Anda di halaman 1dari 68

BAB I

UJI TARIK (TENSILE TEST)


1.1.

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari pemakaian logam berdasarkan penggunaan
yang dimiliki logam tersebut contoh pada pembuatan konstruksi jembatan
dibutuhkan logam yang kuat dan tanggguh berbeda dengan pemakaian logam
untuk pagar rumah yang tidak terlalu memperhatikan sifat mekaniknya. Contoh
contoh sifat mekanik adalah kekuatan tarik, kekerasan, keuletan, dan
ketangguhan. Pengujian sifat mekanik ini dapat dilakukan dengan pengujian
mekanik.
Adapun beberapa sifat mekanik dari suatu materil antara lain :
Kekuatan ( Strength )
Elastisitas ( Modulus elastisitas )
Keuletan ( Ductility )
Kekerasan ( Hardness )
Kelelahan ( Fatique )
Kekakuan
Pengujian mekanik ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat mekanik
dari bahan atau material dalam bentuk kekerasan, kekuatan, kekakuan, ataupun
ketangguhan.
Kekerasan adalah kemampuan untuk tahan terhadap goresan, pengikisan dan
penetrasi.
Kekuatan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima tegangan tanpa
menyebabakan bahan menjadi patah.
Kekakuan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima tegangan atau
beban tanpa mengakibatkan terjadinya deformasi.
Ketangguhan adalah kemampuan suatu bahan untuk menyerap sejumlah
energi tanpa menyebabkan kerusakan.
[1]

Salah satu pengujian yang digunakan untuk mengetahui sifat mekanis


logam adalah uji tarik (tensile test). Uji tarik adalah suatu metode yang
digunakan untuk menguji kekuatan suatu bahan material dengan cara
memberikan beban gaya berlawanan arah. Hasil yang didapatkan dari pengujian
tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan desain produk karena
menghasilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik digunakan untuk
mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara
lambat. Sifat mekanis logam yang dapat diketahui setelah proses pengujian ini
seperti kekuatan tarik, keuletan dan ketangguhan. Pengujian ini banyak
dilakukan untuk melengkapi data informasi rancangan dasar kekuatan suatu
bahan dan sebagai pendukung bagi spesifikasi bahan. Pengujian tarik merupakan
salah satu yang paling penting dilakukan, karena dengan pengujian ini dapat
memberikan informasi mengenai sifat sifat logam. Dalam bidang industri juga
diperlukan pengujian tarik ini untuk mempertimbangkan faktor metalurgi dan
faktor mekanis yang tercakup dalam proses perlakuan terhadap logam jadi,
untuk memenuhi proses selanjutnya.
Salah satu dari uji penelitian sifat mekanik dari suatu material adalah uji tarik
(tensile test). Uji tarik merupakan salah satu pengujian terhadap material. Uji
tarik ini dilakukan dengan memberikan gaya yang sama pada dua sisi benda uji
secara berlawanan arah. Uji tarik ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat
mekanis

dari

material,

sehingga

diharapkan

dapat

digunakan

untuk

mempertimbangkan dalam pemilihan material yang tepat.


Pada pengujian tarik ini menggunakan unaxial testing machine.
Sedangkan spesimen yang digunakan adalah baja ST-60 dan baja ST-40. Pada
pengujian ini dilakukan dengan mencekam spesiman pada kedua sisinya secara
berlawanan sampai spesimen itu patah. Pada pengujian ini dapat diketahui Fyield
(gaya pada saat yield), Fmaksimal (gaya terbesar yang mampu ditahan material),
Fpatah (gaya pada saat patah).
Pada uji tarik, beban uji diberi beban gaya tarik secara kontinu hingga
bahan tersebut mengalami patahan, bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan
mengenai perpanjangan yang dialami bahan uji. Hasil yang dapat diperoleh dari

pengujian uji tarik ini adalah: regangan, tegangan, elastisitas, batas proporsional,
yield point, yield strength, kontraksi, ultimate tensile strength, kurva tegangan
regangan, perpatahan.
Untuk mengetahui sifat-sifat suatu bahan adalah dengan melakukan suatu
pengujian terhadap bahan-bahan tersebut. Pengujian yang dilakukan ditujukan
untuk mengetahui berbagai sifat-sifat seperti struktur sifat pengolahan , sifat
mekanik, sifat termal, sifat dalam medan listrik, struktur atom, komposisi kimia
dan lain-lain. Disamping itu untuk mengetahui seluruh sifat dari suatu bahan
diperlukan suatu pengujian yang rumit dan panjang. Salah satu dari sekian
banyak pengujian terhadap material, yang sering digunakan adalah pengujian
untuk mengetahui sifat mekanik atau pengujian mekanik. Dan salah satu dari uji
penelitian sifat mekanik adalah uji tarik.
Pada uji tarik, beban uji diberi beban gaya tarik secara kontinu hingga
bahan tersebut mengalami patahan, bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan
mengenai perpanjangan yang dialami bahan uji. Hasil yang dapat diperoleh dari
pengujian uji tarik ini adalah: regangan, tegangan, elastisitas, batas proporsional,
yield point, yield strength, kontraksi, ultimate tensile strength, kurva tegangan
regangan, perpatahan.

1.1.1

Latar Belakang
Dalam merancang suatu produk baru, kita harus mengetahui
karakteristik dari bahan yang akan digunakan dan sesuai dengan model
serta kekuatan dari produk yang akan dibuat. Karena kehandalan suatu
produk salah satunya ditentukan oleh sifat dari bahan yang akan
digunakan. Bahan penentu utama kekuatan suatu produk adalah kekuatan
dari bahannya selain bentuk dan cara memproduksinya. Disamping itu
kita juga harus mengetahui sifat-sifat bahan atau material. Salah satunya
pengujian yang dapat kita lakukan untuk mengetahui kekuatan suatu
material adalah uji tarik. Pengujian mekanik ini bertujuan untuk
mengetahui sifat-sifat mekanik dari bahan atau material dalam bentuk
kekerasan, kekuatan, kekakuan, ataupun ketangguhan.

Kekerasan adalah kemampuan untuk tahan terhadap goresan,


pengikisan dan penetrasi.

Kekuatan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima tegangan


tanpa menyebabakan bahan menjadi patah.

Kekakuan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima tegangan


atau beban tanpa mengakibatkan terjadinya deformasi.

Ketangguhan adalah kemampuan suatu bahan untuk menyerap


sejumlah energi tanpa menyebabkan kerusakan.
[1]

Sifat bahan yang lainnya yaitu sifat magnet yang dapat diuji dengan menggunakan
magnet kemudian didekatkan ke benda uji. Sifat magnet terdiri dari:
1.

Permeabilitas yaitu ukuran kemampuan suatu material berpori untuk


mengalirkan medan magnet.

2.

Koersivitas merupakan koefisien dari magnetic stripe yang menunjukkan


sejumlah gaya yang diperlukan sebelum jenuhnya (saturasi) magnet dan
diukur dalam satuan Oersted (Oe). Ada 2 koefisien magnetic stripe yang
umum di pakai yaitu hico (high coercivity) dan loco (low coercivity)

3.

Histerisis terjadi pada bahan feromagnetik dan bahan feroelektrik, serta


deformasi dari beberapa bahan (seperti karet gelang dan bentuk-memori
paduan) dalam menanggapi kekuatan yang bervariasi.

Sifat kimia bahan diuji dengan spektrometer, yaitu alat untuk mengukur
spektrum cahaya dan mengukur panjang gelombang serta intensitasnya. Sifat
kimia terdiri dari:
1. Reaksi kimia
Dalam reaksi kimia, ikatan antara atom-atom akan dipecah dan akan
membentuk substansi baru dengan ciri-ciri yang berbeda. Dalam tanur
tinggi, besi oksida yang direaksikan dengan karbon monoksida akan
membentuk besi dan karbon dioksida.
2. Ketahanan korosi

Bahan korosif merupakan salah satu bahan yang dapat merusak dan
mengakibatkan cacat permanen pada jaringan yang terkena bahan korosif.

