung untuk memastikan
bahwa aktivitas berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Monitoring dapat
dilakukan oleh tenaga kefarmasian yang melakukan proses. Aktivitas monitoring
perlu direncanakan untuk mengoptimalkan hasil pemantauan, misalnya:
monitoring pelayanan resep, monitoring penggunaan obat, monitoring kinerja
tenaga kefarmasian.
Untuk menilai hasil atau capaian pelaksanaan pelayanan kefarmasian,
dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan terhadap data yang dikumpulkan yang

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
diperoleh melalui metode berdasarkan waktu, cara, dan teknik pengambilan data.
Menurut Permenkes Nomor 30 Tahun 2014, Evaluasi Pengelolaan Obat dan
Bahan Medis Habis Pakai dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk:
a. Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan
obat dan bahan medis habis pakai sehingga dapat menjaga kualitas maupun
pemerataan pelayanan.
b. Memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan obat dan bahan medis habis
pakai.
c. Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan.
Pelaksanaan evaluasi terdiri atas:
1. Audit
Audit merupakan usaha untuk menyempurnakan kualitas pelayanan
dengan pengukuran kinerja bagi yang memberikan pelayanan dengan menentukan
kinerja yang berkaitan dengan standar yang dikehendaki dan dengan
menyempurnakan kinerja tersebut. Oleh karena itu, audit merupakan alat untuk
menilai,

mengevaluasi,

menyempurnakan

pelayanan

kefarmasian

secara

sistematis. Audit yang dilakukan antara lain:


a. Audit Sediaan Farmasi
Tujuan dari audit sediaan farmasi adalah melindungi masyarakat dari
sediaan farmasi yang tidak memenuhi syarat, melindungi masyarakat dari
penyalahgunaan dan salah penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan,
serta mencegah persaingan tidak sehat antar perusahaan farmasi.
b. Audit SOP Manajemen
Audit SOP manajemen merupakan contoh dari audit professional.
Audit profesional merupakan analisis kritis pelayanan kefarmasian oleh
seluruh tenaga kefarmasian terkait dengan pencapaian sasaran yang
disepakati, penggunaan sumber daya dan hasil yang diperoleh. Tujuan dari
audit SOP manajemen adalah agar dicapai pelayanan yang bermutu dan
berkinerja tinggi dengan prinsip dasar mutu dan peningkatan kinerja yang
sesuai dengan standar prosedur operasional untuk tiap unit pelayanan.

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
c. Audit SOP Distribusi
Standar distribusi obat yang baik diterapkan untuk memastikan
bahwa kualitas produk yang dicapai melalui CDOB dipertahankan
sepanjang jalur distribusi, untuk itu diperlukan sistem audit dalam rangka
menjamin agar obat aman, bermanfaat dan bermutu. Adapun tujuan audit
SOP Distrtribusi adalah menjamin keabsahan dan mutu obat agar obat yang
sampai ke konsumen adalah obat yang aman, efektif dan dapat digunakan
sesuai indikasinya.
2. Review (Pengkajian)
Pengkajian yaitu tinjauan atau kajian terhadap pelaksanaan pelayanan
kefarmasian tanpa dibandingkan dengan standar, misalnya: kajian penggunaan
antibiotik.

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
B. Aspek Manajemen Persediaan Obat dan Administrasi
Manajemen persediaan obat dan administrasi di Puskesmas Prambanan
dilakukan melalui proses seleksi persediaan obat yang dilakukan dengan
mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi obat periode sebelumnya, data
mutasi obat, dan rencana pengembangan. Selain itu, mengacu pula pada Daftar
Obat Esensial Nasional (DOEN). Puskesmas juga diminta untuk menyediakan
data pemakaian obat dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat (LPLPO). Saat ini, Puskesmas Prambanan sedang menyusun
Formularium Puskesmas untuk kepentingan akreditasi.
1. Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Perencanaan pengadaan persediaan obat Puskesmas Prambanan dilakukan
setiap bulan dan setiap tahun. Perencanaan pengadaan dilakukan berdasarkan
metode konsumsi selama perbulan atau pertahun sebelumnya. Pengadaan
persediaan obat dan administrasi dilakukan berdasarkan kebutuhan obat yang ada
pada bagian farmasi, kebutuhan tiap poli(sama atau beda?), KIA, puskesmas
pembantu, dan puskesmas keliling.
Sumber pengadaan persediaan obat di Puskesmas Prambanan adalah
melalui Gudang Farmasi Kabupaten Sleman (GFK). Selain itu, khusus untuk
beberapa obat yang tidak disediakan oleh GFK maka dapat dilakukan pengadaan
sendiri dengan anggaran puskesmas, seperti. Khusus untuk pengadaan obat KB
melalui BKKBN dan khusus untuk pengadaan vaksin melalui unit vaksin POAK.
Permintaan pengadaan obat dilakukan oleh Asisten Apoteker (AA) dengan
menggunakan LPLPO dan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Vaksin
(LPLPV) yang diserahkan langsung ke GFK Sleman sedangkan untuk obat KB
mendapatkan droping dari BKKBN.
LPLPO digunakan untuk pencatatan dan pelaporan persediaan obat di
puskesmas. Selain itu, digunakan untuk menganalisis penggunaan, perencanaan

