Anda di halaman 1dari 6

Berdasarkan maturasi sel dan cepatnya penyakit ini berkembang dan memburuk, Leukemia

dibagi menjadi leukemia akut dan kronik, sedangkan berdasar sel asalnya, leukemia dibagi
menjadi leukemia myeloid dan limfoid.
Perbedaan leukemia akut dan leukemia kronik :

Leukemia akut

Leukemia kronik

Umur

Semua umur

dewasa

Onset penyakit

Tiba-tiba

Perlahan

Perjalanan penyakit

<6 bulan

2-6 tahun

Se leukemia

Sel-sel tidak matang

Sel matang

Anemia, trombositopenia

Menonjol

Ringan

Jumlah leukosit

Bervariasi

Meningkat

Pembesaran kelenjar

Ringan

Jelas

Pembesaran limfa

Ringan

jelas

FAKTOR RESIKO
Penyebab leukemia belum sepenuhnya diketahui, namun sejumlah faktor diketahui berpengaruh
dan dapat menyebabkan lekemia, baik faktor intrinsik ataupun faktor ekstrinsik :
a. Faktor intrinsik
- Keturunan
Leukemia tidak diwariskan, tetapi sejumlah individu memiliki faktor predisposisi untuk
mendapatkannya. Risiko terjadinya leukemia mcningkat pada kembar identik pcnderita lekemia
akut.

- Genetik

Kejadian leukemia meningkat pada penderita dcngan kelainan fragilitas kromosom (Sindrom
Bloom dan Anemia Fanconi) atau pada pcndcrita dcngan jumlah kromosom yang abnormal
seperti pada Sindrom Down, Klinefcltcr, dan Turner. Kelainan-kelainan kongenital ini dikaitkan
erat dengan adanya perubahan informasi gen misal pada Trisomy, atau pola kromosom yang
tidak stabil.
- Defisiensi imun
Sistim imunitas tubuh kita mcmiliki kemampuan untuk mengidentifikasi sel yang berubah
menjadi sel ganas. Gangguan pada sistim tersebut dapat menyebabkan beberapa sel ganas lolos
dan selanjutnya berproliferasi hingga menimbulkan penyakit.

b. Faktor Lingkungan
- Radiasi
Adanya efek lekemogenik dan ionisasi radiasi, dibuktikan dengan tingginya insidens lekemia
pada ahli radiologi (sebelum ditemukannya alat pelindung), penderita dengan pembesaran
kelenjar timus, ankilosing spondilitis, dan penyakit Hodgkin yang mendapat terapi radiasi.
- Bahan kimia dan obat-obatan
Pemaparan terhadap benzene dalam jumlah besar dan berlangsung lama dapat menimbulkan
leukemia Demikian pula halnya setelah pengobatan dengan obat-obatan anti neoplastik (misal :
alkilator dan inhibitor topoisomere II) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang
menyebabkan AML
- Infeksi virus
Virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen seperti T cell leukimia-lymphoma
virus atau Human T-lymphocyte virus (HTLV))

PATOFISIOLOGI

Sel induk hematopoietik mengalami transformasi ganas dan perluasan klon-klon sel-sel
hematopoetik terhambat pada tingkat diferensiasi dan tidak bisa berkembang menjadi bentuk
yang lebih matang. Sel darah berasal dari sel induk hematopoesis pluripoten yang kemudian
berdiferensiasi menjadi induk limfoid dan induk mieloid (non limfoid) multipoten. Sel induk
limfoid akan membentuk sel T dan sel B, sel induk mieloid akan berdiferensiasi menjadi sel
eritrosit, granulosit-monosit dan megakariosit. Pada setiap stadium diferensiasi dapat terjadi
perubahan menjadi suatu klon leukemik yang belum diketahui penyebabnya. Bila hal ini terjadi
maturasi dapat terganggu, sehingga jumlah sel muda akan meningkat dan menekan pembentukan
sel darah normal dalam sumsum tulang. Sel leukemik tersebut dapat masuk kedalam sirkulasi
darah yang kemudian menginfiltrasi organ tubuh sehingga menyebabkan gangguan metabolisme
sel dan fungsi organ. Kematian pada penderita leukemia akut pada umumnya diakibatkan
penekanan sumsum tulang yang cepat dan hebat, akan tetapi dapat pula disebabkan oleh infiltrasi
sel leukemik tersebut ke organ tubuh.