Sifat fisik adalah sifat yang dapat diukur dan diteliti tanpa mengubah komposisi
atau susunan dari zat tersebut terdiri dari :
1.

Ukuran

2.

Massa jenis

3.

Struktur

Sifat teknologi yaitu kemampuan material untuk dibentuk atau diproses. Produk
dengan kekuatan tinggi dapat dibuat dibuat dengan proses pembentukan,
misalnya dengan pengerolan atau penempaan. Produk dengan bentuk yang rumit
dapat dibuat dengan proses pengecoran dari :
1. Mampu mesin
2. Mampu keras
[2]
1.1.2

Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk:
1. Melakukan pengujian tarik maksimum pada universal Testing Machine.
2. Menentukan

besarnya

tegangan

tarik

maksimum

(UTS),

tegangan

luluh,tegangan patah,tegangan sebenarnya,True UTS,True Rupture.


3. Menentukan regangan.
4. Menentukan Modulus Elastisitas.
5. Menentukan kontraksi atau prosentase pengecilan penampang.
6. Menentukan dan menggambarkan kurva tegangan regangan untuk spesimen
uji
7. Menganalisa regangan yang terjadi di specimen dengan pengujian.
8. Menentukan jenis patahan.

1.2 Dasar Teori


Karbon mempunyai pengaruh dalam sifat baja, semakin banyak karbon
maka akan memperkuat baja itu sendiri. Sebaliknya, apabila material
mempunyai karbon yang sedikit, maka material itu cenderung lebih lunak.

Karakteristik Baja Karbon

Gambar 1.1. Klasifikasi baja menurut kadar karbon


[2]
a. Karbon rendah
Campuran logam yang mempunyai kandungan karbon dibawah
0,25% disebut dengan baja karbon rendah. Baja ini bersifat lunak
dan mempunyai ductility yang tinggi.
b. Karbon Menengah
Campuran karbon pada logam diantara 0,25%-0,6%. Logam ini
mempunyai kekerasan yang lebih tinggi dari baja karbon rendah
dan mempunyai ductility yang lebih rendah dari baja karbon
rendah.

c. Karbon tinggi
Campuran karbon pada logam diantara 0,6%-1,4%. Logam ini
mempunyai kekerasan yang tinggi dan mempunyai ductility yang
rendah.
AISI-SAE
Standarisasi dengan sistem AISI dan juga SAE merupakan tipe
standarisasi dengan berdasarkan pada susunan atau komposisi kimia yang ada
dalam suatu baja. Ada beberapa ketentuan dalam Standarisasi baja berdasarkan
AISI atau SAE, yaitu :
Dinyatakan dengan 4 atau 5 angka:
1.

Angka pertama menunjukkan jenis baja.

2.

Angka kedua menunjukkan:


a. Kadar unsur paduan untuk baja paduan sederhana.
b. Modifikasi jenis baja paduan untuk baja paduan yang kompleks.

3.

Dua angka atau tiga angka terakhir menunjukkan kadar karbon perseratus
persen.

4.

Bila terdapat huruf di depan angka maka huruf tersebut menunjukkan


proses pembuatan bajanya.

Contoh standarisasi Baja karbon dengan AISI-SAE :


SAE 1045, berarti :
Angka 1 : Baja Karbon
Angka 0 : Persentase bahan alloy (tidak ada)
Angka 45 : Kadar karbon (0.45% Karbon)

Tabel 1.1 Baja kualitas tinggi Standard AISI dan SAE

1.2.1

Baja ST 40 DAN ST 60
ST 40 merupakan kependekan dari stahl 40 yang artinya bahwa baja ini dengan
kekuatan tarik 40 kg/mm.( Diawali dengan ST dan diikuti bilangan yang
menunjukkan kekuatan tarik minimumnya dalam kg/mm) Baja ST 40 termasuk
baja karbon rendah dengan kandungan karbon kurang dari 0,25 %,
Baja ST 40 ini secara teori mempunyai nilai kekerasan yang lebih rendah
dibandingkan dengan besi cor,dengan adanya perlit dan ferit karena perlit yang
ada lebih banyak daripada ferit.

Sifat mekanik baja ST 40:


Kekuatan tarik 42 50 kgf/mm2
Perpanjangan minimal 20 % dari panjang semula
Kandungan karbon <0,25 %
Yield Strength minimal 23 kgf/mm2
Ultimate Strength 50 kgf/mm2
Kekerasan yang diperoleh dengan metode Brinell 129 140 kgf/mm2

Aplikasi baja ST 40 antara lain :


Digunakan untuk kawat,paku,wire mesh,peralatan automotif dan sebagai
bahan baku welded fabrication (kisi-kisi jendela atau pintu dan jeruji)
Aplikasi khusus seperti untuk kawat elektroda berlapis untuk keperluan
pengelasan

Gambar 1.2 Kawat ST 40


[3]

Gambar 1.3 Paku ST 40


[4]

Tabel 1.2. Komposisi Kimia Baja ST 40

[5]

Gambar 1.4 Material Baja ST 40


[6]

ST 60 merupakan kependekan dari stahl(baja) 60 yang artinya


mempunyai kekuatan tarik 60 kg/mm2,Baja ST 60 ialah baja dengan
kandungan C maksimum 0,452%, S = 0,009%, P = 0,011%,(Metalic
Material Specification hand book, Robert B Ross) baja karbon rendah
yang mempunyai kekuatan tarik sebesar 60 kg/mm atau 60 MPa.
Tabel 1.3 Komposisi Kimia Baja ST 60
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Nama Unsur
Iron/Ferro
Manganese
Carbon
Silicon
Chromium
Tungsten
Nikel
Phosporus
Sulfur
Niobium
Copper
Molybdenum
Aluminium
Vanadium
Titanium

Simbol
Fe
Mn
C
Si
Cr
W
Ni
P
S
Nb
Cu
Mo
Al
V
Ti

Nilai
98,41
0,692
0,452
0,220
0,113
0,04
0,047
0,011
0,009
0,01
0,004
0,004
0
0
0
[7]

Gambar 1.5 Struktur mikro baja ST 60


[6]
Baja ini mempunyai kandungan karbon 0,452%C. yang termasuk baja karbon
menengah. Menurut TJ Rajan (1997), baja ST 60 adalah baja yang memiliki
kadar karbon 0,3%C sampai 0,6%C
Sifat mekanik baja ST 60:

Tegangan Luluh () 1100 Mpa

Kekuatan Tarik 1174 Mpa

Perpanjangan (e). 13 %

Area Reduksi (A) 53,8 %

Memiliki kekuatan tarik sebesar 60 kgf/mm.

Kandungan karbon dalam kategori sedang antara 0,25% < C <


0,55%.

Memiliki nilai kekerasan antara 170-195 (kgf / mm).

Aplikasi baja ST 60 antara lain :


1.

Digunakan sebagai bahan baku connecting rods, crank pins, axles.

2.

Aplikasi khusus seperti untuk crankshaft, rel kereta api, obeng, auger bits
dan boiler.

Gambar 1.6 Connecting Rod Baja ST-60


[8]

Gambar 1.7 Crank pins ST-60


[8]

1.2.2

Tegangan
Tegangan ( Stress )
Tegangan didefinisikan sebagai tahanan terhadap gaya-gaya luar. Ini
diukur dalam bentuk gaya yang ditimbulkan per satuan luas. Dalam praktek
teknik, gaya umumnya diberikan dalam pound atau newton, dan luas yang
menahan dalam inch2 atau mm2. Akibatnya tegangan biasanya dinyatakan dalam
pound/inch2 yang sering disingkat psi atau Newton/mm2 (Mpa). Tegangan yang
dihasilkan pada keseluruhan benda tergantung dari gaya yang bekerja,

Gambar.1.8 Ilustrasi bagaimana uji tarik menghasilkan sebuah


perpanjangan dan regangan
[2]

Adapun yang dimaksud dengan tegangan adalah perbandingan antara beban


proporsional yang diberikan terhadap luas penampang atau dapat dirumuskan
sebagai berikut :

=
Dimana :

= tegangan ( N/mm2 )

F = beban proporsional (N)


Ao = luas penampang (mm2)
[9]

1.2.2.1 Tegangan Sebenarnya ( True Stress )


Adalah total beban dibagi luas penampang spesimen akhir, tegangan ini
merupakanhasil pengukuran tegangan sesungguhnya pada benda uji.