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
kebutuhan obat, pengendalian persedaan obat, dan pembuatan laporan
pengelolaan obat. Pengadaan persediaan obat Puskesmas Prambanan dilakukan
tiap bulan yang disesuaikan dengan kebutuhan yaitu dengan menggunakan surat
permintaan (SP) berupa LPLPO. Jumlah permintaan obat didasarkan pada
pemakaian obat pada periode sebelumnya. LPLPO dibuat setiap bulan untuk
selanjutnya dibuat LPLPO tahunan. Penyusunan LPLPO berdasarkan hasil
rekapan data pelaporan penggunaan obat dari sub unit pelayanan di Puskesmas
Prambanan.
Obat esensial dan obat generik disediakan GFK Sleman, sedangkan untuk
obat non generik (mis: Hemafort)?
Dalam rangka mencegah kekosongan persediaan obat di Puskesmas
Prambanan maka dapat dilakukan permintaan khusus sebelum jatuh tempo
permintaan bulan selanjutnya. Permintaan khusus ini dibuat dalam bentuk bon
yang dicatat di UPT POAK Sleman. Jumlah permintaan obat pada bulan
selanjutnya akan dikurangi dengan sejumlah obat yang ada dicatatan bon. Bon
yang masuk sebelum tanggal 20 akan masuk pada bon bulan sebelumnya,
sedangkan bon yang masuk setelah tanggal 20 maka akan masuk bon pada bulan
berikutnya. Jika obat tidak dapat dipenuhi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten
Sleman, maka Puskesmas akan melakukan pengadaan sendiri.
2. Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
3. Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
4. Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
B. Aspek Distribusi Sediaan Farmasi
Tujuan dari distribusi sediaan farmasi di Puskesmas Prambanan adalah
untuk memenuhi kebutuhan sediaan farmasi pada masing-masing sub unit
pelayanan kesehatan. Setelah sediaan farmasi diterima oleh AA, kemudian sediaan
farmasi masuk ke gudang farmasi Puskesmas Prambanan. Gudang farmasi ini
menjadi sumber utama kebutuhan obat untuk masing-masing sub unit, seperti poli,
KIA, puskesmas pembantu, dan puskesmas keliling. Persediaan obat di gudang
farmasi puskesmas akan dikirimkan kepada masing-masing sub unit setiap bulan

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
berdasarkan jumlah obat yang digunakan sebulan sebelumnya (LPLPO Sub).
Pengajuan permintaan obat dari tiap sub unit ke gudang puskesmas disertai
dengan LPLPO sub unit, kecuali sub unit pelayanan (poli?). Stok obat di gudang
farmasi puskesmas dikeluarkan ke ruang obat setiap bulan berdasarkan jumlah
masing-masing item obat yang digunakan sebulan sebelumnya untuk dijadikan
jumlah minimal dalam pengambilan stok ruang obat selama satu bulan berikutnya.
Metode ini dapat mengurangi frekuensi pengambilan obat di gudang, sehingga
diharapkan dapat meminimalisir kasus kehilangan obat.
Sistem distribusi yang dilakukan di Puseksmas Prambanan berupa
individual prescribing dan floor stock. Individual prescribing merupakan sistem
distribusi obat yang biasa digunakan pada unit rawat jalan. Sistem individual
prescribing rawat jalan dilakukan dengan menyalurkan sediaan farmasi
berdasarkan permintaan resep yang ditulis oleh dokter untuk 1 keur pengobatan
pasien dari instalasi farmasi langsung ke pasien. Yang dimaksud dengan

1 keur

pengobatan adalah pelayanan sediaan farmasi untuk 1 kali resep (3 hari, 1 minggu
atau 1 bulan). Floor stock dilakukan dengan menyiapkan sediaan farmasi di
ruang tertentu. Sediaan farmasi ini digunakan saat ada pasien. Petugas dapat
meminta kebutuhan sediaan farmasi apabila persediaan sudah menipis atau habis
kepada gudang farmasi. Distribusi sediaan farmasi ke jaringan/sub unit puskesmas
dilakukan dengan cara penyerahan sediaan farmasi sesuai dengan kebutuhan
(floor stock).
C. Pemeriksaan dan Pencatatan Obat Masuk-Keluar
D. Evaluasi
1. Audit
a. Audit Sediaan Farmasi
b. Audit SOP Manajemen
c. Audit SOP Distribusi

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
BAB IV
TUGAS

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
1.
DAFTAR PUSTAKA
Menteri Kesehatan RI, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Puskesmas, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Menteri Kesehatan RI, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat,
Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
Depkes RI, 2001, Pedoman Pengelolaan Obat di Puskesmas, Departemen
Kesehatan RI, Jakarta.
Anonim, 2010, Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di Puskesmas,
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Direktorat Jenderal
Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI yang
bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency.
SK Ka Badan POM No : HK 00.05.3.2522 Tahun 2003 : tentang Penerapan
Pedoman Cara Distribusi Obat Yang Baik
http://www.ikatanapotekerindonesia.net/articles/pharma-update/nationalpharmacy/298-p-e-n-g-a-w-a-s-a-n.html

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015

Laporan PKPA Puskesmas Prambanan Sleman,


Program Studi Profesi Apoteker, Angkatan XXX
Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

LAMPIRAN

PERIODE 22 JUNI 27 JUNI 2015