KLASIFIKASI LEUKEMIA AKUT


a. Leukemia myeloid akut (LMA)
Leukemia yang mengenai sel stem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel
mieloid; monosit, granulosit (basofil, netrofil, eosinofil), eritrosit, dan trombosit.
Menurut French-American-British (FAB) leukemia myeloid akut dibagi menjadi 7 jenis yakni:
Ml : Lekemia mieloblastik tanpa pematangan
M2 : Lekemia mieloblastik dengan berbagai derajat pematangan
M3 : Lekemia progranulositik
M4 : Lekemia mielo-monoblastik
M5 : Lekemia monoblastik
M6 : Eritrolekemia
M7 : Lekemia megakariositik

b. Leukemia limfositik akut (LLA) :


Leukemia yang terjadi akibat proliferasi ganas dari limfoblast, Limfosit immatur berproliferasi
dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
Menurut French-American-British (FAB) leukemia limfositik akut dibedakan berdasarkan:
- morfolgis
L1 = LLA dengan sel limfoblast kecil-kecil dan homgen.
L2 = LLA dengan sel lebih besar dan heterogen, inti regular, kromatin bergumpal, nucleoli
prominen dan sitoplasma agak banyak.
L3 = LLA dengan karateristi mirip limfoma burkitt yakni sitoplasma basofil dengan banyak
vakuola.

MANIFESTASI KLINIS
Pasien Leukemia umumnya menunjukkan gejala sebagai berikut:
a. Anemia.
Disebabkan karena produksi sel darah merah kurang akibat dari kegagalan sumsum tulang
memproduksi sel darah merah. Ditandai dengan berkurangnya konsentrasi hemoglobin, turunnya
hematokrit, jumlah sel darah merah kurang. Anak yang menderita leukemia mengalami pucat,
mudah lelah, kadang-kadang sesak nafas.
b. Perdarahan.
Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar karena didominasi oleh sel
darah putih, maka penderita akan mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik
merah lebar/kecil dijaringan kulit).

c. Infeksi.

Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit
infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal
(abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena
infeksi virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya demam,
keluar cairan putih dari hidung (meler) dan batuk.
d. Nyeri Tulang dan Persendian.
Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel
darah putih.
e. Nyeri Perut.
Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel leukemia dapat
terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ
tubuh ini dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita
leukemia.
f. Pembengkakan Kelenjar Lympa.
Penderita kemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang
dibawah lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring darah, sel leukemia
dapat terkumpul disini dan menyebabkan pembengkakan.
g. Dyspnea. Penderita mungkin menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila
terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.
Pada pasien LMA sering dijumpai gejala klinis berupa anemia, peningkatan leukosit, pembesaran
pada limfe, rasa lelah, pucat, nafsu makan menurun, anemia, ptekie, perdarahan , nyeri tulang,
Infeksi , kadang-kadang juga terjadi hipertrofi gusi. Sedangkan pada pasien LLA gejala klinis
yang dijumpai berupa lelah, panas tanpa infeksi, purpura, nyeri tulang atau sendi, penurunan
Berat badan ,Hematopoesis normal terhambat, Penurunan jumlah leukosit, Penurunan sel darah
merah, Penurunan trombosit

PENEGAKAN DIAGNOSIS LEUKEMIA AKUT


Penegakan diagnosa leukemia akut dilakukan dengan berdasarkan pada anamnesa, pemeriksaan
klinis, pemeriksaan darah dan pemeriksaan sumsum tulang pada beberapa kasus.
- Pada pemeriksaan darah, sel darah putih menunjukkan adanya kenaikan jumlah, penurunan
jumlah, maupun normal.
- Pemeriksaan trombosit menunjukkan penurunan jumlah. ( parah, kurang dari 50.000 / MM3
platelet)
- Pemeriksaan hemoglobin menunjukkan penurunan nilai ( Pemeriksaan sel darah merah
menunjukkan penurunan jumlah dan kelainan morfologi )
- Adanya sel leukemik sejumlah 5 % cukup untuk mendiagnosa kelainan darah sebagai leukemia,
tapi sering dipakai nilai yang mencapai 25 % atau lebih
- Hapusan darah : normokrom, normositer, hampir selalu dijumpai blastosit abnormal.
- Sumsum tulang hiperseluler, hampir selalu penuh dengan blastosit abnormal, sistem hemopoitik
normal terdesak.
- Asam urat meningkat 50% .
- Elektrolit: kalium dan fosfat biasanya meningkat.