F
Au

2
dimana :

= tegangan ( N/mm2 )
F = beban proporsional (N)
Au = luas penampang ( mm )
[2]

Gambar 1.9 Ilustrasi Material saat Rupture

1.2.2.2 Tegangan Engineering ( Engineering Stress)


Tegangan engineering adalah perbandingan antara beban proporsional
yang diberikan terhadap luas penampang,atau dapat dirumuskan sebagai berikut:
=

dimana

F
A0

: = tegangan ( N/mm2 )
F = beban proporsional (N)
Ao = luas penampang mula-mula (mm2)
[1]

Gambar 1.10 Ilustrasi Engineering Stress

Gambar 1.11 Kurva Tegangan Regangan

Gambar 1.12 Perbandingan Kurva engineering stress dengan true stress

1.2.3

Regangan
Adalah perbandingan antara pertambahan panjang ( L ) dengan panjang
mula-mula. Regangan dapat dinyatakan dalam prosntase pertamban panjang,
satuannya adalah (%) atau mm/mm atau in/in. Regangan dirumuskan :
L
100%
= Lo

e
=

Lu Lo
100%
Lo

Dimana :
e

regangan (%)

Lu

panjang sesudah patah (m, mm)

Lo

panjang mula mula (m, mm)


[1]

Gambar 1.13 Ilustrasi Regangan


[10]

1.2.3.1 Regangan Sebenarnya (True Strain)


Regangan Sebenarnya adalah perubahan panjang dibagi panjang
spesimen mula mula, regangan ini merupakan hasil pengukuran sebenarnya
yang terjadi pada benda uji.

ln

Lu
Ao
ln
Lo
Au

dimana :

= regangan (%)

Lu = panjang sesudah patah (m, mm)


Lo = panjang mula mula (m, mm)
Au = luas penampang benda setelah mengalami pengujian (m2,mm2)
Ao = luas penampang benda saat keadaan awal (m2, mm2)
Sedang hubungan antara regangan nominal dengan regangan

yang

sebenarnya
u = ln ( e + 1 )
[11]

1.2.3.2 Regangan Engineering (Engineering Strain)


Regangan Engineering adalah perubahan panjang dibagi panjang
spesimen mula mula, regangan ini merupakan hasil pengukuran
secara teoritis

dimana :

Lu Lo
100%
Lo

= regangan (%)
Lu = panjang sesudah patah (m, mm)
Lo = panjang mula mula (m, mm)

Regangan juga dapat dipengaruhi oleh luas penampang bahan


material, yang dirumuskan sebagai berikut :

Ao Au 100%
Ao

Keterangan:
e = regangan
Au = luas penampang benda setelah mengalami

pengujian (m2, mm2)

Ao = luas penampang benda saat keadaan awal (m2, mm2)


[2]

/2

Lo

wo
L/2

/2
L/2

Gambar 1.14 Engineering strain

[2]

1.2.4 Elastisitas
Deformasi adalah perubahan bentuk luar suatu material yang diakibatkan
adanya gaya yang bekerja atau dikenakan pada material tersebut. Benda yang
telah terdeformasi tidak dapat kembali ke bentuk semula. Hal-hal yang
mempengaruhi deformasi yaitu dislokasi butir.
Deformasi elastis terjadi pergerakan dislokasi tidak sampai batas
permukaan

Gambar 1.15. Dislokasi elastis

bonds
stretch
return to
initial

F
Gambar 1.16 Elastic Deformation

[4]

1.2.4

Plastisitas
Deformasi Plastis berhubungan dengan pergerakan dislokasi dalam jumlah
yang sangat besar.
Artinya: Deformasi plastis akan tertahan jika pergerakan dislokasi terhambat
Deformasi plastis terjadi jika pergerakan dislokasi sampai permukaan. Sehingga
ketika tegangan diberi dan dilepas tidak dapat kembali kebentuk semuala.

[3]

Gambar 1.17 screw dislocation


[3]

Gambar 1.18. Grafik Elastisitas dan Plastisitas Material

1.2.6 Modulus Elastisitas


Modulus elastisitas adalah ukuran kekakuan suatu bahan. Makin besar
modulus, makin kecil regangan elastis yang dihasilkan akibat pemberian

tegangan. Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya ikat antar atom. Karena
gaya-gaya ini tidak dapat diubah tanpa terjadi perubahan mendasar sifat
bahannya, maka modulus elastisitas merupakan salah satu dari banyak sifatsifat mekanik yang tidak diubah.
Modulus elastisitas baja ST 40 adalah sekitar 197-220Gpa dan ST 60
sekitar 300-340Gpa. Dalam hukum Hooke dinyatakan bahwa tegangan
berbanding lurus dengan regangan, perbandingann ini

disebut modulus

elastisitas atau modulus young

Keterangan:
E: Modulus Elastisitas ( MPa )
: Tegangan ( N/m2, MPa, kgf/mm2 )
e: Regangan ( % / mm )
Modulus elastisitas merupakan nilai rancangan yang penting dan
digunakan bagi ahli teknik jika ingin merencanakan konstruksi.Hal ini
disebabkan karena modulus elatisitas diperlukan untuk menghitung lenturan
batang dan anggota struktur yang lain. Modulus elastis ditentukan oleh gaya
ikat antar atom, karenan gaya yang tidak dapat diubah tanpa terjadi perubahan
mendasar sifat bahannya, maka modulus elastisitas merupakan salah satu sifat
mekanik yang tidak mudah diubah. Sifat ini hanya sedikit berubah oleh adanya
penambahan paduan, perlakuan panas atau pengerjaan dingin. Modulus
biasanya diukur pada suhu tinggi dengan metode dinamik.
Berikut ini adalah table nilai E untuk berbagai material.

Tabel 1.4. Nilai Modulus Elastisitas untuk beberapa material


Material

Poissons Ratio

(modulus of

( shear

()

elasticity)

modulus )

(GPa)

(GPa)

Cast iron

110

51

0.17

Steel (mild)

207

82

0.26

Alumunium

70

25

0.33

Copper

110

44

0.36

Brass 70/30

100

37

Nickel (cold

215

80

0.30

drawn)
Titanium

107

Zirconium

94

36

Lead

18

6.2

0.40

Granite

46

19

0.20

Glass

69

22

0.23

Alumina sintered

325

0.16

Concrete

10-38

0.15

Nylon

2.8

0.4

Phenolic resin

5-7

Rubber, hard

2.8

0.43

P.V.C

3.5

0.4
[13]

Tabel 1.5. Nilai kekuatan tarik beberapa logam

Tabel 1.6. Modulus elastisitas dan kadar carbon dari beberapa jenis baja

Modulus elastisitas suatu bahan penting sekali bagi ahli teknik jika
merencanakan kontruksi. Modulus elastisitas merupakan salah satu sifat
mekanik yang tidak mudah diubah. Sifat ini hanya sedikit berubah oleh adanya
penambah paduan, perlakuan panas atau pengerjaan dingin.

1.2.7 Batas Proporsional dan Batas Elastisitas


Batas proporsional adalah tegangan tertinggi untuk daerah hubungan
proporsional antara tegangan regangan. Harga ini diperoleh dengan cara
mengamati penyimpangan dari garis lurus kurva tegangan regangan.
Sedangkan batas elastik adalah tegangan terbesar yang masih dapat ditahan

oleh bahan tanpa terjadi regangan sisa permanen yang terukur, pada saat beban
telah ditiadakan. Dengan bertambahnya ketelitian pengukuran regangan, nilai
batas elastiknya menurun hingga suatu batas yang sama dengan batas elastik
sejati ( 2 x 10-6 inci/inci ) yang diperoleh dengan cara pengukuran regangan
mikro. Batas elastik lebih besar daripada batas proporsional. Pengukuran batas
elastik memerlukan prosedur pengujian yang diberi beban.

Gambar 1.19 Batas Proporsional dan Elastisitas


[15]

1.2.8 Ultimate Tensile Strength


Tegangan tarik adalah tegangan maksimum yang ditahan oleh batang uji
sebelum patah. Tegangan tarik juga dapat didefinisikan sebagai perbandingan
antara beban maksimum yang dicpai serlama percobaaan tarik dan penampang
batang mula-mula. Tegangan tarik dirumuskan sebgai berikut:

Fm
Ao

Keterangan :
u : Tegangan Tarik ( N / mm2 )
Fm: Beban maximum ( N )
Ao: Penampang batang mula-mula ( mm2 )

Tabel 1.7. Tegangan Tarik Maksimal

[17]

Untuk logam-logam yang liat tegangan tariknya harus dikaitkan


dengan beban maksimum, dimana logam dapat menahan beban sesumbu
untuk keadaan yang sangat terbatas. Kekuatan tarik berguna untuk
keperluan spesifikasi dan kontrol kualitas bahan. Untuk bahan-bahan yang
getas, kekuatan tarik merupakan kriteria yang tepat untuk keperluan

perancangan.

Gambar 1.20 Kurva kekuatan tarik


[16]
Kurva ini menjelaskan pada daerah elastik tegangan berbanding linear
dengan regangan. Namun apabila bahan melampaui nilai yang berkaitan
dengan kekuatan luluh, benda mengalami deformasi permanen.Untuk bahan
yang getas UTS sama dengan tegangan patah.

Gambar 1.21. Kurva tegangan regangan untuk bahan getas.


[16]

1.2.9 Yield Point


Yield Point adalah suatu keadaan dimana regangan meningkat sekalipun
tidak ada peningkatan tegangan. Pada baja lunak, jika beban yang bekerja
pada tersebut diteruskan hingga diluar batas elastis akan terjadi perpanjangan
permanent bahkan pada suatu saat dapat terjadi perpanjangan tanpa ada
penambahan beban (batang atau baja lunak bertaambah panjang deengan
sendirinya).

Keadaaan ini berlangsung hanya beberapa saat. Yield point

berada di antara batas proporsional dan batas elastic. Posisi yield point
ditunjukan gambar di bawah ini:

Yield point

Gambar 1.22. Yield Point

1.2.10 Yield Strength (Kekuatan Luluh)


Kebanyakan struktur dirancang untuk memastikan bahwa deformasi
elastis hanya akan terjadi ketika dikenai tegangan. Sebuah struktur atau
komponen yang telah mengalami deformasi plastis, atau mengalami
perubahan permanen dalam bentuk, mungkin tidak mampu berfungsi
sebagaimana biasanya. Oleh karena itu untuk mengetahui tingkat stress
(tegangan) di mana deformasi plastis dimulai, atau di mana fenomena
yielding (luluh) terjadi. Untuk logam fenomena ini bertahap

dari elastis

plastis transisi, titik luluh dapat ditentukan sebagai titik awal dari linearitas
dari kurva tegangan-regangan, ini biasanya disebut batas proporsional.
Tegangan sesuai dengan perpotongan garis ini dan kurva teganganregangan seperti kurva di wilayah plastis didefinisikan sebagai kekuatan
luluh. Perubahan elastis plastis sangat didefinisikan dengan baik dan terjadi
tiba-tiba yang disebut sebagai fenomena titik luluh. Pada titik luluh atas
(upper yield point), deformasi plastis dimulai dengan penurunan aktual dalam
tegangan. Deformasi kontinu berfluktuasi secara sedikit tentang beberapa
nilai tegangan konstan, disebut titik luluh bawah; tegangan meningkat
sebagaimana ketika regangan meningkat. Untuk logam yang menampilkan
efek ini, kekuatan yield diambil sebagai rata-rata tegangan yang berhubungan
dengan titik luluh rendah. Besarnya kekuatan luluh untuk logam adalah besar
ketahanannya pada deformasi plastis. Yield plastis dapat berkisar dari 35 MPa
(5000 psi) untuk lowstrength suatu aluminium lebih dari 1400 MPa (200.000
psi) untuk kekuatan tinggi baja.

Gambar 1.23. Yield Strength

1.2.11 Kontraksi / Necking


Kontraksi adalah pengerutan atau pengecilan luas penampang pada batas
penampang. Kontraksi disebut juga dengan perbandingan antara pertambahan
luas ( A ) dengan luas mula-mula.

Keterangan : C

Ao Au
x100 %
Au

= kontraksi ( % / mm2 )

Ao = luas penampang mula-mula ( mm2 )


Au = luas penampang setelah patah ( mm2 )
[2]

Gambar 1.24. Beberapa pengujian dan evaluasi bahan industri

Pada diagram diatas menunjukkan adanya proses kontraksi dan necking.


Necking terjadi pada saat tegangan maksimum. Hal ini dikarenakan karena
pada saat tegangan maksimum maka bebanpun mencapai maksimum pada
batang uji sehingga terjadi pengecilan penampang setempat ( local Necking ),
dan pertambahan panjang akan terjadi di sekitar necking tersebut. Peristiwa
seperti ini hanya terjadi pada logam yang ulet, sedang pada logam-logam yang
lebih getas tidak terjadi necking dan logam itu akan putus pada saat beban
maksimum.
[20]

1.2.12 Skema perubahan struktur atom pada perpatahan.

Gambar 1.25. Tahapan perpatahan


[2]
Dari gambar 1.14 diatas kita dapat melihat bagaimana cara terjadinya
perpatahan :
a.

Menunjukkan serat atau butiran masih membentuk, pada tempatnya


masing-dan diameter batang uji mulai mengecil.

b.

Menunjkkan serat atau butiran mudah memisah menuju tempat


masing-masing.

c.

Menunjukkan batang uji mulai retak.

d.

Menunjukkan batang uji sudah mulai akan patah.

e.

Menunjukkan batang uji sudah patah.

Jenis-jenis perpatahan
Jenis-jenis perpatahan yang terjadi dalam pengujian :
a. Material dengan keuletan tinggi (Gambar 1.19a)

Pada patahan ini material mengalami necking sebelum patah, hal


ini terjadi karena material memiliki keuletan yang tinggi.
Sehingga material mengalami peregangan hingga akhirnya patah.
Contoh : ST 37.11 dan ST 40.
b. Material dengan keuletan sedang (Gambar 1.19b)
Pada patah jenis ini, material tidak mengalami necking, hanya
saja material juga mengalami sedikit peregangan sebelum patah.
Contoh : ST 60
c. Material getas (Gambar 1.19c)
Pada patah ini material tidak mengalami necking, karena material
tidak memiliki keuletan, sehingga langsung patah. Bentuk
perpatahannya datar.
Contoh : besi cor.

Gambar 1.26. Jenis-jenis patahan


[2]

Gambar 1.27. Macam-macam Patahan

[12]

1.

Flat Granular cleavage


Perpatahan jenis ini terjadi pada spesimen yang tidak ulet. Perpatahan
jenis ini terjadi pada bahan dengan karakteristik nilai kontraksi yang sangat
kecil, regangan yang sangat kecil, modulus elastisitas yang sangat besar.
Contoh : besi cor, baja karbon tinggi

2.

Cup cone silky


Perpatahan jenis ini terjadi pada spesimen yang memiliki modulus
elastisitas

relatif kecil, sering terjadi pada baja karbon rendah .

Contoh : tembaga, baja karbon rendah


3.

Partial cup cone silky


Perpatahan jenis ini hampir sama dengan jenis perpatahan Cup cone
silky, perbedaannya adalah pada Partial cup cone silky ada sebagian
spesimen yang terbawa patahan salah satu spesimen.
Contoh : aluminium, plastis

4.

Star fracture
Perpatahan jenis ini terjadi pada spesimen ulet, hal ini bisa dianalisa
dari necking atau penyempitan yang relatif panjang.
Contoh :baja karbon sedang

5.

Irregular Fibrous
Perpatahan jenis ini terjadi pada spesimen ulet yang memiliki
kandungan karbon dan struktur mikro yang tidak seragam.
Contoh : baja karbon rendah, aluminium

6.

Cup-cone silky ( flat speciment )


Perpatahan jenis ini sama dengan perpatahan pada Cup-cone silky,
hanya saja terjadi pada spesimen yang berbentuk balok

Dilihat dari struktur atomnya

Gambar 1.28 Patahan mterial dilihat dari struktur atomnya


Penjelasan Gambar:
a. Pertama atom masih berbentuk butir normal, tetapi ikatan antar atom
tersebut mulai renggang dan menimbulkan kekosongan butir
b. Karena tegangan bertambah, kekosongan butir juga bertambah dan makin
renggang mengikuti batas butir
c. Kekosongan butir menjadi satu area dan segaris serta mengikuti batas butir
d. Terjadilah patahan

1.2.13 Kelentingan
Kemampuan suatu bahan untuk menyerap energi pada waktu
berdeformasi secara elastis dan kembali kebentuk awal apabila bebannya
dihilangkan disebut kelentingan. Kelentinganya biasanya dinyatakan sebagai

modulus kelentingan, yakni energi regangan tiap satuan volume yang


dibutuhkan untuk menekan bahan dari tegangan nol hingga tegangan luluh 0.
[12]
2

UR

1
1 S
S
S o eo S o 0 0
2
2
E 2E

Keterangan :
y = Yield Strength
eo = Zero-gage-length elongation
Tabel 1.8. Nilai Modulus Kelentingan Beberapa Bahan
Bahan

Modulus kelentingan (Psi)

Baja karbon rendah

33,7

Baja pegas karbon tinggi

3,20

Aluminium

17

Tembaga

5,3

Karet

3,00

Polimer arkilik

4
[12]

Gambar. 1.29 . Modulus Kelentingan


[2]

1.2.14 Ketangguhan
Ketangguhan suatu bahan adalah kemampuan menyerap energi pada daerah
plastis. Kemampuan untuk menahan beban yang kadang kadang di atas
tegangan luluh tanpa terjadi patah, dan khususnya diperlukan pada bagian
bagian rantai, roda gigi, kopling mobil barang, dan cangkung kran.
Rumus ketangghan =
UT = u ef

atau = (( o+u )/2 )ef ( untuk material ulet) dan

UT = 2/3 u.ef

( untuk material getas )

Dimana = UT = Ketangguhan
u = tegangan maksimum ( N/mm2)
o = tegangan mula (N/mm2 )
e = regangan
[12]

1.2.15 Mulur
Mulur adalah perubahan struktur sebagai dari ketergantungan deformasi
terhadap waktu. Dan ini erat kaitannya dengan pengaruh temperature
terhadap benda uji. proses aktivasi termal menyebabkan terjadinya perubahan
struktur misalnya penyepuhan regang, pengendapan, atau kristalisasi. Dan
perlu diketahui bahwa pada logam kubik terpusat ruang (kpr) jika
temperaturnya turun maka, sedangkan untuk nikel tegangan luluhnya hanya
sedikit dipegaruhi oleh temperarur.pada logam logam lain yang tidak begitu
dipengaruhi oleh temperature tetapi eksponen pengerasan regang mengecil
dengan bertambahnya temperature. Hasil yang didapatkan adalah kurva
tegangan dan regangan menjadi datar apabila temperaturnya bertambah besar
dan ketergantungan kekuatan tarik terhadap temperature lebih besar
dibanding kekuatan luluhnya. Dan semakin tinggi temperatur maka deformasi

tarik sulit diketahui karena terbentuknya penyempitan setempat pada benda


uji.
[12]
Perpanasan permanen terjadi jika diberikan suatu tegangan yang melampaui
batas elastis. Perpanjangan tersebut dinamakan deformasi plastis dan tegangan
terendah dimana deformasi plastis terjadi disebut tegangan mulur. Pada bahan
berkristal , mulurnya sangat berbeda.
Unsur mulur utama didalam kristal adalah:
1.

Slip (pergeseran)
Paling sering teramati.Slip merupakan deformasi plastis.Slip terjadi dalam

arah yang diduduki atom lebih banyak.Bidang slip adalah bidang yang paling
banyak diduduki atom atau bidang berikutnya kurang diduduki atom.
Fungsi dari bidang slip yaitu :

Mengetahui mudah atau tidaknya benda terdeformasi

Mengetahui ketahanan struktur atom tersebut

Tabel 1.10. Sistem Slip pada Kristal Utama

[21]

2. Kembaran(Twinning)
Kembaran merupakan mekanisme mulur yang lain didalam bahan logam.
Umumya karena tegangan yang menyebabkan kembaran lebih besar daripada
tegangan yang diperlukan untuk slip didalam kristal dimana tegangan mulur
bertambah pada temperatur rendah.Kadang kembaran mendahului slip deformasi
temperatur rendah.Pada bagian kembaran,menunjukkan orientasi yang berbeda
dari kristal sekelilingnya,karena itu dapat diamati walaupun setelah dipoles dan

di tes ulang.Tidak ada perubahan orientasi kristal pada slip,Tetapi dapat terjadi
tangga pada permukaan.yang tidak terlihat setelah pemolisan ulang.

Gambar 1.30. menunjukan perbedaan antara slip dan kembaran.


(a) Garis slip pada alumunium akibat dideformasi pada temperature kamar.
(b) Deformasi kembar akibat kecepatan tinggi pada Fe pada 196 K.
3. Mulur Tak Continue
Mulur terjadi secara tidak continue pada baja sampai baja karbon medium,
logam bcc yang mengandung ketidak murnian seperti C, N, dsb dan berbagai
paduan seperti Al-Mg, Al-Cu, Al-Li, Cu-Zn dst.

Gambar 1.31. Perkembangan Deformasi Tak Continue (Lueders)


a.

Kurva tegangan-regangan besi murni.

b.

Perambatan deformasi Lueders (daerah-daerah), pada permukaan batang


uji dengan regangan 1-5 pada batas mulur.

4. Mulur Continue
Tegangan mulur yang continue ditentukan oleh besarnya regangan sisa,
kekuatan mulur didapat pada tegangan yang menyebabkan perpanjangan 0.2%.
Seperti telah dikemukakan terdahulu, bagian lurus dari kurva dan modulus elastis
tidak akan berubah karena deformasi plastis, oleh karena itu untuk mendapatkan

tegangan mulur, ukuran deformasi 0.2% dari pada sumbu tegangan, kemudian
tarik sejajar dengan bagian kurva yang lurus memotong kurva pada titik C, tinggi
titik C menyatakan tegangan mulur. Cara ini dinamakan metode offset.

Gambar 1.32. Hubungan Tegangan-Regangan pada bahan mulur kontinyu


[21]
Dari kurva di atas batas luluh didapat dengan menarik garis dari 0,02% nilai
regangan. Untuk beberapa logam non-ferro dan baja-baja keras, yield point sukar
dideteksi begitu pula batas limitnya. Oleh karena itu dinyatakan perpanjangan non
proposional adalah misalnya 0.2%. Angka tersebut off-set.
[12]
a) Kembaran ( twinning )
Kembaran merupakan mekanisme mulur yang lain di dalam bahan
logam.

Umumnya karena tegangan yang menyebabkan kembaran lebih

besar daripada tegangan yang diperlukan untuk slip didalam kristal


dimana tegangan mulur bertambah pada temperature rendah, kadang
kembaran mendahului slip deformasi temperature rendah.
Pada bagian kembaran, menunjukkan orientasi yang berbeda dari kristal
sekelilingnya, karena itu dapat diamati walaupun setelah dipolis dan
dites ulang. Tidak ada perubahan orientasi kristal pada slip, tetapi dapat
terjadinya tangga pada permukaan, yang tidak terlihat setelah pemolisan
ulang. Gambar 1.18 menunjukkan perbedaan antara slip dan kembaran.

Gambar 1.33. Slip dan kembar pada permukaan kristal.


[21]
a. Garis slip pada alumunium akibat dideformasi pada temperature kamar.
b. Deformasi kembar akibat kecepatan tinggi pada Fe pada 196 K
b) Mulur Tak Continue
Mulur terjadi secara tidak continue pada baja sampai baja karabon
medium, logam bcc yang mengandung ketidak murnian seperti C, N, dsb
dan berbagai paduan seperti Al-Mg, Al-Cu, Al-Li, Cu-Zn dst.

Gambar 1.34. Perkembangan Deformasi Tak Continue (Lueders)


c. Kurva tegangan-regangan besi murni.
d.Perambatan deformasi Lueders (daerah-daerah), pada permukaan
batang uji dengan regangan 1-5 pada batas mulur.

c) Mulur yang Continue


Tegangan mulur yang continue ditentukan oleh besarnya regangan
sisa yang ditunjukkan pada gambar 1.8. kekuatan mulur didapat pada
tegangan yang menyebabkan perpanjangan 0.2%.

seperti terlah

dikemukakan terdahulu, bagian lurus dari kurva dan modulus elastis


tidak akan berubah karena deformasi plastis, oleh karena itu untuk
mendapatkan tegangan mulur, ukurkan deformasi 0.2% dari pada sumbu
tegangan, kemudian tarik sejajar dengan bagian kurva yang lurus
memotong kurva pada titik C, tinggi titik C menyatakan tegangan mulur.
Cara ini dinamakan metode offset atau disebut metode tegangan mulur
atau tegangan uji 0.2%.

Gambar 1.35. Hubungan Tegangan-Regangan pada bahan yang


mulur kontinu, dan cara memperoleh kekuatan mulur.
[21]

Aplikasi Uji Tarik Di Dunia Industri


Aplikasi pengujian tarik salah satunya adalah pada pengujian tulangan (besi
beton). Pemeriksaan dimaksudkan untuk mengetahui mutu tulangan besi beton
yang dipakai. Diambil sample pada tiap jenis diameter tulangan sepanjang 1
meter. Setiap satu meter besi mewakili 100 ton material besi yang datang.
Sampel tersebut kemudian dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pengujian
kuat tarik dan lengkung statis baja.
Pemeriksaan visual tulangan
Yang meliputi pemeriksaan diameter tulangan yang dipakai dengan
jangka sorong dan pemeriksaan tulangan terhadap cacat luar

Pengujian tarik tulangan

Dalam pengujian tarik besi beton akan terukur berapa kekuatan material,
pengujian ini ditujukan agar penggunaan material dapat dilasifikasikan sesuai
fungsi yang benar

1.2.15 Contoh Soal tentang Uji tarik


Sebuah benda uji logam memiliki penampang segiempat dengan ukuran 10,8 mm
x 12,5 mm ditarik dengan gaya 34300 N sehingga hanya menghasilkan deformasi
elastis.Diberikan modulus elastis sebesar 79 GPA,Hitung regangannya?
Diketahui :
Benda uji logam = 10,8 mm x 12,5 mm
F= 34300 N

E= 79 GPA = 79 x 109 Pa

Ditanya : e (regangannya)
Solusi :
A = 12.5 x 10-3 x 10.8 10-3
= 135 x 10-6 m2
F = A0
34300

= 135 x 10-6

= 254.1 106
E=

=
= 0.00322

1.3 Metodologi Penelitian


Dalam melakukan penelitan diperlukan prosedur untuk mendapatkan hasil yang
maksimal. Maka dari itu dibutuhkan peralatan percobaan yang memadai untuk
melakukan penelitian.
1.3.1 Peralatan Percobaan
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam pengujian tarik :
1.3.1.1 Alat
Alat Pengujian

1. Vernier Caliper

Gambar. 1.36. Vernier Caliper


[23]

2. Spidol/Marker

Gambar 1.37. Spidol/Marker


[23]
3.

Palu dan Batang besi

Gambar 1.38 Palu Besi/Besar


[23]
4. Universal Testing Machine
1.
2.
3.

4.

7.

5.

6.

9.

8.
Gambar. 1.39. Universal Testing Machine
[23]

Gambar 1.40. Penggaris (Universal Testing Machine)


[23]
Keterangan :
1. Dial indicator, penunjuk nilai kekuatan spesimen
2. Jarum penunjuk, terdapat 2 jarum :
a. Jarum merah : menunjukan pada pengujian tekan
b. Jarum hitam : menunjukan pada pengujian tarik
3. Pencekam atas specimen.
4. Perseneling untuk mengatur kecepatan tarik atau tekan.

5. Tuas untuk memposisikan mesin tarik atau tekan.


6. Pencekam specimen bawah.
7. Penutup upper damping head.
8. Pelepas beban, berisi oli untuk pelumas mesin
9. Pompa hidrolik, pengatur kekuatan tekan/tarik mesin.

1.3.1.2. Bahan
Test piece (batang uji) baja ST-40 dan ST-60 (standar ASTM)

Gambar. 1.41. Baja ST 60 dan ST 40


[23]
1.3.2

Langkah Pengujian
Langkah dan Diagram Alir Pengujian
Langkah-langkah pengujian dalam uji tarik ini yaitu :

1. Ambil spesimen batang uji


2. Memberi tanda garis menggunakan spidol ditengah-tengah batang uji
3. Menghitung panjang awal batang (Lo) 3x.
4. Mengukur diameter awal batang uji (Do) 3x
5. Memasang spesimen pada upper damping head
6. Memposisikan hand lever pada posisi tekan
7. Menggerakkan tuas perseneling pada posisi cepat.
8. Menaikkan lower damping head
9. Menunggu sampai posisi lower damping head pas dengan batang uji.
10. Memasang benda kerja pada upper damping head
11. Memastikan batang uji tercekam dengan baik
12. Menggerakan hand lever pada kecepatan persneling paling lambat.
13. Menghidupkan mesin.

14. Mengamati dan membaca besarnya tegangan saat yield, maksimal dan patah
serta besarnya.
15. Melepas spesimen dari pencekam.
16. Mengambil gambar spesimen setelah patah
17. Melepas benda kerja dari pencekam.
18. Mengambil gambar spesimen setelah patah.
19. Mengukur panjang dan diameter spesimen setelah patah

Diagram Alir Pengujian:


start

Ambil spesimen batang uji

Memberi tanda garis menggunakan spidol ditengah-tengah


batang uji

Menghitung panjang awal batang (Lo) 3x

Mengukur diameter awal batang uji (Do) 3x

Memasang spesimen pada upper damping head

Memposisikan hand lever pada posisi tekan

Menggerakkan tuas perseneling pada posisi cepat

Menaikkan lower damping head.

Menunggu sampai posisi lower damping head pas dengan


batang uji

Memasang benda kerja pada upper damping head

No

Memastikan batang uji


Tercekam dengan baik

Yes
Menggerakan hand lever pada kecepatan persneling paling
lambat

Menghidupkan mesin

Menunggu spesimen hingga patah

------

Mengamati dan membaca besarnya


tegangan saat yield, maksimal dan
patah serta besarnya

Melepas spesimen dari pencekam

Mengambil gambar spesimen setelah patah

Mengukur panjang dan diameter spesimen setelah patah

FINISH

1.4 PEMBAHASAN
A. Data Hasil Percobaan
Baja ST 40
Tabel 1.11. Data uji tarik baja ST 40
NO

Do

Lo

Du

Lu

Fy

Fm

Ff

(mm)

(mm)

(mm)

(mm)

(kN)

(kN)

(kN)

1.

12,2

53

64,5

U=55

61

40

2.

12,25

53

7,2

64,55

L=54

3.

12,20

53

64,5

Ly=13mm

Lm=17mm

Lf=22mm

Baja ST 60
Tabel 1.12. Data uji tarik baja ST 60
NO

Do

Lo

Du

Lu

Fy

Fm

Ff

(mm)

(mm)

(mm)

(mm)

(kN)

(kN)

(kN)

1.

12,4

52,5

9,6

63,5

U=55

96

82

2.

12,3

52,5

9,6

63,4

L=53

3.

12,3

52,4

9,4

63,4

Ly=7,5mm Lm=17,5mm Lf=27,5mm

B. Pengolahan Data
Baja ST 40
Tabel 1.13. Pengolahan data Do baja ST 40
Standar

Error (E)

Keseksamaan

Do

(Do-Do)

(Do-Do)2

deviasi ()

( %)

12,2

- 0,02

0.0004

0.017

0.14

99.86

12,25

0,03

0.0009

12,2

-0,02

0,0004

D0= 12,22

= -0,01

=0,0017

Standar

Error (E)

Keseksamaan

(K)

(%)

Error

= 0.137

Keseksamaan

= 100% - 0.137 = 99.98%

Ralat Nisbi

= 100% - 99.98% = 0.137

Tabel 1.14. Pengolahan data Lo baja ST 40

Lo

(Lo-Lo)

(Lo-Lo)2

deviasi ()

( %)

53

53

53

L0= 53

= 0

=0

(K)

(%)

100

Error

=0

Keseksamaan

= 100% - 0 = 100%

Ralat Nisbi

= 100% - 100% = 100%

Tabel 1.15. Pengolahan data Du baja ST 40


Standar

Error (E)

Keseksamaan

Du

(Du-Du)

(Du-Du)2

deviasi ()

( %)

-0.01

0.0001

0.007

0.098

99.902

7.2

0.01

0.0001

-0.01

0.0001

Du= 7.1

= -0.01

= 0.0003

Standar

Error (E)

Keseksamaan

(K)

(%)

Error

= 0.000985

Keseksamaan

= 100% - 0.000985 = 99.99%

Ralat Nisbi

= 100% - 99.99% = 0.000985

Tabel 1.16. Pengolahan data Lu baja ST 40


2

Lu

(Lu-Lu)

(Lu-Lu)

deviasi ()

( %)

64,5

-0.02

0.0004

0.017

0.026

64,55

0.03

0.0009

64,5

-0.02

0.0004

Lu= 64.52

= -0,01

= 0,0017

(K)

(%)

99.974

Error

= 0.002

Keseksamaan

= 100% - 0.002 = 99.98%

Ralat Nisbi

= 100% - 99.98% = 0.002

Penghitungan
a. Luas Penampang
- Luas mula mula

Ao

d o 2 12.222 117.22mm 2
4

Luas Akhir

Au

d u 2 7.12 39.572mm 2
4

- Kontraksi
C = ((Ao Au) /Ao)x 100%
=( (117.22 39.572) /117.22) x 100%
= 66.24 %
b. Engineering Stress
- Kekuatan luluh

Fy
Ao

55
0.4692kN / mm2 = 469.2 Mpa
117.22

- Kekuatan luluh low

Fy
Ao

54
0.460kN / mm 2 460Mpa
117.22

-Kekuatan tarik maksimal

Fm ax
61

0.5203 kN / mm 2 520 .3Mpa


Ao
117 .22

- Tegangan patah

Ff

Ao

40
0.3412kN / mm 2 341.2Mpa
117.22

c. True stress
- True strenght pada saat patah

Ff

Au

40
1.011kN / mm 2 1011Mpa
39.572

d. Engineering Strain
Regangan saat yield point
Ly 13 mm

0.24
Lo
55

e yUp

Regangan saat maksimum


em

Lm 17 mm

0.321
Lo
53

Regangan saat patah


ef

Lf 22 mm

0.415
Lo
53

Perpanjangan (Elongation)

Lu Lo
64 .52 53
x100 %
x100 % 21 .736 %
Lo
53

Regangan sebenarnya (True strain)

e 1 ln

Ao
117 .22
ln
1.086
Au
39 .572

e 1 ln

Lu
64 .52
ln
0.1967
Lo
53

Modulus elastis
E

y
ey

0.4692
1.915kN / mm 2 1915Mpa
0.245

Baja ST 60

Tabel 1.17. Pengolahan data Do baja ST 60


Standar

Error (E)

Keseksamaan

Do

(Do-Do)

(Do-Do)2

deviasi ()

( %)

12.4

0.07

0.0049

0.031

0.251

99.749

12.3

-0.03

0.0009

12.3

-0.03

0.0009

D0= 12.33

= 0.01

=0.0058

Standar

Error (E)

Keseksamaan

(K)

(%)

Error

= 0.0025

Keseksamaan

= 100% - 0.137 = 99.9975%

Ralat Nisbi

= 100% - 99.9975% = 0.0025

Tabel 1.18. Pengolahan data Lo baja ST 60

Lo

(Lo-Lo)

(Lo-Lo)2

deviasi ()

( %)

52.5

0.05

0.0025

0.0353

0.067

52.5

0.05

0.0025

52.4

-0.05

0.0025

L0= 52.45

= 0.05

=0.0075

(K)

(%)

99.93

Error

= 0.0006

Keseksamaan

= 100% - 0.0006 = 99.99%

Ralat Nisbi

= 100% - 9.99% = 0.001%

Tabel 1.19. Pengolahan data Du baja ST 60


Standar

Error (E)

Keseksamaan

Du

(Du-Du)

(Du-Du)2

deviasi ()

( %)

9.6

0.07

0.0049

0.0667

0.699

99.301

9.6

0.07

0.0049

9.4

-0.13

0.0169

Du= 9.53

= 0.01

= 0.0267

Standar

Error (E)

Keseksamaan

(K)

(%)

Error

= 0.22

Keseksamaan

= 100% - 0.22 = 99.978%

Ralat Nisbi

= 100% - 99.978% = 0.22

Tabel 1.20. Pengolahan data Lu baja ST 60

Lu

(Lu-Lu)

(Lu-Lu)2

deviasi ()

( %)

63.5

0.07

0.0049

0.0334

0.053

63.4

-0.03

0.0009

63.4

-0.03

0.0009

Lu= 63.43

= 0.01

= 0.0067

(K)

(%)

99.947

Error

= 0.0005

Keseksamaan

= 100% - 0.0005 = 99.99%

Ralat Nisbi

= 100% - 99.99% = 0.001

Penghitungan
a. Luas Penampang
- Luas mula mula

Ao

d o 2 12.332 119.34mm 2
4

- Luas Akhir

Au

d u 2 9.532 71.294mm 2
4

- Kontraksi
C = ((Ao Au) /Ao)x 100%
=( (119.34 71.294) /71.294) x 100%
= 67.39 %
c. Engineering Stress
- Kekuatan luluh low

Fy
Ao

53
0.444kN / mm2 = 444 Mpa
119.34

- Kekuatan luluh up

Fy
Ao

55
0.461kN / mm 2 461Mpa
119.34

-Kekuatan tarik maksimal

Fm ax
96

0.804 kN / mm 2 804 Mpa


Ao
119 .34

- Tegangan patah

Ff

Ao

82
0.687kN / mm 2 687Mpa
119.34

c. True stress
- True strenght pada saat patah

Ff

Au

82
1.150kN / mm 2 1150Mpa
71.294

d. Engineering Strain
Regangan saat yield point
Ly 7.5mm

0.143
Lo
52 .45

e yUp

Regangan saat maksimum


Lm 17 .5mm

0.3336
Lo
52 .45

em

Regangan saat patah


ef

Lf 27 .5mm

0.524
Lo
52 .45

Perpanjangan (Elongation)

Lu Lo
63 .43 52 .45
x100 %
x100 % 20 .93 %
Lo
52 .45

Regangan sebenarnya (True strain)

e 1 ln

Ao
119 .34
ln
0.5152
Au
71 .294

e 1 ln

Lu
63 .43
ln
0.19
Lo
52 .45

Modulus elastis
E

y
ey

0.444
3.104kN / mm 2 3104Mpa
0.143

1.4.3 Analisa Hasil Percobaan


1.4.3.1 Analisis Data
KETERANGAN

BAJA ST-40

BAJA ST-60

Kekuatan luluh upper

330 MPa

405,5 MPa

Kekuatan luluh lower

304 MPa

397 MPa

Kekuatan tarik

462 MPa

638,6 MPa

Tegangan patah

473 MPa

620 MPa

Kontraksi

66,91 %

29,11 %

True

Strength

Tegangan 1430 MPa

876 MPa

Sejati
True Strain / Regangan Sejati

1110 MPa

344 MPa

Modulus elastisitas

82990 MPa

2141,7 MPa

Analisis Data

1200
1000
800
Engineering

600

TRUE
400
200
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

Grafik tegangan regangan baja ST 40

Analisa :
Pada ST 40 Titik awal dari pengujian tarik, dari titik awal ke yield point
tegangan masih sebanding dengan regangan dan belum terjadi deformasi. Mulai
dari titik yang bernilai 330 MPa terjadi penurunan tegangan secara tiba-menjadi
304 MPa. Hal ini yang disebut titik luluh atas dan bawah. Awal deformasi plastis
ditandai dengan terjadinya penurunan tegangan secara tiba-tiba yang merupakan
indikasi titik luluh atas dan bawah.

1400
1200
1000
800
engineering
600

TRUE

400
200
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

Grafik tegangan regangan baja ST 60

Analisa :
Pada ST 60 Titik awal dari pengujian tarik, dari titik awal ke yield point
tegangan masih sebanding dengan regangan dan belum terjadi deformasi. Mulai dari
titik yang bernilai 405,5 MPa terjadi penurunan tegangan secara tiba-menjadi 397
MPa. Hal ini yang disebut titik luluh atas dan bawah. Awal deformasi plastis
ditandai dengan terjadinya penurunan tegangan secara tiba-tiba yang merupakan
indikasi titik luluh atas dan bawah.

1400
1200
1000
800
600
400

Engineering_ST-40
TRUE_ST-40
engineering_ST-60
TRUE_ST-60

200
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

Analisa:
Perbandingan ST 40 dan ST 60 dapat diketahui dari kurva regangan dan
tegangan bahwa baja ST 40 memiliki sifat lebih keras dibandingkan baja ST 60.

Pada
Pengujian

Pada Spesimen

ST 40
ST 60

Lo

Lu

Lf

53
52.45

64.52
63.43

11.52
10.98

13
13

Analisa Perbedaan nilai antara panjang di mesin dengan saat pengukuran


dengan penggaris
Perbedaan panjang yang terjadi antara nilai di mesin uji tarik dengan alat ukur
penggaris karena pada saat di ukur dengan penggaris kita hanya mengukur panjang
specimen dari setelah pengujian penampang yaitu dimulai dari UTS sampai putus
Sedangkan apabila dengan mesin uji tarik hasil nilai pengukuran lebih panjang
karena pada mesin uji tarik di ukur dari saat benda awal di tarik sampai mengalami
patahan.

1.5 KESIMPULAN dan SARAN


A. Kesimpulan
1.Uji tarik untuk melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan
sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan.
2. Dari percobaan didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 1.21. Hasil pengolahan data
KETERANGAN

BAJA ST-40

Kekuatan luluh Up

469.2Mpa

Kekuatan luluh low

460Mpa

BAJA ST-60
461Mpa

444Mpa

Kekuatan tarik

520 .3Mpa

804Mpa

Tegangan patah

341.2Mpa

687Mpa

Kontraksi

66.24 %

67.39%

True

Strength

Tegangan

1011Mpa

1150Mpa

Sejati
True Strain / Regangan Sejati

1.086

Modulus elastisitas

0.5152

1915Mpa

3104Mpa

Secara teori Baja ST-60 seharusnya lebih keras dari ST-40, karena butirannya
lebih besar dan kandungan karbonnya lebih banyak dan ini terbukti pada
pengujian yang kami lakukan. Kekuatan luluh yang terjadi pada ST-40 lebih besar
dari ST-60, ini juga tidak sesuai dengan teori yang ada. Begitu juga dengan
modulus elastisitas, ST 40 lebih besar dari ST 60, ini juga tidak sesuai dengan
teori yang ada. Hal-hal semacam ini dapat terjadi karena adanya kesalahan dalam
proses penarikan oleh mesin, yaitu terjadi slip pada pencekam spesimen. Juga
dikarenakan

beberapa

faktor

lain.

Seperti

ketidaktepatan

pengukuran,

ketidakhomogenan material, serta adanya porous yang terdapat pada material uji.

3. Uji tarik merupakan pengujian yang sederhana untuk mengetahui sifat-sifat


mekanis suatu bahan. Sifat-sifat mekanis yang diketahui antara lain :
a. Tegangan :
i. tegangan luluh
ii. tegangan maksimum
iii. tegangan patah.
b. Regangan :
i. regangan luluh
ii. regangan maksimum
iii. regangan patah
c. Modulus elastisitas
d. Yield point.
e. Kontraksi.
4. Bentuk patahan yang terjadi adalah partial cup and cone untuk baja ST-60 dan
partial cup and cone untuk baja ST-40.

Gb. 1.41. Bentuk patahan ST-40

Gb. 1.42. Bentuk Patahan ST-60

5. Hasil pengujian yang kurang tepat antara lain dipengaruhi oleh :


a. peralatan uji yang kurang presisi.
b. Kurang telitian dalam membaca skala.
c. Pemasangan batang uji yang kurang tepat.
d. Ketidak homogenan material.
e. Adanya porous yang terdapat pada benda uji.
f. Penyebaran karbon yang tidak merata.
g. Pembentukan filet yang tidak sempurna.

6. Baja ST-40 mempunyai tingkat keuletan yang lebih tinggi dari pada baja ST-60. hal
ini disebabkan karena baja ST-60 memiliki kadar karbon yang lebih tinggi dari pada
ST-40.

B. Saran
1. Dalam melakukan pengujian, ukurlah perubahan panjang bahan tiap titik,
antara lain pada saat tegangan luluh, tegangan maksimum dan titik sampel pada
waktu mendapatkan perbandingan.
2. Ukur pula diameter benda uji supaya didapat perubahan luas penampang setiap
perubahan tegangan.
3. Bagilah tugas untuk setiap orang agar pengujian terhadap tiap titik lebih teliti.

DAFTAR PUSTAKA

[1]

Ilmu dan Teknologi Bahan, Lawrence H. Van Vlack, 1995

[2]

Callister,William D. Materials Science and Engineering

[3]

http://www.google.co.id/imgres?kawat+baja+st+40+indonetwork.co.id

[4]

http://www.google.co.id/imgres?q= contoh+PAKU+Baja+st+40&hl
=i:&imgrefbudisutomo.multiply.com/journal&docid= c1

[5]

digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1603

[6]

Jurnal pengerasan permukan baja ST 40 oleh Pribadi Bangun

[7]

www.scribd.com/doc/.../Tabel-5-Komposisi-kimia-bahan-Baja-ST-60

[8]

http://www.google.co.id/imgres?connecting+rod+st+60+indonetwork.co.id

[9]

Lawrence H. Van Vlack ,Ilmu dan Teknologi Bahan

[10]

http://www.google.co.id/imgres /HF_stress-strain-curve.gif

[11]

Metalurgi Mekanik

[12]

Metalurgi Mekanik, George E. Dieter, 1987

[13]

Engginering Materials, Jastrzebski, 1976

[14]

The testimg and inspecting of engineering material, George Earl Troxel

[15]

sumber:http://www.bayermaterialsciencenafta.com
/products/bayblend_dp_et1000/mechanical_stress.html

[16]

en.wikipedia.org/Brittle v ductile stress-strain behaviour.png

[17]

ASM Metal Handbook Volume 8, Mechanical Testing and Evaluation, hal 123

[18]

Penerbit ITS, Pengetahuan Bahan

[19]

William F. Smith, 1987

[20]

Ir. Wahid Suherman,1987

[21]

Pengetahuan Bahan Teknik, Prof.Ir. Tata Surdia MS.Met.E

[22]

www.mtschina.com

[23]

Lab.Metalurgy fisik Tenik Mesin Undip